Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 04
Bab Bagaimana Awal Turunnya Wahyu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam – dan Disebutkan Hal Pertama yang Diturunkan kepadanya dari Al-Quran yang Agung
Hal itu terjadi ketika beliau shallallahu alaihi wasallam berusia empat puluh tahun. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Said bin al-Musayyab bahwa usia beliau saat itu adalah empat puluh tiga tahun.
Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami al-Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab dari Urwah bin az-Zubair dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa ia berkata: Hal pertama yang dimulai pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari wahyu adalah mimpi yang benar dalam tidur, maka tidaklah beliau bermimpi kecuali mimpi itu datang seperti terbitnya fajar. Kemudian beliau dicintakan kepadanya menyendiri, maka beliau menyendiri di Gua Hira dan bertahannuts (beribadah) di dalamnya yaitu beribadah beberapa malam sebelum kembali kepada keluarganya, dan beliau membawa bekal untuk itu, kemudian beliau kembali kepada Khadijah dan membawa bekal untuk hal yang serupa, hingga datang kebenaran kepadanya secara tiba-tiba sedang beliau berada di Gua Hira, maka datanglah malaikat kepadanya dan berkata: Bacalah. Maka beliau berkata: “Aku bukan pembaca.” Beliau berkata: “Maka ia memegangku dan memelukku hingga aku merasa sangat kepayahan, kemudian ia melepaskanku dan berkata: Bacalah. Maka aku berkata: Aku bukan pembaca. Maka ia memegangku dan memelukku yang kedua kalinya hingga aku merasa sangat kepayahan, kemudian ia melepaskanku dan berkata: Bacalah. Maka aku berkata: Aku bukan pembaca. Maka ia memegangku dan memelukku yang ketiga kalinya hingga aku merasa sangat kepayahan, kemudian ia melepaskanku dan berkata: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. Al-Alaq: 1-5).” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali dengan ayat-ayat itu dalam keadaan hatinya berdebar-debar, lalu beliau masuk menemui Khadijah binti Khuwailid dan berkata: “Selimutilah aku, selimutilah aku.” Maka mereka menyelimutinya hingga hilang ketakutannya. Lalu beliau berkata kepada Khadijah dan memberitahukan kepadanya berita itu: “Sungguh aku khawatir terhadap diriku.” Maka Khadijah berkata: Tidak, demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya; sesungguhnya engkau menyambung tali silaturahmi, memuliakan tamu, menanggung beban orang yang lemah, memberi kepada orang yang tidak punya, dan menolong dalam urusan-urusan yang benar. Maka Khadijah berangkat bersamanya hingga ia mendatanginya Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, sepupu Khadijah, dan ia adalah seorang laki-laki yang memeluk agama Nasrani pada masa Jahiliyah, dan ia menulis tulisan Ibrani, maka ia menulis dari Injil dengan tulisan Ibrani apa yang Allah kehendaki untuk ia tulis, dan ia adalah seorang lelaki tua yang sudah buta, maka Khadijah berkata kepadanya: “Wahai sepupuku! Dengarkanlah dari anak saudara laki-lakimu.” Maka Waraqah berkata kepadanya: Wahai anak saudaraku, apa yang kamu lihat? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberitahukan kepadanya berita tentang apa yang ia lihat, maka Waraqah berkata kepadanya: Ini adalah Namus (malaikat yang membawa wahyu) yang dahulu turun kepada Musa. Alangkah baiknya jika aku masih muda kuat pada saat itu. Alangkah baiknya jika aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Apakah mereka akan mengusirku?” Ia berkata: Ya, tidaklah datang seorang pun dengan sesuatu seperti yang engkau bawa kecuali ia dimusuhi, dan jika aku masih hidup pada masamu itu, aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat. Kemudian tidak lama Waraqah meninggal dunia, dan wahyu terputus untuk beberapa waktu hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersedih menurut apa yang sampai kepada kami – bersedih sehingga beliau beberapa kali ingin menjatuhkan diri dari puncak-puncak gunung yang tinggi, maka setiap kali beliau naik ke puncak gunung untuk menjatuhkan dirinya, Jibril menampakkan diri kepadanya dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah Rasulullah yang sebenarnya. Maka tenang karenanya jiwanya, dan tenteram hatinya, lalu beliau kembali. Maka jika masa terputusnya wahyu menjadi panjang baginya, beliau berbuat seperti itu, maka jika beliau naik ke puncak gunung, Jibril menampakkan diri kepadanya dan berkata kepadanya seperti itu.
Demikianlah disebutkan secara panjang lebar dalam bab Takwil (Tafsir Mimpi) dari kitab al-Bukhari. Ibnu Syihab berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Jabir bin Abdullah al-Anshari berkata, dan ia menceritakan tentang terputusnya wahyu, ia berkata dalam haditsnya: Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku mengangkat pandanganku, maka ternyata malaikat yang datang kepadaku di Hira sedang duduk di atas kursi antara langit dan bumi, maka aku merasa takut karenanya, lalu aku kembali dan berkata: Selimutilah aku, selimutilah aku. Maka Allah menurunkan: Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah (QS. Al-Muddatstsir: 1-5). Maka wahyu menjadi hangat dan berturut-turut.
Kemudian al-Bukhari berkata: Telah mengikutinya Abdullah bin Yusuf dan Abu Shalih yaitu dari al-Laits. Dan telah mengikutinya Hilal bin Raddad dari az-Zuhri. Dan Yunus dan Mamar berkata: Permulaan-permulaannya.
Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam kitabnya di beberapa tempat darinya, dan kami telah membahasnya secara panjang lebar di awal Syarah al-Bukhari dalam Kitab Permulaan Wahyu dari segi sanad dan matan. Dan bagi Allah segala pujian dan karunia.
Dan telah mengeluarkannya Muslim dalam Shahihnya dari hadits al-Laits dengannya, dan dari jalan Yunus dan Mamar dari az-Zuhri sebagaimana yang digantungkan oleh al-Bukhari dari keduanya, dan kami telah memberikan tanda dalam catatan kaki tentang tambahan-tambahan Muslim dan riwayat-riwayatnya. Dan bagi Allah segala pujian, dan berakhir penjelasannya sampai ucapan Waraqah: Aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat.
Maka ucapan Ummul Mukminin Aisyah: Hal pertama yang dimulai dari wahyu adalah mimpi yang saleh, maka tidaklah beliau bermimpi kecuali mimpi itu datang seperti terbitnya fajar, menguatkan apa yang disebutkan Muhammad bin Ishaq bin Yasar dari Ubaid bin Umair al-Laitsi bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: Maka Jibril datang kepadaku dan aku sedang tidur dengan membawa permadani dari sutera di dalamnya ada tulisan, lalu ia berkata: Bacalah. Maka aku berkata: “Aku tidak bisa membaca.” Maka ia memelukku hingga aku menyangka itu adalah kematian kemudian ia melepaskanku, dan ia menyebutkan seperti hadits Aisyah sama persis. Maka hal ini seperti persiapan untuk apa yang akan datang setelahnya dalam keadaan terjaga, dan sungguh telah datang dengan tegas dalam Maghazi Musa bin Uqbah dari az-Zuhri bahwa ia melihat itu dalam mimpi, kemudian malaikat datang kepadanya dalam keadaan terjaga.
Dan telah berkata al-Hafizh Abu Nuaim al-Ashbahani dalam kitabnya Dalail an-Nubuwwah: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Minjab bin al-Harits, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin al-Harits, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin al-Ajlah dari Ibrahim dari Alqamah bin Qais, ia berkata: Sesungguhnya hal pertama yang didatangkan kepada para nabi adalah dalam mimpi hingga hati mereka menjadi tenang, kemudian wahyu turun setelahnya. Dan ini adalah dari Alqamah bin Qais sendiri dan ini adalah perkataan yang baik yang diperkuat oleh apa yang sebelumnya, dan diperkuat oleh apa yang setelahnya.
Disebutkan Usia Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam pada Waktu Diutus dan Tanggalnya
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Adi dari Dawud bin Abi Hind dari Amir asy-Syabi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diturunkan kepadanya kenabian sedang beliau berusia empat puluh tahun, maka digandengkan dengan kenabiannya Israfil selama tiga tahun, dan ia mengajarkan kepadanya kalimat dan sesuatu, dan Al-Quran belum turun. Maka ketika lewat tiga tahun digandengkan dengan kenabiannya Jibril, maka turunlah Al-Quran di lisannya selama dua puluh tahun, sepuluh tahun di Mekah dan sepuluh tahun di Madinah, maka beliau meninggal sedang berusia enam puluh tiga tahun.
Maka ini adalah sanad yang sahih sampai kepada asy-Syabi dan ini menunjukkan bahwa Israfil digandengkan bersamanya setelah usia empat puluh tahun selama tiga tahun, kemudian Jibril datang kepadanya.
Adapun Syaikh Syihabuddin Abu Syamah maka sesungguhnya ia telah berkata: Dan hadits Aisyah tidak bertentangan dengan ini, karena sesungguhnya boleh jadi awal urusannya adalah mimpi, kemudian diwakilkan kepadanya Israfil dalam masa itu yang beliau menyendiri di dalamnya di Hira, maka ia memberikan kepadanya kalimat dengan cepat, dan tidak tinggal bersamanya; secara bertahap baginya dan melatihnya hingga Jibril datang kepadanya, maka ia mengajarkan kepadanya setelah ia memeluknya tiga kali. Maka Aisyah menceritakan apa yang terjadi padanya bersama Jibril, dan tidak menceritakan apa yang terjadi padanya bersama Israfil sebagai ringkasan hadits, atau ia tidak mengetahui kisah Israfil.
Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam dari Ikrimah dari Ibnu Abbas: Diturunkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang beliau berusia empat puluh tiga tahun, maka beliau tinggal di Mekah sepuluh tahun, dan di Madinah sepuluh tahun, dan meninggal sedang berusia enam puluh tiga tahun. Dan demikianlah meriwayatkan Yahya bin Said dan Said bin al-Musayyab. Kemudian Ahmad meriwayatkan dari Ghundar dan Yazid bin Harun keduanya dari Hisyam dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Diutus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan diturunkan kepadanya Al-Quran sedang beliau berusia empat puluh tahun, maka beliau tinggal di Mekah tiga belas tahun, dan di Madinah sepuluh tahun, dan meninggal sedang berusia enam puluh tiga tahun.
Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, telah mengabarkan kepada kami Ammar bin Abi Ammar dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam tinggal di Mekah lima belas tahun, tujuh tahun melihat cahaya dan mendengar suara, dan delapan tahun diwahyukan kepadanya, dan tinggal di Madinah sepuluh tahun.
Abu Syamah berkata: Dan sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat keajaiban-keajaiban sebelum diutus, maka di antaranya adalah apa yang ada dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Samurah, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: Sesungguhnya aku mengenal sebuah batu di Mekah yang memberi salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengenalnya sekarang. Selesai perkataannya.
Dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyukai menyendiri dan menyendiri dari kaumnya; karena apa yang ia lihat mereka berada padanya dari kesesatan yang nyata berupa menyembah patung-patung, dan sujud kepada berhala-berhala, dan menguat kecintaannya untuk menyendiri ketika mendekati Allah mewahyukan kepadanya, shalawat Allah dan salam-Nya atasnya.
Dan sungguh telah menyebutkan Muhammad bin Ishaq dari Abdul Malik bin Abdullah bin Abi Sufyan bin al-Ala bin Jariyah – ia berkata dan ia adalah orang yang paham – dari sebagian ahli ilmu, ia berkata: Dan adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar ke Hira, setiap tahun sebulan dari tahun untuk bertahannuts di dalamnya, dan itu adalah dari tahannuts Quraisy pada masa Jahiliyah, ia memberi makan siapa yang datang kepadanya dari orang-orang miskin, hingga apabila ia kembali dari tempat tinggalnya, tidak masuk ke rumahnya hingga ia thawaf di Kabah.
Dan demikianlah meriwayatkan dari Wahb bin Kaisan bahwa ia mendengar Ubaid bin Umair menceritakan kepada Abdullah bin az-Zubair seperti itu. Dan ini menunjukkan bahwa ini adalah dari kebiasaan orang-orang yang beribadah di Quraisy bahwa mereka tinggal di Hira untuk beribadah; dan karena itu berkata Abu Thalib dalam syairnya yang masyhur:
Dan (demi) Tsaur dan siapa yang menegakkan Tsabir di tempatnya … Dan yang naik untuk berbakti di Hira dan yang turun
Demikianlah dibenarkan atasnya berdasarkan riwayat bait ini, sebagaimana disebutkannya as-Suhaili dan Abu Syamah dan guru kami al-Hafizh Abu al-Hajjaj al-Mizzi rahimahumullah. Dan sungguh telah salah pada sebagian perawi, maka ia berkata di dalamnya: Dan yang naik untuk naik di Hira dan yang turun. Dan ini janggal dan menyalahi kebenaran, wallahu alam.
Dan Hira, diqashar (diucapkan pendek) dan dimad (dipanjangkan), dan disharif (diberi tanwin) dan dimna (tidak diberi tanwin), dan itu adalah gunung di atas Mekah pada tiga mil darinya, di sebelah kiri orang yang berjalan ke Mina, mempunyai puncak yang menghadap Kabah yang melengkung, dan gua di dalam lengkungan itu. Dan alangkah baiknya apa yang dikatakan Rubbah bin al-Ajjaj:
Maka tidak, demi Tuhan para wanita yang aman yang gemuk … Dan demi rukun dari Hira yang melengkung
Dan ucapannya dalam hadits: dan at-tahannuts adalah at-taabbud (beribadah). Tafsir dengan makna, sedangkan hakikat at-tahannuts dari segi bangunan, dalam apa yang dikatakan as-Suhaili: Masuk dalam dosa, tetapi saya mendengar beberapa lafazh dalam bahasa yang maknanya keluar dari hal itu, maka tahannats yaitu keluar dari dosa, dan tahauwaba, dan taharraja, dan taatstsama, dan tahajjada dan itu adalah meninggalkan tidur untuk shalat, dan tanajjasa dan taqadzdara. Telah menyebutkannya Abu Syamah.
Dan telah ditanyakan kepada Ibnu al-Arabi tentang ucapannya: Yatahannatsu yaitu beribadah. Maka ia berkata: Aku tidak mengenal ini, sesungguhnya hanyalah yatahannafu, dari Hanifiyyah agama Ibrahim alaihissalam. Ibnu Hisyam berkata: Dan orang Arab berkata: at-tahannuts, dan at-tahannuf. Mereka mengganti fa dari tsa, sebagaimana mereka berkata: jadats, dan jadaf. Sebagaimana berkata Rubbah:
Seandainya batu-batuku bersama kuburan-kuburan
Ia bermaksud al-ajdats (kuburan). Ia berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Abu Ubaidah bahwa orang Arab berkata: “fum” di tempat “tsum”. Saya berkata: Dan di antaranya adalah ucapan sebagian mufassirin dalam firman-Nya: Wafumha (QS. Al-Baqarah: 61) bahwa yang dimaksud adalah tsumha (bawang putih).
Dan sungguh telah berbeda para ulama dalam ibadahnya alaihissalam, sebelum diutus, apakah itu berdasarkan syariat atau tidak? Dan apa syariat itu? Maka dikatakan: syariat Nuh. Dan dikatakan: syariat Ibrahim, dan itu adalah yang paling mirip yang paling kuat. Dan dikatakan: Musa. Dan dikatakan: Isa. Dan dikatakan: setiap apa yang terbukti bahwa itu adalah syariat padanya, ia mengikutinya dan beramal dengannya. Dan untuk menjelaskan pendapat-pendapat ini dan kesesuaiannya ada tempat-tempat lain dalam ushul fiqh, wallahu alam.
Dan ucapannya: Hingga datang kepadanya kebenaran secara tiba-tiba sedang ia di Gua Hira. Yaitu datang secara tiba-tiba tanpa janji, sebagaimana firman Allah: Dan kamu tidak mengharap bahwa Kitab itu akan diturunkan kepadamu, tetapi (ia diturunkan) sebagai rahmat dari Tuhanmu ayat (QS. Al-Qashash: 86). Dan sungguh telah turun awal surah yang mulia ini, dan itu adalah: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Dan itu adalah yang pertama turun dari Al-Quran sebagaimana kami telah menetapkan itu dalam at-Tafsir, dan sebagaimana akan datang juga pada hari Senin, sebagaimana yang tetap dalam Shahih Muslim dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Senin, maka beliau berkata: Itu adalah hari aku dilahirkan di dalamnya dan hari diturunkan kepadaku di dalamnya.
Dan Ibnu Abbas berkata: Dilahirkan nabimu Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada hari Senin, dan dijadikan nabi pada hari Senin. Dan demikianlah berkata Ubaid bin Umair dan Abu Jafar al-Baqir dan lebih dari satu ulama bahwa beliau alaihish-shalatu wassalam, diwahyukan kepadanya pada hari Senin, dan ini adalah apa yang tidak ada perselisihan di dalamnya antara mereka.
Kemudian dikatakan: hal itu terjadi pada bulan Rabiul Awal sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dari Ibnu Abbas dan Jabir bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam dilahirkan pada tanggal dua belas Rabiul Awal hari Senin, dan pada bulan itu pula beliau diutus, dan pada bulan itu pula beliau diisra’kan ke langit. Dan yang masyhur adalah bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam diutus pada bulan Ramadhan, sebagaimana ditegaskan oleh Ubaid bin Umair dan Muhammad bin Ishaq serta yang lainnya. Ibnu Ishaq berkata dengan berdalil pada hal itu dengan apa yang Allah Taala firmankan: Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia (Al-Baqarah: 185). Maka dikatakan: pada tanggal dua belas bulan tersebut. Dan diriwayatkan oleh Al-Waqidi dengan sanadnya dari Abu Ja’far Al-Baqir bahwa dia berkata: Permulaan wahyu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah pada hari Senin, pada tujuh belas malam yang telah berlalu dari bulan Ramadhan. Dan dikatakan pula: pada tanggal dua puluh empat bulan tersebut.
Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Imran Abu Al-Awam dari Qatadah dari Abu Al-Malih dari Watsilah bin Al-Asqa’ bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Diturunkan shuhuf Ibrahim pada malam pertama bulan Ramadhan, dan diturunkan Taurat enam hari berlalu dari Ramadhan, dan Injil tiga belas malam berlalu dari Ramadhan, dan diturunkan Al-Quran dua puluh empat hari berlalu dari Ramadhan.” Dan diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dalam Tafsirnya dari Jabir bin Abdullah secara marfu’ seperti itu, dan karena itu sekelompok sahabat dan tabi’in berpendapat bahwa Lailatul Qadar adalah malam dua puluh empat.
Adapun perkataan Jibril: Bacalah. Maka Nabi berkata: “Aku tidak bisa membaca.” Yang benar bahwa ucapan beliau: “Aku tidak bisa membaca” adalah penafian, yaitu aku bukan termasuk orang yang pandai membaca. Dan di antara yang menguatkannya adalah An-Nawawi dan sebelumnya Syaikh Abu Syamah. Dan ada yang mengatakan: itu adalah kalimat tanya. Maka perkataannya itu jauh; karena huruf ba’ tidak ditambahkan dalam bentuk penetapan. Dan yang menguatkan pendapat pertama adalah riwayat Abu Nu’aim dari hadits Al-Mu’tamir bin Sulaiman dari ayahnya: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata dalam keadaan ketakutan dan gemetar: “Aku tidak pernah membaca kitab sama sekali, dan aku tidak pandai membacanya, aku tidak menulis, dan aku tidak membaca. Maka Jibril memegang dan memeluknya dengan pelukan yang keras, kemudian melepaskannya, lalu berkata kepadanya: Bacalah. Maka Muhammad shallallahu alaihi wasallam berkata: Aku tidak melihat sesuatu untuk kubaca, dan aku tidak menulis.” Diriwayatkan: “maka dia memelukku” sebagaimana dalam Shahihain. Dan “dia mencekikku”. Dan diriwayatkan “sungguh dia telah mencekikku” yaitu mencekikku “hingga aku mengalami kesusahan” diriwayatkan dengan dhammah huruf jim, dan fathahnya, dengan nashab, dan dengan rafa’, dan dia melakukan itu kepadanya sebanyak tiga kali.
Abu Sulaiman Al-Khaththabi berkata: Dan sesungguhnya dia melakukan itu kepadanya untuk menguji kesabarannya, dan memperbaiki pendidikannya, sehingga dia terlatih untuk menanggung beban kenabian yang ditugaskan kepadanya, dan karena itu beliau mengalami kondisi seperti orang yang demam dan mengalami keringat yang berlebihan yaitu sesak nafas dan keringat. Dan selain dia berkata: sesungguhnya dia melakukan itu karena beberapa alasan di antaranya adalah: agar beliau terjaga untuk kebesaran apa yang disampaikan kepadanya, setelah perlakuan ini yang berat bagi jiwa-jiwa, sebagaimana Allah Taala berfirman: Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat (Al-Muzzammil: 5). Dan karena itu beliau shallallahu alaihi wasallam apabila datang wahyu kepadanya muka beliau memerah, dan beliau mengeluarkan suara seperti suara unta muda, dan kening beliau bercucuran keringat di hari yang sangat dingin.
Dan perkataan: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali kepada Khadijah dengan hati yang berdebar-debar. Dan dalam riwayat: dengan bawadirnya, jamak dari badirah. Abu Ubaid berkata: yaitu daging antara pundak dan leher. Dan selain dia berkata: yaitu urat-urat yang bergetar ketika ketakutan. Dan dalam beberapa riwayat: gemetar pada badilnya. Tunggalnya adalah badilah. Dan dikatakan: badil, yaitu apa yang antara leher dan tulang selangka. Dan dikatakan: pangkal buah dada. Dan dikatakan: daging buah dada. Dan dikatakan selain itu.
Maka beliau berkata: “Selimutilah aku, selimutilah aku.” Ketika rasa takut hilang darinya, beliau berkata kepada Khadijah: “Ada apa denganku? Kejadian apa yang menimpaku?” Dan beliau mengabarkan kepadanya apa yang telah terjadi, kemudian beliau berkata: “Sungguh aku khawatir atas diriku.” Dan itu karena beliau menyaksikan sesuatu yang belum pernah dialaminya sebelum itu, dan tidak ada dalam pikirannya. Dan karena itu Khadijah berkata: Bergembiralah, tidak demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Dikatakan: dari kehinaan. Dan dikatakan: dari kesedihan. Dan ini karena pengetahuannya tentang apa yang telah Allah jadikan sebagai kebiasaan yang baik dalam ciptaan-Nya bahwa siapa yang memiliki sifat-sifat kebaikan tidak akan dihinakan di dunia, maupun di akhirat, kemudian dia menyebutkan kepadanya dari sifat-sifatnya yang mulia, yaitu akhlaknya yang baik, maka dia berkata: Sesungguhnya engkau menyambung silaturahim, dan berkata jujur. Dan sungguh beliau terkenal dengan itu, semoga shalawat Allah dan salam-Nya atas beliau, di kalangan yang setuju maupun yang berseberangan. Dan engkau menanggung beban: yaitu dari orang lain, engkau memberi kepada orang yang memiliki tanggungan apa yang meringankannya dari beratnya beban tanggungan keluarganya. Dan engkau memperoleh sesuatu yang tidak ada. Yaitu engkau mendahului untuk melakukan kebaikan, maka engkau bersegera memberi kepada orang miskin, maka engkau memperoleh kebaikannya sebelum yang lain, dan orang miskin disebut ma’dum (tidak ada); karena hidupnya kurang, maka keberadaannya dan ketiadaannya sama saja, sebagaimana dikatakan oleh sebagian mereka:
Bukanlah orang yang mati lalu beristirahat itu mayit… Sesungguhnya mayit adalah mayitnya orang hidup
Dan berkata Abu Al-Hasan At-Tahami sebagaimana yang dinukil darinya oleh Qadhi Iyadh dalam Syarh Muslim:
Anggaplah orang yang fakir itu mayit dan kafanilah dia… dengan kafan yang usang dan tempat tinggalnya adalah kubur
Dan Al-Khaththabi berkata: Yang benar adalah: Dan engkau memberi kepada orang yang membutuhkan. Yaitu engkau memberi kepadanya, atau bisa jadi: Dan engkau memperoleh sesuatu yang tidak ada. Engkau memberinya harta untuk dia hidup dengannya. Dan guru kami Al-Hafizh Abu Al-Hajjaj Al-Mizzi memilih bahwa yang dimaksud dengan ma’dum di sini adalah harta yang diberikan, yaitu memberikan harta kepada orang yang tidak memilikinya. Dan barangsiapa mengatakan: bahwa yang dimaksud adalah bahwa engkau memperoleh dengan perdaganganmu harta yang tidak ada atau harta berharga yang langka persamaannya, maka sungguh dia telah menjauh sasarannya, dan berlebihan dalam menafsirkan, dan memaksakan apa yang tidak ada ilmunya; karena sesungguhnya seperti ini tidak dipuji dengannya pada umumnya, dan sungguh telah melemahkan perkataan ini Iyadh dan An-Nawawi serta yang lainnya, wallahu a’lam.
Dan engkau memuliakan tamu yaitu engkau menghormatinya dengan mengutamakan hidangannya, dan memperbaiki tempat tinggalnya, dan engkau menolong pada kesulitan yang haq. Dan diriwayatkan: kebaikan. Yaitu apabila terjadi kesulitan pada seseorang dalam kebaikan maka engkau menolongnya, dan engkau berdiri bersama pemiliknya hingga dia mendapat kecukupan hidup atau penegakan hidup.
Dan perkataannya: Kemudian dia mengajaknya lalu pergi bersamanya kepada anak pamannya Waraqah bin Naufal dan dia adalah seorang syaikh yang sudah tua dan sudah buta. Dan sungguh kami telah menyebutkan sebelumnya sebagian dari kabarnya bersama penyebutan Zaid bin Amr bin Nufail rahimahullah, dan bahwa dia adalah di antara orang yang masuk Nasrani di masa jahiliyah, maka dia meninggalkan mereka dan berangkat ke Syam, dia dan Zaid bin Amr dan Utsman bin Al-Huwairts dan Ubaidullah bin Jahsy, maka mereka semua masuk Nasrani; karena mereka mendapatnya sebagai agama yang paling dekat – saat itu – dengan kebenaran, kecuali Zaid bin Amr bin Nufail karena sesungguhnya dia melihat di dalamnya kemasukan dan kekacauan, dan perubahan, dan penyimpangan, dan takwil, maka fitrahnya menolak untuk masuk ke dalamnya juga, dan para ahbar dan rahib memberinya kabar gembira dengan adanya nabi, yang waktunya sudah dekat, dan saatnya sudah mendekat, maka dia kembali untuk mencarinya, dan tetap di atas fitrah dan tauhidnya, tetapi kematian merenggutnya sebelum bi’tsah Muhammadiyah, dan Waraqah bin Naufal mendapatkannya dan dia biasa melihat tanda-tandanya pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana kami sebutkan sebelumnya, dengan apa yang Khadijah ceritakan kepadanya dan gambarkan kepadanya, dan apa yang ada padanya dari sifat-sifat suci yang indah, dan apa yang nampak padanya dari dalil-dalil dan ayat-ayat, dan karena itu ketika terjadi apa yang terjadi, dia memegang tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan datang bersamanya kepadanya, maka dia membawanya kepadanya, dan berkata: Wahai anak paman, dengarkanlah dari anak saudaramu. Maka ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepadanya kabar tentang apa yang beliau lihat, Waraqah berkata: Mahasuci Mahasuci, ini adalah Namus yang diturunkan kepada Musa. Dan dia tidak menyebutkan Isa, walaupun dia datang setelah Musa; karena sesungguhnya syariatnya menyempurnakan dan melengkapi syariat Musa alaihimas salam, dan menghapus sebagiannya, menurut pendapat yang shahih dari para ulama, sebagaimana firman-Nya: dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu (Ali Imran: 50).
Dan perkataan Waraqah ini sebagaimana jin berkata: Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab yang diturunkan setelah Musa, membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus (Al-Ahqaf: 30).
Kemudian Waraqah berkata: Wahai, andai saja aku padanya seorang pemuda, yaitu wahai andai saja aku menjadi hari ini seorang pemuda, yang mampu beriman, dan ilmu yang bermanfaat, dan amal shalih. Wahai andai saja aku hidup ketika kaummu mengusirmu. Yaitu: sehingga aku keluar bersamamu, dan menolongmu, maka saat itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: Apakah mereka akan mengusirku?! As-Suhaili berkata: Dan sesungguhnya dia berkata demikian; karena meninggalkan tanah air itu berat bagi jiwa-jiwa.
Maka dia berkata: Ya, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang datang dengan seperti apa yang engkau datangkan dengannya melainkan dia dimusuhi, dan jika aku mendapati harimu maka aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat. Yaitu: aku akan menolongmu dengan pertolongan yang mulia selamanya.
Dan perkataannya: Kemudian tidak lama Waraqah wafat. Yaitu: wafat setelah kisah ini dengan sedikit, rahimahullah wa radhiya anhu, karena sesungguhnya seperti ini yang keluar darinya adalah pembenaran terhadap apa yang terjadi, dan keimanan terhadap apa yang terjadi dari wahyu, dan niat yang baik untuk masa depan.
Dan Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Hasan dari Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Abu Al-Aswad dari Urwah dari Aisyah, bahwa Khadijah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang Waraqah bin Naufal maka beliau berkata: “Aku telah melihatnya, maka aku melihat padanya pakaian putih, maka aku menduga jika dia termasuk penghuni neraka tidak akan ada padanya pakaian putih.” Dan ini sanad hasan, tetapi diriwayatkan oleh Az-Zuhri dan Hisyam dari Urwah secara mursal. Wallahu a’lam.
Dan diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Ya’la dari Suraij bin Yunus dari Ismail dari Mujalid dari Asy-Sya’bi dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang Waraqah bin Naufal maka beliau berkata: “Aku melihatnya di lembah surga, dan padanya sutera tebal.” Dan ditanya tentang Zaid bin Amr bin Nufail maka beliau berkata: “Dia dibangkitkan pada hari kiamat sebagai satu umat sendiri.” Dan ditanya tentang Abu Thalib maka beliau berkata: “Aku mengeluarkannya dari api yang menenggelamkan dari neraka Jahannam ke tempat yang dangkal darinya.” Dan ditanya tentang Khadijah; karena dia wafat sebelum kewajiban-kewajiban dan hukum-hukum Al-Quran, maka beliau berkata: “Aku melihatnya di sungai di surga di rumah dari bambu, tidak ada kegaduhan di dalamnya dan tidak ada keletihan.” Sanad hasan, dan untuk sebagiannya ada syawahid dalam Shahih. Wallahu a’lam.
Dan Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar berkata: telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Ismail telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Jangan kalian mencela Waraqah; karena sesungguhnya aku melihat untuknya satu surga atau dua surga.” Dan demikian juga diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari hadits Abu Sa’id Al-Asyajj dari Abu Mu’awiyah dari Hisyam dari ayahnya, dari Aisyah. Dan ini sanad jayyid, dan diriwayatkan secara mursal, dan itu lebih mirip.
Dan diriwayatkan oleh kedua Hafizh Al-Baihaqi dan Abu Nu’aim dalam kitab mereka Dalail An-Nubuwwah dari hadits Yunus bin Bukair dari Yunus bin Amr dari ayahnya, dari Amr bin Syarahbil bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Khadijah: “Sesungguhnya aku apabila menyendiri sendirian mendengar panggilan, dan sungguh aku khawatir demi Allah bahwa untuk ini ada urusan.” Dia berkata: Ma’adz Allah! Allah tidak akan melakukan itu denganmu, maka demi Allah sesungguhnya engkau menunaikan amanah, dan menyambung silaturahim, dan berkata jujur. Maka ketika Abu Bakar masuk dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak ada, maka Khadijah menyebutkan kepadanya, maka dia berkata: Wahai Atiq, pergilah bersama Muhammad kepada Waraqah. Maka ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masuk, Abu Bakar memegang tangannya lalu berkata: Pergilah bersama kami kepada Waraqah. Beliau berkata: “Dan siapa yang mengabarimu?” Dia berkata: Khadijah. Maka mereka berdua pergi kepadanya, maka mereka menceritakan kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Sesungguhnya aku apabila menyendiri sendirian mendengar panggilan di belakangku: Wahai Muhammad, wahai Muhammad. Maka aku pergi lari di bumi.” Maka dia berkata kepadanya: Jangan lakukan itu, apabila dia datang kepadamu maka tetaplah, hingga engkau mendengar apa yang dikatakannya kepadamu, kemudian datanglah kepadaku maka kabarkanlah aku. Maka ketika menyendiri memanggilnya: Wahai Muhammad, katakanlah: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Hingga sampai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Al-Fatihah: 17). Katakanlah: Tidak ada tuhan kecuali Allah. Maka datanglah kepada Waraqah lalu dia menyebutkan itu kepadanya. Maka Waraqah berkata kepadanya: Bergembiralah, kemudian bergembiralah, maka aku bersaksi bahwa engkau adalah orang yang diberi kabar gembira denganmu oleh Ibnu Maryam, dan sesungguhnya engkau di atas seperti namus Musa, dan sesungguhnya engkau nabi yang diutus, dan sesungguhnya engkau akan diperintahkan dengan jihad setelah harimu ini, dan sungguh jika aku mendapati itu maka aku akan berjihad bersamamu. Maka ketika dia wafat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Sungguh aku telah melihat pendeta di surga, padanya pakaian sutera; karena dia beriman kepadaku dan membenarkanku.” Yaitu Waraqah. Ini lafazh Al-Baihaqi dan itu mursal, dan di dalamnya keanehan, yaitu bahwa Al-Fatihah adalah yang pertama kali turun.
Dan sungguh kami telah menyebutkan sebelumnya dari syairnya apa yang menunjukkan atas isi keimanannya, dan keyakinannya padanya, dan peneguhannya di sisinya, dan itu ketika Khadijah mengabarkan kepadanya apa yang terjadi dari urusannya dengan budaknya Maisarah dan bagaimana awan melindunginya di terik siang yang panas, maka Waraqah berkata dalam itu syair-syair yang kami sebutkan sebelumnya. Di antaranya adalah perkataannya:
Aku keras kepala dan aku adalah dalam ingatan orang yang keras kepala… untuk urusan yang kadang-kadang membangkitkan isak tangis
Dan gambaran dari Khadijah setelah gambaran… maka sungguh panjang penantianku wahai Khadijah
Di perut Al-Maktain atas harapanku… kabarmu bahwa aku melihat darinya keluarnya
Dengan apa yang engkau kabarkan kepada kami dari perkataan pendeta… dari para rahib aku tidak suka dia condong
Bahwa Muhammad akan memimpin suatu kaum… dan mengalahkan siapa yang menjadi lawan baginya
Dan menampakkan di negeri-negeri cahaya terang… dia menegakkan dengannya makhluk agar tidak bergolak
Maka dia akan mendapati siapa yang memeranginya kerugian… dan dia akan mendapati siapa yang berdamai dengannya kejayaan
Maka wahai andainya aku apabila itu… menyaksikan dan aku adalah yang pertama masuk
Dan masuk dalam apa yang dibenci Quraisy… walaupun mereka meratap di Makkahnya dengan ratapan
Aku berharap dengan apa yang mereka benci semuanya… kepada Dzat yang memiliki Arsy ketika mereka turun naik
Maka jika mereka tetap dan aku tetap akan ada urusan-urusan… orang-orang kafir meratap karenanya ratapan
Dan dia juga berkata dalam qasidahnya yang lain:
Dan kabar-kabar benar telah dikabari tentang Muhammad… mengabarkannya tentang dia ketika tidak ada orang yang menolong
Bahwa Ibnu Abdullah Ahmad diutus… kepada setiap orang yang meliputi padanya Al-Abatih
Dan dugaanku padanya bahwa akan diutus… yang jujur sebagaimana diutus dua hamba Hud dan Shalih
Dan Musa dan Ibrahim hingga akan terlihat baginya… keindahan dan tersebarnya dari dzikir yang jelas
Dan mengikutinya hidup Lu’ay bin Ghalib… pemuda-pemuda mereka dan orang-orang tua yang berambut putih
Maka jika aku tetap hingga manusia mendapati zamannya… maka sesungguhnya aku dengannya gembira cinta yang senang
Dan jika tidak maka sesungguhnya aku wahai Khadijah ketahuilah… dari tanahmu di bumi yang luas mengembara
Dan berkata Yunus dari Bukair dari Ibnu Ishaq berkata Waraqah:
Maka jika itu benar wahai Khadijah maka ketahuilah… kabarmu kepada kami maka Ahmad diutus
Dan Jibril datang kepadanya dan Mikail bersama mereka berdua… dari Allah wahyu yang melapangkan dada diturunkan
Beruntung dengannya siapa yang beruntung di dalamnya dengan taubat… dan celaka dengannya orang yang durhaka yang tertipu yang menyesatkan
Dua kelompok dari mereka kelompok di surganya… dan yang lain di pinggiran neraka Jahim tersiksa
Apabila mereka berdoa dengan kecelakaan di dalamnya berurutan… gada-gada di kepala-kepala mereka kemudian menyala
Maka Mahasuci Dzat yang angin-angin bertiup dengan perintah-Nya… dan Dzat yang di hari-hari apa yang Dia kehendaki Dia perbuat
Dan Dzat yang Arsy-Nya di atas langit-langit semuanya… dan ketentuan-ketentuan-Nya dalam ciptaan-Nya tidak berubah
Dan Waraqah juga berkata:
Wahai para lelaki dan pergantian masa dan takdir… dan tidak ada untuk sesuatu yang Allah tetapkan darinya berubah
Hingga Khadijah memanggilku untuk aku mengabarinya… dan tidak ada baginya dari tersembunyi ghaib dari kabar
Dia datang untuk bertanya kepadaku tentang dia untuk aku mengabarinya… urusan yang aku lihat akan datang kepada manusia dari berita
Maka dia mengabarkan kepadaku tentang urusan yang sungguh aku dengar dengannya… pada apa yang berlalu dari dahulu masa dan zaman
Bahwa Ahmad akan datang kepadanya maka mengabarinya… Jibril bahwa engkau diutus kepada manusia
Maka aku berkata semoga apa yang engkau harapkan terlaksana… bagimu Tuhan maka harapkan kebaikan dan tunggu
Dan utuslah dia kepada kami agar kami bertanya kepadanya… tentang urusannya apa yang dia lihat di tidur dan saat terjaga
Maka dia berkata ketika datang kepada kami perkataan ajaib… berdiri darinya puncak-puncak kulit dan rambut
Sesungguhnya aku melihat amin Allah menghadapiku… dalam rupa yang sempurna dari paling besar rupa-rupa
Kemudian tetap maka hampir ketakutan membuatku takut… dari apa yang menyerahkan dari sekelilingku dari pohon
Maka aku berkata dugaanku dan aku tidak tahu apakah dia membenarkanku… bahwa akan diutus membaca yang diturunkan surat-surat
Dan akan aku uji engkau jika engkau terang-terangan dakwahmu… dari jihad tanpa belas kasihan dan tidak keletihan
Demikian disebutkan itu oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi dari Ad-Dalail, dan di sisiku dalam keshahihannya dari Waraqah ada pertanyaan, wallahu a’lam.
Dan Ibnu Ishaq berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abdullah bin Abi Sufyan bin Al-Ala’ bin Jariyah Ats-Tsaqafi dan dia adalah orang yang cerdas, dari sebagian ahlul ilmu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika Allah berkehendak memuliakan beliau dan memulai beliau dengan kenabian adalah apabila beliau keluar untuk suatu keperluan menjauh hingga rumah-rumah tidak terlihat dari beliau, dan sampai ke lembah-lembah Makkah dan perut-perut lembahnya, maka tidak melewati batu, dan tidak pohon, melainkan berkata: Assalamu alaikum wahai Rasulullah. Dia berkata: maka beliau menoleh sekelilingnya ke kanannya, dan ke kirinya, dan belakangnya, maka tidak melihat kecuali pohon dan batu-batu, maka tetap demikian beliau melihat dan mendengar apa yang Allah kehendaki beliau tetap, kemudian datang kepadanya Jibril alaihi as salam dengan apa yang datang dari kemuliaan Allah, dan dia di Hira pada bulan Ramadhan.
Ibnu Ishaq berkata: Wahb bin Kaisan, maula keluarga Zubair, menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Zubair berkata kepada Ubaid bin Umair bin Qatadah al-Laitsi: Ceritakan kepada kami wahai Ubaid, bagaimana awal mula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima kenabian ketika Jibril datang kepadanya. Ubaid berkata, dan aku (Wahb) hadir saat itu ketika ia menceritakan kepada Abdullah bin Zubair dan orang-orang yang ada bersamanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa bertahannuts di Gua Hira setiap tahun selama satu bulan. Ia berkata: Hal itu merupakan kebiasaan suku Quraisy di masa jahiliyah. Tahannuts artinya beribadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertahannuts di gua itu selama satu bulan setiap tahun, memberi makan orang-orang miskin yang datang kepadanya. Ketika ia menyelesaikan tahannuts-nya di bulan itu, hal pertama yang dilakukannya ketika kembali dari tahannuts-nya adalah mengunjungi Ka’bah sebelum masuk ke rumahnya, lalu thawaf mengelilinginya tujuh kali atau sesuai kehendak Allah, kemudian ia pulang ke rumahnya. Hingga tiba bulan yang Allah kehendaki padanya sesuatu yang Allah inginkan untuk memuliakannya pada tahun ketika ia diutus, yaitu bulan Ramadhan. Ia pergi ke Gua Hira sebagaimana biasa ia pergi untuk bertahannuts, bersama keluarganya. Hingga ketika tiba malam yang Allah muliakan dia padanya dengan risalah-Nya dan merahmati hamba-hamba-Nya dengan mengutusnya, Jibril datang kepadanya dengan perintah Allah Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Jibril datang kepadaku sementara aku sedang tidur dengan membawa sepotong sutera brokat yang di dalamnya terdapat tulisan. Ia berkata: Bacalah. Aku berkata: Aku tidak bisa membaca. Ia mencekikku hingga aku mengira akan mati, kemudian ia melepaskanku dan berkata: Bacalah. Aku berkata: Aku tidak bisa membaca. Ia mencekikku lagi hingga aku mengira akan mati, kemudian ia melepaskanku dan berkata: Bacalah. Aku berkata: Aku tidak bisa membaca. Ia mencekikku lagi hingga aku mengira akan mati, kemudian ia melepaskanku dan berkata: Bacalah. Aku berkata: Apa yang harus aku baca? Aku tidak mengatakan itu kecuali untuk menolaknya agar tidak mengulangi perbuatannya kepadaku. Maka ia berkata:” Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Surah Al-Alaq: 1-5)
Ia (Rasulullah) berkata: “Maka aku membacanya, kemudian ia pergi dan meninggalkanku. Aku terbangun dari tidurku, seakan-akan ada sesuatu yang tertulis di hatiku.” Ia berkata: “Lalu aku keluar, hingga ketika aku berada di tengah-tengah gunung, aku mendengar suara dari langit yang berkata: Wahai Muhammad, engkau adalah Rasulullah dan aku adalah Jibril. Aku mengangkat kepalaku ke langit untuk melihat, ternyata Jibril dalam wujud seorang laki-laki yang kedua kakinya berdiri di ufuk langit, berkata: Wahai Muhammad, engkau adalah Rasulullah dan aku adalah Jibril. Maka aku berdiri menatapnya, tidak maju dan tidak mundur. Aku memalingkan wajahku darinya ke seluruh penjuru langit, namun ke penjuru manapun aku melihat, aku melihatnya seperti itu juga. Aku tetap berdiri di tempatku, tidak maju ke depan dan tidak mundur ke belakang, hingga Khadijah mengutus utusan-utusannya untuk mencariku. Mereka sampai ke Mekah dan kembali kepadanya, sementara aku masih berdiri di tempatku itu. Kemudian ia (Jibril) pergi meninggalkanku, dan aku pun kembali kepada keluargaku. Hingga aku menemui Khadijah, lalu aku duduk di sampingnya sambil bersandar kepadanya. Ia berkata: Wahai Abul Qasim, di mana engkau tadi? Demi Allah, sungguh aku telah mengutus utusan-utusanku untuk mencarimi hingga mereka sampai ke Mekah dan kembali kepadaku. Kemudian aku menceritakan kepadanya apa yang aku lihat. Ia berkata: Bergembiralah wahai putra pamanku dan tetaplah teguh. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku berharap engkau akan menjadi nabi umat ini.”
Kemudian ia berdiri dan mengenakan pakaiannya, lalu pergi menemui Waraqah bin Naufal dan memberitahukan kepadanya apa yang telah diceritakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya. Maka Waraqah berkata: Suci, suci. Demi Dzat yang jiwa Waraqah berada di tangan-Nya, jika engkau benar kepadaku wahai Khadijah, sungguh telah datang kepadanya an-Namus al-Akbar (Jibril) yang dahulu datang kepada Musa, dan sesungguhnya ia adalah nabi umat ini. Katakanlah kepadanya agar tetap teguh.
Khadijah kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukan kepadanya perkataan Waraqah. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan tahannuts-nya dan kembali, ia melakukan seperti yang biasa dilakukannya, memulai dengan mengunjungi Ka’bah dan thawaf mengelilinginya. Ia bertemu Waraqah bin Naufal saat sedang thawaf di Ka’bah. Waraqah berkata: Wahai putra saudaraku, ceritakan kepadaku apa yang engkau lihat dan dengar. Maka ia menceritakannya kepadanya. Waraqah berkata kepadanya: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya engkau adalah nabi umat ini. Sungguh telah datang kepadamu an-Namus al-Akbar yang datang kepada Musa. Sungguh engkau akan didustakan, disakiti, diusir, dan diperangi. Jika aku masih hidup hingga hari itu tiba, aku akan menolong Allah dengan pertolongan yang Dia ketahui. Kemudian ia mendekatkan kepalanya kepadanya dan mencium ubun-ubunnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang ke rumahnya.
Apa yang disebutkan oleh Ubaid bin Umair sebagaimana kami sebutkan merupakan mukadimah bagi apa yang terjadi setelahnya dalam keadaan terjaga, sebagaimana disebutkan dari perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Maka ia tidak melihat mimpi kecuali datang seperti cahaya subuh yang terang. Mungkin juga mimpi ini terjadi setelah ia melihatnya dalam keadaan terjaga pada pagi hari malam itu, atau mungkin terjadi setelahnya beberapa waktu. Wallahu a’lam.
Musa bin Uqbah berkata dari az-Zuhri dari Sa’id bin al-Musayyab, ia berkata: Telah sampai kepada kami bahwa yang pertama kali dilihat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Allah Ta’ala memperlihatkan kepadanya mimpi, maka hal itu memberatkannya. Ia menceritakannya kepada istrinya Khadijah binti Khuwailid. Maka Allah melindunginya dari mendustakannya, dan membuka dadanya untuk membenarkannya. Ia berkata: Bergembiralah, karena sesungguhnya Allah tidak akan memperlakukanmu kecuali dengan kebaikan. Kemudian ia keluar darinya, lalu kembali kepadanya dan memberitahukan kepadanya bahwa ia melihat perutnya dibelah, kemudian dicuci dan disucikan, lalu dikembalikan seperti semula. Ia berkata: Ini demi Allah adalah kebaikan, maka bergembiralah.
Kemudian Jibril menampakkan diri kepadanya dan ia berada di bagian atas Mekah, lalu mendudukkannya di tempat duduk yang mulia dan menakjubkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berkata: “Ia mendudukkanku di atas hamparan seperti permadani yang di dalamnya terdapat permata yaqut dan mutiara.” Lalu ia memberinya kabar gembira tentang risalah Allah ‘azza wa jalla, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa tenang. Kemudian Jibril berkata kepadanya: Bacalah. Ia berkata: “Bagaimana aku membaca?” Ia berkata: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Surah Al-Alaq: 1-5)
Ia berkata: Ada orang-orang yang mengira bahwa Hai orang yang berselimut (Surah Al-Muddatstsir) adalah surah pertama yang diturunkan kepadanya. Wallahu a’lam.
Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima risalah Tuhannya dan mengikuti apa yang dibawa oleh Jibril dari Allah. Ketika ia kembali pulang ke rumahnya, ia tidak melewati pohon atau batu kecuali memberinya salam. Ia kembali kepada keluarganya dalam keadaan gembira dan yakin bahwa ia telah melihat perkara yang besar. Ketika ia masuk menemui Khadijah, ia berkata: “Tahukah engkau tentang apa yang selama ini aku ceritakan kepadamu bahwa aku melihatnya dalam mimpi? Sesungguhnya itu adalah Jibril yang menampakkan diri kepadaku. Tuhanku ‘azza wa jalla mengutusnya kepadaku.” Ia memberitahukan kepadanya apa yang datang dari Allah dan apa yang ia dengar dari-Nya. Maka ia berkata: Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan memperlakukanmu kecuali dengan kebaikan. Terimalah apa yang datang kepadamu dari perintah Allah, karena sesungguhnya itu adalah kebenaran. Bergembiralah, karena sesungguhnya engkau benar-benar Rasulullah.
Kemudian ia segera pergi menemui seorang budak milik Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams, seorang Nasrani dari penduduk Nainawa yang bernama Addas. Ia berkata kepadanya: Wahai Addas, aku mohon kepadamu dengan nama Allah agar engkau memberitahuku, apakah engkau memiliki pengetahuan tentang Jibril? Ia berkata: Suci, suci. Mengapa Jibril disebut di negeri ini yang penduduknya adalah penyembah berhala? Ia berkata: Beritahukan kepadaku pengetahuanmu tentangnya. Ia berkata: Sesungguhnya ia adalah malaikat Allah yang dipercaya antara-Nya dan para nabi. Ia adalah sahabat Musa dan Isa ‘alaihimassalam.
Khadijah kembali dari sisinya, lalu mendatangi Waraqah bin Naufal dan menceritakan kepadanya apa yang terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan apa yang disampaikan Jibril kepadanya. Waraqah berkata kepadanya: Wahai putri saudaraku, aku tidak tahu, mungkin sahabatmu adalah nabi yang ditunggu-tunggu oleh ahli kitab, yang mereka temukan tertulis di sisi mereka dalam Taurat dan Injil. Aku bersumpah demi Allah, jika benar ia adalah dia, kemudian ia menyatakan dakwahnya dan aku masih hidup, sungguh aku akan menunjukkan kepada Allah dalam ketaatan kepada rasul-Nya dan dukungan yang baik kepadanya dengan kesabaran dan pertolongan. Lalu Waraqah meninggal rahimahullah.
Az-Zuhri berkata: Maka Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Al-Hafizh al-Baihaqi berkata setelah menyebutkan apa yang kami sebutkan: Apa yang disebutkan tentang pembelahan perutnya, mungkin merupakan cerita darinya tentang apa yang dilakukan kepadanya sewaktu kecil, yaitu pembelahan perutnya di tempat Halimah. Atau mungkin dibelah lagi untuk kedua kalinya, kemudian yang ketiga kalinya ketika ia diisra’kan ke langit. Wallahu a’lam.
Al-Hafizh Ibnu Asakir menyebutkan dalam biografi Waraqah dengan sanadnya kepada Sulaiman bin Tharkhan at-Taimi, ia berkata: Telah sampai kepada kami bahwa Allah Ta’ala mengutus Muhammad sebagai rasul pada tahun kelima puluh dari pembangunan Ka’bah. Yang pertama kali Allah khususkan kepadanya dari kenabian dan kemuliaan adalah mimpi yang ia lihat. Ia menceritakan hal itu kepada istrinya Khadijah binti Khuwailid. Ia berkata kepadanya: Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan memperlakukanmu kecuali dengan kebaikan.
Pada suatu hari ketika ia berada di Gua Hira, dan ia biasa menyendiri di sana dari kaumnya, tiba-tiba Jibril turun kepadanya. Ia mendekatinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat ketakutan kepadanya. Jibril meletakkan tangannya di dadanya dan dari belakang di antara kedua pundaknya, lalu berkata: Ya Allah, hapuslah dosanya, lapangkan dadanya, dan sucikan hatinya. Wahai Muhammad, bergembiralah, sesungguhnya engkau adalah nabi umat ini. Bacalah. Nabi Allah berkata kepadanya dalam keadaan takut dan gemetar: “Aku tidak pernah membaca kitab sama sekali, tidak pandai membacanya, tidak bisa menulis, dan tidak bisa membaca.” Maka Jibril mengambilnya dan mencekiknya dengan cekikan yang keras, kemudian melepaskannya, lalu berkata kepadanya: Bacalah. Ia mengulangi hal yang sama kepadanya. Lalu ia mendudukkannya di atas hamparan seperti permadani, dan ia melihat di dalamnya sifat-sifat dan keindahan seperti mutiara dan permata yaqut. Ia berkata kepadanya: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan – hingga akhir ayat-ayat tersebut. Kemudian ia berkata kepadanya: Jangan takut wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah Rasulullah.
Kemudian ia pergi, dan kekhawatiran datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata: “Bagaimana aku harus berbuat dan bagaimana aku berkata kepada kaumku?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dalam keadaan takut. Jibril datang kepadanya dari depannya dalam wujud aslinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat perkara yang besar yang memenuhi dadanya. Jibril berkata kepadanya: Jangan takut wahai Muhammad, Jibril adalah utusan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya. Yakinkanlah dirimu dengan kemuliaan Allah, karena sesungguhnya engkau adalah Rasulullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali, tidak melewati pohon atau batu kecuali ia sujud sambil berkata: Assalamu ‘alaika ya Rasulallah (Salam sejahtera atasmu wahai Rasulullah). Maka jiwanya menjadi tenang dan ia mengetahui kemuliaan Allah kepadanya. Ketika ia sampai kepada istrinya Khadijah, ia duduk di sampingnya. Khadijah melihat perubahan warna wajahnya, maka hal itu membuatnya cemas. Ia berdiri mendekatinya. Ketika ia mendekat, ia mengusap wajahnya dan berkata: Mungkin karena sesuatu yang pernah engkau lihat dan dengar sebelum hari ini.
Ia berkata: “Wahai Khadijah, tahukah engkau tentang apa yang selama ini aku lihat dalam mimpi dan suara yang aku dengar dalam keadaan terjaga dan aku takut karenanya? Sesungguhnya itu adalah Jibril yang telah menampakkan diri kepadaku dan berbicara kepadaku, serta membacakan kepadaku kalam yang membuatku takut. Kemudian ia kembali kepadaku dan memberitahuku bahwa aku adalah nabi umat ini. Aku kembali pulang, dan aku berpaling kepada pohon-pohon dan batu-batu, maka mereka berkata: Salam sejahtera atasmu wahai Rasulullah.”
Khadijah berkata: Bergembiralah, demi Allah, aku telah mengetahui bahwa Allah tidak akan memperlakukanmu kecuali dengan kebaikan. Aku bersaksi bahwa engkau adalah nabi umat ini yang ditunggu-tunggu oleh Yahudi. Nashih, budakku, dan Bahira sang pendeta telah memberitahuku tentangnya dan memerintahkanku untuk menikah denganmu sejak lebih dari dua puluh tahun yang lalu.
Ia terus menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga ia makan, minum, dan tertawa. Kemudian ia pergi menemui seorang pendeta yang berada tidak jauh dari Mekah. Ketika ia mendekatinya dan ia mengenalnya, ia berkata: Ada apa denganmu wahai pemimpin wanita Quraisy? Ia berkata: Aku datang kepadamu agar engkau memberitahuku tentang Jibril. Ia berkata: Mahasuci Allah Tuhan kami Yang Mahakudus! Mengapa Jibril disebut di negeri ini yang penduduknya menyembah berhala?! Jibril adalah malaikat Allah yang dipercaya dan utusan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya. Ia adalah sahabat Musa dan Isa. Maka ia mengetahui kemuliaan Allah kepada Muhammad.
Kemudian ia mendatangi seorang budak milik Utbah bin Rabi’ah yang bernama Addas. Ia bertanya kepadanya, maka ia memberitahukan kepadanya seperti apa yang diberitahukan oleh pendeta tersebut bahkan lebih. Ia berkata: Jibril bersama Musa ketika Allah menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, dan bersamanya ketika Allah berbicara dengannya di Gunung Thur. Ia adalah sahabat Isa bin Maryam yang Allah dukung dengannya.
Kemudian ia berdiri dari sisinya dan mendatangi Waraqah bin Naufal, lalu bertanya kepadanya tentang Jibril. Ia memberitahukan kepadanya seperti itu juga. Kemudian ia bertanya kepadanya: Apa kabar? Maka ia mengambil sumpah darinya untuk merahasiakan apa yang akan ia katakan kepadanya. Ia pun bersumpah untuknya. Ia berkata kepadanya: Sesungguhnya Ibnu Abdullah menceritakan kepadaku, dan ia adalah orang yang jujur, aku bersumpah demi Allah ia tidak pernah berdusta dan tidak pernah didustakan, bahwa Jibril turun kepadanya di Gua Hira dan memberitahukan kepadanya bahwa ia adalah nabi umat ini, serta membacakan kepadanya ayat-ayat yang ia diutus dengannya.
Ia berkata: Maka Waraqah terkejut karena hal itu dan berkata: Jika benar Jibril telah menginjak bumi, sungguh ia telah turun kepada sebaik-baik penduduk bumi. Ia tidak turun kecuali kepada seorang nabi. Ia adalah sahabat para nabi dan rasul. Allah mengutusnya kepada mereka. Aku membenarkanmu tentangnya. Suruhlah Ibnu Abdullah menemuiku agar aku bertanya kepadanya, mendengar perkataannya, dan berbicara dengannya, karena aku khawatir ia bukan Jibril. Sesungguhnya sebagian setan menyerupainya untuk menyesatkan sebagian anak Adam dan merusak mereka hingga orang itu setelah akalnya baik menjadi gila.
Ia berdiri dari sisinya dalam keadaan yakin kepada Allah bahwa Dia tidak akan memperlakukan sahabatnya kecuali dengan kebaikan. Ia kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukan kepadanya apa yang dikatakan Waraqah. Maka Allah Ta’ala menurunkan: Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu, kamu bukan orang yang gila. (Surah Al-Qalam: 1-2) – hingga akhir ayat-ayat tersebut.
Ia berkata kepadanya: “Tidak, demi Allah, sesungguhnya ia adalah Jibril.” Maka ia berkata kepadanya: Aku ingin engkau mendatanginya dan memberitahukan kepadanya, semoga Allah memberinya hidayah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya. Waraqah berkata kepadanya: Yang datang kepadamu ini, apakah ia datang dalam cahaya atau kegelapan? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan kepadanya tentang sifat Jibril dan apa yang ia lihat dari kebesarannya serta apa yang diwahyukan kepadanya. Waraqah berkata: Aku bersaksi bahwa ini adalah Jibril, dan ini adalah kalam Allah. Ia telah memerintahkanmu dengan sesuatu yang harus engkau sampaikan kepada kaummu. Sesungguhnya ini adalah urusan kenabian. Jika aku hidup hingga zamanmu, aku akan mengikutimu. Kemudian ia berkata: Bergembiralah wahai putra Abdul Muththalib dengan apa yang Allah kabarkan kepadamu.
Ia berkata: Perkataan Waraqah dan pembenaran-nya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebar luas, maka hal itu menyusahkan kaum pemuka dari kaumnya. Ia berkata: Wahyu berhenti sejenak, maka mereka berkata: Seandainya ia dari Allah, tentu terus berlanjut. Tetapi Allah telah membencinya. Maka Allah menurunkan: Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi. (Surah Adh-Dhuha: 1-2) dan Bukankah Kami telah melapangkan (Surah Asy-Syarh: 1) keduanya secara lengkap.
Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah al-Hafizh menceritakan kepada kami, Abu al-Abbas menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdul Jabbar menceritakan kepada kami, Yunus menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq, Ismail bin Abi Hakim maula Zubair menceritakan kepadaku bahwa ia menceritakan dari Khadijah binti Khuwailid, bahwa ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang apa yang terjadi antara keduanya dari apa yang Allah muliakan kepadanya berupa kenabiannya: Wahai putra pamanku, apakah engkau bisa memberitahuku tentang sahabatmu ini yang datang kepadamu ketika ia datang? Ia berkata: “Ya.” Ia berkata: Jika ia datang kepadamu, beritahukanlah kepadaku.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di sisinya, tiba-tiba Jibril datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, lalu berkata: “Wahai Khadijah, ini adalah Jibril.” Ia berkata: Apakah engkau melihatnya sekarang? Ia berkata: “Ya.” Ia berkata: Duduklah di sampingku yang kanan. Maka ia berpindah dan duduk. Ia berkata: Apakah engkau melihatnya sekarang? Ia berkata: “Ya.” Ia berkata: Pindahlah dan duduklah di pangkuanku. Maka ia berpindah dan duduk di pangkuannya. Ia berkata: Apakah engkau melihatnya sekarang? Ia berkata: “Ya.” Maka ia membuka kepalanya dan menanggalkan kerudungnya, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di pangkuannya. Ia berkata: Apakah engkau melihatnya sekarang? Ia berkata: “Tidak.” Ia berkata: Ini bukan setan, sesungguhnya ini adalah malaikat. Wahai putra pamanku, tetaplah teguh dan bergembiralah. Kemudian ia beriman kepadanya dan bersaksi bahwa apa yang dibawanya adalah kebenaran.
Ibnu Ishaq berkata: Maka aku menceritakan hadits ini kepada Abdullah bin Hasan. Ia berkata: Aku telah mendengar ibuku Fathimah binti Husain menceritakan hadits ini dari Khadijah, kecuali aku mendengarnya berkata: Ia memasukkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam antara dirinya dan bajunya, maka Jibril ‘alaihissalam pergi saat itu.
Al-Baihaqi berkata: Ini adalah sesuatu yang dilakukan Khadijah untuk memastikan perkara itu sebagai kehati-hatian terhadap agamanya dan pembenaran. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia sudah yakin dengan apa yang dikatakan Jibril kepadanya dan apa yang diperlihatkan kepadanya berupa ayat-ayat yang kami sebutkan berulang kali, dan apa yang terjadi dari pemberian salam oleh pohon dan batu kepadanya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ucapan salam.
Dan Muslim telah berkata dalam kitab Shahih-nya: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Bukair, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman, telah menceritakan kepadaku Simak bin Harb dari Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku mengenal sebuah batu di Mekah yang dulu memberi salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengenalnya sekarang.”
Dan Abu Daud al-Thayalisi berkata: telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Mu’adz dari Simak bin Harb dari Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di Mekah ada sebuah batu yang memberi salam kepadaku pada malam-malam aku diutus, sesungguhnya aku mengenalnya ketika aku melewatinya.”
Dan al-Baihaqi meriwayatkan dari hadits Isma’il bin Abdurrahman as-Suddi al-Kabir dari Abbad bin Abdullah dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, ia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Mekah, lalu beliau keluar ke salah satu sudut kota, maka tidak ada pohon maupun gunung yang beliau temui kecuali mengucapkan: “Assalamu alaikum ya Rasulullah.” Dan dalam riwayat lain: “Sungguh aku pernah melihat diriku masuk bersamanya ke dalam lembah, maka tidak ada batu atau pohon yang ia lewati kecuali mengucapkan: Assalamu alaikum ya Rasulullah, dan aku mendengarnya.”
Al-Bukhari berkata dalam riwayatnya yang telah disebutkan sebelumnya: Kemudian wahyu terputus untuk beberapa waktu, hingga Nabi shallallahu alaihi wasallam berduka sebagaimana sampai kepada kami, beliau berangkat berkali-kali bermaksud untuk menjatuhkan diri dari puncak-puncak gunung yang tinggi. Maka setiap kali beliau naik ke puncak gunung untuk menjatuhkan dirinya, Jibril menampakkan diri kepadanya, lalu berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah Rasulullah yang benar. Maka hatinya menjadi tenang karenanya, dan jiwanya menjadi tenteram lalu beliau kembali. Jika masa terputusnya wahyu itu berlangsung lama, beliau berangkat lagi untuk melakukan hal yang serupa. Maka ketika beliau naik ke puncak gunung, Jibril menampakkan diri kepadanya, lalu mengatakan kepadanya seperti itu.
Dan dalam Shahihain dari hadits Abdurrazzaq dari Ma’mar dari az-Zuhri, ia berkata: Aku mendengar Abu Salamah bin Abdurrahman menceritakan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan tentang terputusnya wahyu, beliau bersabda: “Ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari langit, maka aku mengangkat pandanganku, ternyata malaikat yang datang kepadaku di Hira sedang duduk di atas singgasana antara langit dan bumi. Maka aku sangat ketakutan karenanya hingga aku terjatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata: ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Maka Allah menurunkan: ‘Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah perbuatan dosa.‘ (Surah al-Muddatstsir: 1-5) Ia berkata: Kemudian wahyu menjadi intensif dan berturut-turut.”
Maka ini adalah pertama kali yang turun dari al-Quran setelah terputusnya wahyu, bukan secara mutlak. Yang pertama kali secara mutlak adalah firman-Nya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (Surah al-Alaq: 1) Dan telah tetap dari Jabir bahwa yang pertama kali turun adalah “Wahai orang yang berselimut.” Yang tepat adalah membawa ucapannya sedapat mungkin kepada apa yang telah kami katakan, karena dalam konteks ucapannya ada yang menunjukkan telah mendahuluinya kedatangan malaikat yang ia kenali yang kedua dengan apa yang ia kenali yang pertama padanya.
Kemudian ucapannya: “menceritakan tentang terputusnya wahyu” adalah dalil atas telah mendahuluinya wahyu sebelum penyampaian wahyu ini. Wallahu a’lam.
Dan telah tetap dalam Shahihain dari hadits Ali bin al-Mubarak, dan pada Muslim dari al-Auza’i, keduanya dari Yahya bin Abi Katsir, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Salamah bin Abdurrahman: Al-Quran mana yang turun terlebih dahulu? Maka ia berkata: “Wahai orang yang berselimut.” Maka aku berkata: Atau “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”? Maka ia berkata: Aku bertanya kepada Jabir bin Abdullah: Al-Quran mana yang turun terlebih dahulu? Maka ia berkata: “Wahai orang yang berselimut.” Maka aku berkata: Dan “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”? Maka ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku beri’tikaf di Hira selama sebulan, maka ketika aku menyelesaikan i’tikafku, aku turun dan masuk ke dalam lembah, lalu aku dipanggil. Maka aku melihat di depanku, di belakangku, di kananku, dan di kiriku, namun aku tidak melihat sesuatu pun. Kemudian aku melihat ke langit, ternyata dia (Jibril) di atas Arsy di udara. Maka aku dilanda ketakutan atau ia berkata: kengerian. Lalu aku mendatangi Khadijah dan aku memerintahkan mereka, maka mereka menyelimutiku.” Maka Allah menurunkan: “Wahai orang yang berselimut” hingga sampai “dan bersihkanlah pakaianmu.” Dan ia berkata dalam riwayat lain: “Ternyata malaikat yang datang kepadaku di Hira sedang duduk di atas singgasana antara langit dan bumi, maka aku sangat ketakutan karenanya.” Dan ini tegas dalam telah mendahuluinya kedatangannya kepada beliau dan menurunkan wahyu dari Allah kepada beliau, sebagaimana telah kami sebutkan. Wallahu a’lam.
Dan di antara mereka ada yang mengira bahwa yang pertama kali turun setelah terputusnya wahyu adalah surah “Demi waktu dhuha, dan demi malam ketika telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak pula membencimu” (Surah adh-Dhuha: 1-3) hingga akhirnya. Demikian dikatakan oleh Muhammad bin Ishaq. Dan sebagian ahli qiraat berkata: Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertakbir di awalnya karena gembira. Dan ini adalah pendapat yang jauh yang dibantah oleh apa yang telah disebutkan sebelumnya dari riwayat penulis Shahihain bahwa al-Quran yang pertama turun setelah terputusnya wahyu adalah “Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan.” Namun surah adh-Dhuha turun setelah terputusnya wahyu yang lain yang berlangsung beberapa malam yang sedikit, sebagaimana tetap dalam Shahihain dan lainnya dari hadits al-Aswad bin Qais dari Jundub bin Abdullah al-Bajali, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sakit sehingga beliau tidak bangun satu malam atau dua malam atau tiga malam. Maka seorang wanita berkata: Aku tidak melihat setanmu kecuali telah meninggalkanmu. Maka Allah menurunkan: “Demi waktu dhuha, dan demi malam ketika telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak pula membencimu.” (Surah adh-Dhuha: 1-3)
Dan dengan perintah ini terjadilah pengiriman kepada manusia, sedangkan dengan yang pertama terjadilah kenabian.
Dan sebagian dari mereka berkata: Masa terputusnya wahyu mendekati dua tahun atau dua setengah tahun. Yang jelas, wallahu a’lam, bahwa itu adalah masa ketika Mikail menyertainya sebagaimana dikatakan oleh asy-Sya’bi dan lainnya. Dan ini tidak menafikan telah mendahuluinya wahyu Jibril kepadanya yang pertama: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” Kemudian terjadi masa terputus yang mana Mikail menyertainya, kemudian Jibril menyertainya setelah turunnya “Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah perbuatan dosa.” (Surah al-Muddatstsir: 1-5) Kemudian wahyu menjadi intensif setelah ini dan berturut-turut, yakni datang silih berganti sesuatu demi sesuatu. Dan saat itulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri dalam risalah dengan sebaik-baik pendirian, dan menyingsingkan lengan baju kesungguhan, dan menyeru kepada Allah yang dekat dan yang jauh, orang-orang merdeka dan budak. Maka beriman kepadanya saat itu setiap orang yang cerdas, mulia, dan beruntung, dan tetap dalam menentangnya dan membangkangnya setiap orang yang sombong dan keras kepala. Maka orang yang pertama kali bersegera membenarkan dari kalangan laki-laki merdeka adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, dan dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib, dan dari kalangan wanita adalah Khadijah binti Khuwailid istri beliau alaihi salam, dan dari kalangan budak adalah budaknya Zaid bin Haritsah al-Kalbi radhiyallahu anhum wa ardhahum. Dan telah disebutkan sebelumnya pembahasan tentang keimanan Waraqah bin Naufal terhadap apa yang ditemukan dari wahyu, dan ia wafat pada masa terputus radhiyallahu anhu.
Pasal Tentang dicegahnya jin dan setan-setan yang jahat dari mencuri pendengaran ketika al-Quran diturunkan
Agar tidak ada seorang pun dari mereka yang mencuri darinya walau satu huruf, lalu melemparkannya kepada lidah walinya sehingga perkaranya menjadi rancu dan kebenaran menjadi tercampur.
Maka termasuk rahmat Allah dan karunia-Nya serta kelembutan-Nya kepada makhluk-Nya bahwa Dia menghalangi mereka dari langit, sebagaimana Allah berfirman yang memberitakan dari mereka dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjaga yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) pasti akan menjumpai panah api yang mengintai(nya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang-orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (Surah al-Jin: 8-10) Dan Allah berfirman: “Dan al-Quran itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Tidak pantas bagi mereka dan tidak pula mereka sanggup. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengarkan(nya).” (Surah asy-Syu’ara: 210-212)
Al-Hafizh Abu Nu’aim berkata: telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad, yaitu ath-Thabrani, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Sa’id bin Abi Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, telah menceritakan kepada kami Isra’il dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Jin-jin itu naik ke langit mendengarkan wahyu. Jika mereka mendengar satu kata, mereka menambahkan sembilan kata padanya. Adapun kata tersebut adalah benar, sedangkan apa yang mereka tambahkan adalah batil. Maka ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam diutus, mereka dihalangi dari tempat-tempat duduk mereka. Lalu mereka menyebutkan hal itu kepada Iblis, dan bintang-bintang tidak pernah dilontarkan sebelum itu. Maka Iblis berkata kepada mereka: Ini karena sesuatu yang telah terjadi di bumi. Lalu ia mengutus bala tentaranya, maka mereka menemukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang berdiri shalat di antara dua gunung. Lalu mereka mendatanginya dan memberitahukannya. Maka ia berkata: Inilah perkara yang telah terjadi di bumi.
Dan Abu Awanah berkata dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya berangkat menuju pasar Ukaz, dan telah dihalangi antara setan-setan dengan berita langit, dan dilontarkan kepada mereka panah-panah api. Maka setan-setan kembali kepada kaum mereka. Lalu mereka berkata: Ada apa dengan kalian? Mereka berkata: Telah dihalangi antara kami dengan berita langit, dan dilontarkan kepada kami panah-panah api. Maka mereka berkata: Itu tidak lain karena sesuatu yang terjadi. Maka bergeraklah kalian ke timur dan barat bumi. Maka berlalulah rombongan yang mengambil arah ke Tihamah, yaitu beliau di Nakhlah menuju pasar Ukaz, dan beliau sedang shalat bersama para sahabatnya shalat fajar. Maka ketika mereka mendengar al-Quran, mereka mendengarkannya. Lalu mereka berkata: Inilah yang menghalangi antara kami dengan berita langit. Maka mereka kembali kepada kaum mereka, lalu berkata: “Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Quran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.” (Surah al-Jin: 1-2) Maka Allah mewahyukan kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam: “Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan.” (Surah al-Jin: 1) Kedua perawi mengeluarkannya dalam Shahihain.
Dan Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Atha’ bin as-Sa’ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Sesungguhnya tidak ada satu kabilah pun dari jin kecuali mereka memiliki tempat-tempat untuk mendengarkan. Jika wahyu turun, para malaikat mendengar suara seperti suara besi yang dilemparkan ke batu. Ia berkata: Maka jika para malaikat mendengar, mereka bersujud, maka mereka tidak mengangkat kepala mereka hingga wahyu turun. Maka ketika wahyu turun, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Apa yang Tuhan kalian firmankan? Maka jika itu adalah sesuatu yang akan terjadi di langit, mereka berkata: Yang benar, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika itu adalah sesuatu yang akan terjadi di bumi dari urusan ghaib, atau kematian, atau sesuatu yang akan terjadi di bumi, mereka berbicara dengannya. Lalu mereka berkata: Akan terjadi begini dan begitu. Maka setan-setan mendengarnya lalu menurunkannya kepada wali-wali mereka. Maka ketika Muhammad shallallahu alaihi wasallam diutus, mereka dilempari dengan bintang-bintang. Maka orang yang pertama mengetahuinya adalah suku Tsaqif. Maka orang yang memiliki kambing di antara mereka pergi ke kambingnya lalu menyembelih seekor kambing setiap hari, dan orang yang memiliki unta menyembelih seekor unta setiap hari. Maka orang-orang terburu-buru dalam harta mereka. Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Jangan lakukan itu, jika bintang-bintang yang mereka gunakan untuk petunjuk, maka tidak ada masalah, tetapi jika bukan, maka ini adalah perkara yang terjadi. Maka mereka melihat, ternyata bintang-bintang yang digunakan untuk petunjuk tetap seperti semula, tidak ada yang hilang darinya. Maka mereka menahan diri. Dan Allah memalingkan jin lalu mereka mendengar al-Quran. Maka ketika mereka menghadirinya, mereka berkata: Diamlah. Dan setan-setan pergi kepada Iblis lalu memberitahukannya. Maka ia berkata: Ini adalah kejadian yang terjadi di bumi. Lalu datangkanlah kepadaku tanah dari setiap negeri. Maka mereka mendatangkannya dengan tanah Tihamah. Maka ia berkata: Di sinilah kejadiannya. Al-Baihaqi dan al-Hakim meriwayatkannya dari jalur Hammad bin Salamah dari Atha’ bin as-Sa’ib dengannya.
Dan al-Waqidi berkata: telah menceritakan kepadaku Usamah bin Zaid bin Aslam dari Umar bin Abdan al-Absi dari Ibnu Ka’b, ia berkata: Tidak pernah dilontarkan dengan bintang sejak Isa diangkat, hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi nabi, lalu dilontarkan dengannya. Maka Quraisy melihat perkara yang tidak pernah mereka lihat, lalu mereka mulai melepaskan hewan-hewan ternak mereka dan membebaskan budak-budak mereka, mengira bahwa itu adalah kehancuran. Maka berita tentang perbuatan mereka itu sampai kepada penduduk Thaif. Lalu suku Tsaqif melakukan seperti itu. Maka sampailah kepada Abd Yalil bin Amru apa yang dilakukan oleh suku Tsaqif. Ia berkata: Mengapa kalian melakukan apa yang aku lihat? Mereka berkata: Dilontarkan dengan bintang-bintang, maka kami melihatnya berjatuhan dari langit. Maka ia berkata: Sesungguhnya mendapatkan kembali harta setelah hilangnya adalah sulit, maka jangan terburu-buru, dan lihatlah; jika itu adalah bintang-bintang yang dikenal, maka itu menurut kami adalah dari kehancuran manusia, dan jika itu adalah bintang-bintang yang tidak dikenal, maka itu karena perkara yang telah terjadi. Maka lihatlah. Ternyata bintang-bintang itu tidak dikenal, lalu mereka memberitahukannya. Maka ia berkata: Perkara itu masih ada waktu setelahnya, ini adalah tanda munculnya seorang nabi. Maka tidak berlalu lama hingga Abu Sufyan bin Harb datang kepada mereka menuju harta-hartanya. Lalu Abd Yalil datang dan mengingatkannya tentang urusan bintang-bintang. Maka Abu Sufyan berkata: Telah muncul Muhammad bin Abdullah yang mengaku bahwa ia adalah nabi yang diutus. Maka Abd Yalil berkata: Pada saat itulah dilontarkan dengannya.
Dan berkata Sa’id bin Manshur dari Khalid dari Hushain dari ‘Amir asy-Sya’bi, ia berkata: Bintang-bintang tidak dilempari (oleh jin) hingga diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka mereka melepaskan ternak-ternak mereka dan memerdekakan budak-budak mereka. Maka berkatalah ‘Abd Yalil: Lihatlah, jika bintang-bintang yang dilempari itu adalah bintang-bintang yang dikenal maka ini pertanda kehancuran manusia, dan jika bintang-bintang yang tidak dikenal maka ini pertanda telah terjadi suatu peristiwa. Maka mereka melihat ternyata itu adalah bintang-bintang yang tidak dikenal. Ia berkata: Maka mereka menahan (diri). Tidak lama kemudian datanglah kepada mereka berita keluarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan al-Baihaqi dan al-Hakim meriwayatkan dari jalur al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Langit dunia tidak dijaga pada masa kekosongan antara ‘Isa dan Muhammad, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada keduanya. Maka mungkin maksud orang yang menafikan itu bahwa langit tidak dijaga dengan penjagaan yang ketat, dan harus diartikan demikian karena telah tsabat dalam hadits dari jalur ‘Abdur Razzaq dari Ma’mar dari az-Zuhri dari ‘Ali bin al-Husain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk tiba-tiba dilemparlah bintang lalu bercahaya, maka beliau bertanya: “Apa yang biasa kalian katakan jika ini dilempari?” Ia (Ibnu ‘Abbas) berkata: Kami biasa mengatakan ada orang besar yang meninggal dan ada orang besar yang lahir. Maka beliau bersabda: “Bukan, tetapi…” lalu menyebutkan hadits sebagaimana telah disebutkan terdahulu ketika penciptaan langit dan apa yang ada di dalamnya berupa bintang-bintang pada awal penciptaan. Dan segala puji bagi Allah. Dan telah disebutkan oleh Ibnu Ishaq dalam as-Sirah kisah pelemparan bintang, dan ia menyebutkan dari pemimpin Tsaqif bahwa dia berkata kepada mereka dalam memperhatikan bintang-bintang: Apakah itu tanda-tanda langit atau yang lain. Tetapi dia menamakannya ‘Amr bin Umayyah. Maka Allah yang lebih tahu.
Dan as-Suddi berkata: Langit tidak dijaga kecuali jika di bumi ada nabi atau agama Allah yang tampak, dan setan-setan sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengambil tempat-tempat duduk di langit dunia untuk mendengarkan apa yang terjadi di langit dari suatu urusan. Maka ketika Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi, mereka dilempari pada suatu malam dari berbagai malam, maka penduduk Thaif ketakutan karena itu. Mereka berkata: Penduduk langit telah binasa karena apa yang mereka lihat dari dahsyatnya api di langit dan berseliwerannya meteor. Maka mereka mulai memerdekakan budak-budak mereka dan melepaskan ternak-ternak mereka. Maka berkatalah kepada mereka ‘Abd Yalil bin ‘Amr bin ‘Umair: Celakalah kalian wahai penduduk Thaif, tahanlah harta-harta kalian, dan lihatlah tanda-tanda bintang, jika kalian melihatnya tetap di tempatnya maka penduduk langit tidak binasa, dan ini hanya karena anak Abu Kabsyah (maksudnya Nabi Muhammad), dan jika kalian tidak melihatnya maka sungguh penduduk langit telah binasa. Maka mereka melihat dan melihat bintang-bintang itu, lalu mereka berhenti dari harta-harta mereka. Dan setan-setan ketakutan pada malam itu lalu mereka mendatangi Iblis. Maka dia berkata: Datangkan kepadaku dari setiap negeri segenggam tanah. Maka mereka mendatangkannya, lalu dia menciumnya dan berkata: Orang yang kalian cari itu di Mekah. Maka dia mengutus tujuh orang jin dari Nushaibin, lalu mereka tiba di Mekah dan menemukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Masjidil Haram membaca al-Quran, maka mereka mendekat kepadanya karena semangatnya terhadap al-Quran hingga hampir dada mereka mengenainya, kemudian mereka masuk Islam, maka Allah menurunkan urusan mereka kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan al-Waqidi berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Shalih dari Ibnu Abi Hakim yaitu Isma’il dari ‘Atha’ bin Yasar dari Abu Hurairah, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, setiap berhala terjatuh terbalik, maka datanglah setan-setan kepada Iblis, lalu mereka berkata kepadanya: Tidak ada berhala di bumi kecuali telah terjatuh terbalik. Dia berkata: Ini adalah nabi yang telah diutus, maka carilah dia di desa-desa pedesaan. Maka mereka mencarinya dan berkata: Kami tidak menemukannya. Maka dia berkata: Aku yang akan mencarinya. Lalu dia keluar mencarinya, kemudian diseru: Pergilah engkau ke Habbah al-Qalb. Maksudnya Mekah, maka dia mencarinya di sana dan menemukannya di sana di dekat Qarn ats-Tsa’alib. Lalu dia keluar kepada setan-setan dan berkata: Sesungguhnya aku telah menemukannya, bersamanya Jibril, lalu apa yang kalian miliki? Mereka berkata: Kami akan menghiasi syahwat di mata sahabat-sahabatnya dan membuat mereka mencintainya. Dia berkata: Maka aku tidak khawatir kalau begitu.
Dan al-Waqidi berkata: Telah menceritakan kepadaku Thalhah bin ‘Amr dari Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Ketika hari di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diangkat menjadi nabi, setan-setan dicegah dari langit dan dilempari dengan meteor. Maka mereka datang kepada Iblis dan menyebutkan itu kepadanya. Maka dia berkata: Telah terjadi suatu urusan, ini adalah nabi yang telah keluar atas kalian di negeri yang disucikan tempat keluarnya Bani Israil. Ia berkata: Maka mereka pergi ke Syam kemudian kembali kepadanya dan berkata: Tidak ada seorang pun di sana. Maka Iblis berkata: Akulah yang akan mencarinya. Lalu dia keluar mencarinya di Mekah, maka tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Hira sedang turun bersamanya Jibril. Maka dia kembali kepada teman-temannya dan berkata: Sungguh Ahmad telah diutus dan bersamanya Jibril, lalu apa yang kalian miliki? Mereka berkata: Dunia, kami akan membuat manusia mencintainya. Dia berkata: Maka itulah kalau begitu.
Al-Waqidi berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Thalhah bin ‘Amr dari ‘Atha’ dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Setan-setan biasa mendengarkan wahyu, maka ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, mereka dicegah, maka mereka mengadu itu kepada Iblis. Maka dia berkata: Sungguh telah terjadi suatu urusan. Maka dia naik ke atas Abu Qubais, dan itu adalah gunung pertama yang diletakkan di bumi. Maka dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat di belakang Maqam. Maka dia berkata: Aku akan pergi mematahkan lehernya. Maka dia datang dengan angkuh, dan Jibril bersamanya. Maka Jibril menendangnya dengan satu tendangan yang melemparkannya sekian dan sekian jauh, maka setan itu lari ketakutan. Kemudian al-Waqidi meriwayatkannya dan Abu Ahmad az-Zubairi keduanya dari Rabah bin Abi Ma’ruf dari Qais bin Sa’d dari Mujahid, lalu menyebutkan seperti ini. Dan dia berkata: Maka dia menendangnya dengan kakinya lalu melemparkannya ke Aden.
Pasal: Tentang Bagaimana Datangnya Wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
Telah disebutkan terdahulu bagaimana Jibril datang kepadanya pada kali pertama dan kedua juga.
Dan Malik berkata dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Bahwa al-Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu datang kepadamu? Maka beliau bersabda: “Kadang-kadang datang kepadaku seperti gemerincing lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku, kemudian terlepas dariku dan aku telah memahami apa yang dikatakannya, dan kadang-kadang malaikat menjelma bagiku sebagai seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku dan aku memahami apa yang dikatakannya.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Dan sungguh aku pernah melihatnya shallallahu ‘alaihi wasallam ketika wahyu turun kepadanya pada hari yang sangat dingin, kemudian terlepas darinya, dan sungguh dahinya bercucuran keringat. Dikeluarkan oleh keduanya (al-Bukhari dan Muslim) dalam ash-Shahihain dari hadits Malik dengannya.
Dan Imam Ahmad meriwayatkannya dari ‘Amir bin Shalih dari Hisyam bin ‘Urwah dengannya sepertinya. Dan demikian juga diriwayatkan oleh ‘Abdah bin Sulaiman dan Anas bin ‘Iyadh dari Hisyam bin ‘Urwah. Dan telah meriwayatkannya Ayyub as-Sakhtiyani dari Hisyam dari ayahnya dari al-Harits bin Hisyam bahwa dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka aku berkata: Bagaimana wahyu datang kepadamu? Maka beliau menyebutkannya, dan dia tidak menyebutkan ‘Aisyah.
Dan dalam hadits Ifki (tuduhan palsu), ‘Aisyah berkata: Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan tempat duduknya, dan tidak keluar seorang pun dari ahli rumah hingga diturunkan kepadanya, maka menimpanya apa yang biasa menimpanya berupa kesulitan, hingga sesungguhnya bercucuran darinya seperti mutiara dari keringat, dan itu pada hari musim dingin karena beratnya wahyu yang turun kepadanya.
Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Razzaq telah mengabarkan kepadaku Yunus bin Sulaim, ia berkata: Yunus bin Yazid mendiktekan kepadaku dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah dari ‘Abdur Rahman bin ‘Abd al-Qari, aku mendengar ‘Umar bin al-Khaththab berkata: Adalah apabila turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wahyu terdengar di dekat wajahnya seperti dengungan lebah. Dan menyebutkan sempurna hadits dalam turunnya “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman” (Surat al-Mu’minun: 1). Dan demikian juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dari hadits ‘Abdur Razzaq, kemudian an-Nasa’i berkata: Munkar, kami tidak mengetahui seorang pun yang meriwayatkannya selain Yunus bin Sulaim dan kami tidak mengenalnya. Dan dalam Shahih Muslim dan lainnya dari hadits al-Hasan dari Haththan bin ‘Abdullah ar-Raqasyi dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila turun kepadanya wahyu, dia merasa berat karenanya dan menjadi merah wajahnya. Dan dalam riwayat lain: dan menutup kedua matanya, dan kami mengetahui itu darinya.
Dan dalam ash-Shahihain hadits Zaid bin Tsabit ketika turun “Tidak sama orang-orang yang duduk dari orang-orang yang beriman” (Surat an-Nisa’: 95). Maka ketika Ibnu Ummi Maktum mengadukan kebutaannya, turunlah: “selain yang mempunyai uzur” (Surat an-Nisa’: 95). Ia berkata: Dan paha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas pahaku, dan aku sedang menulis, maka ketika turun wahyu hampir pahanya menekan pahaku.
Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Hammam bin Yahya dari ‘Atha’ dari Shafwan bin Ya’la bin Umayyah dari Ya’la bin Umayyah, ia berkata: ‘Umar berkata kepadaku: Apakah kamu ingin melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diwahyukan kepadanya? Maka dia mengangkat ujung kain dari wajahnya, dan dia sedang diwahyukan kepadanya di al-Ji’ranah, maka tiba-tiba dia berwajah merah, dan dia mendengkur seperti dengkuran unta muda.
Dan tsabat dalam ash-Shahihain dari hadits ‘Aisyah ketika turun hijab, dan sesungguhnya Saudah keluar setelah itu ke Manashi’ (tempat buang hajat) pada malam hari, maka ‘Umar berkata: Sungguh kami mengenalimu wahai Saudah. Maka dia kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya kepadanya, dan dia sedang duduk makan malam, dan tulang di tangannya. Maka Allah mewahyukan kepadanya, dan tulang di tangannya, kemudian dia mengangkat kepalanya dan bersabda: “Sesungguhnya telah diizinkan bagi kalian untuk keluar untuk keperluan kalian.” Maka ini menunjukkan bahwa wahyu tidak menghilangkan kesadarannya sama sekali; dengan dalil bahwa dia duduk tidak jatuh, dan tidak jatuh pula tulang dari tangannya, semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepadanya.
Dan Abu Dawud ath-Thayalisi berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Manshur telah menceritakan kepada kami ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila diturunkan kepadanya wahyu menjadi merah karenanya tubuhnya dan wajahnya, dan dia menahan diri dari para sahabatnya, dan tidak seorang pun dari mereka berbicara kepadanya.
Dan dalam Musnad Ahmad dan lainnya dari hadits Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib dari ‘Amr bin al-Walid dari ‘Abdullah bin ‘Amr, aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau merasakan wahyu? Beliau bersabda: “Ya, aku mendengar gemerincing, kemudian aku tenang pada saat itu, dan tidak sekali pun diwahyukan kepadaku kecuali aku mengira bahwa jiwaku akan keluar karenanya.”
Dan Abu Ya’la al-Mushili berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin al-Hajjaj telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid bin Ziyad telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin Kulaib telah menceritakan kepada kami ayahku dari pamannya al-Faltan bin ‘Ashim, ia berkata: Kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan diturunkan kepadanya, dan adalah apabila diturunkan kepadanya pandangannya tetap dengan mata terbuka, dan pendengaran serta hatinya kosong untuk apa yang datang kepadanya dari Allah ‘azza wajalla.
Dan Abu Nu’aim meriwayatkan dari hadits Qutaibah telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Ghurab dari al-Ahwash bin Hakim dari Abu ‘Aun dari Sa’id bin al-Musayyab dari Abu Hurairah, ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila turun kepadanya wahyu, kepala beliau terasa berat dan beliau membungkus kepalanya dengan pacar (henna). Ini hadits yang sangat gharib (jarang).
Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu an-Nadhr telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Syaiban dari Laits dari Syahr bin Hausyab dari Asma’ binti Yazid, ia berkata: Sesungguhnya aku memegang tali kekang al-‘Adhba’ unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika turun kepadanya Surat al-Ma’idah seluruhnya, dan hampir karena beratnya mematahkan lengan unta itu. Dan telah meriwayatkannya Abu Nu’aim dari hadits ats-Tsauri dari Laits bin Abi Sulaim dengannya.
Dan Imam Ahmad juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Hayy bin ‘Abdullah dari Abu ‘Abdur Rahman al-Hubuli dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Surat al-Ma’idah, dan dia mengendarai tunggangannya, maka tunggangannya tidak sanggup membawanya, lalu dia turun darinya. Dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari hadits Shabbah bin Sahl dari ‘Ashim al-Ahwal, telah menceritakan kepadaku Ummu ‘Amr dari pamannya, bahwa dia berada dalam perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka turunlah kepadanya Surat al-Ma’idah, lalu patahlah leher tunggangannya karena beratnya. Dan ini gharib dari jalur ini.
Kemudian telah tsabat dalam ash-Shahihain turunnya Surat al-Fath kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika kembalinya dari Hudaibiyah, dan dia di atas tunggangannya. Maka seakan-akan itu terkadang dan terkadang, sesuai dengan keadaan. Dan Allah yang lebih tahu. Dan telah kami sebutkan macam-macam wahyu kepadanya shallallahu ‘alaihi wasallam di awal Syarh al-Bukhari, dan apa yang disebutkan oleh al-Halimi dan para imam lainnya radhiyallahu ‘anhum.
Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah engkau gerakkan lidahmu (membaca Al-Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.” (Surat Al-Qiyamah: 16-19). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah engkau tergesa-gesa (membaca) Al-Quran sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'” (Surat Thaha: 114).
Hal ini terjadi pada permulaan wahyu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sangat bersemangat untuk menerima apa yang diwahyukan kepadanya dari Allah ‘azza wa jalla oleh malaikat, beliau mengikuti bacaan malaikat tersebut. Maka Allah Ta’ala memerintahkannya agar diam mendengarkan hingga wahyu selesai. Allah menjamin akan mengumpulkannya di dalam dadanya, memudahkan bacaannya, penyampaiannya, menjelaskannya, menafsirkannya, menerangkannya, dan memberitahukan maksud yang dikehendaki darinya. Oleh karena itu Allah berfirman: “Dan janganlah engkau tergesa-gesa (membaca) Al-Quran sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'” Dan berfirman: “Janganlah engkau gerakkan lidahmu (membaca Al-Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya” yakni di dalam dadamu “dan membacakannya” yakni agar engkau dapat membacanya. “Apabila Kami telah selesai membacakannya” yakni malaikat membacakannya kepadamu “maka ikutilah bacaannya itu” yakni dengarkanlah dan renungkanlah. “Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya” dan ini serupa dengan firman-Nya: “Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'”
Dalam Shahihain dari hadits Musa bin Abi ‘Aisyah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengalami kesulitan ketika menerima wahyu, dan beliau menggerakkan kedua bibirnya.” Maka Allah menurunkan: “Janganlah engkau gerakkan lidahmu (membaca Al-Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya dan membacakannya.” Ibnu Abbas berkata: “(Maksudnya) mengumpulkannya di dadamu, kemudian engkau membacakannya.” “Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu” “dengarkanlah dan diamlah.” “Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.” Ibnu Abbas berkata: “Maka apabila Jibril datang kepadanya, beliau mendengarkan, dan ketika Jibril pergi, beliau membacanya sebagaimana Allah ‘azza wa jalla telah menjanjikannya.”
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian wahyu terus turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau membenarkan apa yang datang kepadanya darinya (wahyu), menerimanya dengan penerimaan yang baik, dan memikul apa yang dipikulkan kepadanya, baik orang-orang ridha maupun marah. Karena kenabian memiliki beban dan tanggung jawab yang berat, yang tidak dapat dipikulnya dan tidak mampu memikulnya kecuali para rasul yang memiliki kekuatan dan keteguhan, dengan pertolongan dan taufik Allah, menghadapi apa yang mereka terima dari manusia dan apa yang dikembalikan kepada mereka dari apa yang mereka bawa dari Allah ‘azza wa jalla. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan sesuai dengan apa yang Allah perintahkan kepadanya, menghadapi apa yang ia terima dari kaumnya berupa pertentangan dan gangguan.
Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid beriman, membenarkan apa yang datang kepadanya dari Allah, dan membantunya dalam urusannya. Ia adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta membenarkan apa yang datang darinya. Allah meringankan beban Rasulullah dengan hal itu; beliau tidak mendengar sesuatu yang tidak ia sukai berupa penolakan terhadapnya dan pendustaan kepadanya yang menyedihkannya, melainkan Allah melapangkannya melalui Khadijah. Ketika beliau kembali kepadanya, ia meneguhkannya, meringankan bebannya, membenarkannya, dan meringankan urusan manusia baginya, semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha.
Ibnu Ishaq berkata: Hisyam bin ‘Urwah menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari Abdullah bin Ja’far, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah dengan sebuah rumah dari qashab (mutiara berongga), tidak ada keributan di dalamnya dan tidak ada kesusahan.” Hadits ini diriwayatkan dalam Shahihain dari hadits Hisyam. Ibnu Hisyam berkata: Qashab di sini adalah mutiara yang berongga.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan semua nikmat yang Allah berikan kepadanya dan kepada para hamba berupa kenabian secara rahasia kepada orang-orang dari keluarganya yang ia percayai.
Musa bin ‘Uqbah dari Az-Zuhri berkata: Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya sebelum shalat diwajibkan.
Saya (penulis) berkata: Maksudnya shalat lima waktu pada malam Isra’, adapun asal shalat, itu telah diwajibkan pada masa hidup Khadijah radhiyallahu ‘anha, sebagaimana akan kami jelaskan.
Ibnu Ishaq berkata: Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta membenarkan apa yang datang kepadanya. Kemudian Jibril datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat diwajibkan kepadanya. Jibril menghentakkan tumitnya di tepi lembah, maka terpancarlah mata air dari air zamzam. Jibril dan Muhammad ‘alaihimas salam berwudhu, kemudian shalat dua rakaat dan sujud empat kali. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali, dan Allah telah menyenangkan matanya, jiwanya tenang, dan datang kepadanya apa yang ia cintai dari Allah. Maka beliau mengambil tangan Khadijah hingga membawanya ke mata air tersebut, kemudian berwudhu sebagaimana Jibril berwudhu, lalu shalat dua rakaat dan empat kali sujud. Kemudian beliau dan Khadijah shalat secara rahasia.
Saya (penulis) berkata: Shalat Jibril ini berbeda dengan shalat yang ia lakukan bersama beliau di Ka’bah sebanyak dua kali, ketika ia menjelaskan kepada beliau waktu-waktu shalat lima waktu, awal dan akhirnya. Karena itu terjadi setelah shalat diwajibkan pada malam Isra’. Hal itu akan kami jelaskan insya Allah, kepada-Nya kami percaya dan kepada-Nya kami bertawakkal.
Pasal Tentang Penyebutan Orang Pertama yang Masuk Islam dari Para Pendahulu Islam dari Kalangan Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu datang sehari setelah itu, sementara keduanya sedang shalat. Ali berkata: “Wahai Muhammad, apa ini?” Beliau menjawab: “Agama Allah yang Ia pilih untuk diri-Nya dan mengutus para rasul-Nya dengannya. Aku mengajakmu kepada Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan kepada beribadah kepada-Nya, serta mengingkari al-Lat dan al-‘Uzza.” Ali berkata: “Ini adalah perkara yang belum pernah aku dengar sebelum hari ini, aku tidak akan memutuskan sesuatu hingga aku membicarakannya dengan Abu Thalib.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka jika Ali membocorkan rahasianya sebelum urusannya terang-terangan. Maka beliau berkata kepadanya: “Wahai Ali, jika engkau tidak masuk Islam maka rahasiakanlah.” Ali tinggal di malam itu, kemudian Allah memasukkan Islam ke dalam hati Ali. Maka di pagi hari ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: “Apa yang engkau tawarkan kepadaku wahai Muhammad?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan engkau mengingkari al-Lat dan al-‘Uzza, serta berlepas diri dari para tandingan (Allah).” Maka Ali melakukannya dan masuk Islam. Ia tinggal mendatanginya dengan takut dari Abu Thalib. Ali menyembunyikan keislamannya dan tidak menampakkannya. Ibnu Haritsah, yaitu Zaid, juga masuk Islam. Mereka tinggal sekitar sebulan, Ali datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk nikmat Allah kepada Ali adalah bahwa ia berada dalam asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum Islam.
Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Abi Najih menceritakan kepadaku dari Mujahid, ia berkata: Termasuk nikmat Allah kepada Ali adalah bahwa Quraisy mengalami paceklik yang parah, dan Abu Thalib memiliki banyak tanggungan keluarga. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pamannya Abbas, dan ia adalah orang yang paling kaya dari Bani Hasyim: “Wahai Abbas, sesungguhnya saudaramu Abu Thalib memiliki banyak tanggungan keluarga, dan orang-orang mengalami paceklik yang engkau lihat ini. Mari kita pergi hingga kita meringankan tanggungannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil Ali dan memasukkannya ke dalam asuhannya. Ali tidak pernah berpisah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Allah mengutusnya sebagai nabi. Maka Ali mengikutinya, beriman kepadanya, dan membenarkannya.
Yunus bin Bukair dari Muhammad bin Ishaq berkata: Yahya bin Abi Al-Asy’ats Al-Kindi dari penduduk Kufah menceritakan kepadaku, Ismail bin Abi Iyas bin ‘Afif menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari kakeknya ‘Afif. ‘Afif adalah saudara Al-Asy’ats bin Qais dari pihak ibunya. Ia berkata: Aku adalah seorang pedagang, aku datang ke Mina pada hari-hari haji. Abbas bin Abdul Muththalib adalah seorang pedagang, maka aku mendatanginya untuk membeli darinya dan menjual kepadanya. Ia berkata: Ketika kami sedang berada, tiba-tiba keluarlah seorang laki-laki dari tenda, lalu ia berdiri shalat menghadap Ka’bah. Kemudian keluarlah seorang wanita dan ia berdiri shalat. Keluarlah seorang anak muda dan ia berdiri shalat bersamanya. Maka aku berkata: “Wahai Abbas, apa ini?” Ia berkata: “Ini Muhammad bin Abdullah yang mengaku bahwa Allah mengutusnya, dan sesungguhnya harta kekayaan Kisra dan Kaisar akan dibukakan kepadanya. Ini istrinya Khadijah binti Khuwailid yang beriman kepadanya. Dan ini anak muda sepupunya Ali bin Abi Thalib yang beriman kepadanya.” ‘Afif berkata: “Andai saja aku beriman pada hari itu, tentu aku akan menjadi orang kedua.”
Ibrahim bin Sa’d mengikutinya dari Ibnu Ishaq dan ia berkata dalam hadits: Tiba-tiba keluarlah seorang laki-laki dari tenda yang dekat dengannya, lalu ia melihat ke langit. Ketika melihat matahari telah condong, ia berdiri shalat. Kemudian ia menyebutkan berdirinya Khadijah di belakangnya.
Ibnu Jarir berkata: Muhammad bin ‘Ubaid Al-Muharibi menceritakan kepadaku, Sa’id bin Khutsaim menceritakan kepada kami dari Asad bin ‘Abdah Al-Bajali dari Yahya bin ‘Afif dari ‘Afif, ia berkata: Aku datang pada zaman jahiliyah ke Mekah, lalu aku singgah di rumah Abbas bin Abdul Muththalib. Ketika matahari terbit dan meninggi di langit, sementara aku melihat ke Ka’bah, datanglah seorang pemuda lalu melemparkan pandangannya ke langit, kemudian menghadap Ka’bah. Ia berdiri menghadapnya. Tidak lama kemudian datanglah seorang anak muda, lalu berdiri di sebelah kanannya. Tidak lama kemudian datanglah seorang wanita, lalu berdiri di belakang mereka berdua. Pemuda itu rukuk maka anak muda dan wanita itu ikut rukuk. Pemuda itu bangkit maka anak muda dan wanita itu bangkit. Pemuda itu bersujud maka mereka berdua ikut sujud. Maka aku berkata: “Wahai Abbas, perkara besar.” Ia berkata: “Perkara besar. Tahukah engkau siapa ini?” Aku berkata: “Tidak.” Ia berkata: “Ini Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib, keponakanku. Tahukah engkau siapa anak muda itu?” Aku berkata: “Tidak.” Ia berkata: “Ini Ali bin Abi Thalib. Tahukah engkau siapa wanita yang di belakang mereka berdua?” Aku berkata: “Tidak.” Ia berkata: “Ini Khadijah binti Khuwailid, istri keponakanku. Dia menceritakan kepadaku bahwa Tuhanmu, Tuhan langit, memerintahkannya dengan apa yang engkau lihat mereka lakukan. Demi Allah, aku tidak mengetahui di seluruh muka bumi ini seorang pun yang menganut agama ini selain mereka bertiga.”
Ibnu Jarir berkata: Ibnu Humaid menceritakan kepadaku, ‘Isa bin Sawadah bin Al-Ja’d menceritakan kepada kami, Muhammad bin Al-Munkadir, Rabi’ah bin Abi Abdurrahman, Abu Hazim, dan Al-Kalbi menceritakan kepada kami, mereka berkata: Ali adalah orang pertama yang masuk Islam. Al-Kalbi berkata: Ia masuk Islam ketika berusia sembilan tahun.
Ibnu Humaid menceritakan kepada kami, Salamah menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq, ia berkata: Laki-laki pertama yang beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, shalat bersamanya, dan membenarkannya adalah Ali bin Abi Thalib, dan ia berusia sepuluh tahun. Ia berada dalam asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum Islam.
Al-Waqidi berkata: Ibrahim bin Nafi’ memberitahukan kepada kami dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid, ia berkata: Ali masuk Islam ketika berusia sepuluh tahun. Al-Waqidi berkata: Para sahabat kami sepakat bahwa Ali masuk Islam setelah Rasulullah diutus sebagai nabi selama setahun.
Muhammad bin Ka’b berkata: Orang pertama yang masuk Islam dari umat ini adalah Khadijah. Dua laki-laki pertama yang masuk Islam adalah Abu Bakar dan Ali. Ali masuk Islam sebelum Abu Bakar. Ali menyembunyikan imannya karena takut kepada ayahnya, hingga ayahnya bertemu dengannya dan berkata: “Apakah engkau masuk Islam?” Ia menjawab: “Ya.” Ayahnya berkata: “Dukung dan tolonglah sepupumu.” Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang pertama yang menampakkan Islam.
Ibnu Jarir meriwayatkan dalam Tarikhnya dari hadits Syu’bah dari Abu Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas, ia berkata: Orang pertama yang shalat adalah Ali.
Zakariya bin Yahya Adh-Dharir menceritakan kepada kami, Abdul Hamid bin Bahr menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil dari Jabir, ia berkata: Nabi diutus pada hari Senin, dan Ali shalat pada hari Selasa. Ia meriwayatkan dari hadits Syu’bah dari ‘Amr bin Murrah dari Abu Hamzah, seorang laki-laki dari Anshar, aku mendengar Zaid bin Arqam berkata: Orang pertama yang masuk Islam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ali bin Abi Thalib. Ia berkata: Aku menyebutkannya kepada An-Nakha’i, maka ia mengingkarinya dan berkata: Abu Bakar adalah orang pertama yang masuk Islam.
Kemudian ia berkata: ‘Ubaidullah bin Musa menceritakan kepada kami, Al-‘Ala’ menceritakan kepada kami dari Al-Minhal bin ‘Amr dari ‘Abbad bin Abdullah, aku mendengar Ali berkata: “Aku adalah hamba Allah dan saudara Rasul-Nya, aku adalah Ash-Shiddiq Al-Akbar (orang yang paling benar), tidak ada yang mengatakannya setelahku kecuali pendusta yang membuat-buat. Aku shalat sebelum orang-orang selama tujuh tahun.” Demikianlah diriwayatkan Ibnu Majah dari Muhammad bin Ismail Ar-Razi dari ‘Ubaidullah bin Musa Al-‘Absi, ia adalah seorang Syi’ah dari perawi Shahih, dari Al-‘Ala’ bin Shalih Al-Asadi Al-Kufi. Mereka mentsiqahkannya, tetapi Abu Hatim berkata: Ia termasuk Syi’ah yang tua. Ali bin Al-Madini berkata: Ia meriwayatkan hadits-hadits munkar. Al-Minhal bin ‘Amr adalah tsiqah (terpercaya). Adapun syaikhnya ‘Abbad bin Abdullah, ia adalah Al-Asadi Al-Kufi. Ali bin Al-Madini berkata tentangnya: Ia lemah haditsnya. Al-Bukhari berkata: Padanya terdapat keraguan. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat. Hadits ini munkar dalam setiap kondisi dan Ali radhiyallahu ‘anhu tidak mengatakannya. Bagaimana mungkin ia shalat sebelum orang-orang selama tujuh tahun? Ini tidak dapat dibayangkan sama sekali, wallahu a’lam.
Sebagian lain berkata: Orang pertama yang masuk Islam dari umat ini adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Penggabungan semua pendapat adalah bahwa Khadijah adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan wanita, dan berdasarkan konteks yang jelas, juga sebelum laki-laki. Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan budak adalah Zaid bin Haritsah. Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib, karena ia masih kecil di bawah umur baligh menurut pendapat yang masyhur. Mereka pada saat itu adalah ahli rumah. Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki merdeka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Keislamannya lebih bermanfaat daripada keislaman orang-orang yang disebutkan sebelumnya, karena ia adalah tokoh yang diagungkan dan pemimpin di Quraisy yang dimuliakan, pemilik harta, penyeru kepada Islam, dicintai, menyatukan, menafkahkan harta dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana akan dijelaskan nanti.
Yunus dari Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: “Benarkah apa yang dikatakan Quraisy wahai Muhammad, tentang engkau meninggalkan tuhan-tuhan kami, memandang bodoh akal kami, dan mengkafirkan bapak-bapak kami?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Benar, sesungguhnya aku adalah utusan Allah dan nabi-Nya, mengutus aku untuk menyampaikan risalah-Nya, dan aku mengajak engkau kepada Allah dengan kebenaran. Demi Allah, sesungguhnya itu adalah kebenaran. Aku mengajak engkau wahai Abu Bakar kepada Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan jangan beribadah kepada selain-Nya, serta berwalilah (bersekutulah) dalam ketaatan kepada-Nya.” Beliau membacakan Al-Quran kepadanya. Maka ia tidak menolak dan tidak mengingkari. Ia masuk Islam, mengingkari berhala-berhala, meninggalkan tandingan-tandingan (Allah), dan mengakui kebenaran Islam. Abu Bakar kembali dan ia adalah seorang mukmin yang membenarkan.
Ibn Ishaq berkata, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin Hushain at-Tamimi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah aku mengajak seseorang kepada Islam melainkan ia mengalami keraguan, kegoncangan, dan pertimbangan, kecuali Abu Bakar. Ia tidak menunda-nunda ketika aku menyebutkannya kepadanya, dan tidak ragu-ragu mengenainya.” ‘Akam artinya menunda.
Apa yang disebutkan oleh Ibn Ishaq dalam perkataannya: “Maka ia tidak menetapkan dan tidak mengingkari,” adalah hal yang munkar (tidak dapat diterima). Karena sesungguhnya Ibn Ishaq dan selainnya telah menyebutkan bahwa ia adalah sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebelum masa kenabian. Dan ia mengetahui dari kejujuran beliau, amanahnya, kebaikan wataknya, dan kemuliaan akhlaknya, apa yang mencegahnya dari berbohong kepada makhluk, lalu bagaimana mungkin ia berbohong kepada Allah?! Oleh karena itu, begitu disebutkan kepadanya bahwa Allah telah mengutusnya, ia langsung bersegera membenarkannya, dan tidak berbelit-belit, dan tidak menunda. Sungguh telah kami sebutkan tata cara keislamannya dalam kitab kami yang kami khususkan dalam biografinya, dan kami sebutkan keutamaan-keutamaannya dan sifat-sifatnya, dan kami ikuti itu dengan biografi al-Faruq juga, dan kami sebutkan apa yang diriwayatkan masing-masing dari mereka berdua dari Nabi shallallahu alaihi wasallam berupa hadits-hadits, dan apa yang diriwayatkan darinya berupa atsar-atsar, hukum-hukum, dan fatwa-fatwa, maka itu mencapai tiga jilid. Dan bagi Allah segala pujian dan karunia.
Dan telah shahih dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Darda’ dalam hadits tentang pertengkaran yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma, dan di dalamnya: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian, lalu kalian berkata: Engkau berbohong. Dan Abu Bakar berkata: Benar. Dan ia menolong aku dengan diri dan hartanya. Maka apakah kalian akan meninggalkan untukku sahabatku?” Dua kali, maka ia tidak diganggu setelahnya. Dan ini seperti nash (keterangan tegas) bahwa ia adalah orang pertama yang masuk Islam radhiallahu anhu.
Dan telah meriwayatkan at-Tirmidzi dan Ibn Hibban dari hadits Syu’bah dari Sa’id al-Jurayri dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id, ia berkata: Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu berkata: Bukankah aku orang yang paling berhak atasnya, bukankah aku orang pertama yang masuk Islam, bukankah aku adalah sahabat ini dan itu?
Dan meriwayatkan Ibn Asakir dari jalur Bahlul bin Ubaid, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq as-Sabi’i dari al-Harits, aku mendengar Ali berkata: Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, dan orang pertama yang shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam dari kalangan laki-laki adalah Ali bin Abi Thalib. Dan Syu’bah berkata: dari Amru bin Murrah dari Abu Hamzah dari Zaid bin Arqam, ia berkata: Orang pertama yang shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq.
Dan telah terdahulu riwayat Ibn Jarir untuk hadits ini dari jalur Syu’bah dari Amru bin Murrah dari Abu Hamzah dari Zaid bin Arqam, ia berkata: Orang pertama yang masuk Islam adalah Ali bin Abi Thalib. Amru bin Murrah berkata: Maka aku sebutkan itu kepada Ibrahim an-Nakha’i, lalu ia mengingkarinya. Dan ia berkata: Orang pertama yang masuk Islam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu.
Dan meriwayatkan al-Waqidi dengan sanad-sanadnya, dari Abu Arwa ad-Dausi dan Abu Salamah bin Abdurrahman dan sekelompok dari salaf: Orang pertama yang masuk Islam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq.
Dan Ya’qub bin Sufyan berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Malik bin Mighwal dari seorang laki-laki, ia berkata: Ibn Abbas ditanya, siapa orang pertama yang beriman, maka ia berkata: Abu Bakar ash-Shiddiq. Tidakkah kamu mendengar perkataan Hassan:
Apabila kamu teringat kesedihan dari saudaramu yang terpercaya, maka ingatlah saudaramu Abu Bakar dengan apa yang telah ia lakukan
Sebaik-baik manusia, paling menepati janji dan paling adil, setelah Nabi dan paling berhak dengan apa yang ia emban
Dan yang kedua yang terpuji keberadaannya, dan orang pertama dari mereka yang membenarkan para rasul
Ia hidup terpuji dalam mengikuti perintah Allah, dengan perintah sahabatnya yang telah pergi dan tidak berpindah
Dan telah meriwayatkannya Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami seorang syaikh kami, dari Mujalid dari Amir, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibn Abbas atau Ibn Abbas ditanya: Siapa manusia yang pertama masuk Islam? Ia berkata: Tidakkah kamu mendengar perkataan Hassan bin Tsabit, lalu ia menyebutkannya. Dan demikian pula meriwayatkannya al-Haitsam bin Adi dari Mujalid dari Amir asy-Sya’bi, aku bertanya kepada Ibn Abbas lalu menyebutkannya.
Dan Abu al-Qasim al-Baghawi berkata: Telah menceritakan kepadaku Surayj bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin al-Majisyun, ia berkata: Aku mendapati para pemuka kami di antara mereka: Muhammad bin al-Munkadir dan Rabi’ah bin Abi Abdurrahman dan Shalih bin Kaisan dan Utsman bin Muhammad tidak meragukan bahwa orang pertama dari kaum yang masuk Islam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu.
Aku (penulis) berkata: Dan demikian pula Ibrahim an-Nakha’i dan Muhammad bin Ka’ab dan Muhammad bin Sirin dan Sa’ad bin Ibrahim berkata, dan inilah yang masyhur dari jumhur Ahlussunnah.
Dan meriwayatkan Ibn Asakir dari Sa’ad bin Abi Waqqash dan Muhammad bin al-Hanafiyyah bahwa keduanya berkata: Ia bukan yang pertama dari mereka masuk Islam, tetapi ia adalah yang paling utama dari mereka dalam Islam. Sa’ad berkata: Dan sungguh telah beriman sebelumnya lima orang.
Dan shahih dalam Shahih al-Bukhari dari hadits Hammam bin al-Harits dari Ammar bin Yasir, ia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tidak bersamanya kecuali lima budak, dan dua perempuan dan Abu Bakar. Dan meriwayatkan Imam Ahmad dan Ibn Majah dari hadits Ashim bin Abi an-Nujud dari Zirr dari Ibn Mas’ud, ia berkata: Orang pertama yang menampakkan Islam adalah tujuh orang: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar dan Ammar dan ibunya Sumayyah, dan Shuhaib dan Bilal dan al-Miqdad. Adapun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka Allah melindunginya dengan pamannya, dan adapun Abu Bakar maka Allah melindunginya dengan kaumnya, dan adapun yang lainnya maka kaum musyrikin menangkap mereka, lalu memakaiakan kepada mereka baju besi, dan menjemur mereka di bawah terik matahari. Maka tidak ada seorang pun dari mereka melainkan ia menyetujui mereka terhadap apa yang mereka inginkan, kecuali Bilal. Maka sesungguhnya ia merendahkan dirinya demi Allah, dan ia direndahkan oleh kaumnya. Maka mereka menangkapnya lalu memberikannya kepada anak-anak, lalu mereka berkeliling dengannya di lembah-lembah Mekah, sementara ia mengatakan: Ahad Ahad (Maha Esa, Maha Esa). Dan demikian pula meriwayatkannya ats-Tsauri dari Manshur dari Mujahid secara mursal.
Adapun apa yang diriwayatkan Ibn Jarir dengan mengatakan: Telah mengabarkan kepada kami Ibn Humaid, telah menceritakan kepada kami Kinanah bin Jabalah dari Ibrahim bin Thahman dari Hajjaj dari Qatadah dari Salim bin Abi al-Ja’d dari Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata: Aku berkata kepada ayahku: Apakah Abu Bakar orang pertama kalian masuk Islam? Ia berkata: Tidak, sungguh telah masuk Islam sebelumnya lebih dari lima puluh orang, tetapi ia adalah yang paling utama dari kami dalam Islam. Maka ini adalah hadits yang munkar dari segi sanad dan matannya.
Ibn Jarir berkata: Dan yang lain berkata: Orang pertama yang masuk Islam adalah Zaid bin Haritsah. Kemudian ia meriwayatkan dari jalur al-Waqidi dari Ibn Abi Dzi’b: Aku bertanya kepada az-Zuhri: Siapa orang pertama yang masuk Islam dari kaum perempuan? Ia berkata: Khadijah. Aku berkata: Maka dari kalangan laki-laki? Ia berkata: Zaid bin Haritsah. Dan demikian pula Urwah dan Sulaiman bin Yasar dan tidak hanya satu orang berkata: Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki adalah Zaid bin Haritsah. Dan sungguh Abu Hanifah radhiallahu anhu telah menjawab dengan mengumpulkan antara perkataan-perkataan ini bahwa orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki yang merdeka adalah Abu Bakar, dan dari kalangan perempuan adalah Khadijah, dan dari kalangan budak adalah Zaid bin Haritsah, dan dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhum ajma’in (semoga Allah meridhai mereka semua).
Muhammad bin Ishaq berkata: Maka ketika Abu Bakar masuk Islam dan menampakkan keislamannya, ia menyeru kepada Allah azza wajalla. Dan Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang disenangi oleh kaumnya, dicintai, mudah bergaul, dan ia adalah orang Quraisy yang paling mengetahui nasab Quraisy, dan paling mengetahui Quraisy tentang apa yang ada pada mereka dari kebaikan dan kejelekan. Dan ia adalah seorang pedagang yang berakhlak mulia dan memiliki kebaikan. Dan laki-laki dari kaumnya datang kepadanya dan akrab dengannya, karena tidak hanya satu perkara; karena ilmunya, perdagangannya, dan baiknya majelisnya. Maka ia mulai menyeru kepada Islam orang yang ia percayai dari kaumnya di antara orang yang sering datang kepadanya dan duduk bersamanya. Maka masuk Islam melalui tangannya, sebagaimana sampai kepadaku: az-Zubair bin al-Awwam dan Utsman bin Affan dan Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin Auf radhiallahu anhum. Maka mereka pergi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama Abu Bakar, lalu beliau menawarkan Islam kepada mereka, dan membacakan kepada mereka al-Quran, dan memberitakan kepada mereka tentang hak Islam, maka mereka beriman. Dan mereka adalah delapan orang yang mendahului dalam Islam, lalu mereka membenarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan beriman dengan apa yang datang dari Allah.
Dan Muhammad bin Umar al-Waqidi berkata: Telah menceritakan kepadaku adh-Dhahhak bin Utsman dari Makhramah bin Sulaiman al-Walibi dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah, ia berkata: Thalhah bin Ubaidillah berkata: Aku hadir di pasar Bushra, tiba-tiba ada seorang rahib di biara nya, ia berkata: Tanyakan kepada jamaah haji: Apakah di antara mereka ada seorang laki-laki dari penduduk tanah haram? Thalhah berkata: Aku berkata: Ya, aku. Maka ia berkata: Apakah Ahmad telah muncul? Aku berkata: Dan siapakah Ahmad? Ia berkata: Putra Abdullah bin Abdul Muththalib, ini adalah bulannya yang di dalamnya ia keluar, dan ia adalah penutup para nabi. Tempat keluarnya dari tanah haram, dan tempat hijrahnya ke (negeri yang banyak) pohon kurma, tanah berbatu, dan tanah bergaram. Maka hati-hatilah jangan sampai engkau didahului kepadanya. Thalhah berkata: Maka jatuh di hatiku apa yang ia katakan. Lalu aku keluar dengan cepat hingga aku tiba di Mekah. Maka aku berkata: Apakah ada kejadian? Mereka berkata: Ya, Muhammad bin Abdullah al-Amin telah menjadi nabi, dan sungguh Abu Bakar bin Abi Quhafah telah mengikutinya. Ia berkata: Maka aku keluar hingga masuk kepada Abu Bakar, lalu aku berkata: Apakah engkau mengikuti laki-laki ini? Ia berkata: Ya. Maka pergilah kepadanya, lalu masuklah kepadanya, lalu ikutilah dia. Karena sesungguhnya ia menyeru kepada kebenaran. Maka Thalhah memberitakan kepadanya tentang apa yang dikatakan rahib. Lalu Abu Bakar keluar bersama Thalhah, lalu ia masukkan ia kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka Thalhah masuk Islam dan memberitakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang apa yang dikatakan rahib, maka beliau gembira karenanya. Ketika Abu Bakar dan Thalhah masuk Islam, Naufal bin Khuwailid bin al-Adawiyyah menangkap keduanya, dan ia dipanggil Asadnya Quraisy (singa Quraisy), lalu ia mengikat keduanya dalam satu tali, dan Banu Taim tidak membela keduanya. Oleh karena itu Abu Bakar dan Thalhah dinamakan al-Qarinain (dua orang yang terikat bersama). Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, cukupkan kami dari kejahatan Ibnu al-Adawiyyah.” Diriwayatkan oleh al-Baihaqi.
Dan al-Hafizh Abu al-Hasan Khaitsamah bin Sulaiman al-Athrabulisi berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz al-Umari, hakim al-Mishishahah, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Abdullah bin Ubaidillah bin Ishaq bin Muhammad bin Imran bin Musa bin Thalhah bin Ubaidillah, telah menceritakan kepadaku ayahku Ubaidillah, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad bin Imran bin Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku Muhammad bin Imran dari al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar dari Aisyah radhiallahu anha, ia berkata: Abu Bakar keluar ingin menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ia adalah sahabatnya di masa jahiliyyah. Maka ia bertemu dengannya, lalu ia berkata: Wahai Abu al-Qasim, engkau telah hilang dari majelis-majelis kaummu, dan mereka menuduhmu dengan celaan terhadap bapak-bapak dan ibu-ibu mereka. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, aku menyerumu kepada Allah.” Ketika beliau selesai dari perkataannya, Abu Bakar masuk Islam, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pergi darinya dan tidak ada antara dua gunung (Akhsyabain) seorang pun yang lebih gembira daripada beliau dengan keislaman Abu Bakar. Dan Abu Bakar pergi, lalu petang harinya ia mendatangi Utsman bin Affan dan Thalhah bin Ubaidillah dan az-Zubair bin al-Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqqash, maka mereka masuk Islam. Kemudian keesokan harinya ia datang dengan Utsman bin Mazh’un dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Abdurrahman bin Auf dan Abu Salamah bin Abdul Asad dan al-Arqam bin Abi al-Arqam, maka mereka masuk Islam, radhiallahu anhum (semoga Allah meridhai mereka). Abdullah bin Muhammad berkata: Maka telah menceritakan kepadaku ayahku Muhammad bin Imran dari al-Qasim bin Muhammad dari Aisyah, ia berkata: Ketika para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam berkumpul dan mereka adalah tiga puluh delapan laki-laki, Abu Bakar mendesak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menampakkan (Islam secara terbuka). Maka beliau bersabda: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya kita sedikit.” Maka Abu Bakar tidak henti-hentinya mendesak hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menampakkan diri, dan kaum muslimin berpencar di sudut-sudut masjid, setiap laki-laki bersama kabilahnya. Dan Abu Bakar berdiri di tengah manusia sebagai khatib, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk. Maka ia adalah khatib pertama yang menyeru kepada Allah dan kepada rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Dan kaum musyrikin menyerang Abu Bakar dan kaum muslimin, lalu mereka memukul di sudut-sudut masjid dengan pukulan yang keras. Dan Abu Bakar diinjak dan dipukul dengan pukulan yang keras. Dan si fasik Utbah bin Rabi’ah mendekatinya lalu ia memukulnya dengan dua sandal yang berpaku dan ia menggesernya ke wajahnya. Dan ia melompat di atas perut Abu Bakar hingga wajahnya tidak dapat dikenali dari hidungnya. Dan Banu Taim datang berlari-lari, lalu mereka menjauhkan kaum musyrikin dari Abu Bakar, dan Banu Taim membawa Abu Bakar dalam kain hingga memasukkannya ke rumahnya, dan mereka tidak meragukan kematiannya. Kemudian Banu Taim kembali lalu masuk ke masjid, dan mereka berkata: Demi Allah, jika Abu Bakar meninggal, kami pasti akan membunuh Utbah bin Rabi’ah. Lalu mereka kembali kepada Abu Bakar, dan ayahnya Abu Quhafah dan Banu Taim berbicara kepada Abu Bakar hingga ia menjawab, lalu ia berbicara di akhir siang. Maka ia berkata: Apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Maka mereka mencacinya dengan lidah-lidah mereka dan mencela nya. Kemudian mereka berdiri, dan berkata kepada ibunya Ummu al-Khair: Perhatikanlah agar engkau memberinya makan sesuatu, atau memberinya minum. Ketika ia sendirian dengannya, ia mendesak nya dan ia terus berkata: Apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Maka ia berkata: Demi Allah, tidak ada bagiku pengetahuan tentang sahabatmu. Ia berkata: Pergilah kepada Ummu Jamil binti al-Khaththab, lalu tanyakan ia tentang beliau. Maka ia keluar hingga ia datang kepada Ummu Jamil. Lalu ia berkata: Sesungguhnya Abu Bakar bertanya kepadamu tentang Muhammad bin Abdullah. Maka ia berkata: Aku tidak mengenal Abu Bakar dan tidak pula Muhammad bin Abdullah. Dan jika engkau suka aku pergi bersamamu kepada putramu? Ia berkata: Ya. Maka ia pergi bersamanya hingga menemukan Abu Bakar tergeletak lemah. Maka Ummu Jamil mendekat dan berteriak dengan keras, dan ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya kaum yang mendapatkan ini darimu adalah ahli kefasikan dan kekufuran. Dan sesungguhnya aku benar-benar berharap agar Allah membalaskan untuk mu.
Dia berkata: “Lalu apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?” Dia (Ummu Bakr) berkata: “Ini ibumu yang mendengar.” Dia (Abu Bakar) berkata: “Tidak ada sesuatu atasmu darinya.” Dia berkata: “Salim baik-baik saja.” Dia berkata: “Di mana dia?” Dia berkata: “Di rumah Ibnu al-Arqam.” Dia berkata: “Sungguh demi Allah, aku tidak akan mencicipi makanan dan tidak akan minum atau sampai aku mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Maka keduanya menunggu hingga langkah kaki mulai reda dan manusia tenang, keduanya membawanya keluar dalam keadaan bersandar pada mereka berdua hingga memasukkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menciumnya, dan orang-orang Muslim juga menciumnya, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat menyayanginya. Maka Abu Bakar berkata: “Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu wahai Rasulullah, tidak ada sesuatu yang membuatku khawatir kecuali apa yang dilakukan orang fasik itu terhadap wajahku, dan ini ibuku yang berbakti kepada anaknya, dan engkau adalah orang yang diberkahi, maka ajaklah dia kepada Allah, dan berdoalah kepada Allah untuknya semoga Allah menyelamatkannya denganmu dari neraka.” Dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa untuknya dan mengajaknya kepada Allah, maka dia masuk Islam. Mereka tinggal bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di rumah itu selama sebulan, dan mereka berjumlah tiga puluh sembilan orang laki-laki. Dan sungguh Hamzah bin Abdul Muththalib telah masuk Islam pada hari Abu Bakar dipukul, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa untuk Umar bin Khaththab dan untuk Abu Jahal bin Hisyam, maka pagi harinya datang Umar, dan doa itu adalah pada hari Rabu, maka Umar masuk Islam pada hari Kamis. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ahli rumah bertakbir dengan takbir yang terdengar di bagian atas Makkah. Dan keluar Abu al-Arqam sedangkan dia buta dan kafir, dan dia berkata: “Ya Allah, ampunilah Bani Ghair al-Arqam karena sesungguhnya dia telah kafir.” Maka Umar berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa kita menyembunyikan agama kita sedangkan kita berada di atas kebenaran, dan mereka menampakkan agama mereka sedangkan mereka berada di atas kebatilan?” Dia berkata: “Wahai Umar, sesungguhnya kita sedikit, engkau telah melihat apa yang kita alami.” Maka Umar berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak ada majelis yang aku duduki dengan kekufuran kecuali aku akan menampakkan keimanan di dalamnya.” Kemudian dia keluar lalu thawaf di Ka’bah, kemudian melewati Quraisy yang sedang menunggunya, maka Abu Jahal bin Hisyam berkata: “Si fulan mengira bahwa engkau telah berpindah agama.” Maka Umar berkata: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya.” Maka orang-orang musyrik menyerbunya, dan dia menyerbu Utbah lalu menindihnya, dan mulai memukulnya, dan memasukkan jarinya ke matanya. Maka Utbah berteriak, lalu orang-orang menjauh. Maka Umar berdiri dan tidak ada seorang pun yang mendekatinya kecuali dia mengambil orang mulia yang mendekatinya, hingga dia membuat orang-orang tidak berdaya. Dan dia mengikuti majelis-majelis yang biasa dia duduki di dalamnya untuk menampakkan keimanan, kemudian kembali kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam sedangkan dia menang atas mereka. Dia berkata: “Tidak ada yang perlu engkau khawatirkan, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, demi Allah tidak ada majelis yang aku duduki dengan kekufuran kecuali aku telah menampakkan keimanan di dalamnya tanpa takut dan tanpa khawatir.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar dan Umar keluar di depannya dan Hamzah bin Abdul Muththalib hingga thawaf di Ka’bah dan shalat Zhuhur secara terang-terangan, kemudian kembali ke rumah al-Arqam dan bersamanya Umar, kemudian Umar kembali sendirian, kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam kembali. Dan yang benar bahwa Umar baru masuk Islam setelah keluarnya para Muhajirin ke tanah Habasyah, dan itu terjadi pada tahun keenam dari diutusnya Nabi sebagaimana akan datang pada tempatnya insya Allah. Dan kami telah meneliti secara lengkap bagaimana masuk Islamnya Abu Bakar dan Umar radiyallahu anhuma dalam kitab sirah mereka secara terpisah, dan kami telah membahas secara panjang lebar di sana. Dan segala puji bagi Allah.
Dan tetap dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Umamah dari Amr bin Abasah as-Sulami radiyallahu anhu, dia berkata: Aku mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada awal diutusnya dan dia di Makkah, dan saat itu dia sedang bersembunyi. Maka aku berkata: Siapa engkau? Dia berkata: “Aku adalah nabi.” Aku berkata: Dan apa itu nabi? Dia berkata: “Utusan Allah.” Aku berkata: Apakah Allah mengutusmu? Dia berkata: “Ya.” Aku berkata: Dengan apa Dia mengutusmu? Dia berkata: “Agar kamu menyembah Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, dan memecahkan berhala-berhala, dan menyambung tali kekerabatan.” Dia berkata: Aku berkata: Sungguh sebaik-baik apa yang Dia utuskan kepadamu, lalu siapa yang bersamamu dalam hal ini? Dia berkata: “Orang merdeka dan budak.” Yaitu Abu Bakar dan Bilal. Dia berkata: Maka Amr berkata: Sungguh aku melihat diriku dan aku adalah seperempat Islam. Dia berkata: Maka aku masuk Islam. Aku berkata: Maka aku akan mengikutimu wahai Rasulullah. Dia berkata: “Tidak, tetapi kembalilah ke kaummu, maka jika kamu mendengar bahwa aku telah keluar, maka ikutilah aku.” Dan dikatakan: Bahwa makna sabdanya alaihi shalatu wassalam: “Orang merdeka dan budak” adalah nama jenis, dan penafsiran itu hanya dengan Abu Bakar dan Bilal di dalamnya ada pertimbangan karena sesungguhnya sudah ada sekelompok orang yang masuk Islam sebelum Amr bin Abasah. Dan sungguh Zaid bin Haritsah telah masuk Islam sebelum Bilal juga. Maka mungkin dia mengabarkan bahwa dia adalah seperempat Islam menurut pengetahuannya karena sesungguhnya orang-orang Muslim saat itu menyembunyikan keislaman mereka, tidak banyak orang yang mengetahui urusan mereka dari kerabat mereka, apalagi orang luar, apalagi penduduk padang pasir dari Arab. Wallahu a’lam.
Dan dalam Shahih Bukhari dari jalan Abu Usamah dari Hasyim bin Hasyim dari Sa’id bin Musayyab dia berkata: Aku mendengar Sa’d bin Abi Waqqash berkata: Tidak ada seorang pun yang masuk Islam pada hari aku masuk Islam, dan sungguh aku tinggal tujuh hari, dan sungguh aku adalah sepertiga Islam. Adapun perkataannya: Tidak ada seorang pun yang masuk Islam pada hari aku masuk Islam, maka itu mudah. Dan diriwayatkan: Kecuali pada hari aku masuk Islam, dan ini bermasalah karena menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang mendahuluinya dalam Islam. Dan sungguh telah diketahui bahwa Shiddiq (Abu Bakar) dan Ali dan Khadijah, dan Zaid bin Haritsah masuk Islam sebelumnya, sebagaimana telah diriwayatkan ijma’ tentang lebih dahulunya keislaman orang-orang ini oleh lebih dari satu orang di antara mereka yaitu Ibnu Atsir, dan Abu Hanifah rahimahullah menegaskan bahwa setiap orang dari mereka masuk Islam sebelum anak-anak jenisnya. Wallahu a’lam. Adapun perkataannya: Dan sungguh aku tinggal tujuh hari dan sungguh aku adalah sepertiga Islam, maka ini bermasalah dan aku tidak tahu atas dasar apa ini ditetapkan kecuali dia mengabarkan menurut apa yang dia ketahui. Wallahu a’lam.
Dan berkata Abu Daud ath-Thayalisi: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ashim dari Zirr dari Abdullah, yaitu Ibnu Mas’ud, dia berkata: Aku adalah pemuda yang sedang menggembalakan kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith di Makkah, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar lewat padaku dan mereka telah lari dari orang-orang musyrik. Maka dia berkata atau mereka berdua berkata: Apakah kamu punya susu untuk memberi kami minum wahai pemuda? Aku berkata: Sesungguhnya aku diamanati, dan aku tidak akan memberi kalian minum. Maka dia berkata: Apakah kamu punya kambing betina muda yang belum dikawinkan pejantan? Aku berkata: Ya. Maka aku datangkan kepada mereka berdua. Maka Abu Bakar memegang kakinya dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengambil putingnya, dan berdoa maka puting itu penuh, dan Abu Bakar mendatanginya dengan batu yang cekung lalu diperah ke dalamnya, kemudian dia minum dan Abu Bakar minum, kemudian mereka berdua memberi aku minum. Kemudian dia berkata kepada puting itu: “Mengkerutkanlah.” Maka ia mengerut. Maka ketika setelah itu aku mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka aku berkata: Ajarkanlah aku dari perkataan baik ini yaitu al-Quran. Maka dia berkata: “Sesungguhnya engkau adalah pemuda yang dapat diajar.” Maka aku mengambil dari mulutnya tujuh puluh surah, tidak ada seorang pun yang menyaingiku dalam hal itu. Dan begitulah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Affan dari Hammad bin Salamah dengannya. Dan diriwayatkannya oleh Hasan bin Arafah dari Abu Bakar bin Ayyasy dari Ashim bin Abi an-Nujud dengannya.
Dan berkata Baihaqi: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah al-Hafizh, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah bin Baththah al-Ashbahani, telah menceritakan kepada kami Hasan bin Jahm, telah menceritakan kepada kami Husain bin Faraj, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Umar, telah menceritakan kepadaku Ja’far bin Muhammad bin Khalid bin Zubair dari ayahnya atau dari Muhammad bin Abdullah bin Amr bin Utsman, dia berkata: Adalah keislaman Khalid bin Sa’id bin Ash lama, dan dia adalah orang pertama dari saudara-saudaranya yang masuk Islam. Dan permulaan keislamannya adalah bahwa dia melihat dalam mimpi bahwa dia berdiri di tepi neraka, lalu dia menyebutkan dari luasnya apa yang Allah lebih mengetahui tentangnya, dan dia melihat dalam tidurnya seolah-olah ada yang mendatanginya mendorongnya ke dalamnya, dan dia melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memegang pinggangnya agar dia tidak jatuh. Maka dia terbangun dari tidurnya. Maka dia berkata: Aku bersumpah demi Allah, sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar. Maka dia bertemu dengan Abu Bakar bin Abi Quhafah dan menyebutkan hal itu kepadanya. Maka dia berkata: Kebaikan diinginkan untukmu, ini adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka ikutilah dia karena sesungguhnya engkau akan mengikutinya, dan engkau akan masuk bersamanya dalam Islam, dan Islam akan menghalangimu untuk masuk ke dalamnya, dan ayahmu akan jatuh ke dalamnya. Maka dia bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedangkan dia di Ajyad. Maka dia berkata: Wahai Muhammad, kepada apa engkau menyeru? Dia berkata: “Aku menyeru kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya, dan kamu melepaskan apa yang kamu ada di atasnya dari menyembah batu yang tidak mendengar, dan tidak melihat, dan tidak membahayakan, dan tidak memberi manfaat, dan tidak tahu siapa yang menyembahnya dari yang tidak menyembahnya.” Khalid berkata: Maka aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam gembira dengan keislamannya. Dan Khalid bersembunyi dan ayahnya mengetahui keislamannya, maka dia mengirim untuk menangkapnya, maka dia dibawa kepadanya, lalu dia memarahinya, dan memukulnya dengan tongkat di tangannya hingga mematahkannya di atas kepalanya, dan berkata: Demi Allah, aku akan mencegahmu dari makanan. Maka Khalid berkata: Dan jika engkau mencegahku, maka sesungguhnya Allah akan memberi rezeki kepadaku dengan apa aku dapat hidup. Dan dia pergi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dia memuliakan dan dia bersama dengannya.
Penyebutan Keislaman Hamzah bin Abdul Muththalib Paman Nabi shallallahu alaihi wasallam
Berkata Yunus bin Bukair: dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari Aslam dan dia adalah orang yang paham bahwa Abu Jahal menghadang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dekat Shafa, lalu menyakitinya dan mencacinya, dan mencapai darinya apa yang dibenci dari celaan terhadap agamanya. Maka hal itu disebutkan kepada Hamzah bin Abdul Muththalib, maka dia pergi ke arahnya hingga ketika dia berdiri di atas kepalanya, dia mengangkat busur lalu memukulnya dengannya satu pukulan yang melukainya dengan luka yang mengerikan. Dan bangkitlah orang-orang dari Quraisy dari Bani Makhzum kepada Hamzah untuk menolong Abu Jahal darinya, dan mereka berkata: Kami tidak melihatmu wahai Hamzah kecuali telah berpindah agama. Hamzah berkata: Dan siapa yang akan mencegahku sedangkan telah jelas bagiku darinya, dan aku bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah shallallahu alaihi wasallam dan bahwa apa yang dia katakan adalah benar. Maka demi Allah aku tidak akan berpaling, maka lindungilah aku jika kalian benar. Maka Abu Jahal berkata: Biarkanlah Abu Umarah karena sesungguhnya demi Allah aku telah mencela keponakannya dengan celaan yang buruk. Maka ketika Hamzah masuk Islam, Quraisy mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah kuat dan terlindungi, maka mereka menghentikan apa yang biasa mereka lakukan kepadanya. Dan Hamzah berkata tentang itu syair. Berkata Ibnu Ishaq: Kemudian Hamzah kembali ke rumahnya, maka syaitan mendatanginya, lalu berkata: Engkau adalah pemimpin Quraisy, mengikuti orang yang berpindah agama ini, dan meninggalkan agama nenek moyangmu, mati lebih baik bagimu daripada apa yang engkau lakukan. Maka datanglah kepada Hamzah kegelisahannya, dan dia berkata: Apa yang aku lakukan! Ya Allah jika itu adalah petunjuk maka jadikanlah pembenaran itu di dalam hatiku, dan jika tidak maka jadikanlah bagiku dari apa yang aku jatuh ke dalamnya jalan keluar. Maka dia bermalam dengan malam yang dia tidak pernah bermalam sepertinya dari bisikan syaitan, hingga pagi hari maka dia pergi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berkata: Wahai keponakanku, sesungguhnya aku telah jatuh dalam suatu urusan yang aku tidak mengetahui jalan keluarnya, dan keberadaan orang sepertiku atas apa yang aku tidak tahu apakah itu petunjuk atau kesesatan, adalah berat, maka ceritakanlah kepadaku cerita karena sesungguhnya aku berharap wahai keponakanku engkau bercerita kepadaku. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang lalu mengingatkannya dan menasihatinya, dan menakut-nakutinya dan memberinya kabar gembira. Maka Allah melemparkan ke dalam hatinya keimanan dengan apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka dia berkata: Aku bersaksi bahwa engkau adalah orang yang benar dengan kesaksian kebenaran, maka tampakkanlah wahai keponakanku agamamu, maka demi Allah aku tidak suka bahwa bagiku apa yang dinaungi langit sedangkan aku berada di atas agamaku yang pertama. Maka Hamzah adalah termasuk orang yang Allah memuliakan agama dengannya. Dan begitulah diriwayatkan Baihaqi dari Hakim dari Asham dari Ahmad bin Abdul Jabbar dari Yunus bin Bukair dengannya.
Penyebutan Keislaman Abu Dzar radiyallahu anhu
Berkata Hafizh Baihaqi: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah al-Hafizh, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Ya’qub al-Hafizh, telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad bin Ziyad, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Rumi, telah menceritakan kepada kami Nadhr bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar dari Abu Zumair Simak bin Walid dari Malik bin Murtsid dari ayahnya, dari Abu Dzar dia berkata: Aku adalah seperempat Islam, tiga orang masuk Islam sebelumku, dan aku adalah yang keempat. Aku mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Salam sejahtera untukmu wahai Rasulullah, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Maka aku melihat kegembiraan di wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ini adalah susunan ringkas.
Dan berkata Bukhari: Keislaman Abu Dzar. Telah menceritakan kepada kami Amr bin Abbas, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Mutsanna dari Abu Jamrah dari Ibnu Abbas dia berkata: Ketika sampai kepada Abu Dzar tentang diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dia berkata kepada saudaranya: Naiklah ke lembah ini, maka ketahuilah bagiku tentang laki-laki ini yang mengklaim bahwa dia adalah nabi yang datang kepadanya berita dari langit, dan dengarkanlah dari perkataannya, kemudian datanglah kepadaku. Maka pergilah saudaranya hingga mendatanginya, dan mendengar dari perkataannya, kemudian kembali kepada Abu Dzar lalu berkata kepadanya: Aku melihatnya memerintahkan akhlak mulia, dan perkataan yang bukan syair. Maka dia berkata: Engkau tidak memenuhi apa yang aku inginkan. Maka dia berbekal dan membawa tempat air yang di dalamnya air hingga tiba di Makkah, maka dia mendatangi masjid dan mencari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tidak mengenalnya, dan tidak suka bertanya tentangnya, hingga sebagian malam menjumpainya, dia berbaring. Maka Ali melihatnya dan mengetahui bahwa dia adalah orang asing. Maka ketika dia melihatnya, dia mengikutinya, dan tidak ada satu pun dari mereka berdua yang bertanya kepada temannya tentang sesuatu hingga pagi. Kemudian dia membawa tempatnya dan bekalnya ke masjid, dan dia menghabiskan hari itu dan tidak dilihatnya Nabi shallallahu alaihi wasallam hingga sore, maka dia kembali ke tempat tidurnya. Maka Ali lewat padanya dan berkata: Apakah belum tiba waktunya bagi laki-laki ini untuk mengetahui tempat tinggalnya? Maka dia membangunkannya dan pergi bersamanya, tidak ada satu pun dari mereka berdua yang bertanya kepada temannya tentang sesuatu, hingga ketika hari ketiga, maka Ali melakukan seperti itu lalu dia tinggal bersamanya. Maka dia berkata: Tidakkah engkau menceritakan kepadaku apa yang membawamu ke sini? Dia berkata: Jika engkau memberiku janji dan ikatan untuk membimbingku, aku akan melakukan. Maka dia melakukannya, lalu dia mengabarinya. Dia berkata: Maka sesungguhnya itu adalah benar, dan sesungguhnya dia adalah utusan Allah shallallahu alaihi wasallam. Maka jika engkau pagi, ikutilah aku. Maka sesungguhnya aku jika melihat sesuatu yang aku takutkan atasmu, aku berdiri seolah-olah aku ingin buang air, dan jika aku berjalan maka ikutilah aku hingga engkau masuk tempat masukku. Maka dia melakukan. Maka dia pergi mengikutinya hingga masuk kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan masuk bersamanya, maka dia mendengar dari perkataannya dan masuk Islam di tempatnya. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Kembalilah kepada kaummu lalu kabarkanlah kepada mereka hingga datang kepadamu perinyahku.” Maka dia berkata: Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkannya di antara mereka. Maka dia keluar hingga mendatangi masjid lalu memanggil dengan suara paling keras: Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian orang-orang berdiri lalu memukulnya hingga membuatnya tergeletak. Maka Abbas datang dan melindunginya, lalu berkata: Celakalah kalian, tidakkah kalian tahu bahwa dia dari Ghifar, dan bahwa jalan perniagaan kalian ke Syam? Maka dia menyelamatkannya dari mereka. Kemudian dia kembali pada hari berikutnya dengan yang serupa, maka mereka memukulnya dan bangkit kepadanya, maka Abbas melindunginya. Ini adalah lafazh Bukhari. Dan sungguh telah datang keislamannya secara panjang lebar dalam Shahih Muslim dan lainnya.
Maka berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Mughirah, telah menceritakan kepada kami Humaid bin Hilal dari Abdullah bin Shamit, Abu Dzar berkata: Kami keluar dari kaum kami Ghifar dan mereka menghalalkan bulan haram, aku dan saudaraku Unais dan ibu kami. Maka kami pergi hingga singgah pada paman kami yang punya harta dan punya kedudukan, maka paman kami memuliakan kami dan berbuat baik kepada kami. Maka kaum kami iri, lalu mereka berkata kepadanya: Sesungguhnya engkau jika keluar dari keluargamu, Unais akan menggantikanmu kepada mereka. Maka paman kami datang dan menyebarkan apa yang dikatakan kepadanya. Maka aku berkata kepadanya: Adapun apa yang telah berlalu dari kebaikanmu maka engkau telah merusaknya dan tidak ada perkumpulan bagi kami setelah ini. Dia berkata: Maka kami mendekatkan gerombolan unta kami, lalu kami membawa atasnya, dan paman kami menutupi bajunya dan mulai menangis. Dia berkata: Maka kami pergi hingga singgah di dekat Makkah. Dia berkata: Maka Unais bersaing dengan seorang laki-laki tentang gerombolan unta kami dan tentang yang sepertinya, maka mereka berdua mendatangi dukun lalu dia memilih Unais, maka dia datang kepada kami dengan gerombolan unta kami dan yang sepertinya. Dan aku telah shalat wahai keponakanku sebelum aku bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tiga tahun. Dia berkata: Aku berkata: Kepada siapa? Dia berkata: Kepada Allah. Aku berkata: Maka ke mana engkau menghadap? Dia berkata: Ke mana Allah menghadapkanku. Dia berkata: Dan aku shalat Isya hingga jika dari akhir malam aku melemparkan diriku seolah-olah aku ringan hingga matahari melinggiku. Dia berkata: Maka Unais berkata: Sesungguhnya bagiku ada keperluan di Makkah, maka cukupilah aku hingga aku datang kepadamu.
Dia (Abū Żarr) berkata: Maka berangkatlah dia (Unais), lalu dia lama tidak kembali kepadaku, kemudian dia datang menemuiku. Aku berkata: “Apa yang menahanmu?” Dia berkata: “Aku bertemu dengan seorang laki-laki yang mengaku bahwa Allah telah mengutusnya dengan agamamu.” Aku berkata: “Apa kata orang-orang tentang dia?” Dia berkata: “Mereka mengatakan bahwa dia adalah penyair dan tukang sihir.” Dan Unais adalah seorang penyair. Dia berkata: “Sungguh aku telah mendengar para dukun, tetapi ucapannya tidak seperti ucapan mereka. Aku telah mencocokkan ucapannya dengan syair-syair puisi, maka demi Allah, tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan bahwa itu adalah puisi. Demi Allah, sesungguhnya dia benar dan mereka adalah pendusta.” Aku berkata kepadanya: “Bisakah kamu menjaga (rumah dan harta) sampai aku pergi?” Dia berkata: “Ya, tapi berhati-hatilah dari penduduk Mekah, karena mereka telah membenci dan memusuhinya.” Maka aku berangkat hingga tiba di Mekah, lalu aku mencari orang yang lemah di antara mereka dan bertanya: “Di mana orang yang kalian sebut orang Sabi?” Orang itu menunjuk kepadaku sambil berkata: “Orang Sabi!” Maka penduduk lembah itu menyerangku dengan segala batu dan tulang hingga aku jatuh pingsan. Ketika aku sadar, aku seperti tiang merah (karena penuh darah). Aku mendatangi sumur Zamzam, minum airnya dan membasuh darah dari tubuhku. Aku masuk ke antara Ka’bah dan tirai-tirainya, lalu tinggal di sana—wahai anak saudaraku—selama tiga puluh hari dan malam, tidak ada makananku kecuali air Zamzam. Aku menjadi gemuk sampai-sampai lipatan perutku berlipat-lipat, dan aku tidak merasakan kelaparan di hatiku. Pada suatu malam terang bulan di Mekah, Allah menutup telinga penduduk Mekah, sehingga tidak ada yang tawaf di Ka’bah kecuali dua orang wanita. Mereka melewatiku sementara mereka berdoa kepada Isaf dan Nailah. Aku berkata: “Nikahkan salah satu dari keduanya dengan yang lain.” Tetapi perkataanku tidak menghentikan mereka. Aku berkata lagi dengan nada mengejek. Mereka lalu berlari sambil menangis dan berkata: “Seandainya ada orang-orang kami di sini!” Tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar menjumpai mereka saat turun dari gunung. Beliau bertanya: “Ada apa dengan kalian berdua?” Mereka berkata: “Orang Sabi itu berada di antara Ka’bah dan tirai-tirainya.” Beliau bertanya: “Apa yang dia katakan kepada kalian?” Mereka berkata: “Dia mengatakan kepada kami kata-kata yang memenuhi mulut.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang bersama sahabatnya hingga mengusap Hajar Aswad dan tawaf di Ka’bah, kemudian shalat. Aku mendatangi beliau, dan akulah orang pertama yang memberi salam dengan salam Islam. Beliau bersabda: “Wa’alaikassalām wa rahmatullāh, dari mana kamu?” Aku berkata: “Dari Ghifar.” Beliau mengangkat tangannya dan meletakkannya di dahinya. Aku berkata dalam hatiku: “Beliau tidak suka aku bergabung dengan Ghifar.” Aku ingin memegang tangannya, tetapi sahabatnya menghentikanku, karena dia lebih tahu tentang beliau daripada aku. Beliau bertanya: “Sejak kapan kamu di sini?” Aku berkata: “Aku di sini selama tiga puluh hari dan malam.” Beliau bertanya: “Siapa yang memberimu makan?” Aku berkata: “Tidak ada makananku kecuali air Zamzam, tetapi aku menjadi gemuk sampai lipatan perutku berlipat-lipat, dan aku tidak merasakan kelaparan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya air itu berkah, sesungguhnya air itu adalah makanan yang mengenyangkan.” Abu Bakar berkata: “Ya Rasulullah, izinkan aku memberinya makan malam ini.” Beliau mengizinkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat dan aku pergi bersama mereka berdua hingga Abu Bakar membuka pintunya, lalu dia memberikan kami anggur kering dari Thaif. Itulah makanan pertama yang kumakan di sana. Aku tinggal beberapa waktu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku telah diperintahkan menuju negeri yang banyak pohon kurmanya, dan aku tidak menyangka itu kecuali Yatsrib (Madinah). Maukah kamu menyampaikan (risalahku) kepada kaummu, mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada mereka melaluimu dan memberimu pahala karenanya.” Aku berangkat hingga menemui saudaraku Unais. Dia berkata: “Apa yang telah kamu lakukan?” Aku berkata: “Aku telah masuk Islam dan membenarkannya.” Dia berkata: “Aku tidak keberatan dengan agamamu, karena aku juga telah masuk Islam dan membenarkannya.” Kemudian kami mendatangi ibu kami, dia berkata: “Aku tidak keberatan dengan agama kalian berdua, karena aku juga telah masuk Islam dan membenarkannya.” Maka kami berangkat hingga tiba di kaum kami, Ghifar. Sebagian mereka masuk Islam sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah. Yang menjadi imam mereka adalah Khaffaf bin Ima’ bin Rahdlah al-Ghifari, dan dia adalah pemimpin mereka saat itu. Yang lainnya berkata: “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba (di Madinah), kami akan masuk Islam.” Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba, sisanya masuk Islam. Suku Aslam datang dan berkata: “Ya Rasulullah, mereka adalah saudara-saudara kami, kami masuk Islam seperti mereka masuk Islam.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ghifar, semoga Allah mengampuni mereka, dan Aslam, semoga Allah menyelamatkan mereka.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Hudbah bin Khalid dari Sulaiman bin al-Mughirah dengan cara yang serupa. Kisah keislamannya juga diriwayatkan dengan cara lain yang di dalamnya terdapat tambahan-tambahan yang aneh. Wallahu a’lam. Telah disebutkan sebelumnya kisah keislaman Salman al-Farisi dalam Kitab Basyarat (kabar gembira) tentang diutusnya beliau ‘alaihish shalatu was salam.
Muslim dan al-Baihaqi meriwayatkan dari hadits Dawud bin Abi Hind dari Amr bin Sa’id dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, dia berkata: Dlimad datang ke Mekah, dia adalah seorang laki-laki dari suku Azd Syanu’ah. Dia adalah orang yang meruqyah dari penyakit gila ini. Dia mendengar orang-orang bodoh mengatakan bahwa Muhammad itu gila. Dia berkata: “Di mana orang ini? Mudah-mudahan Allah menyembuhkannya melalui tanganku.” Aku bertemu Muhammad dan berkata: “Sesungguhnya aku meruqyah dari penyakit gila ini, dan Allah menyembuhkan melalui tanganku siapa yang Dia kehendaki, jadi mari.” Muhammad bersabda: “Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.” Tiga kali. Dlimad berkata: “Demi Allah, aku telah mendengar ucapan dukun, tukang sihir, dan penyair, tetapi aku belum pernah mendengar kata-kata seperti ini. Ulurkanlah tanganmu, aku akan membaiatmu atas Islam.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaiatnya, lalu bersabda: “Dan juga untuk kaummu?” Dia berkata: “Dan juga untuk kaumku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pasukan, mereka melewati kaum Dlimad. Pemimpin pasukan bertanya kepada pasukannya: “Apakah kalian mengambil sesuatu dari kaum ini?” Seorang laki-laki berkata: “Aku mengambil tempat wudhu dari mereka.” Dia berkata: “Kembalikanlah kepada mereka, karena mereka adalah kaum Dlimad.” Dalam riwayat lain: Dlimad berkata kepadanya: “Ulangi kata-katamu ini, karena kata-kata itu telah mencapai dasar laut.”
Abu Nu’aim dalam “Dala’il an-Nubuwwah” (Bukti-bukti Kenabian) telah menyebutkan kisah keislaman para tokoh penting dalam bab yang panjang, dan dia menjelaskannya dengan sangat baik, semoga Allah merahmatinya dan memberinya pahala.
Ibnu Ishaq telah menyebutkan nama-nama Sahabat yang masuk Islam pada masa awal, radhiyallahu ‘anhum. Dia berkata: Kemudian masuk Islam Abu Ubaidah, Abu Salamah, al-Arqam bin Abi al-Arqam, Utsman bin Mazh’un, Ubaidah bin al-Harits, Sa’id bin Zaid dan istrinya Fathimah binti al-Khaththab, Asma’ binti Abi Bakar, Aisyah binti Abi Bakar—dia masih kecil—Qudamah bin Mazh’un, Abdullah bin Mazh’un, Khabbab bin al-Aratt, Umair bin Abi Waqqash, Abdullah bin Mas’ud, Mas’ud bin al-Qari, Sulayt bin Amr, Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan istrinya Asma’ binti Salamah bin Mukhrabah at-Tamimiyyah, Khunais bin Hudzafah, Amir bin Rabi’ah, Abdullah bin Jahsy, Abu Ahmad bin Jahsy, Ja’far bin Abi Thalib dan istrinya Asma’ binti Umais, Hathib bin al-Harits dan istrinya Fathimah binti al-Mujallal, saudaranya Haththab bin al-Harits dan istrinya Fukaihah binti Yasar, Ma’mar bin al-Harits bin Ma’mar al-Jumahi, as-Sa’ib bin Utsman bin Mazh’un, al-Muththalib bin Azhar bin Abd Auf dan istrinya Ramlah binti Abi Auf bin Shubirah bin Sa’id bin Sa’d bin Sahm, an-Nahham yang bernama Nu’aim bin Abdullah bin Usaid, Amir bin Fuhairah—budak Abu Bakar, Khalid bin Sa’id, Aminah binti Khalaf bin As’ad bin Amir bin Biyadlah dari Khuza’ah, Hathib bin Amr bin Abd Syams, Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah, Waqid bin Abdullah bin Abd Manaf bin ‘Arin bin Tsa’labah at-Tamimi—sekutu Bani Adiy, Khalid bin al-Bukair, Amir bin al-Bukair, Aqil bin al-Bukair, Iyas bin al-Bukair bin Abd Yalil bin Nasyib bin Ghairah bin Sa’d bin Laits—nama Aqil tadinya adalah Ghafil lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubahnya menjadi Aqil—mereka adalah sekutu Bani Adiy bin Ka’b, Ammar bin Yasir, Shuhaib bin Sinan. Kemudian orang-orang masuk Islam secara berkelompok dari laki-laki dan perempuan hingga urusan Islam tersebar di Mekah dan menjadi perbincangan.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah tiga tahun dari pengutusan agar menyampaikan apa yang diperintahkan kepadanya dan agar bersabar terhadap gangguan orang-orang musyrik. Dia berkata: Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika shalat mereka pergi ke lembah-lembah dan menyembunyikan shalat mereka dari kaum mereka. Ketika Sa’d bin Abi Waqqash sedang shalat bersama beberapa orang di lembah Mekah, tiba-tiba beberapa orang musyrik melihat mereka, lalu mengingkari dan mencela apa yang mereka lakukan hingga mereka berkelahi. Sa’d memukul seorang laki-laki musyrik dengan tulang rahang unta hingga luka. Itulah darah pertama yang ditumpahkan dalam Islam. Al-Umawi meriwayatkan dalam “Maghazi”-nya dari jalur al-Waqashi dari az-Zuhri dari Amir bin Sa’d dari ayahnya. Dia menyebutkan kisah itu secara panjang. Di dalamnya disebutkan bahwa orang yang terluka itu adalah Abdullah bin Khatal, semoga Allah melaknatnya.
Bab: Perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Menyampaikan Risalah kepada Orang-orang Khusus dan Umum, Perintah kepada Beliau untuk Bersabar, Bertahan, dan Mengabaikan Orang-orang Jahil yang Membangkang dan Mendustakan Setelah Tegaknya Hujjah (Bukti) kepada Mereka dan Diutusnya Rasul yang Paling Agung kepada Mereka, serta Penyebutan Gangguan yang Diterima oleh Beliau dan Para Sahabatnya radhiyallahu ‘anhum dari Mereka
Allah Ta’ala berfirman: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah sayapmu (bersikap baiklah) terhadap orang-orang mukmin yang mengikutimu. Jika mereka mendurhakai kamu, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan.’ Dan bertawakkallah kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat) gerak-gerikmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Asy-Syu’ara: 214-220). Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban.” (Az-Zukhruf: 44). Allah Ta’ala berfirma: “Sesungguhnya Dia yang mewajibkan al-Qur’an atas kamu (Muhammad), benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.” (Al-Qashash: 85). Maksudnya: Sesungguhnya Dia yang telah mewajibkan dan memerintahkan kepadamu untuk menyampaikan al-Qur’an, pasti akan mengembalikanmu ke akhirat yang merupakan tempat kembali, lalu akan menanyaimu tentang hal itu, sebagaimana firman Allah: “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al-Hijr: 92-93). Ayat-ayat dan hadits-hadits tentang hal ini sangat banyak. Kami telah menjelaskannya secara rinci dalam kitab kami “Tafsir”, dan kami telah membahas secara luas pada firman-Nya dalam Surat asy-Syu’ara: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” dan kami telah menyebutkan banyak hadits tentang hal itu. Di antaranya:
Imam Ahmad berkata: Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami dari al-A’masy dari Amr bin Murrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, dia berkata: Ketika Allah menurunkan ayat “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Gunung Shafa, lalu naik ke atasnya, kemudian berseru: “Ya shabahaah!” (seruan bahaya). Orang-orang berkumpul kepadanya, ada yang datang sendiri dan ada yang mengutus utusannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Bani Abdul Muththalib, wahai Bani Fihr, wahai Bani Luayy, bagaimana pendapat kalian jika aku memberitahu kalian bahwa ada pasukan kuda di kaki gunung ini yang akan menyerang kalian, apakah kalian akan membenarkanku?” Mereka berkata: “Ya.” Beliau bersabda: “Maka sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian dari siksa yang keras.” Abu Lahab—semoga Allah melaknatnya—berkata: “Celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah engkau memanggil kami hanya untuk ini?” Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan binasalah dia.” (Al-Masad: 1). Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits al-A’masy dengan cara yang serupa.
Ahmad berkata: Mu’awiyah bin Amr menceritakan kepada kami, Zaidah menceritakan kepada kami, Abdul Malik bin Umair menceritakan kepada kami dari Musa bin Thalhah dari Abu Hurairah, dia berkata: Ketika turun ayat ini “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Quraisy secara umum dan khusus, lalu bersabda: “Wahai sekalian Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai sekalian Bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai sekalian Bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai sekalian Bani Abdul Muththalib, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sungguh demi Allah, aku tidak dapat menolak sesuatu pun dari Allah untuk kalian, kecuali bahwa kalian mempunyai hubungan kekerabatan yang akan aku pelihara dengan baik.” Muslim meriwayatkannya dari hadits Abdul Malik bin Umair. Bukhari dan Muslim mengeluarkannya dalam “Shahih” dari hadits az-Zuhri dari Sa’id bin al-Musayyab dan Abu Salamah dari Abu Hurairah. Ada jalur-jalur lain dari Abu Hurairah dalam “Musnad Ahmad” dan lainnya.
Ahmad juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari ayahnya, dari Aisyah semoga Allah meridhainya, dia berkata: Ketika turun ayat “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (Asy-Syu’ara: 214), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan bersabda: “Wahai Fathimah binti Muhammad, wahai Shafiyyah binti Abdul Muththalib, wahai Bani Abdul Muththalib, aku tidak dapat menguasai sesuatu pun untuk kalian dari sisi Allah, mintalah kepadaku dari hartaku apa yang kalian kehendaki.” Dan diriwayatkan juga oleh Muslim.
Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata dalam ad-Dala’il: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al-Hafizh, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul Jabbar, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku orang yang mendengar Abdullah bin Al-Harits bin Naufal dan dia merahasiakan namanya dariku, dari Ibnu Abbas dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata: Ketika ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu” (Asy-Syu’ara: 214-215), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku tahu bahwa jika aku memulai dengan ayat ini kepada kaumku, aku akan melihat dari mereka apa yang aku benci, maka aku diam. Lalu datanglah Jibril alaihissalam kepadaku dan berkata: ‘Wahai Muhammad, jika kamu tidak melakukan apa yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu, Tuhanmu akan menyiksamu.'” Ali berkata: Lalu dia memanggilku dan berkata: “Wahai Ali, sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk memberi peringatan kepada kerabatku yang terdekat, maka buatkanlah untuk kami wahai Ali seekor kambing dengan satu sha’ makanan, dan siapkan untuk kami segelas susu, kemudian kumpulkan untukku Bani Abdul Muththalib.” Maka aku melakukannya dan mereka berkumpul untuknya, saat itu mereka ada empat puluh orang laki-laki, lebih atau kurang satu orang, di antara mereka ada paman-pamannya; Abu Thalib, Hamzah, Abbas, dan Abu Lahab yang kafir lagi keji. Maka aku menghadapkan kepada mereka piring besar itu, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil sepotong daging darinya, lalu memotongnya dengan giginya, kemudian melemparkannya ke sisi-sisinya, dan berkata: “Makanlah dengan nama Allah.” Maka orang-orang itu makan sampai kenyang dan tidak terlihat kecuali bekas-bekas jari mereka, demi Allah sesungguhnya seorang laki-laki bisa memakan seperti itu. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Berilah mereka minum wahai Ali.” Maka aku datang dengan gelas itu, dan mereka minum darinya sampai semuanya kenyang, dan demi Allah sesungguhnya seorang laki-laki bisa meminum seperti itu. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak berbicara kepada mereka, Abu Lahab laknatullah atasnya mendahuluinya dan berkata: “Sungguh teman kalian telah menyihir kalian.” Maka mereka berpencar, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbicara kepada mereka. Ketika keesokan harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai Ali, siapkan lagi untuk kami seperti yang kamu siapkan untuk kami kemarin dari makanan dan minuman; karena orang ini telah mendahuluiku dengan apa yang kamu dengar sebelum aku berbicara kepada kaum.” Maka aku melakukannya, kemudian aku mengumpulkan mereka untuknya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan seperti yang dilakukan kemarin, mereka makan sampai kenyang, dan demi Allah sesungguhnya seorang laki-laki bisa memakan seperti itu. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Berilah mereka minum wahai Ali.” Maka aku datang dengan gelas itu dan mereka minum darinya sampai semuanya kenyang, dan demi Allah sesungguhnya seorang laki-laki dari mereka bisa meminum seperti itu. Ketika Rasulullah hendak berbicara kepada mereka, Abu Lahab laknatullah atasnya mendahului berbicara, lalu berkata: “Sungguh teman kalian telah menyihir kalian!” Maka mereka berpencar dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbicara kepada mereka. Ketika keesokan harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai Ali, siapkan lagi untuk kami seperti yang kamu siapkan kemarin dari makanan dan minuman; karena orang ini telah mendahuluiku dengan apa yang kamu dengar sebelum aku berbicara kepada kaum.” Maka aku melakukannya, kemudian aku mengumpulkan mereka untuknya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan seperti yang dilakukan kemarin, mereka makan sampai kenyang, kemudian aku memberi mereka minum dari gelas itu sampai mereka kenyang, dan demi Allah! Sesungguhnya seorang laki-laki dari mereka bisa memakan seperti itu dan meminum seperti itu. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai Bani Abdul Muththalib, demi Allah aku tidak mengetahui pemuda dari Arab yang datang kepada kaumnya dengan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang aku bawa kepada kalian; aku telah datang kepada kalian dengan urusan dunia dan akhirat.” Demikianlah diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari jalur Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq dari seorang syaikh yang nama dia dirahasiakan, dari Abdullah bin Al-Harits dengannya.
Dan telah meriwayatkannya Abu Ja’far bin Jarir dari Muhammad bin Humaid Ar-Razi dari Salamah bin Al-Fadhl Al-Abrasy dari Muhammad bin Ishaq dari Abdul Ghaffar Abu Maryam bin Al-Qasim dari Al-Minhal bin Amr dari Abdullah bin Al-Harits dari Ibnu Abbas dari Ali, lalu dia menyebutkan seperti itu, dan menambahkan setelah ucapannya: “Dan aku telah datang kepada kalian dengan kebaikan dunia dan akhirat”: “Dan Allah telah memerintahkanku untuk menyeru kalian kepadanya, maka siapa di antara kalian yang akan membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku” dan sebagainya. Dia berkata: Maka semua orang itu menahan diri, dan aku berkata padahal aku termuda dari mereka dalam usia, paling belekan matanya, paling besar perutnya, dan paling kurus betisnya: Aku wahai Nabi Allah, aku akan menjadi pembantumu dalam hal ini. Maka dia memegang leherku, lalu berkata: “Sesungguhnya ini adalah saudaraku”, dan sebagainya, “maka dengarlah dia dan taatilah.” Dia berkata: Maka orang-orang itu berdiri sambil tertawa dan berkata kepada Abu Thalib: Dia telah memerintahkanmu untuk mendengarkan anakmu dan menaatinya! Hanya diriwayatkan oleh Abdul Ghaffar bin Al-Qasim Abu Maryam dan dia adalah pendusta Syi’ah, Ali bin Al-Madini dan lainnya menuduhnya memalsukan hadits, dan yang lain melemahkannya. Namun Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam Tafsirnya dari ayahnya, dari Al-Husain bin Isa bin Maisarah Al-Haritsi dari Abdullah bin Abdul Quddus dari Al-A’masy dari Al-Minhal bin Amr dari Abdullah bin Al-Harits, dia berkata: Ali berkata: Ketika ayat ini turun “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (Asy-Syu’ara: 214), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Buatkan untukku kaki kambing dengan satu sha’ makanan, dan segelas susu, dan panggillah untukku Bani Hasyim,” maka aku memanggil mereka, dan mereka saat itu ada empat puluh orang kurang satu orang atau empat puluh orang lebih satu orang. Lalu dia menyebutkan kisah seperti yang telah disebutkan sebelumnya sampai dia berkata: Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahului mereka berbicara dan berkata: “Siapa di antara kalian yang akan melunasi utangku, dan menjadi khalifah bagiku atas keluargaku?” Dia berkata: Maka mereka diam dan Abbas diam karena khawatir hal itu akan menghabiskan hartanya, dia berkata: Dan aku diam karena usia Abbas, kemudian dia mengatakannya lagi, maka Abbas diam, ketika aku melihat hal itu, aku berkata: Aku wahai Rasulullah. Dia berkata: “Engkau.” Dia berkata: Dan aku saat itu paling buruk penampilan mereka, dan aku belekan mata, besar perut, kurus betis. Dan jalan ini di dalamnya ada yang menjadi saksi untuk apa yang telah disebutkan sebelumnya, kecuali bahwa dia tidak menyebutkan Ibnu Abbas di dalamnya, maka Allahlah Yang Maha Mengetahui.
Dan Imam Ahmad telah meriwayatkan dalam Musnadnya dari hadits Abbad bin Abdullah Al-Asadi dan Rabi’ah bin Najidz dari Ali seperti yang telah disebutkan sebelumnya, atau sebagai saksi untuknya. Wallahu a’lam.
Dan makna ucapannya dalam hadits ini: Siapa yang akan melunasi utangku dan menjadi khalifah bagiku atas keluargaku, yaitu: Jika aku mati, dan seolah-olah dia shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir jika dia berdiri untuk menyampaikan risalah kepada orang-orang musyrik Arab bahwa mereka akan membunuhnya, maka dia meminta jaminan dari orang yang akan melakukan setelahnya apa yang akan memperbaiki keluarganya, dan melunaskan hutangnya, dan Allah telah mengamankannya dari hal itu dalam firman-Nya: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu lakukan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah akan melindungimu dari (gangguan) manusia” (Al-Ma’idah: 67).
Dan maksudnya adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menyeru kepada Allah malam dan siang, secara sembunyi dan terang-terangan, tidak ada yang mengalihkannya dari hal itu, dan tidak ada yang menolaknya dari hal itu, dan tidak ada yang menghalanginya dari hal itu, dia mengikuti orang-orang di tempat-tempat pertemuan mereka, tempat-tempat berkumpul mereka, dan di pasar-pasar, dan di waktu-waktu haji; dia menyeru siapa yang dia temui dari orang merdeka dan budak, dan orang lemah dan kuat, dan orang kaya dan miskin, semua makhluk dalam hal itu baginya sama kedudukannya, dan menguasainya dan orang-orang yang mengikutinya dari sebagian orang lemah mereka orang-orang kuat yang keras dari orang-orang musyrik Quraisy dengan penyiksaan perkataan dan perbuatan, dan termasuk orang yang paling keras kepada dia adalah pamannya Abu Lahab, dan namanya Abdul Uzza bin Abdul Muththalib dan istrinya Ummu Jamil Arwa binti Harb bin Umayyah, saudari Abu Sufyan, dan berbeda dengan dia dalam hal itu pamannya Abu Thalib bin Abdul Muththalib dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk Allah yang paling dia cintai secara tabiat, maka dia menyayanginya dan berbuat baik kepadanya, dan membela dia dan melindungi, dan menentang kaumnya dalam hal itu, meskipun dia atas agama mereka dan atas keyakinan mereka, kecuali bahwa Allah telah menguji hatinya dengan cintanya secara tabiat bukan secara syariat, maka keberadaannya tetap atas agama kaumnya adalah dari hikmah Allah, dan apa yang dibuat-Nya untuk Rasul-Nya berupa perlindungan; karena seandainya Abu Thalib masuk Islam, maka tidak akan ada baginya di sisi orang-orang musyrik Quraisy kedudukan dan tidak pula perkataan, dan mereka tidak akan menghormatinya dan tidak akan menghargainya, dan mereka akan berani kepadanya dan meluruskan tangan-tangan mereka dan lidah-lidah mereka dengan keburukan kepadanya, dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih dan Dia telah membagi makhluk-Nya menjadi jenis-jenis dan golongan-golongan, maka kedua paman ini kafir, Abu Thalib dan Abu Lahab namun yang ini akan berada pada hari kiamat di air yang dangkal dari api, dan yang itu di tingkat paling bawah dari api, dan Allah menurunkan tentangnya surat dalam kitab-Nya yang dibacakan di atas mimbar, dan dibaca dalam nasihat-nasihat dan khutbah-khutbah, yang berisi bahwa dia akan masuk api yang berkobar, dan istrinya pembawa kayu bakar.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abul Abbas, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abi Az-Zinad dari ayahnya, dia berkata: Telah mengabarkan kepadaku seorang laki-laki, yang disebut: Rabi’ah bin Abbad dari Bani Ad-Dail, dan dia adalah orang jahiliyah lalu masuk Islam, dia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa jahiliyah, di pasar Dzul Majaz, dan dia berkata: “Wahai manusia, katakanlah: Laa ilaaha illallah (Tiada tuhan selain Allah) niscaya kalian beruntung.” Dan orang-orang berkumpul kepadanya, dan di belakangnya ada seorang laki-laki berwajah putih bersih, juling, memiliki dua kepangan, berkata: Sesungguhnya dia Shabiin pendusta. Dia mengikutinya ke mana pun dia pergi, maka aku bertanya tentangnya, maka mereka berkata: Ini adalah pamannya Abu Lahab. Kemudian diriwayatkan olehnya dan Al-Baihaqi dari hadits Abdurrahman bin Abi Az-Zinad seperti itu.
Dan Al-Baihaqi juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Thahir Al-Faqih, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Al-Husain Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Abul Azhar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al-Anshari, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr dari Muhammad bin Al-Munkadir dari Rabi’ah Ad-Daili, dia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Dzul Majaz mengikuti orang-orang di tempat-tempat mereka, menyeru mereka kepada Allah, dan di belakangnya seorang laki-laki juling yang kedua pipinya memar, dan dia berkata: Wahai manusia, janganlah orang ini menipu kalian dari agama kalian, dan agama nenek moyang kalian. Aku berkata: Siapa ini? Dikatakan: Ini Abu Lahab.
Kemudian dia meriwayatkannya dari jalur Syu’bah dari Al-Asy’ats bin Sulaim dari seorang laki-laki dari Kinanah, dia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di pasar Dzul Majaz, dan dia berkata: “Wahai manusia, katakanlah: Laa ilaaha illallah niscaya kalian beruntung.” Dan ada seorang laki-laki di belakangnya melemparkan tanah kepadanya, dan itu adalah Abu Jahal dan itu dia berkata: Wahai manusia, janganlah orang ini menipu kalian dari agama kalian, karena sesungguhnya dia hanya menginginkan agar kalian meninggalkan penyembahan kepada Lata dan Uzza. Demikian dia berkata: Abu Jahal dan yang zhahir adalah bahwa dia Abu Lahab dan kami akan menyebutkan sisa riwayat hidupnya ketika menyebutkan kematiannya, dan itu setelah perang Badar insya Allah.
Adapun Abu Thalib maka dia dalam batas kasih sayang dan kelembutan tabiat yang paling tinggi, sebagaimana akan terlihat dari perbuatan-perbuatannya, dan sifat-sifatnya, dan keberpihakannya dalam apa yang dia lindungi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya semoga Allah meridhai mereka. Yunus bin Bukair berkata dari Thalhah bin Yahya bin Thalhah bin Ubaidillah dari Musa bin Thalhah, telah mengabarkan kepadaku Aqil bin Abi Thalib, dia berkata: Datanglah Quraisy kepada Abu Thalib lalu berkata: Sesungguhnya anak saudaramu ini telah menyakiti kami di tempat pertemuan kami dan masjid kami, maka cegahlah dia dari kami. Maka dia berkata: Wahai Aqil, berangkatlah lalu datangkan Muhammad kepadaku. Maka aku berangkat kepadanya, lalu aku mengeluarkannya dari gubuk kecil atau dia berkata rumah, yaitu rumah kecil. Maka dia datang dengannya pada siang hari dalam panasnya terik matahari, ketika dia datang kepada mereka, dia berkata: Sesungguhnya anak-anak pamanmu ini mengklaim bahwa kamu menyakiti mereka di tempat pertemuan mereka dan masjid mereka, maka hentikanlah dari menyakiti mereka, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan pandangannya ke langit, lalu berkata: “Apakah kalian melihat matahari ini.” Mereka berkata: Ya. Dia berkata: “Maka aku tidak lebih mampu untuk meninggalkan hal itu daripada kalian untuk menyalakan darinya satu nyala.” Maka Abu Thalib berkata: Demi Allah anak saudaraku tidak pernah berdusta, maka kembalilah. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam At-Tarikh dari Muhammad bin Al-Ala’ dari Yunus bin Bukair. Dan diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim dari Al-Asham dari Ahmad bin Abdul Jabbar darinya dengannya. Dan ini lafazhnya.
Kemudian Al-Baihaqi meriwayatkan dari jalur Yunus dari Ibnu Ishaq, beliau berkata: Telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas bahwa dia menceritakan bahwa ketika kaum Quraisy mengatakan perkataan ini kepada Abu Thalib, dia mengutus seseorang memanggil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu berkata kepadanya: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu telah datang kepadaku dan mengatakan begini dan begitu, maka sayangilah aku dan dirimu sendiri, dan janganlah kau bebankan kepadaku dan kepada dirimu sendiri suatu perkara yang tidak mampu aku dan kau tanggung, maka tahanlah dari kaummu apa yang mereka benci dari perkataanmu. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengira bahwa pamannya telah berubah sikapnya terhadapnya, dan bahwa dia akan mengecewakan dan menyerahkannya, serta lemah untuk berdiri bersamanya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan perkara ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa dalam mengejarnya.” Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis tersedu-sedu. Ketika beliau berbalik pergi, Abu Thalib berkata kepadanya setelah melihat betapa beratnya perkara yang menimpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Wahai anak saudaraku. Maka beliau menghadap kepadanya, lalu dia berkata: Teruslah dengan urusanmu, dan lakukanlah apa yang kau sukai, maka demi Allah aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun selamanya.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Abu Thalib mengatakan dalam hal itu:
Demi Allah mereka tidak akan sampai kepadamu dengan pasukan mereka Hingga aku dikuburkan dalam tanah sebagai mayat Maka teruslah dengan urusanmu, tidak ada kehinaan bagimu Bergembiralah dan sejukkanlah matamu dengan hal itu Engkau telah menyeruku dan aku tahu bahwa engkau pemberi nasihat Maka sungguh engkau telah jujur dan engkau dahulu adalah orang yang terpercaya Engkau telah menawarkan agama yang telah aku ketahui bahwa itu Adalah agama dari sebaik-baik agama manusia Seandainya bukan karena celaan atau aku takut hinaan Niscaya engkau dapati aku murah hati dengan hal itu, jelas
Kemudian Al-Baihaqi berkata: Ibnu Ishaq menyebutkan untuk Abu Thalib dalam hal itu beberapa syair, dan dalam semua itu terdapat dalil bahwa Allah Taala telah melindunginya dengan pamannya meskipun dia berbeda dengannya dalam agamanya, dan sungguh Allah telah melindunginya di tempat-tempat yang tidak ada pamannya di sana dengan kehendak-Nya, tidak ada yang dapat membatalkan keputusan-Nya.
Yunus bin Bukair berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Mesir dahulu sejak empat puluh sekian tahun, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas dalam kisah panjang yang terjadi antara kaum musyrik Mekah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri dari mereka, Abu Jahal bin Hisyam berkata: Wahai kaum Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah menolak kecuali apa yang kalian lihat: mencela agama kita, mencaci leluhur kita, memandang bodoh akal kita, dan mencaci tuhan-tuhan kita, dan sesungguhnya aku berjanji kepada Allah akan duduk menunggunya besok dengan membawa batu, maka ketika dia sujud dalam shalatnya, akan aku hantam kepalanya dengan batu itu, kemudian setelah itu biarlah Bani Abdi Manaf berbuat apa yang mereka kehendaki. Ketika pagi hari, Abu Jahal semoga Allah melaknatnya mengambil batu, kemudian dia duduk menanti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pergi di pagi hari sebagaimana biasanya beliau pergi di pagi hari, dan kiblatnya adalah negeri Syam, maka ketika beliau shalat, beliau shalat di antara Rukun Aswad dan Rukun Yamani, dan menjadikan Ka’bah di antara beliau dengan negeri Syam. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri melakukan shalat, dan kaum Quraisy telah pergi di pagi hari lalu duduk di tempat-tempat berkumpul mereka menanti. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sujud, Abu Jahal mengangkat batu itu, kemudian mendekati beliau, hingga ketika dia mendekat kepada beliau dia mundur dengan terkejut, pucat wajahnya, ketakutan, kedua tangannya kaku pada batunya, hingga dia melemparkan batu itu dari tangannya. Beberapa orang laki-laki dari Quraisy mendatanginya dan berkata kepadanya: Ada apa denganmu wahai Abu Al-Hakam? Dia berkata: Aku berdiri mendekatinya untuk melakukan apa yang aku katakan kepada kalian tadi malam, ketika aku mendekat kepadanya, terhalanglah aku oleh unta jantan, demi Allah aku tidak pernah melihat kepala, leher, dan taring unta jantan seperti itu, dia hampir memakanku.
Ibnu Ishaq berkata: Telah disebutkan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah Jibril, seandainya dia mendekat kepadaku niscaya dia akan menyambarnya.”
Al-Baihaqi berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafizh, telah mengabarkan kepadaku Abu An-Nadhr Al-Faqih, telah menceritakan kepada kami Utsman Ad-Darimi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits bin Sa’d, dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah, dari Aban bin Shalih, dari Ali bin Abdullah bin Abbas, dari ayahnya, dari Abbas bin Abdul Muththalib, dia berkata: Suatu hari aku berada di masjid, lalu Abu Jahal semoga Allah melaknatnya datang dan berkata: Sesungguhnya demi Allah, adalah kewajiban bagiku apabila aku melihat Muhammad sujud, aku akan menginjak lehernya. Maka aku keluar menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga aku masuk menemuinya, lalu aku memberitahukan kepadanya tentang perkataan Abu Jahal. Maka beliau keluar dengan marah hingga datang ke masjid, dan dia tergesa-gesa sehingga tidak masuk dari pintu, maka dia melompati tembok. Aku berkata: Ini adalah hari yang buruk. Maka aku mengikat kainku kemudian mengikutinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masuk lalu membaca: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (Surah Al-Alaq: 1-2) Ketika beliau sampai pada bagian tentang Abu Jahal: Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (Surah Al-Alaq: 6-7) Maka seseorang berkata kepada Abu Jahal: Wahai Abu Al-Hakam, ini Muhammad. Maka Abu Jahal berkata: Tidakkah kalian melihat apa yang aku lihat? Demi Allah, sungguh dia telah menutupi cakrawala langit dariku. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sampai pada akhir surah, beliau sujud.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar, dari Abdul Karim, dari Ikrimah, dia berkata: Ibnu Abbas berkata: Abu Jahal berkata: Demi Allah, jika aku melihat Muhammad shalat di Ka’bah, niscaya aku akan menginjak lehernya. Maka hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Seandainya dia melakukannya, niscaya para malaikat akan menyambarnya secara terang-terangan.” Dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Yahya, dari Abdur Razzaq dengannya.
Dawud bin Abi Hind berkata dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Abu Jahal melewati Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat, lalu dia berkata: Bukankah aku telah melarangmu untuk shalat wahai Muhammad? Sungguh aku tahu tidak ada seorang pun di sini yang memiliki lebih banyak pengikut daripada aku. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam membentak dia, lalu Jibril berkata: Maka biarlah dia memanggil golongannya, kelak Kami akan memanggil para malaikat Zabaniyah. (Surah Al-Alaq: 17-18) Demi Allah, seandainya dia memanggil golongannya, niscaya malaikat Zabaniyah akan menyambarnya sebagai azab. Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi dan dia menshahihkannya, serta An-Nasa’i dari jalur Dawud dengannya.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Yazid Abu Yazid, telah menceritakan kepada kami Furat, dari Abdul Karim, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Abu Jahal berkata: Demi Allah, jika aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat di Ka’bah, niscaya aku akan mendatanginya hingga aku menginjak lehernya. Dia berkata: Maka beliau bersabda: “Seandainya dia melakukannya, niscaya para malaikat akan menyambarnya secara terang-terangan.”
Abu Ja’far bin Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Wadhih, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abi Ishaq, dari Al-Walid bin Al-Aizar, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Abu Jahal berkata: Demi Allah, jika Muhammad kembali shalat di Maqam, niscaya aku akan membunuhnya. Maka Allah Taala menurunkan: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan hingga ayat: Sungguh Kami benar-benar akan menyeret ubun-ubunnya, ubun-ubun yang dusta lagi durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya, kelak Kami akan memanggil para malaikat Zabaniyah. (Surah Al-Alaq: 15-18) Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam datang untuk shalat, lalu dikatakan kepada Abu Jahal: Apa yang menghalangimu? Dia berkata: Sungguh telah menghitam di antaraku dan dia dari barisan-barisan pasukan. Ibnu Abbas berkata: Demi Allah, seandainya dia bergerak niscaya para malaikat akan menyambarnya, dan manusia melihatnya.
Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir, dari ayahnya, dari Nu’aim bin Abi Hind, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, dia berkata: Abu Jahal berkata: Apakah Muhammad menelungkupkan wajahnya di tengah-tengah kalian? Mereka berkata: Ya. Dia berkata: Maka dia bersumpah: Demi Al-Lat dan Al-Uzza, jika aku melihatnya shalat seperti itu, niscaya aku akan menginjak lehernya dan menelungkupkan wajahnya ke dalam tanah. Maka dia mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat untuk menginjak lehernya. Dia berkata: Tiba-tiba mereka terkejut karena dia mundur dengan tumitnya dan menangkis dengan kedua tangannya. Dia berkata: Maka dikatakan kepadanya: Ada apa denganmu? Dia berkata: Sesungguhnya di antaraku dan dia ada parit berapi, kengerian, dan sayap-sayap. Dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya dia mendekat kepadaku, niscaya para malaikat akan menyambarnya anggota demi anggota.” Dia berkata: Dan Allah Taala menurunkan, aku tidak tahu apakah dalam hadits Abu Hurairah atau bukan: Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup hingga akhir surah. Dan telah diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Abi Hatim, dan Al-Baihaqi dari hadits Mu’tamir bin Sulaiman bin Tharkhan At-Taimi dengannya.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaq, dari Amr bin Maimun, dari Abdullah, dia berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa melawan kaum Quraisy kecuali suatu hari; sesungguhnya beliau sedang shalat, dan sekelompok orang dari Quraisy duduk, dan plasenta unta ada di dekat beliau, maka mereka berkata: Siapa yang akan mengambil plasenta ini lalu melemparkannya ke punggung beliau? Maka Uqbah bin Abi Mu’aith berkata: Aku. Maka dia mengambilnya lalu melemparkannya ke punggung beliau, maka beliau tetap sujud hingga Fathimah datang, lalu mengambilnya dari punggung beliau. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, siksa orang-orang terhormat Quraisy ini. Ya Allah, siksa Utbah bin Rabi’ah. Ya Allah, siksa Syaibah bin Rabi’ah. Ya Allah, siksa Abu Jahal bin Hisyam. Ya Allah, siksa Uqbah bin Abi Mu’aith. Ya Allah, siksa Ubay bin Khalaf atau Umayyah bin Khalaf.” Syu’bah yang ragu. Abdullah berkata: Maka sungguh aku telah melihat mereka semua terbunuh pada hari perang Badar, kemudian diseret ke sumur bangkai, kecuali Abu atau Umayyah karena sesungguhnya dia adalah laki-laki yang gemuk lalu tubuhnya terpotong-potong. Dan telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari di banyak tempat dari Shahihnya dan Muslim dari beberapa jalur dari Abu Ishaq dengannya. Dan yang benar adalah Umayyah bin Khalaf; karena sesungguhnya dialah yang terbunuh pada hari perang Badar, dan saudaranya Ubay hanya terbunuh pada hari perang Uhud, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Dan As-Sala adalah yang keluar bersama anak unta seperti plasenta untuk anak manusia.
Dalam sebagian lafazh Shahih bahwa ketika mereka melakukan itu, mereka tertawa hingga sebagian mereka condong ke sebagian yang lain. Yakni yang ini condong ke yang itu karena hebatnya tawa, semoga Allah melaknat mereka. Dan di dalamnya: bahwa Fathimah ketika melemparkannya dari beliau, dia menghadap kepada mereka lalu mencaci mereka, dan bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam ketika selesai dari shalatnya mengangkat kedua tangannya berdoa melawan mereka. Ketika mereka melihat itu, tawa mereka terhenti, dan mereka takut terhadap doa beliau. Dan bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam berdoa melawan orang-orang terhormat mereka secara keseluruhan, dan menyebutkan secara khusus dalam doanya tujuh orang. Terjadi dalam kebanyakan riwayat penyebutan enam orang dari mereka, yaitu: Utbah dan saudaranya Syaibah kedua anak Rabi’ah, Al-Walid bin Utbah, Abu Jahal bin Hisyam, Uqbah bin Abi Mu’aith, dan Umayyah bin Khalaf. Abu Ishaq berkata: Dan aku lupa yang ketujuh. Aku berkata: Dan dia adalah Amarah bin Al-Walid, penyebutan namanya terdapat dalam Shahih Al-Bukhari.
Yunus bin Bukair berkata dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abi Sufyan Ats-Tsaqafi, dia berkata: Seorang laki-laki dari Irasy datang membawa unta-untanya ke Mekah, lalu Abu Jahal bin Hisyam membeli darinya, kemudian dia menunda pembayaran harganya. Maka orang Irasyi itu datang hingga berdiri di perkumpulan kaum Quraisy, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk di sudut masjid, lalu dia berkata: Wahai kaum Quraisy, siapa laki-laki yang akan menolongku melawan Abu Al-Hakam bin Hisyam; karena sesungguhnya aku adalah orang asing dan musafir, dan dia telah mengalahkan aku dalam hakku? Maka orang-orang yang berada di perkumpulan itu berkata: Apakah kau melihat laki-laki itu? Dan mereka mengejeknya, menunjuk kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam; karena mereka tahu apa yang terjadi antara beliau dengan Abu Jahal berupa permusuhan: Pergilah kepadanya, maka dia akan memberikan hakmu kepadanya. Maka orang Irasyi itu datang hingga berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu menyebutkan hal itu kepada beliau. Maka beliau pergi bersamanya. Ketika mereka melihat beliau berdiri bersamanya, mereka berkata kepada seorang laki-laki yang bersama mereka: Ikutilah dia dan lihatlah apa yang dia lakukan. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar hingga mendatangi Abu Jahal, lalu beliau mengetuk pintunya. Dia berkata: Siapa ini? Beliau bersabda: “Muhammad, maka keluarlah.” Maka dia keluar menemui beliau, dan tidak ada setetes darah pun di wajahnya, dan wajahnya telah berubah warna. Maka beliau bersabda: “Berikan kepada laki-laki ini haknya.” Dia berkata: Jangan pergi hingga aku memberinya yang menjadi haknya. Dia berkata: Maka dia masuk, lalu keluar menemui dia dengan haknya dan menyerahkannya kepadanya, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pergi dan berkata kepada orang Irasyi: “Pergilah dengan urusanmu.” Maka orang Irasyi itu datang hingga berdiri di perkumpulan itu, lalu berkata: Semoga Allah memberinya kebaikan; maka sungguh aku telah mengambil yang menjadi hakku. Dan datanglah laki-laki yang mereka utus bersamanya, maka mereka berkata: Celakalah kau, apa yang kau lihat? Dia berkata: Sungguh ajaib dari yang ajaib, demi Allah tidaklah setelah beliau mengetuk pintunya, lalu dia keluar dan tidak ada nyawa bersamanya, maka beliau bersabda: “Berikan kepada laki-laki ini haknya.” Maka dia berkata: Ya, jangan pergi hingga aku keluar memberikan haknya kepadanya. Maka dia masuk lalu mengeluarkan haknya kepadanya lalu memberikannya. Kemudian tidak lama Abu Jahal datang, maka mereka berkata kepadanya: Celakalah kau, ada apa denganmu? Demi Allah kami tidak pernah melihat seperti apa yang kau lakukan? Maka dia berkata: Celakalah kalian, demi Allah tidaklah setelah dia mengetuk pintuku, dan aku mendengar suaranya, maka aku dipenuhi ketakutan, kemudian aku keluar menemuinya, dan sesungguhnya di atas kepalanya ada unta jantan, demi Allah aku tidak pernah melihat kepala, leher, dan taring seperti unta jantan itu selamanya, maka demi Allah seandainya aku menolak niscaya dia akan memakanku.
Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Ayyasy bin Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, telah menceritakan kepadaku Al-Auza’i, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Muhammad bin Ibrahim At-Taimi, telah menceritakan kepadaku Urwah bin Az-Zubair: Aku bertanya kepada Ibnu Amr bin Al-Ash, lalu aku berkata: Beritahukan kepadaku tentang perkara paling keras yang dilakukan kaum musyrik terhadap Rasulullah. Dia berkata: Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang shalat di Hijr Ka’bah, tiba-tiba Uqbah bin Abi Mu’aith datang lalu meletakkan kainnya di leher beliau, maka dia mencekiknya dengan keras. Maka Abu Bakar radhiyallahu anhu datang hingga memegang bahunya dan mendorongnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu berkata: Apakah kalian membunuh seorang laki-laki karena dia berkata: Tuhanku adalah Allah, padahal dia telah datang kepada kalian dengan keterangan-keterangan yang nyata dari Tuhanmu? (Surah Ghafir: 28) Ibnu Ishaq mengikutinya, dia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Urwah, dari ayahnya, dia berkata: Aku berkata kepada Abdullah bin Amr.
Abdah berkata dari Hisyam, dari ayahnya, dia berkata: Dikatakan kepada Amr bin Al-Ash. Dan Muhammad bin Amr berkata dari Abu Salamah, telah menceritakan kepadaku Amr bin Al-Ash. Al-Baihaqi berkata: Dan demikian pula diriwayatkan oleh Sulaiman bin Bilal dari Hisyam bin Urwah sebagaimana diriwayatkan oleh Abdah. Hanya Al-Bukhari yang menyendiri dengan hadits ini dan sungguh dia telah meriwayatkannya di beberapa tempat dari Shahihnya, dan dia menyebutkan secara jelas di sebagian tempat dengan Abdullah bin Amr bin Al-Ash dan itu lebih tepat karena periwayatan Urwah darinya, dan kenyataan bahwa dari Amr adalah lebih tepat karena terjadinya kisah ini lebih awal.
Telah meriwayatkan Al-Baihaqi dari Al-Hakim dari Al-Ashom dari Ahmad bin Abdul Jabbar dari Yunus dari Muhammad bin Ishaq, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Urwah dari ayahnya Urwah, ia berkata: Aku bertanya kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash: Apa perlakuan paling buruk yang engkau lihat dilakukan kaum Quraisy terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam permusuhan mereka yang mereka tampakkan? Maka ia berkata: Sungguh aku melihat mereka ketika para pembesar mereka berkumpul suatu hari di Hijr, lalu mereka membicarakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mereka berkata: Kami tidak pernah melihat seperti apa yang kami sabar terhadapnya dari orang ini, ia telah memandang bodoh akal kami, mencela nenek moyang kami, mencela agama kami, memecah belah persatuan kami, dan mencaci maki tuhan-tuhan kami, dan kami bersabar terhadapnya dalam perkara yang sangat besar, atau sebagaimana mereka katakan. Ia berkata: Maka ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, muncullah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu ia berjalan hingga mencium Rukun, kemudian ia melewati mereka sambil thawaf mengelilingi Baitullah, maka mereka mengejeknya dengan beberapa ucapan, hal itu terlihat pada wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu ia berlalu. Ketika ia melewati mereka yang kedua kalinya, mereka mengejeknya dengan ejekan serupa, aku melihatnya pada wajahnya, lalu ia berlalu, kemudian ia melewati mereka yang ketiga kalinya, mereka mengejeknya dengan ejekan serupa, maka ia berkata: “Apakah kalian mendengar wahai kaum Quraisy, adapun demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh aku datang kepada kalian dengan penyembelihan.” Maka ucapannya itu menimpa kaum tersebut hingga tidak ada seorang pun dari mereka melainkan seakan-akan di atas kepalanya ada burung yang hinggap, hingga orang yang paling keras terhadapnya sebelum itu justru bersikap lemah lembut kepadanya hingga ia berkata: Pulanglah wahai Abu Al-Qasim dengan baik, engkau bukanlah orang yang bodoh. Maka pulanglah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hingga ketika tiba keesokan harinya mereka berkumpul di Hijr dan aku bersama mereka, maka sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Kalian telah mengingat apa yang sampai dari kalian dan apa yang sampai kepada kalian darinya, hingga ketika ia memulai kalian dengan apa yang kalian benci, kalian meninggalkannya! Maka ketika mereka dalam keadaan demikian, muncullah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka mereka menyerbunya serentak seperti serbuan satu orang, lalu mereka mengepungnya sambil berkata: Apakah engkau yang mengatakan begini dan begitu? Mengenai apa yang sampai kepada mereka berupa celaan terhadap tuhan-tuhan dan agama mereka, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Ya, akulah yang mengatakan itu.” Sungguh aku melihat seorang laki-laki dari mereka memegang ujung selendangnya, dan Abu Bakar berdiri di hadapannya sambil menangis, dan ia berkata: Celakalah kalian, apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena ia berkata Tuhanku adalah Allah? Kemudian mereka meninggalkannya, sungguh itulah perlakuan paling buruk yang aku lihat dilakukan kaum Quraisy terhadapnya.
Tentang Hasutan Pembesar Kaum Quraisy terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Para Sahabatnya, dan Pertemuan Mereka dengan Pamannya Abu Thalib yang Berdiri dalam Melindungi dan Menolongnya, serta Keinginan Kuat Mereka agar Ia Menyerahkannya kepada Mereka, namun Ia Menolak hal itu dengan Pertolongan dan Kekuatan Allah
Berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Sungguh aku disakiti di jalan Allah dan tidak ada yang disakiti seperti aku, dan aku ditakut-takuti di jalan Allah dan tidak ada yang ditakut-takuti seperti aku, dan sungguh telah berlalu atasku tiga puluh hari antara siang dan malam, sedangkan aku dan Bilal tidak memiliki makanan yang dimakan oleh yang memiliki hati (makhluk hidup), kecuali apa yang tersimpan di ketiak Bilal.” Dan telah mengeluarkannya At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits Hammad bin Salamah dengannya. Dan At-Tirmidzi berkata: Hasan shahih.
Dan berkata Muhammad bin Ishaq: Dan telah bersimpati kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pamannya Abu Thalib dan melindunginya, dan berdiri di hadapannya, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tetap pada perintah Allah menampakkan agamanya, tidak ada sesuatu pun yang menghentikannya darinya. Maka ketika kaum Quraisy melihat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengindahkan mereka dari sesuatu yang mereka ingkari terhadapnya berupa perpisahannya dengan mereka, dan celaan terhadap tuhan-tuhan mereka, dan mereka melihat bahwa pamannya Abu Thalib telah bersimpati kepadanya, dan berdiri di hadapannya, dan tidak menyerahkannya kepada mereka, maka berjalanlah para lelaki dari pembesar Quraisy kepada Abu Thalib; Utbah dan Syaibah kedua anak Rabi’ah bin Abdul Syams bin Abdu Manaf bin Qushay, dan Abu Sufyan Shakhr bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams, dan Abu Al-Bakhtari, namanya Al-Ash bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay, dan Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad bin Abdul Uzza, dan Abu Jahal, namanya Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, dan Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah bin Ka’ab bin Luay, dan Nubaih dan Munabbih kedua anak Al-Hajjaj bin Amir bin Hudzaifah bin Sa’id bin Sahm bin Amr bin Hushish bin Ka’ab bin Luay, dan Al-Ash bin Wa’il bin Sa’id bin Sahm. Berkata Ibnu Ishaq: Atau siapa yang berjalan dari mereka, lalu mereka berkata: Wahai Abu Thalib, sesungguhnya anak saudaramu telah mencaci maki tuhan-tuhan kami, dan mencela agama kami, dan memandang bodoh akal kami, dan menyesatkan nenek moyang kami, maka hendaklah engkau menghentikannya dari kami atau hendaklah engkau biarkan antara kami dan dia, karena sesungguhnya engkau dalam keadaan seperti apa yang kami dalam keadaan darinya yaitu menyelisihinya, maka kami akan cukupkan engkau darinya. Maka Abu Thalib berkata kepada mereka ucapan yang lemah lembut, dan menolak mereka dengan penolakan yang baik, maka mereka pergi darinya. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tetap pada apa yang ia ada padanya, menampakkan agama Allah dan menyeru kepadanya. Kemudian memburuk perkara antara dia dan mereka, hingga menjauh para lelaki dan saling membenci, dan kaum Quraisy memperbanyak penyebutan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di antara mereka, lalu mereka bermusyawarah tentangnya, dan menghasut sebagian mereka terhadap sebagian yang lain padanya. Kemudian mereka berjalan kepada Abu Thalib sekali lagi, lalu mereka berkata: Wahai Abu Thalib, sesungguhnya engkau memiliki usia dan kehormatan serta kedudukan di antara kami, dan sesungguhnya kami telah meminta engkau menghentikan anak saudaramu, tetapi engkau tidak menghentikannya dari kami, dan sesungguhnya demi Allah kami tidak akan sabar atas ini; dari pencacian terhadap nenek moyang kami, dan pemandangan bodoh terhadap akal kami, dan celaan terhadap tuhan-tuhan kami, hingga engkau menghentikannya dari kami atau kami akan melawannya dan engkau dalam hal itu, hingga salah satu dari dua kelompok binasa. Atau sebagaimana mereka katakan. Kemudian mereka pergi darinya, maka menjadi berat bagi Abu Thalib perpisahan kaumnya dan permusuhan mereka, dan tidak senang hatinya untuk menyerahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tidak pula meninggalkannya.
Berkata Ibnu Ishaq: Dan telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas bahwa ia menceritakan bahwa kaum Quraisy ketika mereka berkata kepada Abu Thalib ucapan ini, ia mengirim kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu ia berkata kepadanya: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu telah datang kepadaku, lalu mereka berkata kepadaku begini dan begitu mengenai apa yang mereka katakan kepadanya, maka kasihilah aku dan dirimu, dan janganlah engkau membebani aku dari perkara yang aku tidak mampu. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengira bahwa pamannya telah berubah kepadanya, dan bahwa ia akan meninggalkan dan menyerahkannya, dan bahwa ia telah lemah dari menolongnya dan berdiri bersamanya. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini hingga Allah menampakkannya, atau aku binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya.” Ia berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis, lalu ia berdiri, maka ketika ia berpaling, Abu Thalib memanggilnya lalu berkata: Kembalilah wahai anak saudaraku. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menghadap kepadanya, lalu ia berkata: Pergilah wahai anak saudaraku, katakanlah apa yang engkau sukai, maka demi Allah aku tidak akan menyerahkanmu untuk sesuatu pun selamanya.
Berkata Ibnu Ishaq: Kemudian sesungguhnya kaum Quraisy ketika mereka mengetahui bahwa Abu Thalib telah menolak meninggalkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menyerahkannya, dan keputusannya untuk berpisah dengan mereka dalam hal itu dan memusuhi mereka, mereka berjalan kepadanya dengan Umarah bin Al-Walid bin Al-Mughirah lalu mereka berkata kepadanya sesuai yang sampai kepadaku: Wahai Abu Thalib, ini Umarah bin Al-Walid, pemuda paling kuat dan paling tampan di Quraisy, maka ambillah dia, bagimu akalnya dan pertolongannya, dan jadikanlah dia sebagai anak untukmu, maka ia untukmu, dan serahkan kepada kami anak saudaramu ini yang telah menyelisihi agamamu dan agama nenek moyangmu, dan memecah belah persatuan kaummu, dan memandang bodoh akal mereka, maka kami akan membunuhnya, maka sesungguhnya ia hanyalah seorang laki-laki dengan seorang laki-laki. Ia berkata: Demi Allah, betapa buruknya apa yang kalian tawarkan kepadaku! Apakah kalian memberiku anak kalian, aku memberinya makan untuk kalian, dan aku memberikan kalian anakku, kalian membunuhnya! Ini demi Allah tidak akan pernah terjadi. Ia berkata: Maka berkata Al-Muth’im bin Adi bin Naufal bin Abdu Manaf bin Qushay: Demi Allah wahai Abu Thalib, sungguh kaummu telah bersikap adil kepadamu, dan mereka bersungguh-sungguh untuk melepaskan dari apa yang engkau benci, maka aku tidak melihatmu ingin menerima sesuatu pun dari mereka. Maka Abu Thalib berkata kepada Al-Muth’im: Demi Allah mereka tidak bersikap adil kepadaku, tetapi engkau telah memutuskan untuk meninggalkanku, dan membantu kaum atas diriku, maka perbuatlah apa yang terlintas bagimu. Atau sebagaimana ia katakan, maka memanas perkara, dan panas perang, dan saling mencela kaum, dan saling memanggil sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Maka Abu Thalib berkata pada saat itu, ia menyindir Al-Muth’im bin Adi dan ia umumkan siapa yang meninggalkannya dari Bani Abdu Manaf, dan siapa yang memusuhinya dari kabilah-kabilah Quraisy, dan ia mengingat apa yang mereka minta darinya dan apa yang menjauh dari perkara mereka, dan ia berkata:
Ketahuilah sampaikan kepada Amr dan Al-Walid dan Muth’im … Ketahuilah, seandainya bagianku dari perlindungan kalian adalah seekor unta jantan Dari yang lemah, yang mengeluarkan suara keras banyak lenguhnya … yang memercikkan pada kedua betisnya dari kencingnya tetesan Ia tertinggal di belakang kawanan, tidak akan mengejar … Ketika ia naik ke tanah lapang dikatakan kepadanya: Larilah Aku melihat dua saudara kami dari ayah kami dan ibu kami … Ketika mereka diminta mereka berkata: Kepada selain kami perkara itu Ya mereka punya perkara tetapi mereka diam … Seperti diamnya batu dari puncak gunung yang tinggi Aku khususkan secara khusus Abdu Syams dan Naufal … Mereka berdua membuang kami seperti apa yang dibuang bara api Mereka berdua menghasut kaum terhadap dua saudara mereka … Maka telah pagi mereka dari mereka, kedua tangan mereka kosong Mereka berdua mempersekutukan dalam kemuliaan orang yang tidak memiliki ayah … Dari manusia kecuali jika diturunkan untuknya sebutan Dan Taim dan Makhzum dan Zahrah dari mereka … Dan mereka adalah sekutu kami jika dicari pertolongan
Berkata Ibnu Hisyam: Dan kami tinggalkan dari syair itu dua bait, ia berkata di dalamnya dengan kasar.
Pasal Tentang Berlebihan Mereka dalam Menyakiti Individu-individu Kaum Muslimin yang Tertindas
Berkata Ibnu Ishaq: Kemudian sesungguhnya kaum Quraisy saling menghasut di antara mereka terhadap siapa yang ada di kabilah-kabilah dari sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang masuk Islam bersamanya, maka menyerbu setiap kabilah kepada siapa yang ada di dalamnya dari kaum muslimin, mereka menyiksa mereka dan memfitnah mereka dari agama mereka, dan Allah melindungi dari mereka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan pamannya Abu Thalib. Dan telah berdiri Abu Thalib ketika ia melihat kaum Quraisy melakukan apa yang mereka lakukan kepada Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib, maka ia menyeru mereka kepada apa yang ia ada padanya berupa melindungi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berdiri di hadapannya, maka mereka berkumpul kepadanya, dan berdiri bersamanya, dan menjawabnya kepada apa yang ia seru mereka kepadanya kecuali apa yang ada dari Abu Lahab musuh Allah. Maka ia berkata dalam hal itu: ia memuji mereka dan mendorong mereka kepada apa yang mereka sepakati dengannya berupa simpati dan pertolongan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
Jika berkumpul suatu hari Quraisy untuk bermegah-megahan … Maka Abdu Manaf adalah pemimpinnya dan intinya Dan jika terkumpul para pembesar Abdu Manaf … Maka dalam Hasyim para pembesarnya dan yang terdahulunya Dan jika bermegah suatu hari, maka sesungguhnya Muhammad … Adalah yang terpilih dari pemimpinnya dan yang mulianya Memanggil Quraisy, yang rendahnya dan yang gemuknya … Kepada kami, tetapi mereka tidak menang dan kacaulah akal mereka Dan kami sejak dulu tidak mengakui kezaliman … Ketika mereka membungkuk, kecilnya leher-leher, kami tegakkan Dan kami melindungi perlindungannya setiap hari yang berat … Dan kami memukul dari batu-batunya siapa yang mengintainya Dengan kami bangkit pohon yang kering dan sesungguhnya … Dengan ketiak kami menjadi basah dan tumbuh akarnya
Tentang Apa yang Dibantah oleh Kaum Musyrikin kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam – dan Apa yang Mereka Bersikap Keras kepada Beliau dalam Pertanyaan-pertanyaan Mereka kepada Beliau berupa Macam-macam Tanda, dan Pelanggaran Kebiasaan, dengan Cara Keras Kepala, Bukan dengan Cara Mencari Petunjuk dan Kebenaran; Oleh karena Itu Mereka Tidak Dijawab kepada Banyak dari Apa yang Mereka Minta, dan Tidak pula Apa yang kepada Itu Mereka Inginkan; karena Ilmu Yang Haq, Mahasuci Dia, bahwa Mereka Seandainya Menyaksikan dan Melihat Apa yang Mereka Inginkan, Mereka akan Tetap dalam Kedurhakaan Mereka Berkeliaran, dan Mereka akan Terus dalam Kesesatan dan Penyimpangan Mereka Berbolak-balik.
Allah Ta’ala berfirman: Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan sumpahnya bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu tanda (mukjizat), pastilah mereka beriman kepadanya. Katakanlah: Sesungguhnya tanda-tanda itu hanya di sisi Allah. Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila tanda itu datang mereka tidak (juga) akan beriman. Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka belum beriman kepadanya pada permulaan kali, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan mereka yang sangat. Dan seandainya Kami turunkan kepada mereka malaikat, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami kumpulkan segala sesuatu di hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Surat Al-An’am: 109-111). Dan Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti berlaku atas mereka ketetapan Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam tanda (kekuasaan Allah), hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Surat Yunus: 96-97). Dan Allah Ta’ala berfirman: Dan tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (Rasul dengan membawa) tanda-tanda (mukjizat), melainkan karena orang-orang dahulu telah mendustakan (tanda-tanda itu). Dan Kami telah memberikan kepada kaum Tsamud unta betina yang dapat dilihat dengan nyata, tetapi mereka menganiaya terhadapnya. Dan Kami tidak mengirimkan (Rasul dengan membawa) tanda-tanda melainkan untuk menakut-nakuti. (Surat Al-Isra: 59). Dan Allah Ta’ala berfirman: Dan mereka berkata: Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu hingga engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau engkau mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu engkau alirkan sungai-sungai di celah-celahnya dengan mengalir deras, atau engkau jatuhkan langit sebagaimana yang engkau katakan atas kami berkeping-keping, atau engkau datangkan Allah dan para malaikat berhadapan (dengan kami), atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas, atau engkau naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu hingga engkau turunkan kepada kami sebuah kitab yang kami baca. Katakanlah: Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul. (Surat Al-Isra: 90-93). Dan sungguh kami telah berbicara tentang ayat-ayat ini dan apa yang menyerupainya di tempat-tempatnya dalam Tafsir, dan segala puji bagi Allah.
Dan telah meriwayatkan Yunus dan Ziyad dari Ibnu Ishaq dari sebagian ahli ilmu—yaitu seorang syaikh dari penduduk Mesir yang bernama Muhammad bin Abi Muhammad—dari Sa’id bin Jubair dan Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Berkumpullah para pembesar Quraisy—dan ia menyebutkan nama-nama mereka—setelah matahari terbenam di sisi Kakbah. Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Utuslah seseorang kepada Muhammad untuk berbicara dan berdebat dengannya sehingga kalian bisa berlepas diri darinya. Maka mereka mengutus seseorang kepadanya (yang mengatakan): Sesungguhnya para pembesar kaummu telah berkumpul untukmu agar mereka dapat berbicara denganmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam segera mendatangi mereka, dan beliau menyangka bahwa telah muncul dalam diri mereka perubahan sikap terhadap urusannya, dan beliau sangat mengharapkan petunjuk bagi mereka, dan berat bagi beliau kesusahan mereka, hingga beliau duduk bersama mereka. Mereka berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya kami telah mengutus seseorang kepadamu agar kami dapat berlepas diri darimu, dan demi Allah, kami tidak mengetahui seorang pun dari orang-orang Arab yang membawa kepada kaumnya apa yang telah kamu bawa kepada kaummu; sungguh kamu telah mencaci para leluhur, mencela agama, menganggap bodoh akal pikiran, mencaci para sembahan, dan memecah belah persatuan, dan tidak tersisa keburukan apa pun melainkan kamu telah melakukannya terhadap kami. Jika kamu datang dengan pembicaraan ini untuk mencari harta, kami akan mengumpulkan harta kami untukmu sehingga kamu menjadi orang yang paling banyak hartanya di antara kami. Dan jika kamu mencari kehormatan di antara kami, kami akan menjadikanmu pemimpin kami. Dan jika kamu menginginkan kerajaan, kami akan menjadikanmu raja atas kami. Dan jika yang mendatangimu ini adalah penglihatan yang kamu lihat yang telah menguasaimu—mereka menamai pengikut dari golongan jin sebagai ar-ra’iy, mungkin demikianlah—kami akan mengeluarkan harta kami untuk mencari pengobatan bagimu sehingga kami dapat menyembuhkanmu darinya atau kami dapat berlepas diri darimu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah ada padaku apa yang kalian katakan. Aku tidak datang kepada kalian dengan apa yang aku bawa ini untuk mencari harta kalian, atau kehormatan di antara kalian, atau kerajaan atas kalian, tetapi Allah telah mengutusku kepada kalian sebagai rasul, dan menurunkan kepadaku sebuah kitab, dan memerintahku agar aku menjadi pembawa kabar gembira dan peringatan bagi kalian. Maka aku telah menyampaikan kepada kalian risalah Tuhanku, dan aku telah menasihati kalian. Jika kalian menerima dariku apa yang aku bawa kepada kalian, maka itu adalah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Dan jika kalian menolaknya dariku, aku akan bersabar atas perintah Allah hingga Allah memutuskan antaraku dan kalian.” Atau sebagaimana yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata: Wahai Muhammad, jika kamu tidak mau menerima dari kami apa yang kami tawarkan kepadamu, maka sungguh kamu telah mengetahui bahwa tidak ada seorang pun dari manusia yang negerinya lebih sempit, hartanya lebih sedikit, dan kehidupannya lebih keras daripada kami. Maka mintalah untuk kami kepada Tuhanmu yang telah mengutusmu dengan apa yang Dia utus kepadamu, agar Dia menjauhkan dari kami gunung-gunung ini yang telah menyempitkan kami, dan melapangkan negeri kami, dan mengalirkan di dalamnya sungai-sungai seperti sungai-sungai Syam dan Irak, dan membangkitkan untuk kami orang-orang yang telah meninggal dari leluhur kami, dan hendaknya di antara yang Dia bangkitkan untuk kami adalah Qushay bin Kilab, karena dia adalah seorang syaikh yang jujur, maka kami akan bertanya kepada mereka tentang apa yang kamu katakan, apakah itu benar atau batil. Jika kamu melakukan apa yang kami minta dan mereka membenarkanmu, kami akan membenarkanmu dan mengetahui dengannya kedudukanmu di sisi Allah, dan bahwa Dia telah mengutusmu sebagai rasul sebagaimana yang kamu katakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada mereka: “Bukan untuk ini aku diutus. Aku hanya datang kepada kalian dari sisi Allah dengan apa yang Dia utus kepadaku dengannya. Maka sungguh aku telah menyampaikan kepada kalian apa yang aku diutus dengannya kepada kalian. Jika kalian menerimanya, maka itu adalah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Dan jika kalian menolaknya dariku, aku akan bersabar atas perintah Allah hingga Allah memutuskan antaraku dan kalian.” Mereka berkata: Jika kamu tidak mau melakukan ini untuk kami, maka ambillah untuk dirimu sendiri; mintalah kepada Tuhanmu agar Dia mengutus kepadamu seorang malaikat yang membenarkanmu dengan apa yang kamu katakan, dan berbicara kepada kami darimu, dan mintalah kepada-Nya agar Dia menjadikan untuk kami taman-taman, perbendaharaan, dan istana-istana dari emas dan perak, dan membuatmu kaya dari apa yang kami lihat kamu cari, karena kamu berdiri di pasar-pasar dan mencari penghidupan sebagaimana kami mencarinya, sehingga kami mengetahui keutamaan kedudukanmu dari Tuhanmu, jika kamu adalah rasul sebagaimana yang kamu klaim. Beliau bersabda kepada mereka: “Aku tidak akan melakukan itu. Aku bukanlah orang yang meminta kepada Tuhanku akan hal ini, dan aku tidak diutus kepada kalian dengan ini, tetapi Allah mengutusku sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan. Jika kalian menerima apa yang aku bawa kepada kalian, maka itu adalah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Dan jika kalian menolaknya dariku, aku akan bersabar atas perintah Allah hingga Allah memutuskan antaraku dan kalian.” Mereka berkata: Maka jatuhkanlah langit sebagaimana yang kamu klaim bahwa Tuhanmu jika berkehendak akan melakukannya, karena kami tidak akan beriman kepadamu kecuali kamu melakukannya. Beliau bersabda: “Itu terserah kepada Allah, jika Dia berkehendak, Dia akan melakukan itu kepada kalian.” Mereka berkata: Wahai Muhammad, apakah Tuhanmu tidak mengetahui bahwa kami akan duduk bersamamu, dan kami akan bertanya kepadamu tentang apa yang kami tanyakan kepadamu, dan kami akan meminta darimu apa yang kami minta, sehingga Dia terlebih dahulu memberimu petunjuk dan mengajarimu dengan apa yang akan kamu jawab kepada kami dengannya, dan memberitahumu apa yang akan Dia lakukan terhadap kami jika kami tidak menerima darimu apa yang kamu bawa kepada kami? Sungguh telah sampai kepada kami bahwa yang mengajarimu ini adalah seorang lelaki di Yamamah yang bernama Ar-Rahman. Dan demi Allah, kami tidak akan pernah beriman kepada Ar-Rahman. Maka sungguh kami telah berlepas diri kepadamu wahai Muhammad. Adapun demi Allah, kami tidak akan meninggalkanmu dan apa yang kamu lakukan kepada kami hingga kami membinasakan mu atau kamu membinasakan kami. Seorang dari mereka berkata: Kami menyembah para malaikat, dan mereka adalah anak-anak perempuan Allah. Seorang dari mereka berkata: Kami tidak akan beriman kepadamu hingga kamu mendatangkan kami Allah dan para malaikat berhadap-hadapan. Ketika mereka mengatakan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dari mereka, dan bangkit bersamanya Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Makhzum—dan dia adalah anak bibinya Atikah binti Abdul Muthalib—maka dia berkata: Wahai Muhammad, kaummu telah menawarkan kepadamu apa yang mereka tawarkan, tetapi kamu tidak menerimanya dari mereka, kemudian mereka meminta kepadamu untuk diri mereka sendiri beberapa hal agar mereka mengetahui dengannya kedudukanmu dari Allah, tetapi kamu tidak melakukannya, kemudian mereka memintamu untuk menyegerakan apa yang kamu takut-takuti mereka dengannya berupa azab. Maka demi Allah, aku tidak akan pernah beriman kepadamu hingga kamu membuat tangga ke langit, kemudian kamu naik di dalamnya sedang aku melihat hingga kamu mendatanginya dan kamu membawa bersamamu surat yang terbuka, dan bersamamu empat malaikat yang bersaksi untukmu bahwa kamu sebagaimana yang kamu katakan. Dan demi Allah, seandainya kamu melakukan itu, aku mengira bahwa aku tidak akan membenarkanmu. Kemudian ia berpaling dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali kepada keluarganya dalam keadaan sedih dan menyesal karena apa yang luput darinya dari apa yang beliau harapkan dari kaumnya ketika mereka memanggilnya, dan karena apa yang beliau lihat dari penjauhan mereka terhadapnya.
Dan pertemuan yang di dalamnya berkumpul para pembesar ini adalah pertemuan kezaliman, permusuhan, dan keras kepala. Oleh karena itu, hikmah Ilahiyah dan rahmat Rabbaniyah menghendaki agar mereka tidak dikabulkan apa yang mereka minta, karena Allah mengetahui bahwa mereka tidak akan beriman dengannya, maka Dia menyegerakan azab kepada mereka.
Sebagaimana yang dikatakan Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al-A’masy dari Ja’far bin Iyas dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar beliau menjadikan untuk mereka bukit Shafa menjadi emas, dan agar beliau menjauhkan dari mereka gunung-gunung sehingga mereka dapat bercocok tanam. Maka dikatakan kepadanya: Jika kamu menghendaki untuk bersabar terhadap mereka, dan jika kamu menghendaki untuk memberikan kepada mereka apa yang mereka minta, maka jika mereka kufur setelahnya, mereka akan dibinasakan sebagaimana dibinasakan orang-orang sebelum mereka. Beliau bersabda: “Tidak, tetapi aku akan bersabar terhadap mereka.” Maka Allah Ta’ala menurunkan: “Dan tidaklah yang menghalangi Kami untuk mengirimkan tanda-tanda (kekuasaan Kami) melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan Kami berikan kepada kaum Tsamud unta betina yang dapat dilihat dengan jelas, tetapi mereka menganiaya terhadapnya.” (Al-Isra: 59) ayat tersebut. Dan demikian pula diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari hadits Jarir dengannya.
Dan Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Salamah bin Kuhail dari Imran Abu Al-Hakam dari Ibnu Abbas, ia berkata: Quraisy berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjadikan bukit Shafa untuk kami menjadi emas dan kami akan beriman kepadamu. Beliau bersabda: “Dan apakah kalian akan melakukannya?” Mereka berkata: Ya. Beliau bersabda: Maka beliau berdoa, lalu Jibril datang kepadanya, maka dia berkata: Sesungguhnya Tuhanmu membacakan salam kepadamu, dan berkata kepadamu: Jika kamu menghendaki, aku jadikan bukit Shafa untuk mereka menjadi emas, maka barangsiapa yang kufur dari mereka setelah itu, Aku akan menyiksa mereka dengan azab yang tidak Aku siksa seorang pun dari seluruh alam. Dan jika kamu menghendaki, Aku membukakan untuk mereka pintu rahmat dan taubat. Beliau bersabda: “Bahkan taubat dan rahmat.” Dan kedua sanad ini adalah sanad yang baik, dan telah diriwayatkan secara mursal dari sekelompok Tabi’in; di antara mereka adalah Sa’id bin Jubair, Qatadah, Ibnu Juraij dan tidak hanya satu. Dan Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Abdullah bin Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dari Ubaidillah bin Zahr dari Ali bin Yazid dari Al-Qasim dari Abu Umamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tuhanku Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menawarkan kepadaku agar Dia menjadikan bagiku lembah Makkah menjadi emas, maka aku berkata: Tidak wahai Tuhanku, aku kenyang satu hari dan aku lapar satu hari atau semacam itu. Maka jika aku lapar, aku bermohon kepada-Mu dan menyebut-Mu, dan jika aku kenyang, aku memuji-Mu dan mensyukuri-Mu.” Lafazh Ahmad. Dan At-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits hasan. Dan Ali bin Yazid dilemahkan dalam hadits.
Dan Muhammad bin Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku seorang syaikh dari penduduk Mesir yang datang kepada kami sejak empat puluh dan beberapa tahun yang lalu, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Quraisy mengutus An-Nadhr bin Al-Harits dan Uqbah bin Abi Mu’aith kepada para pendeta Yahudi di Madinah, maka mereka berkata kepada keduanya: Tanyakanlah kepada mereka tentang Muhammad dan jelaskanlah kepada mereka sifatnya, dan beritahukanlah kepada mereka tentang perkataannya, karena mereka adalah ahli Kitab yang pertama, dan pada mereka ada ilmu tentang para nabi yang tidak ada pada kami. Maka keduanya berangkat hingga sampai di Madinah, lalu mereka bertanya kepada para pendeta Yahudi tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjelaskan kepada mereka urusannya dan sebagian perkataannya, dan keduanya berkata: Sesungguhnya kalian adalah ahli Taurat dan kami datang kepada kalian agar kalian memberitahu kami tentang teman kami ini. Ia berkata: Maka para pendeta Yahudi berkata kepada mereka: Tanyakanlah kepadanya tentang tiga hal yang kami perintahkan kepada kalian, maka jika dia memberitahu kalian tentang ketiganya, maka dia adalah nabi yang diutus, dan jika dia tidak melakukannya, maka orang itu adalah orang yang mengada-ada, maka lihat lah pendapat kalian tentang dia; tanyakanlah kepadanya tentang pemuda-pemuda yang pergi pada masa dahulu, apa yang terjadi pada urusan mereka, karena sesungguhnya bagi mereka ada kisah yang mengagumkan, dan tanyakanlah kepadanya tentang seorang lelaki yang berkeliling timur bumi dan baratnya, apa kabarnya, dan tanyakanlah kepadanya tentang ruh, apa itu. Maka jika dia memberitahu kalian tentang itu, maka dia adalah nabi, maka ikutilah dia, dan jika dia tidak memberitahu kalian, maka dia adalah orang yang mengada-ada, maka lakukanlah terhadap urusannya apa yang tampak bagi kalian. Maka An-Nadhr dan Uqbah kembali hingga sampai kepada Quraisy, maka keduanya berkata: Wahai sekalian Quraisy, kami telah datang kepada kalian dengan pemisah antara kalian dan Muhammad, kami telah diperintahkan oleh para pendeta Yahudi agar kami bertanya kepadanya tentang beberapa hal. Maka keduanya memberitahu mereka tentangnya. Lalu mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Wahai Muhammad, beritahukanlah kepada kami. Maka mereka bertanya kepadanya tentang apa yang mereka diperintahkan dengannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada mereka: “Aku akan memberitahu kalian besok tentang apa yang kalian tanyakan kepadaku.” Dan beliau tidak mengecualikan. Maka mereka berpaling darinya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menanti selama lima belas malam, Allah tidak memberikan wahyu kepadanya tentang itu, dan Jibril tidak datang kepadanya, hingga penduduk Makkah menggembar-gemborkan, dan berkata: Muhammad telah menjanjikan kami besok, dan hari ini lima belas malam, kami telah memasuki pagi di dalamnya, dia tidak memberitahu kami tentang sesuatu pun dari apa yang kami tanyakan kepadanya, dan hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersedih karena tertundanya wahyu darinya, dan berat baginya apa yang dibicarakan oleh penduduk Makkah. Kemudian Jibril alaihissalam datang kepadanya dari Allah Azza wa Jalla dengan Surah Ashabul Kahfi, di dalamnya ada teguran Allah kepadanya atas kesedihannya terhadap mereka, dan kabar tentang apa yang mereka tanyakan kepadanya tentang urusan pemuda-pemuda dan lelaki yang berkeliling, dan firman Allah Ta’ala: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra: 85) Dan kami telah membicarakan tentang semua itu secara panjang lebar dalam Tafsir, maka barangsiapa yang menginginkannya, hendaknya dia mencarinya dari sana. Dan turunlah firman-Nya: “Ataukah kamu mengira bahwa Ashabul Kahfi dan Ar-Raqim itu termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?” (Al-Kahfi: 9) Kemudian Dia mulai merinci urusan mereka, dan diselingi di tengah-tengah dengan mengajarkan kepadanya pengecualian, secara realisasi bukan secara pengaitan, dalam firman-Nya: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: Sesungguhnya aku akan melakukan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): Insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila kamu lupa.” (Al-Kahfi: 23-24) Kemudian Dia menyebutkan kisah Musa karena keterkaitannya dengan kisah Khidir, kemudian Dzulqarnain, kemudian Dia berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang Dzulqarnain. Katakanlah: Aku akan bacakan kepadamu tentangnya suatu cerita.” (Al-Kahfi: 83) Kemudian Dia menjelaskan urusannya, dan menceritakan kabarnya, dan Dia berfirman dalam Surah Subhan: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku” yakni makhluk yang mengagumkan dari makhluk-Nya, dan urusan dari urusan-Nya, Dia berkata kepadanya: Jadilah. Maka jadilah, dan tidak bagi kalian untuk mengetahui semua yang Dia ciptakan, dan penjelasan tentang bagaimana hakikatnya pada kenyataannya sulit bagi kalian, berkaitan dengan kekuasaan Allah Ta’ala dan hikmah-Nya. Oleh karena itu Dia berfirman: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra: 85) Dan telah tetap dalam Shahihain bahwa orang-orang Yahudi bertanya tentang itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah, maka beliau membacakan kepada mereka ayat ini. Maka kemungkinan ayat itu turun untuk kedua kalinya, atau beliau menyebutkannya sebagai jawaban, meskipun turunnya lebih dahulu. Dan barangsiapa yang mengatakan: Sesungguhnya ayat itu hanya turun di Madinah dan mengeluarkannya dari Surah Subhan, maka dalam perkataannya ada pertimbangan. Wallahu a’lam.
Ibnu Ishaq berkata: Dan ketika Abu Thalib khawatir akan gerombolan orang Arab yang akan menyerangnya bersama kaumnya,
Dia (Abu Thalib) membacakan puisinya di mana dia meminta perlindungan tanah suci Makkah dan kedudukannya di sana, dan berusaha mendapatkan simpati para pemimpin kaumnya. Dalam puisi itu dia memberitahukan kepada mereka dan orang lain bahwa dia tidak akan menyerahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tidak akan meninggalkannya untuk apapun selamanya sampai dia mati membela beliau. Maka dia berkata:
Ketika kulihat kaum yang tidak memiliki kasih sayang … Dan mereka telah memutuskan semua ikatan dan cara Dan mereka telah terang-terangan memusuhi kami dan menyakiti kami … Dan mereka telah menaati perintah musuh yang memisahkan diri Dan mereka telah bersekutu dengan kaum yang curiga kepada kami … Menggigit jari-jari mereka karena marah di belakang kami Aku menyabarkan diriku untuk mereka dengan tombak yang runcing … Dan pedang putih tajam warisan dari nenek moyang Dan aku menghadirkan di dekat Baitullah keluarga dan saudara-saudaraku … Dan aku berpegang pada kainnya dengan erat Berdiri bersama menghadap pintunya … Di tempat di mana setiap orang yang shalat sunah melaksanakan shalatnya Dan di tempat di mana orang-orang Asy’ari mengikat unta-unta mereka … Di tempat mengalirnya banjir dari (patung) Isaf dan Nailah Unta-unta yang lengannya bertanda atau yang masih pendek … Yang masih muda antara yang berusia enam tahun dan yang berusia sembilan tahun Engkau lihat kerang, marmer dan hiasan … Di leher-leher mereka tergantung seperti tandan kurma Aku berlindung kepada Rabb manusia dari setiap orang yang mencela … Kami dengan kejelekan atau menuduh kami dengan kebatilan Dan dari orang yang dengki yang berusaha menyebarkan aib kami … Dan dari orang yang menghubungkan dalam agama apa yang tidak kami lakukan Demi gunung Tsur dan Dia yang menegakkan gunung Tsabir di tempatnya … Dan yang mengawasi kebaikan di gunung Hira baik yang tinggal maupun yang datang Dan demi Baitullah, hak Baitullah dari perut Makkah … Dan demi Allah, sesungguhnya Allah tidaklah lalai Dan demi Hajar Aswad ketika mereka mengusapnya … Ketika mereka mengelilinginya di waktu dhuha dan petang Dan tempat berpijak Ibrahim di atas batu yang basah … Dengan kedua kakinya yang telanjang tanpa alas kaki Dan putaran-putaran antara Marwah dan Shafa … Dan apa yang ada pada keduanya berupa gambar dan patung Dan demi orang yang mengerjakan haji ke Baitullah dari setiap pengendara … Dan dari setiap orang yang bernadzar dan dari setiap pejalan kaki Dan demi Masy’aril Aqsha ketika mereka menuju ke sana … Menuju tempat mengalirnya sungai-sungai yang membawa air Dan berdirinya mereka di atas gunung-gunung di sore hari … Mereka menahan dada-dada unta dengan tangan-tangan mereka Dan malam berkumpul dan tempat-tempat turun dari Mina … Dan apakah ada di atasnya kehormatan dan tempat turun Dan berkumpul ketika unta-unta yang cepat melewatinya … Dengan cepat seperti mereka keluar dari hujan yang lebat Dan demi Jamrah Kubra ketika mereka menuju ke sana … Mereka melempar kepalanya dengan kerikil Dan (suku) Kindah ketika mereka di Hashab sore hari … Jemaah haji Bakr bin Wail melewati mereka Dua sekutu yang menguatkan ikatan apa yang mereka sepakati … Dan mengembalikan kepadanya ikatan-ikatan yang berbelok Dan merobohkan mereka dengan tombak yang keras dan pohon yang halus … Dan tanduk-tanduk kijang yang lari Maka apakah setelah ini ada perlindungan bagi yang meminta perlindungan … Dan apakah ada pemberi perlindungan yang bertakwa kepada Allah yang memberi peringatan Musuh menaati kami dan mereka ingin seandainya kami … Mengisi pintu-pintu Turki dan Kabul Kalian berdusta dan demi Baitullah kami tidak akan meninggalkan Makkah … Dan kami tidak akan pergi kecuali urusan kalian dalam kebingungan Kalian berdusta dan demi Baitullah kami tidak akan menghina Muhammad … Dan kami belum menombak untuk membela dia dan bertarung Dan kami tidak akan menyerahkannya sampai kami gugur di sekelilingnya … Dan kami lupa tentang anak-anak kami dan istri-istri kami Dan bangkit suatu kaum dengan senjata menuju kalian … Bangkitnya unta-unta yang membawa air di bawah ember yang bersuara Dan sampai kami melihat orang yang memiliki kedengkian naik kendaraannya yang berlumuran … Dari tikaman seperti perbuatan laba-laba yang melompat Dan sesungguhnya kami demi Allah jika sungguh apa yang kulihat … Akan bercampur pedang-pedang kami dengan orang-orang mulia Di tangan pemuda seperti bintang yang cemerlang … Saudaraku yang terpercaya, pelindung kebenaran, pemberani Berbulan-bulan dan berhari-hari dan setahun penuh … Atas kami dan datang musim haji setelah yang akan datang Dan tidak meninggalkan suatu kaum, celaka kalian, seorang pemimpin … Yang melindungi kehormatan selain orang yang tajam lidahnya yang suka makan Dan orang putih yang dimintakan hujan dengan wajahnya … Penolong anak-anak yatim, pelindung janda-janda Orang yang binasa dari keluarga Hasyim berlindung kepadanya … Maka mereka bersamanya dalam rahmat dan kebaikan Demi umurku sungguh telah berlari Usaid dan saudaranya … Menuju kebencian kami dan mereka membalas kami untuk orang yang berkhianat Dan Utsman tidak memihak kami dan Qunfudz … Tetapi mereka menaati perintah suku-suku itu Mereka menaati Ubay dan Ibnu Abdi Yaghutsahum … Dan mereka tidak memperhatikan kami dalam ucapan orang yang berbicara Sebagaimana kami telah menerima dari (suku) Subai’ dan Naufal … Dan semua berpaling menjauh tidak bersikap baik Maka jika mereka bertemu atau Allah memberikan kekuasaan kepada kami atas mereka keduanya … Kami akan membalas kepada mereka keduanya setimpal dengan balasan yang setimpal Dan itu adalah Abu Amr yang menolak selain kebencian kami … Untuk mengusir kami bersama pemilik kambing dan unta Dia membisikkan tentang kami setiap petang dan pagi … Maka berbisik-bisiklah wahai Abu Amr tentang kami kemudian menipu Dan dia bersumpah kepada kami demi Allah bahwa dia tidak akan mengkhianati kami … Tetapi sungguh kami melihatnya terang-terangan tanpa penghalang Kebenciannya kepada kami menyempitkan baginya setiap lembah … Dari bumi antara Akhsyab sampai Majadil Dan tanyalah kepada Abu al-Walid apa yang telah engkau berikan kepada kami … Dengan usahamu terhadap kami dengan berpaling seperti orang yang menipu Dan engkau adalah seorang laki-laki yang hidup dengan pendapatnya … Dan rahmatnya terhadap kami dan engkau bukan orang bodoh Maka wahai Utbah janganlah engkau mendengar tentang kami perkataan orang yang dengki … Yang iri, pendusta, pembenci, pemilik tipu daya Dan berlalulah Abu Sufyan dariku dengan berpaling … Seperti berlalunya pemimpin dari para pemimpin yang agung Dia lari ke Najed dan dinginnya air-airnya … Dan dia menyangka bahwa aku tidak lalai dari kalian Dan dia memberitahukan kepada kami perbuatan orang yang memberi nasihat bahwa dia … Penuh perhatian dan dia menyembunyikan kejahatan-kejahatan yang tersembunyi Wahai Muth’im aku tidak meninggalkanmu di hari kesusahan … Dan tidak di perkara yang besar pada urusan-urusan yang sulit Dan tidak di hari lawan ketika mereka datang kepadamu dengan keras kepala … Pemilik perdebatan dari lawan-lawan yang berdebat Wahai Muth’im sesungguhnya kaum telah menawarkan kepadamu suatu rencana … Dan sesungguhnya aku ketika aku mewakilkan maka aku bukan orang yang gagal Semoga Allah membalas untuk kami Abdu Syams dan Naufal … Balasan kejahatan yang segera bukan yang ditunda Dengan timbangan yang adil yang tidak mengurangi sebiji jewawut pun … Baginya saksi dari dirinya sendiri yang tidak menyimpang Sungguh telah bodoh pikiran suatu kaum yang menukar … Keturunan Khalaf dengan kami dan orang-orang jahat Dan kami adalah yang murni dari puncak Hasyim … Dan keluarga Qushay dalam bencana-bencana yang pertama Dan (suku) Sahm dan Makhzum bersekutu dan menggerakkan … Musuh-musuh kepada kami dari setiap orang hina dan rendah Maka wahai Abdu Manaf kalian adalah sebaik-baik kaum kalian … Maka janganlah kalian melibatkan dalam urusan kalian setiap orang yang menyelinap Demi umurku sungguh kalian telah lemah dan lemah … Dan kalian datang dengan urusan yang salah pada sendi-sendi Dan kalian dahulu adalah kayu bakar untuk periuk dan kalian … Sekarang para pengumpul kayu untuk periuk-periuk dan tempat memasak Semoga anak-anak Abdu Manaf senang dengan durhaka kami … Dan pengabaian kami dan peninggalan kami di benteng-benteng Maka jika kami adalah kaum yang membalas apa yang kalian perbuat … Dan kalian memerah unta betina yang tidak mandul Dan penengah-penengah yang ada di Luay bin Ghalib … Mengasingkan mereka kepada kami setiap elang yang kuat Dan keluarga Nufail seburuk-buruk orang yang menginjak kerikil … Dan paling hina yang bertelanjang kaki dari Ma’ad dan yang memakai sandal Maka sampaikanlah kepada Qushay bahwa akan tersebar urusan kami … Dan beritakan kepada Qushay setelah kami dengan perpecahan Dan seandainya Qushay didatangi di malam hari oleh suatu perkara besar … Ketika kami berlindung tanpa mereka di tempat-tempat masuk Dan seandainya mereka bersungguh-sungguh memukul di antara rumah-rumah mereka … Sungguh kami adalah penghibur di sisi wanita-wanita yang menggendong anak Maka setiap teman dan anak saudara perempuan kami hitung dia … Demi umurku kami dapati akibatnya tidak berguna Kecuali keluarga dari (suku) Kilab bin Murrah … Yang berlepas diri kepada kami dari kesalahan orang yang mengabaikan Dan mereka memalukan sampai terpecah kumpulan mereka … Dan tersingkap dari kami setiap orang yang melampaui batas dan yang bodoh Dan adalah bagi kami kolam tempat minum di antara mereka … Dan kami adalah pemimpin-pemimpin dari Ghalib dan yang mulia Pemuda-pemuda dari al-Muthayyabin dan Hasyim … Seperti pedang-pedang putih di tangan-tangan para pemoles pedang Maka mereka tidak mencapai pembalasan dan tidak menumpahkan darah … Dan tidak bersekutu kecuali dengan orang-orang jahat dari suku-suku Dengan pukulan engkau lihat para pemuda di dalamnya seakan-akan mereka … Singa-singa buas di atas daging rusa Wahai keturunan budak perempuan yang dicintai Hindustan … Keturunan Jumah budak-budak Qais bin Aqil Tetapi kami adalah keturunan orang-orang mulia untuk para pemimpin … Dengan mereka kami membanggakan kaum-kaum di tempat-tempat yang tersembunyi Dan sebaik-baik anak saudara perempuan kaum, tidak berdusta … Zuhair pedang yang menyendiri dari sarungnya Tinggi dari orang-orang tinggi yang gagah yang termasuk … Kepada nasab yang mulia di tengah kemuliaan yang utama Demi umurku sungguh aku telah tergila-gila karena cinta kepada Ahmad … Dan saudara-saudaranya dengan ketekunan orang yang mencintai yang berhubungan baik Maka siapa yang seperti dia di antara manusia, orang yang diharapkan … Ketika para hakim membandingkannya pada saat keutamaan Penyantun, bijaksana, adil, tidak terburu-buru … Berteman dengan Tuhan yang tidak lalai darinya Mulia dalam usaha-usaha, agung dan anak orang yang agung … Baginya warisan kemuliaan yang tetap tidak terputus Dan Rabb para hamba membantunya dengan pertolongan-Nya … Dan menampakkan agama yang benar yang tidak lenyap Maka demi Allah seandainya bukan karena aku akan mendatangkan celaan … Yang akan menyeret kepada orang tua-orang tua kami dalam pertemuan-pertemuan Sungguh kami akan mengikutinya dalam setiap keadaan … Dari masa dengan sungguh-sungguh bukan ucapan main-main Sungguh mereka telah mengetahui bahwa anak kami bukan pendusta … Bagi kami dan tidak dipedulikan dengan ucapan orang-orang yang batil Maka jadilah Ahmad di antara kami dalam keluarga … Yang tidak tercapai olehnya keangkuhan orang yang sombong Aku melindungi dengan diriku untuk membela dia dan aku melindunginya … Dan aku membela dia dengan pundak dan tulang rusuk
Ibnu Hisyam berkata: Inilah yang shahih bagiku dari puisi ini, dan sebagian ahli ilmu tentang syair mengingkari sebagian besarnya.
Aku (Ibnu Katsir) berkata: Ini adalah puisi yang agung, fasih, dan sangat baligh; tidak mampu mengucapkannya kecuali orang yang dinisbatkan kepadanya. Puisi ini lebih kuat dari tujuh mu’allaqat, dan lebih baligh dalam menyampaikan makna daripada semuanya. Al-Umawi telah menyebutkannya dalam kitabnya Maghazi dengan lebih panjang dengan tambahan-tambahan yang lain. Wallahu a’lam.
Pasal (Penyiksaan Quraisy terhadap Kaum Muslimin karena Mengikuti Nabi alaihish shalatu wassalam)
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian mereka menyerang orang-orang yang telah masuk Islam dan mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari para sahabatnya. Setiap suku menyerang kaum muslimin yang ada di dalamnya, lalu mereka mulai memenjarakan dan menyiksa mereka dengan memukul, melaparkan, menghauskan, dan terik panas Makkah ketika panasnya sangat menyengat; terhadap orang-orang yang lemah di antara mereka, mereka memfitnah mereka dari agama mereka. Maka di antara mereka ada yang terfitnah karena beratnya siksaan yang menimpa mereka, dan di antara mereka ada yang tetap teguh bagi mereka, dan Allah melindungi mereka. Bilal adalah budak Abu Bakar untuk sebagian Bani Jumah yang lahir dari budak-budak mereka, dan dia adalah Bilal bin Rabah dan nama ibunya adalah Hamamah. Dia adalah orang yang benar dalam keislamannya, bersih hatinya. Umayyah bin Khalaf membawanya keluar ketika terik matahari sangat panas, kemudian menyuruh batu besar diletakkan di atas dadanya, kemudian berkata kepadanya: “Tidak, demi Allah, engkau akan tetap seperti ini sampai engkau mati, atau engkau kafir terhadap Muhammad, dan engkau menyembah Lata dan Uzza.” Maka dia berkata dalam keadaan itu: “Ahad, Ahad (Esa, Esa).”
Ibnu Ishaq berkata: Maka telah menceritakan kepadaku Hisyam bin Urwah dari ayahnya, dia berkata: Waraqah bin Naufal melewatinya ketika dia disiksa seperti itu, dan dia berkata: “Ahad, Ahad”, maka dia (Waraqah) berkata: “Ahad, Ahad, demi Allah wahai Bilal.” Kemudian dia menghadap kepada Umayyah bin Khalaf dan orang-orang yang melakukan itu kepadanya dari Bani Jumah, lalu berkata: “Aku bersumpah demi Allah, jika kalian membunuhnya seperti ini sungguh aku akan menjadikannya tempat berkah.”
Aku (Ibnu Katsir) berkata: Sebagian orang telah mempermasalahkan hal ini dari segi bahwa Waraqah wafat setelah kenabian pada masa terputusnya wahyu, dan masuk Islamnya orang-orang yang masuk Islam sesungguhnya adalah setelah turunnya “Wahai orang yang berselimut” (Al-Muddatstsir), maka bagaimana Waraqah melewati Bilal sedang dia disiksa? Dan di dalamnya ada pembahasan.
Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan lewatnya Abu Bakar di dekat Bilal ketika dia disiksa, lalu dia membelinya dari Umayyah dengan budak hitamnya, kemudian membebaskannya dan menyelamatkannya dari siksaan. Dan dia menyebutkan pembeliannya terhadap sejumlah orang yang masuk Islam dari budak-budak dan budak-budak perempuan; di antara mereka Bilal, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubais, dan Zunairah yang hilang penglihatannya kemudian Allah mengembalikannya untuknya, dan perempuan Nahdiyah dan putrinya dia membeli mereka keduanya dari Bani Abdi ad-Dar. Majikan mereka mengutus mereka keduanya untuk menggiling untuknya, lalu dia (Abu Bakar) mendengarnya ketika dia berkata kepada mereka keduanya: “Demi Allah aku tidak akan membebaskan kalian berdua selamanya.” Maka Abu Bakar berkata: “Lepaskan wahai Ummu fulan.” Maka dia berkata: “Lepaskan, engkau yang merusak mereka keduanya maka bebaskanlah mereka keduanya.” Dia berkata: “Berapa harga mereka keduanya?” Dia berkata: “Sekian dan sekian.” Dia berkata: “Aku telah mengambil mereka keduanya, dan mereka keduanya merdeka, kembalikanlah kepadanya tepungnya.” Mereka keduanya berkata: “Atau kami selesaikan darinya wahai Abu Bakar kemudian kami kembalikan kepadanya?” Dia berkata: “Itu jika kalian berdua mau.” Dan dia membeli budak perempuan Bani Muammil, suatu kabilah dari Bani Adi. Umar memukul dia karena keislamannya.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Abdullah bin Abi Atiq menceritakan kepadaku dari Amir bin Abdullah bin Az-Zubair dari sebagian keluarganya, ia berkata: Abu Quhafah berkata kepada Abu Bakar: “Wahai anakku, aku melihat engkau memerdekakan orang-orang yang lemah. Seandainya engkau melakukan apa yang engkau lakukan itu dengan memerdekakan orang-orang yang kuat dan tangguh yang dapat melindungimu dan membela engkau.” Maka Abu Bakar berkata: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku hanya menginginkan apa yang aku inginkan (pahala Allah).” Ia berkata: Maka diceritakan bahwa ayat-ayat ini tidak diturunkan kecuali tentang dirinya (Abu Bakar) dan tentang apa yang dikatakan ayahnya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Al-Lail: 5-7) sampai akhir surat.
Dan telah disebutkan sebelumnya apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari hadits Ashim bin Bahdalah dari Zirr dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Orang pertama yang menampakkan Islam ada tujuh orang: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Ammar, ibunya Sumayyah, Shuhaib, Bilal, dan Miqdad. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah melindunginya dengan pamannya, dan Abu Bakar dilindungi Allah dengan kaumnya. Adapun yang lainnya, mereka ditangkap oleh kaum musyrikin lalu dipakaikan baju besi dan dipanaskan di bawah terik matahari. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali telah menyetujui apa yang mereka (kaum musyrikin) inginkan, kecuali Bilal. Ia menganggap ringan jiwanya di jalan Allah Ta’ala, dan ia dianggap hina oleh kaumnya. Mereka menangkapnya lalu memberikannya kepada anak-anak kecil, kemudian mereka membawanya berkeliling di lembah-lembah Mekah sementara ia terus berkata: “Ahad, ahad (Allah Maha Esa).” Hadits ini diriwayatkan oleh Ats-Tsauri dari Manshur dari Mujahid secara mursal.
Ibnu Ishaq berkata: Bani Makhzum mengeluarkan Ammar bin Yasir bersama ayahnya dan ibunya—mereka adalah keluarga yang memeluk Islam—ketika terik matahari sangat panas untuk menyiksa mereka di tanah panas Mekah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati mereka dan berkata—sebagaimana sampai kepadaku—: “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat kalian adalah surga.”
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Hakim dari Ibrahim bin Ishmah Al-Adl, telah menceritakan kepada kami As-Sariy bin Khuzaimah, telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Abi Ubaidillah dari Abu Az-Zubair dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati Ammar dan keluarganya sementara mereka sedang disiksa, lalu beliau bersabda: “Bergembiralah wahai keluarga Ammar dan keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kalian adalah surga.” Adapun ibunya, mereka membunuhnya karena ia menolak untuk meninggalkan Islam.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Manshur dari Mujahid, ia berkata: Syahid pertama dalam Islam adalah Ummu Ammar, Sumayyah. Abu Jahal menusuknya dengan tombak pada kemaluannya. Ini adalah hadits mursal.
Muhammad bin Ishaq berkata: Abu Jahal-lah orang fasik yang menghasut mereka bersama sekelompok orang Quraisy. Apabila ia mendengar ada seorang laki-laki memeluk Islam yang memiliki kehormatan dan perlindungan, ia mencela dan mempermalukannya, dan berkata: “Engkau meninggalkan agama ayahmu, padahal ia lebih baik darimu. Kami pasti akan menganggap bodoh kesabaranmu, merendahkan pendapatmu, dan merendahkan kehormatanmu.” Jika ia seorang pedagang, ia berkata: “Demi Allah, kami pasti akan membuat daganganmu merugi dan menghancurkan hartamu.” Dan jika ia orang yang lemah, ia memukulnya dan menghasut orang lain untuk menyiksanya. Semoga Allah melaknatnya dan memburukkannya.
Ibnu Ishaq berkata: Hakim bin Jubair menceritakan kepadaku dari Sa’id bin Jubair, ia berkata: Aku berkata kepada Abdullah bin Abbas: “Apakah kaum musyrikin menyiksa sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga sampai pada tingkat yang membuat mereka dimaafkan jika meninggalkan agama mereka?” Ia berkata: “Ya, demi Allah. Mereka memukuli salah seorang dari mereka, membuat mereka kelaparan dan kehausan, hingga ia tidak mampu duduk tegak karena siksaan yang menimpanya, sampai akhirnya ia memberikan kepada mereka apa yang mereka minta sebagai fitnah, hingga mereka berkata kepadanya: ‘Apakah Lata dan Uzza tuhanmu selain Allah?’ Maka ia menjawab: ‘Ya,’ sebagai tebusan dari siksaan yang menimpanya karena mereka telah mencapai batas kesungguhan dalam menyiksanya.”
Penulis (Ibnu Katsir) berkata: Dalam kondisi seperti inilah Allah Ta’ala menurunkan: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman, kecuali orang yang dipaksa sedang hatinya tetap tenang dalam beriman, tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (An-Nahl: 106) Maka mereka ini dimaafkan karena penghinaan dan siksaan berat yang menimpa mereka. Semoga Allah melindungi kami dari hal itu dengan pertolongan dan kekuatan-Nya.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy dari Muslim dari Masruq dari Khabbab bin Al-Aratt, ia berkata: Aku adalah seorang pandai besi, dan Al-Ash bin Wail memiliki hutang kepadaku. Maka aku mendatanginya untuk menagih hutangnya. Ia berkata: “Tidak, demi Allah, aku tidak akan membayarmu sampai engkau kafir kepada Muhammad.” Aku berkata: “Tidak, demi Allah, aku tidak akan kafir kepada Muhammad sampai engkau mati lalu dibangkitkan.” Ia berkata: “Jika aku mati lalu dibangkitkan, engkau akan datang kepadaku dan aku akan memiliki harta dan anak, lalu aku akan membayarmu.” Maka Allah Ta’ala menurunkan: “Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan dia mengatakan: ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak'” sampai firman-Nya: “Dan Kami akan mewarisi apa yang dia katakan itu, sedang dia akan datang kepada Kami seorang diri.” (Maryam: 77-80) Hadits ini dikeluarkan oleh keduanya (Bukhari dan Muslim) dalam Shahih, dan lain-lain dari beberapa jalur, dari Al-A’masy dengannya. Dan dalam riwayat Bukhari: “Aku adalah pandai besi di Mekah, maka aku membuat pedang untuk Al-Ash bin Wail, lalu aku datang untuk menagih hutangnya,” kemudian ia menyebutkan hadits tersebut.
Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Bayan dan Ismail, keduanya berkata: Kami mendengar Qais berkata: Aku mendengar Khabbab berkata: Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau sedang bersandar pada kain beliau di bawah naungan Ka’bah, dan kami telah mengalami kesulitan dari kaum musyrikin. Maka aku berkata: “Tidakkah engkau berdoa kepada Allah?” Maka beliau duduk dalam keadaan wajahnya memerah, lalu bersabda: “Sungguh ada orang-orang sebelum kalian yang disisir dengan sisir besi hingga menembus daging dan urat di bawah tulangnya, namun hal itu tidak memalingkannya dari agamanya. Dan diletakkan gergaji di atas ubun-ubunnya lalu dibelah menjadi dua bagian, namun hal itu tidak memalingkannya dari agamanya. Dan Allah pasti akan menyempurnakan urusan ini, hingga seorang pengendara berjalan dari Shan’a ke Hadramaut, ia tidak takut kecuali kepada Allah Azza wa Jalla.” Bayan menambahkan: “Dan serigala terhadap kambingnya.” Dan dalam riwayat: “Tetapi kalian terburu-buru.” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Bukhari tanpa Muslim. Dan telah diriwayatkan dari jalur lain dari Khabbab dan ini adalah ringkasan darinya. Wallahu a’lam.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan. Dan Ibnu Ja’far menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Wahb dari Khabbab, ia berkata: Kami mengeluhkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam panasnya tanah yang membakar, tetapi beliau tidak mengabulkan keluhan kami. Yaitu dalam shalat. Ibnu Ja’far berkata: Beliau tidak mengabulkan keluhan kami. Dan ia juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq, ia berkata: Aku mendengar Sa’id bin Wahb berkata: Aku mendengar Khabbab berkata: Kami mengeluhkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam panasnya tanah yang membakar, tetapi beliau tidak mengabulkan keluhan kami. Syu’bah berkata: Yaitu dalam shalat Zhuhur. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan An-Nasa’i dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Ishaq As-Subai’i dari Sa’id bin Wahb dari Khabbab, ia berkata: Kami mengeluhkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam panasnya tanah yang membakar. Al-Baihaqi menambahkan: Di wajah dan telapak tangan kami, tetapi beliau tidak mengabulkan keluhan kami. Dan dalam riwayat: Kami mengeluhkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shalat di tanah yang membakar, tetapi beliau tidak mengabulkan keluhan kami. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ali bin Muhammad Ath-Thanafisi dari Waki’ dari Al-A’masy dari Abu Ishaq dari Haritsah bin Mudharrib Al-Abdi dari Khabbab, ia berkata: Kami mengeluhkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam panasnya tanah yang membakar, tetapi beliau tidak mengabulkan keluhan kami. Dan yang terlintas dalam pikiranku—wallahu a’lam—bahwa hadits ini adalah ringkasan dari yang pertama, yaitu bahwa mereka mengeluhkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang mereka alami dari kaum musyrikin berupa penyiksaan dengan panasnya tanah yang membakar, bahwa mereka diseret di atas tanah tersebut dengan wajah mereka sehingga mereka melindungi diri dengan telapak tangan mereka, dan berbagai jenis siksaan lainnya, sebagaimana telah disebutkan dari Ibnu Ishaq dan lainnya. Mereka meminta kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam agar beliau berdoa kepada Allah untuk mereka atau meminta pertolongan terhadap kaum musyrikin, maka beliau menjanjikan hal itu kepada mereka tetapi tidak segera mengabulkannya pada saat itu, dan beliau mengabarkan kepada mereka tentang orang-orang sebelum mereka bahwa mereka mengalami siksaan yang lebih berat dari apa yang menimpa mereka, namun hal itu tidak memalingkan mereka dari agama mereka. Dan beliau memberi mereka kabar gembira bahwa Allah akan menyempurnakan urusan ini, membuatnya jaya, mengunggulkannya, menyebarkannya, dan menolongnya di berbagai wilayah dan penjuru, hingga seorang pengendara berjalan dari Shan’a ke Hadramaut tidak takut kecuali kepada Allah Azza wa Jalla dan serigala terhadap kambingnya, tetapi kalian terburu-buru. Oleh karena itu ia berkata: Kami mengeluhkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam panasnya tanah yang membakar di wajah dan telapak tangan kami, tetapi beliau tidak mengabulkan keluhan kami, artinya beliau tidak berdoa untuk kami pada saat itu. Maka barangsiapa yang berdalil dengan hadits ini tentang tidak melakukan ibrad (mengakhirkan shalat Zhuhur karena panas) atau tentang wajibnya menyentuh tanah dengan telapak tangan ketika shalat, sebagaimana salah satu dari dua pendapat Asy-Syafi’i, maka di dalamnya terdapat pandangan yang perlu dipertimbangkan. Wallahu a’lam.
Bab: Perdebatan Kaum Musyrikin dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Penegakan Beliau atas Hujjah yang Membungkam Mereka, serta Pengakuan Mereka dalam Hati Mereka akan Kebenaran Meskipun Mereka Menampakkan Penentangan karena Permusuhan, Kedengkian, Kezaliman, dan Pengingkaran
Ishaq bin Rahawaih berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Ayyub As-Sakhtiyani dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Al-Walid bin Al-Mughirah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau membacakan Al-Qur’an kepadanya. Seolah-olah ia tersentuh hatinya. Hal itu sampai kepada Abu Jahal, maka ia mendatanginya dan berkata: “Wahai pamanku, sesungguhnya kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu.” Ia berkata: “Untuk apa?” Ia berkata: “Untuk memberikannya kepadamu, karena engkau mendatangi Muhammad untuk mencari apa yang ada di sisinya.” Ia berkata: “Sungguh Quraisy telah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling banyak hartanya.” Ia berkata: “Maka katakanlah sesuatu tentangnya yang sampai kepada kaummu bahwa engkau mengingkarinya.” Ia berkata: “Dan apa yang harus aku katakan? Demi Allah, tidak ada seorang laki-laki di antara kalian yang lebih mengetahui tentang syair daripada aku, tidak ada yang lebih tahu tentang rajaz, qashidah, dan syair jin daripada aku. Demi Allah, apa yang ia katakan tidak menyerupai sesuatu pun dari ini semua. Demi Allah, sesungguhnya ucapannya memiliki kemanisan, padanya ada keindahan, ia berbuah lebat di atasnya, lebat di bawahnya, ia mengungguli dan tidak dapat diungguli, dan ia pasti menghancurkan apa yang ada di bawahnya.” Ia berkata: “Kaummu tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mengatakan sesuatu tentangnya.” Ia berkata: “Maka biarkanlah aku hingga aku memikirkannya.” Ketika ia berpikir, ia berkata: “Ini adalah sihir yang diturunkan; ia mengambilnya dari orang lain.” Maka turunlah: “Biarkanlah Aku (menghadapi) orang yang Aku ciptakan sendirian, dan Aku beri kepadanya harta yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersamanya.” (Al-Muddatstsir: 11-13) Demikianlah Al-Baihaqi meriwayatkannya dari Al-Hakim dari Abu Abdullah Muhammad bin Ali Ash-Shan’ani di Mekah, dari Ishaq dengannya. Dan telah diriwayatkan oleh Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Ikrimah secara mursal. Dan di dalamnya disebutkan bahwa beliau membacakan kepadanya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90)
Al-Baihaqi berkata: Dari Al-Hakim dari Al-Ashamm dari Ahmad bin Abdul Jabbar dari Yunus bin Bukair dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi Muhammad dari Sa’id bin Jubair atau Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Al-Walid bin Al-Mughirah berkumpul dengan sekelompok orang Quraisy—ia adalah orang yang berusia tua di antara mereka—dan telah tiba musim haji. Maka ia berkata: “Sesungguhnya utusan-utusan Arab akan datang kepada kalian di dalamnya, dan mereka telah mendengar tentang urusan teman kalian ini, maka sepakatkanlah satu pendapat tentangnya dan jangan kalian berselisih sehingga sebagian dari kalian mendustakan sebagian yang lain, dan ucapan sebagian menolak ucapan yang lain.” Maka dikatakan: “Wahai Abu Abdus Syams, maka katakanlah, dan tegakkanlah bagi kami suatu pendapat yang kami pegang.” Ia berkata: “Bahkan kalian, maka katakanlah dan aku akan mendengarkan.” Maka mereka berkata: “Kami akan mengatakan: tukang tenung.” Ia berkata: “Ia bukan tukang tenung; aku telah melihat para tukang tenung, maka ia bukan dengan gumaman tukang tenung.” Mereka berkata: “Kami akan mengatakan: orang gila.” Ia berkata: “Ia bukan orang gila, kami telah melihat orang gila dan mengenalnya, maka ia bukan dengan tercekiknya, gangguan jiwanya, atau bisikan-bisikannya.” Mereka berkata: “Kami akan mengatakan: penyair.” Ia berkata: “Ia bukan penyair, kami telah mengenal syair dengan rajaznya, hazajnya, qashidahnya, maqbudh-nya, dan mabsuth-nya, maka ia bukan syair.” Mereka berkata: “Maka kami akan mengatakan: ia adalah tukang sihir.” Ia berkata: “Ia bukan tukang sihir, kami telah melihat para tukang sihir dan sihir mereka, maka ia bukan dengan tiupannya dan bukan dengan simpulannya.”
Mereka berkata: “Apa yang harus kita katakan wahai Abu Abdi Syams?” Dia (Al-Walid bin Al-Mughirah) menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya perkataannya memiliki kemanisan, dan akar (dasarnya) subur, serta cabangnya berbuah. Kalian tidak akan mengatakan apa pun tentang ini kecuali akan diketahui bahwa itu batil. Dan pendapat yang paling mendekati adalah kalian mengatakan: tukang sihir. Maka katakanlah: dia adalah tukang sihir yang memisahkan antara seseorang dengan ayahnya, antara seseorang dengan istrinya, antara seseorang dengan saudaranya, dan antara seseorang dengan kaumnya.” Maka mereka berpencar dengan pendapat itu, dan mereka mulai duduk-duduk untuk menemui orang-orang hingga tiba musim haji. Tidak ada seorang pun yang lewat kecuali mereka memperingatkannya tentang Muhammad dan menceritakan keadaannya. Maka Allah menurunkan tentang Al-Walid firman-Nya: Biarkanlah Aku (saja) menghadapi orang yang Aku ciptakan sendirian, dan Aku beri dia harta yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersamanya (hingga ayat-ayat selanjutnya). Dan tentang orang-orang itu firman-Nya: Orang-orang yang telah menjadikan Al-Quran itu terbagi-bagi. Maka demi Tuhanmu, pasti Kami akan menanyakan mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu (Al-Hijr: 91-93).
Penulis berkata: Dan dalam hal itu Allah Ta’ala berfirman memberitahukan tentang kebodohan dan kekurangan akal mereka: Bahkan mereka berkata: “(Al-Quran itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, bahkan dia mengada-adakannya, bahkan dia adalah seorang penyair. Maka hendaklah dia mendatangkan kepada kami suatu mukjizat sebagaimana (rasul-rasul) yang dahulu telah diutus” (Al-Anbiya: 5). Maka mereka bingung apa yang harus mereka katakan tentangnya, karena semua yang mereka katakan adalah batil; sebab siapa yang keluar dari kebenaran, apa pun yang dikatakannya adalah salah. Allah Ta’ala berfirman: Perhatikanlah bagaimana mereka telah membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu, lalu mereka sesat, maka mereka tidak dapat (mendapat) jalan (yang benar) (Al-Furqan: 9).
Dan Imam Abd bin Humaid berkata dalam Musnadnya: telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Al-Ajlah yaitu Ibnu Abdillah Al-Kindi dari Adz-Dzayyal bin Harmalah Al-Asadi dari Jabir bin Abdillah yang berkata: Kaum Quraisy berkumpul suatu hari, lalu mereka berkata: “Carilah orang yang paling mengerti di antara kalian tentang sihir, perdukunan, dan syair, lalu hendaklah dia mendatangi orang ini yang telah memecah persatuan kami, mengacaukan urusan kami, dan mencela agama kami, lalu hendaklah dia berbicara dengannya dan melihat apa yang dia jawab.” Maka mereka berkata: “Kami tidak mengetahui ada orang lain selain Utbah bin Rabi’ah.” Maka mereka berkata: “Engkaulah wahai Abu Al-Walid.” Maka Utbah mendatanginya dan berkata: “Wahai Muhammad, apakah engkau lebih baik atau Abdullah?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diam. Lalu dia berkata: “Apakah engkau lebih baik atau Abdul Muthalib?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diam. Lalu dia berkata: “Jika engkau mengklaim bahwa mereka lebih baik darimu, maka sesungguhnya mereka telah menyembah tuhan-tuhan yang engkau cela. Dan jika engkau mengklaim bahwa engkau lebih baik dari mereka, maka bicaralah hingga kami mendengar perkataanmu. Sesungguhnya kami demi Allah, tidak pernah melihat anak kambing yang lebih sial bagi kaumnya daripada engkau; engkau memecah persatuan kami, mengacaukan urusan kami, mencela agama kami, dan mempermalukan kami di kalangan bangsa Arab, hingga tersebar di antara mereka bahwa di Quraisy ada tukang sihir, dan di Quraisy ada dukun. Dan demi Allah kami tidak menunggu kecuali seperti jeritan wanita hamil, bahwa sebagian dari kami akan bangkit melawan sebagian lainnya dengan pedang hingga kita saling membinasakan. Wahai orang ini, jika yang engkau inginkan hanyalah harta, kami akan mengumpulkan untukmu hingga engkau menjadi orang terkaya Quraisy, dan jika yang engkau inginkan adalah pernikahan, maka pilihlah wanita Quraisy mana pun yang engkau mau, lalu kami akan menikahkanmu dengan sepuluh wanita.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Sudah selesai?” Dia berkata: “Ya.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ha Mim. Diturunkan dari (Allah) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (Inilah) Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, (berupa) bacaan dalam bahasa Arab untuk kaum yang mengetahui” hingga sampai pada: Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir (azab) seperti petir (yang menimpa kaum) Ad dan Tsamud”. Maka Utbah berkata: “Cukup, cukup, tidakkah ada yang lain selain ini?” Beliau berkata: “Tidak.” Lalu dia kembali kepada Quraisy, dan mereka berkata: “Apa yang terjadi?” Dia berkata: “Tidak ada sesuatu pun yang saya lihat kalian bicarakan dengannya kecuali telah saya bicarakan.” Mereka berkata: “Apakah dia menjawabmu?” Dia berkata: “Ya.” Kemudian dia berkata: “Tidak, demi Dzat yang menegakkannya sebagai Ka’bah, saya tidak memahami apa pun dari yang dia katakan, kecuali bahwa dia memperingatkan kalian dengan petir seperti petir (yang menimpa kaum) Ad dan Tsamud.” Mereka berkata: “Celaka engkau! Orang itu berbicara denganmu dalam bahasa Arab dan engkau tidak tahu apa yang dia katakan?!” Dia berkata: “Tidak, demi Allah, saya tidak memahami apa pun dari yang dia katakan, kecuali menyebut petir.”
Dan telah diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan lainnya dari Al-Hakim dari Al-Asham dari Abbas Ad-Dauri dari Yahya bin Ma’in dari Muhammad bin Fudail dari Al-Ajlah dengan sanad yang sama. Dan di dalamnya ada perdebatan, dan menambahkan: “Dan jika yang engkau inginkan adalah kepemimpinan, kami akan mengibarkan bendera kami untukmu, maka engkau akan menjadi pemimpin kami selama engkau hidup.” Dan di dalam riwayatnya: bahwa ketika dia berkata kepadanya: Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir (azab) seperti petir (yang menimpa kaum) Ad dan Tsamud”, Utbah memegang mulutnya, dan memohon kepadanya dengan (nama) Ar-Rahman agar dia berhenti, dan dia tidak keluar kepada keluarganya, dan menahan diri dari mereka. Maka Abu Jahal berkata: “Wahai kaum Quraisy, demi Allah kami melihat Utbah tidak lain kecuali telah masuk Islam kepada Muhammad, dan dia senang dengan makanannya, dan itu tidak lain kecuali karena kebutuhan yang menimpanya. Marilah kita mendatanginya.” Maka mereka mendatanginya, dan Abu Jahal berkata: “Demi Allah wahai Utbah, kami datang tidak lain kecuali karena engkau masuk Islam kepada Muhammad, dan engkau senang dengan urusannya. Jika engkau memiliki kebutuhan, kami akan mengumpulkan dari harta kami apa yang mencukupimu dari makanan Muhammad.” Maka dia marah dan bersumpah demi Allah tidak akan berbicara dengan Muhammad selamanya, dan berkata: “Kalian telah mengetahui bahwa saya adalah orang Quraisy yang paling banyak hartanya, tetapi saya mendatanginya” dan dia menceritakan kepada mereka kisahnya “lalu dia menjawab saya dengan sesuatu yang demi Allah bukan sihir, bukan syair, dan bukan perdukunan. Dia membaca: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ha Mim. Diturunkan dari (Allah) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang hingga sampai pada: Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir (azab) seperti petir (yang menimpa kaum) Ad dan Tsamud” (Fushshilat: 1-13). Maka saya memegang mulutnya, dan memohon kepadanya dengan (nama) Ar-Rahman agar dia berhenti. Dan kalian telah mengetahui bahwa Muhammad apabila mengatakan sesuatu tidak pernah berdusta, maka saya takut azab akan turun kepada kalian.”
Kemudian Al-Baihaqi berkata dari Al-Hakim dari Al-Asham dari Ahmad bin Abdul Jabbar dari Yunus dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Ziyad mantan budak Bani Hasyim dari Muhammad bin Ka’b yang berkata: Telah diceritakan kepadaku bahwa Utbah bin Rabi’ah, dan dia adalah seorang pemimpin yang bijaksana, berkata suatu hari ketika dia duduk di perkumpulan Quraisy, sementara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk sendirian di masjid: “Wahai kaum Quraisy, maukah saya bangkit mendatangi orang ini lalu saya berbicara dengannya dan saya tawarkan kepadanya beberapa hal, mudah-mudahan dia menerima sebagiannya dan berhenti dari kami?” Mereka berkata: “Tentu saja wahai Abu Al-Walid.” Maka Utbah bangkit hingga dia duduk di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lalu disebutkan hadits tentang apa yang dikatakan Utbah kepadanya dan apa yang ditawarkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berupa harta, kerajaan, dan lainnya.
Dan Ziyad berkata dari Ibnu Ishaq: Utbah berkata: “Wahai kaum Quraisy, maukah saya bangkit mendatangi Muhammad lalu saya berbicara dengannya, dan saya tawarkan kepadanya beberapa hal, mudah-mudahan dia menerima sebagiannya, lalu kami memberinya apa pun yang dia mau dan dia berhenti dari kami?” Dan itu terjadi ketika Hamzah masuk Islam dan mereka melihat para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertambah dan banyak. Maka mereka berkata: “Tentu saja wahai Abu Al-Walid, bangunlah mendatanginya lalu bicaralah dengannya.” Maka Utbah bangkit mendatanginya hingga dia duduk di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau adalah dari kami, sebagaimana yang telah engkau ketahui, dari keluarga terpandang dalam suku, dan kedudukan dalam nasab. Dan sesungguhnya engkau telah datang kepada kaummu dengan urusan yang besar, engkau memecah dengan itu persatuan mereka, menganggap bodoh dengan itu akal mereka, mencela dengan itu tuhan-tuhan dan agama mereka, dan mengkafirkan dengan itu orang-orang yang telah meninggal dari nenek moyang mereka. Maka dengarkanlah aku hingga aku tawarkan kepadamu beberapa hal yang engkau pertimbangkan, mudah-mudahan engkau menerima sebagiannya.” Beliau bersabda: “Wahai Abu Al-Walid, bicaralah.” Dia berkata: “Wahai anak saudaraku, jika yang engkau inginkan dengan apa yang engkau bawa dari urusan ini adalah harta, kami akan mengumpulkan untukmu dari harta kami hingga engkau menjadi orang yang paling banyak hartanya di antara kami. Dan jika yang engkau inginkan adalah kehormatan, kami akan menjadikanmu pemimpin atas kami, hingga kami tidak akan memutuskan suatu urusan tanpamu. Dan jika yang engkau inginkan adalah kerajaan, kami akan menjadikanmu raja atas kami. Dan jika yang datang kepadamu ini adalah penampakan yang engkau lihat, yang tidak bisa engkau tolak dari dirimu sendiri, kami akan mencari obat untukmu, dan kami akan mengeluarkan harta kami untuk itu, hingga kami menyembuhkanmu darinya. Karena sesungguhnya kadang-kadang jin menguasai seseorang, hingga dia harus diobati.” Atau sebagaimana yang dia katakan kepadanya. Hingga ketika Utbah selesai dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendengarkannya, Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Sudah selesai wahai Abu Al-Walid?” Dia berkata: “Ya.” Beliau bersabda: “Maka dengarkanlah aku.” Dia berkata: “Baiklah.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ha Mim. Diturunkan dari (Allah) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (Inilah) Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, (berupa) bacaan dalam bahasa Arab untuk kaum yang mengetahui.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terus membacanya. Ketika Utbah mendengarnya, dia mendengarkan dengan seksama, dan dia meletakkan kedua tangannya di belakangnya atau di belakang punggungnya bersandar padanya; untuk mendengarkan darinya, hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sampai pada ayat sajdah lalu beliau bersujud, kemudian berkata: “Sudah kau dengar wahai Abu Al-Walid?” Dia berkata: “Sudah saya dengar.” Beliau bersabda: “Maka terserah padamu.” Kemudian Utbah bangkit menuju teman-temannya, maka sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya: “Kami bersumpah demi Allah, sungguh Abu Al-Walid datang kepada kalian dengan wajah yang berbeda dari ketika dia pergi.” Ketika mereka duduk bersamanya, mereka berkata: “Apa yang terjadi wahai Abu Al-Walid?” Dia berkata: “Yang terjadi adalah bahwa demi Allah saya telah mendengar perkataan yang belum pernah saya dengar yang sepertinya, demi Allah itu bukan syair, dan bukan perdukunan, wahai kaum Quraisy, taatilah aku dan jadikanlah ini urusanku, biarkanlah antara orang ini dengan apa yang dia jalani dan tinggalkanlah dia. Maka demi Allah sungguh akan ada berita besar bagi perkataannya yang saya dengar. Jika orang-orang Arab mengalahkannya, maka kalian telah dicukupkan (dari urusan) dia oleh selain kalian. Dan jika dia menang atas orang-orang Arab, maka kerajaannya adalah kerajaan kalian, dan kemuliaannya adalah kemuliaan kalian, dan kalian akan menjadi orang-orang yang paling beruntung dengannya.” Mereka berkata: “Dia telah menyihirmu wahai Abu Al-Walid dengan lisannya.” Dia berkata: “Ini pendapatku untuk kalian, maka lakukanlah apa yang terlihat bagi kalian.”
Kemudian Yunus menyebutkan dari Ibnu Ishaq syair yang diucapkan Abu Thalib memuji di dalamnya Utbah.
Dan Al-Baihaqi berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf Al-Ashbahani, telah mengabarkan kepada kami Abu Qutaibah Salamah bin Al-Fadhl Al-Adami di Makkah, telah menceritakan kepada kami Abu Ayyub Ahmad bin Bisyr Ath-Thayalisi, telah menceritakan kepada kami Dawud bin Amru Adh-Dhabbi, telah menceritakan kepada kami Al-Mutsanna bin Zur’ah dari Muhammad bin Ishaq dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membacakan kepada Utbah bin Rabi’ah: Ha Mim. Diturunkan dari (Allah) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dia datang kepada teman-temannya, lalu berkata kepada mereka: “Wahai kaumku, taatilah aku dalam urusan ini hari ini, dan durhakailah aku setelahnya. Maka demi Allah sungguh saya telah mendengar dari orang ini perkataan yang belum pernah kedua telingaku mendengar perkataan sepertinya, dan saya tidak tahu apa yang harus saya jawab kepadanya.” Dan ini adalah hadits yang sangat gharib (jarang/aneh) dari jalur ini.
Kemudian Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Hakim dari Al-Asham dari Ahmad bin Abdul Jabbar dari Yunus dari Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Az-Zuhri yang berkata: Telah diceritakan kepadaku bahwa Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Al-Akhnas bin Syariq keluar suatu malam untuk mendengarkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sementara beliau sedang shalat malam di rumahnya. Maka masing-masing dari mereka mengambil tempat duduk untuk mendengarkan darinya, dan masing-masing tidak tahu tempat temannya. Maka mereka bermalam mendengarkannya, hingga ketika pagi tiba dan fajar terbit mereka berpencar. Lalu jalan mempertemukan mereka, maka mereka saling menyalahkan, dan sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya: “Jangan kalian ulangi, karena jika orang-orang bodoh di antara kalian melihat kalian, pasti kalian akan menanamkan sesuatu dalam diri mereka.” Kemudian mereka pergi, hingga ketika malam kedua tiba, setiap orang dari mereka kembali ke tempat duduknya, maka mereka bermalam mendengarkannya hingga ketika fajar terbit mereka berpencar. Lalu jalan mempertemukan mereka, maka sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya seperti apa yang mereka katakan pada kali pertama. Kemudian mereka pergi. Ketika malam ketiga tiba, setiap orang dari mereka mengambil tempat duduknya, maka mereka bermalam mendengarkannya, hingga ketika fajar terbit mereka berpencar. Lalu jalan mempertemukan mereka, maka mereka berkata: “Kita tidak akan berpisah hingga kita berjanji untuk tidak kembali lagi.” Maka mereka berjanji tentang itu, kemudian mereka berpencar. Ketika pagi tiba, Al-Akhnas bin Syariq mengambil tongkatnya, kemudian keluar hingga dia mendatangi Abu Sufyan di rumahnya, lalu berkata: “Beritahu aku wahai Abu Hanzhalah tentang pendapatmu tentang apa yang kau dengar dari Muhammad.” Maka dia berkata: “Wahai Abu Tsa’labah, demi Allah sungguh saya telah mendengar hal-hal yang saya kenal dan saya kenal apa yang dimaksudkan dengannya.” Maka Al-Akhnas berkata: “Dan saya juga demi Dzat yang telah saya bersumpah dengan-Nya.” Kemudian dia keluar dari sisinya hingga dia mendatangi Abu Jahal lalu masuk ke rumahnya, lalu berkata: “Wahai Abu Al-Hakam, apa pendapatmu tentang apa yang kau dengar dari Muhammad?” Maka dia berkata: “Apa yang saya dengar! Kami dan Bani Abd Manaf saling berebut kehormatan; mereka memberi makan maka kami memberi makan, dan mereka memikul (beban) maka kami memikul, dan mereka memberi maka kami memberi, hingga ketika kami berlutut (bersaing) dan kami seperti dua kuda balap, mereka berkata: Dari kami ada nabi yang datang wahyu kepadanya dari langit. Kapan kami akan meraih ini? Demi Allah kami tidak akan mendengarkannya selamanya, dan tidak akan membenarkannya.” Maka Al-Akhnas bin Syariq bangkit meninggalkannya.
Kemudian Al-Baihaqi berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafizh, telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Abbas, telah menceritakan kepada kami Ahmad, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Hisyam bin Sa’d dari Zaid bin Aslam dari Al-Mughirah bin Syu’bah yang berkata: Sesungguhnya hari pertama saya mengenal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah ketika saya berjalan bersama Abu Jahal bin Hisyam di salah satu gang Makkah, tiba-tiba kami bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Abu Jahal: “Wahai Abu Al-Hakam, marilah kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, aku menyerumu kepada Allah.” Maka Abu Jahal berkata: “Wahai Muhammad, apakah engkau akan berhenti mencela tuhan-tuhan kami? Apakah yang engkau inginkan tidak lain kecuali kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan? Maka kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan. Maka demi Allah seandainya saya mengetahui bahwa apa yang engkau katakan adalah benar, pasti saya akan mengikutimu.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pergi dan dia (Abu Jahal) menghadap kepadaku lalu berkata: “Demi Allah sesungguhnya saya mengetahui bahwa apa yang dia katakan adalah benar, tetapi ada sesuatu yang menghalangiku; sesungguhnya Bani Qushayy berkata: Untuk kami penjagaan Ka’bah. Maka kami berkata: Ya. Kemudian mereka berkata: Untuk kami pemberian air. Maka kami berkata: Ya. Kemudian mereka berkata: Untuk kami dewan. Maka kami berkata: Ya. Kemudian mereka berkata: Untuk kami bendera. Maka kami berkata: Ya. Kemudian mereka memberi makan dan kami memberi makan, hingga ketika lutut saling bersentuhan (dalam persaingan), mereka berkata: Dari kami ada nabi. Demi Allah saya tidak akan melakukannya.”
Dan Al-Baihaqi berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafizh dan Abu Bakar, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Al-Abbas Muhammad bin Ya’qub Al-Asham, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq yang berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam melewati Abu Jahal dan Abu Sufyan sementara keduanya sedang duduk, maka Abu Jahal berkata: “Ini nabi kalian wahai Bani Abd Syams.” Abu Sufyan berkata: “Dan apakah aneh jika dari kami ada nabi! Maka nabi itu ada pada orang yang lebih rendah dan lebih hina dari kami.” Maka Abu Jahal berkata: “Aneh bahwa keluar seorang pemuda dari antara para sesepuh sebagai nabi.” Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendengar lalu mendatangi mereka berdua, lalu bersabda: “Adapun engkau wahai Abu Sufyan, maka engkau tidak marah untuk Allah dan Rasul-Nya, tetapi engkau membela asal-usul. Dan adapun engkau wahai Abu Al-Hakam, maka demi Allah engkau akan tertawa sedikit, dan akan menangis banyak.” Maka dia berkata: “Buruk apa yang engkau janjikan kepadaku wahai anak saudaraku dari kenabian-mu.” Ini adalah riwayat mursal dari jalur ini, dan di dalamnya ada keanehan.
Dan perkataan Abu Jahal semoga Allah melaknatnya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang dia dan orang-orang sepertinya: Dan apabila mereka melihat kamu, mereka hanya menjadikan kamu buah ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orang yang diutus Allah menjadi rasul? Sesungguhnya hampir saja dia menyesatkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami, sekiranya kami tidak tetap menyembah-Nya.” Dan kelak mereka akan mengetahui ketika mereka melihat azab, siapa yang lebih sesat jalannya (Al-Furqan: 41-42).
Imam Ahmad berkata: Hushayim menceritakan kepada kami, Abu Bisyr menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Jubayr dari Ibnu Abbas yang berkata: Ayat ini turun ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih bersembunyi di Makkah: “Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah (pula) merendahkannya” (Al-Isra: 110). Ia berkata: Ketika beliau salat bersama para sahabatnya, beliau mengeraskan suaranya dalam membaca Al-Qur’an. Ketika orang-orang musyrik mendengar hal itu, mereka mencaci Al-Qur’an, mencaci orang yang menurunkannya, dan orang yang membawanya. Ia berkata: Maka Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salatmu” yakni dalam bacaanmu, sehingga orang-orang musyrik mendengar lalu mencaci Al-Qur’an, “dan janganlah (pula) merendahkannya” dari para sahabatmu sehingga mereka tidak dapat mendengar Al-Qur’an, sampai mereka dapat mengambilnya darimu “dan carilah jalan tengah di antara keduanya”. Demikian pula diriwayatkan oleh kedua penulis Shahih dari hadis Abu Bisyr Ja’far bin Abi Wahsyiyyah dengannya.
Muhammad bin Ishaq berkata: Dawud bin Al-Hushain menceritakan kepadaku dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan suaranya membaca Al-Qur’an saat salat, mereka menjauhinya dan enggan mendengarkannya. Jika seseorang ingin mendengar sebagian yang dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau salat, ia mencuri dengar tanpa sepengetahuan mereka karena takut kepada mereka. Jika ia melihat mereka mengetahui bahwa ia mendengarkan, ia pergi karena takut akan gangguan mereka dan tidak mendengarkan. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merendahkan suaranya, orang-orang yang mencuri dengar tidak dapat mendengar apa pun dari bacaannya. Maka Allah Ta’ala menurunkan “Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salatmu” sehingga mereka menjauhinmu “dan janganlah (pula) merendahkannya” sehingga tidak terdengar oleh orang yang ingin mendengarnya dari mereka yang mencuri dengar, semoga ia tertarik dengan sebagian yang ia dengar sehingga mendapat manfaat darinya “dan carilah jalan tengah di antara keduanya”.
Bab Hijrah Para Sahabat Rasulullah dari Makkah ke Negeri Habasyah untuk Menyelamatkan Agama Mereka dari Fitnah
Telah disebutkan sebelumnya tentang penganiayaan orang-orang musyrik terhadap orang-orang lemah dari kalangan mukminin, dan bagaimana mereka memperlakukan mereka dengan pukulan yang keras dan penghinaan yang sangat. Allah Azza wa Jalla telah melindungi Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjaganya melalui pamannya Abu Thalib sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya secara rinci, dan segala puji serta anugerah bagi Allah.
Al-Waqidi meriwayatkan bahwa keberangkatan mereka ke Habasyah pada bulan Rajab tahun kelima dari kenabian, dan yang pertama kali hijrah dari mereka adalah sebelas laki-laki dan empat perempuan. Mereka sampai di laut baik yang berjalan kaki maupun yang berkendaraan, lalu mereka menyewa kapal dengan setengah dinar menuju Habasyah. Mereka adalah Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayyah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Hudzaifah bin Utbah dan istrinya Sahlah binti Suhail, Zubair bin Awwam, Mush’ab bin Umair, Abdurrahman bin Auf, Abu Salamah bin Abdul Asad dan istrinya Ummu Salamah binti Abi Umayyah, Utsman bin Mazh’un, Amir bin Rabi’ah Al-Anzi dan istrinya Laila binti Abi Hatsmah, Abu Sabrah bin Abi Ruhm. Dan dikatakan: Hatib bin Amr, Suhail bin Baidha’, dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Ibnu Jarir berkata: Yang lain mengatakan: mereka adalah delapan puluh dua laki-laki, selain istri dan anak-anak mereka, dan Ammar bin Yasir. Ia meragukan, jika Ammar termasuk di antara mereka, maka mereka berjumlah delapan puluh tiga laki-laki.
Muhammad bin Ishaq berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat penderitaan yang menimpa para sahabatnya, sementara beliau dalam keadaan aman karena kedudukannya di sisi Allah Azza wa Jalla dan karena pamannya Abu Thalib, dan beliau tidak mampu melindungi mereka dari penderitaan yang mereka alami, beliau bersabda kepada mereka: “Seandainya kalian pergi ke negeri Habasyah, karena di sana ada seorang raja yang tidak ada seorang pun yang teraniaya di sisinya, dan negeri itu adalah negeri yang jujur, sampai Allah memberikan kalian jalan keluar dari apa yang kalian alami.” Maka keluarlah saat itu kaum muslimin dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju negeri Habasyah karena takut akan fitnah dan lari kepada Allah dengan agama mereka. Ini adalah hijrah pertama dalam Islam. Yang pertama kali keluar dari kaum muslimin adalah Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayyah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikian pula Al-Baihaqi meriwayatkan dari hadis Ya’qub bin Sufyan dari Abbas Al-Anbari dari Basyar bin Musa dari Al-Hasan bin Ziyad Al-Burjumi, Qatadah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sesungguhnya orang pertama yang hijrah kepada Allah Ta’ala bersama keluarganya adalah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, aku mendengar Nadhr bin Anas berkata: Aku mendengar Abu Hamzah yakni Anas bin Malik berkata: Utsman bin Affan keluar bersama istrinya Ruqayyah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju negeri Habasyah. Kabar tentang mereka terlambat sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu datanglah seorang perempuan dari Quraisy dan berkata: Wahai Muhammad, aku telah melihat menantumu dan istrinya. Beliau bersabda: “Dalam keadaan bagaimana engkau melihat mereka berdua?” Ia berkata: Aku melihatnya membawa istrinya di atas keledai dari jenis ini, dan ia yang menuntunnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allah menemani mereka berdua, sesungguhnya Utsman adalah orang pertama yang hijrah bersama keluarganya setelah Luth ‘alaihissalam.”
Ibnu Ishaq berkata: Dan Abu Hudzaifah bin Utbah dan istrinya Sahlah binti Suhail bin Amr, ia melahirkan untuknya di Habasyah Muhammad bin Abi Hudzaifah, Zubair bin Awwam, Mush’ab bin Umair, Abdurrahman bin Auf, Abu Salamah bin Abdul Asad dan istrinya Ummu Salamah binti Abi Umayyah bin Al-Mughirah, ia melahirkan untuknya di sana Zainab, Utsman bin Mazh’un, Amir bin Rabi’ah sekutu keluarga Al-Khaththab dan ia dari Bani Anz bin Wa’il, dan istrinya Laila binti Abi Hatsmah, Abu Sabrah bin Abi Ruhm Al-Amiri dan istrinya Ummu Kultsum binti Suhail bin Amr. Dan dikatakan: Hatib bin Amr bin Abdi Syams bin Abdi Wad bin Nashr bin Malik bin Hasal bin Amir, dan ia adalah orang pertama yang tiba di sana menurut perkataan, dan Suhail bin Baidha’. Maka sepuluh orang inilah yang pertama kali keluar dari kaum muslimin menuju negeri Habasyah menurut yang sampai kepadaku. Ibnu Hisyam berkata: Yang memimpin mereka adalah Utsman bin Mazh’un menurut sebagian ahli ilmu.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Ja’far bin Abi Thalib keluar bersama istrinya Asma’ binti Umais, dan ia melahirkan untuknya di sana Abdullah bin Ja’far. Kaum muslimin berdatangan secara berturut-turut hingga berkumpul di negeri Habasyah.
Musa bin Uqbah mengklaim bahwa hijrah pertama ke negeri Habasyah terjadi ketika Abu Thalib dan orang-orang yang bersekutu dengannya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke Syi’ib, dan dalam hal ini ada yang perlu dipertimbangkan. Wallahu a’lam. Ia mengklaim bahwa keluarnya Ja’far bin Abi Thalib hanya terjadi pada hijrah kedua ke sana, yaitu setelah kembalinya sebagian orang yang keluar pertama kali ketika sampai kepada mereka berita bahwa orang-orang musyrik telah masuk Islam dan salat. Ketika mereka tiba di Makkah, di antara yang datang adalah Utsman bin Mazh’un, mereka tidak menemukan benar apa yang diberitakan tentang keislaman orang-orang musyrik. Maka sebagian dari mereka kembali, yang lain menetap di Makkah, dan sebagian lagi dari kaum muslimin keluar menuju negeri Habasyah. Ini adalah hijrah kedua, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Musa bin Uqbah berkata: Ja’far bin Abi Thalib termasuk yang keluar kedua kalinya. Apa yang disebutkan Ibnu Ishaq tentang keluarnya ia pada rombongan pertama lebih jelas, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Wallahu a’lam. Namun ia berada dalam kelompok kedua dari orang-orang yang hijrah pertama kali, dan dialah yang memimpin mereka dan berbicara mewakili mereka di hadapan Najasyi dan lainnya sebagaimana akan kami sebutkan secara rinci. Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan secara berurutan orang-orang yang keluar bersama Ja’far radhiyallahu ‘anhum, mereka adalah: Amr bin Sa’id bin Ash dan istrinya Fathimah binti Shafwan bin Umayyah bin Muharris bin Syaqq Al-Kinani, saudaranya Khalid dan istrinya Aminah binti Khalaf bin As’ad Al-Khuza’i, ia melahirkan untuknya di sana Sa’id dan budak perempuan yang kemudian dinikahi Zubair dan melahirkan untuknya Amr dan Khalid. Ia berkata: Abdullah bin Jahsy bin Ri’ab, saudaranya Ubaidullah bersama istrinya Ummu Habibah binti Abi Sufyan, Qais bin Abdullah dari Bani Asad bin Khuzaimah dan istrinya Barakah binti Yasar maula Abu Sufyan, Mu’aiqib bin Abi Fathimah dan ia dari maula keluarga Sa’id bin Ash. Ibnu Hisyam berkata: Ia dari Daus. Ia berkata: Abu Musa Al-Asy’ari Abdullah bin Qais sekutu keluarga Utbah bin Rabi’ah, kami akan membahasnya nanti, Utbah bin Ghazwan, Yazid bin Zam’ah bin Al-Aswad, Amr bin Umayyah bin Al-Harits bin Asad, Thulaib bin Umair bin Wahb bin Abi Katsir bin Abd, Suwaibit bin Sa’d bin Harmalah, Jahm bin Qais Al-Abdari bersama istrinya Ummu Harmalah binti Abdul Aswad bin Khuzaimah dan kedua anaknya Amr bin Jahm dan Khuzaimah bin Jahm, Abu Ar-Rum bin Umair bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Abdid Dar, Firas bin Nadhr bin Al-Harits bin Kildah, Amir bin Abi Waqqash saudara Sa’d, Al-Muththalib bin Azhar bin Abdul Awf Az-Zuhri dan istrinya Ramlah binti Abi Awf bin Shabrah, ia melahirkan untuknya di sana Abdullah, Abdullah bin Mas’ud dan saudaranya Utbah, Al-Miqdad bin Al-Aswad, Al-Harits bin Khalid bin Shakhr At-Taimi dan istrinya Raithah binti Al-Harits bin Jubailah, ia melahirkan untuknya di sana Musa, Aisyah, Zainab, dan Fathimah, Amr bin Utsman bin Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah, Syammas bin Utsman bin Asy-Syarid Al-Makhzumi. Ia berkata: Ia dinamakan Syammas karena ketampanannya, dan nama aslinya adalah Utsman bin Utsman, Habbar bin Sufyan bin Abdul Asad Al-Makhzumi dan saudaranya Abdullah, Hisyam bin Abi Hudzaifah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, Salamah bin Hisyam bin Al-Mughirah, Ayyasy bin Abi Rabi’ah bin Al-Mughirah, Mu’attab bin Awf bin Amir, dan ia juga disebut Aihamah dan ia dari sekutu Bani Makhzum. Ia berkata: Qudamah dan Abdullah saudara Utsman bin Mazh’un, As-Sa’ib bin Utsman bin Mazh’un, Hatib bin Al-Harits bin Mu’ammar bersama istrinya Fathimah binti Al-Mujallal dan kedua anaknya darinya Muhammad dan Al-Harits, saudaranya Hattab dan istrinya Fukaihah binti Yasar, Sufyan bin Mu’ammar bin Habib dan istrinya Hasanah dan kedua anaknya darinya Jabir dan Junadah, dan anak tirinya yang merupakan anak orang lain yaitu Syurahbil bin Abdullah salah satu dari Ghawts bin Muzahim bin Tamim, dan dialah yang disebut Syurahbil bin Hasanah, Utsman bin Rabi’ah bin Ahban bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah, Khunais bin Hudzafah bin Qais bin Adi, Abdullah bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa’d bin Sahm, Hisyam bin Al-Ash bin Wa’il bin Sa’id, Qais bin Hudzafah bin Qais bin Adi dan saudaranya Abdullah, Abu Qais bin Al-Harits bin Qais bin Adi dan saudara-saudaranya Al-Harits, Mu’ammar, As-Sa’ib, Bisyr, dan Sa’id putra Al-Harits bin Qais bin Adi, saudara tiri Bisyr bin Al-Harits bin Qais bin Adi dari ibunya yaitu Sa’id bin Amr At-Tamimi, Umair bin Ri’ab bin Hudzaifah bin Mahsyam bin Sa’id bin Sahm, sekutu Bani Sahm yaitu Mahmiyah bin Juz Az-Zubaidi, Mu’ammar bin Abdullah Al-Adawi, Urwah bin Abdul Uzza, Adi bin Nadhlah bin Abdul Uzza dan anaknya An-Nu’man, Abdullah bin Makhramah Al-Amiri, Abdullah bin Suhail bin Amr, Sulayt bin Amr dan saudaranya As-Sakran bersama istrinya Saudah binti Zam’ah, Malik bin Zam’ah dan istrinya Amrah binti As-Sa’di, Hatib bin Amr Al-Amiri dan sekutu mereka Sa’d bin Khaulah yang berasal dari Yaman, Abu Ubaidah Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah Al-Fihri, Suhail bin Baidha’ yang merupakan nama ibunya yaitu Da’d binti Jahdam bin Umayyah bin Dharb bin Al-Harits bin Fihr, dan ia adalah Suhail bin Wahb bin Rabi’ah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabah bin Al-Harits, Amr bin Abi Sarh bin Rabi’ah bin Hilal bin Malik bin Dhabah bin Al-Harits, Iyadh bin Zuhair bin Abi Syaddad bin Rabi’ah bin Hilal bin Malik bin Dhabah, dan dikatakan: Rabi’ah bin Hilal bin Malik bin Dhabah, Amr bin Al-Harits bin Zuhair bin Abi Syaddad bin Rabi’ah, Utsman bin Abdi Ghanm bin Zuhair, Sa’d bin Abdi Qais bin Laqith dan saudaranya Al-Harits dari keluarga Fihr.
Ibnu Ishaq berkata: Maka jumlah seluruh orang yang sampai ke negeri Habasyah dan hijrah ke sana dari kaum muslimin selain anak-anak mereka yang mereka bawa dalam keadaan kecil dan yang lahir di sana adalah delapan puluh tiga laki-laki, jika Ammar bin Yasir termasuk di antara mereka, dan ia meragukan tentang hal itu.
Aku berkata: Ibnu Ishaq menyebutkan Abu Musa Al-Asy’ari termasuk yang hijrah dari Makkah ke negeri Habasyah, ini sangat aneh.
Imam Ahmad berkata: Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, aku mendengar Hudaij saudara Zuhair bin Mu’awiyah dari Abu Ishaq dari Abdullah bin Utbah dari Ibnu Mas’ud yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami kepada Najasyi, kami sekitar delapan puluh orang, di antara mereka ada Abdullah bin Mas’ud, Ja’far, Abdullah bin Urfuthah, Utsman bin Mazh’un, dan Abu Musa. Kami datang kepada Najasyi. Quraisy mengutus Amr bin Ash dan Imarah bin Al-Walid dengan membawa hadiah. Ketika mereka berdua masuk menemui Najasyi, mereka bersujud kepadanya, kemudian mereka mendatanginya di sisi kanan dan kirinya. Kemudian mereka berkata kepadanya: Sesungguhnya sekelompok orang dari kalangan keluarga kami singgah di negerimu, mereka berpaling dari kami dan dari agama kami. Ia berkata: Di mana mereka? Mereka berkata: Di negerimu, utuslah orang kepada mereka. Maka ia mengutus orang kepada mereka. Ja’far berkata: Akulah juru bicara kalian hari ini, maka ikutilah aku. Ia memberi salam dan tidak bersujud. Mereka berkata kepadanya: Mengapa engkau tidak bersujud kepada raja? Ia berkata: Kami tidak bersujud kecuali kepada Allah Azza wa Jalla. Ia berkata: Mengapa demikian? Ia berkata: Sesungguhnya Allah mengutus kepada kami seorang Rasul, kemudian memerintahkan kami agar tidak bersujud kepada siapa pun kecuali kepada Allah Azza wa Jalla, dan memerintahkan kami untuk salat dan zakat. Amr berkata: Sesungguhnya mereka berbeda denganmu tentang Isa putra Maryam. Ia berkata: Apa yang kalian katakan tentang Isa putra Maryam dan ibunya? Mereka berkata: Kami mengatakan sebagaimana Allah berfirman, ia adalah kalimat Allah dan ruh-Nya yang ditiupkan-Nya kepada perawan suci yang tidak disentuh manusia dan tidak dikotori anak. Ia berkata: Ia mengambil sebatang ranting dari tanah, kemudian berkata: Wahai para orang Habasyah, para pendeta dan rahib, demi Allah, mereka tidak menambahkan apa yang kami katakan tentangnya senilai ini. Selamat datang kepada kalian dan kepada orang yang kalian datang darinya. Aku bersaksi bahwa ia adalah Rasulullah, dan bahwa dialah yang kami dapati dalam Injil, dan bahwa dialah Rasul yang dikabarkan oleh Isa putra Maryam. Turunlah di mana kalian suka. Demi Allah, seandainya bukan karena aku dalam kedudukan kerajaan ini, sungguh aku akan mendatanginya sehingga akulah yang membawa sandalnya. Ia memerintahkan agar hadiah dari kedua orang itu dikembalikan kepada mereka. Kemudian Abdullah bin Mas’ud bersegera hingga mendapati perang Badar. Ia mengklaim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan ampunan untuknya ketika sampai kepadanya berita kematiannya. Ini adalah sanad yang baik dan kuat, serta penjelasan yang bagus. Di dalamnya ada hal yang menunjukkan bahwa Abu Musa termasuk yang hijrah dari Makkah ke negeri Habasyah, kecuali jika penyebutannya merupakan sisipan dari sebagian perawi. Wallahu a’lam.
Dan telah diriwayatkan dari Abu Ishaq As-Subai’i dari jalur lain; maka Al-Hafizh Abu Nu’aim berkata dalam kitab Ad-Dala’il: telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Zakariya Al-Ghulabi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Raja’, telah menceritakan kepada kami Isra’il dan telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Zakariya, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Alawiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Abbad bin Musa Al-Khatali, telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Isra’il dan telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Syairawayh, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim yaitu Ibnu Rahawayh, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Musa, telah menceritakan kepada kami Isra’il dari Abu Ishaq dari Abu Burdah dari Abu Musa yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk berangkat bersama Ja’far bin Abi Thalib ke negeri Najasyi. Berita itu sampai kepada Quraisy, maka mereka mengutus Amr bin Al-Ash dan Umarah bin Al-Walid serta mengumpulkan hadiah untuk Najasyi. Keduanya datang kepada Najasyi lalu memberikan hadiah kepadanya, maka ia menerimanya, dan keduanya bersujud kepadanya. Kemudian Amr bin Al-Ash berkata: “Sesungguhnya ada orang-orang dari negeri kami yang berpaling dari agama kami, dan mereka berada di negerimu.” Najasyi berkata kepada mereka: “Di negeriku?!” Keduanya menjawab: “Ya.” Maka ia mengutus utusan kepada kami. Ja’far berkata kepada kami: “Jangan ada seorang pun dari kalian yang berbicara, aku yang akan menjadi juru bicara kalian hari ini.” Maka kami sampai kepada Najasyi dan ia sedang duduk di tempat duduknya, Amr bin Al-Ash di sebelah kanannya dan Umarah di sebelah kirinya, dan para pendeta duduk berderet di dua sisi. Amr dan Umarah telah berkata kepada mereka: “Sesungguhnya mereka tidak akan bersujud kepadamu.” Ketika kami tiba, para pendeta dan rahib yang ada di sisinya berkata: “Bersujudlah kepada raja!” Maka Ja’far berkata: “Kami tidak bersujud kecuali kepada Allah Azza wa Jalla.” Najasyi bertanya kepadanya: “Kenapa demikian?” Ia menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kami seorang rasul, dan dia adalah rasul yang dikabarkan oleh Isa putra Maryam ‘alaihish shalatu wassalam, ia berkata: ‘Sepeninggalku ada yang bernama Ahmad.’ Ia memerintahkan kami untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan kami kepada yang ma’ruf, dan melarang kami dari yang mungkar.” Najasyi terkesan dengan perkataannya. Ketika Amr bin Al-Ash melihat hal itu, ia berkata: “Semoga Allah memperbaiki raja, sesungguhnya mereka menyelisihi Anda tentang Isa putra Maryam.” Maka Najasyi berkata kepada Ja’far: “Apa yang dikatakan sahabat kalian tentang putra Maryam?” Ia menjawab: “Ia mengatakan tentangnya perkataan Allah; ia adalah roh Allah dan kalimat-Nya, dikeluarkan-Nya dari perawan suci yang tidak didekati oleh manusia dan tidak pernah melahirkan anak.” Maka Najasyi mengambil sebatang ranting dari tanah lalu mengangkatnya, kemudian berkata: “Wahai para pendeta dan rahib, orang-orang ini tidak menambah dari apa yang kalian katakan tentang putra Maryam, tidak seberat batang ini. Selamat datang kepada kalian dan kepada orang yang kalian datang darinya, aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allah, dan ia adalah yang dikabarkan oleh Isa, seandainya bukan karena kerajaan yang aku jalani ini, niscaya aku akan mendatanginya hingga aku mencium kedua sandalnya. Tinggallah di negeriku sesuka kalian.” Dan ia memerintahkan untuk memberi kami makanan dan pakaian, serta berkata: “Kembalikanlah kepada kedua orang ini hadiah mereka.” Amr bin Al-Ash adalah seorang laki-laki pendek, dan Umarah adalah laki-laki tampan. Keduanya datang melalui laut, lalu mereka minum arak. Bersama Amr ada istrinya. Ketika keduanya mabuk, Umarah berkata kepada Amr: “Suruh istrimu untuk menciumku.” Amr berkata kepadanya: “Tidakkah engkau malu?!” Maka Umarah mengambil Amr lalu melemparkannya ke laut. Amr terus memohon kepada Umarah hingga ia memasukkannya ke kapal. Amr menyimpan dendam terhadapnya karena hal itu. Maka Amr berkata kepada Najasyi: “Sesungguhnya jika engkau keluar, Umarah akan menggantikanmu dengan keluargamu.” Maka Najasyi memanggil Umarah lalu meniup kemaluannya, maka ia terbang bersama binatang buas.
Dan demikian pula diriwayatkan oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi dalam kitab Ad-Dala’il, dari jalur Abu Ali Al-Hasan bin Salam As-Sawwaq dari Ubaidillah bin Musa, lalu ia sebutkan dengan sanadnya seperti itu hingga perkataannya: “Maka ia memerintahkan untuk memberi kami makanan dan pakaian.” Ia berkata: Dan ini adalah sanad yang shahih, dan lahiriahnya menunjukkan bahwa Abu Musa berada di Makkah, dan bahwa ia keluar bersama Ja’far bin Abi Thalib ke negeri Habasyah. Yang shahih dari Buraid bin Abdullah bin Abi Burdah dari kakeknya Abu Burdah dari Abu Musa bahwa mereka mendengar tentang keluarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara mereka di Yaman, maka mereka keluar berhijrah dalam lima puluh lebih beberapa orang laki-laki dengan kapal, lalu kapal mereka membawa mereka ke tempat Najasyi di negeri Habasyah, dan mereka bertemu dengan Ja’far bin Abi Thalib dan sahabat-sahabatnya di sana. Ja’far memerintahkan mereka untuk tinggal, maka mereka tinggal bersamanya hingga mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada masa Khaibar. Ia berkata: Maka Abu Musa menyaksikan apa yang terjadi antara Ja’far dan Najasyi lalu ia menceritakannya. Ia berkata: Kemungkinan perawi keliru dalam perkataannya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk berangkat.” Wallahu a’lam.
Dan demikian pula diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam bab hijrah Habasyah: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari Abu Musa yang berkata: Kami mendengar tentang keluarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sementara kami di Yaman, maka kami naik kapal dan kapal kami membawa kami ke tempat Najasyi di Habasyah. Kami bertemu dengan Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, maka kami tinggal bersamanya hingga kami berangkat dan bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menaklukkan Khaibar. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagi kalian, kalian wahai penghuni kapal, ada dua hijrah.” Dan demikian pula diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Kuraib dan Abu Amir Abdullah bin Barad bin Yusuf bin Abi Burdah bin Abi Musa, keduanya dari Abu Usamah dengannya. Dan ia meriwayatkannya di tempat-tempat lain secara panjang lebar. Wallahu a’lam.
Adapun kisah Ja’far dengan Najasyi, maka sesungguhnya Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkannya dalam biografi Ja’far bin Abi Thalib dari kitab Tarikhnya, dari riwayat dirinya sendiri dan dari riwayat Amr bin Al-Ash, dan di tangan keduanya percakapan itu terjadi. Dan dari riwayat Ibnu Mas’ud sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan Ummu Salamah sebagaimana akan disebutkan; adapun riwayat Ja’far maka ia sangat langka; diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Abu Al-Qasim As-Samarqandi dari Abu Al-Husain bin An-Nuqur dari Abu Thahir Al-Mukhallish dari Abu Al-Qasim Al-Baghawi yang berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman Al-Ju’fi Abdullah bin Umar bin Aban, telah menceritakan kepada kami Asad bin Amr Al-Bajali dari Mujalid bin Sa’id, dari Asy-Sya’bi dari Abdullah bin Ja’far dari ayahnya, yang berkata: Quraisy mengutus Amr bin Al-Ash dan Umarah bin Al-Walid dengan hadiah dari Abu Sufyan kepada Najasyi. Mereka berkata kepadanya sementara kami ada di sisinya: “Telah datang kepadamu orang-orang dari kalangan rendah dan bodoh kami, maka serahkanlah mereka kepada kami.” Ia berkata: “Tidak, hingga aku mendengar perkataan mereka.” Ia berkata: Maka ia mengutus utusan kepada kami. Ia berkata: “Apa yang dikatakan oleh orang-orang ini?” Kami berkata: “Sesungguhnya orang-orang ini adalah kaum yang menyembah berhala, dan sesungguhnya Allah mengutus kepada kami seorang rasul, maka kami beriman kepadanya dan membenarkannya.” Najasyi berkata kepada mereka: “Apakah mereka budak kalian?” Mereka menjawab: “Tidak.” Ia berkata: “Apakah kalian memiliki utang kepada mereka?” Mereka menjawab: “Tidak.” Ia berkata: “Bebaskan jalan mereka.” Kami keluar dari sisinya. Amr bin Al-Ash berkata: “Sesungguhnya orang-orang ini mengatakan tentang Isa berbeda dengan yang engkau katakan.” Ia berkata: “Jika mereka tidak mengatakan tentang Isa seperti perkataanku, aku tidak akan membiarkan mereka di negeriku walau sesaat pun di siang hari.” Maka ia mengutus utusan kepada kami, dan panggilan yang kedua ini lebih berat bagi kami daripada yang pertama. Ia berkata: “Apa yang dikatakan sahabat kalian tentang Isa putra Maryam?” Kami berkata: “Ia mengatakan: ia adalah roh Allah dan kalimat-Nya, yang Dia jatuhkan kepada perawan suci.” Maka ia mengutus dan berkata: “Panggilkan untukku fulan si pendeta, dan fulan si rahib.” Maka datanglah kepadanya orang-orang dari mereka. Ia berkata: “Apa yang kalian katakan tentang Isa putra Maryam?” Mereka berkata: “Engkau yang paling tahu tentang kami, maka apa yang engkau katakan?” Najasyi berkata sambil mengambil sesuatu dari tanah: “Isa tidak melampaui apa yang dikatakan orang-orang ini, seperti ini.” Kemudian ia berkata: “Apakah ada yang menyakiti kalian?” Mereka berkata: “Ya.” Maka ia memanggil penyeru: “Siapa yang menyakiti salah seorang dari mereka, maka dendanya empat dirham.” Kemudian ia berkata: “Apakah ini cukup bagi kalian?” Kami berkata: “Tidak.” Maka ia melipatgandakannya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhijrah ke Madinah dan tampil di sana, kami berkata kepadanya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah tampil dan berhijrah ke Madinah, dan orang-orang yang kami ceritakan kepadamu tentang mereka telah terbunuh, dan kami ingin berangkat kepadanya, maka bekali kami.” Ia berkata: “Baik.” Maka ia membawa dan memberi bekal kami, kemudian berkata: “Beritahu sahabatmu tentang apa yang aku lakukan kepada kalian, dan ini adalah wakilku bersama kalian. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa ia adalah utusan Allah, dan katakanlah kepadanya agar ia memintakan ampunan untukku.” Ja’far berkata: Maka kami keluar hingga kami tiba di Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyambutku dan memelukku, kemudian bersabda: “Aku tidak tahu apakah aku lebih gembira dengan penaklukan Khaibar, atau dengan kedatangan Ja’far!” Dan hal itu bertepatan dengan penaklukan Khaibar. Kemudian beliau duduk, lalu berkata utusan Najasyi: “Ini Ja’far, maka tanyakan kepadanya apa yang diperbuat oleh sahabat kami?” Maka beliau berkata: “Ya, ia berbuat kepada kami begini dan begitu, dan membawa serta memberi bekal kami, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah. Dan ia berkata kepadaku: Katakan kepadanya agar ia memintakan ampunan untukku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri lalu berwudhu, kemudian berdoa tiga kali: “Ya Allah, ampunilah Najasyi.” Maka kaum muslimin berkata: “Aamiin.”_ Kemudian Ja’far berkata: Maka aku berkata kepada utusan itu: “Pergilah dan beritahu sahabatmu tentang apa yang engkau lihat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Kemudian Ibnu Asakir berkata: Hasan gharib.
Adapun riwayat Ummu Salamah, maka Yunus bin Bukair berkata dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Az-Zuhri dari Abu Bakr bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata: Ketika Makkah menjadi sempit bagi kami, dan sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disakiti dan difitnah, dan mereka melihat bencana dan fitnah yang menimpa mereka dalam agama mereka, dan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mampu menolak hal itu dari mereka, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam perlindungan kaumnya dan pamannya, tidak sampai kepadanya sesuatu yang ia benci dan yang menimpa sahabat-sahabatnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada mereka: “Sesungguhnya di negeri Habasyah ada seorang raja yang tidak menzalimi seorang pun di sisinya, maka pergilah ke negerinya hingga Allah menjadikan bagi kalian jalan keluar dan tempat keluar dari apa yang kalian alami.” Maka kami keluar ke sana secara bergelombang hingga kami berkumpul di sana. Kami tinggal di rumah yang terbaik dengan tetangga yang terbaik, aman dalam agama kami, dan tidak kami khawatirkan kezaliman di sana. Ketika Quraisy melihat bahwa kami telah mendapatkan tempat tinggal dan keamanan, mereka bersepakat untuk mengutus utusan kepada Najasyi tentang urusan kami, agar ia mengeluarkan kami dari negerinya dan mengembalikan kami kepada mereka. Maka mereka mengutus Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Mereka mengumpulkan hadiah untuknya dan untuk para pembesar kerajaannya. Mereka tidak meninggalkan seorang laki-laki pun dari mereka kecuali menyiapkan hadiah untuknya secara terpisah. Mereka berkata kepada keduanya: “Berikan kepada setiap pembesar hadiahnya sebelum kalian berbicara tentang mereka, kemudian berikan kepadanya hadiah-hadiahnya. Jika kalian mampu agar ia mengembalikan mereka kepada kalian sebelum ia berbicara dengan mereka, maka lakukanlah.” Maka keduanya datang kepadanya. Tidak tersisa seorang pembesar pun dari para pembesarnya kecuali mereka serahkan hadiahnya dan berbicara dengannya, serta berkata kepadanya: “Sesungguhnya kami datang kepada raja ini tentang orang-orang bodoh kami yang meninggalkan kaum mereka dalam agama, dan tidak masuk dalam agama kalian. Maka kaum mereka mengutus kami agar raja mengembalikan mereka kepada mereka. Jika kami berbicara dengannya, maka berilah saran kepadanya untuk melakukannya.” Mereka berkata: “Kami akan melakukannya.” Kemudian mereka menyerahkan kepada Najasyi hadiah-hadiahnya. Dan yang paling disukai dari apa yang dihadiahkan kepadanya dari Makkah adalah kulit samak. Musa bin Uqbah menyebutkan bahwa mereka menghadiahkan kepadanya seekor kuda dan jubah sutera. Ketika mereka masuk kepadanya dengan hadiah-hadiahnya, mereka berkata kepadanya: “Wahai raja, sesungguhnya ada pemuda-pemuda dari kami yang bodoh meninggalkan agama kaum mereka, dan tidak masuk dalam agamamu. Mereka datang dengan agama yang diciptakan yang tidak kami kenal, dan mereka telah berlindung ke negerimu. Kami telah diutus kepadamu untuk urusan mereka oleh keluarga mereka, ayah-ayah mereka, paman-paman mereka, dan kaum mereka agar engkau mengembalikan mereka kepada mereka, karena mereka lebih mengetahui tentang mereka.” Para pembesarnya berkata: “Mereka benar wahai raja, seandainya engkau mengembalikan mereka kepada mereka, mereka lebih mengetahui tentang mereka, karena mereka tidak akan masuk dalam agamamu sehingga engkau melindungi mereka untuk itu.” Maka ia marah, kemudian berkata: “Tidak, demi hidupku, aku tidak akan mengembalikan mereka kepada mereka hingga aku memanggil mereka, dan aku berbicara dengan mereka serta melihat urusan mereka. Suatu kaum yang berlindung ke negeriku, dan memilih perlindunganku daripada perlindungan selain aku. Jika mereka seperti yang mereka katakan, aku akan mengembalikan mereka kepada mereka, dan jika mereka berbeda dari itu, aku akan melindungi mereka, dan aku tidak akan masuk di antara mereka dan mereka, dan tidak akan menyenangkan mata mereka.” Musa bin Uqbah menyebutkan bahwa para pemimpinnya memberi saran kepadanya untuk mengembalikan mereka kepada mereka, maka ia berkata: “Tidak, demi Allah, hingga aku mendengar perkataan mereka, dan aku mengetahui apa yang mereka anut.” Ketika mereka masuk kepadanya, mereka memberi salam dan tidak bersujud kepadanya. Ia berkata: “Wahai rombongan, tidakkah kalian menceritakan kepadaku apa masalah kalian, mengapa kalian tidak memberi penghormatan kepadaku sebagaimana yang memberi penghormatan kepadaku dari orang-orang yang datang kepadaku dari kaum kalian? Dan beritahu aku apa yang kalian katakan tentang Isa, dan apa agama kalian? Apakah kalian Nasrani?” Mereka berkata: “Tidak.” Ia berkata: “Apakah kalian Yahudi?” Mereka berkata: “Tidak.” Ia berkata: “Apakah kalian menganut agama kaum kalian?” Mereka berkata: “Tidak.” Ia berkata: “Lalu apa agama kalian?” Mereka berkata: “Islam.” Ia berkata: “Dan apa Islam itu?” Mereka berkata: “Kami menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” Ia berkata: “Siapa yang datang kepada kalian dengan ini?” Mereka berkata: “Seorang laki-laki dari kalangan kami datang kepada kami dengan ini. Kami telah mengenal wajah dan nasabnya. Allah mengutusnya kepada kami sebagaimana rasul-rasul diutus kepada orang-orang sebelum kami. Ia memerintahkan kami kepada kebaikan, sedekah, menepati janji, menunaikan amanah, dan melarang kami menyembah berhala. Ia memerintahkan kami untuk menyembah Allah saja tanpa sekutu bagi-Nya. Maka kami membenarkannya dan mengenal kalam Allah, dan kami mengetahui bahwa apa yang ia bawa adalah dari sisi Allah. Ketika kami melakukan itu, kaum kami memusuhi kami, dan mereka memusuhi Nabi yang benar serta mendustakannya, dan bermaksud membunuhnya. Mereka menginginkan kami untuk menyembah berhala, maka kami lari kepadamu dengan agama dan darah kami dari kaum kami.” Ia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya ini benar-benar dari tempat keluarnya urusan Musa.”_ Ja’far berkata: “Adapun tentang penghormatan, maka sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahu kami bahwa penghormatan penduduk surga adalah salam, dan memerintahkan kami dengan hal itu, maka kami memberimu penghormatan dengan apa yang dengannya sebagian kami memberi penghormatan kepada sebagian yang lain. Adapun Isa putra Maryam, maka ia adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia jatuhkan kepada Maryam dan roh dari-Nya, serta putra perawan suci.” Maka ia mengambil sebatang ranting dan berkata: “Demi Allah, Ibnu Maryam tidak menambah atas ini seberat batang ini.” Maka pembesar-pembesar Habasyah berkata: “Demi Allah, jika orang-orang Habasyah mendengar ini, niscaya mereka akan mencopotmu.” Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak akan mengatakan tentang Isa selain ini selamanya. Dan Allah tidak mentaati manusia ketika Dia mengembalikan kerajaanku kepadaku, maka aku akan mentaati manusia dalam agama Allah, aku berlindung kepada Allah dari hal itu.”
Dan Yunus berkata dari Ibnu Ishaq: Maka Najasyi mengutus kepada mereka dan mengumpulkan mereka. Tidak ada sesuatu yang lebih dibenci oleh Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah daripada ia mendengar perkataan mereka. Ketika utusan Najasyi datang kepada mereka, kaum itu berkumpul. Mereka berkata: “Apa yang akan kita katakan?” Mereka berkata: “Dan apa yang akan kita katakan? Demi Allah, kita akan mengatakan apa yang kita ketahui, dan apa yang kita anut dari urusan agama kita, dan apa yang dibawa oleh nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam, apa pun yang terjadi dalam hal itu.” Ketika mereka masuk kepadanya, yang berbicara dengannya dari mereka adalah Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Najasyi berkata kepadanya: “Apa agama ini yang kalian anut? Kalian meninggalkan agama kaum kalian, dan tidak masuk dalam agama Yahudi, dan tidak pula Nasrani, maka apa agama ini?” Ja’far berkata kepadanya: “Wahai raja, kami adalah kaum yang menganut kesyirikan, menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat buruk kepada tetangga, menghalalkan hal-hal yang haram antara sebagian dengan sebagian yang lain, dalam menumpahkan darah dan lainnya. Kami tidak menghalalkan sesuatu dan tidak pula mengharamkannya. Maka Allah mengutus kepada kami seorang nabi dari kalangan kami sendiri. Kami mengenal kejujuran, kebenaran, dan amanahnya. Ia menyeru kami untuk menyembah Allah saja tanpa sekutu bagi-Nya, menyambung silaturahmi, melindungi tetangga, shalat kepada Allah Azza wa Jalla, berpuasa untuk-Nya, dan tidak menyembah selain-Nya.”
Dan Ziyad berkata dari Ibnu Ishaq: Maka ia menyeru kami kepada Allah; agar kami mengesakan-Nya dan menyembah-Nya, dan meninggalkan apa yang kami sembah, kami dan bapak-bapak kami, selain-Nya berupa batu dan berhala. Ia memerintahkan kami dengan kejujuran dalam perkataan, menunaikan amanah, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, dan menahan diri dari hal-hal yang haram dan darah. Ia melarang kami dari perbuatan keji, perkataan dusta, memakan harta anak yatim, dan menuduh wanita yang baik-baik. Ia memerintahkan kami untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan memerintahkan kami dengan shalat, zakat, dan puasa. Ia berkata: Maka kami menghitung baginya perkara-perkara Islam. Maka kami membenarkannya dan beriman kepadanya serta mengikutinya atas apa yang ia bawa dari sisi Allah. Kami menyembah Allah saja tanpa sekutu bagi-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kami mengharamkan apa yang Dia haramkan kepada kami, dan menghalalkan apa yang Dia halalkan bagi kami. Maka kaum kami memusuhi kami, menyiksa kami, dan memfitnah kami dari agama kami, agar mereka mengembalikan kami kepada penyembahan berhala dari penyembahan Allah, dan agar kami menghalalkan apa yang dahulu kami halalkan dari hal-hal buruk. Ketika mereka menguasai kami dan menzalimi kami, menyempitkan kami, dan menghalangi antara kami dengan agama kami, kami keluar ke negerimu, dan memilihmu dari selain engkau, dan kami menginginkan perlindunganmu serta berharap kami tidak dizalimi di sisimu wahai raja.” Ia berkata: Maka Najasyi berkata: “Apakah bersamamu ada sesuatu dari apa yang ia bawa?” Dan ia telah memanggil para uskupnya lalu memerintahkan mereka, maka mereka membuka mushaf-mushaf di sekelilingnya. Ja’far berkata kepadanya: “Ya.” Ia berkata: “Bacakanlah kepadaku dari apa yang ia bawa.” Maka ia membaca kepadanya awal dari Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad (QS. Maryam: 1). Maka demi Allah, Najasyi menangis hingga jenggotnya basah, dan para uskupnya menangis hingga mereka membasahi mushaf-mushaf mereka. Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya kalam ini keluar dari tempat keluarnya yang Musa datang dengannya.” Pergilah kalian dengan petunjuk yang lurus. Tidak, demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kembali kepada kalian, dan aku tidak akan menyenangkan mata kalian.”
Maka kami keluar dari tempat Najasyi, dan orang yang paling bertakwa di antara kedua orang itu adalah Abdullah bin Abi Rabiʻah. Lalu Amr bin Al-Ash berkata: “Demi Allah, besok aku akan mendatanginya dengan sesuatu yang dapat memusnahkan mereka semua, dan aku akan memberitahunya bahwa mereka mengklaim bahwa Tuhannya yang mereka sembah, Isa bin Maryam, adalah hamba.” Maka Abdullah bin Abi Rabiʻah berkata kepadanya: “Jangan lakukan itu, karena meskipun mereka menyelisihi kami, namun mereka memiliki hubungan kekerabatan dan memiliki hak.” Amr menjawab: “Demi Allah, aku akan melakukannya.”
Ketika tiba keesokan harinya, Amr masuk menemui Najasyi dan berkata: “Wahai raja, sesungguhnya mereka mengatakan perkataan yang sangat besar tentang Isa.” Maka Najasyi mengutus orang kepada kaum Muhajirin dan bertanya kepada mereka tentang hal itu. Demi Allah, kami diutus kepadanya, dan belum pernah turun kepada kami musibah seperti ini. Sebagian kami berkata kepada sebagian yang lain: “Apa yang akan kalian katakan kepadanya tentang Isa jika dia bertanya kepada kalian tentangnya?” Mereka menjawab: “Demi Allah, kami akan mengatakan apa yang Allah katakan tentangnya dan apa yang Nabi kami perintahkan untuk kami katakan tentangnya.”
Maka mereka masuk menemui Najasyi dan di sisinya ada para pembesar kerajaannya. Dia bertanya: “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?” Jaʻfar menjawab: “Kami mengatakan bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, ruh-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam yang suci lagi perawan.”
Maka Najasyi menurunkan tangannya ke tanah dan mengambil sebatang ranting kecil di antara jari-jarinya, lalu berkata: “Isa bin Maryam tidak melebihi apa yang kalian katakan walau seukuran ranting kecil ini.” Para pembesarnya bergumam tidak setuju. Maka Najasyi berkata: “Meskipun kalian bergumam, demi Allah. Pergilah, kalian adalah orang-orang yang aman di negeri ini. As-Suyum artinya: orang-orang yang aman di negeri. Siapa yang mencaci kalian harus membayar denda, siapa yang mencaci kalian harus membayar denda, siapa yang mencaci kalian harus membayar denda,” tiga kali. “Aku tidak suka memiliki Dabr dan aku menyakiti seorang laki-laki dari kalian.” Ad-Dabr dalam bahasa mereka adalah: emas.
Ziyad berkata dari Ibnu Ishaq: “Aku tidak suka memiliki Dabr dari emas.” Ibnu Hisyam berkata: Dikatakan juga Dabra, yaitu gunung dalam bahasa mereka.
Kemudian Najasyi berkata: “Demi Allah, Allah tidak mengambil suap dariku ketika mengembalikan kerajaanku kepadaku, dan orang-orang tidak menaatiku sehingga aku menaati orang-orang dalam hal itu. Kembalikanlah kepada keduanya hadiah mereka, karena aku tidak membutuhkannya. Dan keluarlah kalian berdua dari negeriku.” Maka keduanya keluar dengan hina, dikembalikan kepada mereka apa yang mereka bawa.
Ummu Salamah berkata: “Kami tinggal bersama sebaik-baik tetangga di sebaik-baik negeri. Tidak lama kemudian, muncul seorang laki-laki dari Habasyah yang mempersengketakan kerajaan dengannya. Demi Allah, kami tidak pernah merasakan kesedihan yang lebih hebat daripada itu, karena khawatir raja itu mengalahkannya, lalu datang raja yang tidak mengetahui hak kami seperti yang diketahui Najasyi. Maka kami berdoa kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya untuk Najasyi. Dia keluar menghadapi raja itu. Para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata satu sama lain: ‘Siapa yang mau keluar untuk menyaksikan pertempuran hingga melihat siapa yang menang?’ Zubayr berkata – dan dia adalah yang paling muda di antara mereka: ‘Aku.’ Maka mereka meniup geriba untuknya dan dia meletakkannya di dadanya, kemudian keluar berenang di atasnya di Sungai Nil, hingga keluar dari sisi yang lain ke tempat orang-orang bertemu. Dia menyaksikan pertempuran, dan Allah mengalahkan raja itu dan membunuhnya, serta memberikan kemenangan kepada Najasyi. Zubayr datang kepada kami sambil melambai-lambaikan kainnya dan berkata: ‘Bergembiralah, Allah telah memberikan kemenangan kepada Najasyi.’ Aku berkata: ‘Demi Allah, kami tidak pernah bergembira dengan sesuatu sebagaimana kami bergembira dengan kemenangan Najasyi.’ Kemudian kami tinggal bersamanya hingga keluar orang yang keluar dari kami kembali ke Mekah, dan tinggal yang tinggal.”
Az-Zuhri berkata: Aku menceritakan hadits ini kepada Urwah bin Az-Zubayr dari Ummu Salamah. Urwah berkata: “Tahukah engkau apa maksud perkataannya: ‘Allah tidak mengambil suap dariku ketika mengembalikan kerajaanku kepadaku, maka aku mengambil suap dalam hal itu, dan orang-orang tidak menaatiku sehingga aku menaati orang-orang dalam hal itu’?” Aku menjawab: “Tidak, Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam tidak menceritakan hal itu kepadaku dari Ummu Salamah.” Urwah berkata: “Aisyah menceritakan kepadaku bahwa ayah Najasyi adalah raja kaumnya, dan dia memiliki saudara yang memiliki dua belas anak laki-laki, sedangkan ayah Najasyi tidak memiliki anak selain Najasyi. Orang-orang Habasyah bermusyawarah di antara mereka dan berkata: ‘Bagaimana jika kita membunuh ayah Najasyi dan menjadikan saudaranya sebagai raja, karena dia memiliki dua belas anak laki-laki yang akan mewarisi kerajaan, maka orang Habasyah akan bertahan dengan mereka untuk waktu yang lama tanpa ada perselisihan.’ Maka mereka menyerangnya dan membunuhnya, lalu menjadikan saudaranya sebagai raja. Najasyi masuk kepada pamannya hingga menguasainya, sehingga tidak ada yang mengatur urusannya selain dia. Dia adalah orang yang cerdas dan bijaksana. Ketika orang Habasyah melihat kedudukannya di sisi pamannya, mereka berkata: ‘Pemuda ini telah menguasai urusan pamannya, dan kami khawatir dia akan menjadikan dirinya raja atas kami. Dia tahu bahwa kami telah membunuh ayahnya, jika dia melakukan itu, dia tidak akan membiarkan seorang pembesar pun dari kami kecuali akan dibunuhnya.’ Maka mereka mendatangi pamannya dan berkata: ‘Kami telah melihat kedudukan pemuda ini di sisimu, dan engkau tahu bahwa kami membunuh ayahnya dan menjadikanmu menggantikannya. Kami tidak merasa aman dia akan menjadi raja atas kami lalu membunuh kami. Bunuhlah dia atau keluarkan dia dari negeri kami.’ Pamannya berkata: ‘Celakalah kalian, kalian membunuh ayahnya kemarin, dan hari ini aku harus membunuhnya? Aku akan mengeluarkannya dari negeri kalian saja.’ Maka mereka keluar dengannya, menempatkannya di pasar dan menjualnya kepada seorang pedagang dengan enam ratus dirham atau tujuh ratus. Lalu pedagang itu membawanya ke dalam kapal dan pergi dengannya. Ketika tiba sore hari, muncul awan dari awan-awan musim gugur. Pamannya keluar berjalan-jalan di bawahnya, lalu tersambar petir yang membunuhnya. Mereka berbondong-bondong mencari anak-anaknya, ternyata mereka semua bodoh, tidak ada kebaikan dalam diri salah satu dari mereka. Urusan orang Habasyah menjadi kacau. Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: ‘Ketahuilah, demi Allah, bahwa raja kalian yang tidak ada yang dapat memperbaiki urusan kalian selain dia adalah orang yang telah kalian jual pagi ini. Jika kalian masih peduli dengan urusan Habasyah, maka kejar dia sebelum dia pergi.’ Maka mereka mengejarnya dan menyusulnya, lalu mengembalikannya. Mereka memakaikan mahkota kepadanya, mendudukkannya di atas singgasananya dan menjadikannya raja. Pedagang itu berkata: ‘Kembalikanlah hartaku sebagaimana kalian mengambil hambaku dariku.’ Mereka berkata: ‘Kami tidak akan memberimu.’ Dia berkata: ‘Kalau begitu, demi Allah, aku akan berbicara kepadanya.’ Mereka berkata: ‘Terserah.’ Maka dia mendatangi Najasyi dan berbicara kepadanya. Najasyi berkata: ‘Wahai raja, aku membeli seorang hamba, lalu orang-orang yang menjualnya kepadaku menerima harganya. Kemudian mereka menyerang hambaku dan mengambilnya dari tanganku tanpa mengembalikan hartaku.’ Pengalaman pertama Najasyi dengan keadilan dan ketegasannya dalam hukum adalah ketika dia berkata: ‘Kembalikanlah hartanya kepadanya, atau letakkan tangan hambamu di tangannya agar dia pergi dengannya ke mana pun dia mau.’ Mereka berkata: ‘Kami akan memberinya hartanya.’ Maka mereka memberinya hartanya. Oleh karena itu dia berkata: ‘Allah tidak mengambil suap dariku ketika mengembalikan kerajaanku kepadaku, maka aku tidak akan mengambil suap. Dan orang-orang tidak menaatiku sehingga aku tidak akan menaati orang-orang dalam hal itu.'”
Musa bin Uqbah berkata: “Ayah Najasyi adalah raja Habasyah, lalu dia meninggal sedangkan Najasyi masih anak kecil. Dia berwasiat kepada saudaranya: ‘Kerajaan kaummu ada padamu hingga anakku dewasa. Jika dia sudah dewasa, maka kerajaan untuknya.’ Saudaranya menginginkan kerajaan itu, maka dia menjual Najasyi kepada salah seorang pedagang. Pamannya meninggal pada malam itu juga. Orang Habasyah mengembalikan Najasyi hingga mereka meletakkan mahkota di kepalanya.” Demikianlah dia menyebutkannya secara ringkas, sedangkan riwayat Ibnu Ishaq lebih baik dan lebih terperinci. Wallahu a’lam.
Yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Ishaq hanyalah Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abi Rabiʻah. Sedangkan yang disebutkan oleh Musa bin Uqbah, Al-Umawi dan beberapa orang lainnya, bahwa keduanya adalah Amr bin Al-Ash dan Umarah bin Al-Walid bin Al-Mughirah. Umarah adalah salah satu dari tujuh orang yang didoakan buruk oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika mereka tertawa-tawa pada hari diletakkan ari-ari unta di punggungnya shallallahu alaihi wasallam ketika beliau sedang sujud di Kaʻbah. Demikianlah telah disebutkan sebelumnya dalam hadits Ibnu Masʻud dan Abu Musa Al-Asyʻari.
Yang dimaksud adalah ketika keduanya keluar dari Mekah, istri Amr bersamanya, sedangkan Umarah adalah pemuda yang tampan. Mereka berada di kapal yang sama, dan Umarah berambisi terhadap istri Amr bin Al-Ash, maka dia melemparkan Amr ke laut untuk membunuhnya. Namun Amr berenang hingga kembali ke kapal. Umarah berkata kepadanya: “Seandainya aku tahu bahwa engkau bisa berenang, aku tidak akan melemparkanmu.” Amr mendendam kepadanya. Ketika keduanya tidak berhasil mencapai tujuan mereka terhadap kaum Muhajirin dari Najasyi, dan Umarah telah menjalin hubungan dengan sebagian keluarga Najasyi, maka Amr mengadu tentang dia. Najasyi memerintahkan untuk menyihirnya hingga akalnya hilang, dan dia berkeliaran di padang belantara bersama binatang-binatang buas.
Al-Umawi telah menyebutkan kisah yang sangat panjang, bahwa dia hidup hingga masa kepemimpinan Umar bin Al-Khaththab, dan sebagian sahabat mendatanginya dan menahannya. Dia berkata: “Lepaskan aku, lepaskan aku, jika tidak aku akan mati.” Ketika mereka tidak melepaskannya, dia meninggal pada saat itu juga. Wallahu a’lam.
Dikatakan bahwa Quraisy mengirim utusan kepada Najasyi tentang urusan kaum Muhajirin dua kali: yang pertama dengan Amr bin Al-Ash dan Umarah, yang kedua dengan Amr dan Abdullah bin Abi Rabiʻah. Hal ini dinyatakan oleh Abu Nuʻaim dalam Ad-Dala’il. Wallahu a’lam. Dikatakan bahwa utusan kedua adalah setelah Perang Badar – demikian kata Az-Zuhri – agar mereka dapat membalas dendam terhadap orang-orang yang ada di sana, namun Najasyi radhiyallahu anhu wa ardhahu tidak mengabulkan apa pun yang mereka minta. Wallahu a’lam.
Ziyad menyebutkan dari Ibnu Ishaq bahwa ketika Abu Thalib melihat perbuatan Quraisy itu, dia menulis surat kepada Najasyi berisi bait-bait syair yang mendorongnya untuk berbuat adil dan berbuat baik kepada kaumnya yang singgah kepadanya:
Alangkah aku ingin tahu bagaimana keadaan Jaʻfar dan Amr di tempat yang jauh Dan musuh-musuh yang memusuhi kaum kerabat Dan apa yang dilakukan Najasyi terhadap Jaʻfar Dan para sahabatnya, atau adakah penghalang yang menghalanginya Ketahuilah – semoga engkau terhindar dari celaan – bahwa engkau mulia Dermawan, maka tidak akan celaka orang yang berlindung kepadamu Ketahuilah bahwa Allah menambah keluasan bagimu Dan sebab-sebab kebaikan semuanya melekat padamu
Yunus berkata dari Ibnu Ishaq: Yazid bin Ruman menceritakan kepadaku dari Urwah bin Az-Zubayr, dia berkata: “Sesungguhnya yang berbicara kepada Najasyi adalah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.” Yang masyhur adalah bahwa Jaʻfar-lah yang menjadi juru bicara radhiyallahu anhum.
Ziyad Al-Bakka’i berkata dari Ibnu Ishaq: Yazid bin Ruman menceritakan kepadaku dari Urwah dari Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata: “Ketika Najasyi meninggal, orang-orang membicarakan bahwa cahaya selalu terlihat di atas kuburannya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Muhammad bin Amr Ar-Razi dari Salamah bin Al-Fadhl dari Muhammad bin Ishaq: “Ketika Najasyi radhiyallahu anhu meninggal, kami membicarakan bahwa cahaya selalu terlihat di atas kuburannya.”
Ziyad berkata dari Muhammad bin Ishaq: Jaʻfar bin Muhammad menceritakan kepadaku dari ayahnya, dia berkata: “Orang-orang Habasyah berkumpul dan berkata kepada Najasyi: ‘Engkau telah meninggalkan agama kami.’ Dan mereka keluar melawannya. Maka dia mengutus kepada Jaʻfar dan para sahabatnya, menyiapkan kapal untuk mereka, dan berkata: ‘Naiklah ke dalamnya, dan tetaplah seperti keadaan kalian. Jika aku dikalahkan, maka pergilah hingga kalian sampai ke mana pun kalian kehendaki. Jika aku menang, maka tetaplah kalian.’ Kemudian dia mengambil sebuah surat dan menulisnya: ‘Dia bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bersaksi bahwa Isa adalah hamba-Nya, Rasul-Nya, ruh-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam.‘ Kemudian dia meletakkannya di bajunya di dekat bahu kanan, lalu keluar menghadapi orang Habasyah. Mereka berbaris untuknya. Dia berkata: ‘Wahai orang-orang Habasyah, bukankah aku paling berhak atas kalian?’ Mereka menjawab: ‘Benar.’ Dia berkata: ‘Bagaimana kalian melihat kepemimpinanku atas kalian?’ Mereka menjawab: ‘Sebaik-baik kepemimpinan.’ Dia berkata: ‘Lalu apa masalah kalian?’ Mereka berkata: ‘Engkau telah meninggalkan agama kami dan mengklaim bahwa Isa adalah hamba.’ Dia berkata: ‘Lalu apa yang kalian katakan tentang Isa?’ Mereka menjawab: ‘Kami mengatakan dia adalah anak Allah.’ Maka Najasyi berkata sambil meletakkan tangannya di dadanya pada bajunya: ‘Dan dia bersaksi bahwa Isa bin Maryam tidak lebih dari ini.‘ Dan dia maksudkan apa yang dia tulis. Maka mereka ridha dan pergi. Kabar itu sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika Najasyi meninggal, beliau menyalatkannya dan meminta ampun untuknya.”
Telah sahih dalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengabarkan kematian Najasyi pada hari dia meninggal, dan keluar bersama para sahabat ke tempat shalat, lalu berbaris dan bertakbir empat kali takbir.
Al-Bukhari berkata: Kematian Najasyi. Abu Ar-Rabiʻ menceritakan kepada kami, Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij dari Atha’ dari Jabir, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda ketika Najasyi meninggal: “Hari ini telah meninggal seorang laki-laki saleh, maka berdirilah dan salatilah saudara kalian Ashamah.” Hal ini diriwayatkan dari hadits Anas bin Malik, Ibnu Masʻud dan beberapa orang lainnya. Dalam beberapa riwayat disebutkan namanya Ashamah, dan dalam riwayat lain: Mushamah. Dia adalah Ashamah bin Abjar, dan dia adalah hamba yang saleh, cerdas, bijaksana, adil, berilmu, radhiyallahu anhu wa ardhahu.
Yunus berkata dari Ibnu Ishaq: “Nama Najasyi adalah Mushamah.” Dalam naskah yang disahihkan oleh Al-Baihaqi: Asham, yang dalam bahasa Arab artinya: Athiyyah.
Dia berkata: “Sesungguhnya Najasyi adalah nama raja, seperti kamu menyebut Kisra dan Heraklius.”
Aku (Ibnu Katsir) berkata: Demikianlah, dan mungkin yang dia maksudkan adalah Qaishar, karena itu adalah nama untuk setiap orang yang memerintah Syam bersama Jazirah dari negeri Rum. Kisra adalah nama untuk yang memerintah Persia. Firʻaun adalah nama untuk yang memerintah Mesir secara keseluruhan. Al-Muqauqis untuk yang memerintah Iskandariyyah. Tubbaʻ untuk yang memerintah Yaman. Asy-Syihr dan An-Najasyi untuk yang memerintah Habasyah. Bathlamus untuk yang memerintah Yunani, dan dikatakan: India. Khaqan untuk yang memerintah Turki.
Sebagian ulama berkata: “Sesungguhnya beliau menyalatkan Najasyi karena dia menyembunyikan imannya dari kaumnya, sehingga pada hari dia meninggal tidak ada yang menyalatkannya. Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam menyalatkannya.” Mereka berkata: “Maka orang yang meninggal di tempat yang jauh, jika telah disalatkan di negerinya, tidak disyariatkan untuk menyalatkannya di negeri lain. Oleh karena itu tidak ada yang menyalati Nabi shallallahu alaihi wasallam selain di Madinah, tidak penduduk Mekah maupun yang lain. Demikian pula Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat-sahabat lainnya, tidak diriwayatkan bahwa salah seorang dari mereka disalati di negeri selain negeri tempat dia disalati.” Wallahu a’lam.
Aku (Ibnu Katsir) berkata: Kehadiran Abu Hurairah radhiyallahu anhu dalam shalat jenazah Najasyi adalah dalil bahwa dia baru meninggal setelah Perang Khaibar, pada tahun kedatangan sisa kaum Muhajirin dari Habasyah bersama Jaʻfar bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pada hari Perang Khaibar. Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, aku tidak tahu mana yang lebih membuatku gembira: Penaklukan Khaibar atau kedatangan Jaʻfar bin Abi Thalib.” Mereka datang membawa hadiah dan cinderamata dari Najasyi radhiyallahu anhu kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bersama mereka ada orang-orang kapal Yaman: para sahabat Abu Musa Al-Asyʻari dan kaumnya dari suku Asyʻariyin radhiyallahu anhum. Bersama Jaʻfar dan hadiah-hadiah Najasyi ada keponakan Najasyi, Dzu Makhbar atau Dzu Makhmar. Dia diutus untuk melayani Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai pengganti pamannya radhiyallahu anhuma wa ardhahuma.
As-Suhaili berkata: “Najasyi meninggal pada bulan Rajab tahun sembilan Hijriyyah.” Dalam hal ini ada perdebatan. Wallahu a’lam.
Al-Baihaqi berkata: Al-Faqih Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim Ath-Thusi mengabarkan kepada kami, Abu Al-Abbas Muhammad bin Yaʻqub menceritakan kepada kami, Hilal bin Al-ʻAla’ Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ayahku Al-ʻAla’ bin Hilal menceritakan kepada kami, ayahku Hilal bin Umar menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Abu Ghalib dari Abu Umamah, dia berkata: “Delegasi Najasyi datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka beliau berdiri melayani mereka. Para sahabatnya berkata: ‘Kami akan melakukannya untukmu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya mereka telah memuliakan para sahabatku, dan aku suka membalas kebaikan mereka.’”
Kemudian dia berkata: Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf Al-Ashbahani mengabarkan kepada kami, Abu Saʻid bin Al-Aʻrabi mengabarkan kepada kami, Hilal bin Al-ʻAla’ menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, Thalhah bin Zaid menceritakan kepada kami dari Al-Auza’i dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Qatadah, dia berkata: “Delegasi Najasyi datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau berdiri melayani mereka. Para sahabatnya berkata: ‘Kami akan melakukannya untukmu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya mereka telah memuliakan para sahabat kami, dan aku suka membalas kebaikan mereka.’” Hanya Thalhah bin Zaid yang meriwayatkannya dari Al-Auza’i.
Dan Al-Baihaqi berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu al-Husain bin Bisyran, telah menceritakan kepada kami Abu Amr bin as-Sammak, telah menceritakan kepada kami Hanbal bin Ishaq, telah menceritakan kepada kami al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amr, dia berkata: Ketika Amr bin al-Ash kembali dari tanah Habasyah, dia duduk di rumahnya dan tidak keluar menemui mereka. Maka mereka bertanya: Ada apa dengannya, mengapa dia tidak keluar? Maka Amr berkata: Sesungguhnya Ashhamah (Negus) mengklaim bahwa sahabatmu adalah seorang nabi.
Dan Ibnu Ishaq berkata: Ketika Amr bin al-Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah kembali kepada Quraisy, dan mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Negus menolak mereka dengan penolakan yang mereka benci, dan Umar bin al-Khattab masuk Islam, padahal dia adalah seorang laki-laki yang keras dan tidak ada yang berani menentang apa yang ada di belakangnya, para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi terlindungi bersamanya dan bersama Hamzah hingga mereka bisa melawan Quraisy. Maka Abdullah bin Mas’ud berkata: Kami tidak bisa shalat di dekat Ka’bah hingga Umar masuk Islam. Ketika Umar masuk Islam, dia melawan Quraisy hingga dia bisa shalat di dekat Ka’bah dan kami pun shalat bersamanya.
Aku (Ibnu Katsir) berkata: Dan telah tetap dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Mas’ud bahwa dia berkata: Kami tidak henti-hentinya mulia sejak Umar bin al-Khattab masuk Islam.
Dan Ziyad al-Baka’i berkata: Telah menceritakan kepadaku Mis’ar bin Kidam dari Sa’d bin Ibrahim, dia berkata: Ibnu Mas’ud berkata: Sesungguhnya keislaman Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Sungguh kami dahulu tidak bisa shalat di dekat Ka’bah hingga Umar masuk Islam. Ketika Umar masuk Islam, dia melawan Quraisy hingga dia bisa shalat di dekat Ka’bah dan kami pun shalat bersamanya.
Ibnu Ishaq berkata: Keislaman Umar terjadi setelah keberangkatan orang-orang yang keluar dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke Habasyah. Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin al-Harits bin Abdullah bin Ayyasy bin Abi Rabi’ah dari Abdul Aziz bin Abdullah dari Abdullah bin Amir bin Rabi’ah dari ibunya Ummu Abdullah binti Abi Hatsmah, dia berkata: Demi Allah, kami sedang bersiap-siap berangkat ke tanah Habasyah, dan Amir telah pergi untuk suatu keperluan kami, tiba-tiba Umar datang hingga berdiri di depanku padahal dia masih dalam kemusyrikannya. Dia berkata: Kami biasa mendapat kesusahan darinya, penyiksaan kepada kami dan kekerasan terhadap kami. Dia berkata: Apakah kalian akan berangkat, wahai Ummu Abdullah? Aku berkata: Ya, demi Allah kami akan keluar ke bumi Allah karena kalian telah menyiksa kami dan menganiaya kami, hingga Allah memberi kami jalan keluar. Dia berkata: Dia berkata: Semoga Allah menemani kalian. Dan aku melihat kelembutan darinya yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, kemudian dia pergi dengan sedih menurut perkiraanku karena kepergian kami. Dia berkata: Lalu Amir datang dengan keperluannya itu, maka aku berkata kepadanya: Wahai Aba Abdullah, seandainya engkau melihat Umar tadi dan kelembutannya serta kesedihannya terhadap kami. Dia berkata: Apakah kamu berharap dia akan masuk Islam? Dia berkata: Aku berkata: Ya. Dia berkata: Orang yang kamu lihat itu tidak akan masuk Islam hingga keledai al-Khattab masuk Islam. Dia berkata: Karena putus asa darinya karena apa yang dia lihat dari kekerasannya dan kekasarannya terhadap Islam.
Aku (Ibnu Katsir) berkata: Ini menolak perkataan orang yang mengklaim bahwa dia adalah orang Muslim yang keempat puluh, karena para muhajirin ke Habasyah lebih dari delapan puluh orang. Kecuali jika dikatakan: Sesungguhnya dia adalah orang yang keempat puluh setelah keberangkatan para muhajirin. Dan yang menguatkan ini adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq di sini dalam kisah keislaman Umar sendiri semoga Allah meridhainya, dan urutannya: Maka dia berkata: Keislaman Umar menurut yang sampai kepadaku adalah bahwa saudara perempuannya Fathimah binti al-Khattab yang menikah dengan Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail telah masuk Islam, dan suaminya Sa’id bin Zaid juga telah masuk Islam, dan mereka menyembunyikan keislaman mereka dari Umar. Dan Nu’aim bin Abdullah an-Nahham, seorang laki-laki dari Bani Adi, juga telah masuk Islam dan menyembunyikan keislamannya karena takut kepada kaumnya. Dan Khabbab bin al-Aratt sering datang kepada Fathimah binti al-Khattab untuk mengajarkan Al-Quran kepadanya. Maka pada suatu hari keluarlah Umar dengan menyandang pedangnya, ingin mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sekelompok sahabatnya, maka disebutkan kepadanya bahwa mereka telah berkumpul di sebuah rumah dekat Shafa, dan mereka sekitar empat puluh orang, antara laki-laki dan perempuan, dan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ada pamannya Hamzah dan Abu Bakar bin Abi Quhafah ash-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib semoga Allah meridhai mereka, beserta beberapa orang laki-laki dari kalangan kaum Muslimin yang tinggal bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Makkah dan tidak keluar bersama orang-orang yang keluar ke tanah Habasyah. Maka Nu’aim bin Abdullah bertemu dengannya dan berkata: Mau kemana engkau, wahai Umar? Dia berkata: Aku ingin mendatangi Muhammad si Shabi’ ini yang telah memecah belah urusan Quraisy, mencela akal mereka, mencela agama mereka, dan mencaci sesembahan mereka, maka aku akan membunuhnya. Maka Nu’aim berkata kepadanya: Demi Allah, sungguh dirimu telah menipumu wahai Umar. Apakah engkau kira Bani Abdi Manaf akan membiarkanmu berjalan di muka bumi setelah engkau membunuh Muhammad? Tidakkah sebaiknya engkau kembali kepada keluargamu sendiri lalu memperbaiki urusan mereka? Dia berkata: Keluargaku yang mana? Dia berkata: Ipar dan anak pamanmu Sa’id bin Zaid dan saudara perempuanmu Fathimah, karena demi Allah mereka berdua telah masuk Islam dan mengikuti Muhammad dalam agamanya, maka urusiah mereka berdua. Maka Umar kembali menuju saudara perempuan dan iparnya, dan di rumah mereka ada Khabbab bin al-Aratt yang membawa lembaran berisi surat Thaha untuk mengajarkannya kepada mereka. Ketika mereka mendengar langkah kaki Umar, Khabbab bersembunyi di kamar atau di bagian rumah, dan Fathimah binti al-Khattab mengambil lembaran itu lalu meletakkannya di bawah pahanya. Dan Umar telah mendengar bacaan Khabbab kepada mereka ketika dia mendekat ke pintu. Ketika dia masuk, dia berkata: Apa bisikan yang aku dengar ini? Mereka berdua berkata kepadanya: Engkau tidak mendengar apa-apa. Dia berkata: Tidak, demi Allah, sungguh telah diberitahukan kepadaku bahwa kalian berdua telah mengikuti Muhammad dalam agamanya. Dan dia memukul iparnya Sa’id bin Zaid, lalu saudara perempuannya Fathimah binti al-Khattab bangkit kepadanya untuk menahan dia dari suaminya, maka dia memukul dia hingga luka. Ketika dia melakukan itu, saudara perempuan dan iparnya berkata kepadanya: Ya, kami telah masuk Islam dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka lakukanlah apa yang terlintas bagimu. Ketika Umar melihat darah di saudara perempuannya, dia menyesal atas apa yang dia lakukan dan menjadi sadar, dan berkata kepada saudara perempuannya: Berikanlah kepadaku lembaran yang aku dengar kalian membacanya tadi, aku ingin melihat apa ini yang dibawa oleh Muhammad. Dan Umar adalah seorang yang bisa menulis. Ketika dia berkata demikian, saudara perempuannya berkata kepadanya: Sesungguhnya kami khawatir engkau akan merusaknya. Dia berkata: Jangan takut. Dan dia bersumpah dengan sesembahan-sesambahannya bahwa dia akan mengembalikannya jika dia sudah membacanya. Ketika dia berkata demikian, dia berharap akan keislamannya. Maka dia berkata kepadanya: Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau najis karena kemusyrikanmu, dan sesungguhnya tidak boleh menyentuhnya kecuali orang yang suci. Maka Umar bangkit lalu mandi, kemudian dia memberikan lembaran itu kepadanya, dan di dalamnya ada surat Thaha, maka dia membacanya. Ketika dia membaca bagian awalnya, dia berkata: Betapa indah dan mulianya perkataan ini! Ketika Khabbab bin al-Aratt mendengar itu, dia keluar kepadanya lalu berkata kepadanya: Demi Allah wahai Umar, sesungguhnya aku berharap bahwa Allah telah mengkhususkanmu dengan doa Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, karena sesungguhnya aku mendengarnya kemarin sedang berdoa: Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Abu al-Hakam bin Hisyam atau dengan Umar bin al-Khattab. Maka bertakwalah kepada Allah wahai Umar. Maka Umar berkata pada saat itu: Tunjukkanlah kepadaku wahai Khabbab dimana Muhammad, agar aku datang kepadanya lalu masuk Islam. Maka Khabbab berkata kepadanya: Dia ada di rumah dekat Shafa, bersamanya beberapa orang dari sahabatnya. Maka Umar mengambil pedangnya lalu menyandangnya, kemudian menuju Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, lalu mengetuk pintu mereka. Ketika mereka mendengar suaranya, seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bangkit lalu melihat dari celah pintu dan melihatnya menyandang pedang, maka dia kembali kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan ketakutan, lalu berkata: Wahai Rasulullah, ini Umar bin al-Khattab menyandang pedang. Maka Hamzah berkata: Izinkanlah dia masuk, jika dia datang menginginkan kebaikan maka kita akan memberikannya, dan jika dia datang menginginkan kejahatan maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: Izinkanlah dia masuk. Maka orang itu mengizinkannya masuk, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bangkit kepadanya hingga menemuinya di ruangan, lalu memegang ikat pinggangnya atau ujung bajunya, kemudian menariknya dengan tarikan yang kuat, lalu berkata: Apa yang membawamu kemari wahai Ibnu al-Khattab? Demi Allah, aku tidak melihat engkau akan berhenti hingga Allah menurunkan bencana kepadamu. Maka Umar berkata: Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada apa yang datang dari sisi Allah. Dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertakbir dengan takbir yang diketahui oleh penghuni rumah bahwa Umar telah masuk Islam, maka para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpencar dari tempat mereka, dan mereka merasa mulia di dalam diri mereka ketika Umar masuk Islam bersama keislaman Hamzah, dan mereka tahu bahwa mereka berdua akan melindungi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mereka akan mendapat pembalasan dari musuh mereka dengannya. Ibnu Ishaq berkata: Ini adalah hadits para perawi dari penduduk Madinah tentang keislaman Umar ketika dia masuk Islam semoga Allah meridhainya.
Ibnu Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abi Najih al-Makki dari teman-temannya Atha’ dan Mujahid dan dari orang yang meriwayatkan itu, bahwa keislaman Umar menurut yang mereka ceritakan darinya, bahwa dia berkata: Aku dahulu menjauhi Islam, dan aku adalah peminum khamar di masa Jahiliyah, aku menyukainya dan meminumnya. Dan kami memiliki tempat berkumpul yang digunakan oleh orang-orang dari Quraisy di Hazurah. Maka pada suatu malam aku keluar ingin mendatangi teman-teman dudukku itu, namun aku tidak menemukan seorang pun dari mereka di sana. Maka aku berkata: Seandainya aku mendatangi si penjual khamar, mungkin aku menemukan khamar di tempatnya lalu meminumnya. Maka aku keluar lalu mendatanginya namun aku tidak menemuinya. Dia berkata: Maka aku berkata: Seandainya aku mendatangi Ka’bah lalu thawaf tujuh kali atau tujuh puluh kali. Dia berkata: Maka aku datang ke Masjid, ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang berdiri shalat, dan dahulu jika beliau shalat menghadap ke Syam, dan menjadikan Ka’bah di antara beliau dan Syam, dan tempat shalatnya di antara dua rukun, Rukun Aswad dan Rukun Yamani. Dia berkata: Maka aku berkata ketika melihat beliau: Demi Allah, seandainya aku mendengarkan Muhammad malam ini hingga aku mendengar apa yang dia katakan. Maka aku berkata: Jika aku mendekat kepadanya untuk mendengarkan darinya, pasti aku akan membuatnya takut. Maka aku datang dari arah Hajar, lalu masuk ke bawah kain-kainnya, dan aku berjalan dengan perlahan, sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri shalat membaca Al-Quran, hingga aku berdiri di kiblatnya menghadap beliau, tidak ada antara aku dan beliau kecuali kain-kain Ka’bah. Dia berkata: Ketika aku mendengar Al-Quran, hatiku menjadi lembut karenanya, dan aku menangis, dan Islam masuk ke dalam diriku, maka aku tidak henti-hentinya di tempatku berdiri hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyelesaikan shalatnya kemudian pergi. Dan dahulu jika beliau pergi, beliau keluar melewati rumah Ibnu Abi Husain, dan kediamannya ada di Dar ar-Raqtha’ yang dahulu berada di tangan Muawiyah. Umar berkata: Maka aku mengikuti beliau hingga ketika beliau masuk di antara rumah Abbas dan rumah Ibnu Azhar, aku menyusulnya. Ketika beliau mendengar langkah kakiku, beliau mengenaliku, lalu mengira bahwa aku mengikuti beliau untuk menyakiti beliau, maka beliau mengusirku kemudian berkata: “Apa yang membawamu kemari wahai Ibnu al-Khattab pada jam ini?!” Dia berkata: Aku berkata: Aku datang untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada apa yang datang dari sisi Allah. Dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memuji Allah kemudian berkata: “Sungguh Allah telah memberimu hidayah wahai Umar!” Kemudian beliau mengusap dadaku, dan mendoakan untukku dengan keteguhan, kemudian aku pergi, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masuk ke rumahnya. Ibnu Ishaq berkata: Maka Allah lebih mengetahui yang mana di antara itu yang benar.
Aku (Ibnu Katsir) berkata: Dan aku telah meneliti secara menyeluruh tentang cara keislaman Umar semoga Allah meridhainya, dan apa yang diriwayatkan tentang itu dari hadits-hadits dan atsar-atsar secara panjang lebar di awal sirahnya yang aku pisahkan tersendiri, segala puji dan anugerah bagi Allah.
Ibnu Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Nafi’ budak Ibnu Umar dari Ibnu Umar, dia berkata: Ketika Umar masuk Islam, dia berkata: Siapa di antara Quraisy yang paling cepat menyebarkan berita? Maka dikatakan kepadanya: Jamil bin Ma’mar al-Jumahi. Maka dia datang kepadanya di pagi hari. Abdullah berkata: Dan aku datang di pagi hari mengikuti jejaknya dan melihat apa yang dia lakukan, sedangkan aku adalah seorang anak yang memahami semua yang aku lihat, hingga dia datang kepadanya, lalu berkata kepadanya: Tahukah engkau wahai Jamil bahwa aku telah masuk Islam dan masuk ke dalam agama Muhammad? Dia berkata: Demi Allah, dia tidak menjawabnya hingga dia berdiri menarik bajunya, dan Umar mengikutinya dan aku mengikuti ayahku, hingga dia berdiri di pintu masjid berteriak dengan suara tertingginya: Wahai kaum Quraisy, sedangkan mereka ada di tempat-tempat duduk mereka di sekitar Ka’bah, ketahuilah bahwa Ibnu al-Khattab telah murtad. Dia berkata: Umar berkata dari belakangnya: Dia berbohong, tetapi aku telah masuk Islam dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Dan mereka bangkit kepadanya, maka dia tidak berhenti melawan mereka dan mereka melawannya hingga matahari berada di atas kepala mereka. Dia berkata: Dan dia kelelahan lalu duduk, dan mereka berdiri di atas kepalanya, sedangkan dia berkata: Lakukanlah apa yang terlintas bagi kalian, maka aku bersumpah demi Allah bahwa seandainya kami telah menjadi tiga ratus orang, sungguh kami akan meninggalkannya bagi kalian atau kalian akan meninggalkannya bagi kami. Dia berkata: Sementara mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba datang seorang lelaki tua dari Quraisy, mengenakan jubah hibriyyah dan baju bermotif, hingga berdiri di hadapan mereka, lalu berkata: Apa masalah kalian? Mereka berkata: Umar telah murtad. Dia berkata: Lalu kenapa! Seorang laki-laki telah memilih untuk dirinya sendiri suatu perkara, lalu apa yang kalian inginkan? Apakah kalian kira Bani Adi akan menyerahkan sahabat mereka kepada kalian begitu saja? Tinggalkanlah orang itu. Dia berkata: Demi Allah, seolah-olah mereka adalah kain yang terlepas darinya. Dia berkata: Maka aku berkata kepada ayahku setelah dia hijrah ke Madinah: Wahai ayah, siapa lelaki yang mengusir kaum dari engkau di Makkah pada hari engkau masuk Islam, sedangkan mereka memerangi engkau? Dia berkata: Itu, wahai anakku, al-Ash bin Wa’il as-Sahmi. Dan ini adalah sanad yang baik dan kuat, dan ini menunjukkan bahwa keislaman Umar terlambat, karena Ibnu Umar ditampilkan pada hari Uhud sedangkan dia berusia empat belas tahun, dan Uhud terjadi pada tahun ketiga Hijrah, dan dia telah tamyiz pada hari ayahnya masuk Islam, maka keislamannya sekitar empat tahun sebelum Hijrah, dan itu sekitar sembilan tahun setelah Bi’tsah. Dan Allah lebih mengetahui. Dan Al-Baihaqi berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Hakim, telah mengabarkan kepada kami al-Ashammm, telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abdul Jabbar, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Ishaq, dia berkata: Kemudian datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dua puluh orang sedangkan beliau di Makkah atau sekitar itu dari kalangan Nashrani, ketika kabar beliau tersebar, dari tanah Habasyah. Mereka menjumpai beliau di majelis, lalu mereka berbicara dengan beliau dan bertanya kepada beliau, sedangkan orang-orang dari Quraisy ada di tempat-tempat duduk mereka di sekitar Ka’bah. Ketika mereka selesai dari pertanyaan mereka kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang apa yang mereka inginkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajak mereka kepada Allah azza wajalla, dan membacakan kepada mereka Al-Quran. Ketika mereka mendengarkan, mata mereka berlinang air mata, kemudian mereka memenuhi panggilannya dan beriman kepada beliau dan membenarkan beliau, dan mereka mengetahui darinya apa yang digambarkan kepada mereka dalam kitab mereka tentang urusannya. Ketika mereka bangkit dari sisi beliau, Abu Jahal menghadang mereka bersama beberapa orang dari Quraisy, lalu mereka berkata: Celaka kalian sebagai rombongan, kalian diutus oleh orang-orang yang ada di belakang kalian dari ahli agama kalian untuk mencari tahu bagi mereka lalu kalian datang kepada mereka dengan berita tentang laki-laki itu, namun belum tenang tempat duduk kalian di sisinya hingga kalian meninggalkan agama kalian dan membenarkannya dalam apa yang dia katakan kepada kalian. Kami tidak mengetahui rombongan yang lebih bodoh dari kalian. Atau seperti itu yang mereka katakan. Maka mereka berkata kepada mereka: Salam sejahtera bagi kalian, kami tidak akan berbuat bodoh dengan kalian, bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian, kami tidak mengecilkan kebaikan untuk diri kami sendiri. Maka dikatakan: Sesungguhnya orang-orang itu dari kalangan Nashrani Najran. Dan Allah lebih mengetahui yang mana di antara itu yang benar. Dan dikatakan, wallahu a’lam, sesungguhnya tentang mereka turun ayat-ayat ini: Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepada mereka sebelumnya, mereka beriman kepadanya. Dan apabila dibacakan kepada mereka mereka berkata: Kami beriman kepadanya, sesungguhnya ia adalah kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang telah berserah diri sebelumnya. Mereka itu diberi pahala dua kali karena kesabaran mereka dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan dan dari apa yang Kami rezkikan kepada mereka, mereka menginfakkan. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak berfaidah, mereka berpaling darinya dan mereka berkata: Bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian, kesejahteraan atas kalian, kami tidak menginginkan orang-orang yang bodoh. (Surat Al-Qashash ayat 52-55)
Al-Baihaqi berkata dalam kitab Ad-Dala’il: Bab mengenai surat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Najasyi. Kemudian dia meriwayatkan dari Al-Hakim dari Al-Ashom dari Ahmad bin Abdul Jabbar dari Yunus dari Ibnu Ishaq yang berkata: “Ini adalah surat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Najasyi: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ini adalah surat dari Muhammad Rasulullah kepada Najasyi Al-Ashom penguasa Habasyah, salam sejahtera bagi siapa yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, Dia tidak mengambil pasangan dan tidak pula anak, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku menyerumu dengan seruan Allah, sesungguhnya aku adalah utusan-Nya, maka masuklah Islam agar engkau selamat. Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). (Ali Imran: 64) Jika engkau menolak, maka dosa orang-orang Nasrani dari kaummu akan ditanggung olehmu.”
Demikianlah Al-Baihaqi menyebutkannya setelah kisah hijrah ke Habasyah. Namun penyebutannya di sini perlu dikaji; karena yang jelas surat ini ditujukan kepada Najasyi yang datang setelah Najasyi Muslim yang menolong Ja’far dan para sahabatnya. Surat ini dikirim ketika Nabi menulis kepada para raja di bumi, menyeru mereka kepada Allah ‘azza wajalla menjelang penaklukan Makkah, sebagaimana beliau menulis kepada Heraklius penguasa Romawi kaisar Syam, kepada Kisra raja Persia, kepada penguasa Mesir, dan kepada Najasyi.
Az-Zuhri berkata: Surat-surat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka isinya sama, yakni satu versi, dan semuanya mengandung ayat ini, yaitu dari Surah Ali Imran yang merupakan surah Madaniyah tanpa perbedaan pendapat; karena ayat itu dari awal surah, dan telah turun delapan puluh tiga ayat dari awalnya berkaitan dengan utusan Najran, sebagaimana telah kami jelaskan dalam kitab Tafsir, dan segala puji serta anugerah bagi Allah. Maka surat ini ditujukan kepada Najasyi yang kedua, bukan yang pertama. Adapun perkataan dalam surat: “Kepada Najasyi Al-Ashom,” barangkali kata “Al-Ashom” disisipkan oleh perawi berdasarkan pemahamannya. Wallahu a’lam.
Yang lebih tepat disebutkan di sini adalah apa yang juga disebutkan Al-Baihaqi, dari Al-Hakim dari Abul Hasan Muhammad bin Abdullah Al-Faqih di Marw: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Humaid, telah menceritakan kepada kami Salamah bin Al-Fadhl dari Muhammad bin Ishaq yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Amr bin Umayyah Ad-Dhamri kepada Najasyi dalam urusan Ja’far bin Abi Thalib dan para sahabatnya, dan menuliskan surat bersamanya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Rasulullah kepada Najasyi Al-Ashom raja Habasyah, salam sejahtera bagimu. Sesungguhnya aku memuji kepada engkau Allah sang Raja Yang Maha Suci, Maha Pemberi Keamanan, Maha Pemelihara, dan aku bersaksi bahwa Isa adalah ruh Allah dan kalimat-Nya, yang Dia sampaikan kepada Maryam yang suci, baik dan terpelihara, maka dia mengandung Isa, kemudian Allah menciptakannya dari ruh-Nya dan meniupkannya, sebagaimana Dia menciptakan Adam dengan tangan-Nya dan meniupkannya. Sesungguhnya aku menyerumu kepada Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya, dan loyal dalam ketaatan kepada-Nya, serta mengikutiku dan beriman kepadaku dan kepada apa yang datang kepadaku; karena sesungguhnya aku adalah Rasulullah. Aku telah mengutus kepadamu putra pamanku Ja’far bersama sejumlah kaum muslimin. Jika mereka datang kepadamu maka berilah mereka tempat tinggal, dan tinggalkanlah kesombongan, karena aku menyeru engkau dan tentaramu kepada Allah ‘azza wajalla. Aku telah menyampaikan dan menasihati, maka terimalah nasihatku. Salam sejahtera bagi siapa yang mengikuti petunjuk.” Maka Najasyi menulis balasan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kepada Muhammad Rasulullah dari Najasyi Al-Ashom bin Abjar: Salam sejahtera bagimu wahai Nabiyullah dari Allah serta rahmat Allah dan berkah-Nya. Tiada tuhan selain Dia yang telah membimbingku kepada Islam. Sungguh telah sampai kepadaku suratmu wahai Rasulullah, tentang apa yang engkau sebutkan mengenai Isa. Demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya Isa tidak lebih dari apa yang engkau sebutkan. Kami telah mengetahui apa yang engkau sampaikan kepada kami, dan kami telah memberikan tempat tinggal kepada putra pamanmu dan para sahabatnya. Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah yang benar lagi membenarkan. Aku telah membai’atmu dan membai’at putra pamanmu, serta masuk Islam di tangannya untuk Allah Tuhan semesta alam. Aku telah mengutus kepadamu wahai Nabiyullah, Ariha bin Al-Ashom bin Abjar, karena aku hanya menguasai diriku sendiri. Jika engkau menginginkan aku datang kepadamu, aku akan melakukannya wahai Rasulullah, karena aku bersaksi bahwa apa yang engkau katakan adalah benar.
Mengenai Penyebutan Permusuhan Suku-suku Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib dalam Menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam – dan Persekutuan Mereka di Antara Mereka Melawan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, Bahwa Mereka Tidak akan Menjual kepada Mereka dan Tidak Menikah dengan Mereka, Hingga Mereka Menyerahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta Pengepungan Mereka di Syi’ib (Jurang) Abu Thalib untuk Waktu yang Lama, dan Penulisan Mereka atas Lembaran yang Zalim dan Jahat, dan Apa yang Tampak dalam Semua Itu dari Tanda-tanda Kenabian dan Dalil Kebenaran.
Musa bin Uqbah berkata dari Az-Zuhri: Kemudian kaum musyrikin semakin keras terhadap kaum muslimin seperti yang paling keras pernah mereka lakukan, hingga kaum muslimin mencapai kesulitan, dan kesusahan sangat menimpa mereka. Quraisy bersekongkol dalam tipu daya mereka untuk membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara terang-terangan. Ketika Abu Thalib melihat perbuatan kaum, dia mengumpulkan Bani Abdul Muthalib dan memerintahkan mereka untuk memasukkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke dalam jurang mereka, dan memerintahkan mereka untuk melindunginya dari siapa saja yang hendak membunuhnya. Mereka sepakat atas hal itu, baik yang muslim maupun yang kafir di antara mereka. Ada yang melakukannya karena pembelaan suku, dan ada yang melakukannya karena iman dan keyakinan. Ketika Quraisy mengetahui bahwa kaum tersebut telah melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sepakat atas hal itu, kaum musyrikin dari Quraisy berkumpul dan sepakat untuk tidak bergaul dengan mereka, tidak berjual-beli dengan mereka, dan tidak memasuki rumah-rumah mereka, hingga mereka menyerahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibunuh. Mereka menulis dalam tipu daya mereka sebuah lembaran berisi perjanjian dan sumpah, bahwa mereka tidak akan menerima perdamaian dari Bani Hasyim selamanya, dan tidak akan bersikap kasih sayang kepada mereka, hingga mereka menyerahkannya untuk dibunuh. Bani Hasyim tinggal di jurang mereka selama tiga tahun, dan kesusahan serta kesulitan sangat menimpa mereka. Kaum Quraisy memutus pasar dari mereka, tidak membiarkan makanan yang masuk ke Makkah atau barang dagangan kecuali mereka mendahuluinya dan membelinya; dengan itu mereka bermaksud mencapai tumpahan darah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Thalib, setiap kali orang-orang hendak tidur, memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berbaring di tempat tidurnya; agar terlihat oleh siapa yang bermaksud jahat dan mengintainya. Ketika orang-orang tertidur, dia memerintahkan salah seorang anaknya atau saudaranya atau anak pamannya untuk berbaring di tempat tidur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk datang ke salah satu tempat tidur mereka dan tidur di sana. Ketika memasuki tahun ketiga, beberapa orang dari Bani Abdu Manaf, dari Qushay, dan orang-orang selain mereka dari Quraisy yang dilahirkan oleh wanita-wanita dari Bani Hasyim saling menyalahkan, dan mereka melihat bahwa mereka telah memutuskan hubungan kekerabatan dan meremehkan kebenaran. Mereka sepakat pada malam itu untuk membatalkan apa yang telah mereka perjanjikan berupa pengkhianatan dan berlepas diri darinya. Allah mengutus rayap pada lembaran mereka, sehingga menjilat semua yang ada di dalamnya berupa perjanjian dan sumpah. Dikatakan: Lembaran itu digantung di atap rumah, dan rayap tidak meninggalkan nama Allah di dalamnya kecuali menjilatnya, dan yang tersisa hanyalah yang berisi syirik, kezaliman, dan pemutusan hubungan kekerabatan. Allah ‘azza wajalla memberitahu Rasul-Nya tentang apa yang terjadi pada lembaran mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan hal itu kepada Abu Thalib. Maka Abu Thalib berkata: Tidak, demi bintang-bintang, dia tidak pernah berbohong kepadaku. Maka dia berjalan bersama sekelompok Bani Abdul Muthalib hingga tiba di Masjid saat penuh dengan Quraisy. Ketika mereka melihat Bani Hasyim menuju ke arah mereka, mereka mengingkari hal itu dan menyangka bahwa mereka keluar karena beratnya kesusahan untuk menyerahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka. Maka Abu Thalib berbicara dan berkata: Telah terjadi urusan-urusan di antara kalian yang tidak kami sebutkan kepada kalian. Bawalah lembaran kalian yang kalian perjanjikan. Barangkali akan ada perdamaian antara kami dan kalian. Dia hanya mengatakan itu karena khawatir mereka akan melihat lembaran sebelum membawanya. Maka mereka membawa lembaran mereka dengan bangga, tidak ragu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan diserahkan kepada mereka. Mereka meletakkannya di antara mereka dan berkata: Sudah waktunya bagi kalian untuk menerima dan kembali kepada urusan yang menyatukan kaum kalian, karena yang memisahkan antara kami dan kalian hanyalah satu orang, yang kalian jadikan sebagai taruhan untuk kehancuran kaum dan keluarga kalian serta kerusakan mereka. Maka Abu Thalib berkata: Sesungguhnya aku datang kepada kalian untuk memberikan urusan yang di dalamnya ada keadilan bagi kalian. Sesungguhnya putra saudaraku telah memberitahuku – dan dia tidak pernah berbohong kepadaku – bahwa Allah berlepas diri dari lembaran ini yang ada di tangan kalian, dan menghapus setiap nama-Nya yang ada di dalamnya, serta meninggalkan di dalamnya pengkhianatan kalian, pemutusan hubungan kalian kepada kami, dan kezaliman kalian terhadap kami. Jika berita yang dikatakan putra saudaraku adalah sebagaimana yang dia katakan, maka sadarlah. Demi Allah, kami tidak akan menyerahkan Ahmad selamanya hingga kami mati sampai orang terakhir dari kami. Dan jika yang dia katakan adalah batil, kami akan menyerahkannya kepada kalian, maka kalian membunuhnya atau membiarkannya hidup. Mereka berkata: Kami ridha dengan apa yang engkau katakan. Maka mereka membuka lembaran dan mendapati yang benar lagi dibenarkan shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahu tentangnya. Ketika Quraisy melihat lembaran itu sebagaimana yang dikatakan Abu Thalib, mereka berkata: Demi Allah, ini tidak lain adalah sihir dari temanmu. Maka mereka kembali dan kembali dengan seburuk-buruk keadaan dari kekufuran mereka, dan kesulitan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya, serta menjalankan apa yang telah mereka perjanjikan. Maka sekelompok orang dari Bani Abdul Muthalib berkata: Sesungguhnya yang lebih pantas dengan kebohongan dan sihir adalah selain kami. Bagaimana pendapat kalian? Kami tahu bahwa apa yang kalian sepakati berupa pemutusan hubungan dengan kami lebih dekat kepada kebatilan dan sihir daripada urusan kami. Seandainya kalian tidak bersekongkol dengan sihir, niscaya lembaran kalian tidak rusak padahal ada di tangan kalian. Allah menghapus apa yang ada di dalamnya berupa nama-Nya, dan apa yang ada di dalamnya berupa kezaliman Dia biarkan. Apakah kami yang tukang sihir atau kalian?! Maka pada saat itu sekelompok orang dari Bani Abdu Manaf, Bani Qushay, dan sejumlah orang dari Quraisy yang dilahirkan oleh wanita-wanita dari Bani Hasyim berkata – di antaranya Abu Al-Bakhtari, Al-Muth’im bin Adi, Zuhair bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah, Zam’ah bin Al-Aswad, dan Hisyam bin Amr – dan lembaran itu ada padanya, dia dari Bani Amir bin Lu’ay bersama sejumlah orang dari kalangan bangsawan dan tokoh mereka: Kami berlepas diri dari apa yang ada dalam lembaran ini. Maka Abu Jahal – semoga Allah melaknatnya – berkata: Ini adalah urusan yang diputuskan pada malam hari. Dan Abu Thalib mulai membaca syair tentang lembaran mereka, memuji sekelompok orang yang berlepas diri darinya dan membatalkan apa yang ada di dalamnya berupa perjanjian, serta memuji Najasyi.
Al-Baihaqi berkata: Demikianlah guru kami Abu Abdullah Al-Hafizh meriwayatkan. Yakni melalui jalur dari Ibnu Lahi’ah dari Abul Aswad dari Urwah bin Az-Zubair. Yakni seperti riwayat Musa bin Uqbah rahimahullah. Dan telah disebutkan sebelumnya dari Musa bin Uqbah bahwa dia berkata: Sesungguhnya hijrah ke Habasyah adalah setelah mereka masuk ke jurang atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka dalam hal itu. Wallahu a’lam.
Aku katakan: Yang lebih tepat adalah bahwa Abu Thalib membaca qashidah lamiyah-nya yang telah kami sebutkan sebelumnya, juga setelah mereka masuk ke jurang. Menyebutkannya di sini lebih tepat. Wallahu a’lam.
Kemudian Al-Baihaqi meriwayatkan: melalui jalur Yunus dari Muhammad bin Ishaq yang berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terus melanjutkan apa yang dia diutus dengannya, dan Bani Hasyim serta Bani Abdul Muthalib berdiri membela dia, dan mereka menolak menyerahkannya, padahal mereka dalam penentangan terhadapnya sama seperti kaumnya, kecuali bahwa mereka enggan direndahkan dan menyerahkan saudara mereka atas apa yang dia lakukan terhadap kaumnya. Ketika Bani Hasyim dan Bani Muthalib melakukan itu, dan Quraisy mengetahui bahwa tidak ada jalan kepada Muhammad, mereka sepakat untuk menulis di antara mereka terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib bahwa mereka tidak akan menikah dengan mereka dan tidak menikahkan kepada mereka, tidak berjual beli dengan mereka dan tidak membeli dari mereka. Mereka menulis lembaran dalam hal itu dan menggantungnya di dalam Ka’bah. Kemudian mereka menyerang orang-orang yang masuk Islam, mengikat mereka dan menyakiti mereka. Kesusahan sangat menimpa mereka, dan fitnah menjadi besar, dan mereka diguncang dengan guncangan yang keras. Kemudian dia menyebutkan kisah secara panjang lebar tentang masuknya mereka ke Syi’ib Abu Thalib dan apa yang mereka capai di dalamnya berupa fitnah kesulitan yang berat, hingga terdengar suara anak-anak mereka menangis dari balik jurang karena kelaparan, hingga kebanyakan Quraisy membenci apa yang menimpa mereka dan menampakkan kebencian mereka terhadap lembaran zalim mereka. Mereka menyebutkan bahwa Allah dengan rahmat-Nya mengutus rayap pada lembaran Quraisy, sehingga tidak meninggalkan di dalamnya nama yang untuk Allah kecuali memakannya, dan yang tersisa di dalamnya adalah kezaliman, pemutusan hubungan, dan kebohongan. Maka Allah ta’ala memberitahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang itu, lalu beliau memberitahu pamannya Abu Thalib. Kemudian dia menyebutkan sisa kisah seperti riwayat Musa bin Uqbah dan lebih lengkap.
Ibnu Hisyam berkata dari Ziyad dari Muhammad bin Ishaq: Ketika Quraisy melihat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah tinggal di negeri dan memperoleh keamanan dan ketetapan di dalamnya, dan bahwa Najasyi telah melindungi orang yang berlindung kepadanya dari mereka, dan bahwa Umar telah masuk Islam, maka dia bersama Hamzah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, dan Islam mulai menyebar di suku-suku, maka mereka berkumpul dan bermufakat untuk menulis sebuah tulisan yang mereka perjanjikan di dalamnya terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, bahwa mereka tidak akan menikahkan kepada mereka dan tidak menikahi mereka, tidak menjual sesuatu kepada mereka dan tidak membeli dari mereka. Ketika mereka berkumpul untuk hal itu, mereka menulisnya dalam sebuah lembaran, kemudian saling berjanji dan bersumpah atas itu, kemudian menggantung lembaran itu di dalam Ka’bah sebagai penguatan atas diri mereka. Yang menulis lembaran adalah Manshur bin Ikrimah bin Amir bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay. Ibnu Hisyam berkata: Dikatakan: An-Nadhr bin Al-Harits. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan keburukan atasnya sehingga sebagian jarinya lumpuh. Al-Waqidi berkata: Yang menulis lembaran adalah Thalhah bin Abi Thalhah Al-Abdari.
Aku katakan: Yang masyhur adalah bahwa Manshur bin Ikrimah sebagaimana disebutkan Ibnu Ishaq, dan dialah yang tangannya lumpuh sehingga tidak bisa dimanfaatkan. Quraisy berkata di antara mereka: Lihatlah Manshur bin Ikrimah. Al-Waqidi berkata: Lembaran itu digantung di dalam Ka’bah.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika Quraisy melakukan itu, Bani Hasyim dan Bani Muthalib menyendiri bersama Abu Thalib, maka mereka masuk bersamanya ke dalam jurangnya dan berkumpul bersamanya. Dari Bani Hasyim keluar Abu Lahab Abdul Uzza bin Abdul Muthalib kepada Quraisy, dan dia membantu mereka. Husain bin Abdullah menceritakan kepadaku bahwa Abu Lahab bertemu Hindun binti Utbah bin Rabi’ah ketika dia meninggalkan kaumnya dan membantu Quraisy melawan mereka. Dia berkata: Wahai putri Utbah, apakah engkau telah menolong Lata dan Uzza, dan meninggalkan orang yang meninggalkannya serta membantu melawannya? Dia menjawab: Ya, maka semoga Allah membalasmu dengan kebaikan wahai Abu Utbah.
Ibnu Ishaq berkata: Aku diceritakan bahwa dia berkata dalam sebagian ucapannya: Muhammad menjanjikanku hal-hal yang tidak aku lihat, dia mengklaim bahwa hal-hal itu akan terjadi setelah kematian. Lalu apa yang telah diletakkan di tanganku setelah itu. Kemudian dia meniup kedua tangannya dan berkata: Celakalah kalian berdua, aku tidak melihat pada kalian berdua sesuatu dari apa yang Muhammad katakan. Maka Allah ta’ala menurunkan: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (Al-Masad: 1)
Ibnu Ishaq berkata: Ketika Quraisy berkumpul atas hal itu dan melakukan apa yang mereka lakukan, Abu Thalib berkata:
Sampaikan dariku pada yang memiliki hubungan antara kita … kepada Lu’ay dan khususnya dari Lu’ay Bani Ka’b Tidakkah kalian tahu bahwa kami mendapati Muhammad … seorang nabi seperti Musa yang tertulis di awal kitab Dan bahwa atas dia pada manusia ada kecintaan … dan tidak ada kebaikan dari orang yang Allah khususkan dengan cinta Dan bahwa apa yang kalian tempelkan dari tulisan kalian … akan menjadi kesialan bagi kalian seperti unta betina yang meraung Sadarlah sadarlah sebelum tanah digali … dan menjadi orang yang tidak berbuat dosa seperti yang berdosa Dan jangan ikuti perintah para pengadu dan memutuskan … hubungan kita setelah kasih sayang dan kedekatan Dan kalian meminta perang yang berulang dan terkadang … pahit bagi siapa yang merasakannya susu perang Kami bukanlah demi Tuhan Ka’bah akan menyerahkan Ahmad … untuk kemuliaan dari gigitan zaman dan tidak kesulitan Dan belum jelas dari kami dan dari kalian pihak … dan tangan-tangan yang menebas dengan pedang yang terhunus Di tempat sempit kalian lihat patahan tombak … di sana dan burung nasar yang besar mengerumuni seperti yang minum Seakan-akan medan kuda di sudut-sudutnya … dan kegaduhan para pahlawan adalah medan perang Bukankah ayah kami Hasyim mengikat pinggangnya … dan mewasiatkan anak-anaknya dengan tikaman dan pukulan Dan kami tidak bosan dengan perang hingga dia bosan dengan kami … dan kami tidak mengeluh apa yang menimpa dari kesusahan Tetapi kami adalah ahli kehormatan dan akal … ketika terbang jiwa para pemberani dari ketakutan
Berkata Ibnu Ishaq: Mereka tetap dalam keadaan seperti itu selama dua atau tiga tahun, hingga mereka mengalami kesulitan berat, dan tidak ada sesuatu pun yang sampai kepada mereka kecuali secara diam-diam, disembunyikan oleh orang-orang Quraisy yang ingin menyampaikan bantuan kepada mereka. Abu Jahal bin Hisyam – menurut yang diceritakan – pernah bertemu dengan Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad yang membawa seorang budak yang mengangkut gandum, hendak diantarkan kepada bibinya, Khadijah binti Khuwailid, yang berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bersamanya di Syi’ib (lembah). Maka Abu Jahal mencegat dan berkata: “Kau mau membawa makanan kepada Bani Hasyim?! Demi Allah, kau dan makananmu tidak akan pergi hingga aku mempermalukanmu di Mekah.” Kemudian datanglah Abu al-Bakhtari bin Hisyam bin al-Harits bin Asad dan berkata: “Ada apa denganmu dan dia?” Abu Jahal menjawab: “Dia membawa makanan kepada Bani Hasyim.” Maka Abu al-Bakhtari berkata kepadanya: “Makanan itu milik bibinya yang ada padanya, bibinya mengirim utusan kepadanya. Apakah kau melarangnya mengantarkan makanan bibinya?! Lepaskan orang ini.” Namun Abu Jahal – semoga Allah melaknatnya – menolak hingga keduanya saling menyakiti. Maka Abu al-Bakhtari mengambil tulang rahang unta lalu memukulnya sehingga luka dan menginjaknya dengan keras, sementara Hamzah bin Abdul Muththalib berada di dekat sana dan melihat kejadian itu. Mereka tidak suka jika hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya sehingga mereka bergembira (melihat penderitaan kaum muslimin). Sementara itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terus menyeru kaumnya siang dan malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, menyerukan perintah Allah Ta’ala, tidak takut kepada siapa pun dari manusia. Maka ketika Allah melindunginya dari mereka, dan pamannya serta kaumnya dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib membela dan menghalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan berupa penyerangan terhadap beliau, kaum Quraisy mulai mencela, mengejek, dan membantahnya. Al-Quran pun turun tentang Quraisy menyangkut kejadian-kejadian mereka, dan tentang orang-orang yang memusuhi beliau, di antara mereka ada yang disebutkan namanya bagi kita, dan di antara mereka ada yang turun Al-Quran tentangnya secara umum dari orang-orang kafir yang disebutkan Allah.
Ibnu Ishaq menyebutkan Abu Lahab dan turunnya surah tentangnya, dan Umayyah bin Khalaf dengan turunnya firman Allah Ta’ala: “Celakalah setiap pengumpat lagi pencela.” (Surat al-Humazah: 1) Seluruh surah tentangnya. Dan al-Ash bin Wail dengan turunnya firman Allah Ta’ala: “Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan dia berkata: ‘Aku pasti akan diberi harta dan anak.'” (Surat Maryam: 77). Sebagian dari hal itu telah disebutkan sebelumnya. Dan Abu Jahal bin Hisyam yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tinggalkanlah mencela tuhan-tuhan kami, atau kami akan mencela tuhanmu.” Maka turunlah firman Allah tentangnya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (Surat al-An’am: 108). Dan an-Nadhr bin al-Harits bin Kaldah bin ‘Alqamah – ada yang mengatakan: ‘Alqamah bin Kaldah, demikian menurut as-Suhaili – yang duduk setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di majlis-majlis beliau, di mana beliau membacakan Al-Quran dan menyeru kepada Allah. Lalu an-Nadhr membacakan kepada mereka kisah-kisah Rustam dan Isfandiyar dan peperangan yang terjadi antara keduanya di zaman Persia, kemudian berkata: “Demi Allah, Muhammad tidak lebih baik ceritanya dariku, dan ceritanya tidak lain adalah dongeng orang-orang terdahulu yang ia tulis sebagaimana aku menulisnya.” Maka Allah Ta’ala menurunkan: “Dan mereka berkata: ‘Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, ia minta dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.'” (Surat al-Furqan: 5) Dan firman-Nya: “Celakalah bagi setiap pendusta lagi banyak berdosa.” (Surat al-Jatsiyah: 7)
Berkata Ibnu Ishaq: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam – menurut yang sampai kepada kami – suatu hari duduk bersama al-Walid bin al-Mughirah di Masjid (al-Haram). Kemudian datanglah an-Nadhr bin al-Harits hingga duduk bersama mereka, dan di majlis itu ada lebih dari satu orang laki-laki Quraisy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara, lalu an-Nadhr menghadapinya dan berbicara dengannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawabnya hingga membungkamnya. Kemudian beliau membacakan kepada mereka: “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Sekiranya mereka (yang disembah itu) adalah tuhan-tuhan, tentu mereka tidak masuk ke dalamnya. Dan semuanya kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalamnya dan mereka tidak dapat mendengar.” (Surat al-Anbiya: 98-100). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan datanglah Abdullah bin az-Zib’ara as-Sahmi hingga duduk. Maka al-Walid bin al-Mughirah berkata kepadanya: “Demi Allah, an-Nadhr bin al-Harits tidak mampu melawan Ibnu Abdul Muththalib tadi dan tidak mampu bertahan. Muhammad telah mengatakan bahwa kita dan tuhan-tuhan yang kami sembah ini adalah umpan Jahannam.” Maka Abdullah bin az-Zib’ara berkata: “Demi Allah, seandainya aku menemuinya, pasti aku akan membantahnya. Tanyakan kepada Muhammad: Apakah semua yang kami sembah selain Allah menjadi umpan Jahannam bersama orang yang menyembahnya? Kami menyembah malaikat, orang Yahudi menyembah Uzair, dan orang Nasrani menyembah Isa.” Maka al-Walid dan yang bersamanya di majlis itu kagum dengan perkataan Ibnu az-Zib’ara dan mereka menganggap bahwa dia telah berargumen dan berdebat dengan baik. Hal itu disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Setiap yang senang disembah selain Allah, maka dia bersama orang yang menyembahnya. Sesungguhnya mereka hanya menyembah setan-setan dan siapa yang diperintahkan untuk disembah.” Maka Allah Ta’ala menurunkan: “Sesungguhnya orang-orang yang telah ada ketetapan baik dari Kami, mereka dijauhkan dari neraka itu. Mereka tidak mendengar sedikitpun suara neraka itu dan mereka kekal dalam apa yang diinginkan oleh jiwa mereka.” (Surat al-Anbiya: 101-102) Yakni Isa, Uzair, dan siapa yang disembah dari kalangan pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang menjalani ketaatan kepada Allah Ta’ala. Dan turun mengenai perkataan mereka bahwa mereka menyembah malaikat dan bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah: “Dan mereka berkata: ‘Allah Yang Maha Pemurah mengambil anak.’ Maha Suci Dia, bahkan mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan.” (Surat al-Anbiya: 26) Dan ayat-ayat setelahnya. Dan turun tentang kekaguman orang-orang musyrik terhadap perkataan Ibnu az-Zib’ara: “Dan ketika Putra Maryam dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu bersorak karenanya. Dan mereka berkata: ‘Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan kami atau dia?’ Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan untuk membantah saja, bahkan mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Surat az-Zukhruf: 57-58).
Perdebatan yang mereka tempuh ini batil, dan mereka mengetahui hal itu, karena mereka adalah orang Arab dan dalam bahasa mereka kata “ma” (apa) digunakan untuk yang tidak berakal. Maka firman-Nya: “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” Yang dimaksud dengan itu hanyalah batu-batu yang mereka sembah berupa patung-patung berhala, dan tidak mencakup malaikat yang mereka anggap disembah dalam bentuk-bentuk ini, tidak pula al-Masih, Uzair, atau siapa pun dari orang-orang shalih, karena lafazh itu tidak mencakup mereka, baik secara lafazh maupun makna. Maka mereka mengetahui bahwa perumpamaan yang mereka buat dengan Isa bin Maryam adalah perdebatan batil, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan untuk membantah saja, bahkan mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” Kemudian Allah berfirman: “Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya” (Surat az-Zukhruf: 59) yakni dengan kenabian Kami, “dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti bagi Bani Israil” yakni bukti atas kesempurnaan kekuasaan Kami atas apa yang Kami kehendaki, di mana Kami menciptakannya dari seorang perempuan tanpa laki-laki. Dan Kami telah menciptakan Hawa dari laki-laki tanpa perempuan, dan Kami menciptakan Adam tidak dari yang ini dan tidak dari yang itu, dan Kami menciptakan seluruh Bani Adam dari laki-laki dan perempuan. Sebagaimana firman-Nya dalam ayat lain: “dan agar Kami menjadikannya sebagai tanda bagi manusia” yakni pertanda dan bukti atas kekuasaan Kami yang nyata “dan sebagai rahmat dari Kami” (Surat Maryam: 21), Kami merahmati dengan itu siapa yang Kami kehendaki.
Ibnu Ishaq menyebutkan al-Akhnas bin Syariq dan turunnya firman Allah Ta’ala tentangnya: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina.” (Surat al-Qalam: 10) dan ayat-ayat selanjutnya. Dan menyebutkan al-Walid bin al-Mughirah ketika berkata: “Diturunkan (wahyu) kepada Muhammad, sedangkan aku ditinggalkan, padahal aku adalah pembesar Quraisy dan pemimpinnya, dan Abu Mas’ud ‘Amr bin ‘Umair ats-Tsaqafi pemimpin Tsaqif juga ditinggalkan?! Kami adalah tokoh besar dua negeri ini.” Maka turunlah firman Allah Ta’ala tentangnya: “Dan mereka berkata: ‘Mengapa Al-Quran ini tidak diturunkan kepada orang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?'” (Surat az-Zukhruf: 31) dan ayat setelahnya. Dan menyebutkan Ubay bin Khalaf ketika berkata kepada ‘Uqbah bin Abi Mu’aith: “Bukankah telah sampai kepadaku bahwa kamu duduk bersama Muhammad dan mendengarkan darinya? Wajahku dari wajahmu haram (aku bermusuhan denganmu), kecuali jika kamu meludahi wajahnya.” Maka ‘Uqbah, musuh Allah, melakukan hal itu – semoga Allah melaknatnya. Maka Allah menurunkan: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).'” (Surat al-Furqan: 27-28) dan ayat setelahnya. Ia berkata: Ubay bin Khalaf membawa tulang yang telah lapuk, lalu berkata: “Wahai Muhammad, apakah kau mengira bahwa Allah akan membangkitkan ini setelah lapuk?!” Kemudian dia meremasnya dengan tangannya, lalu meniupnya ke arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau bersabda: “Ya, aku mengatakan demikian, Allah akan membangkitkannya dan engkau setelah kalian menjadi seperti ini, kemudian memasukkanmu ke dalam neraka.” Dan Allah Ta’ala menurunkan: “Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?’ Katakanlah: ‘Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.'” (Surat Yasin: 78-79) hingga akhir surah.
Ia berkata: Menghadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam – menurut yang sampai kepadaku – ketika beliau thawaf di dekat pintu Ka’bah, al-Aswad bin al-Muththalib, al-Walid bin al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan al-Ash bin Wail, lalu mereka berkata: “Wahai Muhammad, marilah kami menyembah apa yang kau sembah, dan kau menyembah apa yang kami sembah, maka kita bersekutu, kami dan kau dalam urusan ini.” Maka Allah menurunkan tentang mereka: “Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.'” (Surat al-Kafirun: 1-2) hingga akhirnya. Dan ketika Abu Jahal mendengar tentang pohon Zaqqum, ia berkata: “Tahukah kalian apa itu Zaqqum? Yaitu kurma yang dicampur dengan mentega.” Kemudian berkata: “Mari kita makan Zaqqum!” Maka Allah Ta’ala menurunkan: “Sesungguhnya pohon Zaqqum itu, makanan orang yang banyak dosa.” (Surat ad-Dukhan: 43-44). Ia berkata: Al-Walid bin al-Mughirah berdiri dan berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara dengannya, dan beliau berharap dia akan masuk Islam. Lalu lewatlah Ibnu Ummi Maktum – ‘Atikah binti Abdullah bin ‘Ankatshah – yang buta, dan ia berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan terus meminta beliau membacakan Al-Quran. Hal itu menyulitkan beliau hingga membuat beliau jengkel, karena hal itu menyibukkan beliau dari urusan al-Walid dan harapan akan keislamannya. Maka ketika ia terlalu banyak meminta, beliau berpaling darinya dengan bermuka masam dan meninggalkannya. Maka Allah Ta’ala menurunkan: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.” (Surat ‘Abasa: 1-2) hingga firman-Nya: “(tertulis) dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan.” (Surat ‘Abasa: 14). Dan ada yang mengatakan: Orang yang sedang diajak bicara oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Ibnu Ummi Maktum datang adalah Umayyah bin Khalaf. Wallahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui).
Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan orang-orang yang kembali dari hijrah ke Habasyah ke Mekah, yaitu ketika sampai kepada mereka berita tentang keislaman penduduk Mekah, padahal berita itu tidak benar, tetapi ada sebabnya, yaitu apa yang shahih dalam Shahih dan selainnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari duduk bersama orang-orang musyrik, dan Allah menurunkan kepadanya: “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.” (Surat an-Najm: 1-2) Beliau membacakannya kepada mereka hingga selesai dan bersujud, maka bersujudlah orang-orang yang ada di sana dari kaum muslimin, musyrikin, jin, dan manusia. Dan hal itu mempunyai sebab yang disebutkan oleh banyak mufassir pada firman Allah Ta’ala: “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia menyampaikan sesuatu (wahyu) setan melemparkan (sesuatu) ke dalam bacaannya itu, lalu Allah menghapuskan apa yang dilemparkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat al-Hajj: 52). Dan mereka menyebutkan kisah Gharaniq. Kami lebih suka tidak menyebutkannya agar tidak didengar oleh orang yang tidak menempatkannya pada tempatnya yang benar, kecuali bahwa asal kisah itu ada dalam Shahih.
Berkata al-Bukhari: Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Abdul Warits, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersujud pada (surat) an-Najm, dan bersujud bersamanya kaum muslimin, musyrikin, jin, dan manusia. Diriwayatkan sendiri oleh al-Bukhari tanpa Muslim.
Dan berkata al-Bukhari: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ghundar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaq, ia berkata: Aku mendengar al-Aswad dari Abdullah, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca (surat) an-Najm di Mekah, lalu bersujud di dalamnya, dan bersujud orang-orang yang bersamanya kecuali seorang syaikh yang mengambil segenggam kerikil atau tanah, lalu mengangkatnya ke dahinya, dan berkata: Ini cukup bagiku. Maka aku melihatnya setelah itu terbunuh dalam keadaan kafir. Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i dari hadits Syu’bah.
Dan berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Rabbah, dari Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari ‘Ikrimah bin Khalid, dari Ja’far bin al-Muththalib bin Abi Wada’ah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca di Mekah surat an-Najm, lalu bersujud, dan bersujud orang-orang yang di sisinya, maka aku mengangkat kepalaku dan menolak untuk bersujud, dan al-Muththalib belum masuk Islam pada hari itu. Setelah itu ia tidak mendengar seorang pun membacanya kecuali ia bersujud bersamanya. Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari Abdul Malik bin Abdul Hamid dari Ahmad bin Hanbal dengannya. Dapat digabungkan antara hadits ini dan yang sebelumnya, bahwa orang ini bersujud tetapi mengangkat kepalanya karena sombong, sedangkan syaikh yang dikecualikan oleh Ibnu Mas’ud sama sekali tidak bersujud. Wallahu a’lam.
Yang dimaksud adalah bahwa orang yang menyampaikan berita ketika melihat orang-orang musyrik bersujud mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meyakini bahwa mereka telah masuk Islam dan berdamai dengan beliau, dan tidak ada lagi perselisihan antara mereka. Maka tersebarlah berita itu hingga sampai kepada orang-orang yang berhijrah ke Habasyah di sana, dan mereka mengira bahwa berita itu benar. Maka kembali sebagian dari mereka dengan mengharapkan hal itu, dan sebagian tetap tinggal, dan keduanya berbuat baik dan benar dalam apa yang mereka lakukan. Ibnu Ishaq menyebutkan nama-nama orang yang kembali dari mereka: Utsman bin ‘Affan dan istrinya Ruqayyah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah dan istrinya Sahlah binti Suhail, Abdullah bin Jahsy bin Ri’ab, ‘Utbah bin Ghazwan, az-Zubair bin al-‘Awwam, Mush’ab bin ‘Umair, Suwaibit bin Sa’d, Thulaib bin ‘Umair, Abdurrahman bin ‘Auf, al-Miqdad bin ‘Amr, Abdullah bin Mas’ud, Abu Salamah bin Abdul Asad dan istrinya Ummu Salamah binti Abi Umayyah bin al-Mughirah, Syammas bin Utsman, Salamah bin Hisyam, ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah – keduanya ditahan di Mekah hingga berlalu perang Badar, Uhud, dan Khandaq – ‘Ammar bin Yasir – dia termasuk yang diragukan apakah keluar ke Habasyah atau tidak – Mu’attib bin ‘Auf, Utsman bin Mazh’un dan putranya as-Sa’ib serta dua saudaranya Qudamah dan Abdullah putra Mazh’un, Khunais bin Hudzafah, Hisyam bin al-Ash bin Wail – ia ditahan di Mekah hingga setelah Khandaq – ‘Amir bin Rabi’ah dan istrinya Laila binti Abi Hatsimah, Abdullah bin Makhramah, Abdullah bin Suhail bin ‘Amr – ia ditahan hingga hari Badar lalu bergabung dengan kaum muslimin dan menyaksikan Badar bersama mereka – Abu Sabrah bin Abi Ruhm dan istrinya Ummu Kultsum binti Suhail, as-Sakran bin ‘Amr bin Abdu Syams dan istrinya Saudah binti Zam’ah – ia meninggal di Mekah sebelum hijrah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi istrinya – Sa’d bin Khaulah, Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, ‘Amr bin al-Harits bin Zuhair, Suhail bin Baidha’, dan ‘Amr bin Abi Sarh. Jumlah mereka seluruhnya tiga puluh tiga orang, semoga Allah meridhai mereka.
Dan berkata al-Bukhari: Hijrah ke Habasyah. Dan ‘Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperlihatkan negeri hijrah kalian yang mempunyai pohon kurma di antara dua dataran berbatu.” Maka berhijrahlah orang-orang yang berhijrah sebelum (hijrah ke) Madinah, dan kembali kebanyakan orang yang telah berhijrah ke Habasyah ke Madinah. Di dalamnya dari Abu Musa dan Asma’ semoga Allah meridhai keduanya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Hadits Abu Musa telah disebutkan sebelumnya dan ada dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim). Dan akan disebutkan hadits Asma’ binti ‘Umais setelah pembukaan Khaibar ketika datang orang-orang yang terlambat dari hijrah Habasyah, insya Allah, dan kepada-Nya kita percaya.
Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Sulaiman dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah, ia berkata: Kami pernah mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat, maka beliau membalas salam kami. Namun ketika kami kembali dari sisi raja Najasyi, kami mengucapkan salam kepadanya tetapi beliau tidak membalasnya. Maka kami bertanya: “Wahai Rasulullah, kami pernah mengucapkan salam kepadamu lalu engkau membalasnya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dalam shalat itu ada kesibukan.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa’i dari jalur-jalur lain dari Sulaiman bin Mihran dari Al-A’masy dengannya. Hadits ini menguatkan takwil dari orang yang menta’wilkan hadits Zaid bin Arqam yang shahih dalam Shahihain: Kami pernah berbicara dalam shalat hingga turunlah firman Allah “Dan berdirilah karena Allah dengan khusyuk” (Al-Baqarah: 238), maka kami diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara. Maksudnya adalah para sahabat secara umum, karena Zaid adalah orang Anshar Madinah, sedangkan pengharaman berbicara dalam shalat telah ditetapkan di Makkah, maka harus dipahami sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Adapun penyebutan ayat yang merupakan ayat Madaniyah itu merupakan hal yang musykil, mungkin ia menyangka bahwa ayat itulah yang mengharamkan hal tersebut, padahal yang mengharamkannya adalah ayat lain bersamanya. Wallahu a’lam.
Ibnu Ishaq berkata: Di antara orang yang masuk bersama mereka dengan perlindungan adalah: Utsman bin Mazh’un dalam perlindungan Al-Walid bin Al-Mughirah, dan Abu Salamah bin Abdul Asad dalam perlindungan pamannya Abu Thalib, karena ibunya adalah Barrah binti Abdul Muthalib. Adapun Utsman bin Mazh’un, Shalih bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf menceritakan kepadaku dari orang yang menceritakan kepadanya dari Utsman, ia berkata: Ketika Utsman bin Mazh’un melihat apa yang dialami sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari cobaan, sementara ia pergi pagi dan petang dalam keamanan dari Al-Walid bin Al-Mughirah, ia berkata: “Demi Allah, pergi pagi dan petang aku dalam keamanan dalam perlindungan seorang laki-laki dari golongan musyrikin, sementara sahabat-sahabatku dan penganut agamaku mengalami cobaan dan gangguan karena Allah yang tidak menimpaku, sungguh ini adalah kekurangan besar dalam diriku.” Maka ia mendatangi Al-Walid bin Al-Mughirah dan berkata kepadanya: “Wahai Abu Abdi Syams, engkau telah memenuhi jaminanmu, aku kembalikan perlindunganmu kepadamu.” Al-Walid berkata: “Mengapa wahai keponakanku? Apakah ada seseorang dari kaumku yang mengganggumu?” Utsman menjawab: “Tidak, tetapi aku ridha dengan perlindungan Allah Azza wa Jalla, dan aku tidak ingin meminta perlindungan kepada selain-Nya.” Al-Walid berkata: “Kalau begitu pergilah ke masjid, kembalikanlah perlindunganku secara terbuka sebagaimana aku memberikan perlindungan kepadamu secara terbuka.” Ia berkata: Maka keduanya pergi hingga sampai ke masjid. Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: “Ini Utsman telah datang mengembalikan perlindunganku kepadaku.” Utsman berkata: “Benar, aku mendapatinya setia dan mulia dalam memberi perlindungan, tetapi aku suka untuk tidak meminta perlindungan kepada selain Allah, maka aku kembalikan perlindungannya kepadanya.”
Kemudian Utsman radhiyallahu anhu pergi, sementara Labid bin Rabi’ah bin Malik bin Ja’far bin Kilab sedang membacakan syairnya di majelis Quraisy, maka Utsman duduk bersama mereka. Labid berkata:
Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil
Utsman berkata: “Engkau benar.” Labid berkata:
Dan setiap kenikmatan pasti akan lenyap
Utsman berkata: “Engkau bohong, kenikmatan surga tidak akan lenyap.” Labid berkata: “Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, teman dudukmu tidak pernah diganggu, sejak kapan hal ini terjadi di kalangan kalian?” Seorang laki-laki dari kaum itu berkata: “Sesungguhnya ini adalah orang bodoh di antara orang-orang bodoh bersamanya, mereka telah meninggalkan agama kami, maka janganlah engkau bersedih karena ucapannya.” Utsman membalas perkataannya hingga memanas perdebatan keduanya. Maka berdirilah laki-laki itu kepada Utsman dan menampar matanya hingga lebam. Al-Walid bin Al-Mughirah yang dekat melihat apa yang menimpa Utsman lalu berkata: “Demi Allah wahai keponakanku, sesungguhnya matamu itu sejahtera dari apa yang menimpanya, dan sungguh engkau berada dalam perlindungan yang kokoh.” Utsman berkata: “Bahkan demi Allah sesungguhnya mataku yang sehat ini sangat membutuhkan seperti apa yang menimpa saudaranya karena Allah, dan sesungguhnya aku berada dalam perlindungan yang lebih mulia dan lebih berkuasa darimu wahai Abu Abdi Syams.” Al-Walid berkata kepadanya: “Mari wahai keponakanku, jika engkau mau kembali ke perlindunganmu.” Utsman menjawab: “Tidak.”
Ibnu Ishaq berkata: Adapun Abu Salamah bin Abdul Asad, ayahku Ishaq bin Yasar menceritakan kepadaku dari Salamah bin Abdullah bin Umar bin Abi Salamah bahwa ia menceritakan kepadanya bahwa ketika Abu Salamah meminta perlindungan kepada Abu Thalib, beberapa orang laki-laki dari Bani Makhzum mendatanginya dan berkata kepadanya: “Wahai Abu Thalib, engkau telah melindungi dari kami anak saudaramu Muhammad, lalu apa urusanmu dengan sahabat kami engkau melindunginya dari kami?” Abu Thalib berkata: “Sesungguhnya ia meminta perlindungan kepadaku dan ia adalah anak saudaraku perempuan, jika aku tidak melindungi anak saudaraku perempuan, maka aku tidak akan melindungi anak saudaraku laki-laki.” Maka berdirilah Abu Lahab dan berkata: “Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah kalian telah terlalu banyak mengganggu orang tua ini, kalian tidak henti-hentinya menyerang orang yang ia lindungi di antara kaumnya. Demi Allah kalian harus berhenti atau kami akan berdiri bersamanya dalam setiap yang ia lakukan, hingga ia mencapai apa yang ia inginkan.” Mereka berkata: “Kami akan meninggalkan apa yang engkau benci wahai Abu Utbah.” Dan ia adalah wali dan penolong mereka terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka tetap pada hal itu, maka Abu Thalib berharap kepadanya ketika mendengar ucapannya itu, dan berharap ia akan berdiri bersamanya dalam urusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka Abu Thalib berkata untuk mendorong Abu Lahab agar menolongnya dan menolong Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
Sesungguhnya seorang laki-laki yang Abu Utaibah adalah pamannya berada dalam taman yang tidak akan didzalimi Aku berkata kepadanya dan nasihatku darinya: Wahai Abu Mu’tib, tegakkanlah pilarmu dengan berdiri Dan janganlah engkau menerima selamanya selama engkau hidup suatu langkah yang engkau akan dicela karenanya di manapun engkau berada di tempat-tempat berkumpul Dan palingkanlah jalan kelemahan kepada selain engkau dari mereka, karena sesungguhnya engkau tidak diciptakan menjadi orang lemah yang tidak berdaya Dan berperanglah karena sesungguhnya perang adalah nasib, dan engkau tidak akan melihat saudara perang memberikan kehinaan hingga ia berdamai Dan bagaimana mungkin mereka tidak melakukan kezaliman besar terhadapmu, dan mereka tidak mengecewakanmu baik dalam kemenangan maupun kekalahan Semoga Allah memberi balasan kepada kita dari Abdu Syams dan Naufal, dan Taim dan Makhzum dengan kedurhakaan dan dosa Dengan memecah belah setelah kasih sayang dan persatuan, jamaah kami agar mereka dapat mencapai yang haram
Kalian bohong, demi Ka’bah, kami tidak akan membiarkan Muhammad dihinakan, hingga kalian melihat hari dimana kami berdiri di bukit
Ibnu Hisyam berkata: Dan tersisa darinya satu bait yang kami tinggalkan.
Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq Berniat Hijrah ke Habasyah
Ibnu Ishaq berkata: Dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, sebagaimana diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Muslim Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah, ketika Makkah menjadi sempit baginya, dan ia mendapat gangguan di dalamnya, dan ia melihat pengepungan Quraisy terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, meminta izin kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk berhijrah, maka beliau mengizinkannya. Maka keluarlah Abu Bakar radhiyallahu anhu berhijrah, hingga ketika ia telah berjalan dari Makkah satu atau dua hari, ia bertemu dengan Ibnu Ad-Daghnah, saudara Bani Al-Harits bin Bakr bin Abdul Manah bin Kinanah, dan ia pada saat itu adalah pemimpin Al-Ahabisy. Al-Waqidi berkata: Namanya adalah Al-Harits bin Yazid, salah seorang dari Bani Bakr dari Abdul Manah bin Kinanah. As-Suhaili berkata: Namanya adalah Malik. Ibnu Ad-Daghnah bertanya: “Mau kemana wahai Abu Bakar?” Ia menjawab: “Kaumku telah mengusirku, menggangguku, dan mempersempit hidupku.” Ibnu Ad-Daghnah berkata: “Mengapa? Demi Allah, sesungguhnya engkau menghiasi kabilah, menolong dalam kesusahan, melakukan kebaikan, dan memberikan yang tidak ada. Kembalilah, engkau dalam perlindunganku.” Maka ia kembali bersamanya hingga ketika memasuki Makkah, Ibnu Ad-Daghnah berdiri dan berkata: “Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Ibnu Abi Quhafah, maka janganlah ada seorang pun yang mengganggunya kecuali dengan kebaikan.” Aisyah berkata: Maka mereka menahan diri darinya.
Aisyah berkata: Dan Abu Bakar memiliki musala di dekat pintu rumahnya di Bani Jumah, ia shalat di dalamnya, dan ia adalah seorang laki-laki yang lemah lembut, jika membaca Al-Qur’an ia menangis. Aisyah berkata: Maka berdiri di dekatnya anak-anak, budak-budak, dan wanita-wanita, mereka kagum dengan apa yang mereka lihat dari keadaannya. Aisyah berkata: Maka datanglah beberapa laki-laki dari Quraisy kepada Ibnu Ad-Daghnah dan berkata: “Wahai Ibnu Ad-Daghnah, sesungguhnya engkau tidak memberikan perlindungan kepada laki-laki ini untuk menganggu kami. Sesungguhnya ia adalah seorang laki-laki yang jika shalat dan membaca apa yang dibawa oleh Muhammad, ia menjadi lemah lembut, dan ia memiliki penampilan dan cara, maka kami khawatir terhadap anak-anak kami, istri-istri kami, dan orang-orang lemah kami bahwa ia akan memfitnah mereka. Maka datangilah ia dan perintahkanlah ia agar masuk ke dalam rumahnya, ia boleh melakukan apa yang ia mau di dalamnya.” Aisyah berkata: Maka Ibnu Ad-Daghnah mendatanginya dan berkata: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya aku tidak memberikan perlindungan kepadamu untuk mengganggu kaummu, dan mereka tidak suka tempatmu yang sekarang, dan mereka terganggu dengan hal itu darimu. Maka masuklah ke dalam rumahmu dan lakukanlah apa yang engkau sukai di dalamnya.” Abu Bakar berkata: “Atau aku kembalikan perlindunganmu kepadamu dan aku ridha dengan perlindungan Allah.” Ibnu Ad-Daghnah berkata: “Kembalikanlah perlindunganku kepadaku.” Abu Bakar berkata: “Aku telah mengembalikannya kepadamu.” Aisyah berkata: Maka berdirilah Ibnu Ad-Daghnah dan berkata: “Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya Ibnu Abi Quhafah telah mengembalikan perlindunganku kepadaku, maka uruslah sahabat kalian.”
Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini tersendiri, dan di dalamnya ada tambahan yang baik. Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami Al-Laits dari Uqail, Ibnu Syihab berkata: Telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Az-Zubair bahwa Aisyah istri Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: Aku tidak ingat kedua orang tuaku kecuali keduanya menganut agama ini, dan tidak lewat sehari atas kami kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang kepada kami pada dua waktu di siang hari, pagi dan petang. Ketika kaum muslimin diuji, keluarlah Abu Bakar berhijrah menuju negeri Habasyah, hingga ketika sampai di Bark Al-Ghimad, ia bertemu dengan Ibnu Ad-Daghnah yang merupakan pemimpin Al-Qarah. Ibnu Ad-Daghnah bertanya: Mau kemana wahai Abu Bakar? Abu Bakar menjawab: Kaumku telah mengusirku, maka aku ingin berjalan di bumi dan menyembah Tuhanku. Ibnu Ad-Daghnah berkata: Sesungguhnya orang sepertimu wahai Abu Bakar tidak keluar dan orang sepertimu tidak dikeluarkan. Sesungguhnya engkau memberikan yang tidak ada, menyambung silaturahmi, memikul beban, memuliakan tamu, dan menolong dalam berbagai kebenaran. Maka aku adalah pelindungmu, kembalilah dan sembahlah Tuhanmu di negerimu. Maka ia kembali dan berangkat bersamanya Ibnu Ad-Daghnah. Ibnu Ad-Daghnah berkeliling di petang hari kepada pembesar-pembesar Quraisy dan berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Abu Bakar tidak keluar orang sepertinya dan tidak dikeluarkan. Apakah kalian mengusir seorang laki-laki yang memberikan yang tidak ada, menyambung silaturahmi, memikul beban, memuliakan tamu, dan menolong dalam berbagai kebenaran?!” Maka Quraisy tidak mendustakan perlindungan Ibnu Ad-Daghnah dan berkata kepada Ibnu Ad-Daghnah: “Perintahkanlah Abu Bakar agar menyembah Tuhannya di rumahnya, dan hendaklah ia shalat di dalamnya dan membaca apa yang ia mau, dan janganlah ia mengganggu kami dengan hal itu, dan janganlah ia melakukannya secara terbuka, karena kami khawatir ia akan memfitnah wanita-wanita dan anak-anak kami.”
Ibnu Ad-Daghnah menyampaikan hal itu kepada Abu Bakar. Maka Abu Bakar tinggal dengan hal itu, ia menyembah Tuhannya di rumahnya, tidak melakukan shalatnya secara terbuka, dan tidak membaca di luar rumahnya. Kemudian terlintas di benak Abu Bakar maka ia membangun musala di halaman rumahnya, ia shalat di dalamnya dan membaca Al-Qur’an. Maka wanita-wanita musyrikin dan anak-anak mereka berkerumun di dekatnya, mereka kagum dengannya dan melihat kepadanya. Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang banyak menangis, tidak dapat menahan air matanya jika membaca Al-Qur’an. Hal itu membuat takut pembesar-pembesar Quraisy dari kalangan musyrikin, maka mereka mengirim utusan kepada Ibnu Ad-Daghnah. Ia datang kepada mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah memberikan perlindungan kepada Abu Bakar dengan perlindunganmu agar ia menyembah Tuhannya di rumahnya, namun ia telah melampaui hal itu, ia telah membangun musala di halaman rumahnya, maka ia melakukan shalat dan bacaan secara terbuka di dalamnya. Sesungguhnya kami telah khawatir ia akan memfitnah anak-anak dan wanita-wanita kami. Maka cegahlah ia. Jika ia suka untuk membatasi diri menyembah Tuhannya di rumahnya, silakan ia lakukan, dan jika ia menolak kecuali melakukannya secara terbuka, maka mintalah ia mengembalikan jaminanmu, karena kami tidak suka mengingkari janjimu dan kami tidak akan membiarkan Abu Bakar melakukannya secara terbuka.”
Aisyah berkata: Maka Ibnu Ad-Daghnah datang kepada Abu Bakar dan berkata: “Engkau telah mengetahui apa yang telah aku perjanjikan untukmu. Maka hendaklah engkau membatasi diri pada hal itu, atau engkau kembalikan jaminanku kepadaku, karena aku tidak suka kaum Arab mendengar bahwa aku ingkar janji terhadap seorang laki-laki yang aku berikan perlindungan kepadanya.” Abu Bakar berkata: “Maka aku kembalikan perlindunganmu kepadamu, dan aku ridha dengan perlindungan Allah Azza wa Jalla.” Kemudian disebutkan kelanjutan hadits tentang hijrah Abu Bakar radhiyallahu anhu bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana akan disebutkan secara rinci.
Ibnu Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Al-Qasim dari ayahnya Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, ia berkata: Ia (yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq) bertemu ketika ia keluar dari perlindungan Ibnu Ad-Daghnah dengan seorang orang bodoh dari orang-orang bodoh Quraisy, sementara ia menuju Ka’bah, lalu orang itu melemparkan tanah ke kepalanya. Lalu lewatlah di dekat Abu Bakar, Al-Walid bin Al-Mughirah atau Al-Ash bin Wa’il, maka Abu Bakar radhiyallahu anhu berkata kepadanya: “Tidakkah engkau melihat apa yang dilakukan orang bodoh ini?” Ia berkata: “Engkau sendiri yang melakukan itu terhadap dirimu.” Dan Abu Bakar berkata: “Wahai Tuhanku, betapa Maha Penyantunnya Engkau! Wahai Tuhanku, betapa Maha Penyantunnya Engkau! Wahai Tuhanku, betapa Maha Penyantunnya Engkau!”
Pasal: Semua kisah ini disebutkan oleh Ibnu Ishaq sebagai sisipan di antara perjanjian Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib, dan penulisan mereka terhadap mereka dalam lembaran yang zalim, dan pengepungan mereka di bukit, dan antara pembatalan lembaran tersebut dan apa yang terjadi darinya. Ini adalah perkara-perkara yang sesuai dengan waktu ini, dan oleh karena itu Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Siapa yang menginginkan sejarah peperangan, maka ia bergantung kepada Ibnu Ishaq.”
Ibnu Ishaq berkata: Dalam keadaan ini Bani Hasyim dan Bani Muththalib berada di tempat tinggal mereka yang telah disepakati oleh Quraisy untuk memboikot mereka, sebagaimana tertulis dalam piagam yang mereka buat. Kemudian bangkitlah beberapa orang dari Quraisy untuk membatalkan piagam tersebut, dan tidak ada seorang pun yang berbuat baik dalam hal ini melebihi usaha Hisyam bin Amr bin Rabi’ah bin Al-Harits bin Habib bin Nashr bin Juzaimah bin Malik bin Hasal bin Amir bin Luai. Hal itu karena dia adalah anak saudara Nadhlah bin Hasyim bin Abdul Manaf dari pihak ibunya. Hisyam sangat dekat dengan Bani Hasyim dan memiliki kedudukan terhormat di kaumnya. Menurut kabar yang sampai kepada kami, dia datang dengan unta pada malam hari kepada Bani Hasyim dan Bani Muththalib yang berada di lembah, setelah membebani unta itu dengan makanan. Ketika sampai di mulut lembah, dia melepas tali kekang dari kepala unta itu, kemudian memukulnya pada lambungnya, lalu unta itu masuk ke lembah mendatangi mereka. Kemudian dia datang lagi dengan unta yang dibebani gandum, dan melakukan hal yang sama.
Kemudian dia pergi menemui Zuhair bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum—ibunya adalah Atikah binti Abdul Muththalib—lalu berkata: “Wahai Zuhair, apakah kamu rela makan makanan, mengenakan pakaian, dan menikahi perempuan, sementara paman-pamanmu berada dalam keadaan yang kamu ketahui, tidak boleh berdagang dan tidak boleh dibeli dari mereka, tidak boleh menikah dan tidak boleh dinikahi? Sungguh aku bersumpah demi Allah, seandainya mereka adalah paman-paman Abu Hakam bin Hisyam, kemudian kamu mengajaknya untuk melakukan terhadap mereka seperti yang dia ajak kepadamu tentang mereka, niscaya dia tidak akan pernah menyetujuimu.” Zuhair berkata: “Celakalah kamu wahai Hisyam! Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku hanyalah seorang diri. Demi Allah, seandainya ada orang lain bersamaku, niscaya aku akan bangkit untuk membatalkannya.” Hisyam berkata: “Sudah ada orang yang kudapatkan.” Zuhair bertanya: “Siapa dia?” Hisyam menjawab: “Aku.” Zuhair berkata kepadanya: “Carikan kami orang ketiga.”
Maka dia pergi menemui Al-Muth’im bin Adi dan berkata kepadanya: “Wahai Muth’im, apakah kamu rela dua suku dari Bani Abdul Manaf binasa, sementara kamu menyaksikan hal itu dan menyetujui Quraisy dalam hal itu?! Demi Allah, sungguh jika kalian membiarkan mereka melakukan ini, niscaya kalian akan mendapati mereka bergegas melakukannya kepada kalian.” Al-Muth’im berkata: “Celakalah kamu! Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku hanyalah seorang diri.” Hisyam berkata: “Sudah kudapatkan orang kedua untukmu.” Al-Muth’im bertanya: “Siapa?” Hisyam menjawab: “Aku.” Al-Muth’im berkata: “Carikan kami orang ketiga.” Hisyam berkata: “Sudah kulakukan.” Al-Muth’im bertanya: “Siapa dia?” Hisyam menjawab: “Zuhair bin Abi Umayyah.” Al-Muth’im berkata: “Carikan kami orang keempat.”
Maka dia pergi menemui Abu Al-Bakhtari bin Hisyam dan berkata kepadanya seperti yang dikatakannya kepada Al-Muth’im bin Adi. Abu Al-Bakhtari berkata: “Apakah kamu mendapatkan orang yang akan membantu dalam hal ini?” Hisyam menjawab: “Ya.” Abu Al-Bakhtari bertanya: “Siapa dia?” Hisyam menjawab: “Zuhair bin Abi Umayyah, Al-Muth’im bin Adi, dan aku bersamamu.” Abu Al-Bakhtari berkata: “Carikan kami orang kelima.” Maka dia pergi menemui Zam’ah bin Al-Aswad bin Al-Muththalib bin Asad. Dia berbicara dengannya dan menyebutkan kekerabatan dan hak mereka. Zam’ah berkata kepadanya: “Apakah ada orang lain dalam urusan yang kamu ajak aku ini?” Hisyam menjawab: “Ya.” Kemudian dia menyebutkan nama-nama orang tersebut. Mereka berjanji bertemu di Khathm Al-Hajun pada malam hari di bagian atas Mekah. Mereka berkumpul di sana, menyepakati rencana mereka, dan saling berjanji untuk bangkit membatalkan piagam tersebut hingga mereka berhasil membatalkannya. Zuhair berkata: “Aku akan memulai dan menjadi orang pertama yang berbicara.”
Ketika pagi tiba, mereka pergi ke tempat berkumpul mereka. Zuhair bin Abi Umayyah mengenakan pakaian bagus, lalu thawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali, kemudian menghadap kepada orang-orang dan berkata: “Wahai penduduk Mekah, apakah kita makan makanan dan mengenakan pakaian, sementara Bani Hasyim binasa, tidak boleh berdagang dan tidak boleh dibeli dari mereka? Demi Allah, aku tidak akan duduk sampai piagam yang memutus dan menzalimi ini dirobek.” Abu Jahal berkata—dia berada di sudut masjid—: “Kamu berdusta, demi Allah piagam itu tidak akan dirobek.” Zam’ah bin Al-Aswad berkata: “Kamulah demi Allah yang lebih berdusta. Kami tidak menyetujui penulisannya ketika ditulis.” Abu Al-Bakhtari berkata: “Zam’ah benar. Kami tidak menyetujui apa yang tertulis di dalamnya dan tidak mengakuinya.” Al-Muth’im bin Adi berkata: “Kalian berdua benar dan berdusta orang yang mengatakan selain itu. Kami berlepas diri kepada Allah dari piagam itu dan dari apa yang tertulis di dalamnya.” Hisyam bin Amr mengatakan hal serupa. Abu Jahal berkata: “Ini adalah urusan yang telah diputuskan pada malam hari, dimusyawarahkan di tempat lain selain tempat ini.” Sementara Abu Thalib duduk di sudut masjid. Al-Muth’im bin Adi bangkit menuju piagam untuk merobeknya, dan dia mendapati rayap telah memakannya kecuali tulisan “Dengan nama-Mu ya Allah.” Penulis piagam itu adalah Manshur bin Ikrimah, dan tangannya lumpuh menurut kabar yang kami dengar.
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian ulama menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Abu Thalib: “Wahai paman, sesungguhnya Allah telah mengirimkan rayap ke piagam Quraisy, sehingga tidak meninggalkan di dalamnya nama yang untuk Allah kecuali menetapkannya di dalamnya, dan menghilangkan darinya kezaliman, pemutusan hubungan, dan kebohongan.” Abu Thalib berkata: “Apakah Tuhanmu yang mengabarkan hal ini kepadamu?” Rasulullah menjawab: “Ya.” Abu Thalib berkata: “Demi Allah, tidak ada seorang pun yang akan masuk menemuimu.” Kemudian dia keluar menemui Quraisy dan berkata: “Wahai kaum Quraisy! Anak saudaraku telah memberitahuku begini dan begitu, maka bawalah piagam kalian. Jika yang dikatakannya benar, maka berhentilah dari pemutusan hubungan terhadap kami dan tinggalkanlah hal itu. Dan jika dia berdusta, aku akan menyerahkan anak saudaraku kepada kalian.” Orang-orang berkata: “Kami setuju.” Maka mereka saling berjanji tentang hal itu, kemudian mereka melihat dan ternyata seperti yang dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Hal itu menambah keburukan mereka. Pada saat itulah kelompok dari Quraisy melakukan apa yang mereka lakukan dalam membatalkan piagam tersebut.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika piagam dirobek dan apa yang tertulis di dalamnya batal, Abu Thalib mengatakan tentang urusan orang-orang yang bangkit membatalkan piagam tersebut, memuji mereka:
Ketahuilah, apakah telah sampai kepada kedua cucu laki-laki kami perbuatan Tuhan kami … Meskipun mereka jauh, dan Allah lebih mengetahui tentang manusia
Maka dia memberitahukan kepada mereka bahwa piagam telah dirobek … Dan bahwa segala sesuatu yang tidak diridhai Allah akan rusak
Bergiliran padanya kebohongan dan sihir yang terkumpul … Dan tidak ditemukan sihir di akhir zaman yang naik
Orang yang tidak ada urusannya dengan hal itu mengajaknya … Maka burungnya di kepalanya berputar-putar
Dan itu adalah kesetaraan dengan kejadian yang penuh dosa … Agar lengan dan kalung terputus darinya
Dan penduduk dua tempat tinggal akan pergi dan melarikan diri … Hati mereka gemetar karena takut keburukan
Dan petani ditinggalkan membolak-balik urusannya … Mana di antara mereka yang akan memihak dalam hal itu dan akan meninggi
Dan naiklah pasukan di antara dua gunung … Memiliki anak panah yang tajam, busur, dan tombak
Siapa yang mencari kemuliaan dari penduduk Mekah … Maka kemuliaan kami di perut Mekah lebih tua
Kami tumbuh di dalamnya dan manusia di dalamnya sedikit … Maka kami tidak berhenti bertambah baik dan terpuji
Dan kami memberi makan hingga manusia meninggalkan kelebihan mereka … Ketika tangan orang-orang yang melimpahkan gemetar
Semoga Allah membalas kelompok di Al-Hajun yang bersatu … Atas perkumpulan yang membimbing kepada keteguhan dan petunjuk
Duduk di Khathm Al-Hajun seolah-olah mereka … Pembicara, bahkan mereka lebih mulia dan lebih agung
Membantu di atasnya setiap elang yang seolah-olah dia … Ketika berjalan dengan baju besi yang bergerak-gerak, pemberani
Berani terhadap urusan besar yang jelas seolah-olah dia … Bintang di tangan orang yang mengambil api yang menyala
Dari orang-orang yang mulia dari Luai bin Ghalib … Ketika diminta untuk berbuat hina wajahnya menjadi merah
Tinggi tali pedang, keluar setengah betisnya … Atas wajahnya awan diberi minum dan beruntung
Besar abunya, pemimpin dan anak pemimpin … Mendorong untuk menjamu tamu dan mengumpulkan
Dan membangun untuk anak-anak kabilah kebaikan … Ketika kami thawaf di negeri dan mempersiapkan
Mendesak untuk perdamaian ini setiap orang yang bebas … Besar benderanya, urusannya kemudian dipuji
Mereka memutuskan apa yang mereka putuskan di malam mereka … Kemudian mereka bangun pagi dengan tenang sementara orang lain tidur
Mereka mengembalikan Sahl bin Baidha dengan ridha … Dan Abu Bakar gembira dengannya dan Muhammad
Kapan kaum berbagi dalam urusan besar kami … Dan kami dahulu sebelumnya saling mencintai
Dan kami dahulu tidak mengakui kezaliman … Dan kami meraih apa yang kami mau dan tidak memaksakan diri
Maka wahai Qushay, apakah kalian memiliki dalam diri kalian … Dan apakah kalian memiliki tentang apa yang akan datang besok
Sesungguhnya aku dan kalian seperti ucapan orang yang berkata … Di sisimu penjelasan jika kamu berbicara wahai Aswad
As-Suhaili berkata: Aswad adalah nama gunung yang di sana terbunuh orang yang terbunuh, dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Maka wali si terbunuh berkata: Di sisimu penjelasan jika kamu berbicara wahai Aswad. Yaitu: Wahai Aswad, jika kamu berbicara niscaya kamu akan menjelaskan kepada kami siapa yang membunuhnya.
Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan: Syair Hassan yang memuji Al-Muth’im bin Adi dan Hisyam bin Amr karena kebangkitan mereka dalam membatalkan piagam yang zalim, jahat, dan menindas. Al-Umawi menyebutkan di sini syair-syair yang banyak, kami cukupkan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq.
Al-Waqidi berkata: Aku bertanya kepada Muhammad bin Shalih dan Abdurrahman bin Abdul Aziz: Kapan Bani Hasyim keluar dari lembah? Mereka berdua menjawab: Pada tahun kesepuluh. Maksudnya dari masa pengutusan, tiga tahun sebelum hijrah.
Aku (Ibnu Katsir) berkata: Pada tahun ini setelah mereka keluar, wafatlah Abu Thalib paman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan istri beliau Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu anha, sebagaimana akan dijelaskan nanti, insya Allah Ta’ala.
Pasal (Penyebutan Permusuhan Quraisy terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam – dan Menghasut Kabilah-kabilah Arab serta Orang-orang yang Datang ke Mekah)
Muhammad bin Ishaq rahimahullah menyebutkan setelah pembatalan piagam, kisah-kisah yang banyak, yang berisi permusuhan Quraisy yang ditunjukkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menghasut kabilah-kabilah Arab serta orang-orang yang datang ke Mekah untuk haji atau umrah atau yang lainnya dari beliau, serta Allah menampakkan mukjizat-mukjizat melalui tangan beliau sebagai bukti atas kebenaran apa yang beliau bawa kepada mereka berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, dan mendustakan mereka dalam apa yang mereka tuduhkan kepada beliau berupa kezaliman, permusuhan, tipu daya, dan penipuan, dan mereka menuduhnya gila, tukang sihir, dukun, dan pembual. Allah berkuasa atas urusan-Nya. Maka dia menyebutkan kisah Ath-Thufail bin Amr Ad-Dausi secara mursal. Dia adalah pemimpin yang ditaati dan terhormat di kalangan Daus.
Dia pernah datang ke Mekah, lalu para pembesar Quraisy berkumpul dengannya dan memperingatkannya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta melarangnya untuk bertemu dengan beliau atau mendengar ucapannya. Dia berkata: “Demi Allah, mereka terus meyakinkanku hingga aku memutuskan untuk tidak mendengar sesuatu pun darinya dan tidak berbicara dengannya, bahkan aku menyumbat telingaku ketika pergi ke masjid pada pagi hari dengan kapas karena takut sampai kepadaku sesuatu dari ucapannya, padahal aku tidak ingin mendengarnya.” Dia berkata: “Lalu aku pergi ke masjid pada pagi hari, ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang berdiri shalat di dekat Ka’bah.” Dia berkata: “Maka aku berdiri dekat darinya, tetapi Allah menolak kecuali menjadikan aku mendengar sebagian ucapannya.” Dia berkata: “Maka aku mendengar ucapan yang baik.” Dia berkata: “Maka aku berkata dalam diriku: Celaka ibuku! Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang berakal, penyair. Tidak tersembunyi dariku yang baik dari yang buruk. Lalu apa yang mencegahku untuk mendengar dari orang ini apa yang dia katakan? Jika yang dia datangkan itu baik, aku terima. Dan jika buruk, aku tinggalkan.” Dia berkata: “Maka aku menunggu hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pulang, lalu aku mengikutinya. Ketika beliau masuk ke rumahnya, aku masuk kepadanya. Lalu aku berkata: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya kaummu telah berkata kepadaku begini dan begitu tentang apa yang mereka katakan.'” Dia berkata: “Demi Allah, mereka tidak berhenti membuatku takut terhadap urusanmu hingga aku menyumbat telingaku dengan kapas agar tidak mendengar ucapanmu. Kemudian Allah menolak kecuali menjadikan aku mendengar ucapanmu, maka aku mendengar ucapan yang baik. Maka paparkan kepadaku urusanmu.” Dia berkata: “Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memaparkan kepadaku Islam dan membacakan kepadaku Al-Quran. Demi Allah, aku tidak pernah mendengar ucapan yang lebih baik darinya dan tidak ada urusan yang lebih adil darinya.” Dia berkata: “Maka aku masuk Islam dan bersaksi dengan kesaksian yang benar. Aku berkata: ‘Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang ditaati di kaumku. Aku akan kembali kepada mereka dan mengajak mereka kepada Islam. Maka berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan untukku tanda yang akan menjadi penolong bagiku terhadap mereka dalam apa yang aku ajak mereka kepadanya.'” Dia berkata: “Maka beliau berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah untuknya tanda.'”
Dia berkata: “Maka aku keluar menuju kaumku. Ketika aku berada di puncak bukit yang memperlihatkanku pemukiman, muncullah cahaya di antara kedua mataku seperti lampu.” Dia berkata: “Maka aku berkata: ‘Ya Allah, jangan di wajahku, karena aku khawatir mereka mengira itu adalah cacat yang menimpa wajahku karena meninggalkan agama mereka.'” Dia berkata: “Maka cahaya itu berpindah dan jatuh di ujung cambukku.” Dia berkata: “Maka penduduk pemukiman melihat cahaya itu di ujung cambukku seperti lentera yang tergantung, sementara aku turun kepada mereka dari bukit, hingga aku datang kepada mereka dan berada di tengah mereka pada pagi hari. Ketika aku turun, ayahku datang kepadaku—dia adalah orang tua yang sudah tua—maka aku berkata: ‘Menjauh dariku wahai ayah, aku bukan darimu dan kamu bukan dariku.'” Ayahnya berkata: “Mengapa wahai anakku?” Dia berkata: “Aku berkata: ‘Aku telah masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad shallallahu alaihi wasallam.'” Ayahnya berkata: “Wahai anakku, agamaku adalah agamamu.” Maka aku berkata: “Pergilah mandi dan bersihkan pakaianmu, kemudian datanglah kepadaku agar aku mengajarkan kepadamu apa yang telah aku ketahui.” Dia berkata: “Maka dia pergi lalu mandi dan membersihkan pakaiannya.” Dia berkata: “Kemudian dia datang, maka aku paparkan kepadanya Islam, lalu dia masuk Islam.”
Dia berkata: “Kemudian istriku datang kepadaku, maka aku berkata: ‘Menjauh dariku, aku bukan darimu dan kamu bukan dariku.'” Dia berkata: “Mengapa? Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.” Dia berkata: “Aku berkata: ‘Islam telah memisahkan antara aku dan kamu, aku telah mengikuti agama Muhammad shallallahu alaihi wasallam.'” Dia berkata: “Maka agamaku adalah agamamu.” Dia berkata: “Aku berkata: ‘Pergilah ke Hanna Dzi Asy-Syara dan bersucilah darinya.'” Dzi Asy-Syara adalah berhala milik Daus, dan terdapat tempat suci yang mereka sucikan untuknya, padanya ada air yang turun dari gunung. Dia berkata: “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, apakah kamu khawatir terhadap anak kecil dari Dzi Asy-Syara sesuatu?” Dia berkata: “Aku berkata: ‘Tidak, aku adalah penjamin untuk itu.'” Dia berkata: “Maka dia pergi lalu mandi, kemudian datang. Maka aku paparkan kepadanya Islam, lalu dia masuk Islam. Kemudian aku mengajak Daus kepada Islam, tetapi mereka lambat terhadapku. Kemudian aku datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Mekah, lalu aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya perzinaan telah mengalahkanku atas Daus, maka berdoalah kepada Allah agar menimpa mereka.'” Beliau berdoa: “‘Ya Allah, berilah petunjuk kepada Daus. Kembalilah kepada kaummu, ajaklah mereka, dan lembutlah kepada mereka.'” Dia berkata: “Maka aku tidak berhenti di tanah Daus mengajak mereka kepada Islam hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hijrah ke Madinah, dan berlalu perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Kemudian aku datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama orang-orang yang masuk Islam bersamaku dari kaumku. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berada di Khaibar. Hingga aku turun di Madinah dengan tujuh puluh atau delapan puluh rumah dari Daus. Maka kami menyusul Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Khaibar, lalu beliau memberikan bagian kepada kami bersama kaum muslimin. Kemudian aku tidak berhenti bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga ketika Allah memberikan kemenangan kepada beliau di Mekah, aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, utuslah aku ke Dzul Kafain, berhala Amr bin Hummah, agar aku membakarnya.'” Ibnu Ishaq berkata: Maka dia keluar menujunya. Ath-Thufail—ketika membakarnya dengan api—berkata:
Wahai Dzul Kafain, aku bukan termasuk penyembahmu … Kelahiran kami lebih dahulu dari kelahiranmu
Sesungguhnya aku telah menyalakan api di dalam jantungmu
Dia berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali, maka Thufail berada bersamanya di Madinah hingga Allah mewafatkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika orang-orang Arab murtad, Thufail keluar bersama kaum muslimin, lalu dia berjalan bersama mereka hingga selesai (menghadapi) Thulaihah dan seluruh tanah Najd. Kemudian dia berjalan bersama kaum muslimin ke Yamamah, bersamanya anaknya Amr bin Thufail. Dia melihat mimpi ketika menuju Yamamah, lalu dia berkata kepada sahabat-sahabatnya: Sesungguhnya aku telah melihat mimpi, maka takwilkanlah untukku; aku melihat bahwa kepalaku dicukur, dan sesungguhnya keluar dari mulutku seekor burung, dan sesungguhnya aku bertemu dengan seorang wanita lalu dia memasukkanku ke dalam kemaluannya, dan aku melihat anakku mencariku dengan sungguh-sungguh, kemudian aku melihatnya tertahan dariku. Mereka berkata: Baik. Dia berkata: Adapun aku, demi Allah, sungguh aku telah mentakwilkannya. Mereka berkata: Apa itu? Dia berkata: Adapun dicukurnya kepalaku maka itu adalah terjatuhnya (kepalaku), dan adapun burung yang keluar darinya maka itu adalah ruhku, dan adapan wanita yang memasukkanku ke dalam kemaluannya maka itu adalah bumi yang digali untukku lalu aku dikuburkan di dalamnya, dan adapun pencarian anakku terhadapku kemudian tertahannya dia dariku, maka sesungguhnya aku melihat dia akan bersungguh-sungguh hingga menimpanya apa yang menimpaku. Maka dia terbunuh rahimahullah Ta’ala sebagai syahid di Yamamah, dan anaknya terluka luka parah, kemudian dia sembuh darinya, kemudian dia terbunuh pada tahun Yarmuk di zaman Umar sebagai syahid rahimahullah. Demikianlah Muhammad bin Ishaq menyebutkan kisah Thufail bin Amr secara mursal tanpa isnad.
Dan beritanya memiliki penguat dalam hadits shahih; Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu az-Zinad dari al-A’raj dari Abu Hurairah dia berkata: Ketika Thufail dan sahabat-sahabatnya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata: Sesungguhnya Daus telah membangkang. Beliau bersabda: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada Daus, dan datangkanlah mereka.” Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Nu’aim dari Sufyan ats-Tsauri dengannya.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Thufail bin Amr ad-Dausi dan sahabat-sahabatnya datang, lalu mereka berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Daus telah durhaka dan menolak, maka berdoalah kepada Allah agar menimpakan azab kepada mereka. Abu Hurairah berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya, lalu aku berkata: Binasalah Daus. Maka beliau bersabda: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada Daus, dan datangkanlah mereka.” Isnadnya baik, dan mereka tidak mengeluarkannya.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Hajjaj ash-Shawwaf dari Abu az-Zubair dari Jabir bahwa Thufail bin Amr ad-Dausi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau menginginkan benteng yang kokoh dan perlindungan? Dia berkata: Benteng yang dimiliki Daus pada masa Jahiliah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolak hal itu karena apa yang Allah simpan untuk kaum Anshar. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, Thufail bin Amr hijrah kepadanya dan hijrah bersamanya seorang laki-laki dari kaumnya, lalu mereka tidak cocok dengan Madinah, maka dia sakit lalu gelisah kemudian mengambil mata panah lalu memotong dengannya ruas-ruas jarinya, maka kedua tangannya memancar darah, dan darah tidak berhenti hingga dia meninggal. Maka Thufail bin Amr melihatnya dalam mimpinya dalam keadaan yang baik dan melihatnya menutup kedua tangannya, lalu dia berkata kepadanya: Apa yang Tuhanmu lakukan terhadapmu? Dia berkata: Dia mengampuniku karena hijrahku kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia berkata: Kenapa aku melihatmu menutup kedua tanganmu? Dia berkata: Dikatakan kepadaku: Tidak akan diperbaiki darimu apa yang telah kamu rusak. Dia berkata: Maka Thufail menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, dan kedua tangannya, maka ampunilah.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim keduanya dari Sulaiman bin Harb dengannya.
Jika dikatakan: Maka apa yang menggabungkan antara hadits ini, dan antara apa yang tetap dalam Shahihain dari jalan al-Hasan dari Jundub dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada pada orang-orang sebelum kalian seorang laki-laki yang terluka, lalu dia gelisah, kemudian mengambil pisau lalu memotong dengannya tangannya, maka darah tidak berhenti hingga dia meninggal, lalu Allah Azza wa Jalla berfirman: Hamba-Ku mendahului-Ku dengan jiwanya, maka Aku haramkan baginya surga.” Maka jawabannya dari beberapa sisi; Pertama: bahwa sesungguhnya mungkin orang itu musyrik, dan ini mukmin, dan mungkin telah dijadikan perbuatan ini sebab yang mandiri dalam masuknya dia ke neraka, walaupun kemusyrikannya mandiri, akan tetapi beliau menegaskan hal ini agar umatnya mengambil pelajaran. Kedua: mungkin orang itu mengetahui pengharamannya, dan ini tidak mengetahui karena barunya masa keislamannya. Ketiga: mungkin orang itu melakukannya dengan menghalalkannya, dan ini tidak menghalalkannya, bahkan salah. Keempat: mungkin orang itu menginginkan dengan perbuatannya yang disebutkan, untuk membunuh dirinya, berbeda dengan ini, karena sesungguhnya boleh jadi dia tidak bermaksud membunuh dirinya, dan hanyasaja menginginkan selain itu. Kelima: mungkin orang itu sedikit kebaikannya, maka tidak mengimbangi besarnya dosanya yang disebutkan, lalu masuk neraka, dan ini mungkin banyak kebaikannya, maka mengimbangi dosanya, lalu tidak masuk neraka, bahkan diampuni baginya dengan hijrah kepada Nabi-nya shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi tinggal cacat pada tangannya saja, dan bagus keadaan selainnya, maka ditutup cacat darinya. Maka ketika Thufail bin Amr melihatnya menutup kedua tangannya, dia berkata kepadanya: Kenapa denganmu? Dia berkata: Dikatakan kepadaku: Tidak akan diperbaiki darimu apa yang telah kamu rusak. Maka ketika Thufail menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mendoakan untuknya lalu bersabda: “Ya Allah, dan kedua tangannya, maka ampunilah.” Yakni maka perbaikilah darinya apa yang rusak. Dan yang tepat bahwa Allah mengabulkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap sahabat Thufail bin Amr.
Kisah A’sya bin Qais bin Tsa’labah
Ibnu Hisyam berkata: Telah menceritakan kepadaku Khallad bin Qurrah bin Khalid as-Sadusi, dan selain dia dari guru-guru Bakr bin Wa’il, dari ahli ilmu, bahwa A’sya bin Qais bin Tsa’labah bin ‘Ukabah bin Sha’b bin ‘Ali bin Bakr bin Wa’il, keluar menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan Islam, lalu dia berkata memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
Tidakkah matamu tertidur malam ini karena sakit … Dan engkau begadang sebagaimana orang yang sakit begadang Dan itu bukan karena cinta wanita dan sesungguhnya … Aku melupakan sebelum hari ini persahabatan ancaman Tetapi aku melihat masa yang dia adalah pengkhianat … Jika kedua tanganku memperbaiki dia kembali lalu merusak
Orang-orang tua dan pemuda telah kukehilangan dan kekayaan … Maka bagi Allah masa ini bagaimana berputar-putar Dan aku tidak berhenti mencari harta sejak aku muda … Kanak-kanak dan tua ketika aku beruban dan pemuda Dan aku menggunakan unta-unta pejantan yang naik … Jarak apa yang antara an-Najir dan Sharkhadh Wahai orang yang bertanya kepadaku kemana aku menuju … Maka sesungguhnya baginya di penduduk Yatsrib janji Maka jika engkau bertanya tentangku maka wahai Tuhan penanya … Yang teliti tentang al-A’sya dengannya dimana dia naik Dia berlari dengan kedua kakinya selamat dan kembali … Kedua tangannya mencengkeram lembut yang lembut tidak kaku Dan padanya jika ditinggalkan sombong … Jika merosot bunglon tengah hari tegar
Dan aku bersumpah tidak akan aku berteduh baginya dari lelah … Dan tidak dari telapak hingga menemui Muhammad Kapan saja engkau membaringkan di pintu Ibnu Hasyim … Engkau beristirahat dan menemui dari kelebihannya kemurahan Nabi yang melihat apa yang kalian tidak lihat dan sebutannya … Lebih terkenal demi umurku di negeri-negeri dan lebih berhasil Baginya sedekah-sedekah yang tidak hilang dan pemberian … Maka bukan pemberian hari ini yang mencegahnya besok Benarkah engkau tidak mendengar wasiat Muhammad … Nabi Allah ketika dia berwasiat dan menjadi saksi Jika engkau tidak berangkat dengan bekal dari takwa … Dan menemui setelah kematian orang yang telah berbekal Engkau menyesal karena tidak seperti dia … Maka engkau mengintai untuk perkara yang dia telah mengintai
Maka jauhilah bangkai-bangkai jangan mendekatinya … Dan jangan engkau mengambil anak panah tajam untuk memotong urat Dan yang dipasang patung-patung jangan engkau menyembahnya … Dan jangan menyembah berhala-berhala dan Allah maka sembahlah Dan jangan mendekati wanita merdeka yang rahasianya … Atasmu haram maka nikahilah atau melajanglah Dan yang mempunyai rahim kerabat maka jangan memutusnya … Untuk akibat dan tidak tawanan yang terbelenggu Dan bertasbihlah pada waktu sore dan pagi … Dan jangan memuji setan dan Allah maka pujilah Dan jangan mengolok-olok orang yang menderita yang kesusahan … Dan jangan menganggap harta untuk orang kekal
Ibnu Hisyam berkata: Maka ketika dia berada di Mekah atau dekat darinya, menghadangnya sebagian orang-orang musyrik dari Quraisy, lalu dia bertanya kepadanya tentang urusannya, lalu dia memberitahukan kepadanya bahwa dia datang menginginkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk masuk Islam, lalu dia berkata kepadanya: Wahai Abu Bashir sesungguhnya dia mengharamkan zina. Maka al-A’sya berkata: Demi Allah sesungguhnya itu untuk perkara yang tidak ada bagiku padanya keinginan. Lalu dia berkata: Wahai Abu Bashir sesungguhnya dia mengharamkan khamr. Maka al-A’sya berkata: Adapun ini maka demi Allah sesungguhnya dalam jiwa darinya untuk pengganti-pengganti, tetapi aku akan pulang lalu aku akan minum sepuasnya tahun ini, kemudian aku datang kepadanya lalu aku masuk Islam. Maka dia pulang, lalu dia meninggal di tahunnya itu, dan tidak kembali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikianlah Ibnu Hisyam menguraikan kisah ini di sini, dan dia banyak kritikan terhadap Muhammad bin Ishaq rahimahullah, dan ini termasuk yang dikritik terhadap Ibnu Hisyam rahimahullah, karena sesungguhnya khamr hanyasaja diharamkan di Madinah, setelah peristiwa Bani Nadhir, sebagaimana akan datang penjelasannya, maka yang tampak bahwa ketetapan hati al-A’sya untuk datang untuk Islam hanyasaja setelah hijrah, dan dalam syairnya apa yang menunjukkan itu yaitu perkataannya:
Wahai orang yang bertanya kepadaku kemana aku menuju … Maka sesungguhnya baginya di penduduk Yatsrib janji
Dan yang lebih sesuai dan lebih layak bagi Ibnu Hisyam bahwa dia mengakhirkan penyebutan kisah ini ke setelah hijrah, dan tidak menguarkannya di sini. Wallahu a’lam.
As-Suhaili berkata: Dan ini kelalaian dari Ibnu Hisyam dan orang yang mengikutinya, karena sesungguhnya manusia bersepakat bahwa khamr tidak turun pengharamannya kecuali di Madinah setelah Uhud. Dan sungguh dikatakan: Sesungguhnya orang yang berkata kepada al-A’sya adalah Abu Jahal bin Hisyam di rumah Utbah bin Rabi’ah. Dan Abu Ubaidah menyebutkan bahwa orang yang berkata itu kepadanya, adalah Amir bin ath-Thufail di tanah Qais, dan dia menghadap kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia berkata: Dan perkataannya: Kemudian aku datang kepadanya lalu aku masuk Islam. Tidak mengeluarkannya dari kekufurannya, tanpa khilaf. Wallahu a’lam.
Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan di sini kisah al-Irasyi dan bagaimana dia mengadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Abu Jahal tentang harga unta yang dia beli darinya, dan bagaimana Allah menghinakan Abu Jahal dan merendahkan hidungnya, hingga dia memberikan kepadanya harganya di saat itu juga, dan sungguh kami telah mendahulukan itu dalam permulaan wahyu dan apa yang ada dari gangguan orang-orang musyrik ketika itu.
Kisah Bergulat dengan Rakanah dan Bagaimana Beliau Memperlihatkan Pohon yang Beliau Panggil Lalu Datang shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ibnu Ishaq berkata dan telah menceritakan kepadaku ayahku Ishaq bin Yasar dia berkata: Dan adalah Rakanah bin Abdul Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdul Manaf yang paling kuat Quraisy, maka dia menyendiri suatu hari dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di sebagian lembah Mekah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Wahai Rakanah tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dan menerima apa yang aku dakwahkan kepadamu?” Dia berkata: Sesungguhnya aku jika aku mengetahui bahwa apa yang engkau katakan benar pasti aku mengikutimu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Bagaimana pendapatmu jika aku membantingmu, apakah engkau mengetahui bahwa apa yang aku katakan benar?” Dia berkata: Ya. Beliau bersabda: “Maka berdirilah hingga aku bergulat denganmu.” Dia berkata: Maka Rakanah berdiri kepadanya lalu bergulat dengannya, maka ketika beliau menangkapnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membantingnya tidak menguasai dari dirinya sesuatu, kemudian dia berkata: Ulangi wahai Muhammad. Maka beliau mengulangi lalu membantingnya, maka dia berkata: Wahai Muhammad, demi Allah sesungguhnya ini sangat mengherankan engkau membantingku?! Beliau bersabda: “Dan lebih mengherankan dari itu jika engkau mau aku memperlihatkannya kepadamu, jika engkau bertakwa kepada Allah dan mengikuti perintahku.” Dia berkata: Apa itu? Beliau bersabda: “Aku panggil untukmu pohon ini yang engkau lihat maka dia datang kepadaku.” Dia berkata: Panggilah. Maka beliau memanggilnya, lalu dia datang hingga berhenti di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau berkata kepadanya: “Kembalilah ke tempatmu.” Maka dia kembali ke tempatnya, dia berkata: Maka Rakanah pergi kepada kaumnya. Lalu dia berkata: Wahai Bani Abdul Manaf, sihirlah dengan sahabat kalian penduduk bumi, maka demi Allah aku tidak pernah melihat yang lebih ahli sihir darinya sama sekali. Kemudian dia memberitakan kepada mereka apa yang dia lihat dan apa yang dia lakukan. Demikianlah Ibnu Ishaq meriwayatkan kisah ini secara mursal dengan rangkaian ini.
Dan sungguh Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Abu al-Hasan al-‘Asqalani dari Abu Ja’far bin Muhammad bin Rakanah dari ayahnya, bahwa Rakanah bergulat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantingnya. Kemudian at-Tirmidzi berkata: Gharib, dan kami tidak mengenal Abu al-Hasan dan tidak Ibnu Rakanah.
Aku berkata: Dan sungguh Abu Bakr asy-Syafi’i meriwayatkan dengan isnad yang baik, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Yazid bin Rakanah bergulat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantingnya tiga kali, setiap kali dengan seratus dari kambing, maka ketika di yang ketiga, dia berkata: Wahai Muhammad, tidak ada yang meletakkan punggungku ke tanah seorangpun sebelum engkau, dan tidak ada seorang yang lebih aku benci dari engkau, dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa engkau adalah utusan Allah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri darinya dan mengembalikan kepadanya kambing-kambingnya.
Adapun kisah panggilannya kepada pohon lalu datang, maka akan datang dalam kitab Dalailun Nubuwwah setelah sirah, dari jalan-jalan yang baik shahih dalam berkali-kali in sya Allah, dan dengan-Nya kepercayaan. Dan sungguh telah mendahului dari Abu al-Asyaddain bahwa dia bergulat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membantingnya.
Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan kisah kedatangan orang-orang Nasrani dari penduduk Habasyah sekitar dua puluh pengendara ke Mekah, lalu mereka semua masuk Islam. Kisah ini telah disebutkan sebelumnya setelah kisah Najasyi, dan segala puji serta karunia hanya bagi Allah.
Ibnu Ishaq berkata: Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila beliau duduk di masjid, lalu para sahabatnya yang tertindas duduk bersamanya seperti Khabbab, Ammar, Abu Fakihah Yasar budak Shafwan bin Umayyah, Shuhaib, dan orang-orang Muslim yang serupa dengan mereka, maka orang-orang Quraisy mengolok-olok mereka. Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Inilah para sahabatnya sebagaimana kalian lihat. Apakah orang-orang inilah yang diberi petunjuk oleh Allah di antara kita dan agama yang benar?! Seandainya apa yang dibawa Muhammad itu kebaikan, niscaya orang-orang ini tidak akan mendahului kita kepadanya, dan Allah tidak akan mengkhususkan mereka dengan hal itu tanpa kita. Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan tentang mereka: Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada pagi dan petang hari, mereka mengharapkan wajah-Nya (keridhaan-Nya). Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim. Dan demikianlah Kami cobakan sebagian mereka dengan sebagian yang lain, agar mereka berkata, ‘Orang-orang inikah di antara kita yang diberi karunia oleh Allah kepada mereka?’ Bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur? Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, ‘Salam sejahtera atasmu; Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwa barangsiapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kejahilan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (Al-An’am: 52-54).
Ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sering duduk di dekat Marwah di tempat jualan seorang budak Nasrani yang dipanggil Jabr, budak Bani Hadhrami. Mereka biasa berkata: Demi Allah, tidaklah Muhammad mengetahui banyak dari apa yang dibawanya kecuali dari Jabr. Maka Allah Ta’ala menurunkan tentang perkataan mereka itu: Sesungguhnya mereka yang ditonjol-tonjolkan itu (berbahasa) asing sedangkan ini adalah bahasa Arab yang jelas. (An-Nahl: 103)
Kemudian ia menyebutkan turunnya surat Al-Kautsar tentang Al-Ash bin Wa’il ketika ia berkata tentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya ia terputus (tidak punya anak laki-laki), tidak ada keturunan baginya; maka apabila ia mati, penyebutannya akan terputus. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya orang yang membencimu dialah yang terputus. (Al-Kautsar: 3). Artinya yang terputus penyebutannya setelahnya, sekalipun ia meninggalkan ribuan keturunan dan anak cucu. Dan tidaklah penyebutan, ketenaran, dan lisan kejujuran itu dengan banyaknya anak, keturunan, dan cucu. Dan kami telah membahas surat ini dalam Tafsir, dan segala puji bagi Allah.
Telah diriwayatkan dari Abu Ja’far Al-Baqir bahwa Al-Ash bin Wa’il hanya mengatakan hal itu ketika Al-Qasim putra Nabi shallallahu alaihi wasallam meninggal, dan ia telah mencapai usia yang dapat mengendarai hewan dan berjalan di atas unta berkualitas.
Kemudian ia menyebutkan turunnya firman-Nya: Dan mereka berkata, ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat?’ Dan jika Kami turunkan seorang malaikat, pastilah selesai urusan itu. (Al-An’am: 8), dan itu karena perkataan Ubay bin Khalaf, Zam’ah bin Al-Aswad, Al-Ash bin Wa’il, dan An-Nadhr bin Al-Harits: Mengapa tidak diturunkan kepadamu seorang malaikat yang berbicara kepada manusia tentangmu?
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berjalan menurut yang sampai kepada kami melewati Al-Walid bin Al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan Abu Jahl bin Hisyam, lalu mereka menghina dan mengolok-oloknya. Hal itu membuatnya marah, maka Allah Ta’ala menurunkan tentang urusan mereka: Dan sungguh telah diperolok-olokan rasul-rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemooh di antara mereka balasan olok-olokan mereka itu. (Al-An’am: 10)
Aku (Ibnu Katsir) berkata: Dan Allah Ta’ala berfirman: Dan sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelum kamu, lalu mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah. Dan sungguh telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu. (Al-An’am: 34). Dan Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya Kami memberimu kecukupan terhadap orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu). (Al-Hijr: 95).
Sufyan berkata: dari Ja’far bin Iyas dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Para pengolok-olok itu adalah: Al-Walid bin Al-Mughirah, Al-Aswad bin Abdi Yaghuts Az-Zuhri, Al-Aswad bin Al-Muththalib Abu Zam’ah, Al-Harits bin Aithal, dan Al-Ash bin Wa’il As-Sahmi. Maka Jibril mendatanginya, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengadu kepadanya tentang mereka. Jibril menunjukkan kepadanya Al-Walid lalu mengisyaratkan ke urat kakinya dan berkata: Aku cukupkan untukmu. Kemudian menunjukkan kepadanya Al-Aswad bin Al-Muththalib lalu mengisyaratkan ke lehernya dan berkata: Aku cukupkan untukmu. Kemudian menunjukkan kepadanya Al-Aswad bin Abdi Yaghuts lalu mengisyaratkan ke kepalanya dan berkata: Aku cukupkan untukmu. Kemudian menunjukkan kepadanya Al-Harits bin Aithal lalu mengisyaratkan ke perutnya dan berkata: Aku cukupkan untukmu. Dan lewatlah Al-Ash bin Wa’il lalu mengisyaratkan ke telapak kakinya dan berkata: Aku cukupkan untukmu.
Adapun Al-Walid, ia lewat pada seorang laki-laki dari Khuza’ah yang sedang memasang bulu pada anak panahnya, lalu mengenai urat kakinya dan memutuskannya. Adapun Al-Aswad bin Abdi Yaghuts, muncul bisul di kepalanya lalu ia mati karenanya. Adapun Al-Aswad bin Al-Muththalib, ia menjadi buta. Adapun sebab hal itu, ia turun di bawah sebuah pohon samur, lalu ia berkata: Wahai anak-anakku, tidakkah kalian menolak dariku, aku telah dibunuh. Mereka berkata: Kami tidak melihat sesuatu apa pun. Ia berkata: Wahai anak-anakku, tidakkah kalian melindungiku, aku telah celaka, inilah tusukan duri di mataku. Mereka berkata: Kami tidak melihat sesuatu apa pun. Ia terus seperti itu hingga kedua matanya buta.
Adapun Al-Harits bin Aithal, ia terkena penyakit kuning di perutnya hingga kotorannya keluar dari mulutnya, lalu ia mati karenanya. Adapun Al-Ash bin Wa’il, ketika ia seperti itu suatu hari, masuk ke dalam kepalanya syabraqah (sejenis duri) hingga penuh, lalu ia mati karenanya. Orang lain berkata dalam hadits ini: Ia mengendarai keledai menuju Thaif lalu keledai itu duduk di atas syabraqah yaitu duri, maka masuk ke telapak kakinya sebuah duri lalu membunuhnya. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan lafal yang serupa.
Ibnu Ishaq berkata: Pemuka-pemuka pengolok-olok sebagaimana diceritakan kepadaku oleh Yazid bin Ruman dari Urwah bin Az-Zubair adalah lima orang, dan mereka adalah orang-orang yang sudah tua dan mulia di kaum mereka: Al-Aswad bin Al-Muththalib Abu Zam’ah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa terhadapnya: Ya Allah, butakan penglihatannya dan ambillah anaknya darinya. Dan Al-Aswad bin Abdi Yaghuts, Al-Walid bin Al-Mughirah, Al-Ash bin Wa’il, dan Al-Harits bin Ath-Thalathalah. Ia menyebutkan bahwa Allah Ta’ala menurunkan tentang mereka: Maka sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya Kami memberimu kecukupan terhadap orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), (yaitu) orang-orang yang mengadakan tuhan yang lain bersama Allah; maka kelak mereka akan mengetahui (akibatnya). (Al-Hijr: 94-96).
Ia menyebutkan bahwa Jibril mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika mereka sedang thawaf di Ka’bah, lalu ia berdiri dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri di sampingnya. Lewatlah Al-Aswad bin Al-Muththalib lalu ia melempar ke wajahnya sehelai daun hijau lalu ia menjadi buta. Lewat pula Al-Aswad bin Abdi Yaghuts lalu ia mengisyaratkan ke perutnya lalu perutnya penuh dengan air, dan ia mati karena sakit perut. Lewat Al-Walid bin Al-Mughirah lalu ia mengisyaratkan ke bekas luka di bawah mata kakinya, yang mengenainya bertahun-tahun sebelum itu ketika ia lewat pada seorang laki-laki yang memasang bulu pada anak panahnya dari Khuza’ah, lalu sebuah anak panah tersangkut di kainnya dan mencakarnya sedikit, lalu meradang setelah itu dan ia mati. Lewat Al-Ash bin Wa’il lalu ia mengisyaratkan ke telapak kakinya, lalu ia keluar dengan keledainya menuju Thaif, lalu keledai itu duduk di atas syabraqah, maka masuk ke telapak kakinya sebuah duri lalu membunuhnya. Lewat Al-Harits bin Ath-Thalathalah lalu ia mengisyaratkan ke kepalanya lalu penuh dengan nanah dan membunuhnya.
Kemudian Ibnu Ishaq menyebutkan: Bahwa Al-Walid bin Al-Mughirah ketika ia akan meninggal berwasiat kepada ketiga anaknya yaitu Khalid, Hisyam, dan Al-Walid. Ia berkata kepada mereka: Wahai anak-anakku, aku berwasiat kepada kalian dengan tiga hal: darahku ada pada Khuza’ah maka jangan kalian tuntut, demi Allah aku mengetahui bahwa mereka tidak bersalah darinya, tetapi aku khawatir kalian akan dicela karenanya setelah hari ini. Utangku ada pada Tsaqif, maka jangan kalian tinggalkan hingga kalian mengambilnya. Dan mahar yang kuberikan ada pada Abu Uzaihar Ad-Dausi maka jangan kalian biarkan ia lolos dari kalian. Abu Uzaihar telah menikahkan Al-Walid dengan putrinya, kemudian menahannya darinya dan tidak memasukkannya kepadanya hingga ia meninggal, padahal ia telah menerima maharnya. Ketika Al-Walid meninggal, Banu Makhzum menuntut Khuza’ah meminta diat Al-Walid dan berkata: Sesungguhnya anak panah orang kalian yang membunuhnya. Khuza’ah menolak hal itu, hingga mereka saling memaki dengan syair-syair dan perkara menjadi keras di antara mereka. Kemudian Khuza’ah memberikan sebagian diat dan mereka berdamai dan saling berpisah.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Hisyam bin Al-Walid menyerang Abu Uzaihar ketika ia berada di pasar Dzu Al-Majaz lalu membunuhnya. Ia adalah seorang yang mulia di kaumnya. Putrinya adalah istri Abu Sufyan. Hal itu terjadi setelah perang Badar. Lalu Yazid bin Abi Sufyan mengumpulkan orang-orang untuk Banu Makhzum, sedangkan ayahnya sedang tidak ada. Ketika Abu Sufyan datang, ia marah dengan apa yang dilakukan anaknya Yazid lalu menyalahkannya dan memukulnya, dan membayar diat Abu Uzaihar. Ia berkata kepada anaknya: Apakah kamu sengaja membuat Quraisy saling membunuh karena seorang laki-laki dari Daus! Hassan bin Tsabit menulis qashidah yang menghasut Abu Sufyan tentang darah Abu Uzaihar. Maka ia (Abu Sufyan) berkata: Buruk apa yang Hassan sangkakan bahwa kami akan saling membunuh, padahal pembesar-pembesar kami telah gugur pada hari Badar. Ketika Khalid bin Al-Walid masuk Islam dan menyaksikan Thaif bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ia meminta kepada beliau tentang riba ayahnya dari penduduk Thaif.
Ibnu Ishaq berkata: Maka disebutkan kepadaku oleh sebagian ahli ilmu bahwa ayat-ayat ini turun tentang hal itu: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 278) dan seterusnya.
Ibnu Ishaq berkata: Dan tidak ada pembalasan dendam pada Bani Uzaihar yang kami ketahui hingga Islam memisahkan antara manusia, kecuali bahwa Dhirar bin Al-Khaththab bin Mirdas Al-Fihri keluar bersama sejumlah orang Quraisy ke tanah Daus, lalu mereka singgah pada seorang wanita yang disebut Umm Ghailan, budak perempuan Daus. Ia biasa menyisir wanita dan mempersiapkan pengantin. Daus hendak membunuh mereka karena Abu Uzaihar, lalu Umm Ghailan berdiri melindunginya dan wanita-wanita yang bersamanya hingga mencegah mereka. As-Suhaili berkata: Dikatakan bahwa ia memasukkannya di antara bajunya dan tubuhnya.
Ibnu Hisyam berkata: Ketika tiba masa Umar bin Al-Khaththab, Umm Ghailan mendatanginya dan ia mengira bahwa Dhirar adalah saudaranya. Maka Umar berkata kepadanya: Aku bukan saudaranya kecuali dalam Islam, dan aku telah mengetahui kebaikanmu kepadanya. Lalu ia memberinya karena ia anak jalan.
Ibnu Hisyam berkata: Dhirar bin Al-Khaththab mengikuti Umar bin Al-Khaththab pada hari Uhud, lalu ia memukulnya dengan sisi tombak dan berkata: Larilah wahai putra Al-Khaththab, aku tidak membunuhmu. Maka Umar mengingatnya untuknya setelah masuk Islam, semoga Allah meridhai keduanya.
Al-Baihaqi menyebutkan di sini doa Nabi shallallahu alaihi wasallam terhadap Quraisy ketika mereka membandel kepadanya, dengan tujuh (tahun paceklik) seperti tujuhnya Yusuf. Ia mengutip apa yang dikeluarkan dalam Shahihain dari jalur Al-A’masy dari Muslim bin Shubaih dari Masruq dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Lima telah berlalu: Al-Lizam, Ar-Rum, Ad-Dukhan, Al-Bathsyah, dan Al-Qamar. Dalam riwayat lain dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Sesungguhnya Quraisy ketika mereka membandel kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan lambat untuk masuk Islam, beliau berdoa: Ya Allah, tolonglah aku terhadap mereka dengan tujuh (tahun paceklik) seperti tujuhnya Yusuf. Ia berkata: Maka mereka ditimpa paceklik hingga memusnahkan segala sesuatu, hingga mereka memakan bangkai dan mayat, hingga salah seorang dari mereka melihat antara dirinya dan langit seperti asap karena kelaparan. Kemudian ia berdoa maka Allah menghilangkannya dari mereka. Kemudian Abdullah membaca ayat ini: Sesungguhnya Kami akan menghilangkan azab itu sedikit, (tetapi) sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar). (Ad-Dukhan: 15). Ia berkata: Maka mereka kembali dan kafir, lalu mereka ditunda sampai hari Kiamat, atau ia berkata: lalu mereka ditunda sampai hari Badar. Abu Abdullah berkata: Sesungguhnya seandainya itu hari Kiamat, tentu tidak akan dihilangkan dari mereka: Pada hari Kami menghantam dengan hantaman yang keras, sesungguhnya Kami adalah pemberi balasan. (Ad-Dukhan: 16). Ia berkata: Hari Badar.
Dalam riwayat lain darinya, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat orang-orang berpaling, beliau berdoa: Ya Allah, tujuh (tahun paceklik) seperti tujuhnya Yusuf. Maka mereka ditimpa paceklik hingga memakan mayat, kulit, dan tulang. Lalu Abu Sufyan dan sejumlah penduduk Mekah mendatanginya, mereka berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau mengaku bahwa engkau diutus sebagai rahmat, dan sesungguhnya kaummu telah binasa, maka berdoalah kepada Allah untuk mereka. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa lalu mereka diberi hujan, maka hujan turun atas mereka selama tujuh hari. Orang-orang mengeluhkan banyaknya hujan, maka beliau berdoa: Ya Allah, di sekeliling kami dan bukan atas kami. Maka awan bergerak dari kepalanya dan orang-orang di sekeliling mereka mendapat hujan. Ia berkata: Sungguh telah berlalu ayat Ad-Dukhan, yaitu kelaparan yang menimpa mereka. Itulah firman-Nya: Sesungguhnya Kami akan menghilangkan azab itu sedikit, (tetapi) sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar). Dan ayat Ar-Rum, Al-Bathsyah Al-Kubra, dan terbelahnya bulan, dan semua itu pada hari Badar.
Al-Baihaqi berkata: Maksudnya, wallahu a’lam, Al-Bathsyah Al-Kubra, Ad-Dukhan, dan ayat Al-Lizam, semuanya terjadi di Badar. Ia berkata: Dan Al-Bukhari telah mengisyaratkan kepada riwayat ini. Kemudian ia mengutip dari jalur Abdur Razzaq dari Ma’mar dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Abu Sufyan datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta pertolongan dari kelaparan karena mereka tidak menemukan sesuatu pun hingga memakan kulit dengan darah. Maka Allah Ta’ala menurunkan: Dan sungguh Kami telah mengazab mereka dengan azab, tetapi mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka dan tidak pula (mereka) memohon (kepada-Nya). (Al-Mu’minun: 76). Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa hingga Allah menghilangkannya dari mereka. Kemudian Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Dan telah diriwayatkan dalam kisah Abu Sufyan apa yang menunjukkan bahwa hal itu setelah hijrah, dan mungkin itu terjadi dua kali. Wallahu a’lam.
Kemudian Al-Baihaqi mengutip kisah Persia dan Romawi serta turunnya firman-Nya Ta’ala: Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka setelah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (Ar-Rum: 1-5). Kemudian ia meriwayatkan dari jalur Sufyan Ats-Tsauri dari Habib bin Abi Amrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Kaum Muslim menyukai agar Romawi menang atas Persia karena mereka adalah Ahli Kitab. Orang-orang musyrik menyukai agar Persia menang atas Romawi karena mereka adalah penyembah berhala. Kaum Muslim menyebutkan hal itu kepada Abu Bakar lalu Abu Bakar menyebutkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda: Adapun sesungguhnya mereka akan menang. Lalu Abu Bakar menyebutkan hal itu kepada orang-orang musyrik. Mereka berkata: Buatlah antara kami dan engkau batas waktu, jika mereka menang maka engkau mendapat sekian dan sekian, dan jika kami menang maka kami mendapat sekian dan sekian. Abu Bakar menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda: Tidakkah engkau membuatnya, aku melihatnya berkata, kurang dari sepuluh. Ia berkata: Maka Romawi menang setelah itu.
Kami telah mengutip jalur-jalur hadits ini dalam Tafsir, dan kami menyebutkan bahwa yang bertaruh dengan Abu Bakar adalah Umayyah bin Khalaf, dan taruhan itu adalah lima unta betina, dan itu hingga suatu masa lalu Ash-Shiddiq menambahnya atas perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan dalam taruhan. Dan kemenangan Romawi atas Persia adalah pada hari Badar, atau pada hari Hudaibiyah. Wallahu a’lam.
Kemudian ia meriwayatkan dari jalur Al-Walid bin Muslim, ia menceritakan kepada kami Usaid Al-Kalabi bahwa ia mendengar Al-Ala’ bin Az-Zubair Al-Kalabi menceritakan dari ayahnya, ia berkata: Aku melihat kemenangan Persia atas Romawi, kemudian aku melihat kemenangan Romawi atas Persia, kemudian aku melihat kemenangan kaum Muslim atas Persia dan Romawi, dan kekuasaan mereka atas Syam dan Irak, semua itu dalam lima belas tahun.
Bab Tentang Isra Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Makkah ke Baitul Maqdis, Kemudian Mi’rajnya dari Sana ke Langit-langit, dan Apa yang Beliau Saksikan di Sana dari Ayat-ayat Allah
Ibnu Asakir menyebutkan hadits-hadits Isra pada awal masa kenabian, adapun Ibnu Ishaq menyebutkannya pada tempat ini setelah kenabian sekitar sepuluh tahun. Al-Baihaqi meriwayatkan dari jalur Musa bin Uqbah dari Az-Zuhri bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diisra’kan setahun sebelum beliau hijrah ke Madinah. Ia berkata: Demikian pula disebutkan oleh Ibnu Lahi’ah dari Abu Al-Aswad dari Urwah. Kemudian ia meriwayatkan dari Al-Hakim dari Al-Ashom dari Ahmad bin Abdul Jabbar dari Yunus bin Bukair dari Asbath bin Nashr dari Ismail As-Suddi bahwa ia berkata: Diwajibkan atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat lima waktu di Baitul Maqdis pada malam beliau diisra’kan, enam belas bulan sebelum hijrahnya. Menurut pendapat As-Suddi, Isra terjadi pada bulan Dzulqa’dah, sedangkan menurut pendapat Az-Zuhri dan Urwah terjadi pada bulan Rabiul Awwal.
Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Utsman menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Mina dari Jabir dan Ibnu Abbas, keduanya berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lahir pada tahun Gajah, hari Senin tanggal dua belas Rabiul Awwal, dan pada bulan itu beliau diutus, dan pada bulan itu beliau dimi’rajkan ke langit, dan pada bulan itu beliau berhijrah dan pada bulan itu beliau wafat. Dalam sanadnya terdapat keterputusan. Hal ini dipilih oleh Al-Hafizh Abdul Ghani bin Surur Al-Maqdisi dalam kitab sirahnya, dan ia telah menyebutkan sebuah hadits yang sanadnya tidak sahih, yang kami sebutkan dalam Fadha’il Syahr Rajab, bahwa Isra terjadi pada malam dua puluh tujuh Rajab. Wallahu a’lam. Di antara orang-orang ada yang mengklaim bahwa Isra terjadi pada malam Jumat pertama bulan Rajab, yaitu malam Ragha’ib yang diada-adakan di dalamnya shalat yang terkenal itu, dan tidak ada dasar untuk hal tersebut. Wallahu a’lam. Sebagian orang membacakan syair tentang hal itu:
Malam Jumat Nabi dimi’rajkan… malam Jumat awal Rajab
Syair ini di dalamnya terdapat kelemahan, dan kami hanya menyebutkannya sebagai rujukan bagi yang berpendapat demikian. Kami telah menyebutkan hadits-hadits yang diriwayatkan tentang hal itu secara lengkap, pada firman Allah Ta’ala: Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Al-Isra: 1). Maka hendaklah ditulis dari sana sebagaimana adanya dari segi sanad-sanad dan rujukan serta pembahasan atasnya dan bersamanya, karena di dalamnya terdapat kepuasan dan kecukupan. Dan segala puji dan karunia bagi Allah.
Mari kita sebutkan ringkasan pembicaraan Ibnu Ishaq rahimahullah, karena sesungguhnya ia berkata setelah menyebutkan apa yang telah disebutkan dari bab-bab sebelumnya: Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diisra’kan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yaitu Baitul Maqdis dari Iliya, dan saat itu Islam telah tersebar di Makkah, di kalangan Quraisy dan di semua suku, ia berkata: Dan yang sampai kepadaku dari hadits tentang isranya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Ibnu Mas’ud dan Abu Sa’id dan Aisyah, dan Mu’awiyah dan Ummu Hani binti Abu Thalib radiyallahu anhum dan Al-Hasan bin Abu Al-Hasan dan Ibnu Syihab Az-Zuhri dan Qatadah dan lain-lain dari ahli ilmu adalah apa yang terkumpul dalam hadits ini, masing-masing menceritakan tentangnya sebagian dari apa yang disebutkan kepadaku tentang peristiwanya dan dalam isranya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan apa yang disebutkan kepadaku darinya adalah ujian dan pemurnian, dan urusan dari urusan Allah, dalam kekuasaan-Nya dan kekuatan-Nya, di dalamnya terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal, dan petunjuk dan rahmat dan keteguhan bagi yang beriman dan membenarkan, dan tentang urusan Allah dengan keyakinan, maka Allah mengisra’kannya bagaimana Dia kehendaki, dan sebagaimana Dia kehendaki, agar memperlihatkan kepadanya dari ayat-ayat-Nya apa yang Dia kehendaki, hingga ia menyaksikan apa yang ia saksikan dari urusan-Nya, dan kekuasaan-Nya yang agung, dan kekuatan-Nya yang dengannya Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Maka Abdullah bin Mas’ud dalam apa yang sampai kepadaku, berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam didatangkan Al-Buraq, yaitu hewan tunggangan yang biasa ditunggangi para nabi sebelumnya, ia meletakkan telapak kukunya pada batas akhir pandangannya, maka ia ditunggangi padanya, kemudian keluar bersamanya sahabatnya, ia melihat ayat-ayat di antara langit dan bumi, hingga sampai ke Baitul Maqdis, maka ia menemukan di dalamnya Ibrahim dan Musa dan Isa, dalam satu kelompok dari para nabi, yang telah dikumpulkan untuknya, maka ia shalat bersama mereka, kemudian didatangkan kepadanya tiga bejana; dari susu, khamar, dan air. Disebutkan bahwa ia meminum bejana susu, maka Jibril berkata kepadaku: Engkau telah mendapat petunjuk dan ummatmu mendapat petunjuk.
Ibnu Ishaq menyebutkan dalam riwayat Al-Hasan Al-Bashri secara mursal bahwa Jibril membangunkannya, kemudian keluar bersamanya ke pintu Masjidil Haram, lalu menaikkannya ke Al-Buraq, yaitu hewan berwarna putih, antara bagal dan keledai, dan pada kedua pahanya terdapat dua sayap yang dengannya ia menggapai kedua kakinya, ia meletakkan telapak kukunya pada batas akhir pandangannya, kemudian ia membawaku padanya, kemudian ia keluar bersamaku tidak mendahuluiku dan aku tidak mendahuluinya.
Aku (Ibnu Katsir) berkata: Dan dalam hadits, yaitu dari Qatadah dalam apa yang disebutkan Ibnu Ishaq, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika hendak menunggangi Al-Buraq, ia (Al-Buraq) memberontak, maka Jibril meletakkan tangannya pada lehernya, kemudian berkata: Tidakkah engkau malu wahai Buraq dari apa yang engkau lakukan! Demi Allah tidak ada hamba Allah yang menunggangimu sebelum Muhammad yang lebih mulia bagi-Nya dari dia. Ia berkata: Maka ia malu hingga keluar keringatnya, kemudian ia tenang hingga beliau menungganginya. Al-Hasan berkata dalam haditsnya: Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjalan dan Jibril berjalan bersamanya hingga sampai dengan beliau ke Baitul Maqdis, maka ia menemukan di dalamnya Ibrahim dan Musa dan Isa, dalam satu kelompok dari para nabi, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi imam mereka lalu shalat bersama mereka. Kemudian ia menyebutkan pilihannya terhadap bejana susu atas bejana khamar, dan ucapan Jibril kepadanya: Engkau telah mendapat petunjuk dan ummatmu mendapat petunjuk, dan diharamkan atas kalian khamar. Ia berkata: Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kembali ke Makkah lalu di pagi harinya menceritakan kepada Quraisy tentang hal itu, maka disebutkan bahwa kebanyakan orang mendustakannya, dan murtad sebagian orang setelah keislamannya, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bersegera membenarkan dan berkata: Sesungguhnya aku membenarkannya dalam berita dari langit pagi dan petang, maka apakah aku tidak membenarkannya tentang Baitul Maqdis! Disebutkan bahwa Ash-Shiddiq bertanya kepadanya tentang sifat Baitul Maqdis, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkannya kepadanya. Ia berkata: Maka pada hari itu Abu Bakar dinamakan Ash-Shiddiq. Al-Hasan berkata: Dan Allah menurunkan tentang hal itu: Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman kepadamu: “Sesungguhnya Tuhanmu meliputi manusia”. Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon yang terkutuk dalam Al-Qur’an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu malah menambah kesesatan mereka yang besar (Al-Isra: 60) ayat.
Ibnu Ishaq menyebutkan dalam apa yang sampai kepadanya dari Ummu Hani, bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak diisra’kan kecuali dari rumahku, ia tidur di rumahku malam itu setelah shalat Isya, maka ketika menjelang Subuh kami membangunkannya, maka ketika ia shalat Subuh dan kami shalat bersamanya, ia berkata: Wahai Ummu Hani, sungguh aku telah shalat bersama kalian Isya di lembah ini, kemudian aku datang ke Baitul Maqdis lalu shalat di dalamnya, kemudian sungguh aku telah shalat Subuh bersama kalian sekarang sebagaimana kalian lihat. Kemudian ia bangkit hendak keluar maka aku memegang ujung selendangnya, maka aku berkata: Wahai Nabiyallah, jangan ceritakan hadits ini kepada orang-orang, karena mereka akan mendustakanmu dan menyakitimu. Ia berkata: Demi Allah sungguh aku akan menceritakannya kepada mereka. Maka ia mengabarkan kepada mereka lalu mereka mendustakannya, maka ia berkata: Dan tandanya, sesungguhnya aku melewati unta Bani Fulan di lembah ini dan ini, maka suara hewan tunggangan mengejutkan mereka, maka sebuah unta melarikan diri dari mereka, maka aku menunjukkan mereka kepadanya sementara aku menghadap ke Syam, kemudian aku kembali hingga ketika aku berada di Dhajnan aku melewati unta Bani Fulan, maka aku mendapati kaum itu sedang tidur, dan mereka memiliki bejana di dalamnya terdapat air, telah mereka tutup dengan sesuatu, maka aku buka penutupnya dan aku minum apa yang ada di dalamnya, kemudian aku tutup seperti semula, dan tandanya, bahwa unta mereka sekarang akan turun dari jalan Tsaniyah At-Tan’im Al-Baidha, yang didepannya seekor unta kecoklatan yang di atasnya dua karung, salah satunya hitam dan yang lain belang. Ia berkata: Maka kaum itu bergegas ke jalan itu, maka tidak menemui mereka pertama kali kecuali unta yang ia sifatkan kepada mereka, dan mereka bertanya kepada mereka tentang bejana dan tentang unta maka mereka mengabarkan kepada mereka, sebagaimana yang disebutkan oleh beliau shallawatullah wa salamuhu alaihi.
Yunus bin Bukair menyebutkan dari Asbath dari Ismail As-Suddi bahwa matahari hampir terbenam sebelum unta itu datang, maka ia berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, maka Dia menahannya hingga mereka datang sebagaimana yang ia sifatkan kepada mereka. Ia berkata: Maka matahari tidak pernah ditahan untuk siapapun kecuali untuknya pada hari itu, dan untuk Yusya’ bin Nun. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi.
Ibnu Ishaq berkata: Dan mengabarkan kepadaku orang yang tidak aku tuduh, dari Abu Sa’id ia berkata aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: Ketika aku selesai dari apa yang ada di Baitul Maqdis didatangkan kepadaku Mi’raj, dan aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih bagus darinya, dan dialah yang kepadanya orang yang sekarat dari kalian mengulurkan matanya ketika ia hadir, maka sahabatku menaikkanku padanya, hingga sampai denganku ke sebuah pintu dari pintu-pintu langit, yang disebut: pintu penjagaan. Di atasnya seorang malaikat dari para malaikat yang disebut: Ismail. Di bawah perintahnya dua belas ribu malaikat, di bawah perintah setiap malaikat dari mereka dua belas ribu malaikat. Ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata ketika menceritakan hadits ini: Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia (Al-Muddatstsir: 31). Kemudian ia menyebutkan sisa hadits, dan ia sangat panjang, dan kami telah menyebutkannya dengan sanadnya dan lafazhnya secara lengkap dalam Tafsir dan kami telah berbicara tentangnya; karena sesungguhnya ia termasuk hadits-hadits gharib, dan dalam sanadnya terdapat kelemahan, demikian pula dalam riwayat hadits Ummu Hani; karena yang tetap dalam Shahihain, dari riwayat Syarik bin Abdullah bin Abi Namr dari Anas bahwa Isra adalah dari masjid dari dekat Hajar. Dan dalam riwayatnya terdapat keanehan juga dari beberapa segi, kami telah berbicara tentangnya di sana, dan di antaranya ucapannya: Dan itu sebelum diwahyukan kepadanya. Dan jawabannya bahwa kedatangan mereka pertama kali adalah sebelum diwahyukan kepadanya, maka malam itu terjadi dan tidak ada sesuatu di dalamnya, kemudian para malaikat datang kepadanya pada malam lain dan tidak dikatakan dalam hal itu: Dan itu sebelum diwahyukan kepadanya. Bahkan datang kepadanya setelah diwahyukan kepadanya, maka Isra terjadi secara pasti setelah pewahyuan; entah dengan sedikit sebagaimana yang diklaim oleh sebagian kelompok, atau dengan banyak sekitar sepuluh tahun, sebagaimana yang diklaim oleh yang lain, dan ini yang lebih jelas, dan pencucian dadanya malam itu sebelum Isra adalah pencucian kedua, atau ketiga, menurut suatu pendapat; karena ia diminta ke Majelis Tinggi dan Hadhroh Ilahiyah. Kemudian ia menunggangi Al-Buraq sebagai kemuliaan baginya dan pengagungan dan pemuliaan, maka ketika ia datang ke Baitul Maqdis ia mengikatnya pada gelang yang biasa para nabi mengikat padanya, kemudian ia masuk Baitul Maqdis lalu shalat di kiblatnya sebagai tahiyyatul masjid. Dan Hudzaifah radiyallahu anhu mengingkari masukknya ke Baitul Maqdis dan mengikat hewan tunggangan dan shalatnya di dalamnya. Dan ini aneh, dan nash yang menetapkan didahulukan atas yang meniadakan.
Kemudian mereka berbeda pendapat tentang pertemuannya dengan para nabi dan shalatnya bersama mereka; apakah sebelum mi’rajnya ke langit sebagaimana yang ditunjukkan oleh apa yang telah disebutkan, atau setelah turunnya darinya. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebagian riwayat, dan ini lebih sesuai, sebagaimana akan kami sebutkan menurut dua pendapat. Wallahu a’lam. Dan dikatakan: Sesungguhnya shalatnya bersama para nabi adalah di langit. Demikian pula pilihannya dari bejana-bejana susu dan khamar dan air; apakah di Baitul Maqdis, sebagaimana yang telah disebutkan, atau di langit, sebagaimana yang tetap dalam hadits shahih.
Yang dimaksud adalah bahwa ia Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika selesai dari urusan Baitul Maqdis didirikan untuknya Mi’raj, yaitu tangga, maka ia naik padanya ke langit, dan naik itu bukan dengan Al-Buraq, sebagaimana yang mungkin disangka oleh sebagian orang, bahkan Al-Buraq terikat di pintu masjid Baitul Maqdis; agar kembali padanya ke Makkah, maka ia naik dari langit ke langit dengan Mi’raj hingga melampaui yang ketujuh, dan setiap kali ia datang ke suatu langit, menemuinya darinya para malaikat yang didekatkan, dan yang ada di dalamnya dari para pembesar malaikat dan para nabi, dan disebutkan orang-orang tertentu yang ia lihat dari para rasul; seperti Adam di langit dunia, dan Yahya dan Isa di yang kedua, dan Idris di yang keempat, dan Musa di yang keenam, menurut yang shahih, dan Ibrahim di yang ketujuh menyandarkan punggungnya pada Baitil Ma’mur yang memasukinya setiap hari tujuh puluh ribu malaikat, mereka beribadah di dalamnya dengan shalat dan thawaf, kemudian mereka tidak kembali kepadanya hingga hari kiamat, kemudian ia melampaui maqam mereka semua, hingga tampak bagi tingkatan ia mendengar di dalamnya derit pena, dan diangkat bagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Sidratul Muntaha, dan ternyata daunnya seperti telinga gajah, dan buah bidara seperti guci Hajar, dan menyelimutinya pada saat itu perkara-perkara yang agung; warna-warna yang beraneka ragam lagi cemerlang, dan ditunggangi padanya para malaikat seperti burung gagak di pohon karena banyaknya, dan kupu-kupu dari emas, dan menyelimutinya dari cahaya Rabb Jalla Jalaluhu, dan ia melihat di sana Jibril Alaihissalam, baginya enam ratus sayap apa yang antara setiap dua sayap seperti antara langit dan bumi, dan dialah yang tentangnya Allah Ta’ala berfirman: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya (An-Najm: 13-17). Artinya: penglihatannya tidak berpaling ke kanan dan tidak ke kiri, dan tidak terangkat dari tempat yang ditentukan baginya penglihatan kepadanya, dan ini adalah keteguhan yang agung, dan adab yang mulia, dan ini adalah penglihatan kedua terhadap Jibril Alaihissalam, pada sifat yang Allah Ta’ala ciptakan padanya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah dan Abu Dzar dan Aisyah radiyallahu anhum ajma’in. Dan yang pertama adalah firman-Nya Ta’ala: Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai kekuatan, maka (Jibril itu) menampakkan dirinya dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia mewahyukan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan (An-Najm: 5-10). Dan itu di Al-Abthah Jibril turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan besar penciptaannya menutupi apa yang antara langit dan bumi, hingga antara dia dan dia sejauh dua busur atau lebih dekat, inilah yang shahih dalam Tafsir sebagaimana yang ditunjukkan oleh perkataan para pembesar sahabat yang telah disebutkan radiyallahu anhum. Adapun ucapan Syarik dari Anas dalam hadits Isra: Kemudian mendekat Al-Jabbar Rabbul Izzah lalu bertambah dekat, maka jadilah dia sejauh dua busur atau lebih dekat. Maka mungkin dari pemahaman perawi lalu dimasukkannya dalam hadits. Wallahu a’lam. Dan jika memang terpelihara, maka bukan tafsir ayat yang mulia, bahkan ia sesuatu yang lain selain apa yang ditunjukkan oleh ayat yang mulia. Wallahu a’lam.
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan atas hamba-Nya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan atas ummatnya shalat-shalat pada malam itu, lima puluh shalat dalam setiap siang dan malam, kemudian tidak henti-henti ia bolak-balik antara Musa dan Rabb-nya Azza wa Jalla. Hingga Rabb Jalla Jalaluhu menguranginya, dan bagi-Nya segala pujian dan karunia, menjadi lima. Dan Dia berfirman: Ia adalah lima dan ia adalah lima puluh: kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Maka terjadi baginya pembicaraan dari Rabb Azza wa Jalla pada malam itu, dan para imam Sunnah seperti sepakat atas hal ini, dan mereka berbeda pendapat tentang penglihatan; maka sebagian dari mereka berkata: Ia melihat-Nya dengan hatinya dua kali. Demikian dikatakan Ibnu Abbas dan satu kelompok, dan Ibnu Abbas dan lainnya mengutarakan penglihatan secara mutlak, dan ia diartikan dengan pembatasan. Dan di antara yang mengutarakan penglihatan secara mutlak adalah Abu Hurairah dan Ahmad bin Hanbal radiyallahu anhuma, dan sebagian dari mereka menyatakan secara tegas penglihatan dengan kedua mata, dan dipilih oleh Ibnu Jarir dan ia bersungguh-sungguh di dalamnya, dan mengikutinya atas hal itu yang lain dari kalangan mutaakhkhirin. Dan di antara yang menyatakan dengan tegas penglihatan dengan kedua mata kepalanya: Asy-Syaikh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari dalam apa yang diriwayatkan As-Suhaili darinya, dan dipilih oleh Asy-Syaikh Abu Zakariya An-Nawawi dalam fatwa-fatwanya. Dan sebagian kelompok berkata: Tidak terjadi hal itu; karena hadits Abu Dzar dalam Shahih Muslim, aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Rabbmu? Maka ia berkata: Cahaya bagaimana aku melihat-Nya dan dalam riwayat: Aku melihat cahaya. Mereka berkata: Dan tidak mungkin melihat Yang Kekal dengan mata yang fana, dan karena itu Allah Ta’ala berfirman kepada Musa dalam apa yang diriwayatkan dalam sebagian kitab-kitab ilahi: Wahai Musa, sesungguhnya tidak ada yang melihat-Ku yang hidup melainkan ia mati, dan tidak kering melainkan ia hancur. Dan perbedaan pendapat dalam masalah ini terkenal di antara Salaf dan Khalaf. Wallahu a’lam.
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam turun ke Baitul Maqdis, dan yang tampak adalah bahwa para nabi turun bersamanya sebagai penghormatan dan pengagungan terhadapnya, ketika beliau kembali dari Hadirat Ilahiyah yang Agung, sebagaimana kebiasaan para pengunjung; mereka tidak bertemu dengan siapapun sebelum orang yang mereka tuju, dan karena itulah setiap kali beliau melewati salah seorang dari mereka, Jibril berkata kepadanya ketika mereka datang untuk memberi salam: “Ini adalah si fulan, maka berilah dia salam.” Seandainya beliau sudah bertemu dengan mereka sebelum naik, niscaya beliau tidak perlu diperkenalkan kepada mereka untuk kedua kalinya. Dan yang menunjukkan hal itu adalah sabda beliau: “Ketika waktu salat tiba, aku menjadi imam mereka.” Dan waktu salat yang telah tiba saat itu hanyalah salat Fajar, maka beliau menjadi imam mereka atas perintah Jibril yang diriwayatkannya dari Rabbnya azza wa jalla. Sebagian ulama menyimpulkan dari hal ini bahwa imam yang lebih utama didahulukan dalam keimamatan atas pemilik tempat; karena Baitul Maqdis adalah tempat dan rumah tinggal mereka. Kemudian beliau keluar darinya dan menunggangi Buraq, lalu kembali ke Mekah dan tiba di sana pada pagi harinya, dalam keadaan sangat teguh, tenang, dan berwibawa, padahal pada malam itu beliau telah menyaksikan berbagai tanda dan peristiwa yang seandainya dilihat oleh orang lain, atau sebagiannya saja, niscaya dia akan terkejut atau hilang akal di pagi harinya, namun beliau shallallahu alaihi wasallam di pagi harinya dalam keadaan termangu, yaitu diam, khawatir jika beliau memulai dan memberitahu kaumnya tentang apa yang dilihatnya, mereka akan segera mendustakannya. Maka beliau berhati-hati dengan memberitahu mereka terlebih dahulu bahwa beliau datang ke Baitul Maqdis pada malam itu. Hal itu terjadi ketika Abu Jahal, laknat Allah atasnya, melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Masjidil Haram sedang duduk termangu, lalu berkata kepadanya: “Apakah ada kabar?” Beliau menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Dan apa itu?” Beliau bersabda: “Aku di-isra-kan malam ini ke Baitul Maqdis.” Dia berkata: “Ke Baitul Maqdis?!” Beliau menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Bagaimana pendapatmu jika aku panggil kaummu untukmu agar engkau memberitahu mereka, apakah engkau akan memberitahu mereka seperti yang engkau beritahukan kepadaku?” Beliau menjawab: “Ya.” Maka Abu Jahal ingin mengumpulkan Quraisy agar mereka mendengar hal itu darinya, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ingin mengumpulkan mereka untuk memberitahu dan menyampaikan kepada mereka. Maka Abu Jahal berkata: “Mari wahai golongan Quraisy.” Maka mereka berkumpul dari tempat-tempat perkumpulan mereka, lalu dia berkata: “Beritahulah kaummu tentang apa yang engkau beritahukan kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada mereka tentang apa yang dilihatnya, dan bahwa beliau datang ke Baitul Maqdis malam ini dan salat di dalamnya. Di antara mereka ada yang bertepuk tangan, dan ada yang menguningkan wajahnya, karena mendustakannya dan menganggap jauh kabarnya. Kabar itu pun tersebar di Mekah, dan orang-orang datang kepada Abu Bakar radhiyallahu anhu lalu memberitahunya bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam mengatakan begini dan begini. Maka dia berkata: “Kalian berdusta atasnya.” Mereka berkata: “Demi Allah, dia benar-benar mengatakannya.” Dia berkata: “Jika dia mengatakannya, maka dia benar.” Kemudian dia datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang dikelilingi oleh orang-orang musyrik Quraisy, lalu bertanya kepadanya tentang itu dan beliau memberitahunya. Dia meminta beliau menjelaskan sifat-sifat Baitul Maqdis; agar orang-orang musyrik mendengar dan mengetahui kebenarannya dalam apa yang diberitahukan kepada mereka. Dan dalam Shahih disebutkan bahwa orang-orang musyriklah yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang itu. Beliau bersabda: “Maka aku mulai memberitahu mereka tentang tanda-tandanya, namun sebagian darinya membingungkanku, lalu Allah menampakkan Baitul Maqdis untukku, hingga aku melihatnya di depan rumah Aqil dan menjelaskannya kepada mereka.” Mereka berkata: “Adapun sifatnya, dia memang benar.”
Dan Ibnu Ishaq menyebutkan apa yang telah disebutkan sebelumnya tentang pemberitahuan beliau kepada mereka bahwa beliau melewati unta-unta mereka, dan tentang minum air mereka. Maka Allah menegakkan hujjah atas mereka, dan jalan yang terang bagi mereka menjadi jelas, maka berimanlah orang yang beriman atas keyakinan dari Rabbnya, dan kafirlah orang yang kafir setelah tegaknya hujjah atasnya, sebagaimana firman Allah taala: “Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia” (Surah Al-Isra: 60), yaitu; sebagai cobaan dan ujian bagi mereka. Ibnu Abbas berkata: Itu adalah penglihatan mata yang diperlihatkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan ini adalah madzhab jumhur Salaf dan Khalaf, bahwa Isra itu dengan jasad dan ruhnya shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana ditunjukkan oleh zhahir rangkaian kisah dari penunggangannya dan kenaikannya di Mi’raj, dan lainnya; dan karena itulah Allah taala berfirman: “Maha Suci yang telah memperjalankan hambanya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha” (Surah Al-Isra: 1), dan tasbih itu hanya dilakukan ketika ada ayat-ayat besar yang luar biasa, maka ini menunjukkan bahwa itu dengan ruh dan jasad, dan hamba adalah ungkapan dari keduanya. Dan juga, seandainya itu mimpi, niscaya orang-orang kafir Quraisy tidak akan bersegera mendustakannya dan menganggapnya jauh, karena dalam hal itu tidak ada perkara besar. Maka itu menunjukkan bahwa beliau memberitahu mereka bahwa beliau di-isra-kan dalam keadaan terjaga, bukan dalam mimpi.
Dan sabdanya dalam hadits Syarik dari Anas: “Kemudian aku terbangun dan aku berada di Hijr” termasuk dalam kesalahan-kesalahan Syarik atau dipahami bahwa perpindahan dari satu keadaan ke keadaan lain dinamakan terjaga, sebagaimana akan datang dalam hadits Aisyah radhiyallahu anha, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pergi ke Thaif lalu mereka mendustakannya. Beliau bersabda: “Maka aku kembali dengan penuh kekhawatiran, dan aku tidak sadar kecuali di Qarnuts Tsaalib.” Dan dalam hadits Abu Usaid ketika dia datang dengan anaknya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk ditahnik, lalu dia menaruhnya di paha Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sibuk berbicara dengan orang-orang, maka Abu Usaid mengangkat anaknya, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersadar dan tidak menemukan anak itu, lalu bertanya tentangnya. Mereka berkata: “Telah diangkat.” Maka beliau menamakannya Al-Mundzir. Dan pemahaman ini lebih baik daripada kesalahan. Wallahu alam.
Dan Ibnu Ishaq telah meriwayatkan, dia berkata: Sebagian keluarga Abu Bakar menceritakan kepadaku dari Aisyah ummul mukminin, bahwa dia berkata: Jasad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak hilang, tetapi Allah meng-isra-kan ruhnya. Dia berkata: Dan Yaqub bin Utbah menceritakan kepadaku bahwa Muawiyah jika ditanya tentang perjalanan malam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: Itu adalah mimpi yang benar dari Allah.
Ibnu Ishaq berkata: Maka dia tidak mengingkari hal itu dari perkataan keduanya; karena perkataan Hasan: Bahwa ayat ini turun tentang itu: “Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia”, dan sebagaimana Ibrahim alaihissalam berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu” (Surah Ash-Shaffat: 102), dan dalam hadits: “Mataku tidur tetapi hatiku terjaga.”
Ibnu Ishaq berkata: Maka Allah lebih mengetahui yang mana dari itu yang terjadi, dan dia menyaksikan di dalamnya apa yang disaksikan dari perkara Allah taala, dalam keadaan apapun dia berada, tidur atau terjaga, semua itu benar dan nyata.
Aku berkata: Dan Ibnu Ishaq telah berhenti tentang itu, dan membolehkan kedua perkara itu secara umum, tetapi yang tidak diragukan dan tidak dipertanyakan adalah bahwa itu pasti dalam keadaan terjaga; karena apa yang telah disebutkan sebelumnya. Dan bukan maksud perkataan Aisyah radhiyallahu anha bahwa jasad beliau shallallahu alaihi wasallam tidak hilang, dan bahwa Isra hanya dengan ruhnya, bahwa itu adalah mimpi sebagaimana dipahami oleh Ibnu Ishaq, bahkan boleh jadi Isra terjadi dengan ruhnya secara hakikat, dan beliau dalam keadaan terjaga bukan tidur, dan menunggangi Buraq, dan datang ke Baitul Maqdis, dan naik ke langit-langit, dan menyaksikan apa yang disaksikan, secara hakikat dan dalam keadaan terjaga bukan mimpi. Mungkin ini adalah maksud Aisyah ummul mukminin radhiyallahu anha, dan maksud orang yang mengikutinya dalam hal itu, bukan apa yang dipahami oleh Ibnu Ishaq bahwa mereka bermaksud dengan itu mimpi. Wallahu alam.
Peringatan: Dan kami tidak mengingkari terjadinya mimpi sebelum Isra, sesuai dengan apa yang terjadi setelah itu, karena beliau shallallahu alaihi wasallam tidak melihat mimpi melainkan datang seperti cahaya fajar, dan hal yang serupa telah disebutkan sebelumnya dalam hadits awal wahyu, bahwa beliau melihat dalam mimpi seperti apa yang terjadi padanya dalam keadaan terjaga, mimpi sebelumnya, agar hal itu menjadi dari pintu persiapan, penguatan, dan ketenangan. Wallahu alam.
Kemudian para ulama telah berbeda pendapat apakah Isra dan Mi’raj terjadi dalam satu malam, atau masing-masing dalam malam tersendiri? Di antara mereka ada yang mengklaim bahwa Isra dalam keadaan terjaga, dan Mi’raj dalam mimpi. Dan Al-Muhallab bin Abi Shufrah dalam syarahnya atas Bukhari telah meriwayatkan dari sekelompok ulama, bahwa mereka berpendapat Isra terjadi dua kali, sekali dengan ruhnya dalam mimpi, dan sekali dengan jasad dan ruhnya dalam keadaan terjaga. Dan Hafizh Abu al-Qasim as-Suhaili telah meriwayatkannya dari gurunya Abu Bakar bin al-Arabi ahli fiqih Maliki. Dan pendapat ini mengumpulkan hadits-hadits; karena dalam hadits Syarik dari Anas: “Dan itu dalam apa yang dilihat hatinya, matanya tidur tetapi hatinya tidak tidur,” dan disebutkan di akhirnya: “Kemudian aku terbangun dan aku berada di Hijr.” Dan ini adalah mimpi, dan yang lain menunjukkan keadaan terjaga. Dan di antara mereka ada yang mengklaim berulangnya Isra dalam keadaan terjaga juga, hingga sebagian mereka berkata: Bahwa itu empat kali Isra. Dan sebagian mereka mengklaim bahwa sebagiannya terjadi di Madinah. Dan Syekh Syihabuddin Abu Syamah rahimahullah telah berusaha merukunkan antara perbedaan yang terjadi dalam riwayat-riwayat hadits Isra dengan mengumpulkannya dengan berulang, maka dia menjadikannya tiga kali Isra, sekali dari Mekah ke Baitul Maqdis saja dengan Buraq, dan sekali dari Mekah ke langit-langit dengan Buraq juga, untuk hadits Hudzaifah, dan sekali dari Mekah ke Baitul Maqdis kemudian ke langit-langit.
Maka kami katakan: Jika yang membawanya kepada pendapat tentang tiga kali ini adalah perbedaan riwayat-riwayat, maka lafazh hadits dalam hal itu telah berbeda lebih dari tiga sifat ini, dan siapa yang ingin mengetahui hal itu, hendaklah dia melihat apa yang kami kumpulkan secara lengkap dalam kitab kami Tafsir pada firman Allah taala: “Maha Suci yang telah memperjalankan hambanya pada malam hari”, dan jika yang membawanya adalah bahwa pembagian terbatas pada tiga sifat berkaitan dengan Baitul Maqdis dan langit-langit, maka tidak mengharuskan dari pembatasan akal terjadinya demikian di luar kecuali dengan dalil. Wallahu alam.
Dan yang mengherankan adalah bahwa Imam Abu Abdullah al-Bukhari rahimahullah menyebutkan Isra setelah dia menyebutkan kematian Abu Thalib, maka dia sesuai dengan Ibnu Ishaq dalam menyebutkan Mi’raj di akhir-akhir perkara, dan berbeda dengannya dalam menyebutkannya setelah kematian Abu Thalib, dan Ibnu Ishaq mengakhirkan penyebutan kematian Abu Thalib setelah Isra. Maka Allah lebih mengetahui yang mana dari itu yang terjadi.
Dan yang dimaksud adalah bahwa Bukhari memisahkan antara Isra dan Mi’raj, maka dia membuat bab untuk masing-masingnya secara tersendiri. Dia berkata: Bab hadits Isra dan firman Allah Subhanahu wa Taala: “Maha Suci yang telah memperjalankan hambanya pada malam hari”. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami al-Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab, telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman, dia berkata: Aku mendengar Jabir bin Abdullah bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ketika Quraisy mendustakan aku, aku berada di Hijr, lalu Allah menampakkan Baitul Maqdis untukku, maka aku mulai memberitahu mereka tentang tanda-tandanya, sementara aku melihatnya.” Dan telah diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dan Nasa’i dari hadits az-Zuhri dari Abu Salamah dari Jabir dengannya. Dan diriwayatkan oleh Muslim dan Nasa’i dari hadits Abdullah bin al-Fadhl dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sepertinya.
Kemudian Bukhari berkata: Bab hadits Mi’raj: Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada mereka tentang malam beliau di-isra-kan, beliau bersabda: “Ketika aku berada di Hathim, dan mungkin dia berkata: di Hijr berbaring, tiba-tiba datang kepadaku seseorang, dia berkata: Dan aku mendengarnya berkata: Maka dibelah antara ini sampai ini.” Maka aku bertanya kepada al-Jarud yang berada di sampingku, apa yang dimaksud dengannya? Dia berkata: Dari lekuk lehernya sampai rambutnya. Dan aku mendengarnya berkata: Dari ubun-ubunnya sampai rambutnya. “Maka dikeluarkan hatiku, kemudian didatangkan kepadaku bejana dari emas yang penuh dengan iman, lalu hatiku dicuci, kemudian diisi, kemudian dikembalikan. Kemudian didatangkan kepadaku hewan di bawah bagal dan di atas keledai yang berwarna putih.” Maka al-Jarud berkata kepadanya: Apakah itu Buraq wahai Abu Hamzah? Anas berkata: Ya. Dia meletakkan langkahnya pada ujung pandangannya yang paling jauh. Maka aku diangkat ke atasnya, lalu Jibril berangkat denganku hingga sampai ke langit dunia lalu meminta izin. Dikatakan: Siapa ini? Dia berkata: Jibril. Dikatakan: Dan siapa bersamamu? Dia berkata: Muhammad. Dikatakan: Apakah telah diutus kepadanya? Dia berkata: Ya. Dikatakan: Selamat datang kepadanya, maka sebaik-baik kedatangan telah datang. Maka dibuka, tatkala aku keluar, tiba-tiba di dalamnya ada Adam. Maka dia berkata: Ini bapakmu Adam, maka berilah dia salam. Maka aku memberinya salam, lalu dia membalas salam, kemudian berkata: “Selamat datang kepada anak yang saleh dan nabi yang saleh.” Kemudian dia naik denganku ke langit kedua, lalu meminta izin. Dikatakan: Siapa ini? Dia berkata: Jibril. Dikatakan: Dan siapa bersamamu? Dia berkata: Muhammad. Dikatakan: Apakah telah diutus kepadanya? Dia berkata: Ya. Dikatakan: Selamat datang kepadanya, maka sebaik-baik kedatangan telah datang. Maka dibuka, tatkala aku keluar, tiba-tiba Yahya dan Isa, dan mereka berdua adalah anak saudara perempuan. Dia berkata: Ini Yahya dan Isa maka berilah mereka salam. Maka aku memberi mereka salam lalu mereka membalas, kemudian mereka berdua berkata: “Selamat datang kepada saudara yang saleh dan nabi yang saleh.” Kemudian dia naik denganku ke langit ketiga lalu meminta izin. Dikatakan: Siapa ini? Dia berkata: Jibril. Dikatakan: Dan siapa bersamamu? Dia berkata: Muhammad. Dikatakan: Apakah telah diutus kepadanya? Dia berkata: Ya. Dikatakan: Selamat datang kepadanya, maka sebaik-baik kedatangan telah datang. Maka dibuka, tatkala aku keluar tiba-tiba Yusuf. Dia berkata: Ini Yusuf maka berilah dia salam. Maka aku memberinya salam, lalu dia membalas kemudian berkata: “Selamat datang kepada saudara yang saleh dan nabi yang saleh.” Kemudian dia naik denganku hingga sampai langit keempat, lalu meminta izin. Dikatakan: Siapa ini? Dia berkata: Jibril. Dikatakan: Dan siapa bersamamu? Dia berkata: Muhammad. Dikatakan: Apakah telah diutus kepadanya? Dia berkata: Ya. Dikatakan: Selamat datang kepadanya, maka sebaik-baik kedatangan telah datang. Tatkala aku keluar tiba-tiba Idris. Dia berkata: Ini Idris maka berilah dia salam. Maka aku memberinya salam lalu dia membalas, kemudian berkata: “Selamat datang kepada saudara yang saleh dan nabi yang saleh.” Kemudian dia naik denganku hingga sampai langit kelima, lalu meminta izin. Dikatakan: Siapa ini? Dia berkata: Jibril. Dikatakan: Dan siapa bersamamu? Dia berkata: Muhammad. Dikatakan: Apakah telah diutus kepadanya? Dia berkata: Ya. Dikatakan: Selamat datang kepadanya, maka sebaik-baik kedatangan telah datang. Tatkala aku keluar tiba-tiba Harun. Dia berkata: Ini Harun, maka berilah dia salam. Maka aku memberinya salam lalu dia membalas, kemudian berkata: “Selamat datang kepada saudara yang saleh dan nabi yang saleh.” Kemudian dia naik denganku hingga sampai langit keenam, lalu meminta izin. Dikatakan: Siapa ini? Dia berkata: Jibril. Dikatakan: Dan siapa bersamamu? Dia berkata: Muhammad. Dikatakan: Apakah telah diutus kepadanya? Dia berkata: Ya. Dikatakan: Selamat datang kepadanya, maka sebaik-baik kedatangan telah datang. Tatkala aku keluar tiba-tiba Musa. Dia berkata: Ini Musa maka berilah dia salam. Maka aku memberinya salam, lalu dia membalas, kemudian berkata: “Selamat datang kepada saudara yang saleh dan nabi yang saleh.” Tatkala aku melewatinya, dia menangis. Dikatakan kepadanya: Apa yang membuatmu menangis? Dia berkata: “Aku menangis; karena seorang pemuda yang diutus setelahku akan masuk surga dari umatnya lebih banyak daripada yang masuk darinya dari umatku.” Kemudian dia naik denganku ke langit ketujuh, lalu Jibril meminta izin. Dikatakan: Siapa ini? Dia berkata: Jibril. Dikatakan: Dan siapa bersamamu? Dia berkata: Muhammad. Dikatakan: Apakah telah diutus kepadanya? Dia berkata: Ya. Dikatakan: Selamat datang kepadanya, maka sebaik-baik kedatangan telah datang. Tatkala aku keluar tiba-tiba Ibrahim. Dia berkata: Ini bapakmu Ibrahim maka berilah dia salam. Maka aku memberinya salam, lalu dia membalas salam, kemudian berkata: “Selamat datang kepada anak yang saleh dan nabi yang saleh.” Kemudian diangkat untukku Sidratul Muntaha, tiba-tiba bidjinya seperti tempayan Hajar, dan tiba-tiba daunnya seperti telinga gajah. Dia berkata: Ini Sidratul Muntaha, dan tiba-tiba empat sungai, dua sungai yang zhahir dan dua sungai yang batin. Maka aku bertanya: Apa ini wahai Jibril? Dia berkata: Adapun yang batin maka dua sungai di surga, dan adapun yang zhahir maka Nil dan Furat. Kemudian diangkat untukku Baitul Ma’mur, memasukinya setiap hari tujuh puluh ribu malaikat. Kemudian didatangkan kepadaku bejana khamar, bejana susu, dan bejana madu, maka aku mengambil susu. Maka dia berkata: “Ini adalah fithrah yang engkau dan umatmu berada di atasnya.” Kemudian diwajibkan atasku salat lima puluh salat setiap hari. Maka aku kembali lalu melewati Musa. Maka dia bertanya: Dengan apa engkau diperintahkan? Aku berkata: Aku diperintahkan dengan lima puluh salat setiap hari. Dia berkata: “Sesungguhnya umatmu tidak mampu lima puluh salat setiap hari, dan aku demi Allah telah mencoba manusia sebelummu, dan aku telah berusaha keras dengan Bani Israil dengan sangat keras, maka kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan untuk umatmu.” Maka aku kembali lalu dikurangi dariku sepuluh, maka aku kembali kepada Musa lalu dia berkata seperti itu. Maka aku kembali lalu dikurangi dariku sepuluh, maka aku kembali kepada Musa lalu dia berkata seperti itu. Maka aku kembali lalu dikurangi dariku sepuluh, maka aku kembali kepada Musa lalu dia berkata seperti itu. Maka aku kembali lalu diperintahkan dengan sepuluh salat setiap hari lalu dia berkata seperti itu. Maka aku kembali lalu diperintahkan dengan lima salat setiap hari, maka aku kembali kepada Musa. Maka dia bertanya: Dengan apa engkau diperintahkan? Maka aku berkata: Aku diperintahkan dengan lima salat setiap hari. Dia berkata: “Sesungguhnya umatmu tidak mampu lima salat setiap hari, dan aku telah mencoba manusia sebelummu, dan aku telah berusaha keras dengan Bani Israil dengan sangat keras, maka kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan untuk umatmu.” Aku berkata: “Aku telah meminta kepada Rabbku hingga aku malu, tetapi aku ridha dan menyerah.” Dia berkata: “Tatkala aku melewatinya, penyeru menyerukan: Aku telah melaksanakan kewajiban-Ku dan meringankan dari hamba-hamba-Ku.” Demikianlah Bukhari meriwayatkan hadits ini di sini, dan dia telah meriwayatkannya di tempat-tempat lain dari Shahihnya, dan Muslim dan Tirmidzi dan Nasa’i dari beberapa jalan dari Qatadah dari Anas dari Malik bin Sha’sha’ah. Dan kami meriwayatkannya dari hadits Anas bin Malik dari Ubay bin Ka’ab, dan dari hadits Anas dari Abu Dzar, dan dari jalan-jalan yang banyak dari Anas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan kami telah menyebutkan hal itu secara lengkap dengan jalan-jalan dan lafazh-lafazhnya dalam Tafsir. Dan tidak terjadi dalam rangkaian ini penyebutan Baitul Maqdis, dan sebagian perawi menghapus sebagian cerita karena mengetahuinya, atau melupakannya, atau menyebutkan apa yang lebih penting menurutnya, atau kadang memperluas lalu menceritakan semuanya, dan kadang menceritakan kepada lawan bicaranya apa yang lebih bermanfaat baginya. Dan siapa yang menjadikan setiap riwayat sebagai Isra tersendiri – sebagaimana disebutkan sebelumnya dari sebagian mereka – maka dia sangat jauh; dan itu karena semua rangkaian di dalamnya ada salam kepada para nabi, dan di masing-masing ada pengenalan beliau kepada mereka. Dan di semuanya diwajibkan atas beliau salat-salat, maka bagaimana mungkin diklaim berulangnya hal itu? Ini sangat jauh dan mustahil. Wallahu alam.
Kemudian al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyān, dari ‘Amr, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbās, tentang firman Allah Ta‘ala: “Dan tidaklah Kami jadikan penglihatan (ru’ya) yang Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai cobaan bagi manusia” (Surah al-Isrā’ [17]: 60). Ia berkata: yang dimaksud adalah penglihatan dengan mata kepala (ru’ya ‘ain), yang diperlihatkan kepada Rasulullah pada malam beliau diperjalankan (Isra’) ke Baitul Maqdis. Dan “pohon yang terkutuk dalam Al-Qur’an”, ia berkata: itulah pohon zaqqum.
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bangun di pagi hari setelah Malam Isra, Jibril datang kepadanya pada waktu zuhur, lalu menjelaskan kepadanya tata cara shalat dan waktu-waktunya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan para sahabatnya untuk berkumpul, kemudian Jibril shalat bersama mereka pada hari itu hingga hari berikutnya, dan kaum muslimin mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam sementara beliau mengikuti Jibril, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ibnu Abbas dan Jabir: “Jibril menjadi imam bagiku di Baitullah dua kali, lalu menjelaskan kepadaku dua waktu tersebut”, yaitu waktu awal dan waktu akhir, dan di antara keduanya adalah waktu yang diperluas. Tidak disebutkan adanya perluasan waktu untuk shalat Maghrib. Hal ini telah ditetapkan dalam hadits Abu Musa, Buraidah, dan Abdullah bin Amr, semuanya terdapat dalam Shahih Muslim. Pembahasan detail mengenai hal ini terdapat dalam kitab kami al-Ahkam, segala puji bagi Allah.
Adapun yang ditetapkan dalam Shahih al-Bukhari dari jalur Sufyan dari az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah, ia berkata: “Shalat diwajibkan pertama kali dua rakaat, lalu shalat safar tetap seperti itu, dan ditambah dalam shalat di waktu mukim.” Demikian pula diriwayatkan oleh al-Auza’i dari az-Zuhri, dan diriwayatkan oleh asy-Sya’bi dari Masruq dari Aisyah. Hal ini menjadi permasalahan karena Aisyah melakukan shalat dengan sempurna dalam safar, demikian pula Utsman bin Affan. Kami telah membahas hal tersebut pada firman Allah Ta’ala: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang oleh orang-orang kafir.” (QS. an-Nisa: 101)
Al-Baihaqi berkata: al-Hasan al-Bashri berpendapat bahwa shalat mukim pada awal kewajiban adalah empat rakaat, sebagaimana disebutkan secara mursal dari shalat Nabi shallallahu alaihi wasallam pada pagi hari setelah Isra: Zhuhur empat rakaat, Ashar empat rakaat, Maghrib tiga rakaat dengan mengeraskan bacaan pada dua rakaat pertama, Isya empat rakaat dengan mengeraskan bacaan pada dua rakaat pertama, dan Subuh dua rakaat dengan mengeraskan bacaan di dalamnya.
Saya (Ibnu Katsir) berkata: Mungkin maksud Aisyah adalah bahwa shalat sebelum Isra dilakukan dua rakaat-dua rakaat, kemudian ketika lima shalat diwajibkan, diwajibkan dalam keadaan mukim sebagaimana adanya sekarang, dan diringankan dalam safar untuk shalat dua rakaat, sebagaimana keadaan dahulu. Dengan demikian tidak ada lagi permasalahan sama sekali, wallahu a’lam.
Pasal tentang Terbelahnya Bulan di Zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam – dan Allah Menjadikannya Bukti atas Kebenaran Rasul-Nya dalam Apa yang Dibawanya berupa Petunjuk dan Agama yang Haq, di mana Hal Itu Terjadi Sesuai dengan Isyarat Beliau yang Mulia
Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia: “Telah dekat datangnya hari Kiamat dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: ‘(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.’ Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.” (QS. al-Qamar: 1-3)
Kaum muslimin telah bersepakat tentang terjadinya hal tersebut pada zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. Hadits-hadits mutawatir datang mengenai hal ini dari berbagai jalur yang memberikan keyakinan kepada siapa saja yang memahaminya dan mempelajarinya. Kami akan menyebutkan dari hal tersebut apa yang memungkinkan, insya Allah, dengan pertolongan-Nya, dan kepada-Nya kami bertawakkal. Kami telah meneliti hal ini dalam kitab kami “Tafsir” dengan menyebutkan jalur-jalur dan lafadz-lafadznya secara detail. Di sini kami akan menunjukkan sebagian dari jalur-jalurnya, dan menisbatkannya kepada kitab-kitab yang masyhur dengan pertolongan Allah dan kekuatan-Nya. Hal ini diriwayatkan dari Anas bin Malik, Jubair bin Muth’im, Hudzaifah, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhum ajma’in.
Adapun Anas: Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Qatadah dari Anas bin Malik, ia berkata: “Penduduk Makkah meminta tanda kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bulan terbelah di Makkah dua kali, lalu Allah berfirman:” “Telah dekat datangnya hari Kiamat dan telah terbelah bulan.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Muhammad bin Rafi’ dari Abdurrazaq. Ini termasuk hadits mursal shahabat, dan yang jelas bahwa ia menerima dari sebagian besar sahabat, atau dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, atau dari keduanya.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits ini dari jalur Syaiban. Al-Bukhari menambahkan: dan Sa’id bin Abi Arubah. Muslim menambahkan: dan Syu’bah, ketiganya dari Qatadah dari Anas bahwa penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam agar memperlihatkan kepada mereka suatu tanda, maka beliau memperlihatkan kepada mereka bulan terbelah dua, hingga mereka melihat gunung Hira di antara keduanya. Lafadz al-Bukhari.
Adapun Jubair bin Muth’im: Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Katsir dari Hushain bin Abdurrahman dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya, ia berkata: “Bulan terbelah pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi dua bagian, satu bagian di atas gunung ini, dan satu bagian di atas gunung ini. Lalu mereka berkata: ‘Muhammad menyihir kami.’ Kemudian mereka berkata: ‘Jika ia menyihir kami, maka ia tidak mampu menyihir semua manusia.'” Hanya diriwayatkan oleh Ahmad. Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari hadits Muhammad bin Fudhail dan lainnya dari Hushain. Al-Baihaqi meriwayatkannya dari jalur Ibrahim bin Thahman dan Husyaim, keduanya dari Hushain bin Abdurrahman dari Jubair bin Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya dari kakeknya, maka ia menambah satu orang dalam sanad.
Adapun Hudzaifah bin al-Yaman: Al-Hafizh Abu Nu’aim meriwayatkan dalam ad-Dala’il dari beberapa jalur, dari Atha’ bin as-Sa’ib dari Abu Abdurrahman as-Sulami, ia berkata: Hudzaifah bin al-Yaman berkhutbah kepada kami di al-Mada’in, lalu ia memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: “Telah dekat datangnya hari Kiamat dan telah terbelah bulan.” Ketahuilah bahwa hari Kiamat telah dekat. Ketahuilah bahwa bulan telah terbelah. Ketahuilah bahwa dunia telah memberi tahu akan perpisahan. Ketahuilah bahwa hari ini adalah medan latihan dan besok adalah perlombaan. Ketika Jumat kedua tiba, aku pergi bersama ayahku ke shalat Jumat, ia memuji Allah dan berkata seperti itu, dan menambahkan: Ketahuilah bahwa orang yang unggul adalah yang mendahului menuju surga. Ketika kami dalam perjalanan, aku bertanya kepada ayahku: Apa maksud ucapannya: besok adalah perlombaan? Ia berkata: Orang yang mendahului menuju surga.
Adapun Ibnu Abbas: Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami Bakr dari Ja’far dari Arak bin Malik dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Sesungguhnya bulan terbelah pada zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Bakr yaitu Ibnu Mudhar dari Ja’far yaitu Ibnu Rabi’ah dari Arak.
Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abi Hind dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya: “Telah dekat datangnya hari Kiamat dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka melihat suatu tanda, mereka berpaling dan berkata: ‘Ini adalah sihir yang terus-menerus'”, ia berkata: “Hal itu telah berlalu, terjadi sebelum Hijrah. Bulan terbelah hingga mereka melihat dua bagiannya.” Demikian pula diriwayatkan oleh al-Aufi dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, dan ini termasuk hadits mursalnya.
Al-Hafizh Abu Nu’aim berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Bakr bin Sahl, telah menceritakan kepada kami Abdul Ghani bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Musa bin Abdurrahman dari Ibnu Juraij dari Atha’ dari Ibnu Abbas. Dan dari Muqatil dari adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya: “Telah dekat datangnya hari Kiamat dan telah terbelah bulan”, Ibnu Abbas berkata: “Orang-orang musyrik berkumpul kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, di antara mereka al-Walid bin al-Mughirah, Abu Jahl bin Hisyam, al-Ash bin Wa’il, al-Ash bin Hisyam, al-Aswad bin Abd Yaghuts, al-Aswad bin al-Muththalib, Zam’ah bin al-Aswad, an-Nadhr bin al-Harits, dan orang-orang seperti mereka. Lalu mereka berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: ‘Jika engkau benar, belahkanlah bulan bagi kami menjadi dua bagian, setengah di atas Abu Qubais, dan setengah di atas Qu’aiqi’an.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada mereka: ‘Jika aku lakukan, apakah kalian akan beriman?’ Mereka berkata: ‘Ya.’ Dan itu adalah malam badar. Maka beliau memohon kepada Allah agar memberinya apa yang mereka minta, lalu bulan menjadi setengah di atas Abu Qubais, dan setengah di atas Qu’aiqi’an. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berseru: ‘Wahai Abu Salamah bin Abdul Asad dan al-Arqam bin Abi al-Arqam, saksikanlah.'”
Kemudian Abu Nu’aim berkata: Dan telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin al-Abbas ar-Razi dari al-Haitsam bin an-Nu’man, telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ziyad dari Ibnu Juraij dari Atha’, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Penduduk Makkah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: ‘Apakah ada tanda yang kami kenali bahwa engkau adalah Rasulullah?’ Maka Jibril turun dan berkata: ‘Wahai Muhammad, katakan kepada penduduk Makkah agar bersiap-siap malam ini, mereka akan melihat suatu tanda jika mereka mendapat manfaat darinya.’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberitahukan kepada mereka ucapan Jibril, lalu mereka keluar pada malam terbelahnya bulan, malam empat belas, maka bulan terbelah menjadi dua bagian, setengah di Shafa, dan setengah di Marwah. Mereka melihat, kemudian mereka mengusap mata mereka, lalu mereka mengulang melihat kemudian mereka mengusap mata mereka lagi kemudian mereka melihat, lalu berkata: ‘Wahai Muhammad, ini tidak lain adalah sihir yang hilang.’ Maka Allah menurunkan:” “Telah dekat datangnya hari Kiamat dan telah terbelah bulan.”
Kemudian diriwayatkan dari adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Para ahli kitab Yahudi datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: ‘Perlihatkanlah kepada kami suatu tanda agar kami beriman padanya.’ Maka beliau memohon kepada Tuhannya, lalu memperlihatkan kepada mereka bulan menjadi dua bulan, satu di Shafa dan yang lain di Marwah, selama dari waktu Ashar hingga malam mereka melihatnya, kemudian hilang. Lalu mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang terus-menerus.'”
Al-Hafizh Abu al-Qasim ath-Thabrani berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Amr al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya al-Qath’i, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Amr bin Dinar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Bulan gerhana pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu mereka berkata: ‘Bulan telah disihir.’ Maka turunlah:” “Telah dekat datangnya hari Kiamat dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka melihat suatu tanda, mereka berpaling dan berkata: ‘Ini adalah sihir yang terus-menerus.'” Ini adalah sanad yang baik, dan di dalamnya disebutkan bahwa bulan gerhana pada malam itu, mungkin terjadi pembelahan pada malam gerhananya, karena itu peristiwanya tersembunyi bagi banyak penduduk bumi. Mungkin itu terjadi pada beberapa malam musim dingin di mana kebanyakan orang berada di rumah, atau tertutupi awan di banyak tempat di bumi. Meskipun demikian, hal itu disaksikan di banyak tempat di bumi. Dikatakan bahwa hal itu tercatat di sebagian negeri India, dan dibangun sebuah bangunan pada malam itu, dan diberi tanggal malam terbelahnya bulan.
Adapun Ibnu Umar: Al-Hafizh al-Baihaqi berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah al-Hafizh dan Abu Bakr Ahmad bin al-Hasan al-Qadhi, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Abul Abbas al-Asham, telah menceritakan kepada kami al-Abbas bin Muhammad ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir dari Syu’bah dari al-A’masy dari Mujahid, dari Abdullah bin Umar tentang firman-Nya: “Telah dekat datangnya hari Kiamat dan telah terbelah bulan”, ia berkata: “Dan hal itu telah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, terbelah menjadi dua bagian, satu bagian di depan gunung, dan satu bagian di belakang gunung. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: ‘Ya Allah, saksikanlah.'” Demikian pula diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi dari beberapa jalur, dari al-A’masy dari Mujahid. Muslim berkata: Seperti riwayat Mujahid dari Abu Ma’mar dari Ibnu Mas’ud. At-Tirmidzi berkata: Ini hadits hasan shahih.
Adapun Abdullah bin Mas’ud: Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid dari Abu Ma’mar dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Bulan terbelah pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi dua bagian, hingga mereka melihatnya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: ‘Saksikanlah.'” Demikian pula mereka berdua (al-Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dari hadits Sufyan yaitu Ibnu Uyainah. Dan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim dari Abu Ma’mar Abdullah bin Sakhbarah dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Bulan terbelah dan kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Mina, lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: ‘Saksikanlah.’ Dan satu bagian pergi menuju gunung.” Lafadz al-Bukhari.
Kemudian al-Bukhari berkata: Dan Abu adh-Dhuha berkata dari Masruq dari Abdullah: Di Makkah. Dan diikuti oleh Muhammad bin Muslim dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid dari Abu Ma’mar dari Abdullah radhiyallahu anhu.
Abu Dawud ath-Thayalisi telah mensanadkan hadits Abu adh-Dhuha dari Masruq dalam Musnad-nya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari al-Mughirah dari Abu adh-Dhuha dari Masruq dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Bulan terbelah pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu Quraisy berkata: ‘Ini adalah sihir Ibnu Abi Kabsyah.’ Lalu mereka berkata: ‘Lihatlah apa yang dibawa oleh para musafir, karena Muhammad tidak mampu menyihir semua manusia.’ Ia berkata: Maka datanglah para musafir dan mereka berkata demikian.”
Al-Baihaqi berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah al-Hafizh, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas, telah menceritakan kepada kami al-Abbas bin Muhammad ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Mughirah, dari Abu adh-Dhuha, dari Masruq, dari Abdullah, ia berkata: “Bulan terbelah di Makkah hingga menjadi dua bagian. Lalu orang-orang kafir Quraisy berkata kepada penduduk Makkah: ‘Ini adalah sihir yang dilakukan Ibnu Abi Kabsyah kepada kalian. Tanyakan kepada para musafir, jika mereka melihat apa yang kalian lihat maka ia benar, dan jika mereka tidak melihat seperti apa yang kalian lihat maka itu adalah sihir yang ia lakukan kepada kalian.’ Ia berkata: Maka para musafir ditanya – ia berkata: dan mereka datang dari segala arah – lalu mereka berkata: ‘Kami melihatnya.'” Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari hadits al-Mughirah, dan menambahkan: “Maka Allah menurunkan:” “Telah dekat datangnya hari Kiamat dan telah terbelah bulan.”
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, dari hadits Jarir, dari al-A’masy, dari Abu adh-Dhuha, dari Masruq, dari Abdullah.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu’ammal, telah menceritakan kepada kami Isra’il, dari Simak, dari Ibrahim, dari al-Aswad, dari Abdullah – yaitu Ibnu Mas’ud – ia berkata: “Bulan terbelah pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga aku melihat gunung di antara celah dua bagian bulan.” Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari hadits Asbath, dari Simak.
Dan Al-Hafizh Abu Nu’aim berkata: menceritakan kepada kami Abu Bakar ath-Thalhi, menceritakan kepada kami Abu Hushain Muhammad bin al-Husain al-Wadi’i, menceritakan kepada kami Yahya al-Hammani, menceritakan kepada kami Yazid, dari ‘Atha’, dari Simak, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari Abdullah, ia berkata: Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Mina, lalu bulan terbelah hingga menjadi dua bagian, salah satu bagian tersembunyi di balik gunung, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saksikanlah, saksikanlah.”
Dan Abu Nu’aim berkata: menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad, menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad al-Qalanisi, menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas, menceritakan kepada kami al-Laits bin Sa’d, menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa’d, dari ‘Utbah, dari Abdullah bin ‘Utbah, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Bulan terbelah saat kami berada di Makkah, sungguh aku telah melihat salah satu belahan bulan berada di atas gunung yang di Mina, sedangkan kami berada di Makkah.
Dan menceritakan kepada kami Ahmad bin Ishaq, menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi ‘Ashim, menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim Abu Sa’id, menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amr, dari Za’idah, dari ‘Ashim, dari Zirr, dari Abdullah, ia berkata: Bulan terbelah di Makkah, maka aku melihatnya menjadi dua bagian.
Kemudian ia meriwayatkan dari hadits ‘Ali bin Sa’id bin Masruq, menceritakan kepada kami Musa bin ‘Umair, dari Manshur bin al-Mu’tamir, dari Zaid bin Wahb, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Aku melihat bulan demi Allah terbelah menjadi dua bagian, di antara keduanya terdapat Gunung Hira’.
Dan Abu Nu’aim meriwayatkan dari jalur as-Suddi ash-Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Bulan terbelah menjadi dua bagian; satu bagian pergi, dan satu bagian lagi tetap.
Ibnu Mas’ud berkata: Sungguh aku telah melihat Gunung Hira’ di antara dua belahan bulan, lalu satu bagian pergi, maka penduduk Makkah heran dengan hal itu, dan mereka berkata: Ini adalah sihir buatan yang akan hilang.
Dan Laits bin Abi Sulaim berkata, dari Mujahid, ia berkata: Bulan terbelah pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu menjadi dua bagian. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abu Bakar: “Saksikanlah wahai Abu Bakar.” Dan orang-orang musyrik berkata: Bulan telah disihir hingga terbelah.
Inilah jalur-jalur yang beragam dengan sanad-sanad yang kuat, yang memberikan keyakinan bagi orang yang merenungkannya dan mengetahui keadilan para perawinya. Adapun yang disebutkan oleh sebagian ahli cerita bahwa bulan jatuh ke bumi, hingga masuk ke lengan baju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan keluar dari lengan yang lain, maka tidak ada dasarnya, dan itu adalah kebohongan yang diada-adakan, tidak benar, dan bulan ketika terbelah tidak meninggalkan langit, hanya saja ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuk kepadanya, bulan terbelah karena isyaratnya, lalu menjadi dua bagian, maka satu bagian berjalan hingga berada di balik Gunung Hira’, dan mereka melihat gunung di antara belahan ini dan itu, sebagaimana diberitakan oleh Ibnu Mas’ud bahwa ia menyaksikan hal itu. Dan apa yang terdapat dalam riwayat Anas dalam Musnad Ahmad: Lalu bulan terbelah di Makkah dua kali. Di dalamnya terdapat pertanyaan, dan yang jelas ia bermaksud dua bagian. Wallahu a’lam.
Bab Tentang Wafatnya Abu Thalib Paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Kemudian Setelahnya Khadijah binti Khuwailid Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Radhiyallahu ‘anha
Dan dikatakan: Bahkan dialah yang wafat sebelumnya. Dan yang masyhur adalah pendapat pertama. Dan keduanya adalah pelindung; yang satu di lahiriah, dan yang ini di batiniah, yang satu kafir, dan yang ini mukminah shiddiqah, radhiyallahu ‘anha wa ardlaha.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian sesungguhnya Khadijah dan Abu Thalib meninggal dalam satu tahun, maka musibah datang berturut-turut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan meninggalnya Khadijah, dan ia adalah menteri yang benar atas Islam baginya, ia tenang kepadanya, dan dengan meninggalnya pamannya Abu Thalib, dan ia adalah sandaran dan penjaga dalam urusannya, dan pelindung serta penolong atas kaumnya, dan itu terjadi tiga tahun sebelum hijrahnya ke Madinah. Maka ketika Abu Thalib meninggal, orang Quraisy mendapatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari gangguan apa yang tidak mereka harapkan ketika Abu Thalib masih hidup, hingga seorang orang bodoh dari orang-orang bodoh Quraisy menghadangnya, lalu menaburkan di atas kepalanya debu. Maka Hisyam bin ‘Urwah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumahnya, dan debu di atas kepalanya, lalu salah satu putrinya berdiri kepadanya, lalu ia mulai membasuhnya dan menangis, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Jangan menangis wahai putriku; sesungguhnya Allah melindungi ayahmu.” – Dan ia berkata di antaranya – “Quraisy tidak mendapatkan dariku sesuatu yang aku benci hingga Abu Thalib meninggal.”
Dan Ibnu Ishaq menyebutkan sebelum itu, bahwa salah seorang dari mereka kadang melemparkan kotoran dalam periuk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dipasang untuknya. Ia berkata: Maka adalah ketika mereka melakukan itu – sebagaimana ‘Umar bin Abdullah menceritakan kepadaku dari ‘Urwah – ia keluar dengan barang itu pada kayu lalu ia berdiri dengannya di pintunya, kemudian ia berkata: Wahai Bani Abdul Manaf, perlindungan apakah ini? Kemudian ia melemparkannya di jalan.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika Abu Thalib sakit, dan Quraisy mengetahui sakitnya yang berat, Quraisy berkata sebagian mereka kepada sebagian yang lain: Sesungguhnya Hamzah dan Umar telah masuk Islam, dan telah tersebar urusan Muhammad di semua kabilah Quraisy, maka marilah kita mendatangi Abu Thalib agar ia mengambil untuk kita dari keponakannya dan ia memberikan kepadanya dari kami, karena sesungguhnya demi Allah kami tidak aman bahwa mereka merampas urusan kami.
Ibnu Ishaq berkata: Dan al-Abbas bin Abdullah bin Ma’bad menceritakan kepadaku, dari sebagian keluarganya, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika mereka pergi kepada Abu Thalib dan berbicara kepadanya, dan mereka adalah para pembesar kaumnya; ‘Utbah bin Rabi’ah, dan Syaibah bin Rabi’ah, dan Abu Jahal bin Hisyam, dan Umayyah bin Khalaf, dan Abu Sufyan bin Harb, bersama orang-orang dari para pembesar mereka, maka mereka berkata: Wahai Abu Thalib, sesungguhnya engkau dari kami sebagaimana engkau telah ketahui, dan telah datang kepadamu apa yang engkau lihat dan kami khawatir atasmu, dan engkau telah mengetahui yang ada antara kami dan keponakanmu, maka panggillah dia lalu ambillah untuk kami darinya dan ambil untuknya dari kami; agar ia berhenti dari kami, dan kami berhenti darinya, dan biarkan ia meninggalkan kami dan agama kami, dan kami meninggalkannya dan agamanya. Maka Abu Thalib mengirim utusan kepadanya, lalu ia datang kepadanya, maka ia berkata: Wahai keponakanku, ini adalah para pembesar kaummu telah berkumpul untukmu, untuk memberikan kepadamu dan untuk mengambil darimu. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, satu kalimat yang kalian berikan kepadaku, kalian menguasai dengannya bangsa Arab, dan tunduk kepada kalian dengannya bangsa Ajam.” Maka Abu Jahal berkata: Ya demi ayahmu, dan sepuluh kalimat. Ia berkata: “Kalian mengatakan: Laa ilaaha illallah, dan kalian meninggalkan apa yang kalian sembah selain-Nya.” Ia berkata: Maka mereka bertepuk tangan dengan tangan mereka, kemudian berkata: Wahai Muhammad, apakah engkau ingin menjadikan tuhan-tuhan menjadi satu tuhan, sesungguhnya urusanmu sungguh aneh! Ia berkata: Kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Sesungguhnya demi Allah tidaklah orang ini akan memberikan kepada kalian sesuatu dari apa yang kalian inginkan, maka pergilah dan berjalanlah atas agama nenek moyang kalian, hingga Allah memutuskan antara kalian dan dia, kemudian mereka berpisah. Ia berkata: Maka Abu Thalib berkata: Demi Allah wahai keponakanku, aku tidak melihatmu meminta kepada mereka sesuatu yang berlebihan. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengharapkan darinya, lalu ia mulai berkata kepadanya: Wahai paman, maka engkau katakanlah itu, aku meminta dengan itu syafaat untukmu pada hari Kiamat, ia berkata: Maka ketika ia melihat keinginan kuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Wahai keponakanku, demi Allah seandainya bukan karena takut celaan atasmu, dan atas anak-anak ayahmu setelahku, dan bahwa Quraisy mengira sesungguhnya aku hanya mengatakannya karena takut dari kematian, niscaya aku mengatakannya, aku tidak mengatakannya kecuali untuk menyenangkanmu dengannya. Ia berkata: Maka ketika kematian mendekat dari Abu Thalib, al-Abbas melihat kepadanya menggerakkan bibirnya, maka ia condongkan kepadanya dengan telinganya. Ia berkata: Maka ia berkata: Wahai keponakanku, demi Allah sungguh saudaraku telah mengatakan kalimat yang engkau perintahkan kepadanya untuk mengatakannya. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak mendengar.” Ia berkata: Dan Allah Taala menurunkan tentang rombongan itu: Shaad, demi al-Quran yang mengandung peringatan, bahkan orang-orang yang kafir berada dalam kesombongan dan perselisihan (Shaad: 1-2) ayat-ayat. Dan sungguh kami telah berbicara tentang itu dalam Tafsir. Dan bagi Allah segala puji dan karunia.
Dan sungguh telah berdalil sebagian dari yang pergi dari kalangan Syiah dan selain mereka dari orang-orang yang berlebih-lebihan, kepada bahwa Abu Thalib meninggal dalam keadaan Islam dengan perkataan al-Abbas dalam hadits ini: Wahai keponakanku! Sungguh saudaraku telah mengatakan kalimat yang engkau perintahkan kepadanya untuk mengatakannya. Yaitu Laa ilaaha illallah.
Dan jawaban tentang ini dari beberapa segi; salah satunya, bahwa dalam sanad terdapat orang yang tidak dikenal keadaannya, dan itu adalah perkataannya: dari sebagian keluarganya. Dan ini adalah ketidakjelasan dalam nama dan keadaan, dan yang sepertinya ditangguhkan di dalamnya seandainya ia sendiri.
Dan sungguh Imam Ahmad meriwayatkan, dan an-Nasa’i, dan Ibnu Jarir seperti dari konteks ini, dari jalur Abu Usamah, dari al-A’masy, menceritakan kepada kami ‘Abbad, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, lalu ia menyebutkannya, dan tidak menyebutkan perkataan al-Abbas. Dan ats-Tsauri juga meriwayatkannya, dari al-A’masy, dari Yahya bin ‘Imarah al-Kufi, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, lalu ia menyebutkannya tanpa tambahan perkataan al-Abbas. Dan at-Tirmidzi meriwayatkannya dan menghasan kannya, dan an-Nasa’i dan Ibnu Jarir juga, dan lafazh hadits dari konteks al-Baihaqi, dalam apa yang ia riwayatkan dari jalur ats-Tsauri, dari al-A’masy, dari Yahya bin ‘Imarah, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Abu Thalib sakit, maka Quraisy datang, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang, dan di dekat kepala Abu Thalib ada tempat duduk seorang laki-laki, maka Abu Jahal berdiri untuk menghalanginya dari itu, dan mereka mengadu kepada Abu Thalib, maka ia berkata: Wahai keponakanku, apa yang engkau inginkan dari kaummu? Maka ia berkata: “Wahai paman, sesungguhnya aku hanya menginginkan dari mereka satu kalimat, tunduk untuk mereka dengannya bangsa Arab, dan membayar kepada mereka dengannya jizyah bangsa Ajam, satu kalimat.” Ia berkata: Apa itu? Ia berkata: “Laa ilaaha illallah.” Ia berkata: Maka mereka berkata: Apakah ia menjadikan tuhan-tuhan menjadi satu tuhan, sesungguhnya ini adalah sesuatu yang aneh! Ia berkata: Dan turun tentang mereka: Shaad, demi al-Quran yang mengandung peringatan ayat-ayat, hingga firman-Nya kecuali kebohongan belaka (Shaad: 1-7)
Kemudian sungguh telah menentangnya – maksudnya konteks Ibnu Ishaq – apa yang lebih shahih darinya, dan itu adalah apa yang al-Bukhari rahimahullah riwayatkan dengan mengatakan: menceritakan kepada kami Mahmud, menceritakan kepada kami Abdur-Razzaq, mengabarkan kepada kami Ma’mar, dari az-Zuhri, dari Ibnu al-Musayyab, dari ayahnya, radhiyallahu ‘anhu, bahwa Abu Thalib ketika kematian mendatanginya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk kepadanya dan di sisinya ada Abu Jahal, maka ia berkata: “Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaaha illallah, kalimat yang aku berargumen untukmu dengannya di sisi Allah.” Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata: Wahai Abu Thalib, apakah engkau berpaling dari agama Abdul Muththalib? Maka mereka berdua tidak berhenti berbicara kepadanya, hingga ia berkata sebagai ucapan terakhir yang ia katakan kepada mereka: Atas agama Abdul Muththalib. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Sungguh aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang darimu.” Maka turunlah Tidaklah pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan untuk orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabat, setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahim (at-Taubah: 113) dan turunlah: Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (al-Qashash: 56) Dan Muslim meriwayatkannya, dari Ishaq bin Ibrahim dan ‘Abd, dari Abdur-Razzaq.
Dan keduanya mengeluarkannya juga dari hadits az-Zuhri, dari Sa’id bin al-Musayyab, dari ayahnya sepertinya. Dan ia berkata di dalamnya: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berhenti menawarkannya kepadanya, dan keduanya mengulangi kepadanya dengan perkataan itu, hingga ia berkata sebagai ucapan terakhir yang ia katakan: Ia atas agama Abdul Muththalib, dan ia menolak untuk mengatakan: Laa ilaaha illallah. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Adapun aku sungguh akan memohonkan ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang darimu.” Maka Allah menurunkan – yaitu setelah itu -: Tidaklah pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan untuk orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabat dan turunlah tentang Abu Thalib: Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai.
Dan demikian pula Imam Ahmad meriwayatkan, dan Muslim, dan at-Tirmidzi dari hadits Yazid bin Kaisan, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata: Ketika kematian Abu Thalib datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya, maka ia berkata: “Wahai pamanku, katakanlah: Laa ilaaha illallah, aku bersaksi untukmu dengannya pada hari Kiamat.” Maka ia berkata: Seandainya bukan karena Quraisy akan mencela aku; mereka berkata: Tidaklah yang mendorongnya kepada itu kecuali ketakutan kematian. Sungguh aku akan menenangkan matamu, dan aku tidak mengatakannya kecuali untuk menenangkan matamu. Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan: Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
Dan demikian pula Abdullah bin Abbas, dan Ibnu Umar, dan Mujahid, dan asy-Sya’bi, dan Qatadah berkata: Sesungguhnya ia turun tentang Abu Thalib ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan kepadanya untuk mengatakan: Laa ilaaha illallah. Maka ia menolak untuk mengatakannya, dan berkata: Ia atas agama para orang tua. Dan adalah ucapan terakhir yang ia katakan: Ia atas agama Abdul Muththalib.
Dan menguatkan semua ini adalah apa yang al-Bukhari katakan: menceritakan kepada kami Musaddad, menceritakan kepada kami Yahya, dari Sufyan, dari Abdul Malik bin ‘Umair, menceritakan kepadaku Abdullah bin al-Harits, menceritakan kepada kami al-Abbas bin Abdul Muththalib, bahwa sesungguhnya ia berkata: Aku berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Apa yang engkau manfaatkan untuk pamanmu, karena sesungguhnya ia melindungimu dan marah untukmu. Ia berkata: “Ia berada di luapan api yang dangkal, dan seandainya bukan karena aku niscaya ia berada di tingkatan paling bawah dari neraka.” Dan Muslim meriwayatkannya dalam Shahihnya dari beberapa jalur dari Abdul Malik bin ‘Umair dengannya.
Dan keduanya mengeluarkannya dalam Shahihain dari hadits al-Laits, menceritakan kepadaku Ibnu al-Had, dari Abdullah bin Khabbab, dari Abu Sa’id, bahwa sesungguhnya ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan disebutkan di sisinya pamannya, maka ia berkata: “Semoga bermanfaat baginya syafaatku pada hari Kiamat, maka ia ditempatkan di luapan api yang dangkal, mencapai mata kaki keduanya, mendidih darinya otaknya.” Lafazh al-Bukhari, dan dalam riwayat: “Mendidih darinya kepala otaknya.”
Dan Muslim meriwayatkan, dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari ‘Affan, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Abu ‘Utsman, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Orang yang paling ringan siksanya di antara penghuni neraka adalah Abu Thalib, memakai sandal dari api yang mendidih darinya otaknya.”
Dan dalam Maghazi Yunus bin Bukair: “Mendidih darinya otaknya, hingga mengalir di atas kedua kakinya.” Disebutkan oleh as-Suhaili.
Dan al-Hafizh Abu Bakar al-Bazzar berkata dalam Musnadnya: menceritakan kepada kami ‘Umar, yaitu Ibnu Isma’il bin Mujalid, menceritakan kepada kami ayahku, dari Mujalid, dari asy-Sya’bi, dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya atau dikatakan kepadanya -: Apakah engkau bermanfaat bagi Abu Thalib? Ia berkata: “Aku mengeluarkannya dari neraka ke luapan yang dangkal darinya.” Menyendiri dengannya al-Bazzar.
As-Suhaili berkata: Dan sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menerima kesaksian al-Abbas untuk saudaranya, bahwa ia mengatakan kalimat itu, dan berkata: “Aku tidak mendengar”; karena al-Abbas ketika itu adalah kafir, tidak diterima kesaksiannya.
Aku katakan: Dan menurutku bahwa berita dengan itu tidak shahih, karena kelemahan sanadnya sebagaimana telah disebutkan, dan yang menunjukkan kepada itu, bahwa sesungguhnya ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah itu tentang Abu Thalib, maka ia menyebutkan kepadanya apa yang telah disebutkan. Dan dengan mengira shahihnya, mungkin ia mengatakan itu ketika menyaksikan malaikat setelah tercekat di kerongkongan, ketika tidak bermanfaat bagi seseorang imannya. Wallahu a’lam.
Abu Daud ath-Thayalisi berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, aku mendengar Najiyah bin Ka’b berkata: Aku mendengar Ali berkata: Ketika ayahku wafat, aku mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu aku berkata: Sesungguhnya pamanmu telah wafat. Maka beliau bersabda: “Pergilah dan kuburkanlah dia.” Aku berkata: Sesungguhnya dia meninggal dalam keadaan musyrik. Beliau bersabda: “Pergilah dan kuburkanlah dia, dan jangan lakukan apa-apa sampai kamu datang kepadaku.” Maka aku lakukan hal itu, kemudian aku mendatangi beliau lalu beliau memerintahkanku untuk mandi. Diriwayatkan oleh an-Nasa’i, dari Muhammad bin al-Mutsanna, dari Ghundar, dari Syu’bah dengan sanad ini. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan an-Nasa’i, dari hadits Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Najiyah, dari Ali: Ketika Abu Thalib meninggal, aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya pamanmu yang sudah tua dan sesat telah meninggal, siapa yang akan menguburkannya? Beliau bersabda: “Pergilah dan kuburkanlah ayahmu, dan jangan lakukan apa-apa sampai kamu datang kepadaku.” Maka aku mendatangi beliau, lalu beliau memerintahkanku untuk mandi, kemudian beliau mendoakan untukku dengan doa-doa yang aku tidak akan senang jika aku memiliki sebagai gantinya apa yang ada di bumi ini dari sesuatu apapun.
Al-Hafizh al-Baihaqi berkata: Abu Sa’d al-Malini mengabarkan kepada kami, Abu Ahmad bin Adiy menceritakan kepada kami, Muhammad bin Harun bin Humaid menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdul Aziz bin Abi Rizmah menceritakan kepada kami, al-Fadhl menceritakan kepada kami, dari Ibrahim bin Abdurrahman, dari Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berpapasan dengan jenazah Abu Thalib, lalu beliau bersabda: “Engkau telah menyambung silaturahmi, dan semoga engkau dibalas dengan kebaikan wahai paman.” Ia berkata: Dan diriwayatkan dari Abu al-Yaman al-Hauzani, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara mursal. Dan ditambahkan: Dan beliau tidak berdiri di atas kuburnya. Ia berkata: Dan Ibrahim bin Abdurrahman ini adalah al-Khawarizmi, mereka membicarakannya.
Aku berkata: Telah meriwayatkan darinya lebih dari satu orang; di antaranya al-Fadhl bin Musa as-Sainani, dan Muhammad bin Sallam al-Baikandi, dan dengan ini Ibnu Adiy berkata: Dia tidak dikenal, dan hadits-haditsnya dari setiap orang yang meriwayatkan darinya tidak lurus.
Dan telah kami sebutkan sebelumnya apa yang dilakukan Abu Thalib berupa pembelaan, berdebat, dan melindungi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menangkis gangguan dari beliau dan dari para sahabatnya, dan apa yang dikatakannya dalam hal pujian dan sanjungan kepadanya, dan apa yang ditunjukkannya kepada beliau dan para sahabatnya berupa kasih sayang, cinta, dan perhatian dalam syair-syairnya yang telah kami sebutkan, dan apa yang terkandung di dalamnya berupa celaan dan kekurangan bagi orang yang menentangnya dan mendustakannya, dengan ungkapan yang fasih, balagah, Hasyimiyah, Muthalibiyah, yang tidak dapat ditandingi dan tidak dapat disejajarkan, dan tidak mungkin seorang Arab mendekatinya, dan tidak dapat melawannya, dan dia dalam semua itu mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang jujur, benar, mendapat petunjuk, tetapi meskipun demikian hatinya tidak beriman. Dan ada perbedaan antara pengetahuan hati dan pembenaran hati, sebagaimana telah kami jelaskan dalam syarah Kitab al-Iman dari Shahih al-Bukhari, dan buktinya adalah firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang telah Kami beri kitab, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Dan sesungguhnya sebagian dari mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (al-Baqarah: 146). Dan Allah Ta’ala berfirman tentang kaum Firaun: “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” (an-Naml: 14). Dan Musa berkata kepada Firaun: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan Pemilik langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Firaun, pasti binasa.” (al-Isra’: 102), dan perkataan sebagian Salaf tentang firman Allah Ta’ala: “Dan mereka melarang (orang lain) mendekati Al-Quran dan mereka sendiri menjauh darinya.” (al-An’am: 26) bahwa ayat ini turun tentang Abu Thalib, di mana dia melarang orang-orang untuk menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan dia sendiri menjauh dari apa yang dibawa oleh Rasul berupa petunjuk dan agama yang benar, maka telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, al-Qasim bin Mukhaimirah, Habib bin Abi Tsabit, Atha’ bin Dinar, Muhammad bin Ka’b, dan lainnya, dan dalam hal ini perlu diteliti. Wallahu a’lam.
Dan yang lebih jelas, wallahu a’lam, adalah riwayat lain dari Ibnu Abbas: Mereka melarang orang-orang dari Muhammad agar tidak beriman kepadanya. Dan dengan ini dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, adh-Dhahhak, dan lebih dari satu orang. Dan ini adalah pilihan Ibnu Jarir, dan penjelasannya bahwa kalimat ini digunakan untuk melengkapi celaan terhadap orang-orang musyrik, di mana mereka menghalangi orang-orang dari mengikuti kebenaran, dan mereka juga tidak mengambil manfaat darinya, oleh karena itu Allah berfirman: “Dan di antara mereka ada yang mendengarkan kamu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka. Dan (sekalipun) mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: ‘(Al-Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang dahulu.’ Dan mereka melarang (orang lain) mendekati Al-Quran dan mereka sendiri menjauh darinya, dan mereka hanya membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.” (al-An’am: 25-26) dan lafazh ini yaitu firman-Nya: “Dan mereka”, menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan ini adalah kelompok, dan mereka adalah yang disebutkan dalam konteks kalimat, dan firman-Nya: “Dan mereka hanya membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari” menunjukkan celaan yang sempurna, dan Abu Thalib tidak seperti itu, bahkan dia menghalangi orang-orang dari menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, dengan segala yang dia mampu dari perbuatan dan perkataan, jiwa dan harta, tetapi meskipun demikian Allah tidak menentukan baginya keimanan; karena Allah Ta’ala memiliki hikmah yang agung dalam hal itu, dan hujjah yang pasti lagi memadai yang menghancurkan, yang wajib untuk beriman kepadanya dan berserah diri kepadanya, dan jika bukan karena apa yang Allah larang untuk kami yaitu memohonkan ampun untuk orang-orang musyrik, niscaya kami memohonkan ampun untuk Abu Thalib dan merahmatinya.
Mengenai wafatnya Khadijah binti Khuwailid dan penyebutan sesuatu dari keutamaannya dan manaqibnya semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha, dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat kembali dan tempat tinggalnya, dan Allah pasti melakukan itu, dengan berita dari orang yang jujur lagi dibenarkan, ketika beliau memberinya kabar gembira dengan rumah di surga dari qashab (mutiara yang berbentuk berongga), tidak ada keributan di dalamnya, dan tidak ada kelelahan.
Ya’qub bin Sufyan berkata: Abu Shalih menceritakan kepada kami, al-Laits menceritakan kepada kami, Uqail menceritakan kepadaku, dari Ibnu Syihab, ia berkata: Urwah bin az-Zubair berkata: Dan sesungguhnya Khadijah telah wafat sebelum shalat diwajibkan.
Kemudian diriwayatkan dari jalan lain, dari az-Zuhri, bahwa ia berkata: Khadijah wafat di Mekah, sebelum keluarnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke Madinah, dan sebelum shalat diwajibkan.
Dan Muhammad bin Ishaq berkata: Khadijah dan Abu Thalib meninggal dalam satu tahun.
Dan al-Baihaqi berkata: Sampai kepadaku bahwa Khadijah wafat setelah wafatnya Abu Thalib tiga hari. Disebutkan ini oleh Abu Abdullah bin Mandah dalam kitab al-Ma’rifah, dan guru kami Abu Abdullah al-Hafizh. Al-Baihaqi berkata: Dan al-Waqidi menyatakan bahwa Khadijah dan Abu Thalib meninggal sebelum Hijrah tiga tahun, pada tahun mereka keluar dari Syi’ib, dan bahwa Khadijah wafat sebelum Abu Thalib tiga puluh lima malam.
Aku berkata: Maksud mereka adalah sebelum shalat lima waktu diwajibkan pada malam Isra’, dan yang lebih tepat bagi kami adalah menyebutkan wafatnya Abu Thalib dan Khadijah sebelum Isra’, sebagaimana disebutkan oleh al-Baihaqi dan lebih dari satu orang. Tetapi kami mengakhirkan hal itu setelah Isra’ karena ada maksud yang akan kamu ketahui setelah itu, karena dengan itu pembicaraan menjadi teratur dan alur cerita tersusun, sebagaimana akan kamu lihat insya Allah.
Dan al-Bukhari berkata: Qutaibah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan menceritakan kepada kami, dari Umarah, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Jibril mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa bejana yang berisi lauk atau makanan atau minuman, maka apabila dia datang kepadamu, sampaikanlah salam kepadanya dari Tuhannya dan dariku, dan beri dia kabar gembira dengan rumah di surga dari qashab, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak ada kelelahan. Dan telah diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Muhammad bin Fudhail dengan sanad ini.
Dan al-Bukhari berkata: Musaddad menceritakan kepada kami, Yahya menceritakan kepada kami, dari Ismail, ia berkata: Aku berkata kepada Abdullah bin Abi Aufa semoga Allah meridhai keduanya: Apakah Nabi shallallahu alaihi wasallam memberi kabar gembira kepada Khadijah? Ia berkata: Ya, dengan rumah dari qashab, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak ada kelelahan. Dan diriwayatkan oleh al-Bukhari juga, dan Muslim dari berbagai jalan, dari Ismail bin Abi Khalid dengan sanad ini.
As-Suhaili berkata: Dan sesungguhnya beliau memberinya kabar gembira dengan rumah di surga dari qashab yaitu qashab mutiara karena dia mendapatkan kemenangan dalam perlombaan kepada keimanan, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak ada kelelahan, karena dia tidak pernah meninggikan suaranya terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan tidak pernah melelahkannya satu hari pun, maka dia tidak pernah berteriak kepadanya satu hari pun, dan tidak pernah menyakitinya sama sekali.
Dan keduanya (al-Bukhari dan Muslim) meriwayatkan dalam Shahihain dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah semoga Allah meridhainya, bahwa dia berkata: Aku tidak pernah cemburu pada seorang istri Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti aku cemburu pada Khadijah, padahal dia meninggal sebelum beliau menikaiku, karena aku sering mendengar beliau menyebutnya, dan Allah memerintahkannya untuk memberinya kabar gembira dengan rumah dari qashab, dan sesungguhnya beliau menyembelih kambing lalu menghadiahkan kepada teman-teman wanitanya darinya sebanyak yang mencukupi mereka. Ini lafazh al-Bukhari. Dan dalam lafazh lainnya dari beliau dari Aisyah: Aku tidak pernah cemburu pada seorang wanita seperti aku cemburu pada Khadijah, karena banyaknya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutnya, ia berkata: Dan beliau menikaiku setelahnya tiga tahun, dan Tuhannya Azza wa Jalla atau Jibril alaihissalam memerintahkannya untuk memberinya kabar gembira dengan rumah di surga dari qashab. Dan dalam lafazh lainnya dari beliau, ia berkata: Aku tidak pernah cemburu pada seorang pun dari istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti aku cemburu pada Khadijah, dan aku tidak pernah melihatnya, tetapi beliau sering menyebutnya, dan kadang beliau menyembelih kambing, kemudian memotongnya bagian-bagian, lalu mengirimkannya kepada teman-teman wanita Khadijah, maka kadang aku berkata kepadanya: Seolah-olah tidak ada wanita di dunia kecuali Khadijah. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya dia adalah seperti ini dan seperti ini, dan aku memiliki anak darinya.”
Kemudian al-Bukhari berkata: Ismail bin Khalil menceritakan kepada kami, Ali bin Mushir mengabarkan kepada kami, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya dari Aisyah, ia berkata: Halah binti Khuwailid saudara perempuan Khadijah meminta izin kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau mengenali cara meminta izin Khadijah, lalu terkejut, kemudian bersabda: “Ya Allah, Halah.” Maka aku cemburu, lalu aku berkata: Apa yang engkau ingat dari seorang nenek dari nenek-nenek Quraisy, yang merah pipinya, telah binasa pada masa lalu, Allah telah menggantikanmu dengan yang lebih baik darinya. Dan demikian pula diriwayatkan oleh Muslim, dari Suwaid bin Sa’id, dari Ali bin Mushir dengan sanad ini.
Dan ini jelas menunjukkan penetapan bahwa Aisyah lebih baik dari Khadijah, baik dalam keutamaan maupun dalam pergaulan; karena beliau tidak mengingkarinya, dan tidak menolak hal itu, sebagaimana jelas dari riwayat al-Bukhari, semoga Allah merahmatinya.
Tetapi Imam Ahmad berkata: Mu’ammal Abu Abdurrahman menceritakan kepada kami, Hammad yaitu Ibnu Salamah menceritakan kepada kami, dari Abdul Malik yaitu Ibnu Umair, dari Musa bin Thalhah, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebut Khadijah suatu hari lalu memperbanyak pujian kepadanya, maka aku merasakan apa yang dirasakan wanita berupa kecemburuan, lalu aku berkata: Sungguh Allah telah menggantikanmu wahai Rasulullah dari seorang nenek dari nenek-nenek Quraisy yang merah pipinya. Ia berkata: Maka wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berubah dengan perubahan yang tidak pernah aku lihat berubah pada sesuatu pun kecuali saat turunnya wahyu, atau saat awan mendung sampai beliau mengetahui, apakah itu rahmat atau azab. Dan demikian pula diriwayatkan dari Bahz bin Asad dan Utsman bin Muslim, keduanya dari Hammad bin Salamah, dari Abdul Malik bin Umair dengan sanad ini, dan ditambahkan setelah perkataannya: yang merah pipinya: telah binasa pada masa dahulu. Ia berkata: Maka wajahnya berkerut, yang tidak pernah aku lihat kecuali saat turunnya wahyu, atau saat awan mendung sampai melihat; apakah itu rahmat atau azab? Hanya Ahmad yang meriwayatkannya, dan ini sanad yang baik.
Dan Imam Ahmad juga berkata: Ali bin Ishaq menceritakan kepada kami, Abdullah mengabarkan kepada kami, Mujalid mengabarkan kepada kami, dari asy-Sya’bi, dari Masruq, dari Aisyah, ia berkata: Adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila menyebut Khadijah, beliau memujinya dengan pujian yang paling baik, ia berkata: Maka aku cemburu suatu hari. Lalu aku berkata: Betapa banyaknya engkau menyebutnya, yang merah bibirnya, sungguh Allah telah menggantikanmu dengan yang lebih baik darinya. Beliau bersabda: “Allah tidak menggantikanku dengan yang lebih baik darinya, sungguh dia beriman kepadaku ketika orang-orang kafir kepadaku, dan membenarkanku ketika orang-orang mendustakan aku, dan menolong aku dengan hartanya ketika orang-orang menghalangiku, dan Allah menganugerahkan kepadaku anaknya ketika Allah menghalangi aku dari anak-anak wanita lain.” Hanya Ahmad yang meriwayatkannya, dan sanadnya tidak apa-apa, dan Mujalid diriwayatkan oleh Muslim sebagai mutaba’ah, dan di dalamnya ada pembicaraan yang masyhur. Wallahu a’lam.
Dan mungkin ini yaitu perkataannya: “Dan Allah menganugerahkan kepadaku anaknya ketika Allah menghalangi aku dari anak-anak wanita lain” adalah sebelum lahirnya Ibrahim putra Nabi shallallahu alaihi wasallam dari Mariyah, dan sebelum kedatangannya sama sekali. Dan ini pasti demikian karena semua anak Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dan sebagaimana akan disebutkan adalah dari Khadijah, kecuali Ibrahim, maka dari Mariyah al-Qibtiyah al-Mishriyah semoga Allah meridhainya. Dan telah dijadikan dalil dengan hadits ini oleh sekelompok ahli ilmu untuk melebihkan Khadijah atas Aisyah semoga Allah meridhai keduanya dan membuatnya ridha, dan yang lain membicarakan tentang sanadnya, dan yang lain mentakwilkannya bahwa dia adalah yang terbaik dalam pergaulan, dan itu mungkin atau jelas, dan sebabnya adalah bahwa Aisyah bangga dengan masa mudanya, dan kecantikannya, dan kebaikan pergaulannya, dan bukan maksudnya dengan perkataannya: sungguh Allah telah menggantikanmu dengan yang lebih baik darinya, bahwa dia memuji dirinya sendiri dan melebihkan dirinya atas Khadijah, karena sesungguhnya ini adalah perkara yang kembali kepada Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (an-Najm: 32) dan Allah Ta’ala berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisa’: 49) ayat.
Dan ini adalah masalah yang terjadi perselisihan di dalamnya antara para ulama dahulu dan sekarang, dan ditarik-tarik oleh kedua ujung yang berlawanan; ahli Syiah dan lainnya, tidak menyamai Khadijah dengan seorang pun dari wanita, karena salam Tuhan kepadanya, dan karena anak Nabi shallallahu alaihi wasallam semuanya kecuali Ibrahim darinya, dan karena beliau tidak menikah lagi selama dia masih hidup sampai dia meninggal; sebagai penghormatan kepadanya, dan keunggulan keislamannya, dan karena dia adalah dari orang-orang yang membenarkan, dan dia memiliki kedudukan pembenaran di awal risalah, dan menyumbangkan dirinya dan hartanya untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Adapun ahli Sunnah; maka di antara mereka ada yang berlebihan juga, dan menetapkan untuk masing-masing dari keduanya keutamaan-keutamaan yang diketahui, tetapi kekuatan kesunnahan mereka membawa mereka untuk melebihkan Aisyah; karena dia adalah putri ash-Shiddiq, dan karena dia lebih berilmu dari Khadijah, karena sesungguhnya tidak ada dalam umat-umat seperti Aisyah dalam hafalannya dan ilmunya dan kefasihannya dan akalnya, dan Rasul shallallahu alaihi wasallam tidak mencintai seorang pun dari istri-istrinya seperti kecintaannya kepadanya, dan turunlah pembebasannya dari atas tujuh langit, dan dia meriwayatkan setelahnya dari beliau alaihissalam, ilmu yang banyak, baik, dan penuh berkah, sampai banyak orang menyebutkan hadits yang masyhur: “Ambillah setengah agama kalian dari al-Humaira’.”
Dan yang benar adalah bahwa setiap dari keduanya memiliki keutamaan-keutamaan yang jika orang yang melihat melihatnya akan membuatnya terpesona dan bingung, dan yang terbaik adalah berhenti dalam hal itu, dan mengembalikan ilmu tentang itu kepada Allah Azza wa Jalla, dan barangsiapa yang muncul baginya dalil yang dia putuskan dengannya, atau mendominasi sangkaannya dalam bab ini, maka itulah yang wajib atasnya untuk mengatakan apa yang ada padanya dari ilmu, dan barangsiapa yang terjadi baginya berhenti dalam masalah ini, atau dalam yang lainnya, maka jalan yang paling lurus dan cara yang paling selamat adalah dengan mengatakan: Allahu a’lam.
Dan telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan al-Bukhari, dan Muslim, dan at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i, dari berbagai jalan, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Abdullah bin Ja’far, dari Ali bin Abi Thalib semoga Allah meridhainya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanita pada zamannya adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita pada zamannya adalah Khadijah binti Khuwailid.” Yaitu: sebaik-baik wanita pada masa mereka masing-masing.
Diriwayatkan oleh Syu’bah, dari Mu’awiyah bin Qurrah, dari ayahnya Qurrah bin Iyas radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Banyak laki-laki yang mencapai kesempurnaan, namun tidak ada wanita yang mencapai kesempurnaan kecuali tiga orang; Maryam binti Imran, Asiyah istri Fir’aun, dan Khadijah binti Khuwailid. Dan keutamaan Aisyah atas para wanita seperti keutamaan tsarid atas seluruh makanan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dalam Tafsirnya. Dan ini adalah sanad yang shahih sampai kepada Syu’bah, dan setelahnya. Mereka berkata: Kesamaan yang dimiliki oleh ketiga wanita ini, Asiyah, Maryam, dan Khadijah, adalah bahwa masing-masing dari mereka merawat seorang nabi yang diutus, dan berbuat baik dalam pengasuhannya, serta membenarkannya. Asiyah membesarkan Musa, berbuat baik kepadanya, dan membenarkannya ketika diutus. Maryam merawat putranya dengan pengasuhan yang paling sempurna dan agung, dan membenarkannya ketika diutus. Khadijah menginginkan untuk menikah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan memberikan hartanya untuk itu sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan membenarkannya ketika wahyu turun kepadanya dari Allah Azza wa Jalla.
Adapun sabdanya: “Dan keutamaan Aisyah atas para wanita seperti keutamaan tsarid atas seluruh makanan.” Ini termaktub dalam Shahihain melalui jalur Syu’bah juga, dari Amr bin Murrah, dari Murrah Ath-Thayyib Al-Hamdani, dari Abu Musa Al-Asy’ari, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Banyak laki-laki yang mencapai kesempurnaan, namun tidak ada wanita yang mencapai kesempurnaan kecuali Asiyah istri Fir’aun, dan Maryam binti Imran. Dan sesungguhnya keutamaan Aisyah atas para wanita seperti keutamaan tsarid atas seluruh makanan.” Adapun tsarid adalah roti dan daging secara bersamaan, dan itulah makanan paling mewah bagi orang Arab, sebagaimana dikatakan oleh salah seorang penyair:
Apabila roti dimakan bersama daging… Maka itulah amanah Allah, tsarid
Sabdanya: “Dan keutamaan Aisyah atas para wanita” dapat dipahami secara umum, mencakup wanita-wanita yang disebutkan dan selain mereka. Dan dapat juga dipahami secara umum untuk selain mereka, sementara perbandingan antara dia dan mereka masih terbuka, yang memungkinkan kesetaraan di antara mereka, sehingga diperlukan dalil tambahan dari luar untuk menentukan keutamaan salah satu dari mereka atas yang lain. Wallahu a’lam.
Pasal Tentang pernikahan beliau shallallahu alaihi wasallam setelah Khadijah radhiyallahu anha, dengan Aisyah binti Ash-Shiddiq, dan Saudah binti Zam’ah radhiyallahu anhuma
Yang shahih adalah bahwa Aisyah dinikahi terlebih dahulu sebagaimana akan dijelaskan. Al-Bukhari berkata dalam Bab Pernikahan Aisyah: Telah menceritakan kepada kami Mu’alla bin Asad, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Aku telah melihatmu dalam mimpi dua kali; aku melihatmu dalam selembar sutra, dan dikatakan: Ini istrimu, maka singkaplah darinya. Ternyata itu adalah kamu, maka aku berkata: Jika ini dari Allah, maka Dia akan mewujudkannya.”
Al-Bukhari berkata: Bab Menikahi Gadis. Ibnu Abi Mulaikah berkata: Ibnu Abbas berkata kepada Aisyah: Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menikahi gadis selain kamu. Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abdullah, telah menceritakan kepadaku saudaraku, dari Sulaiman bin Bilal, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika kamu turun di suatu lembah dan di dalamnya ada pohon yang telah dimakan darinya, dan kamu menemukan pohon yang belum dimakan darinya, di mana kamu akan menggembalakan untamu? Beliau menjawab: “Di pohon yang belum digembalakan.” Maksudnya: Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menikahi gadis selain dia. Hanya diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Kemudian ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: “Aku telah melihatmu dalam mimpi dua kali, ketika seorang laki-laki membawamu dalam selembar sutra, lalu ia berkata: Ini istrimu. Maka aku menyingkapnya, ternyata itu adalah kamu, lalu aku berkata: Jika ini dari Allah, maka Dia akan mewujudkannya.” Dan diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Hisyam bin Urwah dengannya.
Dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Bab Melihat Wanita Sebelum Menikah, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: “Aku telah melihatmu dalam mimpi, malaikat datang membawamu dalam selembar sutra, lalu ia berkata kepadaku: Ini istrimu. Maka aku menyingkap kain dari wajahmu, ternyata itu adalah kamu, lalu aku berkata: Jika ini dari Allah, maka Dia akan mewujudkannya.” Dan dalam riwayat lain: “Aku telah melihatmu dalam mimpi selama tiga malam.” Dan menurut At-Tirmidzi: Bahwa Jibril datang kepadanya dengan gambarnya dalam secarik kain sutra hijau, lalu berkata: Ini istrimu di dunia dan akhirat.
Al-Bukhari berkata: Bab Menikahkan Anak-anak Kecil dengan Orang Dewasa. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Yazid, dari Irak, dari Urwah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melamar Aisyah kepada Abu Bakar, maka Abu Bakar berkata kepadanya: Sesungguhnya aku adalah saudaramu. Maka beliau bersabda: “Kamu adalah saudaraku dalam agama Allah dan kitab-Nya, dan dia halal bagiku.” Hadits ini lahiriyahnya seolah-olah mursal, namun menurut Al-Bukhari dan para peneliti hadits, ini adalah hadits yang bersambung; karena ini adalah hadits Urwah, dari Aisyah radhiyallahu anha, dan ini termasuk hadits yang hanya diriwayatkan oleh Al-Bukhari rahimahullah.
Yunus bin Bukair berkata, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahi Aisyah tiga tahun setelah wafat Khadijah, dan Aisyah pada saat itu berusia enam tahun, dan menikah dengannya ketika ia berusia sembilan tahun, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat sedangkan Aisyah berusia delapan belas tahun. Dan ini adalah riwayat yang ganjil.
Al-Bukhari meriwayatkan, dari Ubaid bin Ismail, dari Abu Usamah, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, ia berkata: Khadijah wafat tiga tahun sebelum Nabi shallallahu alaihi wasallam hijrah, lalu beliau tinggal dua tahun atau mendekati itu, dan menikahi Aisyah ketika ia berusia enam tahun, kemudian menikah dengannya ketika ia berusia sembilan tahun. Dan ini yang dikatakan oleh Urwah secara lahiriyah adalah mursal sebagaimana telah kami sebutkan, tetapi pada hakikatnya dalam status hadits yang bersambung. Dan perkataannya: Beliau menikahinya ketika ia berusia enam tahun, dan menikah dengannya ketika ia berusia sembilan tahun. Ini adalah sesuatu yang tidak ada perselisihan di antara manusia, dan telah termaktub dalam Shahih dan selainnya. Dan pernikahannya dengannya, alaihissalam, adalah pada tahun kedua hijrah ke Madinah.
Adapun bahwa pernikahannya terjadi sekitar tiga tahun setelah wafat Khadijah, ini perlu dikaji; karena Ya’qub bin Sufyan Al-Hafizh berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahiku setelah wafat Khadijah, sebelum hijrahnya dari Mekah, dan aku berusia tujuh – atau enam – tahun, ketika kami tiba di Madinah, datang kepadaku beberapa wanita sedangkan aku bermain di ayunan, dan aku berambut pendek, maka mereka menyiapkanku dan mendandaniku, kemudian mereka membawaku kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan aku berusia sembilan tahun. Maka perkataannya dalam hadits ini “setelah wafat Khadijah” menunjukkan bahwa itu terjadi tidak lama setelah itu, kecuali jika dari naskah terjatuh: “setelah wafat Khadijah.” Maka tidak menafikan apa yang disebutkan oleh Yunus bin Bukair dan Abu Usamah, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya. Wallahu a’lam.
Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Farwah bin Abi Al-Mughira’, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam menikahiku ketika aku berusia enam tahun, lalu kami tiba di Madinah, dan kami singgah di Bani Al-Harits bin Al-Khazraj, lalu aku sakit dan rambutku rontok kemudian tumbuh kembali menjadi pendek, lalu ibuku Ummu Ruman datang kepadaku – dan aku berada di ayunan bersama teman-temanku – lalu ia memanggiku dengan keras, maka aku mendatanginya dan aku tidak tahu apa yang ia inginkan dariku, lalu ia memegang tanganku, sampai menghentikanku di depan pintu rumah, dan aku masih terengah-engah sampai napasku tenang, kemudian ia mengambil sedikit air, lalu mengusap dengannya wajahku dan kepalaku, kemudian ia memasukkanku ke dalam rumah, ternyata ada wanita-wanita Anshar di dalam rumah, lalu mereka berkata: Semoga membawa kebaikan dan berkah, dan semoga membawa tanda kebaikan, lalu ia menyerahkanku kepada mereka, maka mereka memperbaiki keadaanku, tiba-tiba aku bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di pagi hari, lalu mereka menyerahkanku kepadanya, dan aku pada hari itu berusia sembilan tahun.
Imam Ahmad berkata dalam Musnad Aisyah Ummul Mukminin: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dan Yahya, keduanya berkata: Ketika Khadijah wafat, datang Khaulah binti Hakim istri Utsman bin Mazh’un, lalu ia berkata: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menikah? Beliau bersabda: “Dengan siapa?” Ia berkata: Jika engkau mau dengan gadis, dan jika engkau mau dengan janda. Beliau bersabda: “Siapa gadisnya?” Ia berkata: Putri makhluk yang paling dicintai oleh Allah kepadamu, Aisyah putri Abu Bakar. Beliau bersabda: “Dan siapa jandanya?” Ia berkata: Saudah binti Zam’ah, ia telah beriman kepadamu dan mengikutimu dalam apa yang engkau katakan. Beliau bersabda: “Maka pergilah dan sebutkan mereka untukku.” Maka ia masuk ke rumah Abu Bakar, lalu ia berkata: Wahai Ummu Ruman, kebaikan dan berkah apa yang telah Allah masukkan kepadamu! Ia berkata: Apa itu? Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutusku untuk melamar Aisyah untuknya. Ia berkata: Tunggulah Abu Bakar sampai ia datang. Lalu Abu Bakar datang, maka ia berkata: Wahai Abu Bakar, kebaikan dan berkah apa yang telah Allah masukkan kepada kalian! Ia berkata: Apa itu? Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutusku untuk melamar Aisyah untuknya. Ia berkata: Apakah dia pantas untuknya?! Dia hanyalah putri saudaranya. Maka ia kembali kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu ia menyebutkan itu kepadanya, beliau bersabda: “Kembalilah kepadanya, lalu katakan kepadanya: Aku adalah saudaramu, dan kamu adalah saudaraku dalam Islam, dan putrimu pantas untukku.” Maka ia kembali dan menyebutkan itu kepadanya, ia berkata: Tunggulah. Dan ia keluar. Ummu Ruman berkata: Sesungguhnya Muth’im bin Adi telah menyebutkannya untuk anaknya, dan demi Allah ia tidak pernah berjanji lalu mengingkarinya – kepada Abu Bakar – maka Abu Bakar masuk menemui Muth’im bin Adi, dan bersamanya istrinya ibu si pemuda. Maka ia berkata: Wahai putra Abu Quhafah, mungkin engkau akan membuat teman kami murtad, memasukkannya ke dalam agamamu yang engkau anut jika ia menikah denganmu? Maka Abu Bakar berkata kepada Muth’im bin Adi: Apakah engkau mengatakan ini yang ia katakan? Ia berkata: Sesungguhnya ia mengatakan itu. Maka ia keluar dari mereka, dan Allah telah menghilangkan apa yang ada di dalam hatinya dari janji yang ia janjikan kepadanya, lalu ia kembali dan berkata kepada Khaulah: Panggilkan untukku Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka ia memanggilnya, lalu ia menikahkannya dengannya, dan Aisyah pada hari itu berusia enam tahun. Kemudian ia keluar lalu masuk menemui Saudah binti Zam’ah, lalu ia berkata: Kebaikan dan berkah apa yang telah Allah masukkan kepadamu. Ia berkata: Apa itu? Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutusku untuk melamarmu untuknya. Ia berkata: Aku menginginkan itu, masuklah kepada ayahku dan sebutkan itu kepadanya. Dan ia adalah seorang tua renta yang telah tua, yang telah tertinggal dari haji, maka ia masuk menemuinya, lalu ia memberinya salam dengan salam Jahiliyyah, maka ia berkata: Siapa ini? Ia berkata: Khaulah binti Hakim. Ia berkata: Ada perlu apa? Ia berkata: Muhammad bin Abdullah mengutusku untuk melamar Saudah untuknya. Maka ia berkata: Sekufu yang mulia, apa yang dikatakan temanmu? Ia berkata: Ia menyukai itu. Ia berkata: Panggilkan dia untukku. Maka ia memanggilnya, ia berkata: Wahai putriku, ini mengklaim bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib telah mengutus untuk melamarmu, dan dia adalah sekufu yang mulia, apakah engkau menyukai agar aku menikahkanmu dengannya? Ia berkata: Ya. Ia berkata: Panggilkan dia untukku. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang, lalu ia menikahkannya dengannya, lalu datang saudaranya Abdul bin Zam’ah dari haji, maka ia mulai menaburkan debu di kepalanya, lalu ia berkata setelah ia masuk Islam: Demi umurmu, sesungguhnya aku bodoh pada hari aku menaburkan debu di kepalaku; karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahi Saudah binti Zam’ah. Aisyah berkata: Maka kami tiba di Madinah, lalu kami singgah di Bani Al-Harits bin Al-Khazraj di As-Sunh. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang dan masuk ke rumah kami, dan berkumpul kepadanya laki-laki dari Anshar dan wanita, lalu ibuku datang, dan aku berada di ayunan di antara dua pohon kurma mengayunku, maka ia menurunkanku dari ayunan, dan aku memiliki rambut pendek lalu ia memisahkannya, dan mengusap wajahku dengan sedikit air, kemudian ia datang memimpinku, sampai ia menghentikanku di depan pintu, dan aku masih terengah-engah sampai napasku tenang, kemudian ia memasukkanku, ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk di ranjang di rumah kami, dan bersamanya laki-laki dan wanita dari Anshar, lalu ia mendudukkanku di pangkuannya, kemudian ia berkata: Ini keluargamu semoga Allah memberkahimu dalam mereka, dan memberkahi mereka padamu. Maka laki-laki dan wanita bangkit lalu mereka keluar, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahiku di rumah kami, tidak disembelih untukku unta, dan tidak disembelih untukku kambing, sampai Sa’d bin Ubadah mengirimkan kepada kami nampan, yang biasa ia kirimkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau berkunjung kepada istri-istrinya, dan aku pada hari itu berusia sembilan tahun.
Dan konteks ini seolah-olah mursal, namun ia muttasil (bersambung), sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari jalur Ahmad bin Abdul Jabbar, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris Al-Audi dari Muhammad bin Amru, dari Yahya bin Abdurrahman bin Hathib, ia berkata: Aisyah berkata: Ketika Khadijah wafat, datanglah Khaulah binti Hakim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: “Ya Rasulullah, tidakkah engkau menikah?” Beliau bersabda: “Dengan siapa?” Ia berkata: “Jika engkau mau, perawan, dan jika engkau mau, janda.” Beliau bersabda: “Siapa perawan itu? Dan siapa janda itu?” Ia berkata: “Adapun perawan itu adalah putri makhluk Allah yang paling engkau cintai, yaitu Aisyah, dan adapun janda itu adalah Saudah binti Zam’ah, ia telah beriman kepadamu dan mengikutimu.” Beliau bersabda: “Maka sebutkan keduanya kepadaku.” Dan ia menyebutkan kelanjutan hadits tersebut sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Dan ini menunjukkan bahwa akad nikah dengan Aisyah telah mendahului pernikahannya dengan Saudah binti Zam’ah, namun dukhulnya (persetubuhan) dengan Saudah adalah di Makkah, adapun dukhulnya dengan Aisyah, tertunda hingga di Madinah pada tahun kedua, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dan sebagaimana akan datang.
Dan Al-Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Aswad, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata: Ketika Saudah sudah tua, ia menghibahkan harinya kepadaku, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi gilirannya untukku bersama istri-istrinya yang lain. Ia berkata: Dan ia adalah wanita pertama yang beliau nikahi setelah aku.
Dan Al-Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abun Nadhr, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid, telah menceritakan kepadaku Syahr, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melamar seorang wanita dari kaumnya, yang disebut: Saudah, dan ia memiliki anak-anak kecil, ia memiliki lima anak kecil – atau enam – dari suaminya yang telah wafat, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa yang menghalangimu dariku?” Ia berkata: “Demi Allah ya Nabi Allah, tidak ada yang menghalangiku darimu karena engkau bukan makhluk yang paling aku cintai, tetapi aku menghormatimu agar anak-anak kecil ini tidak menangis di dekat kepalamu pagi dan sore.” Beliau bersabda: “Apakah ada penghalang lain selain itu?” Ia berkata: “Tidak, demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya sebaik-baik wanita yang mengendarai punggung unta adalah wanita-wanita Quraisy yang saleh; yang paling penyayang kepada anak-anaknya di waktu kecil, dan paling memelihara suaminya dengan hartanya.”
Aku berkata: Dan suaminya sebelum beliau ‘alaihissalam adalah As-Sakran bin Amru, saudara Suhail bin Amru, dan ia termasuk orang yang masuk Islam dan berhijrah ke Habasyah, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kemudian kembali ke Makkah lalu wafat di sana sebelum hijrah, semoga Allah meridhainya.
Maka semua konteks ini menunjukkan bahwa akad nikah dengan Aisyah telah mendahului akad nikah dengan Saudah, dan ini adalah pendapat Abdullah bin Muhammad bin Aqil, diriwayatkan oleh Yunus dari Az-Zuhri, dan Ibnu Abdul Barr memilih bahwa akad nikah dengan Saudah sebelum Aisyah, dan ia meriwayatkannya dari Qatadah dan Abu Ubaidah. Ia berkata: Dan Aqil meriwayatkannya dari Az-Zuhri.
Pasal
Telah disebutkan sebelumnya tentang wafatnya Abu Thalib, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa ia adalah penolong beliau, berdiri di pihak beliau, dan membela beliau dengan semua yang ia mampu; dari diri, harta, dan perbuatan. Maka ketika ia wafat, orang-orang bodoh Quraisy berani kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka menyakiti beliau dengan hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan kepadanya, dan tidak pernah mereka kuasai.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, dari Al-Hakim, dari Al-Asham, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Bahlul, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq, dari orang yang menceritakan kepadanya, dari Urwah bin Az-Zubair, dari Abdullah bin Ja’far, ia berkata: Ketika Abu Thalib wafat, salah seorang orang bodoh dari kalangan Quraisy menghadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu melemparkan tanah kepadanya, maka beliau kembali ke rumahnya, lalu datanglah salah seorang putrinya menghapus tanah dari wajahnya sambil menangis, maka beliau bersabda: “Wahai putriku, jangan menangis karena sesungguhnya Allah melindungi ayahmu.” Dan beliau bersabda di antara itu: “Quraisy tidak memperoleh sesuatu yang aku benci hingga Abu Thalib wafat.” Dan telah diriwayatkan oleh Ziyad Al-Baka’i, dari Muhammad bin Ishaq, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya secara mursal. Wallahu a’lam.
Dan Al-Baihaqi juga meriwayatkan, dari Al-Hakim dan yang lain, dari Al-Asham, dari Ahmad bin Abdul Jabbar, dari Yunus bin Bukair, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Quraisy terus menjauhiku hingga Abu Thalib wafat.” Kemudian ia meriwayatkannya dari Al-Hakim, dari Al-Asham, dari Abbas Ad-Dauri, dari Yahya bin Ma’in, telah menceritakan kepada kami Uqbah Al-Mujaddar, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Quraisy terus menjauhiku hingga Abu Thalib wafat.”
Dan Al-Hafizh Abu Al-Faraj bin Al-Jauzi telah meriwayatkan dengan sanadnya, dari Tsa’labah bin Shu’air dan Hakim bin Hizam, bahwa keduanya berkata: Ketika Abu Thalib dan Khadijah wafat – dan antara keduanya adalah satu bulan dan lima hari – dua musibah menimpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau tinggal di rumahnya, dan mengurangi keluar, dan Quraisy menyakiti beliau dengan hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan dan tidak pernah mereka harapkan. Maka hal itu sampai kepada Abu Lahab, lalu ia datang kepadanya dan berkata: “Wahai Muhammad, lakukanlah apa yang engkau kehendaki, dan apa yang engkau lakukan ketika Abu Thalib masih hidup maka lakukanlah, tidak demi Al-Lat, engkau tidak akan diganggu hingga aku mati.” Dan Ibnul Ghaithilah mencaci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Abu Lahab menghadapinya dan menyakitinya, maka ia pergi sambil berteriak: “Wahai kaum Quraisy, Abu Utbah telah menjadi murtad.” Maka Quraisy datang hingga mereka berdiri di hadapan Abu Lahab, lalu ia berkata: “Aku tidak meninggalkan agama Abdul Muththalib, tetapi aku melindungi anak saudaraku agar tidak dizalimi hingga ia melaksanakan apa yang ia kehendaki.” Maka mereka berkata: “Engkau telah berbuat baik, dan berbuat mulia, dan menyambung silaturahmi.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap seperti itu beberapa hari pergi dan datang, tidak ada seorang pun dari Quraisy yang mengganggunya, dan mereka takut kepada Abu Lahab hingga datanglah Uqbah bin Abi Mu’aith dan Abu Jahal kepada Abu Lahab, lalu keduanya berkata kepadanya: “Apakah anak saudaramu telah mengabarimu di mana tempat masuknya ayahmu?” Maka Abu Lahab berkata kepadanya: “Wahai Muhammad, di mana tempat masuk Abdul Muththalib?” Beliau bersabda: “Bersama kaumnya.” Maka ia keluar kepada keduanya, lalu berkata: “Aku telah bertanya kepadanya, maka ia berkata: bersama kaumnya.” Maka keduanya berkata: “Ia mengklaim bahwa ia di neraka.” Maka ia berkata: “Wahai Muhammad, apakah Abdul Muththalib masuk neraka?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan barangsiapa yang mati atas apa yang Abdul Muththalib mati karenanya, maka ia masuk neraka.” Maka Abu Lahab berkata – semoga Allah melaknatnya -: “Demi Allah aku tidak akan berhenti menjadi musuhmu selamanya, dan engkau mengklaim bahwa Abdul Muththalib di neraka.” Dan Abu Lahab serta seluruh Quraisy semakin keras kepadanya pada saat itu.
Ibnu Ishaq berkata: Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya adalah: Abu Lahab, Al-Hakam bin Abi Al-Ash bin Umayyah, Uqbah bin Abi Mu’aith, Adi bin Al-Hamra’, dan Ibnul Ashda’ Al-Hudzali, dan mereka adalah tetangganya, tidak ada seorang pun dari mereka yang masuk Islam kecuali Al-Hakam bin Abi Al-Ash. Dan salah seorang dari mereka – sebagaimana disebutkan kepadaku – melemparkan rahim kambing kepadanya saat beliau sedang shalat, dan salah seorang dari mereka melemparkannya ke dalam periuk beliau ketika dipasang untuknya, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil batu untuk berlindung darinya ketika shalat. Maka jika mereka melemparkan sesuatu dari itu, beliau membawanya dengan kayu lalu berdiri dengannya di pintunya, kemudian berkata: “Wahai Bani Abdi Manaf, perlindungan macam apa ini?” Kemudian beliau membuangnya ke jalan.
Aku berkata: Dan menurutku bahwa kebanyakan dari apa yang diriwayatkan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya – dari pelemparan mereka kepada kotoran unta yang baru dipotong di antara pundaknya ketika beliau sedang shalat sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, dan di dalamnya bahwa Fathimah datang lalu membuangnya dari beliau, dan ia menghadapi mereka lalu mencaci mereka, kemudian ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai beliau mendoakan tujuh orang dari mereka sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan demikian pula apa yang dikabarkan oleh Abdullah bin Amru bin Al-Ash dari pencekikan mereka kepada beliau ‘alaihissalam, dengan pencekikan yang keras hingga Abu Bakar Ash-Shiddiq memisahkan diantara beliau, sambil berkata: “Apakah kalian membunuh seorang laki-laki karena ia berkata: Rabbku adalah Allah.” Dan demikian pula tekad Abu Jahal, semoga Allah melaknatnya, untuk menginjak lehernya ketika beliau sedang shalat, maka ia dihalangi dari itu, dan yang sejenisnya – adalah setelah wafatnya Abu Thalib, wallahu a’lam, maka menyebutkannya di sini lebih tepat dan lebih sesuai.
Pasal tentang kepergian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ke penduduk Thaif untuk menyeru mereka kepada agama Allah, dan kepada pertolongan agamanya, maka mereka menolak hal itu, dan tidak menerimanya dari beliau, maka beliau kembali ke Makkah
Ibnu Ishaq berkata: Maka ketika Abu Thalib wafat, Quraisy menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan gangguan yang tidak pernah mereka lakukan kepadanya semasa hidupnya pamannya Abu Thalib, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Thaif, mencari dari Tsaqif pertolongan dan perlindungan dari mereka terhadap kaumnya, dan berharap bahwa mereka akan menerima darinya apa yang dibawakan kepada mereka dari Allah Ta’ala, maka beliau pergi kepada mereka sendirian. Maka telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Ziyad, dari Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Thaif, beliau mendatangi beberapa orang dari Tsaqif, mereka adalah pemimpin Tsaqif dan pembesar mereka, dan mereka adalah tiga bersaudara: Abdul Yalil, Mas’ud, dan Habib, putra Amru bin Umair bin Auf bin Aqdah bin Ghirah bin Auf bin Tsaqif, dan pada salah seorang dari mereka ada seorang istri dari Quraisy dari Bani Jumah, maka beliau duduk kepada mereka, lalu menyeru mereka kepada Allah, dan berbicara kepada mereka tentang apa yang beliau datangkan kepada mereka untuk menolong beliau atas Islam, dan berdiri bersama beliau terhadap orang yang menentang beliau dari kaumnya. Maka salah seorang dari mereka berkata: “Ia merobek kain Ka’bah jika Allah benar-benar mengutusmu.” Dan yang lain berkata: “Tidakkah Allah mendapatkan seseorang yang diutus selain engkau?” Dan yang ketiga berkata: “Demi Allah aku tidak akan berbicara denganmu selamanya; jika engkau benar-benar rasul dari Allah sebagaimana engkau katakan, maka engkau lebih besar bahayanya dari pada aku membalas perkataanmu, dan jika engkau berdusta atas nama Allah, maka tidak sepantasnya aku berbicara denganmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dari mereka, dan beliau telah putus asa dari kebaikan Tsaqif, dan beliau telah berkata kepada mereka – sebagaimana disebutkan kepadaku -: “Jika kalian telah melakukan apa yang kalian lakukan, maka rahasiakan dariku.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka jika sampai kepada kaumnya dari beliau sehingga hal itu membuat mereka semakin berani kepadanya, maka mereka tidak melakukannya dan mereka menghasut orang-orang bodoh dan budak-budak mereka, mencaci beliau dan berteriak kepadanya, hingga orang-orang berkumpul kepadanya, dan mereka memaksanya ke kebun milik Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah, dan keduanya berada di dalamnya, dan kembalilah dari beliau orang-orang bodoh Tsaqif yang mengikutinya, maka beliau menuju ke bawah naungan pohon anggur lalu duduk di bawahnya, dan kedua anak Rabi’ah melihat kepadanya, dan melihat apa yang beliau terima dari orang-orang bodoh penduduk Thaif – dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertemu, sebagaimana disebutkan kepadaku, wanita yang dari Bani Jumah, maka beliau bersabda kepadanya: “Apa yang kami terima dari orang-orang yang terkaitmu!” Maka ketika beliau tenang, beliau bersabda – sebagaimana disebutkan kepadaku -: “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadu lemahnya kekuatanku, sedikitnya dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Rabbku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, ataukah kepada musuh yang Engkau berikan kepadanya urusanku? Jika tidak ada kemurkaan-Mu kepadaku maka aku tidak peduli, tetapi keselamatan-Mu adalah lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang dengannya kegelapan menjadi terang, dan dengannya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, dari turunnya kemurkaan-Mu kepadaku, atau menimpaku kemurkaan-Mu, bagi-Mu teguran hingga Engkau ridha, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu.” Demikianlah Ibnu Ishaq menyebutkan dalam kitabnya As-Sirah doa ini tanpa sanad, tetapi ia menyebutkannya dengan cara mu’allaq dengan shighah balagha, maka ia berkata: sebagaimana disebutkan kepadaku.
Dan Al-Hafizh Ibnu Asakir telah meriwayatkan, dalam biografi Al-Qasim bin Al-Laits Ar-Rus’ani, guru An-Nasa’i dan Ath-Thabrani dan bukan seorang, dengan sanadnya dari haditsnya, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi Shafwan Ats-Tsaqafi, telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir bin Hazim, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Muhammad bin Ishaq, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Abdullah bin Ja’far, ia berkata: Ketika Abu Thalib wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Thaif berjalan kaki. Ia berkata: Maka beliau menyeru mereka kepada Islam maka mereka tidak menjawabnya, maka beliau pergi ke bawah naungan pohon lalu shalat dua rakaat, kemudian bersabda: “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadu lemahnya kekuatanku, sedikitnya dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia, Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Engkau Maha Penyayang kepadaku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Kepada musuh yang bermuka masam kepadaku, ataukah kepada orang dekat yang Engkau berikan kepadanya urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku maka aku tidak peduli, hanya saja keselamatan-Mu adalah lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang dengannya kegelapan menjadi terang, dan dengannya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, dari turunnya kemurkaan-Mu kepadaku, atau menimpaku kemurkaan-Mu, bagi-Mu teguran hingga Engkau ridha, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu.”
Ibnu Ishaq berkata: Ketika dua putra Rabi’ah, yaitu ‘Utbah dan Syaibah, melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan apa yang menimpanya, rasa kasihan mereka kepada beliau tergugah. Maka mereka memanggil seorang budak Nasrani yang bernama ‘Addas. Keduanya berkata kepada ‘Addas: “Ambillah setandan anggur dari kebun ini, letakkan di dalam piring ini, lalu bawalah kepada orang itu, dan suruhlah dia memakannya.” ‘Addas pun melaksanakannya, lalu pergi membawanya hingga meletakkannya di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian berkata kepadanya: “Makanlah.”
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengulurkan tangannya ke dalam piring itu, beliau mengucapkan: “Bismillah”, lalu makan. ‘Addas memandang wajah beliau, kemudian berkata: “Demi Allah, sesungguhnya ucapan ini tidak diucapkan oleh penduduk negeri ini!”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Dari negeri mana engkau, wahai ‘Addas? Dan apa agamamu?”
‘Addas menjawab: “Aku seorang Nasrani, dan aku dari penduduk Nainawa.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dari kampung orang yang saleh, Yunus bin Matta?”
‘Addas berkata kepadanya: “Bagaimana engkau tahu tentang Yunus bin Matta?!”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Dia adalah saudaraku, dia seorang nabi dan aku pun seorang nabi.”
Maka ‘Addas pun membungkuk kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium kepala, tangan, dan kaki beliau.
Perawi berkata: Dua putra Rabi’ah berkata satu sama lain: “Adapun budakmu, sungguh ia telah rusak bagimu.”
Ketika ‘Addas datang kepada mereka berdua, keduanya berkata kepadanya: “Celakalah engkau wahai ‘Addas, mengapa engkau mencium kepala, tangan, dan kaki orang ini?”
‘Addas menjawab: “Wahai tuanku, tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih baik dari orang ini. Sungguh ia telah memberitahuku tentang suatu perkara yang tidak diketahui kecuali oleh seorang nabi.”
Keduanya berkata kepadanya: “Celakalah engkau wahai ‘Addas, janganlah ia memalingkanmu dari agamamu, karena sesungguhnya agamamu lebih baik dari agamanya.”
Musa bin ‘Uqbah telah menyebutkan kisah yang mirip dengan riwayat ini, kecuali ia tidak menyebutkan doa Rasulullah, dan ia menambahkan: Penduduk Thaif duduk berjajar dua baris di jalan beliau. Ketika beliau melewati mereka, mereka tidak membiarkan beliau mengangkat atau menurunkan kedua kakinya melainkan mereka melemparinya dengan batu hingga keduanya berdarah. Beliau lolos dari mereka dalam keadaan dua kakinya mengalirkan darah. Beliau menuju ke bawah naungan kebun anggur dalam keadaan sedih. Di kebun itu ada ‘Utbah dan Syaibah, dua putra Rabi’ah. Beliau tidak suka berada di tempat keduanya karena permusuhan keduanya terhadap Allah dan Rasul-Nya. Kemudian ia menyebutkan kisah ‘Addas si Nasrani seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyah al-Fazari, dari Abdullah bin Abdurrahman ath-Thaifi, dari Abdurrahman bin Khalid bin Abi Jabal al-‘Adwani, dari ayahnya, bahwa ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di timur (wilayah) Tsaqif, sedangkan beliau berdiri di atas busur – atau tongkat – ketika beliau datang kepada mereka meminta pertolongan. Aku mendengarnya membaca: “Demi langit dan (bintang) Ath-Thariq” (Ath-Thariq: 1) hingga mengakhirinya. Perawi berkata: Aku mengingatnya di masa Jahiliyah sedangkan aku masih musyrik, kemudian aku membacanya setelah masuk Islam.
Perawi berkata: Tsaqif memanggilku dan berkata: “Apa yang kamu dengar dari orang ini?” Maka aku membacakannya kepada mereka. Orang-orang Quraisy yang bersama mereka berkata: “Kami lebih mengenal tentang teman kami ini. Seandainya kami tahu bahwa apa yang ia katakan adalah benar, niscaya kami akan mengikutinya.”
Telah tetap dalam Shahihain dari jalur Abdullah bin Wahb, mengabarkan kepadaku Yunus bin Yazid, dari Ibnu Syihab, ia berkata: Mengabarkan kepadaku ‘Urwah bin az-Zubair, bahwa Aisyah menceritakan kepadanya bahwa ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apakah pernah datang kepadamu hari yang lebih berat dari hari Uhud?”
Beliau menjawab: “Sungguh aku telah mendapatkan perlakuan dari kaummu, dan yang paling berat yang aku alami dari mereka adalah pada hari ‘Aqabah, ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abd Yalil bin ‘Abd Kulal, namun ia tidak menyambut apa yang aku inginkan. Maka aku pergi dalam keadaan sedih dengan wajah yang murung, dan aku tidak sadar kecuali ketika aku berada di Qarnuts Tsa’alib. Aku mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat awan yang menaungi diriku. Aku melihat dan ternyata di dalamnya ada Jibril ‘alaihissalam. Ia memanggilku dan berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka tolak darimu, dan Allah telah mengutus kepadamu Malaikat Penjaga Gunung agar kamu memerintahkannya dengan apa yang kamu kehendaki terhadap mereka.’ Kemudian Malaikat Penjaga Gunung memanggilku dan memberi salam kepadaku, lalu berkata: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu, dan aku adalah Malaikat Penjaga Gunung yang telah diutus oleh Tuhanmu kepadamu agar kamu memerintahkanku dengan perintahmu. Apa yang kamu kehendaki? Jika kamu menghendaki agar aku menimpakan kepada mereka dua gunung (al-Akhsyabain).’ Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Bahkan aku berharap Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka (keturunan) yang beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.'”
Muhammad bin Ishaq telah menyebutkan peristiwa mendengarnya para jin terhadap bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan itu terjadi ketika beliau kembali dari Thaif saat beliau bermalam di Nakhlah dan shalat Subuh bersama sahabat-sahabatnya. Maka para jin yang diarahkan kepada beliau mendengarkan bacaan beliau di tempat itu. Ibnu Ishaq berkata: Mereka adalah tujuh jin. Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya tentang mereka: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an” (Al-Ahqaf: 29).
Penulis berkata: Sungguh kami telah membahas hal itu secara menyeluruh dalam kitab Tafsir, dan telah disebutkan sebagian darinya. Maka Allah yang lebih mengetahui. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Mekah dalam perjalanan kembalinya dari Thaif dalam perlindungan Muth’im bin ‘Adiy. Kaumnya semakin bertambah dendam, marah, berani, mendustakan, dan menentangnya. Allah tempat meminta pertolongan dan kepada-Nya tempat berserah diri.
Al-Umawi telah menyebutkan dalam kitab Maghazi-nya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Abdullah bin Uraiqi kepada al-Akhnas bin Syariq, lalu meminta kepadanya agar memberinya perlindungan di Mekah. Ia berkata: “Sesungguhnya sekutu Quraisy tidak memberikan perlindungan terhadap inti (suku) mereka.” Kemudian beliau mengutusnya kepada Suhail bin ‘Amr agar memberinya perlindungan. Ia berkata: “Sesungguhnya Banu ‘Amir bin Lu’ay tidak memberikan perlindungan terhadap Banu Ka’b bin Lu’ay.” Lalu beliau mengutusnya kepada Muth’im bin ‘Adiy agar memberinya perlindungan. Ia berkata: “Baiklah, katakan kepadanya agar ia datang.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi kepadanya dan bermalam di sisinya malam itu. Ketika pagi hari, ia keluar bersamanya beserta anak-anaknya yang berjumlah enam – atau tujuh – orang, semuanya mengenakan pedang. Mereka memasuki Masjidil Haram dan ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Thawaflah.” Mereka duduk dengan memegang tali pedang mereka di tempat thawaf. Maka datanglah Abu Sufyan kepada Muth’im dan berkata: “Apakah (ini) perlindungan ataukah pengikutan?”
Ia menjawab: “Tidak, tetapi perlindungan.”
Abu Sufyan berkata: “Kalau begitu (perlindunganmu) tidak akan dilanggar.”
Maka ia duduk bersamanya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan thawafnya. Ketika beliau selesai, mereka pun pulang bersamanya. Abu Sufyan pergi ke tempat duduknya.
Perawi berkata: Beliau tinggal beberapa hari kemudian diizinkan untuk berhijrah. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhijrah ke Madinah, Muth’im bin ‘Adiy meninggal tidak lama setelahnya. Hassan bin Tsabit berkata: “Demi Allah, sungguh aku akan meratapi dia.”
Maka ia berkata dalam apa yang ia katakan:
Seandainya kemuliaan hari ini mengabadikan seorang… dari manusia, kemuliaan hari ini akan menyelamatkan Muth’im
Kamu telah memberikan perlindungan kepada Rasulullah dari mereka, maka mereka menjadi… hamba-hamba-Mu selama orang yang melabbaik berihram dan bermukim
Seandainya Ma’ad seluruhnya ditanya tentangnya… dan Qahtan atau sisa yang tersisa dari Jurhum
Mereka akan berkata: dialah yang menepati perlindungan tetangganya… dan perjanjiannya suatu hari ketika ia meminta perlindungan
Dan tidaklah matahari yang bercahaya terbit di atas mereka… terhadap orang sepertinya di antara mereka yang lebih mulia dan lebih dermawan
Yang menolak ketika ia menolak dan paling lembut akhlaknya… dan paling tidur dari tetangga ketika malam telah gelap
Penulis berkata: Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari tawanan Badar: “Seandainya Muth’im bin ‘Adiy masih hidup, kemudian ia memintaku (membebaskan) orang-orang busuk ini, niscaya aku akan memberikan mereka kepadanya.”
Pasal: Tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan dirinya yang mulia kepada suku-suku Arab di musim-musim haji, agar mereka melindunginya, menolongnya, dan menjaganya dari orang yang mendustakannya dan menentangnya. Namun tidak ada seorang pun dari mereka yang menyambutnya, karena apa yang telah disimpan Allah Ta’ala untuk Kaum Anshar berupa kemuliaan yang agung, semoga Allah meridhai mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali ke Mekah, sedangkan kaumnya semakin keras dalam menentangnya dan meninggalkan agamanya, kecuali sedikit orang yang lemah dari orang-orang yang beriman kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan dirinya pada musim-musim haji – apabila tiba – kepada suku-suku Arab, mengajak mereka kepada Allah ‘azza wa jalla, dan memberitahukan kepada mereka bahwa ia seorang nabi yang diutus, serta meminta mereka agar membenarkannya dan melindunginya, hingga ia dapat menyampaikan dari Allah apa yang diutuskan kepada beliau.
Ibnu Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku dari kalangan sahabat kami yang aku tidak curigai, dari Zaid bin Aslam, dari Rabi’ah bin ‘Abbad ad-Du’ali, atau dari orang yang menceritakan kepada Abu az-Zinad darinya. Dan menceritakan kepadaku Husain bin Abdullah bin ‘Ubaidillah bin Abbas, ia berkata: Aku mendengar Rabi’ah bin ‘Abbad menceritakan kepada ayahku, ia berkata: Sesungguhnya aku adalah seorang pemuda bersama ayahku di Mina, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti di perkemahan suku-suku Arab, lalu beliau bersabda: “Wahai Bani Fulan, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kalian, aku memerintahkan kalian agar beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan agar kalian meninggalkan apa yang kalian sembah selain-Nya dari berhala-berhala ini, dan agar kalian beriman kepadaku, membenarkanku, dan melindungiku, hingga aku dapat menyampaikan dari Allah apa yang diutuskan kepada diriku.”
Perawi berkata: Di belakang beliau ada seorang laki-laki yang juling, tampan, memiliki dua kepangan rambut, mengenakan pakaian dari ‘Adan. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai dari ucapannya dan apa yang beliau serukan, laki-laki itu berkata: “Wahai Bani Fulan, sesungguhnya orang ini hanya mengajak kalian agar melepaskan Lata dan ‘Uzza dari leher kalian, dan sekutu kalian dari jin dari Bani Malik bin Uqaisy, kepada bid’ah dan kesesatan yang ia bawa. Maka janganlah kalian menaatinya dan janganlah kalian mendengarkannya.”
Perawi berkata: Maka aku bertanya kepada ayahku: “Wahai ayahku, siapa laki-laki yang mengikutinya dan membantah apa yang ia katakan?”
Ayahku menjawab: “Ini adalah pamannya, ‘Abdul ‘Uzza bin Abdul Muththalib, Abu Lahab.”
Imam Ahmad telah meriwayatkan hadits ini dari Ibrahim bin Abi al-‘Abbas, menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abi az-Zinad, dari ayahnya, mengabarkan kepadaku seorang laki-laki yang bernama Rabi’ah bin ‘Abbad dari Bani ad-Dil, dan ia dahulu seorang jahiliyah lalu masuk Islam. Ia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di masa Jahiliyah di pasar Dzul Majaz, sedangkan beliau bersabda: “Wahai manusia, ucapkanlah: Laa ilaaha illallah (Tidak ada tuhan selain Allah), niscaya kalian beruntung.” Orang-orang berkumpul di sekitar beliau, dan di belakang beliau ada seorang laki-laki tampan wajahnya, juling, memiliki dua kepangan rambut, berkata: “Sesungguhnya ia seorang Shabi yang pendusta.” Ia mengikutinya ke mana pun beliau pergi. Maka aku bertanya tentangnya, lalu mereka menyebutkan kepadaku nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berkata: “Ini adalah pamannya, Abu Lahab.”
Al-Baihaqi meriwayatkannya dari jalur Muhammad bin Abdullah al-Anshari, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Rabi’ah ad-Du’ali: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di pasar Dzul Majaz, beliau mengikuti orang-orang di tempat tinggal mereka dan di belakang beliau ada seorang laki-laki juling, pipinya tersobek, dan ia berkata: “Wahai manusia, janganlah orang ini menipu kalian dari agama kalian dan agama nenek moyang kalian.” Aku bertanya: “Siapa ini?” Mereka berkata: “Abu Lahab.”
Demikian pula diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam ad-Dala’il dari jalur Ibnu Abi Dzi’b, dan Sa’id bin Salamah bin al-Husham, keduanya dari Muhammad bin al-Munkadir dengan sanad seperti itu.
Kemudian al-Baihaqi meriwayatkannya dari jalur Syu’bah, dari al-Asy’ats bin Sulaim, dari seorang laki-laki dari Kinanah, ia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di pasar Dzul Majaz dan beliau bersabda: “Wahai manusia, ucapkanlah: Laa ilaaha illallah (Tidak ada tuhan selain Allah), niscaya kalian beruntung.” Dan tiba-tiba ada seorang laki-laki di belakang beliau melemparinya dengan debu. Ternyata ia adalah Abu Jahal, dan ia berkata: “Wahai manusia, janganlah orang ini menipu kalian dari agama kalian, sesungguhnya ia hanya ingin agar kalian meninggalkan penyembahan Lata dan ‘Uzza.”
Demikianlah yang disebutkan dalam riwayat ini bahwa ia adalah Abu Jahal, dan ini mungkin kekeliruan, namun bisa jadi kadang yang melakukan adalah ini dan kadang yang melakukan adalah itu, dan bahwa keduanya bergantian dalam menyakiti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ibnu Ishaq berkata: Dan menceritakan kepadaku Ibnu Syihab az-Zuhri, bahwa beliau ‘alaihissalam mendatangi Kindah di tempat tinggal mereka, dan di antara mereka ada pemimpin mereka yang bernama Mulaih. Beliau mengajak mereka kepada Allah ‘azza wa jalla dan menawarkan dirinya kepada mereka, namun mereka menolak.
Ibnu Ishaq berkata: Dan menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin Husain, bahwa beliau mendatangi Kalb di tempat tinggal mereka, kepada suatu kabilah dari mereka yang disebut Banu Abdullah. Beliau mengajak mereka kepada Allah dan menawarkan dirinya kepada mereka, sampai beliau berkata kepada mereka: “Wahai Bani Abdullah, sesungguhnya Allah telah memperindah nama bapak kalian.” Namun mereka tidak menerima apa yang beliau tawarkan kepada mereka.
Dan menceritakan kepadaku sebagian sahabat kami, dari Abdullah bin Ka’b bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi Bani Hanifah di tempat tinggal mereka, beliau mengajak mereka kepada Allah dan menawarkan dirinya kepada mereka. Namun tidak ada seorang pun dari bangsa Arab yang lebih buruk penolakannya kepada beliau dari mereka.
Dan menceritakan kepadaku az-Zuhri, bahwa beliau mendatangi Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, beliau mengajak mereka kepada Allah dan menawarkan dirinya kepada mereka. Maka berkata kepadanya seorang laki-laki dari mereka yang bernama Baihrah bin Firas: “Demi Allah, seandainya aku mengambil pemuda Quraisy ini, niscaya aku akan memakan bangsa Arab dengannya.”
Kemudian ia berkata kepada beliau: “Bagaimana pendapatmu jika kami mengikutimu dalam urusanmu, kemudian Allah memenangkanmu atas orang yang menentangmu, apakah kami akan mendapat kepemimpinan setelahmu?”
Beliau bersabda: “Kepemimpinan adalah milik Allah, Dia meletakkannya di mana Dia kehendaki.”
Perawi berkata: Maka laki-laki itu berkata kepada beliau: “Apakah kami menargetkan dada kami (untuk dilindungi) bangsa Arab untukmu, kemudian ketika Allah memenangkanmu, kepemimpinan justru untuk selain kami! Kami tidak membutuhkan urusanmu.” Maka mereka menolak beliau.
Ketika orang-orang bubar (selesai musim haji), Bani ‘Amir kembali kepada seorang syaikh mereka yang telah lanjut usia sehingga tidak mampu menghadiri musim haji bersama mereka. Apabila mereka kembali kepadanya, mereka menceritakan kepadanya apa yang terjadi di musim haji itu. Ketika mereka datang kepadanya tahun itu, ia bertanya kepada mereka tentang apa yang terjadi di musim haji mereka.
Mereka berkata: “Datang kepada kami seorang pemuda dari Quraisy, kemudian salah seorang dari Bani Abdul Muththalib, ia mengaku sebagai nabi, ia mengajak kami agar melindunginya, berdiri bersamanya, dan membawanya keluar ke negeri kami.”
Perawi berkata: Maka syaikh itu meletakkan tangannya di atas kepalanya, kemudian berkata: “Wahai Bani ‘Amir, apakah ada cara untuk memperbaikinya? Apakah ada cara untuk mengejarnya? Demi Dzat yang jiwa Fulan berada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari Bani Isma’il mengatakannya, dan sesungguhnya itu adalah kebenaran. Di mana pendapat kalian tadi?”
Dan Musa bin Uqbah berkata dari Az-Zuhri: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada tahun-tahun tersebut menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah Arab di setiap musim, dan berbicara kepada setiap pemimpin kaum, tidak meminta kepada mereka kecuali agar mereka memberinya perlindungan dan melindunginya, dan beliau berkata: “Aku tidak akan memaksa siapa pun dari kalian terhadap sesuatu. Barang siapa di antara kalian yang menyetujui apa yang aku serukan kepadanya, maka itulah (yang aku harapkan), dan barang siapa yang tidak suka, aku tidak akan memaksanya. Aku hanya ingin kalian menjagaku dari pembunuhan yang diinginkan terhadapku, hingga aku menyampaikan risalah Tuhanku, dan hingga Allah memutuskan bagiku dan bagi orang-orang yang menemaniku apa yang Dia kehendaki.” Maka tidak ada seorang pun dari mereka yang menerimanya, dan tidak ada seorang pun dari kabilah-kabilah itu kecuali mengatakan: Kaum orang ini lebih mengetahui tentang dirinya, apakah kalian menganggap bahwa seorang yang dapat memperbaiki kita padahal dia telah merusak kaumnya dan mereka mengusirnya? Dan hal itu merupakan sesuatu yang Allah simpan untuk kaum Anshar dan memuliakan mereka dengannya.
Dan Hafizh Abu Nuaim telah meriwayatkan dari jalur Abdullah bin Al-Ajlah dan Yahya bin Said Al-Umawi, keduanya dari Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dari Al-Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: “Aku tidak melihat bagiku perlindungan di sisimu maupun di sisi saudaramu, maka maukah engkau membawaku besok ke pasar, hingga engkau menunjukkan kepadaku tempat-tempat kabilah manusia?” – dan itu adalah tempat berkumpulnya orang-orang Arab – ia (Al-Abbas) berkata: Maka aku berkata: Ini Kindah dan sekutunya, dan mereka adalah yang paling utama dari Yaman yang berhaji ke Baitullah, dan ini adalah tempat Bakr bin Wail, dan ini adalah tempat Bani Amir bin Sha’sha’ah, maka pilihlah untuk dirimu sendiri. Ia berkata: Maka beliau memulai dengan Kindah lalu mendatangi mereka, lalu berkata: “Dari mana kalian?” Mereka menjawab: Dari penduduk Yaman. Beliau berkata: “Dari Yaman yang mana?” Mereka menjawab: Dari Kindah. Beliau berkata: “Dari Kindah yang mana?” Mereka menjawab: Dari Bani Amr bin Muawiyah. Beliau berkata: “Apakah kalian ingin kebaikan?” Mereka bertanya: Apa itu? Beliau berkata: “Kalian bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan kalian mendirikan shalat, dan kalian beriman terhadap apa yang datang dari Allah.” Abdullah bin Al-Ajlah berkata: Dan ayahku menceritakan kepadaku dari para orang tua kaumnya bahwa Kindah berkata kepadanya: Jika engkau menang, apakah engkau akan memberikan kerajaan kepada kami setelahmu? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Sesungguhnya kerajaan adalah milik Allah, Dia meletakkannya di mana Dia kehendaki.” Maka mereka berkata: Kami tidak membutuhkan apa yang engkau bawa kepada kami. Dan Al-Kalbi berkata: Maka mereka berkata: Apakah engkau datang kepada kami untuk menghalangi kami dari tuhan-tuhan kami, dan agar kami memusuhi orang-orang Arab? Kembali saja kepada kaummu, kami tidak membutuhkanmu. Maka beliau pergi dari mereka lalu mendatangi Bakr bin Wail, dan berkata: “Dari mana kalian?” Mereka menjawab: Dari Bakr bin Wail. Maka beliau berkata: “Dari Bakr bin Wail yang mana?” Mereka menjawab: Dari Bani Qais bin Tsa’labah. Beliau berkata: Bagaimana jumlahnya? Mereka berkata: Banyak seperti debu. Beliau berkata: “Bagaimana perlindungannya?” Mereka berkata: Tidak ada perlindungan, kami bertetangga dengan Persia, maka kami tidak dapat melindungi diri dari mereka dan kami tidak dapat melindungi orang lain terhadap mereka. Beliau berkata: “Apakah kalian akan menjadikan bagi Allah atas kalian, jika Dia membiarkan kalian tetap hidup hingga kalian menempati tempat-tempat mereka dan menikahi wanita-wanita mereka dan memperbudak anak-anak mereka, bahwa kalian bertasbih kepada Allah tiga puluh tiga kali, memuji-Nya tiga puluh tiga kali, dan bertakbir kepada-Nya tiga puluh empat kali?” Mereka berkata: Dan siapakah engkau? Beliau berkata: “Aku adalah Rasulullah.” Kemudian beliau pergi, maka ketika beliau berpaling dari mereka – Al-Kalbi berkata: Dan pamannya Abu Lahab mengikutinya, lalu berkata kepada orang-orang: Jangan kalian terima perkataannya. Kemudian Abu Lahab melewati mereka, maka mereka bertanya: Apakah engkau mengenal orang ini? Dia berkata: Ya, dia ini dari keluarga terkemuka kami, lalu tentang urusan apa kalian bertanya kepadaku? Maka mereka memberitahunya tentang apa yang dia serukan kepada mereka, dan mereka berkata: Dia mengklaim bahwa dia Rasulullah. Dia berkata: Jangan kalian angkat perkataannya sedikitpun; sesungguhnya dia gila dan mengigau. Mereka berkata: Kami sudah melihat hal itu ketika dia menyebutkan tentang urusan Persia yang dia sebutkan.
Al-Kalbi berkata: Dan Abdurrahman Al-Amiri mengabarkan kepadaku, dari para orang tua dari kaumnya, mereka berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendatangi kami dan kami berada di pasar Ukadzh, lalu beliau berkata: “Dari mana kalian?” Kami berkata: Dari Bani Amir bin Sha’sha’ah. Beliau berkata: “Dari Bani Amir bin Sha’sha’ah yang mana?” Mereka berkata: Bani Ka’b bin Rabi’ah. Beliau berkata: “Bagaimana perlindungannya?” Kami berkata: Tidak ada yang dapat menyerang apa yang ada di hadapan kami, dan tidak ada yang dapat membakar api kami. Ia berkata: Maka beliau berkata kepada mereka: “Sesungguhnya aku Rasulullah, dan aku datang kepada kalian agar kalian melindungiku hingga aku menyampaikan risalah Tuhanku, dan aku tidak akan memaksa seorang pun dari kalian terhadap sesuatu.” Mereka berkata: Dan dari Quraisy yang mana engkau? Beliau berkata: “Dari Bani Abdul Muththalib.” Mereka berkata: Lalu di mana posisimu dari Abd Manaf? Beliau berkata: “Mereka adalah orang pertama yang mendustakan dan mengusirku.” Mereka berkata: Tetapi kami tidak akan mengusirmu dan kami tidak akan beriman kepadamu, dan kami akan melindungimu hingga engkau menyampaikan risalah Tuhanmu. Ia berkata: Maka beliau turun kepada mereka dan kaum itu sedang berbelanja, tiba-tiba datang kepada mereka Baihrah bin Firas Al-Qusyairi, lalu berkata: Siapakah orang ini yang aku lihat di sisi kalian yang asing? Mereka berkata: Muhammad bin Abdullah Al-Quraisyi. Dia berkata: Apa urusan kalian dengannya? Mereka berkata: Dia mengklaim kepada kami bahwa dia Rasulullah, lalu meminta kepada kami agar kami melindunginya hingga dia menyampaikan risalah Tuhannya. Dia berkata: Apa yang kalian jawab kepadanya? Mereka berkata: Dengan lapang dan senang hati, kami akan membawamu ke negeri kami, dan kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi diri kami sendiri. Baihrah berkata: Aku tidak tahu ada seseorang dari penduduk pasar ini yang pulang dengan sesuatu yang lebih buruk dari apa yang kalian bawa pulang, kalian akan mulai memusuhi manusia dan orang-orang Arab akan menyerang kalian dengan satu busur, kaumnya lebih mengetahui tentang dirinya, jika mereka melihat kebaikan darinya tentu mereka adalah orang yang paling berbahagia dengannya, apakah kalian akan sengaja memberi perlindungan kepada seorang yang disia-siakan kaumnya, kaumnya telah mengusirnya dan mendustakannya lalu kalian memberikannya perlindungan dan menolongnya?! Maka buruk sekali pendapat yang kalian anggap. Kemudian dia menghadap kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu berkata: Berdirilah dan kembalilah kepada kaummu, demi Allah seandainya engkau tidak berada di sisi kaumku, niscaya aku akan memenggal lehermu. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri menuju untanya lalu menungganginya, maka orang jahat Baihrah itu mencubit samping untanya, maka unta itu mengamuk dan melempar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga beliau terjatuh, dan pada hari itu di Bani Amir ada Dhuba’ah binti Amir bin Qurth, dia termasuk di antara para wanita yang masuk Islam bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Makkah, dia datang berkunjung kepada saudara-saudara sepupunya, maka dia berkata: Wahai Bani Amir, dan tidak ada Amir bagiku, apakah hal ini dilakukan terhadap Rasulullah di tengah-tengah kalian dan tidak ada seorang pun dari kalian yang melindunginya? Maka berdirilah tiga orang dari saudara sepupunya menghadapi Baihrah, dan dua orang membantunya, maka setiap orang dari mereka memegang seorang lalu membantingnya ke tanah, kemudian duduk di atas dadanya, lalu memukul wajah mereka. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Ya Allah, berkahilah orang-orang ini, dan laknatlah orang-orang itu.” Ia berkata: Maka ketiga orang yang menolongnya itu masuk Islam, dan mereka terbunuh sebagai syuhada dan mereka adalah: Ghathif dan Ghathfan kedua anak Sahl, dan Urwah – atau Azrah – bin Abdullah bin Salamah radhiyallahu anhum, dan yang lainnya binasa karena laknat, dan mereka adalah: Baihrah bin Firas, dan Hazn bin Abdullah bin Salamah bin Qusyair, dan Muawiyah bin Ubadah salah satu dari Bani Uqail, semoga Allah melaknat mereka dengan laknat yang besar. Dan ini adalah atsar yang aneh, kami menulisnya karena keanehannya dan wallahu a’lam. Dan hadits ini secara lengkap diriwayatkan oleh Hafizh Said bin Yahya bin Said Al-Umawi dalam kitab Al-Maghazi-nya dari ayahnya dengannya.
Dan Abu Nuaim telah meriwayatkan untuknya syahid (penguat) dari hadits Ka’b bin Malik radhiyallahu anhu, dalam kisah Bani Amir bin Sha’sha’ah, dan buruknya penolakan mereka terhadapnya, dan yang lebih aneh dari itu dan lebih panjang adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Nuaim, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi – dan lafazh dari Abu Nuaim rahimahumullah – dari hadits Aban bin Abdullah Al-Bajali, dari Aban bin Taghlib, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, Ali bin Abi Thalib menceritakan kepadaku, dia berkata: Ketika Allah memerintahkan Rasul-Nya agar menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah Arab, beliau keluar dan aku bersamanya dan Abu Bakar menuju Mina, hingga kami sampai kepada suatu majelis dari majelis-majelis orang Arab, maka Abu Bakar radhiyallahu anhu maju lalu memberi salam, dan Abu Bakar adalah orang yang terdahulu dalam setiap kebaikan, dan dia adalah seorang yang ahli nasab, maka dia berkata: Dari mana kalian? Mereka berkata: Dari Rabi’ah. Dia berkata: Dan Rabi’ah yang mana kalian? Apakah dari puncaknya ataukah dari rahangnya. Mereka berkata: Bahkan dari puncaknya yang agung. Abu Bakar berkata: Maka dari puncaknya yang agung yang mana? Mereka berkata: Dzuhl Al-Akbar. Abu Bakar berkata kepada mereka: Apakah dari kalian Auf yang dahulu dikatakan: Tidak ada yang merdeka di lembah Auf? Mereka berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah dari kalian Bustham bin Qais bin Mas’ud pemilik panji dan tujuan akhir kehidupan? Mereka berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah dari kalian Al-Haufazan bin Syarik pembunuh raja-raja dan yang merebut jiwa-jiwa mereka? Mereka berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah dari kalian Jassas bin Murrah bin Dzuhl pelindung kehormatan dan pencegah (gangguan terhadap) tetangga? Mereka berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah dari kalian Al-Muzdalif pemilik sorban yang unik? Mereka berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah kalian adalah paman-paman raja-raja dari Kindah? Mereka berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah kalian adalah menantu raja-raja dari Lakhm? Mereka berkata: Tidak. Abu Bakar radhiyallahu anhu berkata kepada mereka: Maka kalian bukan Dzuhl Al-Akbar, tetapi kalian adalah Dzuhl Al-Ashghar (Dzuhl yang lebih kecil). Ia berkata: Maka melompatlah kepadanya dari mereka seorang pemuda yang bernama Dughfal bin Handzhalah Adz-Dzuhli, ketika wajahnya baru tumbuh (janggut), lalu dia memegang tali kendali unta Abu Bakar dan dia berkata dalam syair:
Sesungguhnya atas penanya kami kami harus menanyainya … dan beban itu tidak engkau ketahui atau engkau memikulnya
Wahai orang ini, sesungguhnya engkau bertanya kepada kami lalu kami memberimu jawaban dan kami tidak menyembunyikan sesuatu darimu, dan kami ingin bertanya kepadamu dari mana engkau? Dia berkata: Seorang dari Quraisy. Maka pemuda itu berkata: Alangkah bagusnya, alangkah bagusnya, ahli kepemimpinan dan kepemimpinan, dan tali kendali orang Arab dan pembimbingnya, dari mana engkau dari Quraisy? Maka dia berkata kepadanya: Seorang dari Bani Taim bin Murrah. Maka pemuda itu berkata kepadanya: Engkau telah memungkinkan demi Allah pemanah dari tengah-tengah celah. Apakah dari kalian Qushay bin Kilab yang membunuh di Makkah orang-orang yang menguasainya, dan mengusir sisa mereka, dan mengumpulkan kaumnya dari setiap penjuru hingga dia menetapkan mereka di Makkah, kemudian dia menguasai negeri, dan menempatkan Quraisy di tempat-tempat mereka, maka orang-orang Arab menyebutnya karena itu Mujamma’ (pengumpul), dan tentang hal itu penyair berkata kepada Bani Abd Manaf dalam syair:
Bukankah ayah kalian dahulu dinamakan Mujamma’ … dengannya Allah mengumpulkan kabilah-kabilah dari Fihr
Maka Abu Bakar berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah dari kalian Abd Manaf yang kepadanya berakhir wasiat-wasiat dan ayah para pemimpin besar? Maka Abu Bakar berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah dari kalian Amr bin Abd Manaf Hasyim yang menghancurkan roti basah untuk kaumnya dan untuk penduduk Makkah, maka tentang hal itu penyair berkata dalam syair:
Amr kemuliaan menghancurkan roti basah untuk kaumnya … dan orang-orang Makkah kelaparan dan lemah
Mereka menetapkan untuknya dua perjalanan keduanya … saat musim dingin dan perjalanan musim panas
Quraisy dahulu adalah telur lalu pecah … maka kuningnya murni untuk Abd Manaf
Mereka yang memberi bulu panah dan tidak diketahui pemberi bulu panah … dan yang berkata marilah untuk para tamu
Dan yang memukul domba jantan berkilauan putihnya … dan yang mencegah kaum wanita dengan pedang-pedang
Semoga Allah membalasmu, seandainya engkau turun di negeri mereka … mereka melindungimu dari kehinaan dan dari kesusahan
Maka Abu Bakar berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah dari kalian Abdul Muththalib Syaibah Al-Hamd, dan pemilik kafilah Makkah, dan yang memberi makan burung-burung langit dan binatang buas dan binatang buas pemangsa di padang belantara, yang wajahnya seperti bulan bersinar di malam yang gelap? Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah engkau dari ahli Ifadhah (pemberi izin berangkat dari Arafah)? Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah engkau dari ahli Hijabah (penjaga Ka’bah)? Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah engkau dari ahli Nadwah (balai permusyawaratan)? Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah engkau dari ahli Siqayah (pemberi minum jemaah haji)? Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah engkau dari ahli Rifadah (pemberi bantuan kepada jemaah haji yang kehabisan bekal)? Dia berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah engkau dari orang yang memberangkatkan manusia (dari Arafah)? Dia berkata: Tidak. Kemudian Abu Bakar radhiyallahu anhu menarik tali kendali untanya dari tangannya, maka pemuda itu berkata kepadanya dalam syair:
Deras banjir menemukan deras yang menolaknya … menghancurkannya kadang dan kadang memecahkannya
Kemudian dia berkata: Adapun demi Allah wahai saudara Quraisy, seandainya engkau tetap tenang niscaya aku memberitahumu bahwa engkau dari golongan rendah Quraisy dan bukan dari para pemimpin. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menghadap kepada kami sambil tersenyum. Ali berkata: Maka aku berkata kepadanya: Wahai Abu Bakar, sungguh engkau telah jatuh dari orang Arab itu pada orang yang fasih. Maka dia berkata: Benar wahai Abul Hasan, sesungguhnya tidak ada bencana kecuali di atasnya ada bencana yang lebih besar, dan musibah itu ditakdirkan dengan perkataan. Ia berkata: Kemudian kami sampai kepada suatu majelis yang padanya ada ketenangan dan ketenangan, dan di sana ada para orang tua yang memiliki kehormatan dan keadaan, maka Abu Bakar maju lalu memberi salam – Ali berkata: Dan Abu Bakar adalah orang yang terdahulu dalam setiap kebaikan – maka Abu Bakar berkata kepada mereka: Dari mana kalian? Mereka berkata: Kami adalah Bani Syaiban bin Tsa’labah, maka dia berpaling kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu berkata: Demi ayah dan ibuku, tidak ada setelah mereka ini kemuliaan di kaum mereka – dan dalam riwayat: tidak ada di belakang mereka ini orang-orang pilihan dari kaum mereka – dan mereka ini adalah orang-orang pilihan manusia. Dan di antara kaum itu ada: Mafruq bin Amr, dan Hani bin Qabishah, dan Al-Mutsanna bin Haritsah, dan An-Nu’man bin Syarik, dan yang paling dekat dari kaum itu kepada Abu Bakar adalah Mafruq bin Amr, dan Mafruq bin Amr telah mengungguli mereka dalam kefasihan dan lidah, dan dia memiliki dua kepangan yang jatuh di atas dadanya, maka dia adalah yang paling dekat tempat duduknya kepada Abu Bakar, maka Abu Bakar berkata kepadanya: Bagaimana jumlah di kalangan kalian? Maka dia berkata kepadanya: Sesungguhnya kami lebih dari seribu, dan seribu tidak akan dikalahkan karena sedikit. Maka dia berkata kepadanya: Maka bagaimana perlindungan di kalangan kalian? Maka dia berkata: Atas kami adalah kesungguhan dan setiap kaum memiliki keseriusan. Maka Abu Bakar berkata: Maka bagaimana perang antara kalian dengan musuh kalian? Maka Mafruq berkata: Sesungguhnya kami paling keras ketika kami marah saat kami bertemu, dan sesungguhnya kami paling keras dalam pertemuan ketika kami marah, dan sesungguhnya kami lebih mengutamakan kuda-kuda daripada anak-anak, dan senjata daripada unta betina yang diperah, dan pertolongan dari Allah, Dia memberikan kemenangan kepada kami suatu waktu dan memberikan kemenangan atas kami suatu waktu. Apakah engkau saudara Quraisy? Maka Abu Bakar berkata: Jika telah sampai kepada kalian bahwa dia adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka inilah dia. Maka Mafruq berkata: Sungguh telah sampai kepada kami bahwa dia menyebutkan hal itu. Kemudian dia berpaling kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Kepada apa engkau menyeru wahai saudara Quraisy? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maju lalu duduk, dan Abu Bakar berdiri menaunginya dengan kainnya, maka beliau shallallahu alaihi wasallam berkata: “Aku menyeru kalian kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa aku adalah Rasulullah, dan agar kalian memberi perlindungan kepadaku, dan melindungiku, dan menolongku hingga aku menunaikan dari Allah apa yang Dia perintahkan kepadaku, karena sesungguhnya Quraisy telah bersatu atas perkara Allah dan mendustakan rasul-Nya, dan merasa cukup dengan kebatilan dari kebenaran, dan Allah adalah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” Dia berkata kepadanya: Dan kepada apa lagi engkau menyeru wahai saudara Quraisy? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membacakan: Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa” hingga firman-Nya: “sehingga kamu tercerai-berai dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” (Surah Al-An’am: 151). Maka Mafruq berkata kepadanya: Dan kepada apa lagi engkau menyeru wahai saudara Quraisy? Demi Allah ini bukan dari perkataan penduduk bumi, dan seandainya ini dari perkataan mereka niscaya kami mengenalinya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membacakan: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (Surah An-Nahl: 90). Maka Mafruq berkata kepadanya: Engkau telah menyeru demi Allah wahai Quraisyi kepada akhlak yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang baik, dan sungguh telah berbohong kaum yang mendustakanmu, dan bersatu melawanmu – dan seakan-akan dia ingin menyertakan dalam pembicaraan Hani bin Qabishah – maka dia berkata: Dan ini adalah Hani bin Qabishah orang tua kami dan pemilik agama kami.
Maka Hani berkata kepadanya: “Sungguh aku telah mendengar perkataanmu wahai saudara Quraisy, dan aku membenarkan ucapanmu. Namun aku berpendapat bahwa meninggalkan agama kami dan mengikutimu dalam agamamu – hanya karena satu pertemuan yang engkau adakan dengan kami yang tidak ada awal dan akhirnya, dan kami belum memikirkan urusanmu serta mempertimbangkan akibat dari apa yang engkau serukan – adalah kesalahan dalam pendapat, kecerobohan dalam akal, dan kurangnya pertimbangan terhadap akibat. Sesungguhnya kesalahan terjadi karena tergesa-gesa. Di belakang kami ada kaum yang kami tidak suka membuat perjanjian atas nama mereka. Tetapi kembalilah dan kami pun akan kembali, engkau mempertimbangkan dan kami pun akan mempertimbangkan.”
Seolah-olah ia ingin melibatkan al-Mutsanna bin Haritsah dalam pembicaraan. Maka ia berkata: “Dan ini al-Mutsanna adalah pemimpin kami dan komandan perang kami.”
Maka al-Mutsanna berkata: “Aku telah mendengar perkataanmu, dan aku menganggap baik ucapanmu wahai saudara Quraisy, dan aku kagum dengan apa yang engkau katakan. Namun jawabannya adalah jawaban Hani bin Qabishah, yaitu meninggalkan agama kami dan mengikutimu hanya karena satu pertemuan yang engkau adakan dengan kami. Sesungguhnya kami hanya tinggal di antara dua batas; yang satu adalah Yamamah, dan yang lain adalah al-Samammah.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apa dua batas itu?”
Ia menjawab kepadanya: “Adapun yang satu adalah dataran Arab dan tanah Arab, sedangkan yang lain adalah tanah Persia dan sungai-sungai Kisra. Dan kami tinggal berdasarkan perjanjian yang diambil oleh Kisra dari kami bahwa kami tidak akan membuat kejadian baru dan tidak akan melindungi pembuat kejadian. Dan barangkali urusan yang engkau serukan kepada kami ini termasuk yang dibenci oleh para raja. Adapun yang berkaitan dengan wilayah Arab, maka dosa pelakunya diampuni dan uzurnya diterima. Adapun yang berkaitan dengan wilayah Persia, maka dosa pelakunya tidak diampuni dan uzurnya tidak diterima. Jika engkau menginginkan kami membantumu dan melindungimu dalam hal yang berkaitan dengan Arab, maka kami akan melakukannya.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalian tidak buruk dalam menjawab ketika kalian terus terang dengan kejujuran. Sesungguhnya agama Allah tidak akan ditegakkan kecuali oleh orang yang melindunginya dari semua sisinya.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana pendapat kalian jika kalian tidak lama lagi sehingga Allah memberikan kepada kalian negeri dan harta mereka, serta menikahkan kalian dengan putri-putri mereka, apakah kalian akan bertasbih kepada Allah dan memuji-Nya?”
Maka an-Nu’man bin Syarik berkata kepadanya: “Ya Allah, sesungguhnya itu adalah milik-Mu wahai saudara Quraisy.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: “Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, dan sebagai penyeru kepada Allah dengan izin-Nya, dan sebagai cahaya yang menerangi.” (al-Ahzab: 45-46)
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit sambil memegang tangan Abu Bakar.
Ali berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menoleh kepada kami dan bersabda: “Wahai Ali, betapa mulianya akhlak orang Arab pada masa Jahiliyah! Dengan akhlak itulah mereka saling membatasi dalam kehidupan dunia.”
Ia berkata: Kemudian kami mendatangi majelis Aus dan Khazraj, dan kami tidak bangkit sampai mereka membaiat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ali berkata: Dan mereka adalah orang-orang yang jujur dan sabar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senang dengan apa yang ia lihat dari pengetahuan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tentang nasab mereka.
Ia berkata: Tidak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui para sahabatnya, lalu bersabda: “Berdoalah untuk saudara-saudara kalian dari Rabi’ah; karena hari ini mereka telah dikepung oleh orang-orang Persia.”
Kemudian beliau masuk ke rumahnya. Tidak lama kemudian Rasulullah keluar menemui para sahabatnya, lalu berkata kepada mereka: “Pujilah Allah banyak-banyak; karena hari ini Bani Rabi’ah telah menang atas orang Persia, mereka membunuh raja-raja mereka dan menghabisi tentara mereka, dan dengan namaku mereka dimenangkan.”
Ia berkata: Dan peperangan itu terjadi di Qaraqir di samping Dzu Qar, dan tentangnya al-A’sya berkata:
Tebuslah untuk Bani Dzuhal bin Syaiban untaku Dan penunggangnya saat pertempuran dan pedangku Mereka memukul di Hanwu, Hanwu Qaraqir Barisan depan al-Hamarz hingga mereka mundur Maka demi Allah, mata yang melihat dari pasukan Seperti Dzuhal bin Syaiban di sana ketika mereka mundur Mereka bangkit dan kami bangkit, sementara cinta kasih di antara kami Dan ada kesusahan atas kami lalu terungkap
Ini adalah hadits yang sangat gharib (asing), kami menulisnya karena di dalamnya terdapat bukti-bukti kenabian, kebaikan akhlak, kemuliaan karakter, kefasihan orang Arab. Dan hadits ini diriwayatkan dari jalur lain, dan di dalamnya disebutkan: bahwa ketika mereka berperang dengan Persia dan bertemu dengan mereka di Qaraqir – tempat yang dekat dengan Furat – mereka menjadikan nama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai semboyan mereka, maka mereka dimenangkan atas Persia dengan itu. Dan mereka setelah itu masuk Islam.
Al-Waqidi berkata: Abdullah bin Wabishah al-Absi memberitahu kami, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada kami di tempat-tempat kami di Mina, dan kami berkemah di dekat Jumrah pertama yang berdekatan dengan Masjid al-Khaif, dan beliau menunggang untanya dengan Zaid bin Haritsah di belakangnya. Maka beliau menyeru kami. Demi Allah, kami tidak menyahutnya dan tidak ada kebaikan bagi kami.
Ia berkata: Dan kami telah mendengar tentangnya dan seruannya di musim-musim haji. Maka beliau berdiri di hadapan kami menyeru kami, namun kami tidak menyahutnya. Bersama kami ada Maisarah bin Masruq al-Absi, maka ia berkata kepada kami: “Aku bersumpah demi Allah, seandainya kita membenarkan orang ini dan membawanya hingga kami membawanya ke tengah negeri kita, niscaya itu pendapat yang tepat. Aku bersumpah demi Allah, urusannya pasti akan menang hingga mencapai segala tempat.”
Maka kaum itu berkata: “Tinggalkan kami, jangan membuat kami menghadapi apa yang tidak sanggup kami hadapi.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengharapkan Maisarah, maka beliau berbicara dengannya. Maka Maisarah berkata: “Betapa bagus dan bercahayanya perkataanmu, tetapi kaumku menentangku. Sesungguhnya seseorang itu bersama kaumnya, jika mereka tidak mendukungnya maka musuh lebih jauh lagi.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi, dan kaum itu berangkat pulang ke keluarga mereka. Maka Maisarah berkata kepada mereka: “Marilah kita singgah ke Fadak; karena di sana ada orang-orang Yahudi yang akan kita tanyakan tentang orang ini.”
Maka mereka singgah ke orang-orang Yahudi, lalu mereka mengeluarkan kitab mereka dan meletakkannya, kemudian mereka mempelajari sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Nabi yang ummi dari Arab, menunggang keledai dan cukup dengan sepotong roti, tidak tinggi dan tidak pendek, tidak keriting dan tidak lurus, di matanya ada kemerahan, berkulit cerah. Jika ia adalah orang yang menyeru kalian maka sahutlah dia, dan masuklah ke dalam agamanya. Karena kami iri kepadanya dan tidak mengikutinya. Dan kami akan mengalami cobaan besar darinya. Dan tidak akan tersisa seorang pun dari Arab kecuali akan mengikutinya atau memeranginya, maka jadilah kalian dari orang yang mengikutinya.
Maka Maisarah berkata: “Wahai kaumku, sesungguhnya urusan ini jelas.”
Kaum itu berkata: “Kita akan kembali ke musim haji dan menemuinya.”
Maka mereka kembali ke negeri mereka, namun orang-orang mereka menolak hal itu, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mengikutinya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah sebagai muhajir dan menunaikan haji Wada’, Maisarah menemuinya dan mengenalnya. Maka ia berkata: “Wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak berhenti bersemangat untuk mengikutimu sejak hari engkau berhenti di tempat kami hingga terjadi apa yang terjadi. Dan Allah berkehendak tidak lain kecuali apa yang engkau lihat tentang tertundanya keislamanku. Dan kebanyakan orang yang bersamaku telah meninggal, maka ke mana tempat masuk mereka wahai Rasulullah?”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap orang yang meninggal bukan atas agama Islam maka ia di dalam Neraka.”
Maka ia berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku.” Lalu ia masuk Islam dan Islamnya baik, dan ia memiliki kedudukan di sisi Abu Bakar.
Imam Muhammad bin Umar al-Waqidi telah menguraikan dengan lengkap kisah-kisah suku demi suku, maka ia menyebutkan penawaran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Bani Amir, Ghassan, Bani Fazarah, Bani Murrah, Bani Hanifah, Bani Sulaim, Bani Abs, Bani Nadhr bin Hawazin, Bani Tsa’labah bin Ukabah, Kindah, Kalb, Bani al-Harits bin Ka’ab, Bani Udzrah, Qais bin al-Khatim, dan lain-lain, dengan penjelasan yang panjang tentang kisah-kisah mereka. Dan kami telah menyebutkan sebagian yang cukup dari itu. Dan segala puji dan karunia bagi Allah.
Imam Ahmad berkata: Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, Isra’il memberitahu kami, dari Utsman – yaitu Ibnu al-Mughirah – dari Salim bin Abi al-Ja’d, dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan dirinya kepada orang-orang di Mauqif, maka beliau berkata: “Adakah seseorang yang membawaku kepada kaumnya? Karena sesungguhnya Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan kalam Rabbku ‘azza wa jalla?”
Maka seorang laki-laki dari Hamdan mendatanginya. Beliau bertanya: “Engkau dari mana?” Laki-laki itu menjawab: “Dari Hamdan.” Beliau bertanya: “Apakah di sisi kaummu ada perlindungan?” Ia menjawab: “Ya.”
Kemudian laki-laki itu khawatir kaumnya akan meremehkannya, maka ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Aku akan mendatangi mereka dan memberitahu mereka, kemudian aku akan mendatangimu tahun depan.” Beliau bersabda: “Ya.”
Maka ia pergi, dan datanglah delegasi Anshar pada bulan Rajab. Dan hadits ini diriwayatkan oleh ahli Sunan yang empat, dari beberapa jalur dari Isra’il dengan sanad ini. At-Tirmidzi berkata: Hasan shahih.
Pasal tentang Kedatangan Delegasi Anshar Tahun demi Tahun
Hingga mereka membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baiat demi baiat, kemudian setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpindah kepada mereka ke Madinah, dan tinggal di tengah-tengah mereka, sebagaimana akan dijelaskan dan dirinci insya Allah, dan kepada-Nya kita bertawakal.
Hadits Suwaid bin Shamit al-Anshari
Ia adalah Suwaid bin ash-Shamit bin Khalid bin Athiyyah bin Hawth bin Habib bin Amr bin Auf bin Malik bin al-Aus. Ibunya adalah Laila binti Amr an-Najjariyyah, saudari Salma binti Amr ibu Abdul Muththalib bin Hasyim. Maka Suwaid ini adalah anak bibi Abdul Muththalib kakek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap dalam kondisi tersebut, setiap kali orang-orang berkumpul pada musim haji, beliau mendatangi mereka menyeru suku-suku kepada Allah dan Islam, menawarkan dirinya kepada mereka dan apa yang dibawanya berupa petunjuk dan rahmat. Dan beliau tidak mendengar tentang pendatang yang datang ke Mekkah dari orang Arab yang memiliki nama dan kehormatan kecuali beliau mendatanginya, menyerunya kepada Allah ta’ala, dan menawarkan kepadanya apa yang ada pada beliau.
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah menceritakan kepadaku, dari para pemuka kaumnya, mereka berkata: Suwaid bin ash-Shamit, saudara Bani Amr bin Auf, datang ke Mekkah sebagai haji atau umrah. Suwaid hanya dinamakan oleh kaumnya – di antara mereka – sebagai al-Kamil (yang sempurna); karena kekuatannya, syairnya, kehormatannya, dan nasabnya. Dan ia adalah yang berkata:
Ketahuilah, banyak yang engkau panggil teman, tetapi jika engkau lihat Perkataannya secara tersembunyi, engkau akan tidak suka dengan apa yang ia ungkapkan Perkataannya seperti madu ketika ia hadir Dan secara tersembunyi berisi fitnah di lubang dada Ia menyenangkanmu dengan yang tampak, dan di bawah kulitnya Bisikan kedengkian yang memutus punggung Dua mata menunjukkan kepadamu apa yang ia sembunyikan Dari kedengkian dan kebencian dengan pandangan sinis Maka hiasilah aku dengan kebaikan, karena engkau telah lama melukaiku Dan sebaik-baik pemimpin adalah yang menghiasi dan tidak melukai
Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya ketika mendengar tentangnya, lalu menyerunya kepada Allah dan Islam. Maka Suwaid berkata kepadanya: “Mungkin yang ada padamu seperti yang ada padaku.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apa yang ada padamu?”
Ia berkata: “Majallah Luqman” – yaitu hikmah Luqman.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tunjukkanlah itu kepadaku.”
Maka ia menunjukkannya kepada beliau. Beliau bersabda: “Sesungguhnya perkataan ini baik, tetapi yang ada padaku lebih utama dari ini, Quran yang diturunkan Allah kepadaku yang merupakan petunjuk dan cahaya.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan Quran kepadanya, dan menyerunya kepada Islam. Maka ia tidak menjauh darinya, dan berkata: “Sesungguhnya perkataan ini baik.”
Kemudian ia pergi darinya dan tiba di Madinah di tengah kaumnya. Tidak lama kemudian ia dibunuh oleh Khazraj. Sungguh orang-orang dari kaumnya berkata: Sesungguhnya kami memandangnya terbunuh dalam keadaan Muslim. Dan ia terbunuh sebelum perang Bu’ats. Dan ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi, dari al-Hakim, dari al-Asham, dari Ahmad bin Abdul Jabbar, dari Yunus bin Bukair, dari Ibnu Ishaq dengan lebih ringkas dari ini.
Keislaman Iyas bin Mu’adz
Ibnu Ishaq berkata: Al-Husain bin Abdurrahman bin Amr bin Sa’d bin Mu’adz menceritakan kepadaku, dari Mahmud bin Labid, ia berkata: Ketika Abu al-Haisar Anas bin Rafi’ tiba di Mekkah, bersamanya ada pemuda-pemuda dari Bani Abdul Asyhal, di antara mereka Iyas bin Mu’adz, mencari persekutuan dari Quraisy terhadap kaum mereka dari Khazraj. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar tentang mereka, maka beliau mendatangi mereka dan duduk bersama mereka. Beliau bersabda: “Apakah kalian menginginkan yang lebih baik dari apa yang kalian datangi?”
Mereka berkata: “Apa itu?”
Beliau bersabda: “Aku adalah Rasulullah kepada para hamba, aku menyeru mereka untuk beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan diturunkan kepadaku Kitab.”
Kemudian beliau menceritakan kepada mereka tentang Islam, dan membacakan kepada mereka Quran.
Ia berkata: Maka Iyas bin Mu’adz berkata, dan ia adalah pemuda muda: “Wahai kaumku, ini demi Allah lebih baik dari apa yang kalian datangi.”
Maka Abu al-Haisar Anas bin Rafi’ mengambil segenggam tanah dari Bathha’, lalu memukulkannya ke wajah Iyas bin Mu’adz, dan berkata: “Tinggalkan kami, sesungguhnya kami datang bukan untuk ini.”
Ia berkata: Maka Iyas terdiam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dari mereka. Mereka pulang ke Madinah, dan terjadilah perang Bu’ats antara Aus dan Khazraj.
Ia berkata: Kemudian tidak lama Iyas bin Mu’adz meninggal.
Mahmud bin Labid berkata: Orang-orang dari kaumnya yang menyaksikannya memberitahuku bahwa mereka tidak henti-hentinya mendengarnya bertahlil kepada Allah, bertakbir, bertahmid, dan bertasbih hingga ia meninggal. Maka mereka tidak ragu bahwa ia meninggal dalam keadaan Muslim. Sungguh ia telah merasakan Islam dalam majelis itu ketika ia mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang ia dengar.
Saya berkata: Hari Bu’ats, dan Bu’ats adalah tempat di Madinah, di sana terjadi peperangan besar yang menewaskan banyak dari para pembesar Aus dan Khazraj serta tokoh-tokoh mereka. Dan tidak tersisa dari orang tua mereka kecuali sedikit.
Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Ubaid bin Isma’il, dari Abu Usamah, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata: Hari Bu’ats adalah hari yang didahulukan Allah untuk Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah dan kelompok mereka telah terpecah serta para pembesar mereka telah terbunuh.
Abu Zur’ah ar-Razi berkata dalam kitabnya “Dala’ilun Nubuwwah”: Bab tentang keislaman Rafi’ bin Malik dan Mu’adz bin ‘Afra’. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Yahya bin Muhammad bin ‘Abbad bin Hani’ asy-Syajari, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku ‘Ubaid bin Yahya, dari Mu’adz bin Rifa’ah bin Rafi’, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa ia keluar bersama anak pamannya Mu’adz bin ‘Afra’, hingga mereka sampai di Mekah. Ketika mereka turun dari bukit, mereka melihat seorang laki-laki di bawah pohon. Ia berkata: Ini terjadi sebelum keberangkatan enam orang dari kaum Anshar. Ia berkata: Ketika kami melihatnya, kami berbicara dengannya, kami berkata: “Kami akan mendatangi orang ini, kami titipkan kedua unta kami kepadanya hingga kami thawaf di Baitullah.” Maka kami datang dan mengucapkan salam kepadanya dengan salam orang Jahiliyah, lalu ia membalas dengan salam orang Islam, dan aku telah mendengar tentang Nabi. Ia berkata: Kami terkejut. Maka kami bertanya: “Siapakah engkau?” Ia menjawab: “Turunlah.” Maka kami turun dan bertanya: “Di manakah orang yang mengklaim apa yang ia klaim dan mengatakan apa yang ia katakan?” Ia menjawab: “Akulah dia.” Kami berkata: “Tawarkan kepada kami Islam.” Maka ia menawarkan, dan berkata: “Siapa yang menciptakan langit, bumi, dan gunung-gunung?” Kami menjawab: “Allah yang menciptakan mereka.” Ia berkata: “Siapa yang menciptakan kalian?” Kami menjawab: “Allah.” Ia berkata: “Lalu siapa yang membuat patung-patung yang kalian sembah ini?” Kami menjawab: “Kami.” Ia berkata: “Sang Pencipta lebih berhak disembah ataukah makhluk?” Kami menjawab: “Sang Pencipta.” Ia berkata: “Maka kalian lebih berhak untuk disembah, padahal kalian yang membuatnya, sedangkan Allah lebih berhak kalian sembah daripada sesuatu yang kalian buat. Dan aku menyeru kepada penyembahan Allah, kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah, menyambung silaturahmi, meninggalkan permusuhan, meskipun orang-orang marah.” Maka keduanya berkata: “Demi Allah, seandainya yang engkau serukan ini adalah kebatilan, niscaya ia termasuk perkara-perkara mulia dan akhlak yang terpuji. Maka jagalah kedua unta kami hingga kami mendatangi Baitullah.” Maka Mu’adz bin ‘Afra’ duduk di sisinya. Rafi’ berkata: Aku mendatangi Baitullah lalu thawaf, dan aku mengeluarkan tujuh anak panah, dan aku jadikan untuknya satu anak panah dari anak-anak panah itu. Aku menghadap Baitullah, lalu aku berkata: “Ya Allah, jika yang diseru oleh Muhammad ini benar maka keluarkan anak panahnya.” Tujuh kali, maka aku melempar tujuh kali, lalu aku berteriak: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Maka orang-orang berkumpul mengelilingiku, dan berkata: “Orang gila, laki-laki yang murtad.” Maka aku berkata: “Bahkan laki-laki yang beriman.” Kemudian aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di bagian atas Mekah. Ketika Mu’adz bin ‘Afra’ melihatku, ia berkata: “Engkau datang dengan wajah yang tidak sama ketika engkau pergi, wahai Rafi’.” Maka aku datang dan beriman, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kami surat Yusuf dan “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Kemudian kami keluar pulang ke Madinah. Ketika kami berada di al-‘Aqiq, Mu’adz berkata: “Sesungguhnya aku tidak pernah mengetuk pintu di malam hari, maka biarlah kami bermalam hingga pagi.” Aku berkata: “Aku bermalam padahal bersamaku ada kebaikan yang seperti ini?! Aku tidak akan melakukan itu.” Dan Rafi’ biasanya apabila ia bepergian lalu kembali, ia mengunjungi kaumnya. Isnad dan redaksinya hasan.
Bab Permulaan Keislaman Kaum Anshar Radhiyallahu ‘Anhum
Ibnu Ishaq berkata: Ketika Allah hendak menampakkan agama-Nya, memuliakan Nabi-Nya, dan memenuhi janji-Nya kepadanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada musim haji ketika ia bertemu dengan sekelompok orang dari kaum Anshar, lalu ia menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah Arab, sebagaimana yang biasa ia lakukan pada setiap musim haji. Ketika ia berada di dekat ‘Aqabah, ia bertemu dengan sekelompok kecil dari Khazraj yang Allah kehendaki kebaikan bagi mereka. Maka telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, dari para syaikh kaumnya, mereka berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan mereka, ia bertanya kepada mereka: “Siapakah kalian?” Mereka menjawab: “Sekelompok dari Khazraj.” Ia bertanya: “Apakah kalian dari sekutu Yahudi?” Mereka menjawab: “Ya.” Ia berkata: “Maukah kalian duduk agar aku berbicara kepada kalian?” Mereka menjawab: “Tentu.” Maka mereka duduk bersamanya, lalu ia menyeru mereka kepada Allah, menawarkan kepada mereka Islam, dan membacakan kepada mereka al-Qur’an. Ia berkata: Dan di antara yang Allah perbuat bagi mereka dalam Islam adalah bahwa orang-orang Yahudi bersamaan dengan mereka di negeri mereka, dan mereka adalah ahli kitab dan ilmu, sedangkan mereka adalah ahli syirik penyembah berhala, dan mereka telah mengalahkan mereka di negeri mereka. Maka jika terjadi sesuatu di antara mereka, mereka berkata kepada mereka: “Sesungguhnya seorang nabi yang diutus sekarang telah mendekat masanya, kami akan mengikutinya, kami akan membunuh kalian bersamanya seperti terbunuhnya kaum ‘Ad dan Iram.” Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara kepada sekelompok orang itu dan menyeru mereka kepada Allah, sebagian mereka berkata kepada yang lain: “Wahai kaumku, kalian tahu demi Allah bahwa sesungguhnya ia adalah nabi yang diancamkan oleh orang-orang Yahudi kepada kalian, maka janganlah mereka mendahului kalian kepadanya.” Maka mereka menjawabnya dalam apa yang ia serukan kepada mereka dengan membenarkannya, dan mereka menerima darinya apa yang ia tawarkan kepada mereka dari Islam, dan mereka berkata kepadanya: “Sesungguhnya kami telah meninggalkan kaum kami dan tidak ada kaum, di antara mereka terdapat permusuhan dan kejahatan seperti yang ada di antara mereka, dan semoga Allah mengumpulkan mereka melalui dirimu. Maka kami akan datang kepada mereka dan menyeru mereka kepada urusanmu, dan menawarkan kepada mereka apa yang kami jawab kepadamu dari agama ini. Maka jika Allah mengumpulkan mereka atasmu, maka tidak ada laki-laki yang lebih mulia daripadamu.” Kemudian mereka pulang kembali ke negeri mereka setelah beriman dan membenarkan.
Ibnu Ishaq berkata: Dan mereka sebagaimana yang disebutkan kepadaku adalah enam orang, semuanya dari Khazraj, yaitu: Abu Umamah As’ad bin Zurarah bin ‘Ads bin ‘Ubaid bin Tsa’labah bin Ghanm bin Malik bin an-Najjar – Abu Nu’aim berkata – dan telah dikatakan: Bahwa ia adalah orang pertama yang masuk Islam dari Anshar dari Khazraj, dan dari Aus adalah Abu al-Haitsam bin at-Taihan. Dan dikatakan: Bahwa orang pertama yang masuk Islam adalah Rafi’ bin Malik dan Mu’adz bin ‘Afra’. Wallahu a’lam – dan ‘Auf bin al-Harits bin Rifa’ah bin Sawwad bin Malik bin Ghanm bin Malik bin an-Najjar, dan ia adalah Ibnu ‘Afra’ an-Najjariyyan, dan Rafi’ bin Malik bin al-‘Ajlan bin ‘Amr bin Zuraiq az-Zuraqiy, dan Quthbah bin ‘Amir bin Hadidah bin ‘Amr bin Sawwad bin Ghanm bin Ka’b bin Salamah bin Sa’d bin ‘Ali bin Asad bin Saridah bin Tazid bin Jasyam bin al-Khazraj as-Sulamiy, kemudian dari Bani Sawwad, dan ‘Uqbah bin ‘Amir bin Nabi bin Zaid bin Haram bin Ka’b bin Ghanm as-Sulamiy juga, kemudian dari Bani Haram, dan Jabir bin ‘Abdillah bin Ri’ab bin an-Nu’man bin Sinan bin ‘Ubaid bin ‘Adiy bin Ghanm bin Ka’b bin Salamah as-Sulamiy juga, kemudian dari Bani ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhum. Dan demikianlah diriwayatkan dari asy-Sya’bi, az-Zuhri dan selain keduanya bahwa mereka pada malam itu adalah enam orang dari Khazraj.
Dan Musa bin ‘Uqbah menyebutkan dalam apa yang ia riwayatkan dari az-Zuhri dan ‘Urwah bin az-Zubair, bahwa pertemuan pertamanya ‘alaihis salam dengan mereka adalah delapan orang, yaitu: Mu’adz bin ‘Afra’, dan As’ad bin Zurarah, dan Rafi’ bin Malik, dan Dzakwan yaitu Ibnu ‘Abd Qais, dan ‘Ubadah bin ash-Shamit, dan Abu ‘Abdirrahman Yazid bin Tsa’labah, dan Abu al-Haitsam bin at-Taihan, dan ‘Uwaim bin Sa’idah. Maka mereka masuk Islam dan berjanji dengannya untuk tahun depan. Lalu mereka kembali ke kaum mereka dan menyeru mereka kepada Islam, dan mereka mengirim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Mu’adz bin ‘Afra’ dan Rafi’ bin Malik: “Utuslah kepada kami seorang laki-laki yang mengajari kami agama.” Maka ia mengutus kepada mereka Mush’ab bin ‘Umair, lalu ia singgah di rumah As’ad bin Zurarah. Dan ia menyebutkan kesempurnaan kisah sebagaimana yang akan dikemukakan oleh Ibnu Ishaq yang lebih lengkap dari redaksi Musa bin ‘Uqbah. Wallahu a’lam.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika mereka datang ke Madinah kepada kaum mereka, mereka menyebutkan kepada mereka tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menyeru mereka kepada Islam, hingga tersebar di antara mereka. Maka tidak tersisa rumah dari rumah-rumah Anshar kecuali di dalamnya ada penyebutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hingga ketika tahun berikutnya tiba, yang datang ke musim haji dari kaum Anshar adalah dua belas orang laki-laki, yaitu Abu Umamah As’ad bin Zurarah yang telah disebutkan sebelumnya, dan ‘Auf bin al-Harits yang telah disebutkan, dan saudaranya Mu’adz, dan keduanya adalah anak ‘Afra’, dan Rafi’ bin Malik yang juga telah disebutkan sebelumnya, dan Dzakwan bin ‘Abd Qais bin Khaldah bin Makhallad bin ‘Amir bin Zuraiq az-Zuraqiy – Ibnu Hisyam berkata: Dan ia adalah Anshari Muhajiri – dan ‘Ubadah bin ash-Shamit bin Qais bin Ashram bin Fahr bin Tsa’labah bin Ghanm bin ‘Auf bin ‘Amr bin ‘Auf bin al-Khazraj, dan sekutunya Abu ‘Abdirrahman Yazid bin Tsa’labah bin Khuzaimah bin Ashram al-Balawiy, dan al-‘Abbas bin ‘Ubadah bin Nadhlah bin Malik bin al-‘Ajlan bin Zaid bin Ghanm bin Salim bin ‘Auf bin ‘Amr bin ‘Auf bin al-Khazraj al-‘Ajlaniy, dan ‘Uqbah bin ‘Amir bin Nabi yang telah disebutkan sebelumnya, dan Quthbah bin ‘Amir bin Hadidah yang telah disebutkan sebelumnya. Maka inilah sepuluh orang dari Khazraj, dan dari Aus dua orang yaitu: ‘Uwaim bin Sa’idah, dan Abu al-Haitsam Malik bin at-Taihan. Ibnu Hisyam berkata: At-Taihan bisa diringankan dan diberat seperti mayyit dan mayit.
As-Suhaili berkata: Abu al-Haitsam bin at-Taihan namanya adalah Malik bin Malik bin ‘Atik bin ‘Amr bin ‘Abdil A’lam bin ‘Amir bin Za’ura bin Jasyam bin al-Harits bin al-Khazraj bin ‘Amr bin Malik bin al-Aus. Ia berkata: Dan dikatakan: Bahwa ia adalah orang Irasyi. Dan dikatakan: Balawiy. Karena itulah Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam tidak menasabkannya. Ia berkata: Dan al-Haitsam adalah anak burung elang, dan sejenis tumbuhan.
Yang dimaksud adalah bahwa dua belas orang laki-laki ini menyaksikan musim haji pada tahun itu, dan mereka bertekad untuk bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka mereka bertemu dengannya di ‘Aqabah, dan mereka membaiat beliau di sana dengan bai’ah perempuan, dan inilah ‘Aqabah yang pertama. Dan Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan kepada mereka dari firman-Nya dalam surat Ibrahim “Dan ketika Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman” hingga akhirnya.
Dan Ibnu Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari Martsad bin ‘Abdillah al-Yazaniy, dari ‘Abdirrahman bin ‘Asilah ash-Shunabihiy, dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata: Aku termasuk orang yang hadir di ‘Aqabah yang pertama, dan kami adalah dua belas orang laki-laki. Maka kami membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bai’ah perempuan, dan itu sebelum perang diwajibkan, “Bahwa kami tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak membuat kebohongan yang kami ada-adakan antara tangan dan kaki kami, dan tidak mendurhakai beliau dalam kebaikan. Maka jika kalian memenuhi maka kalian mendapat surga, dan jika kalian melanggar dari itu sesuatu maka urusan kalian kepada Allah, jika Ia mau menyiksa dan jika Ia mau mengampuni.” Dan telah meriwayatkan al-Bukhari dan Muslim hadits ini dari jalan al-Laits bin Sa’d, dari Yazid bin Abi Habib dengannya sepertinya.
Ibnu Ishaq berkata: Dan az-Zuhri menyebutkan dari ‘A’idz Allah bin ‘Abdillah Abu Idris al-Khulaniy, bahwa ‘Ubadah bin ash-Shamit menceritakan kepadanya, ia berkata: Kami membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam ‘Aqabah yang pertama “Bahwa kami tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak membuat kebohongan yang kami ada-adakan antara tangan dan kaki kami, dan tidak mendurhakai beliau dalam kebaikan. Maka jika kalian memenuhi maka kalian mendapat surga, dan jika kalian melanggar dari itu sesuatu lalu kalian mendapat hukumannya di dunia maka itu adalah penghapus dosa untuknya, dan jika kalian ditutupi atasnya hingga hari kiamat maka urusan kalian kepada Allah, jika Ia mau menyiksa dan jika Ia mau mengampuni.” Dan hadits ini dikeluarkan dalam Shahihain dan lainnya dari beberapa jalan, dari az-Zuhri dengannya sepertinya. Dan ucapannya: Dengan bai’ah perempuan. Maksudnya adalah sesuai dengan apa yang diturunkan bai’ah perempuan setelah itu pada tahun Hudaibiyah, dan ini termasuk yang diturunkan sesuai dengan apa yang telah dibaiatkan kepada para sahabatnya pada malam ‘Aqabah. Dan ini bukan hal yang aneh, karena al-Qur’an turun sesuai dengan pendapat Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu dalam beberapa tempat, sebagaimana yang kami jelaskan dalam biografinya dan dalam tafsir. Dan jika bai’ah ini terjadi berdasarkan wahyu yang tidak dibaca maka itu lebih jelas. Wallahu a’lam.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika kaum itu pulang darinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus bersama mereka Mush’ab bin ‘Umair bin Hasyim bin ‘Abd Manaf bin ‘Abdid Dar bin Qushay, dan memerintahkannya untuk membacakan kepada mereka al-Qur’an, mengajarkan kepada mereka Islam, dan mengajari mereka agama. Dan al-Baihaqi telah meriwayatkan, dari Ibnu Ishaq, ia berkata: Maka telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengutus Mush’ab ketika mereka menulis kepadanya agar mengutusnnya kepada mereka. Dan inilah yang disebutkan oleh Musa bin ‘Uqbah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kecuali bahwa ia menjadikan yang kedua sebagai yang pertama. Al-Baihaqi berkata: Dan redaksi Ibnu Ishaq lebih lengkap.
Dan Ibnu Ishaq berkata: Dan ‘Abdullah bin Abi Bakr biasa berkata: Aku tidak tahu apa itu ‘Aqabah pertama. Kemudian Ibnu Ishaq berkata: Ya, demi umurku sungguh telah terjadi ‘Aqabah dan ‘Aqabah. Mereka semua berkata: Maka Mush’ab singgah di rumah As’ad bin Zurarah dan ia dipanggil di Madinah sebagai al-Muqri’. Ibnu Ishaq berkata: Maka telah menceritakan kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, bahwa ia biasa shalat bersama mereka, dan itu karena kaum Aus dan Khazraj membenci sebagian mereka untuk mengimami sebagian, radhiyallahu ‘anhum ajma’in.
Ibnu Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi Umamah bin Sahl bin Hunayf, dari ayahnya, dari ‘Abdirrahman bin Ka’b bin Malik, ia berkata: Aku adalah penuntun ayahku ketika penglihatannya hilang. Maka aku jika keluar bersamanya ke shalat Jumat, lalu ia mendengar adzan untuknya, ia bershalawat atas Abu Umamah As’ad bin Zurarah. Ia berkata: Maka ia tetap seperti itu beberapa waktu lamanya, tidak mendengar adzan untuk Jumat kecuali ia bershalawat atasnya dan memintakan ampun untuknya. Ia berkata: Maka aku berkata dalam diriku: Demi Allah, sesungguhnya ini buatku sungguh mengherankan, mengapa aku tidak bertanya kepadanya. Maka aku berkata: “Wahai ayahku, mengapa jika engkau mendengar adzan untuk Jumat, engkau bershalawat atas Abu Umamah?” Maka ia berkata: “Wahai anakku, ia adalah orang pertama yang mengumpulkan kami di Madinah, di Hazm an-Nabit, dari Harrah Bani Bayadhah, di sebuah tempat yang disebut: Naqi’ al-Khadhamat.” Ia berkata: Aku berkata: “Dan berapa kalian pada hari itu?” Ia berkata: “Empat puluh orang laki-laki.” Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari jalan Muhammad bin Ishaq rahimahullah. Dan ad-Daruquthni telah meriwayatkan, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis kepada Mush’ab bin ‘Umair memerintahkannya untuk mengadakan shalat Jumat, dan dalam isnadnya ada keanehan. Wallahu a’lam.
Ibnu Ishaq berkata: Ubaidullah bin Al-Mughirah bin Mu’aiqib dan Abdullah bin Abi Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm menceritakan kepadaku bahwa As’ad bin Zurarah keluar bersama Mush’ab bin Umair menuju rumah Bani Abdul Asyhal dan rumah Bani Zhafar. Sa’d bin Mu’adz adalah putra saudara perempuan As’ad bin Zurarah. Lalu ia membawanya masuk ke sebuah kebun milik Bani Zhafar, di sebuah sumur yang disebut Sumur Maraq. Mereka duduk di kebun tersebut, dan berkumpullah kepada mereka beberapa orang dari kalangan yang telah masuk Islam, sedangkan Sa’d bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair pada hari itu adalah pemimpin kaum mereka dari Bani Abdul Asyhal, dan keduanya masih musyrik menganut agama kaum mereka. Ketika mereka mendengar berita tentang kedatangan Mush’ab dan As’ad, Sa’d berkata kepada Usaid: “Demi ayahmu! Pergilah kepada dua orang ini yang telah datang ke perkampungan kita untuk mempengaruhi orang-orang lemah kita, hardiklah mereka dan laranglah mereka datang ke perkampungan kita. Seandainya bukan karena As’ad bin Zurarah adalah kerabatku sebagaimana engkau ketahui, tentulah aku yang melakukan itu. Ia adalah putra saudara perempuanku dan aku tidak dapat berbuat kasar kepadanya.”
Ibnu Ishaq berkata: Maka Usaid bin Hudhair mengambil tombaknya, lalu menghampiri keduanya. Ketika As’ad bin Zurarah melihatnya, ia berkata kepada Mush’ab: “Ini adalah pemimpin kaumnya, dan ia telah datang kepadamu, maka bersungguh-sungguhlah demi Allah dalam menghadapinya.” Mush’ab berkata: “Jika ia mau duduk, aku akan berbicara dengannya.” Usaid berdiri di hadapan mereka sambil mengumpat. Ia berkata: “Apa yang membawa kalian datang kepada kami untuk mempengaruhi orang-orang lemah kami? Menjauhlah dari kami jika kalian menghendaki keselamatan diri kalian.”
Musa bin Uqbah berkata: Usaid berkata kepada mereka: “Mengapa kalian datang ke perkampungan kami dengan orang asing yang terasing dan terbuang ini untuk mempengaruhi orang-orang lemah kami dengan kebatilan dan menyeru mereka kepadanya?”
Ibnu Ishaq berkata: Mush’ab berkata kepadanya: “Maukah engkau duduk dan mendengar? Jika engkau menyukai suatu perkara, terimalah, dan jika engkau membencinya, kami akan menghentikan apa yang engkau benci.” Usaid berkata: “Engkau telah berlaku adil.” Kemudian ia menancapkan tombaknya dan duduk bersama mereka. Mush’ab berbicara kepadanya tentang Islam dan membacakan kepadanya Al-Qur’an. Mereka berkata tentang Usaid: “Demi Allah, kami melihat Islam di wajahnya sebelum ia berbicara, dari pancaran cahaya dan kelembutan wajahnya.” Kemudian ia berkata: “Betapa baik dan indahnya ini! Bagaimana kalian melakukannya jika kalian ingin masuk ke dalam agama ini?” Keduanya berkata kepadanya: “Engkau mandi untuk bersuci, bersihkan pakaianmu, lalu ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian salat.” Maka ia bangkit lalu mandi, membersihkan pakaiannya, mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian bangkit dan salat dua rakaat. Lalu ia berkata kepada keduanya: “Di belakangku ada seorang laki-laki, jika ia mengikuti kalian, tidak akan ada seorang pun dari kaumnya yang tertinggal. Aku akan mengirimnya kepada kalian sekarang, yaitu Sa’d bin Mu’adz.” Kemudian ia mengambil tombaknya dan kembali kepada Sa’d dan kaumnya yang sedang duduk di balai pertemuan mereka. Ketika Sa’d bin Mu’adz melihatnya datang, ia berkata: “Aku bersumpah demi Allah, Usaid datang kepada kalian dengan wajah yang berbeda dari ketika ia pergi dari kalian.”
Ketika Usaid berdiri di balai pertemuan, Sa’d berkata kepadanya: “Apa yang telah engkau lakukan?” Ia berkata: “Aku telah berbicara dengan kedua orang itu, dan demi Allah aku tidak melihat ada bahaya pada keduanya. Aku telah melarang mereka dan keduanya berkata: ‘Kami akan melakukan apa yang engkau sukai.’ Dan aku telah mendengar bahwa Bani Harithah telah keluar menuju As’ad bin Zurarah untuk membunuhnya, karena mereka tahu bahwa ia adalah putra saudara perempuanmu untuk mempermalukanmu.” Maka Sa’d bin Mu’adz bangkit dengan marah dan tergesa-gesa karena khawatir dengan apa yang disebutkan tentang Bani Harithah. Ia mengambil tombaknya di tangannya kemudian berkata: “Demi Allah, aku tidak melihat engkau melakukan sesuatu yang berguna.” Kemudian ia keluar menuju keduanya. Ketika Sa’d melihat keduanya dalam keadaan tenang, ia mengetahui bahwa Usaid hanya menginginkan agar ia mendengar dari keduanya. Maka ia berdiri di hadapan mereka sambil mengumpat, kemudian berkata kepada As’ad bin Zurarah: “Wahai Abu Umamah, demi Allah, seandainya bukan karena hubungan kekerabatan antara aku dan engkau, niscaya engkau tidak berani melakukan ini terhadapku. Engkau mendatangi perkampungan kami dengan sesuatu yang kami benci?”
As’ad berkata kepada Mush’ab: “Demi Allah, yang datang kepadamu adalah pemimpin kaumnya. Jika ia mengikutimu, tidak akan ada dua orang pun dari mereka yang tertinggal.” Mush’ab berkata kepadanya: “Maukah engkau duduk dan mendengar? Jika engkau menyukai suatu perkara dan menginginkannya, terimalah, dan jika engkau membencinya, kami akan menjauhi engkau dari apa yang engkau benci.” Sa’d berkata: “Engkau telah berlaku adil.” Kemudian ia menancapkan tombaknya dan duduk. Mush’ab menawarkan Islam kepadanya dan membacakan kepadanya Al-Qur’an. Musa bin Uqbah menyebutkan bahwa ia membacakan kepadanya permulaan Surat Az-Zukhruf. Ia berkata: “Kami melihat, demi Allah, Islam di wajahnya sebelum ia berbicara, dari pancaran cahaya dan kelembutan wajahnya.” Kemudian ia berkata kepada keduanya: “Bagaimana kalian melakukannya jika kalian masuk Islam dan memasuki agama ini?” Keduanya berkata: “Engkau mandi untuk bersuci, bersihkan pakaianmu, kemudian ucapkan dua kalimat syahadat, lalu salat dua rakaat.”
Maka ia bangkit lalu mandi, membersihkan pakaiannya, mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian salat dua rakaat. Lalu ia mengambil tombaknya dan datang menuju balai pertemuan kaumnya bersama Usaid bin Hudhair. Ketika kaumnya melihatnya datang, mereka berkata: “Kami bersumpah demi Allah, Sa’d kembali kepada kalian dengan wajah yang berbeda dari ketika ia pergi dari kalian.” Ketika ia berdiri di hadapan mereka, ia berkata: “Wahai Bani Abdul Asyhal, bagaimana kalian menilai kedudukanku di antara kalian?” Mereka berkata: “Engkau pemimpin kami, orang yang paling baik pendapatnya di antara kami, dan yang paling baik penjagaannya.” Ia berkata: “Maka berbicara dengan laki-laki dan perempuan kalian adalah haram bagiku sampai kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Ibnu Ishaq berkata: Demi Allah, tidak ada seorang pun yang tersisa di rumah Bani Abdul Asyhal pada sore hari itu, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali telah masuk Islam. As’ad dan Mush’ab kembali ke rumah As’ad bin Zurarah, lalu ia tinggal di sana menyeru manusia kepada Islam, hingga tidak tersisa rumah dari rumah-rumah Anshar kecuali di dalamnya terdapat laki-laki dan perempuan muslim, kecuali rumah Bani Umayyah bin Zaid, Khathma, Wa’il, dan Waqif, mereka adalah dari suku Aus bin Harithah. Hal itu karena di antara mereka ada Abu Qais bin Al-Aslat, namanya adalah Shaifi. Az-Zubair bin Bakkar berkata namanya adalah Al-Harith, dan ada yang berkata Abdullah. Nama ayahnya, Al-Aslat, adalah Amir bin Jasyam bin Wa’il bin Zaid bin Qais bin Amir bin Murrah bin Malik bin Al-Aus. Demikian pula Ibnu Al-Kalbi menasabkannya. Ia adalah seorang penyair dan pemimpin mereka, mereka mendengarkan darinya dan menaatinya. Ia menahan mereka dari Islam hingga setelah peristiwa Khandaq.
Penulis berkata: Abu Qais bin Al-Aslat ini, Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa ia memiliki syair-syair ketuhanan yang bagus yang mendekati syair-syair Umayyah bin Abi Ash-Shalt Ath-Thaqafi.
Ibnu Ishaq berkata dalam riwayat sebelumnya: Ketika berita tentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersebar di kalangan Arab dan sampai ke berbagai negeri, ia disebutkan di Madinah. Tidak ada suku dari Arab yang lebih mengetahui tentang urusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ia disebutkan dan sebelum disebutkan selain suku Aus dan Khazraj ini, karena apa yang mereka dengar dari para pendeta Yahudi. Ketika beritanya sampai di Madinah dan mereka membicarakan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan Quraisy tentangnya, Abu Qais bin Al-Aslat, saudara Bani Waqif, berkata—As-Suhaili berkata: Ia adalah Abu Qais Shurmah bin Abi Anas, dan nama Abi Anas adalah Qais bin Shurmah bin Malik bin Adi bin Amr bin Ghanam bin Adi bin An-Najjar. Ia berkata: Dialah orang yang turun ayat tentangnya dan tentang Umar: “Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kalian” (Surat Al-Baqarah: 187) ayat tersebut.
Ibnu Ishaq berkata: Ia mencintai Quraisy dan merupakan menantu mereka. Ia menikahi Arnab binti Asad bin Abdul Uzza bin Qushay, dan ia tinggal bersama mereka bertahun-tahun bersama istrinya. Ia mengucapkan sebuah qasidah yang di dalamnya ia mengagungkan kehormatan Ka’bah, melarang Quraisy dari peperangan di dalamnya, menyebutkan keutamaan dan kebijaksanaan mereka, mengingatkan mereka tentang karunia Allah kepada mereka dan pembelaan-Nya terhadap mereka dari pasukan bergajah dan tipudayanya, serta memerintahkan mereka untuk menahan diri dari menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
Wahai penunggang kuda, jika engkau lewat, sampaikanlah Pesanku yang jauh kepada Luay bin Ghalib
Utusan seorang laki-laki yang cemas dengan keadaan kalian Dari kejauhan, bersedih dan prihatin tentang hal itu
Dan sungguh telah ada padaku tempat istirahat untuk kesedihan Namun aku belum menunaikan hajat dan maksudku darinya
Aku kabarkan kepada kalian tentang dua kelompok, setiap suku Memiliki pasukannya, antara yang mengumpulkan kayu dan yang menyusun strategi
Aku berlindung untuk kalian kepada Allah dari kejahatan perbuatan kalian Dan kejahatan perseteruan kalian serta hasutan para penghasut
Dan menampakkan akhlak buruk dan bisikan yang jahat Seperti tusukan duri, tusukannya mengenai sasaran
Maka ingatkanlah mereka dengan Allah pada permulaan Dan menghalalkan yang haram seperti kijang yang berlari
Dan katakanlah kepada mereka, Allah yang memutuskan hukum-Nya Tinggalkanlah peperangan, ia akan pergi dari kalian ke tempat jauh
Kapan kalian membangkitkannya, kalian membangkitkan yang tercela Ia adalah bencana bagi yang jauh maupun yang dekat
Memutuskan tali persaudaraan dan menghancurkan umat Dan menghilangkan lemak dari punuk dan punggung
Dan kalian mengganti setelahnya dengan Athamiyah Mayat yang hancur dan baju perang yang terkoyak
Dan dengan minyak misik dan kapur barus, serta baju besi yang berlapis Seakan debu-debunya adalah mata belalang
Maka takutlah kalian pada peperangan, jangan sampai ia mengikat kalian Dengan kolam yang airnya pahit dan buruk rasanya
Ia menghiasi dirinya bagi kaum, kemudian mereka melihatnya Dengan akibat buruk ketika tersingkap sang ibu musibah
Ia membakar, tidak memanggang yang lemah, dan menyerang Orang-orang yang mulia di antara kalian dengan kematian yang menimpa
Tidakkah kalian mengetahui apa yang terjadi dalam perang Dahis Agar kalian mengambil pelajaran, atau yang terjadi dalam perang Hatib
Dan berapa banyak ia telah menimpa orang mulia yang terhormat Yang tinggi tiangnya, tamunya tidak pernah kecewa
Yang besar abu apinya, terpuji urusannya Dan yang memiliki sifat murni, mulia dalam pemberian
Dan darah yang tertumpah dalam kesesatan, seolah-olah Angin timur dan selatan menyebarkannya
Seorang laki-laki yang benar dan mengetahui akan memberitahu kalian tentangnya Tentang hari-harinya, dan ilmu adalah ilmu dari pengalaman
Maka juallah tombak untuk peperangan dan ingatlah Perhitungan kalian, dan Allah adalah sebaik-baik pembuat perhitungan
Dan setiap orang memilih agama, maka janganlah Ada pengawas atas kalian selain Tuhan bintang-bintang
Tegakkanlah bagi kami agama yang lurus, karena kalian Adalah tujuan kami, orang mengambil petunjuk dengan para pemimpin
Dan kalian bagi manusia ini adalah cahaya dan penjaga Kalian dituju, dan akal pikiran tidak bingung
Dan kalian jika manusia diuji adalah permata Bagi kalian adalah pusat Bathha, orang-orang yang mulia
Kalian menjaga tubuh-tubuh yang mulia dan asli Yang bersih nasabnya, tidak tercampur
Engkau melihat pencari hajat menuju rumah-rumah kalian Rombongan yang tersesat berpetunjuk dengan rombongan
Sungguh telah mengetahui kaum-kaum bahwa para pemimpin kalian Dalam setiap keadaan adalah sebaik-baik ahli kain sutra
Dan yang paling baik pendapatnya dan paling tinggi sunnah-nya Dan yang paling berkata benar di tengah-tengah majelis
Maka berdirilah dan salatlah kepada Tuhan kalian dan usaplah Rukun-rukun Ka’bah ini antara Al-Akhasyib
Karena di sisi kalian daripadanya ada ujian dan kejujuran Pada pagi hari Abu Yaksum, pemimpin pasukan
Pasukannya di dataran sore hari dan kakinya Di atas yang melempar di puncak-puncak gunung
Maka ketika datang kepada kalian pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa, Dia mengembalikan mereka Pasukan Raja antara yang berbaris dan yang melempar
Mereka berpaling dengan cepat melarikan diri dan tidak kembali Kepada keluarganya Milhab kecuali rombongan-rombongan
Maka jika kalian binasa, kami binasa dan binaslah musim-musim Yang dengannya hidup perkataan orang yang tidak berdusta
Adapun perang Dahis yang disebutkan Abu Qais dalam syairnya adalah peperangan di zaman Jahiliyah yang terkenal. Sebabnya, menurut apa yang disebutkan Abu Ubaidah Mu’ammar bin Al-Muthanna dan lainnya, adalah seekor kuda betina bernama Dahis milik Qais bin Zuhair bin Judzaimah bin Rawahah Al-Ghathafani, yang dilombakan dengan kuda betina milik Hudzaifah bin Badr bin Amr bin Ju’wiyah Al-Ghathafani juga yang bernama Al-Ghabra. Dahis datang lebih dahulu sebagai pemenang, lalu Hudzaifah memerintahkan seseorang untuk memukul wajahnya. Maka Malik bin Zuhair bangkit dan menampar wajah Al-Ghabra. Lalu Haml bin Badr bangkit dan menampar Malik. Kemudian Abu Junaidub Al-Absi bertemu dengan Auf bin Hudzaifah dan membunuhnya. Kemudian seorang laki-laki dari Bani Fazarah bertemu Malik dan membunuhnya. Maka pecahlah peperangan antara Bani Abs dan Fazarah. Hudzaifah bin Badr terbunuh, saudaranya Haml bin Badr, dan kelompok-kelompok lainnya. Mereka mengucapkan tentang hal itu banyak syair yang panjang untuk disebutkan dan diuraikan.
Ibn Hisyam berkata: Dan dikatakan bahwa Qais mengirim kuda Dahis dan Ghabra, sedangkan Hudzaifah mengirim kuda Khattar dan Hanfa. Yang pertama lebih benar. Beliau berkata: Adapun mengenai perang Hatib, yang dimaksud adalah Hatib bin Harits bin Qais bin Haisyah bin Harits bin Umayyah bin Mu’awiyah bin Malik bin Auf bin Amr bin Auf bin Malik bin Aus. Dia telah membunuh seorang Yahudi yang menjadi tetangga Khazraj. Maka keluarlah kepadanya Yazid bin Harits bin Qais bin Malik bin Ahmar bin Haritsah bin Tsa’labah bin Ka’b bin Malik bin Ka’b bin Khazraj bin Harits bin Khazraj – dialah yang disebut Ibnu Fashum – bersama beberapa orang dari Bani Harits bin Khazraj, lalu mereka membunuhnya. Maka terjadilah perang antara Aus dan Khazraj, mereka saling berperang dengan sangat dahsyat dan kemenangan berpihak pada Khazraj. Pada hari itu terbunuh Aswad bin Shamit dari suku Aus, yang membunuhnya adalah Mujdzar bin Dziyad, sekutu Bani Auf bin Khazraj. Kemudian terjadi perang-perang di antara mereka yang panjang untuk disebutkan.
Yang dimaksud adalah bahwa Abu Qais bin Aslat, dengan ilmu dan pemahamannya, tidak mendapat manfaat dari hal itu ketika Mush’ab bin Umair datang ke Madinah dan menyeru penduduknya untuk masuk Islam. Banyak orang dari penduduk Madinah yang masuk Islam, dan tidak tersisa satu rumah pun – yakni kampung – dari rumah-rumah Madinah kecuali di dalamnya ada muslimin dan muslimat, selain rumah Bani Waqif, kaum Abu Qais. Dia menghalangi mereka dari Islam. Dan dialah yang juga mengatakan:
Tuhan manusia adalah berbagai hal yang menimpa, yang sulit darinya dicampur dengan yang mudah Tuhan manusia, jika kami tersesat, maka Dia menunjukkan kami kepada jalan yang baik Seandainya bukan Tuhan kami, niscaya kami menjadi Yahudi, padahal agama Yahudi tidak memiliki kepastian Seandainya bukan Tuhan kami, niscaya kami menjadi Nasrani, bersama para pendeta di bukit Galilea Tetapi kami diciptakan ketika diciptakan sebagai hanif, agama kami berbeda dari setiap generasi Kami menggiring hewan kurban yang berjalan tunduk, dengan pundak terbuka dalam kain penutup
Kesimpulan dari apa yang dia katakan adalah bahwa dia bingung tentang apa yang terjadi dari perkara yang telah didengarnya tentang diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka orang Waqif itu terhenti dalam hal itu, meskipun dengan ilmu dan pengetahuannya. Yang pertama kali menghalanginya dari Islam adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, setelah Abu Qais memberitahunya bahwa dialah yang dikabarkan oleh Yahudi. Maka dia mencegahnya dari masuk Islam.
Ibn Ishaq berkata: Dan dia tidak masuk Islam hingga hari pembebasan Makkah, dia dan saudaranya Wauhwah. Zubair bin Bakkar menyangkal bahwa Abu Qais masuk Islam. Demikian juga Waqidi berkata: Dia telah berketetapan untuk masuk Islam pertama kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyerunya, lalu Abdullah bin Ubay mencela dia, maka dia bersumpah tidak akan masuk Islam hingga satu tahun, lalu meninggal pada bulan Dzulqa’dah. Dan yang lain menyebutkan, sebagaimana yang diceritakan Ibn Atsir dalam kitabnya Asad al-Ghabah, bahwa ketika kematian mendatanginya, Nabi shallallahu alaihi wasallam menyerunya kepada Islam, maka didengar dia mengatakan: Tidak ada tuhan selain Allah.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjenguk seorang laki-laki dari Anshar, lalu bersabda: “Wahai paman, katakanlah tidak ada tuhan selain Allah.” Maka dia berkata: Paman dari pihak ibu atau paman dari pihak ayah? Beliau bersabda: “Bahkan paman dari pihak ibu.” Dia berkata: Apakah lebih baik bagiku untuk mengatakan tidak ada tuhan selain Allah? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya.” Hanya Ahmad yang meriwayatkannya, semoga Allah merahmatinya. Ikrimah dan yang lainnya menyebutkan bahwa ketika dia meninggal, anaknya ingin menikahi istrinya, Kubaisyah binti Ma’n bin Ashim. Maka dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang hal itu, lalu Allah menurunkan: “Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh ayahmu, kecuali (kejadian) yang telah terjadi pada masa lampau.” (QS. An-Nisa: 22).
Ibn Ishaq dan Sa’id bin Yahya al-Umawi berkata dalam kitab Maghazi-nya: Abu Qais ini telah bertarahub pada masa Jahiliyah, mengenakan pakaian kasar, meninggalkan berhala-berhala, mandi dari junub, bersuci dari wanita yang haid, dan berniat memeluk agama Nasrani, kemudian menahan diri darinya. Dia masuk ke rumahnya dan menjadikannya sebagai masjid, tidak ada yang masuk kepadanya orang yang junub atau haid. Dan dia berkata: Aku menyembah Tuhan Ibrahim, ketika dia meninggalkan berhala-berhala dan membencinya, hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang ke Madinah, maka dia masuk Islam dan Islam-nya baik, sedangkan dia adalah seorang syaikh yang sudah tua. Dia adalah orang yang berkata benar, mengagungkan Allah pada masa Jahiliyahnya, dia mengatakan dalam hal itu syair-syair yang indah. Dialah yang mengatakan:
Abu Qais berkata dan dia berangkat di pagi hari, ingatlah apa yang kalian mampu dari wasiatku maka lakukanlah Maka aku wasiatkan kepada kalian dengan Allah, kebaikan dan takwa, serta kehormatan kalian, dan berbuat baik kepada Allah adalah yang pertama Dan jika kaum kalian menjadi pemimpin maka jangan kalian dengki kepada mereka, dan jika kalian adalah ahli kepemimpinan maka berlakulah adil Dan jika salah satu bencana menimpa kaum kalian, maka diri kalian sendiri daripada keluarga, jadikanlah demikian Dan jika ada utang yang berat maka tolonglah mereka, dan apa yang mereka bebankan kepada kalian dalam kesulitan maka pikullah Dan jika kalian menjadi miskin maka bersikap suci lah, dan jika ada kelebihan kebaikan di antara kalian maka bermurah hatilah
Abu Qais juga berkata:
Bertasbihlah kepada Allah di timur setiap pagi, ketika matahari terbit dan setiap bulan sabit Yang mengetahui rahasia dan penjelasan semuanya, tidaklah apa yang Tuhan kami katakan itu sesat Dan bagi-Nya burung-burung terbang dan hinggap di sarang-sarang dari gunung-gunung yang aman Dan bagi-Nya binatang liar di padang pasir, kalian melihatnya di bukit pasir dan di bayangan pasir Dan bagi-Nya orang Yahudi tunduk dan menganut setiap agama karena takut dari kesulitan Dan bagi-Nya matahari orang Nasrani dan mereka berdiri setiap hari raya untuk Tuhan mereka dan merayakannya Dan bagi-Nya pendeta yang terkurung, kalian melihatnya dalam kesusahan padahal dia dahulu hidup nyaman Wahai anak kerabat, jangan putuskan silaturahmi, sambunglah ia yang pendek dari yang panjang Dan bertakwalah kepada Allah terhadap anak-anak yatim yang lemah, dan dengan apa yang dihalalkan selain yang halal Dan ketahuilah bahwa bagi anak yatim ada wali yang mengetahui, mendapat petunjuk tanpa bertanya Kemudian harta anak yatim jangan kalian makan, sesungguhnya harta anak yatim dijaga oleh wali Wahai anak batas tanah, jangan kalian geser, sesungguhnya menggeser batas tanah adalah yang memiliki balasan Wahai anak zaman, jangan kalian merasa aman darinya, dan waspadalah dari tipu dayanya dan pahitnya malam-malam Dan ketahuilah bahwa pahitnya untuk menghancurkan makhluk, apa yang ada dari yang baru dan yang lama Dan kumpulkanlah urusan kalian pada kebaikan dan takwa, meninggalkan keburukan dan mengambil yang halal
Ibn Ishaq berkata: Dan Abu Qais Sharmah juga berkata, menyebutkan apa yang Allah muliakan kepada mereka dengan Islam, dan apa yang Allah khususkan kepada mereka dengan turunnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di tempat mereka:
Dia tinggal di Quraisy beberapa belas tahun, menyebut-nyebut seandainya dia bertemu dengan sahabat yang membantu
Dan akan disebutkan lengkap nanti setelah ini, insya Allah, dan dengan-Nya kepercayaan.
Ibn Ishaq berkata: Kemudian Mush’ab bin Umair kembali ke Makkah, dan keluarlah orang-orang Anshar yang muslim bersama jamaah haji kaum mereka dari kalangan musyrik, hingga mereka tiba di Makkah. Mereka berjanji dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Aqabah pada pertengahan hari-hari Tasyriq, ketika Allah menghendaki bagi mereka kemuliaan dari-Nya dan pertolongan untuk Nabi-Nya, dan kemulian Islam dan pengikutnya. Ma’bad bin Ka’b bin Malik menceritakan kepadaku bahwa saudaranya Abdullah bin Ka’b, yang termasuk orang Anshar yang paling berilmu, menceritakan kepadanya bahwa ayahnya Ka’b menceritakan kepadanya, dan dia termasuk yang menyaksikan Aqabah dan membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di sana. Dia berkata: Kami keluar bersama jamaah haji kaum kami dari kalangan musyrik, dan kami telah shalat dan memahami agama, bersama kami ada Bara’ bin Ma’rur pemimpin kami dan orang tua kami. Ketika kami menuju perjalanan kami dan keluar dari Madinah, Bara’ berkata: Wahai sekalian, sesungguhnya aku telah memiliki pendapat, demi Allah aku tidak tahu apakah kalian setuju denganku atau tidak? Kami berkata: Apa itu? Dia berkata: Aku berpendapat untuk tidak menjadikan bangunan ini di belakangku – maksudnya Ka’bah – dan aku akan shalat menghadapnya. Kami berkata: Demi Allah, tidak sampai kepada kami bahwa Nabi kami shallallahu alaihi wasallam shalat kecuali ke arah Syam, dan kami tidak ingin menyelisihinya. Maka dia berkata: Sesungguhnya aku akan shalat menghadapnya. Kami berkata kepadanya: Tetapi kami tidak akan melakukannya. Kami bila tiba waktu shalat maka shalat ke arah Syam, sedangkan dia shalat ke arah Ka’bah, hingga kami tiba di Makkah. Dan kami telah mencela apa yang dia lakukan, dan dia menolak kecuali tetap pada hal itu. Ketika kami tiba di Makkah, dia berkata kepadaku: Wahai keponakanku, pergilah bersama aku kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga aku bertanya kepadanya tentang apa yang aku lakukan dalam perjalananku ini, karena sesungguhnya telah jatuh ke dalam hatiku sesuatu darinya karena aku melihat kalian menyelisihiku dalam hal itu. Kami keluar bertanya tentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan kami tidak mengenalnya dan tidak melihatnya sebelum itu. Kami bertemu dengan seorang laki-laki dari penduduk Makkah lalu kami bertanya kepadanya tentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dia berkata: Apakah kalian mengenalnya? Kami berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah kalian mengenal Abbas bin Abdul Muthalib pamannya? Kami berkata: Ya. Dan kami memang mengenal Abbas, dia selalu datang kepada kami sebagai pedagang. Dia berkata: Maka jika kalian masuk masjid, dialah orang yang duduk bersama Abbas. Kami masuk masjid, ternyata Abbas sedang duduk dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk bersamanya. Kami memberi salam lalu duduk kepada beliau. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Abbas: “Apakah engkau mengenal kedua orang ini wahai Abul Fadhl?” Dia berkata: Ya, ini adalah Bara’ bin Ma’rur pemimpin kaumnya, dan ini adalah Ka’b bin Malik. Demi Allah, aku tidak lupa ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Penyair?” Dia berkata: Ya. Maka Bara’ bin Ma’rur berkata kepadanya: Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku keluar dalam perjalananku ini dan Allah Ta’ala telah memberiku petunjuk kepada Islam. Maka aku berpendapat untuk tidak menjadikan bangunan ini di belakangku, lalu aku shalat menghadapnya. Dan teman-temanku menyelisihiku dalam hal itu hingga jatuh ke dalam hatiku sesuatu dari hal itu. Bagaimana pendapatmu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Engkau telah berada di atas kiblat seandainya engkau bersabar atasnya.” Maka Bara’ kembali ke kiblat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan shalat bersama kami ke arah Syam. Keluarganya mengira bahwa dia shalat ke arah Ka’bah hingga dia meninggal, dan tidak seperti apa yang mereka katakan, kami lebih mengetahui tentang dia daripada mereka.
Ka’b bin Malik berkata: Kemudian kami keluar untuk haji dan berjanji dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Aqabah pada pertengahan hari-hari Tasyriq. Ketika kami selesai dari haji, dan itu adalah malam yang dijanjikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada kami, bersama kami ada Abdullah bin Amr bin Haram ayah Jabir, pemimpin dari para pemimpin kami, dan terhormat dari orang-orang terhormat kami. Kami mengambilnya, dan kami menyembunyikan urusan kami dari kaum kami dari kalangan musyrik. Kami berbicara kepadanya dan berkata: Wahai Abu Jabir, sesungguhnya engkau adalah pemimpin dari para pemimpin kami, dan terhormat dari orang-orang terhormat kami, dan sesungguhnya kami ingin mengeluarkanmu dari apa yang engkau di dalamnya, agar engkau tidak menjadi kayu bakar neraka besok. Kemudian kami menyerunya kepada Islam dan memberitahunya tentang janji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada kami di Aqabah. Maka dia masuk Islam dan menyaksikan bersama kami di Aqabah, dan dia menjadi naqib (pemimpin).
Al-Bukhari meriwayatkan: Telah menceritakan kepadaku Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hisyam bahwa Ibn Juraij mengabarkan kepada mereka. Atha’ berkata: Jabir berkata: Aku, ayahku, dan pamanku dari sahabat Aqabah. Abdullah bin Muhammad berkata: Ibn Uyainah berkata: Salah satu dari mereka adalah Bara’ bin Ma’rur.
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Madini, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dia berkata: Amr pernah mengatakan: Aku mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Pamanku menyaksikanku di Aqabah.
Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Khutsaim, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tinggal di Makkah selama sepuluh tahun mengikuti manusia di tempat-tempat tinggal mereka di Ukazh, Majinnah, dan di musim-musim haji di Mina, seraya berkata: “Siapa yang mau melindungiku? Siapa yang mau menolongku sehingga aku dapat menyampaikan risalah Tuhanku dan baginya surga?” Sampai-sampai ada seorang laki-laki keluar dari Yaman atau dari Mudhar —demikian katanya di dalamnya— lalu datang kepadanya kaumnya, mereka berkata: Hati-hati dengan pemuda Quraisy ini, jangan sampai ia memfitnahmu. Dan beliau berjalan di antara perkemahan mereka sementara mereka menunjuk beliau dengan jari-jari mereka, hingga Allah mengutus beliau kepada kami dari Yatsrib, maka kami melindunginya dan membenarkannya. Lalu keluarlah seorang laki-laki dari kami kemudian beriman kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya, lalu ia kembali kepada keluarganya dan mereka masuk Islam karena keislamannya, hingga tidak tersisa rumah dari rumah-rumah Anshar kecuali di dalamnya ada sekelompok kaum muslimin yang menampakkan Islam. Kemudian kami semua bermusyawarah, lalu kami berkata: Sampai kapan kita membiarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diusir di gunung-gunung Makkah dan merasa takut? Maka berangkatlah dari kami tujuh puluh orang laki-laki hingga mereka datang kepadanya pada musim haji, dan kami janjikan dia di lembah Aqabah, maka kami berkumpul di sana satu atau dua orang hingga kami semua lengkap. Lalu kami berkata: Wahai Rasulullah, atas dasar apa kami membaiatmu? Beliau bersabda: “Kalian membaiatku untuk mendengar dan taat dalam keadaan semangat maupun malas, untuk berinfak dalam kesulitan maupun kemudahan, untuk menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, dan untuk berkata tentang Allah tidak takut dalam Allah celaan orang yang mencela, dan untuk menolongku sehingga kalian melindungiku jika aku datang kepada kalian sebagaimana kalian melindungi diri kalian sendiri, istri-istri kalian, dan anak-anak kalian, dan bagi kalian surga.” Maka kami bangkit kepadanya, dan As’ad bin Zurarah memegang tangannya, padahal dia termasuk yang paling muda di antara mereka —dan dalam riwayat Al-Baihaqi: dan dia yang paling muda dari tujuh puluh orang kecuali aku— lalu dia berkata: Pelan-pelan wahai penduduk Yatsrib, sesungguhnya kami tidak menempuh perjalanan jauh kepadanya kecuali kami tahu bahwa dia adalah Rasulullah, dan sesungguhnya keluarnya hari ini adalah perpisahan dengan seluruh Arab, pembunuhan orang-orang terbaik kalian, dan pedang-pedang akan menggigit kalian. Maka jika kalian adalah kaum yang sabar atas itu maka ambillah dia, dan pahala kalian ada pada Allah, dan jika kalian adalah kaum yang takut dari diri kalian sendiri maka jelaskanlah itu, karena itu lebih baik sebagai udzur kalian di sisi Allah. Mereka berkata: Menyingkirlah dari kami wahai As’ad, demi Allah kami tidak akan meninggalkan baiat ini selamanya, dan tidak akan mencabutnya selamanya. Ia berkata: Maka kami bangkit kepadanya lalu membaiatnya, dan beliau mengambil janji dari kami dan memberi syarat, dan beliau memberikan kepada kami atas itu surga.
Dan sungguh telah meriwayatkannya juga Imam Ahmad dan Al-Baihaqi dari jalan Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar. Al-Baihaqi menambahkan dari Al-Hakim dengan sanadnya kepada Yahya bin Sulaim, keduanya dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Abu Az-Zubair dengannya seperti itu. Dan ini adalah sanad yang baik menurut syarat Muslim, dan mereka tidak mengeluarkannya. Al-Bazzar berkata: Dan meriwayatkannya lebih dari seorang dari Ibnu Khutsaim, dan kami tidak mengetahuinya diriwayatkan dari Jabir kecuali dari jalan ini.
Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Az-Zinad, dari Musa bin Uqbah, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir, ia berkata: Abbas memegang tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Rasulullah mengambil janji dari kami. Maka ketika kami selesai, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku mengambil dan memberikan.”
Dan Al-Bazzar berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Qabisah, telah menceritakan kepada kami Sufyan yaitu Ats-Tsauri, dari Jabir yaitu Al-Ju’fi, dan Dawud yaitu Ibnu Abi Hind, dari Asy-Sya’bi, dari Jabir yaitu Ibnu Abdillah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada para pemimpin dari Anshar: “Apakah kalian akan melindungiku dan menjagaku?” Mereka berkata: Ya. Mereka bertanya: Lalu apa bagi kami? Beliau bersabda: “Surga.” Kemudian dia berkata: Kami tidak mengetahuinya diriwayatkan kecuali dengan sanad ini dari Jabir.
Kemudian Ibnu Ishaq berkata: Dari Ma’bad, dari Abdullah, dari ayahnya Ka’ab bin Malik, ia berkata: Maka kami tidur malam itu bersama kaum kami di perkemahan kami, hingga ketika sepertiga malam telah berlalu, kami keluar dari perkemahan kami menuju janji dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kami menyelinap seperti menyelinap burung qatha, dengan sembunyi-sembunyi hingga kami berkumpul di lembah dekat Aqabah, dan kami berjumlah tujuh puluh tiga orang laki-laki, dan bersama kami dua orang wanita dari wanita-wanita kami yaitu Nusaibah binti Ka’ab Ummu Umarah salah satu wanita Bani Mazin bin An-Najjar, dan Asma binti Amr bin Adi bin Nabi salah satu wanita Bani Salamah, dan dia adalah Ummu Mani’. Dan sungguh Ibnu Ishaq telah menyebutkan secara tegas dalam riwayat Yunus bin Bukair darinya nama-nama mereka dan nasab mereka.
Aku berkata: Dan apa yang diriwayatkan dalam sebagian hadits bahwa mereka berjumlah tujuh puluh, maka orang Arab sering kali menghilangkan bilangan pecahan. Dan Urwah bin Az-Zubair dan Musa bin Uqbah berkata: Mereka berjumlah tujuh puluh orang laki-laki dan satu orang wanita. Ia berkata: Di antara mereka empat puluh orang dari orang-orang tua mereka, dan tiga puluh dari pemuda-pemuda mereka. Ia berkata: Dan yang paling muda di antara mereka adalah Abu Mas’ud dan Jabir bin Abdillah. Dan perkataan Muhammad bin Ishaq bahwa mereka tujuh puluh lima adalah yang lebih kuat. Wallahu a’lam.
Ka’ab bin Malik berkata: Maka kami berkumpul di lembah menunggu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hingga beliau datang kepada kami dan bersamanya Abbas bin Abdul Muthalib, dan dia pada hari itu masih di atas agama kaumnya, namun dia ingin menghadiri urusan anak saudaranya dan memastikan keamanannya. Maka ketika dia duduk, yang pertama berbicara adalah Abbas bin Abdul Muthalib, ia berkata: Wahai kaum Khazraj —ia berkata: dan dahulu orang Arab hanya menamai kelompok Anshar ini dengan Khazraj, baik Khazraj maupun Ausnya— sesungguhnya Muhammad berasal dari kami sebagaimana kalian ketahui, dan sungguh kami telah melindunginya dari kaum kami yang berpendapat seperti pendapat kami tentangnya. Maka dia dalam kemuliaan dari kaumnya, dan perlindungan di negerinya. Dan sesungguhnya dia telah menolak kecuali berpaling kepada kalian dan bergabung dengan kalian. Maka jika kalian memandang bahwa kalian akan menepati janji kepadanya atas apa yang kalian ajak dia kepadanya, dan akan melindunginya dari siapa yang menyelisihinya, maka kalian dengan apa yang kalian tanggung dari itu. Dan jika kalian memandang bahwa kalian akan menyerahkannya dan mengabaikannya setelah keluar bersamanya kepada kalian, maka dari sekarang tinggalkanlah dia, karena sesungguhnya dia dalam kemuliaan dan perlindungan dari kaumnya dan negerinya.
Ia berkata: Maka kami berkata kepadanya: Sungguh kami telah mendengar apa yang engkau katakan, maka berbicaralah wahai Rasulullah, dan ambillah untuk dirimu dan Tuhanmu apa yang engkau kehendaki. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbicara lalu membaca Al-Quran, menyeru kepada Allah, dan mendorong kepada Islam. Kemudian beliau bersabda: “Aku membaiat kalian agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi wanita-wanita kalian dan anak-anak kalian.” Ia berkata: Maka Al-Bara’ bin Ma’rur memegang tangannya kemudian berkata: Ya, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi sarung kami. Maka baiat kami wahai Rasulullah, karena kami demi Allah adalah anak-anak perang, dan ahli perisai, kami mewarisinya turun-temurun. Ia berkata: Maka memotong pembicaraan —sementara Al-Bara’ sedang berbicara dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam— Abul Haitsman bin At-Tayyihan, lalu dia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya antara kami dan para laki-laki ada tali, dan sesungguhnya kami akan memutusnya —maksudnya Yahudi— maka apakah kiranya jika kami melakukan itu kemudian Allah memenangkanmu, engkau akan kembali kepada kaummu dan meninggalkan kami? Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersenyum, kemudian bersabda: “Bahkan darah adalah darah, dan kehancuran adalah kehancuran, aku dari kalian dan kalian dari aku, aku memerangi siapa yang kalian perangi, dan aku berdamai dengan siapa yang kalian berdamai dengannya.”
Ka’ab berkata: Dan sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Keluarkanlah kepada aku dari kalian dua belas orang pemimpin yang akan menjadi atas kaum mereka dengan apa yang ada pada mereka.” Maka mereka mengeluarkan dari mereka dua belas pemimpin, sembilan dari Khazraj dan tiga dari Aus.
Ibnu Ishaq berkata: Dan mereka adalah Abu Umamah As’ad bin Zurarah —yang disebutkan sebelumnya— dan Sa’ad bin Ar-Rabi’ bin Amr bin Abu Zuhair bin Malik bin Imri’ Al-Qais bin Malik bin Tsa’labah bin Ka’ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits bin Al-Khazraj, dan Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah bin Imri’ Al-Qais bin Amr bin Imri’ Al-Qais bin Malik bin Tsa’labah bin Ka’ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits bin Al-Khazraj, dan Rafi’ bin Malik bin Al-Ajlan —yang disebutkan sebelumnya— dan Al-Bara’ bin Ma’rur bin Shakhr bin Khansha’ bin Sinan bin Ubaid bin Adi bin Ghanam bin Ka’ab bin Salamah bin Sa’ad bin Ali bin Asad bin Saridah bin Yazid bin Jasyam bin Al-Khazraj, dan Abdullah bin Amr bin Haram bin Tsa’labah bin Haram bin Ka’ab bin Ghanam bin Ka’ab bin Salamah, dan Ubadah bin Ash-Shamit —yang disebutkan sebelumnya— dan Sa’ad bin Ubadah bin Dulaim bin Haritsah bin Khuzaimah bin Tsa’labah bin Tharif bin Al-Khazraj bin Sa’idah bin Ka’ab bin Al-Khazraj, dan Al-Mundzir bin Amr bin Khunis bin Haritsah bin Laudzan bin Abdu Wudd bin Zaid bin Tsa’labah bin Al-Khazraj bin Sa’idah bin Ka’ab bin Al-Khazraj. Maka ini sembilan orang dari Khazraj.
Dan dari Aus tiga orang yaitu: Usaid bin Hudlair bin Simak bin Atik bin Rafi’ bin Imri’ Al-Qais bin Zaid bin Abdul Asyhhal bin Jasyam bin Al-Harits bin Al-Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-Aus, dan Sa’ad bin Khaitsimah bin Al-Harits bin Malik bin Ka’ab bin An-Nahat bin Ka’ab bin Haritsah bin Ghanam bin As-Salam bin Imri’ Al-Qais bin Malik bin Al-Aus, dan Rifa’ah bin Abdul Mundzir bin Zubair bin Zaid bin Umayyah bin Zaid bin Malik bin Auf bin Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus.
Ibnu Hisyam berkata: Dan ahli ilmu menghitung di antara mereka Abul Haitsman bin At-Tayyihan, sebagai pengganti Rifa’ah ini. Dan demikianlah dalam riwayat Yunus dari Ibnu Ishaq, dan ini dipilih oleh As-Suhaili dan Ibnul Atsir dalam Al-Ghabah. Kemudian Ibnu Hisyam menjadikan dalil atas itu dengan apa yang dia riwayatkan dari Abu Zaid Al-Anshari dalam apa yang dia sebutkan dari syair Ka’ab bin Malik, dalam menyebutkan dua belas pemimpin pada malam ini, malam Aqabah yang kedua, ketika dia berkata:
Maka sampaikanlah kepada Ubay bahwa pendapatnya salah, dan telah tiba pagi hari lembah dan waktu telah jatuh Allah menolak apa yang dirimu janjikan kepadamu, sesungguhnya Dia mengawasi urusan manusia, melihat dan mendengar Dan sampaikanlah kepada Abu Sufyan bahwa sungguh telah nampak bagi kami dengan Ahmad cahaya dari petunjuk Allah yang menyinari Maka jangan engkau takut dalam mengumpulkan urusan yang engkau inginkan, dan kumpulkanlah dan himpunlah semua apa yang engkau kumpulkan Dan ketahuilah bahwa melanggar janji-janji kami, menolaknya atasmu sekelompok orang ketika mereka berturut-turut Menolaknya Al-Bara’ dan Ibnu Amr keduanya, dan As’ad menolaknya atasmu dan Rafi’ Dan Sa’ad menolaknya As-Sa’idi dan Mundzir, akan memotong hidungmu jika engkau mencoba itu Dan tidaklah Ibnu Rabi’ jika engkau mengambil janjinya akan menyerahkannya, tidak akan tamak kemudian orang yang tamak Dan juga tidak akan memberikannya kepadamu Ibnu Rawahah, dan pengkhianatannya dari itu racun yang mengalir Menepati janji dengannya dan Al-Qauqali bin Shamit dengan kelapangan dari apa yang engkau coba, tunduk Abul Haitsman juga dan menepati dengan yang sepertinya, menepati apa yang dia berikan dari janji, patuh Dan tidaklah Ibnu Hudlair jika engkau inginkan akan tamak, maka apakah engkau tentang kebodohan kesesatan akan berhenti Dan Sa’ad saudara Amr bin Auf maka sesungguhnya dia, terbuka untuk apa yang engkau coba dalam urusan, mencegah Mereka adalah bintang-bintang tidak akan tersembunyi bagimu dari mereka, atasmu dengan sial dalam kegelapan malam terbit
Ibnu Hisyam berkata: Maka dia menyebutkan di antara mereka Abul Haitsman bin At-Tayyihan, dan tidak menyebutkan Rifa’ah.
Aku berkata: Dan dia menyebutkan Sa’ad bin Mu’adz dan dia bukan termasuk para pemimpin sama sekali pada malam ini. Wallahu a’lam.
Dan Ya’qub bin Sufyan meriwayatkan dari Yunus bin Abdul A’la, dari Ibnu Wahb, dari Malik, ia berkata: Adalah Anshar pada malam Aqabah tujuh puluh orang laki-laki, dan pemimpin-pemimpin mereka dua belas pemimpin, sembilan dari Khazraj dan tiga dari Aus.
Dan telah menceritakan kepadaku seorang syaikh dari Anshar bahwa Jibril memberi isyarat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada siapa yang dia jadikan pemimpin pada malam Aqabah, dan Usaid bin Hudlair adalah salah satu pemimpin pada malam itu. Al-Baihaqi meriwayatkannya.
Dan Ibnu Ishaq berkata: Maka telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Bakar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada para pemimpin: “Kalian atas kaum kalian dengan apa yang ada pada mereka sebagai penjamin seperti penjaminnya Hawariyyun untuk Isa bin Maryam, dan aku penjamin atas kaumku.” Mereka berkata: Ya.
Dan menceritakan kepadaku Ashim bin Umar bin Qatadah, bahwa kaum ketika mereka berkumpul untuk membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, berkata Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah Al-Anshari, saudara Bani Salim bin Auf: Wahai kaum Khazraj, apakah kalian tahu atas dasar apa kalian membaiat laki-laki ini? Mereka berkata: Ya. Dia berkata: Sesungguhnya kalian membaiatnya untuk perang terhadap yang merah dan yang hitam dari manusia. Maka jika kalian memandang bahwa kalian jika harta kalian habis rusak, dan pemimpin-pemimpin kalian terbunuh, kalian akan menyerahkannya, maka dari sekarang, karena itu demi Allah —jika kalian melakukannya— adalah kehinaan dunia dan akhirat. Dan jika kalian memandang bahwa kalian akan menepati janji kepadanya atas apa yang kalian ajak dia kepadanya atas kehabisan harta dan pembunuhan para pemimpin, maka ambillah dia karena itu demi Allah adalah kebaikan dunia dan akhirat. Mereka berkata: Maka kami mengambilnya atas kerusakan harta, dan pembunuhan para pemimpin. Maka apa bagi kami dengan itu wahai Rasulullah jika kami menepatinya? Beliau bersabda: “Surga.” Mereka berkata: Ulurkanlah tanganmu. Maka beliau mengulurkan tangannya lalu mereka membaiatnya.
Ashim bin Umar bin Qatadah berkata: Dan sesungguhnya Al-Abbas bin Ubadah berkata demikian untuk menguatkan ikatan di leher mereka. Dan Abdullah bin Abu Bakar mengira bahwa dia berkata demikian untuk mengakhirkan baiat pada malam itu dengan harapan dihadiri oleh Abdullah bin Ubay bin Salul pemimpin Khazraj agar lebih kuat bagi urusan kaum. Maka Allah lebih mengetahui mana di antara itu yang benar.
Ibnu Ishaq berkata: Bani Najar mengklaim bahwa Abu Umamah Asad bin Zurarah adalah orang pertama yang membaiat Rasulullah, sedangkan Bani Abdul Ashal mengatakan: “Bahkan Abu Haitham bin Tayyihan-lah orangnya.”
Ibnu Ishaq berkata: Ma’bad bin Ka’ab menceritakan kepadaku dari saudaranya Abdullah, dari ayahnya Ka’ab bin Malik, ia berkata: Orang pertama yang membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah Bara’ bin Ma’rur, kemudian kaum itu membaiat.
Ibnu Atsir berkata dalam Asad al-Ghabah: Bani Salamah mengklaim bahwa orang pertama yang membaiat beliau pada malam itu adalah Ka’ab bin Malik. Dan telah disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Az-Zuhri, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab, dari ayahnya, dari Ka’ab bin Malik dalam haditsnya ketika ia tidak ikut dalam perang Tabuk, ia berkata: “Aku menghadiri bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada malam Aqabah ketika kami saling berjanji atas Islam, dan aku tidak ingin menukarnya dengan kehadiranku di Badar, meskipun Badar lebih dikenal di kalangan manusia daripada malam Aqabah.”
Al-Baihaqi berkata: Abu Husain bin Bisyran mengabarkan kepada kami, Amr bin Sammak mengabarkan kepada kami, Hanbal bin Ishaq menceritakan kepada kami, Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, Zakariya bin Abi Za’idah menceritakan kepada kami, dari Amir asy-Sya’bi, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pergi bersama pamannya Abbas menemui tujuh puluh orang Anshar di Aqabah di bawah pohon. Beliau bersabda: “Hendaklah juru bicara kalian berbicara dan jangan panjang-panjang, karena ada mata-mata musyrik yang mengawasi kalian, jika mereka mengetahui kalian, mereka akan membeberkan rahasia kalian.” Juru bicara mereka, yaitu Abu Umamah berkata: “Mintalah wahai Muhammad untuk Tuhanmu apa yang engkau inginkan, kemudian mintalah untuk dirimu setelah itu apa yang engkau inginkan, lalu beritahukan kepada kami apa pahala yang kami dapatkan dari Allah dan dari kalian jika kami melakukan itu.” Beliau bersabda: “Aku meminta untuk Tuhanku agar kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan aku meminta untuk diriku dan sahabat-sahabatku agar kalian memberikan perlindungan, menolong kami, dan melindungi kami sebagaimana kalian melindungi diri kalian sendiri.” Mereka berkata: “Apa yang akan kami dapatkan jika kami melakukan itu?” Beliau bersabda: “Kalian akan mendapat surga.” Mereka berkata: “Maka itu bagimu.” Kemudian Hanbal meriwayatkannya dari Imam Ahmad, dari Yahya bin Zakariya, dari Mujalid, dari asy-Sya’bi, dari Abu Mas’ud al-Anshari, lalu ia menyebutkannya. Ia berkata: Dan Abu Mas’ud adalah yang termuda di antara mereka.
Ahmad berkata dari Yahya, dari Ismail bin Abi Khalid, dari asy-Sya’bi, ia berkata: Tidak ada orang tua maupun pemuda yang mendengar khutbah seperti itu.
Al-Baihaqi berkata: Abu Thahir Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Mahmisy mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ibrahim bin Fadl al-Fahham mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli mengabarkan kepada kami, Amr bin Utsman ar-Raqqi mengabarkan kepada kami, Zuhair menceritakan kepada kami, Abdullah bin Utsman bin Khutsaim menceritakan kepada kami, dari Ismail bin Ubaidillah bin Rifa’ah, dari ayahnya, ia berkata: Ada beberapa wadah kulit berisi khamr yang datang, lalu Ubadah bin Shamit mendatanginya dan merobeknya. Ia berkata: “Sesungguhnya kami membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mendengar dan taat dalam keadaan aktif maupun malas, dalam berinfak di saat sulit maupun mudah, dalam memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, dalam berkata dengan kebenaran karena Allah tanpa takut celaan orang yang mencela, dan untuk menolong Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau tiba di Yatsrib sebagaimana kami melindungi diri kami sendiri, istri-istri kami, dan anak-anak kami, dan bagi kami adalah surga. Inilah baiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang kami baiat beliau dengannya.” Ini sanad yang bagus dan kuat, namun mereka tidak mengeluarkannya. Yunus telah meriwayatkan dari Ibnu Ishaq, Ubadah bin Walid bin Ubadah bin Shamit menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya Ubadah bin Shamit, ia berkata: Kami membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan baiat perang untuk mendengar dan taat dalam kesulitan dan kemudahan kami, dalam keadaan aktif dan terpaksa kami, dalam mendahulukan orang lain atas kami, dan untuk tidak merebut urusan dari ahlinya, dan untuk berkata dengan kebenaran di mana pun kami berada tanpa takut celaan orang yang mencela dalam perkara Allah.
Ibnu Ishaq berkata dalam haditsnya dari Ma’bad bin Ka’ab, dari saudaranya Abdullah, dari Ka’ab bin Malik, ia berkata: Ketika kami membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, setan berteriak dari puncak Aqabah dengan suara yang paling keras yang pernah kudengar: “Wahai penduduk Jabajib” – Jabajib adalah tempat-tempat tinggal – “Apakah kalian menginginkan Mudzammam dan orang-orang yang mengikutinya telah berkumpul untuk memerangi kalian?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ini adalah Azab Aqabah, ini adalah putra Azayb.” – Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Ibnu Azayb – “Apakah engkau mendengar wahai musuh Allah? Demi Allah, sungguh aku akan meluangkan waktu untukmu.” Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kembalilah ke tempat kalian.” Abbas bin Ubadah bin Nadhlah berkata: “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau menginginkan, besok kami akan menyerang penduduk Mina dengan pedang-pedang kami.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kami belum diperintahkan untuk itu, tetapi kembalilah ke tempat kalian.” Kami kembali ke tempat tidur kami dan tidur di sana hingga pagi. Ketika pagi tiba, para pembesar Quraisy mendatangi kami hingga mereka datang ke tempat kami, lalu berkata: “Wahai kaum Khazraj, sungguh telah sampai kepada kami bahwa kalian telah datang kepada orang ini (Muhammad), kalian ingin mengeluarkannya dari tengah-tengah kami dan membaiatnya untuk memerangi kami, dan demi Allah, tidak ada kaum Arab yang lebih kami benci untuk timbul perang antara kami dan mereka selain kalian.” Orang-orang musyrik dari kaum kami yang ada di sana langsung bersumpah: “Tidak ada hal seperti itu dan kami tidak mengetahuinya.” Mereka berkata jujur, mereka memang tidak mengetahuinya. Sebagian kami saling memandang satu sama lain. Kemudian orang-orang itu bangkit, di antara mereka ada Harits bin Hisyam bin Mughirah al-Makhzumi yang mengenakan sandal baru. Aku berkata kepadanya sepatah kata, seolah-olah aku ingin melibatkan orang-orang itu dalam apa yang mereka katakan: “Wahai Abu Jabir, tidakkah engkau mampu membuat sandal seperti sandal pemuda Quraisy ini padahal engkau adalah salah satu pemimpin kami?” Harits mendengarnya lalu melepaskan keduanya dari kakinya, kemudian melemparkannya kepadaku. Ia berkata: “Demi Allah, sungguh engkau harus memakainya.” Abu Jabir berkata: “Cukup, demi Allah engkau telah membuat pemuda itu marah, kembalikanlah sandalnya kepadanya.” Aku berkata: “Demi Allah, aku tidak akan mengembalikannya, ini adalah pertanda baik, demi Allah, jika pertanda ini benar, sungguh aku akan merampas hartanya.”
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar menceritakan kepadaku bahwa mereka mendatangi Abdullah bin Ubay bin Salul lalu berkata seperti apa yang disebutkan Ka’ab dalam perkataannya. Ia berkata kepada mereka: Sungguh perkara ini besar, kaumku tidak mungkin berpisah atas hal seperti ini, dan aku tidak mengetahui hal itu terjadi. Mereka pulang darinya. Orang-orang berangkat dari Mina dan orang-orang itu mencari tahu kabar tersebut, ternyata memang benar terjadi. Mereka keluar mengejar kaum itu, lalu menangkap Sa’ad bin Ubadah di Adzakhir dan Mundzir bin Amr saudara Bani Sa’idah bin Ka’ab bin Khazraj, keduanya adalah naqib. Adapun Mundzir, ia berhasil meloloskan diri dari kaum itu, sedangkan Sa’ad bin Ubadah ditangkap. Mereka mengikat tangannya ke lehernya dengan tali pengikat pelana pelananya, kemudian membawanya hingga memasukkannya ke Mekah sambil memukul dan menarik-narik rambutnya yang lebat. Sa’ad berkata: Demi Allah, aku dalam tangan mereka, tiba-tiba muncul beberapa orang dari Quraisy, di antara mereka ada seorang laki-laki yang berwajah cerah, putih, ganteng, dan tampan. Aku berkata dalam hatiku: “Jika ada kebaikan pada salah seorang dari kaum ini, maka pada orang ini.” Ketika ia mendekatiku, ia mengangkat tangannya lalu memukul mukaku dengan keras. Aku berkata dalam hatiku: “Tidak, demi Allah, tidak ada kebaikan pada mereka setelah ini.” Demi Allah, aku masih dalam tangan mereka diseret-seret, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari orang-orang yang bersama mereka yang memberiku perlindungan. Ia berkata: “Celakalah engkau, tidakkah ada perlindungan atau perjanjian antara engkau dengan salah seorang dari Quraisy?” Aku berkata: “Ya, demi Allah, aku dulu memberikan perlindungan kepada para pedagang Jubair bin Muth’im dan melindungi mereka dari orang yang ingin menzalimi mereka di negeriku, dan kepada Harits bin Harb bin Umayyah bin Abd Syams.” Ia berkata: “Celakalah engkau! Serulah nama kedua orang itu dan sebutkan apa yang ada antara engkau dan mereka.” Aku melakukannya. Orang itu keluar menemui keduanya dan menemukannya di masjid dekat Ka’bah. Ia berkata kepada keduanya: “Sesungguhnya seorang laki-laki dari Khazraj sekarang sedang dipukul di Abthah sambil menyeru nama kalian berdua.” Mereka berkata: “Siapa dia?” Ia berkata: “Sa’ad bin Ubadah.” Mereka berkata: “Ia benar, demi Allah, ia dulu memberikan perlindungan kepada para pedagang kami dan melindungi mereka agar tidak dizalimi di negerinya.” Keduanya datang dan membebaskan Sa’ad dari tangan mereka, lalu ia pergi. Yang memukul Sa’ad adalah Suhail bin Amr.
Ibnu Hisyam berkata: Dan yang memberikan perlindungan kepadanya adalah Abu Bakhtari bin Hisyam.
Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdul Hamid bin Abi Abas bin Jabr, dari ayahnya, ia berkata: Quraisy mendengar seorang penyeru yang berkata di malam hari di atas Abu Qubais:
Jika kedua Sa’ad masuk Islam, maka Muhammad akan pagi hari Di Mekah tanpa takut perbedaan orang yang berbeda
Ketika pagi, Abu Sufyan berkata: “Siapa kedua Sa’ad itu? Apakah Sa’ad bin Bakr atau Sa’ad bin Hudzaim?” Ketika malam kedua, mereka mendengar seorang penyeru yang berkata:
Wahai Sa’ad, Sa’ad Aus, jadilah penolong Dan wahai Sa’ad, Sa’ad Khazraj yang perkasa Sambut seruan pemberi petunjuk dan berharaplah Kepada Allah di surga Firdaus harapan orang yang mengetahui Sesungguhnya pahala Allah bagi pencari petunjuk Adalah surga-surga dari Firdaus yang memiliki tingkat-tingkat tinggi
Ketika pagi, Abu Sufyan berkata: “Ia adalah, demi Allah, Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah.”
Ibnu Ishaq berkata: Ketika kaum Anshar yang membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada malam Aqabah kedua kembali ke Madinah, mereka menampakkan Islam di sana. Di antara kaum mereka masih ada sisa-sisa orang-orang tua yang masih menganut agama mereka yaitu kesyirikan, di antaranya adalah Amr bin Jamuh bin Zaid bin Haram bin Ka’ab bin Ghanm bin Ka’ab bin Salamah. Anaknya Mu’adz bin Amr termasuk yang menghadiri Aqabah. Amr bin Jamuh adalah salah satu pemimpin dan orang terhormat Bani Salamah. Ia memiliki patung dari kayu di rumahnya yang disebut Manah, sebagaimana yang dilakukan para pembesar, ia menjadikannya sebagai tuhan yang diagungkan dan dibersihkan. Ketika pemuda-pemuda Bani Salamah masuk Islam; anaknya Mu’adz dan Mu’adz bin Jabal, mereka memasuki rumah Amr di malam hari, mengangkat patung Amr itu lalu melemparkannya ke dalam salah satu lubang Bani Salamah yang berisi kotoran manusia dengan posisi kepala di bawah. Ketika Amr bangun pagi, ia berkata: “Celakalah kalian, siapa yang menyerang tuhan kami malam ini?” Kemudian ia mencarinya hingga menemukannya, lalu membersihkannya, menyucikannya, dan mewanginya. Ia berkata: “Demi Allah, seandainya aku tahu siapa yang melakukan ini kepadamu, sungguh aku akan menghinakannya.” Ketika sore dan Amr tidur, mereka menyerangnya lagi dan melakukan hal yang sama. Ia bangun pagi dan mendapatinya dalam keadaan seperti sebelumnya yang menyakitkan, lalu ia membersihkannya, menyucikannya, dan mewanginya. Kemudian mereka menyerangnya lagi ketika sore hari, dan melakukan hal yang sama padanya. Ketika mereka sudah sering melakukannya padanya, ia mengeluarkannya dari tempat yang mereka lemparkan suatu hari, lalu membersihkannya, menyucikannya, dan mewanginya. Kemudian ia mengambil pedangnya dan menggantungkannya padanya, lalu berkata kepadanya: “Sesungguhnya demi Allah aku tidak tahu siapa yang melakukan ini kepadamu, jika ada kebaikan padamu maka belalah dirimu, ini pedang bersamamu.” Ketika sore dan Amr tidur, mereka menyerangnya, mengambil pedang dari lehernya, kemudian mengambil anjing mati dan mengikatnya dengannya dengan tali, lalu melemparkannya ke dalam sumur Bani Salamah yang berisi kotoran manusia. Amr bin Jamuh bangun pagi dan tidak menemukannya di tempatnya. Ia keluar mencarinya hingga menemukannya di sumur itu dalam keadaan terbalik diikat bersama anjing mati. Ketika ia melihatnya, ia menyadari keadaan patung itu. Orang-orang yang telah masuk Islam dari kaumnya berbicara dengannya, maka ia masuk Islam dengan rahmat Allah dan Islamnya menjadi baik. Ia berkata ketika masuk Islam dan mengetahui dari Allah apa yang ia ketahui, sambil mengingat patungnya itu dan apa yang ia saksikan tentang keadaannya, serta berterima kasih kepada Allah yang telah menyelamatkannya dari kebutaan dan kesesatan:
Demi Allah, seandainya engkau adalah tuhan, tidaklah mungkin Engkau dan seekor anjing di tengah sumur terikat Celakalah apa yang menimpamu sebagai tuhan yang hina Sekarang kami telah mengujimu dari keburukan penipuan Segala puji bagi Allah Yang Maha Tinggi pemilik karunia Yang memberi rezeki, Yang menentukan agama Dialah yang menyelamatkanku sebelum Aku berada dalam kegelapan kubur terkurung
Pasal yang Memuat Nama-nama yang Menghadiri Baiat Aqabah Kedua
Jumlah mereka menurut apa yang disebutkan Ibnu Ishaq adalah tujuh puluh tiga laki-laki dan dua perempuan. Dari Aus sebelas laki-laki: Usaid bin Hudhair salah satu naqib, dan Abu Haitham bin Tayyihan juga ikut Badar, dan Salamah bin Salamah bin Waqsy ikut Badar, dan Zhahir bin Rafi’, dan Abu Burdah bin Niyar ikut Badar, dan Nuhair bin Haitsam bin Nabi bin Majda’ah bin Haritsah, dan Sa’ad bin Khaitsamah salah satu naqib ikut Badar dan gugur sebagai syahid di sana, dan Rifa’ah bin Abdul Mundzir bin Zunbar naqib ikut Badar, dan Abdullah bin Jubair bin Nu’man bin Umayyah bin Bark ikut Badar dan gugur syahid pada hari Uhud sebagai komandan pasukan pemanah, dan Ma’n bin Adi bin Jadd bin Ajlan bin Harits bin Dhabi’ah al-Balawi sekutu Aus ikut Badar dan sesudahnya dan gugur syahid di Yamamah, dan Uwaim bin Sa’idah ikut Badar dan sesudahnya. Dari Khazraj enam puluh dua laki-laki: Abu Ayyub Khalid bin Zaid ikut Badar dan sesudahnya dan meninggal di negeri Romawi pada zaman Mu’awiyah sebagai syahid, dan Mu’adz bin Harits dan saudara-saudaranya Auf dan Mu’awwidz mereka adalah putra-putra Afra’ ikut Badar, dan Imarah bin Hazm ikut Badar dan sesudahnya dan gugur di Yamamah, dan As’ad bin Zurarah Abu Umamah salah satu naqib meninggal sebelum Badar, dan Sahl bin Atik ikut Badar, dan Aus bin Tsabit bin Mundzir ikut Badar, dan Abu Thalhah Zaid bin Sahl ikut Badar, dan Qais bin Abi Sha’sha’ah Amr bin Zaid bin Auf bin Mabdzul bin Amr bin Ghanm bin Mazin adalah komandan barisan belakang pada hari Badar, dan Amr bin Ghaziyah, dan Sa’ad bin Rabi’ salah satu naqib ikut Badar dan gugur pada hari Uhud, dan Kharijah bin Zaid ikut Badar dan gugur pada hari Uhud, dan Abdullah bin Rawahah salah satu naqib ikut Badar, Uhud, dan Khandaq, dan gugur pada hari Mu’tah sebagai komandan, dan Basyir bin Sa’ad ikut Badar, dan Abdullah bin Zaid bin Tsa’labah bin Abd Rabbihi yang diperlihatkan adzan dan ia ikut Badar, dan Khallad bin Suwaid ikut Badar, Uhud, Khandaq, dan gugur syahid pada hari Bani Quraizhah, sebuah batu penggiling dijatuhkan padanya hingga meremukkannya, dikatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya baginya pahala dua syahid.” Dan Abu Mas’ud Uqbah bin Amr al-Badri – Ibnu Ishaq berkata: Ia adalah yang termuda usianya di antara yang menghadiri Aqabah dan tidak menghadiri Badar – dan Ziyad bin Labid ikut Badar, dan Farwah bin Amr bin Wadfah ikut Badar, dan Khalid bin Qais bin Malik ikut Badar, dan Rafi’ bin Malik salah satu naqib, dan Dzakwan bin Abd Qais bin Khaldah bin Makhlad bin Amir bin Riziq yang disebut Muhajiri Anshari karena ia tinggal bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Mekah hingga hijrah darinya dan ia ikut Badar, gugur pada hari Uhud, dan Abbad bin Qais bin Amir bin Khalid bin Amir bin Riziq ikut Badar, dan saudaranya Harits bin Qais bin Amir ikut Badar juga, dan Bara’ bin Ma’rur salah satu naqib,
**Dan orang pertama yang berbai’at menurut klaim Bani Salamah adalah seseorang yang telah meninggal sebelum kedatangan Nabi shallallahu alaihi wasallam ke Madinah, dan ia berwasiat sepertiganya hartanya untuk Nabi, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengembalikannya kepada ahli warisnya. Dan anaknya Bisyr bin al-Bara’, ia menyaksikan Badar, Uhud, dan Khandaq, kemudian meninggal di Khaibar sebagai syahid karena ikut makan kambing beracun bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam semoga Allah meridhainya. Dan Sinan bin Shaifi bin Shakhr, seorang Badri. Dan ath-Thufail bin an-Nu’man bin Khansha’, seorang Badri, terbunuh pada perang Khandaq. Dan Ma’qil bin al-Mundzir bin Sarah, seorang Badri. Dan saudaranya Yazid bin al-Mundzir, seorang Badri. Dan Mas’ud bin Zaid bin Sabi’. Dan adh-Dhahhak bin Haritsah bin Zaid bin Tsa’labah, seorang Badri. Dan Yazid bin Khidzam bin Sabi’. Dan Jabbar bin Shakhr bin Umayyah bin Khansha’ bin Sinan bin ‘Ubaid, seorang Badri. Dan ath-Thufail bin Malik bin Khansha’, seorang Badri. Dan Ka’b bin Malik. Dan Sulaim bin ‘Amr bin Hadidah, seorang Badri. Dan Quthbah bin ‘Amir bin Hadidah, seorang Badri. Dan saudaranya Abu al-Mundzir Yazid, juga seorang Badri. Dan Abu al-Yasar Ka’b bin ‘Amr, seorang Badri. Dan Shaifi bin Sawad bin ‘Abbad. Dan Tsa’labah bin Ghanmah bin ‘Adiy bin Nabi, seorang Badri dan wafat syahid di Khandaq. Dan saudaranya ‘Amr bin Ghanmah bin ‘Adiy. Dan ‘Abs bin ‘Amir bin ‘Adiy, seorang Badri. Dan Khalid bin ‘Amr bin ‘Adiy bin Nabi. Dan Abdullah bin Unais, sekutu mereka dari Qudha’ah. Dan Abdullah bin ‘Amr bin Haram, salah seorang naqib, seorang Badri, dan wafat syahid pada hari Uhud. Dan anaknya Jabir bin Abdullah. Dan Mu’adz bin ‘Amr bin al-Jumuh, seorang Badri. Dan Tsabit bin al-Jadz’, seorang Badri dan terbunuh syahid di Thaif. Dan ‘Umair bin al-Harits bin Tsa’labah, seorang Badri. Dan Khadij bin Salamah, sekutu mereka dari Bali. Dan Mu’adz bin Jabal, menyaksikan Badar dan perang-perang setelahnya, meninggal karena wabah Amwas pada masa khalifah Umar bin al-Khaththab. Dan ‘Ubadah bin ash-Shamit, salah seorang naqib, menyaksikan Badar dan perang-perang setelahnya. Dan al-‘Abbas bin ‘Ubadah bin Nadhlah, ia menetap di Makkah hingga hijrah dari sana, maka ia disebut sebagai Muhajiri Anshari juga, dan terbunuh syahid pada hari Uhud. Dan Abu Abdurrahman Yazid bin Tsa’labah bin Khizmah bin Ashram, sekutu mereka dari Bali. Dan ‘Amr bin al-Harits bin Labdah. Dan Rifa’ah bin ‘Amr bin Zaid, seorang Badri. Dan ‘Uqbah bin Wahb bin Kaldah, sekutu mereka, seorang Badri, ia termasuk yang keluar ke Makkah lalu menetap di sana hingga hijrah dari sana, maka ia termasuk orang yang disebut sebagai Muhajiri Anshari juga. Dan Sa’d bin ‘Ubadah bin Dulaim, salah seorang naqib. Dan al-Mundzir bin ‘Amr, seorang naqib Badri Uhudi dan terbunuh di Bir Ma’unah sebagai pemimpin, dan ia yang disebut sebagai orang yang mempercepat untuk mati.
Adapun dua wanita tersebut: pertama, Ummu ‘Imarah Nusaibah binti Ka’b bin ‘Amr bin ‘Auf bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanm bin Mazin bin an-Najjar, al-Maziniyyah an-Najjariyyah. Ibnu Ishaq berkata: Ia telah menyaksikan peperangan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan saudara perempuannya juga menyaksikannya bersamanya, begitu pula suaminya Zaid bin ‘Ashim bin Ka’b, dan kedua anaknya Habib dan Abdullah. Anaknya Habib inilah yang dibunuh oleh Musailamah al-Kadzdzab, ketika ia bertanya kepadanya: “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” ia menjawab: “Ya.” Lalu ia bertanya: “Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” maka ia menjawab: “Aku tidak mendengar.” Kemudian ia memotong-motongnya anggota demi anggota hingga mati di tangannya, tidak menambah selain itu. Ummu ‘Imarah termasuk orang yang keluar ke Yamamah bersama kaum muslimin ketika Musailamah dibunuh, dan ia kembali dengan dua belas luka, antara tusukan dan sabetan, semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha. Yang kedua adalah Ummu Munai’ Asma’ binti ‘Amr bin ‘Adiy bin Nabi bin ‘Amr bin Sawad bin Ghanm bin Ka’b bin Salamah, semoga Allah meridhainya.
Bab: Awal Hijrah dari Makkah ke Madinah
Az-Zuhri berkata, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda ketika itu beliau berada di Makkah kepada kaum muslimin: “Aku telah diperlihatkan negeri hijrah kalian, aku diperlihatkan sebidang tanah bersabkah yang banyak pohon kurmanya di antara dua dataran berbatu hitam.” Maka hijrahlah orang-orang yang hijrah menuju Madinah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan hal itu, dan kembali ke Madinah orang-orang yang telah hijrah ke negeri Habasyah dari kaum muslimin. Diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Dan Abu Musa berkata, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Aku melihat dalam mimpi bahwa aku berhijrah dari Makkah ke negeri yang banyak pohon kurmanya, maka persangkaanku pergi ke arah bahwa itu adalah Yamamah atau Hajar, ternyata itu adalah Madinah Yatsrib.” Hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Bukhari di tempat-tempat lain dengan panjang lebar, dan diriwayatkan oleh Muslim, keduanya dari Abu Kuraib. Muslim menambahkan: dan Abdullah bin Barad, keduanya dari Abu Usamah, dari Buraid bin Abdullah bin Abi Burdah, dari kakeknya Abu Burdah, dari Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, hadits tersebut secara panjang lebar.
Al-Hafizh Abu Bakr al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah al-Hafizh memberitahu kami secara imlak, Abu al-‘Abbas al-Qasim bin al-Qasim as-Sayyari di Marw memberitahu kami, Ibrahim bin Hilal menceritakan kepada kami, Ali bin al-Hasan bin Syaqiq menceritakan kepada kami, Isa bin ‘Ubaid al-Kindi menceritakan kepada kami dari Ghailan bin Abdullah al-‘Amiri, dari Abu Zur’ah bin ‘Amr bin Jarir, dari Jarir, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku: Mana saja dari tiga negeri ini yang kamu tinggali maka itulah negeri hijrahmu; Madinah, atau Bahrain, atau Qinnasrin.” Para ulama berkata: Kemudian Allah menetapkan untuknya Madinah, lalu beliau memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke sana. Ini adalah hadits yang sangat ghaib.
Dan telah diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam bab al-Manaqib dari Jami’nya, sendirian dengannya, dari Abu ‘Ammar al-Husain bin Huraith, dari al-Fadhl bin Musa, dari Isa bin ‘Ubaid, dari Ghailan bin Abdullah al-‘Amiri, dari Abu Zur’ah bin ‘Umar bin Jarir, dari Jarir, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku: Mana saja dari tiga negeri ini yang kamu tinggali maka itulah negeri hijrahmu; Madinah, atau Bahrain, atau Qinnasrin.” Kemudian ia berkata: Ghaib, kami tidak mengenalnya kecuali dari hadits al-Fadhl, hanya Abu ‘Ammar yang menyendiri dengannya. Aku berkata: Dan Ghailan bin Abdullah al-‘Amiri ini, disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam ats-Tsiqat kecuali ia berkata: Ia meriwayatkan dari Abu Zur’ah satu hadits munkar tentang hijrah. Wallahu a’lam.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika Allah Ta’ala mengizinkan berperang dengan firman-Nya: Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.” (QS. al-Hajj: 39-40). Maka ketika Allah mengizinkan berperang, dan kaum Anshar telah membai’ah beliau atas Islam, dan pertolongan bagi beliau dan bagi siapa saja yang mengikutinya dan berlindung kepada mereka dari kaum muslimin, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan para sahabatnya dari kalangan Muhajirin dari kaumnya dan yang bersamanya di Makkah dari kaum muslimin untuk keluar menuju Madinah dan berhijrah ke sana, serta bergabung dengan saudara-saudara mereka dari kalangan Anshar. Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi kalian saudara-saudara dan negeri yang kalian aman di dalamnya.” Maka mereka keluar secara bergelombang, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tetap tinggal di Makkah menunggu Tuhannya mengizinkan beliau keluar dari Makkah dan berhijrah ke Madinah. Maka orang pertama yang hijrah ke Madinah dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari kalangan Muhajirin dari Quraisy dari Bani Makhzum adalah Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin ‘Umar bin Makhzum. Dan hijrahnya ke sana adalah setahun sebelum bai’at Aqabah, ketika Quraisy menyakitinya setelah kembali dari Habasyah, maka ia bertekad untuk kembali ke sana, kemudian ia mendengar bahwa di Madinah mereka memiliki saudara-saudara, maka ia bertekad ke sana.
Ibnu Ishaq berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dari Salamah bin Abdullah bin ‘Umar bin Abi Salamah, dari neneknya Ummu Salamah, ia berkata: Ketika Abu Salamah memutuskan untuk keluar menuju Madinah, ia memasang pelana untuk untaku, kemudian menaikkanku ke atasnya, dan menjadikan bersamaku anakku Salamah bin Abi Salamah di pangkuanku, kemudian ia keluar menuntun untaku. Ketika orang-orang Bani al-Mughirah melihatnya, mereka berdiri menghadapinya, lalu berkata: “Ini dirimu sendiri yang kamu kalahkan kami tentangnya, bagaimana menurut pendapatmu tentang sahabat (istri) kami ini, mengapa kami membiarkanmu membawanya berkeliling di negeri-negeri?” Ia berkata: Maka mereka merebut tali kekang unta dari tangannya dan mengambilku darinya. Ia berkata: Dan pada saat itu Bani Abdul Asad, kaum Abu Salamah, marah, lalu berkata: “Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan anak kami bersamanya jika kalian merebutnya dari sahabat kami.” Ia berkata: Maka mereka saling menarik anakku Salamah di antara mereka hingga melepaskan tangannya, dan Bani Abdul Asad pergi membawanya, dan Bani al-Mughirah menahanku di sisi mereka, dan suamiku Abu Salamah pergi ke Madinah. Ia berkata: Maka terpisahlah aku dengan anakku dan dengan suamiku. Ia berkata: Aku keluar setiap pagi lalu duduk di Abtah, dan aku terus menangis hingga petang – setahun atau mendekatinya – hingga seorang laki-laki dari Bani pamanku, salah seorang dari Bani al-Mughirah, lewat di dekatku, lalu ia melihat keadaanku dan merasihaniku, maka ia berkata kepada Bani al-Mughirah: “Tidakkah kalian keluarkan wanita malang ini? Kalian memisahkan antara dia dengan suaminya dan dengan anaknya?” Ia berkata: Maka mereka berkata kepadaku: “Susullah suamimu jika kamu mau.” Ia berkata: Pada saat itu Bani Abdul Asad mengembalikan anakku kepadaku. Ia berkata: Lalu aku memasang pelana untaku, kemudian mengambil anakku dan meletakkannya di pangkuanku, kemudian keluar menuju suamiku di Madinah. Ia berkata: Dan tidak ada bersamaku seorang pun dari makhluk Allah, hingga ketika aku berada di Tan’im, aku bertemu Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah, saudara Bani Abdud Dar. Maka ia berkata: “Kemana wahai anak perempuan Abu Umayyah?” Aku berkata: “Aku menuju suamiku di Madinah.” Ia berkata: “Apakah tidak ada bersamamu seorang pun?” Aku berkata: “Tidak ada bersamaku seorang pun kecuali Allah dan anakku ini.” Maka ia berkata: “Demi Allah, tidak ada bagimu untuk ditinggalkan.” Lalu ia mengambil tali kekang unta dan berangkat bersamaku membawaku. Maka demi Allah, aku tidak pernah bersahabat dengan seorang laki-laki dari orang Arab yang aku lihat lebih mulia darinya; ketika sampai di tempat singgah, ia menurunkan untaku, kemudian mundur dariku, hingga ketika aku turun, ia mundur dengan untaku lalu menurunkannya, kemudian mengikatnya di pohon, kemudian menjauh ke pohon lalu berbaring di bawahnya. Ketika waktu berangkat menjelang, ia berdiri menuju untaku lalu menyiapkannya, kemudian mundur dariku dan berkata: “Naiklah.” Ketika aku naik dan duduk tegak di atas untaku, ia datang lalu mengambil tali kekangnya dan menuntunku hingga menurunkanku di tempat singgah. Ia terus melakukan hal itu bersamaku hingga membawaku sampai ke Madinah. Ketika ia melihat kampung Bani ‘Amr bin ‘Auf di Quba, ia berkata: “Suamimu ada di kampung ini – dan Abu Salamah sedang tinggal di sana – maka masuklah dengan berkah Allah.” Kemudian ia kembali pulang ke Makkah. Maka ia (Ummu Salamah) berkata: “Aku tidak mengetahui sebuah keluarga dalam Islam yang ditimpa seperti yang menimpa keluarga Abu Salamah, dan aku tidak pernah melihat seorang sahabat yang lebih mulia dari Utsman bin Thalhah.”
Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah al-‘Abdari ini masuk Islam setelah Hudaibiyah, dan ia hijrah bersama Khalid bin al-Walid. Dan terbunuh pada hari Uhud ayahnya dan saudara-saudaranya; al-Harits, dan Kilab, dan Musafi’, dan pamannya Utsman bin Abi Thalhah. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyerahkan pada hari pembebasan (Makkah) kepadanya dan kepada anak pamannya Syaibah, ayah Bani Syaibah, kunci-kunci Ka’bah, memantapkannya pada mereka dalam Islam sebagaimana dalam masa Jahiliyah. Dan turunlah tentang hal itu firman-Nya Ta’ala: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya (QS. an-Nisa’: 58).
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian orang pertama yang tiba di Madinah setelah Abu Salamah dari kalangan Muhajirin adalah Amir bin Rabi’ah, sekutu Bani Adi, bersama istrinya Laila binti Abi Hatsmah al-Adawiyyah. Kemudian Abdullah bin Jahsy bin Riyab bin Ya’mar bin Shabrah bin Murrah bin Katsir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah, sekutu Bani Umayyah bin Abdi Syams. Ia berangkat membawa keluarganya dan saudaranya Abdul yang dikenal sebagai Abu Ahmad – namanya adalah Abdul sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Ishaq, dan ada yang mengatakan: Tsamah. As-Suhaili berkata: Yang pertama lebih sahih – sedangkan Abu Ahmad adalah seorang yang buta, namun ia dapat berkeliling di Makkah, baik bagian atas maupun bawahnya tanpa penuntun. Ia adalah seorang penyair dan menikah dengan al-Fari’ah binti Abi Sufyan bin Harb. Ibunya adalah Umaimah binti Abdul Muthalib bin Hasyim. Rumah Bani Jahsy menjadi kosong karena hijrah mereka. Utbah bin Rabi’ah, al-Abbas bin Abdul Muthalib, dan Abu Jahl bin Hisyam melewatinya saat sedang naik ke bagian atas Makkah. Utbah melihat rumah itu dengan pintu-pintunya yang terbuka, kosong tanpa penghuni. Ketika melihatnya dalam keadaan demikian, ia menghela napas panjang dan berkata:
“Setiap rumah meskipun lama keselamatannya, suatu hari akan dijangkau oleh malapetaka dan kecelakaan.”
Ibnu Hisyam berkata: Bait syair ini adalah karya Abu Daud al-Iyadi dalam salah satu qasidahnya. As-Suhaili berkata: Nama Abu Daud adalah Handzalah bin Syarqi. Ada yang mengatakan: Jariyah. Kemudian Utbah berkata: Rumah Bani Jahsy menjadi kosong dari penghuninya. Maka Abu Jahl berkata: Apa yang kau ratapi dari orang yang tak berharga ini. Kemudian ia berkata – maksudnya kepada al-Abbas -: Ini adalah ulah keponakanmu, ia telah memecah belah persatuan kita, mengacaukan urusan kita, dan memutuskan hubungan di antara kita.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Salamah, Amir bin Rabi’ah, dan Bani Jahsy tiba di Quba dan tinggal bersama Mubasysyir bin Abdul Mundzir. Kemudian para Muhajirin terus berdatangan secara bergelombang. Ia berkata: Bani Ghanm bin Dudan adalah keluarga Muslim yang seluruhnya berhijrah ke Madinah, baik laki-laki maupun perempuannya; Abdullah bin Jahsy dan saudaranya Abu Ahmad, Ukasyah bin Mihshan, Syuja’ dan Uqbah putra Wahab, Arbad bin Humairah, Minqadz bin Nabatah, Sa’id bin Ruqaisy, Muharriz bin Nadhlah, Yazid bin Ruqaisy, Qais bin Jabir, Amr bin Mihshan, Malik bin Amr, Shafwan bin Amr, Tsaqif bin Amr, Rabi’ah bin Aktsam, az-Zubair bin Ubaidah, Tamam bin Ubaidah, Sakhbarah bin Ubaidah, Muhammad bin Abdullah bin Jahsy. Dari kalangan perempuan mereka: Zainab binti Jahsy, Hamnah binti Jahsy, Ummu Habib binti Jahsy, Judzamah binti Jundal, Ummu Qais binti Mihshan, Ummu Habib binti Tsamah, Aminah binti Ruqaisy, dan Sakhbarah binti Tamim. Abu Ahmad bin Jahsy berkata dalam syair tentang hijrah mereka ke Madinah:
Ketika Ummu Ahmad melihatku pergi di pagi hari, dalam perlindungan dari yang aku takuti di tempat tersembunyi dan yang aku waspadai
Ia berkata: Jika memang engkau harus melakukannya, tujulah negeri-negeri lain dan jauhilah Yatsrib
Maka aku katakan padanya: Yatsrib bukan tempat untuk dicurigai, dan apa yang Allah Maha Pengasih kehendaki, maka hamba akan menjalaninya
Wajahku tertuju kepada Allah dan Rasul, dan barangsiapa yang suatu hari mengarahkan wajahnya kepada Allah, maka ia tidak akan kecewa
Betapa banyak sahabat yang tulus dan pemberi nasihat yang telah kami tinggalkan, dan pemberi nasihat perempuan yang menangis dengan air mata dan tangisan
Mereka mengira bahwa kepergian kami dari negeri kami adalah suatu kerugian, padahal kami melihat bahwa kami sedang mencari keinginan-keinginan
Aku telah menyeru Bani Ghanm untuk menjaga darah mereka, dan untuk kebenaran ketika ia telah jelas bagi manusia sebagai tempat berlindung
Mereka menjawab dengan pujian kepada Allah ketika menyeru mereka kepada kebenaran seorang penyeru dan kesuksesan, maka mereka berangkat bersama
Kami dan sahabat-sahabat kami yang meninggalkan petunjuk, mereka membantu melawan kami dengan senjata dan mengumpulkan pasukan
Seperti dua kelompok, yang satu diberi taufik kepada kebenaran yang mendapat petunjuk, dan kelompok yang disiksa
Mereka melampaui batas dan berharap pada kebohongan, dan Iblis menyesatkan mereka dari kebenaran, maka mereka rugi dan dikecewakan
Kami kembali kepada perkataan Nabi Muhammad, maka baiklah para pengikut kebenaran dari kami dan menjadi baik
Aku berkerabat dengan mereka melalui hubungan kerabat yang dekat, namun tidak ada kedekatan dengan kerabat jika tidak mendekatkan diri
Keponakan seperti apa setelah kami yang kalian akan percayai, dan mertua seperti apa setelah mertuaku yang kalian harapkan
Kalian akan tahu suatu hari siapa di antara kami yang lebih benar ketika urusan manusia terbagi dan urusan manusia untuk kebenaran dipisahkan
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Umar bin al-Khaththab dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah berangkat hingga tiba di Madinah. Diriwayatkan kepadaku oleh Nafi’, dari Abdullah bin Umar, dari ayahnya, ia berkata: Aku telah berjanji dengan Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan Hisyam bin al-Ash ketika kami hendak berhijrah ke Madinah, bahwa kami akan bertemu di at-Tanadhub dari mata air Bani Ghifar di atas Sarif, dan kami berkata: Siapa di antara kita yang tidak sampai di sana di pagi hari, berarti ia tertahan, maka hendaklah teman-temannya melanjutkan perjalanan. Ia berkata: Maka aku dan Ayyasy tiba di at-Tanadhub di pagi hari, sedangkan Hisyam tertahan dan difitnah lalu murtad. Ketika kami tiba di Madinah, kami tinggal di Bani Amr bin Auf di Quba. Abu Jahl bin Hisyam dan al-Harits bin Hisyam keluar menuju Ayyasy – ia adalah sepupu dan saudara seibu mereka – hingga tiba di Madinah, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih berada di Makkah. Mereka berbicara kepadanya dan berkata: Sesungguhnya ibumu telah bernazar tidak akan menyisir rambutnya hingga melihatmu, dan tidak akan berteduh dari matahari hingga melihatmu, maka kasihanilah dia. Aku berkata kepadanya: Demi Allah, sesungguhnya kaum itu tidak bermaksud kecuali ingin memfitnahmu dari agamamu, maka berhati-hatilah terhadap mereka. Demi Allah, jika ibumu terganggu oleh kutu, niscaya ia akan menyisir rambutnya, dan jika kepanasan Makkah menyiksanya, niscaya ia akan berteduh. Ia berkata: Aku akan memenuhi sumpah ibuku, dan aku memiliki harta di sana yang akan kuambil. Aku berkata: Demi Allah, engkau tahu bahwa aku termasuk orang Quraisy yang paling banyak hartanya, maka untukmu separuh hartaku, jangan pergi bersama mereka berdua. Ia berkata: Namun ia menolak kecuali pergi bersama mereka berdua. Ketika ia menolak kecuali itu, aku berkata: Jika engkau telah memutuskan demikian, maka ambillah untaku ini, karena ia adalah unta yang cepat dan jinak, maka tunggangilah punggungnya, jika engkau merasa curiga terhadap mereka, maka larilah dengannya. Maka ia berangkat bersamanya bersama mereka berdua. Ketika mereka berada di tengah perjalanan, Abu Jahl berkata kepadanya: Wahai saudaraku, demi Allah untaku ini sangat berat, maukah engkau bergantian denganku dengan untamu ini? Ia berkata: Baiklah. Maka ia menahan untanya dan mereka berdua menahan unta mereka agar ia pindah ke untanya. Ketika mereka berdiri di tanah, mereka menyergapnya dan mengikatnya dengan tali. Kemudian mereka membawanya masuk ke Makkah dan memfitnahnya hingga ia murtad. Umar berkata: Maka kami berkata: Allah tidak akan menerima taubat orang yang telah dimurtadkan. Mereka mengatakan hal itu untuk diri mereka sendiri hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah dan Allah menurunkan: “Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedangkan kamu tidak menyadarinya.'” (Surat az-Zumar: 53-55). Umar berkata: Maka aku menulisnya dengan tanganku sendiri dan mengirimkannya kepada Hisyam bin al-Ash. Hisyam berkata: Ketika surat itu sampai kepadaku, aku terus membacanya di Dzi Thuwa, naik dengannya dan turun, namun aku tidak memahaminya hingga aku berkata: Ya Allah, berilah aku pemahaman. Maka Allah memasukkan ke dalam hatiku bahwa ayat ini diturunkan tentang kami dan tentang apa yang kami katakan tentang diri kami dan apa yang dikatakan tentang kami. Ia berkata: Maka aku kembali ke untaku, lalu aku menungganginya dan menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah. Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa yang membawa Hisyam bin al-Ash dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah ke Madinah adalah al-Walid bin al-Walid bin al-Mughirah. Ia mencuri mereka dari Makkah dan membawa mereka berdua dengan untanya, sedangkan ia berjalan kaki bersama mereka. Ia tersandung sehingga jarinya berdarah, lalu ia berkata:
Tidakkah engkau hanyalah jari yang berdarah, dan di jalan Allah apa yang telah aku alami
Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu al-Walid, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq, aku mendengar al-Bara’, ia berkata: Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum, kemudian datang kepada kami Ammar dan Bilal.
Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ghundar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaq, aku mendengar al-Bara’ bin Azib, ia berkata: Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum, keduanya mengajarkan al-Quran kepada orang-orang. Kemudian datang Bilal, Sa’d, dan Ammar bin Yasir. Kemudian datang Umar bin al-Khaththab bersama dua puluh orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian datang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku tidak pernah melihat penduduk Madinah bergembira dengan sesuatu sebagaimana kegembiraan mereka dengan kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga para budak perempuan berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah datang. Beliau tidak datang hingga aku telah membaca surat-surat dari al-Mufashshal termasuk Sabbihisma Rabbikal A’la. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Isra’il, dari Abu Ishaq, dari al-Bara’ bin Azib dengan nahu yang serupa, dan di dalamnya disebutkan secara tegas bahwa Sa’d bin Abi Waqqash berhijrah sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah. Musa bin Uqbah dari az-Zuhri mengklaim bahwa ia baru berhijrah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun yang benar adalah sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika Umar bin al-Khaththab tiba di Madinah bersama keluarganya dan kaumnya, yaitu saudaranya Zaid bin al-Khaththab, Amr dan Abdullah putra Suraqah bin al-Mu’tamir, Khunais bin Hudzafah as-Sahmi yang menikah dengan putrinya Hafshah, sepupunya Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail, Waqid bin Abdullah at-Tamimi sekutu mereka, Khauli bin Abi Khauli, dan Malik bin Abi Khauli, dua sekutu mereka dari Bani Ajl, dan Banu al-Bukair yaitu Iyas, Khalid, Aqil, Amir, dan sekutu-sekutu mereka dari Bani Sa’d bin Laits, maka mereka tinggal bersama Rifa’ah bin Abdul Mundzir bin Zunbur di Bani Amr bin Auf di Quba.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian para Muhajirin terus berdatangan secara berturut-turut semoga Allah meridhai mereka. Thalhah bin Ubaidillah dan Shuhaib bin Sinan tinggal bersama Khubaib bin Isaf, saudara Balharis bin al-Khazraj di as-Sunh. Ada yang mengatakan: Thalhah tinggal bersama As’ad bin Zurarah. Ibnu Hisyam berkata: Dan telah disebutkan kepadaku dari Abu Utsman an-Nahdi, bahwa ia berkata: Sampai kepadaku bahwa Shuhaib ketika hendak berhijrah, orang-orang kafir Quraisy berkata kepadanya: Engkau datang kepada kami sebagai orang miskin yang hina, lalu hartamu bertambah di sisi kami dan engkau mencapai apa yang telah engkau capai, kemudian engkau ingin keluar membawa hartamu dan dirimu? Demi Allah, hal itu tidak akan terjadi. Maka Shuhaib berkata kepada mereka: Bagaimana pendapat kalian jika aku serahkan hartaku kepada kalian, apakah kalian akan membiarkan aku pergi? Mereka berkata: Ya. Ia berkata: Maka sesungguhnya aku telah menyerahkan hartaku kepada kalian. Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Shuhaib beruntung, Shuhaib beruntung.”
Al-Baihaqi berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Hafizh Abu Abdillah secara imla, telah memberitakan kepada kami Abu al-Abbas Isma’il bin Abdillah bin Muhammad bin Mikal, telah memberitakan kepada kami Abdan al-Ahwazi, telah menceritakan kepada kami Zaid bin al-Harisy, telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Muhammad az-Zuhri, telah menceritakan kepada kami Hushain bin Hudzaifah bin Shaifi bin Shuhaib, telah menceritakan kepadaku ayahku dan paman-pamanku, dari Sa’id bin al-Musayyab, dari Shuhaib, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperlihatkan tempat hijrah kalian, yaitu tanah garam di antara dua dataran berbatu hitam, maka tempat itu adalah Hajar atau Yatsrib.” Ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat ke Madinah, dan Abu Bakar keluar bersamanya. Aku juga bermaksud keluar bersamanya namun beberapa pemuda Quraisy menghalangiku. Maka aku sepanjang malam itu terus berdiri tidak duduk. Mereka berkata: Allah telah menyibukkannya dari kalian dengan perutnya. Padahal aku tidak sedang sakit. Maka mereka tertidur dan aku keluar. Beberapa orang dari mereka mengejarku setelah aku berjalan satu barid untuk mengembalikanku. Aku berkata kepada mereka: Bagaimana jika aku memberikan kepada kalian beberapa uqiyah emas dan kalian membiarkanku pergi dan menunaikan janjiku? Mereka bersedia. Aku mengikuti mereka ke Makkah dan berkata: Galilah di bawah ambang pintu, karena di bawahnya ada uqiyah-uqiyah, dan pergilah kepada si Fulanah lalu ambillah dua kain. Aku keluar hingga tiba kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Quba sebelum beliau pindah darinya. Ketika beliau melihatku, beliau bersabda: “Wahai Abu Yahya, jual beli yang beruntung,” tiga kali. Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang mendahuluiku kepadamu, dan tidak ada yang memberitahumu kecuali Jibril ‘alaihissalam.
Ibnu Ishaq berkata: Hamzah bin Abdul Muthalib, Zaid bin Haritsah, Abu Martsad Kannaz bin al-Husain, dan anaknya Martsad al-Ghanawiyan yang menjadi sekutu Hamzah, serta Anasah dan Abu Kabsyah yang merupakan budak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, menumpang di rumah Kultsum bin al-Hadm, saudara Bani Amr bin Auf di Quba. Ada yang mengatakan: mereka menumpang di rumah Sa’d bin Khaitsamah. Ada pula yang mengatakan: Hamzah menumpang di rumah As’ad bin Zurarah. Dan Allah yang lebih mengetahui.
Ibnu Ishaq berkata: Ubaidah bin al-Harits dan kedua saudaranya yaitu Thufail dan Husain, serta Misthah bin Utsatsah, Suwaibit bin Sa’d bin Harimalah saudara Bani Abdi ad-Dar, Thulaib bin Umair saudara Bani Abd bin Qushay, dan Khabbab budak Utbah bin Ghazwan menumpang di rumah Abdullah bin Salamah saudara Bal’ajlan di Quba. Abdurrahman bin Auf bersama beberapa orang Muhajirin menumpang di rumah Sa’d bin ar-Rabi’. Az-Zubair bin al-Awwam dan Abu Sabrah bin Abi Rahm menumpang di rumah Mundzir bin Muhammad bin Uqbah bin Uhaihah bin al-Jallah di al-Ushbah, kampung Bani Jahjaba. Mush’ab bin Umair menumpang di rumah Sa’d bin Mu’adz. Abu Hudzaifah bin Utbah dan Salim budaknya menumpang – Ibnu Ishaq ragu dan al-Umawi berkata: di rumah Khubaib bin Isaf saudara Bani Haritsah. Utbah bin Ghazwan menumpang di rumah Abbad bin Bisyr bin Waqsy dari Bani Abdul Asyhal. Utsman bin Affan menumpang di rumah Aus bin Tsabit bin al-Mundzir, saudara Hassan bin Tsabit, di kampung Bani an-Najjar. Ibnu Ishaq berkata: Para bujangan dari kaum Muhajirin menumpang di rumah Sa’d bin Khaitsamah, karena dia juga seorang bujangan. Dan Allah yang lebih mengetahui mana yang benar.
Ya’qub bin Sufyan berkata: Ahmad bin Abi Bakr bin al-Harits bin Zurarah bin Mush’ab bin Abdurrahman bin Auf menceritakan kepadaku, Abdul Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Ubaidillah dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa dia berkata: Kami datang dari Mekah lalu menumpang di al-Ushbah; Umar bin al-Khaththab, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan Salim budak Abu Hudzaifah. Salim yang menjadi imam mereka karena dia paling banyak hafalan Qurannya.
Pasal tentang Sebab Hijrah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
Allah Ta’ala berfirman: Dan katakanlah (Muhammad), “Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku dari tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (Surat al-Isra ayat 80) Allah membimbingnya dan mengilhamkannya untuk berdoa dengan doa ini, agar Allah memberikan jalan keluar yang dekat dari kondisinya dan keluarnya segera. Maka Allah mengizinkannya untuk hijrah ke Madinah an-Nabawiyah di mana terdapat kaum Anshar dan orang-orang yang dicintainya. Madinah menjadi tempat tinggal dan kediamannya, dan penduduknya menjadi penolongnya.
Ahmad bin Hanbal dan Utsman bin Abi Syaibah meriwayatkan dari Jarir, dari Qabus bin Abi Zhibyan, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berada di Mekah lalu diperintahkan untuk hijrah dan diturunkan kepadanya ayat: “Dan katakanlah (Muhammad), “Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku dari tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.”
Qatadah berkata: masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar maksudnya Madinah, dan keluarkanlah aku dari tempat keluar yang benar maksudnya hijrah dari Mekah, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong maksudnya Kitabullah, kewajiban-kewajiban dan batasan-batasanNya.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tinggal di Mekah setelah para sahabatnya dari kaum Muhajirin berangkat, menunggu untuk diizinkan hijrah. Tidak ada yang tertinggal bersamanya di Mekah kecuali orang yang ditahan atau difitnah, kecuali Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar bin Abi Quhafah radhiyallahu anhuma. Abu Bakar sering meminta izin kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk hijrah, namun beliau berkata kepadanya: “Jangan tergesa-gesa, semoga Allah menjadikan untukmu seorang sahabat.” Abu Bakar berharap bahwa itu adalah dirinya.
Ketika kaum Quraisy melihat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memiliki pengikut dan sahabat dari selain mereka di luar negeri mereka, dan mereka melihat keberangkatan para sahabatnya dari kaum Muhajirin ke sana, mereka mengetahui bahwa mereka telah menempati suatu negeri dan mendapatkan perlindungan dari mereka. Mereka khawatir dengan keberangkatan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada mereka, dan mengetahui bahwa beliau telah bertekad untuk memerangi mereka. Maka mereka berkumpul di Darul Nadwah – yaitu rumah Qushay bin Kilab yang biasa digunakan kaum Quraisy untuk memutuskan urusan apapun – mereka bermusyawarah tentang apa yang akan mereka lakukan terhadap urusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika mereka merasa takut kepadanya.
Ibnu Ishaq berkata: Seseorang dari para sahabat kami yang aku percaya menceritakan kepadaku, dari Abdullah bin Abi Najih, dari Mujahid bin Jabr, dari Abdullah bin Abbas, dan lainnya yang aku percaya, dari Abdullah bin Abbas, dia berkata: Ketika mereka berkumpul untuk itu dan berjanji akan masuk ke Darul Nadwah untuk bermusyawarah di dalamnya tentang urusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mereka datang pada hari yang telah mereka janjikan, dan hari itu dinamakan hari az-Zuhmah (hari yang penuh sesak). Maka Iblis laknatullah atasnya menghadang mereka dalam wujud seorang syaikh yang terhormat mengenakan mantel. Dia berdiri di pintu rumah. Ketika mereka melihatnya berdiri di pintu, mereka berkata: “Siapa syaikh ini?” Dia berkata: “Seorang syaikh dari penduduk Najed yang mendengar tentang apa yang kalian janjikan, maka dia hadir bersama kalian untuk mendengar apa yang kalian katakan, dan semoga dia tidak akan membuat kalian kekurangan pendapat dan nasihat darinya.” Mereka berkata: “Baiklah, masuklah.” Maka dia masuk bersama mereka.
Telah berkumpul di sana para pembesar Quraisy; Utbah, Syaibah, Abu Sufyan, Thu’aimah bin Adi, Jubair bin Muth’im bin Adi, al-Harits bin Amir bin Naufal, an-Nadhr bin al-Harits, Abul Bakhtari bin Hisyam, Zam’ah bin al-Aswad, Hakim bin Hizam, Abu Jahal bin Hisyam, Nubaih dan Munabbih putra al-Hajjaj, Umayyah bin Khalaf, dan mereka yang termasuk dari Quraisy, serta lainnya yang tidak terhitung dari Quraisy.
Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: “Orang ini urusan dirinya sudah kalian lihat, dan demi Allah kami tidak merasa aman dari serangannya kepada kami bersama orang-orang yang telah mengikutinya dari selain kami. Maka buatlah keputusan mengenai dirinya.” Mereka bermusyawarah, lalu salah seorang dari mereka – dikatakan dia adalah Abul Bakhtari bin Hisyam – berkata: “Penjarakanlah dia dengan besi, dan kuncilah pintu untuknya, lalu tunggulah dia seperti apa yang menimpa orang-orang yang serupa dengannya dari para penyair sebelumnya; Zuhair, an-Nabighah dan yang telah berlalu dari mereka, yaitu kematian ini, hingga menimpanya apa yang menimpa mereka.”
Syaikh Najed itu berkata: “Tidak demi Allah, ini bukan pendapat yang baik bagi kalian. Demi Allah, jika kalian memenjarakannya seperti yang kalian katakan, pasti urusannya akan keluar dari balik pintu yang kalian kunci itu kepada para sahabatnya, lalu mereka akan segera menyerbu kalian dan merebut dia dari tangan kalian, kemudian mereka akan memperbanyak jumlah untuk melawanmu hingga mengalahkan kalian dalam urusan kalian. Ini bukan pendapat yang baik bagi kalian, maka musyawarahkanlah.”
Kemudian salah seorang dari mereka berkata: “Kita keluarkan dia dari tengah-tengah kita dan kita usir dia dari negeri kita. Jika dia keluar dari kita, maka demi Allah kami tidak peduli kemana dia pergi dan di mana dia berada, jika dia telah pergi dari kita dan kita terbebas darinya, maka kita perbaiki urusan kita dan persatuan kita seperti semula.”
Syaikh Najed itu berkata: “Tidak demi Allah, ini bukan pendapat yang baik bagi kalian. Tidakkah kalian melihat kebaikan pembicaraannya, kelembutan tutur katanya, dan penguasaannya terhadap hati manusia dengan apa yang dia bawa? Demi Allah, jika kalian melakukan itu, aku tidak merasa aman bahwa dia akan mendatangi suku Arab, lalu menguasai mereka dengan hal tersebut dari perkataannya dan pembicaraannya hingga mereka mengikutinya dalam hal itu, kemudian dia berjalan bersama mereka kepada kalian hingga menginjak-injak kalian dengan mereka, lalu mengambil urusan kalian dari tangan kalian, kemudian melakukan kepada kalian apa yang dia inginkan. Buatlah pendapat lain selain ini.”
Abu Jahal bin Hisyam berkata: “Demi Allah, aku punya pendapat tentangnya yang belum aku lihat kalian sampai padanya.” Mereka berkata: “Apa itu wahai Abul Hakam?” Dia berkata: “Aku berpendapat kita ambil dari setiap suku seorang pemuda yang kuat, terhormat keturunannya, dan terkemuka di antara kita, kemudian kita berikan kepada setiap pemuda dari mereka pedang yang tajam, lalu mereka mendatanginya dan menebasnya dengan pedang-pedang itu sebagai satu pukulan hingga membunuhnya, maka kita terbebas darinya. Jika mereka melakukan itu, darahnya akan tersebar di seluruh suku, maka Bani Abdi Manaf tidak akan mampu memerangi seluruh kaumnya, lalu mereka akan ridha dengan diyat dari kami dan kita akan bayarkan diyat untuknya.”
Syaikh Najed itu berkata: “Perkataan orang ini yang benar, ini adalah pendapat yang tepat dan tidak ada pendapat lain.” Maka orang-orang itu berpencar dengan keputusan tersebut dan mereka sepakat untuk melakukannya.
Lalu Jibril datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berkata kepadanya: “Jangan tidur malam ini di tempat tidurmu yang biasa kamu tiduri.”
Ketika malam tiba, mereka berkumpul di pintu rumah beliau, mengintainya kapan beliau tidur agar mereka menyerbunya. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat keberadaan mereka, beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Tidurlah di tempat tidurku, dan selimutilah dirimu dengan kain khasaku yang berwarna hijau ini, maka tidurlah dengannya, sesungguhnya tidak akan sampai kepadamu sesuatu yang kamu benci dari mereka.” Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa tidur dengan kain tersebut ketika beliau tidur.
Kisah ini yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq, telah diriwayatkan oleh al-Waqidi dengan sanad-sanadnya dari Aisyah, Ibnu Abbas, Ali, Suraqah bin Malik bin Ja’syum, dan lainnya, yang hadits sebagian mereka masuk ke dalam hadits sebagian lainnya, maka dia menyebutkan seperti apa yang telah disebutkan.
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Abi Ziyad menceritakan kepadaku, dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, dia berkata: Ketika mereka berkumpul untuknya dan di antara mereka ada Abu Jahal, dia berkata – sementara mereka di pintu rumahnya: “Sesungguhnya Muhammad mengklaim bahwa jika kalian mengikutinya dalam urusannya, kalian akan menjadi raja-raja Arab dan Ajam, kemudian kalian akan dibangkitkan setelah kematian kalian lalu dibuatkan untuk kalian surga-surga seperti taman-taman Yordania. Dan jika kalian tidak melakukannya, akan ada pembantaian di antara kalian, kemudian kalian akan dibangkitkan setelah kematian kalian, lalu dibuatkan untuk kalian api yang akan membakar kalian di dalamnya!”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar lalu mengambil segenggam tanah di tangannya, kemudian berkata: “Ya, aku mengatakan itu, kamu adalah salah satu dari mereka.” Allah mengambil penglihatan mereka darinya sehingga mereka tidak melihatnya. Beliau menaburkan tanah itu di atas kepala mereka sambil membaca ayat-ayat ini: Yasin. Demi Alquran yang penuh hikmah. Sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar seorang di antara para rasul, di atas jalan yang lurus. (Sebagai) wahyu yang diturunkan Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang. (Surat Yasin ayat 1-5) sampai firmanNya: Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (Surat Yasin ayat 9). Tidak tersisa dari mereka seorangpun kecuali telah ditaruh di atas kepalanya tanah, kemudian beliau pergi ke tempat yang beliau tuju.
Lalu datang kepada mereka seseorang yang tidak bersama mereka, dia berkata: “Apa yang kalian tunggu di sini?” Mereka berkata: “Muhammad.” Dia berkata: “Semoga Allah mengecewakan kalian, demi Allah sungguh Muhammad telah keluar menemui kalian, kemudian tidak ada seorangpun dari kalian kecuali telah ditaruh di atas kepalanya tanah, dan dia pergi untuk urusannya. Tidakkah kalian melihat apa yang menimpa kalian?” Maka setiap orang dari mereka meletakkan tangannya di atas kepalanya dan ternyata di atasnya ada tanah.
Kemudian mereka mulai mengintip, dan melihat Ali di atas tempat tidur terselimuti dengan kain khas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka mereka berkata: “Demi Allah ini adalah Muhammad sedang tidur dengan kain khasnya.” Mereka tidak bergerak dari keadaan seperti itu hingga pagi. Ali bangun dari tempat tidur, lalu mereka berkata: “Demi Allah sungguh benar apa yang diceritakan orang kepada kami.”
Ibnu Ishaq berkata: Di antara yang diturunkan Allah pada hari itu dan apa yang mereka sepakati untuknya adalah firmanNya Ta’ala: Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka merencanakan tipu daya, tetapi Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Surat al-Anfal ayat 30) Dan firmanNya: Ataukah mereka mengatakan, “(Dia) seorang penyair yang kami nanti-nantikan terhadapnya kecelakaan yang ditentukan.” Katakanlah, “Nanti-nantikanlah, maka sesungguhnya aku termasuk orang yang menanti-nantikan (siksaan) bersamamu.” (Surat ath-Thur ayat 30-31)
Ibnu Ishaq berkata: Maka Allah mengizinkan nabiNya shallallahu alaihi wasallam pada saat itu untuk hijrah.
Bab Hijrah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Diri Beliau yang Mulia dari Mekah ke Madinah Bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiyallahu ‘Anhu
Dan itulah awal penanggalan Islam sebagaimana disepakati oleh para sahabat pada masa pemerintahan Umar, sebagaimana telah kami jelaskan dalam Sirah Umar Radiyallahu ‘Anhu dan semua sahabat.
Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Mathar bin Al-Fadhl, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus pada usia empat puluh tahun, maka beliau tinggal di Mekah selama tiga belas tahun menerima wahyu, kemudian beliau diperintahkan untuk berhijrah lalu berhijrah selama sepuluh tahun, dan wafat ketika beliau berusia enam puluh tiga tahun. Dan sungguh hijrahnya ‘Alaihis Salam adalah pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga belas dari pengutusan beliau ‘Alaihis Salam, yaitu pada hari Senin sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Nabi kalian dilahirkan pada hari Senin, keluar dari Mekah pada hari Senin, diangkat menjadi nabi pada hari Senin, masuk Madinah pada hari Senin, dan wafat pada hari Senin.
Muhammad bin Ishaq berkata: Dan adalah Abu Bakar ketika meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk berhijrah, maka beliau bersabda kepadanya: “Jangan terburu-buru, semoga Allah menjadikan bagimu seorang sahabat (teman seperjalanan).” Maka ia berharap bahwa yang dimaksud Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah dirinya sendiri, maka ia membeli dua ekor unta dan menahannya di rumahnya sambil memberi makan keduanya sebagai persiapan untuk itu. Al-Waqidi berkata: Ia membelinya seharga delapan ratus dirham.
Ibnu Ishaq berkata: telah menceritakan kepadaku orang yang tidak aku ragukan, dari Urwah bin Az-Zubair, dari Aisyah Ummul Mu’minin, bahwa ia berkata: Tidak pernah terlewatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk datang ke rumah Abu Bakar pada salah satu dari dua waktu di siang hari, baik pagi atau sore hari, hingga ketika tiba hari dimana Allah mengizinkan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk berhijrah dan keluar dari Mekah dari tengah-tengah kaumnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang kepada kami pada waktu tengah hari di waktu yang beliau biasanya tidak datang. Ia berkata: Ketika Abu Bakar melihat beliau, ia berkata: Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang pada waktu ini kecuali karena ada urusan yang terjadi. Ia berkata: Ketika beliau masuk, Abu Bakar mundur dari tempat tidurnya untuk beliau, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam duduk, dan tidak ada di sisi Abu Bakar seorang pun kecuali aku dan saudariku Asma’ binti Abu Bakar, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Keluarkan dariku orang yang ada di sisimu.” Ia berkata: Wahai Rasulullah, yang ada hanya dua putriku dan apa gerangan: ayah dan ibuku menjadi tebusanmu? Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku untuk keluar dan berhijrah.” Ia berkata: Maka Abu Bakar berkata: Bersama (menemani) wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Bersama.” Ia berkata: Maka demi Allah, aku tidak pernah merasakan sebelum hari itu bahwa seseorang menangis karena kegembiraan hingga aku melihat Abu Bakar pada hari itu menangis. Kemudian ia berkata: Wahai Nabiyullah, sesungguhnya inilah dua ekor unta yang telah aku persiapkan untuk ini. Maka mereka berdua menyewa Abdullah bin Urqath. Ibnu Hisyam berkata: dan ada yang mengatakan Abdullah bin Uiraiqith, seorang laki-laki dari Bani Ad-Dil bin Bakr, dan ibunya dari Bani Sahm bin Amr, dan ia adalah seorang musyrik – untuk menunjukkan jalan kepada mereka berdua, dan mereka menyerahkan kedua unta mereka kepadanya, maka keduanya ada di sisinya untuk digembalakan hingga waktu yang dijanjikan.
Ibnu Ishaq berkata: Dan tidak ada yang mengetahui sejauh yang sampai kepadaku tentang keluarnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika beliau keluar kecuali Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan keluarga Abu Bakar. Adapun Ali, maka sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkannya untuk tinggal hingga ia dapat menunaikan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam titipan-titipan yang ada padanya untuk manusia, dan adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak ada seorang pun di Mekah yang memiliki sesuatu yang ia khawatirkan atasnya kecuali menempatkannya pada beliau, karena yang mereka ketahui dari kejujuran dan amanah beliau. Ibnu Ishaq berkata: Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berketetapan untuk keluar, beliau datang kepada Abu Bakar bin Abi Quhafah lalu mereka berdua keluar dari pintu kecil milik Abu Bakar di belakang rumahnya.
Dan telah meriwayatkan Abu Nu’aim dari jalur Ibrahim bin Sa’d, dari Muhammad bin Ishaq, ia berkata: sampai kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika keluar dari Mekah berhijrah kepada Allah menuju Madinah, bersabda: “Segala puji bagi Allah yang menciptakanku padahal aku tidak ada sesuatu pun, Ya Allah tolonglah aku atas ketakutan dunia, dan bencana zaman, dan musibah malam dan siang, Ya Allah temani aku dalam perjalananku, dan gantikan aku dalam keluargaku, dan berkahilah bagiku dalam apa yang Engkau rizkikan kepadaku, dan untuk-Mu maka rendahkanlah aku, dan atas akhlak yang shalih maka luruskanlah aku, dan kepada-Mu wahai Rabb maka cintailah aku, dan kepada manusia maka jangan Engkau serahkan aku, wahai Rabb orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Rabbku, aku berlindung dengan wajah-Mu yang mulia yang dengannya langit dan bumi bersinar, dan dengannya kegelapan tersingkap, dan dengan-Nya baik urusan orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, dari turunnya murka-Mu padaku, dan turunnya kemurkaan-Mu padaku, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dan tiba-tiba datangnya azab-Mu, dan berubahnya kesehatan-Mu, dan semua kemurkaan-Mu, bagi-Mu kesempatan bertobat di sisiku sebaik-baik yang aku mampu, tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan-Mu.”
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian mereka berdua menuju gua di (gunung) Tsur – sebuah gunung di bagian bawah Mekah – lalu mereka berdua memasukinya, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan putranya Abdullah untuk mendengarkan apa yang dikatakan orang-orang tentang mereka berdua di siang harinya, kemudian datang kepada mereka berdua ketika sore dengan apa yang terjadi pada hari itu berupa berita, dan ia memerintahkan Amir bin Fuhairah budaknya untuk menggembalakan kambingnya di siang hari, kemudian mengistirahatkannya kepada mereka berdua ketika sore di gua. Maka adalah Abdullah bin Abu Bakar berada bersama Quraisy di siang harinya bersama mereka, mendengarkan apa yang mereka musyawarahkan dan apa yang mereka katakan tentang perkara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abu Bakar, kemudian ia datang kepada mereka berdua ketika sore lalu memberitahukan berita kepada mereka berdua, dan adalah Amir bin Fuhairah menggembalakan di antara para penggembala penduduk Mekah, maka ketika sore ia mengistirahatkan kambing-kambing Abu Bakar kepada mereka berdua lalu mereka memerah susu dan menyembelih, maka ketika Abdullah bin Abu Bakar pergi dari sisi mereka berdua ke Mekah, Amir bin Fuhairah mengikuti jejaknya dengan kambing-kambing untuk menghapusnya. Dan akan datang dalam riwayat Al-Bukhari apa yang menjadi saksi untuk ini.
Dan telah menceritakan Ibnu Jarir dari sebagian mereka bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendahului Ash-Shiddiq dalam pergi ke gua Tsur, dan memerintahkan Ali untuk menunjukkannya pada jalan beliau agar dapat menyusulnya, maka ia menyusulnya di tengah jalan. Dan ini sangat aneh, dan berbeda dengan yang masyhur bahwa mereka berdua keluar bersama.
Ibnu Ishaq berkata: Dan adalah Asma’ binti Abu Bakar Radiyallahu ‘Anha mendatangi mereka berdua dengan makanan ketika sore dengan apa yang memperbaiki keadaan mereka berdua. Asma’ berkata: Dan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abu Bakar keluar, beberapa orang dari Quraisy datang kepada kami di antara mereka Abu Jahal bin Hisyam, maka mereka berdiri di pintu Abu Bakar, lalu aku keluar kepada mereka, maka mereka berkata: Di mana ayahmu wahai anak perempuan Abu Bakar? Ia berkata: Aku berkata: Aku tidak tahu demi Allah di mana ayahku? Ia berkata: Maka Abu Jahal mengangkat tangannya – dan ia adalah orang yang keji dan buruk – lalu menampar pipiku dengan tamparan yang membuat anting-antingku jatuh, kemudian mereka pergi.
Ibnu Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair, bahwa ayahnya menceritakan kepadanya dari neneknya Asma’, ia berkata: Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dan Abu Bakar keluar bersamanya, Abu Bakar membawa semua hartanya bersamanya, lima ribu dirham atau enam ribu dirham, lalu ia pergi dengannya bersamanya. Ia berkata: Maka kakekku Abu Quhafah masuk kepada kami – dan penglihatannya telah hilang – lalu berkata: Demi Allah sesungguhnya aku melihat ia telah membuat kalian bingung dengan hartanya bersama dirinya. Ia berkata: Aku berkata: Tidak wahai ayahku, sesungguhnya ia telah meninggalkan untuk kami kebaikan yang banyak. Ia berkata: Dan aku mengambil batu-batu, lalu meletakkannya di ceruk di rumah yang biasa ayahku meletakkan hartanya di sana, kemudian aku meletakkan kain di atasnya, kemudian aku mengambil tangannya, lalu aku berkata: Wahai ayahku letakkan tanganmu pada harta ini. Ia berkata: Maka ia meletakkan tangannya di atasnya, lalu berkata: Tidak mengapa jika ia telah meninggalkan untuk kalian ini maka sungguh ia telah berbuat baik, dan dalam ini ada kecukupan untuk kalian. Dan tidak demi Allah ia tidak meninggalkan untuk kami sesuatu pun, akan tetapi aku ingin menenangkan orang tua itu dengan itu.
Dan Ibnu Hisyam berkata: Dan telah menceritakan kepadaku sebagian ahli ilmu, bahwa Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abu Bakar sampai ke gua pada malam hari, maka Abu Bakar masuk sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu meraba gua; untuk melihat apakah di dalamnya ada binatang buas atau ular, melindungi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan dirinya. Dan ini di dalamnya ada keterputusan dari dua sisi.
Dan telah berkata Abu Al-Qasim Al-Baghawi: telah menceritakan kepada kami Dawud bin Amr Adh-Dhabbi, telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar Al-Jumuhi, dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika keluar bersama Abu Bakar menuju Tsur, maka Abu Bakar terkadang berada di depan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan terkadang di belakangnya, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadanya tentang itu, lalu ia berkata: Jika aku berada di belakangmu aku khawatir engkau didatangi dari depanmu, dan jika aku berada di depanmu aku khawatir engkau didatangi dari belakangmu, hingga ketika sampai ke gua Tsur, Abu Bakar berkata: Tetaplah sebagaimana engkau hingga aku memasukkan tanganku lalu merasakannya dan memeriksanya, jika ada binatang di dalamnya maka aku yang terkena sebelum engkau. Nafi’ berkata: Maka sampai kepadaku bahwa ada lubang di gua, maka Abu Bakar memasukkan kakinya ke lubang itu, karena khawatir keluar darinya binatang atau sesuatu yang menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan ini mursal dan telah kami sebutkan untuknya saksi-saksi lain dalam sirah Ash-Shiddiq Radiyallahu ‘Anhu. Dan Al-Baihaqi berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafizh, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Ishaq, telah memberitahukan kepada kami Musa bin Al-Hasan bin Abbad, telah menceritakan kepada kami Affan bin Muslim, telah menceritakan kepada kami As-Sirri bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sirin, ia berkata: Disebutkan beberapa laki-laki pada masa Umar, seakan-akan mereka mengutamakan Umar atas Abu Bakar, maka sampai hal itu kepada Umar, lalu ia berkata: Demi Allah, sungguh satu malam dari Abu Bakar lebih baik dari keluarga Umar, dan satu hari dari Abu Bakar lebih baik dari keluarga Umar, sungguh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar pada malam ketika beliau pergi ke gua, dan bersamanya Abu Bakar, maka ia berjalan sesaat di depan beliau, dan sesaat di belakangnya, hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyadari, lalu bersabda: “Wahai Abu Bakar, apa yang membuatmu berjalan sesaat di depanku, dan sesaat di belakangku.” Maka ia berkata: Wahai Rasulullah, aku teringat pengejaran maka aku berjalan di belakangmu, kemudian aku teringat pengintaian maka aku berjalan di depanmu. Maka beliau bersabda: “Wahai Abu Bakar, jika ada sesuatu apakah engkau ingin agar itu menimpa engkau sebelum aku?” Ia berkata: Ya, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran. Ketika kami sampai ke gua, Abu Bakar berkata: Tetaplah pada tempatmu wahai Rasulullah hingga aku membersihkan untukmu gua itu. Maka ia masuk lalu membersihkannya hingga ketika ia berada di bagian atasnya, ia teringat bahwa ia belum membersihkan lubang, maka ia berkata: Tetaplah pada tempatmu wahai Rasulullah hingga aku membersihkannya. Maka ia masuk lalu membersihkannya, kemudian berkata: Turunlah wahai Rasulullah. Maka beliau turun. Kemudian Umar berkata: Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh malam itu lebih baik dari keluarga Umar.
Dan telah meriwayatkannya Al-Baihaqi dari jalan lain dari Umar, dan di dalamnya bahwa Abu Bakar berjalan di depan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terkadang, dan di belakangnya terkadang lain, dan di kanannya, dan di kirinya. Dan di dalamnya bahwa ketika kaki Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terluka, Ash-Shiddiq menggendongnya di pundaknya, dan bahwa ketika ia masuk gua ia menutup semua lubang itu, dan tersisa satu lubang, maka ia memasukkan tumitnya, maka ular-ular terus menggigitnya dan air matanya mengalir, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepadanya: “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Dan dalam riwayat ini ada keanehan dan keingkaran.
Kemudian Al-Baihaqi berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafizh, dan Abu Sa’id bin Abu Amr, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Al-Abbas Al-Ashamm, telah menceritakan kepada kami Abbas Ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir Syadzzan, telah menceritakan kepada kami Isra’il, dari Al-Aswad, dari Jundub bin Abdullah ia berkata: Abu Bakar bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di gua, maka tangannya terkena batu, lalu ia berkata:
Tidaklah engkau kecuali jari yang berdarah, dan di jalan Allah apa yang engkau alami
Dan Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar, telah mengabarkan kepadaku Utsman Al-Jazari, bahwa Miqsam budak Ibnu Abbas, mengabarkan kepadanya dari Ibnu Abbas, tentang firman-Nya Ta’ala: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir merekaciakan (rencana jahat) terhadapmu” (Surah Al-Anfal: 30), ia berkata: Quraisy bermusyawarah pada suatu malam di Mekah, maka sebagian mereka berkata: Jika pagi ikatilah ia dengan tali, mereka menginginkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan sebagian mereka berkata: Bahkan bunuhlah ia. Dan sebagian mereka berkata: Bahkan usirlah ia. Maka Allah memberitahukan Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang itu, maka Ali bermalam di tempat tidur Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada malam itu, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar hingga sampai ke gua, dan orang-orang musyrik bermalam menjaga Ali, mereka mengira ia adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ketika pagi mereka menyerbunya, maka ketika mereka melihat Ali, Allah mengembalikan tipu daya mereka kepada mereka, lalu mereka berkata: Di mana sahabatmu ini? Maka ia berkata: Aku tidak tahu. Maka mereka mengikuti jejaknya, ketika sampai ke gunung, jejak itu bercampur bagi mereka, lalu mereka mendaki gunung, maka mereka melewati gua, lalu mereka melihat di pintunya sarang laba-laba, maka mereka berkata: Seandainya seseorang masuk ke sini tidaklah ada sarang laba-laba di pintunya. Maka beliau tinggal di dalamnya tiga malam. Dan ini sanad yang hasan, dan ia termasuk yang paling bagus yang diriwayatkan dalam kisah sarang laba-laba di mulut gua, dan itu termasuk perlindungan Allah terhadap Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dan Al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Sa’id Al-Qadhi berkata dalam Musnad Abu Bakar: telah menceritakan kepada kami Basyar Al-Khaffaf, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abu Imran Al-Jauni, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’alla bin Ziyad, dari Al-Hasan Al-Bashri, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abu Bakar pergi ke gua, dan Quraisy datang mencari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan mereka jika melihat di pintu gua sarang laba-laba, mereka berkata: Tidak ada seorang pun yang masuk. Dan adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdiri shalat dan Abu Bakar mengawasi, maka Abu Bakar berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Ini kaummu mencarimu, adapun demi Allah bukan atas diriku sendiri aku menangis, akan tetapi karena khawatir aku melihat padamu apa yang aku benci. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepadanya: “Wahai Abu Bakar, jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita.” Dan ini mursal dari Al-Hasan, dan ia hasan dengan keadaannya sebagai saksi. Dan di dalamnya ada tambahan shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di gua, dan sungguh beliau ‘Alaihis Salam jika ditimpa suatu urusan, beliau shalat. Dan meriwayatkan orang ini – maksudku Abu Bakar Ahmad bin Ali Al-Qadhi – dari Amr An-Naqid, dari Khalaf bin Tamim, dari Musa bin Muthair, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Abu Bakar berkata kepada putranya: Wahai anakku, jika terjadi suatu peristiwa pada manusia, maka datanglah ke gua yang aku bersembunyi di dalamnya bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka tinggallah di dalamnya; sesungguhnya akan datang kepadamu rizqimu di dalamnya pagi dan sore. Dan telah menggubah sebagian mereka ini dalam syairnya di mana ia berkata:
Rajutan Dawud tidak melindungi penghuni gua, dan adalah kebanggaan bagi laba-laba
Dan sungguh diriwayatkan bahwa dua ekor merpati bersarang di pintunya juga, dan telah menggubah itu Ash-Sharshuri dalam syairnya di mana ia berkata:
Maka laba-laba menutupinya dengan rajutannya, dan tetap di pintu merpati bertelur
Dan hadits tentang itu diriwayatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Asakir dari jalur Yahya bin Muhammad bin Sha’id, telah menceritakan kepada kami Amr bin Ali, telah menceritakan kepada kami Aun bin Amr Abu Amr Al-Qaisi – dan dijuluki Uwaina – telah menceritakan kepadaku Abu Mush’ab Al-Makki, ia berkata: Aku mendapati Zaid bin Arqam, dan Al-Mughirah bin Syu’bah, dan Anas bin Malik, menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada malam gua, Allah memerintahkan pohon maka ia keluar di wajah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menutupi beliau, dan bahwa Allah mengutus laba-laba maka ia menenun di antara keduanya lalu menutupi wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan Allah memerintahkan dua ekor merpati liar, maka keduanya datang sambil terbang hingga hinggap di antara laba-laba dan pohon, dan datang pemuda-pemuda Quraisy dari setiap kabilah dari mereka seorang laki-laki, bersama mereka tongkat-tongkat mereka dan busur-busur mereka dan pentung-pentung mereka, hingga ketika mereka berada dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sekitar dua ratus hasta, pemandu berkata – dan ia adalah Suraqah bin Malik bin Ju’syum Al-Mudliji – ini batu, kemudian aku tidak tahu di mana ia meletakkan kakinya.
Maka para pemuda itu berkata: Engkau tidak salah sejak tadi malam. Hingga ketika pagi tiba, ia berkata: Lihatlah ke dalam gua itu. Maka orang-orang itu maju hingga ketika mereka berada sekitar lima puluh hasta dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, tiba-tiba ada dua ekor burung merpati. Maka ia pun kembali. Mereka bertanya: Apa yang membuatmu tidak melihat ke dalam gua? Ia menjawab: Aku melihat dua ekor burung merpati liar di mulut gua, maka aku tahu bahwa tidak ada seorang pun di dalamnya. Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengarnya dan mengetahui bahwa Allah telah menolak bahaya dari mereka berdua dengan kedua burung merpati itu, maka beliau memberkati keduanya, dan Allah menurunkan keduanya ke tanah Haram lalu keduanya bertelur sebagaimana yang engkau lihat. Ini adalah hadits yang sangat gharib (aneh) dari jalur ini. Al-Hafizh Abu Nuaim telah meriwayatkannya dari hadits Muslim bin Ibrahim dan lainnya, dari Aun bin Amr—yang dijuluki Uwain—dengan sanadnya seperti itu, dan di dalamnya disebutkan bahwa semua burung merpati Makkah adalah keturunan dari kedua burung merpati tersebut. Dalam hadits ini disebutkan bahwa orang yang melacak jejak mereka adalah Suraqah bin Malik Al-Madlaji.
Al-Waqidi telah meriwayatkan dari Musa bin Muhammad bin Ibrahim, dari ayahnya bahwa orang yang melacak jejak mereka adalah Kurz bin Alqamah.
Aku katakan: Mungkin keduanya sama-sama melacak jejak tersebut. Wallahu a’lam. Allah Ta’ala berfirman: Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada temannya: “Jangan kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara (malaikat) yang kamu tidak melihatnya, dan Dia menjadikan orang-orang kafir itu rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (At-Taubah: 40). Allah Ta’ala berfirman dengan mencela orang-orang yang tidak ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Jika kamu tidak menolongnya, sesungguhnya Allah akan menolongnya, mendukungnya, dan memenangkannya, sebagaimana Dia menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya dari penduduk Makkah dalam keadaan melarikan diri dan tidak ada bersamanya selain temannya, sahabatnya Abu Bakar, tidak ada yang menyertainya selain dia; karena itu Allah berfirman: salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, artinya: mereka telah berlindung di gua itu, dan mereka tinggal di dalamnya selama tiga hari agar pencarian terhadap mereka berdua mereda; hal itu karena orang-orang musyrik ketika kehilangan mereka berdua sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, mereka pergi mencari mereka berdua ke segala arah dari berbagai jurusan, dan mereka memberikan hadiah seratus ekor unta bagi siapa yang mengembalikan mereka berdua atau salah satu dari mereka, dan mereka melacak jejak mereka berdua hingga jejak itu tidak jelas bagi mereka. Yang melacak jejak untuk Quraisy adalah Suraqah bin Malik bin Ju’syum, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Mereka naik ke gunung tempat mereka berdua berada, dan mereka melewati pintu gua itu, kaki mereka sejajar dengan pintu gua tetapi tidak melihat mereka berdua; itu adalah penjagaan dari Allah untuk mereka berdua. Sebagaimana yang dikatakan Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, bahwa Abu Bakar menceritakan kepadanya, ia berkata: Aku berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika kami berada di dalam gua: Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke arah kakinya, niscaya ia akan melihat kami di bawah kakinya. Maka beliau bersabda: Wahai Abu Bakar, bagaimana sangkaanmu terhadap dua orang yang Allah adalah yang ketiganya. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka dari hadits Hammam dengannya. Sebagian ahli sirah menyebutkan bahwa ketika Abu Bakar berkata demikian, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Seandainya mereka datang dari sini, maka kami akan pergi dari sini. Maka Ash-Shiddiq melihat ke gua itu, ternyata telah terbuka dari sisi yang lain, dan ternyata laut telah terhubung dengannya, dan ada perahu yang terikat di sisinya. Ini bukanlah sesuatu yang mustahil dari segi kekuasaan yang agung, tetapi hal itu tidak diriwayatkan dengan sanad yang kuat maupun lemah, dan kami tidak menetapkan sesuatu atas dasar dugaan kami sendiri, tetapi apa yang shahih atau hasan sanadnya maka kami katakan dengannya. Wallahu a’lam.
Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Sahl, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Tamim, telah menceritakan kepada kami Musa bin Muthir Al-Qurasyi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Abu Bakar berkata kepada anaknya: Wahai anakku, jika terjadi suatu peristiwa pada manusia maka datanglah ke gua yang engkau lihat aku dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersembunyi di dalamnya, dan tinggallah di dalamnya karena rezekimu akan datang kepadamu di dalamnya pagi dan sore. Kemudian Al-Bazzar berkata: Kami tidak mengetahui yang meriwayatkannya selain Khalaf bin Tamim.
Aku katakan: Musa bin Muthir ini lemah dan ditinggalkan, Yahya bin Main mendustakannya maka haditsnya tidak diterima. Wallahu a’lam. Yunus bin Bukair menyebutkan dari Muhammad bin Ishaq, bahwa Ash-Shiddiq berkata dalam puisi tentang masuk mereka berdua ke gua, dan perjalanan mereka setelah itu, dan apa yang terjadi dengan kisah Suraqah, sebagaimana akan datang, di antaranya ucapannya:
Nabi bersabda dan aku tidak panik padahal ia menguatkanku … Sedang kami dalam kegelapan dari gulita gua Jangan takut terhadap sesuatu karena sesungguhnya Allah adalah yang ketiga bagi kami … Dan sungguh Dia telah menjamin bagiku kemenangan daripadaNya
Abu Nuaim meriwayatkan qasidah ini dari jalur Ziyad, dari Muhammad bin Ishaq, dan ia menyebutkannya secara panjang lebar, dan ia menyebutkan bersamanya qasidah yang lain. Wallahu a’lam.
Ibnu Lahi’ah meriwayatkan dari Abu Al-Aswad, dari Urwah bin Az-Zubair, ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tinggal setelah haji—yaitu yang di dalamnya kaum Anshar membaiat beliau—sisa Dzulhijjah, Muharram, dan Shafar. Kemudian orang-orang musyrik Quraisy sepakat dengan rencana dan tipu daya mereka untuk membunuh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, atau memenjarakannya, atau mengusirnya. Maka Allah memberitahukan hal itu kepadanya, lalu menurunkan kepadanya: Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu (untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu) (Al-Anfal: 30) ayat tersebut. Maka beliau memerintahkan Ali untuk tidur di tempat tidurnya, dan ia pergi bersama Abu Bakar. Ketika pagi tiba mereka pergi mencari mereka berdua ke segala arah untuk mencari mereka berdua. Demikian juga Musa bin Uqbah menyebutkan dalam Maghazi-nya, dan bahwa keluarnya beliau bersama Abu Bakar ke gua adalah pada malam hari. Telah disebutkan sebelumnya dari Al-Hasan Al-Bashri—dalam apa yang disebutkan Ibnu Hisyam—pernyataan tegas tentang hal itu juga.
Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Uqail, Ibnu Syihab berkata: Telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Az-Zubair, dari Aisyah istri Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia berkata: Aku tidak pernah sadar tentang kedua orang tuaku kecuali mereka berdua beragama. Tidak ada hari yang berlalu kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang kepada kami pada dua ujung siang, pagi dan sore. Ketika kaum muslimin diuji, Abu Bakar keluar berhijrah menuju tanah Habasyah, hingga ketika ia sampai di Bark Al-Ghimad ia bertemu dengan Ibnu Ad-Daghinah yang merupakan pemimpin Al-Qarah. Maka ia menyebutkan apa yang terjadi dari pengembaliannya terhadap Abu Bakar ke Makkah dan perlindungannya terhadapnya sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya pada hijrah Habasyah, hingga perkataannya: Maka Abu Bakar berkata: Sesungguhnya aku mengembalikan perlindunganmu kepadamu, dan aku ridha dengan perlindungan Allah. Ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam pada hari itu berada di Makkah, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada kaum muslimin: Aku telah diperlihatkan tempat hijrah kalian, yaitu tempat yang berisi pohon kurma di antara dua harrah. Keduanya adalah dua dataran berbatu. Maka berhijrahlah orang-orang yang berhijrah menuju Madinah, dan kembali sebagian orang yang telah berhijrah ke Habasyah menuju Madinah. Abu Bakar bersiap untuk berhijrah menuju Madinah, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: Tunggulah sebentar; karena aku berharap akan diizinkan untukku. Maka Abu Bakar berkata: Apakah engkau berharap demikian, dengan ayah dan ibuku sebagai tebusanmu? Beliau berkata: Ya. Maka Abu Bakar menahan dirinya untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, agar menemaninya dan ia memberi makan dua ekor untanya yang ada padanya dengan daun pohon samur—yaitu khabt—selama empat bulan. Sebagian mereka menyebutkan bahwa ia memberinya makan selama enam bulan.
Ibnu Syihab berkata: Urwah berkata: Aisyah berkata: Ketika kami pada suatu hari duduk di rumah Abu Bakar pada waktu siang yang panas. Maka seseorang berkata kepada Abu Bakar: Ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan menutup wajah pada waktu yang biasanya tidak datang kepada kami. Maka Abu Bakar berkata: Tebusan untuknya ayah dan ibuku, demi Allah tidaklah ia datang pada waktu ini kecuali karena suatu urusan. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang dan meminta izin lalu diizinkan, maka ia masuk. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Keluarkan orang yang ada di sisimu. Maka Abu Bakar berkata: Sesungguhnya mereka hanya keluargamu, dengan ayahku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Sesungguhnya telah diizinkan bagiku untuk keluar. Maka Abu Bakar berkata: Persahabatan, dengan ayah dan ibuku sebagai tebusan untukmu. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Ya. Abu Bakar berkata: Maka ambillah, dengan ayahku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, salah satu dari dua untaku ini. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Dengan harga. Aisyah berkata: Maka kami mempersiapkan untuk mereka berdua persiapan yang sangat cepat, dan kami membuat untuk mereka berdua bekal dalam kantong. Maka Asma binti Abu Bakar memotong sepotong dari ikat pinggangnya, lalu ia mengikat dengannya pada mulut kantong, karena itu ia disebut Dzat An-Nithaqain (yang memiliki dua ikat pinggang). Ia berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar pergi ke gua di Gunung Tsur, dan mereka berdua tinggal di dalamnya selama tiga malam. Abdullah bin Abu Bakar bermalam bersama mereka berdua, ia adalah pemuda yang cerdas dan cerdik. Ia berangkat dari tempat mereka berdua menjelang subuh, lalu pagi harinya ia berada bersama Quraisy di Makkah seolah-olah ia bermalam di sana. Ia tidak mendengar suatu urusan yang mereka rencanakan terhadap mereka berdua kecuali ia mengingatnya, hingga ia datang kepada mereka berdua dengan berita itu ketika gelap mulai bercampur. Dan Amir bin Fuhairah budak Abu Bakar menggembalakan kambing untuk mereka berdua, lalu ia membawanya kepada mereka berdua ketika sebagian malam telah berlalu, maka mereka berdua bermalam dalam ketenangan—yaitu susu dari kambing mereka berdua dan makanan mereka berdua—hingga Amir bin Fuhairah menggiringnya pada waktu fajar, ia melakukan itu pada setiap malam dari tiga malam tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar mempekerjakan seorang laki-laki dari Bani Ad-Dil, yaitu dari Bani Abd bin Adi sebagai penunjuk jalan yang ahli—dan kharrit adalah yang mahir dalam menunjukkan jalan—ia telah mengucapkan sumpah setia dengan keluarga Al-Ash bin Wail As-Sahmi, dan ia menganut agama orang-orang kafir Quraisy, maka mereka berdua mempercayainya dan menyerahkan kepada ia dua unta mereka berdua, dan mereka berdua menjanjikannya di Gua Tsur setelah tiga malam, dengan dua unta mereka berdua pada pagi hari tiga malam kemudian. Amir bin Fuhairah dan penunjuk jalan pergi bersama mereka berdua, lalu ia membawa mereka melalui jalan pesisir.
Ibnu Syihab berkata: Telah mengabarkan kepadaku Abdurrahman bin Malik Al-Madlaji—ia adalah anak saudara Suraqah—bahwa ayahnya mengabarkan kepadanya, bahwa ia mendengar Suraqah bin Malik bin Ju’syum berkata: Datang kepada kami utusan orang-orang kafir Quraisy yang menjadikan untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar tebusan darah masing-masing dari mereka berdua bagi siapa yang membunuhnya atau menangkapnya. Ketika aku duduk di salah satu majelis dari majelis kaumku Bani Mudlij, tiba-tiba seorang laki-laki dari mereka datang hingga ia berdiri di hadapan kami sedang kami duduk. Maka ia berkata: Wahai Suraqah, sesungguhnya aku tadi melihat beberapa sosok hitam di pesisir, aku kira mereka adalah Muhammad dan teman-temannya. Suraqah berkata: Maka aku tahu bahwa mereka adalah mereka, tetapi aku berkata kepadanya: Sesungguhnya mereka bukan mereka, tetapi engkau melihat fulan dan fulan yang pergi dengan kita lihat. Kemudian aku tinggal di majelis itu sebentar, kemudian aku berdiri lalu masuk, maka aku memerintahkan budak perempuanku untuk mengeluarkan kudaku yang berada di belakang bukit lalu menahannya untukku. Aku mengambil tombakku, lalu aku keluar dari belakang rumah, maka aku menurunkan ujung tombakku ke tanah dan merendahkan bagian atasnya, hingga aku sampai ke kudaku lalu aku menungganginya, maka aku memacu kudaku mendekat kepadaku, hingga aku dekat dengan mereka. Maka kudaku tersandung dan aku jatuh darinya, lalu aku berdiri dan mengarahkan tanganku ke tempat anak panahku, maka aku mengeluarkan darinya anak panah azlam (untuk undian), lalu aku meminta petunjuk dengannya apakah aku akan mencelakai mereka atau tidak, maka keluarlah yang aku benci. Maka aku menunggangi kudaku—dan aku melanggar azlam—kudaku mendekat kepadaku, hingga ketika aku mendengar bacaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sedang ia tidak menoleh dan Abu Bakar sering menoleh, maka kedua kaki depan kudaku terbenam ke dalam tanah hingga sampai ke lututnya, lalu aku jatuh darinya, kemudian aku memarahi kudaku maka ia bangkit, tetapi hampir tidak bisa mengeluarkan kedua kakinya. Ketika ia berdiri tegak, tiba-tiba bekas kedua kakinya memunculkan debu yang menjulang ke langit seperti asap. Maka aku meminta petunjuk dengan azlam, maka keluarlah yang aku benci. Maka aku memanggil mereka dengan jaminan keamanan, lalu mereka berhenti. Aku menunggangi kudaku hingga aku datang kepada mereka, dan terlintas dalam hatiku ketika aku mengalami apa yang aku alami dari terhalangnya aku dari mereka bahwa urusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan menang. Maka aku berkata kepadanya: Sesungguhnya kaummu telah menjadikan tebusan darah untukmu. Dan aku mengabarkan kepada mereka berita tentang apa yang diinginkan orang-orang terhadap mereka, dan aku menawarkan kepada mereka bekal dan barang, tetapi mereka tidak meminta dariku dan tidak meminta kepadaku kecuali ia berkata: Sembunyikanlah berita tentang kami. Maka aku memintanya untuk menulis bagiku surat jaminan keamanan, maka ia memerintahkan Amir bin Fuhairah lalu ia menulis dalam sekeping kulit, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melanjutkan perjalanan.
Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari Abdurrahman bin Malik bin Ju’syum, dari ayahnya, dari pamannya Suraqah, maka ia menyebutkan kisah ini kecuali bahwa ia menyebutkan bahwa ia meminta petunjuk dengan azlam pertama kali ketika keluar dari rumahnya, maka keluarlah anak panah yang ia benci; jangan mencelakakannya. Dan ia menyebutkan bahwa kudanya tersandung empat kali, dan setiap kali itu ia meminta petunjuk dengan azlam dan keluar yang ia benci; jangan mencelakakannya, hingga ia memanggil mereka dengan jaminan keamanan dan meminta untuk dituliskan untuknya surat yang akan menjadi tanda antara dia dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia berkata: Maka ia menulis untukku surat pada tulang atau sekeping atau kain. Dan ia menyebutkan bahwa ia datang dengannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau berada di Al-Ji’ranah dalam perjalanan kembali beliau dari Thaif. Maka ia berkata kepadanya: Hari menepati janji dan kebaikan, mendekatlah. Maka aku mendekat kepadanya dan masuk Islam.
Ibn Hisyam berkata: Dia adalah Abdurrahman bin Harits bin Malik bin Ja’syam. Dan apa yang dikatakannya ini bagus.
Ketika Suraqah kembali, dia tidak menemui seorang pun dari para pengejarlainnya kecuali dia menyuruhnya pulang, dan berkata: “Kalian sudah cukup untuk arah ini.” Ketika jelas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah sampai ke Madinah, Suraqah mulai menceritakan kepada orang-orang apa yang dia lihat dan saksikan dari perkara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan apa yang terjadi dengan kudanya. Hal ini menjadi terkenal dari dirinya, sehingga para pemimpin Quraisy takut akan celaan atas mereka, dan mereka khawatir hal itu menjadi sebab untuk masuk Islamnya banyak orang dari mereka. Suraqah adalah pemimpin dan kepala Bani Mudlij. Maka Abu Jahal semoga Allah melaknatnya menulis kepada mereka:
Wahai Bani Mudlij, sesungguhnya aku takut orang bodoh kalian, Suraqah yang tersesat untuk menolong Muhammad. Kalian wajib (mengurusnya), jangan sampai dia memecah belah persatuan kalian, Maka kalian akan menjadi terpecah-pecah setelah kemuliaan dan kepemimpinan.
Dia (perawi) berkata: Maka Suraqah bin Malik menjawab Abu Jahal dalam perkataannya ini:
Wahai Abu Hakam, demi Allah, seandainya engkau menyaksikan, Urusan kudaku ketika kakinya terbenam, Engkau akan kagum dan tidak ragu bahwa Muhammad itu, Utusan dan bukti yang nyata, maka siapakah yang dapat melawannya. Hendaklah engkau menahan kaum dari (menyerang)nya, karena sesungguhnya aku, Menduga bagi kita akan ada hari yang akan tampak tanda-tandanya, Dengan perintah yang engkau inginkan kemenangan di dalamnya, karena sesungguhnya mereka, Dan seluruh manusia semuanya berdamai dengannya.
Al-Umawi menyebutkan syair ini dalam kitab Maghazi-nya dengan sanadnya dari Ibnu Ishaq.
Dan Abu Nu’aim telah meriwayatkannya dengan sanadnya melalui jalur Ziyad, dari Ibnu Ishaq, dan menambahkan dalam syair Abu Jahal semoga Allah melaknatnya, bait-bait yang mengandung kekufuran yang jelas.
Al-Bukhari berkata dengan sanadnya kepada Ibnu Syihab, lalu dia mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu Zubair dalam rombongan orang-orang Muslim yang merupakan pedagang yang kembali dari Syam, maka Zubair memberi pakaian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar pakaian-pakaian putih. Orang-orang Muslim di Madinah mendengar keberangkatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah, maka mereka pergi setiap pagi ke Harrah, lalu menunggu beliau hingga panas tengah hari membuat mereka kembali. Mereka pulang suatu hari setelah lama menunggu. Ketika mereka masuk ke rumah-rumah mereka, naiklah seorang laki-laki Yahudi ke atas benteng dari benteng-benteng mereka untuk suatu urusan yang ingin dilihatnya, lalu dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berpakaian putih yang bergerak bersama mereka dalam fatamorgana. Orang Yahudi itu tidak dapat menahan diri kecuali berkata dengan suara paling keras: “Wahai sekalian orang Arab, ini adalah keberuntungan kalian yang kalian tunggu!” Maka bangkitlah orang-orang Muslim mengambil senjata, lalu mereka menyambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di belakang Harrah. Beliau berbelok bersama mereka ke arah kanan, hingga turun bersama mereka di Bani Amr bin Auf, dan itu pada hari Senin bulan Rabi’ul Awwal. Abu Bakar berdiri untuk orang-orang dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk diam. Maka orang-orang Anshar yang datang yang belum pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai memberi salam kepada Abu Bakar, hingga matahari mengenai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Abu Bakar mendatangi beliau hingga dia menaunginya dengan selendangnya, maka orang-orang mengenali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Bani Amr bin Auf selama belasan malam, dan mendirikan masjid yang dibangun atas dasar takwa, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di dalamnya. Kemudian beliau mengendarai untanya, dan berjalan bersamanya orang-orang, hingga (untanya) berhenti di dekat masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Pada hari itu ada beberapa orang dari kaum muslimin yang shalat di dalamnya. Dan itu adalah tempat jemur kurma milik Suhail dan Sahl, dua anak yatim dalam asuhan As’ad bin Zurarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika untanya berhenti di situ: “Ini insya Allah tempat turun.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil kedua anak itu lalu menawar tempat jemur itu untuk dijadikan masjid. Keduanya berkata: “Bahkan kami hibahkan untukmu wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak menerimanya sebagai hibah dari keduanya, hingga beliau membelinya dari keduanya, kemudian membangunnya sebagai masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai memindahkan bersama mereka batu bata dalam bangunannya, dan berkata sambil memindahkan batu bata:
“Ini beban bukan beban Khaibar, Ini lebih berbakti kepada Rabb kami dan lebih suci.”
Dan berkata:
“Ya Allah, sesungguhnya pahala adalah pahala akhirat, Maka rahmati Anshar dan Muhajirin.”
Maka beliau mengutip syair seorang laki-laki dari kaum muslimin yang tidak disebutkan namanya kepadaku. Ibnu Syihab berkata: Dan tidak sampai kepada kami dalam hadits-hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutip bait syair lengkap selain bait-bait ini. Ini adalah lafazh Al-Bukhari, dan dia menyendiri dalam meriwayatkannya tanpa Muslim. Dan ada pendukung-pendukungnya dari jalur-jalur lain. Dan di dalamnya tidak ada kisah Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyyah. Mari kita sebutkan di sini apa yang sesuai dengan itu secara berurutan satu per satu.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Amr bin Muhammad Abu Sa’id Al-Anqazi, telah menceritakan kepada kami Isra’il, dari Abu Ishaq, dari Bara’ bin Azib, dia berkata: Abu Bakar membeli dari Azib sebuah pelana dengan tiga belas dirham. Maka Abu Bakar berkata kepada Azib: “Suruhlah Bara’ untuk membawanya ke rumahku.” Dia berkata: “Tidak, hingga engkau menceritakan kepada kami bagaimana engkau berbuat ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan engkau bersamanya.” Maka Abu Bakar berkata: “Kami keluar lalu kami berjalan malam dan bersungguh-sungguh sepanjang hari dan malam kami hingga kami muncul (ke tempat terbuka), dan tengah hari pun tiba. Aku mencari dengan pandanganku apakah aku melihat naungan yang dapat kami berlindung kepadanya, lalu aku (menemukan) sebuah batu besar, maka aku menuju ke sana, ternyata masih ada sisa naungannya. Aku meratakan naungan itu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menggelar untuknya sehelai kulit, dan aku berkata: ‘Berbaringlah wahai Rasulullah.’ Maka beliau berbaring, kemudian aku keluar melihat apakah aku melihat seseorang dari para pengejarlainnya. Tiba-tiba aku bertemu dengan seorang penggembala kambing. Aku berkata: ‘Milik siapa engkau wahai anak muda?’ Dia berkata: ‘Milik seorang laki-laki dari Quraisy.’ Lalu dia menyebutkan namanya dan aku mengenalinya. Aku berkata: ‘Apakah dalam kambingmu ada susu?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Aku berkata: ‘Apakah engkau mau memerah untukku?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Maka aku menyuruhnya lalu dia mengikat seekor kambing dari kambingnya, kemudian aku menyuruhnya lalu dia membersihkan susunya dari debu, kemudian aku menyuruhnya lalu dia membersihkan kedua telapak tangannya dari debu. Dan bersamaku ada tempat air yang pada mulutnya ada kain. Dia memerah untukku segumpal susu, lalu aku menuangkan – yaitu air – ke atas gelas hingga bagian bawahnya dingin, kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku menemuinya dan beliau sudah bangun. Aku berkata: ‘Minumlah wahai Rasulullah.’ Maka beliau minum hingga aku puas. Kemudian aku berkata: ‘Apakah sudah tiba waktunya berangkat?’ Maka kami berangkat dan orang-orang mencari kami. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ja’syam dengan kudanya. Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, ini pengejarlainnya sudah menyusul kita.’ Beliau berkata: ‘Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Hingga ketika dia mendekat kepada kami dan jarak antara kami dengannya seukuran satu tombak atau dua tombak – atau dia berkata dua tombak atau tiga – aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, ini pengejarlainnya sudah menyusul kita.’ Dan aku menangis. Beliau berkata: ‘Mengapa engkau menangis?’ Dia berkata: Aku berkata: ‘Adapun demi Allah bukan untuk diriku sendiri aku menangis, tetapi aku menangis untuk engkau.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah atasnya, lalu berkata: ‘Ya Allah, cukupkanlah kami darinya dengan apa yang Engkau kehendaki.’ Maka terbenam kaki-kaki kudanya hingga ke perutnya di tanah keras, dan dia melompat darinya. Dia berkata: ‘Wahai Muhammad, sungguh aku tahu bahwa ini adalah perbuatanmu, maka berdoalah kepada Allah agar menyelamatkanku dari apa yang aku alami ini. Demi Allah, aku akan menyembunyikan orang-orang yang di belakangku dari pengejarlainnya. Dan ini tabung panahku, maka ambillah darinya sebuah anak panah. Sesungguhnya engkau akan melewati unta dan kambingku di tempat begini dan begini, maka ambillah darinya keperluanmu.’ Dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Aku tidak memerlukan itu.’ Dia berkata: Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuknya maka dia terlepas dan kembali kepada sahabat-sahabatnya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan dan aku bersamanya hingga kami tiba di Madinah. Orang-orang menyambutnya, mereka keluar di jalan-jalan dan di atas atap-atap rumah, dan pelayan-pelayan dan anak-anak berlarian di jalan sambil berkata: ‘Allahu Akbar, Rasulullah telah datang, Muhammad telah datang.’ Dia berkata: Dan orang-orang berlomba-lomba siapa yang akan ditumpangi oleh beliau. Dia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Aku akan menginap malam ini di Bani Najjar, paman-paman Abdul Muththalib, untuk menghormat mereka dengan itu.’ Ketika pagi hari, beliau pergi ke tempat yang diperintahkan. Bara’ berkata: “Orang pertama yang datang kepada kami dari Muhajirin adalah Mush’ab bin Umair saudara Bani Abdul Dar, kemudian datang kepada kami Ibnu Ummi Maktum yang buta, salah satu dari Bani Fahr, kemudian datang kepada kami Umar bin Khattab dengan dua puluh pengendara. Kami berkata: ‘Apa yang dilakukan Rasulullah?’ Dia berkata: ‘Beliau di belakangku.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan Abu Bakar bersamanya.” Bara’ berkata: “Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak datang hingga aku sudah membaca beberapa surah dari Al-Mufashshal.” Keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dalam Shahihain dari hadits Isra’il tanpa perkataan Bara’: “Orang pertama yang datang kepada kami…” dan seterusnya. Muslim menyendiri meriwayatkannya, lalu dia meriwayatkannya dari jalur Isra’il dengannya.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di gua itu tiga hari dan bersamanya Abu Bakar. Quraisy menjadikan bagi siapa yang mengembalikan beliau kepada mereka seratus ekor unta ketika mereka kehilangan beliau. Ketika berlalu tiga hari dan orang-orang sudah tenang dari mereka berdua, datanglah kepada mereka berdua orang yang mereka sewa dengan kedua unta mereka dan seekor unta miliknya, dan Asma’ binti Abu Bakar datang kepada mereka dengan bekal mereka. Dia lupa untuk membuatkan tali untuknya. Ketika mereka akan berangkat, dia hendak menggantung bekal itu, ternyata tidak ada talinya. Maka dia melepas ikat pinggangnya lalu menjadikannya tali, kemudian menggantungnya dengannya. Maka dia dinamakan Dzatun Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang) karena hal itu.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika Abu Bakar mendekatkan kedua unta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia mendahulukan kepadanya yang paling baik dari keduanya, kemudian berkata: “Naiklah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya aku tidak menunggangi unta yang bukan milikku.” Dia berkata: “Maka ini untukmu wahai Rasulullah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.” Beliau berkata: “Tidak, tetapi berapa harganya yang engkau beli dengannya?” Dia berkata: “Begini dan begini.” Beliau berkata: “Aku ambil unta itu dengan harga itu.” Dia berkata: “Itu untukmu wahai Rasulullah.”
Al-Waqidi meriwayatkan dengan sanad-sanadnya bahwa beliau ‘alaihis salam mengambil Al-Qashwa’. Dia berkata: Dan Abu Bakar membelinya dengan harga delapan ratus dirham. Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Abu Usamah, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah, dia berkata: Dan dia adalah Al-Jadh’a’. Demikianlah As-Suhaili mengutip dari Ibnu Ishaq bahwa dia adalah Al-Jadh’a’. Wallahu a’lam. Ibnu Ishaq berkata: Maka mereka berdua menunggangi dan berangkat, dan Abu Bakar membonceng Amir bin Fuhairah, budaknya, di belakangnya untuk melayani mereka dalam perjalanan. Aku telah diberi tahu dari Asma’ bahwa dia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar keluar, beberapa orang dari Quraisy datang kepada kami, di antara mereka Abu Jahal, lalu dia menyebutkan tamparan pada pipinya yang membuat anting-antingnya jatuh dari telinganya sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Dia berkata: “Kami tinggal tiga malam tidak tahu kemana arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga datanglah seorang laki-laki dari jin dari bagian bawah Makkah yang bernyanyi dengan bait-bait dari syair dengan lagu orang Arab. Dan orang-orang mengikutinya, mendengar suaranya dan mereka tidak melihatnya, hingga dia keluar dari bagian atas Makkah sambil berkata:
Semoga Allah Rabb manusia membalas dengan sebaik-baik balasan, Dua sahabat yang singgah di tenda Ummu Ma’bad. Mereka berdua singgah dengan kebaikan kemudian berangkat, Maka beruntunglah orang yang menjadi teman Muhammad di sore hari. Semoga menggembirakan Bani Ka’b tempat gadis mereka, Dan tempat duduknya bagi orang-orang beriman sebagai tempat pengintaian.
Asma’ berkata: “Ketika kami mendengar perkataannya, kami tahu kemana arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa arahnya ke Madinah.”
Ibnu Ishaq berkata: Dan mereka berempat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Amir bin Fuhairah budak Abu Bakar, dan Abdullah bin Arqad. Demikian Ibnu Ishaq mengatakan, dan yang terkenal adalah Abdullah bin Urayqith Ad-Du’ali. Dan dia pada waktu itu masih musyrik.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika pemandu mereka, Abdullah bin Arqad, membawa keduanya keluar, ia membawa mereka melalui bagian bawah Mekah, kemudian melanjutkan perjalanan bersama mereka di sepanjang pantai hingga menyeberangi jalan di bawah Usfan, kemudian membawa mereka melalui bagian bawah Amaj, kemudian menyeberang bersama mereka hingga menyeberangi jalan setelah melewati Qudaid, kemudian membawa mereka dari tempat itu dan melalui Kharrar, kemudian melewati Tsaniyah al-Marrah bersama mereka, kemudian membawa mereka melalui Laqfa, kemudian melewati Madlajah Laqf bersama mereka, kemudian membawa mereka masuk ke Madlajah Majaj, kemudian membawa mereka melalui Marjih Majaj, kemudian membawa mereka masuk ke Marjih dari Dzi al-Ghadwain, kemudian lembah Dzi Kisyr, kemudian membawa mereka ke Jadajid, kemudian ke al-Ajrad, kemudian membawa mereka melalui Dza Salam dari lembah A’da Madlajah Ta’hun, kemudian ke al-Ababid, kemudian melewati al-Qahah bersama mereka, kemudian turun bersama mereka ke al-Arj, dan beberapa tunggangan mereka terlambat tiba, maka seorang laki-laki dari suku Aslam yang bernama Aus bin Hajar meminjamkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seekor unta yang bernama Ibnu ar-Rada untuk dibawa ke Madinah, dan beliau mengirim bersamanya seorang budaknya yang bernama Mas’ud bin Hunaidah, kemudian pemandu mereka membawa mereka keluar dari al-Arj, lalu membawa mereka melalui Tsaniyah al-A’ir di sebelah kanan Rukubah – dan dikatakan: Tsaniyah al-Ga’ir menurut perkataan Ibnu Hisyam – hingga turun bersama mereka ke lembah Raim, kemudian membawa mereka ke Quba kepada Bani Amr bin Auf pada dua belas malam berlalu dari bulan Rabiul Awal hari Senin, ketika pagi telah terik dan matahari hampir tegak lurus.
Abu Nu’aim telah meriwayatkan melalui jalur al-Waqidi sesuatu yang mirip dengan penyebutan tempat-tempat ini dan berbeda dengannya dalam beberapa hal. Dan Allah lebih mengetahui.
Abu Nu’aim berkata: Abu Hamid bin Jablah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq yaitu as-Sarraj menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abbad bin Musa al-Ajli menceritakan kepada kami, saudaraku Musa bin Abbad menceritakan kepadaku, Abdullah bin Sayar menceritakan kepadaku, Iyas bin Malik bin al-Aus al-Aslami menceritakan kepadaku, dari ayahnya, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar hijrah, mereka melewati unta-unta kami di al-Juhfah, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Milik siapa unta-unta ini?” Mereka menjawab: Milik seorang laki-laki dari suku Aslam. Maka beliau menoleh kepada Abu Bakar dan berkata: “Selamat insya Allah.” Kemudian berkata: “Siapa namamu?” Ia menjawab: Mas’ud. Maka beliau menoleh kepada Abu Bakar dan berkata: “Beruntung insya Allah.” Ia berkata: Maka ayahku datang kepadanya dan meminjamkan kepadanya seekor unta yang bernama Ibnu ar-Rada.
Saya katakan: Telah disebutkan sebelumnya dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar dari Mekah pada hari Senin, dan masuk Madinah pada hari Senin. Dan yang jelas bahwa antara keluarnya beliau alaihi salam dari Mekah dan masuknya ke Madinah adalah lima belas hari; karena beliau tinggal di gua Tsaur selama tiga hari, kemudian melalui jalan pantai, yang lebih jauh dari jalan biasa, dan dalam perjalanannya melewati Ummu Ma’bad binti Ka’ab dari Bani Ka’ab bin Khuzaah, demikian kata Ibnu Hisyam. Dan Yunus berkata, dari Ibnu Ishaq: Namanya adalah Atikah binti Khalid bin Munqidz bin Rabi’ah bin Ashram. Dan al-Umawi berkata: Ia adalah Atikah binti Tabi’ sekutu Bani Munqidz bin Rabi’ah bin Ashram bin Dubais bin Haram bin Habsyiyah bin Ka’ab bin Amr, dan wanita ini memiliki anak-anak yaitu Ma’bad, Nadrah, dan Hunaidah, putra-putra Abu Ma’bad, yang namanya adalah Aktsam bin Abdul Uzza bin Munqidz bin Rabi’ah bin Ashram bin Dubais, dan kisahnya terkenal diriwayatkan dari berbagai jalur yang saling menguatkan satu sama lain.
Dan ini adalah kisah Ummu Ma’bad al-Khuzaiyyah: Yunus berkata dari Ibnu Ishaq, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam singgah di kemah Ummu Ma’bad, yang namanya adalah Atikah binti Khalid bin Munqidz bin Rabi’ah bin Ashram, mereka menginginkan jamuan, maka ia berkata: Demi Allah tidak ada makanan di sisi kami dan tidak ada kambing perah bagi kami, tidak ada kambing kami kecuali yang mandul. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta salah satu kambingnya, lalu mengusap ambing kambingnya dengan tangannya, dan berdoa kepada Allah dan memerah susu ke dalam wadah hingga berbusa, dan berkata: “Minumlah wahai Ummu Ma’bad.” Maka ia berkata: Minumlah karena engkau lebih berhak dengannya. Maka beliau mengembalikannya kepadanya lalu ia minum, kemudian meminta kambing mandul yang lain, lalu melakukan hal yang sama dengannya, maka beliau meminumnya, kemudian meminta kambing mandul yang lain, lalu melakukan hal yang sama dengannya maka memberi minum pemandunya, kemudian meminta kambing mandul yang lain lalu melakukan hal yang sama dengannya maka memberi minum Amir, kemudian berangkat di sore hari, dan kaum Quraisy mencari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga sampai ke Ummu Ma’bad, lalu mereka bertanya tentang beliau, mereka berkata: Apakah engkau melihat Muhammad? Dari ciri-cirinya begini dan begini, maka mereka mendeskripsikan beliau kepadanya, maka ia berkata: Saya tidak tahu apa yang kalian katakan, yang jelas telah singgah padaku seseorang yang dapat memerah susu kambing mandul, kaum Quraisy berkata: Itulah orang yang kami cari.
Al-Hafizh Abu Bakar al-Bazzar berkata: Muhammad bin Mu’ammar menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Muhammad menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Uqbah bin Abdurrahman bin Jabir bin Abdullah menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Jabir, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar keluar berhijrah lalu masuk ke gua, ternyata di gua itu ada lubang, maka Abu Bakar menutupnya dengan tumitnya hingga pagi; karena takut keluar sesuatu darinya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka mereka berdua tinggal di gua itu selama tiga malam, kemudian keluar hingga singgah di kemah-kemah Ummu Ma’bad, maka Ummu Ma’bad mengirim kepadanya: Sesungguhnya saya melihat wajah-wajah yang bagus, dan sesungguhnya kaum lebih mampu untuk memuliakan kalian daripada saya. Ketika mereka berada di sisinya di sore hari, ia mengirim bersama anaknya yang masih kecil dengan pisau dan seekor kambing, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Kembalikan pisaunya dan bawakan aku faraq.” – yaitu wadah – maka ia mengirim kepadanya bahwa tidak ada susu padanya dan tidak ada anaknya. Beliau berkata: “Bawakan aku faraq.” Maka ia datang dengan faraq lalu beliau memukul punggungnya maka ia memamah biak dan mengeluarkan susu, maka beliau memerah hingga memenuhi wadah, lalu minum dan memberi minum Abu Bakar, kemudian memerah lalu mengirimnya kepada Ummu Ma’bad, kemudian al-Bazzar berkata: Kami tidak mengetahuinya diriwayatkan kecuali dengan sanad ini, dan Abdurrahman bin Uqbah kami tidak mengetahui ada yang meriwayatkan hadits darinya kecuali Ya’qub bin Muhammad, meskipun ia dikenal dalam nasab.
Al-Hafizh al-Baihaqi meriwayatkan dari hadits Yahya bin Zakariya bin Abi Zaidah, Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin al-Ashbahani menceritakan kepada kami, saya mendengar Abdurrahman bin Abi Laila, menceritakan dari Abu Bakar ash-Shiddiq, ia berkata: Saya keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Mekah lalu kami sampai ke salah satu perkampungan Arab, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat ke sebuah rumah yang menyendiri, lalu menuju ke sana, ketika kami turun tidak ada di dalamnya kecuali seorang wanita, maka ia berkata: Wahai hamba Allah, sesungguhnya saya hanya seorang wanita dan tidak ada bersamaku seorang pun, maka pergilah kalian berdua kepada kepala kaum jika kalian menginginkan jamuan. Ia berkata: Maka beliau tidak menjawabnya, dan itu pada waktu sore, lalu datang seorang anak laki-lakinya menggiring kambing-kambingnya, maka ia berkata: Wahai anakku pergilah dengan kambing ini dan pisau ke dua orang laki-laki ini, lalu katakan kepada mereka: Ibuku berkata kepada kalian: Sembelihlah ini dan makanlah serta berilah kami makan. Ketika ia datang, Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Pergilah dengan pisaunya dan bawakan aku wadah.” Ia berkata: Sesungguhnya ia telah pergi jauh dan tidak ada susu padanya. Beliau berkata: “Pergilah.” Maka ia datang dengan wadah lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam mengusap ambingnya kemudian memerah hingga memenuhi wadah, kemudian berkata: “Pergilah dengannya kepada ibumu.” Maka ia minum hingga kenyang, kemudian datang dengannya, lalu berkata: “Pergilah dengan ini dan bawakan aku yang lain.” Maka beliau melakukan hal yang sama dengannya, kemudian memberi minum Abu Bakar, kemudian datang dengan yang lain maka beliau melakukan hal yang sama dengannya, kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam minum, maka kami bermalam di malam kami kemudian berangkat, maka ia menamai beliau orang yang memberkahi, dan kambing-kambingnya bertambah banyak hingga ia membawa rombongan ke Madinah, maka Abu Bakar melewatinya lalu anaknya melihatnya dan mengenalinya, maka ia berkata: Wahai ibuku, ini adalah orang yang bersama orang yang memberkahi. Maka ia berdiri kepadanya lalu berkata: Wahai hamba Allah, siapakah orang yang bersamamu? Ia berkata: Atau engkau tidak tahu siapa dia! Ia berkata: Tidak. Ia berkata: Dia adalah Nabi Allah. Ia berkata: Maka masukkanlah aku kepadanya. Ia berkata: Maka ia memasukkannya lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberinya makan dan memberinya – Ibnu Abdan menambahkan dalam riwayatnya – ia berkata: Maka tunjukkanlah aku kepadanya lalu aku pergi bersamanya, dan ia memberikan hadiah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sesuatu dari keju kering dan perbekalan orang Arab. Ia berkata: Maka beliau memberinya pakaian dan memberinya. Ia berkata: Dan saya tidak mengetahuinya kecuali ia berkata: Dan ia masuk Islam. Sanadnya hasan. Dan al-Baihaqi berkata: Kisah ini mirip dengan kisah Ummu Ma’bad, dan yang jelas bahwa itu adalah dia. Dan Allah lebih mengetahui.
Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah al-Hafizh dan Abu Bakar Ahmad bin al-Hasan al-Qadhi mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abul Abbas al-Asham menceritakan kepada kami, al-Hasan bin Mukrim menceritakan kepada kami, Abu Ahmad Bisyr bin Muhammad as-Sukri menceritakan kepadaku, Abdul Malik bin Wahb al-Madzhaji menceritakan kepada kami, al-Hurr bin ash-Shiyah menceritakan kepada kami, dari Abu Ma’bad al-Khuzai, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar pada malam beliau hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau dan Abu Bakar, dan Amir bin Fuhairah budak Abu Bakar, dan pemandu mereka Abdullah bin Uraiqith al-Laitsi, maka mereka melewati dua kemah Ummu Ma’bad al-Khuzaiyyah, dan Ummu Ma’bad adalah seorang wanita yang menonjol, kuat, duduk bersila dan duduk di halaman kemah, lalu memberi makan dan memberi minum, maka mereka bertanya kepadanya apakah di sisinya ada daging atau susu yang mereka beli darinya? Maka mereka tidak mendapatkan sesuatu pun dari itu di sisinya. Dan ia berkata: Seandainya ada sesuatu di sisi kami, jamuan tidak akan terlewatkan oleh kalian. Dan ternyata kaum itu kehabisan bekal dan mengalami kekeringan, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat, ternyata ada seekor kambing di sudut kemahnya, maka beliau berkata: “Apa kambing ini wahai Ummu Ma’bad?” Maka ia berkata: Kambing yang ditinggalkan kesusahan dari kawanan. Beliau berkata: “Apakah padanya ada susu?” Ia berkata: Ia lebih susah dari itu. Beliau berkata: “Apakah engkau mengizinkanku untuk memerahnya.” Ia berkata: Jika padanya ada susu perah maka perahlah. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta kambing itu lalu mengusapnya, dan menyebut nama Allah dan mengusap ambingnya, dan menyebut nama Allah dan berdoa dengan wadah untuknya yang cukup untuk beberapa orang, maka ia mengembang dan memamah biak, maka beliau memerah ke dalamnya dengan deras, hingga di atasnya ada buih, maka memberinya minum dan memberi minum sahabat-sahabatnya, lalu mereka minum minum kedua setelah minum pertama, hingga ketika mereka kenyang beliau minum terakhir, dan berkata: “Orang yang memberi minum kaum adalah yang terakhir dari mereka.” Kemudian memerah ke dalamnya yang kedua kembali seperti semula, maka meninggalkannya di sisinya, kemudian mereka berangkat, ia berkata: Tidak lama kemudian datang suaminya Abu Ma’bad menggiring kambing-kambing kurus yang lemah, kurus kering tidak ada sumsum padanya, susunya sedikit, ketika ia melihat susu itu heran, dan berkata: Dari mana susu ini wahai Ummu Ma’bad, padahal tidak ada kambing perah di rumah dan kambing-kambing pergi jauh? Maka ia berkata: Tidak demi Allah, sesungguhnya telah melewati kami seorang laki-laki yang memberkahi, adalah dari ceritanya begini dan begini. Maka ia berkata: Deskripsikan dia untukku, maka demi Allah sesungguhnya saya melihatnya adalah orang Quraisy yang mereka cari. Maka ia berkata: Saya melihat seorang laki-laki yang jelas kecemerlangan wajahnya, bagus akhlaknya, tampan wajahnya, tidak cacat oleh kegemukan, dan tidak rusak oleh kekurusan, tampan dan gagah, di matanya kehitaman, dan di bulu matanya panjang, dan di suaranya suara yang bagus, bermata hitam, hitam kelopak matanya, alis melengkung, alis bersambung, di lehernya panjang, dan di janggutnya lebat, jika diam maka padanya wibawa, dan jika berbicara maka tinggi dan padanya kecemerlangan, manis ucapannya, tegas; tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, seakan-akan ucapannya manik-manik tersusun mengalir, orang yang paling tampan dan paling bagus dari jauh, dan paling manis dan paling bagus dari dekat, sedang tingginya, tidak dibenci mata karena tinggi, dan tidak diremehkan mata karena pendek, dahan di antara dua dahan, maka dia yang paling segar dari ketiganya penampilannya, dan paling bagus dari mereka perawakannya, dia memiliki sahabat-sahabat yang mengelilinginya, jika dia berkata mereka mendengarkan perkataannya, dan jika dia memerintah mereka bergegas untuk perintahnya, dilayani dan dikelilingi, tidak cemberut dan tidak mengada-ada. Maka ia berkata – yaitu suaminya -: Ini demi Allah adalah orang Quraisy yang mereka cari, dan seandainya saya bertemu dengannya maka saya akan berusaha untuk menyertainya, dan sungguh saya akan bersungguh-sungguh jika saya mendapatkan jalan ke itu. Ia berkata: Dan pagi hari terdengar suara di Mekah tinggi antara langit dan bumi, mereka mendengarnya dan tidak melihat siapa yang mengatakannya, dan dia berkata:
Semoga Allah Tuhan manusia membalas dengan sebaik-baik balasan Dua sahabat yang singgah di kemah Ummu Ma’bad Keduanya turun dengan kebajikan dan berangkat dengannya Maka beruntunglah orang yang menjadi sahabat Muhammad di sore hari Maka wahai keturunan Qushay apa yang Allah singkirkan dari kalian Dengan itu dari perbuatan yang tidak dapat ditandingi dan kemuliaan Tanyakan kepada saudari kalian tentang kambingnya dan wadahnya Maka sesungguhnya kalian jika bertanya kepada kambing ia akan bersaksi Beliau memintanya dengan kambing mandul maka ia diperah Untuknya dengan jernih ambing kambing yang berbusa Maka meninggalkannya sebagai jaminan di sisinya untuk pemerah Yang mengalirkan untuknya di tempat keluar kemudian tempat masuk
Ia berkata: Dan orang-orang pagi hari – yaitu di Mekah – sedangkan mereka telah kehilangan nabi mereka, maka mereka pergi ke dua kemah Ummu Ma’bad, hingga menyusul Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia berkata: Dan Hassan bin Tsabit menjawabnya:
Sungguh merugilah kaum yang hilang dari mereka nabi mereka Dan suci orang yang berjalan kepada mereka di malam dan pagi hari Berangkat dari suatu kaum maka hilang akal mereka Dan turun kepada suatu kaum dengan cahaya yang diperbarui Dan apakah sama kesesatan kaum yang bodoh Buta dan para pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk dengan yang diberi petunjuk Nabi yang melihat apa yang tidak dilihat manusia di sekitarnya Dan membaca Kitab Allah di setiap tempat Dan jika dia berkata dalam suatu hari perkataan tentang yang gaib Maka pembenaran perkataan itu pada hari itu atau di pagi harinya Semoga beruntung Abu Bakar dengan keberuntungan kakeknya Dengan persahabatannya dengan orang yang diberi keberuntungan oleh Allah maka dia beruntung Dan semoga beruntung Bani Ka’ab dengan tempat gadis mereka Dan tempat duduknya untuk kaum muslimin di tempat yang baik
Abdulmalik bin Wahab berkata: “Maka telah sampai kepadaku bahwa Abu Ma’bad masuk Islam dan berhijrah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Demikian pula diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Nu’aim, dari jalur Abdulmalik bin Wahab Al-Madzhaji, lalu ia menyebutkan seperti itu juga, dan ia menambahkan di akhirnya: Abdulmalik berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa Umm Ma’bad berhijrah dan masuk Islam serta menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Kemudian Abu Nu’aim meriwayatkannya dari beberapa jalur, dari Mukarram bin Muharraz Al-Ka’bi Al-Khuza’i, dari ayahnya Muharraz bin Mahdi, dari Hazam bin Hisyam bin Hubaysy bin Khalid, dari ayahnya, dari kakeknya Hubaysy bin Khalid sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika keluar dari Makkah, beliau keluar darinya sebagai muhajir, bersama Abu Bakar, Amir bin Fuhairah, dan pemandu mereka Abdullah bin Ariqath Al-Laitsi, lalu mereka melewati kemah Umm Ma’bad, dan ia adalah seorang wanita yang tegas lagi tegap yang duduk di halaman kemah. Kemudian ia menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Ia berkata: Dan telah menceritakan kepada kami, menurut dugaanku, Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Makhlad, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yunus bin Musa yaitu Al-Kudaimi, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Yahya bin Abdul Aziz maula Al-Abbas bin Abdul Muththalib, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman bin Sulaif Al-Anshori, ayahku telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya Sulaif Al-Badri, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dalam hijrah dan bersamanya Abu Bakar, Amir bin Fuhairah, dan Ibnu Ariqath yang menunjukkan jalan kepada mereka, beliau melewati Umm Ma’bad Al-Khuza’iyyah, dan ia tidak mengenalnya, maka beliau bertanya kepadanya: “Wahai Umm Ma’bad, apakah engkau punya susu?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah, sesungguhnya kambing-kambing sedang jauh merumput.” Beliau bersabda: “Lalu kambing apa ini?” Ia menjawab: “Ia tertinggal karena lemah dari kawanan kambing.” Kemudian ia menyebutkan kelanjutan hadits tersebut seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Kemudian Al-Baihaqi berkata: Kemungkinan semua kisah ini adalah satu kejadian. Kemudian ia menyebutkan kisah yang mirip dengan kisah kambing Umm Ma’bad Al-Khuza’iyyah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafizh secara imla’, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Ishaq bin Ayyub, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ghalib, telah menceritakan kepada kami Abul Walid, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Iyad bin Laqith, telah menceritakan kepada kami Iyad bin Laqith, dari Qais bin An-Nu’man, ia berkata: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar pergi sembunyi-sembunyi, mereka melewati seorang budak yang menggembalakan kambing, lalu mereka memintanya untuk memberi susu, ia berkata: “Tidak ada padaku kambing yang bisa diperah kecuali ada seekor kambing muda yang hamil pada awal musim dingin, dan ia telah keguguran, dan tidak tersisa baginya susu.” Beliau bersabda: “Panggillah kambing itu.” Maka ia memanggilnya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memegang kakinya dan mengusap putingnya, dan berdoa hingga ia mengeluarkan susu, dan Abu Bakar datang membawa wadah, lalu beliau memerah dan memberi minum Abu Bakar, kemudian memerah dan memberi minum penggembala itu, kemudian memerah dan minum, maka penggembala itu berkata: “Demi Allah, siapakah engkau? Demi Allah aku tidak pernah melihat orang sepertimu.” Beliau bersabda: “Apakah engkau akan merahasiakan dariku sampai aku memberitahumu?” Ia berkata: “Ya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah Muhammad Rasulullah.” Maka ia berkata: “Apakah engkau orang yang disebut Quraisy sebagai Shabii?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka mengatakan demikian.” Ia berkata: “Maka aku bersaksi bahwa engkau adalah seorang nabi, dan aku bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah benar, dan sesungguhnya tidak akan melakukan apa yang engkau lakukan kecuali seorang nabi, dan aku akan mengikutimu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup melakukan itu pada hari ini, jika engkau mendengar bahwa aku telah menang maka datanglah kepada kami.” Dan Abu Ya’la Al-Maushili meriwayatkannya, dari Ja’far bin Humaid Al-Kufi, dari Ubaidullah bin Iyad bin Laqith dengannya.
Dan sungguh Abu Nu’aim menyebutkan di sini kisah Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Habib, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ashim, dari Zirr, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Aku adalah seorang pemuda yang menggembalakan kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aif di Makkah, lalu datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar, dan mereka telah melarikan diri dari orang-orang musyrik, lalu beliau bersabda: “Wahai pemuda, apakah engkau punya susu untuk memberi kami minum?” Maka aku berkata: “Sesungguhnya aku diberi amanah dan aku tidak akan memberi kalian minum.” Maka mereka berdua berkata: “Apakah engkau punya kambing muda yang belum dikawinkan oleh pejantan?” Aku berkata: “Ya.” Maka aku membawakan mereka berdua kambing itu, lalu Abu Bakar memegangnya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memegang putingnya, lalu beliau berdoa dan puting itu penuh dengan susu, dan Abu Bakar datang dengan batu yang berlubang lalu beliau memerah di dalamnya, kemudian beliau minum dan Abu Bakar minum dan mereka memberi aku minum, kemudian beliau bersabda kepada puting itu: “Keringlah.” Maka ia pun kering. Setelah itu aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku berkata: “Ajarkanlah kepadaku dari perkataan baik ini -yaitu Al-Quran-” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya engkau adalah pemuda yang pandai.” Maka aku mengambil dari mulut beliau tujuh puluh surat yang tidak ada seorang pun yang mempersengketakannya kepadaku. Maka perkataan beliau dalam riwayat ini: “Dan mereka telah melarikan diri dari orang-orang musyrik.” Bukan maksudnya pada waktu hijrah, tetapi itu dalam beberapa keadaan sebelum hijrah, karena Ibnu Mas’ud termasuk orang yang masuk Islam sejak awal, dan berhijrah ke Habasyah, dan kembali ke Makkah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan kisahnya ini shahih dan tetap dalam Shahih dan lainnya. Wallahu a’lam.
Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Mush’ab bin Abdullah, yaitu Az-Zubairi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Fa’id maula Abadil, ia berkata: Aku keluar bersama Ibrahim bin Abdurrahman bin Sa’d, hingga ketika kami berada di Al-Arj datang Ibnu Sa’d, dan Sa’d adalah orang yang menunjukkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jalan Rakubah, maka Ibrahim berkata: “Kabarkanlah kepadaku apa yang diceritakan ayahmu kepadamu?” Ibnu Sa’d berkata: Ayahku menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada mereka dan bersamanya Abu Bakar, dan Abu Bakar mempunyai seorang putri yang disusukan pada kami, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin memperpendek jalan menuju Madinah, maka Sa’d berkata kepadanya: “Ini adalah gua dari Rakubah dan di dalamnya ada dua perampok dari Aslam, yang disebut Al-Mahanan. Jika engkau mau, kita lewati mereka berdua.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bawalah kami melewati mereka berdua.” Sa’d berkata: “Maka kami keluar hingga ketika kami menghadap, tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata kepada temannya: ‘Ini orang Yamani.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil mereka berdua lalu menawarkan Islam kepada mereka berdua, maka mereka berdua masuk Islam, kemudian beliau bertanya kepada mereka berdua tentang nama mereka, maka mereka berkata: ‘Kami adalah Al-Mahanan.’ Beliau bersabda: ‘Bahkan kalian berdua adalah Al-Mukarraman.’ Dan beliau memerintahkan mereka berdua agar datang kepadanya di Madinah, maka kami keluar hingga ketika kami datang di luar Quba, maka Bani Amr bin Auf menyambutnya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Di mana Abu Umamah As’ad bin Zurarah?’ Maka Sa’d bin Khaitsamah berkata: ‘Sesungguhnya ia tertimpa penyakit, wahai Rasulullah, tidakkah aku kabarkan hal itu kepadanya?’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan hingga ketika beliau muncul di kebun kurma, tiba-tiba kolam penuh, maka Rasulullah menoleh kepada Abu Bakar, lalu bersabda: ‘Wahai Abu Bakar, inilah tempat yang aku lihat dalam mimpiku, aku turun ke kolam-kolam seperti kolam Bani Mudlij.'” Hanya Ahmad yang menyendiri meriwayatkannya.
Pasal tentang Kedatangan Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah dan Di Mana Beliau Menetap di Sana, serta Hal-Hal yang Berkaitan dengan Itu
Telah disebutkan sebelumnya dalam riwayat Al-Bukhari, dari Az-Zuhri, dari Urwah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Madinah pada waktu tengah hari.
Aku (penulis) berkata: Dan barangkali itu setelah tergelincir matahari; sebagaimana yang tetap dalam Shahihain dari hadits Isra’il, dari Abu Ishaq dari Al-Bara’ bin Azib, dari Abu Bakar, dalam hadits hijrah, ia berkata: “Maka kami datang pada malam hari, lalu orang-orang saling memperebutkan beliau, siapa di antara mereka yang akan beliau singgahi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Aku akan singgah pada Bani Najjar, paman-paman Abdul Muththalib, aku memuliakan mereka dengan itu.'” Dan ini, wallahu a’lam, bisa jadi pada hari kedatangan beliau ke Quba, maka ketika sampai dekat Madinah adalah pada panas tengah hari, dan beliau berhenti di bawah pohon kurma itu, kemudian berjalan bersama kaum muslimin lalu turun di Quba, dan itu pada malam hari, dan bahwasanya beliau menyebut waktu setelah tergelincir matahari sebagai malam, karena sore dimulai dari tergelincir matahari. Atau bisa jadi yang dimaksud dengan itu adalah ketika beliau berangkat dari Quba -sebagaimana akan datang- lalu berjalan dan beliau tidak sampai ke Bani Najjar kecuali pada waktu sore, sebagaimana akan datang penjelasannya, wallahu a’lam.
Dan Al-Bukhari menyebutkan, dari Az-Zuhri, dari Urwah, bahwasanya beliau singgah di Bani Amr bin Auf di Quba, dan tinggal di tengah-tengah mereka beberapa belas malam dan meletakkan dasar masjid Quba pada hari-hari itu, kemudian beliau berkendaraan dan bersama beliau kaum muslimin hingga untanya berhenti di tempat masjid beliau, dan itu adalah tempat jemur milik dua anak yatim, yaitu Sahl dan Suhail, maka beliau membelinya dari mereka berdua, dan menjadikannya masjid, dan itu di kediaman Bani Najjar radhiyallahu ‘anhum.
Dan Muhammad bin Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair, dari Urwah bin Az-Zubair, dari Abdurrahman bin Uwaim bin Sa’idah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku orang-orang dari kaumku dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berkata: Ketika sampai kepada kami berita keluarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah, dan kami menantikan kedatangannya, kami keluar setelah shalat Subuh ke luar bebatuan kami menanti-nanti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka demi Allah kami tidak beranjak hingga matahari mengalahkan kami atas naungan, maka jika kami tidak menemukan naungan kami masuk, dan itu pada hari-hari yang panas, hingga ketika hari di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, kami duduk sebagaimana biasa kami duduk, hingga ketika tidak tersisa naungan kami masuk rumah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ketika kami masuk rumah, maka orang pertama yang melihat beliau adalah seorang laki-laki dari kalangan Yahudi, maka ia berteriak dengan suara paling keras: “Wahai Bani Qailah, ini adalah keberuntungan kalian yang telah datang.” Maka kami keluar menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau berada di bawah naungan pohon kurma dan bersamanya Abu Bakar yang sebaya dengan beliau, dan kebanyakan kami tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum itu, dan orang-orang mengerumuni beliau dan mereka tidak mengenali beliau dari Abu Bakar, hingga naungan berpindah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Abu Bakar berdiri dan menaungi beliau dengan kainnya, maka kami mengenali beliau pada saat itu. Dan telah disebutkan sebelumnya yang serupa dengan itu dalam riwayat Al-Bukhari, demikian juga disebutkan Musa bin Uqbah dalam Maghazinya.
Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Sulaiman, dari Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Sesungguhnya aku berlari di antara anak-anak, mereka berkata: “Muhammad telah datang.” Maka aku berlari dan tidak melihat sesuatu, kemudian mereka berkata: “Muhammad telah datang.” Maka aku berlari dan tidak melihat sesuatu. Ia berkata: Hingga datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya Abu Bakar, maka mereka bersembunyi di sebagian bebatuan Madinah, kemudian mereka mengutus seorang laki-laki dari penduduk pedalaman untuk mengabarkan kepada Anshar, maka kira-kira lima ratus orang dari Anshar menyongsong mereka berdua, hingga mereka sampai kepada mereka berdua, lalu Anshar berkata: “Berjalanlah dengan aman dan ditaati.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya berjalan di tengah-tengah mereka, maka penduduk Madinah keluar hingga para gadis di atas rumah-rumah saling memandang beliau, mereka berkata: “Yang mana dia? Yang mana dia?” Maka kami tidak melihat pemandangan yang menyerupai hari itu. Anas berkata: “Maka sungguh aku melihat beliau pada hari beliau datang kepada kami dan hari beliau wafat, maka aku tidak melihat dua hari yang menyerupai keduanya.” Dan Al-Baihaqi meriwayatkannya, dari Al-Hakim, dari Al-Asham, dari Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani, dari Abu An-Nadhr Hasyim bin Al-Qasim, dari Sulaiman bin Al-Mughirah, dari Tsabit, dari Anas dengan semisal atau sepertinya.
Dan dalam Shahihain dari jalur Isra’il, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, dari Abu Bakar, dalam hadits hijrah, ia berkata: “Dan orang-orang keluar ketika kami datang ke Madinah di jalan-jalan dan di atas rumah-rumah, dan anak-anak dan para pembantu berkata: ‘Allahu Akbar, Rasulullah telah datang, Allahu Akbar, Muhammad telah datang, Allahu Akbar, Muhammad telah datang, Allahu Akbar, Rasulullah telah datang.’ Maka ketika pagi, beliau pergi ke tempat yang diperintahkan.”
Dan Al-Baihaqi berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Amr Al-Adib, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Isma’ili, aku mendengar Abu Khalifah berkata: Aku mendengar Ibnu ‘A’isyah berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, para wanita dan anak-anak berkata:
Telah terbit bulan purnama atas kami Dari Tsaniyyatul Wada’ Wajib syukur atas kami Selama ada yang berdoa kepada Allah
Muhammad bin Ishaq berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turun—menurut yang mereka sebutkan, yakni ketika beliau turun di Quba—di rumah Kultsum bin Al-Hadm, saudara Bani Amr bin Auf, kemudian salah seorang dari Bani Ubaid. Dan ada yang mengatakan: beliau turun di rumah Sa’d bin Khaitsamah. Mereka yang menyebut bahwa beliau turun di rumah Kultsum bin Al-Hadm mengatakan: sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika keluar dari rumah Kultsum bin Al-Hadm, beliau duduk menerima orang-orang di rumah Sa’d bin Khaitsamah. Hal itu karena ia seorang bujangan yang tidak memiliki keluarga, dan rumahnya disebut: rumah para bujangan. Dan Allah lebih mengetahui. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu turun di rumah Khubaib bin Isaf, salah seorang dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj di As-Sunh. Dan ada yang mengatakan: di rumah Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair, saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj.
Ibnu Ishaq berkata: Ali bin Abi Thalib tinggal di Mekah selama tiga malam dan harinya, hingga ia menunaikan amanat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa titipan-titipan yang ada pada beliau, kemudian menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu turun bersamanya di rumah Kultsum bin Al-Hadm. Ali bin Abi Thalib—dan ia hanya tinggal di Quba satu atau dua malam—berkata: Ada seorang perempuan di Quba yang tidak bersuami, muslimah, aku melihat seseorang mendatanginya di tengah malam, mengetuk pintunya lalu perempuan itu keluar menemuinya, ia memberikan sesuatu yang dibawanya lalu perempuan itu mengambilnya. Aku curiga dengan peristiwa itu lalu aku berkata kepadanya: Wahai hamba Allah, siapakah orang ini yang mengetuk pintumu setiap malam, lalu engkau keluar menemuinya dan ia memberikanmu sesuatu yang aku tidak tahu apa itu, sedangkan engkau seorang perempuan muslimah yang tidak bersuami? Ia menjawab: Dia adalah Sahl bin Hunaif, ia telah mengetahui bahwa aku perempuan yang tidak memiliki siapa-siapa, maka ketika sore hari ia pergi menghampiri berhala-berhala kaumnya lalu memecahkannya, kemudian datang kepadaku membawanya seraya berkata: jadikanlah ini sebagai kayu bakar. Ali radhiyallahu ‘anhu sangat mengingat hal itu tentang Sahl bin Hunaif ketika ia wafat di sisinya di Irak.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Quba pada Bani Amr bin Auf pada hari Senin, hari Selasa, hari Rabu, dan hari Kamis, dan beliau meletakkan dasar masjidnya, kemudian Allah mengeluarkan beliau dari tengah-tengah mereka pada hari Jumat. Bani Amr bin Auf mengklaim bahwa beliau tinggal pada mereka lebih lama dari itu.
Abdullah bin Idris berkata, dari Muhammad bin Ishaq, ia berkata: Bani Amr bin Auf mengklaim bahwa beliau ‘alaihi shalatu wassalam tinggal pada mereka selama delapan belas malam.
Penulis berkata: Telah disebutkan sebelumnya dalam riwayat yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dari jalur Az-Zuhri, dari Urwah, bahwa beliau ‘alaihi shalatu wassalam tinggal pada mereka beberapa belas malam.
Musa bin Uqbah menuturkan, dari Mujamma’ bin Yazid bin Jariyah, bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal pada kami—yakni pada Bani Amr bin Auf di Quba—selama dua puluh dua malam. Al-Waqidi berkata: Dan ada yang mengatakan: beliau tinggal pada mereka empat belas malam.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati hari Jumat pada Bani Salim bin Auf, maka beliau melaksanakan shalat Jumat di masjid yang berada di perut lembah, lembah Ranuna. Itulah shalat Jumat pertama yang beliau laksanakan di Madinah. Kemudian Itban bin Malik dan Abbas bin Ubadah bin Nadhlah datang bersama beberapa orang dari Bani Salim menemui beliau, mereka berkata: Wahai Rasulullah, tinggallah pada kami dalam jumlah, persediaan, dan perlindungan. Beliau berkata: “Biarkanlah dia, sesungguhnya dia diperintah.” Maksudnya untanya. Maka mereka membiarkannya. Unta itu melanjutkan perjalanan hingga ketika melewati rumah Bani Bayadhah, Ziyad bin Labid dan Farwah bin Amr menemui beliau bersama beberapa orang dari Bani Bayadhah, mereka berkata: Wahai Rasulullah, marilah kepada kami untuk mendapatkan jumlah, persediaan, dan perlindungan. Beliau berkata: “Biarkanlah dia, sesungguhnya dia diperintah.” Maka mereka membiarkannya. Unta itu melanjutkan perjalanan hingga ketika melewati rumah Bani Sa’idah, Sa’d bin Ubadah dan Al-Mundzir bin Amr menghadang beliau bersama beberapa orang dari Bani Sa’idah, mereka berkata: Wahai Rasulullah, marilah kepada kami untuk mendapatkan jumlah, persediaan, dan perlindungan. Beliau berkata: “Biarkanlah dia, sesungguhnya dia diperintah.” Maka mereka membiarkannya. Unta itu melanjutkan perjalanan hingga ketika melewati rumah Bani Al-Harits bin Al-Khazraj, Sa’d bin Ar-Rabi’, Kharijah bin Zaid, dan Abdullah bin Rawahah menghadang beliau bersama beberapa orang dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj, mereka berkata: Wahai Rasulullah, marilah kepada kami untuk mendapatkan jumlah, persediaan, dan perlindungan. Beliau berkata: “Biarkanlah dia, sesungguhnya dia diperintah.” Maka mereka membiarkannya. Unta itu melanjutkan perjalanan hingga ketika melewati rumah Adi bin An-Najjar—mereka adalah paman beliau dari pihak dunia, ibu Abdul Muththalib adalah Salma binti Amr, salah seorang dari perempuan mereka—Sulaithah bin Qais dan Abu Sulaithah Asirah bin Abi Kharijah menghadang beliau bersama beberapa orang dari Bani Adi bin An-Najjar, mereka berkata: Wahai Rasulullah, marilah kepada pamanmu, untuk mendapatkan jumlah, persediaan, dan perlindungan. Beliau berkata: “Biarkanlah dia, sesungguhnya dia diperintah.” Maka mereka membiarkannya. Unta itu melanjutkan perjalanan hingga ketika sampai di rumah Bani Malik bin An-Najjar, unta itu berhenti di depan pintu masjid beliau ‘alaihi shalatu wassalam, pada hari ini. Tempat itu pada waktu itu adalah tanah lapang untuk dua anak yatim dari Bani Malik bin An-Najjar, yaitu Sahl dan Suhail, kedua anak Amr, dan keduanya berada dalam asuhan Mu’adz bin Afra. Penulis berkata: Telah disebutkan sebelumnya dalam riwayat Al-Bukhari, dari jalur Az-Zuhri, dari Urwah, bahwa keduanya berada dalam asuhan As’ad bin Zurarah. Dan Allah lebih mengetahui.
Musa bin Uqbah menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati Abdullah bin Ubay bin Salul dalam perjalanannya dan ia berada di rumahnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti menunggu agar ia mengundangnya untuk singgah, dan ia pada waktu itu adalah pemimpin Khazraj menurut pandangan mereka. Abdullah berkata: Lihatlah siapa yang mengundangmu lalu singgahlah pada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan hal itu kepada beberapa orang Anshar, lalu Sa’d bin Ubadah berkata meminta maaf atas namanya: Sungguh Allah telah memberi karunia kepada kami dengan kehadiranmu wahai Rasulullah, dan sesungguhnya kami ingin meletakkan mahkota di kepalanya dan menjadikannya raja atas kami.
Musa bin Uqbah berkata: Kaum Anshar telah berkumpul sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat dari Bani Amr bin Auf, lalu mereka berjalan mengelilingi unta beliau, seorang di antara mereka terus berebut tali kendali unta dengan temannya karena sangat ingin memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengagungkan beliau. Setiap kali beliau melewati rumah dari rumah-rumah Anshar, mereka mengundang beliau untuk singgah, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Biarkanlah dia, sesungguhnya dia diperintah, dan aku akan turun di tempat yang Allah turunkan aku.” Ketika unta itu sampai di rumah Abu Ayyub, ia berhenti di pintu rumahnya. Maka beliau turun lalu masuk ke rumah Abu Ayyub, hingga beliau membangun masjid dan tempat tinggal beliau.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika unta itu berhenti dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atasnya, beliau tidak turun darinya, hingga unta itu bangkit lalu berjalan tidak terlalu jauh, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tali kendalinya tanpa menahannya. Kemudian unta itu menoleh ke belakangnya, lalu kembali ke tempat pertama ia berhenti. Ia berhenti di tempat itu, kemudian bergerak-gerak, meraung, dan meletakkan dadanya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turun darinya. Abu Ayyub Khalid bin Zaid membawa barang-barang beliau lalu meletakkannya di rumahnya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turun di rumahnya. Beliau bertanya tentang tanah lapang itu: “Milik siapakah ini?” Mu’adz bin Afra berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, tanah itu milik Sahl dan Suhail, kedua anak Amr, dan keduanya yatim dalam asuhanku, dan aku akan memberikan ganti rugi kepada mereka, maka jadikanlah itu sebagai masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar dibangun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turun di rumah Abu Ayyub, hingga beliau membangun masjid dan tempat tinggal beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin dari Muhajirin dan Anshar ikut bekerja di dalamnya. Kisah pembangunan masjid akan disebutkan sebentar lagi insya Allah.
Al-Baihaqi berkata dalam Kitab Ad-Dala’il: Abu Abdullah berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Umar Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Abdullah Muhammad bin Mukhlad Ad-Dauri menceritakan kepada kami, Muhammad bin Sulaiman bin Ismail bin Abi Al-Warad menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Sharmah menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah, dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, ketika kami masuk, kaum Anshar datang dengan laki-laki dan perempuan mereka, lalu berkata: Kepada kami wahai Rasulullah. Beliau berkata: “Biarkanlah unta, sesungguhnya ia diperintah.” Maka unta itu berhenti di depan pintu rumah Abu Ayyub. Kemudian keluarlah gadis-gadis dari Bani An-Najjar memukul rebana sambil mengucapkan: Kami gadis-gadis dari Bani An-Najjar, alangkah baiknya Muhammad sebagai tetangga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui mereka, lalu berkata: “Apakah kalian mencintaiku?” Mereka menjawab: Ya, demi Allah wahai Rasulullah. Beliau berkata: “Dan aku, demi Allah mencintai kalian, dan aku, demi Allah mencintai kalian, dan aku, demi Allah mencintai kalian.” Ini adalah hadits gharib dari jalur ini, tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari penulis kitab-kitab sunan. Al-Hakim telah mengeluarkannya dalam Al-Mustadrak sebagaimana yang engkau lihat.
Kemudian Al-Baihaqi berkata: Abu Abdurrahman As-Sulami mengabarkan kepada kami, Abu Al-Qasim Abdullah bin Sulaiman An-Nahhas Al-Muqri di Baghdad mengabarkan kepada kami, Umar bin Al-Hasan Al-Halabi menceritakan kepada kami, Abu Khaitsamah Al-Mashishi menceritakan kepada kami, Isa bin Yunus menceritakan kepada kami, dari Auf Al-A’rabi, dari Tsamanah, dari Anas, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati salah satu kampung dari Bani An-Najjar, tiba-tiba ada gadis-gadis memukul rebana sambil mengucapkan: Kami gadis-gadis dari Bani An-Najjar, alangkah baiknya Muhammad sebagai tetangga.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Allah mengetahui bahwa hatiku mencintai kalian.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Hisham bin Ammar, dari Isa bin Yunus dengannya.
Dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Ma’mar, dari Abdul Warits, dari Abdul Aziz, dari Anas, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para perempuan dan anak-anak datang—aku menduga ia berkata: dari pesta pernikahan—maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri tegak, lalu berkata: “Ya Allah, kalian termasuk orang-orang yang paling aku cintai.” Beliau mengucapkannya tiga kali.
Imam Ahmad berkata: Abdush-Shamad bin Abdul Warits menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Abdul Aziz bin Shuhaib menceritakan kepadaku, Anas bin Malik menceritakan kepada kami, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, dan beliau membonceng Abu Bakar. Abu Bakar adalah seorang yang sudah tua dan dikenal orang, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih muda dan belum dikenal orang. Ia berkata: Maka seseorang bertemu Abu Bakar dan berkata: Wahai Abu Bakar, siapakah orang yang ada di depanmu ini? Ia menjawab: Orang ini menunjukkan jalan kepadaku. Orang yang mendengar menyangka bahwa ia hanya menunjukkan jalan perjalanan, padahal yang dimaksud adalah jalan kebaikan. Lalu Abu Bakar menoleh, tiba-tiba ada seorang penunggang kuda yang mengejar mereka. Ia berkata: Wahai Nabi Allah, ini seorang penunggang kuda telah mengejar kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menoleh lalu berkata: “Ya Allah, jatuhkanlah dia.” Maka kudanya menjatuhkannya, kemudian kuda itu berdiri meringkik. Kemudian ia berkata: Wahai Nabi Allah, perintahkan aku dengan apa yang engkau kehendaki. Beliau berkata: “Berdiri di tempatmu, dan jangan biarkan seorang pun mengejar kami.” Ia berkata: Maka pada awal hari ia berusaha keras untuk mencelakai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan pada akhir hari menjadi penjaga bagi beliau. Ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turun di pinggir tanah berbatu, kemudian mengutus utusan kepada kaum Anshar, maka mereka datang dan memberi salam kepada keduanya, dan berkata: Naiklah dengan aman dan tenteram. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar naik, dan mereka mengelilingi keduanya dengan senjata. Maka dikatakan di Madinah: Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam telah datang, maka orang-orang berbondong-bondong melihat Nabi Allah sambil berkata: Nabi Allah telah datang. Ia berkata: Maka beliau terus berjalan hingga turun di samping rumah Abu Ayyub. Ia berkata: Beliau sedang berbincang dengan keluarganya ketika Abdullah bin Salam mendengarnya, dan ia sedang berada di kebun kurma keluarganya memetik kurma untuk mereka. Ia segera meletakkan kurma yang ada di tangannya, lalu datang dengan kurma itu masih bersamanya, mendengar dari Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu kembali kepada keluarganya. Nabi Allah berkata: “Rumah keluarga kami yang mana yang paling dekat?” Abu Ayyub berkata: Aku wahai Nabi Allah, ini rumahku dan ini pintuku. Beliau berkata: “Pergilah dan siapkan tempat istirahat untuk kami.” Maka ia pergi dan menyiapkan tempat istirahat untuk keduanya, kemudian datang dan berkata: Wahai Rasulullah, aku telah menyiapkan tempat istirahat untuk kalian, masuklah dengan berkah Allah untuk beristirahat. Ketika Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, Abdullah bin Salam datang dan berkata: Aku bersaksi bahwa engkau adalah Nabi Allah yang benar, dan bahwa engkau datang dengan kebenaran, dan sungguh kaum Yahudi telah mengetahui bahwa aku adalah pemimpin mereka dan anak pemimpin mereka, orang paling berilmu di antara mereka dan anak orang paling berilmu mereka, maka panggillah mereka dan tanyakan kepada mereka. Maka mereka masuk ke hadapan beliau, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada mereka: “Wahai sekalian Yahudi, celakalah kalian, bertakwalah kepada Allah, maka demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian benar-benar mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah yang benar, dan bahwa aku datang dengan kebenaran, masuklah Islam.” Mereka berkata: Kami tidak mengetahuinya. Tiga kali demikian. Demikian pula diriwayatkan oleh Al-Bukhari sendirian, dari Muhammad yang tidak dinisbahkan, dari Abdush-Shamad dengannya.
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Abi Habib menceritakan kepadaku, dari Martsad bin Abdullah Al-Yazani, dari Abu Rahm As-Sama’i, Abu Ayyub menceritakan kepadaku, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turun di rumahku, beliau turun di lantai bawah, dan aku bersama Umm Ayyub di lantai atas. Aku berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu, aku tidak suka dan merasa berat bila aku berada di atasmu sedangkan engkau berada di bawahku, maka naiklah ke atas dan tinggallah di lantai atas, dan kami akan turun lalu tinggal di lantai bawah. Beliau berkata: “Wahai Abu Ayyub, sesungguhnya lebih baik bagiku dan bagi orang-orang yang datang kepada kami bila aku berada di lantai bawah rumah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di lantai bawah, dan kami berada di atasnya di tempat tinggal. Suatu ketika ada tempayan berisi air yang pecah, maka aku dan Umm Ayyub segera mengambil selimut kami—kami tidak memiliki selimut selain itu—untuk menyerap air dengannya karena khawatir ada air yang menetes kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mengganggu beliau. Ia berkata: Kami biasa menyiapkan makan malam untuk beliau kemudian mengirimkannya kepadanya, dan ketika dikembalikan kepada kami sisanya, aku dan Umm Ayyub mencari bekas tangan beliau lalu kami makan darinya, kami mengharap berkah dengan itu, hingga suatu malam kami mengirim makan malam kepadanya, dan kami telah memasukkan bawang atau bawang putih ke dalamnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengembalikannya dan aku tidak melihat bekas tangannya di dalamnya. Ia berkata: Maka aku datang kepadanya dengan ketakutan, lalu berkata: Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu, engkau mengembalikan makan malammu, dan aku tidak melihat bekas tanganmu di dalamnya? Beliau berkata: “Sesungguhnya aku mencium bau pohon ini, dan aku adalah orang yang bermunajat, adapun kalian maka makanlah.” Ia berkata: Maka kami memakannya dan kami tidak membuat pohon itu lagi untuk beliau setelah itu. Demikian juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, dari jalur Al-Laits bin Sa’d, dari Yazid bin Abi Habib, dari Abu Al-Hasan—atau Abu Al-Khair—Martsad bin Abdullah Al-Yazani, dari Abu Rahm, dari Abu Ayyub, lalu menyebutkannya. Diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari Yunus bin Muhammad Al-Muaddib, dari Al-Laits.
Al-Baihaqi berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah al-Hafizh, telah mengabarkan kepada kami Abu Amru al-Hairi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sa‘id ad-Darimi, telah menceritakan kepada kami Abu an-Nu‘man, telah menceritakan kepada kami Tsabit bin Yazid, telah menceritakan kepada kami ‘Ashim al-Ahwal, dari Abdullah bin al-Harits, dari Aflah, maula Abu Ayyub, dari Abu Ayyub, bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah dan menempati lantai bawah rumahnya, sementara Abu Ayyub berada di lantai atas.
Pada malam harinya Abu Ayyub terbangun, lalu berkata, “Apakah pantas kita berjalan di atas kepala Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Maka mereka pun menjauh dan bermalam di sisi rumah.
Kemudian Abu Ayyub menyampaikan hal itu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda:
“Lantai bawah lebih memudahkan kami.”
Abu Ayyub berkata, “Aku tidak akan tinggal di atas atap sementara engkau berada di bawahnya.” Maka Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pindah ke lantai atas, dan Abu Ayyub tinggal di lantai bawah.
Abu Ayyub biasa menyiapkan makanan untuk Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika makanan itu dikembalikan, ia selalu menanyakan di bagian mana bekas jari Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengikuti bekas jari tersebut.
Suatu kali ia membuatkan makanan yang mengandung bawang putih. Ketika makanan itu dikembalikan, ia bertanya tentang bekas jari Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dikatakan kepadanya bahwa beliau tidak memakannya. Maka Abu Ayyub terkejut dan segera naik menemui beliau seraya berkata, “Apakah itu haram?”
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak, tetapi aku tidak menyukainya.”
Abu Ayyub berkata, “Sesungguhnya aku pun tidak menyukai apa yang engkau tidak sukai.”
Ia berkata: Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi, maksudnya didatangi malaikat. Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari Ahmad bin Sa‘id dengan sanad yang sama.
Dan telah tetap dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin Malik, ia berkata: Disuguhkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah wadah — dalam riwayat lain disebut periuk — yang berisi sayur-sayuran dari jenis kacang-kacangan. Ia berkata: Beliau bertanya, lalu diberitahukan isi makanan tersebut. Ketika beliau melihatnya, beliau tidak menyukai untuk memakannya.
Beliau bersabda:
“Silakan kalian makan, karena aku berbisik dengan sesuatu yang tidak kalian bisiki.”
Al-Waqidi meriwayatkan bahwa As‘ad bin Zurarah — ketika Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah di rumah Abu Ayyub — memegang tali kekang unta Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan unta itu pun berada di sisinya.
Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, ia berkata: Hadiah pertama yang diberikan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau singgah di rumah Abu Ayyub adalah hadiah yang aku bawa, yaitu sebuah mangkuk besar berisi roti yang direndam dengan susu dan lemak. Aku berkata, “Ibuku mengirimkan mangkuk ini.”
Beliau bersabda:
“Semoga Allah memberkahimu.”
Lalu beliau mengundang para sahabatnya dan mereka pun makan. Setelah itu datang mangkuk besar dari Sa‘d bin ‘Ubadah berisi tsarid dan kuah daging. Tidak ada satu malam pun berlalu, kecuali di pintu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ada tiga atau empat orang yang bergantian membawa makanan.
Dan masa tinggal beliau di rumah Abu Ayyub adalah tujuh bulan.
Ia berkata: Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika masih tinggal di rumah Abu Ayyub, mengutus maulanya Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi‘, bersama dua ekor unta dan lima ratus dirham, untuk menjemput Fatimah dan Ummu Kultsum, dua putri Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta Saudah binti Zam‘ah, istrinya, dan Usamah bin Zaid.
Adapun Ruqayyah telah berhijrah bersama suaminya, Utsman bin ‘Affan, dan Zainab berada bersama suaminya di Mekah, yaitu Abu al-‘Ash bin ar-Rabi‘.
Turut bersama mereka Ummu Ayman, istri Zaid bin Haritsah, serta Abdullah bin Abu Bakar bersama keluarga Abu Bakar, dan di antara mereka terdapat ‘Aisyah Ummul Mukminin. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam belum menggaulinya saat itu.
Al-Baihaqi berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Ahmad bin ‘Abdan, telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Ubaid ash-Shafar, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin ‘Amr al-‘Akbari, telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Manshur, telah menceritakan kepada kami ‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Shadiq bin Musa, dari Abdullah bin az-Zubair, bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, lalu untanya berhenti di antara rumah Ja‘far bin Muhammad bin ‘Ali dan rumah al-Hasan bin Zaid.
Orang-orang pun datang kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, tempat tinggal.”
Namun unta itu kembali berjalan. Maka beliau bersabda:
“Biarkanlah ia, karena ia diperintah.”
Kemudian keluar hingga sampai ke tempat mimbar. Lalu unta itu duduk berlutut, kemudian menyusup di antara orang-orang. Di sana terdapat sebuah bangunan beratap dari pelepah kurma yang biasa mereka sirami, perbaiki, dan gunakan untuk berteduh dari panas. Rasulullah Muhammad turun dari kendaraannya di tempat itu, lalu berteduh di bawah naungan tersebut.
Kemudian Abu Ayyub datang dan berkata, “Wahai Rasulullah Muhammad, rumahku adalah rumah yang paling dekat denganmu, maka pindahkanlah barang-barangmu ke rumahku.”
Beliau menjawab, “Ya.”
Maka Abu Ayyub pun membawa barang-barang beliau ke rumahnya. Setelah itu datanglah seorang laki-laki dan berkata, “Wahai Rasulullah Muhammad, di mana engkau akan tinggal?”
Beliau menjawab, “Seseorang itu bersama barang-barangnya di mana pun barang-barangnya berada.”
Rasulullah Muhammad tetap tinggal di bangunan beratap tersebut selama dua belas malam hingga masjid dibangun. Ini merupakan suatu keutamaan yang sangat besar bagi Abu Ayyub Khalid bin Zaid, karena Rasulullah Muhammad pernah tinggal di rumahnya.
Kami meriwayatkan melalui jalur Yazid bin Abi Habib, dari Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, bahwa ketika Abu Ayyub tiba di Bashrah — sementara Ibnu Abbas saat itu menjadi wakil pemerintahan di sana atas nama Ali bin Abi Thalib — Ibnu Abbas keluar dari rumahnya menyambut Abu Ayyub, lalu menempatkannya di rumahnya sendiri, sebagaimana dahulu Rasulullah Muhammad tinggal di rumah Abu Ayyub. Ia pun menyerahkan kepadanya seluruh isi rumah itu selama pintunya tertutup. Ketika Abu Ayyub hendak kembali, Ibnu Abbas memberinya dua puluh ribu dirham dan empat puluh orang budak.
Setelah Abu Ayyub wafat, rumah itu berpindah kepada maulanya yang bernama Aflah. Lalu Al-Mughirah bin Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam membelinya seharga seribu dinar, memperbaiki bagian bangunannya yang rusak, dan mewakafkannya kepada keluarga-keluarga miskin dari penduduk Madinah.
Demikian pula turunnya Rasulullah Muhammad di rumah Bani Najjar. Pilihan Allah terhadap mereka merupakan keutamaan yang sangat besar bagi Bani Najjar. Di Madinah saat itu terdapat banyak perkampungan, jumlahnya mencapai sembilan, masing-masing kampung berdiri sendiri dengan rumah-rumah, kebun kurma, ladang, dan penduduknya. Setiap kabilah berkumpul di wilayahnya masing-masing, laksana desa-desa yang saling berdekatan. Maka Allah memilihkan untuk Rasulullah Muhammad rumah Bani Malik bin Najjar.
Telah tetap dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari hadis Syu‘bah, ia berkata, “Aku mendengar Qatadah dari Anas bin Malik, dari Abu Usaid,” bahwa Rasulullah Muhammad bersabda:
“Sebaik-baik perkampungan kaum Anshar adalah Bani Najjar, kemudian Bani Abdul Asyhal, kemudian Bani Al-Harits bin Al-Khazraj, kemudian Bani Sa‘idah. Dan pada setiap perkampungan kaum Anshar terdapat kebaikan.”
Sa‘ad bin Ubadah berkata, “Aku tidak melihat Nabi Muhammad kecuali telah mengutamakan mereka atas kami.” Maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya beliau telah mengutamakan kalian atas banyak yang lain.”
Ini adalah lafaz riwayat Al-Bukhari.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadis Anas dan Abu Salamah, dari Abu Usaid Malik bin Rabi‘ah, serta dari hadis Abbas bin Sahl, dari Abu Humaid, dari Nabi Muhammad dengan makna yang sama. Dalam riwayat Abu Humaid terdapat tambahan: Abu Usaid berkata kepada Sa‘ad bin Ubadah, “Tidakkah engkau melihat bahwa Nabi Muhammad telah memilih kaum Anshar lalu menjadikan kita di urutan terakhir?” Maka Sa‘ad menemui Nabi Muhammad dan berkata, “Wahai Rasulullah Muhammad, engkau telah memilih perkampungan kaum Anshar, lalu menjadikan kami yang terakhir.”
Beliau menjawab, “Bukankah cukup bagi kalian bahwa kalian termasuk golongan orang-orang pilihan?”
Bahkan telah tetap bagi seluruh penduduk Madinah yang masuk Islam — yaitu kaum Anshar — kemuliaan dan kedudukan tinggi di dunia dan akhirat. Allah berfirman:
Surah At-Taubah ayat 100: “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”
Dan Allah berfirman:
Surah Al-Hasyr ayat 9: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka, mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang yang berhijrah itu, dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri meskipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Rasulullah Muhammad bersabda:
“Seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku adalah seorang dari kaum Anshar. Jika manusia menempuh suatu lembah dan celah, niscaya aku akan menempuh lembah kaum Anshar dan celah mereka. Kaum Anshar itu adalah pakaian dalam, sedangkan manusia lainnya adalah pakaian luar.”
Beliau juga bersabda:
“Kaum Anshar adalah bagian dalam perutku dan tempat rahasiaku.”
Dan beliau bersabda:
“Aku berdamai dengan siapa yang berdamai dengan mereka, dan aku memerangi siapa yang memerangi mereka.”
Al-Bukhari berkata: Hajjaj bin Minhal meriwayatkan kepada kami, Syu‘bah meriwayatkan kepada kami, ‘Adi bin Tsabit berkata, “Aku mendengar Al-Bara’ bin ‘Azib berkata: Aku mendengar Rasulullah Muhammad bersabda — atau beliau bersabda —:
‘Kaum Anshar tidak dicintai kecuali oleh seorang mukmin, dan tidak dibenci kecuali oleh seorang munafik. Barang siapa mencintai mereka, Allah mencintainya, dan barang siapa membenci mereka, Allah membencinya.’”
Hadis ini juga dikeluarkan oleh seluruh penulis kitab hadis selain Abu Dawud, melalui jalur Syu‘bah.
Al-Bukhari juga berkata: Muslim bin Ibrahim meriwayatkan kepada kami, Syu‘bah meriwayatkan kepada kami, dari Abdullah bin Abdullah bin Jabr, dari Anas bin Malik, dari Nabi Muhammad bahwa beliau bersabda:
“Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.”
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Walid Ath-Thayalisi, dan oleh Muslim dari Khalid bin Al-Harits dan Abdurrahman bin Mahdi, keempatnya dari Syu‘bah dengan sanad yang sama.
Ayat-ayat dan hadis-hadis tentang keutamaan kaum Anshar sangatlah banyak. Alangkah indahnya syair yang diucapkan oleh Abu Qais Shirmah bin Abi Anas — yang telah disebutkan sebelumnya — salah seorang penyair kaum Anshar, tentang kedatangan Rasulullah Muhammad kepada mereka, pertolongan mereka kepadanya, serta pengorbanan mereka bagi beliau dan para sahabatnya.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Qais Shirmah bin Abi Anas juga berkata, menyebutkan nikmat Islam yang Allah muliakan kepada mereka dan keistimewaan Rasulullah Muhammad yang Allah khususkan bagi mereka:
Beliau tinggal di tengah Quraisy belasan tahun lamanya,
menyampaikan seruan, berharap bertemu sahabat yang setia.
Di musim-musim pertemuan ia menawarkan dirinya kepada manusia,
namun tak seorang pun memberi perlindungan, tak seorang pun menyambut seruan.
Tatkala ia datang kepada kami, Allah menampakkan agama-Nya,
dan ia pun menjadi gembira, ridha tinggal di Thaybah.
Ia mendapati sahabat sejati, hati pun menjadi tenteram,
dan ia mendapat pertolongan yang nyata dari Allah.
Ia kisahkan kepada kami apa yang dikatakan Nuh kepada kaumnya,
dan apa yang dikatakan Musa ketika menjawab panggilan.
Maka ia tak lagi takut kepada siapa pun dari manusia,
baik yang dekat maupun yang jauh.
Kami serahkan harta kami dari yang halal,
dan jiwa kami di medan perang serta dalam kesulitan.
Kami memusuhi siapa pun yang memusuhinya dari seluruh manusia,
meskipun orang itu adalah kekasih yang dekat.
Kami mengetahui bahwa Allah, tiada sesuatu pun selain Dia,
dan bahwa Kitab Allah telah menjadi petunjuk.
Aku berkata setiap kali aku salat di setiap perjanjian,
“Wahai Tuhan kami, jangan Engkau tampakkan musuh atas kami.”
Aku berkata ketika melewati negeri yang menakutkan,
“Mahasuci nama Allah, Engkau adalah Pelindung.”
Berjalanlah tanpa berpaling, karena kematian itu banyak,
dan engkau tidak akan menyisakan apa pun bagi dirimu.
Demi Allah, seorang pemuda tidak tahu bagaimana hasil usahanya,
jika ia tidak menjadikan Allah sebagai pelindungnya.
Pohon kurma yang kering tidak akan peduli kepada pemiliknya,
ketika ia telah segar dan penghuninya pun telah tiada.
Disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan selainnya. Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Az-Zubair Al-Humaidi dan selainnya, dari Sufyan bin ‘Uyainah, dari Yahya bin Sa‘id Al-Anshari, dari seorang perempuan tua dari kalangan Anshar. Ia berkata: Aku melihat Abdullah bin Abbas sering mendatangi Shirmah bin Qais, yang meriwayatkan syair-syair ini. Riwayat ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi.
Kota Madinah juga dimuliakan dengan hijrah Nabi Muhammad ke sana. Kota itu pun menjadi tempat perlindungan bagi para wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang saleh, menjadi benteng dan pertahanan yang kokoh bagi kaum muslimin, serta menjadi negeri petunjuk bagi seluruh alam. Hadits-hadits tentang keutamaannya sangat banyak, dan akan kami sebutkan pada tempat lain, insya Allah.
Telah diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim melalui jalur Khabib bin Abdurrahman bin Khabib bin Yasaf, dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Muhammad bersabda:
“Sesungguhnya iman itu akan kembali dan berlindung ke Madinah, sebagaimana seekor ular kembali ke lubangnya.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalur Muhammad bin Rafi‘, dari Syababah, dari ‘Ashim bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, dari Abdullah bin Umar, dari Nabi Muhammad dengan lafaz yang semakna.
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim juga diriwayatkan dari hadits Malik, dari Yahya bin Sa‘id, bahwa ia mendengar Abu Al-Habab Sa‘id bin Yasar berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah Muhammad bersabda:
“Aku diperintahkan menuju sebuah negeri yang memakan negeri-negeri lain. Mereka menyebutnya Yatsrib, padahal ia adalah Madinah. Ia mengusir manusia sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran besi.”
Imam Malik secara khusus, berbeda dengan tiga imam lainnya, berpendapat bahwa Madinah lebih utama daripada Makkah.
Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Al-Walid dan Abu Bakr bin Abdullah berkata: Al-Hasan bin Sufyan meriwayatkan kepada kami, Abu Musa Al-Anshari meriwayatkan kepada kami, Sa‘id bin Sa‘id meriwayatkan kepada kami, saudaraku meriwayatkan kepadaku, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Muhammad bersabda:
“Ya Allah, Engkau telah mengeluarkanku dari negeri yang paling aku cintai, maka tempatkanlah aku di negeri yang paling Engkau cintai.”
Maka Allah menempatkan beliau di Madinah. Hadits ini sangat ganjil.
Pendapat yang masyhur di kalangan mayoritas ulama adalah bahwa Makkah lebih utama daripada Madinah, kecuali tempat yang di dalamnya terdapat jasad Rasulullah Muhammad. Mayoritas ulama berdalil dengan berbagai dalil yang panjang untuk disebutkan di sini, dan pembahasannya terdapat dalam Kitab Manasik dari kitab Al-Ahkam, insya Allah Ta‘ala.
Dalil mereka yang paling terkenal adalah apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad: Abu Al-Yaman meriwayatkan kepada kami, Syu‘aib meriwayatkan kepada kami, dari Az-Zuhri, ia berkata: Abu Salamah bin Abdurrahman mengabarkan kepada kami, bahwa Abdullah bin ‘Adi bin Al-Hamra’ mengabarkan kepadanya, bahwa ia mendengar Nabi Muhammad ketika beliau berdiri di Al-Hazurah, di pasar Makkah, bersabda:
“Demi Allah, sungguh engkau adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi yang paling Allah cintai. Seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan keluar.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui jalur Ya‘qub bin Ibrahim, dari ayahnya, dari Shalih bin Kaisan, dari Az-Zuhri dengan sanad yang sama. Demikian pula diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, dari hadits Al-Laits, dari ‘Uqail, dari Az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: hadits ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Yunus, dari Az-Zuhri. Juga diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah. Riwayat Az-Zuhri menurutku adalah yang paling shahih.
Imam Ahmad berkata: Abdurrazzaq meriwayatkan kepada kami, Ma‘mar meriwayatkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Muhammad berdiri di Al-Hazurah lalu bersabda:
“Aku mengetahui bahwa engkau adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi yang paling dicintai Allah. Seandainya pendudukmu tidak mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan keluar.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Ma‘mar dengan sanad yang sama. Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Ini adalah kekeliruan dari Ma‘mar. Sebagian perawi meriwayatkannya dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dan itu pun keliru. Yang benar adalah riwayat jamaah perawi.
Imam Ahmad juga berkata: Ibrahim bin Khalid meriwayatkan kepada kami, Rabbah meriwayatkan kepada kami, dari Ma‘mar, dari Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari sebagian perawi, bahwa Rasulullah Muhammad bersabda ketika beliau berada di pasar Al-Hazurah:
“Demi Allah, sungguh engkau adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi yang paling Allah cintai. Seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan keluar.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Ahmad bin Khalid Al-Halabi, dari Al-Humaidi, dari Ad-Darawardi, dari keponakan Az-Zuhri, dari Az-Zuhri, dari Muhammad bin Jubair bin Muth‘im, dari Abdullah bin ‘Adi bin Al-Hamra’ dengan lafaz yang sama. Inilah berbagai jalur hadits tersebut, dan yang paling shahih adalah yang telah disebutkan sebelumnya. Allah Maha Mengetahui.
Peristiwa-peristiwa Besar pada Tahun Pertama Hijrah Nabi
Para sahabat bersepakat pada masa pemerintahan Umar bin Al-Khaththab, pada tahun enam belas hijriah—ada pula yang mengatakan tahun tujuh belas atau delapan belas—untuk menjadikan awal penanggalan Islam dimulai dari tahun hijrah. Hal itu bermula ketika Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab diajukan kepadanya sebuah dokumen perjanjian utang antara dua orang, dan di dalamnya tertulis bahwa utang tersebut jatuh tempo pada bulan Sya‘ban. Umar berkata: Sya‘ban yang mana? Apakah Sya‘ban tahun ini, tahun yang lalu, atau tahun yang akan datang?
Kemudian Umar mengumpulkan para sahabat dan bermusyawarah dengan mereka tentang penetapan penanggalan yang dapat digunakan untuk mengetahui waktu jatuh tempo utang dan urusan lainnya. Ada yang mengusulkan agar penanggalan mengikuti penanggalan Persia. Umar tidak menyukainya, karena Persia menanggal berdasarkan masa pemerintahan raja-raja mereka secara berurutan. Ada pula yang mengusulkan penanggalan Romawi, yang menanggal berdasarkan masa pemerintahan Raja Iskandar bin Filibus dari Makedonia. Umar juga tidak menyukainya.
Sebagian sahabat mengusulkan agar penanggalan dimulai dari kelahiran Rasulullah Muhammad. Sebagian lagi mengusulkan dari masa diutusnya beliau sebagai nabi. Sebagian lagi mengusulkan dari hijrah beliau. Sebagian lagi mengusulkan dari wafat beliau. Maka Umar bin Al-Khaththab condong kepada penanggalan berdasarkan hijrah karena peristiwanya jelas dan terkenal, lalu para sahabat sepakat dengannya.
Imam Al-Bukhari berkata dalam Shahih-nya: Bab tentang sejarah dan kapan penanggalan dimulai. Abdullah bin Maslamah meriwayatkan kepada kami, Abdul Aziz meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, dari Sahl bin Sa‘d, ia berkata: Mereka tidak menghitung penanggalan dari masa diutusnya Nabi Muhammad dan tidak pula dari wafatnya, tetapi mereka menghitungnya dari kedatangan beliau ke Madinah.
Al-Waqidi berkata: Ibnu Abi Az-Zinad meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, ia berkata: Umar bermusyawarah tentang penanggalan, lalu mereka sepakat menjadikannya dari hijrah.
Abu Dawud Ath-Thayalisi meriwayatkan dari Qurrah bin Khalid As-Sudusi, dari Muhammad bin Sirin, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Umar dan berkata: Buatlah penanggalan. Umar berkata: Apa itu penanggalan? Ia menjawab: Itu adalah sesuatu yang dilakukan oleh orang-orang non-Arab; mereka menulis: pada bulan ini dari tahun ini. Umar berkata: Baik, buatlah penanggalan.
Mereka bertanya: Dari tahun mana kita mulai? Sebagian berkata: Dari masa diutusnya Nabi Muhammad. Sebagian berkata: Dari wafatnya. Kemudian mereka sepakat memulainya dari hijrah. Lalu mereka berkata: Bulan apa yang kita jadikan awal? Sebagian berkata: Ramadhan. Kemudian mereka berkata: Bulan Muharram, karena pada bulan itu orang-orang kembali dari haji mereka dan ia adalah bulan haram. Maka mereka pun sepakat menjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun.
Ibnu Jarir berkata: Muhammad bin Ismail meriwayatkan kepada kami, Qutaibah meriwayatkan kepada kami, Nuh bin Qais Ath-Thahi meriwayatkan kepada kami, dari Utsman bin Mihshan, bahwa Ibnu Abbas biasa berkata tentang firman Allah: “Demi fajar, dan malam yang sepuluh” (Surat Al-Fajr ayat 1–2). Yang dimaksud adalah bulan Muharram, fajar awal tahun.
Diriwayatkan pula dari Ubaid bin Umair, ia berkata: Sesungguhnya bulan Muharram adalah bulan Allah, ia adalah awal tahun. Ka‘bah diberi kain penutup pada bulan itu, manusia menetapkan penanggalan dengannya, dan pada bulan itu dicetak mata uang.
Imam Ahmad berkata: Ruh bin Ubadah meriwayatkan kepada kami, Zakariya bin Ishaq meriwayatkan kepada kami, dari Amr bin Dinar, ia berkata: Orang pertama yang menetapkan penanggalan pada dokumen-dokumen adalah Ya‘la bin Umayyah di Yaman. Rasulullah Muhammad datang ke Madinah pada bulan Rabiul Awwal, sedangkan manusia menetapkan penanggalan dari awal tahun.
Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Az-Zuhri, dan dari Muhammad bin Shalih, dari Asy-Sya‘bi, bahwa keduanya berkata: Bani Ismail menetapkan penanggalan sejak peristiwa api Nabi Ibrahim, kemudian mereka menetapkan penanggalan sejak pembangunan Baitullah oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kemudian mereka menetapkan penanggalan sejak wafatnya Ka‘b bin Lu’ai, kemudian mereka menetapkan penanggalan sejak peristiwa gajah, lalu Umar bin Al-Khaththab menetapkan penanggalan dari hijrah. Hal itu terjadi pada tahun tujuh belas atau delapan belas. Kami telah menyebutkan pembahasan pasal ini secara rinci dengan sanad dan jalurnya dalam kitab As-Sirah Al-Umariyyah. Segala puji bagi Allah.
Intinya, mereka menjadikan awal penanggalan Islam dimulai dari tahun hijrah, dan menjadikan awal tahunnya dari bulan Muharram, sebagaimana yang masyhur dari mereka. Inilah pendapat mayoritas para imam.
As-Suhaili dan selainnya meriwayatkan dari Imam Malik bahwa beliau berkata: Awal tahun Islam adalah bulan Rabiul Awwal, karena pada bulan itulah Rasulullah Muhammad berhijrah. As-Suhaili berdalil untuk pendapat ini di tempat lain dengan firman Allah: “Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama” (Surat At-Taubah ayat 108), yaitu sejak hari pertama kedatangan Nabi Muhammad di Madinah. Itulah hari pertama penanggalan, sebagaimana para sahabat sepakat menjadikan tahun hijrah sebagai tahun pertama penanggalan. Tidak diragukan bahwa pendapat Imam Malik ini sesuai, namun praktik yang berlaku berbeda. Hal itu karena bulan pertama dalam kalender Arab adalah Muharram. Maka mereka menjadikan tahun pertama sebagai tahun hijrah, dan menjadikan awal tahunnya bulan Muharram sebagaimana yang dikenal, agar sistem penanggalan tidak rancu. Allah Maha Mengetahui.
Maka kami berkata, dan hanya kepada Allah kami memohon pertolongan: Tahun hijrah yang penuh berkah dimulai sementara Rasulullah Muhammad masih menetap di Makkah. Kaum Anshar telah melakukan Baiat Aqabah yang kedua, sebagaimana telah kami sebutkan, pada pertengahan hari-hari Tasyriq, yaitu malam kedua belas bulan Dzulhijjah sebelum tahun hijrah. Kemudian kaum Anshar kembali ke Madinah, dan Rasulullah Muhammad mengizinkan kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah. Maka siapa saja dari para sahabat yang mampu, mereka berhijrah ke Madinah, hingga tidak tersisa di Makkah seorang pun yang mampu keluar kecuali Rasulullah Muhammad. Abu Bakar menahan dirinya untuk tetap bersama Rasulullah Muhammad agar dapat menemani beliau dalam perjalanan, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.
Kemudian keduanya berangkat dengan cara yang telah kami uraikan. Ali bin Abi Thalib tertinggal setelah Nabi Muhammad atas perintah beliau, untuk menunaikan amanah-amanah yang berada di tangan Rasulullah Muhammad. Setelah itu Ali menyusul mereka di Quba. Rasulullah Muhammad tiba pada hari Senin menjelang waktu zuhur, ketika matahari telah meninggi dan panas semakin terasa.
Al-Waqidi dan selainnya berkata: Peristiwa itu terjadi setelah dua malam berlalu dari bulan Rabiul Awwal. Ibnu Ishaq juga meriwayatkannya, namun ia tidak menegaskannya dan lebih memilih pendapat bahwa peristiwa itu terjadi setelah dua belas malam berlalu dari bulan tersebut. Inilah pendapat yang masyhur dan dipegang oleh mayoritas ulama.
Masa tinggal Rasulullah Muhammad di Makkah setelah diutus sebagai nabi adalah tiga belas tahun, menurut pendapat yang paling sahih. Ini adalah riwayat Hammad bin Salamah dari Abu Jamrah Adh-Dhubai‘i, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah Muhammad diutus pada usia empat puluh tahun, dan beliau tinggal di Makkah selama tiga belas tahun.
Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Ma‘mar, dari Ruh bin Ubadah, dari Zakariya bin Ishaq, dari Amr bin Dinar, dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: Rasulullah Muhammad tinggal di Makkah selama tiga belas tahun.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa Ibnu Abbas menuliskan bait-bait syair Shirmah bin Abi Anas bin Qais:
Ia tinggal di tengah Quraisy belasan tahun lamanya, mengingat dan berharap bertemu sahabat yang sejalan.
Al-Waqidi berkata: Dari Ibrahim bin Ismail, dari Dawud bin Al-Hushain, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ia berdalil dengan syair Shirmah:
Ia tinggal di tengah Quraisy belasan tahun lamanya, mengingat dan berharap bertemu sahabat yang sejalan.
Demikian pula Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Al-Harits, dari Muhammad bin Sa‘d, dari Al-Waqidi, dengan lafaz: lima belas tahun. Ini adalah pendapat yang sangat ganjil. Lebih ganjil lagi adalah apa yang dikatakan Ibnu Jarir: Aku diceritakan dari Ruh bin Ubadah, dari Sa‘id, dari Qatadah, ia berkata: Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah Muhammad selama delapan tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah.
Al-Hasan berkata: Sepuluh tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah. Pendapat Al-Hasan Al-Bashri ini, bahwa Rasulullah Muhammad tinggal di Makkah selama sepuluh tahun, juga dipegang oleh Anas bin Malik, Aisyah, Sa‘id bin Al-Musayyib, dan Amr bin Dinar, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari mereka. Pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat dari Ibnu Abbas, yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dari Yahya bin Sa‘id, dari Hisyam, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad ketika beliau berusia empat puluh tiga tahun, lalu beliau tinggal di Makkah selama sepuluh tahun.
Kami telah menyebutkan sebelumnya dari Asy-Sya‘bi bahwa ia berkata: Malaikat Israfil menyertai Rasulullah Muhammad selama tiga tahun, menyampaikan kepadanya kalimat dan perkara-perkara. Dalam riwayat lain: beliau mendengar suaranya namun tidak melihat wujudnya, kemudian setelah itu barulah Malaikat Jibril. Al-Waqidi meriwayatkan dari sebagian gurunya bahwa mereka mengingkari perkataan Asy-Sya‘bi ini. Ibnu Jarir berusaha mengompromikan antara pendapat yang mengatakan bahwa Rasulullah Muhammad tinggal di Makkah sepuluh tahun dan pendapat yang mengatakan tiga belas tahun, dengan penjelasan Asy-Sya‘bi tersebut. Allah Maha Mengetahui.
Ketika rombongan Nabi Muhammad tiba di Madinah, tempat pertama beliau singgahi adalah rumah Bani Amr bin Auf, yaitu Quba, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Beliau menetap di sana, menurut pendapat yang paling banyak disebutkan, selama dua puluh dua malam. Ada pula yang mengatakan delapan belas malam, ada yang mengatakan belasan malam, dan Musa bin Uqbah mengatakan tiga malam. Pendapat yang paling masyhur adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan selainnya, bahwa Nabi Muhammad menetap di Quba dari hari Senin hingga hari Jumat.
Dalam masa tersebut—yang berbeda pendapat tentang lamanya sebagaimana telah kami jelaskan—dibangunlah Masjid Quba. As-Suhaili mengklaim bahwa Rasulullah Muhammad mendirikan masjid itu pada hari pertama kedatangan beliau di Quba, dan ia menafsirkan firman Allah: “Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama” (Surat At-Taubah ayat 108) dengan makna “sejak hari pertama pendiriannya”. Masjid ini adalah masjid yang mulia dan utama, yang tentangnya turun firman Allah: “Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih layak engkau salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan diri, dan Allah mencintai orang-orang yang bersuci” (Surat At-Taubah ayat 108).
Kami telah membahas penegasan makna ayat ini dalam kitab Tafsir, serta menyebutkan hadits dalam Shahih Muslim yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah Masjid Madinah, beserta jawabannya.
Kami telah menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: Husain bin Muhammad meriwayatkan kepada kami, Abu Uwais meriwayatkan kepada kami, Syurahbil meriwayatkan kepada kami, dari ‘Uwaim bin Sa‘idah, bahwa ia menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Muhammad datang kepada mereka di Masjid Quba, lalu bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah memuji kalian dengan sebaik-baik pujian dalam masalah bersuci, dalam kisah masjid kalian. Maka apakah bentuk bersuci yang kalian lakukan itu?”
Mereka menjawab: “Demi Allah wahai Rasulullah Muhammad, kami tidak mengetahui sesuatu pun selain bahwa kami memiliki tetangga dari kalangan Yahudi. Mereka membasuh bagian belakang mereka setelah buang air besar, maka kami pun membasuh sebagaimana mereka membasuh.”
Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dan ia memiliki beberapa penguat dari jalur lain. Riwayat ini juga dinukil dari Khuzaimah bin Tsabit, Muhammad bin Abdullah bin Salam, dan Ibnu Abbas.
Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadits Yunus bin Al-Harits, dari Ibrahim bin Abi Maimunah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad bahwa beliau bersabda:
“Ayat ini turun berkenaan dengan penduduk Quba: ‘di dalamnya ada orang-orang yang menyukai bersuci, dan Allah mencintai orang-orang yang bersuci’ (Surat At-Taubah ayat 108).”
Beliau bersabda: “Mereka beristinja dengan air, maka turunlah ayat ini tentang mereka.”
Kemudian At-Tirmidzi berkata: hadits ini gharib dari jalur ini.
Aku berkata: Yunus bin Al-Harits ini adalah perawi yang lemah. Allah Maha Mengetahui.
Di antara ulama yang berpendapat bahwa masjid yang dimaksud sebagai “masjid yang didirikan atas dasar takwa” adalah Masjid Quba, adalah riwayat yang disampaikan oleh Abdurrazzaq dari Ma‘mar, dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah bin Az-Zubair. Juga diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas. Pendapat ini juga dinukil dari Asy-Sya‘bi, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Sa‘id bin Jubair, ‘Athiyyah Al-‘Aufi, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan selain mereka.
Nabi Muhammad biasa mengunjungi Masjid Quba setelah itu dan melaksanakan salat di dalamnya. Beliau mendatangi Quba setiap hari Sabtu, terkadang dengan berkendara dan terkadang dengan berjalan kaki. Dalam hadits disebutkan: “Salat di Masjid Quba seperti satu umrah.”
Dan disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Malaikat Jibril adalah yang menunjukkan kepada Nabi Muhammad arah kiblat Masjid Quba.
Masjid ini adalah masjid pertama yang dibangun di Madinah dalam Islam, bahkan masjid pertama yang diperuntukkan bagi kaum muslimin secara umum dalam umat ini. Dengan penjelasan ini kami mengecualikan masjid yang dibangun oleh Ash-Shiddiq di Makkah di depan pintu rumahnya, tempat ia beribadah dan salat, karena masjid tersebut hanya untuk dirinya sendiri dan tidak diperuntukkan bagi masyarakat umum. Allah Maha Mengetahui.
Telah disebutkan sebelumnya kisah masuk Islamnya Salman Al-Farisi dalam bagian kabar-kabar gembira. Ketika Salman Al-Farisi mendengar kedatangan Rasulullah Muhammad ke Madinah, ia mendatangi beliau dan membawa sesuatu, lalu meletakkannya di hadapan beliau ketika beliau berada di Quba. Ia berkata: “Ini adalah sedekah.” Maka Rasulullah Muhammad menahan diri dan tidak memakannya, lalu memerintahkan para sahabat untuk memakannya. Kemudian Salman datang lagi dengan membawa sesuatu dan berkata: “Ini adalah hadiah.” Maka Rasulullah Muhammad memakannya dan memerintahkan para sahabat untuk ikut memakannya. Kisah hadits ini telah disebutkan sebelumnya secara lengkap.
Pasal tentang Masuk Islamnya Abdullah bin Salam
Imam Ahmad berkata: Muhammad bin Ja‘far meriwayatkan kepada kami, ‘Auf meriwayatkan kepada kami, dari Zurarah, dari Abdullah bin Salam, ia berkata: Ketika Rasulullah Muhammad tiba di Madinah, orang-orang berbondong-bondong mendatangi beliau, dan aku termasuk di antara mereka. Ketika aku memperhatikan wajah beliau, aku mengetahui bahwa itu bukan wajah seorang pendusta. Maka hal pertama yang aku dengar beliau ucapkan adalah:
“Sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali kekerabatan, dan salatlah pada malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur dari ‘Auf Al-A‘rabi, dari Zurarah bin Abi Aufa, dari Abdullah bin Salam. At-Tirmidzi berkata: hadits ini shahih.
Konteks riwayat ini menunjukkan bahwa Abdullah bin Salam mendengar kabar tentang Nabi Muhammad dan melihat beliau pada awal kedatangan beliau, ketika beliau singgah di Quba di perkampungan Bani ‘Amr bin ‘Auf. Telah disebutkan sebelumnya dalam riwayat Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas bahwa Abdullah bin Salam bertemu dengan Nabi Muhammad ketika beliau singgah di rumah Abu Ayyub, setelah beliau berpindah dari Quba ke perkampungan Bani Najjar. Sebagaimana telah dijelaskan, kemungkinan ia melihat beliau pertama kali di Quba, dan kemudian bertemu lagi dengan beliau setelah beliau tinggal di perkampungan Bani Najjar. Allah Maha Mengetahui.
Dalam riwayat Al-Bukhari melalui jalur Abdul Aziz, dari Anas, ia berkata: Ketika Nabi Muhammad datang, Abdullah bin Salam datang dan berkata: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah dan bahwa engkau datang membawa kebenaran. Orang-orang Yahudi mengetahui bahwa aku adalah pemimpin mereka, anak dari pemimpin mereka, orang yang paling berilmu di antara mereka, dan anak dari orang yang paling berilmu. Maka panggillah mereka dan tanyakanlah tentang diriku sebelum mereka mengetahui bahwa aku telah masuk Islam. Jika mereka mengetahui bahwa aku telah masuk Islam, mereka akan menuduhku dengan kebohongan.”
Maka Nabi Muhammad mengutus seseorang kepada orang-orang Yahudi, lalu mereka datang menghadap beliau. Beliau bersabda: “Wahai kaum Yahudi, celakalah kalian, bertakwalah kepada Allah. Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, sungguh kalian mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah yang benar dan bahwa aku datang membawa kebenaran. Maka masuk Islamlah.”
Mereka menjawab: “Kami tidak mengetahuinya.” Mereka mengatakan hal itu kepada Nabi Muhammad sebanyak tiga kali.
Beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian tentang Abdullah bin Salam?”
Mereka menjawab: “Ia adalah pemimpin kami, anak dari pemimpin kami, orang yang paling berilmu di antara kami, dan anak dari orang yang paling berilmu.”
Beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian jika ia masuk Islam?”
Mereka menjawab: “Semoga Allah melindunginya dari hal itu.”
Beliau bersabda: “Wahai Ibnu Salam, keluarlah menemui mereka.”
Maka Abdullah bin Salam keluar dan berkata: “Wahai kaum Yahudi, bertakwalah kepada Allah. Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, sungguh kalian mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan bahwa ia datang membawa kebenaran.”
Mereka berkata: “Engkau berdusta.”
Maka Rasulullah Muhammad mengusir mereka.
Dalam riwayat lain disebutkan: Ketika Abdullah bin Salam keluar dan menyatakan kesaksian yang benar, mereka berkata: “Ia adalah orang terburuk di antara kami dan anak orang terburuk di antara kami,” lalu mereka merendahkannya. Maka Abdullah bin Salam berkata: “Wahai Rasulullah Muhammad, inilah yang aku khawatirkan.”
Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Al-Ashamm mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani meriwayatkan kepada kami, Abdullah bin Bakr meriwayatkan kepada kami, Humaid meriwayatkan kepada kami, dari Anas, ia berkata: Abdullah bin Salam mendengar kabar kedatangan Nabi Muhammad ketika ia berada di kebunnya. Ia pun mendatangi Nabi Muhammad dan berkata: “Aku akan menanyakan kepadamu tiga perkara yang tidak diketahui kecuali oleh seorang nabi. Apakah tanda pertama hari Kiamat? Apakah makanan pertama yang dimakan oleh penduduk surga? Dan apa yang menyebabkan seorang anak menyerupai ayahnya atau ibunya?”
Nabi Muhammad bersabda: “Baru saja Jibril memberitahukan kepadaku tentang hal-hal itu.”
Ia berkata: “Jibril?”
Beliau bersabda: “Ya.”
Ia berkata: “Ia adalah musuh orang-orang Yahudi dari kalangan malaikat.”
Kemudian Nabi Muhammad membaca firman Allah: “Barang siapa menjadi musuh Jibril, maka sungguh dialah yang telah menurunkannya ke dalam hatimu dengan izin Allah” (Surat Al-Baqarah ayat 97).
Beliau bersabda: “Adapun tanda pertama hari Kiamat adalah api yang menggiring manusia dari timur ke barat. Adapun makanan pertama yang dimakan oleh penduduk surga adalah tambahan hati ikan. Jika air laki-laki mendahului air perempuan, maka anak itu menyerupai ayahnya, dan jika air perempuan mendahului air laki-laki, maka anak itu menyerupai ibunya.”
Abdullah bin Salam berkata: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Wahai Rasulullah Muhammad, sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah kaum yang suka berdusta. Jika mereka mengetahui keislamanku sebelum engkau bertanya kepada mereka tentang diriku, niscaya mereka akan berdusta tentangku.”
Maka orang-orang Yahudi datang. Nabi Muhammad bersabda: “Bagaimana pendapat kalian tentang Abdullah di antara kalian?”
Mereka menjawab: “Ia adalah yang terbaik di antara kami, anak dari yang terbaik di antara kami, pemimpin kami dan anak dari pemimpin kami.”
Beliau bersabda: “Bagaimana jika ia masuk Islam?”
Mereka menjawab: “Semoga Allah melindunginya dari hal itu.”
Maka Abdullah bin Salam keluar dan berkata: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Mereka berkata: “Ia adalah yang terburuk di antara kami dan anak dari yang terburuk di antara kami,” lalu mereka merendahkannya. Abdullah bin Salam berkata: “Inilah yang aku khawatirkan, wahai Rasulullah Muhammad.”
Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Munir, dari Abdullah bin Bakr. Dan diriwayatkan pula dari Hamid bin ‘Umar, dari Bisyr bin Al-Mufaddal, dari Humaid dengan sanad yang sama.
Muhammad bin Ishaq berkata: Abdullah bin Abi Bakr menceritakan kepadaku, dari Yahya bin Abdullah, dari seorang laki-laki dari keluarga Abdullah bin Salam, ia berkata: Termasuk kisah Abdullah bin Salam ketika ia masuk Islam—dan ia adalah seorang pendeta Yahudi yang berilmu—ia berkata: Ketika aku mendengar kabar tentang Rasulullah Muhammad, dan aku telah mengetahui sifat, nama, dan ciri-cirinya, serta waktu yang kami nantikan, aku merasa gembira dan menyembunyikan hal itu dalam diriku, hingga Rasulullah Muhammad tiba di Madinah.
Ketika beliau tiba, beliau singgah di Quba di perkampungan Bani ‘Amr bin ‘Auf. Seorang laki-laki datang dan memberitahukan kedatangannya, sementara aku sedang berada di atas pohon kurma milikku, bekerja di sana, dan bibiku Khalidah binti Al-Harits duduk di bawahku. Ketika aku mendengar kabar kedatangan Rasulullah Muhammad, aku bertakbir. Bibiku berkata ketika mendengar takbirku: “Seandainya engkau mendengar kabar tentang Musa bin Imran, engkau tidak akan menambah takbirmu seperti itu.”
Aku berkata kepadanya: “Wahai bibi, demi Allah, ia adalah saudara Musa bin Imran dan diutus dengan agama yang sama sebagaimana ia diutus.”
Bibiku berkata: “Wahai keponakanku, apakah dia yang telah diberitakan kepada kita akan diutus menjelang datangnya Kiamat?”
Aku menjawab: “Ya.”
Ia berkata: “Kalau begitu, itulah dia.”
Aku pun pergi menemui Rasulullah Muhammad dan masuk Islam. Kemudian aku kembali kepada keluargaku dan memerintahkan mereka untuk masuk Islam, lalu mereka pun masuk Islam. Aku menyembunyikan keislamanku dari orang-orang Yahudi dan berkata: “Wahai Rasulullah Muhammad, sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah kaum yang suka berdusta. Aku ingin engkau memasukkanku ke salah satu rumahmu sehingga aku tersembunyi dari mereka, kemudian engkau bertanya kepada mereka tentang diriku, agar mereka menceritakan kedudukanku di antara mereka sebelum mereka mengetahui keislamanku. Jika mereka mengetahui hal itu, niscaya mereka akan menuduhku dan mencelaku.”
Kemudian aku menampakkan keislamanku dan keislaman keluargaku. Bibiku Khalidah binti Al-Harits pun masuk Islam.
Yunus bin Bukair berkata, dari Muhammad bin Ishaq, ia berkata: Abdullah bin Abi Bakr menceritakan kepadaku, seorang perawi menceritakan kepadaku dari Shafiyyah binti Huyay, ia berkata:
Aku adalah orang yang paling dicintai oleh ayahku dan pamanku dibandingkan seluruh anak-anak mereka. Setiap kali aku bertemu dengan salah satu dari mereka yang sedang bersama anak-anaknya, mereka pasti mengambil aku dan mengutamakanku dari yang lain. Ketika Muhammad Rasulullah tiba di Quba, yaitu sebuah kampung Bani ‘Amr bin ‘Auf, ayahku dan pamanku Abu Yasir bin Akhthab berangkat menemuinya pada pagi hari dalam keadaan masih gelap. Demi Allah, mereka tidak kembali kecuali setelah matahari terbenam. Mereka pulang dalam keadaan lemah, letih, dan lesu, berjalan perlahan. Aku pun menyambut mereka dengan gembira sebagaimana biasanya, tetapi demi Allah, tidak satu pun dari mereka menoleh kepadaku. Aku mendengar pamanku Abu Yasir berkata kepada ayahku: “Apakah dia orangnya?” Ayahku menjawab: “Ya, demi Allah.” Pamanku berkata: “Apakah engkau mengenalnya dari ciri dan sifatnya?” Ayahku menjawab: “Ya, demi Allah.” Pamanku berkata: “Lalu bagaimana isi hatimu terhadapnya?” Ayahku menjawab: “Permusuhan, demi Allah, selama aku masih hidup.”
Musa bin ‘Uqbah menyebutkan dari Az-Zuhri bahwa Abu Yasir bin Akhthab ketika Muhammad Rasulullah tiba di Madinah, ia mendatanginya, mendengar perkataannya, dan berbincang dengannya. Setelah itu ia kembali kepada kaumnya dan berkata:
“Wahai kaumku, taatilah aku. Sesungguhnya Allah telah mendatangkan kepada kalian apa yang selama ini kalian nantikan. Maka ikutilah dia dan jangan menyelisihinya.”
Lalu saudaranya, Huyay bin Akhthab—yang saat itu merupakan pemimpin kaum Yahudi, dan keduanya berasal dari Bani Nadhir—pergi menemui Muhammad Rasulullah, duduk bersamanya, dan mendengarkan perkataannya. Kemudian ia kembali kepada kaumnya, sedangkan ia adalah orang yang ditaati di tengah mereka, lalu berkata:
“Aku datang dari sisi seorang lelaki yang demi Allah aku akan terus menjadi musuhnya selamanya.”
Saudaranya Abu Yasir berkata kepadanya:
“Wahai anak ibuku, taatilah aku dalam perkara ini, dan silakan engkau menyelisihiku dalam perkara lainnya setelah itu. Jangan binasakan dirimu.”
Ia menjawab:
“Demi Allah, aku tidak akan pernah mentaatimu.”
Setan pun menguasainya, dan kaumnya mengikuti pendapatnya.
Aku berkata: Adapun Abu Yasir bin Akhthab, aku tidak mengetahui bagaimana akhir keadaannya. Adapun Huyay bin Akhthab, ayah Shafiyyah binti Huyay, maka ia benar-benar meneguk permusuhan terhadap Muhammad Rasulullah dan para sahabatnya. Keadaan itu terus menjadi kebiasaannya hingga ia dibunuh secara hukum mati di hadapan Muhammad Rasulullah pada hari dibunuhnya para pejuang Bani Quraizhah, sebagaimana akan disebutkan kemudian, insya Allah.
Pasal
Ketika Muhammad Rasulullah berangkat dari Quba dalam keadaan menunggang unta beliau yang bernama Al-Qashwa, pada hari Jumat, waktu zawal mendapati beliau berada di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf. Maka beliau melaksanakan salat Jumat bersama kaum muslimin di tempat tersebut, di sebuah lembah yang disebut Wadi Ranuna. Itulah salat Jumat pertama yang dilaksanakan oleh Muhammad Rasulullah bersama kaum muslimin di Madinah, atau bahkan secara mutlak. Hal itu karena—Allah Maha Mengetahui—beliau dan para sahabatnya di Mekah tidak memungkinkan untuk berkumpul guna menegakkan salat Jumat yang disertai khutbah dan penyampaian nasihat secara terbuka, disebabkan kerasnya penentangan kaum musyrik dan gangguan mereka terhadap beliau.
Penyebutan khutbah Muhammad Rasulullah pada hari itu
Ibnu Jarir berkata: Yunus bin ‘Abdul A‘la menceritakan kepadaku, Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, dari Sa‘id bin ‘Abdurrahman Al-Jumahi, bahwa telah sampai kepadanya khutbah Muhammad Rasulullah pada salat Jumat pertama yang beliau laksanakan di Madinah, di tengah Bani Salim bin ‘Auf:
“Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan memohon petunjuk-Nya. Aku beriman kepada-Nya dan tidak mengingkari-Nya. Aku memusuhi siapa saja yang mengingkari-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Allah mengutusnya dengan petunjuk, cahaya, dan nasihat pada masa terputusnya para rasul, sedikitnya ilmu, tersebarnya kesesatan di tengah manusia, terputusnya zaman, dekatnya hari Kiamat, dan dekatnya ajal. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah mendapat petunjuk. Barang siapa mendurhakai keduanya, sungguh ia telah sesat, menyia-nyiakan, dan tersesat sejauh-jauhnya. Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, karena itulah sebaik-baik wasiat seorang muslim kepada muslim lainnya: mendorongnya kepada akhirat dan memerintahkannya untuk bertakwa kepada Allah. Maka waspadalah terhadap apa yang Allah peringatkan kepada kalian dari diri-Nya. Tidak ada nasihat yang lebih utama dan tidak ada peringatan yang lebih baik daripada itu. Sesungguhnya takwa itu, bagi orang yang mengamalkannya dengan rasa takut dan gentar, merupakan pertolongan yang benar dalam urusan akhirat yang kalian cari. Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, baik secara sembunyi maupun terang-terangan, dengan niat semata-mata mengharap wajah Allah, niscaya Allah menjadikannya sebagai sebutan baik di dunia dan sebagai simpanan setelah kematian, ketika seseorang sangat membutuhkan apa yang telah ia persiapkan sebelumnya. Adapun selain itu, ia akan berharap seandainya antara dirinya dan amal itu terdapat jarak yang sangat jauh.”
“Firman-Ku tidak berubah, dan Aku sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba.” (Surat Qaf ayat 29)
“Allah memperingatkan kalian terhadap diri-Nya sendiri, dan Allah Maha Penyantun kepada para hamba.”
(Surat Al-Baqarah ayat 207)
“Bertakwalah kepada Allah dalam urusan kalian yang segera maupun yang akan datang, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan. Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menghapus kesalahan-kesalahannya dan melipatgandakan baginya pahala.”
(Surat At-Talaq ayat 5)
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, sungguh ia telah meraih kemenangan yang agung.” (Surat Al-Ahzab ayat 71)
“Sesungguhnya takwa kepada Allah akan melindungi dari murka-Nya, melindungi dari hukuman-Nya, dan melindungi dari kemurkaan-Nya. Takwa kepada Allah mencerahkan wajah, meridai Tuhan, dan meninggikan derajat. Ambillah bagian kalian dan jangan melalaikan hak Allah. Sungguh Allah telah mengajarkan kepada kalian kitab-Nya dan menjelaskan jalan-Nya, agar Dia mengetahui siapa yang benar dan siapa yang dusta.”
(Surat Al-‘Ankabut ayat 3)
“Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kalian, musuhilah musuh-musuh-Nya, dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad. Dia telah memilih kalian dan menamai kalian sebagai kaum muslimin.”
(Surat Al-Hajj ayat 78)
“Agar binasa orang yang binasa dengan bukti yang nyata, dan hidup orang yang hidup dengan bukti yang nyata. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Perbanyaklah mengingat Allah dan beramallah untuk kehidupan setelah kematian. Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Allah mencukupinya dari urusan manusia. Hal itu karena Allah menetapkan keputusan atas manusia, dan manusia tidak dapat menetapkan keputusan atas-Nya. Allah menguasai manusia, dan manusia tidak menguasai-Nya. Allah Mahabesar, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung.”
Demikian Ibnu Jarir meriwayatkannya, dan dalam sanadnya terdapat keterputusan.
Al-Baihaqi berkata: Bab tentang khutbah pertama yang disampaikan Muhammad Rasulullah ketika beliau tiba di Madinah. Abu ‘Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Al-‘Abbas Al-Ashamm mengabarkan kepada kami, Ahmad bin ‘Abdul Jabbar menceritakan kepada kami, Yunus bin Bukair menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ishaq, ia berkata: Al-Mughirah bin ‘Utsman bin Muhammad bin ‘Utsman bin Al-Akhnas bin Syuraiq menceritakan kepadaku, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata:
Khutbah pertama yang disampaikan Muhammad Rasulullah di Madinah adalah ketika beliau berdiri lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya. Kemudian beliau bersabda:
“Amma ba‘du, wahai manusia, persiapkanlah untuk diri kalian sendiri. Demi Allah, sungguh salah seorang dari kalian akan benar-benar disambar petir kematian, lalu ia akan meninggalkan kambing-kambingnya tanpa penggembala. Kemudian Tuhannya akan berfirman kepadanya—tanpa penerjemah dan tanpa penghalang di antara mereka—: Bukankah telah datang kepadamu utusan-Ku yang menyampaikan risalah, Aku telah memberimu harta dan melimpahkan karunia kepadamu, lalu apa yang telah engkau persiapkan untuk dirimu sendiri? Ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak melihat apa pun. Lalu ia melihat ke depan, dan tidak ia lihat kecuali neraka Jahanam. Maka barang siapa mampu melindungi wajahnya dari api neraka walaupun dengan separuh buah kurma, hendaklah ia lakukan. Barang siapa tidak menemukannya, maka dengan satu kalimat yang baik. Karena dengan itu satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Salam sejahtera atas Muhammad Rasulullah, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya.”
Kemudian Muhammad Rasulullah berkhutbah sekali lagi dan bersabda:
“Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejelekan amal-amal kami. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah. Sungguh beruntung orang yang Allah hiasi hatinya dengannya, memasukkannya ke dalam Islam setelah kekafiran, dan memilihnya di atas seluruh perkataan manusia. Ia adalah sebaik-baik perkataan dan paling sempurna penyampaiannya. Cintailah siapa saja yang Allah cintai. Cintailah Allah dengan segenap hati kalian. Janganlah kalian merasa jemu dengan kalam Allah dan zikir kepada-Nya, dan janganlah hati kalian menjadi keras terhadapnya. Sesungguhnya dari segala sesuatu, Allah memilih dan menyucikan apa yang Dia kehendaki. Dia menamainya sebagai pilihan terbaik dari amal-amal, pilihan terbaik dari para hamba, dan pilihan terbaik dari perkataan, serta dari seluruh apa yang diberikan kepada manusia, baik yang halal maupun yang haram. Maka sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Bertakwalah kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa. Benarkanlah Allah dengan amal yang baik dari apa yang kalian ucapkan dengan lisan kalian. Saling mencintailah dengan ruh dari Allah di antara kalian. Sesungguhnya Allah murka jika perjanjian-Nya dilanggar. Salam sejahtera atas kalian serta rahmat Allah dan keberkahan-Nya.”
Jalur riwayat ini juga terputus, namun menguatkan riwayat sebelumnya meskipun terdapat perbedaan lafaz.
Pasal tentang pembangunan masjid mulia beliau selama masa tinggalnya di rumah Abu Ayyub
Para ulama berbeda pendapat tentang lamanya Muhammad Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub. Al-Waqidi berkata: tujuh bulan. Yang lain berkata: kurang dari satu bulan. Allah Maha Mengetahui.
Al-Bukhari berkata: Ishaq bin Manshur menceritakan kepada kami, ‘Abdus Shamad mengabarkan kepada kami, ia berkata: aku mendengar ayahku bercerita, Abu At-Tayyah Yazid bin Humaid Adh-Dhubi menceritakan kepada kami, Anas bin Malik berkata:
Ketika Muhammad Rasulullah tiba di Madinah, beliau tinggal di bagian atas Madinah, di suatu perkampungan yang disebut Bani ‘Amr bin ‘Auf. Beliau menetap di tengah mereka selama empat belas malam. Kemudian beliau mengutus seseorang kepada para pemuka Bani An-Najjar. Mereka pun datang dengan pedang terhunus. Seakan-akan aku melihat Muhammad Rasulullah berada di atas tunggangannya, sementara Abu Bakar berada di belakang beliau, dan para pemuka Bani An-Najjar mengelilingi beliau, hingga beliau singgah di halaman rumah Abu Ayyub. Beliau biasa melaksanakan salat di mana pun waktu salat mendapati beliau, bahkan beliau salat di kandang kambing. Setelah itu beliau memerintahkan pembangunan masjid. Beliau mengutus seseorang kepada para pemuka Bani An-Najjar, lalu mereka datang. Beliau bersabda: “Wahai Bani An-Najjar, jualkan kepadaku kebun kalian ini.” Mereka menjawab: “Tidak, demi Allah, kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah.”
Di tempat itu terdapat kuburan orang-orang musyrik, reruntuhan bangunan, dan pohon-pohon kurma. Maka Muhammad Rasulullah memerintahkan agar kuburan orang-orang musyrik itu dibongkar, reruntuhan diratakan, dan pohon-pohon kurma ditebang. Pohon-pohon kurma itu disusun sebagai arah kiblat masjid, dan kedua sisi pintunya dijadikan dari batu. Mereka mengangkut batu-batu besar itu sambil melantunkan syair, dan Muhammad Rasulullah bersama mereka sambil mengucapkan:
“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka tolonglah kaum Anshar dan kaum Muhajirin.”
Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bukhari di beberapa tempat lain dan oleh Muslim melalui riwayat Abu ‘Abdus Shamad ‘Abdul Warits bin Sa‘id.
Dalam Shahih Al-Bukhari telah disebutkan dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah, bahwa masjid itu sebelumnya adalah tempat pengeringan kurma, milik dua anak yatim yang berada dalam asuhan As‘ad bin Zurarah, yaitu Sahl dan Suhail. Muhammad Rasulullah menawar tempat itu kepada keduanya, lalu keduanya berkata: “Kami menghibahkannya kepadamu, wahai Muhammad Rasulullah.” Namun beliau menolak hingga membelinya dari keduanya dan membangunnya menjadi masjid.
Disebutkan pula bahwa Muhammad Rasulullah, ketika mengangkut tanah bersama mereka, mengucapkan:
“Ini adalah angkutan, bukan angkutan Khaibar, ini lebih bertakwa kepada Tuhan kami dan lebih suci.”
Dan beliau juga mengucapkan:
“Ya Allah, sesungguhnya pahala itu adalah pahala akhirat, maka rahmatilah kaum Anshar dan kaum Muhajirin.”
Musa bin ‘Uqbah menyebutkan bahwa As‘ad bin Zurarah mengganti hak kedua anak yatim itu dengan kebun kurma miliknya di Bani Bayadhah. Ada pula yang mengatakan bahwa Muhammad Rasulullah membelinya langsung dari keduanya.
Aku berkata: Muhammad bin Ishaq menyebutkan bahwa tempat pengeringan kurma itu milik dua anak yatim yang berada dalam asuhan Mu‘adz bin ‘Afra’, yaitu Sahl dan Suhail putra ‘Amr. Allah Maha Mengetahui.
Al-Baihaqi meriwayatkan melalui Abu Bakr bin Abi Ad-Dunya: Al-Hasan bin Hammad Adh-Dhubbi menceritakan kepada kami, ‘Abdur Rahim bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Isma‘il bin Muslim, dari Al-Hasan, ia berkata:
Ketika Muhammad Rasulullah membangun masjid, para sahabat membantu beliau, dan beliau bersama mereka mengangkat batu bata hingga dadanya berdebu. Lalu beliau bersabda: “Bangunlah ia seperti pondok Musa.”
Aku bertanya kepada Al-Hasan: “Apakah yang dimaksud pondok Musa?” Ia menjawab: “Jika Musa mengangkat kedua tangannya, maka tangannya menyentuh atapnya.” Maksudnya adalah atap. Riwayat ini terputus.
Diriwayatkan pula dari Hammad bin Salamah, dari Abu Sinan, dari Ya‘la bin Syaddad bin Aus, dari ‘Ubadah, bahwa kaum Anshar mengumpulkan harta dan membawanya kepada Muhammad Rasulullah. Mereka berkata:
“Wahai Muhammad Rasulullah, bangunlah masjid ini dan hiasilah. Sampai kapan kami salat di bawah pelepah kurma ini?”
Beliau bersabda:
“Aku tidak menginginkan yang lebih dari saudaraku Musa. Pondok seperti pondok Musa.”
Ini adalah hadits yang asing dari jalur ini.
Abu Dawud berkata: Muhammad bin Hatim menceritakan kepada kami, ‘Ubaidullah bin Musa menceritakan kepada kami, dari Syaiban, dari Firas, dari ‘Athiyyah Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Umar, bahwa:
Tiang-tiang Masjid Nabi pada masa Muhammad Rasulullah terbuat dari batang kurma, dan atapnya dinaungi pelepah kurma. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, batang-batang itu mulai lapuk, lalu Abu Bakar membangunnya kembali dengan batang dan pelepah kurma. Pada masa kekhalifahan ‘Utsman, batang-batang itu kembali lapuk, lalu beliau membangunnya dengan batu bata. Bangunan itu tetap berdiri hingga sekarang.
Riwayat ini tergolong asing.
Abu Dawud juga berkata: Mujahid bin Musa menceritakan kepada kami, Ya‘qub bin Ibrahim menceritakan kepadaku, ayahku menceritakan kepadaku, dari Shalih, dari Nafi‘, dari Ibnu ‘Umar, bahwa:
Masjid pada masa Muhammad Rasulullah dibangun dari batu bata tanah, atapnya dari pelepah kurma, dan tiangnya dari kayu kurma. Abu Bakar tidak menambah apa pun. ‘Umar menambah luasnya dan membangunnya sesuai bangunan pada masa Nabi, dengan batu bata dan pelepah kurma, serta mengganti tiangnya dengan kayu. Kemudian ‘Utsman mengubahnya, menambahkannya dengan penambahan besar, membangun dindingnya dengan batu ukir dan kapur, menjadikan tiangnya dari batu ukir, dan atapnya dari kayu jati.
Demikian pula Al-Bukhari meriwayatkannya.
Aku berkata: ‘Utsman bin ‘Affan menambah bangunan masjid dengan berlandaskan sabda Muhammad Rasulullah:
“Barang siapa membangun masjid karena Allah, walaupun sebesar sarang burung puyuh, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga.”
Para sahabat yang masih hidup ketika itu menyetujuinya dan tidak mengubahnya setelah itu. Dari sini dipahami pendapat yang lebih kuat di kalangan ulama bahwa hukum bagian tambahan sama dengan hukum masjid itu sendiri, termasuk keutamaan pelipatgandaan pahala salat di dalamnya dan anjuran bersafar menuju masjid tersebut.
Masjid itu kembali diperluas pada masa Al-Walid bin ‘Abdul Malik, pembangun Masjid Jami‘ Damaskus, melalui perintahnya kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ketika ia menjadi wakilnya di Madinah. Kamar Nabi dimasukkan ke dalam masjid, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya. Setelah itu masjid diperluas lagi secara besar-besaran, termasuk dari arah kiblat, hingga Raudhah dan mimbar berada di belakang saf-saf terdepan, sebagaimana yang terlihat sekarang.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub hingga beliau membangun masjid dan tempat tinggalnya. Muhammad Rasulullah ikut bekerja dalam pembangunan masjid untuk mendorong kaum muslimin agar ikut bekerja. Maka kaum Muhajirin dan Anshar bekerja dengan sungguh-sungguh.
Seseorang dari kaum muslimin berkata:
“Jika kita duduk sementara Nabi bekerja, sungguh itu adalah perbuatan tercela dari kita.”
Kaum muslimin melantunkan syair saat membangunnya:
“Tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, ya Allah rahmatilah kaum Anshar dan kaum Muhajirin.”
Muhammad Rasulullah pun mengucapkan:
“Tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, ya Allah rahmatilah kaum Muhajirin dan kaum Anshar.”
Disebutkan bahwa ‘Ammar bin Yasir datang sementara mereka membebani dirinya dengan batu bata. Ia berkata:
“Wahai Muhammad Rasulullah, mereka membunuhku, mereka memikulkan kepadaku apa yang tidak mereka pikulkan kepada diri mereka.”
Ummu Salamah berkata:
Aku melihat Muhammad Rasulullah mengibaskan debu dari rambutnya dengan tangan beliau—beliau adalah seorang yang berambut keriting—seraya bersabda: “Celakalah putra Sumayyah, bukan mereka yang membunuhmu, tetapi engkau akan dibunuh oleh golongan yang melampaui batas.”
Riwayat ini terputus dari jalur ini, bahkan terputus berat antara Muhammad bin Ishaq dan Ummu Salamah. Namun Muslim meriwayatkannya secara bersambung dalam Shahih-nya dari Syu‘bah, dari Khalid Al-Hadza’, dari Sa‘id dan Al-Hasan—keduanya putra Abu Al-Hasan Al-Bashri—dari ibu mereka Khairah, maula Ummu Salamah, dari Ummu Salamah, bahwa Muhammad Rasulullah bersabda:
“‘Ammar akan dibunuh oleh golongan yang melampaui batas.”
Diriwayatkan pula dari Ibnu ‘Ulayyah, dari Ibnu ‘Aun, dari Al-Hasan, dari ibunya, dari Ummu Salamah, bahwa Muhammad Rasulullah bersabda kepada ‘Ammar ketika ia mengangkut batu:
“Celakalah engkau wahai putra Sumayyah, engkau akan dibunuh oleh golongan yang melampaui batas.”
‘Abdur Razzaq berkata: Ma‘mar mengabarkan kepada kami, dari Al-Hasan, dari ibunya, dari Ummu Salamah, ia berkata:
Ketika Muhammad Rasulullah dan para sahabatnya membangun masjid, setiap sahabat membawa satu batu bata, sedangkan ‘Ammar membawa dua batu bata: satu untuk dirinya dan satu untuk Muhammad Rasulullah. Maka Muhammad Rasulullah mengusap punggungnya dan bersabda: “Wahai putra Sumayyah, orang-orang mendapatkan satu pahala, sedangkan engkau mendapatkan dua pahala. Bekal terakhirmu di dunia adalah seteguk susu, dan engkau akan dibunuh oleh golongan yang melampaui batas.”
Sanad riwayat ini memenuhi syarat Shahih Al-Bukhari dan Muslim.
Al-Baihaqi dan selainnya meriwayatkan dari beberapa jalur, dari Khalid Al-Hadza’, dari ‘Ikrimah, dari Abu Sa‘id Al-Khudri, ia berkata:
Kami mengangkut batu bata dalam pembangunan masjid, satu demi satu, sedangkan ‘Ammar mengangkut dua-dua. Nabi melihatnya, lalu beliau mengibaskan debu darinya sambil bersabda: “Celakalah ‘Ammar, ia akan dibunuh oleh golongan yang melampaui batas. Ia mengajak mereka ke surga, sedangkan mereka mengajaknya ke neraka.”
‘Ammar berkata:
Aku berlindung kepada Allah dari fitnah.
Namun Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dari Musaddad, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Al-Mukhtar, dari Khalid Al-Hadza’, dan juga dari Ibrahim bin Musa, dari ‘Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi, dari Khalid Al-Hadza’, dengan lafaz yang sama, tetapi tanpa menyebutkan kalimat “engkau akan dibunuh oleh golongan yang melampaui batas.”
Al-Baihaqi berkata: Tampaknya ia meninggalkan riwayat itu karena apa yang diriwayatkan oleh Muslim, melalui satu jalur dari Abu Nadrah, dari Abu Sa‘id, ia berkata:
Telah mengabarkan kepadaku seseorang yang lebih baik dariku, bahwa Muhammad Rasulullah berkata kepada ‘Ammar ketika ia sedang menggali parit, sambil mengusap kepalanya dan bersabda: “Celakalah putra Sumayyah, ia akan dibunuh oleh golongan yang melampaui batas.”
Muslim juga meriwayatkannya dari hadits Syu‘bah, dari Abu Maslamah, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa‘id, ia berkata:
Telah menceritakan kepadaku seseorang yang lebih baik dariku, yaitu Abu Qatadah, bahwa Muhammad Rasulullah bersabda kepada ‘Ammar bin Yasir: “Celakalah engkau wahai putra Sumayyah, engkau akan dibunuh oleh golongan yang melampaui batas.”
Abu Dawud Ath-Thayalisi berkata: Wahib menceritakan kepada kami, dari Dawud bin Abi Hind, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa‘id, bahwa:
Ketika Muhammad Rasulullah menggali parit, orang-orang mengangkut batu bata satu per satu, sedangkan ‘Ammar—karena sakit yang dideritanya—mengangkut dua batu bata sekaligus. Abu Sa‘id berkata: Sebagian sahabatku menceritakan kepadaku bahwa Muhammad Rasulullah mengibaskan debu dari kepalanya sambil bersabda: “Celakalah engkau wahai putra Sumayyah, engkau akan dibunuh oleh golongan yang melampaui batas.”
Al-Baihaqi berkata: Dengan demikian, ia membedakan antara apa yang ia dengar sendiri dan apa yang ia dengar dari para sahabatnya. Ia berkata: Kemungkinan penyebutan “parit” itu terjadi pada salah satu dari dua peristiwa tersebut, atau bisa jadi beliau mengucapkannya kepadanya saat pembangunan masjid dan juga saat penggalian parit. Allah Maha Mengetahui.
Aku berkata: Mengangkut batu bata dalam penggalian parit tidaklah masuk akal, dan yang tampak adalah telah terjadi kekeliruan pada perawi. Allah Maha Mengetahui. Hadits ini termasuk dalil kenabian, karena Muhammad Rasulullah telah mengabarkan bahwa ‘Ammar akan dibunuh oleh golongan yang melampaui batas. Dan memang ‘Ammar dibunuh oleh penduduk Syam dalam peristiwa Shiffin, sementara ‘Ammar berada bersama ‘Ali dan penduduk Irak, sebagaimana akan dijelaskan dan dirinci pada tempatnya.
‘Ali lebih berhak terhadap urusan kepemimpinan dibandingkan Mu‘awiyah. Penyebutan para pengikut Mu‘awiyah sebagai golongan yang melampaui batas tidak mengharuskan pengkafiran mereka, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang bodoh dari kelompok sesat Syiah dan selain mereka. Sebab meskipun mereka adalah golongan yang melampaui batas dalam kenyataannya, mereka tetap berijtihad dalam peperangan yang mereka lakukan. Tidak setiap orang yang berijtihad itu benar; yang benar mendapatkan dua pahala, sedangkan yang keliru mendapatkan satu pahala.
Barang siapa menambahkan pada hadits ini setelah sabda “engkau akan dibunuh oleh golongan yang melampaui batas” dengan kalimat “semoga Allah tidak memberinya syafaatku pada hari Kiamat”, maka sungguh ia telah mengada-adakan tambahan itu atas nama Muhammad Rasulullah. Beliau tidak pernah mengucapkannya, karena tambahan tersebut tidak diriwayatkan melalui jalur yang dapat diterima. Allah Maha Mengetahui.
Adapun sabda beliau: “Ia mengajak mereka ke surga, sedangkan mereka mengajaknya ke neraka”, maka sesungguhnya ‘Ammar dan para sahabatnya mengajak penduduk Syam kepada persatuan dan kesatuan umat. Sedangkan penduduk Syam menginginkan kekuasaan berada di tangan mereka, bukan pada orang yang lebih berhak, dan agar manusia terpecah-pecah dengan setiap wilayah memiliki pemimpin sendiri. Hal itu akan mengakibatkan perpecahan umat dan perbedaan di tengah kaum muslimin. Itulah konsekuensi dari mazhab dan jalan yang mereka tempuh, meskipun mereka tidak bermaksud demikian. Allah Maha Mengetahui.
Penjelasan masalah-masalah ini akan disampaikan ketika kami sampai pada pembahasan peristiwa Shiffin dalam kitab ini, dengan pertolongan dan kekuatan Allah, serta dengan taufik dan bantuan-Nya yang baik.
Tujuan pembahasan di sini hanyalah kisah pembangunan Masjid Nabawi, semoga bagi pembangunnya tercurah sebaik-baik salat dan salam.
Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata dalam kitab Ad-Dala’il: Abu ‘Abdullah Al-Hafizh mendiktekan kepada kami, Abu Bakr bin Ishaq menceritakan kepada kami, ‘Ubaid bin Syarik menceritakan kepada kami, Nu‘aim bin Hammad menceritakan kepada kami, ‘Abdullah bin Al-Mubarak mengabarkan kepada kami, Harsyaj bin Nabatat menceritakan kepada kami, dari Sa‘id bin Jumhan, dari Safinah, bekas budak Muhammad Rasulullah, ia berkata:
Abu Bakar datang membawa sebuah batu lalu meletakkannya. Kemudian ‘Umar datang membawa sebuah batu lalu meletakkannya. Kemudian ‘Utsman datang membawa sebuah batu lalu meletakkannya. Maka Muhammad Rasulullah bersabda: “Mereka inilah para pemegang urusan setelah aku.”
Kemudian Al-Baihaqi meriwayatkannya dari hadits Yahya bin ‘Abdul Hamid Al-Himmani, dari Harsyaj, dari Sa‘id, dari Safinah, ia berkata:
Ketika Muhammad Rasulullah membangun masjid, beliau meletakkan sebuah batu, lalu bersabda: “Hendaklah Abu Bakar meletakkan sebuah batu di samping batuku, kemudian hendaklah ‘Umar meletakkan batunya di samping batu Abu Bakar, kemudian hendaklah ‘Utsman meletakkan batunya di samping batu ‘Umar.” Maka Muhammad Rasulullah bersabda: “Mereka inilah para khalifah setelah aku.”
Hadits dengan susunan lafaz seperti ini sangat asing.
Yang lebih dikenal adalah riwayat Imam Ahmad, dari Abu An-Nadhr, dari Harsyaj bin Nabatat Al-‘Absi, dan juga dari Bahz, Zaid bin Al-Hubab, serta ‘Abdus Shamad, dari Hammad bin Salamah, semuanya dari Sa‘id bin Jumhan, dari Safinah, ia berkata:
Aku mendengar Muhammad Rasulullah bersabda: “Kekhalifahan berlangsung selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu berubah menjadi kerajaan.”
Safinah berkata: Hitunglah: kekhalifahan Abu Bakar dua tahun, kekhalifahan ‘Umar sepuluh tahun, kekhalifahan ‘Utsman dua belas tahun, dan kekhalifahan ‘Ali enam tahun. Ini adalah lafaz Ahmad.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i melalui beberapa jalur dari Sa‘id bin Jumhan. At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan, kami tidak mengetahuinya kecuali melalui haditsnya. Lafaznya: “Kekhalifahan setelahku berlangsung selama tiga puluh tahun, kemudian berubah menjadi kerajaan yang menggigit.” Lalu ia menyebutkan kelanjutannya.
Aku berkata: Pada awal pembangunan Masjid Nabi, tidak terdapat mimbar untuk berkhutbah. Muhammad Rasulullah berkhutbah sambil bersandar pada sebatang tiang kayu di tempat salat beliau, di dinding arah kiblat. Ketika kemudian dibuatkan mimbar untuk beliau—sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya—dan beliau berpindah berkhutbah di atas mimbar itu serta melewati tiang tersebut, tiang itu mengeluarkan suara dan merintih seperti rintihan unta betina yang sedang bunting, karena sebelumnya ia mendengar khutbah Rasul di dekatnya.
Maka Muhammad Rasulullah kembali kepadanya dan memeluknya hingga ia tenang, sebagaimana seorang bayi ditenangkan hingga diam. Peristiwa ini akan dijelaskan secara rinci melalui berbagai jalur riwayat dari Sahl bin Sa‘d As-Sa‘idi, Jabir, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Abbas, Anas bin Malik, dan Ummu Salamah.
Alangkah indahnya ucapan Al-Hasan Al-Bashri setelah meriwayatkan hadits ini dari Anas bin Malik:
“Wahai kaum muslimin, sebatang kayu saja merindukan Muhammad Rasulullah karena rindu kepadanya. Tidakkah manusia yang berharap berjumpa dengannya lebih berhak untuk merindukannya?”
Peringatan tentang keutamaan masjid yang mulia dan tempat yang agung ini
Imam Ahmad berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari Anis bin Abi Yahya, ayahnya menceritakan kepadaku, ia berkata:
Aku mendengar Abu Sa‘id Al-Khudri berkata: Dua orang berselisih—seorang dari Bani Khudrah dan seorang dari Bani ‘Amr bin ‘Auf—tentang masjid yang didirikan atas dasar takwa. Orang dari Bani Khudrah berkata: “Itu adalah Masjid Muhammad Rasulullah.” Orang dari Bani ‘Amr berkata: “Itu adalah Masjid Quba.” Keduanya lalu mendatangi Muhammad Rasulullah dan bertanya kepada beliau. Beliau bersabda: “Masjid itu adalah masjid ini,” sambil menunjuk Masjid Muhammad Rasulullah. Lalu beliau bersabda: “Dan pada Masjid Quba terdapat kebaikan yang banyak.”
Hadits ini diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: hasan shahih.
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Ishaq bin ‘Isa, dari Al-Laits bin Sa‘d, dan At-Tirmidzi serta An-Nasa’i dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari ‘Imran bin Abi Anas, dari ‘Abdurrahman bin Abi Sa‘id, dari ayahnya, dengan kisah yang semakna.
Dalam Shahih Muslim, dari hadits Humaid Al-Kharrath, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, bahwa ia bertanya kepada ‘Abdurrahman bin Abi Sa‘id: Bagaimana engkau mendengar ayahmu menyebut masjid yang didirikan atas dasar takwa? Ia berkata:
Ayahku berkata: Aku mendatangi Muhammad Rasulullah dan bertanya kepadanya tentang masjid yang didirikan atas dasar takwa. Maka beliau mengambil segenggam kerikil, memukulkannya ke tanah, lalu bersabda: “Masjid itu adalah masjid kalian ini.”
Imam Ahmad berkata: Waki‘ menceritakan kepada kami, Rabi‘ah bin ‘Utsman At-Taimi menceritakan kepada kami, dari ‘Imran bin Abi Anas, dari Sahl bin Sa‘d, ia berkata:
Dua orang berselisih pada masa Muhammad Rasulullah tentang masjid yang didirikan atas dasar takwa. Salah satunya berkata: “Itu adalah Masjid Muhammad Rasulullah.” Yang lain berkata: “Itu adalah Masjid Quba.” Keduanya mendatangi Muhammad Rasulullah dan bertanya kepada beliau. Maka beliau bersabda: “Itu adalah masjidku ini.”
Berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Amir al-Aslami, dari ‘Imran bin Abi Anas, dari Sahl bin Sa‘ad, dari Ubay bin Ka‘ab bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Masjid yang didirikan di atas ketakwaan adalah masjidku ini.”
Maka ini adalah beberapa jalur periwayatan yang beragam, yang barangkali mendekati kepastian bahwa yang dimaksud adalah Masjid Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Pendapat ini dianut oleh Umar bin al-Khaththab, putranya Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, dan Sa‘id bin al-Musayyib, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.
Sebagian ulama yang lain berkata: Tidak ada pertentangan antara turunnya ayat tentang Masjid Quba—sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya—dengan hadis-hadis ini, karena masjid ini lebih utama menyandang sifat tersebut daripada Masjid Quba. Sebab masjid ini adalah salah satu dari tiga masjid yang dianjurkan untuk melakukan perjalanan khusus menuju ke sana, sebagaimana telah ditetapkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari hadis Abu Hurairah. Ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh melakukan perjalanan khusus kecuali menuju tiga masjid: masjidku ini, Masjidil Haram, dan Masjid Baitul Maqdis.”
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Sa‘id, dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian melakukan perjalanan khusus kecuali menuju tiga masjid.” Lalu beliau menyebutkannya.
Dan telah tetap dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Salat di masjidku ini lebih baik daripada seribu salat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram.”
Dalam Musnad Ahmad dengan sanad hasan terdapat tambahan yang baik, yaitu sabda beliau: “Karena hal itu lebih utama.”
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadis Yahya al-Qaththan, dari ‘Ubaidullah, dari Khubaib, dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Antara rumahku dan mimbarku terdapat satu taman dari taman-taman surga, dan mimbarku berada di atas telagaku.”
Hadis-hadis tentang keutamaan masjid yang mulia ini sangat banyak. Insya Allah akan kami sebutkan dalam Kitab al-Manasik dari kitab al-Ahkam al-Kabir. Kepada Allah kami percaya dan kepada-Nya kami berserah diri. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Imam Malik dan para pengikutnya berpendapat bahwa Masjid Madinah lebih utama daripada Masjidil Haram, karena Masjidil Haram dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, sedangkan Masjid Madinah dibangun oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan telah diketahui bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih utama daripada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Mayoritas ulama berpendapat sebaliknya, dan mereka menetapkan bahwa Masjidil Haram lebih utama, karena ia berada di negeri yang Allah muliakan sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi. Ia dimuliakan oleh Nabi Ibrahim al-Khalil ‘alaihis salam dan oleh Nabi Muhammad penutup para rasul. Maka terkumpullah pada Masjidil Haram berbagai keutamaan yang tidak terdapat pada selainnya. Penjelasan panjang masalah ini ada di tempat lain. Dan kepada Allah-lah dimohon pertolongan.
Dibangun untuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, di sekitar masjid beliau yang mulia, beberapa kamar sebagai tempat tinggal beliau dan keluarganya. Bangunannya pendek, halaman-halamannya sempit.
Al-Hasan bin Abi al-Hasan al-Bashri berkata—ketika itu ia masih kecil bersama ibunya Khairah, bekas budak Ummu Salamah—: “Aku dahulu dapat menjangkau atap tertinggi dari kamar-kamar Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan tanganku.”
Aku berkata: Namun al-Hasan al-Bashri dikenal bertubuh besar dan tinggi. Semoga Allah merahmatinya.
As-Suhaili berkata dalam kitab ar-Raudh: Rumah-rumah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam dibangun dari pelepah kurma yang dilapisi tanah liat, sebagian dari batu yang disusun, dan seluruh atapnya dari pelepah kurma. Ia menukil dari al-Hasan al-Bashri sebagaimana yang telah disebutkan. Ia berkata: Kamar-kamar itu dibuat dari kain rambut yang diikat pada kayu ‘arar.
Ia berkata: Dalam Tarikh al-Bukhari disebutkan bahwa pintu rumah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam diketuk dengan kuku, menunjukkan bahwa pintu-pintunya tidak memiliki cincin pegangan. Ia berkata: Seluruh kamar tersebut baru digabungkan ke dalam masjid setelah wafatnya istri-istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Al-Waqidi, Ibnu Jarir, dan selain keduanya berkata: Ketika Abdullah bin Uraiqith ad-Dili kembali ke Mekah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar mengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi‘—bekas budak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam—untuk menjemput keluarga mereka dari Mekah. Keduanya juga mengutus bersama mereka dua ekor unta beban dan lima ratus dirham untuk membeli unta di Qadid.
Mereka berangkat dan kembali membawa dua putri Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Fathimah dan Ummu Kultsum, serta kedua istri beliau, Saudah dan ‘Aisyah, bersama ibunya Ummu Ruman, keluarga Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan keluarga Abu Bakar, ditemani Abdullah bin Abi Bakar. Dalam perjalanan, unta yang membawa ‘Aisyah dan ibunya Ummu Ruman sempat lepas, sehingga Ummu Ruman berseru: “Wahai pengantin! Wahai putriku!”
‘Aisyah berkata: Aku mendengar seseorang berkata, “Lepaskan talinya.” Maka aku melepaskan talinya, lalu unta itu berhenti dengan izin Allah, dan Allah menyelamatkan kami.
Mereka pun melanjutkan perjalanan dan singgah di as-Sunh. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke Madinah dan menikahi ‘Aisyah pada bulan Syawal, delapan bulan setelah itu, sebagaimana akan disebutkan. Turut datang bersama mereka Asma’ binti Abi Bakar, istri az-Zubair bin al-‘Awwam, dalam keadaan hamil tua mengandung Abdullah bin az-Zubair, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya di akhir tahun ini.
Pasal tentang apa yang menimpa kaum Muhajirin berupa demam Madinah—semoga Allah meridai mereka semuanya—sedangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam diselamatkan oleh Allah dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya, dan beliau berdoa kepada Allah sehingga Allah menyingkirkannya dari Madinah
Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, ia berkata: Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam.
Ia berkata: Aku masuk menemui keduanya dan berkata, “Wahai ayahku, bagaimana keadaanmu? Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?”
Ia berkata: Apabila Abu Bakar terserang demam, ia berkata:
Setiap orang di pagi hari berada di tengah keluarganya,
padahal kematian lebih dekat daripada tali sandal kakinya.
Dan apabila demam Bilal mereda, ia mengeraskan suaranya seraya berkata:
Duhai, andai aku tahu, apakah aku akan bermalam suatu malam
di sebuah lembah, sementara di sekelilingku ada idzkhir dan jalil.
Dan apakah suatu hari aku akan kembali ke mata air Majannah,
dan apakah akan tampak bagiku Syamah dan Thufail.
‘Aisyah berkata: Aku pun mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan hal itu kepada beliau. Maka beliau bersabda: “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Mekah, atau bahkan lebih. Sehatkanlah Madinah, berkahilah bagi kami takaran sha‘ dan mudd-nya, dan pindahkanlah demamnya ke Juhfah.” Hadis ini diriwayatkan pula oleh Muslim secara ringkas.
Dalam riwayat al-Bukhari dari Abu Usamah, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, disebutkan tambahan setelah syair Bilal, lalu Bilal berkata: “Ya Allah, laknatlah ‘Utbah bin Rabi‘ah, Syaibah bin Rabi‘ah, dan Umayyah bin Khalaf, sebagaimana mereka telah mengusir kami ke negeri wabah.”
Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Mekah atau bahkan lebih. Ya Allah, berkahilah bagi kami sha‘ dan mudd-nya, sehatkanlah Madinah bagi kami, dan pindahkanlah demamnya ke Juhfah.”
Kami tiba di Madinah, dan ia adalah negeri Allah yang paling banyak wabahnya. Dan sungai Bathhan mengalir dengan air yang keruh.
Ziyad meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq: Telah menceritakan kepadaku Hisyam bin ‘Urwah dan ‘Umar bin Abdullah, dari ‘Urwah bin az-Zubair, dari ‘Aisyah, ia berkata: Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, Madinah adalah negeri yang paling banyak wabah demamnya. Maka para sahabat beliau tertimpa penyakit dan kesakitan karenanya, sementara Allah memalingkan hal itu dari Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Ia berkata: Abu Bakar, ‘Amir bin Fuhairah, dan Bilal—bekas budak Abu Bakar—tinggal dalam satu rumah, lalu mereka terserang demam. Aku masuk menjenguk mereka, dan itu terjadi sebelum hijab diwajibkan atas kami. Mereka mengalami penderitaan yang hanya Allah yang mengetahuinya.
Aku mendekati Abu Bakar dan berkata: “Bagaimana keadaanmu, wahai ayahku?” Ia berkata:
Setiap orang di pagi hari berada di tengah keluarganya,
padahal kematian lebih dekat daripada tali sandal kakinya.
Ia berkata: Demi Allah, ayahku tidak menyadari apa yang ia ucapkan.
Kemudian aku mendekati ‘Amir bin Fuhairah dan berkata: “Bagaimana keadaanmu, wahai ‘Amir?” Ia berkata:
Aku telah merasakan kematian sebelum mengecapnya,
sesungguhnya orang pengecut ajalnya datang dari atasnya.
Setiap orang berjuang dengan kemampuan yang ia miliki,
seperti banteng yang melindungi kulitnya dengan tanduknya.
Ia berkata: Demi Allah, ‘Amir tidak menyadari apa yang ia ucapkan.
Dan apabila Bilal terserang demam, ia berbaring di halaman rumah, lalu mengeraskan suaranya seraya berkata:
Duhai, andai aku tahu, apakah aku akan bermalam suatu malam
di Fakh, sementara di sekelilingku ada idzkhir dan jalil.
Dan apakah suatu hari aku akan kembali ke mata air Majannah,
dan apakah akan tampak bagiku Syamah dan Thufail.
‘Aisyah berkata: Aku pun menyampaikan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam apa yang aku dengar dari mereka, dan aku berkata: “Sesungguhnya mereka mengigau dan tidak sadar karena kerasnya demam.”
Maka beliau bersabda: “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana Engkau menjadikan kami mencintai Mekah, atau bahkan lebih. Berkahilah bagi kami mudd dan sha‘-nya, dan pindahkanlah wabahnya ke Mahya‘ah.”
Mahya‘ah adalah Juhfah.
Berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Laits, dari Yazid bin Abi Habib, dari Abu Bakar bin Ishaq bin Yasar, dari Abdullah bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata: Ketika Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, para sahabat beliau jatuh sakit. Abu Bakar jatuh sakit, begitu pula ‘Amir bin Fuhairah, bekas budak Abu Bakar, dan Bilal. Maka ‘Aisyah meminta izin kepada Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjenguk mereka, lalu beliau mengizinkannya.
‘Aisyah berkata: Aku bertanya kepada Abu Bakar, “Bagaimana keadaanmu?” Maka ia berkata:
Setiap orang di pagi hari berada di tengah keluarganya,
sedangkan kematian lebih dekat daripada tali sandal kakinya.
Aku bertanya kepada ‘Amir, maka ia berkata:
Aku telah merasakan kematian sebelum mengecapnya,
sesungguhnya orang pengecut, ajalnya datang dari atasnya.
Aku bertanya kepada Bilal, maka ia berkata:
Duhai, andai aku tahu, apakah aku akan bermalam suatu malam
di Fakh, sementara di sekelilingku ada idzkhir dan jalil.
Lalu ‘Aisyah mendatangi Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan hal itu kepada beliau. Maka beliau memandang ke langit dan bersabda: “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana Engkau menjadikan kami mencintai Mekah, atau bahkan lebih. Ya Allah, berkahilah bagi kami takaran sha‘ dan mudd-nya, dan pindahkanlah wabahnya ke Mahya‘ah.” Mereka mengatakan bahwa Mahya‘ah adalah Juhfah.
Demikian pula hadis ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari Qutaibah, dari al-Laits dengan sanad yang sama. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui jalur ‘Abdurrahman bin al-Harits dari ‘Aisyah dengan makna yang sama.
Al-Baihaqi berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah al-Hafizh dan Abu Sa‘id bin Abi ‘Amr, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu al-‘Abbas al-Ashamm, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdul Jabbar, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, dan Madinah adalah negeri Allah yang paling banyak wabahnya, dan lembahnya, Bathhan, mengalir deras.
Hisyam berkata: Wabah Madinah sudah dikenal sejak masa jahiliah. Apabila suatu lembah berwabah lalu seseorang berada di tempat tinggi yang menghadap ke lembah itu, ia disuruh untuk meringkik seperti ringkikan keledai. Jika ia melakukan hal itu, maka wabah lembah tersebut tidak membahayakannya. Seorang penyair pernah berkata ketika berada di tempat tinggi menghadap Madinah:
Demi hidupku, sungguh jika aku hidup dalam ketakutan akan kematian,
aku akan meringkik seperti keledai, karena sungguh aku sangat ketakutan.
Al-Bukhari meriwayatkan dari hadis Musa bin ‘Uqbah, dari Salim, dari ayahnya, bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dalam mimpi seakan-akan seorang perempuan berkulit hitam dengan rambut terurai keluar dari Madinah hingga ia berdiri di Mahya‘ah, yaitu Juhfah. Maka aku menakwilkannya bahwa wabah Madinah dipindahkan ke sana.” Inilah lafaz al-Bukhari, dan hadis ini tidak diriwayatkan oleh Muslim. Hadis ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia mensahihkannya, juga oleh an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari hadis Musa bin ‘Uqbah.
Hammad bin Zaid meriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah dalam keadaan Madinah berwabah. Lalu ia menyebutkan hadis tersebut secara panjang hingga sabda beliau: “Dan pindahkanlah wabahnya ke Juhfah.”
Hisyam berkata: Maka bayi yang dilahirkan di Juhfah tidak mencapai usia balig kecuali demam menjatuhkannya. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab Dala’il an-Nubuwwah.
Yunus berkata, dari Ibnu Ishaq: Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah dalam keadaan Madinah berwabah. Maka para sahabat beliau tertimpa penyakit dan kesakitan yang sangat berat, dan Allah memalingkan hal itu dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Telah tetap dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau tiba pada pagi hari tanggal empat, yakni di Mekah, pada tahun Umrah Qadha. Orang-orang musyrik berkata: “Akan datang kepada kalian suatu rombongan yang telah dilemahkan oleh demam Yatsrib.” Maka Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya untuk berlari-lari kecil dan berjalan biasa di antara dua rukun. Tidak ada yang menghalangi beliau untuk memerintahkan mereka berlari-lari kecil pada seluruh putaran thawaf kecuali karena belas kasihan kepada mereka.
Aku berkata: Umrah Qadha itu terjadi pada tahun ketujuh, di bulan Dzulqa‘dah. Maka kemungkinan doanya—shalallahu ‘alaihi wa sallam—tentang pemindahan wabah itu baru terwujud mendekati waktu tersebut, atau wabah itu telah diangkat namun masih tersisa sedikit bekasnya, atau mereka masih merasakan sisa-sisa pengaruh penyakit itu hingga masa tersebut. Allah Yang Maha Mengetahui.
Ziyad meriwayatkan dari Ibnu Ishaq, dan Ibnu Syihab az-Zuhri menyebutkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, bahwa Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah bersama para sahabatnya, mereka terserang demam Madinah hingga sangat melemahkan mereka karena sakit, dan Allah memalingkan hal itu dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga mereka salat dalam keadaan duduk.
Ia berkata: Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka sementara mereka salat demikian, lalu beliau bersabda: “Ketahuilah bahwa salat orang yang duduk nilainya setengah dari salat orang yang berdiri.” Maka kaum muslimin pun memberanikan diri untuk berdiri, meskipun mereka dalam keadaan lemah dan sakit, demi mengharapkan keutamaan.
Pasal tentang pengikatan persaudaraan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam antara kaum Muhajirin dan Anshar melalui sebuah piagam yang beliau perintahkan untuk ditulis, serta persaudaraan yang beliau tetapkan di antara mereka, dan perjanjian damai beliau dengan orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah
Di Madinah terdapat beberapa kabilah Yahudi, yaitu Bani Qainuqa‘, Bani an-Nadhir, dan Bani Quraizhah. Mereka telah menetap di Hijaz sebelum kedatangan kaum Anshar, pada masa Bukhtanashar, ketika ia menghancurkan negeri Baitul Maqdis, sebagaimana disebutkan oleh ath-Thabari.
Kemudian ketika terjadi banjir besar dan kaum Saba’ tercerai-berai, suku Aus dan Khazraj menetap di Madinah bersama orang-orang Yahudi. Mereka bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan mulai meniru mereka, karena melihat kelebihan ilmu yang dimiliki orang-orang Yahudi yang bersumber dari ajaran para nabi. Namun Allah memberi karunia kepada kaum Aus dan Khazraj—yang sebelumnya musyrik—dengan petunjuk dan Islam, dan Allah menghinakan orang-orang Yahudi karena kedengkian, kezaliman, dan kesombongan mereka untuk mengikuti kebenaran.
Berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, telah menceritakan kepada kami ‘Ashim al-Ahwal, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di rumah Anas bin Malik.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud melalui banyak jalur dari ‘Ashim bin Sulaiman al-Ahwal, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan kaum Quraisy dan kaum Anshar di rumahku.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Bab, dari Hajjaj—yaitu Ibnu Arthah. Ia berkata: Dan telah menceritakan kepada kami Suraij, telah menceritakan kepada kami ‘Abbad, dari Hajjaj, dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam menulis sebuah piagam antara kaum Muhajirin dan Anshar agar mereka menanggung diyat sesuai kelompok masing-masing, dan agar mereka menebus tawanan mereka dengan cara yang baik serta melakukan perbaikan di antara kaum muslimin.
Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Suraij, telah menceritakan kepada kami ‘Abbad, dari Hajjaj, dari al-Hakam, dari Miqsam, dari Ibnu ‘Abbas dengan makna yang sama. Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Dalam Shahih Muslim dari Jabir, ia berkata: Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan kewajiban diyat atas setiap kabilah sesuai kelompoknya.
Muhammad bin Ishaq berkata: Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam menulis sebuah piagam antara kaum Muhajirin dan Anshar, dan beliau juga mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi serta menjamin mereka atas agama dan harta mereka. Beliau menetapkan kewajiban atas mereka dan kewajiban bagi mereka. Isinya:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah piagam dari Muhammad, Nabi Allah, antara kaum mukminin dan kaum muslimin dari Quraisy dan Yatsrib, serta orang-orang yang mengikuti mereka, bergabung dengan mereka, dan berjihad bersama mereka. Sesungguhnya mereka adalah satu umat yang berbeda dari manusia lainnya. Kaum Muhajirin dari Quraisy tetap pada kelompok mereka, saling menanggung diyat di antara mereka, dan mereka menebus tawanan mereka dengan cara yang baik dan adil. Bani ‘Auf tetap pada kelompok mereka, saling menanggung diyat sebagaimana ketentuan sebelumnya, dan setiap kelompok menebus tawanan mereka dengan cara yang baik dan adil di antara kaum mukminin.”
Kemudian ia menyebutkan seluruh kabilah dari kaum Anshar dan penduduk setiap perkampungan: Bani Sa‘idah, Bani Jusyam, Bani an-Najjar, Bani ‘Amr bin ‘Auf, Bani an-Nabit, hingga ia berkata:
“Sesungguhnya kaum mukminin tidak membiarkan seorang yang terbebani di antara mereka tanpa dibantu secara patut dalam pembayaran tebusan atau diyat. Tidak boleh seorang mukmin bersekutu dengan bekas budak mukmin lainnya tanpa sepengetahuannya. Sesungguhnya kaum mukminin yang bertakwa bersatu melawan siapa pun di antara mereka yang berbuat aniaya, menuntut kezaliman, dosa, permusuhan, atau kerusakan di antara kaum mukminin. Tangan mereka semua bersatu melawannya, meskipun ia adalah anak salah seorang dari mereka. Seorang mukmin tidak boleh membunuh mukmin lainnya karena orang kafir, dan tidak boleh menolong orang kafir melawan orang mukmin. Perlindungan Allah itu satu, yang paling rendah di antara mereka berhak memberikan perlindungan. Kaum mukminin sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain, bukan bagi manusia lainnya. Barang siapa dari kalangan Yahudi mengikuti kami, maka baginya pertolongan dan persamaan hak, tanpa dizalimi dan tanpa dibiarkan ditindas. Perdamaian kaum mukminin adalah satu. Tidak boleh seorang mukmin mengadakan perdamaian sendiri dalam peperangan di jalan Allah tanpa persetujuan mukmin lainnya, kecuali dengan dasar keadilan dan kesetaraan di antara mereka. Setiap pasukan yang berperang bersama kami saling bergantian. Kaum mukminin saling menanggung akibat darah yang tertumpah di jalan Allah. Kaum mukminin yang bertakwa berada di atas petunjuk yang paling lurus dan paling benar. Tidak boleh seorang musyrik melindungi harta atau jiwa orang Quraisy dan tidak boleh menghalanginya dari seorang mukmin. Barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja dan jelas buktinya, maka ia dikenai qishash, kecuali jika wali korban rela. Kaum mukminin seluruhnya wajib menegakkan hukum atasnya, dan tidak halal bagi mereka kecuali menegakkannya. Tidak halal bagi seorang mukmin yang mengakui isi piagam ini, beriman kepada Allah dan hari akhir, untuk menolong pelaku kejahatan atau melindunginya. Barang siapa menolong atau melindunginya, maka baginya laknat Allah dan murka-Nya pada hari kiamat, dan tidak diterima darinya tebusan maupun ganti apa pun. Apa pun yang kalian perselisihkan, maka rujukannya kepada Allah dan kepada Muhammad Rasul Allah. Orang-orang Yahudi menanggung biaya bersama kaum mukminin selama mereka berperang. Yahudi Bani ‘Auf adalah satu umat bersama kaum mukminin; bagi Yahudi agama mereka dan bagi kaum muslimin agama mereka, baik para sekutu maupun diri mereka sendiri, kecuali orang yang berbuat zalim dan berdosa, maka ia hanya mencelakakan dirinya dan keluarganya. Bagi Yahudi Bani an-Najjar, Bani al-Harits, Bani Sa‘idah, Bani Jusyam, Bani al-Aus, Bani Tsa‘labah, Jafnah, dan Bani asy-Syuthaybah berlaku hak dan kewajiban yang sama seperti Yahudi Bani ‘Auf. Orang-orang dekat Yahudi diperlakukan seperti diri mereka sendiri. Tidak seorang pun dari mereka boleh keluar kecuali dengan izin Muhammad Rasul Allah. Tidak boleh menghalangi penuntutan balas dendam atas luka. Barang siapa berbuat kejahatan, maka kejahatannya menimpa dirinya dan keluarganya, kecuali orang yang dizalimi. Sesungguhnya Allah menjadi penjamin bagi siapa yang paling menepati dan paling bertakwa terhadap piagam ini. Atas orang-orang Yahudi kewajiban nafkah mereka dan atas kaum muslimin kewajiban nafkah mereka. Di antara mereka ada kewajiban saling menolong terhadap siapa pun yang memerangi para pihak dalam piagam ini. Di antara mereka berlaku nasihat dan kebaikan, bukan dosa. Seseorang tidak menanggung dosa sekutunya. Pertolongan diberikan kepada orang yang dizalimi. Yatsrib adalah tanah suci bagi para pihak dalam piagam ini. Tetangga diperlakukan seperti diri sendiri, tidak boleh disakiti dan tidak boleh berbuat dosa. Tidak boleh memberikan perlindungan terhadap sesuatu yang terlarang kecuali dengan izin penduduknya. Jika terjadi suatu peristiwa atau perselisihan di antara para pihak dalam piagam ini yang dikhawatirkan menimbulkan kerusakan, maka rujukannya kepada Allah dan kepada Muhammad Rasul Allah. Sesungguhnya Allah paling menjaga dan paling menepati isi piagam ini. Tidak boleh memberi perlindungan kepada Quraisy atau kepada orang yang menolong mereka. Di antara para pihak terdapat kewajiban saling menolong terhadap siapa pun yang menyerang Yatsrib. Jika mereka diajak kepada perdamaian dan mereka berdamai serta melaksanakannya, maka kaum mukminin pun melaksanakannya, kecuali terhadap orang yang memerangi agama. Setiap kelompok menanggung bagian mereka dari sisi wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Piagam ini tidak melindungi orang zalim atau berdosa. Barang siapa keluar, maka ia aman, dan barang siapa tinggal di Madinah, maka ia aman, kecuali orang yang berbuat zalim atau berdosa. Allah adalah pelindung bagi orang yang berbuat baik dan bertakwa.”
Demikianlah Ibnu Ishaq meriwayatkannya dengan makna yang serupa. Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam—semoga Allah merahmatinya—telah membahas piagam ini secara panjang lebar dalam kitab al-Gharib dan karya-karyanya yang lain, dengan pembahasan yang panjang.
Pasal tentang pemersaudarakan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam antara kaum Muhajirin dan Anshar
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala dalam Surat al-Hasyr ayat 9:
“Dan orang-orang yang telah menempati negeri Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka, mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang Muhajirin, dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri meskipun mereka dalam keadaan kekurangan. Barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Dan firman Allah Ta‘ala dalam Surat an-Nisa ayat 33:
“Dan orang-orang yang kalian ikat dengan sumpah setia kalian, maka berikanlah kepada mereka bagian mereka. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”
Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami ash-Shalt bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Idris, dari Thalhah bin Musharrif, dari Sa‘id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah: “Dan bagi setiap orang Kami jadikan para pewaris.” Ia berkata: Yang dimaksud adalah para ahli waris. Dan firman Allah: “Dan orang-orang yang kalian ikat dengan sumpah setia kalian,” dahulu ketika kaum Muhajirin datang ke Madinah, seorang Muhajir dapat mewarisi seorang Anshar, bukan kerabat sedarahnya, karena persaudaraan yang dipersaudarakan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam di antara mereka. Ketika turun ayat “Dan bagi setiap orang Kami jadikan para pewaris,” ketentuan itu dihapus. Kemudian Allah berfirman: “Dan orang-orang yang kalian ikat dengan sumpah setia kalian, maka berikanlah kepada mereka bagian mereka,” yaitu berupa pertolongan, jamuan, dan nasihat, sementara hukum waris telah dihapus, dan hanya diwasiatkan baginya.
Imam Ahmad berkata: Dibacakan kepada Sufyan, ia berkata: Aku mendengar ‘Ashim dari Anas, ia berkata: Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di rumah kami. Sufyan berkata: Seakan-akan maksudnya adalah mempersaudarakan.
Muhammad bin Ishaq berkata: Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan para sahabatnya dari kaum Muhajirin dan Anshar. Ia bersabda—menurut kabar yang sampai kepada kami, dan kami berlindung kepada Allah dari mengatakan atas nama beliau sesuatu yang tidak beliau katakan—: “Bersaudara-lah kalian karena Allah, berpasang-pasang sebagai saudara.” Kemudian beliau memegang tangan ‘Ali bin Abi Thalib dan bersabda: “Ini adalah saudaraku.”
Maka Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin para rasul, imam orang-orang bertakwa, dan utusan Tuhan seluruh alam, yang tidak ada tandingan dan bandingannya di antara para hamba. Dan ‘Ali bin Abi Thalib adalah saudaranya. Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, Singa Allah dan Singa Rasul-Nya, paman Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dipersaudarakan dengan Zaid bin Haritsah, bekas budak Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kepada Zaid inilah Hamzah berwasiat pada hari Uhud. Ja‘far bin Abi Thalib yang berjuluk Dzul Janahain dipersaudarakan dengan Mu‘adz bin Jabal. Ibnu Hisyam berkata: Pada saat itu Ja‘far sedang berada di negeri Habasyah.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid al-Khazraji. ‘Umar bin al-Khaththab dipersaudarakan dengan ‘Itban bin Malik. Abu ‘Ubaidah dipersaudarakan dengan Sa‘d bin Mu‘adz. ‘Abdurrahman bin ‘Auf dipersaudarakan dengan Sa‘d bin ar-Rabi‘. Az-Zubair bin al-‘Awwam dipersaudarakan dengan Salamah bin Salamah bin Waqsy. Ada pula yang mengatakan bahwa az-Zubair dipersaudarakan dengan ‘Abdullah bin Mas‘ud. ‘Utsman bin ‘Affan dipersaudarakan dengan Aus bin Tsabit bin al-Mundzir an-Najjari. Thalhah bin ‘Ubaidillah dipersaudarakan dengan Ka‘b bin Malik. Sa‘id bin Zaid dipersaudarakan dengan Ubay bin Ka‘b. Mush‘ab bin ‘Umair dipersaudarakan dengan Abu Ayyub. Abu Hudzaifah bin ‘Utbah dipersaudarakan dengan ‘Abbad bin Bisyir. ‘Ammar dipersaudarakan dengan Hudzaifah bin al-Yaman al-‘Absi, sekutu Bani ‘Abdul Asyhal. Ada pula yang mengatakan bahwa ‘Ammar dipersaudarakan dengan Tsabit bin Qais bin Syammas.
Aku berkata: Pendapat ini lebih tepat dari dua sisi.
Ia berkata: Abu Dzarr Jundub bin Junadah dipersaudarakan dengan al-Mundzir bin ‘Amr yang dijuluki al-Mu‘annaq li Yamuta. Hathib bin Abi Balta‘ah dipersaudarakan dengan ‘Uwaim bin Sa‘idah. Salman dipersaudarakan dengan Abu ad-Darda’. Bilal dipersaudarakan dengan Abu Ruwaihah ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Khats‘ami, kemudian termasuk orang-orang yang sigap menolong. Ia berkata: Mereka inilah orang-orang yang disebutkan kepada kami sebagai sahabat-sahabat yang dipersaudarakan oleh Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah meridai mereka.
Aku berkata: Sebagian dari yang ia sebutkan perlu ditinjau. Adapun pemersaudarakan antara Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan ‘Ali, sebagian ulama mengingkarinya dan menilai tidak sah. Dasar mereka adalah bahwa pemersaudarakan itu disyariatkan untuk saling menolong dan untuk menyatukan hati satu sama lain. Maka tidak ada makna Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan dirinya dengan salah seorang dari mereka, dan juga tidak ada makna seorang Muhajir dipersaudarakan dengan Muhajir lainnya, sebagaimana disebutkan tentang pemersaudarakan Hamzah dengan Zaid bin Haritsah. Kecuali jika dikatakan bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyerahkan urusan ‘Ali kepada selain dirinya, karena sejak kecil ‘Ali telah berada dalam tanggungan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam pada masa hidup ayahnya, Abu Thalib, sebagaimana telah disebutkan dari Mujahid dan selainnya. Demikian pula Hamzah menanggung urusan bekas budak mereka, Zaid bin Haritsah, sehingga ia dipersaudarakan dengannya atas dasar ini. Allah Yang Maha Mengetahui.
Demikian pula penyebutan pemersaudarakan Ja‘far dengan Mu‘adz bin Jabal perlu ditinjau, sebagaimana telah diisyaratkan oleh ‘Abdul Malik bin Hisyam. Sebab Ja‘far bin Abi Thalib baru tiba pada saat penaklukan Khaibar pada awal tahun ketujuh, sebagaimana akan dijelaskan. Maka bagaimana mungkin ia dipersaudarakan dengan Mu‘adz bin Jabal pada awal kedatangan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah, kecuali jika dikatakan bahwa pemersaudarakan itu telah dipersiapkan untuknya ketika ia datang.
Pernyataannya bahwa Abu ‘Ubaidah dipersaudarakan dengan Sa‘d bin Mu‘adz juga bertentangan dengan riwayat Imam Ahmad yang berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdush Shamad, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah dengan Abu Thalhah. Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Muslim secara tersendiri dari Hajjaj bin asy-Sya‘ir, dari ‘Abdush Shamad bin ‘Abdul Warits, dengan sanad yang sama. Riwayat ini lebih sahih daripada yang disebutkan Ibnu Ishaq tentang pemersaudarakan Abu ‘Ubaidah dengan Sa‘d bin Mu‘adz. Allah Yang Maha Mengetahui.
Al-Bukhari berkata: Bab tentang bagaimana Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan para sahabatnya. ‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata: Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan aku dengan Sa‘d bin ar-Rabi‘ ketika kami tiba di Madinah. Abu Juhifah berkata: Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Salman al-Farisi dengan Abu ad-Darda’.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Humaid, dari Anas, ia berkata: Ketika ‘Abdurrahman bin ‘Auf tiba, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan dia dengan Sa‘d bin ar-Rabi‘ al-Anshari. Sa‘d menawarkan kepadanya agar ia membagi dua keluarga dan hartanya. ‘Abdurrahman berkata: “Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu. Tunjukkanlah kepadaku pasar.” Maka ia pun memperoleh keuntungan dari keju kering dan lemak. Beberapa hari kemudian Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya dengan bekas warna kuning pada pakaiannya, lalu beliau bertanya: “Apa yang terjadi, wahai ‘Abdurrahman?” Ia menjawab: Wahai Rasulullah, aku telah menikahi seorang perempuan dari kaum Anshar. Beliau bertanya: “Apa yang engkau berikan sebagai mahar?” Ia menjawab: Seberat biji emas. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Adakanlah walimah meskipun hanya dengan seekor kambing.” Riwayat ini datang dari jalur ini secara tersendiri, dan juga diriwayatkan di tempat lain, serta oleh Muslim melalui beberapa jalur dari Humaid.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Tsabit dan Humaid, dari Anas, bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf tiba di Madinah. Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan dia dengan Sa‘d bin ar-Rabi‘ al-Anshari. Sa‘d berkata: Wahai saudaraku, aku adalah orang yang paling banyak hartanya di Madinah. Lihatlah setengah hartaku dan ambillah. Aku juga memiliki dua istri, maka lihatlah siapa yang engkau sukai, akan aku ceraikan untukmu. ‘Abdurrahman berkata: “Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu. Tunjukkanlah aku kepada pasar.” Mereka pun menunjukkannya. Ia membeli dan menjual hingga memperoleh keuntungan. Ia datang membawa keju kering dan lemak, lalu berlalu beberapa waktu sesuai kehendak Allah. Kemudian ia datang dengan pakaian yang terkena bekas za‘faran. Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa ini?” Ia menjawab: Wahai Rasulullah, aku telah menikahi seorang perempuan. Beliau bertanya: “Berapa mahar yang engkau berikan?” Ia menjawab: Seberat biji emas. Beliau bersabda: “Adakanlah walimah meskipun hanya dengan seekor kambing.” ‘Abdurrahman berkata: “Sungguh aku telah melihat diriku, seandainya aku mengangkat sebuah batu, aku berharap akan mendapatkan emas dan perak.”
Komentar al-Bukhari yang menggantungkan hadis ini dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf tergolong ganjil, karena tidak dikenal sebagai hadis musnad kecuali melalui Anas, kecuali jika Anas menerimanya langsung dari ‘Abdurrahman. Allah Yang Maha Mengetahui.
Imam Ahmad berkata:
Yazid telah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Humaid telah mengabarkan kepada kami, dari Anas, ia berkata: Kaum Muhajirin berkata: “Wahai Rasulullah, kami tidak pernah melihat suatu kaum seperti kaum yang kami datangi ini; mereka paling baik dalam menghibur dan membantu dalam keadaan sedikit, dan paling baik dalam memberi ketika dalam keadaan banyak. Mereka telah mencukupi kebutuhan kami dan melibatkan kami dalam kenikmatan, sampai-sampai kami khawatir mereka akan membawa pergi seluruh pahala.” Maka Nabi Muhammad bersabda: “Tidak, selama kalian memuji mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka.”
Hadits ini termasuk hadits dengan sanad tiga perawi yang memenuhi syarat kedua kitab sahih (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim). Tidak ada seorang pun dari penulis enam kitab hadits yang meriwayatkannya dari jalur ini, namun hadits ini sahih dalam kitab sahih dari jalur yang lain.
Al-Bukhari berkata:
Al-Hakam bin Nafi‘ telah mengabarkan kepada kami, Syu‘aib telah mengabarkan kepada kami, Abu az-Zinad telah meriwayatkan kepada kami, dari al-A‘raj, dari Abu Hurairah, ia berkata: Kaum Anshar berkata kepada Nabi Muhammad: “Bagilah kebun-kebun kurma itu antara kami dan saudara-saudara kami.” Nabi Muhammad menjawab: “Tidak.” Mereka berkata: “Biarkan kami yang menanggung biaya perawatannya dan kami berbagi hasilnya dengan mereka.” Maka kaum Muhajirin berkata: “Kami mendengar dan kami taat.”
Hadits ini diriwayatkan secara tunggal dari jalur tersebut.
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa Nabi Muhammad bersabda kepada kaum Anshar:
“Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah meninggalkan harta dan anak-anak mereka lalu datang kepada kalian.”
Mereka menjawab:
“Harta kami kami bagi-bagi.”
Maka Nabi Muhammad bersabda:
“Atau selain itu?”
Mereka bertanya:
“Apakah itu, wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda:
“Mereka adalah kaum yang tidak terbiasa bekerja, maka kalian mencukupi kebutuhan mereka dan kalian berbagi hasil dengan mereka.”
Mereka menjawab:
“Ya.”
Kami telah menyebutkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang berkaitan dengan keutamaan kaum Anshar dan keluhuran akhlak mereka ketika menafsirkan firman Allah Ta‘ala dalam Surah Al-Hasyr ayat 9.
Tentang wafatnya Abu Umamah As‘ad bin Zurarah bin ‘Adas bin ‘Ubaid bin Tsa‘labah bin Ghanam bin Malik bin an-Najjar, salah seorang dari dua belas naqib pada malam Baiat ‘Aqabah atas kaumnya Bani an-Najjar. Ia menghadiri tiga peristiwa Baiat ‘Aqabah, dan menurut salah satu pendapat, ia adalah orang pertama yang berbaiat kepada Nabi Muhammad pada malam Baiat ‘Aqabah kedua. Ia masih muda dan merupakan orang pertama yang mengumpulkan jamaah shalat Jumat di Madinah, di Naqi‘ al-Khadhamat, di daerah Hazm an-Nabit, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Muhammad bin Ishaq berkata:
Abu Umamah As‘ad bin Zurarah wafat pada bulan-bulan tersebut ketika masjid sedang dibangun. Ia terkena penyakit sesak napas atau semacam stroke.
Ibnu Jarir berkata dalam kitab Tarikh:
Muhammad bin ‘Abd al-A‘la telah mengabarkan kepada kami, Yazid bin Zurai‘ telah meriwayatkan kepada kami, dari Ma‘mar, dari az-Zuhri, dari Anas, bahwa Nabi Muhammad melakukan pengobatan dengan besi panas kepada As‘ad bin Zurarah pada bagian urat. Para perawinya terpercaya.
Ibnu Ishaq berkata:
Abdullah bin Abi Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm telah menceritakan kepadaku, dari Yahya bin Abdullah bin ‘Abdurrahman bin As‘ad bin Zurarah, ia berkata bahwa Nabi Muhammad bersabda:
“Abu Umamah adalah seburuk-buruk mayit bagi orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik Arab; mereka berkata: ‘Seandainya ia seorang nabi, tentu sahabatnya tidak akan mati.’ Padahal aku tidak memiliki kuasa atas diriku dan atas sahabatku terhadap Allah sedikit pun.”
Hal ini menunjukkan bahwa As‘ad bin Zurarah adalah orang pertama yang wafat setelah kedatangan Nabi Muhammad di Madinah.
Abu al-Hasan Ibnu al-Atsir menyebutkan dalam Asad al-Ghabah bahwa ia wafat pada bulan Syawal, tujuh bulan setelah kedatangan Nabi Muhammad. Maka Allah lebih mengetahui.
Muhammad bin Ishaq juga meriwayatkan dari ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah bahwa Bani an-Najjar meminta Nabi Muhammad agar menunjuk seorang naqib bagi mereka setelah wafatnya Abu Umamah As‘ad bin Zurarah. Maka Nabi Muhammad bersabda:
“Kalian adalah para paman dari pihak ibuku, dan aku berada di tengah-tengah kalian; akulah naqib kalian.”
Beliau tidak ingin mengkhususkan sebagian dari mereka tanpa yang lain. Termasuk keutamaan besar Bani an-Najjar yang mereka banggakan atas kaum mereka adalah bahwa Nabi Muhammad menjadi naqib mereka.
Ibnu al-Atsir berkata:
Hal ini membantah pendapat Abu Nu‘aim dan Ibnu Mandah yang mengatakan bahwa As‘ad bin Zurarah adalah naqib Bani Sa‘idah. Sesungguhnya ia adalah naqib Bani an-Najjar. Ibnu al-Atsir benar dalam hal ini.
Abu Ja‘far Ibnu Jarir berkata dalam Tarikh:
Orang pertama dari kaum Muslimin yang wafat setelah kedatangan Nabi Muhammad di Madinah—menurut riwayat—adalah pemilik rumah tempat beliau tinggal, yaitu Kultsum bin al-Hadm. Ia tidak lama hidup setelah kedatangan beliau hingga wafat. Setelah itu wafatlah As‘ad bin Zurarah. Wafatnya terjadi pada tahun kedatangan Nabi Muhammad, sebelum pembangunan masjid selesai, karena penyakit sesak napas atau stroke.
Aku berkata:
Kultsum bin al-Hadm bin Imri’ al-Qais bin al-Harits bin Zaid bin ‘Ubaid bin Zaid bin Malik bin ‘Auf bin ‘Amr bin ‘Auf bin Malik al-Ausiy al-Anshari, dari Bani ‘Amr bin ‘Auf. Ia adalah seorang tua yang telah masuk Islam sebelum kedatangan Nabi Muhammad ke Madinah. Ketika Nabi Muhammad tiba di Madinah dan singgah di Quba, beliau bermalam di rumahnya, dan pada siang hari berbincang bersama para sahabat di rumah Sa‘ad bin ar-Rabi‘ hingga beliau berpindah ke perkampungan Bani an-Najjar sebagaimana telah disebutkan.
Ibnu al-Atsir berkata:
Dikatakan pula bahwa Kultsum bin al-Hadm adalah orang pertama yang wafat dari kaum Muslimin setelah kedatangan Nabi Muhammad, lalu setelahnya As‘ad bin Zurarah. Hal ini disebutkan oleh ath-Thabari.
Tentang kelahiran Abdullah bin az-Zubair pada bulan Syawal tahun hijrah. Ia adalah anak pertama dari kalangan Muhajirin yang lahir dalam Islam. Sebagaimana an-Nu‘man bin Basyir adalah anak pertama dari kaum Anshar yang lahir setelah hijrah. Keduanya diridhai Allah.
Sebagian orang berpendapat bahwa Ibnu az-Zubair lahir dua puluh bulan setelah hijrah. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu al-Aswad dan diriwayatkan oleh al-Waqidi. Mereka juga mengklaim bahwa an-Nu‘man lahir enam bulan sebelum az-Zubair, pada empat belas bulan hijrah. Pendapat yang benar adalah yang telah kami sebutkan sebelumnya.
Al-Bukhari berkata:
Zakariya bin Yahya telah meriwayatkan kepada kami, Abu Usamah telah meriwayatkan kepada kami, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari Asma’, bahwa ia mengandung Abdullah bin az-Zubair. Ia berkata: “Aku keluar dalam keadaan hamil besar, lalu aku datang ke Madinah dan singgah di Quba. Aku melahirkannya di Quba. Kemudian aku membawanya kepada Nabi Muhammad. Beliau meletakkannya di pangkuannya, lalu meminta sebutir kurma, mengunyahnya, kemudian memasukkannya ke dalam mulut bayi itu. Maka hal pertama yang masuk ke perutnya adalah ludah Nabi Muhammad. Kemudian beliau mentahniknya dengan kurma, mendoakannya, dan memberkahinya. Ia adalah anak pertama yang lahir dalam Islam.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Khalid bin Makhlad dari ‘Ali bin Mushir, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Asma’, bahwa ia berhijrah kepada Nabi Muhammad dalam keadaan hamil.
Qutaibah telah meriwayatkan kepada kami, dari Abu Usamah, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, ia berkata:
“Anak pertama yang lahir dalam Islam adalah Abdullah bin az-Zubair. Ia dibawa kepada Nabi Muhammad. Beliau mengambil sebutir kurma, mengunyahnya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka hal pertama yang masuk ke perutnya adalah ludah Nabi Muhammad.”
Ini menjadi hujah yang membantah al-Waqidi dan selainnya. Hal itu karena Nabi Muhammad mengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi‘ bersama Abdullah bin Uraiqith—ketika kembali ke Makkah—untuk membawa keluarga beliau dan keluarga Abu Bakr. Mereka datang setelah hijrah Nabi Muhammad, sementara Asma’ sedang hamil tua dan hampir melahirkan. Ketika ia melahirkan, kaum Muslimin bertakbir dengan takbir yang sangat besar karena gembira, sebab telah sampai kepada mereka kabar bahwa orang-orang Yahudi mengklaim telah menyihir mereka sehingga tidak akan lahir anak bagi mereka setelah hijrah. Maka Allah mendustakan klaim orang-orang Yahudi tersebut.
Nabi Muhammad membangun rumah tangga dengan ‘Aisyah pada bulan Syawal tahun ini.
Imam Ahmad berkata:
Waki‘ telah meriwayatkan kepada kami, Sufyan telah meriwayatkan kepada kami, dari Isma‘il bin Umayyah, dari Abdullah bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, ia berkata: “Nabi Muhammad menikahiku pada bulan Syawal dan mulai hidup bersamaku pada bulan Syawal. Maka siapakah istri Nabi Muhammad yang lebih beruntung di sisi beliau daripadaku?”
‘Aisyah menyukai agar para perempuan dimasukkan ke rumah suaminya pada bulan Syawal.
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari beberapa jalur dari Sufyan ats-Tsauri. At-Tirmidzi berkata: hadits ini hasan sahih, dan kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Sufyan ats-Tsauri.
Berdasarkan hal ini, masuknya Nabi Muhammad kepada ‘Aisyah terjadi tujuh atau delapan bulan setelah hijrah. Dua pendapat ini telah disebutkan oleh Ibnu Jarir. Telah dijelaskan sebelumnya tentang pernikahan Nabi Muhammad dengan Saudah dan bagaimana beliau menikahi serta mulai hidup bersama ‘Aisyah setelah tiba di Madinah, dan bahwa beliau mulai hidup bersamanya pada siang hari di as-Sunah. Hal ini berbeda dengan kebiasaan sebagian orang pada masa kini.
Masuknya Nabi Muhammad kepada ‘Aisyah pada bulan Syawal menjadi bantahan terhadap anggapan sebagian orang tentang kemakruhan menikah atau hidup bersama antara dua hari raya karena takut perpisahan. Anggapan ini tidak berdasar. Sebagaimana dikatakan oleh ‘Aisyah untuk membantah orang-orang pada zamannya:
“Beliau menikahiku pada bulan Syawal dan mulai hidup bersamaku pada bulan Syawal, maka siapakah di antara istri-istrinya yang lebih beruntung daripadaku?”
Hal ini menunjukkan bahwa ia memahami bahwa dirinya adalah istri yang paling dicintai Nabi Muhammad. Pemahaman ini benar, sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil yang jelas, di antaranya hadits sahih dalam Shahih al-Bukhari dari ‘Amr bin al-‘Ash, ia berkata:
“Aku bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab: “‘Aisyah.” Aku bertanya: “Dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab: “Ayahnya.”
Ibnu Jarir berkata:
Pada tahun ini—yaitu tahun pertama hijrah—ditambahkan jumlah rakaat shalat bagi orang yang bermukim menurut sebagian riwayat. Awalnya shalat bagi orang bermukim dan musafir masing-masing dua rakaat. Penambahan itu terjadi setelah satu bulan kedatangan Nabi Muhammad di Madinah, tepatnya pada bulan Rabi‘ al-Akhir setelah berlalu dua belas malam darinya. Al-Waqidi mengklaim bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama Hijaz mengenai hal ini.
Aku berkata:
Telah disebutkan sebelumnya hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari melalui jalur Ma‘mar, dari az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata:
“Shalat pertama kali diwajibkan adalah dua rakaat, maka shalat safar tetap dua rakaat dan ditambahkan bagi shalat orang yang bermukim.”
Hadits ini juga diriwayatkan melalui jalur asy-Sya‘bi dari Masruq darinya.
Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri bahwa shalat bagi orang yang bermukim sejak awal diwajibkan empat rakaat. Allah lebih mengetahui.
Kami telah membahas masalah ini dalam tafsir Surah an-Nisa ayat 101.
Pasal Tentang adzan dan pensyariatannya ketika Nabi Muhammad tiba di Kota Madinah
Ibnu Ishaq berkata:
Ketika Nabi Muhammad telah merasa tenang tinggal di Madinah, dan saudara-saudara beliau dari kalangan Muhajirin telah berkumpul bersama beliau, serta urusan kaum Anshar telah menyatu, maka urusan Islam pun menjadi kokoh. Shalat ditegakkan, zakat dan puasa diwajibkan, hukum-hukum pidana ditegakkan, halal dan haram ditetapkan, dan Islam pun menetap di tengah-tengah mereka. Kaum Anshar inilah orang-orang yang telah menetap di negeri itu dan beriman.
Ketika Nabi Muhammad pertama kali tiba di Madinah, orang-orang berkumpul untuk shalat pada waktu-waktunya tanpa adanya panggilan khusus. Nabi Muhammad sempat berkeinginan membuat terompet seperti terompet orang-orang Yahudi yang mereka gunakan untuk memanggil shalat, namun beliau tidak menyukainya. Kemudian beliau memerintahkan dibuatkan lonceng, lalu dipahat agar dipukul untuk memanggil kaum Muslimin menuju shalat.
Ketika mereka berada dalam keadaan demikian, Abdullah bin Zaid bin Tsa‘labah bin ‘Abd Rabbih—sekutu Bani al-Harits bin al-Khazraj—melihat panggilan shalat dalam mimpinya. Ia pun mendatangi Nabi Muhammad dan berkata:
“Wahai Rasulullah, tadi malam aku didatangi seseorang dalam mimpiku. Seorang laki-laki lewat di hadapanku mengenakan dua pakaian hijau, membawa lonceng di tangannya. Aku berkata: ‘Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng ini?’ Ia bertanya: ‘Untuk apa engkau menginginkannya?’ Aku menjawab: ‘Kami menggunakannya untuk memanggil orang-orang menuju shalat.’ Ia berkata: ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih baik daripada itu?’ Aku bertanya: ‘Apakah itu?’ Ia menjawab: ‘Engkau ucapkan: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Marilah menuju shalat, marilah menuju shalat. Marilah menuju keberuntungan, marilah menuju keberuntungan. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada tuhan selain Allah.’”
Ketika Abdullah bin Zaid mengabarkan hal itu kepada Nabi Muhammad, beliau bersabda:
“Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Berdirilah engkau bersama Bilal dan ajarkan kepadanya, agar ia mengumandangkannya, karena suaranya lebih lantang darimu.”
Ketika Bilal mengumandangkan adzan tersebut, Umar bin al-Khattab mendengarnya dari dalam rumahnya. Ia segera keluar menemui Nabi Muhammad sambil menyeret selendangnya dan berkata:
“Wahai Nabi Allah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh aku telah melihat mimpi seperti yang ia lihat.”
Maka Nabi Muhammad bersabda:
“Segala puji bagi Allah.”
Ibnu Ishaq berkata:
Hadits ini disampaikan kepadaku oleh Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits, dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Tsa‘labah bin ‘Abd Rabbih, dari ayahnya.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah melalui beberapa jalur dari Muhammad bin Ishaq. Hadits ini dinyatakan sahih oleh at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan selain keduanya.
Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Nabi Muhammad juga mengajarkan lafaz iqamah. Ia berkata:
“Kemudian engkau ucapkan ketika menegakkan shalat: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Marilah menuju shalat, marilah menuju keberuntungan. Sungguh shalat telah ditegakkan, sungguh shalat telah ditegakkan. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada tuhan selain Allah.”
Ibnu Majah meriwayatkan hadits ini dari Abu ‘Ubaid Muhammad bin ‘Ubaid bin Maimun, dari Muhammad bin Salamah al-Harrani, dari Ibnu Ishaq sebagaimana telah disebutkan. Kemudian ia berkata:
Abu ‘Ubaid berkata:
Abu Bakr al-Hakami mengabarkan kepadaku bahwa Abdullah bin Zaid al-Anshari mengucapkan syair berikut tentang peristiwa itu:
Aku memuji Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia
Dengan pujian yang banyak atas adzan
Karena datang kepadaku pembawa kabar dari Allah
Maka sungguh mulia pembawa kabar itu bagiku
Dalam beberapa malam, tiga malam berturut-turut
Setiap kali ia datang, semakin bertambah pengagunganku
Aku berkata:
Syair ini tergolong asing, dan menunjukkan bahwa ia melihat mimpi tersebut selama tiga malam hingga akhirnya mengabarkannya kepada Nabi Muhammad. Allah lebih mengetahui.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur Muhammad bin Ishaq. Ia berkata:
Az-Zuhri meriwayatkan dari Sa‘id bin al-Musayyab, dari Abdullah bin Zaid dengan lafaz yang mirip dengan riwayat Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim at-Taimi, namun tanpa menyebutkan syair.
Ibnu Majah berkata:
Muhammad bin Khalid bin Abdullah al-Wasithi telah meriwayatkan kepada kami, ayahku telah meriwayatkan kepada kami, dari ‘Abdurrahman bin Ishaq, dari az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya, bahwa Nabi Muhammad bermusyawarah dengan para sahabat mengenai cara memanggil orang-orang menuju shalat. Mereka menyebutkan terompet, namun beliau membencinya karena menyerupai orang-orang Yahudi. Kemudian mereka menyebutkan lonceng, namun beliau membencinya karena menyerupai orang-orang Nasrani. Maka pada malam itu diperlihatkan adzan kepada seorang laki-laki dari kaum Anshar bernama Abdullah bin Zaid dan juga kepada Umar bin al-Khattab. Orang Anshar itu mendatangi Nabi Muhammad pada malam hari, lalu Nabi Muhammad memerintahkan Bilal untuk mengumandangkannya.”
Az-Zuhri berkata:
Bilal menambahkan dalam adzan shalat Subuh kalimat “shalat lebih baik daripada tidur” sebanyak dua kali, dan Nabi Muhammad membenarkannya. Umar berkata:
“Wahai Rasulullah, aku juga melihat mimpi yang sama, hanya saja ia mendahuluiku.”
Pembahasan rinci pasal ini akan dijelaskan dalam bab adzan dari kitab Al-Ahkam al-Kabir, insya Allah. Kepada-Nya kami bertawakal.
Adapun hadits yang disebutkan oleh as-Suhaili dengan sanadnya dari jalur al-Bazzar, dari Muhammad bin ‘Utsman bin Makhlad, dari ayahnya, dari Ziyad bin al-Mundzir, dari Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Ali bin Abi Thalib, yang menyebutkan hadits Isra’, dan di dalamnya disebutkan bahwa seorang malaikat keluar dari balik hijab lalu mengumandangkan adzan ini, dan setiap lafaznya dibenarkan oleh Allah, kemudian malaikat itu memegang tangan Nabi Muhammad dan memajukannya untuk mengimami penduduk langit—di antara mereka Adam dan Nuh—maka as-Suhaili berkata bahwa hadits ini pantas dinilai sahih karena didukung oleh hadits Isra’.
Hadits ini tidak sahih sebagaimana klaim as-Suhaili, bahkan hadits ini mungkar. Ia diriwayatkan secara tunggal oleh Ziyad bin al-Mundzir Abu al-Jarud, yang dinisbatkan kepadanya kelompok Jarudiyyah, dan ia termasuk perawi yang tertuduh. Seandainya Nabi Muhammad telah mendengar adzan ini pada malam Isra’, tentu beliau akan segera memerintahkan penggunaannya setelah hijrah sebagai panggilan shalat. Allah lebih mengetahui.
Ibnu Hisyam berkata:
Ibnu Juraij menyebutkan bahwa ‘Atha’ berkata kepadaku: Aku mendengar ‘Ubaid bin ‘Umair berkata bahwa Nabi Muhammad dan para sahabatnya sempat bersepakat menggunakan lonceng untuk berkumpul shalat. Ketika Umar bin al-Khattab hendak membeli dua papan kayu untuk lonceng tersebut, ia melihat dalam mimpinya: jangan gunakan lonceng, tetapi kumandangkan adzan untuk shalat. Umar pun pergi menemui Nabi Muhammad untuk mengabarkan mimpinya, namun wahyu telah lebih dahulu datang kepada Nabi Muhammad. Umar pun terkejut ketika mendengar Bilal telah mengumandangkan adzan. Maka Nabi Muhammad bersabda:
“Wahyu telah mendahuluimu.”
Hal ini menunjukkan bahwa wahyu datang untuk menetapkan apa yang telah dilihat oleh Abdullah bin Zaid bin ‘Abd Rabbih, sebagaimana ditegaskan oleh sebagian ulama. Allah lebih mengetahui.
Ibnu Ishaq berkata:
Muhammad bin Ja‘far bin az-Zubair menceritakan kepadaku, dari ‘Urwah bin az-Zubair, dari seorang perempuan Bani an-Najjar, ia berkata: Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di sekitar masjid. Bilal biasa mengumandangkan adzan Subuh di atasnya setiap pagi. Ia datang ketika masih gelap, lalu duduk di atas rumah menunggu terbitnya fajar. Jika ia melihat fajar, ia meregangkan tubuhnya lalu berkata:
“Ya Allah, aku memuji-Mu dan memohon pertolongan-Mu atas kaum Quraisy agar mereka menegakkan agama-Mu.”
Kemudian ia mengumandangkan adzan. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui ia meninggalkan kalimat itu walau satu malam pun. Hadits ini diriwayatkan secara tunggal oleh Abu Dawud.
Pasal Tentang ekspedisi Hamzah bin ‘Abdul Muththalib
Ibnu Jarir berkata:
Al-Waqidi menyebutkan bahwa Nabi Muhammad pada tahun ini, di bulan Ramadan, tepat tujuh bulan setelah hijrah, menyerahkan panji putih kepada Hamzah bin ‘Abdul Muththalib dengan tiga puluh orang dari kalangan Muhajirin untuk menghadang kafilah Quraisy. Hamzah bertemu Abu Jahl bersama tiga ratus orang Quraisy. Majdi bin ‘Amr memisahkan mereka, sehingga tidak terjadi pertempuran. Pembawa panji Hamzah adalah Abu Marthad al-Ghanawi.
Pasal Tentang ekspedisi ‘Ubaidah bin al-Harits bin al-Muththalib
Ibnu Jarir berkata:
Al-Waqidi juga menyebutkan bahwa Nabi Muhammad pada tahun ini, tepat delapan bulan setelah hijrah, pada bulan Syawal, menyerahkan panji putih kepada ‘Ubaidah bin al-Harits dan memerintahkannya menuju daerah lembah Rabigh. Panjinya dibawa oleh Misthah bin Atsatsah. Mereka sampai di Tsaniyyah al-Murrah, sebuah daerah di sekitar al-Juhfah, bersama enam puluh orang Muhajirin tanpa seorang pun dari kalangan Anshar.
Mereka bertemu dengan kaum musyrik di sebuah sumber air bernama Ahya’. Yang terjadi hanyalah saling melempar anak panah tanpa pertempuran jarak dekat. Al-Waqidi berkata: jumlah kaum musyrik dua ratus orang dipimpin oleh Abu Sufyan Shakhr bin Harb, dan inilah pendapat yang kami tetapkan. Ada pula yang mengatakan bahwa pemimpin mereka adalah Makraz bin Hafsh.
Al-Waqidi berkata:
Pada tahun ini—yaitu tahun pertama hijrah, pada bulan Dzulqa‘dah—Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam menyerahkan panji putih kepada Sa‘ad bin Abi Waqqash untuk menuju daerah al-Kharrar. Panji tersebut dibawa oleh al-Miqdad bin al-Aswad.
Abu Bakr bin Isma‘il menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari ‘Amir bin Sa‘ad, dari ayahnya, ia berkata:
“Aku berangkat bersama dua puluh orang dengan berjalan kaki—atau ia berkata: dua puluh satu orang. Kami bersembunyi pada siang hari dan berjalan pada malam hari, hingga kami tiba di al-Kharrar pada pagi hari kelima. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam telah berpesan kepadaku agar tidak melampaui al-Kharrar. Namun kafilah dagang itu telah mendahuluiku sehari sebelumnya.”
Al-Waqidi berkata:
Jumlah kafilah tersebut enam puluh orang, dan semua yang bersama Sa‘ad adalah dari kalangan Muhajirin.
Abu Ja‘far bin Jarir berkata:
Menurut Ibnu Ishaq, ketiga ekspedisi yang disebutkan oleh al-Waqidi itu semuanya terjadi pada tahun kedua hijrah menurut perhitungan sejarah.
Aku berkata:
Perkataan Ibnu Ishaq—sebagaimana dikutip oleh Abu Ja‘far—tidaklah tegas bagi siapa pun yang menelitinya. Hal ini akan kami jelaskan pada awal Kitab al-Maghazi, pada permulaan tahun kedua hijrah, setelah pembahasan ini, insya Allah. Bisa jadi maksud Ibnu Ishaq adalah bahwa ekspedisi-ekspedisi tersebut terjadi pada tahun pertama hijrah, lalu perinciannya akan ditambahkan kemudian.
Al-Waqidi memiliki tambahan-tambahan yang baik dan penanggalan sejarah yang umumnya rapi. Ia termasuk imam besar dalam bidang ini, jujur dalam dirinya meskipun banyak meriwayatkan. Kami telah menguraikan pembahasan tentang keadilan dan kritik terhadapnya secara panjang lebar dalam kitab kami yang berjudul At-Takmil fi Ma‘rifat ats-Tsiqat wa adh-Dhu‘afa’ wa al-Majahيل. Segala puji dan karunia milik Allah Ta‘ala.
Di antara orang yang lahir pada tahun yang penuh berkah ini, yaitu tahun pertama hijrah, adalah Abdullah bin az-Zubair. Ia merupakan anak pertama yang lahir dalam Islam setelah hijrah, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ibunya Asma’ dan bibinya ‘Aisyah Ummul Mukminin, kedua putri ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma.
Sebagian orang mengatakan bahwa an-Nu‘man bin Basyir lahir enam bulan sebelum Abdullah bin az-Zubair. Berdasarkan pendapat ini, maka Abdullah bin az-Zubair adalah anak pertama yang lahir setelah hijrah dari kalangan Muhajirin.
Sebagian yang lain mengatakan bahwa keduanya lahir pada tahun kedua hijrah. Pendapat yang tampak kuat adalah pendapat pertama, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Segala puji dan karunia milik Allah Ta‘ala. Kami akan menyinggung pendapat kedua pada akhir tahun kedua hijrah, insya Allah.
Ibnu Jarir berkata:
Disebutkan pula bahwa al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid dan Ziyad bin Sumayyah lahir pada tahun pertama hijrah ini. Allah Ta‘ala lebih mengetahui.
Di antara para sahabat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam yang wafat pada tahun pertama hijrah adalah Kultsum bin al-Hadm al-Ausiy, orang yang rumahnya di Quba pernah ditempati Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam hingga beliau berpindah ke perkampungan Bani an-Najjar, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Setelah itu, pada tahun yang sama, wafat pula Abu Umamah As‘ad bin Zurarah, naqib Bani an-Najjar. Ia wafat ketika Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam sedang membangun masjid, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Semoga Allah Ta‘ala meridhai keduanya dan memberikan keridaan-Nya kepada mereka.
Ibnu Jarir berkata:
Pada tahun ini—yaitu tahun pertama hijrah—Abu Uhaihah bin al-Mughirah wafat dengan hartanya di Tha’if. al-Walid bin al-Mughirah wafat, dan al-‘Ash bin Wa’il as-Sahmi wafat di Makkah.
Aku berkata:
Mereka semua wafat dalam keadaan musyrik, dan tidak masuk Islam serta tidak berserah diri kepada Allah Ta‘ala.
۞۞۞۞۞
Penulis : Imaduddin, Abu Al-Fida', Isma'il bin Umar bin Katsir Al-Quraisyi Ad-Dimasyqi (701 - 774 H)
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







