Dalam Al-Qur`an, kata ‘bashirah’ (jamak: ‘basha`ir’) memiliki banyak arti sesuai penunjukan konteks ayatnya, meski semua arti itu mengarah pada satu makna (pemahaman).
Bashirah adalah salah satu fungsi hati (qalb), dan hati bertempat di dalam dada (shadr).
“Tidakkah mereka melakukan perjalanan di bumi yang dengannya hati mereka berpikir atau telinga mereka mendengar, karena sesungguhnya yang buta bukanlah mata, melainkan hati yang ada di dalam dada.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 46)
Ayat di atas menyatakan dua hal penting: pertama, bahwa yang berpikir (ya’qil) adalah hati (qalb, jamak: qulub). Kedua, adanya mata hati selain mata fisik, karena ayat menyatakan yang buta bukanlah mata, melainkan hati yang ada di dalam dada.
Kebutaan mata hati itu, seperti juga mata fisik, disebabkan ketiadaan cahaya.
Ayat menjelaskan pentingnya bashirah (mata hati) untuk berpikir dengan hati, pentingnya melakukan perjalanan dengan badan guna merenungi dan berpikir mendalam tentang kebesaran Allah, ayat-ayat-Nya di kehidupan, serta akibat-akibat buruk perilaku kekufuran terhadap-Nya .
Kebutuhan Mata Hati Akan Cahaya
Allah menyifati siang hari sebagai ‘mubshiran’ karena dengan cahaya siang, orang dan segala makhluk yang memiliki mata jadi bisa melihat.
“Dan Dialah yang menjadikan malam untuk kalian agar kalian beristirahat di dalamnya, dan menjadikan siang hari mubshiran (benderang, menyebabkan orang bisa melihat). Sungguh, Allah benar-benar memiliki karunia yang dilimpahkan kepada manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidaklah bersyukur.” (Q.S. Ghafir [40]:61)
Di surat Al-Baqarah, Allah memberi permisalan tentang orang munafik,
“Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah lenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 17)
Penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia memang sedikit problematik, karena dalam bahasa Indonesia qalb diartikan ‘hati’ (kalbu), padahal secara harfiah artinya ‘jantung’. Karena organ hati (liver) secara fisik dalam bahasa Arab disebut ‘kabid’.
Salah satu penyebab ‘gelapnya hati’ adalah dosa dan maksiat.
“Sekali-kali tidak! Bahkan, hati mereka ternoda lantaran perbuatan dosa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Muthaffifin [83] : 14)
Sedangkan salah satu penyebab terangnya hati adalah merenungkan (tadabbur) Al-Qur`an.
“Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad [47]: 24)
Merenungkan ayat-ayat Al-Qur`an membuat pintu hati terbuka guna menerima cahaya petunjuk. Sedangkan hati yang tidak mau merenungkan Al-Qur`an kata Allah adalah hati yang terkunci (tergembok) alias tertutup.
Jika orang itu mau menggunakan mata hatinya, mau mengikuti bashirah-nya, maka ia disebut sebagai ‘ulil abshar’ (orang yang memiliki mata hati).
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (Q.S. Ali Imran [3]:13)
“Allah membolak-balik malam dan siang. Sungguh pada yang demikian itu, terdapat pelajaran bagi ulil abshar.”(Q.S. An-Nur [24]: 44)
Fungsi Mata Hati
Fungsi mata hati itu ialah melihat kebenaran, menjadi saksi atas kebenaran, sebagai alat untuk membedakan yang benar dari yang salah. Bashirah itu diartikan sebagai hujjah yang terang dan jelas. Hati bisa melihat, mengidentifikasi, membedakan, menganalisis, menyimpulkan dan memutuskan berkat cahaya yang meneranginya.
Dalam surat Yusuf ayat ke-108 disebutkan: “Katakanlah: ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas bashirah. Mahasuci Allah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik’.”
Bashirah di situ bermakna hujjah yang terang dan jelas.
“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri. Meski dia mengajukan uzur-uzur.” (Q.S. Al-Qiyamah [75]: 12-13)
Bashirah pada ayat di atas bermakna ‘saksi’. Artinya, di hari kiamat nanti, hati manusia akan mengakui segala perbuatannya dengan jujur, meski lisannya mungkin bersilat lidah mengajukan berbagai alasan dan uzur.
Berpikir dengan Hati atau Otak?
Sains modern menyatakan bahwa yang berpikir adalah otak, sedangkan Allah Ta’ala menyebut dengan tegas dan jelas bahwa yang berpikir itu hati. Lantas mana yang benar? Para ulama Islam telah membahas masalah ini dengan seksama.
Dalam hal ini, jika terjadi pertentangan antara akli dan nakli (sains dan wahyu), maka yang harus diutamakan adalah nakli. Karena nakli itu wahyu yang kebenarannya mutlak sedangkan dalil akli kadang masih mungkin berubah-ubah sehingga layak dicurigai. Dalil akli yang sahih seharusnya tidak bertabrakan dengan dalil nakli yang sharih. Sebagaimana dijelaskan Ibnu Taimiyah. Lagi pula secanggih apa pun temuan sains, Allah Sang Maha Pencipta tentu merupakan pihak yang lebih mengetahui tentang ciptaan-Nya.
Para ulama menyimpulkan bahwa akal itu letaknya di hati (qalb)- dan qalb itu di dalam dada (shadr). Otak (ad-dimagh, al-mukh) menerima informasi, mempersepsi dan mengolah informasi itu, kemudian mengirimkannya ke hati guna di-review. Kemudian pesan itu dikembalikan dari hati ke otak, kemudian otak mengeksekusi. Hati inilah yang memutuskan: mengiyakan atau menolak-kemudian mendorong olahan informasi ini ke otak kemudian otak menyuruh syaraf untuk bergerak.
Imam Ahmad rahimahullah pernah memberi isyarat umum ke arah ini. Kata beliau: “Tempat akal di dalam hati dan hati itu tersambung ke otak.” Sedangkan Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa al-fikr (pikiran) dan an-nazhar (kognisi) tempatnya di otak sedangkan al-iradah (keinginan) dan al-ikhtiyar (pilihan, pengambilan keputusan) tempatnya di hati. (Lihat https://www.islamweb.net/ar/fatwa/184759/ ——)
Selain berpikir, fungsi hati (qalb) adalah fu’ad. Ada berbagai pendapat para pakar tentang istilah fu’ad ini (yang dalam bahasa Indonesia juga diterjemahkan sebagai ‘hati’).
“Sesungguhnya pendengaran (sam’a) dan penglihatan (bashar), dan fu`ad (hati nurani) akan dimintai pertanggungjawaban.” (Q.S. Al-Isra [16]: 36)
Ayat tidak menyebut alat inderanya seperti ainun (mata) dan udzunun (telinga). Yang disebutkan adalah fungsinya yaitu pendengaran (as-sam’) dan penglihatan (al-bashar). Ayat kemudian menyebut fu’ad (bukan qalb). Atas dasar kesejajaran makna, fu’ad di situ diartikan sebagai fungsi hati (yakni merasa).
Shadr
Karena itu pula maka shadr (dada), tempat hati, bisa merasa lapang dan sempit, baik lantaran kehendak Allah atau sebagai reaksi psikologis saat merespon situasi dan kondisi tertentu.
“Siapa yang Allah kehendaki kepadanya petunjuk, niscaya Dia lapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah jadikan dadanya sesak lagi sempit, seakan-akan sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Q.S. Al-An’am [6]:125)
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pun dadanya serasa sesak lantaran ucapan kaum musyrikin.
“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan.” (Q.S. Al-Hijr [15]:97)
Nabi Musa alaihissalam memohon kelapangan dada saat hendak menjumpai Firaun.
“Wahai Rabbku lapangkanlah dadaku.” (Q.S. Thaha [20]: 25)
Di Al-Qur`an ada surat bernama Al-Insyirah. Ayat pertama berbunyi:
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”
Karena di dalam dada (shadr) itu terdapatlah hati: tempat ilmu, hikmah dan pemahaman. Dengan kelapangan dada sebagai taufik dari Allah tersebut, Nabi Muhammad menjadi siap dan senang hati memikul beban dakwah dan wahyu kenabian.
Wallahu a’lam bis shawab
Penulis : Deny Firmansyah







