Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 11

Rabu, 7 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah Terbunuhnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Semoga Allah Meridhainya, Beserta Hadits-Hadits Nabi yang Diriwayatkan Tentang Hal Itu dan Keutamaannya, Serta Dalil-Dalil Kenabian dan Tanda-Tanda Mukjizat di Dalamnya

Amirul Mukminin, semoga Allah meridhainya, telah mengalami pemberontakan dan keadaan yang kacau. Tentaranya dari penduduk Irak dan lainnya memberontak kepadanya, mereka enggan berdiri bersamanya. Sementara itu, kekuatan penduduk Syam semakin besar dan mereka bergerak ke kanan dan ke kiri dengan dalih bahwa kekuasaan adalah untuk Muawiyah berdasarkan keputusan dua hakim yang memberhentikan Ali dan mengangkat Muawiyah melalui Amr bin Al-Ash ketika kepemimpinan kosong dari seseorang. Penduduk Syam setelah peristiwa tahkim menyebut Muawiyah sebagai amir. Semakin kuat penduduk Syam, semakin lemah dan rapuh semangat penduduk Irak, padahal pemimpin mereka adalah Ali bin Abi Thalib yang merupakan sebaik-baik penduduk bumi pada zaman itu. Dialah yang paling beribadah, paling zuhud, paling berilmu, dan paling takut kepada Allah Azza wa Jalla di antara mereka. Namun dengan semua itu, mereka mengkhianatinya dan meninggalkannya, padahal dia telah memberikan kepada mereka pemberian yang banyak dan harta yang melimpah. Hal ini terus berlangsung bersamanya hingga dia membenci kehidupan dan mengharapkan kematian karena banyaknya fitnah dan munculnya berbagai cobaan. Dia sering mengatakan: “Apa yang menahan orang yang paling celaka di antara mereka?” – maksudnya apa yang ditunggu – “Mengapa dia tidak membunuhku?” Kemudian dia berkata: “Demi Allah, sungguh ini akan dicelup merah” – sambil menunjuk janggutnya – “dari ini” – sambil menunjuk kepalanya.

Sebagaimana diriwayatkan Al-Baihaqi, dari Al-Hakim, dari Al-Asham, dari Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani, telah menceritakan kepada kami Abul Jawwab Al-Ahwash bin Jawwab, telah menceritakan kepada kami Ammar bin Raziq, dari Al-A’masy, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Tsa’labah bin Yazid yang berkata: Ali berkata: “Demi Dzat yang membelah biji dan menciptakan jiwa, sungguh ini akan dicelup merah dari ini” – janggutnya dari kepalanya. “Lalu apa yang menahan orang yang paling celaka?” Maka Abdullah bin Sab’ berkata: “Demi Allah wahai Amirul Mukminin, jika seseorang melakukan itu, kami akan membinasakan keturunannya.” Maka dia berkata: “Aku meminta kalian dengan nama Allah agar tidak ada yang terbunuh karenaku selain pembunuhku.” Mereka bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau menunjuk seorang khalifah?” Dia menjawab: “Tidak, tetapi aku akan meninggalkan kalian sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meninggalkan kalian.” Mereka berkata: “Lalu apa yang akan engkau katakan kepada Tuhanmu ketika engkau menemuiNya sedangkan engkau meninggalkan kami tanpa pemimpin?” Dia menjawab: “Aku akan berkata: Ya Allah, Engkau menjadikanku khalifah di antara mereka selama Engkau kehendaki, kemudian Engkau mencabut nyawaku dan meninggalkan Engkau di antara mereka. Jika Engkau kehendaki, Engkau perbaiki mereka, dan jika Engkau kehendaki, Engkau rusak mereka.” Dalam riwayat ini ada kelemahan pada sebagian lafadznya.

Jalur Lain

Abu Dawud Ath-Thayalisi berkata dalam Musnadnya: Telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Utsman bin Al-Mughirah, dari Zaid bin Wahb yang berkata: Pemimpin Khawarij datang kepada Ali dan berkata kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya engkau akan mati.” Maka dia berkata: “Tidak, demi Dzat yang membelah biji dan menciptakan jiwa, tetapi aku akan terbunuh dari satu pukulan pada ini yang akan memerahkan ini” – sambil mengisyaratkan dengan tangannya ke janggutnya – “janji yang dijanjikan dan takdir yang telah ditakdirkan, dan sungguh merugilah orang yang berdusta.”

Jalur Lain Darinya

Al-Hafizh Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Rasydin bin Sa’d, dari Yazid bin Abdullah bin Usamah, dari Utsman bin Shuhaib, dari ayahnya yang berkata: Ali berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: “Siapakah orang yang paling celaka dari generasi terdahulu?” Aku menjawab: “Orang yang menyembelih unta.” Beliau bersabda: “Benar, lalu siapakah orang yang paling celaka dari generasi belakangan?” Aku menjawab: “Aku tidak tahu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Orang yang memukulmu pada ini” – sambil mengisyaratkan dengan tangannya ke ubun-ubunnya.

Maka Ali sering berkata: “Aku berharap orang yang paling celaka sudah bangkit memerahkan ini dari ini” – maksudnya janggutnya dari darah kepalanya.

Jalur Lain dari Ali, Semoga Allah Meridhainya

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Salim bin Abil Ja’d, dari Abdullah bin Sab’ yang berkata: Aku mendengar Ali berkata: “Sungguh ini akan dicelup merah dari ini, lalu apa yang ditunggu oleh orang yang paling celaka?” Mereka berkata: “Wahai Amirul Mukminin, beritahukan kepada kami tentang dia agar kami membinasakan keturunannya.” Dia berkata: “Kalau begitu, demi Allah, kalian akan membunuh karena aku selain pembunuhku!” Mereka berkata: “Kalau begitu tunjuklah khalifah untuk kami.” Dia berkata: “Tidak, tetapi aku meninggalkan kalian kepada apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meninggalkan kalian.” Mereka berkata: “Lalu apa yang akan engkau katakan kepada Tuhanmu ketika engkau mendatangiNya?” Dia menjawab: “Aku akan berkata: Ya Allah, Engkau meninggalkanku di antara mereka selama Engkau kehendaki, kemudian Engkau mencabut nyawaku kepadaMu sedangkan Engkau ada di antara mereka. Jika Engkau kehendaki, Engkau perbaiki mereka, dan jika Engkau kehendaki, Engkau rusak mereka.”

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, dari Al-A’masy, dari Salamah bin Kuhail, dari Abdullah bin Sab’ yang berkata: Ali berkhutbah kepada kami dan berkata: “Demi Dzat yang membelah biji dan menciptakan jiwa, sungguh ini akan dicelup merah dari ini.” Maka orang-orang berkata: “Beritahukanlah kepada kami siapa dia, demi Allah kami akan membinasakannya atau membinasakan keturunannya.” Dia berkata: “Aku meminta kalian dengan nama Allah agar tidak ada yang terbunuh selain pembunuhku.” Mereka berkata: “Jika engkau sudah mengetahui hal itu, maka tunjuklah khalifah.” Dia berkata: “Tidak, tetapi aku menyerahkan kalian kepada apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyerahkan kalian.” Hanya Ahmad yang meriwayatkannya.

Jalur Lain dari Ali bin Abi Thalib, Semoga Allah Meridhainya

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Muhammad – yaitu Ibnu Rasyid – dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dari Fadhalah bin Abi Fadhalah Al-Anshari – dan ayahnya Abu Fadhalah adalah salah satu peserta Perang Badar – dia berkata: Aku keluar bersama ayahku menjenguk Ali bin Abi Thalib dari sakit yang menimpanya hingga dia terbaring berat. Ayahku berkata kepadanya: “Apa yang membuatmu tinggal di tempat ini? Jika ajalmu datang, tidak ada yang mengurusmu kecuali orang-orang Arab pedalaman dari suku Juhainah. Pindahlah ke Madinah, jika ajalmu tiba, sahabat-sahabatmu yang akan mengurusmu dan menshalatimu.” Maka Ali berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah berjanji kepadaku bahwa aku tidak akan mati hingga aku menjadi amir kemudian ini dicelup merah – maksudnya janggutnya – dari darah ini – maksudnya kepalanya.

Maka dia terbunuh dan Abu Fadhalah juga terbunuh bersama Ali pada hari Shiffin. Hanya Ahmad yang meriwayatkannya. Al-Baihaqi meriwayatkannya dalam Dala’il dari Al-Hakim, dari Al-Asham, dari Al-Hasan bin Mukrim, dari Abu An-Nadhr Hasyim bin Al-Qasim dengan sanad yang sama.

Jalur Lain Darinya

Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar berkata dalam Musnadnya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abban Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah, telah menceritakan kepada kami seorang dari Kufah bernama Abdul Malik bin A’yan, dari Abu Harb bin Abil Aswad, dari ayahnya yang berkata: Aku mendengar Ali bin Abi Thalib berkata: Abdullah bin Salam berkata kepadaku ketika aku meletakkan kakiku di pelana: “Jangan pergi ke Irak, karena jika engkau mendatanginya, engkau akan tertimpa di sana oleh lalat pedang.” Dia berkata: “Demi Allah, dia telah mengatakannya, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengatakannya kepadaku sebelumnya.” Abul Aswad berkata: “Maka aku berkata: Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang sedang berperang menceritakan hal ini selain engkau.”

Kemudian Al-Bazzar berkata: Kami tidak mengetahui riwayat ini kecuali dari Ali bin Abi Thalib dengan sanad ini, dan kami tidak mengetahui yang meriwayatkannya kecuali Abdul Malik bin A’yan, dari Abu Harb, dan tidak ada yang meriwayatkannya darinya kecuali Ibnu Uyainah. Demikianlah yang dia katakan, dan aku telah melihat dari jalur-jalur yang beragam yang berbeda dengan itu. Al-Baihaqi berkata setelah menyebutkan sebagian dari jalur-jalur ini: Dan kami telah meriwayatkan dalam kitab As-Sunan dengan sanad yang shahih dari Zaid bin Aslam, dari Abu Sinan Ad-Du’ali, dari Ali tentang berita Nabi shallallahu alaihi wasallam mengenai terbunuhnya Ali.

Hadits Lain Tentang Hal Itu

Al-Khatib Al-Baghdadi berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ali bin Al-Qasim Al-Bashri, telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq Al-Madara’i, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abban Al-Warraq, telah menceritakan kepada kami Nashih Abu Abdullah Al-Muhallimi, dari Simak, dari Jabir bin Samurah yang berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Ali: “Siapakah orang yang paling celaka dari generasi terdahulu?” Dia menjawab: “Orang yang menyembelih unta.” Beliau bersabda: “Lalu siapakah orang yang paling celaka dari generasi belakangan?” Dia menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Pembunuhmu.”

Hadits Lain dengan Makna yang Sama

Al-Baihaqi meriwayatkan dari jalur Fithr bin Khalifah dan Abdul Aziz bin Siyah, keduanya dari Habib bin Abi Tsabit, dari Tsa’labah Al-Hamani yang berkata: Aku mendengar Ali di atas mimbar berkata: Demi Allah, sesungguhnya Nabi yang ummi shallallahu alaihi wasallam telah berjanji kepadaku: “Sesungguhnya umat akan mengkhianatimu setelahku.”

Al-Bukhari berkata: Tsa’labah bin Yazid Al-Hamani, dalam haditsnya ada yang perlu dikaji.

Al-Baihaqi berkata: Dan kami telah meriwayatkannya dengan sanad lain dari Ali jika memang terpelihara. Telah mengabarkan kepada kami Abu Ali Ar-Rudzabari, telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Syawdzab Al-Wasithi di kota itu, telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Ayyub, telah menceritakan kepada kami Amr bin Aun, dari Husyaim, dari Ismail bin Salim, dari Abu Idris Al-Azdi, dari Ali yang berkata: Di antara janji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadaku: “Sesungguhnya umat akan mengkhianatimu setelahku.”

Al-Baihaqi berkata: Jika shahih, maka dimungkinkan yang dimaksud dengan hal itu – wallahu a’lam – adalah keluarnya orang-orang yang keluar melawannya pada masa kepemimpinannya kemudian terbunuhnya dia.

Al-A’masy berkata dari Amr bin Murrah, dari Abdullah bin Al-Harits, dari Zuhair bin Al-Aqmar yang berkata: Ali berkhutbah kepada kami pada hari Jumat dan berkata: “Aku diberitahu bahwa Busr telah muncul di Yaman, dan demi Allah sesungguhnya aku menduga bahwa orang-orang ini akan menang atas kalian. Dan mereka tidak akan menang atas kalian kecuali karena pembangkangan kalian kepada imam kalian dan ketaatan mereka kepada imam mereka, pengkhianatan kalian dan amanah mereka, kerusakan kalian di negeri kalian dan perbaikan mereka di negeri mereka. Sungguh aku telah mengutus fulan maka dia berkhianat dan menipu, dan aku mengutus fulan maka dia berkhianat dan menipu serta mengirim harta kepada Muawiyah. Seandainya aku mempercayai salah seorang dari kalian dengan sebuah cangkir, niscaya dia akan mengambil talinya. Ya Allah, aku telah muak dengan mereka dan mereka muak denganku, aku membenci mereka dan mereka membenci aku. Ya Allah, bebaskan mereka dariku dan bebaskan aku dari mereka.” Maka dia tidak mengerjakan shalat Jumat berikutnya hingga dia terbunuh, semoga Allah meridhainya dan meridhai dia.

Keadaan Terbunuhnya Ali, Semoga Allah Meridhainya

Ibnu Jarir dan lebih dari satu orang dari ulama sejarah, sirah, dan peristiwa manusia menyebutkan bahwa tiga orang dari Khawarij, yaitu Abdurrahman bin Amr yang dikenal dengan Ibnu Muljam Al-Humairi kemudian Al-Kindi yang bersekutu dengan Bani Jabalah dari Kindah, orang Mesir, dia berkulit sawo matang, wajahnya tampan terang, rambutnya sampai cuping telinganya, dan di dahinya ada bekas sujud. Al-Barak bin Abdullah At-Tamimi. Dan Amr bin Bakr At-Tamimi juga, mereka bertemu dan menceritakan tentang terbunuhnya saudara-saudara mereka dari penduduk Nahrawan. Mereka mendoakan rahmat atas mereka dan berkata: “Apa yang kami lakukan dengan hidup setelah mereka?! Mereka adalah sebaik-baik manusia dan paling banyak shalat, mereka adalah para pendakwah manusia kepada Tuhan mereka, tidak takut dalam (tegaknya agama) Allah dari celaan orang yang mencela. Seandainya kita mengorbankan diri kita, lalu kita mendatangi para imam kesesatan dan membunuh mereka, maka kita membebaskan negeri dari mereka dan mengambil balasan dari mereka untuk saudara-saudara kita.” Ibnu Muljam berkata: “Aku akan menangani Ali bin Abi Thalib untuk kalian.” Al-Barak bin Abdullah berkata: “Aku akan menangani Muawiyah bin Abi Sufyan untuk kalian.” Dan Amr bin Bakr berkata: “Aku akan menangani Amr bin Al-Ash untuk kalian.” Mereka berjanji dan bersumpah bahwa tidak akan mundur seorang pun dari mereka dari targetnya hingga membunuhnya atau mati di dekatnya. Mereka mengambil pedang-pedang mereka lalu meracuninya, dan mereka janjian pada tanggal tujuh belas Ramadhan agar setiap orang dari mereka menyergap targetnya di malam hari di negeri tempat dia berada.

Adapun Ibnu Muljam, dia pergi ke Kufah dan memasukinya. Dia menyembunyikan urusannya bahkan dari teman-temannya dari Khawarij yang ada di sana. Ketika dia duduk di antara sekelompok orang dari Bani Taim Ar-Rabab dan mereka sedang menceritakan tentang orang-orang mereka yang terbunuh pada hari Nahrawan, tiba-tiba datanglah seorang wanita dari mereka bernama Qatham binti Asy-Syajnah. Ali telah membunuh ayah dan saudaranya pada hari Nahrawan, dan dia sangat cantik jelita dan terkenal karena itu. Dia telah berkhalwat di masjid jami’ untuk beribadah di dalamnya. Ketika Ibnu Muljam melihatnya, akalnya hilang, dan dia lupa akan keperluan yang dia datang untuknya. Dia melamarnya untuk dirinya sendiri, maka dia mensyaratkan kepadanya tiga ribu dirham, seorang budak, seorang qainah (budak wanita yang pandai menyanyi), dan bahwa dia membunuh Ali bin Abi Thalib untuknya. Dia berkata: “Itu untukmu, dan demi Allah tidaklah yang membawaku ke negeri ini kecuali untuk membunuh Ali.” Maka dia menikahinya dan menggaulinya, kemudian dia mulai mendorongnya untuk melakukan hal itu. Dia mengutus seorang laki-laki dari kaumnya dari Taim Ar-Rabab bernama Wardan untuk bersamanya sebagai penolong. Ibnu Muljam juga merekrut laki-laki lain bernama Syabib bin Bajrah Al-Asyja’i Al-Haruri. Ibnu Muljam berkata kepadanya: “Maukah engkau mendapat kemuliaan dunia dan akhirat?” Dia berkata: “Apa itu?” Dia berkata: “Membunuh Ali.” Dia berkata: “Celakalah engkau dari ibumu! Sungguh engkau datang dengan sesuatu yang sangat besar, bagaimana engkau bisa melakukannya?” Dia berkata: “Aku akan bersembunyi untuknya di masjid, jika dia keluar untuk shalat subuh, kami akan menyergapnya lalu membunuhnya. Jika kami selamat, kami menyembuhkan diri kami dan mendapatkan balasan kami, dan jika kami terbunuh, maka apa yang ada di sisi Allah lebih baik dari dunia.” Dia berkata: “Celakalah engkau, seandainya selain Ali lebih ringan bagiku. Aku telah mengetahui kedudukannya dalam Islam dan kedekatannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Aku tidak merasa lapang dada untuk membunuhnya.” Dia berkata: “Tidakkah engkau tahu bahwa dia telah membunuh penduduk Nahrawan?” Dia berkata: “Ya.” Dia berkata: “Maka kita bunuh dia sebagai balasan atas pembunuhan saudara-saudara kita.” Maka dia menyetujuinya setelah ragu-ragu.

Dan masuklah bulan Ramadan, maka Ibnu Muljam menjanjikan mereka pada malam Jumat tanggal tujuh belas malam yang telah berlalu, dan dia berkata: Ini adalah malam yang telah aku janjikan kepada teman-temanku, setiap orang dari kami akan membunuh targetnya yang ia tuju pada malam ini. Kemudian mereka datang kepada Qatham, yaitu istri Ibnu Muljam, lalu ia memanggil mereka dengan kain sutra lalu mengikat mereka dengannya, dan ia berada di masjid. Maka datanglah ketiga orang ini; yaitu Ibnu Muljam, Wardan, dan Syabib, dan mereka menyembunyikan pedang-pedang mereka. Mereka duduk berhadapan dengan pintu yang biasa dilewati oleh Ali untuk keluar. Ketika Ali keluar, ia mulai membangunkan orang-orang dari tidur untuk salat sambil berkata: “Salat, salat.” Maka Syabib menyerangnya dengan pedang, lalu ia jatuh di sudut. Kemudian Ibnu Muljam memukulnya dengan pedang di ubun-ubunnya, maka mengalirlah darahnya di jenggotnya, semoga Allah meridainya. Dan ketika Ibnu Muljam memukulnya, ia berkata: “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan untukmu wahai Ali dan bukan untuk sahabat-sahabatmu.” Dan ia terus membaca firman Allah “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mengharapkan keridhaan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya” (Al-Baqarah: 207). Dan Ali berseru: “Tangkap dia!” Dan Wardan melarikan diri, lalu seorang laki-laki dari Hadramaut mengejarnya dan membunuhnya. Dan Syabib pergi dan berhasil menyelamatkan dirinya dan lolos dari orang-orang. Ibnu Muljam ditangkap, dan Ali menugaskan Ja’dah bin Hubairah bin Abi Wahb untuk memimpin salat Subuh bagi orang-oang. Ali dibawa ke rumahnya, dan Ibnu Muljam dibawa kepadanya. Ia dihadapkan kepadanya dalam keadaan terikat, semoga Allah menghinakannya. Ali berkata kepadanya: “Wahai musuh Allah, bukankah aku telah berbuat baik kepadamu?” Ia menjawab: “Benar.” Ali berkata: “Lalu apa yang mendorongmu untuk melakukan ini?” Ia menjawab: “Aku mengasahnya selama empat puluh pagi, dan aku memohon kepada Allah agar dengan pedang ini dibunuh seburuk-buruk makhluk-Nya.” Maka Ali berkata kepadanya: “Aku tidak melihat kecuali bahwa kamu akan dibunuh dengannya, dan aku tidak melihat kecuali bahwa kamu adalah seburuk-buruk makhluk-Nya.” Kemudian ia berkata: “Jika aku mati, bunuhlah dia, dan jika aku hidup, maka aku lebih tahu bagaimana cara memperlakukannya.”

Dan Imam Ahmad berkata: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Imran bin Dhabyan, dari Abu Yahya, ia berkata: Ketika Ibnu Muljam memukul Ali, ia berkata kepada mereka: “Lakukanlah kepadanya sebagaimana yang diinginkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dilakukan kepada seorang laki-laki yang ingin membunuhnya, maka beliau bersabda: ‘Bunuhlah dia kemudian bakarlah dia.'”

Dan telah diriwayatkan bahwa Ummu Kultsum binti Ali berkata kepada Ibnu Muljam ketika ia berdiri: “Celakalah engkau! Mengapa engkau memukul Amirul Mukminin?” Ia berkata: “Aku hanya memukul ayahmu.” Maka ia berkata: “Sesungguhnya tidak apa-apa padanya.” Maka ia berkata: “Lalu mengapa engkau menangis? Demi Allah, sungguh aku telah memukulnya dengan pukulan yang seandainya mengenai penduduk suatu negeri, niscaya mereka semua akan mati. Demi Allah, sungguh aku telah meracuni pedang ini selama sebulan, dan sungguh aku telah membelinya dengan seribu dan meracuninya dengan seribu.”

Maka Jundub bin Abdullah berkata: “Wahai Amirul Mukminin, jika engkau meninggal, apakah kami membaiat Hasan?” Maka ia berkata: “Aku tidak memerintahmu dan tidak melarangmu, kalian lebih tahu.” Dan ketika Ali akan wafat, ia memperbanyak ucapan tiada tuhan selain Allah, tidak mengucapkan yang lain – dan telah dikatakan: bahwa akhir yang ia ucapkan adalah: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (Az-Zalzalah: 7-8) – dan sungguh ia telah berwasiat kepada kedua putranya Hasan dan Husain dengan takwa kepada Allah dan salat serta zakat, dan memaafkan dosa, menahan amarah, menyambung silaturahmi, bersabar terhadap orang yang bodoh, memperdalam agama, teguh dalam perkara, memelihara Al-Quran, berbuat baik kepada tetangga, menyuruh yang makruf, mencegah yang mungkar, menjauhi perbuatan keji. Ia berwasiat kepada mereka tentang saudara mereka Muhammad Ibnul Hanafiyyah, dan berwasiat kepadanya dengan apa yang ia wasiatkan kepada keduanya, dan agar ia mengagungkan keduanya dan tidak memutuskan suatu perkara tanpa keduanya. Dan ia menulis semua itu dalam kitab wasiatnya, semoga Allah meridainya dan meridainya.

Dan inilah isi wasiat: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah apa yang diwasiatkan oleh Ali bin Abi Thalib; bahwa ia bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, Dia mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar agar mengunggulkannya atas seluruh agama meskipun orang-orang musyrik membencinya. Kemudian sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan untuk itulah aku diperintahkan dan aku termasuk orang-orang muslim. Aku berwasiat kepadamu wahai Hasan dan seluruh anakku dan keluargaku dan siapa saja yang sampai kepadanya tulisanku, dengan takwa kepada Allah Tuhan kalian dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim, dan berpegangteguhlah kalian pada tali Allah semuanya dan jangan bercerai-berai, karena sesungguhnya aku mendengar Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya memperbaiki hubungan itu lebih utama daripada umum salat dan puasa.” Perhatikanlah kerabat-kerabat kalian maka sambunglah mereka, niscaya Allah akan meringankan hisab atas kalian. Allah, Allah (perhatikanlah) anak-anak yatim; jangan kalian biarkan mulut mereka tanpa makanan dan jangan sampai mereka tersia-siakan di hadapan kalian. Allah, Allah (perhatikanlah) tetangga-tetangga kalian; karena mereka adalah wasiat nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau senantiasa berwasiat tentang mereka hingga kami mengira bahwa beliau akan mewariskan mereka. Allah, Allah (perhatikanlah) Al-Quran; jangan sampai orang lain mendahului kalian dalam mengamalkannya. Allah, Allah (perhatikanlah) salat; karena ia adalah tiang agama kalian. Allah, Allah (perhatikanlah) rumah Tuhan kalian, jangan sampai kosong dari kalian selama kalian masih ada; karena jika ia ditinggalkan, kalian tidak akan diberi waktu. Allah, Allah (perhatikanlah) bulan Ramadan; karena puasanya adalah pelindung dari api neraka. Allah, Allah (perhatikanlah) jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Allah, Allah (perhatikanlah) zakat; karena ia memadamkan murka Tuhan. Allah, Allah (perhatikanlah) dzimmah (perlindungan) nabi kalian; jangan sampai mereka dizalimi di tengah-tengah kalian. Allah, Allah (perhatikanlah) sahabat-sahabat nabi kalian; karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat tentang mereka. Allah, Allah (perhatikanlah) orang-orang fakir dan miskin, maka sertakanlah mereka dalam penghidupan kalian. Allah, Allah (perhatikanlah) apa yang dimiliki tangan kanan kalian, karena akhir yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa beliau bersabda: “Aku berwasiat kepada kalian tentang dua golongan yang lemah; istri-istri kalian dan apa yang dimiliki tangan kanan kalian.” Salat, salat. Janganlah kalian takut dalam (menegakkan) agama Allah dari celaan orang yang suka mencela, niscaya ia akan mencukupi kalian dari orang yang menginginkan (kejahatan) terhadap kalian dan berbuat zalim kepada kalian. Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik sebagaimana Allah memerintahkan kalian. Janganlah kalian meninggalkan amar makruf dan nahi mungkar, sehingga perkara diserahkan kepada orang-orang jahat di antara kalian, kemudian kalian berdoa namun tidak dikabulkan bagi kalian. Dan hendaklah kalian saling berhubungan dan saling memberi, dan jauhilah bermusuhan, berputus hubungan, dan berpecah belah. Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya. Semoga Allah memelihara kalian sebagai ahlul bait, dan memelihara di dalam diri kalian nabi kalian. Aku menitipkan kalian kepada Allah, dan aku sampaikan salam kepada kalian beserta rahmat Allah. Kemudian ia tidak mengucapkan kecuali tiada tuhan selain Allah, hingga ia wafat di bulan Ramadan.

Dan sungguh ia dimandikan oleh kedua putranya Hasan dan Husain serta Abdullah bin Ja’far, dan Hasan menshalatkannya, maka ia bertakbir atasnya sembilan takbir.

Al-Haitsam bin Adi berkata: Seorang laki-laki dari Bajilah menceritakan kepadaku, dari para tetua kaumnya, bahwa Abdurrahman bin Muljam melihat seorang wanita dari Taim Ar-Rabab yang dipanggil: Qatham. Ia adalah salah satu wanita tercantik, menganut paham Khawarij, Ali telah membunuh kaumnya karena paham ini. Ketika ia melihatnya, ia jatuh cinta kepadanya lalu melamarnya. Maka ia berkata: “Aku tidak akan menikahinmu kecuali dengan (mahar) tiga ribu, seorang budak, seorang budak perempuan penyanyi, dan membunuh Ali bin Abi Thalib.” Maka ia menikahinya dengan itu semua. Ketika ia menikah dengannya, ia berkata kepadanya: “Wahai engkau, sungguh engkau telah selesai dari keperluanmu, maka selesaikanlah keperluanku.” Maka ia keluar mengenakan senjatanya, dan ia keluar lalu mendirikan tenda untuknya di masjid. Dan Ali keluar sambil berkata: “Salat, salat.” Maka Abdurrahman mengikutinya, lalu memukulnya dengan pedang di ubun-ubun kepalanya. Maka penyair berkata – Ibnu Jarir berkata: ia adalah Ibnu Miyas Al-Muradi -:

Dan aku tidak pernah melihat mahar yang diberikan oleh orang yang murah hati Seperti mahar Qatham yang jelas tidak samar Tiga ribu dan seorang budak dan budak perempuan penyanyi Dan pembunuhan Ali dengan pedang yang tajam Maka tidak ada mahar yang lebih mahal dari Ali meskipun mahal Dan tidak ada pembunuhan kecuali di bawah pembunuhan Ibnu Muljam

Dan Ibnu Miyas dalam (syairnya tentang) pembunuhan mereka terhadap Ali:

Dan kami memukul demi kebaikan untukmu Haidar Abu Hasan dengan pukulan di kepala hingga retak Dan kami mencabut kerajaannya dari susunannya Dengan pukulan pedang ketika ia tinggi dan sombong Dan kami adalah orang-orang mulia yang kuat dalam pertempuran Ketika kematian mengenakan dan mengikatkan kematian

Dan Ibnu Muljam dipuji oleh sebagian Khawarij yang datang kemudian di zaman Tabiin, yaitu Imran bin Hitthan – dan ia adalah salah seorang ahli ibadah yang meriwayatkan dari Aisyah dalam Shahih Bukhari – maka ia berkata tentangnya:

Wahai pukulan dari orang yang bertakwa, ia tidak menginginkan dengannya Kecuali untuk mencapai keridhaan dari Dzat yang memiliki Arasy Sesungguhnya aku mengingatnya suatu hari, maka aku menganggapnya Sebagai orang yang paling menepati janji di sisi Allah dalam timbangan

Adapun orang yang mengincar Mu’awiyah – yaitu Al-Bark – maka ia menyerangnya ketika ia keluar menuju salat Subuh pada hari ini, lalu memukulnya dengan pedang, dan dikatakan: dengan belati beracun. Maka pukulan itu mengenai pinggangnya dan melukai pantatnya. Dan orang Khawarij itu ditangkap lalu dibunuh. Dan ia telah berkata kepada Mu’awiyah: “Biarkanlah aku, maka sesungguhnya aku memberi kabar gembira kepadamu dengan sebuah kabar gembira.” Maka ia berkata: “Apa itu?” Maka ia berkata: “Sesungguhnya saudaraku telah membunuh pada malam ini Ali bin Abi Thalib.” Ia berkata: “Maka mungkin ia tidak mampu (melakukannya) kepadanya.” Ia berkata: “Tidak, sesungguhnya tidak ada penjaga bersamanya.” Maka ia memerintahkan untuk membunuhnya, dan ia dibunuh. Dan tabib datang kepada Mu’awiyah lalu berkata: “Sesungguhnya lukamu beracun; maka aku akan menyetrikamu atau aku akan memberimu minuman sehingga racun hilang, tetapi akan terputus keturunanmu.” Maka Mu’awiyah berkata: “Adapun api, maka aku tidak mampu menahannya. Dan adapun keturunan, maka dalam diri Yazid dan Abdullah ada yang menyenangkan hatiku.” Maka ia memberinya minuman, lalu ia sembuh dari sakitnya dan lukanya, dan terputuslah keturunan dan ia selamat dari itu, semoga Allah meridainya. Dan sejak saat itu dibuatlah maqshurah (ruang khusus) di masjid jami’, dan penjaga ditempatkan di sekelilingnya dalam keadaan sujud. Maka Mu’awiyah adalah orang pertama yang membuatnya; karena peristiwa ini. Adapan orang yang mengincar Amr bin Al-Ash – yaitu Amr bin Bakr – maka ia bersembunyi untuknya agar keluar ke salat. Maka kebetulan Amr bin Al-Ash mengalami sakit perut yang sangat pada malam itu, sehingga ia tidak keluar kecuali wakilnya ke salat, yaitu Kharijae bin Abi Habibah, dari Bani Amir bin Lu’ay. Dan ia menjabat kepala kepolisian Amr bin Al-Ash. Maka orang Khawarij menyerangnya lalu membunuhnya, dan ia menyangkanya adalah Amr bin Al-Ash. Ketika orang Khawarij ditangkap, ia berkata: “Aku menginginkan Amr dan Allah menghendaki Kharijae.” Maka ia menjadikannya perumpamaan, kemudian ia dibunuh, semoga Allah menghinakannya. Dan telah dikatakan: bahwa yang mengucapkannya adalah Amr bin Al-Ash. Dan itu ketika orang Khawarij dibawa kepadanya, maka ia berkata: “Apa ini?” Mereka berkata: “Ia membunuh wakilmu Kharijae.” Maka orang Khawarij berkata: “Demi Allah aku tidak menginginkan kecuali engkau.” Maka Amr berkata: “Engkau menginginkan aku dan Allah menghendaki Kharijae.” Kemudian ia memerintahkan untuk membunuhnya, maka lehernya dipenggal.

Dan yang dimaksud adalah bahwa Ali, semoga Allah meridainya, ketika meninggal, putranya Hasan menshalatkannya, maka ia bertakbir atasnya sembilan takbir. Dan ia dikuburkan di istana kekuasaan di Kufah; karena takut terhadapnya dari Khawarij agar mereka tidak menggali jenazahnya. Ini adalah yang masyhur. Dan barangsiapa berkata: bahwa ia dibawa di atas tunggangannya, lalu hilang dengannya sehingga tidak diketahui ke mana ia pergi, maka sungguh ia telah keliru dan memaksakan apa yang ia tidak memiliki ilmu tentangnya, dan tidak dibenarkan oleh akal maupun syariat. Dan apa yang diyakini oleh banyak orang bodoh dari kaum Rafidhah bahwa kuburannya ada di Masyhad An-Najaf, maka tidak ada dalil atas itu dan tidak ada asalnya. Dan dikatakan: bahwa itu hanyalah kubur Mughirah bin Syu’bah sebagaimana yang diceritakan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dari Abu Nu’aim Al-Hafizh, dari Abu Bakr Ath-Thalhi, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami Al-Hafizh, yaitu Muthin, bahwa ia berkata: “Seandainya kaum Syiah mengetahui kubur yang mereka agungkan di Najaf ini, niscaya mereka merajamnya dengan batu. Ini adalah kubur Mughirah bin Syu’bah.”

Al-Waqidi berkata: Abu Bakr bin Abdullah bin Abi Sabrah menceritakan kepadaku, dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Ja’far Muhammad bin Ali Al-Baqir: “Berapa umur Ali ketika dibunuh?” Ia berkata: “Enam puluh tiga tahun.” Aku berkata: “Di mana ia dikuburkan?” Ia berkata: “Ia dikuburkan di Kufah pada malam hari, dan perkara penguburannya disembunyikan dariku.” Dan dalam riwayat dari Ja’far Ash-Shadiq bahwa umurnya ketika dibunuh adalah lima puluh delapan tahun. Dan telah dikatakan: bahwa Ali dikuburkan di kiblat Masjid Jami’ Kufah. Demikianlah yang dikatakan oleh Al-Waqidi. Dan yang masyhur adalah bahwa ia dikuburkan di istana kekuasaan. Dan dikatakan: di dinding Masjid Jami’ Kufah. Dan sungguh Al-Khatib Al-Baghdadi telah meriwayatkan dari Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukayn bahwa Hasan dan Husain memindahkannya lalu membawanya ke Madinah dan menguburkannya di Baqi’ di samping kubur istrinya Fathimah, ibu mereka. Dan dikatakan: bahwa mereka ketika membawanya di atas unta, ia tersesat dari mereka, lalu diambil oleh Thayyi’ yang mengiranya adalah harta. Ketika mereka melihat bahwa yang ada di dalam peti itu adalah mayat, dan mereka tidak mengenali siapa dia, mereka menguburkan peti beserta isinya, sehingga tidak ada seorang pun yang mengetahui di mana kuburnya. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Al-Khatib juga.

Dan diriwayatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Asakir, dari Al-Hasan bin Ali berkata: Aku menguburkan Ali di sebuah kamar dari rumah-rumah keluarga Ja’dah.

Dan dari Abdul Malik bin Umair berkata: Ketika Khalid bin Abdullah menggali fondasi rumah putranya Yazid, mereka menemukan seorang syaikh yang terkubur dengan kepala dan jenggot yang putih, seolah-olah baru saja dikubur kemarin. Dia hendak membakarnya, kemudian Allah memalingkannya dari itu kepada yang lain. Lalu dia meminta kain Qibathi dan membungkusnya dengannya, memberi wewangian dan membiarkannya di tempatnya. Mereka berkata: Tempat itu berhadapan dengan pintu para penjual kertas yang menghadap kiblat masjid di rumah seorang pembuat sepatu, dan hampir tidak ada seorang pun yang tinggal di tempat itu kecuali pindah darinya.

Dan dari Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq berkata: Shalat jenazah atas Ali dilakukan pada malam hari, dan dia dikuburkan di Kufah, dan tempat kuburnya dirahasiakan, tetapi dia berada di dekat istana pemerintahan.

Dan berkata Ibnu Al-Kalbi: Yang menyaksikan penguburannya di malam hari adalah Al-Hasan, Al-Husein, Ibnu Al-Hanafiyyah, Abdullah bin Ja’far dan lainnya dari keluarga mereka. Mereka menguburkannya di luar Kufah dan menyembunyikan kuburnya karena khawatir terhadapnya dari kaum Khawarij dan lainnya.

Dan kesimpulan perkaranya adalah bahwa Ali dibunuh pada malam Jumat menjelang subuh, yaitu pada tujuh belas hari berlalu dari bulan Ramadhan tahun empat puluh Hijriah. Dan ada yang mengatakan: Sesungguhnya dia dibunuh pada bulan Rabiul Awwal. Dan yang pertama adalah yang paling shahih dan paling masyhur. Wallahu a’lam. Dan dia dikuburkan di Kufah, pada usia enam puluh tiga tahun, dan ini dishahihkan oleh Al-Waqidi, Ibnu Jarir dan selain keduanya. Dan ada yang mengatakan: Pada usia enam puluh lima tahun. Dan ada yang mengatakan: Pada usia lima puluh delapan tahun. Radhiyallahu anhu. Dan masa khilafahnya adalah empat tahun sembilan bulan.

Ketika Ali radhiyallahu anhu wafat, Al-Hasan bin Ali memanggil Ibnu Muljam, lalu Ibnu Muljam berkata kepadanya: Sesungguhnya aku menawarkan padamu suatu usulan. Dia berkata: Apa itu? Dia berkata: Sesungguhnya aku telah berjanji kepada Allah di dekat Hathim bahwa aku akan membunuh Ali dan Mu’awiyah atau mati sebelum berhasil membunuh keduanya. Jika engkau membebaskanku, aku akan pergi kepada Mu’awiyah, dengan catatan jika aku tidak membunuhnya atau telah membunuhnya dan aku masih hidup, maka aku berjanji dengan nama Allah untukmu bahwa aku akan kembali kepadamu hingga aku menyerahkan diriku kepadamu. Maka Al-Hasan berkata kepadanya: Tidak, demi Allah, hingga engkau merasakan api neraka. Kemudian dia menghadapkannya lalu membunuhnya, kemudian orang-orang mengambilnya dan membungkusnya dengan kain goni, kemudian membakarnya dengan api. Dan ada yang mengatakan: Bahwa Abdullah bin Ja’far memotong kedua tangannya dan kedua kakinya serta mencongkel matanya, dan dia masih membaca Surah Iqra’ (Al-Alaq): “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” hingga akhirnya, kemudian mereka datang hendak memotong lidahnya maka dia panik, dan berkata: Sesungguhnya aku khawatir akan berlalu suatu saat di mana aku tidak menyebut nama Allah padanya. Kemudian mereka memotong lidahnya, kemudian membunuhnya kemudian membakarnya dalam keranjang. Wallahu a’lam.

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepadaku Al-Harits, telah menceritakan kepada kami Ibnu Sa’d, dari Muhammad bin Umar berkata: Ali dipukul pada hari Jumat, maka dia bertahan hari Jumat dan malam Sabtu, dan wafat pada malam Ahad, pada sebelas malam tersisa dari bulan Ramadhan tahun empat puluh Hijriah, pada usia enam puluh tiga tahun. Al-Waqidi berkata: Dan ini adalah yang tsabit menurut kami. Wallahu a’lam bish-shawab.

Bab Menyebutkan Sebagian dari Istri-istri, Anak Laki-laki dan Anak Perempuannya, Radhiyallahu Anhum Ajma’in

Berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Isra’il, dari Abu Ishaq, dari Hani’ bin Hani’, dari Ali berkata: Ketika Al-Hasan dilahirkan, datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Perlihatkanlah kepadaku anakku, apa yang kalian namakan dia? Aku berkata: Aku menamainya Harb. Lalu beliau berkata: Bahkan dia adalah Hasan. Ketika Al-Husein dilahirkan, beliau berkata: Perlihatkanlah kepadaku anakku, apa yang kalian namakan dia? Aku berkata: Aku menamainya Harb. Beliau berkata: Bahkan dia adalah Husein. Ketika anak ketiga dilahirkan, datanglah Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Perlihatkanlah kepadaku anakku, apa yang kalian namakan dia? Aku berkata: Harb. Lalu beliau berkata: Bahkan dia adalah Muhsin. Kemudian beliau berkata: Sesungguhnya aku menamakan mereka dengan nama anak-anak Harun; Syabbar, Syubair dan Musyabbir. Dan telah diriwayatkannya Muhammad bin Sa’d, dari Yahya bin Isa At-Taimi, dari Al-A’masy, dari Salim bin Abil Ja’d berkata: Ali berkata: Aku adalah seorang laki-laki yang menyukai perang, ketika Al-Hasan dilahirkan aku berniat untuk menamakannya Harb. Lalu dia menyebutkan hadits dengan serupa dengan yang telah disebutkan, tetapi tidak menyebutkan yang ketiga. Dan telah diriwayatkan dalam sebagian hadits bahwa Ali menamai Al-Hasan pertama kali dengan Hamzah dan Husein dengan Ja’far, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengubah nama keduanya.

Istri pertama yang dinikahi oleh Ali radhiyallahu anhu adalah Fathimah binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dia menikah dengannya setelah perang Badar, maka dia melahirkan untuknya Al-Hasan dan Husein, dan dikatakan: Juga Muhsin. Dan dia wafat saat masih kecil. Dan dia melahirkan untuknya Zainab Al-Kubra, dan Ummu Kultsum Al-Kubra, dan dialah yang dinikahi oleh Umar bin Al-Khaththab sebagaimana telah disebutkan. Dan Ali tidak menikah selama Fathimah masih hidup hingga dia wafat enam bulan setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika dia wafat, Ali menikah setelahnya dengan istri-istri yang banyak; di antara mereka ada yang wafat semasa hidupnya dan di antara mereka ada yang ditalaknya, dan dia wafat dengan meninggalkan empat istri, sebagaimana akan disebutkan.

Di antara istri-istrinya adalah Ummu Al-Banin binti Hizam yaitu Abu Al-Muhall bin Khalid bin Rabi’ah bin Al-Wahid bin Ka’b bin Amir bin Kilab, maka dia melahirkan untuknya Al-Abbas, Ja’far, Abdullah dan Utsman. Dan mereka terbunuh bersama saudara mereka Al-Husein di Karbala, dan tidak ada keturunan bagi mereka selain Al-Abbas.

Dan di antara mereka adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik, dari Bani Tamim, maka dia melahirkan untuknya Ubaidullah dan Abu Bakar. Berkata Hisyam bin Al-Kalbi: Dan keduanya terbunuh di Karbala juga. Dan diklaim oleh Al-Waqidi bahwa Ubaidullah dibunuh oleh Al-Mukhtar bin Abi Ubaid pada hari Al-Midhar.

Dan di antara mereka adalah Asma’ binti Umais Al-Khatsa’miyyah, maka dia melahirkan untuknya Yahya dan Muhammad Al-Ashghar. Berkata Ibnu Al-Kalbi. Dan berkata Al-Waqidi: Dia melahirkan untuknya Yahya dan Aun. Berkata Al-Waqidi: Adapun Muhammad Al-Ashghar maka dari Ummu Walad.

Dan di antara mereka adalah Ummu Habib binti Rabi’ah bin Bujair bin Al-Abd bin Alqamah, dan dia adalah Ummu Walad dari tawanan yang ditawan oleh Khalid bin Al-Walid dari Bani Taghlib ketika dia menyerang Ain At-Tamr, maka dia melahirkan untuknya Umar – dan dia berumur delapan puluh lima tahun – dan Ruqayyah.

Dan di antara mereka adalah Ummu Sa’id binti Urwah bin Mas’ud bin Mu’attib bin Malik Ats-Tsaqafi, maka dia melahirkan untuknya Ummu Al-Hasan dan Ramlah Al-Kubra.

Dan di antara mereka adalah putri Imru’ul Qais bin Adi bin Aus bin Jabir bin Ka’b bin Ulaim bin Kalb Al-Kalbiyyah, maka dia melahirkan untuknya seorang gadis. Dia keluar bersama Ali ke masjid saat masih kecil, lalu dikatakan kepadanya: Siapa paman-paman dari pihak ibumu? Maka dia berkata: Wah wah, maksudnya Bani Kalb.

Dan di antara mereka adalah Umamah binti Abil Ash bin Ar-Rabi’ bin Abdul Uzza bin Abdus Syams bin Abdul Manaf bin Qushay, dan ibunya adalah Zainab binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan dialah yang digendong oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat beliau dalam shalat; jika beliau berdiri beliau menggendongnya, dan jika sujud beliau meletakkannya – maka dia melahirkan untuknya Muhammad Al-Awsath.

Adapun putranya Muhammad Al-Akbar maka dia adalah Ibnu Al-Hanafiyyah, dan dia adalah Khaulah binti Ja’far bin Qais bin Maslamah bin Ubaid bin Tsa’labah bin Yarbu’ bin Tsa’labah bin Ad-Duail bin Hanifah bin Lujaim bin Sha’b bin Ali bin Bakr bin Wa’il, ditawan oleh Khalid pada masa Ash-Shiddiq pada masa riddah, dari Bani Hanifah, maka dia menjadi milik Ali bin Abi Thalib, lalu dia melahirkan untuknya Muhammad ini. Dan di antara Syiah ada yang mengklaim bahwa dia memiliki imamah dan ishmah (kemakshuman). Dan dia termasuk pemimpin kaum muslimin, tetapi dia tidak makshum dan ayahnya pun tidak makshum, bahkan tidak pula orang yang lebih utama dari ayahnya dari kalangan Khulafaur Rasyidin sebelumnya, mereka tidak wajib makshum. Wallahu a’lam.

Dan Ali memiliki anak-anak lain yang banyak dari para ibu berbeda, maka dia wafat dengan meninggalkan empat istri dan sembilan belas budak wanita, radhiyallahu anhu. Di antara anak-anaknya, radhiyallahu anhum, yang tidak diketahui nama ibu mereka adalah: Ummu Hani’, Maimunah, Zainab Ash-Shughra, Ramlah Ash-Shughra, Ummu Kultsum Ash-Shughra, Fathimah, Umamah, Khadijah, Ummul Kiram, Ummu Ja’far, Ummu Salamah, Jumanah, Nafisah. Berkata Ibnu Jarir: Maka seluruh anak Ali adalah empat belas laki-laki dan tujuh belas perempuan. Berkata Al-Waqidi: Sesungguhnya keturunan hanya dari lima orang; yaitu Al-Hasan, Al-Husein, Muhammad Ibnu Al-Hanafiyyah, Al-Abbas putra Al-Kalabiyyah dan Umar putra At-Taghlibiyyah, radhiyallahu anhum ajma’in.

Dan telah berkata Ibnu Jarir: Telah menceritakan kepadaku Ibnu Sinan Al-Qazzaz, telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, telah menceritakan kepada kami Sukkain bin Abdul Aziz, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Khalid, telah menceritakan kepadaku ayahku Khalid bin Jabir berkata: Aku mendengar Al-Hasan ketika Ali terbunuh, dia berdiri berkhutbah lalu berkata: Sungguh kalian telah membunuh pada malam ini seorang laki-laki pada malam yang di dalamnya turun Al-Quran, dan di dalamnya diangkat Isa putra Maryam, dan di dalamnya dibunuh Yusya’ bin Nun pemuda Musa alaihimas salam. Demi Allah, tidak ada seorang pun yang mendahuluinya yang ada sebelumnya, dan tidak akan ada yang menggapainya yang akan ada sesudahnya. Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menugaskannya dalam pasukan, Jibril di kanannya dan Mikail di kirinya. Dan demi Allah, dia tidak meninggalkan emas atau perak kecuali delapan ratus atau tujuh ratus yang dia sisakan untuk seorang pembantu. Dan ini sangat gharib, dan di dalamnya terdapat kejanggalan. Wallahu a’lam. Dan demikian pula diriwayatkannya Abu Ya’la dari Ibrahim bin Al-Hajjaj, dari Sukkain dengannya.

Dan berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Syarik, dari Abu Ishaq, dari Hubairah berkata: Al-Hasan bin Ali berkhutbah kepada kami berkata: Sungguh telah meninggalkan kalian kemarin seorang laki-laki yang tidak didahului oleh orang-orang terdahulu dalam ilmu dan tidak akan digapai oleh orang-orang sesudahnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menugaskannya dengan membawa bendera, Jibril di kanannya dan Mikail di kirinya, dia tidak kembali hingga kemenangan diberikan kepadanya. Dan diriwayatkannya Zaid Al-Ummi dan Syu’aib bin Khalid, dari Abu Ishaq dengannya, dan dia berkata: Dia tidak meninggalkan kecuali tujuh ratus yang dia sisakan untuk membeli seorang pembantu.

Dan berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Ashim bin Kulaib, dari Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi, bahwa Ali berkata: Sungguh aku pernah melihat diriku bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sungguh aku mengikat batu pada perutku karena kelaparan, dan sesungguhnya sedekahku hari ini mencapai empat puluh ribu. Dan diriwayatkannya, dari Aswad, dari Syarik dengannya, dan dia berkata: Sesungguhnya sedekahku mencapai empat puluh ribu dinar.

Bab Menyebutkan Sebagian dari Keutamaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Radhiyallahu Anhu

Di antara itu adalah bahwa dia adalah yang paling dekat nasabnya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari kalangan sepuluh orang yang dijanjikan surga. Maka dia adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib, namanya adalah Syaibah bin Hasyim, namanya adalah Amru bin Abdul Manaf, namanya adalah Al-Mughirah bin Qushay, namanya adalah Zaid bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan, Abul Hasan Al-Qurasyi Al-Hasyimi, putra paman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ayahnya adalah saudara ayahnya, dan ibunya adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdul Manaf. Berkata Az-Zubair bin Bakkar: Dan dia adalah wanita Hasyimiyyah pertama yang melahirkan seorang Hasyimi. Dan dia telah masuk Islam dan berhijrah. Dan ayahnya adalah paman saudara kandung yang setia Abu Thalib, namanya adalah Abdul Manaf, demikian dinash kan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, dia dan selain dia dari ulama nasab dan sejarah manusia. Dan kaum Rafidhah mengklaim bahwa nama Abu Thalib adalah Imran, dan bahwa dialah yang dimaksud dari firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran atas seluruh alam (Ali Imran: 33). Dan mereka telah salah dalam hal itu dengan kesalahan yang besar, dan tidak memperhatikan Al-Quran sebelum mereka mengucapkan kebohongan ini dari perkataan dalam tafsir mereka terhadapnya atas bukan maksud Allah Ta’ala. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyebutkan setelahnya firman-Nya: Ketika istri Imran berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang ada dalam rahimku menjadi hamba yang saleh (Ali Imran: 35). Maka Dia menyebutkan setelahnya kelahiran Maryam binti Imran, alaihassalam, dan ini jelas walhamdulillah. Dan Abu Thalib sangat mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan dia tidak beriman kepadanya bahkan meninggal dalam keadaan kafir, sebagaimana hal itu tsabit dalam Shahih Al-Bukhari dari riwayat Sa’id bin Al-Musayyab dari ayahnya, dalam penawarannya alaihish shalatu wassalam kepada pamannya Abu Thalib saat dia dalam keadaan sekarat agar mengucapkan: Laa ilaaha illallah. Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata kepadanya: Wahai Abu Thalib, apakah engkau berpaling dari agama Abdul Muththalib? Maka dia berkata: Adalah ucapan terakhir yang dikatakannya: Dia berada di atas agama Abdul Muththalib. Dan dia menolak untuk mengucapkan: Laa ilaaha illallah. Maka keluarlah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan beliau bersabda: Sungguh aku akan memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang darinya. Maka turunlah dalam hal itu firman Allah Ta’ala: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat mereka, setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahim. Dan tidaklah permintaan ampun Ibrahim untuk bapaknya, kecuali karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka setelah jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun (At-Taubah: 113-114). Dan turunlah: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (Al-Qashash: 56).

Semua ini telah dikemukakan sebelumnya di awal pembahasan tentang kenabian, dan kami telah menegaskan kesalahan kaum Rafidhah dalam klaim mereka bahwa dia masuk Islam, serta kebohongan mereka tanpa bukti, dan tentang penentangan mereka terhadap nash-nash shahih yang jelas.

Adapun Ali semoga Allah meridhainya, sesungguhnya dia masuk Islam pada masa awal, dan dia belum baligh menurut pendapat yang masyhur, dan dikatakan: sesungguhnya dia adalah orang pertama yang masuk Islam. Dan telah diriwayatkan dalam hal itu hadits darinya tetapi tidak shahih, dan yang shahih adalah bahwa dia orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak. Sebagaimana Khadijah adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan wanita, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki merdeka, dan Zaid bin Haritsah adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan budak.

Dan telah meriwayatkan At-Tirmidzi dan Abu Ya’la dari hadits Anas bin Malik dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diutus pada hari Senin, dan Ali shalat pada hari Selasa. Dan sebagian mereka meriwayatkannya, dari Muslim Al-Mala’i, dari Habbah bin Juwain dari Ali dan hadits Habbah tidak ada nilainya sama sekali.

Dan telah meriwayatkan Salamah bin Kuhail, dari Habbah, dari Ali dia berkata: Aku menyembah Allah bersama Rasulullah selama tujuh tahun sebelum ada seorang pun yang menyembah-Nya. Dan ini sama sekali tidak shahih, dan ini adalah dusta.

Dan meriwayatkan Sufyan Ats-Tsauri dan Syu’bah, dari Salamah, dari Habbah, dari Ali dia berkata: Aku adalah orang pertama yang masuk Islam. Dan ini juga tidak shahih, dan Habbah lemah.

Dan berkata Suwaid bin Sa’id: telah menceritakan kepada kami Nuh bin Qais, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Abdullah, dari Mu’adzah Al-Adawiyyah dia berkata: Aku mendengar Ali bin Abi Thalib di atas mimbar Bashrah berkata: Aku adalah Ash-Shiddiq Al-Akbar (yang paling jujur), aku beriman sebelum Abu Bakar beriman, dan aku masuk Islam sebelum dia masuk Islam. Dan ini tidak shahih. Demikian kata Al-Bukhari.

Dan telah tetap darinya secara mutawatir bahwa dia berkata di atas mimbar Kufah: Wahai manusia, sesungguhnya sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, dan jika aku mau menyebut yang ketiga niscaya aku akan menyebutnya.

Berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah, dari Abu Balj, dari Amr bin Maimun, dari Ibnu Abbas dia berkata: Orang pertama yang shalat – dan dalam riwayat: yang masuk Islam – bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setelah Khadijah adalah Ali bin Abi Thalib. Dan meriwayatkannya At-Tirmidzi dari hadits Syu’bah, dari Abu Balj dengannya.

Dan telah diriwayatkan dari Zaid bin Arqam dan Abu Ayyub Al-Anshari bahwa dia shalat sebelum orang-orang selama tujuh tahun. Dan ini tidak shahih dari jalur mana pun. Dan telah diriwayatkan bahwa dia adalah orang pertama yang masuk Islam dari umat ini hadits-hadits banyak, tidak ada yang shahih di antaranya, dan yang paling baik dalam hal itu adalah apa yang telah kami sebutkan, meskipun itu telah diperselisihkan, dan telah diperhatikan oleh Al-Hafizh yang besar Abu Al-Qasim bin Asakir dalam kitab Tarikhnya dengan berbagai jalur dari riwayat-riwayat ini, maka barangsiapa yang menginginkan penjelasan tentang itu, hendaklah merujuk kepadanya, dan Allah-lah yang memberi taufik kepada kebenaran.

Dan telah meriwayatkan At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, dari hadits Syu’bah, dari Amr bin Murrah, dari Thalhah bin Yazid, dari Zaid bin Arqam dia berkata: Orang pertama yang masuk Islam adalah Ali. Berkata At-Tirmidzi: hasan shahih.

Dan Ali menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selama masa tinggalnya di Mekah, dan dia berada bersamanya di rumahnya dan dalam pengasuhannya semasa hidup ayahnya Abu Thalib sampai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hijrah, maka Ali tinggal setelahnya untuk mengembalikan apa yang ada pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berupa titipan-titipan orang-orang, karena sesungguhnya dia dikenal di kaumnya sebagai orang yang dapat dipercaya, maka mereka menitipkan kepadanya harta-harta dan benda-benda berharga, kemudian Ali hijrah setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sampai beliau wafat dan beliau ridha kepadanya, dan menghadiri bersama beliau semua peperangan-peperangannya, dan terjadi baginya kedudukan-kedudukan mulia di hadapan beliau dalam medan-medan perang, sebagaimana telah kami jelaskan itu dalam Sirah dengan penjelasan yang tidak perlu diulang di sini, seperti pada hari Badar dan Uhud dan Al-Ahzab dan Khaibar dan lainnya, dan ketika beliau menunjuknya sebagai khalifah pada perang Tabuk atas keluarganya di Madinah, beliau berkata: “Tidakkah engkau ridha bahwa kedudukanmu dariku seperti kedudukan Harun dari Musa, kecuali bahwa tidak ada nabi sesudahku.” Dan kami telah menyebutkan pernikahan beliau dengan Fathimah binti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan masuk rumahnnya setelah peristiwa Badar dengan penjelasan yang tidak perlu diulang, dan ketika beliau alaihish shalatu was salam pulang dari haji Wada’, maka beliau berada antara Mekah dan Madinah di tempat yang disebut: Ghadir Khum. Beliau berkhutbah kepada orang-orang di sana pada hari ke delapan belas dari bulan Dzulhijjah, maka beliau berkata dalam khutbahnya: “Barangsiapa aku adalah maulanya maka Ali adalah maulanya.” Dan dalam sebagian riwayat “Ya Allah, walilah orang yang memwalinya, dan musuhi orang yang memusuhinya dan tolong orang yang menolongnya, dan hina orang yang menghinakannya” dan yang mahfuzh adalah yang pertama.

Dan sesungguhnya sebab khutbah ini dan peringatan tentang keutamaan Ali adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq bahwa Ali ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutusnya ke Yaman sebagai amir bersama Khalid bin Al-Walid, dan Ali kembali, maka dia bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Mekah pada haji Wada’ dan telah banyak pembicaraan tentangnya, dan berbicara tentangnya sebagian orang yang bersamanya karena dia mengambil kembali dari mereka pakaian-pakaian yang telah dilepaskan wakilnya kepada mereka ketika dia mempercepat perjalanan menuju Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai dari haji Wada’ beliau ingin membersihkan kedudukan Ali dari apa yang dinisbatkan kepadanya dari pembicaraan tentangnya, dan kaum Rafidhah telah menjadikan hari ini sebagai hari raya, maka mereka memukul rebana padanya di Baghdad pada masa Bani Buwaih sekitar tahun empat ratus, sebagaimana akan kami tegaskan ketika kami sampai kepadanya insya Allah, kemudian setelah itu sekitar dua puluh hari mereka menggantungkan kain-kain hitam di pintu-pintu toko dan menaburkan jerami dan abu di jalan-jalan dan pasar-pasar, dan para wanita berkeliling di gang-gang negeri meratapi Husain bin Ali pada hari Asyura pagi hari pembacaan mereka kisah pembunuhan yang didustakan tentang terbunuhnya Husain, dan kami akan menjelaskan semua itu ketika kami sampai kepadanya dan bagaimana peristiwa itu terjadi dengan sebenarnya, insya Allah ta’ala. Dan sebagian Bani Umayyah pernah mencela Ali dalam penyebutannya sebagai Abu Turab, dan itu adalah nama yang dinamakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana tetap dalam Shahihain dari Sahl bin Sa’d, bahwa Ali memarahi Fathimah, lalu pergi ke masjid, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam datang kepadanya, maka mendapatinya tidur dan debu telah menempel di kulitnya, maka beliau mulai menepis debu darinya dan berkata: “Duduklah Abu Turab, duduklah Abu Turab.”

Hadits Persaudaraan

Berkata Al-Hakim: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Al-Junaid, telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Ja’far Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Al-Ala’ bin Amr dan Al-Hanafi, telah menceritakan kepada kami Ayyub bin Mudrik, dari Makhul, dari Abu Umamah dia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mempersaudarakan orang-orang, beliau mempersaudarakan antara dirinya dengan Ali. Kemudian berkata Al-Hakim: Kami tidak menulisnya dari hadits Makhul kecuali dari jalur ini, dan para syaikh senang dengan hadits ini; karena dia dari riwayat penduduk Syam.

Aku berkata: Dan dalam keshahihan hadits ini ada pertanyaan, dan datang dari hadits Anas dan Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Ali: “Engkau saudaraku di dunia dan akhirat.” Dan demikian pula dari jalur Zaid bin Abi Aufa, dan Ibnu Abbas, dan Mahduj bin Zaid Adz-Dzuhli, dan Jabir bin Abdullah, dan Amir bin Rabi’ah, dan Abu Dzar, dan Ali sendiri, seperti itu, dan sanad-sanadnya semuanya lemah tidak dapat dijadikan hujjah dengan salah satu darinya. Wallahu a’lam. Dan telah datang dari beberapa jalur bahwa dia berkata: Aku adalah hamba Allah dan saudara Rasul-Nya, tidak ada yang mengatakannya setelahku kecuali pendusta.

Dan berkata At-Tirmidzi: telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa Al-Qaththan Al-Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Ali bin Qadim, telah menceritakan kepada kami Ali bin Shalih bin Hayy, dari Hakim bin Jubair, dari Jami’ bin Umair At-Taimi, dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mempersaudarakan para sahabatnya, maka Ali datang dengan air mata bercucuran, lalu berkata: Ya Rasulullah, engkau telah mempersaudarakan para sahabatmu dan tidak mempersaudarakanku dengan seorang pun. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: “Engkau saudaraku di dunia dan akhirat.” Kemudian dia berkata: ini hadits hasan gharib, dan padanya dari Zaid bin Abi Aufa.

Dan Ali telah menghadiri Badar, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah berkata kepada Umar: “Dan apa yang membuatmu tahu barangkali Allah telah melihat penduduk Badar lalu berkata: Kerjakanlah apa yang kalian kehendaki maka sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian.” Dan dia bertarung tanding pada hari itu sebagaimana telah disebutkan. Dan baginya tangan yang putih (jasa yang besar) dan diserahkan kepadanya oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam panji pada hari itu dan dia berusia dua puluh tahun. Demikian kata Al-Hakam, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas dia berkata: Dan panji Muhajirin ada bersamanya di semua medan perang. Dan demikian pula kata Sa’id bin Al-Musayyab dan Qatadah.

Dan berkata Khaitsamah bin Sulaiman Al-Athrabulus Al-Hafizh: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hazim bin Abi Gharzah, telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Aban, telah menceritakan kepada kami Nashih bin Abdullah Al-Muhalimi, dari Simak bin Harb, dari Jabir bin Samurah dia berkata: Mereka berkata: Ya Rasulullah, siapa yang membawa panjimu pada hari Kiamat? Beliau berkata: “Dan siapa gerangan yang membawanya pada hari Kiamat kecuali orang yang membawanya di dunia; Ali bin Abi Thalib.” Dan ini sanad lemah. Dan meriwayatkannya Ibnu Asakir dari Anas bin Malik dan tidak shahih juga.

Dan berkata Al-Hasan bin Arfah: telah menceritakan kepadaku Ammar bin Muhammad, dari Sa’id bin Muhammad Al-Hanzhali, dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali dia berkata: Seorang penyeru berseru di langit pada hari Badar: Tidak ada pedang kecuali Dzul Fiqar, dan tidak ada pemuda kecuali Ali. Berkata Al-Hafizh Ibnu Asakir: Dan ini mursal, dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengambil sebagai ghanimah pedangnya Dzul Fiqar pada hari Badar kemudian menghadiahkannya kepada Ali setelah itu.

Dan berkata Az-Zubair bin Bakkar telah menceritakan kepadaku Ali bin Al-Mughirah, dari Ma’mar bin Al-Mutsanna dia berkata: Panji orang-orang musyrik pada hari Badar bersama Thalhah bin Abi Thalhah, maka Ali bin Abi Thalib membunuhnya. Maka tentang itu berkata Al-Hajjaj bin Ilath As-Sulami:

Demi Allah, betapa hebatnya pembela kehormatan Maksudku putra Fathimah yang dipuji dan dipilih Tanganmu memberi dia tikaman yang cepat Membuat Thulaihah terjerembap di tanah Dan engkau menyerang dengan serangan yang gagah berani maka engkau mengalahkan mereka Dengan kebenaran ketika mereka berkerumun berkelompok Dan engkau memberi makan pedangmu dengan darah-darah dan engkau tidak Mengembalikannya dalam keadaan haus sampai dia minum puas

Dan dia menghadiri Bai’atur Ridhwan, dan Allah ta’ala telah berfirman: Sesungguhnya Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon ayat-ayat (QS. Al-Fath: 18). Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: Tidak akan masuk seorang pun yang berbai’at di bawah pohon ke dalam neraka.

Dan telah tetap dalam Shahih dan lainnya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata pada hari Khaibar: “Sungguh aku akan memberikan panji besok kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya, dia bukan pelari, Allah akan membuka kemenangan atas tangannya.” Maka orang-orang bermalam memperbincangkan siapa di antara mereka yang akan diberikan panji, sampai Umar berkata: Aku tidak pernah mencintai kepemimpinan kecuali pada hari itu. Maka ketika pagi beliau memberikannya kepada Ali, maka Allah membuka kemenangan atas tangannya. Dan meriwayatkannya sekelompok orang, di antaranya; Malik, dan Yahya bin Sa’id, dan Ya’qub bin Abdurrahman, dan Jarir bin Abdul Hamid, dan Hammad bin Salamah, dan Abdul Aziz bin Al-Mukhtar, dan Khalid bin Abdullah, dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Dan mengeluarkannya Muslim. Dan meriwayatkannya Ibnu Abi Hazim, dari Sahl bin Sa’d. Mereka mengeluarkannya dalam Shahihain, dan dia berkata dalam haditsnya: Maka Rasulullah memanggilnya dan dia sakit mata, lalu meludahi matanya maka sembuh. Dan meriwayatkannya Iyas bin Salamah bin Al-Akwa’ dari ayahnya, dan Yazid bin Abi Ubaid dari tuannya Salamah juga, dan haditsnya darinya dalam Shahihain.

Dan berkata Muhammad bin Ishaq: telah menceritakan kepadaku Buraidah bin Sufyan bin Farwah Al-Aslami, dari ayahnya, dari Salamah bin Amr bin Al-Akwa’ dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutus kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan panjinya ke salah satu benteng Khaibar maka dia berperang kemudian kembali dan belum ada kemenangan dan sungguh dia telah bersungguh-sungguh, kemudian mengutus esok harinya Umar bin Al-Khaththab maka dia berperang kemudian kembali dan belum ada kemenangan dan sungguh dia telah bersungguh-sungguh, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: “Sungguh aku akan memberikan panji besok kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya, Allah akan membuka kemenangan atas tangannya, dia bukan pelari.” Berkata: Salamah: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memanggil Ali dan dia sakit mata, lalu meludahi matanya, kemudian berkata: “Ambillah panji ini maka berjalanlah dengannya sampai Allah membuka kemenangan atasmu” Berkata Salamah: Maka dia keluar demi Allah berlari kecil dengannya, dan sesungguhnya kami di belakangnya mengikuti jejaknya sampai dia menancapkan panjinya di tumpukan batu di bawah benteng, maka seorang Yahudi mengintip kepadanya dari atas benteng, lalu berkata: Siapa engkau? Dia berkata: Ali bin Abi Thalib. Berkata orang Yahudi: Kalian menang dan oleh Dzat yang menurunkan Taurat kepada Musa. Berkata: Maka dia tidak kembali sampai Allah membuka kemenangan atas tangannya. Dan telah meriwayatkannya Ikrimah bin Ammar, dari Atha’ maula As-Saib, dari Salamah bin Al-Akwa’ dan di dalamnya bahwa dialah yang datang membawanya sambil menuntunnya dan dia sakit mata, sampai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meludahi matanya maka sembuh.

Riwayat Buraidah bin Al-Hushayb

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubab, telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Waqid, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Buraidah, telah menceritakan kepadaku Buraidah bin Al-Hushayb, ia berkata: Kami mengepung Khaibar, lalu Abu Bakar mengambil panji, kemudian ia kembali tanpa kemenangan. Kemudian pada keesokan harinya Umar mengambilnya, lalu ia keluar dan kembali tanpa kemenangan. Pada hari itu manusia mengalami kesulitan dan kesusahan yang berat. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku akan memberikan panji besok kepada seorang lelaki yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya, ia tidak akan kembali hingga Allah memberikan kemenangan kepadanya.” Ia berkata: Maka kami bermalam dengan hati yang tenang bahwa kemenangan akan datang esok hari. Ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bangun pagi, beliau melaksanakan salat subuh, kemudian berdiri dan meminta panji sementara orang-orang berada di barisan mereka. Lalu beliau memanggil Ali yang sedang sakit mata, kemudian beliau meludahi matanya dan memberikan panji kepadanya, maka Allah memberikan kemenangan kepadanya.

Buraidah berkata: Dan aku termasuk orang yang berjinjit (berharap mendapatkan panji tersebut). Riwayat ini diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari hadits Al-Husain bin Waqid dengan lebih panjang. Kemudian Ahmad meriwayatkannya dari Muhammad bin Ja’far dan Rauh, keduanya dari Auf, dari Maimun Abu Abdullah Al-Kurdi, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya dengan serupa. Dan An-Nasa’i mengeluarkannya dari Bundar dari Ghundar dengannya, dan di dalamnya terdapat syair.

Riwayat Abdullah bin Umar

Diriwayatkan oleh Hushaim dari Al-Awwam bin Hausyab, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Ibnu Umar, lalu ia menyebutkan alur hadits Buraidah. Diriwayatkan oleh Katsir An-Nawwa dari Jami’ bin Umair, dari Ibnu Umar serupa dengannya, dan di dalamnya Ali berkata: Maka aku tidak pernah sakit mata lagi setelah hari itu. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Waki’, dari Hisyam bin Sa’d, dari Umar bin Usaid, dari Ibnu Umar sebagaimana akan disebutkan.

Riwayat Ibnu Abbas

Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah, dari Abu Balj, dari Amr bin Maimun, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku akan memberikan panji besok kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Lalu beliau bertanya: “Di mana Ali?” Mereka menjawab: Ia sedang menggiling. Beliau bersabda: Padahal tidak ada seorang pun dari mereka yang rela untuk menggiling. Lalu ia didatangkan, kemudian panji diberikan kepadanya, maka ia datang membawa Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab. Ini adalah riwayat gharib dari jalur ini, dan merupakan ringkasan dari hadits yang panjang. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Yahya bin Hammad, dari Abu Awanah, dari Abu Balj, dari Amr bin Maimun, dari Ibnu Abbas, lalu ia menyebutkannya secara lengkap.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah, telah menceritakan kepada kami Abu Balj, telah menceritakan kepada kami Amr bin Maimun, ia berkata: Sesungguhnya aku sedang duduk di samping Ibnu Abbas, tiba-tiba datang kepadanya sembilan orang, lalu mereka berkata: Wahai Ibnu Abbas, apakah engkau akan berdiri bersama kami ataukah orang-orang ini akan menyendiri dengan kami. Ia berkata: Bahkan aku akan berdiri bersama kalian. Ia berkata: Dan ia pada hari itu dalam keadaan sehat sebelum menjadi buta. Ia berkata: Mereka mulai berbicara dan kami tidak tahu apa yang mereka katakan. Ia berkata: Lalu ia datang mengibaskan bajunya seraya berkata: Ah dan cih, mereka menjelek-jelekkan seorang lelaki yang memiliki sepuluh keistimewaan, mereka menjelek-jelekkan seorang lelaki yang Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda tentangnya: “Sungguh aku akan mengutus seorang lelaki yang tidak akan pernah dihinakan oleh Allah, ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Ia berkata: Maka orang-orang yang berharap itupun menengadahkan kepalanya. Beliau bersabda: “Di mana Ali?” Mereka menjawab: Ia ada di tempat penggilingan sedang menggiling. Beliau bersabda: Tidaklah salah seorang dari kalian yang akan menggiling. Ia berkata: Lalu ia datang dalam keadaan sakit mata hingga hampir tidak bisa melihat, kemudian beliau meludahi matanya, lalu mengibarkan panji tiga kali, kemudian memberikannya kepadanya, maka ia datang membawa Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab.

Ia berkata: Kemudian beliau mengutus si fulan dengan surat At-Taubah, lalu beliau mengutus Ali di belakangnya, maka ia mengambilnya darinya. Beliau bersabda: “Tidak ada yang membawanya kecuali seorang lelaki dariku dan aku darinya.” Ia berkata: Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Bani pamannya: “Siapa di antara kalian yang akan menjadi pelindungku di dunia dan akhirat?” Mereka menolak. Ia berkata: Dan Ali duduk bersamanya, lalu Ali berkata: Aku akan menjadi pelindungmu di dunia dan akhirat. Beliau bersabda: “Engkau adalah pelindungku di dunia dan akhirat.” Ia berkata: Lalu beliau meninggalkannya, kemudian menghadap kepada salah seorang dari mereka, dan bersabda: “Siapa di antara kalian yang akan menjadi pelindungku di dunia dan akhirat?” Mereka menolak, lalu Ali berkata: Aku akan menjadi pelindungmu di dunia dan akhirat. Beliau bersabda: “Engkau adalah pelindungku di dunia dan akhirat.” Ia berkata: Dan ia adalah orang pertama yang masuk Islam dari manusia setelah Khadijah. Ia berkata: Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengambil kainnya, lalu meletakkannya di atas Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain, kemudian bersabda: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, ahlul bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (Surat Al-Ahzab: 33)

Ia berkata: Dan Ali mengorbankan dirinya; ia mengenakan pakaian Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian tidur di tempatnya. Ia berkata: Dan orang-orang musyrik berniat menyerang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu Abu Bakar datang sementara Ali sedang tidur, dan Abu Bakar mengira bahwa dia adalah Nabiyullah, lalu ia berkata: Wahai Nabiyullah. Lalu Ali berkata kepadanya: Sesungguhnya Nabiyullah telah pergi menuju sumur Maimun, maka susullah dia. Ia berkata: Maka Abu Bakar pergi, lalu masuk bersamanya ke dalam gua. Ia berkata: Dan Ali terus dilempari dengan batu sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dilempari dan ia mengerang kesakitan, padahal ia telah membungkus kepalanya dengan kain, tidak mengeluarkannya hingga pagi, kemudian ia membuka kepalanya, lalu mereka berkata: Sungguh engkau sangat hina, sahabatmu kami lempari ia tidak mengerang, sedangkan engkau mengerang, dan kami merasa aneh dengan hal itu.

Ia berkata: Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berangkat bersama orang-orang dalam Perang Tabuk, lalu Ali berkata kepadanya: Apakah aku keluar bersamamu? Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Tidak.” Maka Ali menangis, lalu beliau bersabda: “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu dariku adalah seperti kedudukan Harun dari Musa, kecuali bahwa engkau bukan nabi. Sesungguhnya tidak pantas aku pergi kecuali engkau sebagai khalifah(pengganti)ku.” Ia berkata: Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Engkau adalah pelindungku bagi setiap mukmin setelahku.” Ia berkata: Dan beliau menutup pintu-pintu masjid kecuali pintu Ali. Ia berkata: Maka ia masuk masjid dalam keadaan junub, dan itu adalah jalannya, ia tidak memiliki jalan lain selain itu.

Ia berkata: Dan beliau bersabda: “Barangsiapa aku menjadi pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya.” Ia berkata: Dan Allah telah memberitahu kita dalam Al-Quran bahwa Dia telah ridha kepada para sahabat yang berada di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada di hati mereka, apakah Dia memberitahu kita bahwa Dia murka kepada mereka setelah itu?! Ia berkata: Dan Nabiyullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Umar ketika ia berkata: Izinkan aku untuk memenggal lehernya – maksudnya Hatib bin Abi Balta’ah – beliau bersabda: “Apakah engkau akan melakukannya?! Apa yang engkau ketahui, barangkali Allah telah melihat para ahli Badar, lalu berfirman: Kerjakanlah apa yang kalian kehendaki, sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian.” Dan Tirmidzi telah meriwayatkan sebagiannya dari jalur Syu’bah, dari Abu Balj Yahya bin Abi Sulaim dan menganggapnya gharib, dan An-Nasa’i mengeluarkan sebagiannya juga dari Muhammad bin Al-Mutsanna, dari Yahya bin Hammad dengannya.

Riwayat Imran

Al-Bukhari berkata dalam At-Tarikh: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Abdul Wahhab Ar-Riyahi, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman, dari ayahnya, dari Manshur, dari Rib’i, dari Imran bin Hushain, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku akan memberikan panji kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Lalu beliau mengutus kepada Ali yang sedang sakit mata, kemudian beliau meludahi matanya dan memberikan panji kepadanya, maka ia tidak menoleh wajahnya hingga Allah memberikan kemenangan kepadanya, dan ia tidak mengeluhkannya lagi setelah itu. Diriwayatkan oleh Abu Al-Qasim Al-Baghawi, dari Ishaq bin Ibrahim Abu Musa Al-Harawi, dari Ali bin Hasyim, dari Muhammad bin Ali, dari Manshur, dari Rib’i, dari Imran, lalu ia menyebutkannya, dan An-Nasa’i mengeluarkannya dari Abbas Al-Anbari, dari Umar bin Abdul Wahhab dengannya.

Riwayat Abu Said

Dalam hal ini Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Mush’ab bin Al-Miqdam dan Hujain bin Al-Mutsanna, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Isra’il, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ishmah, ia berkata: Aku mendengar Abu Said Al-Khudri berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengambil panji lalu mengibarkannya kemudian bersabda: “Siapa yang mengambilnya dengan haknya?” Lalu datang si fulan dan berkata: Aku. Beliau bersabda: “Minggir.” Kemudian datang lelaki lain dan berkata: Aku. Beliau bersabda: “Minggir.” Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang memuliakan wajah Muhammad, sungguh aku akan memberikannya kepada seorang lelaki yang tidak lari.” Lalu Ali datang, kemudian ia pergi hingga Allah memberikan kemenangan kepadanya di Khaibar dan Fadak, dan ia membawa kurma kering dan daging kering mereka.

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Husain bin Muhammad, dari Isra’il, dan ia berkata dalam riwayatnya: Lalu Az-Zubair datang dan berkata: Aku. Beliau bersabda: “Minggir.” Kemudian datang yang lain lalu beliau bersabda: “Minggir.” Dan ia menyebutkannya. Diriwayatkan sendiri oleh Ahmad.

Riwayat Ali bin Abi Thalib dalam Hal Ini

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ibnu Abi Laila dari Al-Minhal, dari Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata: Ayahku biasa berbincang di malam hari dengan Ali, dan Ali memakai pakaian musim panas di musim dingin dan pakaian musim dingin di musim panas. Maka dikatakan kepadanya: Seandainya engkau bertanya kepadanya. Lalu ia bertanya kepadanya, maka ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutusku dan aku sedang sakit mata pada hari Khaibar, lalu aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sakit mata. Maka beliau meludahi mataku dan bersabda: “Ya Allah, hilangkanlah darinya panas dan dingin,” maka aku tidak merasakan panas dan dingin sejak hari itu. Dan beliau bersabda: “Sungguh aku akan memberikan panji kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya, bukan orang yang lari.” Maka para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam menengadahkan kepala berharap mendapatkannya, lalu beliau memberikannya kepadaku. Diriwayatkan sendiri oleh Ahmad. Dan telah meriwayatkannya lebih dari satu orang dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, dari Al-Minhal, sebagian mereka menambahkan: dan Al-Hakam bin Utaibah. Dan diriwayatkan oleh lebih dari satu orang dari Abdurrahman bin Abi Laila dari ayahnya, dari Ali dengannya secara panjang.

Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Mughirah, dari Ummu Musa, ia berkata: Aku mendengar Ali berkata: Aku tidak pernah sakit mata dan tidak pernah sakit kepala sejak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengusap wajahku dan meludahi mataku pada hari Khaibar dan memberikan panji kepadaku.

Riwayat Sa’d bin Abi Waqqash dalam Hal Ini

Tetap dalam Shahihain dari hadits Syu’bah, dari Sa’d bin Ibrahim bin Sa’d bin Abi Waqqash, dari ayahnya, dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ali: “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu dariku adalah seperti kedudukan Harun dari Musa, kecuali bahwa tidak ada nabi setelahku?”

Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi berkata: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma’il, dari Bukair bin Mismar, dari Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash dari ayahnya, ia berkata: Mu’awiyah bin Abi Sufyan memerintahkan Sa’d, lalu ia berkata: Apa yang menghalangimu untuk mencela Abu Turab? Maka ia berkata: Adapun ketika aku mengingat tiga hal yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ucapkan kepadanya, maka tidak, sungguh jika aku memiliki salah satunya lebih aku sukai daripada unta-unta merah: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ali – dan beliau meninggalkannya dalam salah satu perangnya, maka Ali berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, engkau meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu dariku adalah seperti kedudukan Harun dari Musa, kecuali bahwa tidak ada kenabian setelahku?” Dan aku mendengarnya bersabda pada hari Khaibar: “Sungguh aku akan memberikan panji kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Ia berkata: Maka aku berjinjit mengharapkannya. Beliau bersabda: “Panggilkan Ali untukku.” Lalu ia didatangkan dalam keadaan sakit mata, kemudian beliau meludahi matanya dan memberikan panji kepadanya, maka Allah memberikan kemenangan kepadanya. Dan ketika turun ayat ini: “Katakanlah: Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian,” (Surat Ali Imran: 61) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain, lalu bersabda: “Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku.” Kemudian Tirmidzi berkata: Hasan Shahih. Dan telah meriwayatkannya Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan An-Nasa’i dari hadits Sa’id bin Al-Musayyab dari Sa’d, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ali: “Engkau dariku adalah seperti kedudukan Harun dari Musa.” Dan Tirmidzi berkata: Dan dianggap gharib dari riwayat Sa’id dari Sa’d.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Habib bin Abi Tsabit, dari Hamzah bin Abdullah, dari ayahnya – yaitu Abdullah bin Umar – dari Sa’d, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar menuju Tabuk, beliau meninggalkan Ali sebagai khalifah, lalu ia berkata: Apakah engkau meninggalkanku? Beliau bersabda: “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu dariku adalah seperti kedudukan Harun dari Musa, kecuali bahwa tidak ada nabi setelahku?” Dan ini adalah sanad yang baik, dan mereka tidak mengeluarkannya.

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sa’d bin Ibrahim, aku mendengar Ibrahim bin Sa’d menceritakan dari Sa’d, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda kepada Ali: “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu dariku adalah seperti kedudukan Harun dari Musa?” Keduanya mengeluarkannya dari hadits Muhammad bin Ja’far dengannya.

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal, telah menceritakan kepadaku Al-Ju’aid bin Abdurrahman Al-Ju’fi, dari Aisyah binti Sa’d dari ayahnya, bahwa Ali keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga sampai di Tsaniyyah Al-Wada’, dan Ali menangis seraya berkata: Engkau meninggalkanku bersama orang-orang yang tertinggal? Maka beliau bersabda: “Ataukah engkau tidak rela bahwa kedudukanmu dariku adalah seperti kedudukan Harun dari Musa, kecuali kenabian?” Dan ini adalah sanad yang shahih juga, dan mereka tidak mengeluarkannya.

Al-Hasan bin Arafah Al-Abdi berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hazim Abu Mu’awiyah Adh-Dharir, dari Musa bin Muslim Asy-Syaibani, dari Abdurrahman bin Sabit, dari Sa’d bin Abi Waqqash, ia berkata: Mu’awiyah datang dalam salah satu hajinya, lalu Sa’d bin Abi Waqqash mendatanginya, kemudian mereka menyebutkan Ali, lalu Sa’d berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentangnya tiga kekhususan, sungguh jika aku memiliki salah satunya lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya. Aku mendengarnya bersabda: “Barangsiapa aku menjadi pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya.” Dan aku mendengarnya bersabda: “Sungguh aku akan memberikan panji besok kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Dan aku mendengarnya bersabda: “Engkau dariku adalah seperti kedudukan Harun dari Musa, kecuali bahwa tidak ada nabi setelahku.” Sanadnya hasan, dan mereka tidak mengeluarkannya.

Dan berkata Abu Zur’ah Ad-Dimasyqi: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Khalid Al-Wahbi Abu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq, dari Abdullah bin Abi Najih, dari ayahnya, ia berkata: Ketika Mu’awiyah menunaikan haji, ia memegang tangan Sa’d bin Abi Waqqash lalu berkata: “Wahai Abu Ishaq, sesungguhnya kami adalah kaum yang terhalang oleh peperangan ini dari menunaikan haji hingga kami hampir melupakan sebagian dari sunnahnya, maka bertowaflah agar kami bisa berthawaf dengan thawafmu.” Ia berkata: Ketika selesai, Mu’awiyah membawanya masuk ke Dar An-Nadwah, lalu mendudukkannya bersamanya di atas tempat tidurnya, kemudian ia menyebut-nyebut Ali bin Abi Thalib dan mencacinya. Maka Sa’d berkata: “Engkau memasukkanku ke dalam rumahmu, dan mendudukkanku di atas tempat tidurmu, kemudian engkau mencaci Ali dan mencacinya? Demi Allah, sungguh jika aku memiliki salah satu dari tiga keistimewaan yang dimilikinya, hal itu lebih aku cintai daripada aku memiliki apa yang disinari matahari. Sungguh jika aku memiliki apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam katakan kepadanya ketika ia berperang ke Tabuk: ‘Tidakkah engkau rela jika engkau kedudukanmu dariku seperti kedudukan Harun dari Musa kecuali bahwa tidak ada nabi setelahku?’ Hal itu lebih aku cintai daripada apa yang disinari matahari. Dan sungguh jika aku memiliki apa yang Rasulullah katakan kepadanya pada hari Khaibar: ‘Sungguh aku akan memberikan panji ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya, Allah akan memberikan kemenangan di tangannya, ia bukan orang yang lari dari medan perang’ Hal itu lebih aku cintai daripada apa yang disinari matahari. Dan sungguh jika aku menjadi menantunya atas putrinya, dan memiliki anak darinya sebagaimana yang ia miliki, hal itu lebih aku cintai daripada aku memiliki apa yang disinari matahari. Aku tidak akan masuk ke rumahmu lagi setelah hari ini.” Kemudian ia mengibaskan kainnya lalu keluar.

Dan berkata Ahmad: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Mush’ab bin Sa’d, dari Sa’d bin Abi Waqqash, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan Ali bin Abi Thalib (di Madinah), maka Ali berkata: “Ya Rasulullah, apakah engkau meninggalkanku bersama wanita dan anak-anak?” Rasulullah bersabda: “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu dariku seperti kedudukan Harun dari Musa kecuali tidak ada nabi setelahku?” Sanadnya sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya. Demikian pula diriwayatkan oleh Abu ‘Awanah, dari Al-A’masy dari Al-Hakam dari Mush’ab, dari ayahnya. Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi, dari Syu’bah, dari ‘Ashim, dari Mush’ab, dari ayahnya. Wallahu a’lam. Dan telah meriwayatkannya lebih dari satu orang dari ‘Aisyah binti Sa’d dari ayahnya. Berkata Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir: Dan telah meriwayatkan hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekelompok sahabat; di antaranya Umar, Ali, Ibnu Abbas, Abdullah bin Ja’far, Mu’awiyah, Jabir bin Abdullah, Jabir bin Samurah, Abu Sa’id, Al-Bara’ bin ‘Azib, Zaid bin Arqam, Zaid bin Abi Aufa, Nubayt bin Syarith, Hubsyi bin Junadah, Malik bin Al-Huwairits, Anas bin Malik, Abul Fail, Ummu Salamah, Asma binti ‘Umais, dan Fathimah binti Hamzah. Dan Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir telah meneliti hadits-hadits ini dalam biografi Ali dalam kitab “Tarikhnya” maka ia melakukannya dengan baik dan bermanfaat, dan melampaui para pembanding, sejenisnya, dan setaranya, semoga Allah Rabb semesta alam merahmatinya pada hari panggilan.

Riwayat Umar radhiyallahu ‘anhu dalam hal itu: Berkata Abu Ya’la Al-Maushili: telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far, telah mengabarkan kepadaku Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Berkata Umar: Sungguh telah diberikan kepada Ali bin Abi Thalib tiga keistimewaan, jika aku memiliki satu keistimewaan darinya lebih aku cintai daripada unta merah. Ditanyakan: Apakah ketiganya wahai Amirul Mukminin? Ia berkata: Pernikahannya dengan Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tempat tinggalnya di masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak halal bagiku di dalamnya apa yang halal baginya, dan panji pada hari Khaibar. Dan telah diriwayatkan dari Umar dari beberapa jalur.

Riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: Meriwayatkan Imam Ahmad dari Waki’, dari Hisyam bin Sa’d, dari Umar bin Usaid, dari Ibnu Umar, ia berkata: Kami biasa berkata pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Rasulullah adalah sebaik-baik manusia, kemudian sebaik-baik manusia adalah Abu Bakar, kemudian Umar, dan sungguh telah diberikan kepada Ibnu Abi Thalib tiga keistimewaan yang jika aku diberi ketiganya lebih aku cintai daripada unta merah. Lalu ia menyebutkan ketiga keistimewaan ini.

Dan telah meriwayatkan Ahmad dan Tirmidzi dari hadits Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dari Jabir, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali: “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu dariku seperti kedudukan Harun dari Musa kecuali tidak ada nabi setelahku?” Dan diriwayatkan Ahmad dari hadits ‘Athiyyah, dari Abu Sa’id, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Engkau dariku seperti kedudukan Harun dari Musa kecuali tidak ada nabi setelahku.” Dan diriwayatkan Ath-Thabrani dari jalur Abdul Aziz bin Hakim, dari Ibnu Umar secara marfu’. Dan diriwayatkan Salamah bin Kuhail, dari ‘Amir bin Sa’d, dari ayahnya dan dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali: “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu dariku seperti kedudukan Harun dari Musa kecuali tidak ada nabi setelahku?” Berkata Salamah: Dan aku mendengar seorang budak dari Bani Mauhubah berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda seperti itu.

Pernikahan Ali dengan Fathimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anhuma

Berkata Sufyan Ats-Tsauri, dari Ibnu Abi Najih, dari ayahnya: Aku mendengar seorang laki-laki mendengar Ali di atas mimbar Kufah berkata: Aku bermaksud untuk melamar putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku teringat bahwa aku tidak memiliki apa-apa, kemudian aku teringat kebiasaan beliau memberi dan menyambung silaturahmi, maka aku melamarnya. Rasulullah bertanya: “Apakah engkau memiliki sesuatu?” Aku berkata: Tidak. Beliau bersabda: “Lalu di mana baju besimu Al-Huthamiyyah yang aku berikan kepadamu pada hari ini dan itu?” Aku berkata: Masih ada padaku. Beliau bersabda: “Maka berikanlah.” Maka aku memberikannya dan beliau menikahkanku. Ketika tiba malam aku masuk menemuinya, beliau bersabda: “Jangan kalian melakukan apa-apa hingga aku datang kepada kalian.” Ia berkata: Maka beliau datang kepada kami sementara kami berada di bawah selimut atau kain, lalu kami bergerak, maka beliau bersabda: “Tetaplah di tempat kalian.” Kemudian beliau meminta sebuah gelas berisi air, lalu beliau berdoa di dalamnya, kemudian memercikkannya kepadaku dan kepadanya. Maka aku berkata: Ya Rasulullah, apakah aku lebih engkau cintai ataukah dia? Beliau bersabda: “Dia lebih aku cintai, dan engkau lebih mulia bagiku darinya.” Dan telah meriwayatkan Nasa’i dari jalur Abdul Karim bin Sulaith, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya, lalu menyebutkannya dengan lebih panjang dari sanad ini, dan di dalamnya disebutkan bahwa Ali mengadakan walimah dengan seekor kambing dari Sa’d, dan beberapa sha’ gandum dari sejumlah orang Anshar, dan bahwa Rasulullah berdoa untuk keduanya setelah menuangkan air kepada keduanya, maka beliau bersabda: “Ya Allah, berkahilah keduanya, berkahilah atas keduanya, dan berkahilah bagi keduanya dalam pertemuan keduanya.” Maksudnya adalah hubungan suami istri.

Dan meriwayatkan Muhammad bin Katsir, dari Al-Auza’i, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Ketika Ali melamar Fathimah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemuinya lalu berkata kepadanya: “Wahai putriku, sesungguhnya anak pamanmu Ali telah melamarmu, maka apa yang engkau katakan?” Maka ia menangis kemudian berkata: Sepertinya engkau wahai ayahku hanya menyimpanku untuk orang miskin Quraisy. Maka beliau bersabda: “Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, aku tidak berbicara tentang hal ini hingga Allah mengizinkanku dari langit.” Maka Fathimah berkata: Aku ridha dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya ridhakan untukku. Maka beliau keluar dari sisinya, dan kaum muslimin berkumpul kepadanya, kemudian beliau bersabda: “Wahai Ali, lamarlahlah untuk dirimu sendiri.” Maka Ali berkata: Segala puji bagi Allah yang tidak mati, dan ini adalah Muhammad Rasulullah telah menikahkanku dengan putrinya Fathimah dengan mahar sebesar empat ratus dirham, maka dengarlah apa yang ia katakan dan saksikanlah. Mereka berkata: Apa yang engkau katakan wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Aku mempersaksikan kalian bahwa sungguh aku telah menikahkannya.” Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir, dan ini adalah hadits munkar. Dan telah diriwayatkan dalam bab ini banyak hadits yang munkar dan maudhu’ (palsu) yang kami tinggalkan agar kitab ini tidak terlalu panjang, dan Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir telah menyebutkan sebagian yang baik dalam “Tarikhnya” meskipun lemah dan palsu.

Dan meriwayatkan Waki’ dari Abu Khalid, dari Asy-Sya’bi, ia berkata: Berkata Ali: Kami tidak memiliki apa-apa kecuali kulit kambing, kami tidur di salah satu sisinya dan Fathimah menguleni adonan di sisi lainnya. Dan dalam riwayat Mujalid dari Asy-Sya’bi: Dan kami memberi makan unta perah di siang hari, dan aku tidak memiliki pembantu selain dirinya.

Hadits lain: Berkata Ahmad: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami ‘Auf, dari Maimun Abu Abdullah, dari Zaid bin Arqam, ia berkata: Beberapa orang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki pintu-pintu yang terbuka langsung ke masjid. Ia berkata: Maka pada suatu hari beliau bersabda: “Tutuplah pintu-pintu ini kecuali pintu Ali.” Ia berkata: Maka ada orang-orang yang membicarakan hal itu, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan memuji Allah Ta’ala serta menyanjung-Nya, kemudian bersabda: “Amma ba’du, sesungguhnya aku memerintahkan untuk menutup pintu-pintu ini kecuali pintu Ali, maka ada yang berbicara tentang hal itu, dan sesungguhnya demi Allah aku tidak menutup sesuatu dan tidak membukanya, tetapi aku diperintahkan sesuatu maka aku mengikutinya.” Dan telah diriwayatkan Abu Al-Asyhab dari ‘Auf, dari Maimun, dari Al-Bara’ bin ‘Azib lalu menyebutkannya. Dan telah disebutkan sebelumnya apa yang diriwayatkan Ahmad dan Nasa’i dari hadits Abu ‘Awanah, dari Abu Balj, dari ‘Amr bin Maimun, dari Ibnu Abbas. Hadits yang panjang, dan di dalamnya disebutkan penutupan pintu-pintu kecuali pintu Ali. Demikian pula diriwayatkan Syu’bah dari Abu Balj, dari ‘Amr bin Maimun, dari Ibnu Abbas.

Dan meriwayatkannya Sa’d bin Abi Waqqash. Berkata Ahmad: telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Fithr, dari Abdullah bin Syarik, dari Abdullah bin Al-Arqam Al-Kanani, ia berkata: Kami keluar menuju Madinah pada masa perang Jamal, lalu kami bertemu Sa’d bin Malik di sana, maka ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menutup pintu-pintu yang terbuka ke masjid dan membiarkan pintu Ali. Hanya diriwayatkan oleh Ahmad.

Jalur lain dari Sa’d: Berkata Abu Ya’la: telah menceritakan kepada kami Musa bin Muhammad bin Hayyan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma’il bin Ja’far Ath-Thahhan, telah menceritakan kepada kami Ghassan bin Bisyr Al-Kahili, dari Muslim, dari Khaitsamah, dari Sa’d bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menutup pintu-pintu orang-orang di masjid dan membuka pintu Ali, maka orang-orang membicarakan hal itu, lalu beliau bersabda: “Bukan aku yang membukanya, tetapi Allah yang membukanya.” Dan ini tidak bertentangan dengan apa yang shahih dalam Shahih Bukhari tentang perintah beliau ‘alaihish shalatu wassalam, dalam sakitnya yang ia meninggal karenanya, untuk menutup pintu-pintu yang terbuka ke masjid kecuali pintu Abu Bakar Ash-Shiddiq; karena perintah meninggalkan pintu Ali ini dalam keadaan beliau masih hidup karena kebutuhan Fathimah untuk melewati dari rumahnya ke rumah ayahnya, maka ini dijadikan kemudahan baginya. Adapun setelah wafatnya, maka hilanglah alasan ini, maka dibutuhkan pembukaan pintu Ash-Shiddiq agar ia bisa keluar ke masjid untuk shalat bersama orang-orang karena ia adalah khalifah mereka setelah wafat Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam, dan di dalamnya terdapat isyarat kepada khilafahnya.

Dan berkata Tirmidzi: telah menceritakan kepada kami Ali bin Al-Mundzir, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari Salim bin Abi Hafshah, dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa’id, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali: “Wahai Ali, tidak halal bagi siapa pun untuk junub di masjid selain aku dan engkau.” Berkata Ali bin Al-Mundzir: Aku berkata kepada Dhirar bin Shurad: Apa makna hadits ini? Ia berkata: Tidak halal bagi siapa pun untuk melewatinya dalam keadaan junub selain aku dan engkau. Kemudian berkata Tirmidzi: Dan ini adalah hadits hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini, dan Muhammad bin Isma’il telah mendengar dariku hadits ini lalu menganggapnya gharib. Dan telah diriwayatkannya Ibnu ‘Asakir dari jalur Katsir An-Nawa’, dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa’id dengannya, kemudian menyebutkannya dari jalur Abu Nu’aim, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abi Ghunayah, dari Abu Al-Khaththab Umar Al-Hijri, dari Mahduj, dari Jasrah binti Dajajah, telah mengabarkan kepadaku Ummu Salamah, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumahnya hingga sampai ke halaman masjid, lalu memanggil dengan suara keras: “Sesungguhnya tidak halal masjid bagi orang yang junub dan tidak bagi wanita haid kecuali untuk Muhammad dan istri-istrinya serta Ali dan Fathimah binti Muhammad, ketahuilah apakah telah aku jelaskan kepada kalian nama-namanya agar kalian tidak sesat.” Dan ini adalah sanad yang gharib, dan di dalamnya terdapat kelemahan, kemudian menyebutkannya dari hadits Abu Rafi’ dengan semisalnya, dan dalam sanadnya juga terdapat keanehan.

Hadits lain: Berkata Al-Hakim dan selain satu orang, dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, dari Buraidah bin Al-Hushaib, ia berkata: Aku berperang bersama Ali ke Yaman, lalu aku melihat sikap kasar darinya, maka aku kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku menyebut-nyebut Ali dan merendahkannya, maka aku melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah, lalu beliau bersabda: “Wahai Buraidah, bukankah aku lebih utama bagi orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri?” Maka aku berkata: Benar ya Rasulullah. Maka beliau bersabda: “Barangsiapa aku menjadi pemimpin/pelindungnya maka Ali adalah pemimpin/pelindungnya.”

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami Al-Ajlah Al-Kindi, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya Buraidah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengirim dua pasukan ke Yaman; salah satunya dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib dan yang lain dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid, dan beliau bersabda: “Jika kalian berdua bertemu, maka Ali yang memimpin orang-orang, dan jika kalian berpisah, maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya sendiri.” Ia berkata: Maka kami bertemu dengan Bani Zaid dari penduduk Yaman, lalu kami berperang, dan kaum Muslimin menang atas kaum musyrikin, maka kami membunuh para pejuang mereka dan menawan anak-anak mereka. Lalu Ali memilih seorang wanita dari tawanan untuk dirinya sendiri. Buraidah berkata: Maka Khalid bin Al-Walid menulis surat bersamaku kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, aku menyerahkan surat itu kepadanya, lalu surat itu dibacakan kepadanya, dan aku melihat kemarahan di wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, ini adalah tempat orang yang meminta perlindungan, engkau mengirimku bersama seseorang dan memerintahkanku untuk menaatinya, maka aku sampaikan apa yang engkau tugaskan kepadaku. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jangan mencela Ali; karena sesungguhnya ia dariku dan aku darinya, dan ia adalah wali kalian setelahku.” Lafaz ini munkar (tidak dapat diterima) dan Al-Ajlah adalah seorang Syiah, dan orang sepertinya tidak dapat diterima jika menyendiri dengan lafaz seperti ini, dan telah ada yang mengikutinya dalam hal ini yang lebih lemah darinya. Wallahu a’lam (Allah Yang Maha Mengetahui). Yang mahfuzh (terpelihara/sahih) dalam hal ini adalah riwayat Ahmad, dari Waki’, dari Al-A’masy, dari Sa’d bin Ubaidah, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang aku menjadi walinya maka Ali adalah walinya.” Dan diriwayatkan oleh Ahmad juga dan Al-Hasan bin Arafah, dari Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy dengannya. Dan diriwayatkan oleh An-Nasa’i, dari Abu Kuraib, dari Abu Mu’awiyah dengannya.

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Rauh, dari Ali bin Suwaid bin Manjuf, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus Ali kepada Khalid bin Al-Walid untuk mengambil seperlima harta rampasan. Ia berkata: Lalu ia (Ali) bangun pagi dengan kepalanya yang menetes (basah). Maka Khalid berkata kepada Buraidah: Tidakkah kamu lihat apa yang dilakukan orang ini? Ia berkata: Maka ketika aku kembali kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, aku memberitahukan kepadanya apa yang dilakukan Ali. Ia berkata: Aku pernah membenci Ali, lalu beliau (Rasulullah) bertanya: “Wahai Buraidah, apakah kamu membenci Ali?” Maka aku menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Jangan membencinya dan cintailah dia; karena sesungguhnya bagiannya dalam seperlima harta rampasan lebih dari itu.” Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Ash-Shahih dari Bundar, dari Rauh dengannya secara panjang lebar.

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abdul Jalil, ia berkata: Aku sampai di suatu halaqah (majelis ilmu) yang di dalamnya ada Abu Mijlaz dan Ibnu Buraidah, lalu Abdullah bin Buraidah berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku Buraidah, ia berkata: Aku membenci Ali dengan kebencian yang tidak pernah aku benci kepada siapapun. Ia berkata: Dan aku mencintai seorang laki-laki dari Quraisy yang tidak aku cintai kecuali karena kebenciannya kepada Ali. Ia berkata: Lalu laki-laki itu diutus memimpin pasukan berkuda. Ia berkata: Maka aku menemaninya dan tidak aku temani dia kecuali karena kebenciannya kepada Ali. Ia berkata: Lalu kami mendapat tawanan. Ia berkata: Lalu ia menulis kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Utuslah kepada kami orang yang akan mengambil seperlimanya. Maka beliau mengutus Ali kepada kami. Ia berkata: Dan dalam tawanan itu ada seorang budak wanita yang merupakan yang terbaik dari tawanan, lalu ia (Ali) mengambil seperlima dan membaginya, kemudian keluar dengan kepalanya yang menetes. Maka kami berkata: Wahai Abu Al-Hasan, apa ini? Ia berkata: Tidakkah kalian melihat budak wanita yang ada dalam tawanan itu, sesungguhnya aku telah membagi dan mengambil seperlima, lalu ia masuk dalam seperlima, kemudian masuk dalam keluarga Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian masuk dalam keluarga Ali, maka aku menggaulinya. Ia berkata: Dan laki-laki itu menulis kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu aku berkata: Utuslah aku? Maka beliau mengutusku sebagai pembenar. Ia berkata: Maka aku membaca surat itu dan berkata: Benar. Ia berkata: Lalu beliau memegang tanganku dan surat itu, lalu bersabda: “Apakah kamu membenci Ali?” Ia berkata: Aku berkata: Ya. Beliau bersabda: “Maka jangan membencinya, dan jika kamu mencintainya maka tambahkanlah kecintaan kepadanya, maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, bagian keluarga Ali dalam seperlima harta rampasan lebih baik dari budak wanita.” Ia berkata: Maka tidak ada seorangpun dari manusia setelah perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang lebih aku cintai daripada Ali. Abdullah berkata: Maka demi Dzat yang tidak ada tuhan selain Dia, tidak ada antara aku dan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits ini kecuali ayahku, Buraidah. Hanya Ahmad yang meriwayatkannya secara tersendiri. Dan lebih dari satu orang telah meriwayatkan hadits ini dari Abu Al-Jawwab, dari Yunus bin Abi Ishaq, dari ayahnya, dari Al-Bara’ bin Azib seperti riwayat Buraidah bin Al-Hushaib, dan ini adalah gharib (asing/jarang). Dan telah diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abdullah bin Abi Ziyad, dari Abu Al-Jawwab Al-Ahwas bin Jawwab dengannya. Dan ia berkata: Hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari haditsnya.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman, telah menceritakan kepadaku Yazid Ar-Risyk, dari Mutharrif bin Abdullah, dari Imran bin Hushain, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus sebuah pasukan, dan mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpinnya. Lalu ia melakukan sesuatu dalam perjalanannya, maka empat orang dari sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam berjanji untuk menyebutkan urusannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Imran berkata: Dan kami jika pulang dari perjalanan, kami memulai dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu memberi salam kepadanya. Ia berkata: Maka mereka masuk menemuinya, lalu salah seorang dari mereka berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ali melakukan begini dan begini. Lalu beliau berpaling darinya, kemudian yang kedua berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ali melakukan begini dan begini. Lalu beliau berpaling darinya, kemudian yang ketiga berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ali melakukan begini dan begini. Lalu beliau berpaling darinya, kemudian yang keempat berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ali melakukan begini dan begini. Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menghadap kepada yang keempat dan wajahnya telah berubah, lalu bersabda: “Tinggalkanlah Ali, tinggalkanlah Ali, sesungguhnya Ali dariku dan aku darinya, dan dia adalah wali setiap orang mukmin setelahku.” Dan telah diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, dari Qutaibah, dari Ja’far bin Sulaiman, dan sanad At-Tirmidzi lebih panjang, dan di dalamnya disebutkan bahwa ia (Ali) mendapat seorang budak wanita dari tawanan. Kemudian ia berkata: Hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Ja’far bin Sulaiman. Dan diriwayatkan oleh Abu Ya’la Al-Mushili, dari Ubaidullah bin Umar Al-Qawariri dan Al-Hasan bin Umar bin Syaqiq Al-Jarmi dan Al-Mu’alla bin Mahdi, semuanya dari Ja’far bin Sulaiman dengannya.

Khaitsamah bin Sulaiman berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hazim, telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Musa, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Shuhaib, dari Rukayn, dari Wahab bin Hamzah, ia berkata: Aku bepergian bersama Ali bin Abi Thalib dari Madinah ke Makkah, lalu aku melihat darinya sikap kasar, maka aku berkata: Sungguh jika aku kembali dan bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, aku akan mencelakannya. Ia berkata: Maka aku kembali dan bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu aku menyebutkan Ali dan aku mencelakannya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: “Jangan katakan ini kepada Ali; karena sesungguhnya Ali adalah wali kalian setelahku.”

Abu Dawud At-Thayalisi berkata, dari Abu Awanah, dari Abu Balj, dari Amr bin Maimun, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Ali: “Engkau adalah wali setiap orang mukmin setelahku.” Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman bin Ma’mar bin Hazm, dari Sulaiman bin Muhammad bin Ka’b bin Ujrah, dari bibinya Zainab binti Ka’b – dan ia adalah istri Abu Sa’id Al-Khudri – dari Abu Sa’id, ia berkata: Orang-orang mengadukan Ali, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri di tengah-tengah kami sebagai khatib, lalu aku mendengarnya bersabda: “Wahai manusia, jangan mengadukan Ali, maka demi Allah sesungguhnya ia adalah orang yang paling keras dalam urusan Allah.” Atau “dalam jalan Allah.” Hanya Ahmad yang meriwayatkannya secara tersendiri.

Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abul Husain bin Al-Fadhl Al-Qaththan, telah mengabarkan kepada kami Abu Sahl bin Ziyad Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Isma’il bin Ishaq Al-Qadhi, telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abi Uwais, telah menceritakan kepadaku saudaraku, dari Sulaiman bin Bilal, dari Sa’d bin Ishaq bin Ka’b bin Ujrah, dari bibinya Zainab binti Ka’b bin Ujrah, dari Abu Sa’id, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus Ali bin Abi Thalib ke Yaman. Abu Sa’id berkata: Maka aku termasuk orang yang berangkat bersamanya. Ketika ia mengambil dari unta sedekah, kami memintanya agar kami boleh mengendarainya dan mengistirahatkan unta-unta kami – dan kami telah melihat kerusakan pada unta-unta kami – namun ia menolak kami dan berkata: Sesungguhnya bagi kalian darinya hanya satu bagian seperti kaum Muslimin lainnya. Ia berkata: Maka ketika Ali selesai dan kembali dari Yaman, ia mengangkat seseorang untuk memimpin kami, lalu ia sendiri bergegas agar dapat melaksanakan haji. Ketika ia selesai hajinya, Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Kembalilah kepada sahabat-sahabatmu hingga kamu tiba kepada mereka.” Abu Sa’id berkata: Dan kami telah meminta kepada orang yang ia angkat sebagai penggantinya apa yang Ali larang kepada kami, lalu ia melakukannya. Ketika Ali datang, ia mengenali pada unta-unta sedekah bahwa unta-unta itu telah ditunggangi – ia melihat bekas tunggangan – maka ia mencela orang yang ia angkat dan menyalahkannya. Maka aku berkata: Demi Allah, jika aku tiba di Madinah aku akan menyebutkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan akan mengabarkan kepadanya apa yang kami alami dari sikap keras dan tindakan mempersulit. Ia berkata: Maka ketika kami tiba di Madinah, aku pergi pagi-pagi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan maksud menyebutkan apa yang telah aku sumpahkan. Lalu aku berjumpa Abu Bakar yang keluar dari rumah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika ia melihatku, ia berhenti bersamaku dan menyambutku dengan ramah, dan menanyakan kabarku dan aku menanyakan kabarnya, lalu ia berkata: Kapan kamu tiba? Aku berkata: Aku tiba tadi malam. Lalu ia kembali bersamaku kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian ia masuk dan berkata: Ini adalah Sa’d bin Malik bin Asy-Syahid. Beliau bersabda: “Izinkanlah dia.” Maka aku masuk dan memberi salam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan beliau membalasnya dan memberi salam kepadaku, serta menanyakan tentang diriku dan keluargaku dengan sangat detail. Lalu aku berkata: Wahai Rasulullah, apa yang kami alami dari Ali berupa sikap keras, buruknya persahabatan, dan tindakan mempersulit? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjauh, dan aku terus menghitung apa yang kami alami darinya, hingga ketika aku berada di tengah-tengah ucapanku, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menepuk pahaku, dan aku dekat dengannya, lalu bersabda: “Sa’d bin Malik bin Asy-Syahid, hentikan sebagian perkataanmu tentang saudaramu Ali, maka demi Allah sungguh kami telah mengetahui bahwa ia adalah orang yang paling keras dalam jalan Allah.” Ia berkata: Maka aku berkata dalam diriku: Semoga ibumu kehilangan anaknya wahai Sa’d bin Malik, tidakkah aku sadar bahwa aku berada dalam sesuatu yang tidak disukai sejak hari ini dan aku tidak menyadarinya. Tidak akan pernah, demi Allah, aku tidak akan menyebutnya dengan buruk selamanya baik secara rahasia maupun terang-terangan.

Yunus bin Bukair berkata, dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Aban bin Shalih, dari Abdullah bin Niyar Al-Aslami, dari pamannya Amr bin Syas Al-Aslami – dan ia termasuk dari sahabat Hudaibiyah – ia berkata: Aku bersama Ali dalam pasukannya yang diutus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke Yaman. Lalu Ali bersikap kasar kepadaku dengan beberapa tindakan kasar, maka aku merasa tersinggung kepadanya dalam hatiku. Ketika aku tiba di Madinah, aku mengadukannya di majelis-majelis Madinah dan kepada siapa yang aku jumpai. Lalu aku datang pada suatu hari dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang duduk di masjid. Ketika ia melihatku, aku melihat ke matanya, ia memandangku hingga aku duduk kepadanya. Ketika aku duduk, beliau bersabda: “Sesungguhnya demi Allah wahai Amr, sungguh engkau telah menyakitiku.” Maka aku berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali), aku berlindung kepada Allah dan Islam dari menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lalu beliau bersabda: “Barangsiapa yang menyakiti Ali maka sesungguhnya ia telah menyakitiku.” Dan telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ya’qub, dari ayahnya Ibrahim bin Sa’d, dari Muhammad bin Ishaq, dari Aban bin Shalih, dari Al-Fadhl bin Ma’qil, dari Abdullah bin Niyar, dari pamannya Amr bin Syas, lalu ia menyebutkannya. Demikian juga diriwayatkan oleh lebih dari satu orang dari Muhammad bin Ishaq, dari Aban, dari Al-Fadhl.

Demikian pula diriwayatkan oleh Saif bin Umar dari Abdullah bin Sa’id, dari Aban bin Shalih dengannya, dan lafaznya: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menyakiti seorang Muslim maka sesungguhnya ia telah menyakitiku, dan barangsiapa yang menyakitiku maka sesungguhnya ia telah menyakiti Allah.” Dan diriwayatkan oleh Abbad bin Ya’qub Ar-Rawajini dari Musa bin Umair, dari Aqil bin Najmah bin Hubairah, dari Amr bin Syas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai Amr, sesungguhnya barangsiapa yang menyakiti Ali maka sesungguhnya ia telah menyakitiku.” Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Khidasy, telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Qanan bin Abdullah An-Nahmi, telah menceritakan kepada kami Mush’ab bin Sa’d bin Abi Waqqash, dari ayahnya, ia berkata: Aku sedang duduk di masjid bersama dua orang lain bersamaku, lalu kami mencela Ali. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang dan terlihat kemarahan di wajahnya. Maka aku berlindung kepada Allah dari kemarahannya, lalu beliau bersabda: “Ada apa dengan kalian dan ada apa denganku! Barangsiapa yang menyakiti Ali maka sesungguhnya ia telah menyakitiku.”

Hadits Ghadir Khum: Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad dan Abu Nu’aim, secara makna, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Fithr, dari Abu Ath-Thufail, ia berkata: Ali mengumpulkan orang-orang di Rahbah, kemudian berkata kepada mereka: Aku meminta dengan nama Allah kepada setiap orang Muslim yang mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada hari Ghadir Khum apa yang ia dengar, agar ia berdiri. Maka berdiri tiga puluh orang dari manusia – Abu Nu’aim berkata: Maka berdiri banyak orang – lalu mereka bersaksi ketika beliau memegang tangannya, lalu beliau berkata kepada orang-orang: “Apakah kalian mengetahui bahwa aku lebih utama terhadap orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri?” Mereka berkata: Ya wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Barangsiapa yang aku menjadi walinya maka ini adalah walinya, ya Allah, jadikanlah wali orang yang menjadikannya wali dan musuhilah orang yang memusuhinya.” Ia berkata: Maka aku keluar seolah-olah ada sesuatu dalam hatiku, lalu aku berjumpa Zaid bin Arqam, maka aku berkata kepadanya: Sesungguhnya aku mendengar Ali berkata begini dan begini. Ia berkata: Maka apa yang kamu ingkari? Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan hal itu kepadanya. Dan diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari hadits Habib bin Abi Tsabit, dari Abu Ath-Thufail dari dia (Zaid) lebih lengkap dari itu.

Abu Bakar Asy-Syafi’i berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman bin Al-Harits, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Musa, telah menceritakan kepada kami Abu Isra’il Al-Mala’i, dari Al-Hakam, dari Abu Sulaiman Al-Mu’adzdzin, dari Zaid bin Arqam bahwa Ali meminta orang-orang untuk bersaksi: Siapa yang mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang aku menjadi walinya maka Ali adalah walinya, ya Allah, jadikanlah wali orang yang menjadikannya wali dan musuhilah orang yang memusuhinya”? Maka berdiri enam belas orang laki-laki, lalu mereka bersaksi dengan hal itu, dan aku termasuk di antara mereka.

Abu Ya’la dan Abdullah bin Ahmad dalam Musnad ayahnya meriwayatkan: telah menceritakan kepada kami Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Arqam, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abi Ziyad, dari Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata: Aku menyaksikan Ali di Ar-Rahbah meminta kesaksian orang-orang: Aku meminta kesaksian demi Allah dari siapa yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari Ghadir Khum: “Barangsiapa aku menjadi maulanya (pemimpinnya), maka Ali adalah maulanya (pemimpinnya).” Agar ia berdiri dan bersaksi. Abdurrahman berkata: Maka berdirilah dua belas orang yang ikut dalam Perang Badar, seolah-olah aku melihat salah seorang dari mereka mengenakan celana panjang, lalu mereka berkata: Kami bersaksi bahwa kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari Ghadir Khum: “Bukankah aku lebih utama bagi orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri dan istri-istriku adalah ibu-ibu mereka?” Kami menjawab: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, berilah kasih sayang kepada orang yang memberi kasih sayang kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Kemudian Abdullah bin Ahmad meriwayatkannya dari Ahmad bin Umar Al-Waki’i, dari Zaid bin Al-Hubab, dari Al-Walid bin Uqbah bin Nizar, dari Simak bin Ubaid bin Al-Walid Al-Ansi, dari Abdurrahman bin Abi Laila, lalu ia menyebutkannya. Ia berkata: Maka berdirilah dua belas orang laki-laki dan mereka berkata: Sesungguhnya kami telah melihat dan mendengarnya ketika beliau memegang tangannya sambil bersabda: “Ya Allah, berilah kasih sayang kepada orang yang memberi kasih sayang kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya dan hinalah orang yang menghinakannya.” Demikian pula diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thahawi, namanya adalah Isa bin Muslim, dari Amr bin Abdullah bin Hind Al-Jamali dan Abdul A’la bin Amir Ath-Tsa’labi, keduanya dari Abdurrahman bin Abi Laila, lalu ia menyebutkannya dengan yang serupa. Ad-Daraquthni berkata: Gharib (asing), Abu Dawud Ath-Thahawi menyendiri meriwayatkannya dari keduanya.

Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim bin Abdullah bin Kaisan Al-Madani pada tahun dua ratus sembilan puluh, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Amr Al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Mis’ar, dari Thalhah bin Musharrif, dari Umairah bin Sa’d, ia berkata: Aku menyaksikan Ali di atas mimbar meminta kesaksian para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Siapa yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Ghadir Khum bersabda apa yang beliau sabdakan? Maka berdirilah dua belas orang laki-laki, di antaranya adalah Abu Hurairah, Abu Sa’id, dan Anas bin Malik, lalu mereka bersaksi bahwa mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, berilah kasih sayang kepada orang yang memberi kasih sayang kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Abu Al-Abbas bin Uqdah Al-Hafizh Asy-Syi’i meriwayatkannya dari Al-Hasan bin Ali bin Affan Al-Amiri, dari Ubaidullah bin Musa, dari Fithir, dari Abu Ishaq, dari Amr Dzi Murr dan Sa’id bin Wahb serta dari Zaid bin Yutsi’, mereka berkata: Kami mendengar Ali berkata di Ar-Rahbah. Lalu ia menyebutkan yang serupa dengannya. Maka berdirilah tiga belas orang laki-laki, lalu mereka bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, berilah kasih sayang kepada orang yang memberi kasih sayang kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya, cintailah orang yang mencintainya dan bencilah orang yang membencinya, tolonglah orang yang menolongnya dan hinalah orang yang menghinakannya.” Abu Ishaq berkata ketika selesai dari hadits ini: Wahai Abu Bakar, para syekh yang bagaimana mereka itu! Demikian pula diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad, dari Ali bin Hakim Al-Audi, dari Syarik, dari Abu Ishaq, lalu ia menyebutkan yang serupa dengannya.

Abdurrazzaq berkata, dari Isra’il, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Wahb dan Abdu Khair, keduanya berkata: Kami mendengar Ali di Rahbah Kufah berkata: Aku meminta kesaksian demi Allah dari siapa yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya.” Maka berdirilah beberapa orang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka bersaksi bahwa mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan demikian.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaq, aku mendengar Sa’id bin Wahb berkata: Ali meminta kesaksian orang-orang, maka berdirilah lima atau enam orang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya.”

Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam, telah menceritakan kepada kami Hanasy bin Al-Harits bin Luqaith Al-Asyja’i, dari Riyah bin Al-Harits, ia berkata: Datang sekelompok orang kepada Ali di Ar-Rahbah lalu mereka berkata: Assalamu’alaikum wahai pemimpin kami. Maka ia berkata: Bagaimana aku menjadi pemimpin kalian sedangkan kalian adalah kaum Arab? Mereka berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Ghadir Khum bersabda: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka ini adalah maulanya.” Riyah berkata: Ketika mereka pergi, aku mengikuti mereka lalu bertanya: Siapa mereka ini? Dikatakan: Beberapa orang dari kaum Anshar, di antara mereka ada Abu Ayyub Al-Anshari.

Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata: telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Hanasy, dari Riyah bin Al-Harits, ia berkata: Ketika kami sedang duduk di Ar-Rahbah bersama Ali, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang tampak bekas perjalanan lalu berkata: Assalamu’alaikum wahai pemimpinku. Maka ia berkata: Siapa ini? Lalu ia berkata: Abu Ayyub, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya.”

Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi’ yaitu Ibnu Abi Shalih Al-Aslami, telah menceritakan kepadaku Ziyad bin Abi Ziyad Al-Aslami, aku mendengar Ali bin Abi Thalib meminta kesaksian orang-orang lalu berkata: Aku meminta kesaksian demi Allah seorang laki-laki muslim yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari Ghadir Khum apa yang beliau sabdakan. Maka berdirilah dua belas orang yang ikut Perang Badar lalu mereka bersaksi.

Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik, dari Abu Abdurrahman Al-Kindi, dari Zadzan Abu Umar, ia berkata: Aku mendengar Ali di Ar-Rahbah sedang meminta kesaksian orang-orang: Siapa yang menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Ghadir Khum dan beliau bersabda apa yang beliau sabdakan? Maka berdirilah tiga belas orang laki-laki, lalu mereka bersaksi bahwa mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya.”

Abdullah bin Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Asy-Sya’ir, telah menceritakan kepada kami Syababah, telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hakim, telah menceritakan kepadaku Abu Maryam dan seorang laki-laki dari orang-orang yang duduk bersama Ali, dari Ali, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari Ghadir Khum: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya.” Ia berkata: Maka orang-orang menambahkan setelahnya: “Ya Allah, berilah kasih sayang kepada orang yang memberi kasih sayang kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya.” Sungguh ini telah diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Ali radhiyallahu ‘anhu, dan ia memiliki berbagai jalur dari Zaid bin Arqam.

Ghundar berkata, dari Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, aku mendengar Abu Ath-Thufail menceritakan dari Abu Suraihah atau Zaid bin Arqam – Syu’bah yang ragu – ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya.” Sa’id bin Jubair berkata: Dan aku juga telah mendengarnya sebelum ini dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Bundar, dari Ghundar, dan ia berkata: Hasan gharib.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah, dari Al-Mughirah, dari Abu Ubaid, dari Maimun Abu Abdullah, ia berkata: Zaid bin Arqam berkata dan aku mendengar: Kami singgah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di sebuah lembah yang disebut Wadi Khum. Maka beliau memerintahkan shalat lalu mengerjakannya pada siang bolong. Ia berkata: Lalu beliau berkhutbah kepada kami dan diberi naungan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kain di atas pohon samur dari sinar matahari, lalu beliau bersabda: “Tidakkah kalian mengetahui – atau: Tidakkah kalian bersaksi – bahwa aku lebih utama bagi setiap orang beriman daripada dirinya sendiri?” Mereka berkata: Benar. Beliau bersabda: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka sesungguhnya Ali adalah maulanya. Ya Allah, musuhilah orang yang memusuhinya dan berilah kasih sayang kepada orang yang memberi kasih sayang kepadanya.” Demikian pula Ahmad meriwayatkannya dari Ghundar, dari Syu’bah, dari Maimun Abu Abdullah, dari Zaid bin Arqam. Sungguh ini telah diriwayatkan dari Zaid bin Arqam oleh beberapa orang, di antaranya: Abu Ishaq As-Sabi’i, Habib Al-Iskaf, Athiyyah Al-Aufi, Abu Abdullah Asy-Syami, dan Abu Ath-Thufail Amir bin Watsilah.

Ma’ruf bin Kharrabudz meriwayatkannya dari Abu Ath-Thufail, dari Hudzaifah bin Usaid, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang dari Haji Wada’, beliau melarang para sahabatnya dari beberapa pohon di Bathha yang berdekatan agar mereka tidak turun di sekelilingnya, kemudian beliau mengirim utusan ke sana lalu shalat di bawahnya, kemudian beliau berdiri dan bersabda: “Wahai manusia, telah memberitahuku Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui bahwa tidak ada seorang nabi pun yang berumur kecuali separuh umur nabi yang sebelumnya, dan sesungguhnya aku sungguh mengira bahwa aku akan segera dipanggil lalu aku memenuhinya, dan sesungguhnya aku akan dimintai pertanggungjawaban dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban, maka apa yang akan kalian katakan?” Mereka berkata: Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, memberi nasihat, dan bersungguh-sungguh, maka semoga Allah memberimu balasan kebaikan. Beliau bersabda: “Tidakkah kalian bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, dan bahwa surga-Nya benar, dan bahwa neraka-Nya benar, dan bahwa kematian itu benar, dan bahwa kebangkitan setelah kematian itu benar, dan bahwa Hari Kiamat pasti datang tidak ada keraguan padanya, dan bahwa Allah membangkitkan orang-orang yang ada di dalam kubur?” Mereka berkata: Benar, kami bersaksi akan hal itu. Beliau bersabda: “Ya Allah, saksikanlah.” Kemudian beliau bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah adalah pemimpinku dan aku adalah pemimpin orang-orang beriman, dan aku lebih utama bagi mereka daripada diri mereka sendiri, barangsiapa aku menjadi maulanya maka ini adalah maulanya. Ya Allah, berilah kasih sayang kepada orang yang memberi kasih sayang kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya.” Kemudian beliau bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya aku mendahului kalian dan sesungguhnya kalian akan tiba di telaga, telaga yang lebih luas dari antara Bushra dan Shan’a, di dalamnya terdapat bejana sebanyak bintang-bintang, cawan-cawan dari perak, dan sesungguhnya aku akan bertanya kepada kalian ketika kalian tiba padaku tentang dua perkara berat (tsaqalain), maka perhatikanlah bagaimana kalian menggantikanku pada keduanya; perkara berat yang lebih besar adalah Kitabullah (Al-Quran), sebuah tali yang ujungnya di tangan Allah ‘azza wa jalla dan ujungnya di tangan kalian, maka berpegang teguhlah dengannya agar kalian tidak sesat dan tidak berubah, dan keturunanku ahlul baitku; karena sesungguhnya telah memberitahuku Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui bahwa keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya tiba padaku di telaga.” Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir secara lengkap melalui jalur Ma’ruf sebagaimana kami sebutkan.

Abdurrazzaq berkata: telah mengabarkan kepada kami Ma’mar, dari Ali bin Zaid bin Jud’an, dari Adi bin Tsabit, dari Al-Bara’ bin Azib, ia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga kami singgah di Ghadir Khum, lalu beliau mengirim penyeru untuk memanggil, maka ketika kami berkumpul, beliau bersabda: “Bukankah aku lebih utama bagi kalian daripada diri kalian sendiri?” Kami berkata: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Bukankah aku lebih utama bagi kalian daripada ibu-ibu kalian?” Kami berkata: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Bukankah aku lebih utama bagi kalian daripada bapak-bapak kalian?” Kami berkata: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Bukankah, bukankah, bukankah?” Kami berkata: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, berilah kasih sayang kepada orang yang memberi kasih sayang kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya.” Maka Umar bin Al-Khaththab berkata: Selamat untukmu wahai putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpin setiap orang beriman pada hari ini. Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid bin Jud’an. Abu Ya’la meriwayatkannya dari Hadbah bin Khalid dan Ibrahim bin Al-Hajjaj As-Sami, dari Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid dan Abu Harun Al-Abdi, dari Adi bin Tsabit, dari Al-Bara’ dengannya. Demikian pula diriwayatkan oleh Musa bin Utsman Al-Hadhrami dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’ dengannya.

Sungguh hadits ini telah diriwayatkan dari Sa’d, Thalhah bin Ubaidillah, Jabir bin Abdullah dan ia memiliki berbagai jalur darinya, Abu Sa’id Al-Khudri, Hubsyi bin Junadah, Jarir bin Abdullah, Umar bin Al-Khaththab, Abu Hurairah dan ia memiliki berbagai jalur darinya, di antaranya – dan ini adalah yang paling aneh – jalur yang disebutkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar Al-Khatib Al-Baghdadi: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ali bin Muhammad bin Bisyran, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Umar Al-Hafizh, telah mengabarkan kepada kami Abu Nashr Habsyun bin Musa bin Ayyub Al-Khallal, telah menceritakan kepada kami Ali bin Sa’id Ar-Ramli, telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah Al-Qurasyi, dari Ibnu Syawdzab, dari Mathar Al-Waraq, dari Syahr bin Hausyab, dari Abu Hurairah, ia berkata: Barangsiapa berpuasa pada hari tanggal delapan belas bulan Dzulhijjah, dituliskan baginya puasa enam puluh bulan, dan itu adalah hari Ghadir Khum ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tangan Ali bin Abi Thalib lalu bersabda: “Bukankah aku adalah pemimpin orang-orang beriman?” Mereka berkata: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Barangsiapa aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya.” Maka Umar bin Al-Khaththab berkata: Selamat selamat untukmu wahai putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap muslim. Maka Allah ‘azza wa jalla menurunkan “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu” (Surat Al-Maidah: 3). Dan barangsiapa berpuasa pada hari tanggal dua puluh tujuh bulan Rajab, dituliskan baginya puasa enam puluh bulan, dan itu adalah hari pertama Jibril turun dengan risalah. Al-Khatib berkata: Hadits ini terkenal dengan riwayat Habsyun, dan dikatakan bahwa ia menyendiri dengannya, dan sungguh Ahmad bin Abdullah bin Al-Abbas bin Salim bin Mihran yang dikenal dengan Ibnun Nairi telah mengikutinya, dari Ali bin Sa’id Asy-Syami. Aku (penulis) berkata: Dan di dalamnya terdapat keanehan dari beberapa segi, di antaranya perkataannya: Turun padanya ayat “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu” – dan sungguh yang serupa dengannya telah diriwayatkan melalui jalur Abu Harun Al-Abdi, dari Abu Sa’id Al-Khudri dan tidak shahih juga – sedangkan sesungguhnya itu turun pada hari Arafah, sebagaimana telah tetap dalam Shahihain dari Umar bin Al-Khaththab dan telah disebutkan sebelumnya. Sungguh diriwayatkan dari beberapa kelompok sahabat selain yang kami sebutkan tentang sabda beliau ‘alaihish-shalatu was-salam “Barangsiapa aku menjadi maulanya” dan sanad-sanad kepada mereka adalah lemah.

Hadits Burung

Hadits ini telah dikategorikan oleh para ulama dengan berbagai jalur periwayatan yang banyak, dan setiap jalur memiliki kelemahan tersendiri. Kami akan menunjukkan sebagian dari hal tersebut.

Imam Tirmidzi berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Waki’, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Musa, dari Isa bin Umar, dari Suddi, dari Anas dia berkata: Ada seekor burung di sisi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau berdoa: “Ya Allah, datangkanlah kepadaku makhluk-Mu yang paling Engkau cintai untuk makan bersamaku burung ini.” Maka datanglah Ali lalu makan bersamanya. Kemudian Tirmidzi berkata: Hadits gharib (asing), kami tidak mengenalnya dari hadits Suddi kecuali dari jalur ini. Ia berkata: Dan telah diriwayatkan dari beberapa jalur dari Anas. Dan telah diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Hasan bin Hammad, dari Mushar bin Abdul Malik, dari Isa bin Umar dengan sanad yang sama.

Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Qathan bin Basyir, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman ad-Dhuba’i, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Anas, dari Anas bin Malik dia berkata: Dihadiahkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seekor burung hajal panggang dengan roti dan bumbu-bumbunya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, datangkanlah kepadaku makhluk-Mu yang paling Engkau cintai untuk makan bersamaku dari makanan ini.” Maka Aisyah berkata: Ya Allah jadikanlah dia ayahku. Dan Hafshah berkata: Ya Allah jadikanlah dia ayahku. Dan Anas berkata: Dan aku berkata: Ya Allah jadikanlah dia Sa’d bin Ubadah. Anas berkata: Maka aku mendengar suara di pintu, lalu aku keluar, ternyata Ali. Aku berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang ada keperluan. Maka dia pergi, kemudian aku mendengar suara di pintu, lalu aku keluar ternyata Ali di pintu. Aku berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang ada keperluan. Maka dia pergi, kemudian aku mendengar suara di pintu, lalu Ali memberi salam, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendengar suaranya, maka beliau bersabda: “Lihatlah siapa ini?” Aku keluar ternyata dia Ali, lalu aku datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mengabarkannya, maka beliau bersabda: “Izinkan dia.” Maka Ali masuk. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah dan kepadaku, Ya Allah dan kepadaku.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Hakim dalam Mustadrak-nya, dari Abu Ali al-Hafizh, dari Muhammad bin Ahmad ash-Shaffar dan Humaid bin Yunus az-Zayyat, keduanya dari Muhammad bin Ahmad bin Iyadh, dari Abu Ghassan Ahmad bin Iyadh bin Abi Thaibah, dari Yahya bin Hassan, dari Sulaiman bin Bilal, dari Yahya bin Sa’id, dari Anas, lalu dia menyebutkannya. Ini adalah sanad yang gharib (asing). Kemudian Hakim berkata: Hadits ini sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim. Hal ini perlu dikaji, karena Abu Alatsah Muhammad bin Ahmad bin Iyadh ini tidak dikenal. Namun hadits ini diriwayatkan darinya oleh sekelompok orang dari ayahnya, dan di antara yang meriwayatkannya darinya adalah Abu al-Qasim ath-Thabarani, kemudian dia berkata: Hanya dia yang meriwayatkannya dari ayahnya. Wallahu a’lam. Hakim berkata: Dan telah diriwayatkan dari Anas oleh lebih dari tiga puluh orang. Syaikh kami al-Hafizh al-Kabir Abu Abdullah adz-Dzahabi berkata: Hubungkanlah mereka dengan perawi tsiqah (terpercaya) agar sanadnya shahih. Kemudian Hakim berkata: Dan shahih periwayatannya dari Ali, Abu Sa’id, dan Safinah. Syaikh kami Abu Abdullah berkata: Tidak demi Allah, tidak ada yang shahih dari semua itu. Kemudian Hakim meriwayatkannya dari jalur Ibrahim bin Tsabit al-Qashshar – dia majhul (tidak dikenal) – dari Tsabit al-Bunani, dari Anas dia berkata: Masuk Muhammad bin Hajjaj, lalu dia mulai mencaci Ali. Maka Anas berkata: Diamlah dari mencaci Ali. Lalu dia menyebutkan hadits dengan panjang, dan ini munkar (mungkar) sanad dan matannya. Kemudian Hakim tidak menyebutkan dalam Mustadrak-nya kecuali kedua hadits ini. Dan telah meriwayatkannya Ibnu Abi Hatim dari Ammar bin Khalid al-Wasithi, dari Ishaq al-Azraq, dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman, dari Anas. Dan ini lebih baik dari sanad Hakim. Dan diriwayatkan oleh Abdullah bin Ziyad Abu al-Ala, dari Ali bin Zaid, dari Sa’id bin al-Musayyab dari Anas bin Malik dia berkata: Dihadiahkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seekor burung panggang lalu beliau bersabda: “Ya Allah, datangkanlah kepadaku makhluk-Mu yang paling Engkau cintai untuk makan bersamaku dari burung ini.” Lalu dia menyebutkan yang serupa. Dan diriwayatkan oleh Muhammad bin Mushaffa, dari Hafsh bin Umar, dari Musa bin Mas’ud, dari Hasan, dari Anas lalu menyebutkannya. Dan diriwayatkan oleh Ali bin Hasan asy-Syami, dari Khulaid bin Da’laj, dari Qatadah, dari Anas dengan yang serupa. Dan diriwayatkan oleh Ahmad bin Yazid al-Wartanisi dari Zuhair, dari Utsman ath-Thawil, dari Anas, lalu menyebutkannya. Dan diriwayatkan oleh Ubaidullah bin Musa, dari Sukayn bin Abdul Aziz, dari Maimun Abu Khalaf, telah menceritakan kepadaku Anas bin Malik, lalu menyebutkannya. Ad-Daraquthni berkata: Ini adalah hadits gharib dari hadits Maimun Abu Khalaf, hanya Sukayn bin Abdul Aziz yang menyendiri meriwayatkannya. Dan diriwayatkan oleh Hajjaj bin Yusuf bin Qutaibah, dari Bisyr bin Husain, dari Zubair bin Adi, dari Anas. Dan diriwayatkan oleh Abu Ya’qub Ishaq bin Faidh, telah menceritakan kepada kami Midha’ bin Jarud, dari Abdul Aziz bin Ziyad, bahwa Hajjaj bin Yusuf memanggil Anas bin Malik dari Bashrah lalu bertanya kepadanya tentang Ali bin Abi Thalib, maka dia berkata: Dihadiahkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam seekor burung, lalu beliau memerintahkan untuk dimasak dan dibuat, maka beliau bersabda: “Ya Allah, datangkanlah kepadaku makhluk yang paling dicintai olehku untuk makan bersamaku.” Lalu dia menyebutkannya.

Al-Khatib al-Baghdadi berkata: Telah mengabarkan kepada kami Hasan bin Abi Bakr, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Abbas bin Nujaih, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Qasim an-Nahwi Abu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, dari Abu al-Hindi, dari Anas, lalu menyebutkannya. Dan diriwayatkan oleh Hakam bin Muhammad, dari Muhammad bin Sulaim, dari Anas bin Malik, lalu menyebutkannya.

Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Hammad al-Warraq, telah menceritakan kepada kami Mushar bin Abdul Malik bin Sal’i – tsiqah (terpercaya) – telah menceritakan kepada kami Isa bin Umar, dari Isma’il as-Suddi, dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memiliki seekor burung lalu beliau bersabda: “Ya Allah, datangkanlah kepadaku makhluk-Mu yang paling Engkau cintai untuk makan bersamaku dari burung ini.” Maka datanglah Abu Bakar lalu beliau menolaknya, kemudian datang Umar lalu beliau menolaknya, kemudian datang Utsman lalu beliau menolaknya, kemudian datang Ali maka beliau mengizinkannya. Dan Abu al-Abbas bin Uqdah berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Hasan, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Adi, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Mukhtar al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Umair, dari Anas bin Malik, dia berkata: Dihadiahkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seekor burung, lalu diletakkan di hadapan beliau maka beliau bersabda: “Ya Allah, datangkanlah kepadaku makhluk-Mu yang paling Engkau cintai untuk makan bersamaku.” Dia berkata: Maka datanglah Ali lalu mengetuk pintu, aku berkata: Siapa itu? Maka dia berkata: Aku Ali. Aku berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang ada keperluan. Sampai dia melakukan itu tiga kali, lalu dia datang yang keempat kalinya maka memukul pintu dengan kakinya lalu masuk, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Apa yang menahanmu?” Maka dia berkata: Aku sudah datang tiga kali namun Anas menahanku. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Apa yang mendorongmu melakukan itu?” Dia berkata: Aku berkata: Aku ingin dia adalah seorang laki-laki dari kaumku. Dan telah meriwayatkannya Hakim an-Naisaburi dari Abdan bin Yazid, dari Ya’qub ad-Daqqaq, dari Ibrahim bin Husain al-Kasa’i, dari Abu Taubah ar-Rabi’ bin Nafi’, dari Husain bin Sulaiman bin Abdul Malik bin Umair, dari Anas, lalu menyebutkannya. Kemudian Hakim berkata: Kami tidak menulisnya kecuali dengan sanad ini. Dan Ibnu Asakir menyebutkannya dari hadits Harits bin Nabhan, dari Isma’il – seorang laki-laki dari penduduk Kufah – dari Anas bin Malik, lalu menyebutkannya. Dan dari hadits Hafsh bin Umar al-Mihraqani, dari Najm bin Basyir, dari Isma’il bin Sulaiman saudara Ishaq bin Sulaiman ar-Razi, dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman, dari Atha’, dari Anas, lalu menyebutkannya. Dan dari hadits Sulaiman bin Qarm, dari Muhammad bin Ali as-Salmi, dari Abu Hudzaifah al-Aqili, dari Anas, lalu menyebutkannya.

Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Hisyam, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, telah menceritakan kepada kami Muslim al-Mala’i, dari Anas dia berkata: Ummu Aiman menghadiahkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seekor burung panggang, maka beliau bersabda: “Ya Allah, datangkanlah kepadaku orang yang Engkau cintai untuk makan bersamaku dari burung ini.” Anas berkata: Maka datanglah Ali lalu meminta izin, aku berkata: Dia sedang ada keperluan. Maka dia kembali, kemudian datang lagi dan meminta izin, aku berkata: Dia sedang ada keperluan. Maka dia kembali, kemudian datang lagi dan meminta izin, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendengar suaranya, maka beliau bersabda: “Izinkan dia.” Maka dia masuk dan burung itu diletakkan di hadapan beliau, lalu dia makan darinya dan memuji Allah.

Ini adalah jalur-jalur yang banyak dari Anas bin Malik, setiap jalur memiliki kelemahan dan kritikan. Syaikh kami Abu Abdullah adz-Dzahabi berkata dalam sebuah juz’ yang dia susun tentang hadits ini setelah menyebutkan jalur-jalur yang banyak seperti yang kami sebutkan: Dan diriwayatkan hadits ini dari jalur-jalur yang batil atau gelap dari Hajjaj bin Yusuf, Abu Ashim Khalid bin Ubaid, Dinar Abu Mukais, Ziyad bin Muhammad ats-Tsaqafi, Ziyad al-Absi, Ziyad bin Mundzir, Sa’d bin Maisarah al-Bakri, Sulaiman at-Taimi, Sulaiman bin Ali al-Amir, Salamah bin Wardan, Shabbah bin Muharib, Thalhah bin Musharrif, Abu az-Zanad, Abdul A’la bin Amir, Umar bin Rasyid, Umar bin Abi Hafsh ats-Tsaqafi adh-Dharir, Umar bin Sulaim al-Bajali, Umar bin Yahya ats-Tsaqafi, Utsman ath-Thawil, Ali bin Abi Rafi’, Isa bin Thahman, Athiyyah al-Aufi, Abbad bin Abdush Shamad, Ammar ad-Dahni, Abbas bin Ali, Fudhail bin Ghazwan, Qasim bin Habib, Kaltsum bin Jabr, Muhammad bin Ali al-Baqir, az-Zuhri, Muhammad bin Amr bin Alqamah, Muhammad bin Malik ats-Tsaqafi, Muhammad bin Juhadah, Maimun bin Mihran, Musa ath-Thawil, Maimun bin Jabir as-Salami, Manshur bin Abdul Hamid, Mu’alla bin Anas, Maimun Abu Khalaf al-Harrani, dan dikatakan: Abu Khalid. Dan Mathar Abu Khalid, Mu’awiyah bin Abdullah bin Ja’far, Musa bin Abdullah al-Jahani, Nafi’ maula Ibnu Umar, Nadhr bin Anas bin Malik, Yusuf bin Ibrahim, Yunus bin Khabbab, Yazid bin Sufyan, Yazid bin Abi Habib, Abu al-Mulaih, Abu al-Hakam, Abu Dawud as-Sabii, Abu Hamzah al-Wasithi, Abu Hudzaifah al-Aqili dan Ibrahim bin Hadbah. Kemudian dia berkata setelah menyebutkan semuanya: Jumlahnya sembilan puluh beberapa orang, yang paling dekat adalah gharib-gharib yang lemah, dan yang paling buruk adalah jalur-jalur yang berbeda-beda dan palsu, dan sebagian besarnya adalah jalur-jalur yang sangat lemah.

Dan telah diriwayatkan dari hadits Safinah maula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka Abu al-Qasim al-Baghawi dan Abu Ya’la al-Maushili berkata: Telah menceritakan kepada kami Qawariri, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Arqam, telah menceritakan kepada kami Mathir bin Abi Khalid, dari Tsabit al-Bajali, dari Safinah maula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dia berkata: Seorang wanita dari kaum Anshar menghadiahkan dua ekor burung di antara dua roti kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan tidak ada di rumah kecuali aku dan Anas. Maka datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu meminta sarapannya, aku berkata: Ya Rasulullah, telah menghadiahkan kepadamu seorang wanita dari kaum Anshar sebuah hadiah. Maka aku hidangkan kedua burung itu kepadanya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, datangkanlah kepadaku makhluk-Mu yang paling Engkau cintai dan kepada Rasul-Mu.” Maka datanglah Ali bin Abi Thalib lalu mengetuk pintu dengan pelan, aku berkata: Siapa ini? Dia berkata: Abu al-Hasan. Kemudian dia mengetuk pintu dan mengangkat suaranya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Siapa ini?” Aku berkata: Ali bin Abi Thalib. Beliau berkata: “Bukakan untuknya.” Maka aku bukakan untuknya, lalu dia makan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari kedua burung tersebut sampai habis.

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas, maka Abu Muhammad Yahya bin Muhammad bin Sha’id berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’id al-Jauhari, telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Qarm, dari Muhammad bin Syu’aib, dari Dawud bin Ali bin Abdullah bin Abbas dari ayahnya, dari kakeknya Ibnu Abbas dia berkata: Didatangkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam seekor burung maka beliau bersabda: “Ya Allah, datangkanlah kepadaku seorang laki-laki yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.” Maka datanglah Ali, lalu beliau bersabda: “Ya Allah dan kepadaku.”

Dan diriwayatkan dari Ali sendiri, maka Abbad bin Ya’qub berkata: Telah menceritakan kepada kami Isa bin Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Ali, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ali dia berkata: Dihadiahkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seekor burung yang disebut hubara lalu diletakkan di hadapan beliau, dan Anas bin Malik menghijabnya (menjaga pintunya), maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengangkat tangannya kepada Allah lalu bersabda: “Ya Allah, datangkanlah kepadaku makhluk-Mu yang paling Engkau cintai untuk makan bersamaku burung ini.” Dia berkata: Maka datanglah Ali lalu meminta izin, maka Anas berkata kepadanya: Sesungguhnya Rasulullah – maksudnya – sedang ada keperluan. Maka dia kembali, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengulangi doanya, lalu dia kembali kemudian berdoa yang ketiga kalinya, maka datanglah Ali lalu dia masukkan. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihatnya beliau bersabda: “Ya Allah dan kepadaku.” Maka dia makan bersama beliau. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam makan dan Ali keluar, Anas berkata: Aku mengikuti Ali lalu aku berkata: Wahai Abu al-Hasan, mintalah ampun untukku karena sesungguhnya aku memiliki dosa kepadamu, dan sesungguhnya di sisiku ada kabar gembira. Lalu aku mengabarkannya dengan apa yang terjadi dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka dia memuji Allah dan memintakan ampun untukku, dan ridha kepadaku; kabar gembiraku kepadanya menghilangkan dosaku di sisinya. Dan dari hadits Jabir bin Abdullah al-Anshari, disebutkan oleh Ibnu Asakir dari jalur Abdullah bin Shalih penulis al-Laits, dari Ibnu Lahi’ah, dari Muhammad bin Munkadir, dari Jabir, lalu menyebutkannya dengan panjang. Dan telah diriwayatkan juga dari hadits Abu Sa’id al-Khudri dan dishahihkan oleh Hakim, tetapi sanadnya gelap dan di dalamnya ada perawi-perawi yang lemah. Dan diriwayatkan dari hadits Hubsyi bin Junadah, dan tidak shahih juga, dan dari hadits Ya’la bin Murrah, dan sanad kepadanya gelap, dan dari hadits Abu Rafi’ yang serupa dan tidak shahih bahkan jalurnya gelap.

Dan para ulama telah menyusun kitab-kitab tersendiri tentang hadits ini, di antaranya: Abu Bakr bin Mardawaih, dan al-Hafizh Abu Thahir Muhammad bin Ahmad bin Hamdan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh syaikh kami Abu Abdullah adz-Dzahabi. Dan aku melihat di dalamnya satu jilid dalam mengumpulkan jalur-jalurnya dan lafazh-lafazhnya oleh Abu Ja’far bin Jarir ath-Thabari penafsir pemilik kitab at-Tarikh, kemudian aku menemukan satu jilid besar dalam membantah dan melemahkannya sanad dan matannya oleh al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani ahli kalam. Dan kesimpulannya, dalam hati ada keraguan tentang keshahihan hadits ini, meskipun jalur-jalurnya banyak, wallahu a’lam.

Hadits lain tentang keutamaan Ali, semoga Allah meridhainya: Abu Bakar asy-Syafi’i berkata: Bisyr bin Musa al-Asadi menceritakan kepada kami, Zakariya bin Adi menceritakan kepada kami, Ubaidullah bin Amr menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Aku keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menemui seorang wanita Anshar di kebun kurmanya yang bernama al-Aswaf. Wanita itu membentangkan alas untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di bawah pohon-pohon kurmanya yang diperciki air. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sekarang akan datang kepada kalian seorang laki-laki dari penduduk surga.” Maka datanglah Abu Bakar. Kemudian beliau bersabda lagi: “Sekarang akan datang kepada kalian seorang laki-laki dari penduduk surga.” Maka datanglah Umar. Kemudian beliau bersabda: “Sekarang akan datang kepada kalian seorang laki-laki dari penduduk surga.” Jabir berkata: Sungguh aku melihat beliau menundukkan kepalanya di bawah pohon kurma itu, kemudian berdoa: “Ya Allah, jika Engkau menghendaki, jadikanlah dia Ali.” Maka datanglah Ali. Kemudian wanita Anshar itu menyembelih seekor kambing untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memasaknya, lalu beliau makan dan kami pun makan. Ketika waktu Zhuhur tiba, beliau berdiri untuk shalat dan kami pun shalat, beliau tidak berwudhu dan kami pun tidak berwudhu. Ketika waktu Ashar tiba, beliau shalat, dan beliau tidak berwudhu dan kami pun tidak berwudhu.

Hadits lain: Abu Ya’la berkata: Hasan bin Hammad al-Kufi menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Ghaniyyah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari asy-Syaibani, dari Jami’ bin Umair, ia berkata: Aku masuk bersama ibuku menemui Aisyah, lalu ibuku bertanya kepadanya tentang Ali. Ia berkata: Aku tidak melihat seorang laki-laki yang lebih dicintai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam daripada dia, dan tidak ada wanita yang lebih dicintai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam daripada istrinya (Fathimah). Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa orang dari kalangan Syiah dari Jami’ bin Umair.

Hadits lain: Imam Ahmad berkata: Yahya bin Abi Bukair menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Abu Abdullah al-Jadali, ia berkata: Aku menemui Ummu Salamah, lalu ia berkata kepadaku: Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dicaci di tengah-tengah kalian? Aku menjawab: Aku berlindung kepada Allah, atau subhanallah, atau kata-kata yang semakna. Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mencaci Ali maka sungguh ia telah mencaciku.”

Abu Ya’la meriwayatkannya dari Abu Khaitsamah, dari Ubaidullah bin Musa, dari Isa bin Abdurrahman al-Bajali—dari Bajalah dari Sulaim—dari as-Suddi, dari Abu Abdullah al-Jadali, ia berkata: Ummu Salamah berkata: Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dicaci di tengah-tengah kalian di atas mimbar? Aku berkata: Dari mana itu? Ia berkata: Bukankah Ali dan orang-orang yang mencintainya dicaci? Aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mencintainya. Hadits ini diriwayatkan dari jalur lain dari Ummu Salamah.

Diriwayatkan dari haditsnya dan hadits Jabir serta Abu Said, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ali: “Berdusta orang yang mengaku mencintaiku namun membencimu.” Namun semua sanadnya lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah.

Hadits lain: Abdurrazzaq berkata: ats-Tsauri memberitahu kami, dari al-A’masy, dari Adi bin Tsabit, dari Zirr bin Hubaisy, ia berkata: Aku mendengar Ali berkata: Demi Dzat yang membelah biji dan menciptakan jiwa, sungguh ini adalah janji Nabi shallallahu alaihi wasallam kepadaku: “Tidaklah mencintaimu kecuali orang mukmin dan tidaklah membencimu kecuali orang munafik.” Ahmad meriwayatkannya dari Ibnu Numair dan Waki’, dari al-A’masy. Demikian pula diriwayatkan oleh Abu Mu’awiyah, Muhammad bin Fudhail, Abdullah bin Daud al-Khuraibi, Ubaidullah bin Musa, Muhadhir bin al-Muwarra’, dan Yahya bin Isa ar-Ramli, dari al-A’masy. Muslim mengeluarkannya dalam Shahihnya dari Waki’ dan Abu Mu’awiyah, dari al-A’masy. Hassan bin Hassan meriwayatkannya dari Syu’bah, dari Adi bin Tsabit, dari Zirr, dari Ali, lalu menyebutkannya. Hadits ini diriwayatkan dari berbagai jalur dari Ali, dan yang kami sebutkan inilah yang shahih. Wallahu a’lam.

Imam Ahmad berkata: Utsman bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Fudhail menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Abdurrahman Abu Nashr, Masawir al-Humayri menceritakan kepadaku, dari ibunya, ia berkata: Aku mendengar Ummu Salamah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ali: “Tidaklah seorang mukmin membencimu dan tidaklah seorang munafik mencintaimu.” Hadits ini diriwayatkan dari jalur lain dari Ummu Salamah dengan lafazh yang berbeda, namun tidak shahih.

Ibnu Uqdah meriwayatkan dari Hasan bin Ali bin Bazi’, Umar bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Siwar bin Mush’ab menceritakan kepada kami, dari al-Hakam, dari Yahya al-Jazzar, dari Abdullah bin Mas’ud: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengaku beriman kepadaku dan kepada apa yang aku bawa sementara ia membenci Ali, maka ia pendusta dan bukan mukmin.” Hadits dengan sanad ini adalah palsu dan tidak dapat diterima. Wallahu a’lam.

Hasan bin Arafah berkata: Said bin Muhammad al-Warraq menceritakan kepadaku, dari Ali bin al-Hazur, aku mendengar Abu Maryam ats-Tsaqafi, aku mendengar Ammar bin Yasir berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ali: “Beruntunglah orang yang mencintaimu dan jujur terhadapmu, dan celakalah orang yang membencimu dan berdusta tentangmu.” Banyak hadits palsu diriwayatkan dalam makna ini yang tidak memiliki dasar.

Beberapa orang meriwayatkan dari Abu al-Azhar Ahmad bin al-Azhar, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar memberitahu kami, dari az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memandang kepada Ali lalu bersabda: “Engkau adalah pemimpin di dunia, pemimpin di akhirat. Barangsiapa mencintaimu maka ia telah mencintaiku, dan kekasihmu adalah kekasih Allah. Barangsiapa membencimu maka ia telah membenciku, dan yang engkau benci adalah yang dibenci Allah. Celakalah orang yang membencimu sepeninggalku.” Beberapa orang juga meriwayatkan dari al-Harits bin Hushairah, dari Abu Shadiq, dari Rabi’ah bin Najidz, dari Ali, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggilku lalu bersabda: “Sungguh padamu ada keserupaan dengan Isa. Orang-orang Yahudi membencinya hingga mereka menuduh ibunya, dan orang-orang Nasrani mencintainya hingga menempatkannya pada kedudukan yang bukan tempatnya.” Ali berkata: Ketahuilah, akan binasa karenaku dua golongan: orang yang mencintai secara berlebihan yang memuji-mujiku dengan apa yang tidak ada padaku, dan orang yang membenci yang kebenciannya mendorongnya untuk menuduhku. Ketahuilah, aku bukan nabi dan tidak diwahyukan kepadaku, tetapi aku beramal dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam sesuai kemampuanku. Apa yang aku perintahkan kepada kalian dari ketaatan kepada Allah maka wajib atas kalian menaatiku dalam hal yang kalian sukai maupun yang kalian benci. Ini adalah lafazh Abdullah bin Ahmad.

Ya’qub bin Sufyan berkata: Yahya bin Abdul Hamid menceritakan kepada kami, Ali bin Mushir menceritakan kepada kami, dari al-A’masy, dari Musa bin Tharif, dari Abayah, dari Ali, ia berkata: Aku adalah pembagi neraka. Jika hari kiamat tiba, aku akan berkata: Ini untukmu dan ini untukku. Ya’qub berkata: Musa bin Tharif lemah dan membutuhkan orang yang menguatkannya, sedangkan Abayah lebih lemah lagi, haditsnya tidak ada nilainya. Disebutkan bahwa Abu Mu’awiyah menegur al-A’masy karena meriwayatkan hadits ini. Al-A’masy berkata kepadanya: Jika aku lupa, ingatkanlah aku. Dikatakan bahwa al-A’masy meriwayatkannya untuk mengejek kaum Rafidhah dan merendahkan mereka karena mereka membenarkan hal itu.

Aku berkata: Apa yang disangka oleh sebagian orang awam—bahkan ini terkenal di kalangan banyak dari mereka—bahwa Ali adalah yang memberi minum di telaga, maka itu tidak memiliki dasar dan tidak datang dari jalur yang dapat diterima untuk dijadikan sandaran. Yang shahih adalah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam-lah yang memberi minum manusia. Demikian pula hadits yang diriwayatkan bahwa tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dalam keadaan berkendaraan kecuali empat orang: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di atas Buraq, Shalih di atas untanya, Hamzah di atas al-Adhba’, dan Ali di atas unta dari unta-unta surga sambil mengangkat suaranya dengan tahlil. Tidak ada yang shahih sama sekali dari berbagai jalur ini, dan ini adalah buatan kaum Rafidhah.

Hadits lain: Imam Ahmad berkata: Yahya menceritakan kepadaku, dari Syu’bah, Amr bin Murrah menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Salamah, dari Ali, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melewatiku sementara aku sedang sakit. Aku berdoa: Ya Allah, jika ajalku telah tiba maka berilah aku kenyamanan, jika masih lama maka angkatlah sakitku, dan jika ini adalah ujian maka berilah aku kesabaran. Beliau bertanya: “Apa yang engkau katakan?” Aku mengulanginya. Beliau menepuk kakiku dan berkata: “Apa yang engkau katakan?” Aku mengulanginya lagi. Beliau berdoa: “Ya Allah, berilah dia kesehatan,” atau “Sembuhkanlah dia.” Ali berkata: Aku tidak pernah merasakan sakit itu lagi setelahnya.

Hadits lain: Muhammad bin Muslim bin Warah berkata: Ubaidullah bin Musa menceritakan kepada kami, Abu Amr al-Azdi menceritakan kepada kami, dari Abu Rasyid al-Habrani, dari Abu al-Hamra’, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin melihat Adam dalam ilmunya, Nuh dalam pemahamannya, Ibrahim dalam kesabarannya, Yahya bin Zakariya dalam kezuhudannya, dan Musa dalam kekuatannya, maka lihatlah kepada Ali bin Abi Thalib.” Hadits ini sangat munkar dan sanadnya tidak shahih.

Hadits tentang kembalinya matahari untuknya sehingga ia shalat Ashar adalah lemah dan tidak shahih. Kami telah menyebutkannya dalam Dalail an-Nubuwwah dengan sanad-sanad dan lafazh-lafazhnya sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, sehingga tidak perlu diulang.

Hadits lain: Abu Isa at-Tirmidzi berkata: Ali bin al-Mundzir al-Kufi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Fudhail menceritakan kepada kami, dari al-Ajlah, dari Abu az-Zubair, dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggil Ali pada hari (perang) Thaif lalu berbisik dengannya. Orang-orang berkata: Sungguh lama beliau berbisik dengan anak pamannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak berbisik dengannya, tetapi Allah yang menyuruhku berbisik dengannya.” Kemudian at-Tirmidzi berkata: Ini hadits hasan gharib, kami tidak mengenalnya kecuali dari hadits al-Ajlah. Selain Ibnu Fudhail juga meriwayatkannya dari al-Ajlah. Makna sabdanya: “Tetapi Allah yang menyuruhku berbisik dengannya” adalah bahwa Allah memerintahkanku untuk berbisik dengannya.

Hadits lain: At-Tirmidzi berkata: Muhammad bin Basysyar, Ya’qub bin Ibrahim, dan beberapa orang lainnya menceritakan kepada kami, Abu Ashim menceritakan kepada kami, dari Abu al-Jarrah, dari Jabir bin Shubh, ibuku Ummu Syarahil menceritakan kepadaku, Ummu Athiyyah menceritakan kepadaku, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengirim pasukan yang di dalamnya ada Ali. Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sambil mengangkat kedua tangannya berdoa: “Ya Allah, janganlah Engkau mematikanku hingga Engkau perlihatkan kepadaku Ali.” Kemudian ia berkata: Ini hadits hasan gharib, kami hanya mengenalnya dari jalur ini.

Hadits lain: Imam Ahmad berkata: Ali bin Ashim menceritakan kepada kami, Hushain memberitahu kami, dari Hilal bin Yasaf, dari Abdullah bin Zhalim al-Mazini, ia berkata: Ketika Mu’awiyah keluar dari Kufah, ia mengangkat al-Mughirah bin Syu’bah. Ia mengutus para orator yang mencela Ali. Aku berada di samping Said bin Zaid bin Amr bin Nufail. Ia marah, lalu berdiri dan memegang tanganku, aku mengikutinya. Ia berkata: Tidakkah engkau lihat orang yang menzalimi dirinya ini yang memerintahkan untuk melaknat seorang laki-laki dari penduduk surga! Aku bersaksi atas sembilan orang bahwa mereka dari penduduk surga, dan seandainya aku bersaksi atas yang kesepuluh, aku tidak akan berdosa. Aku bertanya: Apa itu? Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tetaplah wahai Gunung Hira, karena tidak ada di atasmu kecuali seorang nabi, shiddiq, atau syahid.” Aku bertanya: Siapa mereka? Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zubair, Thalhah, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’d bin Malik. Aku bertanya: Siapa yang kesepuluh? Ia berkata: Aku.

Seharusnya ditulis di sini hadits Ummu Salamah yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa ia berkata kepada Abu Abdullah al-Jadali: Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dicaci di tengah-tengah kalian di atas mimbar? Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad.

Hadits lain: Imam Ahmad berkata: Yahya bin Adam dan Ibnu Abi Bukair menceritakan kepada kami, mereka berkata: Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Habsyi bin Junadah as-Saluli—ia telah menyaksikan haji Wada’—ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ali dariku dan aku darinya, dan tidak ada yang menyampaikan dariku kecuali aku atau Ali.” Kemudian Ahmad meriwayatkannya dari Abu Ahmad az-Zubairi, dari Israil.

Hadits lain: Ahmad berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Israil berkata: Abu Ishaq berkata, dari Zaid bin Yutsi’, dari Abu Bakar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengirimnya dengan surat Bara’ah kepada penduduk Makkah: Tidak boleh berhaji setelah tahun ini orang musyrik, tidak boleh thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang, tidak masuk surga kecuali jiwa yang mukmin. Barangsiapa ada perjanjian antara dia dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka (berlaku) sampai masa perjanjiannya. Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Ia berkata: Abu Bakar berjalan dengannya selama tiga hari, kemudian Rasulullah bersabda kepada Ali: “Susullah dia dan kembalikanlah Abu Bakar kepadaku, dan sampaikanlah engkau.” Ketika Abu Bakar kembali kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ia menangis dan berkata: Wahai Rasulullah, apakah terjadi sesuatu? Beliau bersabda: “Tidak terjadi sesuatu padamu kecuali kebaikan, tetapi aku diperintahkan agar yang menyampaikannya hanyalah aku atau seseorang dari keluargaku.”

Abdullah bin Ahmad berkata: Muhammad bin Sulaiman Luwayn menceritakan kepadaku, Muhammad bin Jabir menceritakan kepada kami, dari Simmak, dari Hanasy, dari Ali, ia berkata: Ketika sepuluh ayat dari Bara’ah turun kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggil Abu Bakar lalu mengutusnya dengan ayat-ayat itu untuk dibacakan kepada penduduk Makkah. Kemudian beliau memanggilku dan bersabda kepadaku: “Susullah Abu Bakar, di mana pun engkau menyusulnya ambillah surat darinya, kemudian pergilah dengannya ke penduduk Makkah dan bacakanlah kepada mereka.” Aku menyusulnya di al-Juhfah, lalu aku mengambil surat darinya. Abu Bakar kembali dan berkata: Wahai Rasulullah, apakah turun sesuatu? Beliau bersabda: “Tidak, tetapi Jibril datang kepadaku dan berkata: Tidak ada yang menyampaikan darimu kecuali engkau atau seseorang darimu.” Katsir an-Nawwa’ meriwayatkannya dari Jami’ bin Umair, dari Ibnu Umar dengan semakna, dan di dalamnya ada keanehan dari sisi perintah mengembalikan ash-Shiddiq, karena ash-Shiddiq tidak kembali, bahkan ia adalah amir haji pada tahun sembilan (Hijriyah), sedangkan Ali dan sekelompok orang bersamanya diutus oleh ash-Shiddiq, mereka berkeliling di Mina pada hari Nahr dan hari-hari Tasyriq menyerukan Bara’ah. Kami telah menjelaskan hal itu dalam pembahasan haji ash-Shiddiq dan di awal tafsir surat Bara’ah.

HADITS LAIN: Diriwayatkan dari hadits Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar, Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Imran bin Hushain, Anas, Tsauban, Aisyah, Abu Dzar, dan Jabir, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Memandang wajah Ali adalah ibadah.” Dan dalam hadits Aisyah: “Menyebut nama Ali adalah ibadah.” Namun tidak ada satupun dari hadits-hadits ini yang shahih; karena setiap sanadnya tidak lepas dari pendusta atau orang majhul yang tidak diketahui keadaannya, dan dia adalah Syiah.

HADITS TENTANG SEDEKAH DENGAN CINCIN SAAT RUKU’: Ath-Thabarani berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad bin Sallam Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Dhurais Al-Abdi, telah menceritakan kepada kami Isa bin Abdullah bin Ubaidillah bin Umar bin Ali bin Abi Thalib, telah menceritakan kepadaku ayahku dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ali dia berkata: Turun ayat ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, sedang mereka dalam keadaan ruku’.” (Surah Al-Maidah: 55). Maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu masuk ke masjid, dan orang-orang sedang shalat, ada yang ruku’ dan ada yang berdiri, dan ada seorang peminta-minta. Maka beliau bertanya: “Wahai peminta-minta, apakah ada seseorang yang memberimu sesuatu?” Dia menjawab: Tidak, kecuali orang yang sedang ruku’ itu – yaitu Ali – dia memberiku cincinnya.

Dan Al-Hafizh Ibnu Asakir berkata: Telah memberitakan kepadaku pamanku Abu Al-Ma’ali Al-Qadhi, telah memberitakan kepada kami Abu Al-Hasan Al-Khala’i, telah memberitakan kepada kami Abu Al-Abbas Ahmad bin Muhammad Asy-Syahid, telah menceritakan kepada kami Abu Al-Fadhl Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin Al-Harits Ar-Ramli, telah menceritakan kepada kami Al-Qadhi Jumlah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyajj, telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Al-Ahwal, dari Musa bin Qais, dari Salamah dia berkata: Ali bersedekah dengan cincinnya saat dia sedang ruku’, maka turunlah: “Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, sedang mereka dalam keadaan ruku’.” (Surah Al-Maidah: 55). Dan ini tidak shahih dengan cara apapun; karena sanad-sanadnya lemah, dan tidak ada sesuatu pun dari Al-Qur’an yang turun khusus tentang Ali. Dan semua yang mereka kemukakan tentang firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan dan bagi setiap kaum ada petunjuknya.” (Surah Ar-Ra’d: 7). Dan firman-Nya: “Dan mereka memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang tawanan.” (Surah Al-Insan: 8). Dan firman-Nya: “Apakah kamu menjadikan orang yang memberi minuman kepada jamaah haji dan mengurus Masjidil Haram sama dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir?” (Surah At-Taubah: 19). Dan selain itu dari ayat-ayat dan hadits-hadits yang disebutkan bahwa ayat-ayat tersebut turun tentang Ali, tidak ada satupun yang shahih.

Adapun firman Allah Ta’ala: “Ini adalah dua kelompok (golongan) yang bertengkar mengenai Tuhan mereka.” (Surah Al-Hajj: 19). Maka telah tetap dalam Shahih bahwa ayat ini turun tentang Ali, Hamzah, dan Ubaidah dari kalangan orang-orang mukmin, dan tentang Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin Utbah dari kalangan orang-orang kafir.

Dan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: Tidak ada seorang pun dari manusia yang turun tentang dirinya seperti yang turun tentang Ali, dan dalam riwayat lain dari dia bahwa dia berkata: Turun tentang dirinya tiga ratus ayat. Maka ini tidak shahih darinya, tidak yang ini dan tidak yang itu. Dan juga tidak shahih apa yang mereka katakan bahwa dia berkata: Tidak turun ayat yang di dalamnya ada “Wahai orang-orang yang beriman” melainkan Ali bin Abi Thalib adalah kepalanya. Semua itu tidak shahih, dan ini hanyalah dari sikap berlebihan orang-orang Rafidhah.

HADITS LAIN: Abu Sa’id bin Al-A’rabi berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Zakariya Al-Ghallabi, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas bin Bakkar Abu Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al-Mutsanna Al-Anshari, dari pamannya Tsumamah bin Abdullah bin Anas, dari Anas dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di masjid dan para sahabatnya mengelilinginya, tiba-tiba Ali datang lalu memberi salam, kemudian dia berdiri mencari tempat untuk duduk. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat wajah-wajah para sahabatnya, siapa di antara mereka yang akan memberinya tempat. Dan Abu Bakar duduk di sebelah kanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Abu Bakar bergeser dari tempat duduknya dan berkata: Di sini wahai Abu Al-Hasan. Maka dia duduk antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar. Maka kami melihat kebahagiaan di wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau menghadap Abu Bakar dan bersabda: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya yang mengetahui keutamaan bagi ahli keutamaan adalah orang-orang yang memiliki keutamaan.”

Adapun hadits yang diriwayatkan dari Ali dan Hudzaifah secara marfu’: “Ali adalah sebaik-baik manusia, barangsiapa mengingkarinya maka dia telah kafir.” Maka ini adalah hadits palsu dari dua jalur. Semoga Allah melaknat orang yang memalsukan dan mengarangnya.

HADITS LAIN: Abu Isa At-Tirmidzi berkata: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Musa, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Umar bin Ar-Rumi, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Salamah bin Kuhail, dari Suwaid bin Ghaflah, dari Ash-Shanabahi, dari Ali dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah rumah hikmah dan Ali adalah pintunya.” Kemudian dia berkata: Hadits ini gharib. Dia berkata: Dan sebagian mereka meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Abbas.

Aku berkata: Suwaid bin Sa’id meriwayatkannya dari Syarik, dari Salamah, dari Ash-Shanabahi, dari Ali secara marfu’: “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, barangsiapa menginginkan ilmu maka hendaklah dia datang ke pintu kota.”

Adapun hadits Ibnu Abbas, maka diriwayatkan oleh Ibnu Adi dari jalur Ahmad bin Salamah Abu Amr Al-Jurjani, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, barangsiapa menginginkan ilmu maka hendaklah dia datangi dari arah pintunya.” Kemudian Ibnu Adi berkata: Dan hadits ini dikenal dari Abu Ash-Shalt Al-Harawi dari Abu Mu’awiyah, Ahmad bin Salamah ini mencurinya darinya, dan bersamanya sekelompok orang-orang yang lemah. Demikianlah dia berkata, semoga Allah merahmatinya. Dan telah meriwayatkan Ahmad bin Muhammad bin Al-Qasim bin Mihriz, dari Ibnu Ma’in bahwa dia berkata: Ibnu Aiman memberitahuku bahwa Abu Mu’awiyah meriwayatkan hadits ini dahulu, kemudian dia berhenti darinya. Dia berkata: Dan Abu Ash-Shalt adalah orang yang kaya yang memuliakan para syaikh dan mereka menceritakan kepadanya hadits-hadits semacam ini. Dan Ibnu Asakir menyebutkannya dengan sanad yang gelap dari Ja’far Ash-Shadiq dari ayahnya, dari kakeknya, dari Jabir bin Abdullah, lalu menyebutkannya secara marfu’, dan dari jalur lain dari Jabir. Ibnu Adi berkata: Dan ini juga palsu. Dan Abu Al-Fath Al-Azdi berkata: Tidak ada yang shahih dalam bab ini.

HADITS LAIN YANG MIRIP DENGAN SEBELUMNYA: Ibnu Adi berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hamdun An-Naisaburi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Binti Abi Usamah – yaitu Ja’far bin Hudzail – telah menceritakan kepada kami Dhirar bin Shard, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Isa Ar-Ramli, dari Al-A’masy, dari Abayah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Ali adalah gudang ilmuku.”

HADITS LAIN DENGAN MAKNA YANG TELAH DISEBUTKAN: Ibnu Adi berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ya’la, telah menceritakan kepada kami Kamil bin Thalhah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Hayy bin Abdullah, dari Abu Abdurrahman Al-Hubuli, dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sakitnya: “Panggilkan saudaraku.” Maka mereka memanggil Abu Bakar untuknya, lalu beliau berpaling darinya, kemudian berkata: “Panggilkan saudaraku.” Maka mereka memanggil Umar untuknya, lalu beliau berpaling darinya, kemudian berkata: “Panggilkan saudaraku.” Maka mereka memanggil Utsman untuknya, lalu beliau berpaling darinya, kemudian berkata: “Panggilkan saudaraku.” Maka dipanggillah Ali bin Abi Thalib, lalu beliau menutupinya dengan kain dan condong kepadanya. Ketika dia keluar dari sisinya, dikatakan kepadanya: Apa yang beliau katakan kepadamu? Dia berkata: Beliau mengajarkanku seribu pintu, setiap pintu membuka seribu pintu. Ibnu Adi berkata: Ini adalah hadits munkar, dan mungkin keburukannya dari Ibnu Lahi’ah, karena dia sangat berlebihan dalam sikap Syiah dan para imam telah membicarakannya dan menisbahkannya kepada kelemahan. Wallahu a’lam.

HADITS LAIN: Ibnu Asakir berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Ali Al-Muqri’, telah memberitakan kepada kami Abu Nu’aim Al-Hafizh, telah memberitakan kepada kami Abu Ahmad Al-Ghathariqi, telah menceritakan kepada kami Abu Al-Husain bin Abi Muqatil, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid bin Utbah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ali Al-Wahbi Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Imran bin Salamah – dan dia adalah orang yang tsiqah, adil, dan ridha – telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats-Tsauri, dari Manshur, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah dia berkata: Aku berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau ditanya tentang Ali, maka beliau bersabda: “Hikmah dibagi menjadi sepuluh bagian, Ali diberi sembilan bagian dan manusia satu bagian.” Dan Al-Hafizh Ibnu Asakir diam saja terhadap hadits ini dan tidak menjelaskan masalahnya, padahal ini adalah hadits munkar bahkan palsu, dirangkai atas nama Sufyan Ats-Tsauri dengan sanadnya. Semoga Allah melaknat yang memalsukan dan mengarangnya.

HADITS LAIN: Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Umar Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id, dari Al-A’masy, dari Amr bin Murrah, dari Abu Al-Bakhtari, dari Ali dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku ke Yaman padahal aku masih muda, tidak ada ilmu padaku tentang peradilan. Dia berkata: Maka beliau menepuk dadaku dan bersabda: “Sesungguhnya Allah akan membimbing hatimu dan meneguhkan lisanmu.” Dia berkata: Maka aku tidak pernah ragu dalam memutuskan perkara antara dua orang setelahnya.

Dan telah tetap dari Umar bahwa dia berkata: Ali adalah yang paling pandai di antara kami dalam memutuskan perkara, dan Ubay adalah yang paling pandai di antara kami dalam membaca Al-Qur’an. Dan Umar berkata: Aku berlindung kepada Allah dari masalah rumit yang tidak ada Abu Hasan untuk menyelesaikannya.

HADITS LAIN: Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid, dari Mughirah, dari Ummu Musa, dari Ummu Salamah dia berkata: Demi Dzat yang aku bersumpah dengan-Nya, sesungguhnya Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling akhir bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; kami menjenguk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pagi demi pagi, beliau berkata: “Apakah Ali sudah datang?” berulang kali, dan aku menduga bahwa beliau mengutuunya untuk suatu keperluan. Dia berkata: Maka dia datang setelahnya, dan kami menduga bahwa beliau memiliki keperluan kepadanya, maka kami keluar dari rumah dan duduk di dekat pintu, dan aku adalah yang paling dekat dengan pintu. Maka Ali condong kepadanya, dan beliau mulai berbisik dengannya dan bermunajat dengannya, kemudian beliau wafat pada hari itu, maka dialah orang yang paling akhir bertemu dengan beliau. Dan demikianlah Abdullah bin Ahmad dan Abu Ya’la meriwayatkannya dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dengannya.

HADITS LAIN DENGAN MAKNA YANG SAMA: Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ayyasy, dari Shadaqah bin Sa’id, dari Jami’ bin Umair bahwa ibunya dan bibinya masuk menemui Aisyah, maka keduanya berkata: Wahai Ummul Mukminin, ceritakan kepada kami tentang Ali. Dia berkata: Apa yang kalian tanyakan? Tentang seorang laki-laki yang meletakkan tangannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu tempat, maka mengalirlah nyawa beliau di tangannya lalu dia mengusapkannya ke wajahnya. Dan mereka berselisih tentang pemakamannya, maka dia berkata: Sesungguhnya tempat yang paling dicintai Allah adalah tempat di mana Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Keduanya berkata: Lalu mengapa engkau keluar menentangnya? Dia berkata: Itu adalah perkara yang telah ditakdirkan, aku berharap aku menebusnya dengan apa yang ada di muka bumi. Dan ini sangat munkar, dan dalam Shahih ada yang menolak ini. Wallahu a’lam.

HADITS LAIN: Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, telah menceritakan kepadaku Abdul Hamid bin Abi Ja’far – yaitu Al-Farra’ – dari Isra’il, dari Abu Ishaq, dari Zaid bin Yutsi’, dari Ali dia berkata: Dikatakan: Wahai Rasulullah, siapa yang kami angkat sebagai pemimpin setelahmu? Beliau bersabda: “Jika kalian mengangkat Abu Bakar, maka kalian akan mendapatinya sebagai orang yang amanah, zuhud terhadap dunia, dan berminat kepada akhirat. Dan jika kalian mengangkat Umar, maka kalian akan mendapatinya kuat, amanah, tidak takut terhadap celaan orang yang mencela dalam urusan Allah. Dan jika kalian mengangkat Ali, dan aku tidak melihat kalian akan melakukannya, maka kalian akan mendapatinya sebagai pemberi petunjuk lagi mendapat petunjuk yang membawa kalian ke jalan yang lurus.” Dan hadits ini telah diriwayatkan melalui jalur Abdurrazzaq, dari An-Nu’man bin Abi Syaibah, dan dari Yahya bin Al-Ala’, dari Ats-Tsauri dari Abu Ishaq, dari Zaid bin Yutsi’, dari Hudzaifah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan yang serupa. Dan diriwayatkan oleh Abu Ash-Shalt Al-Harawi Abdul Salam bin Shalih, dari Ibnu Numair, dari Ats-Tsauri, dari Syarik, dari Abu Ishaq, dari Zaid bin Yutsi’, dari Hudzaifah dengannya.

Dan Al-Hakim Abu Abdullah An-Naisaburi berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Ali Al-Adami di Mekah, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Ash-Shan’ani, telah memberitakan kepada kami Abdurrazzaq bin Hammam, dari ayahnya, dari Mina’, dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata: Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam delegasi jin. Dia berkata: Maka beliau menghela napas, lalu aku berkata: Ada apa denganmu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Diriku dikabari kematianku.” Aku berkata: Maka angkatlah khalifah. Beliau bersabda: “Siapa?” Aku berkata: Abu Bakar. Dia berkata: Maka beliau diam, kemudian berlalu sesaat, kemudian menghela napas, lalu aku berkata: Ada apa denganmu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Diriku dikabari kematianku wahai Ibnu Mas’ud.” Aku berkata: Maka angkatlah khalifah. Beliau bersabda: “Siapa?” Aku berkata: Umar. Dia berkata: Maka beliau diam, kemudian berlalu sesaat, kemudian menghela napas, lalu aku berkata: Ada apa? Beliau bersabda: “Diriku dikabari kematianku wahai Ibnu Mas’ud.” Aku berkata: Maka angkatlah khalifah. Beliau bersabda: “Siapa?” Aku berkata: Ali bin Abi Thalib. Beliau bersabda: “Adapun demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika mereka menaatinya, niscaya mereka akan masuk surga semuanya tanpa terkecuali.” Ibnu Asakir berkata: Hammam dan Mina’ adalah orang-orang majhul.

Hadits Lain

Berkata Abu Ya’la: Telah menceritakan kepada kami Abu Musa – yaitu Muhammad bin Al-Mutsanna – telah menceritakan kepada kami Sahl bin Hammad Abu ‘Itab Ad-Dallal, telah menceritakan kepada kami Mukhtar bin Nafi’ At-Taimi, telah menceritakan kepada kami Abu Hayyan At-Taimi, dari ayahnya, dari Ali berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati Abu Bakar, ia menikahkan putranya kepadaku, membawaku ke negeri hijrah, dan memerdekakan Bilal dengan hartanya. Semoga Allah merahmati Umar, ia mengatakan kebenaran meskipun pahit, kebenaran meninggalkannya dan ia tidak memiliki teman. Semoga Allah merahmati Utsman, para malaikat malu kepadanya. Semoga Allah merahmati Ali, ya Allah putarkanlah kebenaran bersamanya ke mana pun ia pergi.”

Dan telah diriwayatkan dari Abu Sa’id dan Ummu Salamah bahwa kebenaran bersama Ali radhiyallahu ‘anhu, dan pada keduanya terdapat pandangan. Dan Allah Maha Mengetahui.

Hadits Lain

Berkata Abu Ya’la: Telah menceritakan kepada kami Utsman, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al-A’masy dari Isma’il bin Raja’, dari ayahnya, dari Abu Sa’id berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara kalian ada yang akan berperang atas takwil Al-Qur’an sebagaimana aku berperang atas tanzilnya.”

Abu Bakar berkata: Apakah aku orangnya wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Tidak.”

Umar berkata: Apakah aku orangnya wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Tidak, tetapi dialah orang yang sedang menambal sandal.” Dan beliau telah memberikan sandalnya kepada Ali untuk ditambal.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, dari Al-Hakim, dari Al-Asham, dari Ahmad bin Abdul Jabbar, dari Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy dengannya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Waki’ dan Husain bin Muhammad, dari Fithr bin Khalifah, dari Isma’il bin Raja’ dengannya. Diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqi, dari hadits Abu Nu’aim, dari Fithr bin Khalifah, dari Isma’il bin Raja’, dari ayahnya, dari Abu Sa’id dengannya. Diriwayatkan oleh Fudhail bin Marzuq, dari Athiyyah, dari Abu Sa’id. Dan diriwayatkan dari hadits Ali sendiri.

Dan kami telah menyebutkan hadits ini pada tempatnya dalam peperangan Ali melawan ahli bughat dan Khawarij. Dan segala puji bagi Allah.

Dan kami juga telah menyebutkan hadits Ali kepada Zubair: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadamu bahwa engkau akan memerangiku dan engkau zalim. Maka Zubair kembali, dan itu pada hari Jamal, kemudian ia terbunuh setelah kepulangannya di Wadi As-Siba’. Dan kami telah menyebutkan kesabaran, ketegasan, dan keberaniannya pada hari Jamal dan Shiffin, keberaniannya dan keutamaannya pada hari Nahrawan, dan apa yang diriwayatkan tentang keutamaan kelompoknya yang membunuh Khawarij, dari hadits-hadits. Dan kami telah menyebutkan hadits yang diriwayatkan dari berbagai jalan, dari Ali, Abu Sa’id, dan Abu Ayyub, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya untuk memerangi Al-Mariqin (pemberontak), Al-Qasithin (yang zalim), dan An-Nakitsin (yang mengingkari janji). Mereka menafsirkan An-Nakitsin dengan pasukan Jamal, Al-Qasithin dengan penduduk Syam, dan Al-Mariqin dengan Khawarij. Dan hadits tersebut lemah.

Bab tentang Menyebutkan Sebagian dari Kebijakannya yang Adil, Jalannya yang Utama, Nasihat-nasihatnya, Keputusan-keputusannya yang Tegas, Khutbah-khutbahnya yang Sempurna, dan Hikmah-hikmahnya yang Sampai ke Hati

Berkata Abdul Warits dari Abu Amru bin Al-‘Ala’, dari ayahnya berkata: Ali berkhutbah dan berkata: Wahai manusia, demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, aku tidak mengambil dari harta kalian sedikit pun maupun banyak kecuali ini. Dan ia mengeluarkan sebuah botol dari lengan bajunya yang berisi wewangian. Lalu berkata: Ini hadiah kepadaku dari seorang dihqan (pemimpin desa). Kemudian ia mendatangi Baitul Mal dan berkata: Ambillah. Dan ia mulai mengatakan syair:

Beruntunglah orang yang memiliki qausharah (tempat penyimpanan kurma) Ia makan darinya setiap hari kurma

Dalam riwayat: murroh (kurma pahit). Dalam riwayat:

Berbahagialah orang yang memiliki qausharah

Dan berkata Harmalah dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Lahi’ah, dari Ibnu Hubairah, dari Abdullah bin Zurir Al-Ghafiqi berkata: Kami masuk menemui Ali pada hari Idul Adha, lalu ia menghidangkan kepada kami khaziroh (bubur daging). Kami berkata: Semoga Allah memperbaikimu, seandainya engkau menghidangkan kepada kami bebek dan angsa ini, karena Allah telah memperbanyak kebaikan. Ia berkata: Wahai Ibnu Zurir, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal bagi khalifah dari harta Allah kecuali dua mangkuk; satu mangkuk dimakan olehnya dan keluarganya, dan satu mangkuk dimakankan kepada manusia.”

Dan berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Hasan dan Abu Sa’id mantan budak Bani Hasyim, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Hubairah, dari Abdullah bin Zurir bahwa ia berkata: Aku masuk menemui Ali bin Abi Thalib – Hasan berkata: pada hari Idul Adha – lalu ia menghidangkan kepada kami khaziroh. Aku berkata: Semoga Allah memperbaikimu, seandainya engkau mendekatkan kepada kami bebek ini – maksudnya angsa – karena Allah telah memperbanyak kebaikan. Ia berkata: Wahai Ibnu Zurir, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal bagi khalifah dari harta Allah kecuali dua mangkuk; satu mangkuk dimakan olehnya dan keluarganya, dan satu mangkuk ia letakkan di hadapan manusia.”

Dan berkata Abu ‘Ubaid: Telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Al-‘Awwam, dari Harun bin ‘Antarah dari ayahnya berkata: Aku masuk menemui Ali bin Abi Thalib di Al-Khawarnaq dan ia mengenakan selimut dan bergetar karena kedinginan. Aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah menjadikan untukmu dan untuk keluargamu bagian dalam harta ini, dan engkau melakukan seperti ini pada dirimu?! Ia berkata: Demi Allah, aku tidak mengambil dari harta kalian sedikitpun, dan ini adalah selimut yang kubawa dari rumahku. Atau ia berkata: dari Madinah.

Dan berkata Abu Nu’aim: Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: Ali tidak membangun bata di atas bata, dan tidak buluh di atas buluh. Dan jubahnya dibawa dari Madinah dalam sebuah karung.

Dan berkata Ya’qub bin Sufyan: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abu Hayyan, dari Mujamma’ bin Sam’an At-Taimi berkata: Ali bin Abi Thalib keluar dengan pedangnya ke pasar lalu berkata: Siapa yang mau membeli pedangku ini? Seandainya aku memiliki empat dirham untuk membeli kain sarung dengannya, aku tidak akan menjualnya.

Dan berkata Az-Zubair bin Bakkar: Telah menceritakan kepadaku Sufyan, dari Ja’far – ia berkata: aku menduga dari ayahnya – bahwa Ali apabila mengenakan baju, ia mengulurkan tangannya dalam lengan bajunya, lalu apa yang lebih dari lengan baju melebihi jari-jarinya ia potong, dan berkata: Tidak ada kelebihan lengan baju melebihi jari-jari.

Dan berkata Abu Bakr bin ‘Ayyasy, dari Yazid bin Abi Ziyad, dari Muqsim, dari Ibnu Abbas berkata: Ali membeli baju seharga tiga dirham ketika menjadi khalifah, dan ia memotong lengannya dari tempat pergelangan tangan, dan berkata: Segala puji bagi Allah yang ini dari pakaianNya.

Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd, dari ‘Abbad bin Al-‘Awwam, dari Hilal bin Khabbab, dari mantan budak Abu ‘Ushair berkata: Aku melihat Ali keluar lalu mendatangi seorang penjual kain, dan berkata kepadanya: Apakah engkau memiliki baju yang cocok untukku? Ia mengeluarkan kepadanya sebuah baju lalu ia memakainya, ternyata sampai pertengahan betisnya. Ia melihat ke kanan dan kirinya lalu berkata: Aku tidak melihat kecuali ukuran yang baik, berapa harganya? Ia berkata: Empat dirham wahai Amirul Mukminin. Ia melepaskan dirham dari sarungnya lalu memberikannya kepadanya, kemudian pergi.

Dan berkata Muhammad bin Sa’d: Telah mengabarkan kepada kami Al-Fadhl bin Dukain, telah mengabarkan kepada kami Al-Hasan bin Jarmuz, dari ayahnya berkata: Aku melihat Ali ketika ia keluar dari istana dan mengenakan dua pakaian kasar; sarung sampai pertengahan betis, dan selendang yang digulung dekat dengannya, dan bersamanya tongkatnya ia berjalan dengannya di pasar-pasar, dan memerintahkan manusia untuk bertakwa kepada Allah dan berjual beli dengan baik. Dan berkata: Sempurnakanlah takaran dan timbangan. Dan berkata: Jangan meniup daging.

Dan berkata Abdullah bin Al-Mubarak dalam Az-Zuhd: Telah mengabarkan kepada kami seorang lelaki, telah menceritakan kepada kami Shalih bin Maitsam, telah menceritakan kepada kami Zaid bin Wahb Al-Juhani berkata: Ali bin Abi Thalib keluar kepada kami pada suatu hari dan mengenakan dua kain, bersarung dengan salah satunya dan berselimut dengan yang lain, ia mengulurkan satu sisi sarungnya dan mengangkat satu sisi, dan ia mengangkat selendangnya dengan kain robek. Lalu seorang Arab Badui melewatinya dan berkata: Wahai manusia, pakailah dari pakaian-pakaian ini karena engkau akan mati atau terbunuh. Ia berkata: Wahai Arab Badui, sesungguhnya aku hanya memakai kedua pakaian ini agar lebih jauh bagiku dari kesombongan, dan lebih baik bagiku dalam shalatku, dan sunnah bagi orang beriman.

Dan berkata ‘Abd bin Humaid: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid, telah menceritakan kepada kami Al-Mukhtar bin Nafi’, dari Abu Mathar berkata: Aku keluar dari masjid lalu tiba-tiba seorang lelaki memanggil dari belakangku: Angkat sarungmu; karena itu lebih bersih untuk pakaianmu dan lebih bertakwa untukmu, dan ambil dari rambutmu jika engkau seorang muslim. Aku berjalan di belakangnya dan ia di hadapanku bersarung dengan sarung dan berselendang dengan selendang dan bersamanya tongkat, seakan-akan ia seorang Arab Badui desa. Aku berkata: Siapa ini? Seorang lelaki berkata kepadaku: Aku melihat engkau asing di negeri ini. Aku berkata: Benar, aku seorang lelaki dari penduduk Basrah. Ia berkata: Ini adalah Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin. Hingga ia sampai ke rumah Bani Abi Mu’aith dan itu adalah pasar unta, lalu berkata: Jual dan jangan bersumpah; karena sumpah melariskan barang dan menghapus keberkahan.

Kemudian ia mendatangi para penjual kurma, lalu ada seorang budak perempuan menangis. Ia berkata: Mengapa engkau menangis? Ia berkata: Lelaki ini menjual kepadaku kurma seharga satu dirham lalu tuanku mengembalikannya, namun ia menolak menerimanya. Ali berkata kepadanya: Ambil kurmamu dan berikan dirhamnya; karena ia tidak memiliki urusan. Ia mendorongnya, lalu aku berkata: Apakah engkau tahu siapa ini? Ia berkata: Tidak. Aku berkata: Ini adalah Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin. Lalu ia menuangkan kurmanya dan memberikan dirhamnya. Kemudian lelaki itu berkata: Aku ingin engkau ridha dariku wahai Amirul Mukminin. Ia berkata: Tidak ada yang lebih meridhaiku tentangmu selain apabila engkau menunaikan hak-hak manusia.

Kemudian ia lewat melewati para penjual kurma lalu berkata: Wahai para penjual kurma, berilah makan kepada orang-orang miskin agar usaha kalian diberkahi. Kemudian ia lewat dan bersamanya kaum muslimin, hingga ia sampai ke para penjual ikan. Ia berkata: Tidak dijual di pasar kami ikan yang mengapung (mati). Kemudian ia mendatangi Dar Furat dan itu adalah pasar kain, lalu ia mendatangi seorang syekh dan berkata: Wahai syekh, jual kepadaku dengan baik baju seharga tiga dirham. Ketika ia mengenalinya, ia tidak membeli darinya sesuatu pun. Kemudian yang lain, ketika ia mengenalinya ia tidak membeli darinya sesuatu pun. Lalu ia mendatangi seorang pemuda muda dan membeli darinya baju seharga tiga dirham, dan lengannya dari pergelangan tangan sampai telapak tangan. Ia berkata saat memakainya: Segala puji bagi Allah yang memberiku rezeki dari pakaian yang dengannya aku berhias di tengah manusia, dan menutupi auratku.

Dikatakan kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, ini sesuatu yang engkau riwayatkan dari dirimu, ataukah sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Ia berkata: Tidak, tetapi sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakannya saat memakai pakaian.

Lalu ayah pemuda pemilik kain datang dan dikatakan kepadanya: Wahai fulan, anakmu hari ini telah menjual kepada Amirul Mukminin baju seharga tiga dirham. Ia berkata: Mengapa tidak diambil darinya dua dirham saja? Lalu ayahnya mengambil darinya satu dirham, kemudian datang dengannya kepada Amirul Mukminin dan ia sedang duduk bersama kaum muslimin di pintu Ar-Rahbah. Ia berkata: Pegang dirham ini. Ia berkata: Apa urusan dirham ini? Ia berkata: Baju tadi harganya dua dirham. Ia berkata: Ia menjual kepadaku dengan ridha dan mengambil dengan ridha.

Dan berkata Umar bin Syamr, dari Jabir Al-Ju’fi, dari Asy-Sya’bi berkata: Ali bin Abi Thalib menemukan baju besinya di tangan seorang lelaki Nashrani, lalu ia membawanya ke Syuraih untuk berperkara dengannya. Ia berkata: Maka Ali datang hingga duduk di samping Syuraih dan berkata: Wahai Syuraih, seandainya lawanku seorang muslim aku tidak akan duduk kecuali bersamanya, tetapi ia Nashrani, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Apabila kalian bersama mereka di jalan maka desaklah mereka ke tempat sempit, dan rendahkan mereka sebagaimana Allah merendahkan mereka tanpa kalian melampaui batas.”

Kemudian ia berkata: Ini baju besiku dan aku tidak menjual dan tidak menghibahkan. Syuraih berkata kepada Nashrani: Apa yang engkau katakan tentang apa yang Amirul Mukminin katakan? Nashrani berkata: Baju besi ini hanya baju besiku, dan Amirul Mukminin di sisiku bukan pendusta. Syuraih menoleh kepada Ali lalu berkata: Wahai Amirul Mukminin, apakah ada saksi? Ali tertawa dan berkata: Syuraih benar, aku tidak memiliki saksi. Maka Syuraih memutuskan baju besi itu untuk Nashrani.

Ia berkata: Nashrani mengambilnya dan berjalan beberapa langkah kemudian kembali lalu berkata: Adapun aku, aku bersaksi bahwa ini adalah hukum-hukum para nabi. Amirul Mukminin mendahulukan aku ke hadapan hakimnya, dan hakimnya memutuskan melawannya! Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya. Demi Allah, baju besi ini adalah baju besimu wahai Amirul Mukminin. Aku mengikuti pasukan dan engkau berangkat ke Shiffin lalu itu keluar dari untamu yang berwarna putih kekuningan. Ia berkata: Adapun karena engkau telah masuk Islam maka ini untukmu. Dan ia memberinya kuda.

Asy-Sya’bi berkata: Telah mengabarkan kepadaku orang yang melihatnya berperang melawan Khawarij bersama Ali pada hari Nahrawan.

Dan berkata Sa’id bin ‘Ubaid, dari Ali bin Rabi’ah: Ja’dah bin Hubairah datang kepada Ali lalu berkata: Wahai Amirul Mukminin, datang kepadamu dua orang lelaki, engkau lebih dicintai oleh salah satunya dari keluarga dan hartanya, dan yang lain seandainya ia mampu menyembelihmu pasti ia menyembelihmu, lalu engkau memutuskan untuk yang ini atas yang ini! Ia berkata: Maka Ali memukulnya dan berkata: Sesungguhnya ini sesuatu seandainya itu milikku aku lakukan, tetapi ini hanyalah sesuatu milik Allah.

Dan berkata Abu Al-Qasim Al-Baghawi: Telah menceritakan kepadaku kakekku, telah menceritakan kepada kami Ali bin Hasyim, dari Shalih penjual pakaian, dari neneknya berkata: Aku melihat Ali membeli kurma seharga satu dirham, lalu ia membawanya dalam selendangnya. Seorang lelaki berkata: Wahai Amirul Mukminin, tidakkah kami membawanya untukmu. Ia berkata: Bapak keluarga lebih berhak membawanya.

Dari Abu Hasyim, dari Zadzan ia berkata: Ali biasa berjalan di pasar-pasar sendirian padahal ia adalah khalifah, ia memberi petunjuk kepada orang yang tersesat dan menolong orang yang lemah, ia melewati para pedagang dan penjual sayuran lalu ia membacakan kepada mereka Al-Quran, ia membaca “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan tidak (pula ingin) membuat kerusakan di muka bumi.” (Al-Qashash: 83). Kemudian ia berkata: “Ayat ini turun mengenai para penguasa yang adil dan rendah hati serta orang-orang yang berkuasa dari kalangan manusia lainnya.”

Dari Ubadah bin Ziyad, dari Shalih bin Abi Al-Aswad, dari orang yang menceritakan kepadanya, bahwasanya ia melihat Ali telah mengendarai keledai dan menjulurkan kedua kakinya ke satu sisi, kemudian ia berkata: “Akulah yang menghinakan dunia.”

Yahya bin Ma’in berkata dari Ali bin Al-Ja’d, dari Al-Hasan bin Shalih ia berkata: Mereka membicarakan para zahid di sisi Umar bin Abdul Aziz, maka sebagian orang berkata: si fulan. Dan sebagian lain berkata: si fulan. Maka Umar bin Abdul Aziz berkata: “Orang yang paling zahid di dunia adalah Ali bin Abi Thalib.”

Hisyam bin Hassan berkata: Ketika kami berada di sisi Al-Hasan Al-Bashri, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari kalangan Azariqah lalu berkata: Wahai Abu Sa’id, apa pendapatmu tentang Ali bin Abi Thalib? Ia berkata: Maka memerahlah pipi Al-Hasan, dan ia berkata: “Semoga Allah merahmati Ali, sesungguhnya Ali adalah anak panah Allah yang mengenai sasaran pada musuh-musuhnya, dan ia berada di kedudukan ilmu yang paling mulia dan paling dekat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ia adalah guru rabbani umat ini, ia tidak mencuri harta Allah, dan tidak malas dalam urusan Allah, ia diberikan ketegasan Al-Quran dan mengamalkannya serta ilmunya, maka ia berada dalam taman yang indah dan petunjuk yang jelas, itulah Ali bin Abi Thalib wahai anak yang bodoh.”

Husyaim berkata, dari Sayyar, dari Ammar ia berkata: Seorang laki-laki menceritakan hadits kepada Ali bin Abi Thalib lalu ia mendustakan orang itu, maka orang itu tidak berdiri sampai ia menjadi buta.

Abu Bakar bin Abi Ad-Dunya berkata: Syuraih bin Yunus menceritakan kepadaku, Husyaim menceritakan kepada kami, dari Isma’il bin Salim dari Ammar Al-Hadhrami, dari Zadzan Abu Umar, bahwa seorang laki-laki menceritakan hadits kepada Ali, lalu ia berkata: “Aku melihatmu telah mendustakan aku.” Orang itu berkata: Aku tidak melakukannya. Ali berkata: “Bolehkah aku berdoa atasmu jika engkau berdusta?” Orang itu berkata: Berdoalah. Maka ia berdoa dan orang itu tidak beranjak sampai ia menjadi buta.

Ibnu Abi Ad-Dunya berkata: Khalaf bin Salim menceritakan kepada kami, Muhammad bin Bisyr menceritakan kepada kami, dari Abu Makin ia berkata: Aku dan pamanku Abu Umayyah melewati sebuah rumah di tempat tinggal suku Murad, lalu ia berkata: Apakah kau melihat rumah ini? Aku berkata: Ya. Ia berkata: Sesungguhnya Ali melewatinya ketika mereka sedang membangunnya, lalu jatuh sepotong (bangunan) menimpanya dan melukai kepalanya, maka ia berdoa kepada Allah agar bangunan itu tidak selesai. Ia berkata: Maka tidak ada satu bata pun yang diletakkan di atasnya. Ia berkata: Aku melewatinya dan tidak menyerupai rumah-rumah lain.

Ibnu Abi Ad-Dunya berkata: Abdullah bin Yunus bin Bukair Asy-Syaibani menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Abdul Ghaffar bin Al-Qasim Al-Anshari, dari Abu Basyir Asy-Syaibani ia berkata: Aku menyaksikan perang Jamal bersama tuanku, aku tidak pernah melihat hari yang lebih banyak tangan terputus dan kaki terputus selain hari itu, dan aku tidak pernah melewati rumah Al-Walid kecuali aku teringat hari Jamal. Ia berkata: Al-Hakam bin Utaibah menceritakan kepadaku bahwa Ali berdoa pada hari Jamal lalu berkata: “Ya Allah, ambillah tangan dan kaki mereka.”

Dari Ucapan-Ucapannya yang Bagus, Semoga Allah Meridhainya:

Ibnu Abi Ad-Dunya berkata: Ali bin Al-Ja’d menceritakan kepada kami, Amr bin Syamir memberitakan kepada kami, Isma’il As-Suddi menceritakan kepadaku, aku mendengar Abu Arakah berkata: Aku shalat Fajar bersama Ali, ketika ia berpaling ke kanannya ia tetap duduk seakan-akan ada kesedihan padanya, hingga ketika matahari berada di dinding masjid setinggi tombak ia shalat dua rakaat, kemudian ia membalikkan tangannya dan berkata: “Demi Allah, sungguh aku telah melihat para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka aku tidak melihat hari ini sesuatu yang menyerupai mereka, sungguh mereka di pagi hari berkulit kuning, berambut kusut, berdebu, di antara mata mereka seperti lutut kambing, mereka bermalam untuk Allah dengan bersujud dan berdiri, membaca Kitabullah, bergantian antara dahi dan kaki mereka, maka ketika pagi tiba dan mereka mengingat Allah, mereka bergoyang sebagaimana pohon bergoyang di hari berangin, dan mata mereka mengalirkan air mata hingga membasahi pakaian mereka, demi Allah, seakan-akan orang-orang itu bermalam dalam kelalaian.” Kemudian ia bangkit, dan ia tidak terlihat lagi tersenyum tertawa, hingga Ibnu Muljam musuh Allah yang fasik membunuhnya.

Waki’ berkata, dari Amr bin Munabbih, dari Awfa bin Dalham, dari Ali bin Abi Thalib bahwasanya ia berkata: “Pelajarilah ilmu agar kalian dikenal dengannya, dan amalkan ilmu itu agar kalian menjadi termasuk ahlinya, karena akan datang setelah kalian suatu zaman yang di dalamnya diingkari sembilan per sepuluh dari kebenaran, dan tidak akan selamat darinya kecuali setiap orang yang saleh yang menghilangkan penyakit, mereka adalah para imam petunjuk dan pelita ilmu, mereka bukanlah orang-orang yang tergesa-gesa, suka menyebarkan rahasia, dan boros.” Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi membelakangi, dan sesungguhnya akhirat telah datang menghadap, dan masing-masing dari keduanya memiliki anak-anak, maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia, ketahuilah bahwa orang-orang yang zahid di dunia menjadikan bumi sebagai hamparan, debu sebagai alas tidur, dan air sebagai wewangian, ketahuilah barangsiapa yang merindukan akhirat akan lupa dari syahwat, dan barangsiapa yang takut dari neraka akan kembali dari hal-hal yang haram, dan barangsiapa yang mencari surga akan bergegas kepada ketaatan, dan barangsiapa yang zahid di dunia, musibah akan mudah baginya, ketahuilah bahwa Allah memiliki hamba-hamba seakan-akan mereka melihat penghuni surga di surga kekal, dan penghuni neraka di neraka tersiksa, kejahatan mereka terjaga, hati mereka sedih, jiwa mereka suci, dan kebutuhan mereka ringan, mereka bersabar beberapa hari yang sedikit untuk balasan istirahat yang panjang, adapun di malam hari mereka berbaris dengan kaki mereka, air mata mereka mengalir di pipi mereka, mereka memohon kepada Rabb mereka: Ya Rabb kami, Ya Rabb kami. Mereka memohon pembebasan leher mereka, adapun di siang hari mereka adalah orang-orang yang berilmu, penyantun, berbuat baik, dan bertakwa, seperti anak panah, orang yang melihat mereka berkata: mereka sakit. Padahal tidak ada penyakit pada mereka, dan (berkata): mereka kerasukan. Padahal sungguh orang-orang itu telah kerasukan perkara yang besar.”

Dari Al-Asbagh bin Nubatah ia berkata: Ali naik mimbar pada suatu hari, lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya serta menyebut kematian, maka ia berkata: “Wahai hamba-hamba Allah, kematian tidak ada yang bisa menghindarinya, jika kalian tinggal untuknya ia akan mengambil kalian, dan jika kalian lari darinya ia akan mendapatkan kalian, maka selamatkanlah diri, selamatkanlah diri, cepat-cepat cepat-cepat, di belakang kalian ada yang mengejar dengan cepat; kubur, maka takutlah akan tekanannya, kegelapannya, dan kesepiannya, ketahuilah bahwa kubur adalah lubang dari lubang neraka, atau taman dari taman surga, ketahuilah bahwa ia berbicara setiap hari tiga kali lalu berkata: Aku adalah rumah kegelapan, aku adalah rumah cacing, aku adalah rumah kesepian. Ketahuilah bahwa di balik itu ada hari yang di dalamnya anak kecil menjadi beruban, orang dewasa menjadi mabuk, setiap wanita hamil menggugurkan kandungannya, dan kau melihat manusia seperti orang mabuk, padahal mereka tidak mabuk tetapi azab Allah sangat keras, ketahuilah bahwa di balik itu ada yang lebih keras darinya; neraka yang panasnya sangat keras, dasarnya sangat dalam, perhiasannya besi, airnya nanah, dan penjaganya malaikat yang tidak ada rahmat Allah padanya.” Ia berkata: Kemudian ia menangis dan orang-orang muslim di sekelilingnya menangis, kemudian ia berkata: “Ketahuilah bahwa di balik itu ada surga, luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, semoga Allah menjadikan kami dan kalian termasuk orang-orang yang bertakwa, dan melindungi kami dan kalian dari azab yang pedih.” Dan Laits bin Abi Sulaim meriwayatkannya, dari Mujahid, orang yang mendengar Ali menceritakan kepadaku, lalu ia menyebutkan seperti itu.

Waki’ berkata, dari Amr bin Munabbih, dari Awfa bin Dalham ia berkata: Ali berkhutbah lalu berkata: “Amma ba’du, sesungguhnya dunia telah berpaling dan memberitahukan perpisahan, dan sesungguhnya akhirat telah menghadap dan mengawasi dengan pandangan, dan sesungguhnya arena adalah hari ini, dan besok adalah perlombaan, ketahuilah bahwa kalian berada dalam hari-hari harapan yang di belakangnya ada ajal, maka barangsiapa yang melalaikan di hari-hari harapannya sebelum datangnya ajalnya maka sungguh ia telah mengecewakan amalnya, ketahuilah maka beramallah untuk Allah dalam keadaan berharap sebagaimana kalian beramal untuk-Nya dalam keadaan takut, ketahuilah bahwa aku tidak melihat seperti surga, pencarinya tertidur, dan aku tidak melihat seperti neraka, orang yang lari darinya tertidur, ketahuilah bahwa barangsiapa yang tidak dimanfaatkan oleh kebenaran maka ia akan dirugikan oleh kebatilan, dan barangsiapa yang tidak lurus dengan petunjuk maka ia akan bingung dengan kesesatan, ketahuilah bahwa kalian telah diperintahkan untuk berangkat, dan telah ditunjukkan kepada bekal, ketahuilah wahai manusia, sesungguhnya dunia adalah barang yang hadir, orang yang baik dan yang jahat memakan darinya, dan sesungguhnya akhirat adalah janji yang benar, yang memutuskan di dalamnya adalah Raja yang Maha Kuasa, ketahuilah bahwa syaitan menjanjikan kalian kemiskinan dan memerintahkan kalian dengan kekejian, dan Allah menjanjikan kalian ampunan dari-Nya dan karunia, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui, wahai manusia, berbuat baiklah dalam umur kalian niscaya kalian akan dijaga dalam keturunan kalian, karena sesungguhnya Allah menjanjikan surga-Nya bagi yang menaati-Nya, dan mengancam neraka-Nya bagi yang bermaksiat kepada-Nya, sesungguhnya ia adalah neraka yang tidak berhenti lenguhan nafasnya, tidak dibebaskan tawanannya, tidak disembuhkan yang patah tulangnya, panasnya sangat keras, dasarnya sangat dalam, dan airnya nanah, dan sesungguhnya yang paling aku takuti atas kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan.” Dan dalam riwayat lain: “Karena sesungguhnya mengikuti hawa nafsu menghalangi dari kebenaran, dan panjang angan-angan melupakan akhirat.”

Dari Ashim bin Dhamrah ia berkata: Seorang laki-laki mencela dunia di sisi Ali, maka Ali berkata: “Dunia adalah rumah kejujuran bagi yang jujur padanya, dan rumah keselamatan bagi yang memahaminya, dan rumah kekayaan bagi yang berbekal darinya, tempat turunnya wahyu Allah, tempat shalat para malaikat-Nya, masjid para nabi-Nya, dan tempat dagang para wali-Nya, mereka mendapat keuntungan di dalamnya berupa rahmat, dan memperoleh di dalamnya surga, maka siapakah yang mencelanya padahal ia telah memberitahukan kepergiannya, dan menyerukan perpisahannya, dan menyerupakan dengan kejahatannya kepada kegembiraan, dan dengan balaannya kepadanya sebagai ajakan dan ancaman, maka wahai orang yang mencela dunia yang menghibur dirimu, kapan dunia menipumu, atau kapan ia meminta maaf kepadamu? Apakah dengan tempat jatuhnya bapak-bapakmu dalam kerusakan? Atau dengan tempat tidurnya ibu-ibu kalian di bawah tanah?! Berapa banyak engkau merawat (orang sakit) dengan tanganmu, dan mengobatinya dengan telapak tanganmu, engkau mencari kesembuhan untuknya, dan mencari resep dokter untuknya, tidak berguna bagimu obatmu, dan tidak bermanfaat bagimu tangisanmu.”

Sufyan Ats-Tsauri dan Al-A’masy berkata, dari Amr bin Murrah, dari Abu Al-Bakhtari ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Ali lalu memujinya, padahal ia membenci Ali, maka Ali berkata kepadanya: “Aku bukan seperti yang engkau katakan, dan aku di atas apa yang ada di dalam hatimu.”

Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Ali: Semoga Allah meneguhkanmu. Ali berkata: “Di atas dadamu.”

Ibnu Abi Ad-Dunya berkata: Ishaq bin Isma’il menceritakan kepada kami, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Abu Hamzah, dari Yahya bin Aqil, dari Yahya bin Ya’mar ia berkata: Ali berkata: “Sesungguhnya urusan turun dari langit seperti tetesan hujan, untuk setiap jiwa apa yang telah Allah tuliskan untuknya berupa tambahan atau pengurangan, dalam jiwa atau keluarga atau harta, maka barangsiapa yang melihat kekurangan dalam dirinya atau keluarganya atau hartanya, dan melihat orang lain berlimpah maka janganlah hal itu menjadi fitnah baginya, karena sesungguhnya seorang muslim selama ia tidak melakukan kehinaan yang tampak merendahkan diri karenanya ketika disebutkan, dan membuat orang-orang rendah mencemoohnya karenanya, seperti orang yang berjudi yang menang menunggu kemenangan pertama dari anak panahnya yang mewajibkan baginya keuntungan dan menolak darinya kerugian, maka demikian pula muslim yang bersih dari pengkhianatan antara dua kebaikan ketika ia berdoa kepada Allah, maka apa yang ada di sisi Allah lebih baik baginya, atau Allah memberinya rezeki berupa harta maka tiba-tiba ia memiliki keluarga dan harta, dan bersamanya kehormatan dan agamanya, ladang ada dua macam; maka ladang dunia adalah harta dan anak-anak, dan ladang akhirat adalah amal-amal saleh yang kekal, dan Allah mengumpulkan keduanya untuk suatu kaum.” Sufyan berkata: Dan siapakah yang pandai berbicara dengan pembicaraan ini kecuali Ali?!

Ats-Tsauri berkata dari Zubaid Al-Yami, dari Muhajir Al-Amiri ia berkata: Ali bin Abi Thalib menulis surat perjanjian untuk sebagian sahabatnya atas suatu negeri, di dalamnya: “Amma ba’du, janganlah engkau panjangkan hijabmu (penghalangmu) dari rakyatmu, karena sesungguhnya berhijabnya para penguasa dari rakyat adalah cabang dari kesempitan, dan sedikitnya ilmu tentang urusan-urusan, dan berhijab memutuskan dari mereka ilmu tentang apa yang mereka hijabi, maka menjadi lemah di sisi mereka yang besar, dan menjadi besar yang kecil, dan menjadi buruk yang baik, dan menjadi baik yang buruk, dan bercampur kebenaran dengan kebatilan, dan sesungguhnya penguasa adalah manusia yang tidak mengetahui apa yang tersembunyi darinya oleh manusia mengenai urusan-urusan, dan tidak ada pada perkataan tanda-tanda yang diketahui dengannya macam-macam kejujuran dari kedustaan, maka berlindunglah dari memasukkan dalam hak-hak dengan melembutkan hijab, karena sesungguhnya engkau adalah salah satu dari dua orang; atau engkau adalah orang yang jiwanya dermawan dengan memberi dalam kebenaran, maka untuk apa hijabmu dari hak yang wajib engkau berikan, atau akhlak yang mulia engkau tegakkan dengannya? Atau engkau adalah orang yang diuji dengan mencegah dan kikir, maka betapa cepatnya tangan manusia (menahan diri) dari meminta kepadamu ketika mereka putus asa dari kebaikanmu, dengan bahwa kebanyakan kebutuhan manusia kepadamu adalah yang tidak ada beban di dalamnya atasmu; dari keluhan orang yang teraniaya, atau permintaan keadilan, maka manfaatkanlah dengan apa yang aku gambarkan untukmu, dan cukupkanlah bagianmu dan petunjukmu, insya Allah.”

Al-Mada’ini berkata: Ali menulis kepada sebagian pegawainya: “Pelan-pelan, seakan-akan engkau telah sampai pada batas akhir, dan ditampilkan kepadamu amal-amalmu di tempat yang di dalamnya orang yang tertipu menyeru dengan penyesalan, dan orang yang menyia-nyiakan berharap taubat, dan orang yang zalim (berharap) kembali.”

Husyaim berkata: Amr bin Abi Za’idah memberitakan kepada kami, dari Asy-Sya’bi ia berkata: Abu Bakar mengucapkan syair, dan Umar mengucapkan syair, dan Ali mengucapkan syair, dan Ali adalah yang paling pandai bersyair dari ketiganya. Dan Hisyam bin Ammar meriwayatkannya, dari Ibrahim bin A’yan, dari Umar bin Abi Za’idah, dari Abdullah bin Abi As-Safar, dari Asy-Sya’bi, lalu ia menyebutkannya.

Abu Bakar bin Duraid berkata: Dumaadz memberitahu kami, dari Abu Ubaidah yang berkata: Muawiyah menulis surat kepada Ali: Wahai Abu Hasan, sesungguhnya aku memiliki banyak keutamaan, ayahku adalah seorang pemimpin di masa Jahiliah, aku menjadi raja di masa Islam, aku adalah menantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, paman kaum mukminin, dan penulis wahyu. Maka Ali berkata: Apakah dengan keutamaan itu Ibnu pemakan hati hendak berbangga kepadaku?! Kemudian ia berkata: Tulislah wahai anak muda:

Muhammad sang Nabi adalah saudaraku dan iparku … Dan Hamzah pemimpin para syuhada adalah pamanku Dan Ja’far yang berada di sore dan pagi hari … Terbang bersama para malaikat adalah anak ibuku Dan putri Muhammad adalah kediamanku dan istriku … Dagingnya bercampur dengan darahku dan dagingku Dan dua cucu Ahmad adalah anak-anakku darinya … Maka siapakah di antara kalian yang memiliki bagian seperti bagianku Aku mendahului kalian semua dalam Islam … Ketika masih kecil belum mencapai usia dewasa

Ia berkata: Maka Muawiyah berkata: Sembunyikan surat ini, jangan sampai dibaca oleh penduduk Syam sehingga mereka berpihak kepada Ibnu Abu Thalib. Dan ini adalah riwayat yang terputus antara Abu Ubaidah dan masa Ali serta Muawiyah.

Zubair bin Bakkar dan yang lainnya berkata: Bakar bin Haritsah menceritakan kepadaku, dari Zuhri, dari Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik, dari Jabir bin Abdullah yang berkata: Aku mendengar Ali membacakan syair sementara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendengarkan:

Aku adalah saudara Al-Mushthafa tidak ada keraguan dalam nasabku … Bersamanya aku dibesarkan dan dua cucunya adalah anak-anakku Kakekku dan kakek Rasulullah adalah satu … Dan Fathimah adalah istriku, tidak ada ucapan orang yang ragu Aku membenarkannya sementara semua manusia dalam kebodohan … Dari kesesatan, kemusyrikan, dan kesengsaraan Maka segala puji bagi Allah sebagai syukur tiada sekutu bagi-Nya … Yang berbuat baik kepada hamba dan kekal tanpa batas

Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersenyum dan berkata: Engkau benar wahai Ali. Dan hadits ini dengan sanad ini adalah munkar, dan syairnya terdapat kelemahan, dan Bakar ini tidak dapat diterima kesendirannya dengan sanad dan matan ini. Wallahu a’lam.

Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Abu Zakariya Ar-Ramli, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, dari Nuh bin Qais, dari Salamah Al-Kindi, dari Ashbagh bin Nubatah, dari Ali bahwa seorang laki-laki datang kepadanya dan berkata: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku memiliki hajat kepadamu yang telah aku angkat kepada Allah sebelum aku mengangkatnya kepadamu, jika engkau menunaikannya aku memuji Allah dan berterima kasih kepadamu, dan jika engkau tidak menunaikannya aku memuji Allah dan memaafkanmu. Maka Ali berkata: Tulislah di tanah; karena aku tidak suka melihat kehinaan meminta di wajahmu. Maka ia menulis: Sesungguhnya aku membutuhkan. Maka Ali berkata: Berikan untukku sebuah pakaian. Maka didatangkan pakaian itu, lalu laki-laki itu mengambilnya dan memakainya, kemudian ia mulai berkata:

Engkau pakaikan aku pakaian yang akan pudar keindahannya … Maka aku akan pakaikan engkau dari pujian yang baik beberapa pakaian Jika aku mendapat pujian yang baik berarti engkau mendapat kemuliaan … Dan engkau tidak akan mengganti dengan apa yang telah aku katakan Sesungguhnya pujian akan menghidupkan kenangan pemiliknya … Seperti hujan yang menghidupkan embunnya dataran dan gunung Jangan engkau menganggap remeh kebaikan yang engkau lakukan selamanya … Karena setiap hamba akan dibalas dengan apa yang telah ia kerjakan

Maka Ali berkata: Berikan untukku dinar-dinar. Maka didatangkan seratus dinar, lalu diberikannya kepadanya. Ashbagh berkata: Maka aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, sebuah pakaian dan seratus dinar?! Ia berkata: Ya. Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tempatkanlah manusia pada kedudukan mereka. Dan ini adalah kedudukan laki-laki ini di sisiku.

Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dari jalur Abu Ja’far Ahmad bin Ishaq bin Ibrahim bin Nubaith bin Syuraith, ayahku Ishaq bin Ibrahim bin Nubaith menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari kakeknya yang berkata: Ali bin Abu Thalib berkata:

Ketika hati-hati dipenuhi keputusasaan … Dan sempit karena apa yang ada di dalamnya dada yang lapang Dan kesulitan-kesulitan telah menetap dan tenang … Dan musibah-musibah telah tertanam di tempatnya Dan tidak terlihat jalan untuk hilangnya kesusahan … Dan tidak bermanfaat dengan akalnya orang yang cerdas Datanglah kepadamu saat engkau putus asa pertolongan … Yang dibawa oleh Yang Dekat lagi Mengabulkan Dan semua kejadian apabila telah mencapai puncaknya … Maka tersambung dengannya kelapangan yang dekat

Dan di antara yang dibacakan oleh Abu Bakar Muhammad bin Yahya Ash-Shuli untuk Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib:

Ketahuilah bersabarlah terhadap peristiwa yang besar … Dan obatilah lukamu dengan kesabaran yang indah Dan jangan engkau bersedih jika suatu hari mengalami kesulitan … Karena engkau telah mendapat kemudahan di masa yang panjang Dan jangan berprasangka buruk kepada Tuhanmu … Karena sesungguhnya Allah lebih berhak dengan kebaikan Maka sesungguhnya kesulitan diikuti dengan kemudahan … Dan perkataan Allah adalah yang paling benar dari setiap ucapan Seandainya akal dapat menarik rezeki … Maka rezeki akan berada di sisi orang-orang berakal Betapa banyak orang mukmin yang pernah kelaparan suatu hari … Akan diberi minum dari air yang mengalir yang sangat sejuk

Maka betapa hinanya dunia di sisi Allah bahwa Dia Mahasuci membuat orang mukmin lapar karena kemuliaan-Nya, dan membuat anjing kenyang dengan kehinaannya, dan orang kafir makan dan minum, berpakaian dan bersenang-senang, sedangkan orang mukmin lapar dan telanjang, dan itu karena hikmah yang dikehendaki oleh hikmah Maha Bijaksana dari yang memberi keputusan.

Dan di antara yang dibacakan oleh Ali bin Ja’far Al-Warraq untuk Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib:

Kenakanlah pakaian yang baik ketika engkau berpakaian karena ia … Adalah perhiasan laki-laki dengannya mereka mulia dan dimuliakan Dan tinggalkanlah kerendahan dalam pakaian karena takut … Karena Allah mengetahui apa yang engkau sembunyikan dan tutup Maka keburukan pakaianmu tidak akan menambah kedekatanmu … Di sisi Tuhan padahal engkau adalah hamba yang berdosa Dan keindahan pakaianmu tidak akan membahayakanmu setelah engkau … Bertakwa kepada Allah dan berhati-hati dari apa yang Dia haramkan

Dan ini sebagaimana yang datang dalam hadits: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk-bentuk kalian dan tidak kepada pakaian-pakaian kalian, tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan amal-amal kalian. Dan Ats-Tsauri berkata: Bukan zuhud di dunia dengan memakai pakaian kasar dan tidak dengan memakan makanan kasar, sesungguhnya zuhud di dunia adalah mengharap yang pendek.

Abu Abbas Muhammad bin Yazid bin Abdul Akbar Al-Mubarrad berkata: Tertulis di pedang Ali:

Bagi manusia ada keserakahan terhadap dunia dan perencanaan … Dan kejernihannya untukmu bercampur dengan kekeruhan Mereka tidak diberi rezeki dengannya dengan akal ketika dibagi … Tetapi mereka diberi rezeki dengannya dengan takdir Betapa banyak orang yang sopan dan cerdas yang tidak terbantu … Dan orang bodoh yang mendapat dunianya dengan kekurangan Seandainya karena kekuatan atau karena perlombaan … Burung elang akan terbang dengan rezeki burung pipit

Ashma’i berkata: Salamah bin Bilal menceritakan kepada kami, dari Mujalid, dari Sya’bi yang berkata: Ali bin Abu Thalib berkata kepada seorang laki-laki yang tidak ia sukai untuk menemani seorang laki-laki:

Maka jangan engkau menemani saudara yang bodoh … Dan jauhilah dirimu dan dia Karena betapa banyak orang bodoh yang menyebabkan binasa … Orang yang penyantun ketika ia berteman dengannya Seseorang diukur dengan orang lain … Ketika ia bersamanya Dan untuk sesuatu terhadap sesuatu … Ada ukuran-ukuran dan keserupaan Dan untuk hati terhadap hati ada petunjuk … Ketika ia bertemu dengannya

Dari Amr bin Al-Ala, dari ayahnya yang berkata: Ali berdiri di kuburan Fathimah, lalu ia mulai berkata:

Aku teringat kepada Abu Arwa maka aku bermalam seakan-akan … Dengan dinginnya kesedihan-kesedihan yang telah berlalu aku khawatir Setiap pertemuan dari dua sahabat ada perpisahan … Dan semua yang sebelum kematian adalah sedikit Dan sesungguhnya kehilanganku satu per satu … Adalah petunjuk bahwa tidak akan kekal seorang kawan Akan berpaling dari kenanganku dan terlupakan persahabatanku … Dan akan terjadi setelahku bagi kawan seorang kawan Apabila terputus suatu hari dari kehidupan masaku … Maka sesungguhnya susahnya orang-orang yang menangis adalah sedikit

Sebagian mereka membacakan untuk Ali radhiyallahu anhu:

Pantas dengan kerendahan hati orang yang akan mati … Dan cukup bagi seseorang dari dunianya makanan Maka mengapa seseorang menjadi pemilik kesedihan-kesedihan … Dan keserakahan yang tidak akan dicapainya sifat-sifat Perbuatan Penguasa kami adalah baik dan indah … Dan tidak akan luput rezeki-rezeki-Nya dari kami Maka wahai ini engkau akan pergi dalam waktu yang dekat … Kepada kaum yang ucapan mereka adalah kesunyian

Dan pasal ini akan panjang jika dikaji secara menyeluruh, dan kami telah menyebutkan darinya apa yang di dalamnya cukup bagi yang menginginkannya, dan bagi Allah pujian dan karunia.

Hammad bin Salamah berkata dari Ayyub As-Sakhtiyani, bahwa ia berkata: Barangsiapa mencintai Abu Bakar maka sungguh ia telah menegakkan agama, dan barangsiapa mencintai Umar maka sungguh ia telah menjelaskan jalan, dan barangsiapa mencintai Utsman maka sungguh ia telah bercahaya dengan cahaya Allah, dan barangsiapa mencintai Ali maka sungguh ia telah berpegang dengan tali yang kokoh, dan barangsiapa mengatakan yang baik tentang sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka sungguh ia telah terbebas dari kemunafikan.

Keanehan dari Keanehan-keanehan dan Keajaiban dari Keajaiban-keajaiban

Ibnu Abi Khaitsamah berkata: Ahmad bin Manshur bin Sayyar menceritakan kepada kami, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar berkata suatu kali dan aku menghadapinya, dan ia tersenyum dan tidak ada bersama kami seorang pun maka aku berkata kepadanya: Apa yang terjadi denganmu? Ia berkata: Aku heran dengan penduduk Kufah, seakan-akan Kufah itu dibangun di atas kecintaan kepada Ali, tidaklah aku berbicara dengan seorang pun dari mereka kecuali aku mendapati yang pertengahan dari mereka yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar, di antara mereka adalah Sufyan Ats-Tsauri. Ia berkata: Maka aku berkata kepada Ma’mar: Dan engkau melihatnya? – seakan-akan aku membesarkan hal itu – maka Ma’mar berkata: Dan apa itu?! Seandainya seorang laki-laki berkata: Ali lebih utama bagiku dari keduanya, aku tidak akan mencela dia ketika ia menyebutkan keutamaan keduanya jika ia berkata: bagiku. Dan seandainya seorang laki-laki berkata: Umar bagiku lebih utama dari Ali dan Abu Bakar, aku tidak akan mencelanya. Abdurrazzaq berkata: Maka aku menyebutkan hal itu kepada Waki’ bin Jarrah dan kami berdua sendirian maka Abu Sufyan menyukainya dan tertawa dan berkata: Sufyan tidak sampai membawa kami ke batas ini, tetapi ia memberitahukan kepada Ma’mar apa yang tidak ia beritahukan kepada kami, dan aku biasa berkata kepada Sufyan: Wahai Abu Abdullah, bagaimana pendapatmu jika kami mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar, apa yang engkau katakan tentang hal itu? Maka ia diam sebentar kemudian berkata: Aku khawatir hal itu menjadi celaan terhadap Abu Bakar dan Umar, tetapi kami berhenti. Abdurrazzaq berkata: Dan Ibnu At-Taimi memberitahu kami – yaitu Mu’tamir – ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Keutamaan Ali bin Abu Thalib melebihi sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan seratus kemuliaan, dan ia berbagi dengan mereka dalam keutamaan-keutamaan mereka, dan Utsman lebih aku cintai darinya.

Demikianlah Ibnu Asakir meriwayatkannya dalam tarikhnya dengan sanadnya, dari Ibnu Abi Khaitsamah dengannya. Dan ucapan ini di dalamnya ada banyak kekeliruan, dan mungkin ia meragukan Ma’mar, karena yang masyhur dari sebagian orang Kufah adalah mendahulukan Ali atas Utsman, adapun atas dua syekh maka tidak, dan tidak samar keutamaan dua syekh atas seluruh sahabat kecuali kepada orang bodoh, maka bagaimana ia samar kepada para imam ini?! Bahkan telah berkata lebih dari satu orang ulama, seperti Ayyub dan Ad-Daruquthni: Barangsiapa mendahulukan Ali atas Utsman maka sungguh ia telah meremehkan para Muhajirin dan Anshar. Dan ucapan ini adalah benar dan jujur dan sahih dan bagus.

Ya’qub bin Abi Sufyan berkata: Abdul Aziz bin Abdullah Al-Uwaisi menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, dari Abu Aun Muhammad bin Abdullah Ats-Tsaqafi, dari Abu Shalih Al-Hanafi yang berkata: Aku melihat Ali bin Abu Thalib mengambil mushaf lalu meletakkannya di atas kepalanya, hingga aku melihat lembaran-lembarannya bergetar. Ia berkata: Kemudian ia berkata: Ya Allah sesungguhnya mereka telah mencegahku dari apa yang ada di dalamnya maka berikanlah aku apa yang ada di dalamnya. Kemudian ia berkata: Ya Allah sesungguhnya aku telah bosan dengan mereka dan mereka bosan denganku dan aku membenci mereka dan mereka membenciku, dan mereka memaksaku berbeda dari tabiatku dan akhlakku dan akhlak-akhlak yang tidak dikenal bagiku, Ya Allah maka gantikanlah aku dengan mereka yang lebih baik dari mereka, dan gantikanlah mereka denganku yang lebih buruk dariku, Ya Allah cairkan hati-hati mereka sebagaimana cairnya garam di dalam air. Ibrahim berkata: Yaitu penduduk Kufah.

Ibnu Abi Dunya berkata: Abdurrahman bin Shalih menceritakan kepadaku, Amr bin Hasyim Al-Junbi menceritakan kepada kami, dari Abu Janab, dari Abu Aun Ats-Tsaqafi, dari Abu Abdurrahman As-Sulami yang berkata: Hasan bin Ali berkata kepadaku: Ali berkata kepadaku: Sesungguhnya Rasulullah menampakkan diri kepadaku tadi malam dalam mimpiku, maka aku berkata: Wahai Rasulullah, apa yang aku alami dari umatmu berupa kecongkakan dan pertengkaran? Ia berkata: Berdoalah kepada mereka. Maka aku berkata: Ya Allah gantikanlah aku dengan mereka yang lebih baik dariku, dan gantikanlah mereka denganku yang lebih buruk dariku. Maka ia keluar lalu dipukul oleh seorang laki-laki. Al-Auad: kecongkakan, dan Al-Ladad: pertengkaran. Dan kami telah mendahulukan hadits yang datang dengan memberitakan pembunuhannya, dan bahwa jenggotnya akan dicelup dengan darah dari puncak kepalanya, maka terjadilah sebagaimana yang diberitakan, shalawat Allah dan salam-Nya atas Rasul-Nya.

Abu Dawud meriwayatkan dalam kitab Al-Qadar bahwa ketika terjadi peristiwa Khawarij, para sahabat Ali menjaganya setiap malam, sepuluh orang bermalam di masjid dengan membawa senjata. Ali melihat mereka lalu berkata: “Mengapa kalian duduk di sini?” Mereka menjawab: “Kami menjagamu.” Ia berkata: “Dari penduduk langit?” Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya tidak terjadi sesuatu di bumi hingga telah ditetapkan di langit, dan sesungguhnya bagiku ada penjagaan yang kokoh dari Allah.” Dalam riwayat lain: “Dan sesungguhnya ajal adalah penjagaan yang kokoh, dan sesungguhnya tidak ada seorang pun dari manusia kecuali telah ditugaskan padanya seorang malaikat. Maka tidak ada binatang atau sesuatu yang menginginkannya kecuali malaikat itu berkata: ‘Berhati-hatilah, berhati-hatilah.’ Jika telah datang takdir, ia meninggalkannya.” Dalam riwayat lain: “Dua malaikat yang menolak bahaya darinya, maka jika telah datang takdir, keduanya meninggalkannya. Dan sesungguhnya tidak merasakan manisnya iman seorang hamba hingga ia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa yang meleset darinya tidak akan menimpanya.”

Ali masuk masjid setiap malam dan shalat di dalamnya. Ketika tiba malam yang di pagi harinya ia terbunuh, ia gelisah malam itu dan mengumpulkan keluarganya. Ketika ia keluar menuju masjid, angsa-angsa berteriak di wajahnya. Mereka membuat angsa-angsa itu diam, maka ia berkata: “Biarkan mereka, karena mereka adalah para peratap.” Ketika ia keluar ke masjid, Ibnu Muljam menyerangnya, maka terjadilah apa yang telah kami sebutkan sebelumnya. Orang-orang berkata: “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah kami bunuh seluruh suku Murad?” Ia berkata: “Tidak, tetapi tahanlah ia dan perlakukan tawanannya dengan baik. Jika aku mati maka bunuhlah ia, dan jika aku hidup maka luka-luka adalah qishash.” Ummu Kultsum binti Ali berkata: “Mengapa aku harus mengalami shalat Subuh, suamiku Umar Amirul Mukminin terbunuh saat shalat Subuh, dan ayahku Amirul Mukminin terbunuh saat shalat Subuh.” Semoga Allah meridhainya.

Dikatakan kepada Ali: “Tidakkah engkau menunjuk khalifah pengganti?” Ia berkata: “Tidak, tetapi aku meninggalkan kalian sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meninggalkan kalian. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kalian, Dia akan mengumpulkan kalian pada orang terbaik di antara kalian sebagaimana Dia mengumpulkan kalian pada orang terbaik di antara kalian setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Ini adalah pengakuan darinya di akhir waktu dari dunia tentang keutamaan Ash-Shiddiq. Telah tetap darinya secara mutawatir bahwa ia berkhutbah di Kufah pada masa kekhalifahannya dan masa kepemimpinannya, ia berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, dan jika aku mau menyebutkan yang ketiga akan aku sebutkan.” Dari dia diriwayatkan bahwa ia berkata ketika turun dari mimbar: “Kemudian Utsman, kemudian Utsman.” Ketika Ali meninggal, yang memandikan dan menguburkannya adalah keluarganya, dan yang menshalatkannya adalah putranya Hasan dengan empat takbir, ada yang mengatakan: lebih dari itu. Ali dikuburkan di Dar Al-Khilafah di Kufah. Ada yang mengatakan: di depan masjid dari arah kiblat, di sebuah kamar dari rumah-rumah keluarga Ja’dah bin Hubairah di depan Bab Al-Warraqin. Ada yang mengatakan: di luar Kufah. Ada yang mengatakan: di Al-Kanasah. Ada yang mengatakan: dikuburkan di Ats-Tsawiyah. Syarik Al-Qadhi dan Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain berkata: Hasan bin Ali memindahkannya setelah perdamaiannya dengan Muawiyah ke Madinah dan menguburkannya di Baqi di samping Fathimah binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Isa bin Dab berkata: Ketika mereka hendak membawanya ke Madinah untuk menguburkannya di sana, mereka menempatkannya di peti di atas unta. Ketika mereka melewati tanah Thayyí, mereka kehilangan unta tersebut. Suku Thayyí mengambil unta itu dengan apa yang ada di atasnya, mengira itu adalah harta. Ketika mereka menemukan mayat di dalam peti, mereka menguburkannya dengan peti tersebut di negeri mereka, maka kuburannya tidak diketahui hingga sekarang.

Yang masyhur adalah bahwa kuburannya hingga sekarang di Kufah sebagaimana disebutkan Abdul Malik bin Umair bahwa Khalid bin Abdullah Al-Qasri, wakil Bani Umayyah di zaman Hisyam bin Abdul Malik, ketika menjadi amir atas Irak merobohkan rumah-rumah untuk membangunnya menjadi rumah, menemukan kubur di dalamnya seorang syaikh yang putih kepala dan janggutnya, ternyata itu Ali bin Abi Thalib. Ia hendak membakarnya dengan api, maka dikatakan kepadanya: “Wahai Amir, sesungguhnya Bani Umayyah tidak menginginkan darimu semua ini.” Maka ia membungkusnya dengan kain qibathi dan menguburkannya di sana. Mereka berkata: Tidak ada seorang pun yang mampu menghuni rumah tempat ia berada kecuali ia pindah darinya. Demikian disebutkan Ibnu Asakir.

Kemudian Hasan bin Ali memanggil Abdurrahman bin Muljam dari penjara dan orang-orang menghadirkan minyak tanah dan tikar untuk membakarnya. Putra-putra Ali berkata kepada mereka: “Biarkan kami membalasnya.” Maka dipotong kedua tangan dan kakinya, ia tidak mengeluh dan tidak berhenti dari berdzikir. Kemudian kedua matanya dicongkel, dan ia dalam keadaan itu berdzikir kepada Allah dan membaca surat: “Bacalah dengan nama Tuhanmu” hingga akhirnya, dan sesungguhnya kedua matanya mengalir di pipinya. Kemudian mereka mencoba lidahnya untuk memotongnya, maka ia sangat ketakutan karenanya. Ia ditanya tentang itu, ia berkata: “Sesungguhnya aku khawatir aku berada di dunia sebentar saja tanpa berdzikir kepada Allah di dalamnya.” Maka ia dibunuh setelah itu dan dibakar dengan api, semoga Allah melaknatnya.

Muhammad bin Sa’d berkata: Ibnu Muljam adalah laki-laki berkulit cokelat, tampan, lebar dahi, rambutnya mencapai daun telinganya, di dahinya ada bekas sujud. Para ulama berkata: Tidak menunggu pembunuhannya hingga Abbas bin Ali dewasa, karena ia masih kecil ketika ayahnya terbunuh. Mereka berkata: Karena ia membunuh dalam peperangan bukan qishash. Wallahu a’lam.

Ali radhiyallahu anhu ditikam pada hari Jumat tanggal 17 Ramadhan tahun empat puluh, tanpa perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan: meninggal pada hari itu, ada yang mengatakan: hari Ahad tanggal 19 darinya. Al-Fallas berkata: Ada yang mengatakan: ditikam malam 21, dan meninggal malam 24 dalam usia 59 atau 57 atau 58 tahun. Ada yang mengatakan: 63 tahun. Ini yang masyhur. Dikatakan oleh Muhammad Ibnul Hanafiyyah, Abu Ja’far Al-Baqir, Abu Ishaq As-Sabi’i, dan Abu Bakar bin Ayyasy. Sebagian mereka berkata: 63 atau 64 tahun. Dari Abu Ja’far Al-Baqir: 65 tahun. Masa kekhalifahannya adalah lima tahun kecuali tiga bulan. Ada yang mengatakan: empat tahun sembilan bulan tiga hari, ada yang mengatakan: enam hari. Ada yang mengatakan: empat belas hari. Ada yang mengatakan: empat tahun delapan bulan dua puluh tiga hari. Radhiyallahu anhu.

Jarir berkata dari Mughirah, ia berkata: Ketika berita kematian Ali bin Abi Thalib sampai kepada Muawiyah, dan itu terjadi pada waktu tidur siang, ia sedang tidur bersama istrinya Fakhitah binti Qarzhah di hari musim panas, ia duduk sambil berkata: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Dan ia menangis. Fakhitah berkata kepadanya: “Kemarin engkau mencela dia, dan hari ini engkau menangisi dia!” Ia berkata: “Celaka engkau! Aku hanya menangisi apa yang hilang dari manusia dari kesantunannya, ilmunya, keutamaannya, kebaikan awalnya dan kebaikannya.”

Ibnu Abid Dunya menyebutkan dalam kitab Makayidus Syaithan bahwa seorang laki-laki dari penduduk Syam dari para panglima Muawiyah marah suatu malam kepada anaknya, lalu mengeluarkannya dari rumahnya. Anak itu keluar tidak tahu hendak ke mana, lalu duduk di belakang pintu dari luar dan tidur sebentar kemudian terbangun. Ternyata ada kucing hitam liar yang datang ke pintu mereka lalu memanggil: “Wahai Suwaid, wahai Suwaid.” Keluarlah kepadanya kucing yang ada di rumah mereka. Kucing liar berkata kepadanya: “Celaka engkau! Bukakan.” Ia berkata: “Aku tidak bisa.” Ia berkata: “Celaka engkau! Datangkan kepadaku sesuatu yang bisa aku jadikan bekal karena aku lapar dan lelah, ini waktuku datang dari Kufah, dan telah terjadi malam ini peristiwa besar, Ali bin Abi Thalib terbunuh.” Ia berkata: Maka kucing rumahan berkata kepadanya: “Demi Allah, tidak ada di sini sesuatu kecuali telah disebutkan nama Allah atasnya selain tusuk sate yang mereka gunakan untuk memanggang daging.” Ia berkata: “Datangkan kepadaku itu.” Maka ia datang dengannya dan mulai menjilatnya hingga mengambil kebutuhannya dan pergi. Itu disaksikan dan didengar oleh anak itu. Ia berdiri ke pintu dan mengetuknya, ayahnya keluar kepadanya dan berkata: “Siapa?” Ia berkata kepadanya: “Bukakan.” Ia berkata: “Celaka engkau! Ada apa?” Ia berkata: “Bukakan.” Maka ia membukakan dan ia menceritakan kepadanya berita apa yang ia lihat. Ayahnya berkata kepadanya: “Celaka engkau! Apakah ini mimpi?” Ia berkata: “Tidak demi Allah.” Ia berkata: “Celaka engkau! Apakah engkau terkena kegilaan setelahku?” Ia berkata: “Tidak demi Allah, tetapi perkara itu seperti yang aku gambarkan untukmu, maka pergilah sekarang kepada Muawiyah dan ambillah jasa di sisinya dengan apa yang aku katakan kepadamu.” Laki-laki itu pergi meminta izin kepada Muawiyah dan memberitahukan berita itu sebagaimana yang disebutkan anaknya. Mereka mencatat itu di sisi mereka sebelum datangnya pos, dan ketika pos datang mereka menemukan apa yang mereka kabarkan itu sesuai dengan apa yang telah diberitakan ayah anak itu. Ini ringkasan apa yang disebutkannya.

Abul Qasim Al-Baghawi berkata: Ali bin Al-Ja’d menceritakan kepada kami, Zuhair bin Mu’awiyah menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Amr bin Al-Asham, ia berkata: Aku berkata kepada Hasan bin Ali: “Sesungguhnya Syiah ini mengira bahwa Ali akan dibangkitkan sebelum hari kiamat.” Ia berkata: “Mereka berdusta demi Allah, mereka ini bukan Syiah. Seandainya kami mengetahui bahwa ia akan dibangkitkan, kami tidak akan menikahkan istri-istrinya dan tidak membagi hartanya.” Diriwayatkan oleh Asbath bin Muhammad, dari Mutharif, dari Abu Ishaq, dari Amr bin Al-Asham, dari Hasan bin Ali seperti itu.

Kekhilafahan Hasan bin Ali bin Abi Thalib, radhiyallahu anhuma

Telah kami sebutkan bahwa Ali radhiyallahu anhu ketika ditikam oleh Ibnu Muljam, mereka berkata kepadanya: “Tunjuklah khalifah pengganti wahai Amirul Mukminin.” Ia berkata: “Tidak, tetapi aku meninggalkan kalian sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meninggalkan kalian – maksudnya tanpa penunjukan khalifah – jika Allah menghendaki kebaikan bagi kalian, Dia akan mengumpulkan kalian pada orang terbaik di antara kalian, sebagaimana Dia mengumpulkan kalian pada orang terbaik di antara kalian setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Ketika ia wafat dan dishalatkan oleh putranya Hasan, karena ia adalah anak tertuanya, radhiyallahu anhum, dan dikuburkan sebagaimana telah kami sebutkan di Dar Al-Imarah di Kufah menurut pendapat yang benar dari pendapat orang-orang. Ketika selesai dari urusan ayahnya, orang pertama yang menghadap kepada Hasan bin Ali radhiyallahu anhu adalah Qais bin Sa’d bin Ubadah. Ia berkata kepadanya: “Ulurkan tanganmu, aku berbaiat kepadamu atas Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” Hasan diam, lalu ia membaiatnya kemudian orang-orang membaiatnya setelah itu. Itu terjadi pada hari Ali meninggal, dan kematiannya adalah hari ditikam menurut suatu pendapat, yaitu hari Jumat tanggal 17 Ramadhan tahun empat puluh. Ada yang mengatakan: ia baru meninggal dua hari setelah tikaman. Ada yang mengatakan: meninggal pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan sejak itu Hasan putranya menjadi penguasa.

Qais bin Sa’d adalah amir di Azerbaijan dengan pasukan empat puluh ribu pejuang yang telah membaiat Ali untuk mati. Ketika Ali meninggal, Qais bin Sa’d mendesak Hasan untuk bergerak memerangi penduduk Syam. Maka ia mencabut Qais dari keamiran Azerbaijan dan mengangkat Ubaidullah bin Abbas atasnya. Tidak ada dalam niat Hasan untuk memerangi siapa pun, tetapi mereka memaksanya atas pendapatnya. Mereka berkumpul dalam jumlah yang sangat besar yang tidak pernah terdengar sepertinya. Hasan bin Ali memerintahkan Qais bin Sa’d bin Ubadah pada pasukan depan dengan dua belas ribu di hadapannya, dan ia berjalan dengan pasukan mengikutinya menuju negeri Syam untuk memerangi Muawiyah dan penduduk Syam. Ketika ia melewati Al-Madain ia singgah di sana dan mengirim pasukan depan di hadapannya. Ketika ia berada di Al-Madain berkemah di luarnya, tiba-tiba berteriak seorang penyeru: “Ketahuilah bahwa Qais bin Sa’d bin Ubadah telah terbunuh.” Maka orang-orang bergerak dan sebagian mereka menjarah sebagian lainnya, hingga mereka menjarah tenda Hasan, hingga mereka menarik karpet yang ia duduki. Sebagian mereka menikamnya ketika ia naik kuda, tikaman yang melukainya. Hasan sangat membenci mereka. Kemudian ia naik kuda lalu masuk Istana Putih dari Al-Madain dan singgah di sana dalam keadaan terluka. Amir-nya di Al-Madain adalah Sa’d bin Mas’ud Ats-Tsaqafi, saudara Abu Ubaid pemilik Hari Jembatan. Ketika Hasan menetap di istana, Al-Mukhtar bin Abi Ubaid, semoga Allah melaknatnya, berkata kepada pamannya Sa’d bin Mas’ud: “Apakah engkau menginginkan kehormatan dan kekayaan?” Ia berkata: “Apa itu?” Ia berkata: “Engkau menangkap Hasan bin Ali lalu mengikatnya dan mengirimnya kepada Muawiyah.” Pamannya berkata kepadanya: “Semoga Allah melaknatmu dan melaknat apa yang engkau bawa! Apakah aku berkhianat kepada putra cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?!”

Ketika Hasan bin Ali melihat pasukannya bercerai-berai darinya, ia membenci mereka dan menulis saat itu kepada Muawiyah – ia telah berkuda dengan penduduk Syam lalu singgah di Maskin – menawarkan perdamaian di antara keduanya. Maka Muawiyah mengirim kepadanya Abdullah bin Amir dan Abdurrahman bin Samurah. Keduanya datang kepadanya di Kufah dan memberikan kepadanya apa yang ia inginkan dari harta. Ia mensyaratkan bahwa ia mengambil dari Baitul Mal Kufah lima juta dirham, dan bahwa kharaj Darabjird untuknya, dan bahwa Ali tidak dicaci ia mendengar. Jika itu dilakukan, ia turun dari kepemimpinan kepada Muawiyah, dan darah di antara kaum muslimin dijaga. Mereka berdamai atas itu dan kata bersatu di bawah Muawiyah, sebagaimana akan kami jelaskan dan rincikannya. Husain telah menyalahkan saudaranya Hasan atas pandangan ini, maka ia tidak menerimanya. Yang benar adalah dengan Hasan radhiyallahu anhu, sebagaimana akan kami sebutkan dalilnya sebentar lagi.

Kemudian Hasan bin Ali mengirim kepada amir pasukan depan Qais bin Sa’d agar mendengar dan taat kepada Muawiyah. Qais menolak menerima itu dan keluar dari ketaatan keduanya, dan menyendiri dengan yang mentaatinya. Kemudian ia kembali dan membaiat Muawiyah setelah beberapa hari, sebagaimana akan kami sebutkan. Kemudian yang masyhur adalah bahwa baiat Hasan kepada Muawiyah adalah tahun empat puluh, dan karena itu disebut: Tahun Jamaah, karena kata bersatu padanya di bawah Muawiyah. Yang masyhur menurut Ibnu Jarir dan lainnya dari ulama sejarah bahwa itu adalah di awal tahun empat puluh satu sebagaimana akan kami sebutkan, insya Allah. Yang memimpin haji manusia tahun ini – yaitu tahun empat puluh – adalah Mughirah bin Syu’bah.

Ibn Jarir mengklaim berdasarkan riwayat dari Ismail bin Rasyid, bahwa Mughirah bin Syu’bah memalsukan surat atas nama Muawiyah yang menyebutkan bahwa ia telah diangkat sebagai pimpinan haji pada tahun itu, dan ia mendahului Utbah bin Abi Sufyan yang membawa surat dari saudaranya Muawiyah tentang kepemimpinan haji. Mughirah bersegera hingga ia memimpin orang-orang berwukuf pada hari kedelapan agar mendahului Utbah dalam kepemimpinan. Apa yang dikemukakan Ibn Jarir ini tidak dapat diterima, dan tidak patut disangka demikian terhadap Mughirah, semoga Allah meridhainya. Kami mengingatkan hal ini agar diketahui bahwa itu adalah kebatilan, dan Allah lebih mengetahui. Sebab para sahabat memiliki kedudukan yang lebih mulia dari hal itu, namun ini adalah pandangan Syiah.

Ibn Jarir berkata: Pada tahun ini dibai’atlah Muawiyah di Iliya. Maksudnya ketika Ali wafat, penduduk Syam bangkit membaiat Muawiyah sebagai amirul mukminin, karena tidak ada lagi saingan baginya di sisi mereka. Pada saat itu penduduk Irak mengangkat Hasan bin Ali, semoga Allah meridhainya, untuk melawan penduduk Syam, namun tidak terwujud apa yang mereka inginkan dan yang mereka upayakan. Kekalahan mereka disebabkan oleh strategi mereka yang buruk dan pendapat-pendapat mereka yang berbeda-beda yang menentang pemimpin mereka. Seandainya mereka mengetahui, niscaya mereka akan mengagungkan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada mereka berupa membaiat putra putri Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, yaitu pemimpin kaum muslimin, salah seorang ulama dan orang bijak sahabat serta pemilik pendapat yang matang. Dalil bahwa ia adalah salah seorang khalifah yang lurus adalah hadits yang telah kami kemukakan dalam Dalailun Nubuwwah dari berbagai jalur dari Safinah, budak Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, bahwa Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, bersabda: “Khilafah sepeninggalku tiga puluh tahun, kemudian akan menjadi kerajaan.” Tiga puluh tahun itu sempurna dengan khilafah Hasan bin Ali, semoga Allah meridhainya. Ia turun dari khilafah untuk Muawiyah pada bulan Rabiul Awal tahun empat puluh satu, dan itulah genap tiga puluh tahun dari wafatnya Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, karena beliau wafat pada bulan Rabiul Awal tahun sebelas Hijriah. Ini termasuk dalil kenabian yang paling besar. Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, telah memuji perbuatannya ini, yaitu meninggalkan dunia yang fana, keinginannya terhadap akhirat yang kekal, dan menjaga darah umat ini. Ia turun dari khilafah dan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah agar kata sepakat terkumpul pada satu pemimpin. Pujian ini telah kami sebutkan sebelumnya dan akan kami kemukakan dalam hadits Abu Bakrah Ats-Tsaqafi, bahwa Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, suatu hari naik ke mimbar dan Hasan bin Ali duduk di sampingnya. Beliau memandang kepada orang-orang sekali dan kepadanya sekali lagi, kemudian bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin, dan Allah akan mendamaikan dengannya antara dua kelompok besar kaum muslimin.” Diriwayatkan oleh Bukhari.

Kemudian Masuklah Tahun Empat Puluh Satu Hijriah

Ibn Jarir berkata: Pada tahun ini Hasan bin Ali menyerahkan urusan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. Kemudian ia meriwayatkan dari Az-Zuhri yang berkata: Ketika penduduk Irak membaiat Hasan bin Ali, ia mulai mensyaratkan kepada mereka: kalian mendengar dan taat, berdamai dengan siapa yang aku damaikan, berperang dengan siapa yang aku perangi. Penduduk Irak curiga kepadanya dan berkata: Ini bukan pemimpin kalian. Tidak lama kemudian mereka menikamnya hingga melukainya, maka bertambahlah kebenciannya kepada mereka dan ketakutannya dari mereka. Pada saat itulah ia mengetahui perpecahan dan perselisihan mereka terhadapnya, lalu ia menulis surat kepada Muawiyah untuk berdamai dengannya dan berkorespondensi dalam perdamaian antara keduanya mengenai apa yang mereka pilih.

Bukhari berkata dalam Kitabush Shulh: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Musa, ia berkata: Aku mendengar Hasan berkata: Demi Allah, Hasan bin Ali menghadapi Muawiyah bin Abi Sufyan dengan pasukan-pasukan yang bagaikan gunung-gunung. Amr bin Ash berkata: Aku melihat pasukan-pasukan yang tidak akan mundur hingga mereka membunuh lawan-lawan mereka. Muawiyah berkata, dan ia adalah sebaik-baik dua orang itu: Wahai Amr, jika orang-orang ini membunuh orang-orang itu, dan orang-orang itu membunuh orang-orang ini, siapa bagiku untuk mengurus urusan manusia? Siapa bagiku untuk anak-anak mereka? Siapa bagiku untuk perempuan-perempuan mereka? Maka ia mengutus kepadanya dua orang Quraisy dari Bani Abdisy Syams, yaitu Abdurrahman bin Samurah dan Abdullah bin Amir. Ia berkata: Pergilah kalian berdua kepada orang ini, tawarkan kepadanya, katakan kepadanya, dan mintalah kepadanya. Keduanya datang dan masuk menemuinya, lalu berbicara, berkata kepadanya, dan meminta kepadanya. Hasan bin Ali berkata kepada keduanya: Sesungguhnya kami Bani Abdul Muththalib telah mendapatkan dari harta ini, dan sesungguhnya umat ini telah bergelimang dalam darah mereka. Keduanya berkata: Maka ia menawarkan kepadamu begini dan begitu, meminta kepadamu dan memohon kepadamu. Ia berkata: Siapa yang menjamin ini untukku? Keduanya berkata: Kami berdua yang menjamin untukmu. Apa pun yang ia minta kepada keduanya, mereka berkata: Kami berdua yang menjamin untukmu. Maka ia berdamai dengannya. Hasan berkata: Sungguh aku mendengar Abu Bakrah berkata: Aku melihat Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, di atas mimbar dan Hasan bin Ali di sampingnya, dan beliau memandang kepada orang-orang sekali dan kepadanya sekali lagi, dan bersabda: “Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin, dan mudah-mudahan Allah mendamaikan dengannya antara dua kelompok besar kaum muslimin.” Bukhari berkata: Ali bin Madini berkata kepadaku: Sesungguhnya yang tetap pada kami adalah pendengarnya Hasan dari Abu Bakrah dengan hadits ini.

Aku (penulis) berkata: Hadits ini telah diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitabul Fitan dari Ali bin Abdullah, yaitu Ibnu Madini, dan dalam Fadhaailul Hasan dari Shadaqah bin Fadhl, ketiganya dari Sufyan. Diriwayatkan juga oleh Ahmad dari Sufyan, yaitu Ibnu Uyainah, dari Israil bin Musa Al-Bashri dengannya. Diriwayatkan juga dalam Dalailun Nubuwwah dari Abdullah bin Muhammad, yaitu Ibnu Abi Syaibah, dan Yahya bin Adam, keduanya dari Husain bin Ali Al-Ju’fi, dari Israil, dari Hasan, yaitu Al-Bashri, dengannya. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dan An-Nasai dari hadits Hammad bin Zaid, dari Ali bin Zaid, dari Hasan Al-Bashri dengannya. Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dari jalur Asy’ats, dari Hasan dengannya. Tirmidzi berkata: Hasan shahih. Diriwayatkan oleh An-Nasai dari jalur Auf Al-A’rabi dan lainnya, dari Hasan Al-Bashri secara mursal.

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar, telah mengabarkan kepadaku orang yang mendengar Hasan menceritakan dari Abu Bakrah, ia berkata: Nabi, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, suatu hari berbicara kepada kami sedangkan Hasan bin Ali di pangkuannya. Beliau memandang kepada para sahabatnya dan berbicara kepada mereka, kemudian memandang kepada Hasan dan menciumnya, kemudian bersabda: “Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin, jika ia hidup ia akan mendamaikan antara dua kelompok kaum muslimin.” Al-Hafizh Ibnu Asakir berkata: Demikianlah diriwayatkan oleh Ma’mar, dan ia tidak menyebutkan nama orang yang menceritakannya dari Hasan. Telah meriwayatkannya sekelompok orang dari Hasan, di antaranya: Abu Musa Israil, Yunus bin Ubaid, Manshur bin Zadzhan, Ali bin Zaid, Hisyam bin Hassan, Asy’ats bin Sawar, Al-Mubarak bin Fadhalah, dan Amr bin Ubaid Al-Qadari. Kemudian Ibnu Asakir memulai merinci semua jalur riwayat ini, maka ia memberikan manfaat dan melakukan dengan baik.

Aku (penulis) berkata: Yang tampak adalah Ma’mar meriwayatkannya dari Amr bin Ubaid namun tidak menyebut namanya dengan jelas, dan telah meriwayatkannya Muhammad bin Ishaq bin Yasar darinya dan menyebutkan namanya. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Hasyim, dari Mubarak bin Fadhalah, dari Hasan, dari Abu Bakrah, lalu menyebutkan hadits. Hasan berkata: Demi Allah, demi Allah, setelah ia memegang pemerintahan, tidak tertumpah dalam khilafahnya darah sepenuh bekam pun. Syaikh kami Abul Hajjaj Al-Mizzi berkata dalam Al-Athraf: Telah meriwayatkannya sebagian mereka dari Hasan, dari Ummu Salamah.

Hadits ini telah diriwayatkan dari jalur Jabir bin Abdullah Al-Anshari, semoga Allah meridhainya. Yahya bin Ma’in berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Said Al-Umawi, dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, bersabda kepada Hasan: “Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin, Allah akan mendamaikan dengannya antara dua kelompok kaum muslimin.” Demikian juga diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Mughirah, dari Al-A’masy dengannya.

Telah meriwayatkannya yang lain dari Abu Hurairah. Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shalih At-Tammar Al-Madani, telah menceritakan kepada kami Muslim bin Abi Maryam, dari Said bin Abi Said Al-Madani, ia berkata: Kami bersama Abu Hurairah, tiba-tiba Hasan bin Ali datang dan mengucapkan salam, kami menjawab salamnya, dan Abu Hurairah tidak mengetahuinya lalu ia berlalu. Kami berkata: Wahai Abu Hurairah, ini Hasan bin Ali telah mengucapkan salam kepada kami. Ia (Abu Hurairah) mengikutinya dan menyusulnya, lalu berkata: Wa’alaikassalam wahai tuanku. Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, bersabda: “Sesungguhnya ia adalah pemimpin.” Abul Hasan Ali bin Muhammad Al-Madaini berkata: Penyerahan urusan oleh Hasan kepada Muawiyah adalah pada tanggal lima Rabiul Awal tahun empat puluh satu. Yang lain berkata: Pada bulan Rabiuts Tsani. Dikatakan: Pada awal bulan Jumadal Ula, maka Allah lebih mengetahui. Ia berkata: Pada saat itulah Muawiyah masuk ke Kufah dan berkhutbah kepada orang-orang di sana setelah baiat.

Ibnu Jarir menyebutkan bahwa Amr bin Ash menyarankan kepada Muawiyah agar memerintahkan Hasan bin Ali untuk berkhutbah kepada orang-orang dan memberitahukan kepada mereka tentang turunnya ia dari urusan kepada Muawiyah. Muawiyah memerintahkan Hasan, maka ia berdiri di hadapan orang-orang sebagai khatib. Ia berkata dalam khutbahnya setelah memuji Allah dan menyanjungNya serta bershalawat kepada RasulNya, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya: Amma ba’du, wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepada kalian dengan orang pertama kami, dan menjaga darah kalian dengan orang terakhir kami, dan sesungguhnya urusan ini memiliki masa, dan dunia itu berganti-ganti, dan sesungguhnya Allah berfirman kepada NabiNya, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya: “Dan aku tidak mengetahui, boleh jadi itu adalah cobaan bagi kalian dan kesenangan sampai waktu tertentu.” (Surat Al-Anbiya: 111) Ketika ia mengatakannya, Muawiyah marah dan memerintahkannya untuk duduk, dan mencela Amr bin Ash atas sarannya tersebut, dan hal itu tetap dalam hati Muawiyah terhadapnya. Allah lebih mengetahui.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Jami’nya: Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Ath-Thayalisi, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin Fadhl Al-Hadani, dari Yusuf bin Sa’d, ia berkata: Seorang laki-laki berdiri menghadap Hasan bin Ali setelah ia membaiat Muawiyah, lalu berkata: Engkau telah menghitamkan wajah orang-orang beriman – atau: Wahai penghitam wajah orang-orang beriman – maka ia berkata: Jangan mencela aku, semoga Allah merahmatimu, karena sesungguhnya Nabi, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, ditunjukkan Bani Umayyah di atas mimbarnya, maka hal itu menyedihkannya, lalu turunlah: “Sesungguhnya Kami telah memberimu Al-Kautsar” wahai Muhammad. Yakni sungai di surga, dan turunlah: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan” yang akan memerintah sepeninggalmu Bani Umayyah wahai Muhammad. Al-Qasim berkata: Maka kami hitung ternyata itu adalah seribu bulan, tidak bertambah sehari dan tidak berkurang. Kemudian Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Al-Qasim bin Fadhl, dan ia adalah tsiqah, dipercaya oleh Yahya Al-Qaththan dan Ibnu Mahdi. Ia berkata: Dan syaikhnya Yusuf bin Sa’d – dan dikatakan: Yusuf bin Mazan – adalah orang yang majhul. Ia berkata: Dan tidak diketahui hadits ini dengan lafazh ini kecuali dari jalur ini. Maka sesungguhnya itu adalah hadits gharib bahkan sangat mungkar. Kami telah membahasnya dalam kitab Tafsir dengan apa yang mencukupi, dan kami telah menjelaskan sisi kemungkarannya, dan mendiskusikan Al-Qasim bin Fadhl tentang apa yang disebutkannya. Barangsiapa menginginkan itu maka hendaknya ia merujuk kepada Tafsir, dan Allah lebih mengetahui.

Al-Hafizh Abu Bakar Al-Khatib Al-Baghdadi berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mukhlad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim Al-Hakimi, telah menceritakan kepada kami Abbas bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muawiyah, telah menceritakan kepada kami Abu Rauq Al-Hamdani, telah menceritakan kepada kami Abul Gharif, ia berkata: Kami berada di garda depan Hasan bin Ali berjumlah dua belas ribu orang di Maskan, siap mati, pedang-pedang kami menetes karena kesungguhan untuk memerangi penduduk Syam dan pemimpin kami adalah Abu Al-Amrathah. Ketika datang kepada kami perdamaian Hasan bin Ali, seakan-akan punggung kami patah karena amarah. Ketika Hasan bin Ali tiba di Kufah, seorang laki-laki dari kami yang bernama Abu Amir Sufyan bin Al-Lail berkata kepadanya: Assalamu’alaikum wahai penghinaan orang-orang beriman. Ia berkata: Jangan katakan demikian wahai Abu Amir, aku bukanlah penghinaan orang-orang beriman, tetapi aku tidak suka membunuh mereka demi kekuasaan.

Ketika Muawiyah menguasai negeri dan memasuki Kufah lalu berkhutbah di sana, dan seluruh wilayah serta penjuru negeri bersatu di bawah kepemimpinannya, dan Qais bin Sa’d—salah satu orang cerdik dari bangsa Arab yang sebelumnya telah bertekad untuk berpecah belah—kembali kepadanya, dan pada saat itu tercapai kesepakatan dan konsensus dalam bai’at kepada Muawiyah, maka berangkatlah Hasan bin Ali bersama saudaranya Husain dan saudara-saudara mereka yang lain serta putra paman mereka Abdullah bin Ja’far dari tanah Irak menuju tanah Madinah Nabawiyah, atas penghuninya shalawat dan salam yang terbaik. Setiap kali mereka melewati suatu kabilah dari pengikut mereka, orang-orang itu mencela Hasan atas tindakannya melepaskan kekuasaan kepada Muawiyah, padahal dalam hal ini ia benar, berbakti, bijaksana, dan terpuji. Ia tidak merasakan keberatan dalam hatinya, tidak ada celaan, dan tidak ada penyesalan, bahkan ia ridha dengan hal itu dan merasa gembira karenanya, meskipun hal ini menyedihkan banyak orang dari kerabat, keluarga, dan para pengikutnya, terutama setelah itu berlalu beberapa waktu, dan terus berlanjut hingga hari ini. Namun yang benar dalam hal ini adalah mengikuti Sunnah dan memuji Hasan atas tindakannya yang telah menjaga darah umat, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memujinya atas hal itu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya dalam hadits shahih, dan segala puji serta nikmat bagi Allah. Keutamaan-keutamaan Hasan akan disebutkan nanti ketika menyebutkan wafatnya, semoga Allah meridhainya dan menghiasi surga Firdaus sebagai tempat kembali dan kediamannya, dan Allah telah melakukannya.

Muhammad bin Sa’d berkata: Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami dari ‘Ashim, dari Abu Razin, ia berkata: Hasan bin Ali berkhutbah kepada kami pada hari Jumat, lalu ia membaca surat Ibrahim di atas mimbar hingga selesai.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Hasan bahwa ia biasa membaca surat Al-Kahfi setiap malam di atas lempengan kayu yang tertulis, yang dibawa bersamanya ke mana pun ia pergi di rumah-rumah istri-istrinya sebelum tidur, sementara ia berada di tempat tidurnya, semoga Allah meridhainya.

Penyebutan Masa-Masa Muawiyah bin Abi Sufyan, Semoga Allah Meridhainya, dan Kerajaannya

Telah disebutkan sebelumnya dalam hadits bahwa khilafah setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tiga puluh tahun, kemudian akan menjadi kerajaan. Tiga puluh tahun itu telah berlalu dengan khilafah Hasan bin Ali, maka masa Muawiyah adalah awal kerajaan, sehingga ia adalah raja Islam yang pertama dan yang terbaik dari mereka.

Ath-Thabrani berkata: Ali bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, Ahmad bin Yunus menceritakan kepada kami, Al-Fudhail bin ‘Iyadh menceritakan kepada kami dari Laits, dari Abdurrahman bin Sabit, dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani, dari Mu’adz bin Jabal dan Abu Ubaidah, keduanya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersaid: “Sesungguhnya urusan ini dimulai dengan rahmat dan kenabian, kemudian akan menjadi rahmat dan khilafah, kemudian akan menjadi kerajaan yang menggigit, kemudian akan menjadi kesewenangan, tirani, dan kerusakan di muka bumi, mereka menghalalkan sutera, kemaluan, dan khamr, dan mereka diberi rezeki atas hal itu dan ditolong hingga mereka menemui Allah Azza wa Jalla.” Sanadnya baik.

Kami telah menyebutkan dalam Dalailun Nubuwwah hadits yang diriwayatkan dari jalan Ismail bin Ibrahim bin Muhajir—dan di dalamnya ada kelemahan—dari Abdul Malik bin Umair, ia berkata: Muawiyah berkata: Demi Allah, tidak ada yang mendorongku kepada khilafah kecuali perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku: “Wahai Muawiyah, jika engkau berkuasa maka berbuatbaiklah.” Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim dari Al-Asham dari Abbas bin Muhammad dari Muhammad bin Sabiq dari Yahya bin Zakaria bin Abi Zaidah dari Ismail.

Kemudian Al-Baihaqi berkata: Dan hadits ini memiliki penguat dari beberapa jalur lain, di antaranya hadits Amr bin Yahya bin Sa’id bin Al-‘Ash dari kakeknya Sa’id bahwa Muawiyah mengambil tempat air lalu mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi memandangnya dan berkata kepadanya: “Wahai Muawiyah, jika engkau memimpin suatu urusan maka bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah.” Sa’id berkata: Muawiyah berkata: “Aku tidak pernah berhenti mengira bahwa aku akan diuji dengan suatu pekerjaan karena perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Di antaranya juga hadits Rasyid bin Sa’d dari Muawiyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya jika engkau mengikuti aib orang-orang, niscaya engkau akan merusak mereka.” Abu Darda berkata: Ini adalah kalimat yang didengar Muawiyah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah memberinya manfaat dengannya.

Kemudian Al-Baihaqi meriwayatkan dari jalan Husyaim dari Al-‘Awwam bin Hausyab dari Sulaiman bin Abi Sulaiman dari ayahnya dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Khilafah di Madinah, dan kerajaan di Syam.” Sangat gharib (langka).

Dan ia meriwayatkan dari jalan Abu Idris dari Abu Darda, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika aku sedang tidur, aku melihat tiang kitab diangkat dari bawah kepalaku, maka aku mengira ia akan dibawa pergi, lalu aku mengikutinya dengan pandanganku, ternyata ia dibawa menuju ke Syam. Ketahuilah bahwa iman ketika terjadi fitnah adalah di Syam.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Sa’id bin Abdul Aziz dari Athiyyah bin Qais dan Yunus bin Maisarah dari Abdullah bin Amr. Dan diriwayatkan oleh Al-Walid bin Muslim dari Ufair bin Ma’dan dari Sulaim bin ‘Amir dari Abu Umamah.

Ya’qub bin Sufyan meriwayatkan dari Nashr bin Muhammad bin Sulaiman As-Sulami Al-Himshi dari ayahnya dari Abdullah bin Abi Qais: Aku mendengar Umar bin Al-Khaththab berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat tiang cahaya keluar dari bawah kepalaku memancar tinggi hingga menetap di Syam.”

Abdurrazaq berkata dari Ma’mar dari Az-Zuhri dari Abdullah bin Shafwan, ia berkata: Seorang laki-laki berkata pada hari Shiffin: “Ya Allah, laknatlah penduduk Syam.” Maka Ali berkata kepadanya: “Jangan kau caci penduduk Syam secara keseluruhan, karena di sana ada Al-Abdal (orang-orang pilihan), di sana ada Al-Abdal, di sana ada Al-Abdal.” Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain secara marfu’.

Keutamaan Muawiyah bin Abi Sufyan, Semoga Allah Meridhainya

Ia adalah Muawiyah bin Abi Sufyan Shakhr bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay, Abu Abdurrahman Al-Qurasyi Al-Umawi, paman kaum mukminin, dan penulis wahyu Rabb semesta alam. Ia masuk Islam bersama ayahnya dan ibunya Hindun binti Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams pada hari pembukaan Mekkah. Diriwayatkan dari Muawiyah bahwa ia berkata: Aku masuk Islam pada hari Umrah Qadha, tetapi aku menyembunyikan keislamanku dari ayah dan ibuku hingga hari pembukaan Mekkah. Ayahnya adalah salah satu pemimpin Quraisy di masa Jahiliyah, dan kepemimpinan Quraisy berpindah kepadanya setelah hari Badar, maka ia menjadi panglima perang dari pihak mereka. Ia adalah pemimpin yang ditaati dan memiliki harta yang banyak. Ketika ia masuk Islam, ia berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkan aku agar aku memerangi orang-orang kafir sebagaimana aku dulu memerangi kaum muslimin.” Nabi bersabda: “Baik.” Ia berkata: “Dan jadikan Muawiyah sebagai penulismu.” Nabi bersabda: “Baik.” Kemudian ia meminta agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi putrinya yang lain, yaitu Azzah binti Abi Sufyan, dan ia meminta bantuan dalam hal itu kepada saudarinya Ummu Habibah, tetapi hal itu tidak terjadi, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepadanya bahwa hal itu tidak halal baginya. Kami telah membahas hadits ini di beberapa tempat, dan kami telah menyusun karya khusus tentangnya, segala puji dan nikmat bagi Allah.

Yang dimaksud adalah bahwa Muawiyah adalah penulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama penulis-penulis wahyu yang lain, semoga Allah meridhai mereka. Ketika Syam ditaklukkan, Umar mengangkatnya sebagai wakil Damaskus setelah saudaranya Yazid bin Abi Sufyan, dan Utsman bin Affan menetapkannya dalam jabatan tersebut serta menambahkan wilayah-wilayah lain kepadanya. Dialah yang membangun kubah hijau di Damaskus dan tinggal di sana selama empat puluh tahun, demikian kata Al-Hafizh Ibnu Asakir. Ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, banyak komandannya yang terlibat dalam pembunuhan Utsman menyarankan agar ia memberhentikan Muawiyah dari Syam dan mengangkat Sahl bin Hunaif, maka ia memberhentikannya tetapi pemberhentiannya tidak berlaku, dan sekelompok penduduk Syam berkumpul di sekitar Muawiyah dan membela Syam untuknya. Muawiyah telah berkata: “Aku tidak akan membai’atnya hingga ia menyerahkan kepadaku pembunuh-pembunuh Utsman, karena ia dibunuh secara zalim, dan Allah Ta’ala telah berfirman: ‘Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya.'” (QS. Al-Isra: 33)

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: “Aku tidak pernah berhenti yakin bahwa Muawiyah akan memimpin kerajaan dan kekuasaan karena ayat ini.” Kami telah menyebutkan sanad dan matannya ketika menafsirkan ayat ini. Ketika Muawiyah menolak untuk membai’at Ali hingga Ali menyerahkan para pembunuh, terjadilah peristiwa Shiffin sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, kemudian urusan berakhir dengan tahkim (arbitrase), maka terjadilah peristiwa antara Amr bin Al-‘Ash dan Abu Musa sebagaimana telah kami ceritakan tentang kuatnya posisi penduduk Syam secara lahiriah, dan urusan Muawiyah menjadi sangat kuat, sementara urusan Ali terus dalam perselisihan dengan para sahabatnya hingga Ibnu Muljam membunuhnya sebagaimana telah disebutkan. Setelah itu penduduk Irak membai’at Hasan bin Ali, dan penduduk Syam membai’at Muawiyah bin Abi Sufyan. Kemudian Hasan berangkat dengan pasukan Irak tanpa keinginan darinya, dan Muawiyah berangkat dengan penduduk Syam. Ketika kedua pasukan berhadapan dan kedua kelompok bertemu, orang-orang berusaha mendamaikan di antara mereka, hingga situasi berakhir dengan Hasan melepaskan dirinya dari khilafah dan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. Hal itu terjadi pada bulan Rabiul Awwal tahun ini—maksudnya tahun empat puluh satu—dan Muawiyah masuk ke Kufah lalu berkhutbah kepada orang-orang di sana dengan khutbah yang fasih setelah orang-orang membai’atnya, dan seluruh wilayah bersatu di bawahnya dari timur hingga barat, dekat maupun jauh. Tahun ini dinamai tahun Al-Jama’ah (tahun persatuan), karena bersatunya kata di bawah satu pemimpin setelah perpecahan. Muawiyah mengangkat Fadhalah bin Ubaid sebagai hakim Syam, kemudian setelahnya Abu Idris Al-Khaulani, dan kepala polisinya adalah Qais bin Hamzah, sedangkan penulisnya dan pengurus urusannya adalah Sarjun bin Manshur Ar-Rumi. Dikatakan bahwa ia adalah orang pertama yang mengadakan pasukan penjaga, dan orang pertama yang membundel surat-surat dan menyegelnya.

Peristiwa Pertama dalam Pemerintahannya, Semoga Allah Meridhainya

Keluarnya Sekelompok Khawarij Menentangnya

Penyebab hal itu adalah ketika Muawiyah memasuki Kufah dan Hasan beserta keluarganya keluar darinya menuju Hijaz, sekelompok Khawarij sekitar lima ratus orang berkata: “Telah datang hal yang tidak diragukan lagi, maka berjalanlah menuju Muawiyah dan perangilah dia.” Mereka berjalan hingga mendekati Kufah dengan dipimpin oleh Farwah bin Naufal. Muawiyah mengirim pasukan berkuda dari penduduk Syam kepada mereka, tetapi mereka mengusir orang-orang Syam itu. Maka Muawiyah berkata kepada penduduk Kufah: “Tidak ada jaminan keamanan bagi kalian dari sisi saya hingga kalian menghentikan malapetaka kalian.” Maka mereka keluar menuju Khawarij, dan Khawarij berkata kepada mereka: “Celakalah kalian, apa yang kalian inginkan? Bukankah Muawiyah adalah musuh kalian dan musuh kami? Biarkanlah kami hingga kami memeranginya, jika kami membunuhnya berarti kami telah menyelamatkan kalian darinya, dan jika ia membunuh kami berarti kalian telah terbebas dari kami.” Mereka berkata: “Tidak, demi Allah, hingga kami memerangi kalian.” Khawarij berkata: “Semoga Allah merahmati saudara-saudara kami dari penduduk Nahrawan, mereka lebih mengenal kalian wahai penduduk Kufah.” Maka terjadilah pertempuran dan penduduk Kufah mengalahkan mereka dan mengusir mereka. Kemudian Muawiyah ingin mengangkat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash sebagai wakil di Kufah, tetapi Al-Mughirah bin Syu’bah berkata kepadanya: “Apakah engkau akan mengangkatnya di Kufah sementara ayahnya di Mesir, dan engkau akan berada di antara dua rahang singa?” Maka ia membatalkan niatnya, dan mengangkat Al-Mughirah bin Syu’bah di Kufah. Kemudian Amr bin Al-‘Ash bertemu dengan Muawiyah dan berkata: “Apakah engkau menjadikan Al-Mughirah atas pajak? Mengapa engkau tidak mengangkat orang lain untuk pajak?” Maka ia memberhentikannya dari pajak dan hanya mengangkatnya untuk shalat. Al-Mughirah berkata kepada Amr tentang hal itu, maka Amr berkata kepadanya: “Bukankah engkau yang menyarankan Amirul Mukminin tentang Abdullah bin Amr?” Ia berkata: “Ya.” Ia berkata: “Maka ini sebagai balasan atas itu.”

Pada tahun ini Hamran bin Aban menyerang Bashrah dan menguasainya serta mengendalikannya. Muawiyah mengirim pasukan kepadanya untuk membunuhnya dan orang-orang yang bersamanya. Abu Bakrah Ats-Tsaqafi datang kepada Muawiyah dan meminta kepadanya untuk memaafkan mereka, maka ia memaafkan dan membebaskan mereka. Ia mengangkat Busr bin Abi Artah sebagai wakil di Bashrah. Ia menguasai anak-anak Ziyad dan ingin membunuh mereka, karena Muawiyah telah menulis surat kepada ayah mereka agar datang kepadanya tetapi ia terlambat. Busr menulis kepadanya: “Jika engkau tidak segera datang kepada Amirul Mukminin, maka aku akan membunuh anak-anakmu.” Maka Abu Bakrah mengirim surat kepada Muawiyah tentang hal itu dan mengambil jaminan keamanan untuknya. Muawiyah berkata kepada Abu Bakrah: “Apakah ada janji yang engkau sampaikan kepada kami?” Ia berkata: “Ya, aku menyampaikan kepadamu wahai Amirul Mukminin agar engkau memperhatikan dirimu dan rakyatmu dan beramal shalih, karena sesungguhnya engkau telah memikul tanggung jawab yang besar, yaitu khilafah Allah pada makhluk-Nya, maka bertakwalah kepada Allah, karena engkau memiliki batas akhir yang tidak akan kau lampaui, dan di belakangmu ada penuntut yang cepat, dan engkau akan segera mencapai batas akhir itu, maka penuntut akan menyusul, dan engkau akan kembali kepada Dzat yang akan menanyaimu tentang apa yang engkau jalani, dan Dia lebih mengetahuinya darimu. Ini hanyalah perhitungan dan penghentian, maka janganlah engkau mengutamakan sesuatu atas keridhaan Allah.”

Kemudian pada akhir tahun ini Muawiyah mengangkat Abdullah bin Amir di Bashrah. Hal itu karena Muawiyah ingin mengangkat Utbah bin Abi Sufyan di sana, tetapi Ibnu Amir berkata kepadanya: “Aku memiliki harta dan titipan di sana, dan jika engkau tidak mengangkatku maka aku akan binasa.” Maka ia mengangkatnya dan mengabulkan permintaannya dalam hal itu.

Abu Ma’syar berkata: Yang mengimami haji orang-orang pada tahun ini adalah Utbah bin Abi Sufyan. Al-Waqidi berkata: Yang mengimami mereka adalah Anbasah bin Abi Sufyan. Wallahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui).

Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini

Rifa’ah bin Rafi’ bin Malik bin Al-‘Ajlan: ia menyaksikan Aqabah, Badar, dan perang-perang sesudahnya.

Rukanah bin Abdul Aziz bin Hasyim bin Al-Muththalib Al-Qurasyi, yaitu orang yang digulat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi mengalahkannya. Rukanah adalah salah satu orang yang paling kuat, dan kemenangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menggulatnya adalah termasuk mukjizat, sebagaimana telah kami sebutkan dalam Dalailun Nubuwwah. Ia masuk Islam pada tahun pembukaan Mekkah, dan ada yang mengatakan sebelum itu di Mekkah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggulatnya. Wallahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui).

Shafwan bin Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah, Abu Wahb Al-Quraisyi, salah seorang pemimpin. Telah disebutkan sebelumnya bahwa ia melarikan diri pada hari pembebasan Makkah, kemudian datang dan masuk Islam dengan keislaman yang baik. Yang memintakan jaminan keamanan untuknya adalah Umair bin Wahb Al-Jumaḥi, yang merupakan temannya dan sahabatnya di masa Jahiliyyah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Ia membawanya pada waktu salat Asar dan memintakan jaminan keamanan untuknya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberinya jaminan keamanan selama empat bulan. Nabi shallallahu alaihi wasallam meminjam darinya baju besi, senjata, dan harta. Shafwan menghadiri perang Hunain dalam keadaan masih musyrik, kemudian ia masuk Islam dan iman masuk ke dalam hatinya, sehingga ia menjadi salah seorang pembesar kaum muslimin, sebagaimana ia dahulu merupakan pembesar di masa Jahiliyyah. Al-Waqidi berkata: Shafwan terus menetap di Makkah hingga meninggal di sana pada awal kekhalifahan Muawiyah.

Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah bin Abdul Uzza bin Utsman bin Abd Ad-Dar Al-Abdari Al-Hajabi, ia masuk Islam bersama Khalid bin Walid dan Amr bin Al-Ash pada awal tahun delapan sebelum pembebasan Makkah. Al-Waqidi telah meriwayatkan hadits panjang darinya tentang kisah keislamannya. Dialah yang diambil oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kunci Kakbah darinya pada tahun pembebakan Makkah, kemudian mengembalikannya kepadanya sambil membaca firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (An-Nisa: 58). Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ambillah wahai Utsman, kekal dan turun-temurun, tidak akan diambil darimu kecuali oleh orang yang zalim.” Ali pernah memintanya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, namun Nabi menolak memberikannya.

Al-Waqidi berkata: Ia pindah ke Madinah pada masa hidup Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tetapi ketika Nabi wafat ia kembali ke Makkah, dan terus berada di sana hingga meninggal pada awal kekhalifahan Muawiyah.

Amr bin Al-Aswad Al-Ansi: Ia termasuk ahli ibadah dan zuhud. Ia memiliki pakaian seharga dua ratus dirham yang dipakainya ketika berdiri untuk salat malam. Ketika keluar ke masjid, ia meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya karena takut sombong. Ia meriwayatkan dari Muadz, Ubadah bin Ash-Shamit, Al-Irbadh bin Sariyah dan lainnya.

Ahmad berkata dalam kitab “Az-Zuhd”: Abu Al-Yaman menceritakan kepada kami, Abu Bakar menceritakan kepada kami, dari Hakim bin Umair dan Dhamrah bin Habib, keduanya berkata: Umar bin Al-Khaththab berkata: Barangsiapa ingin melihat petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka lihatlah petunjuk Amr bin Al-Aswad.

Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdul Uzza: Ia adalah saudara perempuan Said bin Zaid, salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Ia masuk Islam dan berhijrah, dan termasuk wanita cantik dan ahli ibadah. Abdullah bin Abi Bakar menikahinya dan sangat mencintainya. Ketika Abdullah gugur sebagai syahid dalam perang Thaif, ia bersumpah tidak akan menikah lagi setelahnya. Umar bin Al-Khaththab—yang merupakan sepupunya—mengutus orang kepadanya dan menikahinya. Ketika Umar terbunuh, setelahnya Az-Zubair bin Al-Awwam menikahinya, namun ia juga terbunuh di Wadi As-Siba’. Ali bin Abi Thalib mengutus orang kepadanya untuk melamarnya, namun ia berkata kepadanya: Aku khawatir engkau akan terbunuh. Ia menolak untuk menikahinya, dan seandainya ia menikahinya niscaya Ali juga akan terbunuh. Kemudian ia tetap tanpa suami hingga meninggal pada awal kekhalifahan Muawiyah pada tahun ini, semoga Allah merahmatinya.

Kemudian Masuk Tahun Empat Puluh Dua

Pada tahun ini kaum muslimin menyerang Al-Lan dan Romawi, mereka membunuh banyak dari para panglima dan komandan mereka, mendapat ghanimah dan selamat.

Pada tahun ini Muawiyah mengangkat Marwan bin Al-Hakam sebagai wali Madinah, Khalid bin Al-Ash bin Hisyam sebagai wali Makkah, Al-Mughirah bin Syubah sebagai wali Kufah, Syuraih Al-Qadhi sebagai hakim di Kufah, Abdullah bin Amir sebagai wali Bashrah, dan Qais bin Al-Haitsam sebagai wali Khurasan atas perintah Abdullah bin Amir. Marwan mengangkat Abdullah bin Al-Harits sebagai hakim di Madinah, dan Umairah bin Yatsribi sebagai hakim di Bashrah.

Pada tahun ini kelompok Khawarij yang telah diampuni Ali pada hari Nahrawan mulai bergerak, setelah orang-orang yang terluka sembuh dan kekuatan mereka pulih. Ketika mereka mendengar terbunuhnya Ali, mereka mendoakan rahmat untuk pembunuhnya Ibnu Muljam. Salah seorang dari mereka berkata: Semoga Allah tidak memotong tangan yang mengayunkan pedang ke ubun-ubun Ali. Mereka memuji Allah atas terbunuhnya Ali, kemudian bertekad untuk keluar melawan manusia, dan sepakat untuk melakukan amar makruf nahi munkar menurut anggapan mereka.

Pada tahun ini Ziyad bin Abihi datang kepada Muawiyah, setelah ia bertahan melawannya hampir satu tahun di sebuah benteng yang dikenal dengan namanya yaitu Benteng Ziyad. Muawiyah menulis kepadanya: Apa yang membuatmu ingin menghancurkan dirimu sendiri? Datanglah kepadaku dan beritahukan kepadaku tentang harta negeri Persia yang sampai kepadamu, apa yang telah kamu belanjakan darinya dan apa yang masih tersisa padamu, bawalah itu kepadaku dan kamu aman. Jika kamu ingin tinggal bersama kami silakan, dan jika tidak kamu boleh pergi ke manapun kamu mau di muka bumi ini dan kamu tetap aman. Maka Ziyad pun memutuskan untuk pergi menemui Muawiyah. Ketika Al-Mughirah mendengar kedatangannya, ia khawatir Ziyad bertemu dengan Muawiyah sebelum dirinya, maka ia pun pergi menuju Damaskus menemui Muawiyah. Namun Ziyad mendahului Al-Mughirah bertemu Muawiyah dengan selisih satu bulan. Muawiyah berkata kepada Al-Mughirah: Bagaimana bisa dia lebih jauh darimu namun datang sebulan lebih dulu? Al-Mughirah menjawab: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ia menunggu tambahan, sedangkan aku menunggu pengurangan. Muawiyah memuliakan Ziyad, menerima harta yang dibawanya, dan membenarkan apa yang telah ia belanjakan dan apa yang tersisa padanya.

Kemudian Masuk Tahun Empat Puluh Tiga

Pada tahun ini Busr bin Abi Arthaah menyerang negeri Romawi, ia menembus jauh hingga mencapai kota Konstantinopel, dan menghabiskan musim dingin di negeri mereka menurut pernyataan Al-Waqidi, namun yang lain mengingkari hal itu dan berkata: Tidak ada musim dingin di sana bagi siapapun. Wallahu a’lam.

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun ini meninggal Amr bin Al-Ash di Mesir, dan Muhammad bin Maslamah. Penulis berkata: Kami akan menyebutkan biografi masing-masing dari keduanya di akhir tahun ini.

Muawiyah mengangkat putra Amr bin Al-Ash yaitu Abdullah bin Amr sebagai wali Mesir setelah Amr bin Al-Ash. Al-Waqidi berkata: Ia menjabat selama dua tahun.

Pada tahun ini—yaitu tahun empat puluh tiga—terjadi peperangan besar antara kelompok Khawarij dengan pasukan Kufah. Sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, mereka bertekad untuk keluar melawan manusia pada waktu ini. Mereka berkumpul sekitar tiga ratus orang, dipimpin oleh Al-Mustawrid bin Alfah. Al-Mughirah bin Syubah mengirim pasukan kepada mereka yang dipimpin oleh Muqil bin Qais dengan tiga ribu pasukan. Ia berangkat menuju mereka, dan mengutus Abu Ar-Rawwagh di garda depan dengan tiga ratus pasukan, sama dengan jumlah Khawarij. Abu Ar-Rawwagh bertemu mereka di tempat bernama Al-Madzar. Mereka berperang, Khawarij mengalahkan mereka, kemudian mereka balik menyerang lagi namun Khawarij tetap mengalahkan mereka. Namun tidak ada yang terbunuh dari mereka, maka mereka tetap di tempat mereka berhadapan dengan Khawarij menunggu kedatangan panglima pasukan Muqil bin Qais. Muqil baru tiba di akhir hari setelah matahari terbenam. Ia turun dan salat bersama pasukannya, kemudian mulai memuji Abu Ar-Rawwagh. Abu Ar-Rawwagh berkata kepadanya: Wahai panglima, sesungguhnya mereka memiliki serangan yang dahsyat, maka jadilah engkau sebagai cadangan pasukan, dan perintahkan para pasukan berkuda untuk berperang di hadapanmu. Muqil bin Qais berkata: Baik apa yang engkau katakan. Tidak lama setelah ia mengatakan itu, Khawarij menyerang Muqil dan pasukannya, maka sebagian besar pasukannya berhamburan meninggalkannya. Muqil bin Qais turun dari kudanya dan berkata: Wahai kaum muslimin, tetaplah di bumi, tetaplah di bumi. Maka turunlah bersamanya sejumlah pasukan berkuda dan pemberani sekitar dua ratus penunggang kuda di antaranya Abu Ar-Rawwagh Asy-Syakiri. Al-Mustawrid bin Alfah, panglima Khawarij, menyerang mereka bersama pasukannya, namun mereka menyambut dengan tombak dan pedang. Sebagian pasukan berkuda menyusul sisa pasukan, lalu memperingatkan mereka, mencela mereka, dan menegur mereka atas pelarian mereka. Maka orang-orang kembali kepada Muqil dan ia sedang berperang melawan Khawarij bersama orang-orang yang bersamanya dengan peperangan yang sengit. Orang-orang terus berdatangan kembali di sepanjang malam, maka Muqil bin Qais menyusun mereka dalam barisan sayap kanan dan sayap kiri, menata mereka dan berkata: Jangan beranjak dari barisan kalian hingga pagi tiba lalu kita serang mereka. Ketika pagi tiba, Khawarij telah kalah dan kembali dari tempat mereka datang. Muqil mengejar mereka, dan mengutus Abu Ar-Rawwagh di depan dengan enam ratus pasukan. Mereka bertemu dengan Khawarij saat matahari terbit. Khawarij menyerang mereka, mereka saling bertarung sejenak, kemudian Khawarij menyerang sebagai satu kesatuan. Abu Ar-Rawwagh dan pasukannya bertahan menghadapi mereka. Ia terus memperingatkan mereka, melarang mereka dari pelarian, dan mendorong mereka untuk bersabar. Mereka pun bersabar dan benar-benar bertahan hingga mereka memukul mundur Khawarij ke tempat mereka. Ketika Khawarij melihat hal itu, mereka takut akan serangan Muqil kepada mereka yang pasti akan membunuh mereka, maka mereka melarikan diri hingga menyeberangi sungai Tigris dan sampai di tanah Bahurasir. Abu Ar-Rawwagh mengejar mereka, dan Muqil bin Qais menyusulnya. Khawarij sampai ke kota lama, maka Simak bin Ubaid, wali Al-Madain, menunggangi kuda menuju mereka, dan Abu Ar-Rawwagh dengan pasukan garda depannya menyusul mereka.

Pada tahun ini yang mengimami manusia dalam ibadah haji adalah Marwan bin Al-Hakam, wali Madinah.

Di antara yang meninggal pada tahun ini adalah Amr bin Al-Ash dan Muhammad bin Maslamah, semoga Allah meridhai keduanya.

Adapun Amr bin Al-Ash bin Wail bin Hasyim bin Said bin Sahm bin Amr bin Hushaysh bin Kaab bin Luay bin Ghalib Al-Quraisyi As-Sahmi, Abu Abdullah, ada yang mengatakan Abu Muhammad. Salah seorang pemimpin Quraisy di masa Jahiliyyah. Dialah yang diutus oleh mereka kepada Najasyi untuk mengembalikan kaum muslimin yang berhijrah ke negerinya, namun Najasyi tidak mengabulkan permintaan mereka karena keadilannya, dan ia menasihati Amr bin Al-Ash dalam hal itu. Dikatakan bahwa Najasyi masuk Islam melalui tangannya. Namun yang benar adalah bahwa ia masuk Islam enam bulan sebelum pembebasan Makkah bersama Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah Al-Abdari. Ia adalah salah seorang panglima Islam, ia adalah panglima perang Dzatus Salasil. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengiriminya bantuan yang dipimpin oleh Abu Ubaidah, bersamanya ada Ash-Shiddiq dan Umar Al-Faruq. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengangkatnya sebagai wali Oman, ia terus menjabat di sana sepanjang masa hidup Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Ash-Shiddiq tetap mempertahankannya di sana. At-Tirmidzi berkata: Qutaibah menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami, Masyrah bin Ha’an menceritakan kepada kami, dari Uqbah bin Amir ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Manusia masuk Islam dan Amr bin Al-Ash beriman.”

At-Tirmidzi juga berkata: Ishaq bin Manshur menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami, dari Nafi bin Umar Al-Jumaḥi, dari Ibnu Abi Mulaikah ia berkata: Thalhah bin Ubaidillah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Amr bin Al-Ash termasuk orang-orang saleh Quraisy.” Dalam hadits yang lain: “Kedua putra Al-Ash adalah mukmin.” Dan dalam hadits yang lain: “Sebaik-baik keluarga adalah Abdullah, Abu Abdullah, dan Umm Abdullah.” Mereka meriwayatkannya dalam keutamaan Amr bin Al-Ash.

Kemudian Ash-Shiddiq mengirimnya di antara para panglima pasukan yang dikirim ke Syam. Ia menyaksikan peperangan-peperangan di sana, dan memiliki pendapat-pendapat yang tepat, kedudukan yang terpuji, dan keadaan yang beruntung. Kemudian Umar mengirimnya ke Mesir dan ia menaklukkannya serta mengangkatnya sebagai wali di sana. Utsman bin Affan mempertahankannya selama empat tahun, kemudian memecatnya sebagaimana telah kami sebutkan, dan mengangkat Abdullah bin Saad bin Abi Sarh. Maka Amr mengasingkan diri di Palestina, dan ada sesuatu dalam hatinya terhadap Utsman, semoga Allah meridhai keduanya. Ketika Utsman terbunuh, ia pergi kepada Muawiyah dan menyaksikan semua peperangannya di Shiffin dan lainnya. Dialah salah seorang dari dua hakam. Kemudian ketika Muawiyah merebut kembali Mesir dan mengambilnya dari tangan Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, ia mengangkat Amr bin Al-Ash sebagai walinya. Ia terus menjadi wali di sana hingga meninggal pada tahun ini menurut pendapat yang masyhur. Ada yang mengatakan ia meninggal tahun empat puluh tujuh. Ada yang mengatakan tahun empat puluh delapan. Ada yang mengatakan tahun lima puluh satu. Semoga Allah merahmatinya.

Ia termasuk orang Arab yang cerdas, pemberani, dan memiliki pendapat yang baik. Ia memiliki peribahasa yang bagus dan syair-syair yang baik. Diriwayatkan bahwa ia berkata: Aku menghafal seribu peribahasa dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Di antara syairnya:

Jika seseorang tidak meninggalkan makanan yang ia sukai Dan tidak mencegah hati yang tersesat ke mana ia menuju Ia telah memuaskan keinginannya namun meninggalkan cela Jika diingat yang semisalnya akan memenuhi mulut

Imam Ahmad berkata: Ali bin Ishaq menceritakan kepada kami, Abdullah—yaitu Ibnu Mubarak—menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah mengabarkan kepada kami, Yazid bin Abi Habib menceritakan kepadaku, bahwa Abdurrahman bin Syumasah menceritakan kepadanya, ia berkata: Ketika Amr bin Al-Ash menghadapi kematian, ia menangis. Putranya Abdullah berkata kepadanya: Mengapa engkau menangis? Apakah karena takut mati? Ia menjawab: Tidak demi Allah, tetapi karena apa yang setelah kematian. Abdullah berkata kepadanya: Engkau berada dalam kebaikan. Lalu ia mulai mengingatkannya tentang persahabatan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan penaklukan Syam. Amr berkata: Engkau meninggalkan yang lebih utama dari semua itu; persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah. Sesungguhnya aku berada dalam tiga tahapan, tidak ada satu tahapan pun kecuali aku mengenal diriku di dalamnya. Pada awalnya aku kafir, dan aku adalah orang yang paling keras terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Seandainya aku mati saat itu, aku pasti masuk neraka. Ketika aku membai’at Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, aku menjadi orang yang paling malu kepadanya, sehingga aku tidak pernah memandangnya dengan penuh dan tidak pernah menanyakan apa yang aku inginkan kepadanya hingga ia meninggal; karena malu kepadanya. Seandainya aku mati pada saat itu, orang-orang akan berkata: Beruntunglah Amr; ia masuk Islam dan berada dalam kebaikan lalu meninggal dalam keadaan itu, kami berharap baginya surga. Kemudian setelah itu aku terlibat dengan kekuasaan dan berbagai hal, maka aku tidak tahu apakah itu untukku atau melawanku. Jika aku mati, jangan ada yang menangisiku, jangan ada yang mengikutiku dengan pujian, dan jangan ada api. Ikatlah kain sarungku dengan kuat karena aku akan berhadapan dengan pengadilan. Taburlah tanah kepadaku dengan cepat, karena sisi kananku tidak lebih berhak atas tanah daripada sisi kiriku. Jangan letakkan kayu atau batu di kuburku. Jika kalian telah menguburku, duduklah di sisiku selama menyembelih dan memotong unta; agar aku merasa tenang dengan kehadiran kalian. Muslim meriwayatkan hadits ini dalam kitab Shahihnya dari hadits Yazid bin Abi Habib dengan sanadnya seperti ini, dan di dalamnya terdapat tambahan yang baik atas riwayat ini, di antaranya ucapannya: Agar aku merasa tenang dengan kalian untuk melihat apa yang akan aku jawab kepada utusan Tuhanku, Azza wa Jalla. Dalam riwayat lain bahwa ia setelah ini memalingkan wajahnya ke dinding dan berkata: Ya Allah, Engkau memerintahkan kami namun kami durhaka, Engkau melarang kami namun kami tidak berhenti, dan tidak ada yang dapat menyelamatkan kami kecuali pengampunan-Mu. Dalam riwayat lain ia meletakkan tangannya di tempat belenggu di lehernya, mengangkat kepalanya ke langit, dan berkata: Ya Allah, aku tidak kuat sehingga dapat membela diri, tidak bersih sehingga dapat berdalih, dan tidak sombong tetapi memohon ampun, tiada tuhan selain Engkau. Ia terus mengulang-ulangnya hingga meninggal, semoga Allah meridhainya.

Adapun Muhammad bin Maslamah Al-Anshari, ia masuk Islam melalui tangan Mush’ab bin Umair sebelum Usaid bin Hudhair dan Sa’d bin Mu’adz. Ia menyaksikan perang Badar dan perang-perang sesudahnya kecuali perang Tabuk, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya khalifah di Madinah menurut suatu pendapat. Ada yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya khalifah di Qarqarat al-Kudr. Ia termasuk orang yang membunuh Ka’b bin al-Asyraf orang Yahudi, dan dikatakan bahwa dialah yang membunuh Marhab orang Yahudi pada hari perang Khaibar juga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjuknya sebagai komandan sekitar lima belas pasukan. Ia termasuk orang yang menjauhkan diri dari peperangan-peperangan di Jamal, Shiffin, dan selainnya, serta mengambil pedang dari kayu. Dalam hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk melakukan hal itu, dan ia keluar menuju ar-Rabadzah. Ia termasuk pemimpin para sahabat, dan ia adalah utusan Umar kepada para gubernurnya, dan dialah yang membagi harta mereka atas perintah Umar. Ia memiliki peristiwa-peristiwa besar, kehati-hatian, dan amanah yang luar biasa, semoga Allah meridhainya. Umar mengangkatnya untuk mengelola zakat Juhainah. Dikatakan bahwa ia wafat pada tahun empat puluh enam atau empat puluh tujuh. Ada juga pendapat lain. Ia telah melampaui usia tujuh puluh tahun, dan meninggalkan sepuluh anak laki-laki dan enam anak perempuan. Ia berkulit sangat gelap, tinggi, dan botak, semoga Allah meridhainya.

Di antara yang wafat pada tahun ini adalah Abdullah bin Salam, Abu Yusuf Al-Isra’ili, salah seorang pendeta Yahudi. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, ia sedang berada di kebun kurmanya. Ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, orang-orang berbondong-bondong mendatanginya, dan aku termasuk orang yang berbondong-bondong mendatanginya. Ketika aku melihat wajahnya, aku tahu bahwa wajahnya bukanlah wajah pendusta. Hal pertama yang aku dengar darinya adalah ia berkata: “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi, shalatlah di malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” Kami telah menyebutkan tentang keislamannya di awal hijrah, dan pertanyaan-pertanyaan yang bermanfaat dan baik yang ia tanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah meridhainya. Ia termasuk orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya kesaksian tentang surga, dan ia termasuk orang yang dipastikan akan memasukinya.

Kemudian Masuklah Tahun Empat Puluh Empat

Pada tahun ini Abdurrahman bin Khalid bin al-Walid menyerang negeri Romawi, dan kaum muslimin bersamanya, dan mereka menghabiskan musim dingin di sana. Pada tahun ini Busr bin Abi Artah menyerang melalui laut.

Pada tahun ini Mu’awiyah memberhentikan Abdullah bin Amir dari kepemimpinan Basrah, karena kerusakan muncul di sana akibat kelemahlembutan Abdullah. Hal itu karena ia memiliki watak yang lembut, mudah bergaul, dan murah hati. Ia tidak mengambil tindakan tegas terhadap orang-orang bodoh, tidak memotong (tangan) pencuri, dan ia ingin mengambil hati manusia. Maka Basrah menjadi rusak karena hal tersebut.

Ibnu Jarir berkata: Abdullah bin Amir mengadu kepada Ziyad tentang kerusakan manusia. Ziyad berkata: Teraslah pedang terhadap mereka. Ibnu Amir berkata: Sungguh aku tidak suka memperbaiki mereka dengan merusak diriku sendiri. Maka pergilah Abdullah bin Abi Aufa yang dikenal dengan Ibnu al-Kawwa’ dan mengadukan hal itu kepada Mu’awiyah. Mu’awiyah memberhentikan Ibnu Amir dari Basrah dan mengutus al-Harits bin Abdullah al-Azdi ke sana. Dikatakan bahwa Mu’awiyah memanggilnya untuk mengunjunginya. Ibnu Amir datang menemui Mu’awiyah di Damaskus, lalu Mu’awiyah menghormatinya dan mengembalikannya ke pekerjaannya. Ketika ia berpamitan kepadanya, Mu’awiyah berkata kepadanya: Aku akan meminta tiga hal kepadamu, katakanlah: Itu untukmu. Ibnu Amir berkata: Itu untukmu dan aku adalah anak Umm Hakim. Mu’awiyah berkata: Kembalikan kepadaku pekerjaanmu dan jangan marah. Ibnu Amir berkata: Aku telah melakukannya. Mu’awiyah berkata: Dan berikan kepadaku hartamu di Arafah. Ibnu Amir berkata: Aku telah melakukannya. Mu’awiyah berkata: Dan berikan kepadaku rumah-rumahmu di Mekah. Ibnu Amir berkata: Aku telah melakukannya. Maka Mu’awiyah berkata kepadanya: Kamu telah menyambung hubungan kekerabatan. Ibnu Amir berkata: Wahai Amirul Mukminin, sungguh aku akan memintamu tiga hal, katakanlah: Itu untukmu. Mu’awiyah berkata: Itu untukmu dan aku adalah anak Hindun. Ibnu Amir berkata: Kembalikan kepadaku hartaku di Arafah. Mu’awiyah berkata: Aku telah melakukannya. Ibnu Amir berkata: Jangan menghitung gubernurku dan jangan mengikuti jejakku. Mu’awiyah berkata: Aku telah melakukannya. Ibnu Amir berkata: Dan nikahkanlah aku dengan putrimu Hind. Mu’awiyah berkata: Aku telah melakukannya. Dikatakan bahwa Mu’awiyah memberinya pilihan antara tiga hal ini dan jabatan gubernur Basrah, lalu ia memilih tiga hal ini dan mengundurkan diri dari Basrah.

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun ini Mu’awiyah mengakui nasab Ziyad Ibnu Abihi dan menghubungkannya kepada Abu Sufyan. Hal itu karena seorang laki-laki bersaksi tentang pengakuan Abu Sufyan bahwa ia berzina dengan Sumayah, ibu Ziyad, pada masa jahiliyah, dan bahwa Sumayah mengandung Ziyad ini dari Abu Sufyan. Ketika Mu’awiyah mengakui nasabnya, ia disebut: Ziyad bin Abi Sufyan. Al-Hasan al-Bashri mengingkari pengakuan nasab ini, dan berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Anak adalah bagi pemilik ranjang, dan bagi pezina adalah batu.”

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Khalid, dari Abu Utsman, ia berkata: Ketika Ziyad diakui nasabnya, aku bertemu dengan Abu Bakrah, lalu aku berkata: Apa ini yang kalian lakukan? Sungguh aku mendengar Sa’d bin Abi Waqqash berkata: Kedua telingaku mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ia bersabda: “Barangsiapa mengaku ayah dalam Islam selain ayahnya padahal ia tahu bahwa ia bukan ayahnya, maka surga haram baginya.” Abu Bakrah berkata: Dan aku juga mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami mengeluarkannya dari hadits Abu Utsman dari keduanya. Aku berkata: Abu Bakrah namanya Nafi’, dan nama ibunya juga Sumayah.

Orang yang memimpin haji manusia pada tahun ini adalah Mu’awiyah. Pada tahun ini Mu’awiyah membuat al-Maqshurah (ruang khusus) di Syam, dan Marwan membuat yang serupa di Madinah.

Pada tahun ini wafat Ummu Habibah binti Abi Sufyan, Ummul Mukminin, namanya adalah Ramlah, saudara perempuan Mu’awiyah. Ia masuk Islam sejak awal dan hijrah bersama suaminya Ubaidullah bin Jahsy ke negeri Habasyah. Suaminya menjadi Nasrani di sana, sedangkan ia tetap pada agamanya, semoga Allah meridhainya. Habibah adalah anak tertua darinya, yang dilahirkan di Habasyah. Ada yang mengatakan: Di Mekah sebelum hijrah. Suaminya meninggal di sana, semoga Allah melaknatnya dan memburukkannya. Ketika ia menjadi janda setelah suaminya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Amr bin Umayyah adh-Dhamri kepada Najasyi untuk menikahkannya dengannya. Yang menjadi wali akad adalah Khalid bin Sa’id bin al-Ash, dan Najasyi memberikan mahar atas namanya sebesar empat ratus dinar, dan membawanya kepadanya pada tahun tujuh. Ketika ayahnya datang pada tahun Fathu Mekah untuk menguatkan ikatan, ia masuk menemuinya, lalu ia melipat permadani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayahnya berkata kepadanya: Demi Allah wahai anakku, aku tidak tahu apakah kamu menjauhkan permadani ini dariku ataukah menjauhkanku darinya?! Ia berkata: Bahkan ini adalah permadani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kamu adalah laki-laki musyrik. Ia berkata kepadanya: Demi Allah wahai anakku, sungguh kamu mendapat kejelekan setelahku. Ia termasuk pemimpin Ummahatul Mukminin, dan termasuk wanita ahli ibadah yang wara’, semoga Allah meridhainya.

Muhammad bin Umar al-Waqidi berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Sabrah, dari Abdul Majid bin Suhail, dari Auf bin al-Harits, ia berkata: Aku mendengar Aisyah berkata: Ummu Habibah memanggilku ketika ia akan meninggal lalu berkata: Mungkin ada yang terjadi antara kita seperti yang terjadi antara para madhu. Aku berkata: Semoga Allah mengampuniku dan mengampunimu dari semua itu dan memaafkan serta menghalalkanmu. Ia berkata: Kamu membuatku senang, semoga Allah membuatmu senang. Ia juga mengutus (pesan) kepada Ummu Salamah dan berkata kepadanya seperti itu.

Kemudian Masuklah Tahun Empat Puluh Lima

Pada tahun ini Mu’awiyah mengangkat al-Harits bin Abdullah al-Azdi sebagai gubernur Basrah, kemudian memberhentikannya setelah empat bulan, dan mengangkat Ziyad. Ziyad datang ke Kufah dan gubernurnya adalah al-Mughirah bin Syu’bah. Ia tinggal di sana menunggu utusan Mu’awiyah membawa pengangkatannya sebagai gubernur Basrah. Al-Mughirah menyangka bahwa ia datang untuk kepemimpinan Kufah, maka ia mengutus Wa’il bin Hujr kepadanya untuk mengetahui kabarnya. Wa’il bertemu dengannya tetapi tidak mendapat sesuatu darinya. Kemudian datanglah utusan kepada Ziyad agar pergi ke Basrah dan Mu’awiyah mengangkatnya atas Khurasan dan Sijistan, kemudian menggabungkan untuknya Hind, Bahrain, dan Oman. Ziyad memasuki Basrah pada awal Jumadal Ula. Dalam khutbah pertama yang disampaikannya, ia mendapati kemaksiatan tampak jelas di Basrah, lalu ia berkata: Wahai manusia, seakan-akan kalian tidak mendengar apa yang Allah sediakan dari pahala bagi orang-orang yang taat, dan azab bagi orang-orang yang bermaksiat. Apakah kalian menjadi seperti orang yang matanya dibutakan oleh dunia, dan telinganya disumbat oleh syahwat lalu memilih yang fana daripada yang kekal. Ia terus menegakkan urusan pemerintahan dan menghunus pedang hingga manusia sangat takut kepadanya, dan mereka meninggalkan kemaksiatan yang mereka lakukan secara terang-terangan. Ia meminta bantuan dari sejumlah sahabat, mengangkat Imran bin Hushain sebagai qadhi di Basrah, mengangkat al-Hakam bin Amr al-Ghifari sebagai wakil Khurasan, dan mengangkat Samurah bin Jundub, Abdurrahman bin Samurah, dan Anas bin Malik.

Ziyad memiliki pemikiran yang tegas, berwibawa, cerdik, fasih, dan pandai berbicara. Asy-Sya’bi berkata: Aku tidak pernah mendengar seorang pembicara berbicara lalu bagus kecuali aku berharap ia diam karena takut ia akan jelek, kecuali Ziyad, karena ia semakin banyak berbicara semakin bagus ucapannya. Ia memiliki kedudukan di hadapan Umar bin al-Khaththab.

Pada tahun ini al-Hakam bin Amr, wakil Ziyad di Khurasan, menyerang Jabal al-Asyil atas perintah Ziyad. Ia membunuh banyak orang dari mereka dan memperoleh harta yang banyak. Ziyad menulisi surat kepadanya: Sesungguhnya Amirul Mukminin telah datang suratnya agar memilih untuknya setiap yang kuning dan putih – yakni emas dan perak – untuk dikumpulkan semuanya dari ghanimah ini bagi Baitul Mal. Al-Hakam bin Amr menulis kepadanya: Sesungguhnya Kitabullah lebih didahulukan daripada surat Amirul Mukminin. Demi Allah, seandainya langit dan bumi menimpa seorang hamba lalu ia bertakwa kepada Allah, pasti Allah menjadikan jalan keluar untuknya. Kemudian ia menyeru manusia: Ambillah bagian ghanimah kalian besok. Lalu ia membagi ghanimah di antara mereka, dan menyelisihi Ziyad dalam apa yang ditulisnya kepadanya dari Mu’awiyah. Ia menyisihkan seperlima sebagaimana Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan. Kemudian al-Hakam berkata: Ya Allah, jika aku memiliki kebaikan di sisi-Mu maka cabut nyawaku kepada-Mu. Lalu ia meninggal di Marw, Khurasan, semoga Allah meridhainya.

Ibnu Jarir berkata: Yang memimpin haji manusia pada tahun ini adalah Marwan bin al-Hakam dan ia adalah wakil Madinah. Para gubernur dan pegawai adalah yang sama dengan tahun sebelumnya. Pada tahun ini wafat Zaid bin Tsabit al-Anshari, salah seorang penulis wahyu. Kami telah menyebutkan biografinya bersama mereka di akhir Sirah. Dialah yang menulis mushaf Imam yang ada di Syam atas perintah Utsman bin Affan. Tulisannya bagus dan sangat kuat berdasarkan apa yang aku lihat. Zaid bin Tsabit termasuk orang yang paling cerdas. Ia mempelajari bahasa Yahudi dan tulisan mereka dalam lima belas hari. Abu al-Hasan bin al-Barra’ berkata: Ia mempelajari bahasa Persia dari utusan Kisra dalam delapan belas hari, dan mempelajari bahasa Habasyah, Romawi, dan Qibthi dari para pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Waqidi berkata: Peperangan pertama yang diikutinya adalah Khandaq ketika ia berusia lima belas tahun. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan an-Nasa’i: “Dan yang paling mengetahui tentang faraid adalah Zaid bin Tsabit.” Umar bin al-Khaththab semoga Allah meridhainya telah mengangkatnya sebagai qadhi. Masruq berkata: Zaid bin Tsabit termasuk orang yang mendalam ilmunya.

Muhammad bin Umar berkata, dari Abu Salamah, dari Ibnu Abbas bahwa ia memegang sanggurdi (tempat pijakan kuda) untuk Zaid bin Tsabit lalu Zaid berkata kepadanya: Menyingkirlah wahai anak paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Abbas berkata: Tidak, beginilah kami memperlakukan ulama dan pembesar kami. Al-A’masy berkata, dari Tsabit bin Ubaid, ia berkata: Zaid bin Tsabit termasuk orang yang paling suka bercanda di rumahnya, dan termasuk yang paling serius ketika keluar menemui orang-orang.

Muhammad bin Sirin berkata: Zaid bin Tsabit keluar untuk shalat, lalu mendapati orang-orang telah kembali darinya. Ia menyembunyikan diri dari mereka dan berkata: Barangsiapa tidak malu dari manusia, ia tidak malu dari Allah.

Ia wafat pada tahun ini, ada yang mengatakan pada tahun lima puluh lima. Yang benar adalah pendapat pertama. Ia hampir berusia enam puluh tahun. Marwan bin al-Hakam, wakil Madinah, menshalatinya. Ibnu Abbas berkata: Sungguh hari ini telah meninggal ilmu yang banyak. Abu Hurairah berkata: Telah meninggal pendeta umat ini.

Pada tahun ini wafat Salamah bin Salamah bin Waqsy dalam usia tujuh puluh tahun. Ia telah menyaksikan perang Badar dan sesudahnya, dan tidak memiliki keturunan.

Juga Ashim bin Adi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadikannya khalifah ketika berangkat ke Badar atas Quba’ dan penduduk al-Aliyah. Ia menyaksikan Uhud dan sesudahnya, dan wafat dalam usia seratus lima belas tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menguusnya bersama Malik bin ad-Dukhsyum ke Masjid Dhirar lalu mereka membakarnya.

Pada tahun ini wafat Hafshah binti Umar bin Khaththab, Ummul Mukminin (Ibu Orang-Orang Beriman). Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ia adalah istri Khunais bin Hudzafah as-Sahmi, dan ia hijrah bersamanya ke Madinah. Khunais wafat setelah perang Badr. Ketika masa iddahnya selesai, ayahnya (Umar) menawarkannya kepada Utsman setelah wafatnya istri Utsman, Ruqayyah binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, namun Utsman menolak untuk menikahinya. Lalu ia menawarkannya kepada Abu Bakar, tetapi Abu Bakar tidak memberikan jawaban apapun. Tidak lama kemudian, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminangnya dan menikahinya. Setelah itu, Umar menegur Abu Bakar tentang hal itu, maka Abu Bakar berkata kepadanya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyebutkannya, dan aku tidak akan membocorkan rahasia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Seandainya beliau tidak menikahinya, niscaya aku akan menikahinya.”

Telah diriwayatkan dalam hadis bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menceraikan Hafshah kemudian merujuknya kembali. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Jibril memerintahkan beliau untuk merujuknya kembali, dan berkata: “Sesungguhnya ia adalah wanita yang banyak berpuasa dan shalat malam, dan ia adalah istrimu di surga.” Jumhur ulama bersepakat bahwa ia wafat pada bulan Syaban tahun ini (45 H) dalam usia enam puluh tahun. Ada yang mengatakan bahwa ia wafat pada masa Utsman. Pendapat pertama yang lebih sahih. Wallahu a’lam.

Kemudian Masuk Tahun Empat Puluh Enam (46 H)

Pada tahun ini, kaum muslimin menghabiskan musim dingin di negeri Romawi bersama panglima mereka Abdurrahman bin Khalid bin Walid. Ada yang mengatakan: panglima mereka adalah orang lain. Wallahu a’lam. Orang yang memimpin ibadah haji pada tahun itu adalah Utbah bin Abi Sufyan, saudara Muawiyah. Para gubernur di berbagai wilayah adalah mereka yang telah disebutkan sebelumnya.

Di antara yang wafat pada tahun ini:

Salim bin Umair, salah satu dari al-Bakka’in (orang-orang yang menangis) yang disebutkan dalam Al-Quran. Ia ikut serta dalam perang Badr dan semua peperangan setelahnya.

Suraqah bin Ka’b, ikut serta dalam perang Badr dan setelahnya.

Abdurrahman bin Khalid bin Walid al-Qurasyiy al-Makhzumiy, ia termasuk orang pemberani yang terkenal dan pahlawan yang masyhur seperti ayahnya. Ia sangat dihormati di negeri Syam sehingga Muawiyah takut padanya. Ia wafat dalam keadaan keracunan, rahimahullah wa akrama matswaah. Ibnu Mandah dan Abu Nuaim al-Ashbahani berkata: Ia sempat bertemu dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Abu Umar, bahwa Amr bin Qais meriwayatkan darinya, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang bekam di antara dua tulang belikat. Al-Bukhari berkata: Hadis ini munqathi’. Maksudnya mursal. Az-Zubair bin Bakkar berkata: Ia sangat dihormati di kalangan penduduk Syam, ikut serta dalam perang Shiffin bersama Muawiyah. Ka’b bin Ju’ail adalah penyanjak untuknya dan kedua saudaranya, Muhajir dan Abdullah.

Ibnu Sami’ berkata: Ia memimpin pasukan musim panas pada masa Muawiyah, dan ia pernah belajar dari Muawiyah.

Ibnu Jarir dan lainnya menyebutkan bahwa seorang lelaki yang disebut Ibnu Atsal – yang merupakan pemimpin ahlu dzimmah (non-Muslim yang dilindungi) di wilayah Himsh – memberinya minuman yang mengandung racun sehingga ia meninggal. Sebagian orang menduga bahwa hal itu atas perintah Muawiyah, tetapi hal ini tidak sahih. Wallahu a’lam.

Seseorang meratapi kematiannya dengan syair:

Ayahmu adalah orang yang memimpin pasukan ke barat Menuju Romawi ketika Persia menyerahkan upeti Berapa banyak pemuda yang kau bangunkan setelah tidur lelap Dengan dentingan kendali kudanya, sedang ia dalam tidur nyenyak Tidak sama dua barisan: barisan Khalid Dengan barisan yang dipimpin dari Damaskus oleh orang bersorban

Mereka menyebutkan bahwa Khalid bin Abdurrahman bin Khalid bin Walid datang ke Madinah, lalu Urwah bin Zubair berkata kepadanya: “Apa yang terjadi dengan Ibnu Atsal?” Khalid bin Abdurrahman diam. Kemudian ia kembali ke Himsh dan menyerang Ibnu Atsal lalu membunuhnya. Muawiyah memenjarakannya kemudian melepaskannya. Kemudian ia datang ke Madinah, dan Urwah berkata kepadanya: “Apa yang terjadi dengan Ibnu Atsal?” Ia menjawab: “Aku telah membebaskanmu darinya. Tetapi apa yang terjadi dengan Ibnu Jurmuz?” Maka Urwah diam.

Pada tahun ini wafat Muhammad bin Maslamah, menurut suatu pendapat, dan telah disebutkan sebelumnya.

Haram bin Hayyan al-Abdi, ia adalah salah satu gubernur Umar bin Khaththab. Ia bertemu dengan Uwais al-Qarani, dan termasuk orang-orang yang berakal dan berilmu. Dikatakan bahwa ketika ia dikuburkan, datang awan yang menyirami kuburannya saja, dan rumput tumbuh di atasnya pada saat itu juga. Wallahu a’lam.

Kemudian Masuk Tahun Empat Puluh Tujuh (47 H)

Pada tahun ini, kaum muslimin menghabiskan musim dingin di negeri Romawi. Pada tahun ini Muawiyah memberhentikan Abdullah bin Amr bin Ash dari negeri Mesir, dan mengangkat Muawiyah bin Hudaij sebagai gubernurnya. Yang memimpin ibadah haji adalah Utbah bin Abi Sufyan. Ada yang mengatakan: saudaranya Anbasah bin Abi Sufyan. Wallahu a’lam.

Di antara yang wafat pada tahun ini adalah Qais bin Ashim al-Minqariy. Ia termasuk pemimpin masyarakat pada masa Jahiliyah dan Islam. Ia termasuk orang yang mengharamkan khamr pada masa Jahiliyah. Hal itu karena suatu hari ia mabuk, lalu berbuat tidak senonoh terhadap mahramnya, maka wanita itu melarikan diri darinya. Ketika pagi tiba, hal itu diceritakan kepadanya, maka ia mengharamkannya dan membacakan syair:

Aku melihat khamr mengandung kebaikan, namun di dalamnya Terdapat keburukan yang mempermalukan orang terhormat Maka demi Allah, aku tidak akan meminumnya seumur hidupku Dan tidak akan menyembuhkan penyakit dengannya selamanya

Keislamannya bersama rombongan Bani Tamim. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ini adalah pemimpin penduduk pedalaman.” Ia adalah orang yang dermawan, terpuji, dan mulia. Tentang dirinya seorang penyair berkata ketika ia meninggal:

Kematian Qais bukanlah kematian seorang saja Tetapi ia adalah bangunan suatu kaum yang runtuh

Al-Asma’i berkata: Aku mendengar Abu Amr bin Ala’ dan Abu Sufyan bin Ala’ berkata: Ditanyakan kepada Ahnaf bin Qais: “Dari siapa engkau belajar sabar?” Ia menjawab: “Dari Qais bin Ashim al-Minqariy. Kami sering mendatanginya untuk meminta keputusan hukum sebagaimana orang mendatangi para ahli fikih untuk belajar fikih. Suatu hari kami berada di sisinya sementara ia duduk di halamannya dengan bersandar pada kainnya. Tiba-tiba datang sekelompok orang membawa seorang yang terbunuh dan seorang yang diikat. Mereka berkata: ‘Ini anakmu dibunuh oleh anak saudaramu.’ Demi Allah, ia tidak melepaskan sandaran kainnya hingga selesai bicara. Kemudian ia menoleh kepada salah satu anaknya yang ada di majelis itu dan berkata: ‘Lepaskan ikatan anak pamanmu, kuburkan saudaramu, dan berikan kepada ibunya seratus ekor unta karena ia orang asing.’ Kemudian ia melihat kepadanya dan berkata: ‘Engkau mengurangi jumlahmu, memutuskan tali kekerabatanmu, bermaksiat kepada Tuhanmu, dan menaati setan.'”

Dikatakan bahwa ketika kematian datang kepadanya, anak-anaknya berkumpul di sekelilingnya. Mereka berjumlah tiga puluh dua orang laki-laki. Ia berkata kepada mereka: “Wahai anak-anakku, jadikanlah yang tertua di antara kalian sebagai pemimpin agar kalian menggantikan ayah kalian, dan jangan jadikan yang termuda sebagai pemimpin sehingga orang-orang yang setara dengan kalian meremehkan kalian. Jagalah harta dan manfaatkanlah, karena ia adalah kemuliaan bagi orang mulia, dan dengannya ia tidak membutuhkan orang hina. Hindarilah meminta-minta kepada manusia, karena itu adalah penghasilan yang paling hina bagi seorang laki-laki. Jangan meratapiku, karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak diratapi. Dan jangan kuburkan aku di tempat yang diketahui oleh Bakar bin Wa’il, karena aku memusuhi mereka pada masa Jahiliyah.”

Tentang dirinya seorang penyair berkata:

Semoga salam Allah tercurah padamu wahai Qais bin Ashim Dan rahmat-Nya selama Dia berkehendak untuk merahmati Salam dari orang yang engkau beri nikmat Jika disebutkan yang serupa dengannya, ia memenuhi mulut Kematian Qais bukanlah kematian seorang saja Tetapi ia adalah bangunan suatu kaum yang runtuh

Kemudian Masuk Tahun Empat Puluh Delapan (48 H)

Pada tahun ini, Abu Abdurrahman al-Qainiy menghabiskan musim dingin bersama kaum muslimin di wilayah Antakiyah. Pada tahun ini Uqbah bin Amir berperang di laut bersama penduduk Mesir. Yang memimpin ibadah haji pada tahun ini adalah Marwan bin Hakam, wakil Madinah.

Kemudian Masuk Tahun Empat Puluh Sembilan (49 H)

Pada tahun ini, Yazid bin Muawiyah menyerang negeri Romawi hingga mencapai Konstantinopel (Qusthanthiniyah), bersamanya sejumlah pemimpin sahabat, di antaranya: Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan Abu Ayyub al-Anshariy.

Telah sahih dalam Shahih al-Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Pasukan pertama yang menyerang kota Qaishar (Kaisar) akan diampuni.” Maka pasukan inilah yang pertama menyerangnya, dan mereka tidak sampai ke sana kecuali setelah mengalami kesulitan hebat.

Pada tahun ini wafat Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Anshariy. Ada yang mengatakan: Ia tidak meninggal dalam peperangan ini, melainkan setelahnya pada tahun lima puluh satu, dua, atau tiga, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

Pada tahun ini Muawiyah memberhentikan Marwan bin Hakam dari Madinah dan mengangkat Sa’id bin Ash, dan Sa’id mengangkat Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf sebagai qadhi.

Pada tahun ini Malik bin Hubairah al-Fazariy menghabiskan musim dingin di negeri Romawi. Pada tahun ini terjadi peperangan Fadhalah bin Ubaid, dan ia menghabiskan musim dingin di sana, menaklukkan negeri dan memperoleh harta rampasan yang banyak. Pada tahun ini terjadi pasukan musim panas Abdullah bin Kuraz al-Bajaliy. Pada tahun ini terjadi wabah thaun di Kufah, maka Mughirah melarikan diri darinya. Ketika wabah thaun mereda, ia kembali ke sana, lalu terkena wabah thaun dan meninggal. Pendapat yang sahih adalah ia meninggal pada tahun lima puluh sebagaimana akan dijelaskan nanti.

Muawiyah menggabungkan untuk Ziyad pemerintahan Kufah dan Basrah, ia adalah orang pertama yang menggabungkan keduanya untuknya. Ziyad tinggal di satu kota selama enam bulan, dan di kota lainnya enam bulan. Ia mengangkat Samurah bin Jundab sebagai wakil di Basrah. Yang memimpin ibadah haji pada tahun ini adalah Sa’id bin Ash.

Penyebutan Orang-Orang Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini

Hasan bin Ali bin Abi Thalib

Abu Muhammad al-Qurasyiy al-Hasyimiy, cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, putra putrinya Fathimah az-Zahra dan bunga hatinya. Ia lahir pada pertengahan bulan Ramadhan tahun tiga Hijriyah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mentahniknya dengan air liurnya dan menamainya Hasan. Ia adalah anak tertua dari kedua orang tuanya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat mencintainya dengan sangat, hingga beliau mencium bibirnya ketika ia masih kecil. Kadang-kadang beliau mengisap lidahnya, memeluknya, dan bermain dengannya. Kadang-kadang ia datang sementara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang sujud dalam shalat, lalu ia menaiki punggung beliau, maka beliau membiarkannya dan memperpanjang sujudnya karenanya. Kadang-kadang ia naik bersama beliau ke mimbar. Telah sahih dalam hadis bahwa beliau alaihi as-salam, ketika sedang berkhutbah, melihat Hasan dan Husain datang, maka beliau turun kepada mereka, menggendong keduanya, dan membawa mereka bersamanya ke mimbar, lalu bersabda: “Benarlah Allah: Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah. Aku melihat keduanya berjalan dan tersandung, maka aku tidak tahan untuk tidak turun kepada mereka.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian adalah ketenangan dari Allah, dan sesungguhnya kalian kikir dan penakut.”

Telah sahih dalam Shahih al-Bukhari dari Abu Ashim, dari Umar bin Sa’id bin Sa’id Abu Husain, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Uqbah bin Harits, bahwa Abu Bakar shalat Ashar bersama mereka – beberapa malam setelah wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam – kemudian ia dan Ali keluar berjalan, lalu melihat Hasan bermain bersama anak-anak, maka ia menggendongnya di lehernya sambil berkata: “Semoga ayahku menjadi tebusanmu, semoga ayahku menjadi tebusanmu, menyerupai Nabi, bukan menyerupai Ali.” Ia berkata: Dan Ali tertawa.

Sufyan dan beberapa orang meriwayatkan, mereka berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, Ismail bin Abi Khalid menceritakan kepada kami, aku mendengar Abu Juhifah berkata: Aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan Hasan bin Ali menyerupainya. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dari hadis Ismail bin Abi Khalid. Waki’ berkata: Ismail tidak mendengar dari Abu Juhifah kecuali hadis ini.

Ahmad berkata: Abu Daud ath-Thayalisiy menceritakan kepada kami, Zam’ah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata: Fathimah menggendong Hasan bin Ali sambil berkata:

Wahai semoga ayahku menjadi tebusanmu, menyerupai Nabi Bukan menyerupai Ali

Abdurrazzaq dan lainnya berkata, dari Ma’mar, dari az-Zuhriy, dari Anas, ia berkata: Hasan bin Ali adalah yang paling mirip wajahnya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ahmad meriwayatkannya dari Abdurrazzaq dengan serupa.

Ahmad berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hani’ dari Ali, ia berkata: Hasan adalah yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari dada hingga kepala, dan Husain adalah yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari bagian bawahnya. At-Tirmidziy meriwayatkannya dari hadis Israil, dan berkata: Hasan gharib.

Abu Daud ath-Thayalisiy berkata: Qais menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hani’ bin Hani’, dari Ali, ia berkata: Hasan bin Ali adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari wajahnya hingga pusarnya, dan Husain adalah orang yang paling mirip dengannya dari bagian bawah itu. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair bahwa Hasan bin Ali menyerupai Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Ahmad berkata: Arim bin Fadhl menceritakan kepada kami, Mu’tamir menceritakan kepada kami, dari ayahnya, ia berkata: Aku mendengar Abu Tamimah menceritakan dari Abu Utsman an-Nahdiy, Abu Utsman menceritakan kepadanya dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam mengambilku lalu mendudukkanku di pahanya, dan mendudukkan Hasan di paha yang lain, kemudian memeluk kami berdua lalu bersabda: “Ya Allah, rahmatilah keduanya, karena sesungguhnya aku merahmati keduanya.” Demikian pula al-Bukhari meriwayatkannya dari an-Nahdiy, dari Muhammad bin Fadhl Arim dengannya, dan dari Ali bin Madiniy, dari Yahya al-Qaththan, dari Sulaiman at-Taimiy, dari Abu Tamimah, dari Abu Utsman, dari Usamah. Ia juga mengeluarkannya dari Musa bin Ismail dan Musaddad, dari Mu’tamir, dari ayahnya, dari Abu Utsman, dari Usamah, maka ia tidak menyebutkan Abu Tamimah. Wallahu a’lam. Dalam riwayat lain: “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.”

Dan Syu’bah berkata, dari ‘Adiy bin Tsabit, dari Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata: Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Al-Hasan bin ‘Ali berada di atas pundaknya, dan beliau bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia.” Keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dari hadits Syu’bah. Dan diriwayatkan oleh ‘Ali bin Al-Ja’d, dari Fudail bin Marzuq, dari ‘Adiy, dari Al-Barra’, maka ia menambahkan: “Dan cintailah orang yang mencintainya.” At-Tirmidzi berkata: hasan shahih.

Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari ‘Ubaidillah bin Abi Yazid, dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda kepada Al-Hasan bin ‘Ali: “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia, dan cintailah orang yang mencintainya.” Dan diriwayatkan oleh Muslim, dari Ahmad, dan keduanya mengeluarkannya dari hadits Syu’bah.

Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Abu An-Nadhr, menceritakan kepada kami Warqa’, dari ‘Ubaidillah dari Abi Yazid, dari Nafi’ bin Jubair dari Abu Hurairah, ia berkata: Saya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di salah satu pasar Madinah, lalu beliau pergi dan saya ikut pergi bersamanya, kemudian beliau datang ke halaman Fathimah, lalu memanggil Al-Hasan dan bersabda: “Wahai anak kecil, wahai anak kecil, wahai anak kecil.” Namun tidak ada yang menjawabnya, lalu beliau pergi dan saya ikut pergi bersamanya, kemudian beliau datang ke halaman Aisyah lalu duduk. Ia berkata: Maka datanglah Al-Hasan bin ‘Ali. Abu Hurairah berkata: Kami mengira ibunya menahannya untuk memasangkan kalung di lehernya, maka ketika ia masuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memeluknya, dan ia pun memeluk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia, dan cintailah orang yang mencintainya.” Tiga kali. Dan keduanya mengeluarkannya dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah, dari ‘Ubaidillah dengannya.

Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Hammad Al-Khayyath, menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa’d, dari Nu’aim bin ‘Abdillah Al-Mujmir, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju pasar Bani Qainuqa’ sambil bersandar pada tanganku, lalu beliau berkeliling di sana, kemudian kembali dan duduk bersila di masjid, dan bersabda: “Di mana anak kecil itu? Panggilkan anak kecil itu untukku.” Maka Al-Hasan datang berlari sampai melompat ke pangkuannya, lalu memasukkan mulutnya ke dalam mulut beliau, kemudian bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia, dan cintailah orang yang mencintainya” tiga kali. Abu Hurairah berkata: Tidaklah aku melihat Al-Hasan kecuali mataku meneteskan air mata. Atau ia berkata: mataku berlinang. Atau: aku menangis. Dan ini sesuai syarat Muslim, namun mereka tidak mengeluarkannya, dan telah diriwayatkan oleh Ats-Tsauri, dari Nu’aim, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, lalu ia menyebutkan yang serupa atau hampir sama. Dan diriwayatkan oleh Mu’awiyah bin Abi Muzarrad, dari ayahnya, dari Abu Hurairah dengan yang serupa, dan di dalamnya ada tambahan. Dan meriwayatkan Abu Ishaq, dari Al-Harits, dari ‘Ali yang hampir sama dengan rangkaian ini. Dan meriwayatkannya ‘Utsman bin Abi Al-Kanat, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Aisyah dengan yang serupa, dan di dalamnya ada tambahan.

Sufyan Ats-Tsauri dan yang lainnya berkata, dari Salim bin Abi Hafshah, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mencintai Al-Hasan dan Al-Husain maka sungguh ia telah mencintaiku, dan barangsiapa membenci keduanya maka sungguh ia telah membenciku” gharib dari jalur ini.

Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Ibnu Numair, menceritakan kepada kami Al-Hajjaj – yakni Ibnu Dinar – dari Ja’far bin Iyas, dari ‘Abdurrahman bin Mas’ud, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami dengan membawa Hasan dan Husain, yang satu di atas pundaknya dan yang satu di atas pundak yang lain, dan beliau mencium yang satu lalu yang satu lagi, hingga beliau sampai kepada kami, lalu seorang laki-laki berkata kepadanya: Ya Rasulullah, sungguh engkau mencintai keduanya. Beliau bersabda: “Barangsiapa mencintai keduanya maka sungguh ia telah mencintaiku, dan barangsiapa membenci keduanya maka sungguh ia telah membenciku.” Ahmad menyendiri dengan ini.

Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata, dari ‘Ashim, dari Zirr, dari ‘Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat, lalu Al-Hasan dan Al-Husain datang, maka keduanya mulai melompat-lompat di atas punggungnya ketika beliau sujud, lalu orang-orang hendak memarahi keduanya, maka ketika beliau salam, beliau bersabda kepada orang-orang: “Keduanya adalah anak-anakku, barangsiapa mencintai keduanya maka sungguh ia telah mencintaiku.” Dan diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari hadits ‘Ubaidillah bin Musa, dari ‘Ali bin Shalih, dari ‘Ashim dengannya.

Dan telah datang dari Aisyah dan Ummu Salamah, keduanya Ummul Mukminin, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menutupi Al-Hasan dan Al-Husain serta ibu dan ayah keduanya, lalu bersabda: “Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku, maka hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka dengan sesuci-sucinya.”

Muhammad bin Sa’d berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah Al-Asadi, menceritakan kepada kami Syarik, dari Jabir, dari ‘Abdurrahman bin Sabit, dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa senang melihat pemimpin pemuda penduduk surga, maka lihatlah Al-Hasan bin ‘Ali.” Dan telah diriwayatkan oleh Waki’, dari Ar-Rabi’ bin Sa’d, dari ‘Abdurrahman bin Sabit, dari Jabir, lalu ia menyebutkan yang serupa, dan sanadnya tidak mengapa, namun mereka tidak mengeluarkannya.

Dan datang dari hadits ‘Ali dan Abu Sa’id dan Buraidah dan Hudzaifah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin pemuda penduduk surga, dan ayah keduanya lebih baik dari keduanya.”

Abul Qasim Al-Baghawi berkata: menceritakan kepada kami Dawud bin ‘Amr, menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ayyasy, menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin ‘Utsman bin Khutsaim, dari Sa’id bin Rasyid, dari Ya’la bin Murrah, ia berkata: Al-Hasan dan Al-Husain datang berlari kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu salah satu dari keduanya datang mendahului yang lain, maka beliau meletakkan tangannya di lehernya, kemudian mendekapnya ke ketiaknya, kemudian yang lain datang maka beliau meletakkan tangannya yang lain di lehernya, kemudian mendekapnya ke ketiaknya, lalu beliau mencium yang satu, kemudian mencium yang lain, kemudian bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.” Kemudian bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya anak itu (menyebabkan) kikir, penakut, dan bodoh.”

Dan telah diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Ibnu Abi Khutsaim, dari Muhammad bin Al-Aswad bin Khalaf, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil Hasan lalu menciumnya, kemudian menghadap kepada mereka lalu bersabda: “Sesungguhnya anak itu (menyebabkan) kikir dan penakut.”

Ibnu Khuzaimah berkata: menceritakan kepada kami ‘Abdah bin ‘Abdillah Al-Khuza’i, menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubab, dan Abu Ya’la berkata: menceritakan kepada kami Abu Khaitsamah: menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubab, menceritakan kepadaku Husain bin Waqid, menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, lalu Al-Hasan dan Al-Husain datang mengenakan dua gamis merah, tersandung dan berdiri, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turun kepada keduanya lalu mengambil keduanya, lalu mendudukkan keduanya di pangkuannya di atas mimbar, kemudian bersabda: “Benar Allah: Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah. (Surat At-Taghabun: 15) Aku melihat kedua anak kecil ini maka aku tidak sabar (menjauh) dari keduanya.” Kemudian beliau melanjutkan khutbahnya. Dan telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari hadits Husain bin Waqid dengannya. Dan At-Tirmidzi berkata: hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari haditsnya. Dan telah diriwayatkannya Muhammad Ad-Dhamri, dari Zaid bin Arqam, lalu ia menyebutkan kejadian untuk Al-Hasan sendiri.

Dan dalam hadits ‘Abdullah bin Syaddad, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama mereka salah satu shalat sore, lalu beliau sujud dalam sujud yang memanjangkan sujudnya, maka ketika beliau salam orang-orang bertanya kepadanya tentang hal itu, beliau bersabda: “Sesungguhnya anakku – yakni Al-Hasan – menunggangi aku, maka aku tidak suka membuatnya tergesa-gesa hingga ia selesai dari keperluannya.”

Ats-Tsauri berkata, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir, ia berkata: Saya masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau sedang menggendong Al-Hasan dan Al-Husain di atas punggungnya, dan beliau berjalan dengan keduanya merangkak, maka aku berkata: Sebaik-baik unta adalah unta kalian berdua. Beliau bersabda: “Dan sebaik-baik dua penunggang adalah keduanya.” Sanadnya sesuai syarat Muslim, namun mereka tidak mengeluarkannya.

Abu Ya’la berkata: menceritakan kepada kami Abu Hisyam, menceritakan kepada kami Abu ‘Amir, menceritakan kepada kami Zam’ah bin Shalih, dari Salamah bin Wahram, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar sambil menggendong Al-Hasan di atas pundaknya, lalu seorang laki-laki berkata kepadanya: Wahai anak, sebaik-baik tunggangan yang engkau tunggangi. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan sebaik-baik penunggang adalah dia.”

Imam Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Tulaid bin Sulaiman, menceritakan kepada kami Abul Jahaf, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandang kepada ‘Ali dan Hasan dan Husain dan Fathimah lalu bersabda: “Aku berperang terhadap siapa yang kalian perangi dan damai dengan siapa yang kalian damai.” Dan telah diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari hadits Abu Nu’aim, dan Ibnu Majah dari hadits Waki’, keduanya dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Abul Jahaf Dawud bin Abi ‘Auf – Waki’ berkata: dan ia adalah orang yang diridhoi – dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang Al-Hasan dan Al-Husain: “Barangsiapa mencintai keduanya maka sungguh ia telah mencintaiku, dan barangsiapa membenci keduanya maka sungguh ia telah membenciku.” Dan telah diriwayatkannya Asbath dari As-Suddi, dari Shubaih budak Ummu Salamah, dari Zaid bin Arqam lalu ia menyebutkannya.

Baqiyyah berkata, dari Buhair bin Sa’d, dari Khalid bin Mi’dan, dari Al-Miqdam bin Ma’dikariba, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Al-Hasan dariku dan Al-Husain dari ‘Ali.” Di dalamnya ada keanehan lafaz dan makna.

Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi ‘Adiy, dari Ibnu ‘Aun, dari ‘Umair bin Ishaq, ia berkata: Saya bersama Al-Hasan bin ‘Ali, lalu kami bertemu Abu Hurairah, maka ia berkata: Perlihatkanlah kepadaku agar aku mencium darimu di tempat yang aku lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium. Maka ia berkata dengan gamisnya. Ia berkata: Maka ia mencium pusarnya. Ahmad menyendiri dengan ini. Kemudian ia meriwayatkannya dari Isma’il bin ‘Ulayyah, dari Ibnu ‘Aun.

Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Hasyim bin Al-Qasim, dari Hariz, dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Auf Al-Jursyi, dari Mu’awiyah, ia berkata: Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisap lidahnya – atau ia berkata: bibirnya, yakni Al-Hasan bin ‘Ali – dan sesungguhnya tidak akan diazab lidah atau dua bibir yang telah diisap oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ahmad menyendiri dengan ini.

Dan telah tetap dalam Shahih dari Abu Bakrah, dan meriwayatkan Ahmad, dari Jabir bin ‘Abdillah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin, dan mudah-mudahan Allah mendamaikan dengannya dua kelompok besar dari kaum muslimin.” Dan sungguh hadits ini telah disebutkan sebelumnya dalam dalil-dalil kenabian, dan disebutkan sebelumnya ketika Al-Hasan turun untuk Mu’awiyah dari khilafah, dan hal itu terjadi sebagai pembenaran terhadap sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ini, demikian pula kami menyebutkannya dalam kitab dalil-dalil kenabian, dan bagi Allah segala puji dan karunia.

Dan sungguh Abu Bakar (Ash-Shiddiq) mengagungkan, memuliakannya, memuliakan dan mencintainya serta membelanya, demikian pula ‘Umar bin Al-Khaththab; maka meriwayatkan Al-Waqidi dari Musa bin Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits At-Taimi, dari ayahnya, bahwa ‘Umar ketika membuat daftar, maka ia mengalokasikan untuk Al-Hasan dan Al-Husain bersama ahli Badar lima ribu. Demikian pula ‘Utsman bin ‘Affan memuliakan Al-Hasan dan Al-Husain dan mencintai keduanya. Dan sungguh Al-Hasan bin ‘Ali pada hari rumah – ketika ‘Utsman bin ‘Affan dikepung – berada di sisinya dan bersamanya pedang terkalung, berjuang membela ‘Utsman, maka ‘Utsman khawatir terhadapnya, lalu ia bersumpah kepadanya agar kembali ke rumah mereka demi menenangkan hati ‘Ali dan karena khawatir terhadapnya, semoga Allah meridhai mereka.

Dan ‘Ali memuliakan Al-Hasan dengan pemuliaan yang lebih, mengagungkannya dan memuliakannya, dan ia pernah berkata kepadanya pada suatu hari: Wahai anakku, tidakkah engkau berkhutbah agar aku mendengarmu? Maka ia berkata: Sesungguhnya aku malu berkhutbah sementara aku melihatmu. Maka ‘Ali pergi lalu duduk di tempat yang tidak dilihat oleh Al-Hasan, kemudian Al-Hasan berdiri di hadapan orang-orang sebagai khatib dan ‘Ali mendengar, lalu ia menyampaikan khutbah yang fasih dan bagus, maka ketika selesai, ‘Ali mulai berkata: Keturunan yang satu dari yang lain; dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Surat Ali ‘Imran: 34) Dan sungguh Ibnu ‘Abbas memegang pelana untuk Al-Hasan dan Al-Husain ketika keduanya menunggang kendaraan, dan ia menganggap ini sebagai nikmat Allah atasnya. Dan keduanya ketika thawaf mengelilingi Baitullah, hampir saja orang-orang menghimpit keduanya karena berdesak-desakan kepada keduanya untuk memberi salam kepada keduanya, semoga Allah meridhai keduanya dan meridhai mereka berdua.

Dan Ibnu Zubair berkata: Demi Allah, para wanita tidak pernah melahirkan orang seperti Hasan bin Ali.

Dan yang lain berkata: Apabila Hasan selesai salat subuh di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia duduk di tempat salatnya sambil berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, dan para pembesar kaum duduk bersamanya, mereka berbincang-bincang di sisinya, kemudian ia berdiri dan masuk menemui para Ummahatul Mukminin lalu memberi salam kepada mereka. Dan terkadang mereka memberinya hadiah, kemudian ia pulang ke rumahnya.

Dan ketika ia melepaskan jabatan khalifah untuk Muawiyah karena sifat wara’nya demi menjaga darah kaum muslimin, maka setiap tahun Muawiyah memberikan hadiah kepadanya, dan ia datang kepadanya, terkadang Muawiyah memberinya empat ratus ribu dirham, dan tunjangan tetapnya setiap tahun seratus ribu. Suatu tahun ia tidak pergi, dan ketika waktu pemberian hadiah tiba, Hasan membutuhkannya – dan ia termasuk orang yang paling dermawan – maka ia ingin menulis surat kepada Muawiyah agar mengirimkannya kepadanya. Ketika ia tidur malam itu, ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mimpi, lalu beliau berkata kepadanya: “Wahai anakku, apakah engkau menulis kepada makhluk untuk kebutuhanmu?!” Dan beliau mengajarkan kepadanya sebuah doa untuk didoakan. Maka Hasan meninggalkan niatnya untuk menulis surat. Kemudian Muawiyah mengingatnya dan merindukannya, lalu berkata: Kirimkan kepadanya dua ratus ribu, barangkali ia memiliki keperluan mendesak sehingga tidak datang kepada kita. Maka uang itu dikirimkan kepadanya tanpa diminta.

Salih bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Hasan bin Ali adalah orang Madinah yang terpercaya. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikhnya. Mereka berkata: Dan ia membagi hartanya tiga kali, dan mengeluarkan seluruh hartanya dua kali, dan berhaji dua puluh lima kali dengan berjalan kaki meskipun kuda-kuda tunggangan dibawa berjalan di hadapannya. Dan Al-Baihaqi meriwayatkan hal itu dari jalur Abdullah bin Ubaid bin Umair, dari Ibnu Abbas. Dan Ali bin Zaid bin Jud’an berkata demikian. Dan Al-Bukhari dalam Shahihnya menyebutkan secara mu’allaq bahwa ia berhaji dengan berjalan kaki sementara kuda-kuda tunggangan dibawa berjalan di hadapannya.

Dan Dawud bin Rasyid meriwayatkan, dari Hafs, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, ia berkata: Hasan bin Ali berhaji dengan berjalan kaki, dan kuda-kuda tunggangan dibawa berjalan di hadapannya, dan unta-untanya dibawa berjalan di sampingnya.

Dan Al-Abbas bin Al-Fadhl berkata dari Al-Qasim, dari Muhammad bin Ali, ia berkata: Hasan bin Ali berkata: Sesungguhnya aku malu kepada Rabbku, Azza wa Jalla, bahwa aku bertemu denganNya dan aku belum berjalan kaki ke RumahNya. Maka ia berjalan kaki dua puluh kali dari Madinah.

Mereka berkata: Dan ia membaca dalam sebagian khutbahnya surat Ibrahim. Dan ia membaca setiap malam surat Al-Kahfi sebelum tidur, ia membacanya dari sebuah lembaran yang selalu dibawanya ke mana pun ia berada di rumah-rumah istri-istrinya, maka ia membacanya setelah masuk ke tempat tidur sebelum tidur, radhiyallahu ‘anhu.

Dan ia memiliki kedermawanan yang sangat besar. Muhammad bin Sirin berkata: Terkadang Hasan bin Ali memberikan hadiah kepada satu orang sebesar seratus ribu.

Dan Said bin Abdul Aziz berkata: Hasan bin Ali mendengar di sampingnya seorang laki-laki berdoa kepada Allah agar memilikinya sepuluh ribu dirham, maka ia berdiri ke rumahnya lalu mengirimkannya kepadanya. Dan mereka menyebutkan bahwa Hasan melihat seorang budak hitam yang makan dari roti satu suap, dan memberi seekor anjing di sana satu suap. Maka ia berkata kepadanya: Apa yang membuatmu melakukan ini?! Ia berkata: Sesungguhnya aku malu kepadanya jika aku makan dan tidak memberinya makan. Maka Hasan berkata kepadanya: Jangan beranjak dari tempatmu sampai aku datang kepadamu. Lalu ia pergi kepada tuannya, membelinya dan membeli kebun tempat ia berada, lalu memerdekakannya dan memberikan kebun itu kepadanya. Maka budak itu berkata: Wahai tuanku, aku telah menghadiahkan kebun ini kepada yang telah menghadiahkan aku kepadaNya.

Mereka berkata: Dan ia banyak menikah, dan selalu memiliki empat istri merdeka, dan sering menceraikan dan memberi mahar. Dikatakan: Sesungguhnya ia menikah dengan tujuh puluh wanita. Dan mereka menyebutkan bahwa ia menceraikan dua wanita dalam satu hari; satu dari Bani Asad dan yang lain dari Fazarah, dan mengirim kepada setiap satu dari mereka sepuluh ribu dan satu kantong madu, dan berkata kepada budaknya: Dengarlah apa yang dikatakan setiap satu dari mereka. Adapun wanita Fazarah berkata: Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Dan mendoakannya, adapun wanita Asad berkata:

Pemberian yang sedikit dari kekasih yang berpisah

Maka budak itu kembali kepadanya dengan hal itu, lalu ia merujuk kembali wanita Asad dan meninggalkan wanita Fazarah. Dan Ali pernah berkata kepada penduduk Kufah: Jangan menikahkan putri kalian dengannya karena ia suka menceraikan. Mereka berkata: Demi Allah wahai Amirul Mukminin, seandainya ia melamar kepada kami setiap hari, sungguh kami akan menikahkan dengannya siapa pun yang ia mau; karena mengharapkan hubungan kekerabatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan mereka menyebutkan bahwa ia tidur bersama istrinya Khaulah binti Manzhur Al-Fazari – dan dikatakan: Hind binti Suhail – di atas atap, maka wanita itu mengikat kakinya dengan kerudungnya ke gelangnya. Ketika ia bangun, ia berkata kepadanya: Apa ini? Ia berkata: Aku takut engkau bangun dalam kantuk lalu jatuh, maka aku akan menjadi anak kambing yang paling malang bagi orang Arab. Maka hal itu mengagumkannya, dan ia tetap bersamanya tujuh hari setelah itu.

Dan Abu Ja’far Al-Baqir berkata: Seorang laki-laki datang kepada Husain bin Ali meminta bantuan dalam suatu keperluan, lalu ia mendapatinya sedang beri’tikaf, maka ia meminta maaf kepadanya. Kemudian ia pergi kepada Hasan dan meminta bantuannya, lalu ia memenuhi keperluannya dan berkata: Memenuhi keperluan saudaraku karena Allah lebih aku cintai daripada beri’tikaf sebulan.

Dan Husyaim berkata, dari Manshur, dari Ibnu Sirin, ia berkata: Hasan bin Ali tidak pernah mengundang siapa pun untuk makan; ia berkata: Ia terlalu sederhana untuk diundang siapa pun kepadanya.

Dan Abu Ja’far berkata: Ali berkata: Wahai penduduk Kufah, jangan menikahkan Hasan bin Ali karena ia suka menceraikan. Maka seorang laki-laki dari Hamdan berkata: Demi Allah, kami akan menikahkannya, maka apa yang ia ridhai ia pertahankan, dan apa yang ia benci ia ceraikan.

Dan Abu Bakar Al-Khara’ithi dalam kitab Makarimul Akhlaq berkata: Ibrahim bin Al-Junaid menceritakan kepada kami, Al-Qawariri menceritakan kepada kami, Abdul A’la menceritakan kepada kami, dari Hisyam, dari Muhammad bin Sirin, ia berkata: Hasan bin Ali menikahi seorang wanita, lalu mengirimkan kepadanya seratus budak wanita, bersama setiap budak wanita seribu dirham.

Dan Abdurrazaq berkata, dari Ats-Tsauri, dari Abdurrahman bin Abdullah, dari ayahnya, dari Hasan bin Sa’d, dari ayahnya, ia berkata: Hasan bin Ali memberi mut’ah kepada dua wanita dengan dua puluh ribu dan kantong madu, maka salah satu dari mereka berkata – dan kukira ia dari suku Hanifah:

Pemberian yang sedikit dari kekasih yang berpisah

Dan Al-Waqidi berkata: Ali bin Umar menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Ali bin Husain, ia berkata: Hasan bin Ali suka menceraikan para wanita, dan ia tidak berpisah dari seorang wanita kecuali ia mencintainya.

Dan Juwairiyah bin Asma’ berkata: Ketika Hasan wafat, Marwan menangisinya di pemakamannya, maka Husain berkata kepadanya: Apakah engkau menangisinya padahal engkau telah membuatnya menelan apa yang engkau buatkan kepadanya?! Ia berkata: Sesungguhnya aku melakukan itu kepada orang yang lebih penyabar dari ini. Dan ia menunjuk dengan tangannya ke gunung.

Dan Muhammad bin Sa’d berkata: Ismail bin Ibrahim Al-Asadi menceritakan kepada kami, dari Ibnu Aun, dari Umair bin Ishaq, ia berkata: Tidak ada seorang pun yang berbicara di hadapanku yang lebih aku cintai ketika ia berbicara agar ia tidak diam selain Hasan bin Ali, dan aku tidak pernah mendengar darinya kata-kata kotor kecuali sekali; karena ada perselisihan antara Husain bin Ali dengan Amru bin Utsman, maka Hasan berkata: Ia tidak mendapat apa-apa dari kami kecuali yang membuatnya hina. Ini adalah kata kotor paling keras yang pernah aku dengar darinya.

Muhammad bin Sa’d berkata: Dan Al-Fadhl bin Dukain menceritakan kepada kami, Musafir Al-Jashshash menceritakan kepada kami, dari Raziq bin Siwwar, ia berkata: Ada perselisihan antara Hasan dan Marwan, maka Marwan berkata kasar kepada Hasan, sementara Hasan diam. Kemudian Marwan mengeluarkan ingusnya dengan tangan kanannya, maka Hasan berkata kepadanya: Celakalah engkau! Apakah engkau tidak tahu bahwa tangan kanan untuk wajah dan tangan kiri untuk kemaluan?! Cih untukmu. Maka Marwan diam.

Dan Abu Al-Abbas Muhammad bin Yazid Al-Mubarrad berkata: Dikatakan kepada Hasan bin Ali: Sesungguhnya Abu Dzar berkata: Kemiskinan lebih aku cintai daripada kekayaan, dan sakit lebih aku cintai daripada kesehatan. Maka ia berkata: Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun aku maka aku berkata: Barangsiapa yang mengandalkan baiknya pilihan Allah untuknya, maka ia tidak akan berharap berada dalam keadaan selain yang Allah pilih untuknya, dan ini adalah batas berhenti pada ridha dengan apa yang ditakdirkan oleh takdir.

Dan Abu Bakar Muhammad bin Kaisan Al-Ashamm berkata: Hasan suatu hari berkata kepada para sahabatnya: Sesungguhnya aku akan memberitahukan kalian tentang saudaraku yang merupakan orang paling agung dalam pandanganku, dan yang membuatnya agung dalam pandanganku adalah kecilnya dunia dalam pandangannya. Ia keluar dari kekuasaan perutnya, maka ia tidak menginginkan apa yang tidak ia dapati, dan tidak berlebihan ketika mendapatkannya. Dan ia keluar dari kekuasaan kemaluannya, maka tidak merendahkan akal dan pendapatnya untuknya. Dan ia keluar dari kekuasaan orang-orang bodoh, maka ia tidak mengulurkan tangan kecuali atas keyakinan manfaat. Ia tidak marah dan tidak berkeluh kesah. Ia ketika berkumpul dengan para ulama lebih bersemangat untuk mendengar daripada berbicara. Dan ia ketika menguasai pembicaraan tidak menguasai keheningan. Ia kebanyakan waktunya diam, maka jika ia berbicara ia mengalahkan para pembicara. Ia tidak terlibat dalam klaim, dan tidak masuk dalam perdebatan, dan tidak memberikan argumen sampai ia melihat hakim. Ia mengatakan apa yang ia lakukan, dan melakukan apa yang tidak ia katakan sebagai keutamaan dan kemuliaan. Ia tidak lalai dari saudara-saudaranya, dan tidak mengkhususkan sesuatu tanpa mereka. Ia tidak mencela siapa pun dalam hal yang dapat dimaafkan seperti itu. Ia ketika dihadapkan pada dua perkara dan tidak melihat mana yang lebih dekat kepada kebenaran, ia melihat mana yang lebih dekat kepada hawa nafsunya lalu menyelisihinya. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan Al-Khatib.

Dan Abu Al-Faraj Al-Mu’afa bin Zakariya Al-Jariri berkata: Badr bin Al-Haitsam Al-Hadhrami menceritakan kepada kami, Ali bin Al-Mundzir Ath-Thariq menceritakan kepada kami, Utsman bin Said Ad-Darimi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah Abu Raja’ dari penduduk Tustar menceritakan kepada kami, Syu’bah bin Al-Hajjaj Al-Wasithi menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq Al-Hamdani, dari Al-Harits Al-A’war, bahwa Ali bertanya kepada anaknya – yaitu Hasan – tentang beberapa hal mengenai muru’ah (kesempurnaan akhlak). Ia berkata: Wahai anakku, apa itu keteguhan? Ia berkata: Wahai ayahku, keteguhan adalah menolak kemungkaran dengan kebaikan. Ia berkata: Apa itu kemuliaan? Ia berkata: Berbuat baik kepada kaum kerabat dan menanggung kesalahan. Ia berkata: Apa itu muru’ah? Ia berkata: Menjaga kehormatan dan memperbaiki harta seseorang. Ia berkata: Apa itu kekikiran kecil? Ia berkata: Memperhitungkan yang kecil dan mencegah yang sedikit. Ia berkata: Apa itu kehinaan? Ia berkata: Seseorang menjaga dirinya dan membiarkan istrinya. Ia berkata: Apa itu kedermawanan? Ia berkata: Memberi dalam kesulitan dan kemudahan. Ia berkata: Apa itu ketamakan? Ia berkata: Bahwa engkau melihat apa yang ada di tanganmu sebagai kemuliaan dan apa yang engkau nafkahkan sebagai kerugian. Ia berkata: Apa itu persaudaraan? Ia berkata: Kesetiaan dalam kesulitan dan kemudahan. Ia berkata: Apa itu kepengecutan? Ia berkata: Berani kepada teman dan mundur dari musuh. Ia berkata: Apa itu ghanimah (keuntungan)? Ia berkata: Keinginan untuk bertakwa, dan zuhud terhadap dunia itulah ghanimah yang sejuk. Ia berkata: Apa itu kesabaran? Ia berkata: Menahan amarah dan menguasai diri. Ia berkata: Apa itu kekayaan? Ia berkata: Ridha diri dengan apa yang Allah takdirkan untuknya meskipun sedikit, karena sesungguhnya kekayaan adalah kekayaan jiwa. Ia berkata: Apa itu kemiskinan? Ia berkata: Keserakahan jiwa dalam segala hal. Ia berkata: Apa itu kekebalan? Ia berkata: Kekuatan keberanian dan berhadapan dengan orang-orang yang paling kuat. Ia berkata: Apa itu kehinaan? Ia berkata: Ketakutan ketika bertarung. Ia berkata: Apa itu keberanian? Ia berkata: Menyesuaikan diri dengan para setara. Ia berkata: Apa itu beban? Ia berkata: Perkataanmu dalam hal yang tidak menjadi urusanmu. Ia berkata: Apa itu kemuliaan? Ia berkata: Bahwa engkau memberi dalam kerugian dan engkau memaafkan kesalahan. Ia berkata: Apa itu akal? Ia berkata: Menjaga hati dari semua yang kau amanahkan kepadanya. Ia berkata: Apa itu kebodohan? Ia berkata: Memusuhi pemimpinmu dan mengangkat perkataanmu atasnya. Ia berkata: Apa itu pujian? Ia berkata: Mendatangkan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Ia berkata: Apa itu kehati-hatian? Ia berkata: Panjang sabar, dan lemah lembut kepada penguasa, dan berhati-hati dari manusia dengan buruk sangka, itulah kehati-hatian. Ia berkata: Apa itu kemuliaan? Ia berkata: Menyesuaikan diri dengan saudara-saudara, dan menjaga tetangga. Ia berkata: Apa itu kebebalan? Ia berkata: Mengikuti orang-orang rendah, dan berteman dengan orang-orang yang sesat. Ia berkata: Apa itu kelalaian? Ia berkata: Meninggalkan masjid dan mentaati orang yang merusak. Ia berkata: Apa itu kekurangan? Ia berkata: Meninggalkan bagianmu padahal telah ditawarkan kepadamu. Ia berkata: Apa itu pemimpin? Ia berkata: Orang bodoh dalam harta, yang meremehkan kehormatannya; dicaci maki namun tidak membalas, yang bersedih karena urusan kaum kerabat, dialah pemimpin. Ia berkata: Kemudian Ali berkata: Wahai anakku, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada kemiskinan yang lebih keras daripada kebodohan, dan tidak ada harta yang lebih bermanfaat daripada akal, dan tidak ada kesendirian yang lebih sunyi daripada kesombongan, dan tidak ada dukungan yang lebih terpercaya daripada musyawarah, dan tidak ada akal seperti perencanaan, dan tidak ada keturunan seperti akhlak yang baik, dan tidak ada wara’ seperti menahan diri, dan tidak ada ibadah seperti berpikir, dan tidak ada iman seperti malu, dan puncak iman adalah kesabaran, dan cacatnya pembicaraan adalah dusta, dan cacatnya ilmu adalah lupa, dan cacatnya kesabaran adalah kebebalan, dan cacatnya ibadah adalah kelesuan, dan cacatnya keanggunan adalah kesombongan, dan cacatnya keberanian adalah kezaliman, dan cacatnya kedermawanan adalah mengungkit pemberian, dan cacatnya kecantikan adalah keangkuhan, dan cacatnya cinta adalah kesombongan.” Kemudian Ali berkata: Wahai anakku, jangan engkau meremehkan seseorang yang engkau lihat selamanya, karena jika ia lebih tua darimu maka anggaplah ia ayahmu, dan jika ia setara denganmu maka ia saudaramu, dan jika ia lebih muda darimu maka anggaplah ia anakmu. Inilah apa yang Ali tanyakan kepada anaknya tentang beberapa hal mengenai muru’ah. Hakim Abu Al-Faraj berkata: Maka dalam berita ini terdapat hikmah dan manfaat besar yang akan bermanfaat bagi siapa yang memperhatikannya dan menghafalnya dan memahaminya, dan mengamalkannya, dan mendidik dirinya dengan mengamalkannya, dan memperbaikinya dengan kembali kepadanya, dan manfaatnya akan berlimpah dengan berhenti padanya, dan dalam apa yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin dan berlipat ganda daripadanya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada yang tidak dibutuhkan oleh setiap orang yang cerdas dan berilmu, dan orang bijaksana yang memahami tentang menghafalnya dan merenungkannya, dan orang yang beruntung adalah yang diberi petunjuk untuk menerimanya, dan orang yang beruntung adalah yang diberi taufik untuk mematuhinya dan menerimanya.

Aku berkata: Namun sanad atsar ini dan apa yang ada di dalamnya dari hadits marfu’ adalah lemah, dan seperti lafaz-lafaz ini dalam ungkapannya menunjukkan bahwa dalam sebagiannya terdapat keanehan yang menunjukkan bahwa ia tidak terjaga. Wallahu a’lam. Dan Al-Ashma’i, Al-Utbi, Al-Mada’ini dan yang lain telah menyebutkan bahwa Muawiyah bertanya kepada Hasan tentang hal-hal yang mirip dengan ini, maka ia menjawabnya dengan nahu seperti yang telah disebutkan, namun susunan ini jauh lebih panjang. Wallahu a’lam.

Dan Ali bin Al-Abbas Ath-Thabrani berkata: Tertulis pada cincin Hasan bin Ali: Majukanlah untuk dirimu sedapat mungkin dari ketakwaan, sesungguhnya kematian akan menghampirimu wahai pemuda. Engkau menjadi orang yang gembira seakan-akan engkau tidak melihat kekasih hatimu di dalam kubur-kubur dan kehancuran.

Dan Imam Ahmad berkata: Muthalib bin Ziyad Abu Muhammad menceritakan kepada kami, Muhammad bin Aban menceritakan kepada kami, dia berkata: Hasan bin Ali berkata kepada anak-anaknya dan anak-anak saudaranya: Belajarlah, karena kalian adalah anak-anak kecil kaum hari ini, dan kalian akan menjadi orang-orang besar mereka di hari esok. Barangsiapa di antara kalian yang tidak hafal, maka hendaklah dia menulis. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim, dari Al-Asham, dari Abdullah bin Ahmad, dari ayahnya.

Dan Muhammad bin Sa’d berkata: Hasan bin Musa dan Ahmad bin Yunus menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Zuhair bin Muawiyah menceritakan kepada kami, Abu Ishaq menceritakan kepada kami, dari Amr bin Al-Asham dia berkata: Aku berkata kepada Hasan bin Ali: Sesungguhnya golongan Syiah ini mengklaim bahwa Ali akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Dia berkata: Mereka berdusta, demi Allah. Mereka ini bukan Syiah. Seandainya kami tahu bahwa dia akan dibangkitkan, niscaya kami tidak menikahkan istri-istrinya dan tidak membagi-bagi hartanya.

Dan Abdullah bin Ahmad berkata: Abu Ali Suwaid Ath-Thahan menceritakan kepadaku, Ali bin Ashim menceritakan kepada kami, Abu Raihanah menceritakan kepada kami dari Safinah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda: Khilafah setelahku adalah tiga puluh tahun. Maka seorang laki-laki yang hadir dalam majelis itu berkata: Sungguh telah masuk dari tiga puluh tahun ini enam bulan dalam khilafah Muawiyah. Maka dia berkata: Dari sinilah engkau datang, bulan-bulan itu adalah baiat untuk Hasan bin Ali, empat puluh ribu atau empat puluh dua ribu orang membaiatnya.

Dan Shalih bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Sembilan puluh ribu orang membaiat Hasan, lalu dia zuhud terhadap khilafah dan berdamai dengan Muawiyah, dan tidak tertumpah pada masanya darah semikjam pun.

Dan Ibnu Abi Khaitsamah berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Wahb bin Jarir menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku berkata: Ketika Ali terbunuh, penduduk Kufah membaiat Hasan bin Ali dan mereka menaatinya dan mencintainya lebih keras daripada cinta mereka kepada ayahnya.

Dan Ibnu Abi Khaitsamah berkata: Harun bin Ma’ruf menceritakan kepada kami, Dhamrah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syaudzab dia berkata: Ketika Ali terbunuh, Hasan berjalan bersama penduduk Irak, dan Muawiyah berjalan bersama penduduk Syam lalu mereka bertemu. Hasan tidak suka peperangan, dan membaiat Muawiyah dengan syarat bahwa perjanjian diserahkan kepada Hasan setelahnya. Dia berkata: Maka para sahabat Hasan berkata: Wahai aib orang-orang beriman. Dia berkata: Maka dia berkata kepada mereka: Aib itu lebih baik daripada neraka.

Dan Abu Bakar bin Abi Ad-Dunya berkata: Abbas bin Hisyam menceritakan kepada kami, dari ayahnya dia berkata: Ketika Ali terbunuh, orang-orang membaiat Hasan bin Ali, lalu dia memegangnya selama tujuh bulan dan sebelas hari. Dan selain Abbas berkata: Hasan membaiat penduduk Kufah, dan penduduk Syam membaiat Muawiyah di Iliya’ setelah terbunuhnya Ali, dan dia dibaiat baiat umum di Baitul Maqdis pada hari Jumat di akhir tahun empat puluh, kemudian Hasan bertemu Muawiyah di Maskin – dari dataran Kufah – pada tahun empat puluh satu, lalu mereka berdamai dan Hasan membaiat Muawiyah. Dan selainnya berkata: Perdamaian mereka dan masuknya Muawiyah ke Kufah adalah pada bulan Rabiul Awal tahun empat puluh satu. Dan sungguh kami telah berbicara tentang rincian itu dalam uraian terdahulu dengan apa yang mencukupi dari mengulanginya di sini. Dan kesimpulannya adalah bahwa dia berdamai dengan Muawiyah dengan syarat dia mengambil apa yang ada di Baitul Mal yang di Kufah, maka Muawiyah menepati janji itu untuknya, ternyata di dalamnya lima juta, dan dikatakan: tujuh juta. Dan dengan syarat bahwa kharaj Basrah – dan dikatakan: Darabjird – menjadi untuknya setiap tahun. Maka penduduk daerah itu menolak menunaikan kharaj kepadanya, lalu Muawiyah menggantinya atas hal itu enam juta dirham setiap tahun. Maka dia tidak berhenti menerimanya bersama dengan apa yang dia miliki setiap tahun dalam kunjungannya berupa hadiah-hadiah, pemberian dan oleh-oleh, hingga dia wafat pada tahun ini.

Dan Muhammad bin Sa’d berkata, dari Haudzah bin Khalifah, dari Auf, dari Muhammad bin Sirin dia berkata: Ketika Muawiyah masuk Kufah dan Hasan bin Ali membaiatnya, para sahabat Muawiyah berkata kepada Muawiyah: Suruhlah Hasan bin Ali untuk berkhutbah, karena dia masih muda dan tidak fasih, mudah-mudahan dia tergagap sehingga kedudukan berkurang di hati manusia. Maka dia memerintahkannya, lalu dia berdiri dan berkhutbah, dia berkata dalam khutbahnya: Wahai manusia, demi Allah seandainya kalian mencari antara Jablaq dan Jabrus seorang laki-laki yang kakeknya adalah nabi selain aku dan saudaraku, niscaya kalian tidak akan menemukannya. Dan sesungguhnya kami telah memberikan baiat kami kepada Muawiyah, dan kami berpendapat bahwa menjaga darah kaum muslimin lebih baik daripada menumpahkannya, dan demi Allah aku tidak tahu, barangkali itu adalah fitnah bagi kalian dan kesenangan sampai waktu tertentu. Dan dia mengisyaratkan kepada Muawiyah, maka dia marah karena itu dan berkata: Apa yang engkau maksudkan dari ini? Dia berkata: Aku maksudkan darinya apa yang Allah maksudkan darinya. Lalu Muawiyah naik dan berkhutbah setelahnya. Dan lebih dari satu orang telah meriwayatkannya, dan kami telah mendahulukan bahwa Muawiyah menegur para sahabatnya.

Dan Muhammad bin Sa’d berkata: Abu Daud Ath-Thayalisi menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Khumair dia berkata: Aku mendengar Abdurrahman bin Jubair bin Nufair Al-Hadhrami menceritakan dari ayahnya dia berkata: Aku berkata kepada Hasan bin Ali: Sesungguhnya manusia mengklaim bahwa engkau menginginkan khilafah. Maka dia berkata: Kepala-kepala Arab ada di tanganku, mereka berdamai dengan siapa yang aku ajak damai dan mereka berperang dengan siapa yang aku ajak perang, lalu aku meninggalkannya karena mengharap wajah Allah, kemudian aku membangkitkannya dengan orang-orang dungu Hijaz?

Dan Muhammad bin Sa’d berkata: Ali bin Muhammad mengabarkan kepada kami, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Zaid bin Aslam dia berkata: Seorang laki-laki masuk menemui Hasan bin Ali di Madinah dan di tangannya ada lembaran, maka dia berkata: Apa ini? Maka dia berkata: Dari Muawiyah yang berisi janji dan ancaman. Dia berkata: Sungguh aku pernah berada pada separuhnya. Dia berkata: Benar, tetapi aku khawatir akan datang hari kiamat tujuh puluh ribu, atau delapan puluh ribu, atau lebih atau kurang, semuanya urat leher mereka memancurkan darah, semuanya meminta pertanggungjawaban Allah mengapa darahnya ditumpahkan.

Dan Al-Ashma’i berkata, dari Salam bin Miskin, dari Imran bin Abdullah dia berkata: Hasan bin Ali melihat dalam mimpinya bahwa tertulis di antara kedua matanya Katakanlah: Dia-lah Allah Yang Maha Esa (surah Al-Ikhlas ayat 1), maka dia gembira dengan itu, lalu hal itu sampai kepada Sa’id bin Al-Musayyib maka dia berkata: Jika dia benar-benar melihat mimpi ini, maka sedikit sisa ajalnya. Dia berkata: Maka Hasan tidak bertahan setelah itu kecuali beberapa hari hingga dia meninggal.

Dan Abu Bakar bin Abi Ad-Dunya berkata: Abdurrahman bin Shalih Al-Ataki dan Muhammad bin Utsman Al-Ajli menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Usamah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Aun, dari Umair bin Ishaq dia berkata: Aku dan seorang laki-laki dari Quraisy masuk menemui Hasan bin Ali, lalu dia berdiri masuk ke tempat buang air, kemudian keluar dan berkata: Sungguh aku telah memuntahkan sepotong hatiku, aku membolak-baliknya dengan tongkat ini, dan sungguh aku telah diberi racun berulang kali, dan tidak pernah aku diberi minum sekali yang lebih keras dari ini. Dia berkata: Dan dia terus berkata kepada laki-laki itu: Tanyakan kepadaku sebelum engkau tidak bisa menanyakanku. Maka dia berkata: Aku tidak menanyakan sesuatu kepadamu, semoga Allah menyehatkanmu. Dia berkata: Maka kami keluar darinya, kemudian kami kembali kepadanya pada esok harinya dan dia sudah dalam keadaan sakratul maut. Maka Husain datang hingga duduk di dekat kepalanya, lalu dia berkata: Wahai saudaraku, siapa pelakumu? Dia berkata: Apakah engkau ingin membunuhnya? Dia berkata: Ya. Dia berkata: Jika dia adalah pelaku yang aku sangka, maka Allah lebih keras siksaan-Nya – dan dalam riwayat: maka Allah lebih keras kekuasaan-Nya dan lebih keras hukuman-Nyadan jika bukan dia, maka aku tidak suka engkau membunuh orang yang tidak bersalah karena aku. Dan Muhammad bin Sa’d meriwayatkannya dari Ibnu Ulayyah, dari Abu Aun.

Dan Muhammad bin Umar Al-Waqidi berkata: Abdullah bin Ja’far menceritakan kepadaku dari Umm Bakr binti Al-Miswar dia berkata: Hasan pernah diberi minum racun berulang kali, setiap kali dia selamat darinya, hingga yang terakhir kali di mana dia meninggal, karena hatinya hancur. Ketika dia meninggal, perempuan-perempuan Bani Hasyim meratapi dia selama sebulan. Dan Al-Waqidi berkata: Ubaidah binti Nabil menceritakan kepada kami, dari Aisyah dia berkata: Perempuan-perempuan Bani Hasyim berkabung atas Hasan bin Ali selama setahun.

Al-Waqidi berkata: Abdullah bin Ja’far menceritakan kepadaku dari Abdullah bin Hasan dia berkata: Hasan bin Ali banyak menikahi perempuan, dan jarang mereka mendapat giliran di sisinya, dan jarang seorang perempuan yang dia nikahi kecuali dia mencintainya dan tergila-gila padanya. Maka dikatakan: Sesungguhnya dia pernah diberi racun, kemudian selamat, kemudian diberi racun lalu selamat, kemudian yang terakhir dia wafat karenanya. Ketika kematian mendatanginya, dokter berkata dan dia sering datang kepadanya: Ini adalah seorang laki-laki yang racun telah memotong ususnya. Maka Husain berkata: Wahai Abu Muhammad, beritahukan kepadaku siapa yang memberimu minum racun? Dia berkata: Untuk apa wahai saudaraku? Dia berkata: Aku akan membunuhnya demi Allah sebelum aku menguburkanmu, atau aku tidak mampu kepadanya, atau dia berada di negeri yang aku harus berangkat kepadanya. Maka dia berkata: Wahai saudaraku, sesungguhnya dunia ini hanyalah malam-malam yang fana, biarkanlah dia hingga aku bertemu dengannya di sisi Allah. Dan dia menolak menyebutkan namanya. Dan aku telah mendengar sebagian orang berkata: Muawiyah telah merayu sebagian pelayannya agar memberinya minum racun.

Muhammad bin Sa’d berkata: Yahya bin Hammad mengabarkan kepada kami, Abu Awanah mengabarkan kepada kami, dari Al-Mughirah, dari Umm Musa, bahwa Ja’dah binti Al-Asy’ats bin Qais memberi minum Hasan racun, lalu dia sakit karenanya. Dia berkata: Maka diletakkan di bawahnya baskom dan diangkat yang lain sekitar empat puluh hari.

Dan sebagian mereka meriwayatkan bahwa Yazid bin Muawiyah mengirim kepada Ja’dah binti Al-Asy’ats: Racunilah Hasan dan aku akan menikahinya setelahnya. Maka dia melakukannya. Ketika Hasan meninggal, dia mengirim kepadanya, maka dia berkata: Sesungguhnya kami demi Allah tidak merestui engkau untuk Hasan, maka apakah kami merestui engkau untuk diri kami sendiri? Dan menurutku ini tidak benar, dan ketidakbenarannya dari ayahnya Muawiyah lebih utama dan lebih layak. Dan Kutsayyir Azzah telah berkata dalam hal itu: Wahai Ja’dah ratapilah dia dan jangan bosan, ratapan yang benar bukan yang batil. Tidak akan engkau tutup rumah atas orang sepertinya di antara manusia dari yang bertelanjang kaki dan yang memakai sandal. Aku maksudkan orang yang keluarganya menyerahkannya kepada zaman yang mengeluarkan dan menghapus. Dia adalah jika dinyalakan untuknya apinya, dia mengangkatnya dengan nasab yang kokoh. Agar dilihat olehnya orang miskin yang menderita, atau orang sendirian dari kaum yang tidak punya keluarga. Dia merebus daging hingga jika matang, tidak tersisa bagi yang makan.

Sufyan bin Uyainah berkata, dari Raqabah bin Mishqalah dia berkata: Ketika Hasan bin Ali hampir meninggal dia berkata: Keluarkan aku ke halaman agar aku melihat kerajaan langit-langit. Maka mereka mengeluarkan kasurnya, lalu dia mengangkat kepalanya, lalu melihat dan berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku menahan diriku di sisi-Mu, karena dia adalah jiwa yang paling mulia bagiku.

Dan Abdurrahman bin Mahdi berkata: Ketika Sufyan Ats-Tsauri keras sakit, dia gelisah dengan keras, maka Marhum bin Abdul Aziz masuk menemuinya dan berkata: Apa kegelisahan ini wahai Abu Abdillah? Engkau akan mendatangi Rabb yang telah engkau ibadahi selama enam puluh tahun, engkau puasa untuk-Nya, engkau shalat untuk-Nya, engkau haji untuk-Nya. Dia berkata: Maka Ats-Tsauri menjadi lega. Abu Nu’aim berkata: Ketika Hasan bin Ali keras sakitnya, dia gelisah, maka seorang laki-laki masuk menemuinya dan berkata kepadanya: Wahai Abu Muhammad, apa kegelisahan ini? Tidak lain adalah ketika ruhmu meninggalkan jasadmu maka engkau mendatangi kedua orangtuamu Ali dan Fathimah, dan kepada kedua kakekmu Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Khadijah, dan kepada pamanmu Hamzah dan Ja’far, dan kepada paman-paman dari pihak ibumu Al-Qasim dan Ath-Thayyib dan Muthahhar dan Ibrahim, dan kepada bibi-bibimu Ruqayyah dan Ummu Kultsum dan Zainab. Dia berkata: Maka dia menjadi lega. Dan dalam riwayat bahwa yang mengatakannya kepadanya adalah Husain, dan bahwa Hasan berkata kepadanya: Wahai saudaraku, sesungguhnya aku memasuki urusan dari urusan Allah yang belum pernah aku masuki sepertinya, dan aku melihat makhluk dari makhluk Allah yang belum pernah aku lihat seperti mereka sebelumnya. Dia berkata: Maka Husain menangis, semoga Allah meridhai keduanya. Dan Abbas Ad-Dauri meriwayatkannya, dari Ibnu Ma’in dengannya. Dan sebagian mereka meriwayatkannya dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, lalu menyebutkan seperti keduanya.

Dan Al-Waqidi berkata: Ibrahim bin Al-Fadhl menceritakan kepada kami, dari Abu Atiq dia berkata: Aku mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Kami menyaksikan Hasan bin Ali pada hari dia meninggal, maka hampir terjadi fitnah antara Husain bin Ali dan Marwan bin Al-Hakam. Dan Hasan telah berwasiat kepada saudaranya agar dia dikubur bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, jika dia khawatir akan ada peperangan atau keburukan dalam hal itu maka hendaklah dia dikubur di Baqi. Maka Marwan menolak membiarkannya, dan Marwan pada hari itu dalam keadaan dicopot ingin menyenangkan Muawiyah dengan hal itu, maka Marwan tidak berhenti menjadi musuh Bani Hasyim hingga dia meninggal. Jabir berkata: Maka aku berbicara pada hari itu dengan Husain bin Ali dan berkata: Wahai Abu Abdillah, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya saudaramu tidak menyukai apa yang engkau lihat, maka kuburkanlah dia di Baqi bersama ibunya. Maka dia melakukannya.

Kemudian Waqidi meriwayatkan: Abdullah bin Nafi menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Ibnu Umar dia berkata: Aku menyaksikan wafatnya Hasan bin Ali, lalu aku berkata kepada Husain: Bertakwalah kepada Allah dan janganlah membangkitkan fitnah dan menumpahkan darah, kuburkanlah saudaramu di samping ibunya; karena saudaramu telah mewasiatkan hal itu kepadamu. Dia berkata: Maka Husain melakukannya. Dan Waqidi telah meriwayatkan dari Abu Hurairah serupa dengan ini.

Dan dalam riwayat bahwa Hasan mengirim utusan meminta izin kepada Aisyah dalam hal itu, maka dia mengizinkannya. Ketika dia wafat, Husain mengenakan senjata dan Bani Umayyah juga bersenjata, dan mereka berkata: Kami tidak membiarkannya dikuburkan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Apakah Utsman dikuburkan di Baqi, sedangkan Hasan bin Ali dikuburkan di kamar? Ketika manusia khawatir akan terjadinya fitnah, Sa’d bin Abi Waqqash, Abu Hurairah, Jabir, dan Ibnu Umar menyarankan kepada Husain agar tidak berperang. Maka dia mematuhinya dan menguburkan saudaranya dekat dengan makam ibunya di Baqi, semoga Allah meridainya.

Dan Sufyan ats-Tsauri berkata, dari Salim bin Abi Hafshah, dari Abu Hazim dia berkata: Aku melihat Husain bin Ali pada hari itu mendahulukan Sa’id bin al-Ash lalu dia menyalatkan Hasan. Dan dia berkata: Seandainya ini bukan sunnah, aku tidak akan mendahulukannya.

Dan Muhammad bin Ishaq berkata: Masawwir, budak Bani Sa’d bin Bakr, menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku melihat Abu Hurairah berdiri di atas masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada hari wafatnya Hasan bin Ali dan dia berseru dengan suara paling keras: Wahai manusia, pada hari ini telah wafat kekasih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka menangislah.

Dan manusia telah berkumpul untuk jenazahnya, hingga Baqi tidak cukup menampung seorang pun karena kepadatan, dan para lelaki dan perempuan telah menangisinya selama tujuh hari, dan para wanita Bani Hasyim terus meratapi dia selama sebulan, dan para wanita Bani Hasyim berkabung atasnya selama setahun.

Ya’qub bin Sufyan berkata: Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya dia berkata: Ali terbunuh dan dia berusia lima puluh delapan tahun, dan untuk usia itu Hasan wafat, dan untuk usia itu Husain terbunuh. Semoga Allah meridai mereka.

Dan Syu’bah berkata, dari Abu Bakr bin Hafsh dia berkata: Sa’d dan Hasan bin Ali wafat beberapa hari setelah berlalu sepuluh tahun dari pemerintahan Muawiyah.

Dan Ibnu ‘Ulayyah berkata dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya dia berkata: Hasan wafat dan dia berusia empat puluh tujuh tahun. Dan demikian juga yang dikatakan oleh lebih dari satu orang, dan ini yang paling sahih.

Dan yang masyhur bahwa dia wafat tahun empat puluh sembilan seperti yang telah kami sebutkan, dan yang lain berkata: Dia wafat tahun lima puluh. Dan ada yang berpendapat: Tahun lima puluh satu atau lima puluh delapan.

Tahun Lima Puluh Hijriah

Pada tahun ini wafat Abu Musa al-Asy’ari, menurut suatu pendapat, dan yang sahih bahwa dia wafat tahun lima puluh dua seperti yang akan datang. Dan pada tahun ini Muawiyah menghajikan manusia, dan ada yang berpendapat: anaknya Yazid. Dan gubernur Madinah pada tahun ini adalah Sa’id bin al-Ash, dan atas Kufah, Bashrah, Masyriq, Sijistan, Persia, Sindh, dan Hind adalah Ziyad.

Dan pada tahun ini Bani Nahsyal mengadu tentang Farazdaq kepada Ziyad, maka Farazdaq melarikan diri darinya ke Madinah. Sebab hal itu adalah dia menyindir Muawiyah dalam sebuah qasidahnya, maka Ziyad mencarinya dengan sangat giat dan dia melarikan diri darinya ke Madinah, lalu meminta perlindungan kepada Sa’id bin al-Ash, dan memujinya dengan beberapa syair maka dia melindunginya. Dan Farazdaq terus berpindah-pindah antara Makkah dan Madinah hingga wafatnya Ziyad, maka dia kembali ke negerinya. Dan Ibnu Jarir telah memperpanjang kisah ini.

Dan Ibnu Jarir telah menyebutkan pada tahun ini di antara peristiwa-peristiwa apa yang dia riwayatkan dari jalan Waqidi: Yahya bin Sa’id bin Dinar menceritakan kepadaku, dari ayahnya, bahwa Muawiyah telah bertekad untuk memindahkan mimbar Nabawi dari Madinah ke Damaskus, dan untuk mengambil tongkat yang biasa Nabi shallallahu alaihi wasallam pegang di tangannya ketika berkhutbah, lalu dia berdiri di atas mimbar sambil memegangnya. Maka Abu Hurairah dan Jabir bin Abdullah berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, kami mengingatkanmu kepada Allah agar engkau melakukan ini, karena ini tidak pantas engkau mengeluarkan mimbar dari tempat yang telah diletakkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di sana, dan engkau mengeluarkan tongkatnya dari Madinah. Maka Muawiyah meninggalkan hal itu, tetapi dia menambahkan enam anak tangga pada mimbar, dan dia meminta maaf kepada manusia.

Kemudian Waqidi meriwayatkan: Bahwa Abdul Malik bin Marwan pada masa khilafahnya berniat untuk melakukan hal itu dan bertekad atasnya, lalu dikatakan kepadanya: Sesungguhnya Muawiyah telah bertekad untuk ini kemudian meninggalkannya, dan sesungguhnya ketika dia menggerakkan mimbar, terjadi gerhana matahari; maka dia meninggalkan hal itu. Kemudian ketika Walid bin Abdul Malik berhaji, dia juga menginginkan hal itu, lalu dikatakan kepadanya: Sesungguhnya Muawiyah dan ayahmu menginginkan hal itu kemudian meninggalkannya. Dan sebab meninggalkannya adalah Sa’id bin al-Musayyab berbicara kepada Umar bin Abdul Aziz agar berbicara kepadanya dalam hal itu dan menasihatinya, maka dia meninggalkannya. Kemudian ketika Sulaiman berhaji, Umar bin Abdul Aziz memberitahunya tentang apa yang telah ditegadkan oleh Walid, dan bahwa Sa’id bin al-Musayyab melarangnya dari hal itu. Maka dia berkata: Aku tidak suka hal ini disebutkan tentang Abdul Malik maupun tentang Walid, dan tidak pantas bagi kami untuk melakukan ini. Apa urusan kami dengan ini, sedangkan kami telah mengambil dunia dan ia ada di tangan kami, lalu kami ingin menyengaja suatu tanda dari tanda-tanda Islam yang orang-orang berdatangan kepadanya, lalu kami membawanya ke wilayah kami, ini tidak pantas. Semoga Allah merahmatinya.

Dan pada tahun ini Muawiyah memecat Muawiyah bin Hudaij dari Mesir dan mengangkat Maslamah bin Mukhlad atas Mesir dan Afrika.

Dan pada tahun itu Uqbah bin Nafi al-Fihri atas perintah Muawiyah membuka negeri-negeri Afrika, dan merencanakan Qairauan – sedangkan tempatnya adalah semak belukar yang ditempati oleh binatang buas, hewan liar, dan ular-ular besar – maka dia berdoa kepada Allah Ta’ala, tidak tersisa di sana sesuatu pun dari itu hingga binatang buas keluar darinya sambil membawa anak-anaknya, dan ular-ular keluar dari lubang-lubangnya sambil melarikan diri. Pada saat itu banyak orang Barbar yang masuk Islam.

Dan pada tahun ini Busr bin Abi Artah dan Sufyan bin Auf menyerang tanah Romawi, dan pada tahun itu Fadhalah bin Ubaid menyerang laut.

Dan pada tahun itu wafat Midlaj bin Amr as-Sulami, seorang sahabat mulia, menyaksikan semua peperangan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan aku tidak melihat disebutkannya dalam kitab-kitab tentang para sahabat.

Dan Abu al-Faraj Ibnul Jauzi menyebutkan dalam kitabnya al-Muntazham, bahwa pada tahun ini wafat Jubair bin Muth’im, Hassan bin Tsabit, Hakam bin Amr al-Ghifari, Dihyah bin Khalifah al-Kalbi, Aqil bin Abi Thalib, Amr bin Umayyah adh-Dhamri, Ka’b bin Malik, Mughirah bin Syu’bah, Juwairiyah binti al-Harits, Shafiyyah binti Huyay, dan Ummu Syarik al-Anshariyyah. Semoga Allah meridai mereka semua.

Adapun Jubair bin Muth’im bin Adi bin Naufal bin Abdul Manaf al-Qurasyi an-Naufali Abu Muhammad, dan ada yang berpendapat: Abu Adi al-Madani, sesungguhnya dia datang ketika masih musyrik dalam urusan menebus tawanan Badar, ketika dia mendengar bacaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam surah ath-Thur: Ataukah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (ath-Thur: 35), Islam masuk ke dalam hatinya. Kemudian dia masuk Islam pada tahun Khaibar, dan ada yang berpendapat: pada masa Pembebasan. Dan yang pertama lebih sahih. Dan dia termasuk pemimpin-pemimpin Quraisy dan paling mengetahui tentang nasab, dia mengambil itu dari Shiddiq. Dan yang masyhur bahwa dia wafat tahun lima puluh delapan, dan ada yang berpendapat: tahun lima puluh sembilan, seperti yang akan datang.

Adapun Hassan bin Tsabit

Penyair Islam, maka yang sahih bahwa dia wafat tahun lima puluh empat, seperti yang akan datang.

Adapun Hakam bin Amr bin Mujda’ al-Ghifari, saudara Rafi’ bin Amr al-Ghifari, dan dikatakan untuknya: Hakam bin al-Aqra’. Maka dia adalah seorang sahabat mulia, dia memiliki satu hadits di sisi Bukhari tentang larangan daging keledai jinak. Dan Ziyad bin Abihi telah menugaskannya untuk memimpin penyerangan Jabal al-Asyal, maka dia mendapatkan banyak harta rampasan berupa emas, perak, dan lainnya. Lalu datang surat dari Ziyad atas perintah Muawiyah agar mengambil emas dan perak dari harta rampasan untuk Baitul Mal. Maka Hakam membalas kepadanya: Sesungguhnya Kitab Allah lebih layak untuk diikuti daripada surat Muawiyah, dan Kitab Allah telah mendahului surat Muawiyah. Dan telah bersabda alaihi ash-shalatu wassalam: Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Khaliq. Kemudian dia menyeru kepada manusia: Datanglah esok hari untuk mengambil harta rampasan kalian. Maka dia membagikannya kepada manusia dan tidak menyisakan kecuali seperlima. Maka dikatakan: Sesungguhnya dia dipenjara hingga meninggal di Marw pada tahun ini. Dan ada yang berpendapat: pada tahun lima puluh satu. Semoga Allah merahmatinya.

Adapun Dihyah bin Khalifah al-Kalbi

Maka dia adalah seorang sahabat mulia, dia tampan rupanya, karena itu Jibril sering datang dalam bentuk rupanya. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutusnnya kepada Qaishar. Dia masuk Islam sejak awal, tetapi tidak menyaksikan Badar, dan menyaksikan perang-perang sesudahnya. Kemudian dia menyaksikan Yarmuk dan tinggal di Muzzah sebelah barat Damaskus hingga meninggal pada masa kekhalifahan Muawiyah.

Dan pada tahun itu wafat Abdurrahman bin Samurah bin Habib bin Abdi Syams al-Qurasyi Abu Sa’id al-Absyami, masuk Islam pada hari Pembebasan, dan ada yang berpendapat: menyaksikan Mu’tah, dan menyerang Khurasan serta membuka Sijistan, Kabul, dan lainnya. Dan dia memiliki rumah di Damaskus, dan tinggal di Bashrah, dan ada yang berpendapat: di Marw.

Dan Muhammad bin Sa’d dan lebih dari satu orang berkata: Dia wafat di Bashrah tahun lima puluh. Dan ada yang berpendapat: tahun lima puluh satu. Dan Ziyad menyalatinya. Dan dia meninggalkan beberapa anak laki-laki. Dan namanya pada masa Jahiliah adalah Abdul Kulal, dan ada yang berpendapat: Abdul Kulaub. Dan ada yang berpendapat: Abdul Ka’bah. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menamakannya Abdurrahman. Dan dia salah satu dari dua utusan antara Muawiyah dan Hasan, semoga Allah meridai keduanya. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah berkata kepadanya: Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan; karena sesungguhnya jika engkau diberi kepemimpinan atas permintaan, engkau diserahkan kepadanya, dan jika engkau diberi kepemimpinan tanpa permintaan, engkau ditolong dalam menjalankannya.

Dan pada tahun itu wafat Utsman bin Abil Ash ats-Tsaqafi, Abu Abdullah ath-Tha’ifi, dia dan saudaranya Hakam adalah sahabat. Dia datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam rombongan Tsaqif, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengangkatnya atas Thaif, dan Abu Bakr dan Umar menjadikannya pemimpin atas mereka. Maka dia adalah pemimpin mereka dan imam mereka selama waktu yang lama hingga meninggal tahun lima puluh. Dan ada yang berpendapat: tahun lima puluh satu. Semoga Allah meridainya.

Adapun Aqil bin Abi Thalib

Saudara Ali, maka dia lebih tua dari Ja’far sepuluh tahun, dan Ja’far lebih tua dari Ali sepuluh tahun, sebagaimana Thalib lebih tua dari Aqil sepuluh tahun, dan semuanya masuk Islam kecuali Thalib. Aqil masuk Islam sebelum Hudaibiyah, dan menyaksikan Mu’tah. Dan dia termasuk ahli nasab Quraisy. Dan dia mewarisi kerabat-kerabatnya yang berhijrah dan meninggalkan harta benda dan rumah mereka di Makkah. Dan meninggal pada masa kekhalifahan Muawiyah.

Adapun Amr bin Umayyah adh-Dhamri

Maka dia adalah seorang sahabat mulia, masuk Islam setelah Uhud, dan peperangan pertamanya adalah Bi’r Ma’unah. Dan dia adalah pemungut zakat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau mengutusnnya kepada Najasyi untuk menikahkan Ummu Habibah, dan agar membawa orang-orang Muslim yang masih ada di sana. Dan dia memiliki perbuatan-perbuatan baik dan jejak-jejak terpuji, semoga Allah meridainya. Wafat pada masa kekhalifahan Muawiyah. Dan dia tidak dapat dikejar dan tidak dapat didahului dengan kuda.

Dan pada tahun itu adalah wafatnya Amr bin Humaq bin Kahin al-Khuza’i, masuk Islam sebelum Pembebasan dan berhijrah. Dan ada yang berpendapat: bahwa dia baru masuk Islam pada tahun Haji Wada. Dan telah datang dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa untuknya agar Allah menjaganya dengan masa mudanya; maka dia bertahan delapan puluh tahun tidak terlihat di jenggotnya sehelai rambut putih pun. Dan dengan ini dia adalah salah satu dari empat orang yang masuk menemui Utsman. Kemudian setelah itu dia menjadi pengikut Ali, maka dia menyaksikan bersamanya Jamal dan Shiffin. Dan dia termasuk di antara orang-orang yang bangkit bersama Hujr bin Adi, maka Ziyad mencarinya, dia melarikan diri ke Mausil. Maka Muawiyah mengutus kepada gubernurnya, mereka mencarinya dan menemukan dia telah bersembunyi di sebuah gua lalu digigit ular, maka dia meninggal dan kepalanya dipotong, lalu dikirim kepada Muawiyah. Maka dia diarak keliling di Syam dan lainnya. Maka dia adalah kepala pertama yang diarak keliling. Kemudian Muawiyah mengirimkan kepalanya kepada istrinya Aminah binti Syarid – dan dia ada di penjaranya – lalu dilemparkan ke dalam pangkuannya. Maka dia meletakkan telapak tangannya di dahinya dan mencium mulutnya, dan berkata: Kalian menyembunyikannya dariku lama, kemudian kalian menghadiahkannya kepadaku terbunuh, maka selamat datang hadiah yang tidak benci dan tidak membosankan.

Ka’ab bin Malik Al-Anshari As-Salami

Penyair Islam ini masuk Islam sejak awal dan menyaksikan Aqabah, namun tidak ikut dalam Perang Badar, sebagaimana disebutkan dalam Shahihain dalam kisah tentang penerimaan taubatnya oleh Allah. Ia adalah salah satu dari tiga orang yang diterima taubatnya karena tidak ikut dalam Perang Tabuk, sebagaimana telah kami sebutkan secara terperinci dalam Tafsir, dan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan Perang Tabuk. Ibnu Al-Kalbi keliru dalam pernyataannya bahwa Ka’ab ikut dalam Perang Badar, dan juga keliru dalam pernyataannya bahwa ia wafat sebelum usia empat puluh tahun. Sedangkan Al-Waqidi—yang lebih mengetahui daripadanya—mengatakan: ia wafat tahun lima puluh. Al-Haitsam bin Adi mengatakan: tahun lima puluh satu. Semoga Allah meridhainya.

Al-Mughirah bin Syu’bah

Al-Mughirah bin Syu’bah bin Abi ‘Amir bin Mas’ud, Abu Isa, ada yang mengatakan: Abu Abdullah Ats-Tsaqafi. ‘Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi adalah paman ayahnya. Al-Mughirah termasuk orang-orang Arab yang cerdik dan memiliki banyak pendapat. Ia masuk Islam pada tahun Khandaq setelah membunuh tiga belas orang Tsaqif ketika mereka kembali dari Muqauqis, kemudian mengambil harta mereka. ‘Urwah bin Mas’ud membayar diyat mereka. Ia menyaksikan Hudaibiyah dan pada hari perdamaian berdiri di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pedang terhunus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya bersama Abu Sufyan bin Harb setelah penduduk Thaif masuk Islam untuk menghancurkan Latta, dan telah kami sebutkan sebelumnya bagaimana kejadiannya. Abu Bakar mengutusnya ke Bahrain, dan ia menyaksikan perang Yamamah dan Yarmouk, matanya terluka pada hari itu. Ada yang mengatakan: ia melihat matahari saat gerhana sehingga penglihatannya hilang. Ia menyaksikan Qadisiyah, dan Umar memberikan kepadanya banyak penaklukan, di antaranya Hamadzan dan Maisan. Dialah yang menjadi utusan Sa’d kepada Rustam dan berbicara kepadanya dengan kata-kata yang fasih. Umar mengangkatnya sebagai pengganti di Bashrah, namun ketika ia dituduh berzina tetapi tidak terbukti, Umar mencopotnya dan mengangkatnya di Kufah. Utsman mempertahankannya untuk beberapa waktu, kemudian mencopotnya, sehingga ia tetap tercopot hingga terjadi peristiwa Tahkim (dua wasit). Kemudian ia bergabung dengan Muawiyah. Setelah Ali terbunuh, Hasan berdamai dengan Muawiyah dan memasuki Kufah, Muawiyah mengangkatnya sebagai gubernur di sana. Ia terus menjadi amir Kufah hingga wafat pada tahun ini menurut pendapat yang masyhur. Demikian dikatakan Muhammad bin Sa’d dan lainnya.

Al-Khatib berkata: semua orang sepakat tentang hal itu, yaitu pada bulan Ramadhan tahun tersebut, pada usia tujuh puluh tahun.

Abu ‘Ubaid berkata: ia wafat tahun empat puluh sembilan.

Ibnu Abdil Barr berkata: tahun lima puluh satu. Ada yang mengatakan: tahun lima puluh delapan. Ada yang mengatakan: tahun tiga puluh enam. Dan ini keliru.

Muhammad bin Sa’d berkata: Al-Mughirah memiliki rambut yang sangat merah kekuningan, berkepala plontos, bibirnya tebal, ompong, berkepala besar, lengannya besar, jarak antara kedua pundaknya lebar, dan ia membelah rambutnya menjadi empat belahan.

Asy-Sya’bi berkata: para hakim ada empat: Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, dan Abu Musa. Para orang cerdik ada empat: Muawiyah, Amr bin Al-‘Ash, Al-Mughirah, dan Ziyad.

Az-Zuhri berkata: orang-orang cerdik dalam fitnah ada lima: Muawiyah, Amr bin Al-‘Ash, Al-Mughirah bin Syu’bah—yang bersikap netral, Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah, dan Abdullah bin Budail bin Warqa’—keduanya bersama Ali.

Saya katakan: kaum Syi’ah mengatakan: para syekh ada lima: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Para musuh ada lima: Abu Bakar, Umar, Muawiyah, Amr bin Al-‘Ash, dan Al-Mughirah bin Syu’bah.

Asy-Sya’bi berkata: aku mendengar Al-Mughirah berkata: tidak ada yang mengalahkanku kecuali seorang pemuda suatu kali. Aku ingin menikahi seorang wanita, lalu aku meminta pendapatnya tentang wanita itu. Ia berkata: wahai amir, aku tidak melihat engkau layak menikahinya. Aku bertanya: mengapa? Ia menjawab: aku melihat seorang laki-laki menciumnya. Kemudian aku mendengar kabar bahwa ia telah menikahinya. Aku berkata kepadanya: bukankah engkau mengklaim melihat seorang laki-laki menciumnya? Ia menjawab: ya, aku melihat ayahnya menciumnya ketika ia masih kecil.

Asy-Sya’bi juga berkata: aku mendengar Qabishah bin Jabir berkata: aku menemani Al-Mughirah bin Syu’bah. Seandainya ada kota dengan delapan pintu yang tidak bisa keluar dari pintu manapun kecuali dengan tipu daya, niscaya Al-Mughirah akan keluar dari semua pintunya.

Ibnu Wahb berkata: aku mendengar Malik berkata: Al-Mughirah bin Syu’bah biasa berkata: pemilik satu istri akan haid bersamanya dan sakit bersamanya. Pemilik dua istri berada di antara dua api yang menyala. Ia menikahi empat wanita sekaligus dan menceraikan mereka sekaligus. Abdullah bin Nafi’ Ash-Shaigh berkata: Al-Mughirah menikahi tiga ratus wanita. Yang lain berkata: seribu wanita. Ada yang mengatakan: seratus wanita. Ada yang mengatakan: delapan puluh wanita. Wallahu a’lam.

Juwairiyah binti Al-Harits

Juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar Al-Khuza’iyah Al-Mushthalaqiyah, Ummul Mukminin, ditawan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Muraisi’, yaitu Perang Bani Mushthalaq. Ayahnya adalah raja mereka. Ia masuk Islam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerdekakannya dan menikahinya. Ia termasuk dalam bagian Tsabit bin Qais bin Syammas dan membuat perjanjian pembebasan dengannya. Ia datang kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam meminta bantuan untuk pembebasan dirinya. Rasul berkata: atau yang lebih baik dari itu? Ia bertanya: apa itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: aku membelimu, memerdekakanmu, dan menikahinya. Maka beliau memerdekakannya. Orang-orang berkata: mereka adalah besan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu mereka memerdekakan tawanan Bani Mushthalaq yang ada di tangan mereka, dan mereka sekitar seratus keluarga. Aisyah berkata: aku tidak mengetahui seorang wanita pun yang lebih besar berkahnya bagi keluarganya daripada dia. Namanya adalah Barrah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menamakannya Juwairiyah. Ia adalah wanita yang manis—yaitu manis tutur katanya. Ia wafat pada tahun ini, tahun lima puluh, sebagaimana disebutkan Ibnu Al-Jauzi dan lainnya, pada usia enam puluh lima tahun. Al-Waqidi berkata: tahun lima puluh enam. Semoga Allah meridhainya dan meridhkannya. Wallahu a’lam.

Shafiyyah binti Huyay

Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab bin Sa’iyah bin Tsa’labah bin ‘Ubaid bin Ka’b bin Al-Khazraj bin Abi Habib bin An-Nadhir bin An-Naham bin Yanhum, Ummul Mukminin An-Nadhiriyah, berasal dari keturunan Harun saudara Musa alaihimassalam. Ia bersama ayahnya dan pamannya Jaddi bin Akhthab di Madinah. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusir Bani Nadhir, mereka pergi ke Khaibar. Ayahnya dibunuh bersama Bani Quraizhah dengan cara disembelih, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan Khaibar, ia termasuk dalam tawanan dan jatuh dalam bagian Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi. Kecantikannya disebutkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta statusnya sebagai putri raja mereka, maka beliau memilihnya untuk diri beliau sendiri dan memberikan ganti kepada Dihyah. Ia masuk Islam, lalu beliau memerdekakannya dan menikahinya. Ketika sampai di Shahba, beliau melaksanakan pernikahan dengannya. Penata rambutnya adalah Ummu Sulaim. Ia sebelumnya bersuami anak sepupunya bernama Kinanah bin Abil Huqaiq yang terbunuh dalam pertempuran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat bekas tamparan di pipinya lalu bertanya: apa ini? Ia menjawab: aku bermimpi seolah bulan datang dari Yatsrib, lalu jatuh ke pangkuanku. Aku menceritakan mimpi itu kepada anak sepupuku, lalu ia menamparku dan berkata: apakah engkau berharap akan dinikahi oleh raja Yatsrib? Ini bekas tamparannya. Ia termasuk wanita-wanita terpandang dalam ibadah, wara’, zuhud, berbakti, dan sedekah. Semoga Allah meridhainya dan meridhkannya. Al-Waqidi berkata: ia wafat tahun lima puluh. Yang lain berkata: tahun tiga puluh enam. Yang pertama lebih shahih.

Ummu Syarik Al-Anshariyah

Ada yang mengatakan: Al-‘Amiriyah. Dialah yang menyerahkan dirinya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada yang mengatakan: beliau menerimanya. Ada yang mengatakan: beliau tidak menerimanya. Ia tidak menikah hingga wafat dengan harapan menjadi salah satu istri beliau. Dialah yang diberi minum dengan ember dari langit ketika orang-orang musyrik menghalanginya dari air, lalu mereka masuk Islam karena kejadian itu. Namanya adalah Ghaziyah, ada yang mengatakan: ‘Uzailah binti Daudan bin Amr bin ‘Amir bin Rawahah bin Munqidz bin Amr bin Mu’aish bin ‘Amir bin Luay. Ia masuk Islam sejak awal dan wafat pada tahun ini menurut pendapat yang shahih. Ibnu Al-Jauzi berkata: ia wafat tahun lima puluh, dan aku tidak melihat pendapat ini dari yang lain.

Tahun Lima Puluh Satu

Pada tahun ini terjadi pembunuhan Hujr bin Adi dan teman-temannya. Ia adalah Hujr bin Adi bin Jablah bin Adi bin Rabi’ah bin Muawiyah Al-Akramin bin Al-Harits bin Muawiyah bin Tsaur bin Murta’ bin Kindi Al-Kufi. Ia dijuluki Hujr Al-Khair. Ada yang menjulukinya Hujr bin Al-Adbar karena ayahnya Adi ditikam dari belakang sehingga dinamai Al-Adbar. Hujr berkunyah Abu Abdurrahman, dan ia dari Kindah, salah satu pemimpin penduduk Kufah.

Ibnu ‘Asakir berkata: ia pernah menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendengar dari Ali, Ammar, dan Syurahbil bin Murrah. Ada yang mengatakan: Syurahbil bin Murrah. Meriwayatkan darinya adalah Abu Laila maulanya, Abdurrahman bin ‘Abis, dan Abu Al-Bakhtari Ath-Tha’i. Ia berperang di Syam dalam pasukan yang menaklukkan ‘Adzra’ dan menyaksikan Shiffin bersama Ali sebagai amir. Ia terbunuh di ‘Adzra’, salah satu desa Damaskus. Masjid kuburnya di sana terkenal. Kemudian Ibnu ‘Asakir menyebutkan dengan sanad-sanadnya kepada Hujr, lalu menyebutkan bagian yang baik dari riwayatnya dari Ali dan lainnya.

Muhammad bin Sa’d menyebutkannya dalam thabaqah keempat shahabat dan menyebutkan bahwa ia pernah menghadap. Kemudian menyebutkannya dalam thabaqah pertama tabi’in penduduk Kufah. Ia berkata: ia adalah orang yang terpercaya dan dikenal, dan tidak meriwayatkan dari selain Ali sesuatu pun. Ibnu ‘Asakir berkata: bahkan ia telah meriwayatkan dari Ammar dan Syurahbil bin Murrah.

Abu Ahmad Al-‘Askari berkata: kebanyakan ahli hadits tidak membenarkan keshahabatannya. Ia menyaksikan Qadisiyah, menaklukkan Marj ‘Adzra’, dan menyaksikan Jamal dan Shiffin. Bersama Ali ada Hujr Al-Khair, yaitu Hujr bin Adi ini, dan Hujr Asy-Syarr, yaitu Hujr bin Yazid bin Salamah bin Murrah.

Al-Marzbani berkata: telah diriwayatkan bahwa Hujr bin Adi menghadap kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama saudaranya Hani bin Adi. Orang ini termasuk ahli ibadah dan zuhud di antara manusia. Ia sangat berbakti kepada ibunya, banyak shalat dan puasa. Abu Ma’syar berkata: ia tidak pernah berhadats kecuali berwudhu, dan tidak berwudhu kecuali shalat dua rakaat. Demikian dikatakan lebih dari satu orang.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Ubaid, telah menceritakan kepadaku Al-A’masy, dari Abu Ishaq, ia berkata: Salman berkata kepada Hujr: wahai anak ibu Hujr, seandainya terputus anggota badanmu, engkau tidak akan mencapai iman.

Ketika Al-Mughirah bin Syu’bah menjadi gubernur Kufah, jika ia menyebutkan Ali dalam khutbahnya, ia akan mencela Ali setelah memuji Utsman dan pengikutnya. Hujr marah dan menampakkan penolakan terhadapnya. Namun Al-Mughirah bersikap sabar dan lapang dada, ia memaafkannya dan menasihatinya secara pribadi, memperingatkannya tentang akibat perbuatan ini, karena menentang penguasa sangat berat akibatnya. Namun Hujr tidak kembali dari perbuatannya. Pada akhir masa Al-Mughirah, suatu hari Hujr berdiri dan mengingkari perbuatan Al-Mughirah dalam khutbah serta berteriak kepadanya, mencela karena menunda pemberian kepada rakyat. Sekelompok orang ikut berdiri bersamanya, membenarkannya dan mencela Al-Mughirah. Al-Mughirah masuk istana kepemimpinan setelah shalat, dan banyak orang dari para amir dan lainnya ikut masuk. Mereka menyarankan Al-Mughirah agar menghentikan Hujr dari keberaniannya terhadap penguasa, memecah belah persatuan, berdiri menentang amir, dan memperingatkannya untuk memberikan hukuman. Namun ia memaafkannya dan bersikap sabar.

Yunus bin ‘Ubaid menyebutkan bahwa Muawiyah menulis kepada Al-Mughirah meminta bantuan harta yang dikirim dari baitul mal. Ia mengirim kafilah yang membawa harta. Hujr menghadangnya, memegang tali kekangnya yang pertama, dan berkata: tidak, demi Allah, sampai setiap orang yang berhak mendapat haknya. Pemuda-pemuda Tsaqif berkata kepada Al-Mughirah: tidakkah kami datangkan kepalanya kepadamu? Ia berkata: aku tidak akan melakukan itu kepada Hujr. Ia membiarkannya. Ketika hal itu sampai kepada Muawiyah, ia memecat Al-Mughirah dan mengangkat Ziyad. Yang shahih adalah bahwa ia tidak memecat Al-Mughirah hingga ia wafat. Ketika Al-Mughirah bin Syu’bah wafat, semoga Allah meridhainya, dan Kufah digabungkan dengan Bashrah di bawah Ziyad, ia memasukinya. Kelompok-kelompok dari pengikut Ali berkumpul di sekitar Hujr, menguatkannya dan meneguhkan tangannya, mencela Muawiyah dan berlepas diri darinya. Ketika Ziyad berkhutbah pertama kali di Kufah, ia menyebutkan di akhir khutbahnya keutamaan Utsman dan mencela orang yang membunuhnya atau membantu membunuhnya. Hujr berdiri sebagaimana ia biasa berdiri pada masa Al-Mughirah dan berbicara seperti yang ia katakan kepada Al-Mughirah. Ziyad tidak menghadapinya. Kemudian Ziyad pergi ke Bashrah dan ingin membawa Hujr bersamanya ke Bashrah agar tidak membuat kerusakan. Hujr berkata: aku sakit. Ziyad berkata: demi Allah, engkau sakit agama, hati, dan akal. Demi Allah, jika engkau membuat kerusakan, aku akan berusaha membunuhmu. Kemudian Ziyad pergi ke Bashrah. Sampai kepadanya bahwa Hujr dan teman-temannya mengingkari perbuatan wakilnya di Kufah, yaitu Amr bin Huraith, dan melemparinya dengan batu ketika ia di atas mimbar pada hari Jumat. Ziyad menuju Kufah lalu turun di istana, kemudian keluar ke mimbar mengenakan jubah sutera dan selendang merah khazan, rambutnya terbelah. Hujr duduk dan di sekelilingnya teman-temannya yang paling banyak pada hari itu. Yang mengenakan pakaian dari teman-temannya pada hari itu sekitar tiga ribu orang. Mereka duduk di sekelilingnya di masjid dengan besi dan senjata. Ziyad berkhutbah, memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: amma ba’du, sesungguhnya akibat dari kesewenang-wenangan dan kesesatan itu buruk. Sesungguhnya orang-orang ini berbuat kurang ajar lalu sombong, dan merasa aman dariku lalu berani kepadaku. Demi Allah, jika kalian tidak lurus, aku akan mengobatimu dengan obatmu. Kemudian ia berkata: aku bukan apa-apa jika aku tidak mencegah wilayah Kufah dari Hujr dan menjadikannya pelajaran bagi yang setelahnya. Celakalah engkau wahai Hujr, malam telah menjatuhkan engkau kepada singa. Kemudian ia berkata:

Sampaikanlah nasihat bahwa pengembala untanya … malam telah menjatuhkannya kepada singa

Ziyad terus berkata dalam khutbahnya: “Sesungguhnya di antara hak Amirul Mukminin, sesungguhnya di antara hak Amirul Mukminin.” Maka Hujr berkata: “Engkau berdusta.” Lalu Ziyad diam dan memandangnya, kemudian Ziyad kembali mengulangi: “Sesungguhnya di antara hak Amirul Mukminin, sesungguhnya di antara hak Amirul Mukminin,” yakni begini dan begitu. Maka Hujr mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya, seraya berkata: “Engkau berdusta, semoga laknat Allah menimpamu.” Lalu Ziyad turun dan melaksanakan salat, kemudian masuk ke istana dan memanggil Hujr.

Dikatakan bahwa ketika Ziyad berkhutbah, ia memanjangkan khutbahnya dan mengakhirkan salat. Maka Hujr berkata kepadanya: “Salat!” Namun ia melanjutkan khutbahnya. Kemudian Hujr berkata lagi: “Salat!” Namun ia tetap melanjutkan khutbahnya. Ketika Hujr khawatir waktu salat akan terlewat, ia mengambil segenggam kerikil dan bangkit untuk melaksanakan salat, dan orang-orang pun bangkit bersamanya. Ketika Ziyad melihat hal itu, ia turun dan mengimami salat bersama orang-orang. Setelah selesai salat, ia menulis surat kepada Muawiyah tentang permasalahan Hujr dan memperbesar kesalahannya. Muawiyah menulis balasan kepadanya: “Belenggulah dia dengan besi dan bawa dia kepadaku.”

Ziyad mengutus kepala polisi, yaitu Syaddad bin al-Haitsam bersama para pembantunya kepada Hujr dan berkata: “Sesungguhnya Amir memanggil engkau.” Namun Hujr menolak untuk menghadap Ziyad, dan para pengikutnya membela dirinya. Kepala polisi kembali kepada Ziyad dan memberitahukannya. Maka Ziyad menggerakkan sejumlah kelompok dari berbagai suku, dan mereka pergi bersama kepala polisi menuju Hujr dan para pengikutnya. Terjadilah pertempuran dengan batu dan tongkat, namun mereka tidak mampu mengalahkannya. Kemudian Ziyad menunjuk Muhammad bin al-Asy’ats dan memberinya waktu tiga hari, serta mempersiapkan pasukan untuknya. Mereka terus mengejar Hujr hingga berhasil membawanya kepada Ziyad. Kaumnya dan orang-orang yang ia sangka akan menolongnya tidak bisa berbuat apa-apa untuknya.

Pada saat itu Ziyad membelenggu dan memenjarakannya selama sepuluh hari, kemudian mengirimnya kepada Muawiyah. Ia mengirimkan bersamanya sekelompok orang yang bersaksi bahwa Hujr mencela khalifah, berperang melawan Amir, dan mengatakan bahwa urusan pemerintahan ini tidak layak kecuali berada di tangan keluarga Ali bin Abi Thalib. Di antara para saksi yang memberatkannya adalah: Abu Burdah bin Abi Musa, Wail bin Hujr, Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash, Ishaq, Ismail, dan Musa putra-putra Thalhah bin Ubaidillah, al-Mundzir bin al-Zubair, Katsir bin Syihab, dan Syabats bin Rib’i, bersama tujuh puluh orang. Dikatakan bahwa kesaksian Syuraih al-Qadhi juga ditulis di antara mereka, namun ia mengingkarinya dan berkata: “Aku hanya berkata kepada Ziyad bahwa ia adalah orang yang banyak berpuasa dan banyak salat.”

Kemudian Ziyad mengirim Hujr dan para pengikutnya bersama Wail bin Hujr dan Katsir bin Syihab ke Syam. Bersama Hujr bin Adi bin Jablah al-Kindi ada sekelompok pengikutnya, dikatakan dua puluh orang, dan dikatakan empat belas orang. Di antara mereka: al-Arqam bin Abdullah al-Kindi, Syarik bin Syaddad al-Hadhrami, Shaifi bin Fusail, Qabishah bin Dhubai’ah bin Harmalah al-Absi, Karim bin Afif al-Khats’ami, Ashim bin Auf al-Bajali, Warqa’ bin Sumayyi al-Bajali, Kaddam bin Hayyan, Abdurrahman bin Hassan al-Anzari dari Bani Tamim, Muhriz bin Syihab al-Tamimi, dan Abdullah bin Hawiyah al-Sa’di al-Tamimi juga. Inilah para pengikutnya yang tiba bersamanya.

Mereka membawa mereka ke Syam. Kemudian Ziyad menyusulkan dua orang lagi: Utbah bin al-Akhnas dari Bani Sa’d dan Sa’d bin Numran al-Hamdani, sehingga genap empat belas orang.

Dikatakan bahwa ketika Hujr masuk menghadap Muawiyah, ia berkata: “Assalamu’alaikum ya Amirul Mukminin.” Maka Muawiyah sangat marah dan memerintahkan untuk memenggal leher Hujr dan orang-orang bersamanya. Dikatakan bahwa Muawiyah berkuda dan menjemput mereka hingga ke Marj Adzra. Dikatakan pula bahwa ia mengutus orang untuk menjemput mereka ke Adzra di bawah bukit, yaitu bukit al-Uqab, dan mereka dibunuh di sana. Yang diutus kepada mereka adalah tiga orang, yaitu: Hudbah bin Fiyadh al-Qudha’i, al-Husain bin Abdullah al-Kilabi, dan Abu Syarif al-Badi. Mereka datang kepada mereka di malam hari, dan Hujr beserta para pengikutnya menghabiskan malam dengan salat. Setelah mereka melaksanakan salat Subuh, mereka membunuh mereka. Inilah riwayat yang paling masyhur, dan Allah lebih mengetahui.

Muhammad bin Sa’d menyebutkan bahwa mereka masuk menghadap Muawiyah, kemudian ia mengembalikan mereka dan mereka dibunuh di Adzra. Muawiyah telah meminta pendapat orang-orang tentang mereka ketika mereka tiba di Marj Adzra, dan dikatakan bahwa mereka dipenjara di sana. Ada yang menyarankan untuk membunuh mereka, dan ada yang menyarankan untuk mencerai-beraikan mereka ke berbagai negeri. Maka Muawiyah menulis surat lagi kepada Ziyad tentang permasalahan mereka. Ziyad menyarankan kepadanya untuk membunuh mereka jika ia masih menginginkan kekuasaan atas Irak. Pada saat itulah ia memerintahkan untuk membunuh mereka.

Para pembesar meminta pengampunan kepada Muawiyah untuk sebagian dari mereka, satu per satu, hingga enam orang dibebaskan, dan enam orang dibunuh. Yang pertama dibunuh adalah Hujr bin Adi. Seorang lagi kembali dan Muawiyah memaafkannya. Ada seorang lagi yang mencela Utsman dan mengklaim bahwa Utsman adalah orang pertama yang berbuat zalim dalam pemerintahan, serta memuji Ali. Muawiyah mengirimnya kepada Ziyad dan berkata: “Engkau tidak mengiriminya orang yang lebih berbahaya daripada orang ini.” Ketika ia tiba kepada Ziyad, Ziyad menguburkannya hidup-hidup di Qas al-Nathif, dialah Abdurrahman bin Hassan al-Anzi.

Inilah nama-nama orang yang dibunuh di Adzra: Hujr bin Adi, Syarik bin Syaddad, Shaifi bin Fusail al-Syaibani, Qabishah bin Dhubai’ah al-Absi, Muhriz bin Syihab al-Munqari al-Sa’di, Kaddam bin Hayyan, dan Abdurrahman bin Hassan al-Anzi yang dikirim kepada Ziyad dan dikubur di Qas al-Nathif. Setelah mereka dibunuh, disalatkan dan dikuburkan. Sebagian orang mengklaim bahwa mereka dikubur di Masjid al-Qashab. Sebagian lagi mengklaim mereka dikubur di Masjid al-Sab’ah di luar Pintu Tuma, dan masjid tersebut dinisbahkan kepada tujuh orang karena mereka tujuh orang di sebelah timurnya. Dikatakan pula mereka berada di sebelah barat Masjid al-Qashab. Yang benar adalah mereka dikubur di Adzra dari Ghuthah Damaskus, semoga Allah merahmati mereka.

Disebutkan bahwa ketika Hujr hendak dibunuh, ia berkata: “Biarkan aku berwudhu.” Mereka berkata: “Berwudhulah.” Ia berkata: “Biarkan aku salat dua rakaat.” Maka ia melaksanakan salat dua rakaat dengan ringan. Kemudian ia berkata: “Demi Allah, aku tidak pernah melaksanakan salat yang lebih ringan daripada ini. Seandainya tidak karena mereka akan berkata bahwa aku ketakutan menghadapi kematian, niscaya aku panjangkan.” Kemudian ia berkata: “Sungguh telah kuberikan untuk keduanya banyak salat.” Kemudian ia dimajukan untuk dibunuh, sementara kuburan mereka telah digali dan kain kafan mereka telah dibentangkan. Ketika algojo mendekat, anggota tubuhnya gemetar. Dikatakan kepadanya: “Bukankah engkau telah berkata bahwa engkau tidak takut dibunuh?” Ia berkata: “Mengapa aku tidak takut padahal aku melihat kubur yang telah digali, kain kafan yang telah dibentangkan, dan pedang yang telah terhunus?” Maka ia menjadikannya sebagai peribahasa.

Kemudian al-A’war Hudbah bin Fiyadh mendekatinya dengan pedang dan berkata: “Ulurkan lehermu.” Ia berkata: “Aku tidak akan membantu membunuh diriku sendiri.” Maka Hudbah memukulnya dan membunuhnya. Hujr telah berwasiat agar dikubur dengan belenggunya, dan mereka melakukannya. Dikatakan pula bahwa mereka memandikannya dan menyalatkannya.

Diriwayatkan bahwa Hasan bin Ali berkata: “Apakah kalian menyalatkan dan menguburkannya dengan belenggunya?” Mereka menjawab: “Ya.” Ia berkata: “Demi Allah, kalian telah mengalahkan mereka.”

Yang jelas adalah yang mengatakan ini adalah Husain bin Ali, karena sesungguhnya Hujr dibunuh pada tahun lima puluh satu, dan dikatakan tahun lima puluh tiga. Pada setiap perkiraan, Hasan telah meninggal sebelumnya, dan Allah lebih mengetahui. Semoga Allah meridhai Hasan, dan merahmati Hujr serta para pengikutnya.

Kami meriwayatkan bahwa ketika Muawiyah masuk menghadap Ummul Mukminin Aisyah dan memberi salam kepadanya dari balik hijab, dan itu terjadi setelah terbunuhnya Hujr dan para pengikutnya, Aisyah berkata kepadanya: “Ke mana hilang kesabaranmu wahai Muawiyah ketika engkau membunuh Hujr dan para pengikutnya?” Ia menjawab: “Aku kehilangannya ketika hilang dariku orang dari kaumku sepertimu wahai Ibu.” Kemudian ia berkata kepadanya: “Bagaimana pendapatmu tentangku wahai Ibu?” Aisyah menjawab: “Sesungguhnya engkau baik kepadaku.” Ia berkata: “Ini cukup bagiku di sisi Allah, dan besok aku dan Hujr akan berdiri di hadapan Allah azza wa jalla.” Dalam riwayat lain, ia berkata kepadanya: “Sesungguhnya yang membunuhnya adalah orang-orang yang bersaksi atas dirinya.”

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa ketika Muawiyah menghadapi kematiannya, ia menggelegak dengan nyawanya sambil berkata: “Sesungguhnya hariku bersamamu wahai Hujr bin Adi sangatlah panjang.” Ia mengucapkannya tiga kali. Hanya Allah yang lebih mengetahui.

Muhammad bin Sa’d berkata dalam “ath-Thabaqat”: Sebagian ulama menyebutkan bahwa Hujr datang menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama saudaranya Hani bin Adi, dan ia termasuk sahabat Ali. Ketika Ziyad bin Abi Sufyan datang sebagai gubernur ke Kufah, ia memanggil Hujr bin Adi dan berkata: “Ketahuilah bahwa aku mengenalmu, dan dulu aku dan engkau berada pada apa yang telah engkau ketahui”—maksudnya kecintaan kepada Ali—”dan sesungguhnya telah datang hal yang berbeda. Aku meminta kepadamu demi Allah agar engkau tidak meneteskan setitik pun darahmu untukku sehingga aku menumpahkannya semuanya. Kendalikan lidahmu, dan rumahmu cukup bagimu, dan ini adalah singgasanaku maka ini adalah tempat dudukmu, dan kebutuhanmu akan terpenuhi di sisiku. Maka tahanlah dirimu karena aku mengetahui ketergesaanmu. Aku memohon kepadamu demi Allah untuk dirimu sendiri, dan jauhilah orang-orang rendah dan bodoh ini agar mereka tidak membuatmu turun dari pendirianmu.”

Hujr berkata: “Aku telah memahami.” Kemudian ia pulang ke rumahnya. Kaum Syiah datang kepadanya dan bertanya: “Apa yang ia katakan kepadamu?” Ia menjawab: “Ia mengatakan begini dan begitu.” Mereka berkata: “Ia tidak menasihatimu dengan tulus.” Ziyad pergi ke Bashrah, kemudian mereka terus berdatangan kepada Hujr dan berkata: “Engkau adalah pemimpin kami.” Ketika ia datang ke masjid, mereka berjalan bersamanya.

Amr bin Huraits, wakil Ziyad di Kufah, mengirim utusan kepada Hujr yang berkata: “Apa ini perkumpulan ini padahal engkau telah memberikan janji kepada Amir sebagaimana yang telah diketahui?” Hujr berkata kepada utusan itu: “Sesungguhnya mereka mengingkari apa yang kalian lakukan. Kebelakang dan ke belakangmu lebih luas bagimu.” Maka Amr bin Huraits menulis kepada Ziyad: “Jika engkau masih memiliki keperluan dengan Kufah, maka segeralah.” Ziyad pun mempercepat perjalanannya ke Kufah.

Ketika ia tiba, ia mengutus Adi bin Hatim, Jarir bin Abdullah al-Bajali, Khalid bin Arfathah bersama sejumlah pembesar Kufah untuk melarang Hujr dari perkumpulan ini. Mereka datang kepadanya dan berbicara dengannya, namun ia tidak menjawab apa pun, malah ia berkata: “Wahai pelayan, beri makan unta jantan.” Untuk unta yang terikat di rumah. Maka Adi bin Hatim berkata kepadanya: “Apakah engkau gila? Kami berbicara kepadamu dan engkau berkata: Wahai pelayan, beri makan unta jantan!” Kemudian Adi berkata kepada teman-temannya: “Aku tidak menyangka orang malang ini telah mencapai kelemahan seperti yang kulihat.” Kemudian mereka pergi dan memberitahu Ziyad sebagian berita dan menyembunyikan sebagian, serta membaik-baikkan keadaan Hujr dan meminta Ziyad bersikap lemah lembut kepadanya, namun Ziyad menolak. Malah ia mengutus polisi dan tentara kepadanya, dan mereka membawa Hujr beserta para pengikutnya.

Ziyad berkata kepadanya: “Celakalah engkau, apa maumu?” Hujr menjawab: “Aku tetap pada baiatku kepada Muawiyah.” Ziyad mengumpulkan tujuh puluh orang pembesar Kufah dan berkata: “Tulislah kesaksian kalian terhadap Hujr dan para pengikutnya.” Mereka melakukannya, kemudian ia mengutus mereka kepada Muawiyah. Berita ini sampai kepada Aisyah, maka ia mengutus Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam kepada Muawiyah untuk meminta agar mereka dibebaskan.

Ketika mereka masuk menghadap Muawiyah, ia membaca surat Ziyad, dan para saksi memberikan kesaksian. Muawiyah berkata: “Bawa mereka ke Adzra dan bunuhlah mereka di sana.” Mereka membawa mereka, kemudian membunuh tujuh orang dari mereka. Kemudian datang utusan Muawiyah dengan pembebasan mereka dan perintah untuk melepaskan mereka semua. Namun mereka mendapati tujuh orang telah dibunuh, maka mereka membebaskan tujuh orang sisanya. Akan tetapi Hujr termasuk yang dibunuh.

Hujr meminta kepada mereka agar boleh salat dua rakaat sebelum dibunuh. Ia salat dua rakaat dengan panjang, kemudian berkata: “Sesungguhnya ini adalah salat paling ringan yang pernah kushalat.” Utusan Aisyah datang setelah urusan mereka selesai. Ketika Muawiyah menunaikan haji, Aisyah berkata kepadanya: “Ke mana hilang kesabaranmu ketika engkau membunuh Hujr?” Muawiyah menjawab: “Ketika hilang dariku orang sepertimu dari kaumku.”

Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin al-Harits berkata kepada Muawiyah: “Apakah engkau membunuh Hujr bin al-Adbar?” Muawiyah menjawab: “Membunuhnya lebih aku sukai daripada harus membunuh seratus ribu orang bersamanya.”

Ibnu Jarir dan lainnya menyebutkan tentang Hujr bin Adi dan para pengikutnya bahwa mereka mencela Utsman, mengatakan bahwa ia berbuat zalim dalam pemerintahan, mengkritik para amir, bersegera dalam mengingkari mereka, melebih-lebihkan dalam hal itu, loyal kepada pengikut Ali, dan sangat ketat dalam agama.

Diriwayatkan bahwa ketika beliau diborgol dan berjalan dari Kufah menuju Syam, putri-putrinya menemuinya di jalan dalam keadaan menangis. Beliau menghampiri mereka, diam sejenak, kemudian berkata: “Sesungguhnya Dzat yang memberi kalian makan, minum, dan pakaian adalah Allah, dan Dia kekal setelah kepergianku. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan beribadahlah kepada-Nya, bersabarlah mengharap wajah-Nya, dan bertawakkallah kepada-Nya, karena sesungguhnya Dia hidup dan tidak akan pernah mati. Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya aku berharap dari Rabbku, Yang Maha Mulia dan Maha Agung, dalam perjalananku ini salah satu dari dua kebaikan; yaitu syahid dan itulah kebahagiaan yang paling besar, atau kembali kepada kalian dalam keadaan sehat. Sesungguhnya aku berharap kepada Allah yang telah mencukupkan kebutuhan kalian bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan kalian dan akan menjaga kalian karenaku.” Kemudian beliau pergi dan melewati kaumnya yang berdoa kepada Allah memohonkan kesehatan untuknya. Lalu mereka membawa beliau dan para sahabatnya ke Marj Adzra’, kemudian membunuh mereka dan menguburkan mereka menghadap kiblat, semoga Allah merahmati mereka dan memaafkan mereka.

Seorang perempuan dari kalangan Syiah telah meratsnya Hujr, yaitu Hind binti Zaid bin Makhramah al-Anshariyyah. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah Hind, saudara perempuan Hujr. Wallahu a’lam. Dia berkata:

Naikah wahai bulan yang bersinar … Lihatlah, apakah engkau melihat Hujr berjalan Berjalan menuju Muawiyah bin Harb … Agar membunuhnya sebagaimana diklaim sang Amir Dia memandang membunuh orang-orang baik adalah haknya … Baginya ada pembisik dari sejahat umatnya Andai saja Hujr mati dengan kematian biasa … Dan tidak disembelih sebagaimana unta disembelih Para penguasa zalim berlaku sewenang-wenang setelah Hujr … Dan nikmat bagi mereka al-Khawarnaq dan as-Sadir Negeri menjadi tandus karenanya … Seolah-olah tidak dihidupkan oleh hujan yang turun Wahai Hujr, Hujr Bani Adi … Semoga keselamatan dan kegembiraan menemuimu Aku takut atasmu apa yang menghancurkan Adi … Dan seorang syekh di Damaskus yang memiliki suara mengaum Jika engkau binasa, maka setiap pemimpin suatu kaum … Dari dunia menuju kebinasaan akan pergi

Ibnu Asakir menyebutkan banyak ratapan untuknya.

Ya’qub bin Sufyan berkata: Harmalah menceritakan kepadaku, Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah mengabarkan kepadaku, dari Abu al-Aswad yang berkata: Muawiyah menemui Aisyah, lalu dia berkata: “Apa yang mendorongmu untuk membunuh penduduk Adzra’, Hujr dan sahabat-sahabatnya?” Dia menjawab: “Wahai Ummul Mukminin, sesungguhnya aku melihat dalam membunuh mereka ada kebaikan bagi umat, dan dalam keberadaan mereka ada kerusakan bagi umat.” Aisyah berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Akan dibunuh di Adzra’ beberapa orang yang Allah dan penduduk langit murka untuk mereka.'” Sanad ini lemah dan terputus.

Abdullah bin al-Mubarak meriwayatkannya dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu al-Aswad, bahwa Aisyah berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa akan dibunuh di Adzra’ beberapa orang yang Allah dan penduduk langit murka untuk mereka.”

Ya’qub bin Sufyan berkata: Ibnu Bukair menceritakan kepadaku, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepadaku, al-Harits bin Yazid menceritakan kepadaku, dari Abdullah bin Zurayr al-Ghafiqiy yang berkata: Aku mendengar Ali berkata: “Wahai penduduk Irak, akan dibunuh dari kalian tujuh orang di Adzra’, perumpamaan mereka seperti perumpamaan Ashabul Ukhdud (parit).” Perawi berkata: Maka terbunuhlah Hujr dan sahabat-sahabatnya. Ibnu Lahi’ah adalah perawi yang lemah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Ulayyah, dari Ibnu Aun, dari Nafi’ yang berkata: Ibnu Umar berada di pasar, lalu diberitahukan kepadanya kematian Hujr, maka dia melepaskan ikat pinggangnya, berdiri dan menangis terisak-isak.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Affan, dari Ibnu Ulayyah, dari Ayyub, dari Abdullah bin Abi Mulaikah atau yang lainnya yang berkata: Ketika Muawiyah tiba di Madinah, dia menemui Aisyah, lalu dia berkata: “Apakah engkau telah membunuh Hujr?” Dia menjawab: “Wahai Ummul Mukminin, sesungguhnya aku mendapati membunuh seorang laki-laki demi kebaikan manusia lebih baik daripada membiarkannya hidup dalam kerusakan mereka.”

Hammad bin Salamah berkata, dari Ali bin Zaid, dari Said bin al-Musayyab, dari Marwan bin al-Hakam yang berkata: Aku masuk bersama Muawiyah menemui Ummul Mukminin Aisyah, lalu dia berkata: “Wahai Muawiyah, engkau telah membunuh Hujr dan sahabat-sahabatnya dan melakukan apa yang engkau lakukan, tidakkah engkau takut aku menyembunyikan untukmu seseorang yang akan membunuhmu?” Dia menjawab: “Tidak, sesungguhnya aku berada di rumah keamanan, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Iman mengekang pembunuhan licik, tidak akan membunuh secara licik seorang mukmin.’ Wahai Ummul Mukminin, bagaimana keadaanku selain itu dalam hal kebutuhanmu dan urusanmu?” Dia berkata: “Baik.” Dia berkata: “Maka biarkanlah aku dan Hujr hingga kami bertemu di hadapan Rabb kami, Yang Maha Mulia dan Maha Agung.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa dia menghalanginya dan berkata: “Jangan masuk menemuiku selamanya.” Muawiyah terus berlaku lemah lembut hingga bisa masuk, lalu dia mencela Muawiyah dalam membunuh Hujr, dan Muawiyah terus meminta maaf hingga dia memaafkannya.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa dia mengancamnya dan berkata: “Seandainya orang-orang bodoh kami tidak menguasai kami, tentu ada urusan antara aku dan Muawiyah dalam membunuhnya Hujr.” Ketika dia meminta maaf kepadanya, dia memaafkannya.

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun ini Ziyad mengangkat ar-Rabi’ bin Ziyad al-Haritsi atas Khurasan setelah kematian al-Hakam bin Amru. Dia menaklukkan Balkh secara damai, padahal mereka telah menutupnya setelah al-Ahnaf bin Qais mendamaikan mereka. Dia menaklukkan Quhistan dengan paksa, dan di sana ada orang-orang Turki, maka dia membunuh mereka dan tidak tersisa dari mereka kecuali Nizak Tarkhan, kemudian Qutaibah bin Muslim membunuhnya setelah itu, sebagaimana akan disebutkan. Pada tahun ini ar-Rabi’ menyerang daerah di seberang sungai, maka dia mendapat ghanimah dan selamat. Sebelumnya al-Hakam bin Amru telah menyeberangi sungai, dan yang pertama minum dari sungai adalah budak al-Hakam, lalu dia memberi majikannya minum, dan al-Hakam berwudhu dan shalat dua rakaat di seberang sungai, kemudian kembali. Ketika ar-Rabi’ ini menyerang daerah di seberang sungai, dia mendapat ghanimah dan selamat. Pada tahun ini Yazid bin Muawiyah memimpin haji bagi manusia, sebagaimana dikatakan oleh Abu Ma’syar dan al-Waqidi. Ibnu al-Jauzi menyebutkan dalam al-Muntazham bahwa wafat pada tahun ini dari kalangan tokoh: Jarir bin Abdullah al-Bajali, Ja’far bin Abi Sufyan bin al-Harits, Haritsah bin an-Nu’man, Hujr bin Adi, Said bin Zaid bin Amru bin Nufail, Abdullah bin Unais, dan Abu Bakrah Nufai’ bin al-Harits ats-Tsaqafi, semoga Allah meridhai mereka.

Adapun Jarir bin Abdullah al-Bajali

Dia masuk Islam setelah turunnya surat al-Maidah, dan keislamannya terjadi pada bulan Ramadhan tahun sepuluh, dan kedatangannya terjadi saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah. Beliau telah bersabda dalam khutbahnya: “Sesungguhnya akan datang kepada kalian dari jalan ini yang terbaik dari penduduk Yaman, dan sesungguhnya di wajahnya ada tanda kemuliaan malaikat.” Ketika Jarir masuk, orang-orang menatapnya dengan pandangan mereka. Mereka mengabarkan kepadanya apa yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia memuji Allah Ta’ala.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika duduk bersamanya membentangkan untuknya selendangnya dan bersabda: “Apabila datang kepada kalian orang mulia suatu kaum, maka muliakanlah dia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya ke Dzul Khalashah – yaitu sebuah rumah yang diagungkan oleh kabilah Daus pada masa Jahiliyah – lalu dia menyebutkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia tidak bisa bertahan di atas kuda, maka beliau menepuk dadanya dan bersabda: “Ya Allah, teguhkanlah dia dan jadikanlah dia pemberi petunjuk dan mendapat petunjuk.” Maka dia pergi ke sana dan menghancurkannya. Dalam Shahihain dari dia disebutkan bahwa dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menghalangiku sejak aku masuk Islam, dan tidaklah beliau melihatku kecuali tersenyum.” Umar bin al-Khaththab berkata: “Jarir adalah Yusuf-nya umat ini.” Abdul Malik bin Umair berkata: “Aku melihat Jarir seolah-olah wajahnya adalah sepenggal bulan.”

Asy-Sya’bi berkata: Jarir bersama sekelompok orang berada bersama Umar dalam sebuah rumah, lalu Umar mencium bau dari sebagian mereka, maka dia berkata: “Aku meminta orang yang mengeluarkan bau ini untuk berdiri dan berwudhu.” Jarir berkata: “Atau kami semua berdiri dan berwudhu wahai Amirul Mukminin?” Umar berkata: “Sebaik-baik pemimpin engkau pada masa Jahiliyah, dan sebaik-baik pemimpin engkau dalam Islam.”

Dia pernah menjadi gubernur Utsman atas Hamadzan, dan dikatakan bahwa matanya terluka di sana. Ketika Utsman terbunuh, dia menyendiri dari Ali dan Muawiyah, dan terus tinggal di al-Jazirah hingga wafat di as-Sarah tahun lima puluh satu. Demikian menurut al-Waqidi. Ada yang mengatakan tahun lima puluh empat, dan ada yang mengatakan tahun lima puluh enam.

Adapun Ja’far bin Abi Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muththalib

Dia masuk Islam bersama ayahnya ketika mereka menyambutnya di antara Makkah dan Madinah pada tahun Fath. Ketika beliau berdua ditolak, Abu Sufyan berkata: “Demi Allah, jika tidak diizinkan untukku, sungguh aku akan memegang tangan anakku ini dan pergi ke bumi, tidak diketahui kemana aku pergi.” Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menaruh belas kasihan kepadanya dan mengizinkannya, serta menerima keislaman mereka berdua. Maka mereka masuk Islam dengan baik, setelah Abu Sufyan ini banyak menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia menyaksikan perang Hunain dan termasuk orang yang teguh pada hari itu. Semoga Allah meridhai mereka berdua.

Adapun Haritsah bin an-Nu’man al-Anshari an-Najjari

Dia menyaksikan Badar, Uhud, Khandaq, dan semua peperangan. Dia termasuk sahabat yang utama. Diriwayatkan bahwa dia melihat Jibril bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di al-Maqaid sedang berbincang setelah Khaibar. Dan bahwa dia melihatnya pada hari Bani Quraizhah dalam wujud Dihyah. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar bacaannya di surga.

Muhammad bin Sa’d berkata: Abdurrahman bin Yunus menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ismail bin Abi Fudaik menceritakan kepada kami, Muhammad bin Utsman menceritakan kepada kami, dari ayahnya bahwa Haritsah bin an-Nu’man telah buta penglihatannya. Dia membuat tali dari tempat shalatnya ke pintu kamarnya, dan dia menempatkan di dekatnya keranjang berisi kurma dan lainnya. Jika datang orang miskin, dia mengambil dari kurma itu, kemudian memegang tali itu hingga meletakkan kurma tersebut di tangan orang miskin. Keluarganya berkata kepadanya: “Kami yang akan melakukan itu untukmu.” Dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya memberikan langsung kepada orang miskin mencegah kematian yang buruk.'”

Adapun Hujr bin Adi, kisahnya telah disebutkan secara panjang lebar.

Adapun Said bin Zaid bin Amru bin Nufail al-Qurasyi Abu al-A’war al-Adawi

Dia adalah salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Dia adalah anak paman Umar bin al-Khaththab, saudara perempuannya Atikah adalah istri Umar, dan saudara perempuan Umar yaitu Fathimah adalah istri Said. Dia masuk Islam sebelum Umar bersama istrinya Fathimah, dan mereka berhijrah. Dia termasuk para pemimpin sahabat.

Urwah, az-Zuhri, Musa bin Uqbah, Muhammad bin Ishaq, al-Waqidi dan banyak lainnya berkata: Dia tidak menyaksikan Badar karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutusnya bersama Thalhah bin Ubaidillah di depan beliau untuk mengintai kabar Quraisy. Mereka tidak kembali hingga selesai perang Badar, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kepada mereka berdua bagian ghanimah dan pahala mereka.

Umar tidak menyebutkannya dalam ahli syura agar tidak berpihak karena hubungan kekerabatannya dengan Umar sehingga dia diangkat. Dia meninggalkannya karena itu, padahal dia termasuk orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kelompok sepuluh orang, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih yang banyak. Dia tidak memegang jabatan apapun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tetap seperti itu hingga wafat di Kufah. Ada yang mengatakan di Madinah, dan ini yang lebih benar.

Al-Fallas dan yang lainnya berkata: tahun lima puluh satu. Dan dikatakan: tahun lima puluh dua. Dan Allah lebih mengetahui.

Ia adalah seorang lelaki yang tinggi dan berbulu lebat, dan ia dimandikan oleh Sa’d bin Abi Waqqash, dan diangkut dari Al-Aqiq di atas pundak orang-orang ke Madinah, dan usianya ketika itu beberapa tahun lebih dari tujuh puluh tahun.

Adapun Abdullah bin Unais Al-Juhani Abu Yahya Al-Madani, maka ia adalah sahabat yang mulia, menyaksikan Aqabah, dan tidak menyaksikan Badar, dan menyaksikan peristiwa-peristiwa setelahnya, dan dialah bersama Mu’adz yang menghancurkan berhala-berhala kaum Anshar. Ia memiliki dalam Shahih hadits bahwa lailatul qadar adalah malam dua puluh tiga. Dan dialah yang diutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Khalid bin Sufyan Al-Hudzali, lalu ia membunuhnya di Arafah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya sebuah tongkat kecil, dan berkata: “Ini adalah tanda antara aku dan engkau pada hari kiamat” maka ia memerintahkan agar tongkat itu dikuburkan bersamanya dalam kain kafannya. Dan Ibnu Al-Jauzi telah menyebutkan bahwa ia wafat tahun lima puluh satu. Dan yang lain berkata: tahun lima puluh empat. Dan dikatakan: tahun delapan puluh.

Adapun Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits bin Kaldah bin Amr bin Ilaj bin Abi Salamah Ats-Tsaqafi, maka ia adalah sahabat yang mulia dan besar kedudukannya, dan dikatakan: bahwa namanya adalah Masruh. Dan ia disebut Abu Bakrah karena ia turun dengan katrol pada hari Thaif, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerdekakannya dan semua budak mereka yang turun pada hari itu. Dan ibunya Sumiyyah adalah ibu Ziyad, dan ia termasuk yang bersaksi atas Al-Mughirah bin Syu’bah dalam perkara zina, ia bersama saudaranya Ziyad, dan bersama mereka Syibl bin Ma’bad, dan Nafi’ bin Al-Harits, maka ketika Ziyad ragu-ragu dalam kesaksian, Umar mencambuk tiga orang yang tersisa, kemudian ia minta mereka bertaubat maka mereka bertaubat kecuali Abu Bakrah karena ia tetap pada kesaksiannya, dan Al-Mughirah berkata: Wahai Amirul Mukminin, puaskanlah aku dari budak ini. Maka Umar menghardiknya dan berkata kepadanya: Diam! Seandainya kesaksian itu sempurna niscaya aku akan merajammu dengan batu-batumu. Dan Abu Bakrah adalah yang terbaik dari para saksi ini, dan ia termasuk yang menjauhkan diri dari fitnah, maka ia tidak hadir dalam sedikitpun darinya, dan ia wafat pada tahun ini, dan dikatakan: setahun sebelumnya. Dan dikatakan: setahun setelahnya. Dan yang menshalatkan jenazahnya adalah Abu Barzah Al-Aslami, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mempersaudarakan keduanya.

Dan pada tahun ini wafat Ummul Mukminin Maimunah binti Al-Harits Al-Hilaliyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahinya dalam umrah qadha tahun tujuh. Ibnu Abbas berkata, dan ia adalah putra bibinya Ummu Al-Fadhl Lubabah binti Al-Harits: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahinya dalam keadaan ihram. Diriwayatkan oleh keduanya. Dan telah tetap dalam Shahih Muslim darinya bahwa keduanya dalam keadaan halal. Dan perkataannya didahulukan menurut kebanyakan ulama atas perkataan Ibnu Abbas.

Dan Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Rafi’ – dan ia adalah utusan di antara keduanya – bahwa keduanya dalam keadaan halal. Dan dikatakan: namanya adalah Barrah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menamainya Maimunah. Dan ia wafat di Syaraf antara Makkah dan Madinah di tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membina rumah tangga dengannya pada tahun ini. Dan dikatakan: pada tahun enam puluh tiga. Dan dikatakan: tahun enam puluh enam. Dan yang masyhur adalah yang pertama, dan yang menshalatkannya adalah putra bibinya Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Kemudian Masuk Tahun Lima Puluh Dua

Pada tahun ini Sufyan bin Auf Al-Azdi berperang ke negeri Romawi dan menghabiskan musim dingin di sana, lalu ia wafat di sana, dan ia mengangkat Abdullah bin Mas’adah Al-Fazari sebagai penggantinya atas pasukan, dan dikatakan: bahwa yang menjadi panglima perang di negeri Romawi pada tahun ini adalah Bisyr bin Abi Arthaah, dan bersamanya Sufyan bin Auf. Dan yang memimpin ibadah haji tahun ini adalah Sa’id bin Al-Ash wakil Madinah. Demikian kata Abu Ma’syar dan Al-Waqidi dan yang lainnya. Dan yang berperang di musim panas adalah Muhammad bin Abdullah Ats-Tsaqafi. Dan pejabat-pejabat daerah pada tahun ini adalah pejabat-pejabatnya pada tahun yang lalu.

Penyebutan Orang-Orang Terkemuka Yang Wafat Pada Tahun Ini

Khalid bin Zaid bin Kulaib, Abu Ayyub Al-Anshari Al-Khazraji, menyaksikan Badar dan Aqabah dan semua peperangan, dan menyaksikan bersama Ali perang melawan Haruriyyah, dan di rumahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal ketika tiba di Madinah sebagai muhajir dari Makkah, maka ia tinggal di sana selama sebulan hingga masjid dibangun dan tempat tinggalnya di sekitarnya, kemudian ia pindah ke sana, dan Abu Ayyub telah menempatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di lantai bawah rumah, kemudian ia merasa berdosa berada di atasnya, maka ia meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar naik ke lantai atas, dan ia beserta Ummu Ayyub berada di lantai bawah, maka beliau mengabulkannya. Dan kami meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Abu Ayyub datang kepadanya di Bashrah dan Ibnu Abbas adalah wakilnya, maka ia keluar dari rumahnya untuknya dan menempatkannya di dalamnya, maka ketika ia hendak kembali ia memberikan kepadanya segala sesuatu yang ada di dalamnya, dan menambahkan kepadanya banyak hadiah dan pelayan, dan memberinya empat puluh ribu dan empat puluh budak; sebagai penghormatan kepadanya karena ia telah menempatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya, dan itu adalah kehormatan terbesar baginya. Dan dialah yang berkata kepada istrinya Ummu Ayyub ketika ia berkata kepadanya: Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Aisyah? Maka ia berkata kepadanya: Apakah engkau akan melakukan itu wahai Ummu Ayyub? Maka ia berkata: Tidak demi Allah. Maka ia berkata: Demi Allah ia lebih baik darimu. Maka Allah menurunkan: Mengapa ketika kamu mendengarnya, orang-orang mukmin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri (Surah An-Nur: 12). Dan wafatnya adalah di negeri Romawi dekat tembok Konstantinopel pada tahun ini, dan dikatakan: pada tahun sebelumnya. Dan dikatakan: pada tahun setelahnya. Dan ia berada dalam pasukan Yazid bin Mu’awiyah dan kepadanya ia berwasiat, dan dialah yang menshalatkannya.

Dan Imam Ahmad telah berkata: menceritakan kepada kami Affan, menceritakan kepada kami Hammam, menceritakan kepada kami Ashim, dari seorang lelaki dari penduduk Makkah, bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah panglima atas pasukan yang di dalamnya berperang Abu Ayyub, maka ia masuk kepadanya ketika ia akan meninggal, maka ia berkata kepadanya: Jika aku telah mati maka bacakanlah salam dariku kepada orang-orang, dan beritahukanlah kepada mereka bahwa aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Barangsiapa meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka Allah menempatkannya di surga”. Dan pergilah kalian denganku dan jauhkanlah aku di tanah Romawi sejauh yang kalian mampu. Ia berkata: maka ia menceritakan kepada orang-orang ketika Abu Ayyub meninggal, maka orang-orang bergegas dan pergi membawa jenazahnya. Dan Imam Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, menceritakan kepada kami Abu Bakar, dari Al-A’masy, dari Abu Zhibyan ia berkata: Abu Ayyub berperang bersama Yazid bin Mu’awiyah. Ia berkata: maka ia berkata: Jika aku meninggal maka masukkanlah aku ke tanah musuh, maka kuburkanlah aku di bawah kaki kalian di tempat kalian bertemu musuh. Ia berkata: kemudian ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Barangsiapa meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka ia masuk surga”. Dan Ahmad meriwayatkannya dari Ibnu Numair dan Ya’la bin Ubaid, dari Al-A’masy, aku mendengar Abu Zhibyan, lalu ia menyebutkannya, dan ia berkata di dalamnya: Dan aku akan menceritakan kepada kalian hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seandainya bukan karena keadaanku ini aku tidak akan menceritakannya kepada kalian, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Barangsiapa meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka ia masuk surga”.

Dan Imam Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa, menceritakan kepadaku Muhammad bin Qais qashash Umar bin Abdul Aziz, dari Abu Shirmah, dari Abu Ayyub Al-Anshari, bahwa ia berkata ketika kematian mendatanginya: Sungguh aku telah menyembunyikan dari kalian sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Seandainya kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah menciptakan kaum yang berbuat dosa lalu Dia mengampuni mereka”. Dan menurutku hadits ini dan yang sebelumnya adalah yang membawa Yazid bin Mu’awiyah kepada sebagian Irja’, dan ia melakukan karena itu banyak perbuatan yang diingkari atasnya sebagaimana akan kami sebutkan dalam biografinya. Dan Allah ta’ala lebih mengetahui.

Al-Waqidi berkata: Abu Ayyub meninggal di tanah Romawi tahun lima puluh dua, dan dikuburkan di dekat Konstantinopel dan kuburnya di sana dijadikan wasilah meminta hujan oleh orang-orang Romawi jika mereka kekeringan. Dan dikatakan: bahwa ia dikuburkan di tembok Konstantinopel, dan di atas kuburnya ada tempat ziarah dan masjid, dan mereka mengagungkannya. Dan Abu Zur’ah Ad-Dimasyqi berkata: ia wafat tahun lima puluh lima. Dan yang pertama lebih kuat, dan Allah lebih mengetahui.

Dan Abu Bakar bin Khallad berkata: menceritakan kepada kami Al-Harits bin Abi Usamah, menceritakan kepada kami Dawud bin Al-Muhabbir, menceritakan kepada kami Maisarah bin Abdu Rabbih, dari Musa bin Ubaidah, dari Az-Zuhri, dari Atha’ bin Yazid, dari Abu Ayyub Al-Anshari, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ia berkata: “Sesungguhnya dua orang lelaki pergi ke masjid lalu keduanya shalat, maka salah seorang dari mereka pulang dan shalatnya lebih berat dari gunung Uhud dan yang lain pulang dan shalatnya tidak sebanding dengan berat sebutir dzarrah”. Maka Abu Humaid As-Sa’idi berkata: Bagaimana bisa demikian wahai Rasulullah? Ia berkata: “Jika salah seorang dari mereka lebih baik akalnya”. Ia berkata: Bagaimana bisa demikian? Ia berkata: “Jika ia lebih wara’ dari larangan-larangan Allah dan lebih bersemangat dalam berlomba kepada kebaikan, meskipun ia kurang dalam ibadah sunnah”.

Dan dari Abu Ayyub ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada seorang lelaki yang meminta beliau mengajarinya dan singkat, maka ia berkata kepadanya: “Jika engkau shalat maka shalatlah seperti shalat orang yang berpisah, dan jangan engkau berbicara dengan perkataan yang engkau minta maaf darinya, dan putuskan asa dari apa yang ada di tangan manusia”.

Dan pada tahun ini adalah wafatnya Abu Musa Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhar bin Harb bin Amir bin Anz bin Bakar bin Amir bin Adzar bin Wa’il bin Najiyah bin Jamahir bin Al-Asy’ar Al-Asy’ari Al-Yamani, ia masuk Islam di negerinya, dan datang bersama Ja’far dan para sahabatnya pada tahun Khaibar. Dan Muhammad bin Ishaq menyebutkan bahwa ia pertama kali berhijrah ke Makkah, kemudian berhijrah ke Habasyah, dan ini tidak masyhur. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengangkatnya bersama Mu’adz atas Yaman, dan Umar mengangkatnya atas Bashrah, dan ia menaklukkan Tustar dan menyaksikan khutbah Umar di Al-Jabiyah, dan Utsman mengangkatnya atas Kufah dan ia adalah salah satu dari dua hakam antara Ali dan Mu’awiyah, maka ketika keduanya bertemu Amr menipu Abu Musa.

Dan ia adalah salah satu dari para pembaca dan fuqaha sahabat, dan ia adalah yang paling bagus suaranya di antara para sahabat pada zamannya. Abu Utsman An-Nahdi berkata: Aku tidak mendengar suara genta atau rebab atau seruling yang lebih merdu dari suara Abu Musa. Dan telah tetap dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Sungguh orang ini telah diberi seruling dari seruling-seruling keluarga Dawud”. Dan Umar berkata kepadanya: Ingatkanlah kami kepada Rabb kami wahai Abu Musa. Maka ia membaca dan mereka mendengarkan. Dan Asy-Sya’bi berkata: Umar menulis dalam wasiatnya bahwa jangan kutetapkan pejabatku lebih dari setahun kecuali Abu Musa, maka hendaknya ia ditetapkan empat tahun.

Dan Ibnu Al-Jauzi menyebutkan dalam Al-Muntazham bahwa ia wafat pada tahun ini, dan ini adalah perkataan sebagian mereka. Dan dikatakan: bahwa ia wafat setahun sebelumnya. Dan dikatakan: pada tahun empat puluh dua. Dan dikatakan selain itu. Dan Allah lebih mengetahui. Dan wafatnya adalah di Makkah ketika ia mengasingkan diri dari manusia setelah tahkim, dan dikatakan: di tempat yang disebut Ats-Tsawiyah pada dua mil dari Kufah. Dan ia adalah orang yang pendek, kurus tubuhnya, tidak berjenggot, radhiyallahu ‘anhu.

Dan Ibnu Al-Jauzi menyebutkan bahwa wafat pada tahun ini juga dari kalangan sahabat:

Abdullah bin Al-Mughaffal Al-Muzani

Dan ia adalah salah satu dari Al-Bakka’in (orang-orang yang menangis), dan salah satu dari sepuluh orang yang diutus Umar ke Bashrah untuk mengajarkan fiqih kepada manusia, dan dialah yang pertama kali masuk Tustar dari kaum muslimin ketika ia menaklukkannya. Tetapi yang benar adalah apa yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Musaddad bahwa ia wafat tahun lima puluh tujuh. Dan Ibnu Abdul Barr berkata: ia wafat tahun enam puluh. Dan yang lain berkata: tahun enam puluh satu. Maka Allah lebih mengetahui.

Dan diriwayatkan darinya bahwa ia melihat dalam mimpinya seakan-akan hari kiamat telah terjadi, dan ada tempat di sana barangsiapa sampai kepadanya ia selamat, maka ia berusaha untuk sampai kepadanya, maka dikatakan kepadanya: Apakah engkau ingin sampai kepadanya sedang padamu ada apa yang ada padamu? Maka ia terbangun, lalu ia mendatangi peti yang ada padanya yang berisi banyak emas, maka pagi tidak datang kepadanya melainkan ia telah membagikannya kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan dan kerabat, radhiyallahu ‘anhu.

Dan pada tahun ini wafat Imran bin Hushain bin Ubaid bin Khalaf, Abu Nujaid Al-Khuza’i

Ia masuk Islam bersama Abu Hurairah pada tahun Khaibar dan menyaksikan peperangan-peperangan, dan ia termasuk pemimpin para sahabat, Abdullah bin Amir mengangkatnya sebagai qadhi atas Bashrah maka ia memutuskan perkara di sana, kemudian ia meminta dibebaskan maka ia membebaskannya, dan ia terus berada di sana hingga ia meninggal pada tahun ini. Al-Hasan dan Ibnu Sirin berkata: Tidak datang ke Bashrah penunggang yang lebih baik darinya.

Para malaikat dahulu memberi salam kepadanya, namun ketika ia berbekam, salam mereka terputus. Kemudian mereka kembali memberi salam kepadanya sesaat sebelum kematiannya, semoga Allah meridainya dan juga ayahnya.

Ka’ab bin Ujrah Al-Anshari, Abu Muhammad Al-Madani

Seorang sahabat yang mulia, dan dialah yang menjadi sebab turunnya ayat fidyah dalam haji. Ia wafat pada tahun ini, dan ada yang mengatakan: setahun sebelumnya. Pada usia lima puluh atau tujuh puluh tujuh tahun.

Mu’awiyah bin Hudaij bin Jafnah bin Qutairah Al-Kindi Al-Khaulani Al-Mishri

Seorang sahabat menurut pendapat mayoritas ulama, dan Ibnu Hibban menyebutnya dalam golongan Tabi’in dalam kitab Ats-Tsiqat, namun pendapat pertama yang benar. Ia menyaksikan penaklukan Mesir, dan dialah yang menghadap kepada Umar membawa kabar penaklukan Iskandariah. Ia menyaksikan pertempuran melawan orang-orang Barbar bersama Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh, dan matanya hilang pada hari itu. Ia memimpin banyak pertempuran di negeri-negeri Maghrib, dan ia termasuk pendukung Utsman pada masa Ali di negeri Mesir, serta tidak pernah membaiat Ali sama sekali. Ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan menguasai Mesir, ia memuliakannya, kemudian menunjuknya sebagai wakilnya di Mesir setelah Abdullah bin Amr bin Al-Ash, karena Abdullah menjadi wakil di sana setelah ayahnya selama dua tahun, kemudian Mu’awiyah memberhentikannya dan mengangkat Mu’awiyah bin Hudaij ini. Ia terus berada di Mesir hingga wafat di sana pada tahun ini.

Hani’ bin Niyar, Abu Burdah Al-Balawi, paman dari Al-Bara’ bin Azib

Ia mendapat kekhususan untuk menyembelih kambing muda dan boleh menggantikan hewan kurban lainnya. Ia menyaksikan peristiwa Aqabah, Perang Badr, dan seluruh peperangan. Bendera Bani Haritsah bersamanya pada hari Fathu Makkah, semoga Allah meridainya.

Tahun Lima Puluh Tiga Hijriah

Pada tahun ini Abdurrahman bin Umm Al-Hakam Ats-Tsaqafi menyerang negeri Romawi dan menghabiskan musim dingin di sana. Pada tahun ini kaum muslimin – yang dipimpin oleh Junadah bin Abi Umayyah – menaklukkan pulau Rhodes. Sekelompok kaum muslimin tinggal di sana dan mereka sangat keras terhadap orang-orang kafir, menghadang mereka di laut, dan memutuskan jalan mereka. Mu’awiyah memberikan kepada mereka bekal dan pemberian yang besar. Mereka sangat waspada terhadap orang-orang Franka, bermalam di benteng besar yang mereka miliki yang berisi kebutuhan, hewan, dan hasil panen mereka. Mereka memiliki penjaga di laut yang memberi peringatan jika musuh datang atau ada yang mengancam mereka. Mereka tetap seperti itu hingga masa kekhalifahan Yazid bin Mu’awiyah setelah ayahnya, lalu ia menarik mereka dari pulau tersebut. Padahal kaum muslimin memiliki harta yang banyak dan pertanian yang melimpah di sana.

Yang mengimami manusia dalam haji pada tahun ini adalah Sa’id bin Al-Ash, wali Madinah. Demikian menurut Abu Ma’syar dan Al-Waqidi.

Pada tahun ini wafat Jabalah bin Al-Aiham Al-Ghassani, sebagaimana akan disebutkan biografinya di akhir biografi-biografi ini.

Pada tahun ini wafat Ar-Rabi’ bin Ziyad Al-Haritsi. Ada perbedaan pendapat tentang status kesahabannya. Ia adalah wakil Ziyad di Khurasan. Ia pernah menyebut nama Hujr bin Adi dan menyesalinya, lalu berkata: “Demi Allah, seandainya bangsa Arab bangkit membelanya, ia tidak akan dibunuh secara paksa, tetapi bangsa Arab diam maka mereka pun terhina.” Kemudian ketika tiba hari Jumat ia berdoa kepada Allah di atas mimbar agar Allah mencabut nyawanya, maka ia tidak hidup sampai Jumat berikutnya. Ia menunjuk anaknya Abdullah bin Ar-Rabi’ sebagai penggantinya, lalu Ziyad menetapkannya dalam jabatan tersebut. Ia wafat setelah itu dua bulan kemudian, dan ia menunjuk Khalid bin Abdullah Al-Hanafi sebagai penggantinya di Khurasan, lalu Ziyad menetapkannya.

Ruwayfi’ bin Tsabit

Seorang sahabat yang mulia, menyaksikan penaklukan Mesir, dan memiliki jejak yang baik dalam penaklukan negeri-negeri Maghrib. Ia wafat di Barqah sebagai wali dari pihak Maslamah bin Makhlad, wakil Mesir.

Pada tahun ini wafat Ziyad bin Abi Sufyan – dikatakan juga Ziyad bin Abihi dan Ziyad bin Sumayah (Sumayah adalah ibunya) – pada bulan Ramadhan tahun ini karena penyakit tha’un (wabah). Sebab musibah tersebut adalah ia menulis surat kepada Mu’awiyah yang isinya: “Sesungguhnya aku telah mengendalikan Irak untukmu dengan tangan kiriku, dan tangan kananku masih kosong.” Ia menyindir agar Mu’awiyah menunjuknya juga untuk negeri Hijaz. Ketika hal ini sampai kepada penduduk Hijaz, mereka datang kepada Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab dan mengadukan hal tersebut kepadanya. Mereka takut jika Ziyad menjadi pemimpin mereka, ia akan berbuat sewenang-wenang kepada mereka sebagaimana ia berbuat sewenang-wenang kepada penduduk Irak. Maka Ibnu Umar berdiri menghadap kiblat dan berdoa melawan Ziyad, sementara orang-orang mengamininya. Lalu Ziyad terkena wabah tha’un di tangannya di Irak. Ia sangat menderita karenanya dan meminta nasihat kepada Syuraih sang hakim tentang memotong tangannya. Syuraih berkata kepadanya: “Aku tidak melihat sebaiknya engkau melakukan itu terhadap dirimu sendiri, karena jika tidak ada peluang dalam ajal, engkau akan menemui Allah dalam keadaan buntung setelah memotong tanganmu karena ketakutan bertemu dengan-Nya. Dan jika masih ada ajal bagimu, engkau akan tetap hidup di tengah manusia sebagai orang buntung dan anakmu akan dicela karenanya.” Maka ia mengurungkan niatnya. Ketika Syuraih keluar dari sisinya, sebagian orang menegurnya dan berkata: “Mengapa engkau tidak membiarkannya memotong tangannya?” Ia menjawab: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang dimintai nasihat adalah amanah.” Dikatakan bahwa Ziyad berkata: “Apakah aku tidur dan tha’un dalam satu hamparan?” Maka ia bertekad untuk memotong tangannya, namun ketika besi pembakar dan alat-alatnya dibawa, ia ketakutan lalu membatalkannya. Disebutkan bahwa ia mengumpulkan seratus lima puluh orang tabib untuk mengobatinya dari rasa panas yang ia rasakan dalam tubuhnya, di antara mereka ada tiga orang tabib yang dahulu mengobati Kisra bin Hurmuz, namun mereka tidak mampu menolak takdir yang telah ditentukan dan urusan yang telah ditetapkan. Ia wafat pada tanggal tiga Ramadhan tahun ini. Ia telah menjabat sebagai pemimpin Irak selama lima tahun. Ia dimakamkan di Ats-Tsawiyah di luar Kufah. Ia telah keluar dari Kufah menuju Hijaz sebagai pemimpin di sana. Ketika kabar kematiannya sampai kepada Abdullah bin Umar, ia berkata: “Pergilah engkau wahai anak Sumayah, tidak dunia yang kekal bagimu, dan tidak akhirat yang engkau raih.”

Abu Bakr bin Abi Ad-Dunya berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dari Hisyam bin Muhammad, ia berkata: Yahya bin Tsa’labah Abu Al-Miqwam Al-Anshari menceritakan kepadaku, dari ibunya, dari Aisyah, dari ayahnya Abdurrahman bin As-Sa’ib Al-Anshari, ia berkata: Ziyad mengumpulkan penduduk Kufah, memenuhi masjid, lapangan, dan istana dengan mereka; untuk memaksa mereka berlepas diri dari Ali bin Abi Thalib. Abdurrahman berkata: “Sesungguhnya aku bersama beberapa temanku dari kalangan Anshar, sementara orang-orang dalam keadaan sangat genting karena hal itu dan dalam kesulitan.” Ia berkata: “Aku mengantuk sejenak, lalu aku melihat sesuatu datang dengan leher panjang, memiliki leher seperti leher unta, berbulu lebat dan besar. Aku bertanya: ‘Apa kamu?’ Ia menjawab: ‘Aku An-Naqqad Dzur-Raqabah (penyakit yang menyerang leher), aku diutus kepada penghuni istana ini.’ Aku terbangun dengan ketakutan, lalu aku bertanya kepada teman-temanku: ‘Apakah kalian melihat apa yang aku lihat?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Lalu aku memberitahu mereka. Kemudian keluarlah seseorang dari istana dan berkata: ‘Sesungguhnya pemimpin berkata kepada kalian: Pulanglah dari sisiku, karena aku sedang sibuk dari kalian.’ Dan ternyata wabah tha’un telah menimpanya.”

Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan bahwa ketika Ziyad menjadi wali Kufah, ia bertanya tentang orang paling ahli ibadah di sana, lalu ditunjukkan kepadanya seorang laki-laki yang dipanggil Abu Al-Mughirah Al-Himyari. Ia mendatangkannya dan berkata kepadanya: “Tinggallah di rumahmu dan jangan keluar darinya, dan aku akan memberimu harta sebanyak yang engkau mau.” Ia berkata: “Seandainya engkau memberiku kekuasaan atas bumi, aku tidak akan meninggalkan keluarku untuk shalat berjamaah.” Ia berkata: “Ikutilah jamaah dan jangan berbicara apa pun.” Ia berkata: “Aku tidak mampu meninggalkan amar makruf nahi munkar.” Maka ia memerintahkan untuk memenggal lehernya. Hal ini sangat aneh sekali.

Ketika ia menghadapi sakaratul maut, anaknya berkata kepadanya: “Wahai ayahku, aku telah menyiapkan enam puluh helai kain kafan untukmu.” Ia menjawab: “Wahai anakku, sungguh telah dekat dengan ayahmu suatu urusan; baik pakaian yang lebih baik dari pakaiannya atau pencabutan yang cepat.”

Sha’sha’ah bin Najiyah bin ‘Iqal bin Muhammad bin Sufyan bin Mujasyi’ bin Darim Ad-Darimi

Ia adalah seorang pemimpin pada masa Jahiliah dan Islam. Dikatakan bahwa ia menyelamatkan tiga ratus enam puluh bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup pada masa Jahiliah. Ada yang mengatakan: empat ratus. Ada yang mengatakan: sembilan puluh enam bayi perempuan yang dikubur hidup. Ketika ia masuk Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Bagimu pahala itu karena Allah telah menganugerahimu Islam.” Diriwayatkan darinya bahwa pertama kali ia menyelamatkan bayi perempuan yang dikubur hidup adalah ketika ia pergi mencari dua ekor unta betina yang kabur darinya. Ia berkata: “Sementara aku berjalan di malam hari, tiba-tiba aku melihat api yang menyala kadang terang kadang redup, namun aku tidak dapat sampai kepadanya. Maka aku berkata: ‘Ya Allah, bagiku adalah kewajiban jika Engkau menuntunku kepadanya, aku akan menolak kezaliman dari penghuninya jika aku mendapatinya pada mereka.'” Ia berkata: “Maka aku sampai kepadanya, ternyata ada seorang lelaki tua yang menyalakan api, dan di sisinya ada wanita-wanita berkumpul. Aku bertanya: ‘Apa yang kalian lakukan?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya wanita ini telah menahan kami sejak tiga hari, ia akan melahirkan namun belum keluar.’ Lelaki tua pemilik rumah bertanya: ‘Apa kabarmu?’ Aku menjawab: ‘Sesungguhnya aku sedang mencari dua ekor unta betina yang kabur dariku.’ Ia berkata: ‘Engkau telah menemukannya, sesungguhnya keduanya ada di unta-unta kami.'” Ia berkata: “Maka aku turun di sisinya. Tidak lama setelah aku turun, mereka berkata: ‘Ia telah melahirkan.’ Lelaki tua itu berkata: ‘Jika laki-laki maka berangkatlah, dan jika perempuan maka jangan biarkan aku mendengar suaranya.'” Aku berkata: ‘Mengapa engkau membunuh anakmu sedangkan rezekinya dari Allah?’ Ia berkata: ‘Aku tidak memerlukannya.’ Aku berkata: ‘Aku akan menebusnya darimu dan membiarkannya di sisimu hingga ia berpaling darimu atau meninggal.’ Ia berkata: ‘Dengan berapa?’ Aku menjawab: ‘Dengan salah satu dari dua untaku.’ Ia berkata: ‘Tidak.’ Aku berkata: ‘Dengan keduanya.’ Ia berkata: ‘Tidak, kecuali engkau menambah untamu ini, karena aku melihatnya masih muda dan warnanya bagus.’ Aku berkata: ‘Ya, dengan syarat engkau mengantarku ke keluargaku.’ Ia berkata: ‘Ya.’ Ketika aku keluar dari sisi mereka, aku melihat bahwa apa yang aku lakukan adalah nikmat dari Allah yang Ia anugerahkan kepadaku dengan menuntunku kepadanya. Maka aku menjadikan kewajiban kepada Allah bahwa aku tidak akan menemukan bayi perempuan yang dikubur hidup kecuali aku menebusnya sebagaimana aku menebus yang ini.” Ia berkata: “Maka tidak datang Islam kecuali aku telah menyelamatkan seratus bayi perempuan yang dikubur hidup kecuali empat, dan Al-Qur’an turun dengan pengharaman hal itu atas kaum muslimin.”

Di antara yang wafat pada tahun ini dari orang-orang terkenal yang disebutkan adalah Jabalah bin Al-Aiham Al-Ghassani, raja Nasrani Arab. Ia adalah Jabalah bin Al-Aiham bin Jabalah bin Al-Harits bin Abi Syamr, namanya Al-Mundzir bin Al-Harits, dan ia adalah anak Mariyah Dzatul Qurthain, dan ia adalah anak Tsa’labah bin Amr bin Jafnah, namanya Ka’b bin Amir bin Haritsah bin Imru’ul Qais. Mariyah adalah putri Arqam bin Tsa’labah bin Amr bin Jafnah. Ada yang mengatakan selain itu dalam nasabnya. Kuniyah Jabalah adalah Abu Al-Mundzir Al-Ghassani Al-Jafni, dan ia adalah raja Ghassan, dan mereka adalah Nasrani Arab pada masa Heraklius. Ghassan adalah keturunan paman Anshar; Aus dan Khazraj mereka. Jabalah adalah raja Ghassan yang terakhir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepadanya melalui Syuja’ bin Wahb mengajaknya masuk Islam, maka ia masuk Islam dan menulis tentang keislamannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnu Asakir berkata: Dikatakan bahwa ia tidak pernah masuk Islam sama sekali. Demikian pula ditegaskan oleh Al-Waqidi dan Sa’id bin Abdul Aziz.

Al-Waqidi berkata: Ia menyaksikan Perang Yarmuk bersama Romawi pada masa Umar bin Al-Khaththab, kemudian ia masuk Islam setelah itu pada masa Umar. Terjadilah ia menginjak seorang laki-laki dari suku Muzainah di Damaskus, maka orang Muzainah itu menamparnya. Para pengikut Jabalah melaporkannya kepada Abu Ubaidah dan berkata: “Orang ini menampar Jabalah.” Abu Ubaidah berkata: “Maka biarlah Jabalah menamparnya.” Mereka berkata: “Apakah ia tidak dibunuh?!” Ia berkata: “Tidak.” Mereka berkata: “Lalu apakah tangannya tidak dipotong?!” Ia berkata: “Tidak, sesungguhnya Allah memerintahkan qishash.” Maka Jabalah berkata: “Apakah kalian menganggap aku menjadikan wajahku sebagai pengganti wajah orang Muzainah yang datang dari arah Madinah? Buruk sekali agama ini.” Kemudian ia murtad menjadi Nasrani, dan berpindah dengan keluarganya hingga masuk ke negeri Romawi. Hal itu sampai kepada Umar maka ia merasa sedih, dan berkata kepada Hassan: “Sesungguhnya temanmu Jabalah telah murtad dari Islam.” Ia berkata: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” Kemudian berkata: “Mengapa?” Ia menjawab: “Seorang laki-laki dari Muzainah menamparnya.” Ia berkata: “Dan itu adalah haknya.” Maka Umar berdiri mendatanginya dengan tongkat dan memukulnya dengannya. Al-Waqidi meriwayatkannya, dari Ma’mar dan yang lainnya, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, dari Ibnu Abbas, dan ia menyebutkan hal itu dengan sanad-sanadnya kepada sekelompok sahabat. Pendapat inilah yang paling masyhur dari berbagai pendapat.

Ibnu Al-Kalbi dan yang lainnya meriwayatkan bahwa ketika Umar mendengar keislaman Jabalah, ia gembira dengan keislamannya, kemudian ia mengirim utusan memanggilnya agar menemuinya di Madinah. Ada yang mengatakan: bahkan Jabalah meminta izin untuk datang kepadanya, lalu ia mengizinkannya. Maka ia berangkat dengan banyak orang dari kaumnya, dikatakan: seratus lima puluh orang pengendara. Ada yang mengatakan: lima ratus. Hadiah-hadiah Umar menemuinya dan menempatkannya sebelum ia sampai ke Madinah beberapa perjalanan. Hari masuknya adalah hari yang disaksikan, ia masuk dengan kuda-kudanya yang diberi kalung emas dan perak, dan ia sendiri mengenakan mahkota di kepalanya yang dihiasi dengan mutiara dan permata, dan di dalamnya ada anting-anting Mariyah neneknya. Penduduk Madinah keluar, laki-laki dan perempuan, melihatnya. Ketika ia memberi salam kepada Umar, Umar menyambutnya dan mendekatkan tempat duduknya. Ia menyaksikan haji bersama Umar pada tahun ini. Sementara ia sedang thawaf di Ka’bah, tiba-tiba seorang laki-laki dari Bani Fazarah menginjak kainnya sehingga terlepas. Maka Jabalah mengangkat tangannya dan menghancurkan hidung orang itu. Sebagian orang mengatakan: ia mencungkil matanya. Maka orang Fazarah itu mengadukan kepada Umar, bersamanya banyak orang dari Bani Fazarah. Umar memanggilnya, lalu Jabalah mengakuinya. Umar berkata kepadanya: “Qishash lah.” Jabalah berkata: “Bagaimana, sedangkan aku raja dan ia rakyat jelata?” Umar berkata: “Sesungguhnya Islam menyatukan engkau dan dia, engkau tidak melebihimu kecuali dengan takwa.” Jabalah berkata: “Aku mengira aku akan lebih mulia dalam Islam daripada dalam Jahiliah.” Umar berkata: “Tinggalkan itu, karena jika engkau tidak merelakan orang itu, aku akan qishash darimu.” Ia berkata: “Kalau begitu aku akan kembali menjadi Nasrani.” Umar berkata: “Jika engkau menjadi Nasrani, aku akan memenggal lehermu.” Ketika ia melihat keseriusan, ia berkata: “Aku akan berpikir dalam urusanku malam ini.” Maka ia pergi dari sisi Umar. Ketika malam gelap gulita, ia berangkat dengan kaumnya dan siapa yang menaatinya, lalu pergi ke Syam, kemudian masuk ke negeri Romawi, dan menghadap Heraklius di kota Konstantinopel. Heraklius menyambutnya dan memberinya banyak tanah, memberikan bekal yang besar, menghadiahkan hadiah-hadiah yang indah, dan menjadikannya sebagai teman duduknya. Ia tinggal di sisinya cukup lama; kemudian Umar menulis surat kepada Heraklius melalui seorang laki-laki yang dipanggil Jatsamah bin Misahiq Al-Kinani.

Ketika surat Umar bin Khattab sampai kepada Heraklius, Heraklius berkata kepadanya: “Apakah kamu telah bertemu sepupumu Jabalah?” Dia menjawab: “Belum.” Heraklius berkata: “Temuilah dia.” Kemudian disebutkan pertemuan mereka, dan betapa Jabalah berada dalam kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan duniawi, dalam pakaiannya, permadaninya, tempat duduknya, wewangiannya, dan budak-budak perempuan cantik di sekelilingnya yang melayani dan menyanyi, makanannya, minumannya, tempat tidurnya, dan rumahnya yang dijadikan gantinya dari negeri Islam. Disebutkan bahwa dia mengajaknya kembali kepada Islam dan kembali ke Syam, maka Jabalah berkata: “Setelah apa yang telah kulakukan dengan murtad?” Dia menjawab: “Ya, sesungguhnya Asy’ats bin Qais pernah murtad dan memerangi mereka dengan pedang, kemudian ketika dia kembali kepada kebenaran, mereka menerimanya, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq menikahkannya dengan saudara perempuannya Umm Farwah.”

Disebutkan: Kemudian Jabalah mengalihkan pembicaraan dengan makanan dan minuman, dan menawarkan kepadanya khamr, tetapi dia menolak, sedangkan Jabalah minum khamr dalam jumlah banyak hingga mabuk. Kemudian dia memerintahkan budak-budak perempuan penyanyinya untuk menyanyikan syair Hassan dengan diiringi alat musik, yang memuji kerabat Jabalah dari Ghassan, dan syair itu ditujukan untuk ayah Jabalah si binatang ini.

Demi Allah, betapa mulianya sekelompok orang yang pernah kumakan bersama / Suatu hari di Jilliq pada zaman dahulu

Anak-anak Jafnah di sekitar makam ayah mereka / Makam Ibnu Mariyah yang mulia dan utama

Mereka memberi minum dari mata air Barrish kepada mereka / Anggur kuning yang bercampur dengan arak yang murni

Putih wajah mereka, mulia keturunan mereka / Tinggi hidung mereka dari golongan yang utama

Mereka memberi tamu hingga anjing-anjing mereka tidak menggonggong / Mereka tidak bertanya tentang tamu berkulit gelap yang datang

Disebutkan: Maka dia senang dengan nyanyian mereka itu, kemudian berkata: “Ini syair Hassan bin Tsabit Al-Anshari tentang kami dan tentang kerajaan kami.” Kemudian dia berkata kepadaku: “Bagaimana keadaan Hassan?” Aku menjawab: “Aku meninggalkannya dalam keadaan buta dan sudah tua renta.” Kemudian dia berkata kepada mereka: “Buatlah aku terhibur.” Maka mereka menyanyikan syair Hassan juga:

Untuk siapa rumah yang telah kosong di Ma’an / Antara cabang sungai Yarmuk hingga Shaman

Hingga al-Qurayyat dari Ballas hingga Dariya / Hingga Saka’ hingga istana-istana Dawani

Hingga kawasan Jasim hingga padang Dzi ash-Shafr / Tempat tinggal kaum-kaum dan suku-suku

Itulah rumah si Perkasa setelah ribuan tahun / Dan tempat tinggal dengan tiang-tiang yang megah

Doa-doa Masehi di rumah itu / Doa pendeta dan rahib-rahib

Itulah tempat tinggal keluarga Jafnah di masa lampau / Yang telah dihapus oleh pergantian zaman

Maka aku melihat di sana tempatku yang kokoh / Di sisi pemilik mahkota, tempat dudukku dan kedudukanku

Semoga ibu mereka berduka dan mereka telah berduka / Pada hari mereka tinggal di Harits al-Jaulan

Telah mendekat hari raya Paskah, maka para budak perempuan / Dengan cepat merangkai kalung-kalung mutiara

Disebutkan: Ini karya putra Al-Fari’ah, Hassan bin Tsabit, tentang kami, tentang kerajaan kami, dan tentang tempat tinggal kami di pinggiran ghuthah Damaskus. Disebutkan: Kemudian dia diam lama, kemudian berkata kepada mereka: “Buatlah aku menangis.” Maka mereka meletakkan alat musik mereka dan menundukkan kepala mereka dan berkata:

Para bangsawan masuk Kristen karena aib sebuah tamparan / Padahal tidak ada bahaya padanya seandainya aku bersabar

Yang mengelilingiku padanya adalah keras kepala dan kesombongan / Dan aku menjual dengannya mata yang sehat dengan yang buta

Andai saja ibuku tidak melahirkanku dan andai saja aku / Kembali kepada ucapan yang dikatakan Umar

Dan andai saja aku menggembalakan unta-unta di padang tandus / Dan aku adalah tawanan di Rabi’ah atau Mudhar

Dan andai saja aku memiliki kehidupan yang paling sederhana di Syam / Bergaul dengan kaumku dalam keadaan hilang pendengaran dan penglihatan

Aku beragama dengan apa yang mereka anut dari syariat / Dan memang kayu yang sudah tua bisa bersabar atas luka

Disebutkan: Maka dia meletakkan tangannya di wajahnya, dan menangis hingga membasahi janggutnya dengan air matanya, dan aku ikut menangis bersamanya. Kemudian dia meminta lima ratus dinar Heraklius, lalu berkata: “Ambillah ini dan sampaikanlah kepada Hassan bin Tsabit.” Kemudian dia datang dengan yang lain dan berkata: “Ambillah ini untukmu.” Aku berkata: “Aku tidak memerlukannya, dan aku tidak akan menerima darimu sesuatu pun karena kamu telah murtad dari Islam.” Dikatakan: Maka dia menambahkannya kepada yang untuk Hassan, dan mengirim kepadanya seribu dinar Heraklius. Kemudian dia berkata kepadaku: “Sampaikanlah salam dariku kepada Umar bin Khattab dan seluruh kaum muslimin.”

Ketika aku kembali kepada Umar, aku memberitahukan kepadanya beritanya, maka dia berkata: “Dan kamu melihatnya minum khamr?” Aku menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Semoga Allah menjauhkannya, dia menyegerakan yang fana dengan yang kekal, maka dagangannya tidak menguntungkan.” Kemudian dia berkata: “Dan apa yang dia kirimkan untuk Hassan?” Aku menjawab: “Lima ratus dinar Heraklius.” Maka dia memanggil Hassan dan menyerahkannya kepadanya, lalu Hassan mengambilnya dan pergi sambil berkata:

Sesungguhnya putra Jafnah dari sisa kaum / Yang tidak diberi makan oleh ayah-ayah mereka dengan celaan

Dia tidak melupakanku di Syam ketika dia penguasanya / Tidak juga ketika masuk Kristen di Romawi

Dia memberi dengan murah hati dan tidak melihatnya di sisinya / Kecuali seperti sebagian pemberian orang yang kekurangan

Dan aku datang kepadanya suatu hari, maka dia mendekatkan tempat dudukku / Dan memberi minum hingga aku puas dari bejana

Kemudian ketika terjadi pada tahun ini di masa Muawiyah, Muawiyah mengutus Abdullah bin Mas’adah Al-Fazari sebagai utusan kepada raja Romawi, maka dia bertemu dengan Jabalah bin Al-Aiham dan melihat apa yang dimilikinya dari kebahagiaan duniawi dan harta benda; dari budak, pengikut, emas, dan kuda-kuda. Maka Jabalah berkata kepadanya: “Seandainya aku tahu bahwa Muawiyah akan memberiku tanah Batsniyah karena itu adalah tempat tinggal kami, dan dua puluh desa dari ghuthah Damaskus dan memberikan jatah untuk kelompok kami, serta membaguskan hadiah-hadiah kami, niscaya aku kembali ke Syam.” Maka Abdullah bin Mas’adah memberitahukan Muawiyah tentang perkataannya, maka Muawiyah berkata: “Aku akan memberinya itu.” Dan dia menulis surat kepadanya melalui pos dengan itu, tetapi pos itu tidak menemuinya kecuali dia telah meninggal pada tahun ini, semoga Allah memburukkannya.

Sebagian besar berita-berita ini disebutkan oleh Syekh Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi dalam “Al-Muntazhim”, dan dia mencatat wafatnya pada tahun ini, yakni tahun lima puluh tiga. Dan Al-Hafizh Ibnu Asakir telah membuat biografinya dalam “Tarikhnya” dengan panjang dan bermanfaat, kemudian berkata di akhirnya: Telah sampai kepadaku bahwa Jabalah meninggal pada masa kekhalifahan Muawiyah di tanah Romawi, setelah tahun empat puluh Hijriah.

Kemudian Masuklah Tahun Lima Puluh Empat

Pada tahun ini Muhammad bin Malik melewati musim dingin di tanah Romawi, dan yang memimpin pasukan musim panas adalah Ma’n bin Yazid As-Sulami. Pada tahun ini Muawiyah memecat Sa’id bin Al-Ash dari kepemimpinan Madinah, dan mengembalikan Marwan bin Al-Hakam ke sana dan menulis surat kepadanya agar merobohkan rumah Sa’id bin Al-Ash dan menyita harta-hartanya yang ada di tanah Hijaz. Maka Marwan datang ke rumah Sa’id untuk merobohkannya, lalu Sa’id berkata: “Kamu tidak akan melakukan itu.” Marwan berkata: “Sesungguhnya Amirul Mukminin telah menulis surat kepadaku tentang itu, dan seandainya dia menulis surat kepadamu tentang rumahku, niscaya kamu akan melakukannya.” Maka Sa’id bangkit dan mengeluarkan surat Muawiyah kepadanya ketika melantiknya sebagai gubernur Madinah agar merobohkan rumah Marwan dan menyita harta-hartanya, dan disebutkan bahwa dia tidak henti-hentinya membela Marwan hingga hal itu dicabut darinya. Ketika Marwan melihat surat-surat kepada Sa’id tentang itu, hal itu membuatnya berhenti dari rumah Sa’id dan dari mengambil hartanya, dan dia tidak henti-hentinya membelanya hingga Muawiyah membiarkannya di rumahnya dan menetapkan harta-hartanya kepadanya.

Pada tahun ini Muawiyah memecat Samurah bin Jundub dari Bashrah, padahal Ziyad telah menjadikannya wakil, maka Muawiyah mempertahankannya selama enam bulan, kemudian memecatnya dan melantik Abdullah bin Amr bin Ghailan atasnya.

Ibnu Jarir dan lainnya meriwayatkan dari Samurah bahwa dia berkata: “Seandainya aku menaati Allah sebagaimana aku menaati Muawiyah, niscaya Dia tidak akan mengazabku selamanya.” Dan ini tidak sahih darinya. Muawiyah mempertahankan Abdullah bin Khalid bin Usaid sebagai wakil di Kufah, dan Ziyad telah menjadikannya wakil di sana. Pada tahun ini Ubaidullah bin Ziyad datang kepada Muawiyah, maka dia memuliakannya dan bertanya kepadanya tentang wakil-wakil ayahnya atas negeri-negeri, maka dia memberitahukan tentang mereka. Kemudian dia melantiknya sebagai amir Khurasan sedangkan dia berusia dua puluh lima tahun, maka dia berangkat ke wilayahnya, dan bersiap-siap dengan segera menuju ke sana. Dia menyeberangi sungai menuju pegunungan Bukhara, maka dia menaklukkan Ramitsan dan setengah Bikand – keduanya dari wilayah Bukhara – dan bertemu dengan bangsa Turki di sana, maka dia memerangi mereka dengan pertempuran yang sengit, dan mengalahkan mereka dengan kekalahan yang dahsyat, sehingga kaum muslimin membuat istri raja terburu-buru hingga tidak sempat memakai sepatunya, maka dia memakai satu dan meninggalkan yang lain, lalu kaum muslimin mengambilnya dan menghargai kaos kakinya seharga dua ratus ribu dirham, dan mereka memperoleh rampasan perang yang banyak selain itu. Ubaidullah bin Ziyad menetap di Khurasan selama dua tahun.

Pada tahun ini Marwan bin Al-Hakam, wakil Madinah, memimpin ibadah haji untuk manusia. Yang menjadi gubernur Kufah adalah Abdullah bin Khalid bin Usaid, dan ada yang mengatakan: Adh-Dhahhak bin Qais. Yang menjadi gubernur Bashrah adalah Abdullah bin Amr bin Ghailan.

Penyebutan Orang-Orang Terkemuka yang Wafat Pada Tahun Ini

Usamah bin Zaid bin Haritsah Al-Kalbi, Abu Muhammad Al-Madani

Maula Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan putra maulanya, kekasihnya dan putra kekasihnya. Ibunya adalah Barakah Umm Aiman, maula Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan pengasuhnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melantiknya sebagai komandan setelah ayahnya terbunuh, maka sebagian orang mencela kepemimpinannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian mencela kepemimpinannya, maka sesungguhnya kalian telah mencela kepemimpinan ayahnya sebelumnya, dan demi Allah sesungguhnya dia sangat layak untuk kepemimpinan, dan sesungguhnya dia adalah salah satu orang yang paling aku cintai, dan sesungguhnya ini (Usamah) adalah salah satu orang yang paling aku cintai setelahnya.”

Dalam Shahih Bukhari disebutkan dari dia, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mendudukkan Hasan di pangkuannya, dan mendudukkan Usamah di pangkuan yang lain sambil berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka berdua.” Keutamaan-keutamaannya sangat banyak. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat sedangkan usianya sembilan belas tahun. Umar apabila bertemu dengannya berkata: “Assalamu’alaikum wahai sang Amir.” Abu Umar bin Abdul Barr menshahihkan bahwa dia wafat pada tahun ini. Yang lain berkata: tahun lima puluh delapan atau lima puluh sembilan. Ada yang mengatakan dia wafat setelah terbunuhnya Utsman, wallahu a’lam.

Tsauban bin Bujdad

Maula Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Biografinya telah disebutkan sebelumnya dalam bagian para maula dan orang-orang yang melayani beliau shallallahu alaihi wasallam. Asal Tsauban dari bangsa Arab, kemudian ditawan, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membelinya dan memerdekakannya. Dia terus menyertai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perjalanan maupun ketika menetap. Ketika Rasulullah wafat, dia tinggal di Ramlah, kemudian pindah darinya ke Himsh dan membangun rumah di sana, dan tetap di sana hingga wafat pada tahun ini, menurut pendapat yang shahih. Ada yang mengatakan: tahun empat puluh empat, dan itu keliru. Dikatakan bahwa dia wafat di Mesir, tetapi yang shahih di Himsh.

Jubair bin Muth’im

Telah disebutkan sebelumnya bahwa dia wafat tahun lima puluh.

Al-Harits bin Rib’i Abu Qatadah Al-Anshari

Al-Waqidi berkata: Namanya adalah An-Nu’man bin Rib’i. Yang lain berkata: Amr bin Rib’i. Dia adalah Abu Qatadah Al-Anshari As-Sulami Al-Madani, penunggang kuda Islam. Dia menyaksikan Uhud dan perang-perang setelahnya, dan pada hari Dzi Qarad dia berusaha dengan terpuji sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda pada hari itu: “Sebaik-baik penunggang kuda kami hari ini adalah Abu Qatadah, dan sebaik-baik pejalan kaki kami adalah Salamah bin Al-Akwa’.” Abu Ahmad Al-Hakim menyatakan bahwa dia menyaksikan Badar, tetapi ini tidak dikenal. Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Telah memberitahuku orang yang lebih baik dariku, yaitu Abu Qatadah Al-Anshari, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ammar: “Engkau akan dibunuh oleh kelompok yang memberontak.”

Al-Waqidi dan yang lainnya berkata: Ia wafat pada tahun ini – yakni tahun lima puluh empat – di Madinah pada usia tujuh puluh tahun. Al-Haitsam bin Adi dan yang lainnya mengklaim bahwa ia wafat di Kufah tahun tiga puluh delapan, dan Ali bin Abi Thalib menshalatkannya. Dan ini adalah pendapat yang asing (aneh).

Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab Al-Quraisyi Al-Asadi Abu Khalid Al-Makki

Ibunya adalah Fakhtah binti Zuhair bin Al-Harits bin Asad bin Abdul Uzza, dan bibinya adalah Khadijah binti Khuwailid istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ibu anak-anaknya kecuali Ibrahim. Ibunya melahirkannya di dalam Kakbah tiga belas tahun sebelum peristiwa Gajah; hal itu terjadi ketika ibunya masuk ke Kakbah untuk berziarah, lalu ia mengalami kontraksi persalinan, maka ia melahirkannya di atas permadani.

Dan ia sangat mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika Banu Hasyim dan Banu Muthalib berada di Syi’ib (lembah) tidak boleh berjual beli dan tidak boleh menikah, Hakim datang membawa kafilah yang datang dari Syam lalu membelinya di tempatnya, kemudian ia pergi membawanya dan memukulkan punggung-punggung (unta-unta)nya sehingga masuk ke dalam Syi’ib membawa makanan dan pakaian; sebagai penghormatan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bibinya Khadijah binti Khuwailid. Dan dialah yang pertama kali membeli Zaid bin Haritsah, lalu bibinya Khadijah membelinya darinya, kemudian menghadiahkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu beliau memerdekakannnya. Dan dialah yang membeli jubah Dzi Yazan, lalu menghadiahkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan beliau memakainya. Ia berkata: Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah daripada beliau yang memakainya. Meskipun demikian, ia tidak masuk Islam kecuali pada hari Fathu Makkah, ia beserta semua anak-anaknya.

Al-Bukhari dan yang lainnya berkata: Ia hidup pada masa Jahiliyah enam puluh tahun, dan pada masa Islam enam puluh tahun. Ia termasuk pemuka Quraisy dan orang-orang mulia mereka serta yang paling mengetahui tentang nasab. Ia banyak bersedekah, berbuat baik, dan memerdekakan budak. Ketika ia masuk Islam, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang hal itu, maka beliau bersabda: “Engkau masuk Islam atas kebaikan yang telah engkau dahulukan.” Hakim telah menyaksikan bersama orang-orang musyrik di perang Badar, dan mendekat ke telaga, dan hampir saja Hamzah membunuhnya, namun ia tidak terseret kecuali terseret dari hadapannya. Oleh karena itu, ketika ia bersungguh-sungguh dalam bersumpah, ia berkata: Tidak, demi Dzat yang menyelamatkanku pada hari Badar. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam turun pada hari Fathu Makkah di Marr Azh-Zhahran bersama tentara, Hakim dan Abu Sufyan keluar untuk menyelidiki berita. Al-Abbas berjumpa dengan mereka berdua, lalu ia membawa Abu Sufyan dan memberinya jaminan, dan meminta perlindungan untuknya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Abu Sufyan masuk Islam pada malam itu dengan terpaksa, dan pada pagi hari itu Hakim masuk Islam. Ia menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam perang Hunain, dan Rasulullah alaihi wasallam memberinya seratus ekor unta, kemudian ia meminta lalu beliau memberinya, kemudian ia meminta lagi lalu beliau memberinya, kemudian beliau bersabda kepadanya: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini manis dan hijau, dan sesungguhnya barangsiapa yang mengambilnya dengan kemurahan jiwa maka akan diberkahi untuknya, dan barangsiapa yang mengambilnya dengan rakus, maka tidak akan diberkahi untuknya, dan ia seperti orang yang makan namun tidak kenyang.” Maka Hakim berkata: Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan mengambil sesuatu dari siapapun setelahmu. Maka ia tidak mengambil dari siapapun setelahnya. Abu Bakar menawarkan pemberian kepadanya namun ia menolak, demikian juga Umar menawarkan pemberian kepadanya namun ia menolak. Maka Umar mempersaksikan kaum muslimin atas hal itu. Meskipun demikian, ia termasuk orang yang paling kaya; Az-Zubair wafat pada hari ia wafat sedangkan Hakim memiliki piutang padanya seratus ribu.

Di tangannya, ketika ia masuk Islam, ada Ar-Rifadah dan Dar An-Nadwah, lalu ia menjualnya setelah itu kepada Muawiyah dengan seratus ribu, dan dalam riwayat: dengan empat puluh ribu dinar. Ibnu Az-Zubair berkata kepadanya: Apakah engkau menjual kehormatan Quraisy? Maka Hakim berkata kepadanya: Kehormatan telah hilang kecuali takwa, wahai anak saudaraku. Sesungguhnya aku membelinya pada masa Jahiliyah dengan sejenis khamr, dan aku akan membeli dengannya rumah di surga. Aku mempersaksikan engkau bahwa aku telah menjadikannya di jalan Allah. Dan rumah ini bagi Quraisy seperti rumah keadilan, dan tidak ada seorangpun yang memasukinya kecuali usianya telah mencapai empat puluh tahun, kecuali Hakim bin Hizam, karena ia memasukinya ketika ia berusia lima belas tahun. Disebutkan oleh Az-Zubair bin Bakkar.

Az-Zubair menyebutkan bahwa Hakim pada suatu tahun berhaji, lalu ia mengurbankan seratus ekor unta yang berselimut, dan seribu ekor kambing, dan berdiri bersamanya di Arafah seratus budak dengan kalung-kalung perak di leher mereka, dan telah diukir padanya: Mereka adalah hamba-hamba yang dimerdekakan oleh Allah dari Hakim bin Hizam. Maka ia memerdekakan mereka semua dan mengurbankan semua hewan-hewan tersebut. Semoga Allah meridhainya. Hakim wafat pada tahun ini menurut pendapat yang shahih, dan dikatakan selain itu, dan usianya seratus dua puluh tahun. Wallahu a’lam.

Huwaitib bin Abdul Uzza Al-Amiri

Sahabat yang mulia, masuk Islam pada tahun Fathu Makkah, dan ia telah hidup sangat lama. Oleh karena itu Umar menjadikannya termasuk orang-orang yang memperbarui batas-batas tanah Haram. Ia telah menyaksikan Badar bersama orang-orang musyrik, dan melihat malaikat pada hari itu antara langit dan bumi. Ia menyaksikan Hudaibiyah dan berusaha dalam perdamaian. Ketika tiba Umrah Qadha, dialah dan Suhail yang memerintahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk keluar dari Makkah, maka beliau memerintahkan Bilal agar matahari tidak terbenam sedangkan masih ada salah seorang dari sahabatnya di Makkah. Ia berkata: Dan pada semua peristiwa ini aku berniat untuk masuk Islam, namun Allah menolak kecuali apa yang Ia kehendaki. Ketika tiba masa Fathu Makkah, aku takut dengan sangat dan melarikan diri. Abu Dzar menyusulku, dan ia adalah sahabat karibku pada masa Jahiliyah. Ia berkata: Wahai Huwaitib, ada apa denganmu? Aku berkata: Takut. Ia berkata: Jangan takut, karena sesungguhnya ia adalah orang yang paling berbakti dan paling menyambung silaturahmi, dan aku adalah penjaminmu, maka kembalilah bersamaku. Maka aku kembali bersamanya, lalu ia menghentikan aku di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan beliau berada di Al-Batha’, bersamanya Abu Bakar dan Umar. Abu Dzar telah mengajariku untuk mengatakan: Assalamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuhu. Ketika aku mengucapkan itu, beliau bersabda: “Huwaitib?” Aku berkata: Ya, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan engkau adalah Rasulullah. Maka beliau bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu petunjuk.” Beliau gembira dengan itu dan meminjam uang dariku, maka aku memberinya pinjaman empat puluh ribu. Aku menyaksikan bersamanya Hunain dan Tha’if, dan beliau memberiku dari rampasan perang Hunain seratus ekor unta. Kemudian Huwaitib datang setelah itu ke Madinah lalu menetap di sana, dan ia memiliki rumah di sana. Ketika Marwan bin Al-Hakam menjadi wali di sana, Huwaitib, Hakim bin Hizam, dan Makhramah bin Naufal datang kepadanya, lalu mereka memberi salam kepadanya dan duduk berbincang-bincang dengannya, kemudian mereka berpisah. Kemudian Huwaitib bertemu dengan Marwan pada hari lain, lalu Marwan bertanya kepadanya tentang usianya maka ia memberitahunya. Marwan berkata kepadanya: Islammu terlambat wahai orang tua sehingga orang-orang muda mendahuluimu. Maka Huwaitib berkata: Allah tempat meminta pertolongan. Demi Allah, sungguh aku telah berniat untuk masuk Islam berkali-kali, setiap kali itu ayahmu menghalangiku dengan mengatakan: Engkau menurunkan kehormatanmu dan meninggalkan agama nenek moyangmu untuk agama yang baru dan menjadi pengikut? Ia berkata: Maka Marwan diam dan menyesal atas apa yang telah ia katakan kepadanya. Kemudian Huwaitib berkata: Apakah Utsman tidak memberitahumu apa yang dialami dari ayahmu ketika ia masuk Islam? Ia berkata: Maka Marwan semakin sedih. Huwaitib termasuk orang yang menyaksikan pemakaman Utsman. Muawiyah membeli rumahnya di Makkah dengan empat puluh ribu dinar. Orang-orang menganggapnya banyak, maka Huwaitib berkata: Dan apa artinya itu bagi orang yang memiliki lima orang tanggungan? Asy-Syafi’i berkata: Huwaitib adalah orang yang terpuji dalam Islamnya, dan ia adalah orang Quraisy yang paling banyak memiliki rumah di Makkah pada masa Jahiliyah. Al-Waqidi berkata: Huwaitib hidup pada masa Jahiliyah enam puluh tahun, dan pada masa Islam enam puluh tahun, dan ia wafat pada tahun ini di Madinah pada usia seratus dua puluh tahun. Yang lainnya berkata: Ia wafat di Syam. Ia memiliki satu hadits, diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan An-Nasa’i, dari hadits As-Sa’ib bin Yazid darinya, dari Abdullah bin As-Sa’di dari Umar tentang penugasan, dan ini termasuk hadits yang jarang; karena berkumpul padanya empat orang sahabat, semoga Allah meridhai mereka.

Sa’id bin Yarbu’ bin Ankatshah bin Amir bin Makhzum

Ia masuk Islam pada tahun Fathu Makkah, dan menyaksikan Hunain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberinya lima puluh ekor unta. Namanya adalah Sharma, dan dalam riwayat: Ashram, lalu beliau menamai dia Sa’id. Ia termasuk kelompok orang yang diperintahkan Umar untuk memperbarui batas-batas tanah Haram. Penglihatannya hilang setelah itu, maka Umar datang kepadanya untuk menghiburnya. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Al-Waqidi, Khalifah, dan banyak yang lainnya berkata: Ia wafat pada tahun ini di Madinah – dan dikatakan: di Makkah – pada usia seratus dua puluh tahun. Dan dikatakan lebih dari itu.

Murrah bin Syarahil Al-Hamdani

Ia disebut Murrah Ath-Thayyib, dan Murrah Al-Khair. Ia meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, dan yang lainnya. Ia shalat setiap hari dan malam seribu rakaat, ketika ia sudah tua ia shalat empat ratus rakaat. Dikatakan bahwa ia sujud sehingga tanah memakan dahinya. Ketika ia wafat, ia terlihat dalam mimpi dan tempat itu telah menjadi cahaya. Ditanyakan kepadanya: Dimana rumahmu? Ia berkata: Di rumah yang penghuninya tidak berpindah dan tidak mati.

An-Nu’aiman bin Amr bin Rifa’ah bin Al-Harits

Ia menyaksikan Badar dan setelahnya. Dikatakan bahwa dialah yang didatangkan (kepada Nabi) karena minum khamr lalu Nabi mencambuknya. Seorang laki-laki berkata: Semoga Allah melaknatnya, betapa seringnya ia didatangkan. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melaknatnya karena sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Saudah binti Zam’ah Al-Quraisyiyyah Al-Amiriyyah, Ummul Mukminin

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahinya setelah Khadijah. Ia sebelumnya bersama As-Sakran bin Amr saudara Suhail bin Amr. Ketika ia sudah tua, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berniat menceraikannya, dan dikatakan bahwa beliau menceraikannya. Maka ia meminta beliau agar tetap mempertahankannya di antara istri-istrinya dan menghibahkan harinya kepada Aisyah. Maka beliau menerima itu darinya dan mempertahankannya. Maka Allah menurunkan: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya… ayat (An-Nisa: 128). Ia adalah wanita yang memiliki ibadah, wara’, dan zuhud. Aisyah berkata: Tidak ada seorang wanita pun yang aku ingin berada dalam posisinya kecuali Saudah, kecuali bahwa padanya ada ketegasan yang cepat ia rujuk darinya. Ibnu Al-Jauzi menyebutkan wafatnya pada tahun ini. Ibnu Abi Khaitsamah berkata: Ia wafat pada akhir khilafah Umar bin Al-Khaththab, maka Wallahu a’lam.

Kemudian masuklah tahun lima puluh lima

Pada tahun ini Muawiyah memberhentikan Abdullah bin Amr bin Ghailan dari Basrah, dan mengangkat Ubaidillah bin Ziyad atasnya. Sebab pemberhentiannya adalah bahwa ia sedang berkhutbah kepada manusia, lalu seorang laki-laki dari Bani Dhabbi melemparinya dengan batu, maka ia memerintahkan untuk memotong tangannya. Kaumnya datang kepadanya lalu berkata kepadanya: Sesungguhnya apabila sampai kepada Amirul Mukminin bahwa engkau memotong tangannya dalam perbuatan ini, ia akan melakukan kepadanya dan kaumnya seperti apa yang dilakukan kepada Hujr bin Adi, maka tulislah untuk kami surat bahwa engkau memotong tangannya karena syubhat. Maka ia menulis untuk mereka, lalu mereka menyimpannya pada mereka beberapa waktu. Kemudian mereka datang kepada Muawiyah, lalu berkata kepadanya: Sesungguhnya wakilmu memotong tangan sahabat kami karena syubhat maka qishaskan kami darinya. Maka ia berkata: Tidak ada jalan untuk qishash dari wakilku tetapi diyat. Maka ia memberikan mereka diyat dari Baitul Mal dan memberhentikan Ibnu Ghailan. Ia berkata kepada mereka: Pilihlah siapa yang kalian inginkan aku angkat atas kalian. Mereka menyebutkan beberapa orang, maka ia berkata: Tidak, tetapi aku akan mengangkat atas kalian anak saudaraku Ubaidillah bin Ziyad. Maka ia mengangkatnya. Ibnu Ziyad mengangkat Aslam bin Zur’ah sebagai penggantinya di Khurasan, namun ia tidak berperang dan tidak membuka wilayah apapun. Ia mengangkat Zurarah bin Aufa sebagai qadhi Basrah, kemudian memberhentikannya dan mengangkat Ibnu Udzainah Al-Abdi, dan mengangkat Abdullah bin Hishn atas kepolisiannya.

Marwan bin Al-Hakam, wakil Madinah, memimpin haji manusia pada tahun ini. Pada tahun ini Muawiyah memberhentikan Abdullah bin Khalid bin Usaid dari Kufah dan mengangkat Adh-Dhahhak bin Qais Al-Fihri atasnya, semoga Allah meridhainya.

Disebutkan orang-orang terkemuka yang wafat pada tahun ini

Al-Arqam bin Abi Al-Arqam Abdul Manaf bin Asad bin Abdullah bin Umar bin Makhzum

Ia masuk Islam sejak awal, dikatakan: orang ketujuh dari tujuh orang. Rumahnya adalah tempat perlindungan bagi kaum muslimin, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan orang-orang Quraisy yang masuk Islam berlindung di sana. Rumahnya berada di dekat Shafa. Rumah itu kemudian menjadi milik Al-Mahdi, lalu ia menghibahkannya kepada istrinya Al-Khaizuran ibu Musa Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid. Maka ia membangunnya dan memperbaharuinya, lalu dikenal dengannya, kemudian menjadi milik yang lain. Al-Arqam telah menyaksikan Badar dan setelahnya dari berbagai peperangan. Ia wafat di Madinah pada tahun ini, dan Sa’d bin Abi Waqqash menshalatkannya, ia berwasiat kepadanya, semoga Allah meridhai keduanya, pada usia delapan puluh sekian tahun.

Sahban bin Zufar bin Iyas bin Abdul Syams bin Al-Ahabb Al-Bahili Al-Wa’ili

Yang kefasihannya dijadikan perumpamaan, dikatakan: Lebih fasih dari Sahban Wa’il. Wa’il adalah putra Ma’n bin Malik bin A’shar bin Sa’d bin Qais bin Ailan bin Mudhar bin Nizar. Bahilah adalah istri Malik bin A’shar, anak-anaknya dinisbatkan kepadanya, dan ia adalah Bahilah binti Sha’b bin Sa’d Al-Asyirah.

Ibnu Asakir berkata: Sahban, yang dikenal dengan nama Sahban Wa’il, sampai kepadaku kabar bahwa ia pernah datang sebagai utusan kepada Muawiyah. Ia berbicara, lalu Muawiyah berkata kepadanya, “Apakah engkau orang tua itu?” Ia menjawab, “Ya, demi Allah, dan selain itu.” Ibnu Asakir tidak menambahkan keterangan lebih dari ini.

Ibnu al-Jauzi menisbatkannya dalam kitab al-Muntazham, sebagaimana telah kami sebutkan, kemudian ia berkata: Sahban adalah seorang yang sangat fasih, hingga kefasihannya dijadikan perumpamaan. Suatu hari ia masuk menemui Muawiyah, sementara di sisinya ada para orator dari berbagai kabilah. Ketika mereka melihat Sahban, mereka keluar, karena mereka mengetahui keterbatasan kemampuan mereka dibandingkan dirinya. Maka Sahban berkata:

“Sungguh orang-orang Yaman telah mengetahui bahwa aku,

apabila aku mengucapkan ‘amma ba‘du’, maka akulah juru bicara mereka.”

Muawiyah berkata kepadanya, “Berpidatolah.”

Sahban berkata, “Carikan untukku sebuah tongkat yang dapat meluruskan punggungku yang bengkok.”

Mereka berkata, “Apa gunanya tongkat itu, sementara engkau berada di hadapan Amirul Mukminin?”

Ia menjawab, “Apa fungsi tongkat itu bagi Musa alaihis salam ketika ia berbicara dengan Tuhannya?”

Ia pun mengambil tongkat itu dan berbicara sejak waktu zuhur hingga mendekati waktu asar. Ia tidak berdehem, tidak batuk, tidak berhenti, tidak pula berpindah dari satu makna ke makna lain hingga keluar darinya, padahal masih tersisa sedikit dari pembahasan itu. Muawiyah berkata, “Salat.”

Sahban menjawab, “Salat ada di hadapanmu. Bukankah kita sedang berada dalam pujian dan pengagungan, nasihat dan peringatan, pengajaran dan pengingatan, serta janji dan ancaman?”

Muawiyah berkata, “Engkau adalah orator terbaik bangsa Arab.”

Ia menjawab, “Hanya bangsa Arab?”

Muawiyah berkata, “Bahkan engkau adalah orator terbaik dari kalangan jin dan manusia.”

Ia berkata, “Memang demikian dirimu.”

Sa‘d bin Abi Waqqash

Namanya adalah Malik bin Uhaib bin ‘Abd Manaf bin Zuhrah bin Kilab, Abu Ishaq al-Qurasyi az-Zuhri. Ia termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga, dan termasuk enam orang anggota syura yang Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam wafat dalam keadaan rida kepada mereka. Ia masuk Islam sejak awal.

Disebutkan bahwa ketika ia masuk Islam, usianya tujuh belas tahun. Telah sahih darinya dalam ash-Shahih bahwa ia berkata, “Tidak ada seorang pun yang masuk Islam pada hari aku masuk Islam. Aku tinggal selama tujuh hari dan saat itu aku adalah sepertiga dari Islam.”

Ia adalah orang yang membangun Kufah dan mengusir orang-orang non-Arab darinya. Ia dikenal sebagai orang yang doanya dikabulkan. Ia berhijrah dan menghadiri Perang Badar serta peperangan-peperangan setelahnya. Ia adalah orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Ia seorang penunggang kuda yang pemberani dan termasuk para panglima Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Pada masa Abu Bakar, ia adalah sosok yang diagungkan dan memiliki kedudukan tinggi. Demikian pula pada masa Umar, yang mengangkatnya sebagai gubernur Kufah. Dialah yang menaklukkan Mada’in, dan di bawah kepemimpinannya terjadi Perang Jalula. Ia adalah seorang pemimpin yang ditaati. Umar mencopotnya dari Kufah bukan karena kelemahan atau pengkhianatan, melainkan karena suatu maslahat yang tampak baginya. Umar tetap menyebutkannya sebagai salah satu dari enam anggota syura. Setelah itu, Utsman kembali mengangkatnya sebagai gubernur Kufah, kemudian mencopotnya kembali.

Al-Humaidi meriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyainah, dari ‘Amr bin Dinar, ia berkata: Sa‘d bin Abi Waqqash dan Ibnu Umar hadir di Daumatul Jandal pada hari peristiwa tahkim.

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa putranya, Umar, datang menemuinya ketika ia sedang mengasingkan diri bersama unta-untanya. Umar berkata, “Manusia saling memperebutkan kekuasaan, sementara engkau berada di sini?”

Maka Sa‘d berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang kaya, tersembunyi, dan bertakwa.’”

Ibnu Asakir berkata: Sebagian ulama menyebutkan bahwa keponakannya, Hasyim bin ‘Utbah bin Abi Waqqash, datang kepadanya dan berkata, “Wahai paman, di sini ada seratus ribu pedang yang memandang engkau sebagai orang yang paling berhak atas urusan ini.”

Sa‘d berkata, “Aku hanya menginginkan dari seratus ribu pedang itu satu pedang saja; apabila aku memukulkannya kepada seorang mukmin, ia tidak menimbulkan apa-apa, dan apabila aku memukulkannya kepada seorang kafir, ia memutuskan.”

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu Juraij, Zakariya bin ‘Amr menceritakan kepadaku bahwa Sa‘d bin Abi Waqqash datang menemui Muawiyah dan tinggal bersamanya selama bulan Ramadan. Ia mengqashar salat dan berbuka puasa. Riwayat lain menyebutkan bahwa ia membaiat Muawiyah, dan tidaklah Sa‘d meminta sesuatu darinya kecuali Muawiyah memberikannya.

Abu Ya‘la berkata: Zuhair menceritakan kepada kami, Ismail bin ‘Ulayyah menceritakan kepada kami, dari Ismail bin Abi Khalid, dari Qais bin Abi Hazim, ia berkata: Sa‘d berkata, “Sesungguhnya aku adalah orang pertama yang melepaskan anak panah ke arah kaum musyrik. Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mengumpulkan ayah dan ibu beliau untuk seseorang sebelumku. Aku sungguh telah mendengar beliau bersabda kepadaku: ‘Panahlah, tebusanmu adalah ayah dan ibuku.’”

Imam Ahmad berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Ismail menceritakan kepada kami, dari Qais, aku mendengar Sa‘d bin Malik berkata, “Demi Allah, sungguh aku adalah orang Arab pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Kami dahulu berperang bersama Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, sementara kami tidak memiliki makanan apa pun kecuali daun pohon habalah dan pohon samur ini, sampai-sampai salah seorang dari kami buang hajat seperti kambing, tanpa ada campurannya. Kemudian setelah itu, Bani Asad mencelaku dalam urusan agama. Sungguh aku akan celaka dan sia-sia amalanku bila demikian.”

Riwayat ini juga dibawakan oleh Syu‘bah, Waki‘, dan sejumlah perawi lainnya dari Ismail bin Abi Khalid dengan sanad yang sama.

Ahmad berkata: Ibnu Sa‘id menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Sa‘id al-Anshari, dari Sa‘id bin al-Musayyib, dari Sa‘d, ia berkata, “Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengumpulkan untukku ayah dan ibu beliau pada Perang Uhud.”

Ahmad juga meriwayatkannya dari Ghundar, dari Syu‘bah, dari Yahya bin Sa‘id al-Anshari. Riwayat ini juga diriwayatkan oleh al-Laits dan sejumlah perawi lain dari Yahya bin Sa‘id al-Anshari. Banyak pula yang meriwayatkannya dari Sa‘id bin al-Musayyib, dari Sa‘d. Orang-orang juga meriwayatkannya dari hadis ‘Amir bin Sa‘d, dari ayahnya.

Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau bersabda, “Panahlah, sementara engkau adalah pemuda yang tangguh.”

Sa‘id berkata: Sa‘d adalah seorang pemanah yang sangat baik.

Al-A‘masy meriwayatkan dari Abu Khalid, dari Jabir bin Samurah, ia berkata: Orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah adalah Sa‘d, semoga Allah meridai dirinya.

Imam Ahmad berkata: Waki‘ menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Sa‘d bin Ibrahim, dari Abdullah bin Syaddad, aku mendengar Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menebus seseorang dengan ayah dan ibu beliau kecuali Sa‘d bin Malik. Dan sungguh aku mendengar beliau bersabda kepadanya pada Perang Uhud: ‘Panahlah wahai Sa‘d, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.’”

Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Bukhari dari Abu Nu‘aim, dari Mis‘ar, dari Sa‘d bin Ibrahim. Syu‘bah juga meriwayatkannya dari Sa‘d bin Ibrahim. Demikian pula Sufyan bin ‘Uyainah dan sejumlah perawi lainnya, dari Yahya bin Sa‘id al-Anshari, dari Sa‘id bin al-Musayyib, dari Ali bin Abi Thalib dengan makna yang sama.

Abdurrazzaq berkata: Ma‘mar menceritakan kepada kami, dari Ayyub, bahwa ia mendengar ‘Aisyah binti Sa‘d berkata, “Aku adalah putri dari seorang muhajir yang ditebus oleh Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan ayah dan ibu beliau pada hari Uhud.”

Al-Waqidi berkata: ‘Ubaidah binti Nabil menceritakan kepadaku, dari ‘Aisyah binti Sa‘d, dari ayahnya, ia berkata, “Aku benar-benar melihat diriku memanah pada hari Uhud, lalu seorang lelaki berkulit putih dan berwajah tampan mengembalikan anak panah itu kepadaku, aku tidak mengenalnya. Setelah itu aku menduga bahwa ia adalah malaikat.”

Imam Ahmad berkata: Sulaiman bin Dawud al-Hasyimi menceritakan kepada kami, Ibrahim menceritakan kepada kami, dari Sa‘d, dari ayahnya, dari Sa‘d bin Abi Waqqash, ia berkata, “Aku melihat di sebelah kanan Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan di sebelah kiri beliau pada hari Uhud dua orang yang mengenakan pakaian putih, keduanya bertempur membela beliau dengan pertempuran yang sangat dahsyat. Aku tidak pernah melihat keduanya sebelum itu dan tidak pula sesudahnya.”

Al-Waqidi meriwayatkan: Abu Ishaq bin Abi Abdullah menceritakan kepadaku, dari ‘Abdul Wahid bin Abi ‘Aun, dari Ziyad, mantan budak Sa‘d, dari Sa‘d, ia berkata, “Aku melihat dua orang pada hari Badar bertempur membela Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam; yang satu di sebelah kanan beliau dan yang satu di sebelah kiri beliau. Aku melihat beliau sesekali memandang kepada yang satu dan sesekali kepada yang lain, karena rasa gembira atas kemenangan yang Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi anugerahkan kepadanya.”

Sufyan meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Abu ‘Ubaidah, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata, “Aku, Sa‘d, dan ‘Ammar pada hari Badar bersekutu dalam harta rampasan perang yang kami peroleh. Sa‘d datang membawa dua tawanan, sementara aku dan ‘Ammar tidak membawa apa pun.”

Al-A‘masy meriwayatkan dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata, “Sungguh aku melihat Sa‘d bin Abi Waqqash pada hari Badar bertempur dengan gaya bertempurnya seorang penunggang kuda melawan pejalan kaki.”

Malik meriwayatkan dari Yahya bin Sa‘id, bahwa ia mendengar Abdullah bin ‘Amir bin Rabi‘ah berkata: ‘Aisyah berkata, “Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam terjaga dan gelisah pada suatu malam, lalu beliau bersabda: ‘Seandainya ada seorang lelaki saleh yang menjagaku malam ini.’”

Ia berkata: “Lalu kami mendengar suara senjata. Beliau bersabda: ‘Siapa itu?’ Ia menjawab: ‘Aku Sa‘d bin Abi Waqqash, aku menjagamu wahai Rasulullah.’”

Ia berkata: “Maka Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pun tidur hingga aku mendengar dengkuran beliau.”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari jalur Yahya bin Sa‘id. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mendoakannya, kemudian beliau tidur.

Imam Ahmad berkata: Qutaibah menceritakan kepada kami, Rushdin bin Sa‘d menceritakan kepada kami, dari al-Hajjaj bin Syaddad, dari Abu Shalih al-Ghifari, dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang pertama yang masuk dari pintu ini adalah seorang lelaki dari penghuni surga.”

Maka masuklah Sa‘d bin Abi Waqqash.

Abu Ya‘la berkata: Muhammad bin al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Abdullah bin Qais ar-Raqasyi al-Kharraz al-Bashri menceritakan kepada kami, Ayyub menceritakan kepada kami, dari Nafi‘, dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Kami sedang duduk bersama Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: ‘Akan masuk kepada kalian dari pintu ini seorang lelaki dari penghuni surga.’ Tidaklah seorang pun dari kami kecuali berharap ia termasuk keluarganya. Ternyata yang muncul adalah Sa‘d bin Abi Waqqash.”

Harmalah meriwayatkan dari Ibnu Wahb, ia berkata: Haiwah memberitakan kepadaku, ‘Uqail memberitakan kepadaku, dari Ibnu Syihab, seseorang yang tidak aku ragukan kejujurannya menceritakan kepadaku, dari Anas bin Malik, ia berkata: “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: ‘Sebentar lagi akan muncul kepada kalian seorang lelaki dari penghuni surga.’ Maka muncullah Sa‘d bin Abi Waqqash. Keesokan harinya Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan hal yang sama, lalu muncul kembali Sa‘d bin Abi Waqqash dengan urutan yang sama. Pada hari berikutnya Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan hal yang sama, dan Sa‘d pun kembali muncul seperti sebelumnya.”

Ketika Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berdiri, Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bangkit dan berkata, “Sesungguhnya aku sedang berselisih dengan ayahku, lalu aku bersumpah tidak akan masuk menemuinya selama tiga malam. Jika engkau berkenan menampungku sampai sumpahku gugur, maka aku akan melakukannya.”

Anas berkata: Abdullah bin ‘Amr mengira bahwa ia bermalam bersama Sa‘d. Ketika menjelang fajar, ternyata Sa‘d tidak melakukan ibadah malam apa pun, kecuali jika ia berbalik di atas tempat tidurnya ia berzikir kepada Allah, mengagungkan-Nya, hingga ia bangun untuk salat Subuh. Apabila ia telah menunaikan salat wajib, ia menyempurnakan wudu dengan sebaik-baiknya, lalu menjalani hari dalam keadaan tidak berpuasa.

Abdullah bin ‘Amr berkata: “Aku mengamatinya selama tiga malam beserta siangnya, dan aku tidak melihatnya menambah dari apa yang telah aku lihat itu. Aku juga tidak pernah mendengarnya berkata kecuali kebaikan. Setelah tiga malam berlalu dan aku hampir meremehkan amalnya, aku berkata: ‘Sesungguhnya tidak ada perselisihan antara aku dan ayahku, dan tidak pula ada pemutusan hubungan. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda sebanyak tiga kali dalam tiga majelis: ‘Akan muncul kepada kalian seorang lelaki dari penghuni surga,’ dan engkaulah yang muncul pada ketiga kesempatan itu. Maka aku ingin tinggal bersamamu untuk melihat amalmu agar aku dapat meneladaninya. Namun aku tidak melihat engkau melakukan banyak amal. Lalu apa yang menyebabkan engkau mencapai kedudukan yang disebutkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam?’”

Sa‘d menjawab: “Tidak ada yang lebih dari apa yang engkau lihat.”

Abdullah bin ‘Amr berkata: Ketika aku berpaling hendak pergi, Sa‘d memanggilku dan berkata: “Tidak ada yang lebih dari apa yang engkau lihat, kecuali satu hal: aku tidak menyimpan keburukan dalam hatiku terhadap seorang pun dari kaum muslimin, dan aku tidak berniat jahat kepadanya, serta tidak mengucapkannya.”

Abdullah bin ‘Amr berkata: “Inilah yang mengantarkanmu pada kedudukan itu, dan inilah yang aku tidak mampu melakukannya.”

Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Shalih al-Murri, dari ‘Amr bin Dinar, mantan budak keluarga az-Zubair, dari Salim, dari ayahnya, dengan makna yang sama seperti riwayat Anas bin Malik.

Telah sahih dalam Shahih Muslim melalui jalur Sufyan ats-Tsauri, dari al-Miqdam bin Syuraih, dari ayahnya, dari Sa‘d, terkait firman Allah Ta‘ala:

“Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang berdoa kepada Tuhan mereka pada pagi dan petang hari dengan mengharapkan keridaan-Nya.”

(Surat al-An‘am, ayat 52)

Sa‘d berkata: Ayat ini turun berkenaan dengan enam orang, dan aku termasuk di antara mereka bersama Abdullah bin Mas‘ud.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak engkau ketahui, maka janganlah engkau taati keduanya.”

(Surat al-‘Ankabut, ayat 8)

Hal itu terjadi ketika Sa‘d masuk Islam, lalu ibunya menahan diri dari makan dan minum selama beberapa hari. Maka Sa‘d berkata kepadanya: Demi Allah, seandainya engkau memiliki seratus nyawa lalu keluar satu per satu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena apa pun. Jika engkau mau, silakan makan, dan jika engkau mau, silakan tidak makan. Maka turunlah ayat ini.

Adapun hadis tentang kesaksian sepuluh orang yang dijamin masuk surga, maka hal itu telah sahih dalam riwayat Sa‘id bin Zaid, dan juga datang melalui riwayat Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah dalam kisah Gunung Hira, yang di dalamnya disebutkan Sa‘d bin Abi Waqqash termasuk di antara mereka.

Husyaim dan sejumlah perawi lainnya meriwayatkan dari Mujalid, dari asy-Sya‘bi, dari Jabir, ia berkata: “Kami bersama Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, lalu Sa‘d datang. Maka Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Ini adalah pamanku, maka hendaklah seseorang memperlihatkan kepadaku siapa pamannya.’”

Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.

Ath-Thabrani berkata: al-Husain bin Ishaq at-Tustari menceritakan kepada kami, ‘Abdul Wahhab bin adh-Dhahhak menceritakan kepada kami, Ismail bin ‘Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Shafwan bin ‘Amr, dari Ma‘iz at-Tamimi, dari Jabir, ia berkata: “Kami bersama Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, lalu Sa‘d datang, maka beliau bersabda: ‘Ini adalah pamanku.’”

Telah sahih dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadis Malik dan selainnya, dari az-Zuhri, dari ‘Amir bin Sa‘d, dari ayahnya, bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam datang menjenguk Sa‘d pada tahun Haji Wada‘ ketika ia menderita sakit keras. Sa‘d berkata: “Wahai Rasulullah, aku memiliki harta dan tidak ada yang mewarisiku kecuali seorang anak perempuan. Bolehkah aku menyedekahkan dua pertiga hartaku?”

Beliau menjawab: “Tidak.”

Ia berkata: “Separuhnya?”

Beliau menjawab: “Tidak.”

Ia berkata: “Sepertiganya?”

Beliau bersabda: “Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin hingga meminta-minta kepada manusia. Dan tidaklah engkau menginfakkan suatu nafkah dengan mengharapkan keridaan Allah kecuali engkau diberi pahala karenanya, bahkan hingga suapan yang engkau letakkan ke dalam mulut istrimu.”

Sa‘d berkata: “Wahai Rasulullah, apakah aku akan ditinggalkan setelah sahabat-sahabatku?”

Beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau tidak akan ditinggalkan, lalu engkau melakukan suatu amal dengan mengharapkan keridaan Allah, melainkan engkau akan ditambah dengannya derajat dan kemuliaan. Bisa jadi engkau akan ditinggalkan hingga suatu kaum mengambil manfaat darimu dan kaum yang lain tertimpa mudarat karenamu.”

Kemudian beliau bersabda: “Ya Allah, sempurnakanlah hijrah para sahabatku dan jangan Engkau kembalikan mereka ke belakang. Tetapi yang malang adalah Sa‘d bin Khaulah.”

Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam merasa iba kepadanya karena ia wafat di Makkah.

Ahmad meriwayatkannya dari Yahya bin Sa‘id, dari al-Ja‘d bin Aus, dari ‘Aisyah binti Sa‘d, dari ayahnya, dengan makna yang serupa. Dalam riwayat itu disebutkan: Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dahi Sa‘d, lalu mengusap wajah, dada, dan perutnya, kemudian bersabda: “Ya Allah, sembuhkanlah Sa‘d dan sempurnakanlah hijrahnya.”

Sa‘d berkata: Aku senantiasa merasakan sejuknya tangan beliau di perutku hingga saat ini.

Ibnu Wahb berkata: Musa bin ‘Ali bin Rabah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menjenguk Sa‘d lalu bersabda:

“Ya Allah, hilangkanlah penderitaannya. Wahai Tuhan seluruh manusia, Raja seluruh manusia, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada penyembuh selain Engkau. Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari hasad dan pandangan mata. Ya Allah, sehatkanlah hati dan tubuhnya, hilangkan penyakitnya, dan kabulkanlah doanya.”

Ibnu Wahb berkata: ‘Amr memberitakan kepadaku, dari Bukair bin al-Asyajj, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Amir bin Sa‘d tentang sabda Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam kepada Sa‘d: “Boleh jadi engkau akan tetap hidup, sehingga sebagian orang mengambil manfaat darimu dan sebagian yang lain tertimpa mudarat karenamu.”

Ia menjawab: Sa‘d pernah diangkat sebagai pemimpin di Irak. Ia memerangi sekelompok orang karena kemurtadan mereka sehingga mereka binasa dan tertimpa mudarat. Ia juga meminta sekelompok orang yang sebelumnya meniru gaya sajak Musailamah al-Kadzdzab untuk bertobat, lalu mereka bertobat sehingga mereka mendapatkan manfaat darinya.

Imam Ahmad berkata: Abu al-Mughirah menceritakan kepada kami, Ma‘an bin Rifa‘ah menceritakan kepada kami, ‘Ali bin Yazid menceritakan kepadaku, dari al-Qasim Abu ‘Abdurrahman, dari Abu Umamah, ia berkata: “Kami duduk bersama Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, lalu kami berbincang dan hati kami menjadi lembut. Sa‘d bin Abi Waqqash pun menangis, dan ia menangis dengan sangat, lalu berkata: ‘Seandainya aku mati.’ Maka Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Wahai Sa‘d, apakah di hadapanku engkau mengharapkan kematian?’”*

Beliau mengulanginya tiga kali, kemudian bersabda: “Wahai Sa‘d, jika engkau diciptakan untuk surga, maka panjangnya umurmu atau baiknya amalmu adalah kebaikan bagimu.”

Musa bin ‘Uqbah dan selainnya meriwayatkan, dari Ismail bin Abi Khalid, dari Qais, dari Sa‘d, bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, tepatkanlah lemparannya dan kabulkanlah doanya.”

Riwayat ini juga dibawakan oleh Bayan bin Basyir, dari Qais, dari Abu Bakar ash-Shiddiq, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Sa‘d: ‘Ya Allah, tepatkanlah anak panahnya, kabulkanlah doanya, dan jadikanlah ia dicintai oleh hamba-hamba-Mu.’”

Riwayat ini juga datang dari hadis Abdullah bin ‘Abbas.

Dalam riwayat Muhammad bin ‘Aidz ad-Dimasyqi, dari al-Haitsam bin Hamid, dari Muth‘im bin al-Miqdam dan selainnya, disebutkan bahwa Sa‘d berkata: “Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar Dia mengabulkan doaku.”

Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa seorang hamba sampai makanannya menjadi baik.”

Sa‘d berkata: “Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar makananku menjadi baik.”

Lalu beliau mendoakannya. Mereka berkata: Sejak itu Sa‘d sangat berhati-hati, sampai-sampai bila ia menemukan sebutir bulir gandum di ladangnya, ia akan mengembalikannya ke tempat asal ia mengambilnya.

Ia memang dikenal sebagai orang yang doanya dikabulkan. Hampir tidak pernah ia berdoa dengan suatu doa kecuali doa itu dikabulkan. Di antara peristiwa yang paling terkenal adalah yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim melalui jalur ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari Jabir bin Samurah, bahwa penduduk Kufah mengadukan Sa‘d kepada Umar dalam segala hal, sampai mereka berkata: Ia tidak pandai salat.

Maka Sa‘d berkata: “Sesungguhnya aku melaksanakan salat bersama mereka seperti salat Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam; aku memanjangkan dua rakaat pertama dan meringankan dua rakaat terakhir.”

Umar berkata: “Itulah sangkaanku terhadapmu, wahai Abu Ishaq.”

Umar telah mengutus orang untuk menyelidikinya di berbagai wilayah Kufah. Mereka tidak mendatangi satu masjid pun kecuali penduduknya memuji Sa‘d dengan kebaikan, hingga mereka melewati sebuah masjid milik Bani ‘Abs. Lalu berdirilah seorang lelaki bernama Abu Sa‘dah Usamah bin Qatadah dan berkata: Sa‘d tidak pernah ikut serta dalam pasukan kecil, tidak membagi harta secara merata, dan tidak adil dalam memutuskan perkara.

Ucapan itu sampai kepada Sa‘d, lalu ia berdoa: “Ya Allah, jika hamba-Mu ini berdiri karena riya dan ingin mencari ketenaran, maka panjangkanlah umurnya, langgengkanlah kefakirannya, dan hadapkanlah ia pada berbagai fitnah.”

Jabir bin Samurah berkata: Aku melihatnya setelah itu sebagai seorang tua renta, alisnya jatuh menutupi kedua matanya. Ia berdiri di jalan dan menggoda para gadis. Ketika ditegur, ia berkata: Ini adalah orang tua yang tertimpa fitnah karena doa Sa‘d.

Dalam satu riwayat yang jarang, disebutkan bahwa ia mengalami fitnah pada masa al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid dan terbunuh di dalamnya.

Ath-Thabrani berkata: Yusuf al-Qadhi menceritakan kepada kami, ‘Amr bin Marzuq menceritakan kepada kami, Syu‘bah menceritakan kepada kami, dari Sa‘d bin Ibrahim, dari Sa‘id bin al-Musayyib, ia berkata: Seorang budak perempuan milik Sa‘d yang bernama Zabra’ keluar rumah dengan mengenakan pakaian baru. Angin meniup pakaiannya hingga tersingkap, lalu Umar memukulnya dengan cambuk. Sa‘d datang hendak mencegah Umar, tetapi Umar justru memukul Sa‘d dengan cambuk itu.

Sa‘d pun pergi hendak mendoakan keburukan atas Umar. Namun Umar menyerahkan cambuk kepadanya dan berkata: Lakukan qisas. Maka Sa‘d memaafkan Umar.

Ath-Thabrani juga meriwayatkan bahwa pernah terjadi perselisihan ucapan antara Sa‘d dan Abdullah bin Mas‘ud. Sa‘d hampir saja mendoakan keburukan atasnya, sehingga Abdullah bin Mas‘ud merasa takut dan bergegas melarikan diri.

Sufyan bin ‘Uyainah berkata: Pada hari Perang Qadisiyah, Sa‘d memimpin manusia, sementara ia sedang menderita luka-luka sehingga tidak menghadiri hari pembukaan kemenangan, yakni kemenangan Qadisiyah. Lalu seorang lelaki dari Bujailah bersyair:

Tidakkah engkau melihat bahwa Allah telah menampakkan agama-Nya,

sementara Sa‘d berada di pintu Qadisiyah dalam keadaan terluka.

Banyak perempuan yang telah kehilangan suami,

namun para istri Sa‘d tidak ada satu pun yang menjadi janda.

Maka Sa‘d berdoa: “Ya Allah, cukupkanlah kami dari tangan dan lisannya.”

Lalu datanglah sebuah anak panah yang melayang tanpa diketahui asalnya, mengenai orang itu hingga ia menjadi bisu dan kedua tangannya lumpuh seluruhnya.

Riwayat ini juga disandarkan oleh Ziyad al-Bakka’i dan Saif bin ‘Umar, dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari Qubaishah bin Jabir, dari Abdullah bin Umar, dengan makna yang sama. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Sa‘d kemudian keluar dan memperlihatkan kepada manusia luka-luka bernanah di punggungnya sebagai bentuk permohonan maaf kepada mereka.

Husyaim meriwayatkan dari Abu Balj, dari Mush‘ab bin Sa‘d, bahwa ada seorang laki-laki mencela Ali bin Abi Thalib. Sa‘d melarangnya, tetapi orang itu tidak berhenti. Maka Sa‘d berkata: “Aku akan berdoa keburukan atasmu.” Namun orang itu tetap tidak berhenti. Maka Sa‘d berdoa kepada Allah atasnya. Tidak lama kemudian datang seekor unta liar yang mengamuk lalu menginjak-injaknya hingga binasa.

Diriwayatkan pula dari jalur lain, dari ‘Amir bin Sa‘d, bahwa Sa‘d melihat sekelompok orang mengerumuni seorang laki-laki. Ia menyelipkan kepalanya di antara dua orang, ternyata orang itu mencaci Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah, dan Zubair bin al-‘Awwam. Sa‘d melarangnya, namun ia tidak berhenti. Sa‘d berkata: “Aku akan berdoa keburukan atasmu.” Orang itu menjawab: “Engkau mengancamku seolah-olah engkau seorang nabi!” Maka Sa‘d pun pergi. Ia masuk ke rumah keluarga fulan, berwudhu, lalu salat dua rakaat, kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa orang ini telah mencaci orang-orang yang telah lebih dahulu memperoleh kebaikan dari-Mu, dan bahwa caciannya kepada mereka telah membuat-Mu murka, maka jadikanlah dia hari ini sebagai tanda dan pelajaran.”

Perawi berkata: lalu keluarlah seekor unta betina liar dari rumah keluarga fulan, tidak ada sesuatu pun yang mampu menghalanginya hingga ia menerobos ke tengah-tengah kerumunan manusia. Orang-orang pun menyingkir, lalu unta itu menjepit orang tersebut di antara kedua kakinya dan terus menginjak-injaknya sampai ia mati. Perawi berkata: sungguh aku melihat orang-orang bergegas mengikuti Sa‘d sambil berkata: “Allah telah mengabulkan doamu, wahai Abu Ishaq.”

Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Sa‘id bin al-Musayyib dengan kisah yang semakna.

Abu Bakr bin Abi ad-Dunya berkata: al-Hasan bin Dawud bin Muhammad bin al-Munkadir al-Qurasyi menceritakan kepadaku, dari ‘Abdurrazzaq, dari ayahnya, dari Mina—maula ‘Abdurrahman bin ‘Auf—bahwa ada seorang wanita yang sering mengintip Sa‘d. Ia melarangnya, tetapi wanita itu tidak berhenti. Suatu hari wanita itu mengintipnya ketika ia sedang berwudhu. Maka Sa‘d berkata: “Semoga wajahmu menjadi buruk.” Maka wajah wanita itu pun terbalik ke belakang tengkuknya.

Kathir an-Nawwa’ meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mulayl, ia berkata: Sa‘d masuk menemui Mu‘awiyah. Mu‘awiyah berkata kepadanya: “Mengapa engkau tidak ikut berperang bersama kami?” Sa‘d menjawab: “Aku pernah dilalui angin gelap, lalu aku berkata: ‘Uh, uh.’ Maka aku pun menambatkan kendaraanku sampai keadaan menjadi jelas, lalu aku mengenali jalan dan melanjutkan perjalanan.”

Mu‘awiyah berkata: “Tidak ada dalam Kitab Allah ucapan ‘uh, uh’, tetapi Allah berfirman:”

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin saling berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sampai ia kembali kepada perintah Allah.” (Surat al-Hujurat, ayat 9)

Mu‘awiyah melanjutkan: “Demi Allah, aku tidak bersama golongan yang zalim melawan yang adil, dan tidak pula bersama yang adil melawan yang zalim.”

Sa‘d berkata: “Aku tidak akan memerangi seorang laki-laki yang kepadanya Rasulullah Muhammad bersabda: ‘Engkau bagiku seperti kedudukan Harun terhadap Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku.’”

Mu‘awiyah berkata: “Siapa yang mendengar ini bersamamu?” Sa‘d menjawab: “Fulan, fulan, dan Ummu Salamah.” Mu‘awiyah berkata: “Seandainya aku mendengarnya langsung dari beliau, niscaya aku tidak akan memerangi Ali.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa percakapan ini terjadi di Madinah ketika Mu‘awiyah menunaikan haji. Keduanya lalu mendatangi Ummu Salamah dan bertanya kepadanya, lalu Ummu Salamah menceritakan sebagaimana yang diceritakan Sa‘d. Maka Mu‘awiyah berkata: “Seandainya aku mendengar ini sebelum hari ini, niscaya aku akan menjadi pelayan Ali sampai ia wafat atau aku wafat.” Dalam sanad riwayat ini terdapat kelemahan. Allah Maha Mengetahui.

Diriwayatkan pula dari Sa‘d bahwa ia mendengar seorang laki-laki berbicara buruk tentang Ali bin Abi Thalib dan Khalid bin al-Walid. Maka ia berkata: “Perkara ini tidak sampai merusak agama yang ada di antara kami.”

Muhammad bin Sirin berkata: Sa‘d mendatangi sembilan istri dalam satu malam. Ketika sampai pada yang kesepuluh, ia tertidur, maka wanita itu merasa malu untuk membangunkannya.

Di antara perkataannya yang baik, ia berkata kepada putranya Mush‘ab: “Wahai anakku, jika engkau meminta sesuatu, mintalah dengan sikap qana‘ah. Karena orang yang tidak memiliki qana‘ah, harta tidak akan pernah mencukupinya.”

Hammad bin Salamah meriwayatkan dari Sammak bin Harb, dari Mush‘ab bin Sa‘d, ia berkata: Kepala ayahku berada di pangkuanku ketika ia sedang menghadapi sakaratul maut. Aku pun menangis. Ia berkata: “Apa yang membuatmu menangis, wahai anakku? Demi Allah, Allah tidak akan mengazabku selamanya, dan aku termasuk penghuni surga. Sesungguhnya Allah membalas orang-orang beriman atas kebaikan-kebaikan mereka. Maka beramallah untuk Allah. Adapun orang-orang kafir, diringankan azab mereka karena kebaikan-kebaikan mereka. Jika kebaikan itu telah habis, maka dikatakan: hendaklah setiap orang menuntut balasan amalnya dari pihak yang ia beramal untuknya.”

Az-Zuhri berkata: ketika kematian Sa‘d telah dekat, ia meminta dibuatkan sebuah jubah. Ia berkata: “Kafanilah aku dengannya, karena aku bertemu kaum musyrik dalam keadaan memakainya pada Perang Badar. Aku menyimpannya hanya untuk hari ini.”

Wafatnya Sa‘d terjadi di al-‘Aqiq, di luar Madinah. Ia dibawa ke Madinah di atas pundak-pundak manusia. Marwan menyalatinya, dan para istri Rasulullah Muhammad yang masih hidup turut menunaikan salat jenazahnya. Ia dimakamkan di Baqi‘. Hal itu terjadi pada tahun lima puluh lima Hijriah menurut pendapat yang paling masyhur dan dianut mayoritas ulama. Usianya telah melampaui delapan puluh tahun menurut pendapat yang sahih.

Ali bin al-Madini berkata: ia adalah orang terakhir dari sepuluh sahabat yang dijamin surga yang wafat. Yang lain berkata: ia adalah orang terakhir dari kalangan Muhajirin yang wafat. Semoga Allah meridai dia dan mereka semuanya.

Al-Haitsam bin ‘Adi berkata: tahun wafatnya adalah tahun lima puluh.

Abu Ma‘syar, Abu Nu‘aim, dan Qa‘nab bin al-Muharrir berkata: Sa‘d wafat pada tahun lima puluh delapan.

Qa‘nab berkata: pada tahun itu pula wafat al-Hasan bin Ali, ‘Aisyah, dan Ummu Salamah. Pendapat yang sahih adalah yang pertama, yaitu tahun lima puluh lima.

Mereka berkata: Sa‘d bertubuh pendek, besar badannya, jari-jarinya kasar, hidungnya pesek, tubuhnya berbulu lebat, dan ia biasa menyemir rambut dengan warna hitam. Harta warisannya berjumlah dua ratus lima puluh ribu.

Fudhalah bin ‘Ubaid al-Anshari al-Ausi

Pertempuran pertamanya adalah Perang Uhud. Ia menghadiri Bai‘at Ridwan, masuk ke negeri Syam, dan menjabat sebagai hakim di Damaskus pada masa Mu‘awiyah setelah Abu ad-Darda’.

Abu ‘Ubaid berkata: ia wafat pada tahun lima puluh tiga. Yang lain berkata: tahun enam puluh tujuh.

Ibnu al-Jauzi berkata dalam kitab al-Muntazham: ia wafat pada tahun ini. Allah Maha Mengetahui.

Qutsam bin al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib

Ia adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah Muhammad. Ia pernah menjabat sebagai wakil penguasa Madinah pada masa Ali bin Abi Thalib. Ia turut serta dalam penaklukan Samarkand di wilayah seberang Sungai Oxus, dan ia gugur syahid di sana. Semoga Allah merahmatinya.

Ka‘b bin ‘Amr Abu al-Yusr al-Anshari as-Sulami

Ia menyaksikan Bai‘at ‘Aqabah dan Perang Badar. Pada hari itu ia menawan al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Ia juga menghadiri seluruh peperangan setelah itu bersama Rasulullah Muhammad.

Abu Hatim dan selainnya berkata: ia wafat pada tahun lima puluh lima. Yang lain menambahkan: ia adalah orang terakhir dari kalangan peserta Badar yang wafat.

Kemudian masuklah tahun lima puluh enam Hijriah

Hal itu terjadi pada masa pemerintahan Mu‘awiyah. Pada tahun ini, Junadah bin Abi Umayyah wafat di wilayah Romawi, dan ada yang mengatakan: ‘Abdurrahman bin Mas‘ud. Ada pula yang mengatakan bahwa pada tahun ini Yazid bin Syajarah melakukan ekspedisi melalui laut, dan di darat dilakukan oleh ‘Iyadh bin al-Harits. Pada tahun ini Mu‘awiyah melaksanakan umrah pada bulan Rajab, dan yang memimpin haji manusia pada tahun itu adalah al-Walid bin ‘Utbah bin Abi Sufyan.

Pada tahun ini Mu‘awiyah mengangkat Sa‘id bin ‘Utsman sebagai gubernur Khurasan dan mencopot ‘Ubaidullah bin Ziyad dari jabatan tersebut. Maka Sa‘id berangkat menuju Khurasan dan bertemu dengan bangsa Turki di wilayah Sughd dekat Samarkand. Ia membunuh banyak dari mereka, dan gugur bersamanya sejumlah orang sebagai syahid, di antaranya—menurut sebagian riwayat—Qutsam bin al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib.

Ibnu Jarir berkata: Sa‘id bin ‘Utsman bin ‘Affan meminta kepada Mu‘awiyah agar diangkat menjadi penguasa Khurasan. Mu‘awiyah berkata: “Di sana sudah ada ‘Ubaidullah bin Ziyad.” Sa‘id berkata kepada Mu‘awiyah: “Demi Allah, sungguh ayahku telah berbuat baik kepadamu, mengangkat derajatmu, hingga dengan jasanya engkau mencapai kedudukan yang tidak tertandingi dan tidak terbandingi. Namun engkau tidak mensyukuri jasanya dan tidak membalas kebaikannya. Engkau justru mendahulukan orang ini—maksudnya Yazid bin Mu‘awiyah—dan membaiatnya. Demi Allah, aku lebih baik darinya dari sisi ayah, ibu, dan diriku sendiri.”

Mu‘awiyah berkata: “Adapun jasa ayahmu kepadaku, sungguh wajib bagiku untuk membalasnya. Dan termasuk bentuk balas jasaku adalah aku menuntut darahnya hingga perkara menjadi jelas. Aku tidak mencela diriku atas kesungguhanku dalam hal itu. Adapun keutamaan ayahmu atas ayahnya, maka ayahmu—demi Allah—lebih baik dariku dan lebih dekat hubungannya dengan Rasulullah Muhammad, shalawat dan salam Allah semoga tercurah kepada beliau. Adapun keutamaan ibumu atas ibunya, itu tidak dapat disangkal, karena seorang wanita dari Quraisy lebih baik daripada seorang wanita dari Kalb. Adapun keutamaanmu atas dirinya, demi Allah aku tidak menyukai jika lembah al-Ghuthah dipenuhi oleh orang-orang sepertimu, karena sungguh Yazid lebih baik dan lebih aku cintai daripada mereka.” Maksudnya, seandainya al-Ghuthah dipenuhi orang-orang seperti Sa‘id bin ‘Utsman, maka Yazid tetap lebih baik dan lebih dicintainya daripada mereka.

Maka Yazid berkata: “Wahai Amirul Mukminin, ia adalah sepupumu, dan engkau lebih berhak memperhatikan urusannya. Ia telah menegurmu, maka penuhilah tegurannya.” Perawi berkata: maka Mu‘awiyah mengangkatnya sebagai panglima perang Khurasan. Sa‘id pun berangkat ke Samarkand. Penduduk Sughd dari kalangan Turki keluar menemuinya. Ia memerangi mereka, mengalahkan mereka, dan mengepung mereka di kota mereka. Mereka pun berdamai dengannya dan menyerahkan jaminan lima puluh anak laki-laki dari kalangan putra pembesar mereka untuk berada di tangannya. Sa‘id menetap di Tirmidz, tetapi mereka tidak menepati perjanjian itu. Maka Sa‘id membawa anak-anak jaminan tersebut ke Madinah.

Pada tahun ini Mu‘awiyah menyeru manusia untuk membaiat putranya Yazid sebagai putra mahkota setelahnya. Ia sebenarnya telah bertekad melakukan hal itu sebelumnya, pada masa hidup al-Mughirah bin Syu‘bah. Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur asy-Sya‘bi bahwa al-Mughirah pernah datang kepada Mu‘awiyah dan meminta dibebaskan dari jabatan gubernur Kufah karena usia tua dan kelemahannya. Mu‘awiyah mengabulkannya dan berniat menyerahkan jabatan itu kepada Sa‘id bin al-‘Ash. Ketika kabar ini sampai kepada al-Mughirah, seolah-olah ia menyesal. Ia pun mendatangi Yazid bin Mu‘awiyah dan menyarankan agar ia meminta kepada ayahnya supaya ditunjuk sebagai putra mahkota setelahnya. Yazid pun meminta hal itu kepada ayahnya. Mu‘awiyah berkata: “Siapa yang memerintahkanmu melakukan ini?” Ia menjawab: “Al-Mughirah.” Mu‘awiyah merasa kagum kepada al-Mughirah, lalu mengembalikannya sebagai gubernur Kufah dan memerintahkannya untuk mengusahakan hal tersebut.

Ketika itu al-Mughirah berusaha meneguhkan urusan ini. Mu‘awiyah pun menulis surat kepada Ziyad untuk meminta pendapatnya. Ziyad tidak menyukai hal itu karena mengetahui kebiasaan Yazid yang gemar bermain, berburu, dan bersenang-senang. Maka Ziyad mengutus seseorang untuk memalingkan Mu‘awiyah dari rencana itu, yaitu ‘Ubaid bin Ka‘b an-Numairi—seorang kepercayaan Ziyad. Ia berangkat ke Damaskus dan pertama kali bertemu dengan Yazid. Ia menyampaikan pesan Ziyad kepadanya dan menyarankan agar ia tidak menuntut hal tersebut, karena meninggalkannya lebih baik baginya daripada berusaha meraihnya. Yazid pun mengurungkan niatnya. Ia bertemu dengan ayahnya dan keduanya sepakat untuk menunda urusan ini pada waktu itu.

Ketika Ziyad wafat—dan itu terjadi pada tahun ini—Mu‘awiyah mulai menata baiat untuk Yazid dan menyeru manusia kepadanya. Ia menetapkan baiat bagi putranya Yazid dan menulis surat ke berbagai wilayah. Manusia pun membaiat Yazid di seluruh daerah, kecuali ‘Abdurrahman bin Abi Bakr, ‘Abdullah bin ‘Umar, al-Husain bin ‘Ali, ‘Abdullah bin az-Zubair, dan Ibnu ‘Abbas.

Mu‘awiyah kemudian berangkat ke Makkah untuk umrah. Ketika kembali dari Makkah dan melewati Madinah, ia memanggil masing-masing dari lima orang tersebut secara terpisah dan mengancam serta menekan mereka. Yang paling keras penolakannya dan paling tegar dalam berbicara adalah ‘Abdurrahman bin Abi Bakr ash-Shiddiq, dan yang paling lembut ucapannya adalah ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khaththab.

Kemudian Mu‘awiyah berkhutbah sementara mereka hadir di bawah mimbarnya. Manusia pun membaiat Yazid sementara mereka duduk. Mereka tidak menyetujuinya dan tidak pula menampakkan penentangan karena ancaman yang mereka terima. Maka baiat untuk Yazid pun berjalan lancar di seluruh negeri. Delegasi-delegasi dari berbagai wilayah datang kepada Yazid.

Di antara yang datang adalah al-Ahnaf bin Qais. Mu‘awiyah memerintahkannya agar berbincang dengan Yazid. Keduanya duduk bersama, lalu al-Ahnaf keluar. Mu‘awiyah berkata: “Apa pendapatmu tentang keponakanmu?” Al-Ahnaf menjawab: “Kami takut kepada Allah jika berdusta, dan kami takut kepada kalian jika berkata jujur. Engkau lebih mengetahui keadaannya di malam dan siangnya, secara sembunyi dan terang-terangan, keluar dan masuknya. Engkau lebih mengetahui apa yang engkau kehendaki darinya. Kewajiban kami hanyalah mendengar dan taat, dan kewajibanmu adalah menasihati umat.”

Mu‘awiyah sebelumnya, ketika berdamai dengan al-Hasan bin ‘Ali, telah berjanji bahwa kekuasaan akan kembali kepada al-Hasan setelahnya. Namun ketika al-Hasan wafat, kedudukan Yazid semakin kuat di sisi Mu‘awiyah. Ia memandang Yazid layak untuk itu, karena besarnya kasih seorang ayah kepada anaknya, dan karena ia melihat pada diri Yazid kecerdikan duniawi, ciri-ciri anak raja, pemahaman tentang peperangan, pengaturan kerajaan, dan wibawa kekuasaan. Ia menyangka tidak ada seorang pun dari anak-anak sahabat yang mampu menandingi Yazid dalam urusan pemerintahan.

Karena itu Mu‘awiyah berkata kepada ‘Abdullah bin ‘Umar: “Aku khawatir jika aku meninggalkan rakyat setelahku seperti kambing yang kehujanan, tidak memiliki penggembala.” Ibnu ‘Umar berkata: “Jika seluruh manusia membaiatnya, aku pun akan membaiatnya, meskipun ia seorang budak Habasyi yang terpotong anggota tubuhnya.”

Sa‘id bin ‘Utsman bin ‘Affan pernah menegur Mu‘awiyah karena pengangkatan Yazid dan meminta agar dirinya yang diangkat sebagai gantinya. Maka Mu‘awiyah berkata kepadanya: “Demi Allah, seandainya lembah al-Ghuthah dipenuhi orang-orang sepertimu, sungguh Yazid lebih aku cintai daripada kalian semua.”

Diriwayatkan dari Mu‘awiyah bahwa ia berkata dalam salah satu khutbahnya: “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku mengangkatnya karena menurut pandanganku ia memang layak, maka sempurnakanlah apa yang telah aku tetapkan baginya. Namun jika Engkau mengetahui bahwa aku mengangkatnya hanya karena aku mencintainya, maka janganlah Engkau sempurnakan apa yang telah aku tetapkan baginya.”

Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir menyebutkan bahwa suatu malam Mu‘awiyah berbincang dengan para sahabat duduknya tentang wanita yang akan melahirkan anak yang cerdas. Mereka menyebutkan sifat-sifat wanita semacam itu. Mu‘awiyah berkata: “Seandainya aku mengetahui seorang wanita dengan sifat-sifat tersebut.” Salah seorang yang hadir berkata: “Aku telah menemukannya, wahai Amirul Mukminin.” Mu‘awiyah berkata: “Siapa dia?” Ia menjawab: “Putriku, wahai Amirul Mukminin.” Maka Mu‘awiyah menikahinya, dan wanita itu melahirkan Yazid bin Mu‘awiyah, yang tumbuh menjadi anak yang cerdas, cerdik, dan pandai.

Kemudian Mu‘awiyah menikahi wanita lain yang sangat ia cintai, dan wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki yang lain. Mu‘awiyah pun menjauh dari ibu Yazid, yang tinggal di samping rumahnya. Pada suatu hari, Mu‘awiyah berada di tempat pandangan bersama istri barunya, lalu ia melihat ibu Yazid sedang menyisir rambut anaknya. Istri itu berkata: “Semoga Allah memburukkannya dan memburukkan apa yang ia sisir.” Mu‘awiyah berkata: “Mengapa? Demi Allah, sungguh anaknya lebih cerdas daripada anakmu. Jika engkau mau, akan aku jelaskan kepadamu.”

Mu‘awiyah kemudian memanggil anak wanita itu dan berkata: “Amirul Mukminin ingin mengabulkan apa pun yang engkau inginkan darinya. Mintalah apa saja.” Anak itu berkata: “Aku meminta kepada Amirul Mukminin anjing-anjing pemburu, kuda-kuda, dan orang-orang yang menemaniku berburu.” Mu‘awiyah berkata: “Kami telah memerintahkan untukmu hal itu.”

Kemudian Mu‘awiyah memanggil Yazid dan berkata kepadanya seperti yang ia katakan kepada saudaranya. Yazid berkata: “Apakah Amirul Mukminin membebaskanku pada saat ini dari permintaan?” Mu‘awiyah berkata: “Tidak, engkau harus meminta kebutuhanmu.” Yazid berkata: “Aku meminta—semoga Allah memanjangkan umur Amirul Mukminin—agar aku menjadi putra mahkota setelahnya. Karena aku mendengar bahwa keadilan satu hari terhadap rakyat setara dengan ibadah lima ratus tahun.” Mu‘awiyah berkata: “Aku mengabulkan permintaanmu.”

Kemudian Mu‘awiyah berkata kepada istrinya: “Bagaimana pendapatmu sekarang?” Maka wanita itu pun mengetahui dan yakin akan keutamaan Yazid dibandingkan anaknya sendiri.

Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa pada tahun ini wafat Ummu Haram binti Milhan al-Anshariyyah, istri ‘Ubadah bin ash-Shamit. Namun pendapat yang benar—yang tidak disebutkan selain itu oleh para ulama—adalah bahwa ia wafat pada tahun dua puluh tujuh Hijriah, pada masa kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan. Ummu Haram bersama suaminya pernah ikut bersama Mu‘awiyah ketika memasuki wilayah Siprus. Dalam perjalanan itu, keledainya terjatuh sehingga ia meninggal di sana, dan kuburnya berada di Siprus.

Hal yang mengherankan adalah bahwa Ibnu al-Jauzi mencantumkan dalam biografinya hadis Ummu Haram yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, tentang Nabi Muhammad—shalawat dan salam Allah semoga tercurah kepada beliau—yang tidur siang di rumahnya. Dalam mimpinya, beliau melihat sekelompok umatnya mengarungi lautan, seperti raja-raja yang duduk di atas singgasana, berperang di jalan Allah. Ummu Haram meminta kepada beliau agar didoakan termasuk golongan itu, lalu beliau mendoakannya. Kemudian beliau tidur lagi dan melihat hal yang sama. Ummu Haram kembali berkata: “Doakan kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk mereka.” Maka beliau bersabda: “Engkau termasuk golongan yang pertama.” Mereka itulah pasukan yang menaklukkan Siprus. Ummu Haram termasuk bersama mereka, dan hal itu terjadi pada tahun dua puluh tujuh Hijriah.

Ia bukan termasuk golongan kedua yang menyerang wilayah Romawi pada tahun lima puluh satu Hijriah bersama Yazid bin Mu‘awiyah, yang juga diikuti oleh Abu Ayyub al-Anshari. Abu Ayyub wafat di sana dan kuburnya berada di dekat tembok Konstantinopel. Perkara ini telah kami jelaskan secara tegas dalam kitab Dala’il an-Nubuwwah.

Tahun lima puluh tujuh Hijriah

Pada tahun ini, Abdullah bin Qais menjalani musim dingin militernya di wilayah Romawi. Al-Waqidi berkata: pada bulan Syawal tahun ini, Mu‘awiyah mencopot Marwan bin al-Hakam dari jabatan gubernur Madinah dan mengangkat al-Walid bin ‘Utbah bin Abi Sufyan sebagai gantinya. Dialah yang memimpin haji pada tahun ini, karena kekuasaan Madinah berada di tangannya. Adapun Kufah dipimpin oleh adh-Dhahhak bin Qais, Bashrah oleh ‘Ubaidullah bin Ziyad, dan Khurasan oleh Sa‘id bin ‘Utsman.

Ibnu al-Jauzi berkata: pada tahun ini wafat ‘Utsman bin Hunaif al-Anshari al-Ausi. Ia adalah saudara ‘Ubadah dan Sahl, putra-putra Hunaif. ‘Umar bin al-Khaththab pernah mengutusnya untuk mengukur tanah kharaj di wilayah Sawad, Irak, dan menjadikannya wakilnya di Kufah. Ketika Thalhah dan az-Zubair datang bersama ‘Aisyah, dan ia menolak menyerahkan gedung pemerintahan, janggut, alis, dan bulu matanya dicabut, dan ia diperlakukan dengan kejam.

Ketika ‘Ali bin Abi Thalib datang dan menyerahkan kepadanya kekuasaan kota, ia berkata: “Wahai Amirul Mukminin, aku berpisah darimu dalam keadaan berjanggut, dan kini aku bertemu kembali denganmu dalam keadaan tanpa janggut.” Maka ‘Ali bin Abi Thalib tersenyum dan berkata: “Engkau mendapatkan pahala atas hal itu di sisi Allah.”

Ia memiliki hadis dalam Musnad dan Sunan tentang seorang laki-laki buta yang meminta kepada Nabi Muhammad—shalawat dan salam Allah semoga tercurah kepada beliau—agar mendoakan supaya Allah mengembalikan penglihatannya. Maka Allah mengembalikan penglihatannya. Ia juga memiliki hadis lain yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i. Aku tidak melihat seorang pun yang menuliskan wafatnya pada tahun ini selain Ibnu al-Jauzi. Allah Maha Mengetahui.

Tahun lima puluh delapan Hijriah

Pada tahun ini, Malik bin ‘Abdullah al-Khats‘ami memimpin peperangan ke wilayah Romawi.

Al-Waqidi berkata: pada tahun ini Yazid bin Syajarah terbunuh di laut. Ada pula yang mengatakan bahwa yang berperang di laut dan wilayah Romawi adalah Junadah bin Abi Umayyah. Dan ada yang mengatakan bahwa yang menjalani musim dingin di wilayah Romawi adalah ‘Amr bin Yazid al-Juhani.

Abu Ma‘syar dan al-Waqidi berkata: pada tahun ini, yang memimpin haji manusia adalah al-Walid bin ‘Utbah bin Abi Sufyan. Pada tahun ini Mu‘awiyah mengangkat ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin ‘Utsman bin Rabi‘ah ats-Tsaqafi sebagai gubernur Kufah. Ia dikenal sebagai putra Ummu al-Hakam. Ummu al-Hakam adalah saudari Mu‘awiyah. Mu‘awiyah mencopot adh-Dhahhak bin Qais dari Kufah. Putra Ummu al-Hakam lalu mengangkat Za’idah bin Qudamah sebagai kepala kepolisian.

Pada masa pemerintahan putra Ummu al-Hakam, kelompok Khawarij keluar memberontak. Pemimpin mereka dalam peristiwa ini adalah Hayyan bin Dhabyan as-Sulami. Ia mengirim pasukan kepada mereka, dan seluruh Khawarij terbunuh. Setelah itu, putra Ummu al-Hakam berperilaku buruk terhadap penduduk Kufah. Maka mereka mengusirnya dari tengah-tengah mereka dalam keadaan terhina. Ia pun kembali kepada pamannya, Mu‘awiyah, dan menceritakan kejadian itu.

Mu‘awiyah berkata: “Aku akan memberimu suatu wilayah yang lebih baik bagimu.” Maka ia mengangkatnya sebagai gubernur Mesir. Namun ketika ia berangkat menuju Mesir, Mu‘awiyah bin Hudaij menemuinya dua hari perjalanan sebelum Mesir dan berkata: “Kembalilah kepada pamanmu Mu‘awiyah. Demi Allah, engkau tidak akan memerintah kami dengan cara yang sama seperti engkau memerintah saudara-saudara kami di Kufah.” Maka putra Ummu al-Hakam kembali kepada Mu‘awiyah.

Mu‘awiyah bin Hudaij kemudian menyusulnya sebagai utusan kepada Mu‘awiyah. Ketika ia masuk menemui Mu‘awiyah, ia mendapati Ummu al-Hakam—saudari Mu‘awiyah—berada di sisinya. Ummu al-Hakam adalah ibu ‘Abdurrahman yang telah diusir oleh penduduk Kufah dan Mesir. Ketika Mu‘awiyah melihat Mu‘awiyah bin Hudaij, ia berkata: “Bagus, bagus! Ini Mu‘awiyah bin Hudaij.” Ummu al-Hakam berkata: “Tidak ada selamat datang baginya. Mendengar tentang al-Mu‘aydi lebih baik daripada melihatnya.”

Mu‘awiyah bin Hudaij berkata: “Tenanglah, wahai Ummu al-Hakam. Demi Allah, engkau menikah tetapi tidak dimuliakan, dan melahirkan tetapi tidak menghasilkan anak yang baik. Engkau ingin agar anakmu yang fasik memerintah kami dan memperlakukan kami sebagaimana ia memperlakukan saudara-saudara kami di Kufah. Allah tidak akan memperlihatkan hal itu kepadanya. Seandainya ia melakukannya, niscaya kami akan memukulnya dengan pukulan yang merendahkannya, meskipun orang yang duduk ini tidak menyukainya.” Maka Mu‘awiyah menoleh kepadanya dan berkata: “Cukup.”

Kisah yang aneh

Ibnu al-Jauzi menyebutkannya dalam kitab al-Muntazham dengan sanadnya. Ringkasannya adalah bahwa pada suatu hari, ketika Mu‘awiyah sedang duduk di meja makan, seorang pemuda dari Bani ‘Udzrah dihadapkan kepadanya. Pemuda itu melantunkan syair yang isinya kerinduan mendalam kepada istrinya yang bernama Su‘ad. Mu‘awiyah mendekatkannya dan meminta ia menceritakan perkaranya.

Pemuda itu berkata: “Wahai Amirul Mukminin, aku dahulu menikah dengan putri pamanku. Aku memiliki unta dan kambing, lalu aku menghabiskan harta itu untuknya. Ketika hartaku menipis, ayahnya berpaling dariku dan mengadukanku kepada gubernur Kufah, yaitu putra Ummu al-Hakam. Ketika ia mendengar kecantikannya, ia memenjarakanku dengan besi dan memaksaku menceraikannya. Setelah masa iddahnya selesai, ia memberinya sepuluh ribu dirham lalu menikahinya. Aku datang kepadamu, wahai Amirul Mukminin. Engkau adalah penolong orang yang terzalimi dan sandaran orang yang dirampas haknya. Apakah ada jalan keluar bagiku?”

Lalu ia menangis dan melantunkan syair:

Di dalam hatiku ada api, dan di dalam api itu percikan

Tubuhku kurus merana, dan warnaku menguning

Mataku menangis pilu, air matanya mengalir deras

Cinta adalah penyakit berat, yang membuat tabib kebingungan

Aku memikul beban yang sangat besar, tak mampu kutahan

Malamku bukanlah malam, dan siangku bukanlah siang

Mu‘awiyah pun merasa iba. Ia menulis surat kepada putra Ummu al-Hakam, mencelanya atas perbuatannya, dan memerintahkannya untuk menceraikan wanita itu dengan satu talak. Ketika surat Mu‘awiyah sampai kepadanya, ia menarik napas panjang dan berkata: “Aku berharap Amirul Mukminin membiarkanku bersamanya selama satu tahun, kemudian menyerahkanku kepada pedang.”

Ia pun bergulat dengan dirinya sendiri untuk menceraikannya, tetapi tidak sanggup dan jiwanya menolak. Sementara itu, utusan pos terus mendesaknya. Akhirnya ia menceraikannya, melepaskannya darinya, dan mengirimnya bersama rombongan ke Mu‘awiyah. Ketika wanita itu berdiri di hadapan Mu‘awiyah, ia melihat pemandangan yang sangat indah. Ketika diajak berbicara, ternyata ia adalah wanita yang paling fasih, paling manis ucapannya, paling sempurna kecantikannya dan pesonanya.

Mu‘awiyah berkata kepada sepupunya: “Wahai orang Badui, apakah ada penghibur atas kehilangannya yang lebih baik daripada harapan besar?” Ia menjawab: “Ya, jika kepalaku dipisahkan dari tubuhku.” Lalu ia melantunkan syair:

Jangan jadikan aku bahan perumpamaan manusia

Seperti orang yang lari dari panas lalu jatuh ke api

Kembalikan Su‘ad kepada hati yang bingung dan gundah

Yang pagi dan petangnya diliputi duka dan kenangan

Kegelisahan telah menggerogotinya, tak ada yang sebanding

Dan menyalakan api di hati yang paling membara

Demi Allah, demi Allah, aku takkan melupakan cintanya

Hingga aku terkubur dalam liang dan batu

Bagaimana bisa melupakan, sementara hati telah tergila-gila

Dan hatiku tak lagi mampu bersabar tanpanya

Mu‘awiyah berkata: “Kami akan memberi pilihan kepadanya, antara aku, engkau, atau putra Ummu al-Hakam.” Wanita itu berkata:

Dia ini, meskipun berpakaian compang-camping

Dan meskipun dalam kekurangan harta

Lebih aku cintai daripada ayahku dan tetanggaku

Dan daripada pemilik dirham dan dinar

Aku takut jika berkhianat, akan panasnya api neraka

Mu‘awiyah pun tertawa. Ia memerintahkan agar diberikan kepada pemuda itu sepuluh ribu dirham, seekor kendaraan, dan perlengkapan hidup. Setelah masa iddahnya selesai, Mu‘awiyah menikahkan wanita itu kembali dengannya dan menyerahkannya kepadanya. Kami telah menghilangkan banyak syair panjang dari kisah ini.

Pada tahun ini pula terjadi berbagai peristiwa panjang antara ‘Ubaidullah bin Ziyad dan kaum Khawarij. Ia membunuh banyak dari mereka, menawan sebagian yang lain, dan bersikap tegas terhadap mereka, sebagaimana ayahnya. Ia berani dan keras dalam menghadapi urusan mereka.

Disebutkan orang-orang terpandang yang wafat pada tahun ini

Pada tahun ini wafat Sa‘id bin al-‘Ash bin Sa‘id bin al-‘Ash bin Umayyah bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf al-Qurasyi al-Umawi. Ayahnya terbunuh pada Perang Badar dalam keadaan kafir, dibunuh oleh ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Sa‘id tumbuh besar dalam asuhan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu. Usia Sa‘id ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam wafat adalah sembilan tahun. Ia termasuk tokoh kaum muslimin dan dikenal sebagai orang yang sangat dermawan.

Kakeknya, Sa‘id bin al-‘Ash—yang berjuluk Abu Uhailhah—adalah pemimpin Quraisy dan dijuluki “Dzu at-Taj” (pemilik mahkota), karena apabila ia mengenakan sorban, tidak ada seorang pun yang mengenakan sorban pada hari itu sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Sa‘id ini pernah menjadi pejabat ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu di wilayah Sawad. ‘Utsman radhiyallahu anhu memasukkannya ke dalam tim penulis mushaf Al-Qur’an karena kefasihannya. Mereka mengatakan bahwa dialah orang yang paling mirip dialek bicaranya dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Ia termasuk dalam dua belas orang yang mengumpulkan, mengajarkan, dan menuliskan Al-Qur’an, di antaranya Ubay bin Ka‘ab dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhuma. ‘Utsman radhiyallahu anhu mengangkatnya sebagai gubernur Kufah setelah memberhentikan al-Walid bin ‘Uqbah. Ia menaklukkan Thabaristan dan Jurjan. Penduduk Azerbaijan melanggar perjanjian, maka ia memerangi mereka dan menaklukkannya. Ketika ‘Utsman wafat, Sa‘id menjauh dari fitnah; ia tidak ikut dalam Perang Jamal dan Shiffin. Setelah urusan kekuasaan stabil di tangan Mu‘awiyah, ia mendatanginya. Mu‘awiyah menegurnya, Sa‘id menyampaikan alasan, lalu Mu‘awiyah memaafkannya dalam pembicaraan yang sangat panjang.

Mu‘awiyah mengangkatnya sebagai gubernur Madinah sebanyak dua kali dan memberhentikannya dua kali pula dengan menunjuk Marwan bin al-Hakam sebagai penggantinya. Sa‘id tidak mencela ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, sementara Marwan mencelanya. Sa‘id meriwayatkan hadis dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, dari ‘Umar bin al-Khaththab, ‘Utsman, dan ‘Aisyah radhiyallahu anhuma. Yang meriwayatkan darinya antara lain kedua putranya, ‘Amr bin Sa‘id al-Asydaq dan Yahya bin Sa‘id, juga Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar dan ‘Urwah bin az-Zubair serta selain mereka. Tidak ada satu pun hadisnya yang terdapat dalam Musnad maupun dalam enam kitab hadis utama.

Ia dikenal memiliki perjalanan hidup yang baik dan batin yang lurus. Setiap hari Jumat ia sering mengumpulkan para sahabatnya, memberi mereka makan dan pakaian mewah, mengirimkan ke rumah-rumah mereka hadiah dan pemberian yang banyak. Ia juga sering mengikat kantong-kantong uang lalu meletakkannya di hadapan orang-orang yang membutuhkan di masjid.

Ibnu ‘Asakir berkata: Sa‘id pernah memiliki rumah di Damaskus yang setelah wafatnya dikenal dengan nama Dar Nu‘aim, dan Hammam Nu‘aim, di kawasan ad-Dimas. Kemudian ia kembali ke Madinah dan menetap di sana hingga wafat. Ia dikenal sebagai orang yang mulia, dermawan, dan terpuji.

Kemudian disebutkan sebagian hadisnya melalui jalur Ya‘qub bin Sufyan: dari Abu Sa‘id al-Ju‘fi, dari ‘Abdullah bin al-Ajlah, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, bahwa Sa‘id bin al-‘Ash berkata bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sebaik-baik kalian dalam Islam adalah mereka yang terbaik pada masa jahiliah.”

Melalui jalur az-Zubair bin Bakkar, diriwayatkan bahwa seorang laki-laki meriwayatkan dari ‘Abdul ‘Aziz bin Aban, dari Khalid bin Sa‘id, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata: Seorang perempuan datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam membawa sehelai mantel seraya berkata, “Aku bernazar memberikan pakaian ini kepada orang Arab yang paling mulia.” Maka beliau bersabda:

“Berikanlah kepada anak muda ini,”

yakni Sa‘id bin al-‘Ash yang sedang berdiri. Karena itu, pakaian-pakaian tersebut dikenal dengan sebutan as-sa‘idiyyah.

Al-Farazdaq melantunkan syair tentangnya:

Engkau melihat para pemuka terhormat Quraisy,

ketika perkara besar menimpa zaman,

mereka berdiri memandang kepada Sa‘id,

seakan-akan mereka melihat bulan sabit padanya.

Disebutkan pula bahwa ‘Utsman radhiyallahu anhu pernah memberhentikan al-Mughirah dari Kufah dan mengangkat Sa‘id bin Abi Waqqash, kemudian memberhentikannya dan mengangkat al-Walid bin ‘Uqbah, lalu memberhentikannya dan mengangkat Sa‘id bin al-‘Ash. Ia menetap di Kufah beberapa waktu, namun kebijakannya tidak dipuji dan penduduk tidak menyukainya. Malik bin al-Harits—yaitu al-Asytar an-Nakha‘i—bersama sekelompok orang mendatangi ‘Utsman dan meminta agar Sa‘id diberhentikan, tetapi ‘Utsman tidak memberhentikannya. Saat itu Sa‘id berada di Madinah, lalu ‘Utsman mengutusnya kembali ke Kufah.

Al-Asytar lebih dulu sampai ke Kufah, berkhutbah di hadapan manusia, dan mendorong mereka agar menghalangi Sa‘id masuk. Ia memimpin pasukan untuk mencegahnya. Dikatakan mereka menemui Sa‘id di al-‘Udzayb—tempat Sa‘id singgah—lalu menghalanginya masuk ke Kufah. Mereka terus menekannya hingga mengembalikannya kepada ‘Utsman. Al-Asytar kemudian mengangkat Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu anhu sebagai pemimpin salat dan urusan perbatasan, serta Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu anhu atas urusan baitul mal. Penduduk Kufah menyetujui hal itu dan mengirim kabar kepada ‘Utsman, lalu ‘Utsman mengesahkannya. Ia menampakkan kerelaannya, namun peristiwa ini merupakan awal kelemahan yang menimpa ‘Utsman.

Sa‘id bin al-‘Ash menetap di Madinah hingga masa pengepungan terhadap ‘Utsman, dan ia berada di rumah ‘Utsman. Ketika Thalhah dan az-Zubair radhiyallahu anhuma bersama ‘Aisyah radhiyallahu anha berangkat dari Makkah untuk menuntut para pembunuh ‘Utsman, Sa‘id ikut bersama mereka. Kemudian ia berpisah dari rombongan itu bersama al-Mughirah bin Syu‘bah dan yang lainnya, lalu menetap di Thaif hingga seluruh peperangan itu berakhir. Setelah itu Mu‘awiyah mengangkatnya sebagai gubernur Madinah pada tahun empat puluh sembilan hijriah dan memberhentikan Marwan. Sa‘id menjabat selama tujuh tahun, kemudian Marwan diangkat kembali.

‘Abdul Malik bin ‘Umair meriwayatkan dari Qabishah bin Jabir, ia berkata: Ziyad mengutusku dengan suatu urusan kepada Mu‘awiyah. Setelah selesai, aku berkata, “Wahai Amirul Mukminin, kepada siapakah urusan pemerintahan setelahmu?” Mu‘awiyah diam sejenak, lalu berkata, “Akan berada di tangan beberapa orang. Adapun bangsawan Quraisy adalah Sa‘id bin al-‘Ash. Adapun pemuda Quraisy yang memiliki rasa malu, kecerdikan, dan kedermawanan adalah ‘Abdullah bin ‘Amir. Adapun al-Hasan bin ‘Ali, ia adalah seorang pemimpin yang mulia dan dermawan. Adapun pembaca Kitab Allah, yang faqih dalam agama Allah, dan tegas dalam menegakkan hukum Allah adalah Marwan bin al-Hakam. Adapun orang yang hanya mementingkan dirinya adalah ‘Abdullah bin ‘Umar. Adapun orang yang memutar syariat dengan kecerdikan binatang buas dan kelicikan rubah adalah ‘Abdullah bin az-Zubair.”

Diriwayatkan bahwa suatu hari Sa‘id meminta hujan di salah satu jalan Madinah. Seorang lelaki mengeluarkan air dari rumahnya, lalu Sa‘id meminumnya. Beberapa waktu kemudian, ia melihat lelaki itu menawarkan rumahnya untuk dijual. Sa‘id bertanya, “Mengapa ia menjual rumahnya?” Mereka menjawab, “Ia memiliki utang empat ribu dinar.” Sa‘id mengutus orang kepada krediturnya dan berkata, “Utangnya menjadi tanggunganku.” Ia juga mengirim pesan kepada pemilik rumah, “Nikmatilah rumahmu.”

Ada pula seorang qari yang biasa duduk bersamanya jatuh miskin dan mengalami kesulitan berat. Istrinya berkata, “Pemimpin kita ini dikenal dermawan. Seandainya engkau sampaikan keadaanmu, barangkali ia memberimu sesuatu.” Ia menjawab, “Celaka engkau, jangan engkau jatuhkan harga diriku.” Namun istrinya terus mendesak. Ia pun datang dan duduk bersama Sa‘id. Setelah orang-orang pergi, ia tetap duduk di tempatnya. Sa‘id berkata, “Aku kira engkau duduk karena suatu keperluan.” Ia diam. Sa‘id memerintahkan para pelayannya pergi, lalu berkata, “Kini hanya aku dan engkau.” Ia tetap diam. Sa‘id memadamkan lampu dan berkata, “Semoga Allah Taala merahmatimu, engkau tidak melihat wajahku. Sampaikanlah keperluanmu.” Lelaki itu berkata, “Semoga Allah Taala memperbaiki urusan Amir. Kami ditimpa kesulitan dan kebutuhan, aku ingin menyampaikannya namun merasa malu.” Sa‘id berkata, “Jika pagi tiba, temuilah wakilku.”

Keesokan paginya, lelaki itu menemui wakil tersebut. Wakil berkata, “Amir memerintahkan sesuatu untukmu. Bawalah orang yang dapat mengangkutnya.” Ia menjawab, “Aku tidak punya siapa pun untuk membawanya.” Ia pulang dan menegur istrinya seraya berkata, “Engkau menyeretku untuk membuka wajahku kepada Amir. Ia memberiku sesuatu yang perlu diangkut. Aku kira itu hanya tepung atau makanan. Seandainya uang, tentu tidak perlu diangkut dan akan langsung diberikannya.” Istrinya berkata, “Apa pun yang diberikannya akan mencukupi kita, maka ambillah.”

Ia kembali kepada wakil. Wakil berkata, “Aku telah mengabarkan Amir bahwa engkau tidak memiliki orang untuk mengangkutnya, maka ia mengirim tiga orang Sudan ini untuk membawanya bersamamu.” Lelaki itu pergi. Ketika sampai di rumahnya, ternyata di atas kepala masing-masing dari tiga orang itu terdapat sepuluh ribu dirham. Ia berkata kepada para pelayan, “Letakkan apa yang kalian bawa dan pulanglah.” Mereka menjawab, “Amir telah membebaskan kami untukmu. Ia tidak pernah mengirim hadiah kepada seseorang dengan seorang pelayan kecuali pelayan itu termasuk bagian dari hadiah.” Maka keadaan lelaki itu pun menjadi baik.

Ibnu ‘Asakir menyebutkan bahwa Ziyad bin Abi Sufyan mengirim kepada Sa‘id bin al-‘Ash hadiah, harta, dan sebuah surat yang menyebutkan bahwa ia melamar putri Sa‘id—Ummu ‘Utsman—dari Umayyah binti Jarir bin ‘Abdullah al-Bajali. Ketika hadiah, harta, dan surat itu sampai, Sa‘id membacanya lalu membagikan hadiah-hadiah tersebut kepada para hadirin di majelisnya. Kemudian ia membalas dengan surat yang halus, berisi:

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, karena ia melihat dirinya serba cukup.” (Surat Al-‘Alaq ayat 6–7) Dan salam.

Dan diriwayatkan bahwa Sa‘id pernah melamar Ummu Kultsum binti ‘Ali dari Fathimah, yang sebelumnya berada dalam pernikahan dengan ‘Umar bin al-Khaththab. Ummu Kultsum menerima lamaran itu dan bermusyawarah dengan kedua saudara laki-lakinya, lalu ia tidak menyukainya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa yang tidak menyukainya hanyalah al-Husain, sedangkan al-Hasan menyetujuinya. Ummu Kultsum pun menyiapkan rumahnya, memasang ranjang, dan mereka berjanji untuk akad nikah. Ia memerintahkan putranya, Zaid bin ‘Umar, agar menikahkannya dengan Sa‘id. Sa‘id lalu mengirimkan mahar seratus ribu—dalam riwayat lain dua ratus ribu—dirham. Para sahabat Sa‘id berkumpul hendak pergi bersamanya, namun Sa‘id berkata, “Aku tidak ingin memberatkan anak Fathimah.” Maka ia membatalkan pernikahan itu dan menyerahkan seluruh uang tersebut kepada Ummu Kultsum.

Ibnu Ma‘in dan ‘Abdul A‘la bin Hammad berkata: Seorang Arab badui pernah meminta kepada Sa‘id bin al-‘Ash, lalu Sa‘id memerintahkan agar diberi lima ratus. Pelayan bertanya, “Lima ratus dirham atau dinar?” Sa‘id menjawab, “Aku hanya memerintahkan lima ratus dirham. Namun karena telah terlintas di hatimu bahwa itu adalah dinar, maka berikan kepadanya lima ratus dinar.” Ketika Arab badui itu menerima uang tersebut, ia duduk menangis. Sa‘id bertanya, “Mengapa engkau menangis? Bukankah engkau telah menerima pemberianmu?” Ia menjawab, “Benar, demi Allah. Namun aku menangis memikirkan bumi ini, bagaimana ia bisa memakan orang sepertimu.”

‘Abdul Hamid bin Ja‘far berkata: Seorang lelaki datang membawa tanggungan empat diyat, dan ia meminta bantuan kepada penduduk Madinah. Dikatakan kepadanya, “Datangilah al-Hasan bin ‘Ali, atau ‘Abdullah bin Ja‘far, atau Sa‘id bin al-‘Ash, atau ‘Abdullah bin ‘Abbas.” Ia pun menuju masjid. Ternyata Sa‘id sedang masuk ke masjid. Ia bertanya, “Siapakah ini?” Dijawab, “Sa‘id bin al-‘Ash.” Ia pun mendatanginya dan menyampaikan keperluannya. Sa‘id membiarkannya hingga selesai dari masjid dan pulang ke rumah. Lalu Sa‘id berkata kepada Arab badui itu, “Datangkan orang yang dapat membawanya bersamamu.” Ia menjawab, “Semoga Allah Taala merahmatimu, aku hanya meminta uang, bukan kurma.” Sa‘id berkata, “Aku tahu. Datangkan orang yang dapat membawanya.” Maka Sa‘id memberinya empat puluh ribu. Arab badui itu mengambilnya dan pergi tanpa meminta kepada selainnya.

Sa‘id bin al-‘Ash berkata kepada putranya, “Wahai anakku, semoga Allah Taala menghinakan kebaikan yang tidak diawali tanpa diminta. Adapun jika seseorang datang kepadamu, hampir engkau melihat darah di wajahnya, atau ia datang dalam keadaan mempertaruhkan harga dirinya, tidak tahu apakah engkau akan memberinya atau menolaknya, maka demi Allah, seandainya engkau mengeluarkan seluruh hartamu untuknya, engkau belum membalas jasanya.”

Sa‘id berkata, “Hak orang yang duduk bersamaku ada tiga: jika ia mendekat aku menyambutnya, jika ia duduk aku melapangkan tempat baginya, dan jika ia berbicara aku menghadapkan diriku kepadanya.”

Ia juga berkata, “Wahai anakku, jangan bergurau dengan orang mulia, karena ia akan menyimpan dendam kepadamu, dan jangan pula dengan orang rendah, karena ia akan meremehkanmu.” Dalam riwayat lain: “Maka ia akan berani kepadamu.”

Suatu hari ia berkhutbah dan berkata, “Barang siapa diberi Allah Taala rezeki yang baik, hendaklah ia menjadi orang yang paling berbahagia dengannya. Sesungguhnya ia akan meninggalkannya kepada salah satu dari dua orang: orang saleh yang akan berbahagia dengan apa yang engkau kumpulkan, sementara engkau merugi—dan orang saleh itu tidak akan berkurang apa pun—atau orang yang rusak, maka tidak akan tersisa sedikit pun baginya.” Mu‘awiyah berkata, “Abu ‘Utsman telah merangkum inti perkataan.”

Al-Ashma‘i meriwayatkan dari Hakim bin Qais, ia berkata: Sa‘id bin al-‘Ash berkata, “Ada dua keadaan yang aku tidak malu bersikap lembut dan berhati-hati di dalamnya: ketika berbicara dengan orang bodoh atau orang dungu, dan ketika aku meminta suatu keperluan untuk diriku sendiri.”

Seorang perempuan ahli ibadah pernah masuk menemuinya ketika ia menjadi gubernur Kufah. Ia memuliakannya dan berbuat baik kepadanya. Perempuan itu berkata, “Semoga Allah Taala tidak menjadikanmu membutuhkan orang yang hina, semoga keutamaanmu senantiasa terikat di leher orang-orang mulia, dan apabila Allah Taala mencabut nikmat dari seorang yang mulia, semoga Dia menjadikanmu sebab dikembalikannya nikmat itu kepadanya.”

Sa‘id memiliki sepuluh orang anak, laki-laki dan perempuan. Salah satu istrinya adalah Ummul Banin binti al-Hakam bin Abi al-‘Ash, saudari Marwan bin al-Hakam. Ketika Sa‘id menjelang wafat, ia mengumpulkan anak-anaknya dan berkata, “Janganlah para sahabatku kehilangan apa pun dariku selain wajahku. Sambunglah mereka sebagaimana aku menyambung mereka, berikanlah kepada mereka sebagaimana aku biasa memberi mereka, dan cukupkanlah mereka dari beban meminta. Sesungguhnya seseorang apabila meminta kebutuhan, sendi-sendinya bergetar dan anggota tubuhnya gemetar karena takut ditolak. Demi Allah, seseorang yang gelisah di atas pembaringannya karena melihat kalian sebagai tempat kebutuhannya, itu merupakan jasa yang lebih besar atas kalian dibandingkan apa yang kalian berikan kepadanya.”

Kemudian ia mewasiatkan banyak hal, di antaranya agar melunasi semua utang dan janji-janjinya, agar tidak menikahkan saudari-saudari mereka kecuali dengan orang yang sekufu, dan agar menjadikan yang paling tua sebagai pemimpin. Semua itu ditanggung oleh putranya, ‘Amr bin Sa‘id al-Asydaq. Ketika Sa‘id wafat, ‘Amr menguburkannya di Baqi‘. Kemudian ‘Amr pergi menemui Mu‘awiyah. Mu‘awiyah menyampaikan belasungkawa, mengucapkan istirja’, dan bersedih atas wafatnya. Mu‘awiyah bertanya, “Apakah ia meninggalkan utang?” ‘Amr menjawab, “Ya.” Mu‘awiyah bertanya, “Berapa?” Ia menjawab, “Tiga ratus ribu dirham.” Dalam riwayat lain: tiga juta dirham. Mu‘awiyah berkata, “Itu menjadi tanggunganku.” Putranya berkata, “Tidak wahai Amirul Mukminin. Ayahku mewasiatkan agar aku tidak melunasi utangnya kecuali dari hasil penjualan tanah-tanahnya.” Maka Mu‘awiyah membeli tanah-tanah itu seharga utang tersebut, lalu meminta ‘Amr untuk membawanya ke Madinah, dan ia pun membawanya. Setelah itu ‘Amr mulai melunasi utang-utang ayahnya hingga tidak tersisa seorang pun.

Di antara orang yang menagih kepadanya adalah seorang pemuda yang membawa selembar kulit bertuliskan dua puluh ribu. ‘Amr berkata, “Bagaimana engkau berhak atas ini dari ayahku?” Pemuda itu menjawab, “Suatu hari ia berjalan sendirian. Aku ingin menemaninya hingga sampai ke rumahnya. Ketika ia sampai, ia bertanya, ‘Apakah engkau punya keperluan?’ Aku menjawab, ‘Tidak, hanya saja aku melihat Amir berjalan sendirian, maka aku memilih menemaninya hingga sampai ke rumah.’ Ia berkata, ‘Carikan aku selembar kulit.’ Aku pergi ke para pengrajin kulit dan membawakan ini kepadanya. Ia menuliskan bagiku jumlah ini dan meminta maaf karena hari itu tidak memiliki apa-apa.” Maka ‘Amr menyerahkan uang itu kepadanya dan menambahinya dengan jumlah yang banyak.

Diriwayatkan bahwa Mu‘awiyah berkata kepada ‘Amr bin Sa‘id, “Barang siapa meninggalkan orang sepertimu, maka ia tidak mati.” Kemudian ia berkata, “Semoga Allah Taala merahmati Abu ‘Utsman.” Lalu ia berkata, “Telah wafat orang yang lebih tua dariku dan orang yang lebih muda dariku.” Kemudian ia melantunkan syair:

Apabila seseorang berjalan, dengan orang-orang telah pergi sebelum dan sesudahnya,

dan ia merasa sepi dari saudara-saudaranya, maka ia tetap berjalan.

Wafatnya Sa‘id bin al-‘Ash terjadi pada tahun ini. Ada yang mengatakan pada tahun sebelumnya, dan ada yang mengatakan pada tahun setelahnya. Sebagian berkata wafatnya terjadi seminggu sebelum wafatnya ‘Abdullah bin ‘Amir. Maka Allah Taala Maha Mengetahui.

Syaddad bin Aus bin Tsabit bin al-Mundzir bin Haram, Abu Ya‘la al-Anshari al-Khazraji

Ia adalah seorang sahabat mulia, keponakan Hassan bin Tsabit. Ibnu Mandah meriwayatkan dari Musa bin ‘Uqbah bahwa ia berkata: Syaddad ikut serta dalam Perang Badar. Ibnu Mandah berkata: Ini adalah kekeliruan. Syaddad memiliki kesungguhan yang sangat besar dalam ibadah. Apabila ia berbaring, ia menggantungkan dirinya di atas pembaringannya, membolak-balikkan tubuhnya dan berkelok-kelok seperti ular, sambil berkata, “Ya Allah Taala, sesungguhnya takut akan neraka telah membuatku gelisah.” Kemudian ia bangkit untuk salat.

‘Ubadah bin ash-Shamit berkata, “Syaddad termasuk orang-orang yang dianugerahi ilmu dan kelembutan.” Syaddad menetap di Palestina dan Baitul Maqdis. Ia wafat pada tahun ini dalam usia tujuh puluh lima tahun. Ada yang mengatakan wafat pada tahun enam puluh empat, dan ada yang mengatakan tahun empat puluh satu. Maka Allah Taala Maha Mengetahui.

‘Abdullah bin ‘Amir bin Kurayz bin Rabi‘ah bin Habib bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf bin Qushay al-Qurasyi al-‘Absyami, sepupu ‘Utsman bin ‘Affan

Ia dilahirkan pada masa hidup Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam, dan beliau meludahi mulutnya. Maka ia menelan air liur Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda: “Ia akan menjadi pembawa air.” Maka tidaklah ia mengelola suatu tanah kecuali air muncul di sana. Ia dikenal sebagai orang yang dermawan, terpuji, dan diberkahi dalam jejak hidupnya.

‘Utsman bin ‘Affan mengangkatnya sebagai wakil di Bashrah setelah Abu Musa al-Asy‘ari, dan menguasakan kepadanya wilayah Persia setelah ‘Utsman bin Abi al-‘Ash, saat usianya dua puluh lima tahun. Ia menaklukkan seluruh Khurasan, wilayah-wilayah Persia, Sijistan, Kerman, dan negeri Ghaznah. Raja segala raja Persia—Yazdajird—terbunuh pada masa pemerintahannya. Kemudian ‘Abdullah bin ‘Amir berihram untuk haji—dalam riwayat lain umrah—dari negeri-negeri tersebut sebagai ungkapan syukur kepada Allah Taala. Ia membagikan harta yang sangat banyak kepada penduduk Madinah. Ia adalah orang pertama yang mengenakan pakaian sutra di Bashrah. Allah Taala Maha Mengetahui.

Ia juga orang pertama yang membuat kolam-kolam air di ‘Arafah dan mengalirkan air ke sana dari mata air. Ia terus memimpin Bashrah hingga ‘Utsman terbunuh. Setelah itu ia mengambil harta baitul mal dan menemui Thalhah dan az-Zubair, serta ikut bersama mereka dalam Perang Jamal. Kemudian ia pergi ke Damaskus. Tidak terdengar keterlibatannya dalam Shiffin, namun Mu‘awiyah mengangkatnya kembali sebagai gubernur Bashrah setelah perdamaian dengan al-Hasan. Ia wafat pada tahun ini di tanah miliknya di ‘Arafat dan mewasiatkan urusannya kepada ‘Abdullah bin az-Zubair. Ia memiliki satu hadis, dan tidak terdapat riwayatnya dalam kitab-kitab hadis utama.

Mush‘ab az-Zubairi meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, dari Hanzhalah bin Qais, dari ‘Abdullah bin az-Zubair dan ‘Abdullah bin ‘Amir, bahwa Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa terbunuh demi mempertahankan hartanya, maka ia syahid.”

Mu‘awiyah menikahkannya dengan putrinya, Hind, yang berparas cantik. Karena kecintaannya kepadanya, Hind melayani kebutuhan suaminya dengan tangannya sendiri. Suatu hari ‘Abdullah bin ‘Amir bercermin dan melihat kecantikan wajah istrinya serta uban di janggutnya sendiri, lalu ia menceraikannya. Ia mengirim pesan kepada ayahnya agar menikahkan Hind dengan seorang pemuda yang wajahnya seperti lembaran mushaf. Ia wafat pada tahun ini; ada pula yang mengatakan setahun setelahnya.

‘Abdurrahman bin Abi Bakr ash-Shiddiq

Ia adalah anak tertua Abu Bakr ash-Shiddiq. Hal ini dikatakan oleh az-Zubair bin Bakkar. Ia dikenal memiliki selera humor. Ibunya adalah Ummu Ruman, ibu ‘Aisyah, sehingga ia adalah saudara kandung ‘Aisyah. Ia tampil pada Perang Badar dan Uhud bersama kaum musyrikin, bahkan pernah berniat membunuh ayahnya, Abu Bakr. Abu Bakr maju menghadapinya, namun Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Biarkan kami menikmati keberadaanmu.”

Kemudian ‘Abdurrahman masuk Islam pada masa perjanjian damai, berhijrah sebelum penaklukan Makkah, dan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam memberinya bagian dari hasil Khaibar setiap tahun sebanyak empat puluh wasaq. Ia termasuk tokoh kaum muslimin.

Dialah yang masuk menemui Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam pada hari wafat beliau, ketika ‘Aisyah menyandarkan beliau ke dadanya. Bersama ‘Abdurrahman terdapat siwak yang masih basah. Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam memandangnya. ‘Aisyah mengambil siwak itu, mengunyahnya dan membersihkannya, lalu menyerahkannya kepada Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Beliau pun bersiwak dengan sebaik-baik cara, lalu bersabda: “Ya Allah Taala, kepada ar-Rafiq al-A‘la.” Kemudian beliau wafat.

‘Aisyah berkata, “Allah Taala mengumpulkan antara air liurku dan air liurnya. Beliau wafat di antara dadaku dan leherku, di rumahku dan pada hariku, tanpa aku menzalimi seorang pun.”

‘Abdurrahman turut serta dalam penaklukan al-Yamamah dan membunuh tujuh orang pada hari itu. Dialah yang membunuh Muhakkim bin ath-Thufail, sahabat Musailamah dalam kebatilannya. Muhakkim berdiri di celah tembok, lalu ‘Abdurrahman melemparnya hingga ia jatuh. Kaum muslimin masuk melalui celah tersebut dan berhasil mencapai Musailamah lalu membunuhnya. Ia juga ikut dalam penaklukan Syam dan sangat dihormati di kalangan kaum muslimin. Ia memperoleh tawanan bernama Laila binti al-Jaudi, ratu Arab Syam, yang diberikan kepadanya oleh Khalid bin al-Walid atas perintah ‘Umar bin al-Khaththab, sebagaimana akan disebutkan secara rinci.

‘Abdurrazzaq berkata—dari Ma‘mar, dari az-Zuhri, dari Sa‘id bin al-Musayyib—ia berkata: ‘Abdurrahman bin Abi Bakr menceritakan kepadaku—dan tidak pernah sekalipun ia dikenal berdusta—sebuah kisah tentang dirinya. Ketika baiat untuk Yazid bin Mu‘awiyah datang ke Madinah, ‘Abdurrahman berkata kepada Marwan, “Demi Allah, kalian menjadikannya seperti sistem Heraklius dan Kisra.” Maksudnya, kalian menjadikan kerajaan turun-temurun kepada anak raja setelahnya. Marwan menjawab, “Diamlah! Engkaulah orang yang Allah turunkan ayat tentangnya: ‘Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya: “Ah bagi kalian berdua, apakah kalian menjanjikan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan?”’ (Surat Al-Ahqaf ayat 17). Maka ‘Aisyah berkata, “Demi Allah, Allah tidak menurunkan sesuatu pun dari Al-Qur’an tentang kami, kecuali ayat yang membebaskan diriku.” Diriwayatkan pula bahwa ‘Aisyah mengirim surat kepada Marwan untuk menegurnya dan mencelanya, serta memberitahukan suatu kisah yang berisi celaan terhadap dirinya dan ayahnya, namun riwayat itu tidak sahih darinya.

Az-Zubair bin Bakkar berkata: Ibrahim bin Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz az-Zuhri menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Mu‘awiyah mengirim seratus ribu dirham kepada ‘Abdurrahman bin Abi Bakr setelah ia menolak baiat kepada Yazid bin Mu‘awiyah. ‘Abdurrahman mengembalikan uang itu dan menolak menerimanya, seraya berkata, “Apakah aku menjual agamaku dengan duniaku?” Lalu ia pergi ke Makkah dan wafat di sana.

Abu Zur‘ah ad-Dimasyqi berkata: Abu Mushir menceritakan kepada kami, Malik menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Abdurrahman bin Abi Bakr wafat dalam tidurnya. Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abu Mush‘ab dari Malik, dari Yahya bin Sa‘id, dengan tambahan bahwa ‘Aisyah memerdekakan beberapa budak atas namanya. Ats-Tsauri meriwayatkannya dari Yahya bin Sa‘id, dari al-Qasim, dengan makna yang sama.

Ketika wafat, ia meninggal di suatu tempat bernama al-Habasyi—sekitar enam mil dari Makkah; ada yang mengatakan dua belas mil. Ia dipikul di atas pundak para lelaki hingga dimakamkan di bagian atas Makkah. Ketika ‘Aisyah tiba di Makkah, ia menziarahinya dan berkata, “Demi Allah, seandainya aku menyaksikanmu wafat, aku tidak akan menangisimu. Dan seandainya aku berada di sisimu, aku tidak akan memindahkanmu dari tempat engkau wafat.” Lalu ia mengutip syair Mutammim bin Nuwairah tentang saudaranya, Malik:

Kami dahulu bagaikan dua sahabat karib dalam masa panjang,

hingga dikatakan kami takkan terpisah.

Ketika kami berpisah, seakan aku dan Malik,

karena lamanya kebersamaan, tak pernah bermalam tanpa bersama.

Riwayat ini disebutkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya.

Ibnu Sa‘d meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar melihat sebuah tenda dipasang di atas kubur ‘Abdurrahman—yang dipasang oleh ‘Aisyah setelah ia berangkat—lalu Ibnu ‘Umar memerintahkan agar tenda itu dicabut dan berkata, “Yang menaunginya hanyalah amal perbuatannya.” Banyak sejarawan berpendapat bahwa wafatnya terjadi pada tahun ini. Ada pula yang mengatakan ‘Abdurrahman wafat pada tahun lima puluh tiga. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Waqidi, penulisnya Muhammad bin Sa‘d, Abu ‘Ubaid, dan selain mereka. Ada pula yang mengatakan tahun lima puluh empat. Maka Allah Maha Mengetahui.

Kisah ‘Abdurrahman bin Abi Bakr ash-Shiddiq dengan Laila binti al-Jaudi, ratu Arab Syam

Az-Zubair bin Bakkar berkata: Muhammad bin adh-Dhahhak al-Hizami menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari ‘Abdurrahman bin Abi az-Zinad, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, bahwa ‘Abdurrahman bin Abi Bakr ash-Shiddiq datang ke Syam untuk berdagang—yakni pada masa jahiliahnya—lalu ia melihat seorang perempuan bernama Laila binti al-Jaudi, duduk di atas permadani, dikelilingi para pelayannya. Ia tertarik kepadanya. Ibnu ‘Asakir berkata: Ia melihatnya di wilayah Bushra, lalu menggubah syair tentangnya:

Aku teringat Laila, sementara Samawah memisahkan kami,

apa urusanku dengan Laila binti al-Jaudi, dan apa urusannya denganku?

Bagaimana mungkin hatinya condong pada perempuan Haritsiyah,

yang menetap di Bushra atau bermukim di al-Jawabiyah?

Bagaimana mungkin aku menemuinya? Ya, boleh jadi

bila manusia berhaji tahun depan, ia pun datang.

Ketika ‘Umar bin al-Khaththab mengirim pasukannya ke Syam, ia berkata kepada panglima pasukan, “Jika engkau mendapatkan Laila binti al-Jaudi sebagai tawanan perang, serahkanlah ia kepada ‘Abdurrahman bin Abi Bakr.” Pasukan pun mendapatkannya dan menyerahkannya kepada ‘Abdurrahman. Ia terpesona kepadanya dan mengutamakannya atas istri-istrinya, hingga para istrinya mengadukannya kepada ‘Aisyah. ‘Aisyah menegurnya. Ia berkata, “Demi Allah, seakan-akan aku menyeruput biji delima dengan giginya.” Laila kemudian mengalami sakit hingga mulutnya berubah, lalu ‘Abdurrahman menjauhinya, sampai ia mengadu kepada ‘Aisyah. ‘Aisyah berkata, “Wahai ‘Abdurrahman, engkau telah mencintai Laila secara berlebihan, dan engkau pun membencinya secara berlebihan. Entah engkau berlaku adil kepadanya, atau engkau persiapkan ia kembali kepada keluarganya.” Maka ia pun mempersiapkannya kembali kepada keluarganya.

Az-Zubairi berkata: ‘Abdullah bin Nafi‘ menceritakan kepadaku, dari ‘Abdurrahman bin Abi az-Zinad, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, ia berkata: ‘Umar bin al-Khaththab memberikan Laila binti al-Jaudi kepada ‘Abdurrahman bin Abi Bakr sebagai bagian tambahan rampasan ketika penaklukan Damaskus. Ia adalah putri raja Damaskus, yakni putri raja Arab yang berada di sekitar Damaskus pada masa Romawi. Allah Maha Mengetahui.

‘Ubaidullah bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib al-Qurasyi al-Hasyimi

Ia adalah sepupu Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, dan usianya setahun lebih muda dari saudaranya, ‘Abdullah. Ibu mereka adalah Ummul Fadhl Lubabah binti al-Harits al-Hilaliyah. ‘Ubaidullah dikenal dermawan, tampan, dan berparas elok, menyerupai ayahnya dalam ketampanan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam biasa memanggil ‘Abdullah, ‘Ubaidullah, dan Katsir, lalu bersabda: “Siapa yang paling dahulu sampai kepadaku, baginya ini dan itu.” Mereka pun berlomba menuju beliau, lalu jatuh di punggung dan dada beliau. Beliau mencium dan memeluk mereka.

Pada masa kekhalifahannya, ‘Ali bin Abi Thalib mengangkatnya sebagai wakil di Yaman. Ia memimpin ibadah haji pada tahun tiga puluh enam dan tiga puluh tujuh. Pada tahun tiga puluh delapan terjadi perselisihan antara dirinya dan Yazid bin Syajarah ar-Rahawi yang datang untuk haji dari pihak Mu‘awiyah. Keduanya kemudian sepakat menunjuk Syaibah bin ‘Utsman al-Hajabi untuk memimpin haji tahun itu. Ketika kekuasaan beralih kepada Mu‘awiyah, Busur bin Abi Arthah menguasai ‘Ubaidullah dan membunuh dua putranya. Berbagai peristiwa terjadi di Yaman, sebagian telah disebutkan. ‘Abdullah memperluas mereka dengan ilmu, sedangkan ‘Ubaidullah memperluas mereka dengan kedermawanan.

Diriwayatkan bahwa dalam suatu perjalanan, ia singgah bersama seorang budaknya di tenda seorang Arab badui. Ketika badui itu melihatnya, ia mengagungkan dan memuliakannya karena melihat ketampanan dan penampilannya. Ia berkata kepada istrinya, “Celakalah engkau! Apa yang engkau miliki untuk menjamu tamu kita ini?” Istrinya menjawab, “Tidak ada apa-apa kecuali seekor kambing kecil ini, yang menjadi sumber hidup anak perempuanmu dari susunya.” Ia berkata, “Ia harus disembelih.” Istrinya berkata, “Apakah engkau akan membunuh anakmu?” Ia menjawab, “Ya.” Ia pun mengambil pisau dan kambing itu, menyembelih dan menguliti sambil bersyair:

Wahai tetanggaku, jangan bangunkan si kecil,

jika engkau membangunkannya, ia akan menangis karenanya

dan merebut pisau dari tanganku.

Ia menyiapkannya sebagai makanan dan meletakkannya di hadapan ‘Ubaidullah dan budaknya untuk makan malam. ‘Ubaidullah telah mendengar percakapan badui itu dengan istrinya tentang kambing tersebut. Ketika hendak berangkat, ia berkata kepada budaknya, “Celaka engkau! Berapa uang yang engkau bawa?” Budaknya menjawab, “Ada lima ratus dinar sisa dari bekalmu.” Ia berkata, “Berikan semuanya kepada orang badui itu.” Budaknya berkata, “Mahasuci Allah, engkau memberinya lima ratus dinar, padahal ia hanya menyembelihkan seekor kambing yang nilainya lima dirham?” Ia menjawab, “Celaka engkau! Demi Allah, ia lebih dermawan dan lebih pemurah daripada kita. Kita hanya memberinya sebagian dari apa yang kita miliki, sementara ia telah bermurah hati kepada kita dengan seluruh yang ia miliki, bahkan mengutamakan kita atas jiwa dan anaknya.”

Kabar itu sampai kepada Mu‘awiyah, lalu ia berkata, “Sungguh luar biasa ‘Ubaidullah! Dari telur siapa ia menetas, dan dari apa ia tumbuh?”

Khalifah bin Khayyath berkata: Ia wafat pada tahun lima puluh delapan.

Dan selainnya mengatakan: Ia wafat pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah.

Abu Ubaid al-Qasim bin Salam berkata: Ia wafat pada tahun delapan puluh tujuh.

Wafatnya terjadi di Madinah, dan ada yang mengatakan: di Yaman.

Ia hanya memiliki satu hadis.

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Hushaym, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Ishaq, dari Sulaiman bin Yasar, dari Ubaidullah bin Abbas, ia berkata:

Al-Ghumaisya — atau ar-Rumaisya — datang kepada Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam mengadukan suaminya. Ia mengaku bahwa suaminya tidak mampu menggaulinya. Tidak lama kemudian suaminya datang dan mengaku bahwa istrinya berdusta dan sebenarnya ingin kembali kepada suami pertamanya. Maka Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Engkau tidak boleh kembali kepadanya sampai engkau merasakan madu manisnya laki-laki lain.”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh an-Nasai melalui Ali bin Hujr dari Hushaym dengan sanad yang sama.

Di antara yang wafat pada tahun ini adalah Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq,

istri Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan istri beliau yang paling beliau cintai, yang disucikan dari atas tujuh lapis langit.

Semoga Allah meridhainya.

Ibunya adalah Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir al-Kinanah.

Aisyah memiliki kuniah Ummu Abdullah. Dikatakan bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam memberinya kuniah tersebut karena keponakannya, Abdullah bin az-Zubair.

Dan ada pula yang mengatakan bahwa Aisyah pernah keguguran dari Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, lalu janin itu diberi nama Abdullah.

Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menikahi seorang gadis perawan selain Aisyah.

Wahyu tidak pernah turun kepada beliau ketika berada dalam satu selimut dengan seorang wanita kecuali Aisyah.

Tidak ada seorang pun di antara istri-istrinya yang lebih beliau cintai selain Aisyah.

Beliau menikahinya di Makkah setelah wafatnya Khadijah.

Malaikat telah memperlihatkan Aisyah kepada beliau dalam mimpi, terbungkus kain sutra, sebanyak dua atau tiga kali, dan dikatakan kepada beliau: “Ini adalah istrimu.”

Beliau bersabda: “Aku membuka kain itu, ternyata engkau adalah dia.”

Lalu beliau berkata: “Jika ini berasal dari Allah, maka Allah akan mewujudkannya.”

Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam kemudian melamar Aisyah kepada ayahnya. Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah ia halal bagimu?”

Beliau menjawab: “Ya.”

Abu Bakar berkata: “Bukankah aku saudaramu?”

Beliau bersabda: “Benar, engkau saudaraku dalam Islam, dan dia halal bagiku.”

Maka Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam menikahinya, dan Aisyah memperoleh kedudukan istimewa di sisi beliau.

Peristiwa ini terjadi dua tahun sebelum hijrah, dan ada yang mengatakan satu setengah tahun, serta ada pula yang mengatakan tiga tahun sebelum hijrah.

Saat itu usia Aisyah enam tahun.

Kemudian Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam mulai hidup serumah dengannya ketika Aisyah berusia sembilan tahun, setelah Perang Badar, pada bulan Syawal tahun kedua hijrah, dan beliau sangat mencintainya.

Ketika para penyebar fitnah dari kalangan ahli ifk menuduh Aisyah dengan kedustaan dan kebohongan, Allah membela kehormatannya dan menurunkan sepuluh ayat Al-Qur’an yang membersihkannya, yang terus dibaca sepanjang zaman.

Peristiwa ini telah dijelaskan secara rinci sebelumnya, termasuk penjelasan ayat-ayat dan hadis-hadisnya dalam kisah Perang al-Muraisi’, serta dibahas panjang lebar dalam kitab Tafsir dengan penjelasan yang memadai, segala puji dan karunia milik Allah.

Para ulama telah sepakat bahwa siapa pun yang menuduh Aisyah setelah turunnya pembelaan tersebut maka ia kafir.

Adapun mengenai istri-istri Nabi yang lain, para ulama berbeda pendapat apakah orang yang menuduh mereka juga kafir atau tidak, dengan dua pendapat.

Pendapat yang paling sahih adalah bahwa ia kafir, karena yang dituduh adalah istri Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan kemurkaan Allah terjadi karena ia adalah istri Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Maka hukumnya sama antara Aisyah dan istri-istri Nabi lainnya.

Di antara keistimewaan Aisyah adalah bahwa ia memiliki dua hari giliran: hari gilirannya sendiri dan hari Saudah, karena Saudah menghibahkan harinya demi mendekatkan diri kepada Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam wafat pada hari giliran Aisyah, di rumahnya, di antara dada dan lehernya.

Allah mengumpulkan air liur beliau dengan air liur Aisyah pada detik-detik terakhir kehidupan dunia beliau dan awal kehidupan akhirat beliau.

Dan beliau dimakamkan di rumah Aisyah.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ismail, dari Mush’ab bin Ishaq bin Thalhah, dari Aisyah, dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Sungguh hal yang meringankan bagiku adalah aku melihat putihnya telapak tangan Aisyah di surga.”

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad.

Ini menunjukkan puncak kecintaan yang sangat besar, karena beliau merasa tenteram hanya dengan melihatnya di hadapan beliau di surga.

Di antara keistimewaan Aisyah adalah bahwa ia merupakan wanita yang paling berilmu di antara istri-istri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, bahkan wanita paling berilmu secara mutlak.

Az-Zuhri berkata: Seandainya ilmu Aisyah digabungkan dengan ilmu seluruh istri Nabi dan seluruh wanita, maka ilmu Aisyah tetap lebih utama.

Atha bin Abi Rabah berkata: Aisyah adalah orang yang paling fakih, paling berilmu, dan paling baik pendapatnya dalam urusan umum.

Urwah berkata: Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih berilmu tentang fikih, kedokteran, dan syair daripada Aisyah.

Tidak ada seorang pun, baik laki-laki maupun perempuan, selain Abu Hurairah, yang meriwayatkan hadis dari Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebanyak riwayat Aisyah. Semoga Allah meridhainya.

Abu Musa al-Asy’ari berkata:

Tidak pernah kami — para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam — mengalami kesulitan memahami sebuah hadis, lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami dapati padanya ilmu tentang hal itu.

Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.

Abu ad-Dhuha meriwayatkan dari Masruq, ia berkata: Aku melihat para sahabat besar Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada Aisyah tentang hukum-hukum waris.

Adapun hadis yang sering disebut oleh banyak fuqaha dan ulama ushul:

“Ambillah setengah agama kalian dari al-Humaira.”

Maka hadis ini tidak memiliki dasar, tidak sahih, dan tidak tercatat dalam sumber-sumber pokok Islam.

Aku telah menanyakannya kepada guru kami Abu al-Hajjaj al-Mizzi, dan beliau berkata: Hadis ini tidak memiliki asal.

Kemudian, di antara para wanita, tidak ada yang lebih berilmu daripada murid-murid Aisyah, seperti Amrah binti Abdurrahman, Hafshah binti Sirin, dan Aisyah binti Thalhah.

Ummul Mukminin Aisyah memiliki sejumlah pendapat hukum yang hanya diketahui melalui dirinya di antara para sahabat. Ia juga memiliki pilihan-pilihan pendapat sendiri dan terkadang menolak sebagian riwayat dengan penafsiran tertentu.

Hal ini telah dikumpulkan oleh lebih dari satu imam.

Asy-Sya’bi berkata: Masruq apabila meriwayatkan hadis dari Aisyah, ia berkata:

Telah menceritakan kepadaku ash-Shiddiqah putri ash-Shiddiq, kekasih Kekasih Allah, yang disucikan dari atas tujuh lapis langit.

Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dari Abu Utsman an-Nahdi, dari Amr bin al-Ash, ia berkata: Aku bertanya:

“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?”

Beliau menjawab: “Aisyah.”

Aku bertanya: “Dari kalangan laki-laki?”

Beliau menjawab: “Ayahnya.”

Dan dalam Shahih al-Bukhari juga, dari Abu Musa, Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Banyak laki-laki yang mencapai kesempurnaan, namun tidak ada wanita yang mencapai kesempurnaan kecuali Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Asiyah istri Fir’aun. Dan keutamaan Aisyah atas para wanita seperti keutamaan tsarid atas seluruh makanan.”

Banyak ulama yang berpendapat bahwa Aisyah lebih utama daripada Khadijah berdasarkan hadis ini, karena hadis tersebut mencakup seluruh wanita yang disebutkan dan selain mereka.

Pendapat ini juga dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan al-Bukhari:

Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Khalil, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata:

Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, meminta izin masuk menemui Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Beliau mengenali cara minta izin Khadijah, lalu terkejut karenanya dan bersabda: “Ya Allah, Halah.”

Aisyah berkata: Aku pun cemburu dan berkata: Mengapa engkau masih menyebut-nyebut seorang wanita tua dari wanita-wanita Quraisy, yang pipinya kemerahan, yang telah binasa oleh waktu, padahal Allah telah menggantimu dengan yang lebih baik darinya?”

Demikianlah riwayat al-Bukhari.

Adapun tambahan riwayat yang berbunyi: “Allah tidak pernah menggantikanku dengan yang lebih baik darinya,” maka sanadnya tidak sahih.

Penjelasan panjang mengenai hal ini telah disebutkan ketika membahas wafatnya Khadijah, termasuk dalil-dalil ulama yang mengutamakan Khadijah atas Aisyah, sehingga tidak perlu diulang kembali di sini.

Berkata Al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, berkata Abu Salamah: bahwa Aisyah radiyallahu anha berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam suatu hari berkata kepada saya: “Wahai Aisyah, ini Jibril mengucapkan salam kepadamu.” Maka saya menjawab: “Wa’alaihi salam wa rahmatullahi wa barakatuhu, engkau melihat apa yang tidak aku lihat.”

Dan telah tetap dalam Shahih Bukhari bahwa orang-orang berusaha mengirimkan hadiah mereka pada hari Aisyah. Maka istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam berkumpul kepada Ummu Salamah, dan berkata kepadanya: Katakan kepadanya (Nabi) agar dia memerintahkan orang-orang untuk mengirim hadiah kepadanya di mana pun dia berada. Maka Ummu Salamah berkata: Ketika dia masuk kepadaku, aku mengatakan hal itu kepadanya, lalu dia berpaling dariku. Kemudian mereka mengatakan hal itu lagi kepadanya, lalu dia berkata kepadanya, namun dia berpaling darinya. Kemudian ketika giliran kembali kepadanya, dia berkata kepadanya, maka dia berkata: “Wahai Ummu Salamah, jangan kau sakiti aku mengenai Aisyah, karena demi Allah, wahyu tidak pernah turun kepadaku ketika aku berada dalam selimut salah seorang dari kalian kecuali pada dirinya (Aisyah).”

Dan disebutkan bahwa mereka mengutus Fathimah putrinya kepada beliau, lalu dia berkata: Sesungguhnya istri-istrimu memohon kepadamu keadilan dalam urusan putri Abu Bakar bin Abi Quhafah. Maka dia berkata: “Wahai putriku, tidakkah kau mencintai orang yang kucintai?” Dia berkata: Aku menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Maka cintailah dia (Aisyah).”

Kemudian mereka mengutus Zainab binti Jahsy, lalu dia masuk kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan di sisinya ada Aisyah. Maka Zainab berbicara dan mencela Aisyah, lalu Aisyah membela diri darinya dan berbicara kepadanya hingga membuatnya bungkam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terus memandang Aisyah sambil berkata: “Sungguh dia adalah putri Abu Bakar.”

Kami telah menyebutkan bahwa Ammar ketika datang meminta pertolongan orang-orang dan menggerakkan mereka untuk memerangi Thalhah dan Zubair pada masa (perang) Jamal, dia dan Hasan bin Ali naik ke mimbar Kufah. Lalu Ammar mendengar seseorang mencela Aisyah, maka dia berkata kepadanya: Diamlah engkau yang tercela dan terhina. Demi Allah, sesungguhnya dia adalah istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dunia dan di akhirat. Tetapi Allah menguji kalian agar Dia mengetahui apakah kalian menaatiNya ataukah menaati dia (Aisyah).

Berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Amr, telah menceritakan kepada kami Zaidah, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Khutsaim, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abi Mulaikah, bahwa telah menceritakan kepadanya Dzakwan penjaga Aisyah, bahwa Abdullah bin Abbas datang meminta izin kepada Aisyah. Maka aku datang dan di dekat kepalanya ada keponakannya Abdullah bin Abdurrahman. Maka aku berkata: Ini Ibnu Abbas meminta izin. Lalu keponakannya Abdullah membungkukkan badan kepadanya dan berkata: Ini Abdullah bin Abbas meminta izin. Dan dia sedang dalam keadaan menjelang wafat. Maka dia berkata: Biarkanlah aku dari Ibnu Abbas. Maka dia berkata: Wahai ibuku, sesungguhnya Ibnu Abbas adalah salah satu anak-anakmu yang saleh, dia ingin memberi salam kepadamu dan mengucapkan selamat tinggal. Maka dia berkata: Izinkanlah dia jika kau mau.

Dia berkata: Maka aku memasukkannya. Ketika dia duduk, dia berkata: Bergembiralah. Maka dia berkata: Dengan apa? Maka dia berkata: Tidak ada antara dirimu dengan bertemu Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan orang-orang yang dicintai kecuali keluarnya roh dari jasad. Engkau adalah istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang paling dicintai olehnya, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mencintai kecuali yang baik. Kalungmu jatuh pada malam Al-Abwa, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (dan rombongan) tinggal di tempat itu hingga pagi di tempat perhentian, dan orang-orang tidak memiliki air bersamanya, maka Allah menurunkan ayat tayammum. Maka hal itu adalah karena sebabmu dan apa yang Allah turunkan berupa keringanan bagi umat ini. Dan Allah menurunkan pembelaanmu dari atas tujuh langit, yang dibawa oleh Ruhul Amin (Jibril). Maka tidak ada masjid Allah dari masjid-masjid Allah kecuali dilafalkan di dalamnya pada waktu-waktu malam dan waktu-waktu siang.

Maka dia berkata: Biarkanlah aku darimu wahai Ibnu Abbas. Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya, sungguh aku berharap seandainya aku menjadi sesuatu yang terlupakan dan dilupakan.

Hadits-hadits tentang keutamaan dan kemuliaan Aisyah sangat banyak. Wafatnya adalah pada tahun ini, tahun lima puluh delapan. Ada yang mengatakan: setahun sebelumnya. Ada yang mengatakan: setahun sesudahnya. Yang masyhur adalah pada bulan Ramadhan dari tahun itu. Ada yang mengatakan: pada bulan Syawal. Yang paling masyhur adalah malam Selasa tanggal tujuh belas Ramadhan. Dia berwasiat agar dikuburkan di Baqi’ pada malam hari. Yang menshalatkannya adalah Abu Hurairah setelah shalat witir. Yang turun ke kuburnya ada lima orang, yaitu: Abdullah dan Urwah, dua putra Zubair bin Awwam dari saudara perempuannya Asma binti Abi Bakar, Al-Qasim dan Abdullah, dua putra saudaranya Muhammad bin Abi Bakar, dan Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Bakar. Usianya ketika itu adalah enam puluh tujuh tahun, karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat ketika usianya delapan belas tahun, dan usianya pada tahun hijrah adalah delapan atau sembilan tahun. Wallahu a’lam.

Kemudian Masuklah Tahun Lima Puluh Sembilan

Pada tahun ini Amr bin Murrah Al-Juhani bermusim dingin di tanah Romawi melalui darat. Berkata Al-Waqidi: Tidak ada peperangan di laut pada tahun itu. Berkata selain dia: Bahkan yang berperang di laut pada tahun itu adalah Junadah bin Abi Umayyah.

Pada tahun ini Mu’awiyah memberhentikan Ibnu Ummu Hakam dari Kufah karena buruknya kepemimpinannya terhadap mereka, dan mengangkat An-Nu’man bin Basyir sebagai penggantinya.

Pada tahun ini Mu’awiyah mengangkat Abdurrahman bin Ziyad sebagai gubernur Khurasan, dan memberhentikan Sa’id bin Utsman bin Affan darinya. Maka Ubaidullah menguasai Bashrah, Abbad bin Ziyad menguasai Sijistan, dan Abdurrahman bin Ziyad menguasai Khurasan. Dia terus di sana hingga masa Yazid. Lalu dia datang kepadanya setelah terbunuhnya Husain, maka dia (Yazid) berkata kepadanya: Berapa banyak harta yang kau bawa? Dia berkata: Dua puluh juta. Maka dia berkata kepadanya: Jika kau mau kami menghitung denganmu, dan jika kau mau kami memberikannya kepadamu dan memberhentikanmu darinya, dengan syarat kau memberikan kepada Abdullah bin Ja’far lima ratus ribu dirham. Dia berkata: Bahkan berikanlah itu kepadaku, dan adapun Abdullah bin Ja’far maka aku akan memberinya apa yang kau katakan, dan yang semisal dengannya. Maka dia memberhentikannya dan mengangkat yang lain. Abdurrahman bin Ziyad mengirim kepada Abdullah bin Ja’far satu juta dirham, dan berkata: Lima ratus ribu dari pihak Amirul Mukminin, dan lima ratus ribu dari pihakku.

Pada tahun ini Ubaidullah bin Ziyad datang menghadap Mu’awiyah, bersamanya para pembesar penduduk Bashrah dan Irak. Ubaidullah meminta izin untuk mereka kepadanya sesuai kedudukan mereka di sisinya. Yang terakhir dimasukkan kepada Mu’awiyah adalah Al-Ahnaf bin Qais. Ubaidullah tidak memuliakan Al-Ahnaf. Ketika Mu’awiyah melihat Al-Ahnaf, dia menyambutnya, mengagungkan dan memuliakan serta mendudukannya bersamanya di atas singgasana. Kemudian orang-orang berbicara memuji Ubaidullah, sementara Al-Ahnaf diam. Maka Mu’awiyah berkata kepadanya: Ada apa denganmu wahai Abu Bahr, mengapa kau tidak berbicara? Maka dia berkata: Jika aku berbicara, aku akan menyelisihi kaum. Maka Mu’awiyah berkata: Pergilah kalian, sesungguhnya aku telah memberhentikannya dari kalian, maka carilah gubernur yang kalian ridhai.

Mereka beberapa hari terus berdatangan kepada pembesar-pembesar Bani Umayyah, meminta kepada setiap orang dari mereka untuk menjadi gubernur atas mereka, namun tidak ada seorang pun yang menerima hal itu. Kemudian Mu’awiyah mengumpulkan mereka dan berkata: Siapa yang kalian pilih? Maka mereka berselisih pendapat di hadapannya sementara Al-Ahnaf diam. Maka Mu’awiyah berkata kepadanya: Ada apa denganmu tidak berbicara? Maka dia berkata: Wahai Amirul Mukminin, jika engkau menghendaki selain dari keluargamu, maka lihatlah pendapatmu. Maka Mu’awiyah berkata: Aku telah mengembalikannya kepada kalian.

Berkata Ibnu Jarir: Berkata Al-Ahnaf: Wahai Amirul Mukminin, jika engkau mengangkat atas kami dari keluargamu, maka kami tidak akan menggantikan Ubaidullah dengan siapa pun. Dan jika engkau mengangkat atas kami dari selain mereka, maka pertimbangkanlah hal itu untuk kami. Maka Mu’awiyah berkata: Aku telah mengembalikannya kepada kalian.

Kemudian Mu’awiyah berwasiat kepada Ubaidullah agar berbuat baik kepada Al-Ahnaf, dan menjelekkan pendapatnya dalam menjauhkan Al-Ahnaf. Maka Al-Ahnaf setelah itu menjadi orang yang paling dekat dengan Ubaidullah. Dan ketika fitnah terjadi, tidak ada yang setia kepada Ubaidullah kecuali Al-Ahnaf bin Qais.

Kisah Yazid bin Rabi’ah bin Mufarrigh Al-Himyari dengan Dua Putra Ziyad: Ubaidullah dan Abbad

Disebutkan oleh Ibnu Jarir dari Abu Ubaidah Ma’mar bin Al-Mutsanna dan selainnya, bahwa orang ini adalah seorang penyair. Dia bersama Abbad bin Ziyad di Sijistan. Abbad sibuk darinya dengan perang melawan Turki, dan pakan ternak menjadi sempit bagi orang-orang. Maka Ibnu Mufarrigh mengucapkan syair menghina Abbad bin Ziyad atas apa yang terjadi darinya, dia berkata:

Alangkah baiknya jika janggut menjadi rumput Maka kami bisa menjadikannya makanan kuda-kuda kaum muslimin

Abbad bin Ziyad memiliki janggut yang sangat besar dan panjang. Hal itu sampai kepadanya maka dia marah, dan mencarinya. Ibnu Mufarrigh pun melarikan diri darinya, dan mengucapkan tentangnya qasidah-qasidah yang menghina dia yang banyak. Di antaranya ucapannya:

Jika Mu’awiyah bin Harb telah tiada Maka sampaikanlah kabar gembira kepada sisi wadahmu dengan keretakan Maka aku bersaksi bahwa ibumu tidak pernah menyentuh Abu Sufyan dengan melepaskan cadar Tetapi itu adalah suatu urusan yang di dalamnya ada ketidakjelasan Atas ketakutan yang sangat dan kegelisahan

Dan dia juga berkata:

Sampaikanlah kepada Mu’awiyah bin Harb Berita yang dibawa oleh lelaki Yamani Apakah engkau marah jika dikatakan ayahmu adalah orang yang menjaga kehormatan Dan engkau rela jika dikatakan ayahmu adalah pezina Maka aku bersaksi bahwa rahimmu dari Ziyad Seperti rahim gajah dari anak keledai betina

Maka Abbad bin Ziyad menulis kepada saudaranya Ubaidullah yang sedang menghadap Mu’awiyah dengan bait-bait ini. Ubaidullah membacakannya kepada Mu’awiyah, dan meminta izin kepadanya untuk membunuhnya. Maka dia berkata: Jangan kau bunuh dia, tetapi berikan dia pelajaran dan jangan sampai membunuhnya.

Ketika Ubaidullah kembali ke Bashrah, dia memanggil Ibnu Mufarrigh. Dia telah meminta perlindungan kepada ayah mertua Ubaidullah bin Ziyad, yaitu Al-Mundzir bin Al-Jarud. Putrinya Bahriyyah adalah istri Ubaidullah. Maka dia melindunginya dan menampungnya di rumahnya. Al-Mundzir datang memberi salam kepada Ubaidullah. Ubaidullah mengutus pasukan keamanan ke rumah Al-Mundzir, maka mereka membawa Ibnu Mufarrigh dan membawanya berdiri di hadapannya. Maka Al-Mundzir berkata: Sesungguhnya aku telah melindunginya.

Maka dia berkata: Dia memujimu dan memuji ayahmu lalu engkau rida terhadapnya, dan dia menghina aku dan menghina ayahku kemudian engkau melindunginya dariku?! Kemudian Ubaidullah memerintahkan Ibnu Mufarrigh untuk diminumkan obat pencahar. Mereka membawanya naik ke atas keledai yang di atasnya ada pelana, dan mereka menggiringnya berkeliling di pasar-pasar sementara dia mencret, dan orang-orang melihatnya. Kemudian dia memerintahkan agar dia dibuang ke Sijistan, ke tempat saudaranya Abbad.

Maka Ibnu Mufarrigh berkata kepada Ubaidullah bin Ziyad:

Air membasuh apa yang kau perbuat, sedangkan ucapanku Tertanam darimu di tulang-tulang yang berlubang

Orang-orang Yaman berbicara dengan Mu’awiyah tentang urusan Ibnu Mufarrigh, dan bahwa dia hanya mengirimnya kepada saudaranya agar membunuhnya. Maka Mu’awiyah mengutus untuk menghadirkan Ibnu Mufarrigh. Ketika dia berdiri di hadapannya, dia menangis dan mengadu kepada Mu’awiyah tentang apa yang dilakukan Ubaidullah kepadanya. Maka Mu’awiyah berkata kepadanya: Sesungguhnya engkau telah menghina dia. Bukankah engkau yang mengatakan demikian? Bukankah engkau yang mengatakan demikian? Maka dia mengingkari bahwa dia telah mengatakan sesuatu dari hal itu, dan menyebutkan bahwa yang mengatakan hal itu adalah Abdurrahman bin Al-Hakam saudara Marwan, dan dia ingin menyandarkannya kepadaku.

Maka Mu’awiyah marah kepada Abdurrahman bin Al-Hakam dan mencegahnya dari pemberian hingga Ubaidullah bin Ziyad rida terhadapnya. Ibnu Mufarrigh melantunkan apa yang dia ucapkan di jalan tentang Mu’awiyah, dia berbicara kepada untanya:

Pergilah, tidak ada perintah Abbad atasmu Kau selamat dan ini kau bawa orang yang merdeka Demi umurku, sungguh kau menyelamatkanmu dari jurang kehancuran Seorang imam dan tali bagi manusia yang kokoh Aku akan berterima kasih atas nikmat baik yang telah diberikan Dan orang sepertiku bersyukur kepada pemberi nikmat adalah hal yang pantas

Maka Mu’awiyah berkata kepadanya: Adapun seandainya kamilah yang engkau hina, tidak akan ada hal seperti itu. Kemudian dia memberinya pilihan negeri mana yang paling dia sukai untuk tinggal di sana. Maka dia memilih Mausil, lalu dia mengirimnya ke sana. Kemudian dia meminta izin kepada Ubaidullah untuk datang ke Bashrah dan tinggal di sana. Maka dia mengizinkannya.

Kemudian Abdurrahman bin Al-Hakam berkendara menemui Ubaidullah untuk meminta ridanya. Maka dia rida terhadapnya. Abdurrahman melantunkan kepadanya:

Sungguh engkau adalah tambahan dalam keluarga Harb Lebih kucintai daripada salah satu jariku Aku melihatmu sebagai saudara, paman, dan anak paman Dan aku tidak tahu dengan yang gaib apa yang engkau lihat dariku

Maka Ubaidullah berkata kepadanya: Aku melihatmu demi Allah adalah penyair yang buruk. Kemudian dia rida terhadapnya, dan dikembalikan kepadanya apa yang telah dicegah dari pemberian.

Berkata Abu Ma’syar dan Al-Waqidi: Yang menghajikan manusia pada tahun ini adalah Utsman bin Muhammad bin Abi Sufyan. Wakil Madinah adalah Al-Walid bin Utbah bin Abi Sufyan. Atas Kufah adalah An-Nu’man bin Basyir dan qadinya adalah Syuraih. Atas Bashrah adalah Ubaidullah bin Ziyad dan qadinya adalah Hisyam bin Hubairah. Atas Khurasan adalah Abdurrahman bin Ziyad. Atas Sijistan adalah Abbad bin Ziyad. Atas Kirman adalah Syarik bin Al-A’war Al-Haritsi, dari pihak Ubaidullah bin Ziyad.

Penyebutan Orang-Orang Terkenal dan Tokoh-Tokoh yang Wafat pada Tahun Ini

Disebutkan oleh Ibnu Al-Jauzi bahwa yang wafat pada tahun ini adalah Usamah bin Zaid. Yang benar adalah sebelumnya sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Al-Huthaiah sang Penyair

Namanya adalah Jarwal bin Aus bin Malik bin Ju’ayyah bin Makhzum bin Malik bin Quthaiah bin Abs, Abu Mulaikah, sang penyair yang dijuluki Al-Huthaiah karena pendeknya. Dia merasakan masa Jahiliah, dan masuk Islam di masa Ash-Shiddiq. Dia sering menghina. Bahkan dikatakan: sesungguhnya dia menghina ayahnya, ibunya, pamannya dari pihak ibu, pamannya dari pihak ayah, dirinya sendiri, dan istrinya.

Di antara yang dia katakan tentang ibunya adalah ucapannya:

Menyingkirlah dan duduklah dariku dengan jauh Semoga Allah mengistirahatkan alam semesta darimu Apakah kau seperti ayakan jika dipercayakan rahasia Dan seperti tungku di atas orang-orang yang berbicara Semoga Allah membalasmu dengan keburukan dari nenek tua Dan semoga kau menemui kedurhakaan dari anak-anak

Dan dia berkata tentang ayahnya, pamannya dari pihak ayah, dan pamannya dari pihak ibu:

Semoga Allah melaknatmu kemudian melaknatmu dengan hak Wahai ayah, dan melaknat paman dan paman dari ibu Maka sebaik-baik orang tua engkau dalam kehinaan Dan seburuk-buruk orang tua engkau dalam kemuliaan

Di antara yang dia katakan tentang dirinya sendiri mencela dirinya:

Kedua bibirku hari ini menolak kecuali berbicara Dengan keburukan, maka aku tidak tahu untuk siapa aku mengatakannya Aku melihat bagi diriku wajah yang Allah burukkan penciptaannya Maka buruklah wajah dan buruklah yang membawanya

Orang-orang mengadu tentangnya kepada Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab, maka dia menghadirkannya dan memenjarakannya. Sebab hal itu adalah bahwa Az-Zibriqan bin Badr mengadukannya kepada Umar bahwa dia mengatakan kepadanya menghina dia:

Tinggalkanlah kemuliaan, jangan kau kendarai untuk mencarinya Dan duduklah, karena sesungguhnya engkau adalah orang yang makan dan berpakaian

Maka Umar berkata kepadanya: Aku tidak melihatnya menghinamu. Tidakkah kau rida bahwa kau menjadi orang yang makan dan berpakaian? Maka dia berkata: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya tidak ada hinaan yang lebih keras daripada ini. Maka Umar mengutus kepada Hassan bin Tsabit dan menanyakan hal itu kepadanya. Maka dia berkata: Wahai Amirul Mukminin, dia tidak menghinanya tetapi mencret kepadanya. Maka pada saat itu Umar memenjarakannya, dan berkata: Wahai orang jahat, aku akan menyibukkanmu dari kehormatan kaum muslimin.

Kemudian Amr bin Al-Ash memberi syafaat untuknya, maka dia mengeluarkannya, dan mengambil janji darinya agar tidak menghina orang-orang dan meminta taubatnya. Dikatakan: bahwa dia ingin memotong lidahnya, lalu orang-orang memberi syafaat untuknya hingga dia melepaskannya.

Dan berkata Az-Zubair bin Bakkar: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Adh-Dhahhak bin Utsman Al-Hazami, dari Abdullah bin Mush’ab, ia menceritakan kepadaku dari Rabi’ah bin Utsman, dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia berkata: Umar memerintahkan untuk mengeluarkan Al-Huthaiah dari penjara, dan Amru bin Al-Ash serta yang lainnya telah berbicara kepadanya mengenai hal itu. Maka ia dikeluarkan sementara aku hadir, lalu ia mulai membacakan syair:

Apa yang akan kamu katakan kepada anak-anak burung di Dzi Marakh Yang bulu-bulunya masih halus, tidak ada air dan tidak ada pohon Engkau telah meninggalkan pencari nafkah mereka di dasar kegelapan Maka kasihanilah, semoga engkau diberi petunjuk oleh Raja manusia, wahai Umar Engkaulah imam yang setelah sahabatnya Manusia menyerahkan kepadamu kunci-kunci akal Mereka tidak mengutamakanmu dengannya ketika mereka mendahulukanmu untuknya Tetapi karena untuk diri mereka sendiri, denganmu ada kebaikan Maka berilah anugerah kepada anak-anak kecil yang tempat tinggalnya di padang pasir Di antara lembah-lembah yang ditimpa takdir Diriku tebusan untukmu, betapa banyak antara aku dan mereka Padang belantara yang luas yang membuat orang yang berpengalaman bingung

Ia berkata: Maka ketika Al-Huthaiah mengucapkan: Apa yang akan kamu katakan kepada anak-anak burung di Dzi Marakh

Umar menangis. Maka Amru bin Al-Ash berkata: Tidak ada yang dinaungi langit biru dan tidak ada yang ditopang bumi coklat yang lebih adil dari seorang laki-laki yang menangis karena meninggalkan Al-Huthaiah. Kemudian ia menyebutkan bahwa ia ingin memotong lidah Al-Huthaiah agar ia tidak mencela orang-orang dengannya. Maka ia mendudukkannya di atas kursi, dan pisau cukur dibawa, lalu orang-orang berkata: Dia tidak akan mengulanginya wahai Amirul Mukminin. Dan mereka memberi isyarat kepadanya, katakan: Aku tidak akan mengulanginya. Maka Umar berkata kepadanya: Pergilah. Ketika ia berpaling, Umar berkata kepadanya: Kembalilah wahai Huthaiah. Maka ia kembali, lalu ia berkata kepadanya: Seakan-akan aku melihatmu di sisi seorang pemuda dari Quraisy yang telah membongkar untukmu sebuah bantal, dan membentangkan untukmu yang lain, dan berkata: Wahai Huthaiah, nyanyikan untuk kami. Maka engkau akan mulai menyanyikan untuknya dengan kehormatan orang-orang. Aslam berkata: Maka aku melihat Al-Huthaiah setelah itu di sisi Ubaidullah bin Umar dan ia telah membongkar untuknya sebuah bantal, dan membentangkan untuknya yang lain, dan berkata: Wahai Huthaiah, nyanyikan untuk kami. Maka Huthaiah mulai bernyanyi. Lalu aku berkata kepadanya: Wahai Huthaiah, apakah kamu ingat hari Umar ketika ia berkata kepadamu apa yang ia katakan? Maka ia terkejut dan berkata: Semoga Allah merahmati orang itu, seandainya ia masih hidup, kami tidak akan melakukan ini. Maka aku berkata kepada Ubaidullah: Sesungguhnya aku mendengar ayahmu berkata begini dan begitu, maka engkaulah orang itu.

Dan Az-Zubair berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Adh-Dhahhak, dari ayahnya, ia berkata: Umar berkata kepada Al-Huthaiah: Tinggalkanlah puisi. Ia berkata: Aku tidak mampu. Ia berkata: Mengapa? Ia berkata: Itu adalah makanan keluargaku, dan seperti semut di lidahku. Ia berkata: Maka tinggalkanlah pujian yang berlebihan. Ia berkata: Apa itu wahai Amirul Mukminin? Ia berkata: Engkau mengatakan: Bani Fulan lebih utama dari Bani Fulan. Pujilah tetapi jangan lebih-lebihkan. Maka ia berkata: Engkau lebih pandai bersyair dariku wahai Amirul Mukminin.

Dan di antara pujiannya yang bagus dan terkenal adalah ucapannya:

Kurangilah celaan kepada mereka, semoga tidak ada ayah bagi ayahmu Atau tutuplah tempat yang telah mereka tutup Mereka adalah kaumku, jika mereka membangun, mereka membuat bangunan yang baik Dan jika mereka berjanji, mereka menepati, dan jika mereka mengikat, mereka menguatkan Dan jika nikmat ada pada mereka, mereka membalas dengannya Dan jika mereka memberi nikmat, mereka tidak mengotorinya dan tidak menyusahkan

Mereka berkata: Dan ketika Al-Huthaiah sekarat, dikatakan kepadanya: Berwasiat. Maka ia berkata: Aku wasiatkan kalian dengan puisi. Kemudian ia berkata:

Puisi itu sulit dan panjang tangganya Jika naik di dalamnya orang yang tidak menguasainya Kakinya akan tergelincir ke jurang Dan puisi tidak dapat dikuasai oleh orang yang mendzaliminya Yang ingin men-ta’rib-kannya justru men-ajam-kannya

Abu Al-Faraj Ibnu Al-Jauzi berkata dalam “Al-Muntazham”: Al-Huthaiah meninggal pada tahun ini. Dan ia juga menyebutkan di dalamnya wafatnya Abdullah bin Amir bin Kuraiz. Dan telah disebutkan sebelumnya pada tahun sebelumnya.

Abdullah bin Malik bin Al-Qasyb

Dan namanya adalah Jundub bin Nadhlah bin Abdullah bin Rafi’ Al-Azdi, Abu Muhammad, sekutu Bani Al-Muththalib, yang dikenal dengan Ibnu Buhainah, dan itu adalah ibunya Buhainah binti Al-Arat, dan namanya adalah Al-Harits bin Al-Muththalib bin Abdul Manaf. Ia masuk Islam sejak dini, dan menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ia adalah seorang ahli ibadah yang banyak berpuasa dan shalat malam, dan ia termasuk orang yang berpuasa sepanjang masa.

Ibnu Sa’d berkata: Ia tinggal di Bathn Rim sejauh tiga puluh mil dari Madinah. Dan meninggal pada masa pemerintahan Marwan pada periode kedua, antara tahun lima puluh empat sampai lima puluh delapan. Yang mengherankan adalah bahwa Ibnu Al-Jauzi mengutip dari perkataan Muhammad bin Sa’d, kemudian ia menyebutkan wafatnya pada tahun ini, yaitu tahun lima puluh sembilan. Wallahu a’lam.

Qais bin Sa’d bin Ubadah Al-Anshari Al-Khazraji

Sahabat yang mulia seperti ayahnya. Ia memiliki hadits dalam “Ash-Shahihain”, yaitu tentang berdiri untuk jenazah. Dan ia memiliki hadits dalam “Al-Musnad” tentang puasa Asyura, dan hadits tentang mandi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah mereka, dan lainnya. Dan ia melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun.

Dan tetap dalam “Shahih Al-Bukhari” dari Anas, ia berkata: Qais bin Sa’d berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada kedudukan seperti kepala polisi dari amir. Dan ia membawa panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa peperangan, dan ia ditugaskan untuk mengumpulkan zakat. Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan bersamanya tiga ratus orang dari Muhajirin dan Anshar, mereka mengalami kesulitan yang besar. Maka Qais bin Sa’d menyembelih untuk mereka sembilan ekor unta, hingga mereka menemukan binatang itu di tepi laut, maka mereka makan darinya, dan tinggal di sana selama sebulan hingga mereka menjadi gemuk.

Dan Qais adalah seorang pemimpin yang ditaati, dermawan, terpuji, dan pemberani. Ali mengangkatnya sebagai gubernur Mesir, dan ia menandingi dengan kecerdikan, tipu daya, dan kebijakannya terhadap Mu’awiyah dan Amru bin Al-Ash. Dan Mu’awiyah terus berusaha terhadapnya hingga Ali memberhentikannya dari Mesir, dan mengangkat atasnya Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. Maka Mu’awiyah meremehkannya, dan terus bersiasat dengannya hingga ia mengambil Mesir darinya sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Dan Qais tinggal di sisi Ali, maka ia menyaksikan bersamanya Shiffin dan An-Nahrawan, dan menyertainya hingga ia terbunuh. Kemudian ia pergi ke Madinah. Maka ketika kata sepakat berkumpul pada Mu’awiyah, ia datang kepadanya untuk membaiatnya, sebagaimana sahabat-sahabatnya membaiatnya.

Abdur Razzaq berkata, dari Ibnu Uyainah, ia berkata: Qais bin Sa’d datang kepada Mu’awiyah untuk membaiatnya sebagaimana sahabat-sahabatnya membai’at. Maka Mu’awiyah berkata kepadanya: Dan kamu wahai Qais akan bergabung denganku dengan orang yang bergabung? Demi Allah, sungguh aku ingin agar kamu tidak datang pada hari ini kecuali telah ditimpa salah satu dari kuku-kukuku yang menyakitkan. Maka Qais berkata kepadanya: Dan aku demi Allah sungguh aku tidak suka berdiri di tempat ini dan memberikan salam ini kepadamu. Maka Mu’awiyah berkata kepadanya: Mengapa? Bukankah kamu hanya seorang pendeta dari pendeta-pendeta Yahudi? Maka Qais berkata kepadanya: Dan kamu wahai Mu’awiyah adalah sebuah berhala dari berhala-berhala jahiliah, kamu masuk Islam dengan terpaksa, dan keluar darinya dengan rela. Maka Mu’awiyah berkata: Ya Allah ampunilah, ulurkanlah tanganmu. Maka Qais bin Sa’d berkata kepadanya: Jika kamu mau aku akan menambah dan kamu akan menambah.

Dan Musa bin Uqbah berkata: Seorang wanita tua berkata kepada Qais: Aku mengadu kepadamu sedikitnya tikus. Maka Qais berkata: Betapa baiknya sindiran ini! Penuhilah rumahnya dengan roti, daging, minyak samin, dan kurma.

Dan yang lain berkata: Dan ia memiliki piring besar yang dibawa ke mana pun ia pergi, dan penyerunya memanggil untuknya: Kemarilah kepada daging dan tsarid. Dan ayahnya serta kakeknya sebelumnya juga melakukan seperti yang ia lakukan.

Dan Urwah bin Az-Zubair berkata: Qais bin Sa’d menjual kepada Mu’awiyah sebidang tanah seharga sembilan puluh ribu, lalu ia datang ke Madinah, dan penyerunya memanggil: Siapa yang ingin pinjaman maka datanglah. Maka ia meminjamkan darinya lima puluh ribu dan memberikan sisanya. Kemudian ia sakit setelah itu dan orang yang menjenguknya menjadi sedikit. Maka ia berkata kepada istrinya Qaribah binti Abu Atiq, saudara perempuan Abu Bakar Ash-Shiddiq: Sesungguhnya aku melihat sedikitnya orang yang menjengukku dalam sakitku ini, dan sesungguhnya aku melihat itu karena apa yang aku miliki atas orang-orang berupa pinjaman. Maka ia mengirim kepada setiap orang yang memiliki hutang kepadanya dengan suratnya yang tertulis di atasnya, lalu ia menghibahkan kepada mereka apa yang ia miliki atas mereka. Dan dikatakan: Sesungguhnya ia memerintahkan penyerunya lalu ia memanggil: Siapa yang memiliki hutang kepada Qais bin Sa’d maka ia dalam keadaan halal darinya. Maka tidak sampai sore hari kecuali ambang pintunya patah karena banyaknya orang yang menjenguk. Dan ia berkata: Ya Allah berilah aku harta dan perbuatan, karena sesungguhnya tidak baik perbuatan kecuali dengan harta.

Dan Sufyan Ats-Tsauri berkata: Seorang laki-laki meminjam dari Qais bin Sa’d tiga puluh ribu, maka ketika ia datang untuk melunasinya, Qais berkata kepadanya: Sesungguhnya kami adalah kaum jika memberi seseorang sesuatu, kami tidak mengambilnya kembali.

Dan Al-Haitsam bin Adi berkata: Tiga orang berselisih di dekat Ka’bah tentang orang paling dermawan pada zaman mereka. Maka salah satu dari mereka berkata: Abdullah bin Ja’far. Dan yang lain berkata: Qais bin Sa’d. Dan yang lain berkata: Arabah Al-Ausi. Maka mereka berdebat dalam hal itu hingga suara mereka tinggi di dekat Ka’bah. Maka seorang laki-laki berkata kepada mereka: Hendaklah setiap orang dari kalian pergi kepada temannya yang ia klaim bahwa ia lebih dermawan dari yang lain, lalu lihatlah apa yang ia berikan dan putuskanlah berdasarkan kenyataan. Maka pendukung Abdullah bin Ja’far pergi kepadanya, lalu ia mendapatinya telah meletakkan kakinya di sanggurdi hendak pergi ke perkebunannya. Maka ia berkata kepadanya: Wahai saudara sepupu Rasulullah, seorang musafir yang terputus perjalanannya. Ia berkata: Maka ia mengeluarkan kakinya dari sanggurdi dan berkata: Letakkan kakimu dan duduklah di atasnya, maka ia untukmu dengan apa yang ada padanya, dan ambillah apa yang ada di dalam tas, dan janganlah kamu tertipu dari pedang, karena sesungguhnya itu dari pedang-pedang Ali. Maka ia kembali kepada teman-temannya dengan unta yang besar, dan ternyata dalam tas itu ada empat ribu dinar, dan pakaian dari sutera dan lainnya, dan yang paling agung adalah pedang Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dan pendukung Qais bin Sa’d pergi kepadanya, lalu ia mendapatinya sedang tidur. Maka budak perempuan berkata kepadanya: Apa keperluanmu kepadanya? Ia berkata: Seorang musafir yang terputus perjalanannya. Ia berkata: Maka keperluanmu lebih mudah daripada membangunkannya, ini adalah kantong yang berisi tujuh ratus dinar, tidak ada di rumah Qais hari ini harta selain itu. Dan pergilah kepada tuanku di kandang unta, maka ambillah untukmu seekor unta dan seorang budak, dan pergilah dengan selamat. Maka ketika Qais bangun dari tidurnya, budak perempuan memberitahukan kepadanya apa yang ia lakukan. Maka ia memerdekakannya sebagai rasa syukur atas perbuatannya itu, dan berkata: Seharusnya kamu membangunkan aku sehingga aku memberinya apa yang cukup untuknya, mungkin apa yang kamu berikan itu tidak memenuhi keperluannya. Dan pendukung Arabah Al-Ausi pergi kepadanya, lalu ia mendapatinya telah keluar dari rumahnya hendak shalat, dan ia bersandar pada dua budak, dan penglihatannya telah hilang. Maka ia berkata kepadanya: Wahai Arabah. Ia berkata: Katakanlah. Ia berkata: Seorang musafir yang terputus perjalanannya. Ia berkata: Maka ia melepaskan dua budak itu lalu ia menepuk tangan kanannya pada tangan kirinya, kemudian berkata: Aduh aduh, demi Allah aku tidak pagi dan tidak sore dan telah meninggalkan hak-hak dari harta Arabah sesuatu, tetapi ambillah keduanya. Maksudnya kedua budak itu. Maka ia berkata: Aku tidak akan melakukannya. Ia berkata: Jika kamu tidak mengambilnya maka keduanya merdeka, maka jika kamu mau memerdekakan, dan jika kamu mau mengambil. Dan ia mulai meraba-raba dinding dengan tangannya. Ia berkata: Maka ia mengambilnya dan datang dengan keduanya. Ia berkata: Maka orang-orang memutuskan bahwa Ibnu Ja’far telah dermawan dengan harta yang besar, dan bahwa itu tidak mengherankan baginya, kecuali pedang itu yang paling agung. Dan bahwa Qais adalah salah satu orang dermawan; budak perempuannya memutuskan hartanya tanpa sepengetahuannya, dan ia memandang baik apa yang ia lakukan, dan memerdekakan budak perempuan itu dan apa yang ia ucapkan. Dan mereka sepakat bahwa yang paling dermawan dari ketiganya adalah Arabah Al-Ausi; karena ia berusaha dari yang sedikit.

Dan Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Amru, dari Abu Shalih, ia berkata: Sa’d bin Ubadah membagi hartanya di antara anak-anaknya, dan pergi ke Syam lalu meninggal di sana. Maka lahir untuknya seorang anak setelah wafatnya. Maka Abu Bakar dan Umar datang kepada Qais bin Sa’d lalu berkata: Sesungguhnya ayahmu telah membagi hartanya, dan tidak mengetahui keadaan anak ini ketika ia masih janin, maka bagilah untuknya bersama kalian. Maka Qais berkata: Sesungguhnya aku tidak akan mengubah apa yang Sa’d lakukan, tetapi bagiankupya untuknya. Dan diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Muhammad bin Sirin, lalu ia menyebutkannya. Dan diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Ibnu Juraij: telah memberitahukan kepadaku Atha’, lalu ia menyebutkannya.

Dan Ibnu Abi Khaitsaman berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, telah menceritakan kepada kami Mis’ar, dari Mu’abbad bin Khalid, ia berkata: Qais bin Sa’d selalu seperti ini, mengangkat jari telunjuknya. Yakni berdoa.

Dan Hisyam bin Ammar berkata: telah menceritakan kepada kami al-Jarrah bin Mulaih, telah menceritakan kepada kami Abu Rafi’, dari Qais bin Sa’d, ia berkata: Seandainya aku tidak mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tipu daya dan penipuan itu di neraka”, niscaya aku akan menjadi orang yang paling pandai menipu dari umat ini.

Dan az-Zuhri berkata: Para ahli tipu daya Arab ketika fitnah berkecamuk ada lima orang; Muawiyah dan Amr bin al-Ash, dan al-Mughirah bin Syu’bah, dan Qais bin Sa’d dan Abdullah bin Budail, dan keduanya (Qais dan Abdullah) bersama Ali, dan al-Mughirah menyendiri di Thaif hingga para hakam memutuskan, lalu ia bergabung dengan Muawiyah.

Dan telah disebutkan sebelumnya bahwa Muhammad bin Abi Hudzaifah telah menguasai Mesir, dan mengeluarkan darinya Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh, wakil Utsman setelah Amr bin al-Ash, lalu Ali membiarkannya di sana untuk waktu yang singkat, kemudian menggantikannya dengan Qais bin Sa’d. Ketika ia masuk ke Mesir, ia memimpin dengan kepemimpinan yang baik dan menguasainya, yaitu pada tahun tiga puluh enam. Maka hal ini memberatkan Muawiyah dan Amr bin al-Ash, lalu keduanya berkirim surat kepadanya agar bergabung dengan mereka melawan Ali, namun ia menolak, dan ia menampakkan kepada orang-orang kesetiaannya kepada keduanya. Maka kabar tersebut tersebar hingga sampai kepada Ali, lalu ia memecatnya, dan mengutus ke Mesir al-Asytar an-Nakha’i. Namun al-Asytar meninggal di Ramlah sebelum sampai ke sana, maka Ali mengutus Muhammad bin Abi Bakar. Hal ini meringankan beban Muawiyah dan Amr, lalu keduanya terus berusaha hingga mereka mengambil negeri Mesir, dan Muhammad bin Abi Bakar terbunuh dan dibakar dalam bangkai keledai. Qais pergi ke Madinah kemudian pergi ke Ali di Kufah, dan ia bersama Ali dalam perang-perangnya hingga Ali terbunuh, kemudian ia menjadi pemimpin pasukan Hasan. Ketika Hasan berbaiat dengan Muawiyah, hal itu menyedihkan Qais, dan ia menolak untuk taat kepada Muawiyah, kemudian ia pergi ke Madinah lalu datang kepada Muawiyah dalam rombongan dari Anshar, lalu ia berbaiat dengan Muawiyah setelah saling menegur dengan kata-kata yang kasar, kemudian Muawiyah memuliakannya dan mendahulukannya dan ia mendapat kedudukan di sisinya. Ketika ia bersama rombongan-rombongan lain di sisi Muawiyah, tiba-tiba datanglah surat dari raja Romawi kepada Muawiyah, dan di dalamnya: Kirimkan kepadaku celana orang Arab yang paling tinggi. Maka Muawiyah berkata kepada Qais: Aku tidak menyangka kecuali kita membutuhkan celanamu. Dan Qais sangat tinggi tubuhnya, orang yang paling tinggi sekalipun tidak sampai ke dadanya. Maka Qais berdiri dan menyingkir, kemudian melepas celananya dan melemparkannya kepada Muawiyah. Maka Muawiyah berkata kepadanya: Semoga Allah merahmatimu, aku tidak bermaksud seperti ini, mengapa tidak pergi ke rumahmu kemudian mengirimkannya kepada kami. Maka Qais mengucapkan pada saat itu:

Aku sengaja melakukan itu agar orang-orang tahu bahwa itu adalah celana Qais dan rombongan-rombongan menjadi saksi Dan agar mereka tidak berkata Qais tidak hadir dan ini celana orang biasa yang dianggap dari suku Tsamud Dan aku adalah pemimpin dari kaum Yamani dan tidaklah manusia itu kecuali pemimpin dan yang dipimpin Maka tipulah mereka dengan orang sepertiku, karena sesamaku bagi mereka sangat kuat dan tubuhku di antara manusia lebih besar Dan kelebihanku di antara manusia adalah asal-usulku dan orang tuaku dan dengan hal itu aku mengungguli orang-orang, bentuk tubuhku panjang

Ia berkata: Maka Muawiyah memerintahkan orang yang paling tinggi di antara rombongan, lalu ia meletakkannya di hidungnya dan jatuh ke tanah.

Dan dalam riwayat bahwa raja Romawi mengutus kepada Muawiyah dua orang dari tentaranya, ia mengklaim bahwa salah satunya adalah orang Romawi yang paling kuat, dan yang lain adalah orang Romawi yang paling tinggi. Jika di tentaramu ada yang melebihi keduanya dalam kekuatan yang ini dan tinggi yang ini, aku akan mengutus kepadamu dari para tawanan sekian dan sekian dan dari hadiah-hadiah sekian dan sekian, dan jika tidak ada di tentaramu yang seperti keduanya, maka buatlah perjanjian damiku selama tiga tahun. Ketika keduanya hadir di sisi Muawiyah, ia berkata: Siapa yang untuk orang kuat ini? Maka mereka berkata: Tidak ada untuknya kecuali salah satu dari dua orang; Muhammad bin al-Hanafiyyah atau Abdullah bin az-Zubair. Maka Muhammad bin al-Hanafiyyah didatangkan, ia adalah anak Ali bin Abi Thalib. Ketika orang-orang berkumpul di sisi Muawiyah, Muawiyah berkata kepadanya: Apakah kamu tahu untuk apa aku mengutus kepadamu? Ia berkata: Tidak. Maka ia menceritakan kepadanya tentang orang Romawi dan kekuatan perkasanya. Maka ia berkata kepadanya: Apa yang engkau inginkan? Ia berkata: Engkau duduk untukku atau aku duduk untukmu, dan engkau berikan tanganmu kepadaku atau aku berikan tanganku kepadamu, maka siapa di antara kita yang mampu membuat yang lain berdiri dari tempatnya, maka ia mengalahkannya, dan jika tidak, maka ia telah kalah. Maka ia berkata kepadanya: Apa yang kamu inginkan; engkau duduk atau aku duduk? Maka orang Romawi berkata kepadanya: Engkau yang duduk. Maka Muhammad bin al-Hanafiyyah duduk dan memberikan tangannya kepada orang Romawi. Orang Romawi berusaha dengan segala kekuatan yang ia mampu untuk menggesernya dari tempatnya atau menggerakkannya untuk membuatnya berdiri, namun ia tidak mampu melakukan itu, dan tidak menemukan jalan ke sana. Maka orang Romawi kalah pada saat itu, dan tampak bagi rombongan yang bersamanya dari negeri Romawi bahwa ia telah kalah. Kemudian Muhammad bin al-Hanafiyyah berdiri, lalu berkata kepada orang Romawi: Duduklah untukku. Maka ia duduk dan memberikan tangannya kepada Muhammad. Tidak lama kemudian ia membuatnya berdiri dengan cepat, dan mengangkatnya di udara, kemudian melemparkannya ke tanah. Maka Muawiyah bergembira dengan itu sangat gembira. Dan Qais bin Sa’d bangkit, lalu menyingkir dari orang-orang, kemudian melepas celananya dan memberikannya kepada orang Romawi yang tinggi itu. Ia memakainya dan mencapai dadanya dan ujung-ujungnya menyeret di tanah. Maka orang-orang Romawi mengakui kekalahan, dan raja mereka mengirimkan apa yang telah dijanjikannya kepada Muawiyah. Dan para Anshar menegur Qais bin Sa’d karena melepas celananya di hadapan orang-orang, maka ia mengucapkan syair yang telah disebutkan tadi sebagai permintaan maaf kepada mereka, dan agar hal itu menjadi lebih mengikat bagi hujjah yang tegak atas orang-orang Romawi, dan lebih memutuskan apa yang mereka coba lakukan.

Dan al-Humaidi meriwayatkannya, dari Sufyan bin Uyainah, dari Amr bin Dinar, ia berkata: Qais bin Sa’d adalah seorang lelaki yang besar dan gemuk, kepalanya kecil, ia memiliki jenggot di dagunya, dan jika ia mengendarai keledai, kedua kakinya menyeret di tanah.

Dan al-Waqidi dan Khalifah bin Khayyath dan selain keduanya berkata: Ia meninggal di Madinah pada akhir kekhalifahan Muawiyah. Dan Ibnu al-Jauzi menyebutkan wafatnya pada tahun ini, maka kami mengikutinya dalam hal itu.

Ma’qil bin Yasar al-Muzani

Sahabat yang mulia, ia menyaksikan Hudaibiyah dan dialah yang mengangkat dahan-dahan pohon dari wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau membai’at orang-orang di bawahnya, dan pohon itu dari pohon samur, dan ia adalah pohon yang disebutkan dalam al-Quran dalam firman Allah Ta’ala: Sungguh, Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berbai’at kepadamu di bawah pohon (al-Fath: 18). Dan Umar telah mengangkatnya sebagai gubernur Bashrah, maka ia menggali di sana sungai yang dinisbahkan kepadanya, maka dikatakan: sungai Ma’qil. Dan ia memiliki rumah di sana.

Al-Hasan al-Bashri berkata: Ubaidullah bin Ziyad masuk menjenguk Ma’qil bin Yasar dalam sakitnya yang menyebabkan ia meninggal. Maka Ma’qil berkata kepadanya: Sesungguhnya aku akan menceritakan kepadamu hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seandainya aku tidak dalam keadaanku ini, aku tidak akan menceritakannya kepadamu. Aku mendengar beliau bersabda: Barangsiapa yang Allah memintanya mengurus rakyat kemudian ia tidak menjaganya dengan nasihat, ia tidak akan mencium aroma surga, padahal aromanya dapat tercium dari jarak seratus tahun perjalanan.

Dan di antara orang yang meninggal pada tahun ini

Abu Hurairah ad-Dausi radhiyallahu ‘anhu

Dan telah diperselisihkan tentang namanya pada masa Jahiliyah dan Islam serta nama ayahnya atas beberapa pendapat yang banyak, telah kami jelaskan kebanyakannya dalam kitab kami “at-Takmil”, dan telah dijelaskan secara panjang lebar oleh al-Hafizh Ibnu Asakir dalam “Tarikhnya”. Dan yang paling masyhur bahwa namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr, dan ia dari Azd, kemudian dari Daus. Dan dikatakan: Namanya pada masa Jahiliyah adalah Abd Syams. Dan dikatakan: Abd Nahm. Dan dikatakan: Abd Ghanm. Dan dikunyah dengan Abu al-Aswad, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menamakannya Abdullah. Dan dikatakan: Abdurrahman. Dan mengkunyahkannya dengan Abu Hurairah.

Dan diriwayatkan darinya bahwa ia berkata: Aku menemukan kucing liar, lalu aku mengambil anak-anaknya. Maka ayahku berkata kepadaku: Apa ini di pangkuanmu? Maka aku mengabarinya. Ia berkata: Engkau adalah Abu Hurairah. Dan tsabit dalam “ash-Shahih” bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: Wahai Abu Hirr. Dan tsabit bahwa beliau berkata kepadanya: Wahai Abu Hurairah.

Muhammad bin Sa’d dan Ibnu al-Kalbi dan ath-Thabrani berkata: Dan nama ibunya adalah Maimunah binti Shabih bin al-Harits bin Abi Sha’b bin Huniyyah bin Sa’d bin Tsa’labah. Ia masuk Islam dan meninggal sebagai muslimah.

Dan Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam banyak hal yang baik, dan ia termasuk para hafizh sahabat, dan ia meriwayatkan dari Abu Bakar, dan Umar, dan Ubay bin Ka’b, dan Usamah bin Zaid, dan Bashrah bin Abi Bashrah, dan al-Fadhl bin Abbas, dan Ka’b al-Ahbar, dan Aisyah Ummul Mukminin. Dan telah meriwayatkan darinya banyak ahli ilmu, telah kami sebutkan mereka tersusun atas huruf-huruf mu’jam dalam “at-Takmil”, sebagaimana syaikh kami menyebutkan mereka dalam “Tahdzibnya”.

Al-Bukhari berkata: Telah meriwayatkan darinya sekitar delapan ratus orang atau lebih dari ahli ilmu, dari kalangan sahabat dan tabi’in dan selain mereka. Dan Amr bin Ali al-Fallas berkata: Ia tinggal di Madinah, dan keislamannya adalah pada tahun Khaibar. Al-Waqidi berkata: Dan ia memiliki rumah di Dzul Hulaifah. Dan selainnya berkata: Ia berkulit sawo matang, jarak antara kedua pundaknya jauh, memiliki dua kepangan, kedua gigi depannya terpisah.

Dan Abu Dawud ath-Thayalisi dan selain keduanya berkata, dari Abu Khaldah Khalid bin Dinar, dari Abu al-Aliyah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Ketika aku masuk Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Dari mana engkau? Aku berkata: Dari Daus. Maka beliau meletakkan tangannya di dahinya dan berkata: Aku tidak menyangka bahwa di Daus ada orang yang memiliki kebaikan.

Dan az-Zuhri berkata, dari Sa’id, dari Abu Hurairah, ia berkata: Aku menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Khaibar.

Dan Abdurrazzaq meriwayatkan, dari Sufyan bin Uyainah, dari Ismail, dari Qais, ia berkata: Abu Hurairah berkata: Aku datang pada hari Khaibar setelah mereka selesai dari pertempuran.

Dan Ya’qub bin Sufyan berkata: telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abi Maryam, telah menceritakan kepada kami ad-Darawardi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Khutsaim bin Irak bin Malik, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan mengangkat sebagai khalifah di Madinah Siba’ bin Urfuthah. Abu Hurairah berkata: Dan aku datang ke Madinah sebagai muhajir, lalu aku shalat Subuh di belakang Siba’, ia membaca dalam sujud pertama surah “Maryam”, dan di yang kedua “Wailul lil muthaffifin”. Abu Hurairah berkata: Maka aku berkata dalam diriku: Celakalah Abu Fulan. Untuk seorang lelaki yang ada di tanah Azd, ia memiliki dua takaran; satu takaran ia pakai untuk mengukur untuk dirinya sendiri, dan satu takaran ia pakai untuk mengurangi hak orang-orang.

Dan telah tsabit dalam “Shahih al-Bukhari” bahwa budaknya hilang pada malam yang pada paginya ia bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bahwa ia terus mencari dengan mengucapkan:

Wahai malam karena panjangnya dan susahnya, namun ia selamat dari negeri kekafiran

Ketika ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata kepadanya: Ini budakmu. Maka ia berkata: Ia merdeka karena wajah Allah Azza wa Jalla.

Dan Abu Hurairah senantiasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah keislamannya, ia tidak pernah berpisah darinya dalam keadaan mukim maupun safar, dan ia sangat bersemangat untuk mendengar hadits darinya, dan belajar darinya, dan ia senantiasa bersamanya dengan perut yang kenyang.

Dan Abu Hurairah berkata – dan ia pernah membuang ingus pada suatu hari di bajunya dari kain linen -: Bakh bakh, Abu Hurairah membuang ingus di kain linen! Sungguh aku pernah melihat diriku jatuh di antara mimbar dan hujrah karena lapar, maka orang yang lewat berkata: Ia gila. Padahal tidak ada padaku kecuali lapar. Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, sungguh aku pernah bertumpu dengan hatiku di tanah karena lapar, dan aku mengikat batu di perutku karena lapar, dan sungguh aku pernah meminta seseorang membacakan ayat padahal aku lebih tahu ayat itu darinya, tidaklah yang aku maksud kecuali agar ia mengajakku ke rumahnya lalu memberi makan sesuatu kepadaku. Dan ia menyebutkan hadits susu bersama Ahlush Shuffah, sebagaimana telah kami sebutkan dalam dalail-dalail kenabian.

Dan Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar, telah menceritakan kepadaku Abu Katsir, yaitu Yazid bin Abdurrahman bin Udzainah as-Suhaimi al-A’ma, telah menceritakan kepadaku Abu Hurairah dan ia berkata kepada kami: Demi Allah, tidaklah Allah menciptakan seorang mukmin yang mendengar tentangku atau tidak melihatku kecuali ia mencintaiku. Kami berkata: Dan apa yang membuatmu tahu tentang itu wahai Abu Hurairah? Ia berkata: Sesungguhnya ibuku adalah seorang wanita musyrik, dan aku terus mengajaknya kepada Islam dan ia terus menolakku. Maka aku mengajaknya pada suatu hari, lalu ia mengatakan kepadaku tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hal yang aku tidak suka. Maka aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku menangis, lalu aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengajak ibuku kepada Islam namun ia menolakku, dan aku telah mengajaknya hari ini maka ia mengatakan kepadaku tentang engkau hal yang aku tidak suka, maka berdoalah kepada Allah agar Dia memberi hidayah kepada ibu Abu Hurairah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah. Maka aku keluar dengan berlari memberitahunya doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika aku sampai di pintu, ternyata pintu tertutup, dan aku mendengar suara percikan air, dan aku mendengar suara langkah kaki – yakni bunyi langkahnya – maka ia berkata: Wahai Abu Hurairah, tunggu sebentar. Kemudian ia membuka pintu, dan ia telah memakai bajunya dan tergesa-gesa dengan kerudungnya. Maka ia berkata: Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Maka aku kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku menangis karena kegembiraan sebagaimana aku menangis karena kesedihan. Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, bergembiralah, karena Allah telah mengabulkan doamu, dan telah memberi hidayah kepada ibu Abu Hurairah. Dan aku berkata: Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku dan ibuku dicintai oleh hamba-hamba-Nya yang mukmin dan Dia menjadikan mereka dicintai oleh kami. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini dan ibunya dicintai oleh hamba-hamba-Mu yang mukmin, dan jadikanlah mereka dicintai oleh keduanya. Abu Hurairah berkata: Maka tidaklah Allah menciptakan seorang mukmin yang mendengar tentangku atau tidak melihatku atau melihat ibuku kecuali ia mencintaiku. Dan telah meriwayatkannya Muslim, dari hadits Ikrimah bin Ammar dengan sanadnya sepertinya.

Dan hadits ini termasuk dalail kenabian, karena Abu Hurairah dicintai oleh seluruh manusia, dan Allah telah menyebar-luaskan penyebutan namanya dengan apa yang telah ditakdirkan dari penyampaian kabar ini tentang dirinya, yang ia riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mendengarkan pada hari Jumat ketika khutbah, di hadapan orang-orang di majelis-majelis yang banyak dan beragam di seluruh negeri. Dan ini adalah takdir Allah dan dimudahkan dari penyebar-luasan penyebutan namanya, dan kecintaan manusia kepadanya, radhiyallahu ‘anhu.

Hisyam bin Ammar berkata: Telah menceritakan kepada kami Said, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja’far, dari Al-Maqburi, dari Salim maula bani Nashriyin, bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Muhammad hanyalah manusia biasa, aku marah sebagaimana manusia biasa marah, dan sesungguhnya aku telah mengambil perjanjian di sisi-Mu yang tidak akan Engkau ingkari kepadaku, maka siapa saja lelaki muslim yang aku sakiti atau aku caci atau aku pukul, maka jadikanlah itu sebagai kebaikan yang mendekatkannya kepada-Mu pada hari kiamat.” Abu Hurairah berkata: Sungguh pada suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengangkat cambuk kepadaku untuk memukulku dengannya, seandainya beliau memukulku dengan cambuk itu lebih aku sukai daripada unta-unta merah; karena sesungguhnya aku berharap aku adalah seorang mukmin, dan agar doa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dikabulkan.

Ibnu Abi Dzi’b berkata, dari Said Al-Maqburi, dari Abu Hurairah ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar darimu hadits yang banyak tetapi aku lupa.” Maka beliau bersabda: “Bentangkan selendangmu.” Maka aku membentangkannya, kemudian beliau bersabda: “Kumpulkanlah.” Maka aku mengumpulkannya, dan aku tidak pernah lupa hadits setelah itu. Diriwayatkan oleh Bukhari.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Az-Zuhri, dari Abdurrahman Al-A’raj ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Sesungguhnya kalian mengira bahwa Abu Hurairah memperbanyak hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Allah adalah tempat kembali, sesungguhnya aku adalah seorang lelaki miskin, aku menemani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mengisi perutku, sedangkan kaum Muhajirin disibukkan dengan berdagang di pasar-pasar, dan kaum Anshar disibukkan dengan mengurus harta mereka, maka aku menghadiri majelis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Barangsiapa membentangkan selendangnya hingga aku selesai berbicara kemudian ia mengumpulkannya kepadanya, maka ia tidak akan lupa sesuatu pun yang didengarnya dariku.” Maka aku membentangkan kain yang ada padaku hingga beliau selesai berbicara, kemudian aku mengumpulkannya kepadaku, maka demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya aku tidak lupa sesuatu pun yang aku dengar darinya. Dan telah meriwayatkannya Ibnu Wahb, dari Yunus, dari Az-Zuhri, dari Said bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dan hadits ini memiliki jalur-jalur lain darinya. Dan telah dikatakan: Sesungguhnya ini khusus untuk pembicaraan tertentu itu saja, ia tidak lupa sesuatu pun darinya, dengan dalil bahwa ia lupa sebagian hadits sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam Shahih, yaitu ketika ia lupa hadits: “Tidak ada penularan penyakit dan tidak ada sial” bersama haditsnya “Janganlah yang sakit dicampurkan dengan yang sehat.” Dan dikatakan: Sesungguhnya ini berlaku umum untuk pembicaraan itu dan yang lainnya. Wallahu a’lam.

Ad-Darawardi berkata, dari Amr bin Abi Amr, dari Said Al-Maqburi, dari Abu Hurairah bahwa ia berkata: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling beruntung dengan syafa’atmu pada hari kiamat? Maka beliau bersabda: “Sungguh aku sangka wahai Abu Hurairah tidak ada seorang pun yang bertanya kepadaku tentang hadits ini lebih dahulu darimu; karena apa yang aku lihat dari semangatmu terhadap hadits, sesungguhnya manusia yang paling beruntung dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan: Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari jiwanya.” Dan Bukhari meriwayatkannya dari hadits Amr bin Abi Amr dengannya. Ibnu Abi Dzi’b berkata, dari Said Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, bahwa ia berkata: Aku telah menghafal dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dua wadah, adapun yang satu telah aku sebarkan kepada manusia, dan adapun yang lain jika aku sebarkan niscaya leher ini akan dipotong. Dan Bukhari meriwayatkannya dari hadits Ibnu Abi Dzi’b, dan diriwayatkan oleh lebih dari satu orang, dari Abu Hurairah.

Dan wadah yang tidak ia tampakkan ini adalah tentang fitnah dan peperangan besar, dan apa yang terjadi di antara manusia dari peperangan dan pembunuhan dan apa yang akan terjadi, yang jika ia mengabarkannya sebelum terjadi maka banyak dari manusia akan bersegera mendustakannya, dan mereka akan menolak apa yang ia kabarkan dari kebenaran, sebagaimana ia berkata: Jika aku mengabarkan kepada kalian bahwa kalian akan membunuh pemimpin kalian dan kalian akan saling bunuh di antara kalian dengan pedang maka kalian tidak akan membenarkanku. Dan hadits ini mungkin dijadikan pegangan oleh kelompok-kelompok dari ahli hawa nafsu dan bid’ah yang batil, dan amalan-amalan yang rusak, dan mereka menyandarkan itu kepada kantong ini yang tidak dikatakan oleh Abu Hurairah, dan mereka meyakini bahwa apa yang mereka yakini ada dalam kantong ini yang tidak diceritakan oleh Abu Hurairah, dan tidak ada orang yang membuat kebatilan – dengan bertentangannya ucapan dan perbuatan mereka – melainkan mengklaim sesuatu dari ini, dan semuanya mereka berdusta, maka jika Abu Hurairah tidak mengabarkannya maka siapa yang mengetahuinya setelahnya?! Dan sesungguhnya yang di dalamnya ada sesuatu tentang fitnah dan peperangan besar telah diceritakan olehnya dan oleh selain dia dari para sahabat, sebagaimana yang telah kami sebutkan dan yang akan kami sebutkan dalam kitab Al-Fitan wal-Malahim.

Hammad bin Zaid berkata: Telah menceritakan kepada kami Amr bin Ubaid Al-Anshari, telah menceritakan kepada kami Abu Az-Za’za’ah sekretaris Marwan bin Al-Hakam bahwa Marwan memanggil Abu Hurairah – dan mendudukkannya di belakang dipan – dan Marwan terus bertanya dan aku terus menulis, hingga ketika sudah setahun ia memanggilnya – dan mendudukkannya dari balik tirai – maka ia terus bertanya tentang tulisan itu, maka ia tidak menambah dan tidak mengurangi, dan tidak mendahulukan dan tidak mengakhirkan.

Abu Bakar bin Ayyasy dan yang lain meriwayatkan, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih ia berkata: Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan ia bukan yang paling utama dari mereka. Ar-Rabi’ berkata: Asy-Syafi’i berkata: Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal yang meriwayatkan hadits di zamannya.

Abu Al-Qasim Al-Baghawi berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Khaitsamah, telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Said bin Abdul Aziz, dari Makhul ia berkata: Manusia berjanji pada suatu malam dari malam-malam di salah satu kubah Mu’awiyah, maka mereka berkumpul di dalamnya, lalu Abu Hurairah berdiri menceritakan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga pagi.

Sufyan bin Uyainah berkata, dari Ma’mar, dari Wahb bin Munabbih, dari saudaranya Hammam bin Munabbih ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang lebih banyak hadits darinya selain aku, kecuali Abdullah bin Amr; karena ia menulis sedangkan aku tidak menulis.

Abu Zur’ah Ad-Dimasyqi berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Zur’ah Ar-Ru’aini, telah menceritakan kepada kami Marwan bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Said bin Abdul Aziz, dari Ismail bin Ubaidillah, dari As-Saib bin Yazid ia berkata: Aku mendengar Umar bin Al-Khaththab berkata kepada Abu Hurairah: Hendaklah kamu meninggalkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atau aku akan membawamu ke negeri Daus. Dan ia berkata kepada Ka’b Al-Ahbar: Hendaklah kamu meninggalkan hadits atau aku akan membawamu ke negeri kera. Abu Zur’ah berkata dan aku telah mendengar Abu Mushar menyebutkannya dari Said bin Abdul Aziz seperti itu, dan ia tidak menyebutkan sanadnya. Dan ini dipahami dari Umar bahwa ia khawatir dari hadits-hadits yang orang-orang letakkan pada bukan tempatnya, dan bahwa mereka akan mengandalkan apa yang ada di dalamnya dari hadits-hadits keringanan, atau bahwa seseorang jika memperbanyak hadits terkadang terjadi dalam haditsnya sebagian kekeliruan atau kesalahan lalu manusia mengambilnya darinya, atau yang semacam itu.

Dan telah datang bahwa Umar mengizinkannya setelah itu dalam menceritakan hadits, maka Musaddad berkata: Telah menceritakan kepada kami Khalid Ath-Thahhan, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ubaidillah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah ia berkata: Sampai kepada Umar hadits-haditsiku, maka ia mengirim utusanku lalu berkata: Apakah kamu bersama kami pada hari ketika kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di rumah fulan? Ia berkata: Aku berkata: Ya, dan sungguh aku tahu mengapa engkau bertanya kepadaku tentang itu. Ia berkata: Mengapa aku bertanya kepadamu? Aku berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda pada hari itu: “Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja maka hendaklah ia menempati tempatnya dari neraka.” Ia berkata: Adapun untukku maka pergilah dan ceritakanlah hadits.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid – yaitu Ibnu Ziyad – telah menceritakan kepada kami Ashim bin Kulaib, telah menceritakan kepadaku ayahku ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata – dan ia biasa memulai haditsnya dengan mengatakan: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, Abul Qasim yang benar lagi dibenarkan -: “Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja maka hendaklah ia menempati tempatnya dari neraka.” Dan diriwayatkan seperti itu dari jalur lain darinya.

Ibnu Wahb berkata: Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Ayyub, dari Muhammad bin Ajlan, bahwa Abu Hurairah biasa berkata: Sesungguhnya aku menceritakan hadits-hadits yang jika aku berbicara dengannya di zaman Umar – atau di hadapan Umar – niscaya ia akan membelah kepalaku.

Shalih bin Abi Al-Akhdar berkata, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, aku mendengar Abu Hurairah berkata: Kami tidak mampu mengatakan: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, hingga Umar meninggal.

Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri ia berkata: Umar berkata: Sedikitlah periwayatan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kecuali untuk apa yang diamalkan dengannya. Ia berkata: Kemudian Abu Hurairah berkata: Apakah aku akan menceritakan kepada kalian hadits-hadits ini sedangkan Umar masih hidup?! Adapun demi Allah sungguh aku yakin bahwa cambuk pasti akan menyentuh punggungku.

Maka sesungguhnya Umar biasa berkata: Sibukkan diri dengan Al-Quran, karena sesungguhnya Al-Quran adalah kalam Allah. Oleh karena itu ketika ia mengutus Abu Musa ke Irak ia berkata kepadanya: Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum yang di masjid-masjid mereka ada dengungan dengan Al-Quran seperti dengungan lebah, maka biarkanlah mereka atas apa yang mereka lakukan, dan jangan sibukkan mereka dengan hadits-hadits, dan aku adalah sekutumu dalam hal itu. Dan ini dikenal dari Umar, radhiyallahu anhu.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Ya’la bin Atha’, dari Al-Walid bin Abdurrahman, dari Ibnu Umar, bahwa ia melewati Abu Hurairah sedangkan ia sedang menceritakan hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa mengikuti jenazah lalu menshalatkannya maka baginya pahala satu qirath, maka jika ia menyaksikan pemakamannya maka baginya dua qirath, satu qirath lebih besar dari Uhud.” Maka Ibnu Umar berkata kepadanya: Wahai Abu Hurairah, perhatikanlah apa yang engkau ceritakan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka Abu Hurairah berdiri kepadanya hingga ia pergi bersamanya kepada Aisyah, lalu ia berkata kepadanya: Wahai Ummul Mukminin, aku memohon kepadamu demi Allah apakah engkau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengikuti jenazah lalu menshalatkannya maka baginya pahala satu qirath, maka jika ia menyaksikan pemakamannya maka baginya dua qirath?” Maka ia berkata: Allahumma ya. Maka Abu Hurairah berkata: Sesungguhnya tidak menyibukkanku dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menanam kurma dan tidak berdagang di pasar-pasar, sesungguhnya aku hanya mencari dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebuah kalimat yang beliau ajarkan kepadaku, atau makanan yang beliau berikan kepadaku. Maka Ibnu Umar berkata kepadanya: Engkau wahai Abu Hurairah adalah orang yang paling lekat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan paling mengetahui haditsnya dari kami.

Al-Waqidi berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Nafi’, dari ayahnya ia berkata: Aku bersama Ibnu Umar dalam jenazah Abu Hurairah dan ia berjalan di depannya dan memperbanyak doa rahmat untuknya, dan berkata: Ia adalah termasuk orang yang menjaga hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bagi kaum muslimin.

Dan telah diriwayatkan bahwa Aisyah menta’wilkan hadits-hadits yang banyak dari Abu Hurairah, dan menganggapnya keliru dalam sebagiannya. Dan dalam Shahih bahwa ia mencela dia karena meriwayatkan hadits secara terus-menerus, yaitu memperbanyaknya dalam satu waktu.

Abu Al-Qasim Al-Baghawi berkata: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al-Walid Al-Kindi, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Said, dari Said, bahwa Aisyah berkata kepada Abu Hurairah: Engkau memperbanyak hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wahai Abu Hurairah. Ia berkata: Sesungguhnya aku demi Allah tidak menyibukkanku darinya celak mata dan pacar, tetapi aku melihat itu yang menyibukkanmu dari banyaknya haditsiku. Ia berkata: Mungkin.

Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim Asy-Syami, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Abu Rafi’, bahwa seorang lelaki dari Quraisy mendatangi Abu Hurairah dengan mengenakan pakaian yang ia banggakan dengannya, maka ia berkata: Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya engkau memperbanyak hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka apakah engkau mendengarnya mengatakan sesuatu tentang pakaianku ini? Ia berkata: Demi Allah sesungguhnya kalian benar-benar menyakiti kami, seandainya bukan karena apa yang Allah ambil perjanjian kepada Ahli Kitab agar mereka menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya maka aku tidak akan menceritakan sesuatu kepada kalian, aku mendengar Abul Qasim shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang lelaki dari orang-orang sebelum kalian ketika ia sedang berbanggaan dengan pakaian tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi, maka ia terbenam di dalamnya hingga hari kiamat.” Maka demi Allah aku tidak tahu mungkin ia dari kaummu atau dari kerabatmu. Abu Ya’la ragu.

Muhammad bin Sa’d berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Umar, telah menceritakan kepadaku Katsir bin Zaid, dari Al-Walid bin Rabah ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata kepada Marwan: Demi Allah engkau bukan penguasa, dan sesungguhnya penguasa adalah selain engkau maka biarkanlah – yaitu ketika mereka ingin menguburkan Hasan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam – tetapi engkau masuk dalam apa yang tidak mengenaimu, sesungguhnya engkau hanya ingin dengan ini memuaskan orang yang tidak hadir darimu, yaitu Mu’awiyah. Ia berkata: Maka Marwan menghadapinya dengan marah, lalu berkata: Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya manusia telah berkata: Sesungguhnya engkau memperbanyak hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sesungguhnya engkau datang sebelum wafat Nabi shallallahu alaihi wasallam hanya sebentar. Maka Abu Hurairah berkata: Ya, aku datang demi Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang di Khaibar tahun tujuh, dan aku pada waktu itu telah lebih dari tiga puluh tahun beberapa tahun, dan aku tinggal bersamanya hingga beliau wafat, aku berkeliling bersamanya di rumah-rumah istri-istrinya dan aku melayaninya, dan aku demi Allah pada waktu itu miskin, dan aku shalat di belakangnya dan berperang dan berhaji bersamanya, maka aku demi Allah adalah orang yang paling mengetahui manusia tentang haditsnya, sungguh demi Allah telah mendahului aku suatu kaum – dengan persahabatan dengan beliau dan hijrah – dari Quraisy dan Anshar, maka mereka mengetahui kelekatanku dengannya, lalu mereka bertanya kepadaku tentang haditsnya, di antara mereka Umar dan Utsman dan Ali dan Thalhah dan Zubair, maka tidak demi Allah tersembunyi dariku setiap peristiwa yang terjadi di Madinah, dan setiap orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan setiap orang yang memiliki kedudukan di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan setiap sahabatnya, maka Abu Bakar adalah sahabatnya di gua, dan yang lain telah dikeluarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Madinah agar tidak tinggal bersamanya. Ia menyindir ayah Marwan yaitu Al-Hakam bin Abil Ash. Kemudian Abu Hurairah berkata: Hendaklah Abu Abdul Malik bertanya kepadaku tentang ini dan yang semisalnya, maka sesungguhnya ia akan menemukan di sisiku darinya ilmu yang banyak dan pembicaraan. Ia berkata: Maka demi Allah Marwan terus merendahkan diri dari Abu Hurairah dan takut kepadanya dan takut akan jawabannya.

Dan dalam riwayat bahwa Abu Hurairah berkata kepada Marwan: Sesungguhnya aku masuk Islam dan berhijrah dengan pilihan dan kemauan, dan aku mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan cinta yang sangat, sedangkan kalian adalah ahli rumah dan tempat dakwah, kalian mengeluarkan da’i dari negerinya, dan kalian menyakitinya dan sahabat-sahabatnya, dan tertundanya keislaman kalian dari keislamanku hingga waktu yang kalian benci. Maka Marwan menyesal atas perkataannya kepadanya dan takut kepadanya.

Ibnu Abi Khaitsamah berkata: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq, dari Umar atau Utsman bin Urwah, dari ayahnya – yaitu Urwah bin Zubair bin Al-Awwam – ia berkata: Ayahku Zubair berkata kepadaku: Dekatkanlah aku kepada orang Yamani ini – yaitu Abu Hurairah – karena sesungguhnya ia memperbanyak hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia berkata: Maka aku mendekatkannya kepadanya, lalu Abu Hurairah terus menceritakan hadits, dan Zubair terus berkata: Benar, dusta, benar, dusta. Ia berkata: Aku berkata: Wahai ayahku, apa ucapanmu: benar, dusta? Ia berkata: Wahai anakku, adapun bahwa ia mendengar hadits-hadits ini dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka aku tidak meragukan, tetapi di antaranya ada yang ia letakkan pada tempatnya, dan di antaranya ada yang ia letakkan pada bukan tempatnya.

Ali bin Al-Madini berkata, dari Wahb bin Jarir dari ayahnya, dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Abu Anas bin Abi Amir ia berkata: Aku berada di sisi Thalhah bin Ubaidillah tiba-tiba masuk seorang lelaki lalu berkata: Wahai Abu Muhammad, demi Allah kami tidak tahu apakah orang Yamani ini lebih mengetahui tentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam daripada kalian, ataukah ia mengatakan atas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apa yang tidak beliau katakan? Maka Thalhah berkata: Demi Allah kami tidak meragukan bahwa ia mendengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apa yang tidak kami dengar, dan mengetahui apa yang tidak kami ketahui, sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang kaya, kami memiliki rumah-rumah dan keluarga, dan kami mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada dua ujung siang, kemudian kami kembali, sedangkan ia adalah orang miskin yang tidak memiliki harta dan tidak ada keluarga, dan sesungguhnya tangannya bersama tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan ia berkeliling bersamanya ke mana pun beliau pergi, maka kami tidak meragukan bahwa ia telah mengetahui apa yang tidak kami ketahui, dan mendengar apa yang tidak kami dengar. Dan Tirmidzi meriwayatkannya seperti itu.

Syu’bah berkata, dari Asy’ats bin Sulaim, dari ayahnya ia berkata: Aku mendengar Abu Ayyub menceritakan hadits dari Abu Hurairah, maka dikatakan kepadanya: Engkau adalah sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan engkau menceritakan hadits dari Abu Hurairah?! Maka ia berkata: Sesungguhnya Abu Hurairah telah mendengar apa yang tidak kami dengar, dan sesungguhnya aku menceritakan hadits darinya lebih aku sukai daripada menceritakan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yaitu: apa yang tidak aku dengar darinya.

Dan Muslim bin al-Hajjaj berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi, telah menceritakan kepada kami Marwan ad-Dimasyqi, dari al-Laits bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Bukair bin al-Asyaj, ia berkata: Busyr bin Sa’id berkata kepada kami: Bertakwalah kepada Allah dan berhati-hatilah dalam menyampaikan hadits, demi Allah sungguh aku melihat kami duduk bersama Abu Hurairah, lalu ia menceritakan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan kepada kami dari Ka’b al-Ahbar, kemudian ia berdiri lalu aku mendengar sebagian orang yang bersama kami menjadikan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai hadits dari Ka’b, dan hadits Ka’b sebagai hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan dalam riwayat lain: Ia menjadikan apa yang dikatakan Ka’b sebagai hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai hadits dari Ka’b, maka bertakwalah kepada Allah dan berhati-hatilah dalam menyampaikan hadits.

Dan Yazid bin Harun berkata: Aku mendengar Syu’bah berkata: Abu Hurairah melakukan tadlis. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir. Syu’bah menunjukkan hal ini pada haditsnya: “Barang siapa yang bangun pagi dalam keadaan junub maka tidak ada puasa baginya.” Maka ketika ia dikonfirmasi mengenai hal itu, ia berkata: Seorang informan memberitahuku, dan aku tidak mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan Syarik berkata, dari Mughirah, dari Ibrahim ia berkata: Sahabat-sahabat kami meninggalkan sebagian hadits Abu Hurairah. Dan ar-Rawi al-A’masy, dari Ibrahim berkata: Mereka tidak mengambil semua hadits Abu Hurairah.

Ats-Tsauri berkata, dari Manshur, dari Ibrahim ia berkata: Mereka melihat ada sesuatu pada hadits-hadits Abu Hurairah, dan mereka tidak mengambil dari haditsnya kecuali hadits tentang surga atau neraka. Dan Ibnu Asakir telah membela Abu Hurairah, dan menolak apa yang dikatakan oleh Ibrahim an-Nakha’i ini. Dan sesungguhnya telah mengatakan apa yang dikatakan Ibrahim itu sekelompok dari Kufah, dan mayoritas ulama berbeda pendapat dengan mereka.

Dan sesungguhnya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berada pada tingkat kejujuran, hafalan, ketaatan, ibadah, kezuhudan, dan amal saleh yang sangat agung.

Hammad bin Zaid berkata, dari Abbas al-Jurayri, dari Abu Utsman an-Nahdi ia berkata: Abu Hurairah biasa shalat sepertiga malam, istrinya sepertiga, dan putrinya sepertiga, yang ini shalat lalu membangunkan yang itu, kemudian membangunkan yang itu dan yang ini.

Dan dalam Shahihain dari dia bahwa ia berkata: Kekasihku shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepadaku untuk berpuasa tiga hari setiap bulan, dan dua rakaat Dhuha, dan supaya aku witir sebelum tidur.

Dan Ibnu Juraij berkata dari orang yang menceritakan kepadanya ia berkata: Abu Hurairah berkata: Aku membagi malam menjadi tiga bagian, satu bagian untuk membaca al-Quran, satu bagian aku tidur di dalamnya, dan satu bagian aku mengingat-ingat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan Muhammad bin Sa’d berkata: Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Utsman al-Qurasyyi, telah menceritakan kepada kami Abu Ayyub ia berkata: Abu Hurairah memiliki mushalla di kamar pribadinya, mushalla di rumahnya, mushalla di kamarnya, dan mushalla di depan pintu rumahnya, jika ia keluar maka ia shalat di semuanya, dan jika ia masuk maka ia shalat di semuanya.

Dan Ikrimah berkata: Abu Hurairah biasa bertasbih setiap hari dua belas ribu tasbih, dan ia berkata: Aku bertasbih sesuai dengan diyatku.

Dan Husyaim berkata, dari Ya’la bin ‘Atha, dari Maimun bin Abi Maisarah ia berkata: Abu Hurairah memiliki dua teriakan setiap hari, di awal siang ia berkata: Malam telah pergi dan siang telah datang, dan keluarga Firaun diperlihatkan kepada api. Dan ketika sore hari ia berkata: Siang telah pergi dan malam telah datang, dan keluarga Firaun diperlihatkan kepada api. Maka tidaklah seseorang mendengar suaranya melainkan ia memohon perlindungan kepada Allah dari api neraka.

Dan Abdullah bin al-Mubarak berkata: Telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Ubaidah, dari Ziyad bin Tsauban, dari Abu Hurairah ia berkata: Janganlah kamu iri kepada orang fasik dengan nikmat yang dimilikinya, karena sesungguhnya di belakangnya ada yang mengejarnya dengan keras pengejarannya; Jahannam, setiap kali api itu padam, Kami tambahkan bagi mereka nyala api (al-Isra: 97).

Dan Ibnu Lahi’ah berkata, dari Abu Yunus, dari Abu Hurairah bahwa ia shalat mengimami manusia suatu hari, ketika ia salam ia mengangkat suaranya lalu berkata: Segala puji bagi Allah yang menjadikan agama sebagai penegak, dan menjadikan Abu Hurairah sebagai imam, setelah ia dahulu adalah buruh untuk putri Ghazwan demi kenyang perutnya dan tanggungan kakinya. Kemudian ia berkata: Demi Allah wahai orang-orang Islam, sesungguhnya pekerjaanku bersama mereka hanyalah dengan upah sepotong roti kering, dan giliran menunggang di malam yang gelap gulita, kemudian Allah menikahkannya denganku, maka aku menunggang ketika mereka menunggang, dan aku melayani ketika mereka turun.

Dan Ibrahim bin Ishaq al-Harbi berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Affan, telah menceritakan kepada kami Sulaim bin Hayyan, ia berkata: Aku mendengar ayahku menceritakan dari Abu Hurairah ia berkata: Aku tumbuh sebagai anak yatim, dan aku berhijrah dalam keadaan miskin, dan aku adalah buruh untuk putri Ghazwan dengan makanan perutku dan tanggungan kakiku, aku menuntun mereka ketika mereka menunggang, dan aku mencari kayu bakar ketika mereka turun, maka segala puji bagi Allah yang menjadikan agama sebagai penegak dan menjadikan Abu Hurairah sebagai imam.

Dan Ibrahim bin Ya’qub al-Jauzajani berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Hajjaj bin Nushair, telah menceritakan kepada kami Hilal bin Abdurrahman al-Hanafi, dari ‘Atha bin Abi Maimunah, dari Abu Salamah ia berkata: Abu Hurairah dan Abu Dzar berkata: Satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami cintai daripada seribu rakaat shalat sunnah, dan satu bab yang kami ajarkan – kami mengamalkannya atau tidak mengamalkannya – lebih kami cintai daripada seratus rakaat shalat sunnah. Dan keduanya berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kematian datang kepada penuntut ilmu sementara ia dalam keadaan ini, maka ia mati dalam keadaan syahid.” Dan ini adalah hadits gharib dari jalan ini.

Dan lebih dari satu orang meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa ia biasa memohon perlindungan dalam sujudnya agar tidak berzina atau mencuri atau kufur atau melakukan dosa besar. Lalu dikatakan kepadanya: Apakah kamu takut akan hal itu? Maka ia berkata: Apa yang membuatku aman sementara Iblis masih hidup, dan yang membolak-balikkan hati membolak-balikkannya sesuka Dia? Dan putrinya berkata kepadanya: Wahai ayah, sesungguhnya anak-anak perempuan mengejekku mereka berkata: Mengapa ayahmu tidak memberikanmu perhiasan emas? Maka ia berkata: Wahai putriku, katakan kepada mereka: Sesungguhnya ayahku takut atas diriku panasnya api neraka.

Dan Abu Hurairah berkata: Aku datang kepada Umar bin al-Khaththab, lalu aku berdiri untuknya sementara ia bertasbih setelah shalat, maka aku menunggunya, ketika ia selesai aku mendekatinya, lalu aku berkata: Bacakan kepadaku ayat-ayat dari Kitab Allah – ia berkata: Dan aku tidak menginginkan kecuali makanan – ia berkata: Maka ia membacakan kepadaku ayat-ayat dari surat Ali Imran, ketika ia sampai ke rumahnya ia masuk dan meninggalkanku di pintu lalu ia lama, maka aku berkata: Ia melepas pakaiannya kemudian akan memerintahkan untuk memberikanku makanan. Namun aku tidak melihat apapun, ketika hal itu berlangsung lama bagiku aku berdiri lalu berjalan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku, lalu ia berbicara kepadaku dan berkata: “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya bau mulutmu malam ini sangat menyengat.” Maka aku berkata: Benar ya Rasulullah, sesungguhnya aku seharian berpuasa dan aku belum berbuka setelahnya, dan aku tidak mendapati apa yang bisa aku buka dengannya. Ia berkata: “Pergilah.” Maka aku pergi bersamanya hingga ia sampai ke rumahnya, lalu ia memanggil budak perempuannya yang berkulit hitam, lalu berkata: “Bawakan kami mangkuk itu.” Maka ia membawakan kami mangkuk yang di dalamnya ada bekas makanan, kurasa gandum yang telah dimakan dan tersisa di pinggir-pinggirnya sebagiannya dan itu sedikit, maka aku menyebut nama Allah dan mulai mengikutinya, lalu aku makan hingga kenyang.

Dan ath-Thabrani berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim, telah menceritakan Abdurrazaq, dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Muhammad bin Sirin, bahwa Abu Hurairah berkata kepada putrinya: Jangan memakai emas, karena sesungguhnya aku takut atasmu panasnya api neraka. Dan hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairah melalui berbagai jalan. Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Simak bin Harb, dari Aburabi’, dari Abu Hurairah, bahwa ia berkata: Sesungguhnya tumpukan sampah ini adalah kebinasaan dunia dan akhirat kalian. Maksudnya syahwat dan apa yang mereka makan.

Dan ath-Thabrani meriwayatkan, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah, bahwa Umar bin al-Khaththab memanggilnya untuk mempekerjakannya, namun ia menolak bekerja untuknya, maka ia berkata: Apakah kamu benci bekerja, padahal telah bekerja orang yang lebih baik darimu – atau ia berkata: telah memintanya orang yang lebih baik darimu? – Ia berkata: Siapa? Ia berkata: Yusuf ‘alaihissalam. Maka Abu Hurairah berkata: Yusuf adalah nabi putra nabi, sedangkan aku adalah Abu Hurairah bin Umaimah, maka aku takut tiga hal dan dua hal. Maka Umar berkata: Mengapa tidak kamu katakan lima hal? Ia berkata: Aku takut akan berkata tanpa ilmu, dan memutuskan tanpa hukum, dan punggungku dipukul, dan hartaku dirampas, dan kehormatanku dicaci.

Dan Sa’id bin Abi Hind berkata, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Tidakkah kamu meminta kepadaku dari ghanimah-ghanimah ini yang diminta para sahabatku?” Maka aku berkata: Aku meminta kepadamu agar kamu mengajariku dari apa yang Allah ajarkan kepadamu. Ia berkata: Maka aku melepas kain wol di punggungku, lalu aku bentangkan antara aku dan dia hingga seakan-akan aku melihat kutu berjalan di atasnya, lalu ia menceritakan kepadaku hingga ketika ia menyelesaikan haditsnya ia berkata: “Kumpulkan dan lipatlah.” Maka aku bangun pagi tidak menjatuhkan satu hurufpun dari apa yang ia ceritakan kepadaku.

Dan Abu Utsman an-Nahdi berkata: Aku berkata kepada Abu Hurairah: Bagaimana kamu berpuasa? Ia berkata: Aku berpuasa awal bulan tiga hari, jika terjadi sesuatu padaku maka bagiku ada pahala bulanku. Dan Hammad bin Salamah berkata dari Tsabit, dari Abu Utsman an-Nahdi, bahwa Abu Hurairah dalam perjalanan dan bersamanya ada rombongan, ketika mereka turun mereka meletakkan meja makan dan mereka mengutus seseorang kepadanya agar ia makan bersama mereka maka ia berkata: Sesungguhnya aku berpuasa. Ketika mereka hampir selesai dari makan mereka ia datang lalu mulai makan, maka rombongan itu melihat kepada utusan mereka yang mereka utus kepadanya, maka ia berkata kepada mereka: Aku lihat kalian melihat kepadaku, sungguh demi Allah ia telah memberitahuku bahwa ia berpuasa. Maka Abu Hurairah berkata: Benar, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa sepanjang masa.” Dan aku telah berpuasa tiga hari dari awal bulan, maka aku berbuka dalam keringanan Allah, berpuasa dalam pelipatan Allah ‘azza wa jalla.

Dan Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Amr, telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Abul Mutawakkil, dari Abu Hurairah, bahwa ia dan sahabat-sahabatnya jika berpuasa mereka duduk di masjid, dan mereka berkata: Kami menampakkan puasa kami.

Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ubaidah al-Haddad, telah menceritakan kepada kami Utsman asy-Syahham Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Farqad as-Sabkhi ia berkata: Abu Hurairah biasa thawaf di Baitullah, sementara ia berkata: Celakalah aku dari perutku, jika aku menyangkannya ia membebatku, dan jika aku membiarkannya lapar ia melemahkanku.

Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Ikrimah ia berkata: Abu Hurairah berkata: Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah ‘azza wa jalla dan bertaubat kepada-Nya setiap hari dua belas ribu kali, dan itu sesuai dengan diyatku.

Dan Abdullah bin Ahmad meriwayatkan, dari Abu Hurairah, bahwa ia memiliki tali yang padanya ada dua belas ribu ikatan ia bertasbih dengannya sebelum tidur. Dan dalam riwayat lain: Seribu ikatan, maka ia tidak tidur hingga ia bertasbih dengannya. Dan ini lebih shahih dari yang sebelumnya.

Dan ketika kematian mendatanginya ia menangis lalu dikatakan kepadanya: Apa yang membuatmu menangis? Maka ia berkata: Aku tidak menangisi dunia kalian ini, tetapi aku menangisi jauhnya perjalananku dan sedikitnya bekalku, dan sesungguhnya aku berada di pagi hari dalam tanjakan turunan di atas surga dan neraka, aku tidak tahu ke mana dari keduanya aku akan dibawa.

Dan Qutaibah bin Sa’id meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami al-Faraj bin Fadhalah, dari Abu Sa’id, dari Abu Hurairah ia berkata: Jika kalian menghias masjid-masjid kalian dan menghiasi mushaf-mushaf kalian maka kehancuran atas kalian.

Dan ath-Thabrani meriwayatkan dari Ma’mar ia berkata: Sampai kepadaku dari Abu Hurairah, bahwa ia jika melewati jenazah ia berkata: Berangkatlah sore karena kita akan pergi pagi, atau pergilah pagi karena kita akan pergi sore, pelajaran yang bermanfaat, dan kelalaian yang cepat, yang pertama pergi dan yang akhir tinggal tidak ada akal baginya.

Dan al-Hafizh Abu Bakr bin Malik berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Abu Bakr Laits bin Khalid al-Balkhi, telah menceritakan kepada kami Abdul Mu’min bin Abdullah as-Sadusi ia berkata: Aku mendengar Abu Yazid al-Madini berkata: Abu Hurairah berdiri di atas mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah tempat berdiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam satu anak tangga, lalu ia berkata: Celakalah orang Arab dari kejahatan yang telah mendekat, dan celakalah mereka dari kepemimpinan anak-anak; mereka memerintah di antara mereka dengan hawa nafsu dan membunuh dengan kemarahan.

Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Tsabit, dari Usamah bin Zaid dari Abu Ziyad maula Ibnu Abbas, dari Abu Hurairah ia berkata: Aku memiliki lima belas buah kurma, maka aku berbuka dengan lima, dan aku sahur dengan lima, dan aku menyisakan lima untuk berbukaku.

Dan Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Amr, telah menceritakan kepada kami Ismail – yaitu al-‘Abdi – dari Abul Mutawakkil, bahwa Abu Hurairah mereka memiliki budak wanita yang telah menyedihkan mereka dengan pekerjaannya, maka ia mengangkat cambuk atasnya suatu hari, kemudian berkata: Seandainya bukan karena pembalasan di hari kiamat niscaya aku akan memukulmu dengannya, tetapi aku akan menjualmu kepada orang yang akan memberikan hargamu kepadaku ketika aku paling membutuhkannya, pergilah kamu bebas karena Allah ‘azza wa jalla.

Dan Hammad bin Salamah meriwayatkan, dari Ayyub, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, bahwa Abu Hurairah sakit, maka aku masuk kepadanya untuk menjenguknya, lalu aku berkata: Ya Allah sembuhkanlah Abu Hurairah. Maka ia berkata: Ya Allah jangan kembalikan hal itu. Kemudian ia berkata: Wahai Abu Salamah, akan segera datang kepada manusia suatu zaman di mana kematian lebih dicintai oleh salah seorang dari mereka daripada emas merah.

Diriwayatkan oleh Atha dari Abu Hurairah, ia berkata: Jika kalian melihat enam perkara, maka jika nyawa salah seorang dari kalian berada di tangannya, hendaklah ia melepaskannya. Karena itulah aku mengharapkan kematian, aku khawatir akan mengalaminya: ketika orang-orang bodoh memimpin, keputusan hukum dijual, darah dianggap remeh, tali silaturahmi diputus, banyak polisi (algojo), dan tumbuh generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai nyanyian.

Ibnu Wahb berkata, telah menceritakan kepada kami Amr bin Harits, dari Yazid bin Ziyad al-Quradzi, bahwa Tsa’labah bin Abi Malik al-Quradzi menceritakan kepadanya bahwa Abu Hurairah datang di pasar membawa seikat kayu bakar—saat itu ia menjadi gubernur untuk Marwan bin Hakam—lalu ia berkata: “Beri jalan untuk sang gubernur wahai Ibnu Abi Malik.” Aku berkata: “Semoga Allah merahmatimu, ini sudah cukup.” Ia berkata: “Beri jalan untuk sang gubernur sedangkan ikatan kayu di atasnya.”

Ia memiliki keutamaan-keutamaan, kemuliaan, kebaikan, perkataan yang baik, dan nasihat yang banyak. Ia masuk Islam sebagaimana telah kami sebutkan pada tahun Khaibar, lalu ia selalu bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan tidak berpisah darinya kecuali ketika beliau mengutusnya bersama Ala’ bin Hadhrami ke Bahrain, dan wasiat beliau kepadanya. Ala’ menjadikannya muazin di hadapannya, dan Abu Hurairah berkata kepadanya: “Jangan mendahuluiku dalam mengucapkan amin, wahai gubernur.” Umar bin Khaththab pernah mengangkatnya sebagai gubernur di Bahrain pada masa kepemimpinannya, dan membagi hartanya bersama dengan para gubernur lainnya.

Abdurrazzaq berkata: telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ayyub, dari Ibnu Sirin, bahwa Umar mengangkat Abu Hurairah sebagai gubernur di Bahrain, lalu ia datang dengan sepuluh ribu. Umar berkata kepadanya: “Apakah kamu mengambil harta-harta ini untuk dirimu sendiri, wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya?” Abu Hurairah berkata: “Aku bukanlah musuh Allah dan bukan musuh kitab-Nya, tetapi aku adalah musuh bagi siapa yang memusuhi keduanya.” Umar berkata: “Dari mana kamu mendapatkannya?” Ia menjawab: “Kuda-kuda yang berkembang biak, hasil dari budak-budakku, dan pemberian yang terus berdatangan kepadaku.” Mereka memeriksa dan menemukan sebagaimana yang ia katakan. Setelah itu Umar memanggilnya untuk mengangkatnya lagi, tetapi ia menolak bekerja untuknya. Umar berkata kepadanya: “Kamu tidak suka bekerja, padahal orang yang lebih baik darimu pernah memintanya? Yusuf alaihissalam memintanya.” Ia berkata: “Sesungguhnya Yusuf adalah nabi putra nabi putra nabi putra nabi, sedangkan aku adalah Abu Hurairah putra Umaimah, dan aku takut akan tiga hal dan dua hal.” Umar berkata: “Mengapa tidak kamu katakan lima?” Ia berkata: “Aku takut akan berkata tanpa ilmu, memutuskan perkara tanpa hikmah, punggungku dipukul, hartaku dirampas, dan kehormatanku dihina.”

Yang lain menyebutkan bahwa Umar mendendanya dalam penugasan pertama sebesar dua belas ribu, karena itulah ia menolak pada kesempatan kedua.

Abdurrazzaq berkata, dari Ma’mar, dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata: Muawiyah biasa mengutus Abu Hurairah sebagai gubernur di Madinah. Jika ia marah kepadanya, ia memberhentikannya dan mengangkat Marwan bin Hakam. Ketika Abu Hurairah datang kepada Marwan, ia menghalanginya. Lalu Marwan diberhentikan dan Abu Hurairah kembali diangkat. Ia berkata kepada pembantunya: “Siapa pun yang datang kepadamu jangan kamu tolak, dan halangi Marwan.” Ketika Marwan datang, budak itu mendorong dadanya, sehingga ia tidak bisa masuk kecuali setelah bersusah payah. Ketika ia masuk, ia berkata: “Sesungguhnya budak itu menghalangi kami darimu.” Abu Hurairah berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang paling berhak untuk tidak marah akan hal itu.” Yang terkenal adalah bahwa Marwan-lah yang menunjuk Abu Hurairah sebagai wakilnya dalam pemerintahan Madinah, tetapi itu dengan izin Muawiyah dalam hal tersebut. Wallahu a’lam.

Hammad bin Salamah berkata, dari Tsabit, dari Abu Rafi’: Marwan terkadang menunjuk Abu Hurairah sebagai wakilnya di Madinah. Ia mengendarai keledai dan bertemu seseorang lalu berkata: “Minggir, sang gubernur telah datang.” Maksudnya dirinya sendiri. Ia melewati anak-anak yang sedang bermain di malam hari permainan orang-orang Arab, mereka tidak menyadari kehadirannya hingga ia menjatuhkan dirinya di antara mereka dan memukul dengan kakinya seolah-olah ia gila, sehingga anak-anak kaget dan berlarian. Abu Rafi’ berkata: Terkadang Abu Hurairah memanggilku untuk makan malamnya pada malam hari, lalu ia berkata: “Tinggalkan Irak untuk sang gubernur”—maksudnya potongan daging—ia berkata: Aku lihat ternyata itu adalah tsarid dengan minyak saja.

Abu al-Za’zi’ah, penulis Marwan, berkata: Marwan mengirimkan kepada Abu Hurairah seratus dinar. Keesokan harinya ia mengirim kepadanya: “Sesungguhnya aku salah dan tidak bermaksud untukmu, sesungguhnya aku bermaksud untuk orang lain.” Abu Hurairah berkata: “Aku sudah mengeluarkannya, jika gajiku keluar maka ambillah darinya.” Ia telah menyedekahkannya. Marwan hanya bermaksud mengujinya.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ala’ bin Abdul Jabbar, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Yahya bin Said, dari Said bin Musayyab, ia berkata: Muawiyah jika memberi Abu Hurairah, ia diam, dan jika tidak memberinya, ia berbicara.

Lebih dari satu orang meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa seorang pemuda datang kepadanya dan berkata: “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya aku bangun dalam keadaan berpuasa, lalu aku masuk menemui ayahku, ia membawakan roti dan daging, lalu aku makan dalam keadaan lupa.” Ia berkata: “Makanan yang Allah berikan kepadamu, tidak apa-apa bagimu.” Ia berkata: “Kemudian aku masuk ke rumah keluargaku, lalu didatangkan susu unta yang baru diperah, aku meminumnya dalam keadaan lupa.” Ia berkata: “Tidak apa-apa bagimu.” Ia berkata: “Kemudian aku tidur, lalu aku terbangun, kemudian aku minum air”—dalam riwayat lain: “dan berhubungan intim dalam keadaan lupa”—Abu Hurairah berkata: “Sesungguhnya kamu wahai keponakanku tidak terbiasa berpuasa.”

Lebih dari satu orang meriwayatkan bahwa ketika ia menjelang wafatnya, ia menangis. Ditanyakan kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Ia berkata: “Karena sedikitnya bekal dan beratnya perjalanan, dan aku berada di ujung jurang yang menurun; entah ke surga atau ke neraka, aku tidak tahu ke mana aku akan pergi.”

Malik berkata, dari Said bin Abi Said al-Maqburi, ia berkata: Marwan masuk menemui Abu Hurairah dalam sakitnya yang ia wafat karenanya, lalu ia berkata: “Semoga Allah menyembuhkanmu wahai Abu Hurairah.” Abu Hurairah berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai pertemuan dengan-Mu, maka cintailah pertemuanku.” Ia berkata: Belum sampai Marwan ke Ashabul Qatha, Abu Hurairah telah wafat.

Ya’qub bin Sufyan berkata, dari Duhaim, dari Walid, dari Ibnu Jabir, dari Umair bin Hani’, ia berkata: Abu Hurairah berkata: “Ya Allah, jangan biarkan aku mengalami tahun enam puluh.” Ia berkata: Ia wafat pada tahun itu atau setahun sebelumnya. Demikian juga kata Waqidi bahwa ia wafat tahun lima puluh sembilan dalam usia tujuh puluh delapan tahun.

Waqidi berkata: Ia yang menshalatkan Aisyah pada bulan Ramadhan, dan menshalatkan Ummu Salamah pada bulan Syawal tahun lima puluh sembilan, kemudian Abu Hurairah wafat setelah keduanya pada tahun itu. Demikian katanya, yang benar adalah bahwa Ummu Salamah wafat setelah Abu Hurairah. Lebih dari satu orang mengatakan: Sesungguhnya ia wafat tahun lima puluh sembilan. Ada yang mengatakan: lima puluh delapan—ada yang mengatakan: lima puluh tujuh—dan lima puluh. Yang masyhur adalah lima puluh sembilan. Mereka berkata: Yang menshalatkannya adalah Walid bin Utbah bin Abi Sufyan, wakil Madinah, dan di antara orang-orang itu ada Ibnu Umar, Abu Said, dan banyak orang. Itu terjadi pada waktu shalat Ashar. Wafatnya di rumahnya di Aqiq, lalu dibawa ke Madinah, dishalatkan, kemudian dikubur di Baqi’, rahimahullah wa radhiyallahu anhu. Walid bin Utbah menulis surat kepada Muawiyah tentang wafatnya Abu Hurairah. Muawiyah menulis kepadanya: “Lihatlah ahli warisnya dan berbuat baiklah kepada mereka, kirimkan kepada mereka sepuluh ribu dirham, dan berbuat baiklah kepada mereka sebagai tetangga, dan berbuatlah kebaikan kepada mereka; sesungguhnya ia termasuk orang yang menolong Utsman, dan ia bersamanya di rumah,” rahimahullah ta’ala.

Tahun Enam Puluh dari Hijrah Nabawiyah

Pada tahun ini terjadi peperangan Malik bin Abdullah di kota Suriah. Waqidi berkata: Pada tahun ini Junadah bin Abi Umayyah memasuki pulau Rhodes dan merobohkan kotanya. Pada tahun ini Muawiyah mengambil bai’at untuk Yazid dari utusan yang datang bersama Ubaidullah bin Ziyad ke Damaskus. Pada tahun ini Muawiyah sakit dengan sakit yang ia wafat karenanya pada bulan Rajab tahun itu, sebagaimana akan kami jelaskan.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Abu Mikhnaf, telah menceritakan kepadaku Abdul Malik bin Naufal bin Musahiq bin Abdullah bin Makhramah, bahwa Muawiyah ketika ia sakit dengan sakit yang ia meninggal karenanya, memanggil putranya Yazid dan berkata: “Wahai putraku, sesungguhnya aku telah menyelesaikan perjalanan dan mengatasi orang-orang untukmu, aku telah mempersiapkan segala sesuatu untukmu, aku telah menaklukkan musuh-musuhmu, aku telah menundukkan leher orang-orang Arab untukmu. Aku tidak khawatir akan ada yang menandingimu dalam urusan ini yang telah stabil untukmu kecuali empat orang: Husain bin Ali, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, dan Abdurrahman bin Abi Bakar”—demikian katanya, yang benar adalah bahwa Abdurrahman telah wafat sebelum wafatnya Muawiyah dua tahun sebagaimana telah kami sebutkan—”Adapun Ibnu Umar, ia adalah orang yang telah dilumpuhkan oleh ibadah, dan jika tidak tersisa seorang pun selain dia, ia akan membai’atmu. Adapun Husain, sesungguhnya penduduk Irak tidak akan meninggalkannya hingga mereka mengeluarkannya, jika ia memberontak kepadamu lalu kamu mengalahkannya maka maafkanlah dia, sesungguhnya baginya ada ikatan kekerabatan yang erat dan hak yang besar. Adapun Ibnu Abi Bakar, ia adalah orang yang jika melihat teman-temannya melakukan sesuatu, ia melakukan seperti itu, tidak ada keinginannya kecuali pada wanita dan permainan. Adapun orang yang akan mengintaimu seperti singa, dan memperdayaimu seperti rubah, dan jika mendapat kesempatan ia akan menerkam, itulah Ibnu Zubair. Jika ia melakukan itu kepadamu dan kamu menguasainya maka potonglah dia anggota demi anggota.”

Selain satu orang berkata: Ketika Muawiyah menjelang wafat, Yazid sedang berburu. Muawiyah memanggil Dhahhak bin Qais al-Fihri—ia adalah kepala polisi Damaskus—dan Muslim bin Uqbah, lalu ia berwasiat kepada keduanya untuk menyampaikan salam kepada Yazid dan berkata kepadanya untuk berwasiat baik kepada penduduk Hijaz, dan jika penduduk Irak memintanya setiap hari untuk memberhentikan seorang gubernur dan mengangkat yang lain hendaklah ia lakukan, memberhentikan satu orang lebih baik bagimu daripada dicabut pedang seratus ribu pedang melawanmu, dan untuk berwasiat kepada penduduk Syam dengan baik, menjadikan mereka sebagai pembantunya, mengenali hak mereka. Aku tidak takut padamu dari Quraisy kecuali tiga orang: Husain, Ibnu Umar, dan Ibnu Zubair—ia tidak menyebutkan Abdurrahman bin Abi Bakar dan ini lebih benar—Adapun Ibnu Umar, ia telah dilumpuhkan oleh ibadah. Adapun Husain, ia adalah orang yang ringan, dan aku berharap Allah akan menyelesaikannya bagimu dengan orang yang membunuh ayahnya dan menelantarkan saudaranya, dan baginya ada ikatan kekerabatan yang erat dan hak yang besar, dan kekerabatan dengan Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Aku tidak mengira penduduk Irak akan meninggalkannya hingga mereka mengeluarkannya. Jika kamu menguasainya maka maafkanlah dia, sesungguhnya jika aku yang menjadi lawannya, aku akan memaafkannya. Adapun Ibnu Zubair, ia adalah orang yang licik dan cerdik. Jika ia bangkit melawanmu, tidak ada cara bagimu kecuali ia meminta perdamaian darimu. Jika ia melakukan itu maka terimalah darinya, dan maafkanlah darah kaummu sedapat mungkin.”

Wafatnya Muawiyah adalah pada awal bulan Rajab tahun ini. Demikian kata Hisyam bin Kalbi. Ada yang mengatakan: pertengahan bulan itu. Demikian kata Waqidi. Ada yang mengatakan: hari Kamis delapan hari tersisa darinya. Demikian kata Madaini.

Ibnu Jarir berkata: Mereka sepakat bahwa ia meninggal pada bulan Rajab tahun itu. Masa pemerintahannya secara penuh dari bulan Jumadal tahun empat puluh satu ketika Hasan bin Ali membaiatnya di Azruh, yaitu sembilan belas tahun tiga bulan. Ia menjadi wakil di Syam selama dua puluh tahun. Ada yang mengatakan selain itu. Usianya adalah tujuh puluh tiga tahun. Ada yang mengatakan: tujuh puluh lima tahun. Ada yang mengatakan: tujuh puluh delapan tahun. Ada yang mengatakan: delapan puluh lima tahun. Pembahasan lebih lanjut tentang hal itu akan datang di akhir biografinya.

Abu Sukin Zakariya bin Yahya berkata: telah menceritakan kepadaku paman Abu Zuhr bin Hishn, dari kakeknya Humaid bin Minhab, ia berkata: Hindun binti Utbah adalah istri Fakih bin Mughirah al-Makhzumi. Fakih adalah salah satu pemuda Quraisy. Ia memiliki rumah untuk menjamu tamu yang dikunjungi orang-orang tanpa izin. Suatu hari rumah itu kosong, Fakih dan Hindun berbaring di dalamnya pada waktu istirahat siang. Kemudian Fakih keluar untuk suatu urusan, seorang laki-laki yang biasa mengunjunginya datang dan masuk ke rumah. Ketika ia melihat perempuan itu, ia melarikan diri. Fakih melihatnya keluar dari rumah, lalu ia mendatangi Hindun dan memukulnya dengan kakinya, dan berkata: “Siapa orang ini yang bersamamu?” Ia berkata: “Aku tidak melihat siapa pun, dan aku tidak terbangun hingga kamu membangunkanku.” Ia berkata kepadanya: “Kembalilah kepada ayahmu.” Orang-orang mulai membicarakannya. Ayahnya berkata kepadanya: “Wahai putriku, sesungguhnya orang-orang banyak membicarakanmu, beritahukan kepadaku kabarmu. Jika laki-laki itu benar atasmu, aku akan mengirimkan orang untuk membunuhnya sehingga pembicaraan tentangmu akan terputus. Jika ia pembohong, aku akan mengajaknya ke salah satu dukun Yaman.” Ia bersumpah kepadanya dengan apa yang mereka gunakan untuk bersumpah pada masa Jahiliah bahwa ia adalah pembohong atasnya. Utbah berkata kepada Fakih: “Wahai ini, sesungguhnya kamu telah melempar tuduhan besar kepada putriku, jadikanlah aku sebagai penengah ke salah satu dukun Yaman.” Fakih keluar bersama sekelompok orang dari Bani Makhzum, dan Utbah keluar bersama sekelompok orang dari Bani Abdul Manaf, mereka keluar membawa Hindun dan beberapa wanita bersamanya. Ketika mereka mendekati negeri itu dan berkata: “Besok kita akan menemui dukun itu,” kondisi Hindun berubah dan wajahnya berubah. Ayahnya berkata kepadanya: “Wahai putriku, aku melihat apa yang ada padamu berupa perubahan kondisi, dan itu menurutmu tidak lain karena sesuatu yang buruk. Mengapa ini tidak terjadi sebelum perjalanan kita terkenal di kalangan orang-orang?” Ia berkata: “Demi Allah wahai ayahku, ini yang kamu lihat padaku bukanlah karena sesuatu yang buruk yang terjadi dariku, dan sesungguhnya aku bersih. Tetapi ini yang kamu lihat berupa kesedihan dan perubahan kondisi adalah karena aku tahu bahwa kalian akan menemui dukun ini, dan ia adalah manusia yang bisa salah dan benar, dan aku tidak aman darinya akan memberi cap padaku yang akan menjadi aib di kalangan orang Arab.” Ayahnya berkata kepadanya: “Jangan takut, sesungguhnya aku akan mengujinya dan memeriksanya sebelum ia berbicara tentang urusanmu. Jika ia salah dalam apa yang aku ujikan dengannya, aku tidak akan membiarkannya berbicara tentang urusanmu.” Kemudian ia menyendiri dari rombongan—ia mengendarai kuda jantan—hingga ia tersembunyi dari mereka di balik bukit. Ia turun dari kudanya, lalu bersiul untuknya hingga ia mengeluarkan penisnya, lalu ia mengambil sebutir gandum dan memasukkannya ke dalam lubang penis kuda jantan, dan mengikatnya dengan tali. Ketika mereka menemui dukun, ia menghormati mereka dan menyembelih untuk mereka. Setelah mereka makan siang, Utbah berkata kepadanya: “Sesungguhnya kami datang kepadamu untuk suatu urusan, tetapi aku tidak akan membiarkanmu berbicara tentangnya hingga kamu menjelaskan kepada kami apa yang aku sembunyikan untukmu, sesungguhnya aku telah menyembunyikan sesuatu untukmu, lihatlah apa itu.” Dukun berkata: “Buah dalam kantong.” Ia berkata: “Aku ingin yang lebih jelas dari ini.” Ia berkata: “Sebutir gandum di lubang penis kuda jantan.” Ia berkata: “Kamu benar, sekarang ambillah urusan yang kami datangi kepadamu untuk itu, lihatlah urusan wanita-wanita ini.” Ia mendudukkan wanita-wanita di belakangnya, dan Hindun bersama mereka, ia tidak mengenalinya. Kemudian ia mendekat kepada salah satu dari mereka, memukul bahunya dan berkata: “Berdirilah.” Hingga ia mendekat kepada Hindun, lalu memukul bahunya dan berkata: “Berdirilah, tidak kotor dan tidak berzina, dan akan melahirkan seorang raja yang disebut Muawiyah.” Fakih melompat kepadanya dan mengambil tangannya, Hindun menarik tangannya dari tangannya, dan berkata kepadanya: “Pergilah dariku, demi Allah, kepalaku dan kepalamu tidak akan bersatu dalam satu bantal. Demi Allah aku akan bersungguh-sungguh agar raja ini berasal dari selainmu.” Kemudian Abu Sufyan bin Harb menikahinya, lalu ia melahirkan Muawiyah darinya.

Inilah Biografi Muawiyah semoga Allah meridhoinya, dan Sebagian Hari-harinya, Pemerintahannya, serta Keutamaan dan Kemuliaan yang Diriwayatkan tentangnya

Ia adalah Muawiyah bin Abu Sufyan Shakhr bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay Al-Qurasyiy Al-Umawiy, Abu Abdurrahman, paman orang-orang beriman, dan penulis wahyu Rasul Tuhan semesta alam. Ibunya adalah Hindun binti Utbah bin Rabiah bin Abdu Syams.

Muawiyah masuk Islam pada tahun Fathu Makkah, dan diriwayatkan darinya bahwa ia berkata: Aku masuk Islam pada hari Al-Qadliyyah, tetapi aku menyembunyikan keislamanku dari ayahku, kemudian ia mengetahui hal itu lalu berkata kepadaku: Saudaramu Yazid ini lebih baik darimu, ia tetap pada agama kaumnya. Maka aku katakan kepadanya: Aku tidak menyia-nyiakan diriku sedikitpun. Muawiyah berkata: Dan sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masuk Makkah pada Umrah Al-Qadliyyah sedangkan aku telah membenarkannya, kemudian ketika beliau masuk pada tahun Fathu Makkah aku menampakkan keislamanku, lalu aku mendatanginya dan beliau menyambutku dengan baik, dan aku menulis di hadapan beliau.

Al-Waqidiy berkata: Dan Muawiyah turut serta bersama Nabi dalam perang Hunain, dan Nabi memberinya seratus ekor unta dan empat puluh uqiyah emas yang ditimbang untuknya oleh Bilal.

Ia juga turut serta dalam perang Yamamah, dan sebagian orang berpendapat bahwa dialah yang membunuh Musailamah Al-Kadzdzab, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Asakir. Boleh jadi ia turut serta dalam membunuhnya, namun yang menikamnya adalah Wahsyi, dan yang menebasnya dengan pedang adalah Abu Dujanah Simak bin Kharsyah. Ayahnya adalah salah seorang pemimpin Quraisy pada masa Jahiliyah, dan menyendiri dalam kepemimpinan mereka setelah perang Badar, kemudian ketika ia masuk Islam, keislamannya menjadi baik setelah itu, dan ia memiliki kedudukan-kedudukan mulia, serta jejak-jejak terpuji pada hari Yarmuk dan sebelum serta sesudahnya.

Muawiyah bersahabat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan menulis wahyu di hadapan beliau bersama para penulis lainnya, dan meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam banyak hadits dalam Shahihain dan yang lainnya dari kitab-kitab Sunan dan Musnad, dan meriwayatkan darinya sekelompok sahabat dan tabiin.

Abu Bakar bin Abi Ad-Dunya berkata: Muawiyah tinggi, putih, tampan, ketika tertawa bibir atasnya terbalik, dan ia menyemir rambutnya. Muhammad bin Yazid Al-Admiy menceritakan kepadaku, Abuu Musyir menceritakan kepada kami, dari Said bin Abdul Aziz, dari Abu Abdurrab ia berkata: Aku melihat Muawiyah menyemir jenggotnya hingga kuning seperti emas.

Yang lain mengatakan: Ia berkulit putih, tinggi, berjenggot putih di kepala dan jenggot, menyemirnya dengan henna dan ketam, dan ia terkena laqwah (kelumpuhan wajah) di akhir umurnya, maka ia menutupi wajahnya, dan berkata: Semoga Allah merahmati hamba yang mendoakanku dengan kesehatan, karena aku terkena di bagian yang paling baik dariku dan yang tampak dariku, seandainya bukan karena kecintaanku kepada Yazid niscaya aku akan melihat kebenaranku. Ia adalah seorang yang penyabar, berwibawa, pemimpin, tuan di tengah manusia, mulia, adil, dan bijaksana.

Al-Madainiy berkata, dari Shalih bin Hassan ia berkata: Salah seorang Arab yang ahli firasat melihat Muawiyah ketika ia masih anak kecil, lalu berkata: Aku yakin anak ini akan memimpin kaumnya. Maka Hindun berkata: Celaka dia jika ia hanya memimpin kaumnya saja.

Asy-Syafii berkata: Abu Hurairah berkata: Aku melihat Hindun di Makkah seolah wajahnya belahan bulan, dan di belakangnya dari pantatnya seperti orang yang sedang duduk, dan bersamanya ada anak kecil yang sedang bermain, lalu seorang laki-laki lewat, memandangnya lalu berkata: Aku melihat anak ini jika hidup akan memimpin kaumnya. Maka Hindun berkata: Jika ia tidak memimpin kecuali kaumnya saja semoga Allah mematikannya. Dan ia adalah Muawiyah bin Abu Sufyan.

Muhammad bin Sad berkata: Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Abu Saif mengabarkan kepada kami ia berkata: Abu Sufyan suatu hari memandang Muawiyah ketika ia masih anak-anak, lalu berkata kepada Hindun: Sungguh anakku ini besar kepalanya, dan sungguh ia pantas memimpin kaumnya. Maka Hindun berkata: Hanya kaumnya saja?! Celaka dia jika ia tidak memimpin seluruh Arab. Hindun biasa menggendongnya ketika masih kecil, dan berkata:

Sungguh anakku adalah orang yang mulia dan bijaksana Dicintai di tengah keluarganya, penyabar Bukan orang yang kasar dan bukan orang yang hina Dan bukan orang yang sombong dan bukan orang yang kikir Shakhr bani Fahr adalah pemimpin mereka Tidak mengecewakan sangkaan dan tidak ragu-ragu

Ia berkata: Maka ketika Umar mengangkat Yazid bin Abu Sufyan untuk memimpin Syam, Muawiyah berangkat bersamanya, lalu Abu Sufyan berkata kepada Hindun: Bagaimana menurutmu anakmu menjadi pengikut anakku? Maka ia berkata: Jika tali Arab berguncang maka engkau akan tahu di mana kedudukan anakmu dari apa yang terjadi pada anakku.

Maka ketika Yazid bin Abu Sufyan meninggal pada tahun belasan, dan berita datang kepada Umar tentang kematiannya, Umar mengirim kembali utusan ke Syam dengan mengangkat Muawiyah menggantikan saudaranya Yazid, kemudian ia menta’ziyah Abu Sufyan atas anaknya Yazid, lalu ia berkata: Wahai Amirul Mukminin, siapa yang engkau angkat menggantikannya? Ia menjawab: Saudaranya Muawiyah. Ia berkata: Semoga Allah menyambung tali silaturahim engkau wahai Amirul Mukminin. Dan Hindun berkata kepada Muawiyah dalam suratnya kepadanya: Demi Allah wahai anakku, sungguh jarang seorang wanita merdeka melahirkan sepertimu, dan sungguh orang ini telah mengangkatmu dalam urusan ini, maka bekerjalah dengan ketaatannya dalam hal yang engkau suka dan tidak suka. Dan ayahnya berkata kepadanya: Wahai anakku, sungguh kaum Muhajirin ini telah mendahului kita dan kita terlambat, maka keutamaan mereka mengangkat mereka, dan keterlambatan kita menempatkan kita di belakang, maka mereka menjadi pemimpin, dan kita menjadi pengikut, dan mereka telah mengangkatmu untuk urusan besar dari urusan mereka maka jangan engkau menyelisihi mereka, karena engkau sedang berlari menuju tujuan maka bersainglah di dalamnya, jika engkau mencapainya maka engkau akan mewariskannya kepada keturunanmu.

Maka Muawiyah terus menjadi penguasa di Syam pada masa pemerintahan Umar dan Utsman selama masa kekhalifahan Utsman, dan pada tahun dua puluh tujuh ia menaklukkan pulau Qubrus (Siprus), dan kaum muslimin menetap di sana hampir enam puluh tahun pada masanya dan setelahnya, dan terus berlangsung penaklukan dan jihad dengan baik pada masanya di negeri Romawi, Franka, dan lainnya. Maka ketika terjadi urusan antara dirinya dengan Amirul Mukminin Ali, tidak terjadi penaklukan sama sekali pada hari-hari itu, baik di tangannya maupun di tangan Ali, dan raja Romawi berambisi terhadap Muawiyah setelah sebelumnya ia dipermalukan dan direndahkan, serta tentaranya dikalahkan dan dihancurkan. Maka ketika raja Romawi melihat kesibukan Muawiyah dengan perang melawan Ali, ia mendekat ke beberapa negeri dengan pasukan yang besar, dan berambisi terhadapnya, lalu Muawiyah menulis kepadanya: Demi Allah, jika engkau tidak berhenti dan kembali ke negerimu wahai terkutuk, aku akan berdamai dengan sepupuku untuk melawanmu dan aku akan mengusirmu dari semua negerimu, dan aku akan mempersempit bumi untukmu sekalipun luas. Maka raja Romawi takut dan mundur, dan mengirim meminta gencatan senjata.

Kemudian terjadi peristiwa tahkim sebagaimana telah disebutkan, demikian pula setelahnya hingga waktu perdamaiannya dengan Hasan bin Ali sebagaimana telah disebutkan, maka kata sepakat terkumpul pada Muawiyah, dan rakyat berkumpul membaiatnya pada tahun empat puluh satu sebagaimana telah kami sebutkan, maka ia terus memegang kendali urusan dalam masa ini hingga tahun ini yang terjadi wafatnya, dan jihad di negeri musuh terus berjalan, dan kalimat Allah tinggi, dan harta rampasan datang kepadanya dari penjuru bumi, dan kaum muslimin bersamanya dalam kenyamanan, keadilan, maaf, dan pengampunan.

Dan telah tetap dalam Shahih Muslim dari jalur Ikrimah bin Ammar, dari Abu Zumil Simak bin Al-Walid, dari Ibnu Abbas ia berkata: Abu Sufyan berkata: Wahai Rasulullah, tiga hal berilah aku. Beliau bersabda: Ya. Ia berkata: Jadikanlah aku pemimpin hingga aku memerangi orang-orang kafir sebagaimana aku memerangi kaum muslimin. Beliau bersabda: Ya. Ia berkata: Dan Muawiyah jadikanlah ia penulis di hadapanmu. Beliau bersabda: Ya. Dan ia menyebutkan yang ketiga, yaitu ia ingin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahi putrinya yang lain, Azzah binti Abu Sufyan. Dan ia meminta bantuan Ummu Habibah saudarinya dalam hal itu, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya itu tidak halal bagiku. Dan telah kami bahas hal itu dalam juz tersendiri, dan kami sebutkan pendapat para imam dan pembelaan mereka tentangnya, dan segala puji bagi Allah. Yang dimaksud darinya adalah bahwa Muawiyah adalah salah satu dari penulis di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang menulis wahyu.

Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, dan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya dari jalur Abu Awanah Al-Wadldlah bin Abdullah Al-Yasykuriy, dari Abu Hamzah Imran bin Abu Atho, dari Ibnu Abbas ia berkata: Aku sedang bermain dengan anak-anak, tiba-tiba Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang, maka aku berkata: Tidak datang kecuali kepadaku. Maka aku bersembunyi di pintu, lalu beliau datang kepadaku dan menepuk tengkukku, kemudian bersabda: Pergilah panggilkan Muawiyah untukku. Dan ia adalah penulis wahyu. Ia berkata: Maka aku pergi dan memanggilnya, lalu dikatakan: Ia sedang makan. Maka aku mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan aku berkata: Ia sedang makan. Lalu beliau bersabda: Pergilah panggilkan ia. Maka aku mendatanginya yang kedua kali lalu dikatakan: Ia sedang makan. Maka aku mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memberitahukan beliau, lalu beliau bersabda pada kali ketiga: Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya. Ia berkata: Maka ia tidak kenyang setelahnya. Dan sungguh Muawiyah mendapat manfaat dari doa ini di dunia dan akhiratnya. Adapun di dunia, maka ketika ia menjadi penguasa di Syam, ia makan dalam sehari tujuh kali, didatangkan mangkuk berisi daging banyak dan bawang lalu ia makan darinya, dan ia makan dalam sehari tujuh kali dengan daging, dan dari makanan manis dan buah-buahan sangat banyak, dan berkata: Demi Allah aku tidak kenyang, dan hanya lelah saja. Dan ini adalah nikmat dan lambung yang diinginkan oleh semua raja.

Adapun di akhirat, maka Muslim menyusul hadits ini dengan hadits yang diriwayatkan olehnya dan Bukhari serta yang lain, dari beberapa jalur dari sejumlah sahabat, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Ya Allah, sesungguhnya aku hanyalah manusia, maka hamba manapun yang aku caci atau aku cambuk atau aku doakan, padahal ia tidak pantas untuk itu, maka jadikanlah itu sebagai penghapus dosa dan sebab mendekat yang Engkau dekatkan dengannya pada hari kiamat. Maka Muslim menggabungkan hadits pertama dengan hadits ini sebagai keutamaan bagi Muawiyah, dan ia tidak menyebutkan selain itu.

Al-Musayyab bin Wadlih berkata, dari Abu Ishaq Al-Fazariy, dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman, dari Atho bin Abu Rabah dari Ibnu Abbas ia berkata: Jibril datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Wahai Muhammad, sampaikanlah salam kepada Muawiyah, dan wasiatkan aku dengannya dengan baik; karena ia adalah orang yang amanah Allah atas kitab-Nya dan wahyu-Nya, dan sebaik-baik orang yang amanah.

Kemudian Ibnu Asakir menyebutkannya dari jalur lain, dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman, kemudian ia menyebutkannya juga dari riwayat Ali dan Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkonsultasi dengan Jibril tentang menjadikan Muawiyah sebagai penulis, lalu ia berkata: Jadikanlah ia penulis karena ia adalah orang yang amanah. Tetapi dalam sanad-sanad kepada mereka berdua ada kejanggalan. Kemudian ia menyebutkan dari Ali dalam hal itu banyak hal aneh, demikian juga dari yang lain.

Abu Awanah berkata, dari Sulaiman, dari Amr bin Murrah, dari Abdullah bin Al-Harits, dari Zuhair bin Al-Aqmar Az-Zubaidiy, dari Abdullah bin Amr ia berkata: Muawiyah menulis untuk Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Abu Al-Qasim Ath-Thabaraniy berkata: Ahmad bin Muhammad Ash-Shaidalaniy menceritakan kepada kami, As-Sariy bin Ashim menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yahya bin Abu Katsir menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah ia berkata: Ketika tiba giliran Ummu Habibah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, ada yang mengetuk pintu, lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Lihat siapa ini. Mereka berkata: Muawiyah. Beliau bersabda: Izinkan dia masuk. Maka ia masuk dan di telinganya ada pena yang belum ia gunakan untuk menulis, lalu beliau bersabda: Apa pena ini di telingamu wahai Muawiyah? Ia menjawab: Pena yang aku sediakan untuk Allah dan Rasul-Nya. Lalu beliau bersabda: Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas nama Nabi-mu, demi Allah Aku tidak menjadikanmu penulis kecuali dengan wahyu dari Allah, dan Aku tidak melakukan sesuatu yang kecil maupun besar kecuali dengan wahyu dari Allah, bagaimana menurutmu jika Allah mengenakan kepadamu pakaian? Yakni kekhalifahan. Maka Ummu Habibah berdiri, lalu duduk di hadapannya dan berkata: Wahai Rasulullah, dan sungguhkah Allah akan mengenakan kepadanya pakaian?! Beliau bersabda: Ya, tetapi di dalamnya ada keburukan-keburukan dan keburukan-keburukan dan keburukan-keburukan. Maka ia berkata: Wahai Rasulullah, maka doakanlah Allah untuknya. Lalu beliau bersabda: Ya Allah tunjukilah dia dengan petunjuk, dan jauhkanlah dia dari kerusakan, dan ampunilah dia di akhirat dan dunia. Ath-Thabaraniy berkata: As-Sariy bin Ashim menyendiri dengannya, dari Abdullah bin Yahya bin Abu Katsir, dari Hisyam. Dan Ibnu Asakir telah menyebutkan dari jalur Syuaib bin Ishaq dan yang lain, dari Hisyam bin Urwah, lalu menyebutkan dengan sanadnya yang serupa.

Dan Ibnu Asakir telah menyebutkan setelah ini banyak hadits-hadits palsu, dan yang mengherankan darinya dengan hafalannya dan pengetahuannya bagaimana ia tidak mengingatkan tentangnya dan tentang keanehannya serta kelemahan para perawinya. Dan Allah yang memberi taufik kepada yang benar. Dan ia telah menyebutkan dari jalur Abu Hurairah, Anas, dan Watsilah bin Al-Asqa secara marfu: Orang-orang yang amanah ada tiga; Jibril, aku, dan Muawiyah. Dan tidak shahih dari semua jalurnya. Dan dari riwayat Ibnu Abbas: Orang-orang yang amanah ada tujuh; Pena, Lauh, Israfil, Mikail, Jibril, aku, dan Muawiyah. Dan ini lebih aneh dari hadits-hadits sebelumnya, dan lebih lemah sanadnya.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, dari Mu’awiyah, yaitu Ibnu Shalih, dari Yunus bin Saif, dari Al-Harits bin Ziyad, dari Abu Rahm, dari Al-‘Irbadh bin Sariyah As-Sulami berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru kami untuk makan sahur di bulan Ramadhan: “Kemarilah untuk makan pagi yang penuh berkah.” Kemudian aku mendengarnya berdoa: “Ya Allah, ajarkan Mu’awiyah Kitab dan hisab (perhitungan), dan lindungilah dia dari azab.” Hadits ini diriwayatkan sendirian oleh Ahmad, dan diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari hadits Ibnu Mahdi, demikian juga diriwayatkan oleh Asad bin Musa, dan Bisyr bin As-Sari, dan Abdullah bin Shalih, dari Mu’awiyah bin Shalih, dengan sanadnya seperti itu. Dan dalam riwayat Bisyr bin As-Sari: “Dan masukkan dia ke dalam surga.”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dan lainnya, dari hadits Utsman bin Abdurrahman Al-Jumahi, dari ‘Atha’, dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah, ajarkan Mu’awiyah Kitab dan hisab, dan lindungilah dia dari azab.”

Dan Muhammad bin Sa’d berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb dan Al-Hasan bin Musa Al-Asyib, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Hilal Muhammad bin Sulaim, telah menceritakan kepada kami Jabalah bin ‘Athiyyah, dari Maslamah bin Mukhalad. Dan Al-Asyib berkata: Abu Hilal berkata: Atau dari seorang laki-laki, dari Maslamah bin Mukhalad. Dan Sulaiman bin Harb berkata: Atau telah menceritakan kepadanya Maslamah dari seorang laki-laki, bahwa dia melihat Mu’awiyah makan, lalu dia berkata kepada ‘Amr bin Al-‘Ash: Sesungguhnya anak pamanmu ini benar-benar sehat dan bugar. Dia berkata: Adapun aku, aku berkata kepadamu ini, dan sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah, ajarkan dia Kitab, teguhkanlah kedudukannya di berbagai negeri, dan lindungilah dia dari azab.” Dan hadits ini telah diriwayatkan secara mursal oleh lebih dari satu tabi’in, di antaranya: Az-Zuhri, ‘Urwah bin Ruwaim, Huraiz bin Utsman Ar-Rahbi Al-Himshi, dan Yunus bin Maisarah bin Halabas.

Dan Ath-Thabrani berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah dan Ahmad bin Muhammad bin Yahya bin Hamzah Ad-Dimasyqiyyani, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mushar, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdul ‘Aziz, dari Rabi’ah bin Yazid, dari Abdurrahman bin Abi ‘Umairah Al-Muzani, dan dia adalah salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa untuk Mu’awiyah: “Ya Allah, ajarkan dia Kitab dan hisab, dan lindungilah dia dari azab.” Ibnu ‘Asakir berkata: Dan ini adalah hadits ghalib (aneh/jarang), dan yang terjaga dengan sanad ini adalah hadits Al-‘Irbadh yang telah disebutkan sebelumnya.

Kemudian dia meriwayatkan dari jalur Ath-Thabrani, dari Abu Zur’ah, dari Abu Mushar, dari Sa’id, dari Rabi’ah, dari Abdurrahman bin Abi ‘Umairah Al-Muzani berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa untuk Mu’awiyah: “Ya Allah, jadikanlah dia pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk, berilah dia petunjuk dan berilah petunjuk melalui dia.”

Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Bahr, telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdul ‘Aziz, dari Rabi’ah bin Yazid, dari Abdurrahman bin Abi ‘Umairah Al-Azdi, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau menyebut Mu’awiyah dan berdoa: “Ya Allah, jadikanlah dia pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk dan berilah petunjuk melalui dia.” Dan demikian juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dari Muhammad bin Yahya dari Abu Mushar, dari Sa’id bin Abdul ‘Aziz dengannya, dan dia berkata: Hasan gharib. Dan telah meriwayatkannya Umar bin Abdul Wahid dan Muhammad bin Sulaiman Al-Harrani, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Walid bin Muslim dan Abu Mushar, dari Sa’id, dari Rabi’ah bin Yazid dari Abdurrahman bin Abi ‘Umairah. Dan diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Mushaffa, dari Marwan bin Muhammad Ath-Thathiri, dari Sa’id bin Abdul ‘Aziz, dari Rabi’ah bin Yazid, dari Abu Idris, dari Ibnu Abi ‘Umairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa untuk Mu’awiyah dan berdoa: “Ya Allah, ajarkan dia ilmu, jadikanlah dia pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk, berilah dia petunjuk dan berilah petunjuk melalui dia.” Dan telah meriwayatkannya Salamah bin Syabib dan Shafwan bin Shalih dan ‘Isa bin Hilal dan Abu Al-Azhar, dari Marwan Ath-Thathiri, dan mereka tidak menyebutkan Abu Idris dalam sanadnya. Dan diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari ‘Abdan bin Ahmad, dari Ali bin Sahl Ar-Ramli, dari Al-Walid bin Muslim, dari Sa’id bin Abdul ‘Aziz, dari Yunus bin Maisarah bin Halabas, dari Abdurrahman bin Abi ‘Umairah Al-Muzani, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut Mu’awiyah dan berdoa: “Ya Allah, jadikanlah dia pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk dan berilah petunjuk melalui dia.” Ibnu ‘Asakir berkata: Dan pendapat mayoritas adalah yang benar. Dan Ibnu ‘Asakir sangat memperhatikan hadits ini, dan panjang lebar membahasnya dengan baik dan menggembirakan, dan memberi manfaat dan berbuat baik, serta bagus dalam kritiknya, semoga Allah merahmatinya, betapa banyak tempat di mana dia unggul dibanding para hafidz dan kritikus hadits lainnya.

Dan At-Tirmidzi berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad An-Nufaili, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Waqid, dari Yunus bin Halabas, dari Abu Idris Al-Khaulani berkata: Ketika Umar bin Al-Khaththab memberhentikan ‘Umair bin Sa’d dari Syam, dan mengangkat Mu’awiyah, orang-orang berkata: Dia memberhentikan ‘Umair dan mengangkat Mu’awiyah. Maka ‘Umair berkata: Jangan kalian menyebut Mu’awiyah kecuali dengan kebaikan, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah, berilah petunjuk melalui dia.” Hadits ini diriwayatkan sendirian oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata: Gharib, dan ‘Amr bin Waqid adalah lemah. Demikian disebutkan oleh penulis kitab Athraf dalam musnad ‘Umair bin Sa’d Al-Anshari. Dan menurutku, seharusnya hadits ini dari riwayat Umar bin Al-Khaththab, dan yang benar: Maka Umar berkata: Jangan kalian menyebut Mu’awiyah kecuali dengan kebaikan. Agar menjadi alasan baginya dalam pengangkatannya. Dan yang menguatkan ini adalah bahwa Hisyam bin ‘Ammar berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi As-Sa’ib, yaitu Abdul ‘Aziz bin Al-Walid bin Sulaiman, berkata: Dan aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa Umar bin Al-Khaththab mengangkat Mu’awiyah bin Abi Sufyan, lalu mereka berkata: Dia mengangkat orang yang masih muda. Maka dia berkata: Kalian mencela aku dalam pengangkatannya, padahal aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah, jadikanlah dia pemberi petunjuk, dan berilah petunjuk melalui dia.” Dan ini adalah hadits terputus yang dikuatkan oleh yang sebelumnya.

Ath-Thabrani berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Utsman bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Syu’aib bin Sabur, telah menceritakan kepada kami Marwan bin Janah, dari Yunus bin Maisarah bin Halabas, dari Abdullah bin Busr bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta pendapat Abu Bakar dan Umar dalam suatu perkara, lalu bersabda: “Berilah pendapat kepadaku.” Maka keduanya berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu beliau bersabda: “Panggillah Mu’awiyah.” Maka Abu Bakar dan Umar berkata: Bukankah dalam diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dua orang laki-laki dari Quraisy sudah cukup untuk mengatur perkara mereka sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam harus mengutus seorang pemuda dari pemuda-pemuda Quraisy?! Maka beliau bersabda: “Panggillah Mu’awiyah untukku.” Maka dia dipanggil, ketika dia berdiri di hadapannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hadirkanlah dia dalam perkara kalian dan saksikanlah dia dalam perkara kalian, karena sesungguhnya dia kuat dan amanah.” Dan sebagian mereka meriwayatkan dari Nu’aim, dan menambahkan: “Dan percayakan kepadanya perkara kalian.” Kemudian Ibnu ‘Asakir menyebutkan banyak hadits yang palsu, tanpa diragukan, tentang keutamaan Mu’awiyah, kami tidak menyebutkannya, dan cukup dengan apa yang kami sebutkan dari hadits-hadits shahih, hasan, dan yang baik, dari yang palsu dan mungkar. Kemudian Ibnu ‘Asakir berkata: Dan hadits paling shahih yang diriwayatkan tentang keutamaan Mu’awiyah adalah hadits Abu Hamzah, dari Ibnu Abbas, bahwa dia adalah juru tulis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sejak dia masuk Islam. Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih-nya. Dan setelahnya hadits Al-‘Irbadh: “Ya Allah, ajarkan Mu’awiyah Kitab.” Dan setelahnya hadits Ibnu Abi ‘Umairah: “Ya Allah, jadikanlah dia pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk.”

Aku (penulis) berkata: Dan Al-Bukhari telah berkata dalam Kitab Al-Manaqib: Disebutkan Mu’awiyah bin Abi Sufyan: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Bisyr, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’affa, dari Utsman bin Al-Aswad, dari Ibnu Abi Mulaikah berkata: Mu’awiyah shalat witir setelah shalat Isya dengan satu rakaat, dan di sisinya ada seorang budak milik Ibnu Abbas, lalu dia menemui Ibnu Abbas, maka dia berkata: Biarkanlah dia karena sesungguhnya dia telah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Maryam, telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Mulaikah berkata: Dikatakan kepada Ibnu Abbas: Bagaimana pendapatmu tentang Amirul Mukminin Mu’awiyah? Dia tidak shalat witir kecuali dengan satu rakaat! Dia berkata: Benar, sesungguhnya dia adalah seorang yang ahli fikih.

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Abbas, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu At-Tayyah berkata: Aku mendengar Hamran dari Aban, dari Mu’awiyah berkata: Sesungguhnya kalian melakukan shalat yang kami telah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun kami tidak pernah melihatnya melakukan keduanya, dan sungguh dia melarang keduanya. Maksudnya dua rakaat setelah Ashar.

Kemudian Al-Bukhari setelah itu berkata: Disebutkan Hindun binti ‘Utbah bin Rabi’ah: Dan ‘Abdan berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku ‘Urwah, bahwa Aisyah berkata: Hindun binti ‘Utbah datang dan berkata: Ya Rasulullah, tidak ada di muka bumi dari penghuni tenda yang lebih aku sukai untuk dihinakan daripada penghuni tendamu, kemudian tidak ada hari ini di muka bumi penghuni tenda yang lebih aku sukai untuk dimuliakan daripada penghuni tendamu. Maka beliau bersabda: “Dan juga, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya.” Maka dia berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah lelaki yang pelit, apakah ada dosa bagiku jika aku memberi makan dari hartanya kepada keluarga kami? Beliau bersabda: “Tidak, dengan cara yang ma’ruf.” Maka pujian dalam sabdanya: “Dan juga, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya.” Dan maknanya adalah bahwa beliau menginginkan agar Hindun dan keluarganya dan setiap orang kafir dihinakan dalam keadaan kekafiran mereka, maka ketika mereka masuk Islam beliau menyukai agar mereka dimuliakan, maka Allah memuliakan mereka yaitu penghuni tendanya.

Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Abu Umayyah ‘Amr bin Yahya bin Sa’id berkata: Aku mendengar kakekku menceritakan bahwa Mu’awiyah mengambil bejana air setelah Abu Hurairah, lalu mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengannya – dan Abu Hurairah telah sakit – maka ketika dia membantu wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba beliau mengangkat kepalanya kepadanya satu atau dua kali saat sedang berwudhu, lalu bersabda: “Wahai Mu’awiyah, jika engkau memimpin suatu perkara maka bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah.” Mu’awiyah berkata: Maka aku terus menyangka bahwa aku akan diuji dengan pekerjaan, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga aku diuji. Hadits ini diriwayatkan sendirian oleh Ahmad. Dan diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Ad-Dunya, dari Abu Ishaq Al-Hamdzani Sa’id bin Zanbur bin Tsabit, dari ‘Amr bin Yahya bin Sa’id. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dari hadits Bisyr bin Al-Hakam, dari ‘Amr bin Yahya dengannya.

Dan Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Yahya bin Sa’id, dari kakeknya, dari Mu’awiyah berkata: Aku mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan air wudhu, maka ketika beliau berwudhu, beliau memandang kepadaku dan bersabda: “Wahai Mu’awiyah, jika engkau memimpin suatu perkara maka bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah.” Maka aku terus menyangka bahwa aku akan diuji dengan pekerjaan, karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga aku memimpin.

Dan diriwayatkan oleh Ghalib Al-Qaththan dari Al-Hasan berkata: Aku mendengar Mu’awiyah berkhutbah dan dia berkata: Suatu hari aku menuangkan air wudhu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau mengangkat kepalanya kepadaku dan bersabda: “Adapun engkau, sesungguhnya engkau akan memimpin perkara umatku setelahku, maka jika demikian terimalah dari orang yang berbuat baik di antara mereka dan maafkanlah orang yang berbuat salah di antara mereka.” Dan dia berkata: Maka aku terus berharap hingga aku berdiri di tempat berdiriku ini.

Dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Hakim dengan sanadnya kepada Isma’il bin Ibrahim bin Muhajir, dari Abdul Malik bin ‘Umair berkata: Mu’awiyah berkata: Demi Allah, tidak ada yang membawaku kepada kekhalifahan kecuali sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Mu’awiyah, jika engkau berkuasa maka berbuatlah baik.” Al-Baihaqi berkata: Isma’il bin Ibrahim ini adalah lemah, kecuali bahwa hadits ini memiliki penguat-penguat.

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dengan sanadnya dari Nuaim bin Hammad: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harb, dari Abu Bakar bin Abi Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad, dari Auf bin Malik al-Asyjai, ia berkata: Ketika aku sedang tidur di gereja Yohanes – yang pada saat itu menjadi masjid tempat orang-orang salat – tiba-tiba aku terbangun dari tidurku, lalu aku melihat seekor singa berjalan di hadapanku. Maka aku melompat menuju senjataku. Singa itu berkata: “Tunggu, sesungguhnya aku diutus kepadamu dengan sebuah pesan untuk kamu sampaikan.” Aku bertanya: “Siapa yang mengutusmu?” Ia menjawab: “Allah mengutus aku kepadamu agar kamu menyampaikan salam kepada Muawiyah, dan memberitahukan kepadanya bahwa ia termasuk penghuni surga.” Maka aku bertanya kepadanya: “Siapa Muawiyah?” Ia menjawab: “Muawiyah bin Abi Sufyan.” Dan diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari Abu Yazid al-Qaratisi, dari al-Mualla bin al-Walid al-Qaqa’i, dari Muhammad bin Harb al-Khaulani, dari Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Maryam al-Ghassani. Dan di dalamnya terdapat kelemahan, dan ini sangat gharib (aneh), dan mungkin semuanya adalah mimpi, dan ucapannya: “Lalu aku terbangun dari tidurku” adalah sisipan yang tidak dicatat dengan baik oleh Ibnu Abi Maryam. Wallahu a’lam (dan Allah Yang Maha Mengetahui).

Dan berkata Muhammad bin A’idz, dari al-Walid, dari Ibnu Lahi’ah, dari Yunus, dari az-Zuhri, ia berkata: Umar datang ke Jabiyah lalu memberhentikan Syurahbil, dan memerintahkan Amr bin al-Ash untuk berangkat ke Mesir, dan Syam tetap berada di bawah dua amir; Abu Ubaidah dan Yazid, kemudian Abu Ubaidah wafat, maka ia mengangkat Iyadh bin Ghanam sebagai penggantinya, kemudian Yazid wafat, maka ia mengangkat Muawiyah menggantikannya, kemudian Umar memberitahukan kematian itu kepada Abu Sufyan, maka ia berkata: “Wahai Abu Sufyan, bersabarlah atas (kematian) Yazid bin Abi Sufyan.” Ia bertanya: “Siapa yang engkau angkat menggantikannya?” Ia menjawab: “Muawiyah.” Maka ia berkata: “Engkau telah menyambung tali kekerabatan wahai Amirul Mukminin.” Maka yang menjadi (gubernur) atas Syam adalah Muawiyah dan Umair bin Sa’d, hingga Umar terbunuh, semoga Allah meridai mereka semua.

Dan berkata Muhammad bin Ishaq: Abu Ubaidah meninggal dalam wabah Amwas dan mengangkat Muadz sebagai penggantinya, lalu Muadz meninggal, dan mengangkat Yazid bin Abi Sufyan, lalu ia meninggal, dan mengangkat saudaranya Muawiyah, maka Umar menetapkannya, dan mengangkat Amr bin al-Ash untuk Palestina dan Yordania, dan Muawiyah untuk Damaskus, Baalbek dan al-Balqa, dan mengangkat Sa’id bin Amir bin Hudzaim untuk Homs, kemudian menggabungkan seluruh Syam untuk Muawiyah bin Abi Sufyan, kemudian Utsman bin Affan meneruskannya di Syam.

Dan berkata Ismail bin Umayyah: Umar menyendirikan Muawiyah dengan kepemimpinan Syam dan menjadikan untuknya setiap bulan delapan puluh dinar. Dan yang benar adalah bahwa yang menggabungkan seluruh Syam untuk Muawiyah adalah Utsman bin Affan, adapun Umar hanya mengangkatnya atas sebagian wilayahnya. Dan berkata sebagian mereka: Ketika Hindun ditakziyahi atas (kematian) Yazid bin Abi Sufyan – dan ia bukan dari Hindun – dikatakan kepadanya: Sesungguhnya Muawiyah telah dijadikan amir menggantikannya. Maka ia berkata: “Apakah seperti Muawiyah dijadikan pengganti seseorang?! Demi Allah, seandainya orang-orang Arab berkumpul lengkap, kemudian ia dilemparkan ke tengah mereka, niscaya ia akan keluar dari sisi mana pun yang ia kehendaki.”

Dan berkata yang lain: Muawiyah disebutkan di hadapan Umar, maka ia berkata: “Biarkanlah pemuda Quraisy dan putra pemimpinnya, sesungguhnya ia termasuk orang yang tertawa dalam kemarahan dan tidak didapatkan darinya kecuali dalam keadaan rida, dan termasuk orang yang tidak mengambil dari atas kepalanya kecuali dari bawah kakinya.”

Dan berkata Ibnu Abi ad-Dunya, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Qudamah al-Jauhari, telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz bin Bahr, dari seorang syaikh baginya, ia berkata: Ketika Umar bin al-Khaththab datang ke Syam, Muawiyah menjemputnya dengan rombongan yang besar, maka ketika ia mendekat kepada Umar, ia berkata kepadanya: “Engkau pemilik rombongan yang besar?” Ia menjawab: “Ya, wahai Amirul Mukminin.” Ia berkata: “Bersama dengan apa yang sampai kepadaku tentang lamanya orang-orang yang memiliki hajat menunggu di pintumu?” Ia menjawab: “Bersama dengan apa yang sampai kepadamu tentang itu.” Ia berkata: “Mengapa engkau melakukan ini?” Ia menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kami berada di negeri yang para mata-mata musuh di dalamnya banyak, maka wajib untuk menampakkan keagungan penguasa yang dapat membuat mereka takut, maka jika engkau memerintahkanku aku akan melakukannya, dan jika engkau melarangku aku akan berhenti.” Maka Umar berkata kepadanya: “Wahai Muawiyah, tidaklah aku menanyakan sesuatu kepadamu kecuali engkau meninggalkanku seperti sakit gigi yang berdenyut, jika apa yang engkau katakan benar, sesungguhnya itu adalah pendapat orang yang cerdas, dan jika itu batil, sesungguhnya itu adalah tipu daya orang yang beradab.” Ia berkata: “Maka perintahkan aku wahai Amirul Mukminin.” Ia berkata: “Aku tidak memerintahkanmu dan tidak melarangmu.” Maka seorang laki-laki berkata: “Wahai Amirul Mukminin, betapa baiknya pemuda itu keluar dari apa yang engkau pertanyakan kepadanya!” Maka Umar berkata: “Karena baiknya ia keluar dan masuk, kami bebankan kepadanya apa yang kami bebankan.”

Dan dalam riwayat bahwa Muawiyah menjemput Umar ketika ia datang ke Syam dan Muawiyah dalam rombongan yang banyak, lalu ia melewati Umar dan ia bersama Abdurrahman bin Auf mengendarai keledai, dan ia tidak menyadari mereka, lalu dikatakan kepadanya: Sesungguhnya engkau telah melewati Amirul Mukminin. Maka ia kembali, maka ketika ia melihat Umar, ia turun, dan ia terus berkata kepadanya apa yang telah kami sebutkan, maka Abdurrahman bin Auf berkata: “Betapa baiknya ia keluar dari apa yang engkau tanyakan kepadanya wahai Amirul Mukminin!” Maka ia berkata: “Karena itulah kami bebankan kepadanya apa yang kami bebankan.”

Dan berkata Abdullah bin al-Mubarak dalam kitab az-Zuhd: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Dzi’b, dari Muslim bin Jundub, dari Aslam maula Umar, ia berkata: Muawiyah datang kepada kami, dan ia adalah orang paling putih atau paling cerah dan paling tampan, maka ia keluar untuk haji bersama Umar, dan Umar memandangnya dengan kagum, kemudian ia meletakkan jarinya di punggungnya, lalu mengangkatnya seperti tali sandal, maka ia berkata: “Wah wah, kalau begitu kami adalah sebaik-baik manusia; bahwa dikumpulkan untuk kami kebaikan dunia dan akhirat.” Maka Muawiyah berkata: “Wahai Amirul Mukminin, aku akan menceritakan kepadamu; sesungguhnya kami berada di negeri pemandian dan wilayah subur.” Maka Umar berkata: “Aku akan menceritakan kepadamu; yang ada padamu bukanlah kamu melembutkan dirimu dengan makanan yang paling enak dan kamu mandi di pagi hari hingga matahari menyinari punggungmu, sementara orang-orang yang memiliki hajat ada di belakang pintu.” Ia berkata: Maka ketika kami datang ke Dzu Thuwa, Muawiyah mengeluarkan sepasang pakaian lalu memakainya, maka Umar mendapati darinya bau seakan-akan bau harum, maka ia berkata: “Salah seorang dari kalian berniat keluar untuk haji dalam keadaan buruk, hingga ketika ia datang ke negeri Allah yang paling agung kehormatan, ia mengeluarkan dua pakaiannya seakan-akan keduanya berada dalam wewangian lalu memakainya!” Maka Muawiyah berkata: “Sesungguhnya aku memakainya untuk masuk kepada keluargaku atau kaumku dengan keduanya.” Demi Allah sungguh telah sampai kepadaku gangguanmu di sini dan di Syam, dan Allah mengetahui bahwa aku sungguh mengetahui rasa malu di dalamnya. Kemudian Muawiyah melepas dua pakaiannya, dan memakai dua pakaiannya yang ia pakai untuk ihram.

Dan berkata Abu Bakar bin Abi ad-Dunya: telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin Muhammad, dari Abu Abdurrahman al-Madani, ia berkata: Umar bin al-Khaththab apabila melihat Muawiyah berkata: “Ini adalah Kisra-nya orang Arab.” Dan demikian pula al-Madaini meriwayatkan dari Umar bahwa ia berkata demikian.

Dan berkata Amr bin Yahya bin Sa’id al-Umawi, dari kakeknya, ia berkata: Muawiyah masuk menemui Umar dan ia mengenakan pakaian hijau, maka para sahabat memandangnya, maka ketika Umar melihat itu, ia melompat kepadanya dengan cambuk, lalu ia memukul dengannya, dan Muawiyah terus berkata: “Wahai Amirul Mukminin, (demi) Allah (demi) Allah terhadapku.” Maka Umar kembali ke tempatnya, maka kaum itu berkata kepadanya: “Mengapa engkau memukulnya wahai Amirul Mukminin, padahal tidak ada dalam kaummu seperti dia?!” Maka ia berkata: “Demi Allah aku tidak melihat kecuali kebaikan, dan tidak sampai kepadaku kecuali kebaikan, akan tetapi aku melihatnya – dan ia memberi isyarat dengan tangannya – maka aku ingin merendahkannya.”

Dan sungguh berkata Abu Dawud: telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamzah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Maryam, bahwa al-Qasim bin Mukhaimirah mengabarkan kepadanya bahwa Abu Maryam al-Azdi mengabarkan kepadanya, ia berkata: Aku masuk menemui Muawiyah maka ia berkata: “Apa yang membuat kami tidak mendapat kenikmatanmu wahai Abu fulan?” – dan itu adalah kalimat yang diucapkan oleh orang Arab – maka aku berkata: Sebuah hadits yang aku dengar akan aku kabarkan kepadamu dengannya, aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah Azza wa Jalla memberikan kepadanya sesuatu dari urusan kaum muslimin, lalu ia bersembunyi tanpa (memenuhi) hajat mereka, kebutuhan mereka dan kemiskinan mereka, maka Allah akan bersembunyi tanpa (memenuhi) hajatnya, kebutuhannya dan kemiskinannya.” Ia berkata: Maka ia mengangkat seorang laki-laki untuk (mengurusi) hajat-hajat manusia. Dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya.

Dan berkata al-Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Marwan bin Muawiyah al-Fazari, telah menceritakan kepada kami Habib bin asy-Syahid, dari Abu Mijlaz, ia berkata: Muawiyah keluar kepada manusia, maka mereka berdiri untuknya, maka ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang senang orang-orang berdiri untuknya, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.” Dan dalam riwayat ia berkata: Muawiyah keluar kepada Ibnu Amir dan Ibnu az-Zubair, maka Ibnu Amir berdiri untuknya, dan Ibnu az-Zubair tidak berdiri untuknya, maka Muawiyah berkata kepada Ibnu Amir: Duduklah, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang senang para hamba berdiri untuknya, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.” Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari hadits Habib bin asy-Syahid, dan at-Tirmidzi berkata: Hadits hasan.

Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits ats-Tsauri, dari Tsaur bin Yazid, dari Rasyid bin Sa’d al-Miqra’i al-Himshi, dari Muawiyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya engkau jika mengikuti aib-aib manusia, engkau merusak mereka. Atau: hampir-hampir engkau merusak mereka.” Abu ad-Darda berkata: Sebuah kalimat yang Muawiyah dengar, Allah memberikan manfaat kepadanya dengannya. Hanya diriwayatkan oleh Abu Dawud. Maksudnya bahwa ia memiliki perjalanan yang baik, pemaaf yang bagus, banyak menutup (aib), semoga Allah merahmatinya.

Dan tetap dalam ash-Shahihain dari hadits az-Zuhri, dari Humaid bin Abdurrahman, dari Muawiyah bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, Dia akan menjadikannya paham dalam agama, dan sesungguhnya aku hanya pembagi dan Allah yang memberi, dan tidak akan berhenti sekelompok dari umatku yang menang atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang-orang yang mengecewakan mereka dan tidak orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang perintah Allah dan mereka dalam keadaan menang.” Dan dalam riwayat: “Dan mereka atas itu.” Dan sungguh Muawiyah pernah berkhutbah dengan hadits ini kemudian berkata: Dan ini Malik bin Yukhamir mengabarkan dari Muadz, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dan mereka di Syam” maka ia mendorong dengan ini penduduk Syam untuk melawan penduduk Irak – dan bahwa penduduk Syam adalah kelompok yang ditolong atas orang yang menyelisihi mereka. Dan ini termasuk yang dijadikan hujjah oleh Muawiyah untuk penduduk Syam dalam peperangan mereka dengan penduduk Irak.

Dan berkata al-Laits bin Sa’d: Muawiyah menaklukkan Qaisariyah tahun sembilan belas dalam masa Umar bin al-Khaththab. Dan berkata selainnya: Dan menaklukkan Siprus tahun lima. Dan dikatakan: tahun tujuh. Dan dikatakan: dua puluh delapan. Di masa Utsman. Mereka berkata: Dan tahun perang al-Madhiq – maksudnya selat Konstantinopel – pada tahun tiga puluh dua, amir atas manusia pada waktu itu adalah Muawiyah bin Abi Sufyan, semoga Allah meridainya, dan Utsman menggabungkan untuk Muawiyah seluruh Syam, dan sungguh Muawiyah telah mengangkat Fadhalah bin Ubaid sebagai qadhi setelah Abu ad-Darda, kemudian terjadilah apa yang terjadi antara dia dan Ali setelah terbunuhnya Utsman, atas dasar ijtihad dan pendapat, maka terjadilah antara keduanya peperangan yang besar, sebagaimana yang telah kami jelaskan, dan kebenaran dan kebenaran bersama Ali, dan Muawiyah dimaafkan menurut jumhur ulama salaf dan khalaf, dan sungguh hadits-hadits shahih telah bersaksi dengan keislaman kedua kelompok dari dua pihak; penduduk Irak dan penduduk Syam.

Sebagaimana tetap dalam hadits shahih: “Akan keluar kelompok yang menyimpang pada saat perpecahan dari kaum muslimin, maka membunuh mereka kelompok yang paling dekat kepada kebenaran.” Maka kelompok yang menyimpang adalah Khawarij, dan Ali dan para sahabatnya membunuh mereka, kemudian Ali terbunuh, maka Muawiyah menyendiri dengan urusan pada tahun empat puluh satu, dan ia memerangi Romawi setiap tahun dua kali; sekali di musim panas, dan sekali di musim dingin, dan ia memerintahkan seorang laki-laki dari kaumnya untuk menghajikan manusia.

Dan Muawiyah menghajikan manusia tahun lima puluh, dan putranya Yazid haji tahun lima puluh satu, dan di dalamnya atau di tahun setelahnya ia memeranginya di negeri Romawi, maka berjalan bersamanya banyak dari para sahabat besar hingga mengepung Konstantinopel, dan sungguh tetap dalam ash-Shahih: “Pasukan pertama yang memerangi Konstantinopel diampuni bagi mereka.” Dan ini semua telah dikemukakan.

Dan berkata Waki’, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, ia berkata: Penggembala unta menggembalakan Utsman maka ia berkata:

Sesungguhnya amir setelahnya adalah Ali … dan dalam az-Zubair pengganti yang diridai

Maka Ka’ab berkata: Bahkan ia adalah pemilik baghal yang putih. Maksudnya Muawiyah. Maka Muawiyah datang kepadanya lalu berkata: “Wahai Abu Ishaq, engkau mengatakan ini, dan di sini ada Ali dan az-Zubair dan para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam?” Maka ia berkata: “Engkau pemiliknya.” Dan diriwayatkan oleh Saif, dari Badr bin al-Khalil, dari Utsman bin Athiyyah al-Asadi, dari seorang laki-laki dari Bani Asad, ia berkata: Muawiyah tidak berhenti mengharapkannya sejak ia mendengar penggembala unta di masa Utsman berkata:

Sesungguhnya amir setelahnya adalah Ali … dan dalam az-Zubair pengganti yang diridai

Maka Ka’ab berkata: Engkau berbohong, bahkan pemilik baghal yang putih setelahnya. Maksudnya Muawiyah. Maka Muawiyah berkata kepadanya tentang itu, maka ia berkata: Ya, engkau adalah amir setelahnya, akan tetapi demi Allah tidak akan sampai kepadamu hingga engkau mendustakan haditsku ini, maka terpatrilah di hati Muawiyah.

Dan berkata Ibnu Abi ad-Dunya: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abbad al-Makki, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah, dari Abu Harun, ia berkata: Umar berkata: “Hati-hatilah kalian dari perpecahan setelahku, maka jika kalian melakukannya maka sesungguhnya Muawiyah di Syam, dan kalian akan mengetahui jika kalian diserahkan kepada pendapat kalian bagaimana ia akan merebutnya tanpa kalian.” Dan diriwayatkan oleh al-Waqidi dari jalan lain, dari Umar, semoga Allah meridainya.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Amir asy-Sya’bi, bahwa Ali ketika mengutus Jarir bin Abdullah al-Bajali kepada Muawiyah sebelum Perang Shiffin terjadi – dan hal itu terjadi ketika Ali bertekad untuk menuju Syam dan mengumpulkan pasukan untuk itu – dan Ali menulis surat bersamanya untuk Muawiyah yang di dalamnya Ali menyebutkan bahwa baiat kepada Ali telah wajib bagi Muawiyah karena para Muhajirin dan Anshar telah membaiatnya, maka jika engkau tidak membaiat aku akan meminta pertolongan kepada Allah terhadapmu dan memerangimu. Dan engkau telah banyak berbicara mengenai pembunuh Utsman, maka masuklah ke dalam apa yang telah dimasuki oleh manusia, kemudian adukan orang-orang itu kepadaku maka aku akan membawa engkau dan mereka kepada Kitabullah. Dalam ucapan yang panjang, dan kami telah menyebutkan sebagian besarnya di bagian sebelumnya – kemudian Muawiyah membacakannya kepada orang-orang, dan Jarir berdiri lalu berkhutbah kepada orang-orang, dan dalam khutbahnya dia memerintahkan Muawiyah untuk mendengar dan taat, dan memperingatkannya dari menyelisihi dan membangkang, dan melarangnya dari menimbulkan fitnah di antara manusia dan agar tidak memukul sebagian mereka sebagian yang lain dengan pedang. Maka Muawiyah berkata kepadanya: Tunggulah hingga aku mengambil pendapat penduduk Syam. Ketika setelah itu, Muawiyah memerintahkan seorang penyeru untuk menyeru di tengah orang-orang: Shalat berjamaah. Ketika orang-orang berkumpul, dia naik mimbar lalu berkhutbah, dia berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan tiang-tiang bagi Islam sebagai rukun-rukun, dan syariat-syariat bagi iman sebagai bukti yang jelas, pelitanya menyala dengan Sunnah di bumi yang suci yang telah Allah jadikan sebagai tempat para nabi dan orang-orang saleh dari hamba-hamba-Nya, maka Dia jadikan penduduk Syam menempatinya dan meridhai mereka untuknya serta meridhai bumi itu untuk mereka, karena apa yang telah terdahulu dari ilmu-Nya yang tersimpan berupa ketaatan mereka dan nasihat mereka kepada wali-wali-Nya di dalamnya, dan yang menegakkan urusan-Nya, yang membela agama-Nya dan hal-hal yang suci bagi-Nya, kemudian Dia menjadikan mereka sebagai keteraturan bagi umat ini dan sebagai tokoh besar dalam tanda-tanda kebaikan, Allah menahan dengan mereka orang-orang yang ingkar janji, dan mengumpulkan dengan mereka persatuan orang-orang mukmin. Kami memohon pertolongan kepada Allah atas apa yang telah berantakan dari urusan kaum muslimin dan berjauhan di antara mereka setelah kedekatandan persatuan. Ya Allah, tolonglah kami terhadap suatu kaum yang membangunkan orang yang tidur, menakut-nakuti orang yang aman di antara kami, dan ingin menumpahkan darah kami serta menakuti jalan kami. Dan Allah mengetahui bahwa kami tidak menginginkan hukuman bagi mereka dan tidak membuka tirai mereka, namun Allah Yang Maha Terpuji telah mengenakan kepada kami pakaian kemuliaan yang tidak akan kami lepaskan dengan sukarela selama gema masih menjawab, embun masih turun, dan petunjuk masih dikenal. Dan kami telah mengetahui bahwa yang membawa mereka untuk menyelisihi kami adalah kesewenangan dan kedengkian kepada kami, maka kepada Allah kami memohon pertolongan terhadap mereka. Wahai manusia, sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah khalifah Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, dan bahwa aku adalah khalifah Amirul Mukminin Utsman atas kalian, dan bahwa aku tidak pernah mengangkat seorang pun dari kalian atas kehinaan, dan bahwa aku adalah wali Utsman dan anak pamannya. Allah Taala berfirman dalam Kitab-Nya: “Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya” (al-Isra’: 33). Dan kalian telah mengetahui bahwa dia dibunuh secara zalim, dan aku ingin kalian memberitahuku isi hati kalian mengenai pembunuhan Utsman. Maka penduduk Syam seluruhnya berkata: Bahkan kami menuntut darahnya. Mereka menjawabnya untuk itu dan membaiatnya, dan mereka berjanji kepadanya untuk mengorbankan dalam hal itu diri mereka dan harta mereka, atau mereka akan mendapatkan balasan darahnya, atau Allah akan menghabiskan nyawa mereka sebelum itu. Ketika Jarir melihat ketaatan penduduk Syam kepada Muawiyah sebagaimana yang dia lihat, hal itu membuatnya takut dan dia heran dengannya. Dan Muawiyah berkata kepada Jarir: Jika Ali mengangkatku atas Syam dan Mesir, aku akan membaiatnya dengan syarat tidak ada baiat bagiku setelahnya kepada seorang pun. Maka Jarir berkata: Tulislah kepada Ali apa yang engkau kehendaki, dan aku akan menulis bersamamu. Ketika surat itu sampai kepada Ali, dia berkata: Ini adalah tipu daya, dan sungguh Mughirah bin Syu’bah telah memintaku untuk mengangkat Muawiyah atas Syam ketika aku di Madinah, namun aku menolak hal itu dan aku tidak akan menjadikan orang-orang yang menyesatkan sebagai penolong. Kemudian dia menulis kepada Jarir untuk datang kepadanya, maka tidaklah dia datang kecuali pasukan-pasukan telah berkumpul kepada Ali. Dan Muawiyah menulis kepada Amr bin al-Ash – dan dia sedang menyendiri di Palestina ketika Utsman dibunuh – dan Utsman telah memecatnya dari Mesir, maka Muawiyah menulis kepadanya memanggilnya agar meminta nasihatnya dalam urusan-urusannya, lalu dia berkendaraan kepadanya, maka keduanya sepakat untuk memerangi Ali.

Dan al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’aith telah berkata dalam surat Muawiyah kepada Ali ketika dia memintanya untuk menjadi wakil atas Syam dan Mesir, maka Ali menulis kepada Muawiyah mencela dan menyalahkannya atas hal itu dan menyinggung beberapa hal padanya:

Wahai Muawiyah, sesungguhnya Syam adalah Syam-mu maka berpegang teguhlah dengan Syam-mu jangan sampai ular-ular masuk kepadamu Dan jagalah dia dengan suku-suku dan tombak-tombak dan janganlah engkau menjadi orang yang lemah lengan dan lemah Maka sesungguhnya Ali memperhatikan apa yang akan engkau jawab kepadanya maka siapkanlah baginya perang yang memutihkan ubanan Dan jika tidak maka berserah dirilah sesungguhnya dalam keamanan ada ketenangan bagi orang yang tidak menginginkan perang maka pilihlah wahai Muawiyah Dan sesungguhnya surat wahai putra Harb yang engkau tulis atas dasar keserakahan telah membawa kepadamu bencana-bencana Engkau meminta kepada Ali di dalamnya apa yang tidak akan engkau dapatkan dan seandainya engkau mendapatkannya tidaklah akan tersisa kecuali beberapa malam saja Hingga engkau melihat darinya sesuatu yang setelahnya tidak ada kelangsungan hidup maka janganlah banyak-banyak angan-anganmu Dan seperti Ali engkau tipu dengan tipu daya padahal apa yang telah engkau coba sebelumnya sudah cukup Dan seandainya kuku-kukunya mencengkerammu suatu kali Ibnu Hind akan memberimu sepatu setelah engkau memberinya sepatu

Dan telah datang dari beberapa jalur bahwa Abu Muslim al-Khaulani dan sekelompok orang bersamanya masuk menemui Muawiyah, lalu mereka berkata kepadanya: Apakah engkau menyaingi Ali ataukah engkau sepertinya? Maka dia berkata: Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui bahwa dia lebih baik dariku dan lebih utama, dan lebih berhak atas urusan ini dariku, tetapi bukankah kalian mengetahui bahwa Utsman dibunuh secara zalim, dan aku adalah anak pamannya, dan aku menuntut darahnya, dan urusannya adalah kepadaku? Maka katakanlah kepadanya agar dia menyerahkan kepadaku pembunuh Utsman, dan aku akan menyerahkan kepadanya urusanku. Maka mereka mendatangi Ali dan berbicara kepadanya mengenai hal itu, namun dia tidak menyerahkan kepada mereka seorang pun. Maka pada saat itulah penduduk Syam bertekad untuk berperang bersama Muawiyah.

Dan dari Amr bin Syamir dari Jabir al-Ju’fi dari Amir asy-Sya’bi atau Abu Ja’far al-Baqir, dia berkata: Ali mengutus seorang laki-laki ke Damaskus untuk memberitahu mereka bahwa Ali telah berangkat dengan penduduk Irak kepada kalian untuk mengetahui ketaatan mereka kepada Muawiyah. Ketika dia tiba, Muawiyah memerintahkan lalu diseru di tengah orang-orang: Shalat berjamaah. Maka mereka memenuhi masjid, kemudian dia naik mimbar lalu berkata dalam khutbahnya: Sesungguhnya Ali telah berangkat kepada kalian dengan penduduk Irak, maka apa pendapat kalian? Maka setiap orang dari mereka memukul dadanya dan tidak seorang pun dari mereka berbicara, dan mereka tidak mengangkat pandangan mereka kepadanya. Dan Dzul Kala’ berdiri lalu berkata: Wahai Amirul Mukminin, kepadamu pendapat dan kepada kami perbuatan. Kemudian Muawiyah menyeru di tengah orang-orang: Keluarlah kalian ke tempat berkumpul kalian dalam tiga hari, maka barangsiapa terlambat maka sungguh dia telah menghalalkan terhadap dirinya. Maka mereka semua berkumpul. Lalu laki-laki itu berkendaraan kepada Ali dan memberitahunya. Maka Ali memerintahkan seorang penyeru lalu dia menyeru: Shalat berjamaah. Maka mereka berkumpul, lalu dia naik mimbar dan berkata: Sesungguhnya Muawiyah telah mengumpulkan orang-orang untuk memerangi kalian, maka apa pendapat kalian? Maka setiap kelompok dari mereka berkata suatu perkataan, dan percakapan sebagian mereka bercampur dengan sebagian yang lain sehingga Ali tidak mengetahui sedikitpun dari apa yang mereka katakan. Maka dia turun dari mimbar sambil berkata: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali), demi Allah Ibnu Pemakan Hati telah pergi dengannya. Kemudian terjadilah dari urusan kedua kelompok di Shiffin sebagaimana yang terjadi, sebagaimana yang telah kami sebutkan secara terperinci pada tahun tiga puluh enam.

Dan Abu Bakar bin Duraid telah berkata: Abu Hatim mengabarkan kepada kami dari Abu Ubaidah, dia berkata: Muawiyah berkata: Sungguh aku telah meletakkan kakiku di sanggurdi dan aku hampir lari pada hari Shiffin, tidaklah yang menghalangiku kecuali perkataan Ibnul Ithnabah di mana dia berkata:

Kesucianku menolakku dan ujianku menolak dan pengambilanku pujian dengan harga yang menguntungkan Dan pemaksaanku atas hal yang dibenci jiwaku dan pukulanku kepala pahlawan yang terluka Dan perkataanku setiap kali dia bersendawa dan bergejolak: tempatmu hendaknya engkau dipuji atau beristirahatlah

Dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa dia berkata: Para khalifah adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Maka dikatakan kepadanya: Lalu Muawiyah? Dia berkata: Tidak ada seorang pun yang lebih berhak atas khilafah pada zaman Ali daripada Ali. Semoga Allah merahmati Muawiyah.

Dan Ali bin al-Madini berkata: Aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata: Tidak ada pada Ali sifat yang menguranginya dari khilafah, dan tidak ada pada Muawiyah sifat yang dia bisa menyaingi Ali dengannya. Dan dikatakan kepada Syarik al-Qadhi: Apakah Muawiyah itu penyantun? Maka dia berkata: Tidaklah penyantun orang yang mengingkari kebenaran dan memerangi Ali. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir.

Dan Sufyan ats-Tsauri berkata dari Habib dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa dia menyebutkan Muawiyah dan bahwa dia bertalbiyah pada petang Arafah, maka dia berkata mengenainya perkataan yang keras, kemudian sampai kepadanya bahwa Ali bertalbiyah pada petang Arafah, maka dia meninggalkannya.

Dan Abu Bakar bin Abi ad-Dunya berkata: Abbad bin Musa menceritakan kepadaku, Ali bin Tsabit al-Jazari menceritakan kepada kami dari Said bin Abi Arubah dari Umar bin Abdul Aziz, dia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi dan Abu Bakar serta Umar duduk di sisinya, maka aku memberi salam dan duduk. Ketika aku sedang duduk, tiba-tiba didatangkan Ali dan Muawiyah, lalu keduanya dimasukkan ke sebuah rumah dan pintunya ditutup sedang aku memperhatikan. Maka tidaklah lebih cepat dari itu Ali keluar sambil berkata: Telah diputuskan untukku demi Tuhan Ka’bah. Kemudian tidaklah lebih cepat dari itu Muawiyah keluar sambil berkata: Aku telah diampuni demi Tuhan Ka’bah.

Dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Zur’ah ar-Razi bahwa seorang laki-laki berkata kepadanya: Sesungguhnya aku membenci Muawiyah. Maka dia berkata kepadanya: Mengapa? Dia berkata: Karena dia memerangi Ali. Maka Abu Zur’ah berkata kepadanya: Celakalah engkau! Sesungguhnya Tuhan Muawiyah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang, dan lawan Muawiyah adalah lawan yang mulia, maka apa urusanmu engkau masuk di antara keduanya?! Semoga Allah meridhai keduanya.

Dan Imam Ahmad ditanya tentang apa yang terjadi antara Ali dan Muawiyah, maka dia membaca: “Itu adalah umat yang telah lalu, bagi mereka apa yang mereka usahakan dan bagi kalian apa yang kalian usahakan, dan kalian tidak akan ditanya tentang apa yang mereka kerjakan” (al-Baqarah: 134). Dan demikianlah yang dikatakan oleh lebih dari satu orang dari kalangan Salaf.

Dan al-Auza’i berkata: al-Hasan ditanya tentang apa yang terjadi antara Ali dan Utsman, maka dia berkata: Bagi yang ini ada keutamaan dan bagi yang itu ada keutamaan, dan bagi yang ini ada kekerabatan dan bagi yang itu ada kekerabatan, maka yang ini diuji dan yang itu diberi keselamatan. Dan dia ditanya tentang apa yang terjadi antara Ali dan Muawiyah, maka dia berkata: Bagi yang ini ada kekerabatan dan bagi yang itu ada kekerabatan, dan bagi yang ini ada keutamaan, dan tidak ada bagi yang itu keutamaan, maka keduanya diuji.

Dan Kaltsum bin Jausyan berkata: an-Nadhr Abu Umar bertanya kepada al-Hasan al-Bashri, maka dia berkata: Apakah Abu Bakar lebih utama ataukah Ali? Maka dia berkata: Subhanallah! Dan tidaklah sama, telah terdahulu bagi Ali keutamaan-keutamaan yang Abu Bakar ikut serta di dalamnya, dan Ali mengadakan perkara-perkara yang Abu Bakar tidak ikut serta di dalamnya. Abu Bakar lebih utama. Maka dia berkata: Apakah Umar lebih utama ataukah Ali? Maka dia berkata seperti perkataannya yang pertama, kemudian dia berkata: Umar lebih utama. Kemudian dia berkata: Apakah Utsman lebih utama ataukah Ali? Maka dia berkata seperti perkataannya yang pertama, kemudian dia berkata: Utsman lebih utama. Dia berkata: Apakah Ali lebih utama ataukah Muawiyah? Maka dia berkata: Subhanallah! Dan tidaklah sama, telah terdahulu bagi Ali keutamaan-keutamaan yang Muawiyah tidak ikut serta di dalamnya, dan Ali mengadakan perkara-perkara yang Muawiyah ikut serta di dalamnya. Ali lebih utama daripada Muawiyah.

Dan telah diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri bahwa dia mengingkari empat hal terhadap Muawiyah: peperangannya terhadap Ali, pembunuhannya terhadap Hujr bin Adi, penisbatannya Ziyad bin Abihi, dan pembaiatan untuk Yazid putranya.

Dan Jarir bin Abdul Hamid berkata dari Mughirah, dia berkata: Ketika sampai kabar pembunuhan Ali kepada Muawiyah, dia menangis. Maka istrinya berkata kepadanya: Apakah engkau menangisinya padahal engkau telah memeranginya? Maka dia berkata: Celakalah engkau! Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang telah hilang dari manusia berupa keutamaan, fikih, dan ilmu. Dan dalam riwayat bahwa dia berkata kepadanya: Kemarin engkau memeranginya dan hari ini engkau menangisinya?!

Aku (penulis) berkata: Dan terbunuhnya Ali adalah pada bulan Ramadhan tahun empat puluh sebagaimana yang telah kami sebutkan. Dan karena itu al-Laits bin Sa’d berkata: Sesungguhnya Muawiyah dibaiat di Iliya dengan baiat jama’ah, dan dia memasuki Kufah pada tahun empat puluh. Dan yang benar yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq dan jumhur adalah bahwa dia dibaiat di Iliya pada bulan Ramadhan tahun empat puluh ketika sampai kepada penduduk Syam kabar terbunuhnya Ali, tetapi sesungguhnya dia baru memasuki Kufah setelah perdamaian dengan Hasan pada bulan Rabiul Awal tahun empat puluh satu, dan itu adalah tahun jama’ah, dan hal itu di tempat yang disebut Adzruh. Dan dikatakan: di Maskan, dari tanah sawad Irak dari arah Anbar. Maka Muawiyah menjadi mandiri dengan urusan hingga dia wafat pada tahun enam puluh. Dan sebagian dari mereka berkata: Ukiran cincin Muawiyah adalah: Untuk setiap amal ada balasan. Dan dikatakan: Bahkan adalah: Tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah.

Dan Ya’qub bin Sufyan berkata: Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Said bin Manshur menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, al-A’masy menceritakan kepada kami dari Amr bin Murrah dari Said bin Suwaid, dia berkata: Muawiyah shalat bersama kami di an-Nakhilah – yaitu di luar Kufah – Jumat pada waktu Dhuha, kemudian dia berkhutbah kepada kami lalu berkata: Aku tidak memerangi kalian agar kalian berpuasa, tidak pula agar kalian shalat, tidak pula agar kalian berhaji, dan tidak pula agar kalian berzakat. Aku telah mengetahui bahwa kalian melakukan hal itu. Tetapi sesungguhnya aku memerangi kalian agar aku menjadi pemimpin atas kalian. Maka Allah telah memberikan hal itu kepadaku sedang kalian tidak menyukainya. Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sa’d dari Ya’la bin Ubaid dari al-A’masy dengannya.

Dan Muhammad bin Sa’d berkata: Arim menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Ma’mar dari az-Zuhri bahwa Muawiyah bekerja selama dua tahun dengan pekerjaan Umar tidak ada cacatnya di dalamnya, kemudian sesungguhnya dia setelahnya berubah.

Dan berkata Nu’aim bin Hammad: telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudail, dari As-Sirri bin Isma’il, dari Asy-Sya’bi, telah menceritakan kepadaku Sufyan bin Al-Lail berkata: Aku berkata kepada Al-Hasan bin Ali ketika ia tiba dari Kufah ke Madinah: Wahai orang yang menghinakan kaum mukminin. Dia berkata: Jangan berkata demikian, karena aku mendengar ayahku berkata: Tidak akan berlalu siang dan malam hingga Muawiyah menjadi penguasa. Maka aku mengetahui bahwa urusan Allah akan terjadi, maka aku tidak suka darah kaum muslimin tertumpah antara aku dan dia.

Dan berkata Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Al-Harits Al-A’war berkata: Ali berkata setelah kembali dari Shiffin: Wahai manusia, janganlah kalian membenci kepemimpinan Muawiyah, karena jika kalian kehilangannya kalian akan melihat kepala-kepala berjatuhan dari pundaknya seperti buah hanzhal.

Dan berkata Ibnu Asakir dengan sanadnya dari Abu Dawud Ath-Thayalisi, telah menceritakan kepada kami Ayyub bin Jabir, dari Abu Ishaq, dari Al-Aswad bin Yazid berkata: Aku berkata kepada Aisyah: Tidakkah engkau heran dengan seorang laki-laki dari kaum yang dibebaskan (thulaqo) yang memperebutkan khilafah dengan para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Maka dia berkata: Apa yang membuatmu heran dengan hal itu? Itu adalah kekuasaan Allah yang diberikan-Nya kepada orang yang berbakti maupun orang yang jahat, dan sesungguhnya Fir’aun telah menguasai penduduk Mesir selama empat ratus tahun.

Dan berkata Az-Zuhri: telah menceritakan kepadaku Al-Qasim bin Muhammad, bahwa Muawiyah ketika tiba di Madinah hendak menunaikan haji masuk menemui Aisyah, lalu berbicara dengannya berdua saja, tidak ada yang menyaksikan pembicaraan mereka kecuali Dzakwan Abu Amr, budak Aisyah. Maka dia berkata: Apakah kamu merasa aman bahwa aku akan menyembunyikan untukmu seorang laki-laki yang akan membunuhmu karena engkau membunuh saudaraku Muhammad? Maka dia berkata: Benar. Lalu Muawiyah berbicara dengannya, dan ketika dia menyelesaikan pembicaraannya dengannya, Aisyah membaca syahadat, kemudian menyebutkan apa yang telah Allah utus kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam berupa petunjuk dan agama yang benar, dan apa yang telah ditetapkan oleh para khalifah setelahnya, dan mendorong Muawiyah untuk mengikuti perintah mereka, dia berkata dalam hal itu dan tidak meninggalkan apapun. Ketika dia menyelesaikan ucapannya, Muawiyah berkata kepadanya: Demi Allah, engkau adalah orang yang mengetahui urusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang memberikan nasihat, yang penuh kasih sayang, yang fasih nasihatnya, mendorong kepada kebaikan dan memerintahkannya, dan engkau tidak memerintahkan kami kecuali dengan apa yang baik bagi kami, dan engkau layak untuk ditaati. Dan dia berbicara dengan Muawiyah dengan banyak pembicaraan. Ketika Muawiyah berdiri, dia bersandar pada Dzakwan dan berkata: Demi Allah, aku tidak pernah mendengar seorang khatib selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih fasih daripada Aisyah.

Dan berkata Muhammad bin Sa’d: telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad Al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal, telah menceritakan kepadaku Alqamah bin Abi Alqamah, dari ibunya berkata: Muawiyah bin Abi Sufyan tiba di Madinah, lalu dia mengirim kepada Aisyah untuk mengirimkan kepadanya jubah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan rambutnya, maka dia mengirimkannya bersamaku dan aku membawanya, hingga aku masuk kepadanya dengannya, maka dia mengambil jubah itu dan memakainya, dan mengambil rambutnya lalu meminta air, lalu mencucinya dan meminumnya, dan menuangkannya ke kulitnya.

Dan berkata Al-Ashma’i, dari Al-Hudzali, dari Asy-Sya’bi berkata: Ketika Muawiyah tiba di Madinah pada tahun Al-Jama’ah (tahun persatuan), para tokoh Quraisy menyambutnya dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan pertolonganmu dan meninggikan urusanmu. Maka dia tidak menjawab mereka hingga masuk ke Madinah, lalu menuju masjid dan naik mimbar. Dia memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: Amma ba’du, demi Allah tidaklah aku memimpin urusan kalian ketika aku memimpinnya sedangkan aku tahu bahwa kalian tidak senang dengan kepemimpinanku dan tidak menyukainya, dan sesungguhnya aku mengetahui apa yang ada di dalam hati kalian, tetapi aku telah menaklukkan kalian dengan pedangku ini dengan suatu perebutan, dan sungguh aku telah menerapkan diriku pada pekerjaan putra Abu Quhafah (Abu Bakar) namun aku tidak mendapatinya mampu melakukan itu, dan aku menginginkannya pada pekerjaan Ibnu Al-Khaththab (Umar), maka ia lebih menolak lagi, dan aku mencobanya pada seperti tahun-tahun Utsman, namun ia menolakku, dan di manakah yang seperti mereka itu?! Sangat jauh bahwa keutamaan mereka dapat dicapai oleh siapapun setelah mereka, rahmat Allah dan ridho-Nya atas mereka, namun aku menempuh jalan yang di dalamnya ada manfaat bagiku, dan bagi kalian di dalamnya seperti itu, dan bagi setiap orang di dalamnya ada makanan yang baik dan minuman yang indah, selama perilaku tetap lurus dan ketaatan tetap baik. Jika kalian tidak mendapatiku sebagai yang terbaik di antara kalian, maka aku adalah yang lebih baik bagi kalian, dan demi Allah aku tidak akan mengangkat pedang terhadap orang yang tidak membawa pedang, dan apa yang telah terjadi sebelumnya yang telah kalian ketahui maka aku telah meninggalkannya di belakang telingaku, dan jika kalian tidak mendapatiku menegakkan hak kalian sepenuhnya maka ridholah dariku dengan sebagiannya, karena ia bukanlah telur yang menetas, dan sesungguhnya banjir jika datang berturut-turut – meskipun sedikit – sudah mencukupi, dan waspadalah terhadap fitnah dan janganlah kalian berniat kepadanya, karena ia merusak penghidupan, mengotori nikmat, dan mewariskan kehancuran total, aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian. Kemudian turun. Para ahli bahasa berkata: Al-Qa’ibah adalah telur, dan Al-Qub adalah anak burung, telur menetas jika terbelah mengeluarkan anak burung.

Dan yang jelas bahwa khutbah ini adalah pada tahun haji di tahun empat puluh empat, atau di tahun lima puluh, bukan pada tahun Al-Jama’ah.

Dan berkata Al-Laits: telah menceritakan kepadaku Alwan bin Dawad, dari Shalih bin Kaisan, bahwa Muawiyah tiba di Madinah pada haji pertamanya yang ia lakukan setelah orang-orang bersatu atasnya, maka Al-Hasan dan Al-Husain serta sejumlah laki-laki dari Quraisy menyambutnya, lalu dia menuju rumah Utsman bin Affan, dan ketika mendekati pintu rumah, Aisyah binti Utsman berteriak dan meratapi ayahnya, maka Muawiyah berkata kepada orang yang bersamanya: Kembalilah ke rumah-rumah kalian karena aku memiliki keperluan di rumah ini. Maka mereka kembali dan dia masuk, lalu menenangkan Aisyah dan memerintahkannya untuk diam, dan berkata kepadanya: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya orang-orang memberikan kepada kami kekuasaan maka kami menampakkan kepada mereka kelembutan yang di bawahnya ada kemarahan, dan mereka menampakkan kepada kami ketaatan yang di bawahnya ada dendam, maka kami menjual kepada mereka ini, dan mereka menjual kepada kami ini, maka jika kami memberikan kepada mereka selain apa yang mereka beli maka mereka kikir terhadap hak mereka, dan bersama setiap orang dari mereka ada pendukung, dan dia melihat posisi pendukung mereka, maka jika kami mengingkari janji kepada mereka, mereka akan mengingkari janji kepada kami, kemudian kami tidak tahu apakah giliran akan berpihak kepada kami atau kepada mereka? Dan bahwa engkau menjadi anak perempuan Utsman Amirul Mukminin lebih baik daripada engkau menjadi budak dari budak-budak kaum muslimin, dan sebaik-baik pengganti adalah aku untukmu setelah ayahmu.

Dan telah meriwayatkan Ibnu Adi, dari jalur Ali bin Zaid, dan dia lemah, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id, dan dari hadits Mujalid, dan dia juga lemah, dari Abu Al-Waddak, dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian melihat Muawiyah di atas mimbarku maka bunuhlah dia.” Juga bersanad dari jalur Al-Hakam bin Zhuhair, dan dia matruk (ditinggalkan), dari Ashim, dari Zirr, dari Ibnu Mas’ud secara marfu’. Dan hadits ini adalah dusta tanpa keraguan, dan seandainya shahih, para sahabat akan bersegera melakukan itu; karena mereka tidak takut celaan pencela dalam (menegakkan) Allah. Dan diriwayatkan secara mursal oleh Amr bin Ubaid dari Al-Hasan Al-Bashri. Berkata Ayyub: Dan itu adalah dusta. Dan diriwayatkannya Al-Khatib Al-Baghdadi dengan sanad yang majhul (tidak dikenal), dari Abu Az-Zubair, dari Jabir secara marfu’: “Jika kalian melihat Muawiyah berkhutbah di atas mimbarku maka terimalah dia karena dia adalah orang yang dapat dipercaya dan terpercaya.”

Dan sungguh berkata Abu Zur’ah Ad-Dimasyqi, dari Duhaim, dari Al-Walid, dari Al-Auza’i berkata: Aku mendapati masa khilafah Muawiyah sejumlah dari para sahabat; di antara mereka Usamah, Sa’d, Jabir, Ibnu Umar, Zaid bin Tsabit, Maslamah bin Makhlad, Abu Sa’id, Rafi’ bin Khadij, Abu Umamah, Anas bin Malik, dan laki-laki yang lebih banyak daripada yang kami sebutkan dengan berlipat ganda, mereka adalah lentera petunjuk dan wadah ilmu, mereka menyaksikan dari Al-Kitab turunnya, dan mengambil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ta’wilnya; dan dari para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik insya Allah, di antara mereka Al-Miswar bin Makhramah, Abdurrahman bin Al-Aswad bin Abdi Yaghuts, Sa’id bin Al-Musayyab, Urwah bin Az-Zubair, Abdullah bin Muhairiz, dan yang serupa dengan mereka yang tidak mencabut tangan dari jama’ah dalam umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan berkata Abu Zur’ah dari Duhaim, dari Al-Walid, dari Sa’id bin Abdul Aziz berkata: Ketika Utsman terbunuh tidak ada bagi orang-orang pasukan yang berperang, hingga tahun Al-Jama’ah maka Muawiyah mengirim pasukan ke tanah Romawi enam belas kali peperangan, pasukan pergi di musim panas dan musim dingin di tanah Romawi, kemudian kembali dan digantikan oleh yang lain, dan di antara yang ia kirimkan adalah anaknya Yazid, dan bersamanya banyak dari para sahabat, maka dia melewatkan mereka ke khalij (selat), dan berperang melawan penduduk Konstantinopel di pintunya, kemudian kembali dengan mereka, dan terakhir apa yang diwasiatkan oleh Muawiyah adalah bahwa dia berkata: Perketat cengkeraman terhadap Romawi.

Dan berkata Ibnu Wahb, dari Yunus, dari Az-Zuhri berkata: Muawiyah menghajikan orang-orang di masa khilafahnya dua kali, dan masanya adalah dua puluh tahun kecuali satu bulan.

Dan berkata Abu Bakar bin Ayyasy: Muawiyah menghajikan orang-orang tahun empat puluh empat, dan tahun lima puluh. Dan berkata yang lain: tahun lima puluh satu. Wallahu a’lam.

Dan berkata Al-Laits bin Sa’d: telah menceritakan kepada kami Bukair, dari Busr bin Sa’id, bahwa Sa’d bin Abi Waqqash berkata: Aku tidak melihat seorangpun setelah Utsman yang lebih adil dalam memutuskan hak daripada pemilik pintu ini. Yaitu Muawiyah.

Dan berkata Abdur Razzaq: telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Humaid bin Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Al-Miswar bin Makhramah bahwa dia datang kepada Muawiyah sebagai utusan, berkata: Ketika aku masuk kepadanya – aku mengira dia berkata: aku memberinya salam – maka dia berkata: Bagaimana dengan cacianmu terhadap para pemimpin wahai Miswar? Berkata: Aku berkata: Tinggalkan kami dari ini dan berbuatlah baiklah dalam apa yang kami datangi kepadamu. Maka dia berkata: Kamu harus berbicara kepadaku dengan isi hatimu. Berkata: Maka aku tidak meninggalkan sesuatupun yang aku celanya atasnya kecuali aku memberitahukan kepadanya. Maka dia berkata: Tidak ada yang bebas dari dosa, apakah kamu memiliki dosa-dosa yang kamu takut akan membinasakanmu jika Allah tidak mengampuninya untukmu? Berkata: Aku berkata: Ya. Dia berkata: Lalu apa yang membuatmu lebih berhak untuk berharap pengampunan dariku, maka demi Allah sungguh apa yang aku kelola berupa perbaikan di antara manusia, penegakan hukum, jihad di jalan Allah dan urusan-urusan besar yang kami hitung dan yang tidak kami hitung lebih banyak dari apa yang kamu kelola, dan sesungguhnya aku berada di atas agama yang Allah terima di dalamnya kebaikan-kebaikan dan memaafkan keburukan-keburukan, dan demi Allah atas itu tidaklah aku diminta untuk memilih antara Allah dan yang lain kecuali aku memilih Allah atas selain-Nya. Berkata: Maka aku berpikir ketika dia berkata kepadaku apa yang dia katakan, dan aku mengetahui bahwa dia telah mengalahkanku. Berkata: Maka Al-Miswar jika menyebutnya setelah itu, berdoa untuknya dengan kebaikan. Dan telah meriwayatkannya Syu’aib, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Al-Miswar dengan semisalnya.

Dan berkata Ibnu Duraid dari Abu Hatim, dari Al-Utbi berkata: Berkata Muawiyah: Wahai manusia, aku bukanlah yang terbaik di antara kalian, dan sesungguhnya di antara kalian ada yang lebih baik dariku; Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr, dan yang lain dari orang-orang utama, tetapi mungkin aku yang paling bermanfaat bagi kalian dalam kepemimpinan, dan paling menyakitkan terhadap musuh kalian, dan paling mahir dalam memerah. Dan telah meriwayatkannya Muhammad bin Sa’d, dari Muhammad bin Mush’ab, dari Abu Bakar bin Abi Maryam, dari Tsabit budak Sufyan, bahwa dia mendengar Muawiyah berkata semisalnya.

Dan berkata Hisyam bin Ammar khatib Damaskus: telah menceritakan kepada kami Amr bin Waqid, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Halbas berkata: Aku mendengar Muawiyah di atas mimbar Damaskus pada hari Jumat berkata: Wahai manusia, pahamilah ucapanku, kalian tidak akan menemukan yang lebih mengetahui urusan dunia dan akhirat dariku, luruskanlah wajah kalian dan shaf-shaf kalian dalam shalat, sungguh kalian akan meluruskan wajah kalian dan shaf-shaf kalian, atau sungguh Allah akan membuat hati kalian berbeda-beda, tahanilah tangan-tangan orang-orang bodoh kalian, atau sungguh Allah akan menguasakan mereka atas kalian maka mereka akan menimpakan kepadamu siksa yang buruk, bersedekahlah dan janganlah seorang laki-laki berkata: Sesungguhnya aku miskin. Karena sesungguhnya sedekah orang miskin lebih utama daripada sedekah orang kaya, dan jauhilah menuduh para wanita yang menjaga kehormatan, dan bahwa seorang laki-laki berkata: Aku mendengar. Dan: Sampai kepadaku. Karena seandainya salah seorang dari kalian menuduh seorang wanita pada zaman Nabi Nuh alaihi salam maka akan ditanya tentangnya pada hari kiamat.

Dan berkata Abu Dawud Ath-Thayalisi: telah menceritakan kepada kami Yazid bin Thahman Ar-Raqasyi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sirin berkata: Muawiyah jika meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dituduh (dipercaya).

Dan meriwayatkan Abu Qasim Al-Baghawi, dari Suwaid bin Sa’id, dari Dhimam bin Ismail, dari Abu Qabil yang berkata: Muawiyah biasa mengutus seorang laki-laki yang dipanggil Abu Al-Jaisy setiap hari, berkeliling ke berbagai majelis untuk menanyakan apakah ada yang melahirkan anak, atau ada yang datang dari delegasi. Jika ia mendapat kabar tentang hal itu, ia mencatatnya dalam daftar (dewan), maksudnya agar mereka mendapatkan jatah rezeki.

Dan orang lain berkata: Muawiyah adalah orang yang rendah hati, tidak memiliki cambuk kecuali seperti cambuk anak-anak yang mereka sebut “al-makhariq”, ia memukul orang-orang dengannya.

Dan berkata Hisyam bin Ammar, dari Amr bin Waqid, dari Yunus bin Maisarah bin Halabis yang berkata: Aku melihat Muawiyah di pasar Damaskus dan ia membonceng seorang pelayan di belakangnya, mengenakan baju yang kerahnya bertambal, dan ia berkeliling di pasar-pasar Damaskus.

Dan berkata Al-A’masy, dari Mujahid bahwa ia berkata: Seandainya kalian melihat Muawiyah, niscaya kalian akan berkata: Inilah Al-Mahdi.

Dan berkata Husyaim, dari Al-Awwam, dari Jabalah bin Suhaim, dari Ibnu Umar yang berkata: Aku tidak pernah melihat orang yang lebih bijaksana (aswd) dari Muawiyah. Ia berkata: Aku bertanya: Bahkan lebih dari Umar? Ia menjawab: Umar lebih baik darinya, tetapi Muawiyah lebih bijaksana darinya. Dan meriwayatkannya Abu Sufyan Al-Himyari, dari Al-Awwam bin Hausyab dengannya, ia berkata: Aku tidak pernah melihat seorang pun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang lebih bijaksana dari Muawiyah. Ditanyakan: Bahkan tidak Abu Bakar? Ia menjawab: Abu Bakar, Umar, dan Utsman lebih baik darinya, tetapi ia lebih bijaksana dari mereka. Dan diriwayatkan dari berbagai jalur dari Ibnu Umar yang serupa. Dan berkata Abdurrazaq, dari Ma’mar, dari Hammam, aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Aku tidak pernah melihat seorang laki-laki yang lebih layak untuk menjadi raja selain Muawiyah.

Dan berkata Hanbal bin Ishaq: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Utbah, dari seorang syaikh dari penduduk Madinah yang berkata: Muawiyah berkata: Aku adalah raja yang pertama.

Dan berkata Ibnu Abi Khaitsamah: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf, telah menceritakan kepada kami Dhamrah, dari Ibnu Syaudzab yang berkata: Muawiyah biasa berkata: Aku adalah raja yang pertama dan khalifah yang terakhir.

Aku katakan: Dan sunnah mengatakan bahwa Muawiyah disebut: raja, dan tidak dikatakan kepadanya: khalifah, berdasarkan hadits Safinah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Khilafah setelahku tiga puluh tahun, kemudian akan menjadi kerajaan yang menggigit.”

Dan berkata Abdul Malik bin Marwan suatu hari, ketika menyebut Muawiyah, ia berkata: Aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya dalam hal kesabaran, toleransi, dan kemurahan hatinya.

Dan berkata Qabishah bin Jabir: Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih besar kesabarannya, lebih banyak kemuliaan, lebih jauh kesantunannya, lebih lembut keluarannya, atau lebih luas tangan dalam kebaikan selain Muawiyah. Dan berkata sebagian mereka: Seorang laki-laki membuat Muawiyah mendengar kata-kata yang keras, lalu dikatakan kepadanya: Seandainya engkau menghukumnya! Maka ia berkata: Sesungguhnya aku malu jika kesabaranku sempit terhadap seseorang dari rakyatku. Dan dalam riwayat: Seorang laki-laki berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, alangkah sabarnya engkau! Maka ia berkata: Sesungguhnya aku malu jika kejahatan seseorang lebih besar dari kesabaranku.

Dan berkata Al-Asma’i, dari Ats-Tsauri yang berkata: Muawiyah berkata: Sesungguhnya aku malu jika dosa lebih besar dari maafku, atau kebodohan lebih besar dari kesabaranku, atau ada aib yang tidak aku tutupi dengan penutupku.

Dan berkata Asy-Sya’bi – dan Al-Asma’i, dari ayahnya – keduanya berkata: Terjadi perdebatan antara seorang laki-laki yang dipanggil Abu Al-Jahm dengan Muawiyah, lalu Abu Al-Jahm berbicara dengan kata-kata yang menyedihkan bagi Muawiyah, maka ia menundukkan kepala, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: Wahai Abu Al-Jahm, jauhilah penguasa, karena ia marah seperti marahnya anak-anak, dan mengambil seperti mengambilnya singa, dan sedikitnya mengalahkan banyaknya orang. Kemudian ia memerintahkan memberinya harta, maka Abu Al-Jahm berkata dalam hal itu memuji Muawiyah:

Kami condong pada sisi-sisinya seakan-akan, bila kami condong, kami condong pada ayah kami

Kami membalikkannya untuk mengetahui dua keadaannya, lalu kami mengetahui darinya kemurahan dan kelembutan

Dan berkata Al-A’masy: Hasan bin Ali thawaf bersama Muawiyah, dan Muawiyah berjalan di depannya, maka Hasan berkata: Betapa miripnya pantatnya dengan pantat Hindun. Muawiyah menoleh kepadanya lalu berkata: Adapun hal itu pernah mengagumkan Abu Sufyan.

Dan berkata keponakannya, Abdurrahman bin Umm Al-Hakam kepada Muawiyah: Sesungguhnya si fulan mencaciku. Maka ia berkata kepadanya: Tunduklah untuknya, niscaya ia akan melewatimu.

Dan berkata Ibnul A’rabi: Seorang laki-laki berkata kepada Muawiyah: Aku tidak pernah melihat yang lebih hina darimu. Maka Muawiyah berkata: Bahkan lebih hina lagi, orang yang menghadapi laki-laki dengan yang seperti ini.

Dan berkata Abu Amr bin Al-Ala’: Muawiyah berkata: Tidak ada yang menggembirakan aku sebagai pengganti kemurahan hati selain unta-unta merah. Dan berkata sebagian mereka: Muawiyah berkata: Wahai Bani Umayyah, dekatkanlah Quraisy dengan kesabaran, maka demi Allah sungguh aku dulu menemui seorang laki-laki di zaman jahiliyah lalu ia mencaci maki aku dengan luas dan aku luaskan kepadanya kesabaran, lalu aku pulang dan ia menjadi temanku, aku meminta pertolongannya lalu ia menolongku, dan aku bangkit bersamanya lalu ia bangkit bersamaku, dan kesabaran tidak mengangkat kemuliaan orang yang mulia, dan tidak menambahnya kecuali dengan kemurahan. Dan berkata: Cacatnya kesabaran adalah kehinaan. Dan berkata juga: Seorang laki-laki tidak mencapai tingkat pendapat hingga kesabarannya mengalahkan kebodohannya, dan kesabarannya mengalahkan syahwatnya, dan tidak mencapai itu kecuali dengan kekuatan kesabaran. Dan berkata Abdullah bin Az-Zubair: Demi Allah, putra Hindun itu, demi Allah sesungguhnya kami takut kepadanya – dan tidaklah singa dengan cakar-cakarnya lebih berani darinya – lalu ia menakuti kami, dan sesungguhnya kami menipu dia – dan tidaklah putra satu malam dari penduduk bumi lebih licik darinya – lalu ia menipu kami, demi Allah, aku berharap kami menikmatinya selama di gunung ini ada batu. Dan ia menunjuk kepada Abu Qubais. Dan seorang laki-laki berkata kepada Muawiyah: Siapakah orang yang paling bijaksana? Maka ia berkata: Yang paling dermawan jiwanya ketika diminta, dan yang paling baik akhlaknya di majelis, dan yang paling sabar ketika dijahalkan.

Dan berkata Abu Ubaidah Ma’mar bin Al-Mutsanna: Muawiyah sering menyerupakan dirinya dengan bait-bait ini:

Tidak ada yang membunuh kecerobohan seperti kesabaran, yang mengembalikannya atas kebodohan orang yang sabar

Maka janganlah ceroboh meskipun engkau penuh kemarahan, kepada seseorang, karena sesungguhnya kecabulan adalah celaan

Dan janganlah putuskan saudaramu karena kesalahan, karena sesungguhnya kesalahan dimaafkan oleh orang yang mulia

Dan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Aku telah mengetahui dengan apa Muawiyah mengalahkan orang-orang, mereka jika terbang ia hinggap, dan jika mereka hinggap ia terbang.

Dan berkata yang lain: Muawiyah menulis kepada wakilnya Ziyad: Sesungguhnya tidak layak kita mengatur orang-orang dengan satu cara; dengan kelembutan sehingga mereka bermain-main, dan bukan dengan kekerasan sehingga kita membawa orang-orang kepada kehancuran, tetapi jadilah engkau untuk kekerasan, ketegasan, dan kekasaran, aku akan menjadi untuk kelembutan, keakraban, dan kasih sayang, maka jika yang takut merasa takut, ia akan menemukan pintu untuk masuk.

Dan berkata Abu Musyhar, dari Sa’id bin Abdul Aziz yang berkata: Muawiyah melunasi utang Aisyah Ummul Mukminin sebesar delapan belas ribu dinar yang menjadi tanggungannya.

Dan berkata Hisyam bin Urwah, dari ayahnya yang berkata: Muawiyah mengirim kepada Ummul Mukminin Aisyah seratus ribu, lalu ia membagikannya pada harinya itu, tidak tersisa darinya satu dirham pun, maka pembantunya berkata kepadanya: Mengapa tidak engkau sisakan untuk kami satu dirham untuk membeli daging dengannya. Maka ia berkata: Seandainya engkau mengingatkan aku niscaya aku lakukan.

Dan berkata Atha’: Muawiyah mengirim kepada Aisyah – ketika ia di Mekah – sebuah kalung senilai seratus ribu, maka ia menerimanya.

Dan berkata Zaid bin Al-Hubab, dari Al-Husain bin Waqid, dari Abdullah bin Buraidah yang berkata: Hasan bin Ali datang kepada Muawiyah lalu ia berkata: Aku akan memberimu hadiah yang tidak pernah aku beri kepada siapa pun sebelumku. Lalu ia memberinya empat ratus ribu ribu.

Dan pernah Hasan dan Husain datang kepadanya sebagai delegasi, lalu ia segera memberi mereka berdua dua ratus ribu, dan berkata kepada mereka berdua: Tidak ada yang memberi dengan ini sebelumku. Maka Husain berkata kepadanya: Dan engkau tidak memberi kepada siapa pun yang lebih utama dari kami.

Dan berkata Ibnu Abi Ad-Dunya: Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Mughirah yang berkata: Hasan bin Ali dan Abdullah bin Ja’far mengirim utusan kepada Muawiyah meminta harta, lalu ia mengirim kepada mereka berdua atau kepada masing-masing dari mereka seratus ribu, lalu hal itu sampai kepada Ali, maka ia berkata kepada mereka berdua: Tidakkah kalian malu; seorang laki-laki yang kami tusuk matanya pagi dan petang, kalian meminta harta kepadanya?! Maka mereka berdua berkata: Bahkan ia mengharamkan kami dan dermawan kepada kami.

Dan meriwayatkan Al-Asma’i yang berkata: Hasan dan Abdullah bin Az-Zubair datang sebagai delegasi kepada Muawiyah, maka ia berkata kepada Hasan: Selamat datang kepada putra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan ia memerintahkan memberinya tiga ratus ribu, dan berkata kepada Ibnu Az-Zubair: Selamat datang kepada putra bibi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan ia memerintahkan memberinya seratus ribu.

Dan berkata Abu Marwan Al-Marwani: Muawiyah mengirim kepada Hasan bin Ali seratus ribu, maka ia berkata kepada teman-teman duduknya: Siapa yang mengambil sesuatu maka itu untuknya. Dan ia mengirim kepada Husain seratus ribu, lalu ia membaginya kepada teman-teman duduknya, mereka adalah sepuluh orang, maka setiap orang mendapat sepuluh ribu. Dan ia mengirim kepada Abdullah bin Ja’far seratus ribu, lalu istrinya memintanya sebagai hibah darinya, maka ia memberikannya kepadanya. Dan ia mengirim kepada Marwan bin Al-Hakam seratus ribu, lalu ia membagi lima puluh ribu darinya, dan menahan lima puluh ribu, dan ia mengirim kepada Abdullah bin Umar seratus ribu, lalu ia membagi sembilan puluh ribu darinya, dan menyimpan sepuluh ribu. Maka Muawiyah berkata: Sesungguhnya ia hemat dan suka berhemat, dan ia mengirim kepada Abdullah bin Az-Zubair seratus ribu, maka ia berkata kepada utusan: Mengapa engkau membawanya di siang hari? Mengapa tidak engkau bawa di malam hari. Kemudian ia menahannya di sisinya, dan tidak memberi seseorang pun darinya. Maka Muawiyah berkata: Sesungguhnya ia licik dan cerdik, seakan-akan engkau melihatnya telah mengangkat ekornya dan memotong.

Dan berkata Ibnu Dab: Abdullah bin Ja’far mendapat dari Muawiyah setiap tahun satu ribu ribu, dan Muawiyah mengabulkan untuknya bersamanya seratus hajat. Ia datang kepadanya suatu tahun, lalu ia memberinya harta, dan mengabulkan hajat-hajatnya, dan tersisa darinya satu hajat, maka ketika ia di sisinya tiba-tiba datang kepala daerah Sistan meminta kepada Muawiyah agar ia menguasakan dia atas negeri itu, dan berjanji kepada yang mengabulkan hajat ini dari hartanya satu ribu ribu, lalu ia berkeliling kepada para pemimpin dari penduduk Syam dan para pemimpin Irak, dari yang datang bersama Al-Ahnaf bin Qais, maka semuanya berkata kepadanya: Temuilah Abdullah bin Ja’far. Maka kepala daerah itu mendatanginya, lalu Ibnu Ja’far berbicara tentangnya kepada Muawiyah, maka ia mengabulkan hajatnya sebagai penyempurnaan seratus hajat, dan ia memerintahkan penulis lalu ia menulis surat pengangkatannya, dan Ibnu Ja’far keluar dengannya kepada kepala daerah, maka ia sujud kepadanya dan membawa kepadanya satu ribu ribu dirham, maka Ibnu Ja’far berkata kepadanya: Sujudlah kepada Allah, dan bawa hartamu ke rumahmu, karena sesungguhnya kami Ahlul Bait tidak mengikuti kebaikan dengan pemberian. Maka hal itu sampai kepada Muawiyah lalu ia berkata: Jika Yazid yang mengatakan itu lebih aku sukai daripada upeti Irak, Bani Hasyim tidak menolak kecuali kemurahan. Dan berkata yang lain: Abdullah bin Ja’far mendapat dari Muawiyah setiap tahun satu ribu ribu, lalu terkumpul padanya pada sebagian waktu utang lima ratus ribu, maka para krediturnya mendesaknya, lalu ia meminta penundaan kepada mereka hingga ia datang kepada Muawiyah, untuk memintanya membayar terlebih dahulu sesuatu dari pemberian, lalu ia berkendaraan kepadanya, maka ia berkata kepadanya: Apa yang membawamu datang wahai Ibnu Ja’far? Maka ia berkata: Utang yang para krediturku mendesakku. Maka ia berkata: Dan berapa itu: ia berkata: Lima ratus ribu. Lalu ia melunasinya untuknya. Dan berkata kepadanya: Sesungguhnya satu ribu ribu akan datang kepadamu pada waktunya.

Dan berkata Ibnu Sa’id: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Hilal, dari Qatadah yang berkata: Muawiyah berkata: Alangkah menakjubkannya Hasan bin Ali! Ia minum minuman madu Yamani dengan air Rumah lalu ia meninggal. Kemudian ia berkata kepada Ibnu Abbas: Jangan Allah menyusahkanmu dan tidak menghinakanmu dalam Hasan bin Ali. Maka Ibnu Abbas berkata kepada Muawiyah: Tidak akan Allah menghinakanku dan tidak menyusahkanku selama Allah mengekalkan Amirul Mukminin. Ia berkata: Maka ia memberinya satu ribu ribu dirham dan barang-barang dan berbagai hal, dan berkata: Ambillah ini lalu bagikan kepada keluargamu.

Dan berkata Abu Al-Hasan Al-Madaini, dari Salamah bin Muharib yang berkata: Dikatakan kepada Muawiyah: Siapakah yang lebih mulia di antara kalian; kalian atau Bani Hasyim? Ia berkata: Kami lebih banyak orang-orang mulianya tetapi mereka lebih mulia satunya; tidak ada di Abd Manaf seperti Hasyim, maka ketika ia wafat kami lebih banyak jumlahnya dan lebih banyak orang-orang mulianya, dan ada di antara mereka Abdul Muththalib, dan tidak ada di antara kami seperti mereka, maka kami menjadi lebih banyak jumlahnya dan lebih banyak orang-orang mulianya dan tidak ada di antara mereka satu seperti satu dari kami, maka tidak ada kecuali seperti surutnya mata hingga datang sesuatu yang tidak pernah didengar oleh orang-orang terdahulu dengan yang sepertinya, dan tidak akan didengar oleh orang-orang kemudian dengan yang sepertinya; Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Ibnu Abi Khaitsaman meriwayatkan dari Musa bin Ismail, dari Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas, bahwa Amru bin Al-Ash menceritakan kepada Muawiyah tentang mimpi yang dilihatnya. Dalam mimpi itu ia melihat Abu Bakar, Umar, dan Utsman sedang dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka lakukan di masa kekuasaan mereka. Ia juga melihat Muawiyah yang dikawal oleh dua orang yang meminta pertanggungjawabannya atas apa yang ia lakukan di masa kekuasaannya. Maka Muawiyah berkata kepadanya: “Bagaimana menurutmu tentang dinar-dinar Mesir?!”

Ibnu Duraid berkata, dari Abu Hatim, dari Al-Utbi: Amru masuk menemui Muawiyah ketika datang surat yang berisi takziah atas wafatnya salah seorang sahabat. Muawiyah mengucapkan istirja (innalillahi wa inna ilaihi rajiun). Maka Amru bin Al-Ash berkata:

Orang-orang saleh mati sementara engkau masih hidup Kematian melewatimu, engkau tak kunjung mati

Muawiyah menjawabnya:

Apakah engkau berharap aku mati sementara engkau hidup Aku tidak akan mati hingga engkau mati

Ibnu Al-Sammak berkata: Muawiyah berkata: Semua orang dapat aku puaskan kecuali orang yang dengki terhadap nikmat, karena ia tidak akan puas kecuali dengan hilangnya nikmat tersebut.

Az-Zuhri berkata, dari Abdul Malik bin Marwan, dari Abu Bahriyah: Muawiyah berkata: Kemuliaan ada dalam empat hal: kesucian dalam Islam, memperbaiki harta, menjaga saudara, dan menjaga tetangga.

Abu Bakar Al-Hudzali berkata: Muawiyah biasa membaca syair, namun ketika ia menjadi khalifah, keluarganya berkata kepadanya: “Engkau telah mencapai puncak (kedudukan), untuk apa lagi dengan syair?” Suatu hari ia merasa tergerak lalu berkata:

Aku melepaskan kenakalanku dan mengistirahatkan kesabaranku Namun pada diriku ada protes terhadap kesabaranku Sungguh aku menyahut bila dipanggil olehnya Untuk keperluannya, mata-mata yang sakit

Mughirah berkata, dari Asy-Sya’bi: Orang pertama yang berkhutbah sambil duduk adalah Muawiyah ketika lemaknya bertambah dan perutnya membesar. Demikian pula Mughirah meriwayatkan dari Ibrahim yang berkata: Orang pertama yang berkhutbah sambil duduk pada hari Jumat adalah Muawiyah. Abu Al-Mulaih berkata, dari Maimun: Orang pertama yang duduk di atas mimbar adalah Muawiyah, dan ia meminta izin kepada orang-orang untuk duduk.

Qatadah berkata, dari Said bin Al-Musayyab: Orang pertama yang mengumandangkan adzan dan iqamah pada hari raya Fitri dan Adha adalah Muawiyah.

Abu Ja’far Al-Baqir berkata: Dahulu pintu-pintu Mekah tidak ada kuncinya, dan orang pertama yang membuatkan pintu-pintu untuknya adalah Muawiyah.

Abu Al-Yaman berkata, dari Syu’aib, dari Az-Zuhri: Telah berlalu sunnah bahwa orang kafir tidak mewarisi orang Muslim, dan orang Muslim tidak mewarisi orang kafir. Orang pertama yang mewariskan orang Muslim dari orang kafir adalah Muawiyah, dan Bani Umayyah memutuskan demikian setelahnya, hingga datang Umar bin Abdul Aziz yang mengembalikan sunnah. Hisyam mengulangi apa yang diputuskan Muawiyah dan Bani Umayyah setelahnya. Az-Zuhri juga berkata: Telah berlalu sunnah bahwa diat orang yang memiliki perjanjian adalah seperti diat orang Muslim. Muawiyah adalah orang pertama yang menguranginya menjadi setengah, dan mengambil setengahnya untuk dirinya.

Ibnu Wahb berkata, dari Malik, dari Az-Zuhri: Aku bertanya kepada Said bin Al-Musayyab tentang sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia berkata kepadaku: Dengarlah wahai Zuhri, barangsiapa yang mati dalam keadaan mencintai Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, bersaksi untuk sepuluh orang (yang dijamin masuk) surga, dan mendoakan rahmat untuk Muawiyah, maka ia berhak agar Allah tidak memperhitungkannya secara ketat.

Said bin Ya’qub Ath-Thalaqani berkata: Aku mendengar Abdullah bin Al-Mubarak berkata: Debu di hidung Muawiyah lebih utama daripada Umar bin Abdul Aziz.

Muhammad bin Yahya bin Said berkata: Ibnu Al-Mubarak ditanya tentang Muawiyah, maka ia berkata: Apa yang akan aku katakan tentang seorang yang ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Sami’allahu liman hamidah” (Allah mendengar orang yang memuji-Nya), ia berkata di belakangnya: “Rabbana wa lakal hamd” (Ya Tuhan kami, bagi-Mu segala puji)? Lalu ditanyakan kepadanya: Siapa yang lebih utama, dia atau Umar bin Abdul Aziz? Ia berkata: Sungguh debu di lubang hidung Muawiyah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lebih baik dan lebih utama daripada Umar bin Abdul Aziz.

Yang lain berkata dari Ibnu Al-Mubarak: Muawiyah bagi kami adalah ujian. Siapa yang kami lihat memandangnya dengan pandangan sinis, kami menuduhnya (buruk sangka) terhadap kaum (para sahabat).

Muhammad bin Abdullah bin Ammar Al-Mushili dan lainnya berkata: Al-Mu’afa bin Imran ditanya: Siapa yang lebih utama, Muawiyah atau Umar bin Abdul Aziz? Ia marah dan berkata kepada penanya: Apakah engkau menjadikan salah seorang sahabat seperti salah seorang tabi’in?! Muawiyah adalah sahabatnya, menantunya, sekretarisnya, dan orang kepercayaannya untuk wahyu Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Biarkanlah sahabat-sahabatku dan menantu-menantuku, barangsiapa mencaci mereka maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.” Demikian pula yang dikatakan Al-Fadhl bin Anbasah.

Abu Taubah Ar-Rabi’ bin Nafi’ Al-Halabi berkata: Muawiyah adalah penutup bagi sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika seseorang membuka penutup itu, ia akan berani terhadap apa yang ada di baliknya.

Al-Maimuni berkata: Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku: Wahai Abu Al-Hasan, jika engkau melihat seseorang menyebut salah seorang sahabat dengan keburukan, maka tuduh ia (berbuat jahat) terhadap Islam.

Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Aku mendengar Abu Abdullah ditanya tentang seseorang yang mencela Muawiyah dan Amru bin Al-Ash: Apakah ia disebut Rafidhi? Ia berkata: Ia tidak berani melakukan itu kecuali ia memiliki niat buruk. Tidaklah seseorang mencela salah seorang dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kecuali ia memiliki keburukan batin.

Ibnu Al-Mubarak berkata, dari Muhammad bin Muslim, dari Ibrahim bin Maisarah: Aku tidak pernah melihat Umar bin Abdul Aziz memukul seseorang kecuali orang yang mencaci Muawiyah, maka ia memukulnya beberapa kali cambukan.

Sebagian salaf berkata: Ketika aku berada di sebuah gunung di Syam, tiba-tiba aku mendengar suara yang berkata: “Barangsiapa membenci Ash-Shiddiq maka ia zindiq, barangsiapa membenci Umar maka ke neraka Jahannam ia dibawa berkerumun, barangsiapa membenci Utsman maka lawannya adalah Ar-Rahman, barangsiapa membenci Ali maka lawannya adalah Nabi, barangsiapa membenci Muawiyah, malaikat Zabaniyah akan menyeretnya ke neraka Jahannam yang membara, dan dilemparkan ke dalam jurang.”

Sebagian mereka berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi, dan di sisinya ada Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Muawiyah. Tiba-tiba datang seorang lelaki. Umar berkata: “Ya Rasulullah, orang ini mencela kami.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seolah menghardiknya. Ia berkata: “Ya Rasulullah, aku tidak mencela mereka, tetapi aku mencela orang ini.” (Maksudnya Muawiyah). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Celakalah engkau! Bukankah ia termasuk sahabatku?!” Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengambil tombak dan memberikannya kepada Muawiyah seraya berkata: “Tusuklah tenggorokannya.” Maka Muawiyah memukulnya dengan tombak itu. Aku terbangun lalu segera pergi ke rumahnya, ternyata orang itu terkena penyakit radang tenggorokan pada malam itu dan meninggal. Orang itu adalah Rasyid Al-Kindi.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Al-Fudhail bin Iyadh, bahwa ia biasa berkata: Muawiyah termasuk sahabat, termasuk ulama besar, tetapi ia diuji dengan cinta dunia.

Al-Utbi berkata: Dikatakan kepada Muawiyah: Uban cepat datang kepadamu. Ia berkata: Bagaimana tidak, sementara aku senantiasa melihat seorang Arab berdiri di depanku memberiku kata-kata yang mengharuskanku menjawabnya. Jika aku benar, aku tidak dipuji, dan jika aku salah, (beritanya) disebarkan oleh pos-pos.

Asy-Sya’bi dan lainnya berkata: Muawiyah terkena kelumpuhan di akhir hidupnya.

Ibnu Jarir menyebutkan bahwa Amru bin Al-Ash datang dalam rombongan penduduk Mesir menemui Muawiyah. Ia berkata kepada mereka di jalan: Jika kalian masuk menemui Muawiyah, jangan memberinya salam dengan sebutan khalifah, karena ia tidak menyukainya. Ketika Amru masuk menemuinya sebelum mereka, Muawiyah berkata kepada penjaga pintunya: Masukkanlah mereka. Ia memberi isyarat agar menakut-nakuti dan mengintimidasi mereka saat masuk, dan berkata: Aku yakin Amru telah memberi instruksi kepada mereka tentang sesuatu. Ketika mereka dimasukkan – dan mereka telah dipermalukan – salah seorang dari mereka ketika masuk berkata: Assalamu’alaikum ya Rasulallah (utusan Allah). Ketika Amru bangkit dari sisinya, ia berkata: Semoga Allah mencela kalian! Aku melarang kalian memberinya salam dengan sebutan khalifah, tetapi kalian memberinya salam dengan sebutan nabi!

Disebutkan bahwa seorang lelaki meminta Muawiyah membantu membangun rumah dengan dua belas ribu batang kayu. Muawiyah berkata kepadanya: Di mana rumahmu? Ia berkata: Di Bashrah. Berapa luasnya? Ia berkata: Dua farsakh kali dua farsakh. Muawiyah berkata: Jangan katakan rumahku di Bashrah, tetapi katakanlah Bashrah ada di dalam rumahku.

Disebutkan bahwa seorang lelaki masuk dengan membawa anaknya, lalu keduanya duduk di meja makan Muawiyah. Anaknya makan dengan sangat rakus. Muawiyah terus memperhatikannya, sementara ayahnya ingin melarangnya tetapi (anak itu) tidak menyadarinya. Ketika keduanya keluar, ayahnya menegurnya dan melarangnya masuk lagi. Muawiyah berkata kepadanya: Di mana anakmu si pelahap itu? Ia berkata: Ia sakit. Muawiyah berkata: Aku tahu makannya itu akan menyebabkan penyakit.

Disebutkan: Muawiyah melihat seorang lelaki berdiri di hadapannya berbicara dengannya mengenakan jubah. Ia meremehkannya. Lelaki itu berkata: Wahai Amirul Mukminin, engkau tidak berbicara dengan jubah, engkau berbicara dengan orang yang ada di dalamnya.

Muawiyah berkata: Sebaik-baik manusia adalah yang berakal dan sabar; yang jika diberi ia bersyukur, jika diuji ia sabar, jika marah ia menahan, jika mampu ia memaafkan, jika berjanji ia menepati, dan jika berbuat salah ia memohon ampun.

Seorang lelaki dari Madinah menulis kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, radhiyallahu anhu:

Jika laki-laki melahirkan anak-anaknya Dan gemetar karena tua tiang-tiangnya Dan penyakit-penyakitnya mulai menghampiri Maka ia adalah tanaman yang telah dekat panennya

Muawiyah berkata: Ia telah mengabarkan kematianku.

Ibnu Abi Ad-Dunya berkata: Harun bin Sufyan menceritakan kepadaku, dari Abdullah As-Sahmi, Tsamāmah bin Kalsum menceritakan kepadaku, bahwa khutbah terakhir yang disampaikan Muawiyah adalah: Wahai manusia, aku adalah tanaman yang telah siap dipanen. Aku telah menjadi pemimpin kalian, dan tidak akan ada yang memimpin kalian setelahku kecuali yang lebih buruk dariku, sebagaimana yang memimpin kalian sebelumku lebih baik dariku. Wahai Yazid, jika ajalku tiba, serahkanlah perawatan jenazahku kepada orang yang cerdas, karena orang cerdas mendapat tempat di sisi Allah. Hendaklah ia memandikan dengan baik dan mengeraskan takbir. Kemudian ambillah kain di dalam lemari yang berisi kain dari pakaian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan potongan dari rambut dan kuku beliau. Masukkan potongan itu ke hidungku, mulutku, telingaku, dan mataku. Jadikan kain itu menyentuh kulitku di bawah kain kafanku. Wahai Yazid, jagalah wasiat Allah tentang kedua orang tua. Jika kalian telah membungkusku dalam keranda dan meletakkanku di liang kubur, biarkanlah Muawiyah dengan Yang Maha Penyayang dari para penyayang.

Sebagian mereka berkata: Ketika Muawiyah dalam keadaan sekarat, ia terus berkata:

Demi umurku, sungguh aku telah hidup lama di masa ini Dan dunia tunduk kepadaku dengan pedang-pedang yang menebas Aku diberi harta yang melimpah, kekuasaan, dan larangan Dan tunduk kepadaku para raja yang perkasa

Maka menjadi sirnalah apa yang dahulu menyenangkanku Seperti mimpi yang berlalu di masa-masa lama yang telah hilang Alangkah baiknya jika aku tidak terlibat dalam kekuasaan sesaat pun Dan tidak menikmati kenikmatan kehidupan yang segar

Dan seandainya aku seperti pemilik dua jubah lusuh yang hidup sederhana Dari kehidupan hingga ia mengunjungi sempitnya kubur-kubur

Dan berkata Muhammad bin Sa’d: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad, dari Muhammad bin Al-Hakam, dari seseorang yang menceritakan kepadanya, bahwa ketika Muawiyah dalam keadaan menjelang ajal, dia berwasiat agar setengah dari hartanya dikembalikan ke Baitul Mal, seolah-olah dia ingin membersihkannya; karena Umar bin Al-Khaththab pernah membagi harta bersama para pegawainya.

Dan mereka menyebutkan bahwa di akhir usianya, dia sangat kedinginan. Jika dia mengenakan atau menutupi dirinya dengan sesuatu yang berat, dia merasa sesak. Maka dibuatkan untuknya pakaian dari tembolok burung, namun kemudian itu pun menjadi berat baginya. Lalu dia berkata: “Celakalah engkau wahai dunia, aku menguasaimu selama empat puluh tahun; dua puluh tahun sebagai amir, dan dua puluh tahun sebagai khalifah, kemudian inilah keadaanku di dalammu, dan nasibku darimu. Celakalah dunia dan para pencintanya.”

Dan berkata Muhammad bin Sa’d: Telah menceritakan kepada kami Abu Ubaid, dari Abu Ya’qub Ats-Tsaqafi, dari Abdul Malik bin Umair, dia berkata: Ketika Muawiyah sakit keras dan orang-orang membicarakan bahwa dia akan meninggal, dia berkata kepada keluarganya: “Isikan celak ke mataku, dan oleskan minyak rambat ke kepalaku.” Mereka melakukannya dan membuat wajahnya bersinar dengan minyak, kemudian dipersiapkan tempat untuknya lalu dia duduk dan berkata: “Sandarkanlah aku.” Kemudian dia berkata: “Izinkanlah orang-orang untuk memberi salam kepadaku sambil berdiri dan jangan ada yang duduk.” Maka orang demi orang masuk dan memberi salam sambil berdiri, mereka melihatnya bercelak dan berminyak rambut, lalu mereka berkata: “Apa yang dibicarakan orang-orang: dia dengan keadaannya, padahal dia adalah orang yang paling sehat.” Ketika mereka keluar dari sisinya, Muawiyah berkata:

“Dan aku bersabar demi orang-orang yang gembira atas musibahku, aku tunjukkan kepada mereka Bahwa aku tidak terguncang oleh kejadian zaman Dan jika kematian telah mencengkeram kukunya Kutemukan semua jimat tidak bermanfaat”

Dia (perawi) berkata: Dan dia mengalami tortikolis (leher bengkok), yaitu karena kelemahan, lalu dia meninggal pada hari itu juga, semoga Allah merahmatinya dan meridhainya.

Dan berkata Muhammad bin Uqbah: Ketika kematian menghampiri Muawiyah, dia berkata: “Andai saja aku adalah seorang laki-laki dari Quraisy di Dzi Thuwa dan tidak mengurus sedikitpun urusan (kekuasaan) ini.”

Dan berkata Abu As-Sa’ib Al-Makhzumi: Ketika Muawiyah menghadapi kematian, dia membaca syair seorang penyair:

“Jika Engkau menghisab dengan ketat, maka penghisaban-Mu wahai Rabb Adalah azab yang tidak kuasa kutanggung Atau jika Engkau memaafkan, maka maafkanlah dengan ampunan, lalu maafkanlah Orang yang berbuat dosa yang dosanya seperti debu”

Dan berkata sebagian mereka: Ketika Muawiyah dalam keadaan menjelang ajal, keluarganya membolak-balikkannya, lalu dia berkata kepada mereka: “Orang tua macam apa yang kalian bolak-balik? Jika Allah menyelamatkannya dari neraka besok.”

Dan berkata Muhammad bin Sirin: Ketika Muawiyah menjelang ajal, dia meletakkan pipinya di atas tanah, kemudian membalikkan wajahnya, dan meletakkan pipi yang lain, sambil menangis dan berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau berfirman dalam Kitab-Mu: ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang Dia kehendaki.’ (Surah An-Nisa: 48) Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang Engkau kehendaki untuk diampuni.”

Dan berkata Al-Utbi dari ayahnya: Muawiyah membaca syair seseorang ketika menjelang ajalnya saat dalam keadaan sakratul maut:

“Ia adalah kematian, tidak ada pelarian dari kematian, dan yang Kita khawatirkan setelah kematian lebih dahsyat dan lebih mengerikan”

Kemudian dia berkata: “Ya Allah, kurangilah kesandungan, maafkanlah kekeliruan, dan maafkanlah dengan kelembutan-Mu atas kebodohan orang yang tidak mengharap selain-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Luas ampunan-Nya. Tidak ada bagi orang yang berdosa dari dosanya tempat pelarian kecuali kepada-Mu.” Dan diriwayatkan oleh Ibnu Durayd dari Abu Hatim, dari Abu Ubaidah, dari Abu Amr bin Al-Ala’, lalu dia menyebutkan yang serupa, dan menambahkan: Kemudian dia meninggal.

Dan berkata yang lain: Dia pingsan kemudian sadar, lalu berkata kepada keluarganya: “Bertakwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah melindungi orang yang bertakwa kepada-Nya, dan tidak melindungi orang yang tidak bertakwa.” Kemudian dia meninggal, semoga Allah merahmatinya. Dan telah meriwayatkan Abu Mikhnaf, dari Abdul Malik bin Naufal, dia berkata: Ketika Muawiyah meninggal, Adh-Dhahhak bin Qais naik ke mimbar, lalu berkhutbah kepada orang-orang dengan kain kafan Muawiyah di tangannya, dia berkata setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya: “Sesungguhnya Muawiyah adalah yang telah menjadi tongkat orang Arab dan mempersatukan orang Arab, Allah memutuskan fitnah dengannya, menguasakan dia atas para hamba, dan membukakan negeri-negeri dengannya. Ketahuilah sesungguhnya dia telah meninggal dan inilah kain kafannya, maka kami akan mengafaninya dengannya, dan memasukkannya ke dalam kuburnya dan membiarkannya dengan amalnya, kemudian dia dalam alam barzakh hingga hari kiamat. Maka barangsiapa di antara kalian ingin menyaksikannya, hendaklah hadir pada waktu Aula (setelah Dzuhur).” Kemudian dia turun dan mengirim utusan kepada Yazid bin Muawiyah untuk memberitahunya dan mendesaknya untuk segera datang.

Dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa dia, semoga Allah meridhainya, meninggal di Damaskus pada bulan Rajab tahun enam puluh. Maka berkata sekelompok orang: Malam Kamis untuk pertengahan bulan Rajab tahun enam puluh. Dan dikatakan: Malam Kamis delapan hari menjelang akhir Rajab tahun enam puluh. Demikian dikatakan oleh Ibnu Ishaq dan lebih dari satu orang. Dan dikatakan: Empat hari berlalu dari Rajab. Demikian dikatakan oleh Al-Laits. Dan berkata Sa’d bin Ibrahim: Untuk awal Rajab.

Dan berkata Muhammad bin Ishaq dan Asy-Syafi’i: Yang menshalatkannya adalah anaknya Yazid. Dan telah datang dari beberapa jalur bahwa dia berwasiat kepadanya agar dikafani dengan pakaian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah dipakaikan kepadanya, dan disimpan di sisinya untuk hari ini, dan agar diletakkan apa yang ada padanya dari rambut dan potongan kukunya di mulut, hidung, mata, dan telinganya. Dan berkata yang lain: Bahkan anaknya Yazid sedang tidak ada, maka Adh-Dhahhak bin Qais yang menshalatkannya setelah shalat Dzuhur di Masjid Damaskus, kemudian dikuburkan. Dikatakan: Di rumah kekuasaan, yaitu Al-Khadhra. Dan dikatakan: Di pekuburan Bab Ash-Shaghir. Dan mayoritas ulama berpendapat demikian. Wallahu a’lam. Dan usianya saat itu tujuh puluh delapan tahun. Dan dikatakan: Lebih dari delapan puluh. Dan ini yang lebih masyhur. Wallahu a’lam. Kemudian Adh-Dhahhak bin Qais berkendara bersama pasukan, dan keluar untuk menjemput Yazid bin Muawiyah. Yazid saat itu berada di Hawarin. Ketika mereka sampai di Tsaniyyah Al-Uqab, mereka menemui rombongan Yazid, dan ternyata Yazid sedang mengendarai unta bakhtri dengan kesedihan yang tampak, maka orang-orang memberi salam kepadanya dengan kepemimpinan, dan menghiburnya atas ayahnya, dan dia merendahkan suaranya dalam menjawab salam mereka, dan orang-orang diam tidak ada yang berbicara dengannya kecuali Adh-Dhahhak bin Qais. Lalu dia sampai di Bab Tuma, orang-orang mengira dia akan masuk dari sana ke kota, tetapi dia melewatinya bersama tembok hingga sampai ke Bab Asy-Syarqi, dikatakan: Dia akan masuk dari situ karena itu adalah Bab Khalid, tetapi dia melewatinya hingga datang ke Bab Ash-Shaghir. Maka orang-orang tahu bahwa dia menuju makam ayahnya. Ketika sampai di Bab Ash-Shaghir, dia turun di pekuburan, kemudian masuk, lalu menshalatkan ayahnya setelah dikuburkan, kemudian pergi. Ketika keluar dari pekuburan, didatangkan untuknya tunggangan khalifah, lalu dia naik, kemudian masuk ke kota, dan memerintahkan agar diserukan kepada orang-orang bahwa shalat akan dikumpulkan. Dan dia masuk Al-Khadhra, lalu mandi dan mengenakan pakaian yang bagus, kemudian keluar dan berkhutbah kepada orang-orang sebagai khutbah pertamanya sebagai Amirul Mukminin. Dia berkata setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya: “Wahai manusia, sesungguhnya Muawiyah adalah seorang hamba dari hamba Allah, Allah telah memberikan nikmat kepadanya, kemudian memanggilnya kepada-Nya, dan dia lebih baik dari yang setelahnya, dan di bawah yang sebelumnya, dan aku tidak mensucikannya kepada Allah Azza wa Jalla, Dialah yang lebih mengetahui tentangnya. Jika Dia memaafkannya maka dengan rahmat-Nya, dan jika Dia menghukumnya maka karena dosanya. Dan aku telah memegang kekuasaan setelahnya, dan aku tidak akan bersedih atas pencarian, dan tidak akan meminta maaf atas kelalaian. Dan jika Allah menghendaki sesuatu, maka itu terjadi.” Dan dia berkata kepada mereka dalam khutbahnya ini: “Dan sesungguhnya Muawiyah dulu mengajak kalian berperang di darat dan di laut, dan aku tidak akan memuat seorangpun dari kaum muslimin di laut. Dan sesungguhnya Muawiyah dulu membuat kalian musim dingin di negeri Romawi, dan aku tidak akan membuat seorangpun musim dingin di negeri Romawi. Dan sesungguhnya Muawiyah dulu mengeluarkan untuk kalian pemberian secara bertiga, dan aku akan mengumpulkannya untuk kalian semuanya.” Dia (perawi) berkata: Maka orang-orang berpisah darinya dan mereka tidak melebihkan siapapun atasnya.

Dan berkata Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam: Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata: Muawiyah mengirim (utusan) ketika dia sakit kepada anaknya Yazid. Ketika utusan datang kepadanya, dia berangkat sambil berkata:

“Datang utusan dengan surat yang dibawa dengan cepat Maka hati merasa cemas dari suratnya karena takut Kami berkata kepadamu celakalah engkau, apa yang ada dalam lembaran kalian Dia berkata: Khalifah berada dalam keadaan tertimpa penyakit Maka bumi berguncang atau hampir berguncang bersama kami Seolah-olah salah satu rukun dari rukunnya tercabut Kemudian kami berangkat menuju unta kurus yang cepat Kami melemparkan jalan-jalan dengan mereka tanpa menghitung kecepatan Maka kami tidak peduli jika pelana kami sampai Apa yang mati dari mereka di padang pasir atau timpang”

Dan menambahkan yang lain:

“Ketika kami sampai dan pintu rumah tertutup Dengan suara Ramlah, hati terkejut lalu hancur Orang yang jiwanya tidak berhenti memenuhi kemuliaan Akan segera takdir jiwa itu jatuh Telah pergi Ibnu Hind dan telah pergi kemuliaan mengikutinya Keduanya bersama campuran yang selamat bersama Yang bercahaya putih yang dimintai hujan dari awan dengannya Jika dia mengalahkan manusia tentang akal mereka, dia menang Manusia tidak akan menambal apa yang dia lemahkan meskipun mereka berusaha Menambalnya dan tidak melemahkan apa yang dia tambal”

Berkata Asy-Syafi’i: Yazid mencuri dua bait ini dari Al-A’sya. Kemudian dia menyebutkan bahwa dia masuk sebelum kematian ayahnya ke Damaskus, dan bahwa ayahnya berwasiat kepadanya. Dan ini telah dikatakan oleh Ibnu Ishaq dan lebih dari satu orang. Tetapi mayoritas berpendapat bahwa Yazid tidak masuk Damaskus kecuali setelah kematian ayahnya, dan bahwa dia yang menshalatkan kuburnya dengan orang-orang, sebagaimana yang telah kami sebutkan. Wallahu a’lam.

Dan berkata Abu Al-Warad Al-Anbari meratapi Muawiyah, semoga Allah meridhainya:

“Ketahuilah aku mengumumkan Muawiyah bin Harb Kabar kematiannya pada bulan halal untuk bulan haram Mengumumkannya unta-unta yang menunduk di setiap jalan Tertunduk dalam tali kendali seperti anak panah Maka itulah bintang-bintang dan mereka bisu Meratapi Muawiyah negeri Syam”

Dan berkata Ayman bin Khuraim meratapi dia juga:

“Kejadian telah melempar wanita-wanita keluarga Harb Dengan takdir mereka berduka untuknya dengan berduka Maka mengembalikan rambut hitam mereka menjadi putih Dan mengembalikan wajah putih mereka menjadi hitam Jika engkau menyaksikan tangisan Hind Dan Ramlah ketika mereka menampar pipi Engkau menangis tangisan wanita yang meratap yang terluka Zaman telah menimpakan yang sendirian yang tunggal”

Penyebutan Wanita-wanita yang Dinikahinya dan Anak-anaknya Laki-laki dan Perempuan

Dia memiliki Abdurrahman, dan dengan dialah dia dikenal (dengan kuniyah), dan Abdullah yang lemah akalnya. Ibu mereka berdua adalah Fakhitah binti Qurzhah bin Abd Amr bin Naufal bin Abd Manaf. Dan dia telah menikahi saudara perempuannya secara terpisah darinya setelahnya, yaitu Kunud binti Qurzhah. Dan dia adalah yang bersamanya ketika menaklukkan Siprus. Dan dia menikahi Na’ilah binti Amarah Al-Kalbiyyah, lalu dia menyukainya. Dan dia berkata kepada Maisun binti Bahdal: “Masuklah dan lihatlah putri pamanmu.” Maka dia masuk lalu dia (Muawiyah) menanyakan kepadanya tentangnya. Maka dia berkata: “Sesungguhnya dia sempurna kecantikannya, tetapi aku melihat di bawah pusarnya ada tahi lalat, dan sesungguhnya aku melihat wanita ini suaminya akan dibunuh, dan kepalanya akan diletakkan di pangkuannya.” Maka Muawiyah menceraikannya lalu menikah dengannya setelahnya Habib bin Maslamah Al-Fahri, kemudian menikahi dia setelahnya An-Nu’man bin Basyir, lalu dia dibunuh dan kepalanya diletakkan di pangkuannya.

Dan di antara anak-anaknya yang paling terkenal adalah Yazid, ibunya adalah Maisun binti Bahdal bin Unaif bin Daljah bin Qinafah Al-Kalbi. Dan dia adalah yang masuk kepada Na’ilah, lalu mengabarkan kepada Muawiyah tentangnya dengan apa yang dia kabarkan. Dan dia adalah wanita yang bijaksana sangat besar kedudukannya dalam kecantikan, kepemimpinan, akal dan agama. Suatu hari Muawiyah masuk kepadanya dan bersamanya seorang pelayan kasim (dikebiri), maka dia menutupi dirinya darinya, dan berkata: “Siapa laki-laki ini bersamamu?” Maka dia berkata: “Sesungguhnya dia kasim, maka tampakkanlah dirimu kepadanya.” Maka dia berkata: “Penyiksaan terhadapnya tidak akan menghalalkan baginya apa yang Allah haramkan atasnya.” Dan dia menutup dirinya darinya. Dan dalam riwayat bahwa dia berkata kepadanya: “Sesungguhnya hanya penyiksaanmu terhadapnya tidak akan menghalalkan apa yang Allah haramkan atasnya.” Dan anaknya Yazid menjabat khilafah setelah ayahnya. Dan menyebutkan Ibnu Jarir bahwa Maisun ini melahirkan untuk Muawiyah putri lain yang dikatakan: Amah Rabb Al-Masyriq. Dia meninggal saat kecil.

Dan Ramlah, menikah dengannya Amr bin Utsman bin Affan. Rumahnya di Damaskus berada di Aqabah As-Samak berhadapan dengan Lorong Ar-Rumman. Demikian dikatakan oleh Ibnu Asakir. Dia berkata: Dan dia memiliki penggiling yang dikenal hingga sekarang.

Hind binti Muawiyah, dinikahi oleh Abdullah bin Amir. Ketika ia dimasukkan kepadanya di Khadhro, ia menginginkannya untuk dirinya, tetapi ia menolak dan menolaknya dengan sangat keras. Lalu ia memukulnya, sehingga ia berteriak. Ketika para budak perempuan mendengar suaranya, mereka berteriak dan suara-suara mereka meninggi. Muawiyah mendengarnya, lalu ia bangkit mendatangi mereka dan menanyakan kepada mereka apa yang terjadi. Mereka berkata: Kami mendengar suara nyonya kami maka kami berteriak. Lalu ia masuk dan ternyata ia sedang menangis karena pukulannya. Ia berkata kepada Ibnu Amir: Celakalah engkau! Seperti ini engkau pukul di malam seperti ini?! Kemudian ia berkata kepadanya: Keluarlah dari sini. Lalu ia keluar dan Muawiyah menyendiri dengannya. Ia berkata kepadanya: Wahai putriku, sesungguhnya ia adalah suamimu yang telah dihalalkan Allah untukmu, tidakkah engkau mendengar ucapan penyair:

Di antara para wanita putih yang pemalu, haram mereka sulit, sedangkan halal mereka penurut

Kemudian Muawiyah keluar dari sisinya, dan berkata kepada suaminya: Masuklah, karena aku telah melapangkan akhlaknya untukmu dan melembutkannya. Lalu Ibnu Amir masuk dan mendapatinya akhlaknya telah baik, maka ia memenuhi kebutuhannya darinya, semoga Allah merahmati mereka semua.

Pasal (Tentang Orang-Orang yang Diangkat Muawiyah Sebagai Qadhi, Penjaga, Penjaga Pintu, dan Kepolisian)

Yang menjadi qadhi Muawiyah adalah Fadhalah bin Ubaid, kemudian Fadhalah meninggal maka ia mengangkat Abu Idris Al-Khaulani. Yang menjadi penjaganya adalah seorang laki-laki dari kalangan mawali yang dipanggil Al-Mukhtar. Ada yang mengatakan: Malik. Ia berkunyah Abu Al-Makhariq, mawali dari Himyar. Muawiyah adalah orang pertama yang mengangkat penjaga. Yang menjadi penjaga pintunya adalah Sa’d mawalanya. Yang menjadi kepolisiannya adalah Qais bin Hamzah, kemudian Zaml bin Amru Al-Udzri, kemudian Ad-Dhahhak bin Qais Al-Fihri. Yang memegang urusan-urusannya adalah Sarjun bin Manshur Ar-Rumi. Muawiyah adalah orang pertama yang membuat dewan stempel dan menyegel surat-surat.

Pasal (Tentang Orang yang Meninggal Pada Tahun Ini)

Di antara yang disebutkan meninggal pada tahun ini – maksudnya tahun enam puluh – adalah Shafwan bin Al-Mu’aththal bin Rahdhah bin Al-Mu’ammal bin Khuza’i, Abu Amru. Perang pertamanya adalah Al-Muraisi’, dan ia berada di barisan belakang pada hari itu. Ia adalah orang yang dituduh oleh ahli Ifki (fitnah) bersama Ummul Mukminin, semoga Allah meridhai keduanya. Allah membebaskan ia dan dia dari apa yang mereka katakan. Ia termasuk dari para pemimpin kaum muslimin. Ia tidur dengan sangat nyenyak hingga terkadang matahari telah terbit padanya sedang ia masih tidur dan tidak bangun. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Apabila engkau bangun maka shalatlah.” Shafwan terbunuh sebagai syahid.

Abu Muslim Abdullah bin Tsawb Al-Khaulani Al-Yamani dari Khaulan di negeri Yaman. Al-Aswad Al-Ansi menyerunya untuk bersaksi bahwa ia adalah Rasulullah. Ia berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah? Ia berkata: Aku tidak mendengar, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Lalu ia menyalakan api untuknya dan melemparkannya ke dalamnya, tetapi tidak membahayakannya, dan Allah menyelamatkannya dari api. Ia diserupakan dengan Ibrahim Al-Khalil (Kekasih Allah). Kemudian ia hijrah dan mendapati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah wafat. Ia datang kepada Ash-Shiddiq (Abu Bakar), lalu ia mendudukkannya antara dirinya dan Umar. Umar berkata kepadanya: Segala puji bagi Allah yang tidak mematikanku hingga Dia memperlihatkan kepadaku dalam umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam orang yang diperlakukan sebagaimana yang diperlakukan kepada Ibrahim Al-Khalil. Lalu ia menciumnya di antara dua matanya. Ia memiliki keadaan-keadaan dan mukasyafah.

Dikatakan: Sesungguhnya meninggal pada tahun ini juga An-Nu’man bin Basyir, semoga Allah meridhainya. Yang lebih jelas adalah ia meninggal setelah itu, sebagaimana akan datang insya Allah.

Kepemimpinan Yazid bin Muawiyah dan Peristiwa serta Fitnah yang Terjadi Pada Masa-Masanya

Dibaiat untuk khilafah setelah ayahnya pada bulan Rajab tahun enam puluh. Kelahirannya pada tahun dua puluh enam, maka pada hari dibaiat ia berusia tiga puluh empat tahun. Ia mengangkat kembali para wakil ayahnya di berbagai wilayah, tidak memecatnya seorang pun, dan ini menunjukkan kecerdasannya. Hisyam bin Muhammad Al-Kalbi berkata dari Abu Mikhnaf Luth bin Yahya Al-Kufi Al-Akhbari: Yazid menjabat pada awal bulan Rajab tahun enam puluh. Amir Madinah adalah Al-Walid bin Utbah bin Abi Sufyan, amir Kufah adalah An-Nu’man bin Basyir, amir Bashrah adalah Ubaidullah bin Ziyad, amir Makkah adalah Amru bin Sa’id bin Al-Ash. Tidak ada perhatian bagi Yazid ketika menjabat kecuali baiat dari beberapa orang yang menolak kepada Muawiyah untuk membaiat Yazid. Maka ia menulis kepada wakil Madinah Al-Walid bin Utbah: Bismillahirrahmanirrahim, dari Yazid Amirul Mukminin kepada Al-Walid bin Utbah, amma ba’du, sesungguhnya Muawiyah adalah seorang hamba dari hamba-hamba Allah, Allah memuliakannya, menjadikannya khalifah, memberikan kekayaan kepadanya dan memberikan kekuasaan kepadanya. Ia hidup dengan takdir dan mati dengan ajal. Semoga Allah merahmatinya, karena ia hidup terpuji dan mati sebagai orang yang berbakti dan bertakwa, wassalam.

Ia menulis kepadanya dalam lembaran seolah-olah telinga tikus: Amma ba’du, ambillah Husain, Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Zubair untuk baiat dengan pengambilan yang keras yang tidak ada kelonggaran di dalamnya hingga mereka membaiat, wassalam. Ketika datang kepadanya berita kematian Muawiyah, ia sangat terkejut dan merasa berat. Ia mengutus kepada Marwan dan membacakan kepadanya surat itu serta meminta nasihatnya tentang urusan beberapa orang ini. Ia berkata: Aku berpendapat engkau memanggil mereka sebelum mereka mengetahui kematian Muawiyah untuk baiat. Jika mereka menolak, penggallah leher mereka. Lalu ia mengutus dengan segera Abdullah bin Amru bin Utsman bin Affan kepada Husain dan Ibnu Zubair, sedang keduanya berada di masjid. Ia berkata kepada keduanya: Penuhilah panggilan Amir. Keduanya berkata: Pergilah, sebentar lagi kami mendatanginya. Ketika ia pergi dari keduanya, Husain berkata kepada Ibnu Zubair: Aku berpendapat penguasa mereka telah binasa. Ibnu Zubair berkata: Dan aku tidak berpendapat selain itu. Kemudian Husain bangkit dan membawa para mawalinnya, datang ke pintu Amir dan minta izin, lalu diizinkan. Ia masuk sendirian dan mendudukkan para mawalinnya di pintu. Ia berkata: Jika kalian mendengar sesuatu yang mengkhawatirkan kalian maka masuklah. Ia memberi salam dan duduk, sedang Marwan berada di sisinya. Al-Walid bin Utbah memberikan kepadanya surat itu dan mengabarkan kematian Muawiyah. Ia mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’un dan berkata: Semoga Allah merahmati Muawiyah dan mengagungkan bagimu ujian. Amir menyerunya untuk baiat. Husain berkata kepadanya: Sesungguhnya orang sepertiku tidak membaiat secara sembunyi-sembunyi, dan aku tidak melihatmu cukup dariku dengan ini. Tetapi apabila orang-orang berkumpul, panggillah kami bersama mereka, maka itu akan menjadi satu urusan. Al-Walid berkata kepadanya – dan ia adalah orang yang mencintai keselamatan -: Pergilah atas nama Allah hingga engkau mendatangi kami bersama jamaah manusia. Marwan berkata kepada Al-Walid: Demi Allah, sungguh jika ia berpisah darimu dan tidak membaiat saat ini, sungguh akan banyak pembunuhan antara kalian dan dia. Tahanlah ia dan jangan keluarkan ia hingga ia membaiat, kalau tidak penggallah lehernya. Maka Husain bangkit dan berkata: Wahai putra perempuan yang biru (maksudnya menghina), engkaukah yang membunuhku?! Engkau berdusta demi Allah dan berdosa. Kemudian ia pergi ke rumahnya. Marwan berkata kepada Al-Walid: Demi Allah, engkau tidak akan melihatnya setelah ini selamanya. Al-Walid berkata: Demi Allah wahai Marwan, aku tidak suka bahwa untukku dunia dan isinya sedang aku membunuh Husain. Subhanallah! Aku membunuh Husain karena ia berkata: Aku tidak membaiat?! Demi Allah, sesungguhnya aku berpendapat bahwa orang yang membunuh Husain akan ringan timbangannya pada hari kiamat. Al-Walid mengutus kepada Abdullah bin Zubair tetapi ia menolaknya dan mengulur-ulurnya sehari semalam. Kemudian Ibnu Zubair mengendarai dengan para mawalinnya dan membawa bersama dirinya saudaranya Ja’far, lalu pergi ke Makkah melalui jalan Al-Far’. Al-Walid mengutus di belakang Ibnu Zubair para lelaki dan penunggang kuda, tetapi mereka tidak mampu mengembalikannya. Ja’far berkata kepada saudaranya Abdullah ketika keduanya berjalan, mengutip ucapan Shabrah Al-Hanzhali:

Dan setiap anak ibu akan mengalami satu malam, dan tidak tersisa dari keturunan mereka kecuali satu orang

Ia berkata: Subhanallah! Apa yang engkau maksudkan dengan ini? Ia berkata: Demi Allah, aku tidak bermaksud dengannya sesuatu yang menyakitimu. Ia berkata: Jika memang hanya terlontar di lidahmu maka itu lebih aku benci. Mereka berkata: Dan ia merasa sial dengannya.

Adapun Husain bin Ali, sesungguhnya Al-Walid disibukkan darinya dengan Ibnu Zubair. Setiap kali ia mengutus kepadanya, ia berkata: Hingga engkau memandang dan kami memandang. Kemudian ia mengumpulkan keluarganya dan anak-anaknya, dan pergi pada malam Ahad, dua malam sebelum akhir Rajab tahun ini, sehari setelah keluarnya Ibnu Zubair. Tidak ada yang tertinggal darinya seorang pun dari keluarganya kecuali Muhammad Ibnul Hanafiyyah, karena ia berkata kepadanya: Demi Allah wahai saudaraku, sungguh engkau adalah penduduk bumi yang paling mulia bagiku, dan sesungguhnya aku memberi nasihat kepadamu; janganlah engkau masuk ke salah satu kota dari kota-kota ini, tetapi tinggallah di padang pasir dan bukit pasir, dan kirimkan kepada orang-orang. Jika mereka membaiamu dan berkumpul atasmu maka masuklah ke kota. Jika engkau menolak kecuali tinggal di kota, maka pergilah ke Makkah. Jika engkau melihat apa yang engkau sukai, kalau tidak maka naiklah ke bukit pasir dan gunung-gunung. Ia berkata kepadanya: Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, karena engkau telah memberi nasihat dan kepedulian. Husain pergi ke Makkah, lalu berkumpul ia dan Ibnu Zubair di sana. Al-Walid mengutus kepada Abdullah bin Umar dan berkata: Baiatlah kepada Yazid. Ia berkata: Apabila orang-orang membaiat maka aku membaiat. Seorang laki-laki berkata: Sesungguhnya engkau menginginkan agar orang-orang berselisih dan saling membunuh hingga mereka saling memusnahkan. Apabila tidak tersisa kecuali engkau, mereka membaiatimu! Ibnu Umar berkata: Aku tidak suka sesuatu dari apa yang engkau katakan, tetapi apabila orang-orang membaiat dan tidak tersisa kecuali aku maka aku membaiat. Mereka meninggalkannya, karena mereka tidak mengkhawatirkannya.

Al-Waqidi berkata: Ibnu Umar tidak berada di Madinah ketika datang berita kematian Muawiyah, ia hanya berada bersama Ibnu Abbas di Makkah. Mereka bertemu dengan keduanya sedang keduanya datang dari sana, Husain dan Ibnu Zubair. Keduanya berkata: Apa yang ada di belakang kalian? Keduanya berkata: Kematian Muawiyah dan baiat kepada Yazid. Ibnu Umar berkata kepada keduanya: Bertakwalah kalian kepada Allah, dan janganlah kalian memecah belah jamaah kaum muslimin. Ibnu Umar dan Ibnu Abbas datang ke Madinah. Ketika datang baiat dari berbagai kota, keduanya membaiat bersama orang-orang.

Adapun Husain dan Ibnu Zubair, keduanya datang ke Makkah dan mendapati di sana Amru bin Sa’id bin Al-Ash. Keduanya takut kepadanya dan berkata: Sesungguhnya kami datang berlindung dengan rumah ini.

Pada tahun ini, pada bulan Ramadhan, Yazid bin Muawiyah memecat Al-Walid bin Utbah dari kepemimpinan Madinah karena kelalaiannya, dan menambahkannya kepada Amru bin Sa’id bin Al-Ash yang menjabat sebagai wakil Makkah. Ia datang ke Madinah pada bulan Ramadhan – ada yang mengatakan: pada bulan Dzulqa’dah – dan ia adalah orang yang fasih dan sombong. Ia menugaskan Amru bin Zubair – yang merupakan musuh saudaranya Abdullah – untuk memeranginya dan mengerahkannya untuknya. Amru bin Sa’id terus mengutus pasukan-pasukan ke Makkah untuk memerangi Abdullah bin Zubair.

Telah tetap dalam Shahihain bahwa Abu Syuraih Al-Khuza’i berkata kepada Amru bin Sa’id, sedang ia mengutus pasukan-pasukan ke Makkah: Izinkan aku wahai Amir untuk menceritakan kepadamu hadits yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada keesokan hari dari hari penaklukan. Telingaku mendengarnya, hatiku memahaminya, dan mataku melihatnya ketika ia berbicara dengannya; sesungguhnya ia memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian ia bersabda: “Sesungguhnya Makkah diharamkan oleh Allah dan tidak diharamkan oleh manusia, dan sesungguhnya tidak dihalalkan berperang di dalamnya bagi siapa pun sebelumku, dan tidak dihalalkan bagi siapa pun setelahku, dan tidak dihalalkan bagiku kecuali satu saat dari siang, kemudian telah kembali kehormatannya hari ini seperti kehormatannya kemarin, maka hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.” Dalam riwayat: “Jika ada orang yang mencari keringanan dengan peperangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalamnya maka katakanlah: Sesungguhnya Allah mengizinkan Rasul-Nya, dan tidak mengizinkan kalian.” Dikatakan kepada Abu Syuraih: Apa yang ia katakan kepadamu? Ia berkata: Ia berkata kepadaku: Kami lebih tahu tentang itu daripadamu wahai Abu Syuraih, sesungguhnya tanah haram tidak melindungi orang yang durhaka, tidak orang yang melarikan diri dengan darah, dan tidak orang yang melarikan diri dengan khirbah (kejahatan).

Al-Waqidi berkata: Amru bin Sa’id mengangkat kepolisian Madinah kepada Amru bin Zubair; lalu ia mengejar para pengikut saudaranya dan orang-orang yang mengikuti alirannya, lalu memukulnya dengan pukulan keras, hingga ia memukul di antara orang-orang yang ia pukul adalah saudaranya Al-Mundzir bin Zubair dan sejumlah pembesar. Kemudian datang keputusan dari Yazid kepada Amru bin Sa’id dalam mengejar Ibnu Zubair, dan bahwa tidak diterima darinya meskipun ia membaiat, hingga ia didatangkan kepadaku dengan belenggu dari emas atau perak di bawah burnus-nya, sehingga tidak terlihat kecuali suaranya didengar. Ibnu Zubair telah mencegah Al-Harits bin Khalid Al-Makhzumi dari shalat dengan penduduk Makkah, padahal ia adalah wakil Amru bin Sa’id di sana. Maka saat itu Amru berketetapan untuk mengirim pasukan ke Makkah karena Ibnu Zubair. Amru bin Sa’id berkonsultasi dengan Amru bin Zubair: Siapa yang layak kita kirim ke Makkah untuk memeranginya? Amru bin Zubair berkata kepadanya: Sesungguhnya engkau tidak akan mengutus kepadanya orang yang lebih berbahaya baginya daripadaku. Lalu ia menunjuknya pada pasukan itu, dan menjadikan sebagai pemimpin mukadimahnya Anis bin Amru Al-Aslami dengan tujuh ratus pejuang.

Al-Waqidi berkata: Sesungguhnya yang menunjuk keduanya adalah Yazid bin Muawiyah sendiri, dan ia mengirimkan itu kepada Amru bin Sa’id dalam surat. Anis berkemah di Al-Jurf. Marwan bin Al-Hakam menyarankan kepada Amru bin Sa’id agar tidak menyerang Makkah, dan agar membiarkan Ibnu Zubair di sana, karena tidak lama lagi jika tidak terbunuh ia akan mati. Saudaranya Amru bin Zubair berkata: Demi Allah, kami akan menyerangnya meskipun di dalam Ka’bah, meskipun hidung siapa pun yang tidak suka. Marwan berkata: Demi Allah, sesungguhnya itu menyedihkanku. Anis berjalan dan Amru bin Zubair mengikutinya dengan sisa pasukan, dan mereka berjumlah dua ribu, hingga turun di Al-Abthah. Ada yang mengatakan: di rumahnya di dekat Shafa. Anis turun di Dzi Thuwa. Amru bin Zubair shalat dengan orang-orang, dan shalat di belakangnya saudaranya Abdullah bin Zubair. Amru mengutus kepada saudaranya dan berkata kepadanya: Penuhilah sumpah Khalifah, dan datanglah kepadanya sedang di lehermu ada belenggu dari emas atau perak, dan janganlah engkau biarkan orang-orang saling memukul sebagian mereka. Bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya engkau berada di tanah haram. Abdullah mengutus dan berkata kepada saudaranya: Tempat janjiku denganmu adalah masjid. Abdullah bin Zubair mengutus Abdullah bin Shafwan bin Umayyah dalam pasukan, lalu mereka bertempur dengan Anis bin Amru Al-Aslami. Mereka mengalahkan Anis dengan kekalahan yang buruk, dan para pengikut Amru bin Zubair bercerai-berai darinya. Amru melarikan diri ke rumah Ibnu Alqamah, lalu saudaranya Ubaidah bin Zubair melindunginya. Saudaranya Abdullah bin Zubair menyalahkannya dan berkata: Engkau melindungi orang yang di lehernya ada hak-hak manusia! Kemudian ia memukulnya karena setiap orang yang ia pukul di Madinah kecuali Al-Mundzir bin Zubair dan anaknya; karena keduanya menolak untuk membalas Amru. Ia memenjarakannya dan bersamanya Arim, maka dinamakan Penjara Arim. Telah dikatakan: Sesungguhnya Amru bin Zubair meninggal di bawah cambuk. Wallahu a’lam.

Kisah Husain bin Ali bin Abi Thalib, semoga Allah meridhai keduanya, dan Sebab Kepergiannya Bersama Keluarganya dari Mekah ke Irak untuk Mencari Kekuasaan serta Cara Terbunuhnya, semoga Allah meridhainya

Mari kita mulai sebelum itu dengan sedikit biografinya, kemudian kita ikuti semuanya dengan menyebutkan kemuliaan dan keutamaannya.

Dia adalah Husain bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim, Abu Abdullah Al-Quraisyi Al-Hasyimi, cucu (Nabi) yang terbunuh syahid di Karbala, putra dari putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Fathimah Az-Zahra yang merupakan kesayangan beliau di dunia. Ia lahir setelah saudaranya Hasan, dan kelahiran Hasan adalah pada tahun ketiga Hijriyah. Sebagian ulama berkata: sesungguhnya jarak antara keduanya hanya satu kali suci (haidh) dan masa kehamilan. Husain lahir pada lima malam yang tersisa dari bulan Syakban tahun empat Hijriyah. Qatadah berkata: Husain lahir pada usia enam tahun lima bulan setengah dari penanggalan Hijriyah, dan terbunuh pada hari Jumat yaitu hari Asyura di bulan Muharram tahun enam puluh satu Hijriyah, dan usianya lima puluh empat tahun enam bulan setengah, semoga Allah meridhainya.

Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mentahniknya (memberi kurma yang dikunyah di mulutnya), meludahkan air liur ke mulutnya, mendoakan untuknya, dan menamakannya Husain. Ayahnya sebelum itu telah menamakannya Harb, dan ada yang berkata: Ja’far. Ada juga yang berkata: sesungguhnya beliau menamakannya pada hari ketujuhnya dan melakukan aqiqah untuknya.

Sekelompok ulama meriwayatkan, dari Isra’il, dari Abu Ishaq, dari Hani’ bin Hani’, dari Ali, semoga Allah meridhainya, ia berkata: Hasan lebih mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada bagian antara dada hingga kepala, sedangkan Husain lebih mirip dengan beliau pada bagian di bawah itu.

Az-Zubair bin Bakkar berkata: Muhammad bin Adh-Dhahhak Al-Hazami menceritakan kepadaku, ia berkata: Wajah Hasan menyerupai wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan tubuh Husain menyerupai tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Muhammad bin Sirin dan saudara perempuannya Hafshah meriwayatkan, dari Anas ia berkata: Aku berada di sisi Ibnu Ziyad, lalu kepala Husain dibawa, maka ia mulai menusuk-nusuk hidungnya dengan tongkat dan berkata: Aku tidak pernah melihat yang seindah ini. Maka aku berkata kepadanya: Sesungguhnya ia adalah yang paling mirip di antara mereka dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sufyan berkata: Aku bertanya kepada Ubaidillah bin Abi Yazid: Apakah kamu melihat Husain? Ia berkata: Ya, rambutnya dan janggutnya hitam kecuali beberapa helai di sini, di bagian depan janggutnya. Aku tidak tahu apakah ia mewarnai dan membiarkan tempat itu untuk meniru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau memang belum beruban selain di tempat itu?

Ibnu Juraij berkata: Aku mendengar Umar bin Atha’ berkata: Aku melihat Husain bin Ali mewarnai dengan wasimah (sejenis pewarna hitam), adapun usianya adalah enam puluh tahun, dan kepala serta janggutnya sangat hitam.

Adapun hadits yang diriwayatkan dari dua jalur yang lemah, bahwa Fathimah meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit menjelang wafat untuk memberikan sesuatu kepada kedua putranya, maka beliau bersabda: Adapun Hasan, maka untuknya kewibawaanku dan kepemimpinanku, dan adapun Husain, maka untuknya keberanianku dan kedermawananku. Itu tidak shahih, dan tidak ada seorangpun dari para penulis kitab-kitab yang mu’tabar yang mengeluarkannya. Husain sempat merasakan dari kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekitar lima tahun atau lebih, dan meriwayatkan hadits darinya.

Muslim bin Al-Hajjaj berkata: Ia pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Shalih bin Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari ayahnya, bahwa ia berkata tentang Hasan bin Ali: Sesungguhnya ia adalah tabi’in yang tsiqah (terpercaya). Ini aneh, maka lebih utama lagi untuk mengatakan tentang Husain: sesungguhnya ia adalah tabi’in.

Kami akan menyebutkan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perbuat untuk memuliakan keduanya, dan apa yang beliau tunjukkan dari kecintaan kepada keduanya dan kelembutan terhadap keduanya.

Yang dimaksud adalah bahwa Husain hidup semasa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menemani beliau hingga beliau wafat dan beliau ridha kepadanya, namun ia masih kecil. Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq memuliakan dan mengagungkannya, demikian pula Umar dan Utsman. Ia menemani ayahnya dan meriwayatkan hadits darinya, dan bersamanya dalam semua peperangannya; di Jamal dan Shiffin, dan ia dimuliakan dan dihormati. Ia terus taat kepada ayahnya hingga ayahnya terbunuh. Ketika khalifah beralih kepada saudaranya (Hasan), dan ia ingin berdamai dengan Mu’awiyah, hal itu sangat menyulitkan Husain, dan ia tidak menyetujui pendapat saudaranya dalam hal itu, bahkan ia mendorong saudaranya untuk memerangi penduduk Syam. Maka saudaranya berkata kepadanya: Demi Allah, sungguh aku hampir memenjarakanmu di sebuah rumah dan menutup pintunya atasmu hingga aku selesai dari urusan ini, kemudian aku keluarkan kamu. Ketika Husain melihat itu, ia diam dan menyerah. Ketika khalifah telah stabil bagi Mu’awiyah, Husain sering datang kepadanya bersama saudaranya Hasan, maka Mu’awiyah memuliakan keduanya dengan sangat, dan berkata kepada keduanya: Selamat datang dan selamat. Ia memberi mereka pemberian yang banyak, dan pernah memberikan kepada keduanya dalam satu hari dua ratus ribu, dan berkata: Ambillah dan aku adalah putra Hind, demi Allah tidak ada yang memberi kalian berdua ini sebelumku dan tidak ada yang akan memberinya setelahku. Maka Husain berkata: Demi Allah, tidak akan ada kamu dan tidak ada seorangpun sebelummu atau setelahmu yang memberi kepada dua orang yang lebih utama dari kami berdua. Ketika Hasan wafat, Husain tetap datang kepada Mu’awiyah setiap tahun, maka ia memberinya dan memuliakan dirinya. Ia pernah berada dalam pasukan yang menyerang Konstantinopel bersama putra Mu’awiyah, Yazid, pada tahun lima puluh satu Hijriyah. Ketika diambil bai’at untuk Yazid semasa hidup Mu’awiyah, Husain termasuk yang menolak membaiatnya, begitu juga Ibnu Az-Zubair, Abdurrahman bin Abi Bakar, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas. Kemudian Ibnu Abi Bakar wafat sementara ia tetap pada pendiriannya itu. Ketika Mu’awiyah wafat pada tahun enam puluh dan Yazid dibaiat, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas membaiat, namun Husain dan Ibnu Az-Zubair tetap pada penentangannya, dan keduanya keluar dari Madinah melarikan diri ke Mekah dan menetap di sana. Maka orang-orang berkumpul mengelilingi Husain, mereka datang kepadanya dan menghadap kepadanya, duduk di sekelilingnya dan mendengarkan perkataannya, ketika mereka mendengar tentang wafatnya Mu’awiyah dan khalifah Yazid. Adapun Ibnu Az-Zubair, ia menetap di tempat shalatnya di Kakbah, dan ia kadang-kadang datang kepada Husain bersama orang-orang, dan ia tidak bisa bergerak dengan sesuatu yang ada dalam jiwanya selama keberadaan Husain; karena ia tahu tentang pengagungan orang-orang kepadanya dan pengutamaan mereka atas dirinya. Namun pasukan dan tentara telah ditunjuk untuk pergi ke Mekah karena dia (Ibnu Az-Zubair), tetapi Allah memberinya kemenangan atas mereka, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Maka pasukan-pasukan mundur dari Mekah dengan kalah, dan Abdullah bin Az-Zubair menang atas orang-orang yang menginginkan kejatuhannya dari pihak Yazid, ia memukul saudaranya Amru dan memenjarakannya, menghukumnya dan menghinakannya. Kedudukan Ibnu Az-Zubair menjadi besar pada saat itu di negeri Hijaz, dan terkenallah namanya. Dengan semua ini, ia tidak diagungkan di mata orang-orang seperti Husain, bahkan orang-orang lebih cenderung kepada Husain, karena ia adalah pemimpin yang besar, dan putra dari putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada di muka bumi saat itu seorangpun yang setara atau sebanding dengannya, namun seluruh pemerintahan Yazid menentangnya.

Banyak surat-surat yang datang kepadanya dari negeri Irak mengundangnya kepada mereka, yaitu ketika sampai kepada mereka berita wafatnya Mu’awiyah dan kepemimpinan Yazid, serta kepergian Husain ke Mekah melarikan diri dari bai’at Yazid. Orang pertama yang datang kepadanya adalah Abdullah bin Saba’ Al-Hamdani dan Abdullah bin Wal, keduanya membawa surat yang berisi salam dan ucapan selamat atas wafatnya Mu’awiyah. Keduanya datang kepada Husain pada sepuluh hari yang telah berlalu dari bulan Ramadhan tahun ini. Kemudian mereka mengutus setelah keduanya beberapa orang; di antaranya Qais bin Mushir Ash-Shaidawi, Abdurrahman bin Abdullah bin Al-Kawwa’ Al-Arhabi, dan Umarah bin Abdullah As-Sululi, mereka membawa sekitar seratus lima puluh surat kepada Husain. Kemudian mereka mengutus Hani’ bin Hani’ As-Subai’i dan Sa’id bin Abdullah Al-Hanafi, dan keduanya membawa surat yang berisi permintaan segera datang kepada mereka. Syabats bin Rub’i menulis kepadanya, begitu juga Hajjar bin Abjar, Yazid bin Al-Harits bin Ruwaim, Azrah bin Qais, Amru bin Hajjaj Az-Zubaidi, dan Muhammad bin Umair bin Yahya At-Tamimi: Amma ba’du (adapun setelah itu); sungguh telah menghijau tanamannya dan matang buah-buahannya dan penuh kolam-kolamnya, maka jika kamu kehendaki, datanglah kepada tentara yang telah dipersiapkan untukmu, dan salam sejahtera atasmu. Maka berkumpullah semua utusan dengan surat-surat mereka di sisi Husain, dan mereka terus mendesaknya dan memintanya segera datang kepada mereka, agar mereka membaiatnya sebagai pengganti Yazid bin Mu’awiyah; dan mereka menyebutkan dalam surat-surat mereka bahwa mereka senang dengan wafatnya Mu’awiyah, dan mereka mencerca dirinya dan membicarakan pemerintahannya, dan bahwa mereka tidak membaiat seorangpun hingga sekarang, dan bahwa mereka menunggu kedatanganmu kepada mereka untuk menjadikanmu sebagai pemimpin mereka. Maka pada saat itulah ia mengutus sepupunya Muslim bin Aqil bin Abi Thalib ke Irak, untuk mengetahui kebenaran perkara dan kesepakatan ini, jika memang pasti dan merupakan urusan yang tegas dan kuat, maka ia akan mengirim surat kepadanya agar ia berangkat bersama keluarga dan kerabatnya, dan datang ke Kufah agar menang atas orang-orang yang memusuhinya. Ia menulis surat bersamanya kepada penduduk Irak tentang hal itu. Ketika Muslim berangkat dari Mekah, ia singgah di Madinah, lalu mengambil dua orang pemandu, maka keduanya membawanya melalui gurun-gurun yang jarang dilalui. Salah satu dari kedua pemandu itu adalah orang pertama yang meninggal, yaitu karena dahaga yang sangat, dan mereka telah tersesat. Pemandu yang satu meninggal di tempat yang disebut Al-Madiq, di lembah Khubayt. Maka Muslim bin Aqil merasa sial dengan hal itu. Muslim tetap tinggal di sana, dan pemandu yang lain juga meninggal. Maka ia menulis kepada Husain untuk meminta pendapatnya dalam urusannya, lalu Husain menulis kepadanya dengan tegas agar ia masuk ke Irak, dan bertemu dengan penduduk Kufah; untuk mengetahui urusan mereka dan menyelidiki berita mereka. Ketika ia masuk ke Kufah, ia menginap di rumah seorang laki-laki yang bernama Muslim bin Awsajah Al-Asadi. Ada yang berkata: Ia menginap di rumah Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi. Wallahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui). Maka penduduk Kufah mendengar tentang kedatangannya, lalu mereka datang kepadanya dan membaiat dirinya atas kepemimpinan Husain, dan mereka bersumpah kepadanya untuk menolongnya dengan jiwa dan harta mereka. Terkumpul yang membaiatnya dari penduduk Kufah dua belas ribu orang, kemudian mereka bertambah hingga mencapai delapan belas ribu orang. Maka Muslim menulis kepada Husain agar ia datang kepada mereka karena telah siap bai’at dan urusan-urusan untuknya. Maka Husain bersiap-siap dari Mekah menuju Kufah sebagaimana akan kami sebutkan. Berita mereka tersebar hingga sampai kepada amir Kufah, An-Nu’man bin Basyir, seorang laki-laki memberitahukan hal itu kepadanya, maka ia mengabaikan hal itu dan tidak menghiraukannya, namun ia berkhutbah kepada orang-orang, dan melarang mereka dari perpecahan dan fitnah, dan memerintahkan mereka untuk bersatu dan mengikuti sunnah. Ia berkata: Aku tidak akan memerangi orang yang tidak memerangiku, dan aku tidak akan menerkam orang yang tidak menerkamku, dan aku tidak akan mengambil kalian berdasarkan prasangka, tetapi demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, jika kalian meninggalkan imam kalian dan mengingkari bai’at kepadanya, sungguh aku akan memerangi kalian selama masih ada gagang pedang di tanganku. Maka berdirilah kepadanya seorang laki-laki yang bernama Abdullah bin Muslim bin Sa’id Al-Hadhrami, lalu berkata kepadanya: Sesungguhnya urusan ini tidak akan baik kecuali dengan kekerasan, dan sesungguhnya yang engkau lakukan wahai amir adalah jalan orang-orang yang lemah. Maka An-Nu’man berkata kepadanya: Aku lebih suka menjadi dari orang-orang yang lemah dalam ketaatan kepada Allah, daripada menjadi dari orang-orang yang kuat dalam kemaksiatan kepada Allah. Kemudian ia turun. Laki-laki itu menulis tentang hal itu kepada Yazid memberitahukan kepadanya, dan Umarah bin Uqbah serta Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash juga menulis kepada Yazid. Maka Yazid mengutus untuk memecat An-Nu’man dari Kufah dan menyatukan Kufah kepada Ubaidillah bin Ziyad bersama Bashrah, dan itu atas saran Sarjun, budak Yazid bin Mu’awiyah. Yazid biasa meminta pendapatnya. Maka Sarjun berkata: Apakah engkau akan menerima dari Mu’awiyah apa yang ia sarankan seandainya ia masih hidup? Ia berkata: Ya. Ia berkata: Maka terimalah dariku, sesungguhnya tidak ada yang cocok untuk Kufah kecuali Ubaidillah bin Ziyad, maka jadikanlah ia sebagai walinya. Yazid membenci Ubaidillah bin Ziyad, dan ia ingin memecatnya dari Bashrah, namun ia menjadikannya sebagai wali Bashrah dan Kufah sekaligus karena apa yang Allah inginkan untuk dirinya dan untuk yang lain.

Kemudian Yazid menulis surat kepada Ibnu Ziyad: “Apabila engkau tiba di Kufah, maka carilah Muslim bin Aqil. Jika engkau dapat menangkapnya, bunuhlah dia atau buanglah dia.” Surat itu dikirim bersama surat pengangkatan melalui Muslim bin Amru al-Bahili. Ibnu Ziyad pun berangkat dari Bashrah menuju Kufah. Ketika memasuki kota Kufah, ia memasuki kota dengan wajah terselubung sorban hitam. Setiap kali melewati kelompok orang, ia mengucapkan salam kepada mereka. Mereka menjawab: “Wa’alaikum salam, selamat datang wahai cucu Rasulullah.” Mereka mengira bahwa ia adalah Husain, padahal mereka sedang menanti kedatangan Husain. Orang-orang pun berdatangan mengerumuni dia. Ia memasuki kota dengan tujuh belas orang pengiring berkuda. Muslim bin Amru yang merupakan utusan Yazid berkata kepada mereka: “Mundurlah, ini adalah Amir Ubaidillah bin Ziyad.” Ketika mereka mengetahui hal itu, kesedihan dan duka yang mendalam meliputi mereka. Ubaidillah kemudian meyakini kabar itu dan turun di istana kekuasaan Kufah.

Ketika Ibnu Ziyad tiba di pintu istana dalam keadaan terselubung, Nu’man bin Basyir mengiranya Husain telah tiba. Ia menutup pintu istana dan berkata: “Aku tidak akan menyerahkan amanatku kepadamu.” Ubaidillah berkata kepadanya: “Bukalah, kalau tidak kubuka sendiri.” Nu’man membuka pintu karena mengira ia adalah Husain. Ketika ia mengetahui bahwa itu adalah Ubaidillah, ia menyesali tindakannya. Ubaidillah masuk ke istana kekuasaan dan memerintahkan penyeru untuk mengumumkan: “Shalat berjamaah.” Orang-orang pun berkumpul. Ia keluar menemui mereka, memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian berkata: “Amma ba’du, sesungguhnya Amirul Mukminin—semoga Allah memperbaikinya—telah melantik aku atas kota kalian, perbatasan kalian, dan harta rampasan kalian. Ia memerintahkan aku untuk menegakkan keadilan bagi yang teraniaya di antara kalian, memberikan hak kepada yang terpinggirkan di antara kalian, berbuat baik kepada yang mendengar dan taat di antara kalian, dan bersikap keras kepada yang mencurigakan dan durhaka di antara kalian. Aku akan melaksanakan perintahnya di tengah kalian dan menjalankan surat pengangkatannya.” Kemudian ia turun dan memerintahkan para kepala suku untuk mencatat orang-orang Khawarij, orang-orang yang mencurigakan, yang menyelisihi, dan yang memecah belah di wilayah mereka. Setiap kepala suku yang tidak melaporkan hal itu kepada kami akan disalib, dibuang, dan dicabut jabatannya dari daftar.

Setelah urusannya stabil, ia mengutus seorang budak Bani Tamim—ada yang mengatakan budaknya sendiri bernama Ma’qil—dengan membawa tiga ribu dirham menyamar sebagai peziarah dari negeri Homs, dan seolah-olah ia datang untuk baiat ini. Budak itu pergi dan terus berusaha dengan halus mencari tahu rumah tempat orang-orang membaiat Muslim bin Aqil, hingga ia masuk ke rumah itu, yaitu rumah Hani’ bin Urwah yang telah dipindahi Muslim dari rumah pertama. Ia membaiat dan mereka memasukkannya kepada Muslim bin Aqil. Ia tinggal bersama mereka beberapa hari hingga mengetahui seluk-beluk urusan mereka. Ia menyerahkan uang itu kepada Abu Tsumamah ash-Shaidi atas perintah Muslim bin Aqil. Abu Tsumamah adalah orang yang menerima harta yang dibawa kepadanya dan membeli senjata, dan ia termasuk penunggang kuda Arab yang perkasa. Budak itu kemudian kembali dan memberitahu Ubaidillah tentang rumah tersebut dan pemiliknya. Muslim bin Aqil telah pindah dari rumah Hani’ bin Urwah al-Muradi ke rumah Syarik bin al-A’war, yang merupakan salah seorang pemimpin besar. Syarik mendengar kabar bahwa Ubaidillah berniat menjenguknya. Ia mengirim utusan kepada Hani’ untuk mengatakan kepadanya: “Kirimkan Muslim bin Aqil agar berada di rumahku supaya dapat membunuh Ubaidillah ketika ia datang menjenguk.” Hani’ mengirimnya kepada Syarik. Syarik berkata kepada Muslim: “Engkau berada di dalam khemah. Jika Ubaidillah sudah duduk, aku akan meminta air—itulah isyaratku kepadamu—maka keluarlah dan bunuh dia.” Ketika Ubaidillah datang, ia duduk di atas hamparan Syarik, sementara Hani’ bin Urwah berada di sisinya, dan seorang budak bernama Mihran berdiri di hadapannya. Ubaidillah berbincang-bincang sebentar, lalu Syarik berkata: “Berilah aku minum air.” Muslim takut untuk membunuhnya. Seorang budak perempuan keluar membawa kendi air, tetapi ia menemukan Muslim di dalam khemah, lalu malu dan kembali. Syarik mengatakan hal itu tiga kali, kemudian berkata: “Berilah aku minum walau nyawaku melayang. Apakah kalian menghalangi aku dari air?” Mihran memahami adanya pengkhianatan dan memberi isyarat kepada tuannya. Ubaidillah segera bangkit dan keluar. Syarik berkata: “Wahai Amir, aku ingin berwasiat kepadamu.” Ubaidillah menjawab: “Aku akan kembali kepadamu.” Ia keluar bersama budaknya yang membawanya pergi sambil berkata kepadanya: “Sesungguhnya orang-orang itu berniat membunuhmu.” Ubaidillah berkata: “Celaka kamu! Aku baik kepada mereka, apa urusan mereka?” Syarik berkata kepada Muslim: “Apa yang menghalangimu keluar dan membunuhnya?” Muslim menjawab: “Aku mendengar hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: ‘Iman menghalangi penipuan, seorang mukmin tidak boleh menipu.’ Aku tidak suka membunuhnya di rumahmu.” Syarik berkata: “Seandainya engkau membunuhnya, engkau akan duduk di istana tanpa ada yang menuntut balas darinya, dan urusan Bashrah akan terkendali. Seandainya engkau membunuhnya, engkau telah membunuh orang zalim yang fasik.” Syarik meninggal tiga hari kemudian. Hani’ adalah salah seorang pemimpin besar dan tidak pernah memberi salam kepada Ubaidillah sejak kedatangannya, dan ia berpura-pura sakit. Ubaidillah menyebut-nyebutnya dan berkata: “Kenapa Hani’ tidak datang kepadaku bersama para pemimpin lainnya?” Mereka menjawab: “Wahai Amir, sesungguhnya ia sedang sakit.” Ubaidillah berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa ia duduk-duduk di depan pintu rumahnya.”

Ada yang menyebutkan bahwa ia menjenguknya sebelum Syarik bin al-A’war, sementara Muslim bin Aqil berada di sisinya. Mereka berniat membunuhnya, tetapi Hani’ tidak memungkinkan hal itu karena Ubaidillah berada di rumahnya. Para pemimpin datang kepada Hani’ bin Urwah dan terus membujuknya hingga mereka memasukkannya kepada Ubaidillah bin Ziyad. Ubaidillah menoleh kepada Qadhi Syuraih dan berkata sambil mengutip syair seorang penyair:

Aku menginginkan kehidupannya, sementara ia menginginkan kematianku … mohonkanlah maaf untukmu dari temanmu dari suku Murad

Ketika Hani’ memberi salam kepada Ubaidillah, Ubaidillah berkata: “Wahai Hani’, di mana Muslim bin Aqil?” Hani’ menjawab: “Aku tidak tahu.” Budak Tamimi itu—yang masuk ke rumah Hani’ menyamar sebagai peziarah dari Homs, membaiat di rumahnya, dan menyerahkan dirham dengan disaksikan Hani’ kepada Muslim—berdiri dan berkata: “Apakah engkau kenal orang ini?” Hani’ menjawab: “Ya.” Ketika Hani’ melihatnya, ia terputus harapannya dan menyesal. Ia berkata: “Semoga Allah memperbaiki Amir, demi Allah aku tidak memanggilnya ke rumahku, tetapi ia datang dan menempatkan dirinya padaku.” Ubaidillah berkata: “Bawa dia kepadaku.” Hani’ menjawab: “Demi Allah, seandainya ia berada di bawah kakiku, aku tidak akan mengangkatnya darinya.” Ubaidillah berkata: “Dekatkanlah dia kepadaku.” Mereka mendekatkannya, lalu Ubaidillah memukulnya dengan tombak di wajahnya, melukai alisnya, dan mematahkan hidungnya. Hani’ berusaha mengambil pedang seorang polisi untuk menghunus, tetapi dicegah dari hal itu. Ubaidillah berkata: “Sesungguhnya Allah telah menghalalkan darahmu bagiku karena engkau seorang Khawarij.” Kemudian ia memerintahkan agar Hani’ dipenjarakan di sudut istana. Kaumnya dari Bani Mazhhaj datang bersama Amru bin al-Hajjaj dan berdiri di pintu istana, mengira bahwa Hani’ telah dibunuh. Ubaidillah mendengar keributan mereka, lalu berkata kepada Qadhi Syuraih yang berada di sisinya: “Keluarlah kepada mereka dan katakan kepada mereka: Sesungguhnya Amir tidak menahannya kecuali untuk menanyakan tentang Muslim bin Aqil.” Syuraih berkata kepada mereka: “Sesungguhnya teman kalian masih hidup, dan penguasa kami telah memukulnya dengan pukulan yang tidak sampai merenggut nyawanya, maka pulanglah dan jangan membawa diri kalian dan teman kalian kepada bahaya.” Mereka pun berpencar ke rumah-rumah mereka. Muslim bin Aqil mendengar kabar itu, lalu ia berkuda dan menyerukan semboyannya: “Ya Manshur amit!” (Wahai yang ditolong, matilah!). Empat ribu orang dari penduduk Kufah berkumpul kepadanya. Bersama Muslim ada Mukhtar bin Abi Ubaid dengan membawa panji hijau, dan Abdullah bin al-Harits bin Naufal dengan panji merah. Muslim mengatur mereka di sayap kanan dan kiri, sementara ia berada di tengah, dan berjalan menuju Ubaidillah yang sedang berkhutbah tentang urusan Hani’, memperingatkan mereka dari perpecahan. Para pembesar dan pemimpin orang-orang berada di bawah mimbarnya. Sementara ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah para peninjau mengatakan: “Muslim bin Aqil datang.” Ubaidillah segera masuk ke istana bersama orang-orang yang bersamanya, dan mereka menutup pintu istana. Ketika Muslim tiba di pintu istana, ia berhenti dengan pasukannya di sana. Para pemimpin suku yang bersama Ubaidillah di istana menampakkan diri dan memberi isyarat kepada kaum mereka yang bersama Muslim untuk pulang, mengancam mereka, memberi janji dan peringatan. Ubaidillah mengeluarkan beberapa pemimpin dan memerintahkan mereka untuk berkeliling di Kufah untuk membuat orang-orang berpaling dari Muslim bin Aqil. Mereka melakukan hal itu. Perempuan datang kepada anaknya atau saudaranya lalu berkata: “Pulanglah, orang-orang sudah cukup untukmu.” Laki-laki berkata kepada anaknya atau saudaranya: “Seolah-olah besok pasukan Syam telah datang, apa yang akan kamu lakukan terhadap mereka?” Orang-orang mulai goyah, mengendur, bubar, dan meninggalkan Muslim bin Aqil. Saat sore tiba, hanya tinggal lima ratus orang bersamanya, kemudian tinggal tiga ratus, lalu tidak tersisa kecuali tiga puluh orang. Ia shalat Maghrib bersama mereka, lalu menuju pintu-pintu Kindah. Ia keluar dari sana bersama sepuluh orang, kemudian mereka juga meninggalkannya. Ia tinggal sendirian, tidak ada yang menunjukkan jalan kepadanya, tidak ada yang menemaninya dengan dirinya, dan tidak ada yang memberinya tempat berlindung di rumahnya. Ia berjalan tanpa tujuan, kegelapan menyelimuti dan ia sendirian berkelana di jalan tanpa tahu kemana harus pergi. Ia sampai di sebuah pintu dan turun di sana serta mengetuknya. Keluarlah seorang perempuan yang disebut Thau’ah—ia adalah budak sahaya Asy’ats bin Qais, dan ia memiliki anak laki-laki dari orang lain bernama Bilal bin Usaid. Anak itu keluar bersama orang-orang, sementara ibunya berdiri di pintu menunggunya. Muslim bin Aqil berkata kepadanya: “Berilah aku minum air.” Perempuan itu memberinya minum, kemudian masuk dan keluar lagi menemukan Muslim masih di sana. Ia berkata: “Bukankah engkau sudah minum?” Muslim menjawab: “Sudah.” Perempuan itu berkata: “Maka pergilah ke keluargamu.” Muslim diam. Perempuan itu mengatakan hal itu tiga kali sementara Muslim tetap diam. Lalu ia berkata: “Subhanallah wahai hamba Allah! Bangunlah menuju keluargamu, semoga Allah memberimu kesehatan. Sesungguhnya tidak pantas bagimu duduk di depan pintuku, dan aku tidak menghalalkannya untukmu.” Muslim bangkit dan berkata: “Wahai hamba Allah, aku tidak punya tempat tinggal di negeri ini dan tidak punya keluarga. Apakah engkau bersedia untuk mendapat pahala dan kebaikan yang akan kami balas setelah hari ini?” Perempuan itu berkata: “Wahai hamba Allah, apa itu?” Muslim menjawab: “Aku adalah Muslim bin Aqil. Orang-orang ini telah mendustakan dan menipuku.” Perempuan itu berkata: “Engkau Muslim?” Muslim menjawab: “Ya.” Perempuan itu berkata: “Masuklah.” Ia memasukkannya ke sebuah kamar di rumahnya selain kamar tempat ia biasa berada, membentangkan tempat tidur untuknya, dan menawarkan makan malam, tetapi ia tidak makan. Tidak lama kemudian anaknya pulang dan melihat ibunya sering keluar masuk. Ia bertanya tentang urusan ibunya. Ibunya berkata: “Wahai anakku, jangan pikirkan hal ini.” Anak itu mendesaknya, lalu ibunya meminta sumpah darinya untuk tidak memberitahu siapapun, kemudian ia memberitahu anaknya tentang Muslim. Anak itu berbaring dan diam hingga pagi. Adapun Ubaidillah bin Ziyad, ia turun dari istana bersama para pemimpin dan pembesar yang bersamanya setelah shalat Isya, lalu shalat Isya bersama mereka di masjid jami’. Kemudian ia berkhutbah kepada mereka dan meminta mereka mencari Muslim bin Aqil, mendorong mereka untuk mencarinya. Barangsiapa ditemukan Muslim di tempat mereka dan tidak melaporkannya, darahnya halal. Barangsiapa membawanya akan diberi uang diatnya. Ia meminta polisi dan mendorong mereka untuk mencari dan mengancam serta memperingatkan mereka. Ketika pagi hari, anak perempuan tua itu pergi menemui Abdurrahman bin Muhammad bin al-Asy’ats dan memberitahunya bahwa Muslim bin Aqil ada di rumah mereka. Abdurrahman datang dan berbisik kepada ayahnya tentang hal itu sementara ayahnya berada di sisi Ibnu Ziyad. Ibnu Ziyad berkata: “Apa yang dibisikkannya kepadamu?” Ayahnya menjawab: “Ia memberitahuku bahwa Muslim ada di salah satu rumah kami.” Ibnu Ziyad menusuk pinggangnya dengan tongkat dan berkata: “Bangun dan bawa dia kepadaku sekarang juga.”

Ibnu Ziyad mengutus Amru bin Huraith al-Makhzumi—yang merupakan kepala polisinya—bersama Abdurrahman dan Muhammad bin al-Asy’ats dengan tujuh puluh atau delapan puluh penunggang kuda. Muslim tidak merasa apa-apa hingga rumah tempat ia berada dikepung. Mereka memasukinya, lalu Muslim bangkit kepada mereka dengan pedang dan mengusir mereka dari rumah sebanyak tiga kali. Bibir atasnya dan bawahnya terluka. Kemudian mereka melempar batu kepadanya dan menyalakan api di tumpukan bambu dan melemparinya. Muslim kewalahan menghadapi mereka, lalu ia keluar kepada mereka dengan pedangnya dan bertempur melawan mereka. Abdurrahman memberinya jaminan keamanan, lalu Muslim menyerahkan tangannya. Mereka membawa seekor bagal dan mengendarainya. Mereka merampas pedangnya, sehingga ia tidak lagi memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri. Saat itulah ia menangis karena mengetahui bahwa ia akan dibunuh, dan berputus asa dari dirinya. Ia berkata: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Salah seorang dari orang-orang di sekitarnya berkata kepadanya: “Sesungguhnya orang yang menuntut seperti yang engkau tuntut tidak menangis ketika hal seperti ini menimpanya.” Muslim berkata: “Adapun demi Allah, aku tidak menangis untuk diriku sendiri, tetapi aku menangis untuk Husain dan keluarga Husain. Sesungguhnya ia telah keluar menuju kalian hari ini atau besok dari Makkah.” Kemudian ia menoleh kepada Muhammad bin al-Asy’ats dan berkata: “Jika engkau mampu mengirim utusan kepada Husain atas namaku untuk memerintahkannya kembali, lakukanlah.” Muhammad bin al-Asy’ats mengirim utusan kepada Husain memerintahkannya untuk kembali, tetapi utusan itu tidak dipercayai oleh Husain. Husain berkata: “Segala yang telah ditakdirkan pasti terjadi.”

Mereka berkata: Ketika Muslim bin Aqil tiba di pintu istana, di pintunya terdapat sekelompok pemimpin dari anak-anak para sahabat yang ia kenal dan mereka mengenalnya, menunggu untuk diizinkan masuk menemui Ibnu Ziyad. Muslim berlumuran darah di wajah dan pakaiannya, penuh dengan luka-luka, dalam keadaan sangat kehausan. Di sana terdapat kendi air dingin. Ia ingin mengambilnya untuk minum, tetapi seorang laki-laki dari mereka berkata: “Demi Allah, engkau tidak akan minum darinya hingga engkau minum dari air yang mendidih.” Muslim berkata kepadanya: “Celakalah engkau wahai anak Bahilah! Engkau lebih berhak dengan air mendidih dan kekal di neraka Jahannam dariku.” Kemudian ia duduk bersandar ke dinding karena lelah, letih, dan kehausan. Amarah bin Uqbah bin Abi Mu’aith mengirim budaknya ke rumah, lalu budak itu datang membawa kendi dengan kain lap dan bersama cangkir. Ia menuangkan air ke dalam cangkir dan memberikannya kepada Muslim untuk minum, tetapi Muslim tidak bisa minum karena banyaknya darah yang naik ke atas air, dua atau tiga kali. Ketika ia minum, gigi serinya jatuh bersama air. Muslim berkata: “Alhamdulillah, sesungguhnya bagiku ada rezeki yang telah ditentukan berupa seteguk air.”

Kemudian ia dimasukkan kepada Ibnu Ziyad. Ketika ia dihentikan di hadapannya, ia tidak memberi salam kepadanya. Pengawal berkata kepadanya: “Mengapa engkau tidak memberi salam kepada Amir?” Muslim berkata: “Tidak, jika ia berniat membunuhku maka tidak perlu aku memberi salam kepadanya. Dan jika ia tidak berniat membunuhku, aku akan banyak memberi salam kepadanya.” Ibnu Ziyad menghadap kepadanya dan berkata: “Wahai Ibnu Aqil, apakah engkau datang kepada orang-orang padahal urusan mereka bersatu dan kata mereka satu, untuk mencerai-beraikan mereka, memecah kata mereka, dan mengadu-domba sebagian mereka dengan sebagian yang lain?” Muslim menjawab: “Bukan, aku tidak datang untuk itu. Tetapi penduduk negeri ini menyatakan bahwa ayahmu telah membunuh orang-orang baik mereka, menumpahkan darah mereka, dan berbuat kepada mereka seperti perbuatan Kisra dan Kaisar. Maka kami datang kepada mereka untuk memerintahkan keadilan dan menyeru kepada hukum Kitabullah.” Ibnu Ziyad berkata: “Dan apa urusanmu dengan itu wahai fasik, bukankah kami telah berbuat demikian kepada mereka ketika engkau di Madinah minum khamar?” Muslim berkata: “Aku minum khamar! Demi Allah, sesungguhnya Allah mengetahui bahwa engkau tidak jujur, dan engkau berkata tanpa ilmu. Engkau lebih pantas dengan hal itu dariku. Aku tidak seperti yang engkau sebutkan. Dan yang lebih pantas dengannya dariku adalah orang yang bergelimang darah kaum muslimin, membunuh jiwa yang diharamkan Allah tanpa alasan, dan membunuh karena marah dan prasangka, sementara ia bermain dan bersenda gurau seolah-olah ia tidak berbuat apa-apa.” Ibnu Ziyad berkata kepadanya: “Wahai fasik, dirimu memberikan harapan kepadamu tentang sesuatu yang Allah halangi antara engkau dan hal itu, dan Allah tidak menganggapmu layak untuknya.” Muslim berkata: “Siapa yang layak wahai Ibnu Ziyad?” Ibnu Ziyad menjawab: “Amirul Mukminin Yazid.” Muslim berkata: “Alhamdulillah atas segala keadaan, kami ridha dengan Allah sebagai hakim antara kami dan kalian.” Ibnu Ziyad berkata: “Seolah-olah engkau mengira bahwa kalian memiliki bagian dalam urusan ini?” Muslim menjawab: “Tidak, demi Allah, itu bukan prasangka, tetapi keyakinan.” Ibnu Ziyad berkata kepadanya: “Allah membunuhku jika aku tidak membunuhmu dengan cara pembunuhan yang belum pernah dilakukan seseorang kepada orang lain dalam Islam.” Muslim berkata: “Adapun engkau adalah yang paling berhak dari orang yang mengadakan hal dalam Islam yang belum pernah ada padanya. Sesungguhnya engkau tidak meninggalkan cara membunuh yang buruk, kekejaman dalam penyiksaan, dan keburukan tingkah laku yang diperoleh dari bapak-bapakmu dan orang-orang bodoh kalian.” Ibnu Ziyad mulai mencacinya dan mencaci Husain dan Ali, sementara Muslim diam tidak menanggapi. Ini disebutkan oleh Ibnu Jarir dari Abu Mikhnaf dan lainnya dari perawi Syiah.

Kemudian Ibnu Ziyad berkata kepadanya: “Aku akan membunuhmu.” Muslim berkata: “Begitukah?” Ibnu Ziyad menjawab: “Ya.” Muslim berkata: “Kalau begitu izinkan aku berwasiat kepada sebagian kaumku.” Ibnu Ziyad berkata: “Berwasiatcatat.” Muslim melihat orang-orang yang duduk di majelis dan di antara mereka ada Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia berkata: “Wahai Umar, sesungguhnya antara aku dan engkau ada kekerabatan, dan aku punya hajat kepadamu, dan ini adalah rahasia.” Umar enggan berdiri bersamanya hingga Ibnu Ziyad mengizinkannya. Lalu ia berdiri dan menyingkir dekat dengan Ibnu Ziyad. Muslim berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku memiliki hutang di Kufah sebesar tujuh ratus dirham, bayarlah untukku. Mintalah jasadku dari Ibnu Ziyad untuk dikuburkan, dan kirim utusan kepada Husain. Sesungguhnya aku telah menulis surat kepadanya memberitahukan bahwa orang-orang bersamanya, dan aku melihat ia pasti datang.” Umar berdiri dan menyampaikan kepada Ibnu Ziyad apa yang dikatakan Muslim. Ibnu Ziyad menyetujui semua itu dan berkata: “Adapun Husain, jika ia tidak mendatangi kami, kami tidak akan mendatanginya. Dan jika ia mendatangi kami, kami tidak akan membiarkannya.” Kemudian Ibnu Ziyad memerintahkan agar Muslim bin Aqil dinaikkan ke puncak istana. Muslim bertakbir, beristighfar, dan bershalawat kepada malaikat Allah, seraya berkata: “Ya Allah, putuskanlah hukum antara kami dengan kaum yang menipu dan mengkhianati kami.” Kemudian seorang laki-laki bernama Bukair bin Humran memenggal lehernya. Lalu kepalanya dijatuhkan ke bawah istana, dan jasadnya menyusul kepalanya.

Kemudian ia memerintahkan untuk membunuh Hani bin Urwah al-Madzhaji, lalu lehernya dipancung di pasar hewan, dan disalib di suatu tempat di Kufah yang disebut al-Kanasah. Maka seorang penyair mengatakan dalam sebuah syair tentang hal itu, dan dikatakan bahwa syair itu adalah karya al-Farazdaq:

Jika engkau tidak tahu apa itu kematian, maka lihatlah kepada Hani di pasar dan Ibnu Aqil Perintah penguasa menimpa keduanya, maka keduanya menjadi perbincangan orang yang berjalan di setiap jalan Kepada seorang pahlawan yang pedang telah meremukkan wajahnya, dan yang lain tergeletak dalam jubah mayit Engkau melihat jasad yang warnanya telah diubah oleh kematian, dan percikan darah yang telah mengalir ke segala arah Jika kalian tidak membalas dendam atas saudara kalian, maka jadilah pelacur yang ridha dengan yang sedikit

Kemudian ia mengirim kepala keduanya kepada Yazid bin Muawiyah ke Syam, dan menulis surat kepadanya dengan laporan tentang peristiwa yang terjadi pada keduanya.

Dan sungguh, Ubaidillah sebelum keluar dari Bashrah sehari telah berkhutbah kepada penduduknya dengan khutbah yang fasih, dan ia memberi nasihat kepada mereka di dalamnya dan memperingatkan mereka dari perselisihan, fitnah, dan perpecahan.

Dan hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Hisyam bin al-Kalbi dan Abu Mikhnaf, dari ash-Shaqab bin Zuhair, dari Abu Utsman an-Nahdi, ia berkata: Dan Husain menulis surat dengan perantara seorang maula yang bernama Sulaiman kepada para pembesar penduduk Bashrah yang isinya: Amma badu, sesungguhnya Allah memilih Muhammad shallallahu alaihi wasallam dari makhluk-Nya, dan memuliakannya dengan kenabiannya, dan memilihnya untuk kerasulannya, kemudian Allah mengambilnya kepada-Nya dan sungguh ia telah memberi nasihat kepada hamba-hamba-Nya dan menyampaikan apa yang diutuskan kepadanya, dan kamilah keluarganya dan para penolong-Nya dan para wasiat-Nya dan ahli warisnya, dan orang yang paling berhak dengan kedudukannya di tengah manusia, maka kaum kami merebut hal itu dari kami, lalu kami ridha dan kami tidak suka perpecahan, dan kami mencintai kesejahteraan, dan kami mengetahui bahwa kami lebih berhak dengan hak yang diwajibkan atas kami daripada orang yang mengurusnya, dan mereka telah berbuat baik dan memperbaiki, dan mencari kebenaran, maka Allah merahmati mereka, dan mengampuni kami dan mereka, dan sungguh aku telah mengutus kepada kalian surat ini, dan aku menyeru kalian kepada Kitabullah dan sunnah nabi-Nya, maka sesungguhnya sunnah telah dimatikan, dan sesungguhnya bidah telah dihidupkan, jika kalian mendengarkan perkataanku dan mentaati perintahku, aku akan membimbing kalian ke jalan petunjuk, dan salam sejahtera atas kalian dan rahmat Allah – dan menurutku dalam kesahihan ini dari Husain ada pertimbangan, dan yang tampak bahwa itu dihiasi dengan perkataan tambahan dari sebagian perawi Syiah – ia berkata: Maka setiap orang dari para pembesar yang membaca surat itu menyembunyikannya kecuali al-Mundzir bin al-Jarud karena ia mengira bahwa itu adalah tipu daya dari Ibnu Ziyad, maka ia datang kepadanya dengan surat itu, lalu ia mengutus untuk menangkap utusan yang datang dengannya, dan memenggal lehernya. Dan Ubaidillah naik mimbar, lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: Amma badu, demi Allah tidaklah aku orang yang ditakuti oleh yang sulit, dan tidaklah aku orang yang digegerkan dengan gertakan, dan sesungguhnya aku adalah pisau bagi siapa yang memusuhi aku, dan racun bagi siapa yang memerangiku, adil bagi yang menembakinya dari yang menembakinya, wahai penduduk Bashrah, sesungguhnya Amirul Mukminin telah mengangkatku sebagai gubernur Kufah dan aku akan pergi ke sana besok, dan aku telah menunjuk Utsman bin Ziyad bin Abu Sufyan sebagai penggantiku atas kalian, dan janganlah kalian berselisih dan menyebarkan desas-desus, maka demi Dzat yang tidak ada tuhan selain-Nya, sungguh jika sampai kepadaku tentang seorang laki-laki dari kalian yang berselisih, niscaya aku akan membunuhnya dan penghulu kelompoknya dan walinya, dan aku akan mengambil yang dekat karena yang jauh, hingga kalian lurus bagiku, dan tidak ada di antara kalian yang berselisih dan yang membangkang, aku adalah anak Ziyad, aku menyerupainya dari antara orang yang menginjak kerikil, dan tidaklah aku tertarik pada kemiripan paman atau paman dari pihak ayah. Kemudian ia keluar dari Bashrah dan bersamanya Muslim bin Amr al-Bahili, maka terjadi dari urusannya apa yang telah disebutkan terdahulu. Berkata Abu Mikhnaf, dari ash-Shaqab bin Zuhair, dari Aun bin Abi Juhaifah, ia berkata: Keluarnya Muslim bin Aqil di Kufah adalah pada hari Selasa delapan hari berlalu dari bulan Dzulhijjah, dan dikatakan: hari Rabu sembilan hari berlalu dari bulan Dzulhijjah dan itu adalah hari Arafah tahun enam puluh, dan itu adalah sehari setelah keluarnya Husain dari Makkah menuju tanah Irak dengan satu hari, dan keluarnya Husain dari Madinah ke Makkah adalah hari Ahad dengan dua malam tersisa dari bulan Rajab tahun enam puluh, dan masuk Makkah malam Jumat tiga hari berlalu dari bulan Syaban, lalu ia tinggal di Makkah sisa Syaban dan Ramadhan dan Syawal dan Dzulqadah, kemudian keluar darinya delapan hari berlalu dari bulan Dzulhijjah hari Selasa hari Tarwiyah.

Sifat Keluarnya Husain dan Apa yang Terjadi Padanya Setelah Itu

Ketika surat-surat kepada Husain dari pihak penduduk Irak datang secara berturut-turut dan utusan berulang kali antara mereka dan dia, dan datang kepadanya surat Muslim bin Aqil agar datang kepadanya dengan keluarganya, kemudian terjadilah dalam selang waktu itu apa yang terjadi dari terbunuhnya Muslim bin Aqil dan Husain tidak mengetahui sesuatu pun dari itu, bahkan ia telah bertekad untuk pergi kepada mereka dan datang kepada mereka, maka terjadilah keluarnya dari Makkah pada hari Tarwiyah sehari sebelum terbunuhnya Muslim bin Aqil – karena sesungguhnya Muslim dibunuh pada hari Arafah – dan ketika orang-orang mengetahui keluarnya, mereka khawatir atasnya dari hal itu, dan memperingatkannya darinya, dan orang-orang yang berakal dari mereka dan yang mencintainya memberinya nasihat untuk tidak keluar ke Irak, dan memerintahkannya untuk tinggal di Makkah, dan mereka mengingatkannya apa yang terjadi pada ayahnya dan saudaranya bersama mereka.

Berkata Sufyan bin Uyainah, dari Ibrahim bin Maisarah, dari Thawus, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Husain bin Ali meminta nasihat kepadaku tentang keluarnya, maka aku berkata: Seandainya tidak membuatku dan engkau hina, niscaya aku akan mencengkeram tanganku di kepalamu. Maka yang ia jawab kepadaku adalah bahwa ia berkata: Sungguh aku dibunuh di tempat ini dan itu lebih aku cintai daripada aku dibunuh di Makkah. Ia berkata: Maka inilah yang melegakan jiwaku darinya.

Dan meriwayatkan Abu Mikhnaf, dari al-Harits bin Kaab al-Walibi, dari Uqbah bin Saman, bahwa Husain ketika bertekad untuk pergi ke Kufah, Abdullah bin Abbas datang kepadanya lalu berkata: Wahai anak pamanku, sesungguhnya orang-orang telah menyebarkan desas-desus bahwa engkau akan pergi ke Irak, maka jelaskan kepadaku apa yang akan engkau lakukan. Maka ia berkata: Sesungguhnya aku telah bertekad untuk pergi dalam salah satu dari dua hari ini, insya Allah Taala. Maka Ibnu Abbas berkata kepadanya: Beritahuku jika mereka telah menyerumu setelah mereka membunuh penguasa mereka dan mengusir musuh mereka dan menguasai negeri mereka, maka pergilah kepada mereka, dan jika penguasa mereka masih atas mereka, dan para petugas mereka memungut negeri mereka, maka sesungguhnya mereka hanya menyerumu untuk fitnah dan peperangan, dan aku tidak aman atasmu bahwa mereka akan menggerakkan orang-orang kepadamu, maka yang menyerumu akan menjadi orang yang paling keras kepadamu. Maka Husain berkata: Sesungguhnya aku meminta petunjuk kepada Allah dan melihat apa yang akan terjadi. Maka Ibnu Abbas keluar dari sisinya, dan Ibnu Zubair masuk, lalu berkata kepadanya: Aku tidak tahu apa yang kami tinggalkan untuk kaum ini, sedang kami adalah anak-anak Muhajirin, dan penguasa urusan ini selain mereka, beritahuku apa yang engkau ingin lakukan. Maka Husain berkata: Demi Allah sungguh aku telah berbicara dalam diriku untuk mendatangi Kufah, dan sungguh kaum Syiahku telah menulis kepadaku di sana dan para pembesar penduduknya, dan aku meminta petunjuk kepada Allah. Maka Ibnu Zubair berkata: Adapun seandainya ada bagiku di sana seperti kaum Syiahmu, aku tidak akan berpaling darinya. Maka ketika ia keluar dari sisinya, Husain berkata: Sungguh ia telah mengetahui bahwa tidak ada baginya dari urusan bersamaku sesuatu, dan bahwa orang-orang tidak menyamakannya denganku, maka ia berharap aku keluar agar ia sendiri di sana. Maka ketika sore atau esok harinya, Ibnu Abbas datang kepada Husain lalu berkata kepadanya: Wahai anak pamanku, sesungguhnya aku bersabar dan tidak bisa bersabar, sesungguhnya aku khawatir atasmu dalam perjalanan ini akan kebinasaan, sesungguhnya penduduk Irak adalah kaum pengkhianat maka janganlah engkau tertipu oleh mereka, tinggallah di negeri ini hingga penduduk Irak mengusir musuh mereka, kemudian datanglah kepada mereka, dan jika tidak maka pergilah ke Yaman karena sesungguhnya di sana ada benteng dan lembah, dan ayahmu memiliki kaum Syiah di sana, dan jauhilah orang-orang dalam tempat terpencil, dan kirimi mereka surat, dan sebarkan para penyerumu di antara mereka, maka sesungguhnya aku berharap jika engkau melakukan itu akan terjadi apa yang engkau sukai. Maka Husain berkata: Wahai anak pamanku, demi Allah sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau penolong yang pengasih, tetapi aku telah bertekad untuk pergi. Maka ia berkata kepadanya: Jika engkau tetap akan pergi, maka janganlah engkau pergi dengan istri-istrimu dan anak-anakmu, maka demi Allah sesungguhnya aku khawatir engkau akan dibunuh sebagaimana Utsman dibunuh dan istri-istrinya dan anak-anaknya melihat kepadanya. Kemudian Ibnu Abbas berkata: Engkau telah menyenangkan hati Ibnu Zubair dengan membiarkannya di Hijaz, dan demi Allah yang tidak ada tuhan selain-Nya, seandainya aku tahu bahwa jika aku menarik rambutmu dan ubun-ubunmu hingga berkumpul atasku dan atasmu orang-orang, engkau mematuhi aku dan tinggal, niscaya aku akan melakukannya. Ia berkata: Kemudian ia keluar dari sisinya lalu bertemu Ibnu Zubair maka berkata: Senang hatilah wahai Ibnu Zubair. Kemudian berkata:

Wahai engkau, burung kecil yang dilindungi, lapangan telah kosong bagimu maka bertelurlah dan berkokok Dan patuk apa yang engkau inginkan untuk engkau patuk

Kemudian Ibnu Abbas berkata: Ini Husain keluar ke Irak dan membiarkanmu dengan Hijaz.

Dan berkata selain satu orang, dari Syababah bin Sawar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ismail bin Salim al-Asadi, ia berkata: Aku mendengar asy-Syabi menceritakan dari Ibnu Umar, bahwa ia berada di sebuah sumber air miliknya, lalu sampai kepadanya bahwa Husain bin Ali telah menuju ke Irak, maka ia menyusulnya dalam perjalanan tiga malam, lalu berkata kepadanya: Ke mana engkau tuju? Maka ia berkata kepadanya: Irak. Dan ternyata bersamanya ada lembaran-lembaran dan surat-surat. Maka ia berkata: Ini surat-surat mereka dan baiat mereka. Maka Ibnu Umar berkata: Janganlah engkau mendatangi mereka. Maka ia menolak, lalu Ibnu Umar berkata: Sesungguhnya aku akan menceritakan kepadamu sebuah hadits; sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu memberinya pilihan antara dunia dan akhirat, maka ia memilih akhirat, dan tidak menginginkan dunia, dan sesungguhnya engkau adalah bagian dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan demi Allah tidaklah akan mengurusnya seorang pun dari kalian selamanya, dan tidaklah Allah memalingkannya dari kalian kecuali untuk yang lebih baik bagi kalian. Maka ia menolak untuk kembali. Ia berkata: Maka Ibnu Umar memeluknya, dan menangis dan berkata: Aku menitipkanmu kepada Allah sebagai orang yang terbunuh.

Dan berkata Yahya bin Main: Telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidah, telah menceritakan kepada kami Sulaim bin Hayyan, dari Said bin Mina, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Amr berkata: Husain mempercepat takdirnya, Husain mempercepat takdirnya, dan demi Allah seandainya aku mendapatkannya, tidaklah ia akan keluar kecuali jika ia mengalahkanku; dengan Bani Hasyim dibuka, dan dengan Bani Hasyim ditutup, maka jika engkau melihat Hasyimi telah berkuasa maka sungguh zaman telah berlalu. Aku berkata: Dan ini bersama hadits Ibnu Umar menunjukkan bahwa kaum Fathimiyyin adalah pendusta, mereka bukan dari keturunan Fathimah, sebagaimana mereka mengklaim, dan sesungguhnya mereka adalah pendusta dalam apa yang mereka klaim, sebagaimana ditegaskan oleh bukan satu orang dari para imam, sebagaimana akan kami sebutkan di tempatnya, insya Allah.

Dan berkata Yaqub bin Sufyan: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Syuraik, dari Bisyr bin Ghalib, ia berkata: Ibnu Zubair berkata kepada Husain: Ke mana engkau pergi?! Kepada kaum yang telah membunuh ayahmu dan menikam saudaramu? Maka ia berkata: Sungguh aku dibunuh di tempat ini dan itu lebih aku cintai daripada Makkah dilanggar kesuciannya karena aku. Yakni Makkah.

Dan berkata az-Zubair bin Bakkar: Telah menceritakan kepadaku pamanku Mushab bin Abdullah, telah memberitahuku orang yang mendengar Hisyam bin Yusuf berkata, dari Mamar, ia berkata: Aku mendengar seorang laki-laki menceritakan dari Husain bin Ali, ia berkata: Aku mendengarnya berkata kepada Abdullah bin Zubair: Telah datang kepadaku baiat empat puluh ribu orang yang bersumpah dengan talak dan memerdekakan budak dari penduduk Kufah atau dari penduduk Irak. Maka Ibnu Zubair berkata kepadanya: Apakah engkau keluar kepada kaum yang telah membunuh ayahmu dan mengusir saudaramu? Berkata Hisyam: Maka aku bertanya kepada Mamar tentang laki-laki itu, maka ia berkata: Dia terpercaya. Berkata az-Zubair: Dan berkata pamanku: Dan mengklaim sebagian orang bahwa Ibnu Abbas adalah yang mengatakan ini.

Muhammad bin Sa’d, penulis Waqidi, telah menyampaikan riwayat ini dengan baik dan terperinci. Ia berkata: Ali bin Muhammad mengabarkan kepada kami, dari Yahya bin Ismail bin Abi Muhajir, dari ayahnya, dan dari Luth bin Yahya al-Ghamidi, dari Muhammad bin Nasyr al-Hamdani dan selainnya, dan dari Muhammad bin Hajjaj, dari Abdul Malik bin Umair, dan dari Harun bin Isa, dari Yunus bin Abi Ishaq, dari ayahnya, dan dari Yahya bin Zakariya bin Abi Zaidah, dari Mujalid, dari asy-Sya’bi.

Muhammad bin Sa’d berkata: Dan selain mereka juga telah menceritakan kepadaku dalam hadits ini sebagian, maka aku menulis rangkuman hadits mereka tentang terbunuhnya Husain, semoga Allah meridhainya dan mengridlainya. Mereka berkata: Ketika orang-orang membaiat Muawiyah untuk Yazid, Husain termasuk orang yang tidak membaiatnya. Penduduk Kufah menulis surat kepada Husain mengajaknya untuk keluar (datang) kepada mereka di masa kekhalifahan Muawiyah, setiap kali itu ia menolak. Lalu datanglah sekelompok dari mereka kepada Muhammad bin Hanafiyyah meminta agar ia keluar bersama mereka, ia menolak dan datang kepada Husain lalu mengabarkan kepadanya apa yang mereka tawarkan dan berkata: Sesungguhnya orang-orang itu hanya ingin memanfaatkan kita dan membuat darah kita tertumpah sia-sia.

Maka Husain tetap dalam keadaan bimbangnya, kadang ia ingin pergi kepada mereka, kadang ia memutuskan untuk tinggal. Lalu datanglah Abu Sa’id al-Khudri dan berkata: Wahai Abu Abdullah, sesungguhnya aku adalah penasikhatmu, dan aku sangat khawatir atas dirimu. Telah sampai kepadaku bahwa sekelompok pengikutmu di Kufah telah menulis suratmu mengajakmu untuk keluar kepada mereka, maka janganlah engkau keluar. Sesungguhnya aku mendengar ayahmu berkata di Kufah: Demi Allah, sungguh aku telah bosan dengan mereka dan membenci mereka, dan mereka bosan kepadaku dan membenci aku. Aku tidak mendapati kesetiaan dari mereka, dan barangsiapa yang menang karena mereka maka ia menang dengan anak panah yang paling buruk. Demi Allah, mereka tidak memiliki keteguhan, tidak punya tekad dalam suatu perkara, dan tidak sabar menghadapi pedang.

Ia berkata: Dan Musayyab bin Najabah al-Fazari datang bersama beberapa orang bersamanya kepada Husain setelah wafatnya Hasan, mereka mengajaknya untuk melepaskan baiat Muawiyah dan berkata: Kami telah mengetahui pendapatmu dan pendapat saudaramu. Maka ia berkata: Sesungguhnya aku berharap Allah memberikan kepada saudaraku balasan atas niatnya dalam kecintaannya menahan diri, dan memberikan kepadaku balasan atas niatku dalam kecintaanku berjihad melawan orang-orang zalim.

Marwan menulis surat kepada Muawiyah: Sesungguhnya aku tidak merasa aman bahwa Husain sedang menunggu fitnah, dan aku menduga hari yang panjang bagimu adalah dari Husain. Maka Muawiyah menulis surat kepada Husain: Sesungguhnya orang yang telah memberikan kepada Allah jabat tangan dan janjinya, sungguh ia patut untuk memenuhinya. Telah sampai kepadaku bahwa sekelompok penduduk Kufah telah mengajakmu untuk berpecah belah. Penduduk Irak adalah orang yang telah kau kenal (pengalamanmu tentang mereka). Mereka telah merusak ayahmu dan saudaramu. Maka bertakwalah kepada Allah dan ingatlah perjanjian. Sesungguhnya jika engkau menyusahkanku maka aku akan menyusahkanmu.

Maka Husain menulis kepadanya: Datang kepadaku suratmu, sedang aku tidaklah patut dengan apa yang sampai kepadamu tentangku. Kebaikan-kebaikan tidak akan diberi petunjuk kepadanya kecuali oleh Allah. Aku tidak menginginkan perang denganmu dan tidak juga menentangmu. Aku tidak menduga aku memiliki uzur di sisi Allah dalam meninggalkan jihadku terhadapmu. Aku tidak mengetahui fitnah yang lebih besar daripada kewenanganmu atas urusan umat ini.

Maka Muawiyah berkata: Kami tidak menganggap Abu Abdullah kecuali sebagai singa. Muawiyah juga menulis kepadanya dalam beberapa hal yang sampai kepadanya darinya: Sesungguhnya aku menduga ada gejolak di kepalamu, maka aku berharap aku dapat meraihnya lalu mengampuninya untukmu.

Mereka berkata: Ketika Muawiyah hendak wafat, ia memanggil Yazid dan berwasiat kepadanya dengan apa yang ia wasiatkan, dan berkata kepadanya: Perhatikanlah Husain bin Ali, putra Fatimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya ia adalah orang yang paling dicintai manusia oleh manusia. Maka sambunglah kekerabatannya, dan lemahlembut lah kepadanya, niscaya urusannya akan baik bagimu. Jika ada sesuatu darinya, maka sesungguhnya aku berharap Allah akan mencukupimu dengannya dengan orang yang telah membunuh ayahnya dan mengecewakan saudaranya.

Muawiyah wafat pada malam pertengahan Rajab tahun enam puluh. Orang-orang membaiat Yazid. Yazid menulis surat bersama Abdullah bin Amr bin Uwais al-Amiri – Amir bin Luay – kepada Walid bin Utbah bin Abi Sufyan yang menjadi gubernur di Madinah: Panggillah orang-orang dan ambillah baiat mereka. Mulailah dengan tokoh-tokoh Quraisy, dan hendaknya orang pertama yang engkau mulai adalah Husain bin Ali. Sesungguhnya Amirul Mukminin telah berwasiat kepadaku dalam urusannya agar lemah lembut kepadanya dan memperbaiki hubungan dengannya.

Maka Walid mengutus pada malam itu tengah malam kepada Husain bin Ali dan Abdullah bin Zubair, ia mengabarkan kepada mereka tentang wafatnya Muawiyah, dan mengajak mereka untuk membaiat Yazid. Mereka berkata: Kami akan menunggu pagi dan melihat apa yang dilakukan orang-orang. Husain bangkit lalu keluar, dan Ibnu Zubair keluar bersamanya sambil berkata: Dia adalah Yazid yang kita kenal, demi Allah tidak ada ketegasan maupun kemuliaan padanya.

Walid telah berkata keras kepada Husain, maka Husain mencacinya, mengambil sorbannya, dan melepasnya dari kepalanya. Maka Walid berkata: Kami tidak menganggap Abu Abdullah kecuali sebagai singa. Marwan atau sebagian hadirin berkata kepadanya: Bunuhlah dia. Ia berkata: Sesungguhnya itu adalah darah yang sangat berharga di kalangan Bani Abdul Manaf.

Mereka berkata: Husain dan Ibnu Zubair keluar pada malam itu menuju Makkah. Pagi harinya orang-orang datang untuk membaiat Yazid. Husain dan Ibnu Zubair dicari namun tidak ditemukan. Maka Miswar bin Makhramah berkata: Husain tergesa-gesa, dan Ibnu Zubair mengajaknya dan mendorongnya ke Irak agar ia bisa menyendiri di Makkah.

Keduanya tiba di Makkah. Husain singgah di rumah Abbas, dan Ibnu Zubair menetap di Hijr. Ia mengenakan pakaian Ma’afiri, dan mulai menghasut orang-orang terhadap Bani Umayyah. Ia pergi pagi dan sore kepada Husain, dan menyarankan kepadanya agar pergi ke Irak, dan berkata: Mereka adalah pengikutmu dan pengikut ayahmu.

Abdullah bin Abbas melarangnya dari itu dan berkata: Jangan lakukan itu. Abdullah bin Muthi’ berkata kepadanya: Aku tebus dirimu dengan diriku, ayah dan ibuku, maka berikan manfaat kepada kami dengan dirimu dan jangan pergi ke Irak. Demi Allah, jika kaum itu membunuhmu, mereka akan menjadikan kami sebagai budak dan hamba.

Mereka berkata: Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Ayyasy bin Abi Rabi’ah bertemu dengan keduanya di Abwa’ ketika kembali dari umrah. Ibnu Umar berkata kepada keduanya: Aku ingatkan kalian kepada Allah agar kalian kembali dan masuk dalam kebaikan yang dimasuki orang-orang, dan kalian menunggu. Jika orang-orang berkumpul atasnya, kalian tidak akan menyimpang, dan jika mereka bercerai berai atasnya, itu adalah yang kalian inginkan.

Ibnu Umar berkata kepada Husain: Janganlah engkau keluar, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi pilihan oleh Allah antara dunia dan akhirat, maka ia memilih akhirat. Sesungguhnya engkau adalah bagian darinya dan tidak akan mendapatkannya – yakni dunia. Ia memeluknya, menangis, dan mendo’akannya. Ibnu Umar berkata: Husain bin Ali mengalahkan kami dengan keluarnya. Demi umurku, sungguh ia telah melihat pada ayah dan saudaranya pelajaran, dan melihat dari fitnah dan pengkhianatan orang-orang terhadap keduanya, yang seharusnya ia tidak bergerak selama masih hidup, dan masuk dalam kebaikan yang dimasuki orang-orang, karena jamaah itu lebih baik.

Ibnu Abbas berkata kepadanya: Ke mana engkau hendak pergi wahai putra Fatimah? Ia berkata: Irak dan pengikutku. Ia berkata: Sesungguhnya aku membenci tujuanmu ini. Engkau keluar kepada kaum yang telah membunuh ayahmu dan menikam saudaramu hingga meninggalkan mereka dengan kemarahan dan kebosanan terhadap mereka?! Aku ingatkan engkau kepada Allah agar engkau tidak mengadu-domba dirimu.

Abu Sa’id al-Khudri berkata: Husain bin Ali mengalahkan aku dengan keluarnya, padahal aku telah berkata kepadanya: Bertakwalah kepada Allah untuk dirimu, tetaplah di rumahmu, dan jangan keluar menentang pemimpinmu.

Abu Waqid al-Laitsi berkata: Sampai kepadaku keluarnya Husain bin Ali, maka aku menyusulnya di Malal, lalu aku meminta kepadanya dengan bersumpah atas nama Allah agar ia tidak keluar, karena ia keluar bukan pada wajah (cara) yang benar. Ia keluar hanya untuk membunuh dirinya. Ia berkata: Aku tidak akan kembali.

Jabir bin Abdullah berkata: Aku berbicara kepada Husain lalu berkata: Bertakwalah kepada Allah dan jangan pukul orang-orang satu sama lain. Demi Allah, kalian tidak akan memuji apa yang kalian perbuat. Maka ia tidak menuruti aku.

Sa’id bin Musayyab berkata: Seandainya Husain tidak keluar tentu itu lebih baik baginya.

Abu Salamah bin Abdurrahman berkata: Seharusnya Husain mengenal penduduk Irak dan tidak keluar kepada mereka, tetapi ia diberanikan untuk itu oleh Ibnu Zubair.

Miswar bin Makhramah menulis kepadanya: Jangan sampai engkau tertipu dengan surat-surat penduduk Irak dan perkataan Ibnu Zubair: Bergabunglah dengan mereka karena mereka akan menolongmu. Jangan engkau meninggalkan Haram. Sesungguhnya jika mereka memiliki keperluan denganmu, mereka akan memukul punggung unta sampai datang kepadamu, lalu engkau keluar dengan kekuatan dan perbekalan. Maka ia membalasnya dengan kebaikan dan berkata: Aku memohon petunjuk Allah dalam hal itu.

Amrah binti Abdurrahman menulis kepadanya mengagungkan apa yang hendak ia lakukan, memerintahkannya untuk taat dan berpegang pada jamaah, mengabarkan kepadanya bahwa ia hanya ditarik ke tempat terbunuhnya, dan berkata: Aku bersaksi bahwa aku mendengar Aisyah berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Husain akan dibunuh di tanah Babil.” Ketika ia membaca suratnya, ia berkata: Maka tidak ada jalan bagiku kecuali menuju tempat terbunuhku. Lalu ia melanjutkan.

Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam mendatanginya dan berkata: Wahai anak pamanku, sesungguhnya kekerabatan menjadikan aku perhatian atasmu, dan aku tidak tahu bagaimana keadaanku di sisimu dalam menasihatimu? Ia berkata: Wahai Abu Bakar, engkau bukan termasuk orang yang diragukan dan tidak dituduh, maka katakanlah. Ia berkata: Sungguh engkau telah melihat apa yang dilakukan penduduk Irak terhadap ayahmu dan saudaramu, dan engkau hendak pergi kepada mereka, sedang mereka adalah budak dunia. Maka akan memerangimu orang yang telah berjanji akan menolongmu, dan akan mengecewakanmu orang yang engkau lebih dicintai olehnya daripada orang yang menolongnya. Maka aku ingatkan engkau kepada Allah untuk dirimu.

Ia berkata: Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan wahai anak pamanku. Apa saja yang Allah takdirkan dari suatu urusan pasti terjadi. Abu Bakar berkata: Innalillahi, kami menghibur Abu Abdullah kepada Allah.

Abdullah bin Ja’far menulis kepadanya surat memperingatkannya tentang penduduk Kufah dan memohon kepadanya dengan nama Allah agar ia tidak pergi kepada mereka. Maka Husain menulis kepadanya: Sesungguhnya aku telah melihat mimpi, dan aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia memerintahkanku dengan suatu perintah, dan aku akan melaksanakannya. Aku tidak akan mengabarkannya kepada siapa pun hingga aku menemui amalku.

Amr bin Sa’id bin al-Ash, wakil di Haramain menulis kepadanya: Sesungguhnya aku memohon kepada Allah agar Dia memberikanmu petunjukmu, dan mengalihkanmu dari apa yang akan membinasakanmu. Telah sampai kepadaku bahwa engkau telah memutuskan untuk pergi ke Irak. Sesungguhnya aku memohon perlindungan Allah untukmu dari perpecahan. Jika engkau takut, maka datanglah kepadaku, maka untukmu di sisiku keamanan, kebajikan, dan kebaikan.

Husain menulis kepadanya: Jika engkau dengan suratmu menginginkan kebaikan dan kebaikanku kepadaku, maka semoga engkau dibalas kebaikan di dunia dan akhirat. Sesungguhnya tidaklah berpecah belah orang yang mengajak kepada Allah, beramal shalih, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim. Sebaik-baik keamanan adalah keamanan Allah. Tidak akan aman kepada Allah orang yang tidak takut kepada-Nya di dunia. Maka kami memohon kepada Allah ketakutan di dunia yang mewajibkan bagi kami keamanan akhirat di sisi-Nya.

Mereka berkata: Yazid bin Muawiyah menulis kepada Abdullah bin Abbas mengabarkan kepadanya tentang keluarnya Husain ke Makkah dan ia menduga telah datang kepadanya orang-orang dari penduduk Timur ini lalu menjanjikannya kekhalifahan. Di sisimu ada pengalaman dan pengetahuan tentang mereka. Jika ia melakukan itu maka ia telah memotong ikatan kekerabatan. Engkau adalah orang besar di antara keluargamu dan yang dipandang. Maka tahanlah ia dari upaya dalam perpecahan. Ia menulis dengan syair-syair ini kepadanya dan kepada orang Quraisy yang ada di Makkah dan Madinah:

Wahai pengendara yang pagi hari melakukan perjalanannya Di atas unta yang cepat dalam perjalanannya yang teguh Sampaikanlah kepada Quraisy dalam kejauhan tempat tinggal mereka Antaraku dan Husain adalah Allah dan kekerabatan Dan tempat berdiri di halaman Baitullah aku memohon kepadanya Perjanjian Allah dan apa yang ditepati dengan janji-janji itu Apakah kalian berbangga atas kaum kalian dengan ibu kalian? Demi umurku, ia adalah wanita yang terpelihara, berbakti, dan mulia Dialah yang tidak ada yang menandingi keutamaannya seorang pun Putri Rasul dan sebaik-baik manusia telah diketahui Keutamaannya untuk kalian adalah keutamaan, dan selain kalian Dari kaum kalian bagi mereka dalam keutamaannya ada bagian Sesungguhnya aku mengetahui atau dugaan seperti orang yang mengetahuinya Dan dugaan terkadang benar lalu menjadi teratur Bahwa kalian akan ditinggalkan oleh apa yang kalian serukan dengannya Orang-orang yang terbunuh yang saling dihadiahkan oleh burung elang dan burung bangkai Wahai kaum kami, janganlah kalian menyalakan perang ketika ia telah padam Dan berpeganglah dengan tali perdamaian dan berpegang teguhlah Sungguh perang telah menipu orang yang sebelum kalian Dari generasi-generasi dan telah binasa karena perang itu umat-umat Maka berlakulah adil terhadap kaum kalian, jangan kalian binasa dengan kesombongan Maka sungguh orang yang memiliki kesombongan, kakinya terpeleset

Ia berkata: Maka Ibnu Abbas menulis kepadanya: Sesungguhnya aku berharap bahwa keluarnya Husain bukanlah untuk urusan yang engkau benci. Aku tidak meninggalkan nasihat kepadanya dalam setiap hal yang dengannya Allah mengumpulkan kebersamaan dan dipadamkan dengannya api permusuhan.

Abdullah bin Abbas masuk kepada Husain, lalu berbicara dengannya sepanjang malam. Ia berkata kepadanya: Aku ingatkan engkau kepada Allah agar engkau tidak binasa besok dalam keadaan yang sia-sia. Jangan datang ke Irak. Jika engkau harus melakukannya, maka tinggallah hingga musim selesai, dan engkau bertemu orang-orang dan mengetahui apa yang mereka putuskan, kemudian engkau melihat pendapatmu. Itu terjadi pada sepuluh hari Dzulhijjah.

Husain menolak kecuali pergi ke Irak. Maka Ibnu Abbas berkata kepadanya: Demi Allah, sesungguhnya aku menduga engkau akan dibunuh besok di antara istri-istri dan anak-anak perempuanmu, sebagaimana Utsman dibunuh di antara istri-istri dan anak-anak perempuannya. Demi Allah, sesungguhnya aku takut engkau adalah orang yang dengannya akan dibalas Utsman. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Ia berkata: Wahai Abul Abbas, sesungguhnya engkau adalah orang tua yang telah tua. Ibnu Abbas berkata: Seandainya tidak merendahkan itu bagiku atau bagimu, niscaya aku akan menggoyangkan tanganku di kepalamu. Seandainya aku tahu bahwa jika kami saling memotong (rambut) engkau akan tinggal, niscaya aku akan melakukannya. Tetapi aku tidak menduga itu akan bermanfaat bagiku.

Husain berkata kepadanya: Sungguh jika aku dibunuh di tempat ini dan ini lebih aku cintai daripada aku dihalalkan denganku – maksudnya Makkah. Ia berkata: Maka Ibnu Abbas menangis dan berkata: Engkau telah menggembirakan mata Ibnu Zubair dengan itu, dan itulah yang menenangkan diriku darinya.

Ia berkata: Kemudian Abdullah bin Abbas keluar darinya dalam keadaan marah. Ibnu Zubair ada di pintu. Ketika ia melihatnya, ia berkata: Wahai Ibnu Zubair, telah terjadi apa yang engkau sukai, matamu telah sejuk. Ini adalah Abu Abdullah keluar dan meninggalkanmu dan Hijaz. Kemudian ia berkata:

Celakalah engkau burung qunbarah di tempat yang subur Lapangan telah kosong untukmu maka telurkan dan berkokok Dan berkokoklah apa yang engkau inginkan untuk berkokkok

Ia berkata: Husain mengirim utusan ke Madinah, maka datanglah kepadanya orang-orang yang ringan bersamanya dari Bani Abdul Muthalib, yaitu sembilan belas orang laki-laki, perempuan, dan anak-anak dari saudara-saudaranya, putri-putrinya, dan istri-istri mereka. Muhammad bin Hanafiyah menyusul mereka dan menjumpai Husain di Mekah, lalu memberitahukan kepadanya bahwa pergi pada hari ini bukanlah pendapat yang tepat menurutnya. Namun Husain menolak untuk menerimanya. Maka Muhammad bin Hanafiyah menahan anak-anaknya sendiri dan tidak mengirim seorang pun dari mereka untuk menyertai Husain, sehingga Husain merasa kesal terhadap Muhammad dan berkata: “Apakah engkau enggan mengorbankan anak-anakmu di tempat yang aku akan tertimpa di sana?” Muhammad menjawab: “Apa perlunya engkau tertimpa musibah, dan mereka ikut tertimpa bersamamu? Meskipun musibahmu lebih besar bagi kami daripada mereka.”

Mereka berkata: Penduduk Irak mengirim utusan dan surat-surat kepada Husain untuk mengajaknya ke sana. Maka ia berangkat menuju Irak bersama keluarganya dan enam puluh orang tua dari penduduk Kufah, yaitu pada hari Senin tanggal sepuluh Dzulhijjah tahun enam puluh.

Marwan menulis surat kepada Ubaidullah bin Ziyad: Amma ba’du, sesungguhnya Husain bin Ali telah menuju kepadamu, dan dialah Husain putra Fatimah, dan Fatimah putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Demi Allah, tidak ada seorang pun yang diselamatkan Allah yang lebih kami cintai daripada Husain. Maka hati-hatilah jangan sampai engkau menimbulkan sesuatu pada dirimu yang tidak dapat diperbaiki oleh apa pun, dan tidak akan dilupakan oleh masyarakat umum serta tidak akan terhapus ingatannya. Wassalam.

Amr bin Said bin Ash menulis kepadanya: Amma ba’du, sesungguhnya Husain telah menuju kepadamu, dan dalam peristiwa seperti inilah engkau akan merdeka atau menjadi budak yang diperbudak sebagaimana budak-budak diperbudak.

Az-Zubair bin Bakkar berkata: Muhammad bin Adh-Dhahhak menceritakan kepadaku, dari ayahnya yang berkata: Yazid menulis kepada Ibnu Ziyad, bahwa telah sampai kepadaku berita bahwa Husain telah berangkat ke Kufah, dan sungguh zamanmu telah diuji dengannya di antara zaman-zaman yang lain, dan negerimu di antara negeri-negeri yang lain, dan engkau telah diuji dengannya di antara para penguasa yang lain. Pada saat inilah engkau akan merdeka atau kembali menjadi budak sebagaimana budak-budak diperbudak. Maka Ibnu Ziyad membunuhnya dan mengirimkan kepalanya kepadanya.

Aku (penulis) berkata: Yang benar adalah bahwa ia tidak mengirimkan kepala Husain ke Syam, sebagaimana akan datang penjelasannya nanti. Dalam riwayat lain: Bahwa Yazid menulis kepada Ibnu Ziyad: Telah sampai kepadaku berita bahwa Husain telah menuju Irak. Maka tempatkanlah pengintai-pengintai dan penjaga-penjaga, berhati-hatilah, tahanlah orang-orang yang dicurigai, dan tangkaplah berdasarkan tuduhan, namun jangan membunuh kecuali orang yang memerangimu, dan tulislah kepadaku setiap berita yang terjadi. Wassalam.

Az-Zubair berkata: Muhammad bin Adh-Dhahhak menceritakan kepadaku, ia berkata: Husain keluar dari Mekah menuju Irak. Ketika melewati pintu Masjidil Haram, ia berkata:

Tidak akan ketakutan hewan-hewan ternak di waktu subuh ketika aku menyerang dengan tiba-tiba, dan aku tidak akan dipanggil Yazid

Pada hari aku memberikan kehinaan karena takut mati, padahal ajal mengintaiku jika aku menyimpang

Abu Mikhnaf berkata: Abu Janab Yahya bin Abi Hayyah berkata, dari Adi bin Harmalah al-Asadi, dari Abdullah bin Sulaim dan al-Mudzri bin al-Musyma’il al-Asadiyain yang keduanya berkata: Kami berangkat haji dari Kufah hingga tiba di Mekah. Kami masuk pada hari Tarwiyah, dan ternyata kami melihat Husain dan Abdullah bin Zubair berdiri di waktu tingginya matahari di antara Hajar dan pintu Ka’bah. Kami mendengar Ibnu Zubair berkata kepada Husain: “Jika engkau mau tinggal, maka tinggallah dan uruslah perkara ini, kami akan membantumu, mendukungmu, menasihatimu, dan membaiatmu.” Maka Husain berkata: “Sesungguhnya ayahku menceritakan kepadaku bahwa ada seekor kibasy (seekor domba jantan) yang akan melanggar kesuciannya, dan aku tidak suka menjadi kibasy tersebut.” Ibnu Zubair berkata kepadanya: “Maka tinggallah jika engkau mau, dan serahkan urusannya kepadaku, maka engkau akan ditaati dan tidak akan durhaka.” Ia berkata: “Aku juga tidak menginginkan ini.”

Keduanya berkata: Kemudian mereka berbicara dengan suara rendah, kami tidak mendengarnya. Mereka terus berbisik-bisik hingga kami mendengar panggilan orang-orang yang berangkat menuju Mina menjelang tengah hari. Keduanya berkata: Maka Husain melakukan thawaf di Baitullah, antara Shafa dan Marwah, memotong rambutnya, dan bertahallul dari umrahnya. Kemudian ia menuju Kufah, sedangkan kami menuju Mina bersama orang-orang.

Abu Mikhnaf berkata: Al-Harits bin Ka’b al-Walibi menceritakan kepadaku, dari Uqbah bin Sam’an yang berkata: Ketika Husain keluar dari Mekah, utusan-utusan Amr bin Said bin Ash—yaitu wali Mekah—menghadangnya, yang dipimpin oleh saudaranya Yahya bin Said. Mereka berkata kepadanya: “Kembalilah, mau kemana engkau pergi?” Ia menolak mereka dan terus berjalan. Kedua kelompok saling mendorong dan saling memukul dengan cambuk. Kemudian Husain dan sahabat-sahabatnya melawan mereka dengan keras, dan Husain melanjutkan perjalanannya. Lalu ia (Yahya) memanggil: “Wahai Husain, tidakkah engkau takut kepada Allah! Engkau keluar dari jamaah dan memecah belah umat ini?!” Maka Husain mengutip firman-Nya: Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu, kalian berlepas diri dari apa yang aku kerjakan dan aku berlepas diri dari apa yang kalian kerjakan. (Yunus: 41)

Ia berkata: Kemudian Husain melewati Tan’im dan berjumpa dengan unta-unta yang dikirim oleh Buhair bin Raisan al-Himyari, wali Yaman, dari Yaman untuk Yazid bin Muawiyah. Di atasnya ada kain kuning dan pakaian-pakaian yang banyak. Husain mengambilnya dan membawanya pergi, menyewa pemilik unta-unta tersebut hingga Kufah dan memberikan upah kepada mereka.

Kemudian Abu Mikhnaf dengan sanad pertamanya menyebutkan bahwa Farazdaq berjumpa dengan Husain di jalan. Ia mengucapkan salam kepadanya dan berkata: “Semoga Allah memberikan kepadamu apa yang engkau minta dan harapkan dalam hal yang engkau sukai.” Husain bertanya kepadanya tentang keadaan orang-orang dan apa yang ada di belakangnya. Ia berkata: “Hati orang-orang bersamamu, tetapi pedang-pedang mereka bersama Bani Umayyah, dan takdir turun dari langit, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” Maka ia (Husain) berkata: “Engkau benar, segala urusan adalah milik Allah, Dia berbuat apa yang Dia kehendaki, dan setiap hari Tuhan kami dalam keadaan. Jika takdir turun dengan apa yang kami sukai, maka kami memuji Allah atas nikmat-Nya, dan Dialah yang dimintai pertolongan untuk menunaikan syukur. Dan jika takdir menghalangi harapan, maka tidaklah melampaui batas orang yang niatnya adalah kebenaran dan kesalehan adalah rahasianya.” Kemudian Husain menggerakkan untanya dan berkata: “Assalamu alaikum.” Lalu mereka berpisah.

Hisyam bin al-Kalbi berkata, dari Awanah bin al-Hakam, dari Labthah bin al-Farazdaq, dari ayahnya yang berkata: Aku berhaji bersama ibuku. Ketika aku menggiring untanya saat memasuki tanah haram di hari-hari haji, yaitu tahun enam puluh, tiba-tiba aku berjumpa Husain yang keluar dari Mekah membawa pedang-pedang dan perisai-perisainya. Aku berkata kepadanya: “Demi ayah dan ibuku, wahai putra Rasulullah, apa yang membuatmu tergesa-gesa meninggalkan haji?” Ia berkata: Kalau aku tidak tergesa-gesa, aku akan ditangkap. Kemudian ia bertanya kepadaku: “Dari mana engkau?” Aku berkata: “Seorang laki-laki dari Irak.” Ia bertanya kepadaku tentang orang-orang. Maka ia (Farazdaq) menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Kemudian Farazdaq menyebutkan pertemuannya dengan Abdullah bin Amr, dan perkataannya kepadanya: Sesungguhnya Husain, senjata tidak akan melukai dirinya. Maka Farazdaq menyesal karena tidak mengikuti Husain. Ketika sampai kepadanya berita pembunuhannya, ia mengingat perkataan Abdullah bin Amr: Senjata tidak akan melukai dirinya. Dan ia tidak memahaminya. Yang dimaksud adalah bahwa senjata tidak akan membahayakannya di akhiratnya. Demikian juga dikatakan oleh sebagian salaf. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Asakir, namun dalam hal ini ada yang perlu dipertanyakan. Wallahu a’lam. Dan ada yang mengatakan selain itu. Ada yang mengatakan: Ia bermaksud bergurau dengan Farazdaq. Mereka berkata: Kemudian Husain melanjutkan perjalanan tanpa menoleh ke belakang hingga turun di Dzat Irq.

Abu Mikhnaf berkata: Al-Harits bin Ka’b al-Walibi menceritakan kepadaku, dari Ali bin Husain bin Ali yang berkata: Ketika kami keluar dari Mekah, Abdullah bin Ja’far menulis kepada Husain melalui kedua putranya Aun dan Muhammad: Amma ba’du, sesungguhnya aku meminta kepadamu dengan nama Allah agar engkau kembali ketika melihat suratku ini, karena aku sangat khawatir terhadapmu dari tujuan yang engkau tuju, bahwa di sana akan terjadi kebinasaanmu dan pemusnahan keluargamu. Jika engkau binasa hari ini, cahaya bumi akan padam, karena engkau adalah penunjuk bagi orang-orang yang mendapat petunjuk dan harapan bagi orang-orang mukmin. Maka jangan tergesa-gesa dalam perjalanan, karena aku akan menyusul suratku ini. Wassalam.

Kemudian Abdullah bin Ja’far datang kepada Amr bin Said, wali Mekah, dan berkata: “Tulislah surat kepada Husain yang engkau jamin keamanannya, engkau janjikan kebaikan dan perhatian kepadanya, engkau kuatkan jaminanmu dalam suratmu, dan engkau minta agar ia kembali, semoga ia merasa tenang dengan itu dan kembali.” Amr berkata kepadanya: “Tulislah atas namaku apa yang engkau mau, lalu bawalah kepadaku agar aku cap.” Maka Abdullah bin Ja’far menulis atas nama Amr bin Said apa yang ia inginkan, kemudian ia membawa surat itu kepada Amr, lalu ia mencapnya dengan capnya, dan berkata kepadanya: “Kirimkan saudaraku bersamamu.” Maka ia mengirimkan saudaranya Yahya bersamanya. Mereka berdua berangkat hingga menyusul Husain dan membacakan surat itu kepadanya. Namun ia menolak untuk kembali dan berkata: Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi, dan beliau telah memerintahkanku dengan suatu perintah, dan aku akan melaksanakannya. Keduanya berkata: “Apa mimpi itu?” Ia berkata: Aku tidak menceritakannya kepada siapa pun dan tidak akan menceritakannya hingga aku bertemu Tuhanku, Azza wa Jalla.

Abu Mikhnaf berkata: Muhammad bin Qais menceritakan kepadaku bahwa Husain terus berjalan hingga ketika sampai di Hajir dari Bathn ar-Rummah, ia mengutus Qais bin Mushir ash-Shaidawi kepada penduduk Kufah, dan ia menulis surat kepada mereka: Bismillahirrahmanirrahim, dari Husain bin Ali kepada saudara-saudaranya dari orang-orang mukmin dan muslim, salam sejahtera atas kalian. Sesungguhnya aku memuji kepada kalian Allah yang tiada tuhan selain Dia. Amma ba’du, sesungguhnya surat Muslim bin Aqil telah sampai kepadaku memberitahukan tentang baiknya pendapat kalian dan bersatunya pemimpin kalian untuk menolong kami dan menuntut hak kami. Maka kami mohon kepada Allah agar Dia memperbaiki perbuatan untuk kami dan memberi kalian pahala yang paling besar atas hal itu. Aku telah berangkat kepada kalian dari Mekah pada hari Selasa tanggal delapan Dzulhijjah, hari Tarwiyah. Jika utusanku telah tiba kepada kalian, maka persiapkanlah urusan kalian dan bersungguh-sungguhlah, karena aku akan datang kepada kalian dalam beberapa hari ini, insya Allah ta’ala. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ia berkata: Surat Muslim kepadanya ditulis dua puluh tujuh malam sebelum ia dibunuh, isinya: Amma ba’du, sesungguhnya mata-mata tidak berbohong kepada keluarganya, dan sesungguhnya seluruh penduduk Kufah bersamamu, maka datanglah ketika engkau membaca suratku ini. Wassalamu alaik.

Ia berkata: Qais bin Mushir ash-Shaidawi pergi ke Kufah dengan membawa surat Husain. Ketika sampai di Qadisiyyah, ia ditangkap oleh Hushain bin Numair, lalu ia mengirimnya kepada Ubaidullah bin Ziyad. Ibnu Ziyad berkata kepadanya: “Naiklah ke atas istana dan cacilah pembohong putra pembohong.” Maka ia naik, memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya Husain bin Ali adalah sebaik-baik makhluk Allah, putra Fatimah binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan aku adalah utusannya kepada kalian. Aku telah berpisah darinya di Hajir dari Bathn ar-Rummah, maka sambutlah ia.” Kemudian ia melaknat Ubaidullah bin Ziyad dan ayahnya, serta memohon ampun untuk Ali dan Husain. Maka Ibnu Ziyad memerintahkan agar ia dilemparkan dari atas istana, sehingga tubuhnya hancur. Ada yang mengatakan: Tulang-tulangnya patah tetapi masih ada sisa napas padanya, maka Abdul Malik bin Umair al-Lakhmi datang kepadanya dan menyembelihnya. Ia berkata: Aku hanya ingin membebaskannya dari kesakitan. Ada yang mengatakan: Bahwa itu adalah seseorang yang mirip dengan Abdul Malik bin Umair tetapi bukan dia. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa yang datang membawa surat Husain adalah Abdullah bin Biqthr, saudara Husain dari persusuan, maka ia dilemparkan dari atas istana. Wallahu a’lam.

Kemudian Husain terus berjalan menuju Kufah, dan ia tidak mengetahui apa pun dari berita-berita yang terjadi.

Abu Mikhnaf berkata, dari Abu Ali al-Anshari, dari Bakr bin Mush’ab al-Mazini yang berkata: Husain tidak melewati mata air orang Arab kecuali mereka mengikutinya.

Abu Mikhnaf berkata, dari Abu Janab, dari Adi bin Harmalah, dari Abdullah bin Sulaim dan al-Mudzri bin al-Musyma’il al-Asadiyain yang keduanya berkata: Ketika kami menunaikan haji kami, tidak ada kekhawatiran kami kecuali menyusul Husain—mereka menyebutkan bahwa mereka mengikutinya—maka kami menjumpainya setelah ia melewati seorang laki-laki dari Bani Asad. Husain hampir berbicara dengannya dan bertanya kepadanya tetapi ia meninggalkan hal itu. Maka kami mendatangi laki-laki itu dan bertanya kepadanya tentang berita orang-orang. Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak keluar dari Kufah hingga Muslim bin Aqil dan Hani bin Urwah dibunuh, dan aku melihat keduanya diseret dengan kaki mereka di pasar.”

Keduanya berkata: Kami menyusul Husain dan memberitahukan kepadanya, maka ia berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Berulang kali. Kami berkata kepadanya: “Demi Allah, demi Allah, jagalah dirimu.” Ia berkata: Tidak ada kebaikan dalam hidup setelah keduanya. Kami berkata: “Semoga Allah memilihkan yang terbaik bagimu.” Sebagian sahabatnya berkata kepadanya: “Demi Allah, engkau tidak seperti Muslim bin Aqil. Seandainya engkau tiba di Kufah, orang-orang akan lebih cepat datang kepadamu.”

Selain keduanya berkata: Ketika sahabat-sahabat Husain mendengar pembunuhan Muslim bin Aqil, Bani Aqil bin Abi Thalib bangkit pada saat itu dan berkata: “Tidak, demi Allah, kami tidak akan kembali hingga kami membalas saudara kami atau merasakan apa yang dirasakan saudara kami.”

Maka Husain berjalan hingga ketika berada di Zurud, sampai kepadanya berita pembunuhan orang yang ia utus dengan suratnya kepada penduduk Kufah setelah ia keluar dari Mekah dan tiba di Hajir. Ia berkata: “Syiah kami telah meninggalkan kami. Barangsiapa di antara kalian yang suka kembali, silakan kembali tanpa ada keberatan atasnya, dan tidak ada kewajiban dari kami terhadapnya.” Ia berkata: Maka orang-orang bercerai-berai darinya ke kanan dan ke kiri, hingga tinggal pada dirinya hanya sahabat-sahabatnya yang datang bersamanya dari Mekah. Ia melakukan hal itu karena ia mengira bahwa orang-orang Arab yang mengikutinya hanya mengikutinya karena ia datang ke negeri yang penduduknya telah taat kepadanya. Maka ia tidak suka mereka berjalan bersamanya kecuali mereka mengetahui apa yang akan mereka hadapi. Ia mengetahui bahwa jika ia menjelaskan perkara itu kepada mereka, tidak akan ada yang menemaninya kecuali orang yang ingin berbagi dalam kematian bersamanya.

Ia berkata: Ketika menjelang subuh, ia memerintahkan para pemudanya untuk mengambil air dan memperbanyaknya. Kemudian ia berjalan hingga melewati Bathn al-Aqabah dan turun di sana.

Muhammad bin Sa’d berkata: Musa bin Ismail menceritakan kepada kami, Ja’far bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Yazid ar-Risyk yang berkata: Orang yang berjumpa langsung dengan Husain menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku melihat bangunan-bangunan yang didirikan di padang tandus. Aku berkata: “Milik siapa ini?” Mereka berkata: “Ini milik Husain.” Ia berkata: Aku mendatanginya dan ternyata seorang syaikh yang sedang membaca Alquran dan air mata mengalir di pipi dan janggutnya. Ia berkata: Aku berkata: “Demi ayah dan ibuku, wahai putra putri Rasulullah! Apa yang membawamu ke negeri ini dan padang tandus yang tidak ada seorang pun di dalamnya?” Ia berkata: Ini adalah surat-surat penduduk Kufah kepadaku, dan aku tidak melihat mereka kecuali akan membunuhku. Jika mereka melakukan hal itu, mereka tidak akan meninggalkan kesucian Allah kecuali melanggarnya. Maka Allah akan menguasakan atas mereka orang yang akan menghinakan mereka hingga mereka menjadi yang paling hina dari pakaian yang menutupi kepala kaum wanita.

Ia memberitahukan kepada kami Ali bin Muhammad, dari Hasan bin Dinar, dari Muawiyah bin Qurrah yang berkata: Husain berkata: Demi Allah, mereka akan melampaui batas terhadapku sebagaimana Bani Israil melampaui batas pada hari Sabat.

Ia menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad, dari Ja’far bin Sulaiman adh-Dhuba’i yang berkata: Husain berkata: Demi Allah, mereka tidak akan meninggalkanku hingga mereka mengeluarkan segumpal darah ini dari perutku. Jika mereka melakukan hal itu, Allah akan menguasakan atas mereka orang yang akan menghinakan mereka hingga mereka menjadi yang paling hina dari pakaian yang menutupi kepala kaum wanita. Maka ia terbunuh di Ninawa pada hari Asyura tahun enam puluh satu.

Ya’qub bin Sufyan berkata: Abu Bakr al-Humaidi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syihab bin Kharrasy menceritakan kepada kami, dari seorang laki-laki dari kaumnya yang berkata: Aku berada dalam pasukan yang dikirim oleh Ibnu Ziyad kepada Husain, mereka berjumlah empat ribu orang yang ingin memerangi Dailam, lalu Ubaidullah mengalihkan mereka kepada Husain. Aku berjumpa dengan Husain dan melihatnya berambut dan berjanggut hitam. Aku mengucapkan salam kepadanya: “Assalamu alaika wahai Abu Abdillah.” Ia berkata: Wa alaika salam. Dan padanya ada suara sengau. Ia berkata: Sungguh telah bermalam darimu pencurian terhadap kami sejak semalam. Syihab berkata: Aku menceritakannya kepada Zaid bin Ali, dan ia terkesan dengannya, dan padanya juga ada suara sengau. Sufyan bin Uyainah berkata: Dan itu ada pada keturunan Husain.

Abu Makhnaf berkata dari sebagian sahabatnya, dari Abu Khalid Al-Kahili yang berkata: Ketika pasukan berkuda menyerang Husain bin Ali di pagi hari, ia mengangkat kedua tangannya seraya berkata: “Ya Allah, Engkau adalah sandaranku dalam setiap kesusahan dan harapanku dalam setiap kesulitan, dan Engkau bagiku dalam setiap perkara yang menimpaku adalah sandaran dan penolong. Betapa banyak kesusahan yang melemahkan hati, yang sedikit di dalamnya tipu daya, yang di dalamnya sahabat mengkhianati, dan musuh bergembira atasnya, maka aku sampaikan kepadaMu dan aku mengadukan kepadaMu, karena keinginanku kepadaMu bukan kepada selain Engkau, maka Engkau lapangkan dan Engkau singkapkan dan Engkau cukupkan untukku. Maka Engkau adalah pemberi setiap nikmat, pemilik setiap kebaikan, dan tujuan akhir setiap puncak.”

Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam berkata: Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepadaku, dari Abu Ma’syar, dari sebagian para syaikhnya yang berkata: Husain berkata ketika mereka turun di Karbala: Apa nama tanah ini? Mereka menjawab: Karbala. Ia berkata: Kesusahan dan bencana. Ubaidullah bin Ziyad mengutus Umar bin Sa’d untuk memerangi mereka, maka Husain berkata: Wahai Umar, pilihlah dariku salah satu dari tiga pilihan: pertama, biarkan aku kembali sebagaimana aku datang; jika kamu menolak ini maka kirimkan aku kepada Yazid agar aku meletakkan tanganku di tangannya dan ia memutuskan apa yang ia lihat, jika kamu menolak ini maka kirimkan aku kepada bangsa Turki agar aku memerangi mereka sampai aku mati. Maka ia mengutus hal itu kepada Ibnu Ziyad, dan ia hampir mengirimnya kepada Yazid, namun Syamir bin Dzi Al-Jausyan berkata: Tidak, kecuali ia turun atas keputusanmu. Maka ia mengutus hal itu kepadanya, lalu Husain berkata: Demi Allah, aku tidak akan melakukannya. Umar lambat dalam memeranginya, maka Ibnu Ziyad mengutus kepadanya Syamir bin Dzi Al-Jausyan lalu berkata kepadanya: Jika Umar maju maka perangi, dan jika tidak maka bunuhlah dia dan jadilah engkau pengganti tempatnya. Bersama Umar ada sekitar tiga puluh orang dari penduduk Kufah, maka mereka berkata kepada mereka: Putra putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menawarkan kepada kalian tiga pilihan, tetapi kalian tidak menerima satupun darinya?! Maka mereka berpindah bersama Husain dan berperang bersamanya.

Abu Zur’ah berkata: Sa’id bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Abbad bin Al-Awwam menceritakan kepada kami, dari Hushain yang berkata: Aku menyaksikan itu – yaitu pembunuhan Husain – ia berkata: Sa’d bin Ubaidah menceritakan kepadaku yang berkata: Maka aku melihat Husain mengenakan jubah bergaris, dan seorang laki-laki yang bernama Amr bin Khalid Ath-Thahwi melemparnya dengan anak panah. Maka aku melihat anak panah menggantung di jubahnya.

Ibnu Jarir berkata: Muhammad bin Ammar Ar-Razi menceritakan kepada kami, Sa’id bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Abbad bin Al-Awwam menceritakan kepada kami, Hushain menceritakan kepada kami, bahwa Husain diutus oleh penduduk Kufah: Sesungguhnya bersamamu ada seratus ribu. Maka ia mengutus kepada mereka Muslim bin Aqil. Lalu ia menyebutkan kisah pembunuhan Muslim, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Hushain berkata: Hilal bin Yasaf menceritakan kepadaku, bahwa Ibnu Ziyad memerintahkan untuk menjaga antara Waqishah sampai jalan Syam sampai jalan Bashrah, sehingga mereka tidak membiarkan seorangpun masuk dan tidak membiarkan seorangpun keluar, dan Husain datang tanpa mengetahui sesuatu apapun hingga ia menemui orang-orang Arab, lalu ia bertanya kepada mereka tentang keadaan orang-orang, mereka berkata: Demi Allah, kami tidak tahu, kecuali bahwa kamu tidak dapat masuk dan tidak dapat keluar. Ia berkata: Maka ia pergi berjalan menuju Yazid bin Muawiyah, lalu pasukan berkuda menemuinya di Karbala, maka ia turun dan memohon kepada mereka atas nama Allah dan Islam. Ia berkata: Ibnu Ziyad telah mengutus kepadanya Umar bin Sa’d, Syamir bin Dzi Al-Jausyan dan Hushain bin Numair, maka Husain memohon kepada mereka atas nama Allah dan Islam agar mereka mengirimnya kepada Amirul Mukminin Yazid, agar ia meletakkan tangannya di tangannya. Mereka berkata kepadanya: Tidak, kecuali atas keputusan Ibnu Ziyad. Di antara mereka yang diutus kepadanya adalah Al-Hurr bin Yazid Al-Hanzhali kemudian An-Nahsyali yang menunggangi kuda, maka ketika ia mendengar apa yang dikatakan Husain, ia berkata kepada mereka: Tidakkah kalian menerima dari orang-orang ini apa yang mereka tawarkan kepada kalian, demi Allah seandainya bangsa Turki dan Dailam meminta hal ini kepada kalian, tidak halal bagi kalian menolak mereka. Mereka menolak kecuali atas keputusan Ibnu Ziyad, maka Al-Hurr memukul wajah kudanya, dan pergi kepada Husain dan para sahabatnya, mereka mengira bahwa ia datang untuk memerangi mereka, maka ketika ia mendekat kepada mereka ia membalikkan perisainya, dan memberi salam kepada mereka, kemudian ia menyerang para sahabat Ibnu Ziyad lalu memerangi mereka, ia membunuh dua orang dari mereka kemudian ia terbunuh, semoga Allah merahmatinya.

Disebutkan bahwa Zuhair bin Al-Qain Al-Bajali bertemu Husain, dan ia adalah seorang haji, lalu ia datang bersamanya, dan keluar kepadanya Ibnu Abi Bahrah Al-Muradi dan dua orang lainnya; yaitu Amr bin Al-Hajjaj dan Ma’n As-Sulami, Hushain berkata: Dan aku telah melihat keduanya. Ia berkata: Husain datang berbicara dengan mereka yang diutus kepadanya oleh Ibnu Ziyad, dan ia mengenakan jubah bergaris, maka ketika ia berbicara dengan mereka ia berpaling, lalu seorang laki-laki dari Bani Tamim yang bernama Amr Ath-Thahwi melemparnya dengan anak panah, maka aku melihat anak panah di antara kedua pundaknya menggantung di jubahnya, maka ketika mereka menolaknya ia kembali ke barisannya, dan aku melihat mereka sekitar seratus orang, di antara mereka dari keturunan Ali lima orang, dan dari Bani Hasyim enam belas orang, seorang laki-laki dari Bani Sulaim sekutu mereka, seorang laki-laki dari Bani Kinanah sekutu mereka, dan sepupu Ibnu Ziyad.

Hushain berkata: Sa’d bin Ubaidah menceritakan kepadaku yang berkata: Sesungguhnya kami sedang berendam di air bersama Umar bin Sa’d, tiba-tiba datang kepadanya seorang laki-laki dan membisikkan kepadanya lalu berkata kepadanya: Ibnu Ziyad telah mengutus kepadamu Juwairiyah bin Badr At-Tamimi, dan memerintahkannya jika kamu tidak memerangi kaum tersebut maka ia akan memenggal lehermu. Ia berkata: Maka ia bangkit menuju kudanya lalu menungganginya, kemudian ia meminta senjatanya lalu memakainya dan sesungguhnya ia di atas kudanya, dan ia menggerakkan orang-orang kepada mereka lalu mereka memerangi mereka, maka dibawa kepala Husain kepada Ibnu Ziyad, lalu diletakkan di hadapannya, maka ia mulai berkata dengan tongkat kecilnya di hidungnya, dan berkata: Sesungguhnya Abu Abdillah telah beruban. Ia berkata: Dibawa wanita-wanitanya, putri-putrinya dan keluarganya. Ia berkata: Tindakan paling baik yang dilakukannya adalah ia memerintahkan untuk mereka tempat tinggal di tempat yang terpencil, dan mengalirkan rizki untuk mereka, dan memerintahkan untuk mereka nafkah dan pakaian. Ia berkata: Pergi dua budak di antara mereka milik Abdullah bin Ja’far – atau anak Ibnu Ja’far – lalu mereka mendatangi seorang laki-laki dari Thayyik dan berlindung kepadanya, maka ia memenggal leher keduanya, dan datang membawa kepala keduanya hingga meletakkannya di hadapan Ibnu Ziyad. Ia berkata: Maka Ibnu Ziyad hendak memenggal lehernya, dan memerintahkan agar rumahnya dihancurkan. Ia berkata: Seorang budak milik Muawiyah bin Abi Sufyan menceritakan kepadaku yang berkata: Ketika dibawa kepada Yazid kepala Husain, lalu diletakkan di hadapannya aku melihatnya menangis dan berkata: Seandainya ada ikatan kerabat antara dia dengannya ia tidak akan melakukan ini. Maksudnya Ibnu Ziyad. Hushain berkata: Ketika Husain terbunuh mereka diam selama dua atau tiga bulan, seakan-akan dinding-dinding ternodai dengan darah pada waktu matahari terbit hingga ia naik.

Dalam tahun ini, yang menghajikan manusia adalah Amr bin Sa’id bin Al-Ash, dan ia adalah gubernur Madinah dan Mekah untuk Yazid, dan Yazid telah memecat Al-Walid bin Utbah dari kepemimpinan Madinah, dan melantik Amr bin Sa’id bin Al-Ash pada bulan Ramadhan darinya. Ubaidullah bin Ziyad adalah gubernur atas Bashrah dan Kufah.

Kemudian masuklah tahun enam puluh satu

Dimulailah tahun ini dan Husain bin Ali berjalan menuju Kufah antara Mekah dan Irak, bersamanya para sahabatnya dan kerabatnya, maka ia terbunuh pada hari Asyura dari bulan Muharram tahun ini, menurut pendapat masyhur yang dishahihkan oleh Al-Waqidi dan lebih dari satu orang, dan sebagian mereka mengira bahwa ia terbunuh pada bulan Shafar darinya. Yang pertama lebih shahih.

Dan inilah sifat pembunuhannya, semoga Allah meridhainya, diambil dari perkataan para imam bidang ini, bukan sebagaimana yang diklaim oleh ahli Syiah berupa kebohongan yang terang dan kedustaan

Abu Makhnaf berkata dari Abu Janab dari Adi bin Harmalah, dari Abdullah bin Sulaim dan Al-Mudzri bin Al-Musyma’il Al-Asadiyan yang berkata: Husain datang, maka ketika ia turun di Syaraf ia berkata kepada para budaknya pada waktu sahur: Ambillah air. Maka mereka memperbanyak kemudian mereka berjalan hingga pertengahan siang, lalu Husain mendengar seorang laki-laki bertakbir maka ia berkata kepadanya: Mengapa kamu bertakbir? Ia berkata: Aku melihat pohon kurma. Maka kedua orang Asadi berkata kepadanya: Sesungguhnya tempat ini tidak pernah ada seorangpun yang melihat pohon kurma darinya. Maka Husain berkata: Maka apa yang kalian kira dia melihatnya? Mereka berkata: Ini adalah pasukan berkuda yang telah datang. Maka Husain berkata: Bukankah ada tempat perlindungan bagi kami yang kami jadikan di belakang kami dan kami menghadapi kaum dari satu arah? Mereka berkata: Ya, Dzu Husm. Maka ia mengambil arah kiri menuju Dzu Husm lalu turun, dan memerintahkan kemah-kemahnya lalu didirikan, dan datanglah kaum itu yaitu seribu penunggang kuda bersama Al-Hurr bin Yazid At-Tamimi, mereka adalah barisan depan pasukan yang diutus oleh Ibnu Ziyad, hingga mereka berhenti di hadapannya pada tengah hari, dan Husain serta para sahabatnya memakai sorban dan menggantung pedang, maka Husain memerintahkan para sahabatnya agar mereka minum air dan memberi minum kuda-kuda mereka, dan agar mereka memberi minum kuda-kuda musuh mereka juga.

Ia dan yang lainnya meriwayatkan, mereka berkata: Ketika masuk waktu Zhuhur, Husain memerintahkan Al-Hajjaj bin Masruq Al-Ju’fi lalu ia adzan, kemudian keluarlah Husain dengan kain dan selendang dan sandal, lalu ia berkhutbah kepada orang-orang dari para sahabatnya dan musuh-musuhnya dan meminta maaf kepada mereka atas kedatangannya ini ke sini, bahwa sesungguhnya penduduk Kufah telah menulis kepadanya bahwa mereka tidak memiliki imam, dan jika kamu datang kepada kami maka kami akan membaiatmu dan berperang bersamamu. Kemudian didirikan shalat maka Husain berkata kepada Al-Hurr: Apakah kamu ingin shalat bersama para sahabatmu? Ia berkata: Tidak, tetapi shalatlah kamu dan kami shalat di belakangmu. Maka Husain shalat bersama mereka, kemudian ia masuk ke kemahnya, dan berkumpul bersamanya para sahabatnya, dan Al-Hurr kembali ke pasukannya, dan setiap orang dalam kesiapannya, maka ketika masuk waktu Ashar, Husain shalat bersama mereka, kemudian ia berpaling lalu berkhutbah kepada mereka dan mendorong mereka agar mendengar dan taat kepadanya dan melepaskan dari mereka para pendusta yang berjalan dengan kezaliman terhadap rakyat. Maka Al-Hurr berkata kepadanya: Sesungguhnya kami tidak tahu apa surat-surat ini, dan siapa yang menulisnya. Maka Husain menghadirkan dua karung penuh surat, lalu menyebarkannya di hadapannya, dan membaca sebagian darinya, maka Al-Hurr berkata: Kami bukan dari orang-orang yang menulis kepadamu, dan kami telah diperintahkan jika kami menemui kamu maka jangan berpisah darimu hingga kami membawamu kepada Ubaidullah bin Ziyad. Maka Husain berkata: Kematian lebih dekat kepadamu daripada itu. Kemudian Husain berkata kepada para sahabatnya: Naiklah, maka mereka naik dan naiklah para wanita, maka ketika ia ingin pergi, kaum itu menghalangi antara dia dan kepergian, maka Husain berkata kepada Al-Hurr: Ibumu kehilangan anaknya, apa yang kamu inginkan? Maka Al-Hurr berkata kepadanya: Adapun demi Allah seandainya selain kamu mengatakannya kepadaku dari orang Arab dan ia dalam kondisi seperti kondisi yang kamu ada di dalamnya maka aku akan membalas darinya, dan tidak akan membiarkan menyebut ibuku, tetapi tidak ada jalan untuk menyebut ibumu kecuali dengan yang paling baik yang kami mampu. Mereka saling berbicara dan saling merujuk kembali, maka Al-Hurr berkata kepadanya: Sesungguhnya aku tidak diperintahkan untuk memerangimu, sesungguhnya aku hanya diperintahkan agar tidak berpisah darimu hingga aku membawamu ke Kufah kepada Ibnu Ziyad, maka jika kamu menolak maka ambillah jalan yang tidak membawamu ke Kufah dan tidak mengembalikanmu ke Madinah, dan aku akan menulis kepada Ibnu Ziyad, dan kamu menulis kepada Yazid, atau kepada Ibnu Ziyad jika kamu mau, maka mudah-mudahan Allah akan datang dengan perkara yang ia anugerahkan kepadaku kesejahteraan di dalamnya dari aku ditimpa dengan sesuatu dari perkaramu. Ia berkata: Maka Husain mengambil arah kiri dari jalan Al-Udzaib dan Al-Qadisiyah, dan Al-Hurr bin Yazid berjalan bersamanya dan ia berkata kepadanya: Wahai Husain, sesungguhnya aku mengingatkanmu kepada Allah atas dirimu, karena aku bersaksi sungguh jika kamu berperang maka kamu akan dibunuh, dan sungguh jika kamu diperangi maka kamu akan binasa menurut yang aku lihat. Maka Husain berkata kepadanya: Apakah dengan kematian kamu menakutiku? Tetapi aku berkata sebagaimana saudara Al-Aus berkata kepada sepupunya dan ia telah menemuinya dan ia ingin menolong Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka ia berkata: Kemana kamu pergi karena sesungguhnya kamu akan terbunuh? Maka ia berkata:

Aku akan pergi dan tidak ada aib dengan kematian bagi pemuda Jika ia berniat kebenaran dan berjihad sebagai muslim Dan menemani orang-orang saleh dengan dirinya Dan berpisah karena takut bahwa ia hidup dan dipaksa

Dan diriwayatkan dalam bentuk lain: Aku akan pergi dan tidak ada aib dengan kematian bagi seorang Jika ia berniat kebenaran dan tidak menemukan kejahatan Jika aku mati aku tidak menyesal dan jika aku hidup aku tidak disalahkan Cukuplah bagimu kematian bahwa kamu dihinakan dan dipaksa

Maka ketika Al-Hurr mendengar itu darinya ia menjauh darinya dan mulai berjalan bersama para sahabatnya di arah darinya, maka mereka berakhir di Udzaib Al-Hajanat, dan di sana ada unta-unta An-Nu’man merumput di sana, dan tiba-tiba empat orang musafir – yaitu empat orang – telah datang dari Kufah di atas kendaraan mereka berlari cepat dan menggiring kuda untuk Nafi’ bin Hilal yang bernama Al-Kamil. Menuju Husain, dan pemandu mereka seorang laki-laki yang bernama Ath-Tharmah bin Adi. Menunggangi kuda dan ia berkata:

Wahai untaku jangan takut dari hardikanku Dan bergeraklah sebelum terbit fajar Dengan sebaik-baik penunggang dan sebaik-baik perjalanan Hingga kamu singgah dengan mulia yang mulia Yang mulia yang bebas yang lapang dadanya Allah membawanya untuk perkara yang baik Kemudian Allah menjaganya sepanjang masa

Maka Al-Hurr ingin menghalangi antara mereka dan Husain, maka Husain mencegahnya dari itu, maka ketika mereka sampai kepadanya ia berkata kepada mereka: Kabarkanlah kepadaku tentang orang-orang di belakang kalian. Maka Mujma’ bin Abdullah Al-Aidziy salah satu dari empat orang berkata kepadanya: Adapun para pembesar orang-orang maka mereka adalah satu kesatuan atasmu, karena sesungguhnya mereka telah besar suapan mereka dan penuh kantong-kantong mereka, dengan itu ditarik simpati mereka dan diambil nasihat mereka, adapun kebanyakan orang-orang maka hati mereka cenderung kepadamu, dan pedang-pedang mereka besok terhunus atasmu. Ia berkata kepada mereka: Apakah kalian tahu tentang utusan ku? Mereka berkata: Dan siapa utusan mu? Ia berkata: Qais bin Mushir Ash-Shaidawi. Mereka berkata: Ya, Hushain bin Numair menangkapnya, lalu ia mengirimnya kepada Ibnu Ziyad, maka Ibnu Ziyad memerintahkannya agar ia melaknatmu dan melaknat ayahmu, maka ia bershalawat atasmu dan atas ayahmu, dan melaknat Ibnu Ziyad dan ayahnya, dan menyeru orang-orang untuk menolongmu dan mengabarkan kepada mereka tentang kedatanganmu, maka ia memerintahkannya, lalu ia dilemparkan dari puncak istana maka ia mati. Maka berlinang air mata Husain, dan ia membaca firmanNya Yang Maha Tinggi: Maka di antara mereka ada yang telah gugur dan di antara mereka ada yang masih menunggu dan mereka tidak mengubah sedikit pun (QS. Al-Ahzab: 23). Ya Allah jadikanlah tempat tinggal mereka surga, dan kumpulkanlah antara kami dan mereka di tempat yang tetap dari rahmatMu, dan keinginan-keinginan yang tersimpan dari pahalaMu. Kemudian sesungguhnya Ath-Tharmah bin Adi berkata kepada Husain: Lihatlah maka aku tidak melihat bersamamu seorangpun kecuali kelompok kecil ini, dan sesungguhnya aku melihat kaum ini yang berjalan bersamamu sepadan dengan yang bersamamu, maka bagaimana dan sebagian besar Kufah penuh dengan pasukan berkuda dan tentara mereka diarak untuk menujumu?! Maka aku memohon kepadamu atas nama Allah jika kamu mampu agar tidak maju kepada mereka sejengkalpun kecuali kamu lakukan, maka jika kamu ingin turun di negeri yang Allah melindungimu dengannya hingga kamu melihat pendapatmu, maka berjalanlah bersamaku hingga aku menempatkanmu di benteng gunung kami, yaitu Aja yang Allah melindungi kami dengannya dari raja-raja Ghassaan dan Himyar, dan dari An-Nu’man bin Al-Mundzir, dan dari yang hitam dan yang merah, dan demi Allah tidak pernah masuk kepada kami kehinaan selamanya; maka berjalanlah bersamaku hingga aku menempatkanmu di desa, kemudian kami mengutus kepada orang-orang laki-laki dari Aja dan Salma dari Thayyik, kemudian tinggallah bersama kami apa yang terlihat bagimu, maka aku jamin dengan sepuluh ribu Thayyik memukul di hadapanmu dengan pedang mereka, dan demi Allah tidak akan sampai kepadamu selamanya dan dari mereka mata yang berkedip. Maka Husain berkata kepadanya: Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Ia tidak kembali dari apa yang ia sedang menujunya, maka Ath-Tharmah berpamitan dengannya, dan Husain pergi, maka ketika datang malam ia memerintahkan pemuda-pemudanya agar mereka mengambil air mencukupi mereka, kemudian ia berjalan di malam hari, lalu ia mengantuk dalam perjalanannya hingga ia menunduk dengan kepalanya, dan ia bangun dan ia berkata: Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada Dia kami kembali, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Kemudian ia berkata: Aku melihat seorang penunggang kuda di atas kudanya dan ia berkata: Kaum sedang berjalan dan ajal sedang mendatangi mereka. Maka aku tahu bahwa itu adalah berita kematian kami kepada kami sendiri. Ketika fajar terbit, ia salat bersama para sahabatnya dan segera berangkat, kemudian ia berbelok ke kiri dalam perjalanannya hingga sampai di Nainawa. Di sana ada seorang penunggang kuda membawa busur yang datang dari Kufah, ia memberi salam kepada Hurr bin Yazid, dan tidak memberi salam kepada Husain, dan menyerahkan surat dari Ibnu Ziyad kepada Hurr, yang isinya adalah untuk mengalihkan perjalanan Husain ke Irak menjauhi desa dan benteng, sampai utusan dan pasukan Ibnu Ziyad datang kepadanya, dan itu pada hari Kamis tanggal dua Muharram tahun enam puluh satu. Ketika keesokan harinya datanglah Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash dengan empat ribu pasukan, ia telah dikirim oleh Ibnu Ziyad dengan pasukan ini ke Dailam, dan berkemah di luar Kufah. Ketika pasukan itu datang, Ibnu Ziyad memerintahkan Husain dan berkata kepadanya: Pergilah ke sana, jika kamu sudah selesai darinya maka pergilah ke Dailam. Maka Umar bin Sa’d meminta dibebaskan dari tugas itu. Ibnu Ziyad berkata kepadanya: Jika kamu mau, aku bebaskan kamu dan aku cabut kamu dari jabatan gubernur wilayah ini yang telah aku berikan kepadamu. Ia berkata: Sampai aku memikirkan urusanku. Maka ia tidak bermusyawarah dengan siapa pun kecuali mereka melarangnya untuk pergi ke Husain, hingga Hamzah bin Mughirah bin Syu’bah, anak saudara perempuannya, berkata kepadanya: Jangan sekali-kali kamu pergi ke Husain, karena kamu akan durhaka kepada Tuhanmu dan memutuskan hubungan kekerabatanmu, demi Allah, jika kamu keluar dari kekuasaan seluruh bumi itu lebih baik bagimu daripada kamu bertemu Allah dengan darah Husain. Ia berkata: Aku akan melakukan itu jika Allah Ta’ala menghendaki. Kemudian Ubaidillah bin Ziyad mengancam dan memperingatkannya dengan pemecatan dan pembunuhan, maka ia pergi ke Husain, lalu menghadapinya di tempat yang telah kami sebutkan, kemudian ia mengutus utusan kepada Husain: Apa yang membawamu ke sini? Ia berkata: Penduduk Kufah menulis suratku agar aku datang kepada mereka, jika mereka membenciku maka aku akan kembali ke Mekah dan meninggalkan kalian. Ketika berita ini sampai kepada Umar bin Sa’d, ia berkata: Aku berharap Allah memberiku keselamatan dari perangnya. Dan ia menulis surat kepada Ibnu Ziyad tentang hal itu, lalu Ibnu Ziyad membalasnya agar menghalangi mereka dari air, sebagaimana yang dilakukan terhadap orang yang saleh, suci, terzalimi, Amirul Mukminin Utsman bin Affan, dan tawarkan kepada Husain untuk berbaiat, ia dan orang-orang yang bersamanya, kepada Amirul Mukminin Yazid bin Muawiyah, jika mereka melakukan itu maka kita akan melihat pendapat kita. Dan pasukan Umar bin Sa’d mulai menghalangi pasukan Husain dari air, dan yang memimpin pasukan itu adalah Amr bin Hajjaj, maka Husain berdoa kepada Allah agar ia mati kehausan, maka orang ini meninggal karena kehausan yang sangat. Kemudian Husain meminta kepada Umar bin Sa’d agar mereka bertemu di antara kedua pasukan, maka masing-masing dari mereka datang dengan sekitar dua puluh penunggang kuda, lalu mereka berbicara lama hingga sebagian malam berlalu, dan tidak ada seorang pun yang tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi sebagian orang menduga bahwa ia memintanya untuk pergi bersamanya ke Yazid bin Muawiyah dan meninggalkan kedua pasukan berhadapan, maka Umar berkata: Kalau begitu Ibnu Ziyad akan menghancurkan rumahku. Maka Husain berkata: Aku akan membangunkannya untukmu. Ia berkata: Kalau begitu ia akan mengambil tanah-tanahku. Ia berkata: Aku akan memberimu lebih baik darinya dari hartaku di Hijaz. Ia berkata: Maka Umar bin Sa’d enggan dari hal itu. Dan sebagian berkata: Bahkan ia meminta darinya agar mereka pergi ke Yazid, atau membiarkannya kembali ke Hijaz, atau pergi ke salah satu benteng perbatasan untuk memerangi orang Turki. Maka Umar menulis surat kepada Ubaidillah tentang hal itu, lalu ia berkata: Ya, aku terima. Maka berdirilah Syamr bin Dzi al-Jausyan dan berkata: Tidak, demi Allah, sampai ia dan para sahabatnya tunduk pada keputusanmu. Kemudian ia berkata: Demi Allah, telah sampai kepadaku bahwa Husain dan Umar bin Sa’d duduk di antara kedua pasukan dan berbincang sepanjang malam. Maka Ibnu Ziyad berkata kepadanya: Itulah pendapatmu yang baik. Dan Abu Mikhnaf meriwayatkan: Abdurrahman bin Jundab menceritakan kepadaku, dari Uqbah bin Sam’an, ia berkata: Sungguh aku menemani Husain dari Mekah hingga ia terbunuh, dan demi Allah tidak ada satu kata pun yang ia ucapkan di suatu tempat kecuali aku mendengarnya, dan sesungguhnya ia tidak pernah meminta untuk pergi ke Yazid agar meletakkan tangannya di tangannya, dan tidak pernah meminta untuk pergi ke salah satu benteng, tetapi ia meminta dari mereka salah satu dari dua hal; yaitu kembali dari mana ia datang, atau membiarkannya pergi ke bumi yang luas hingga melihat bagaimana keadaan manusia nantinya. Kemudian Ubaidillah bin Ziyad mengutus Syamr bin Dzi al-Jausyan dan berkata: Pergilah, jika Husain dan para sahabatnya datang atas keputusanku maka terima, jika tidak maka perintahkan Umar bin Sa’d untuk memerangi mereka, jika ia lambat dalam hal itu maka pancung lehernya, kemudian kamulah yang menjadi pemimpin atas orang-orang. Dan ia menulis surat kepada Umar bin Sa’d mengancamnya karena kelambatannya dalam memerangi Husain, dan memerintahkannya jika Husain tidak datang kepadanya maka perangilah ia dan orang-orang yang bersamanya, karena mereka adalah pembangkang. Maka Abdullah bin Abi Mahall meminta keamanan untuk anak-anak bibinya Ummu Banin binti Hizam dari Ali; yaitu Abbas, Abdullah, Ja’far, dan Utsman.

Maka Ibnu Ziyad menulis surat jaminan keamanan untuk mereka, dan Abdullah bin Abi Mahall mengirimnya dengan budaknya yang bernama Kazman. Ketika berita itu sampai kepada mereka, mereka berkata: Adapun jaminan keamanan Ibnu Sumayah maka kami tidak menginginkannya, dan sesungguhnya kami mengharapkan jaminan keamanan yang lebih baik dari jaminan keamanan Ibnu Sumayah. Dan ketika Syamr bin Dzi al-Jausyan datang kepada Umar bin Sa’d dengan surat Ubaidillah bin Ziyad, Umar berkata kepadanya: Allah menjauhkan rumahmu, dan buruk apa yang kamu bawa, demi Allah sesungguhnya aku menduga kamulah yang mengalihkannya dari tiga hal yang telah aku tawarkan kepadanya yang diminta oleh Husain. Maka Syamr berkata kepadanya: Beritahu aku apa yang akan kamu lakukan; apakah kamu akan memerangi mereka ataukah meninggalkan aku dan mereka? Maka Umar berkata kepadanya: Tidak, dan tidak ada kehormatan bagimu, aku yang akan menangani hal itu. Dan ia menjadikannya pemimpin pasukan infanteri, dan mereka bergerak menuju mereka pada sore hari Kamis tanggal sembilan Muharram. Maka berdirilah Syamr bin Dzi al-Jausyan dan berkata: Di mana anak-anak saudara perempuan kami? Maka berdirilah kepadanya Abbas, Abdullah, Ja’far, dan Utsman putra Ali bin Abi Thalib, lalu ia berkata: Kalian aman. Maka mereka berkata: Jika kamu memberi kami keamanan dan putra Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga, jika tidak maka kami tidak membutuhkan keamananmu. Ia berkata: Kemudian Umar bin Sa’d menyeru kepada pasukan: Wahai pasukan Allah, berkendaralah dan bergembiralah. Maka mereka naik kuda dan bergerak menuju mereka setelah salat Asar pada hari itu, saat itu Husain duduk di depan kemahnya bersandar pada pedangnya, dan mengantuk hingga kepalanya tertunduk, dan saudara perempuannya Zainab mendengar kegaduhan itu lalu mendekatinya dan membangunkannya, maka ia mengangkat kepalanya sebagaimana adanya, dan berkata: Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi, lalu ia berkata kepadaku: “Sesungguhnya kamu akan datang kepada kami.” Maka ia menampar wajahnya, dan berkata: Wahai celakaku. Maka ia berkata: Tidak ada celaka bagimu wahai saudariku, diamlah semoga Tuhan Yang Maha Pengasih merahmatimu. Dan saudaranya Abbas bin Ali berkata kepadanya: Wahai saudaraku, kaum telah datang kepadamu. Maka ia berkata: Pergilah kepada mereka dan tanyakan kepada mereka apa yang mereka kehendaki. Maka ia pergi kepada mereka dengan sekitar dua puluh penunggang kuda dan berkata: Ada apa dengan kalian? Maka mereka berkata: Perintah pemimpin telah datang; kalian datang atas keputusannya, atau kami akan memerangi kalian. Maka ia berkata: Tetaplah di tempat kalian hingga aku pergi kepada Abu Abdullah dan memberitahunya. Maka ia kembali dan para sahabatnya berhenti, mereka saling berbicara dan sebagian menegur sebagian, pasukan Husain berkata: Buruk sekali kalian sebagai kaum, kalian ingin membunuh keturunan Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang terbaik di zaman mereka?! Kemudian Abbas bin Ali kembali dari Husain kepada mereka, lalu berkata kepada mereka: Abu Abdullah berkata kepada kalian: Pulang lah sore ini hingga ia memikirkan urusannya malam ini. Maka Umar bin Sa’d berkata kepada Syamr bin Dzi al-Jausyan: Bagaimana menurutmu? Maka ia berkata: Kamu yang memimpin dan keputusanmu adalah keputusan. Maka Amr bin Hajjaj bin Salamah az-Zubaidi berkata: Subhanallah! Demi Allah, seandainya yang meminta kalian adalah seorang dari Dailam, sudah sepatutnya dikabulkan. Dan Qais bin Asy’ats berkata: Kabulkan mereka untuk apa yang mereka minta, demi umurku mereka pasti akan memerangi kalian besok pagi. Dan demikian terjadilah hal itu, maka sesungguhnya Husain ketika Abbas kembali, ia berkata kepadanya: Kembalilah dan tunda mereka sore ini, semoga kami dapat salat kepada Tuhan kami malam ini dan berdoa kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya, karena Allah mengetahui dariku bahwa aku mencintai salat kepada-Nya, dan membaca kitab-Nya, dan memohon ampunan serta berdoa. Dan Husain berwasiat kepada keluarganya di malam itu, dan berkhutbah kepada para sahabatnya di awal malam, lalu ia memuji Allah Ta’ala dan menyanjung-Nya, dan bersalawat kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ungkapan yang fasih dan baligh, dan berkata kepada para sahabatnya: Siapa yang suka pulang ke keluarganya di malam ini, maka aku telah mengizinkannya, karena kaum hanya menginginkan aku. Maka Malik bin Nadhr berkata: Aku punya utang dan aku punya tanggungan. Maka ia berkata: Malam ini telah menutupi kalian maka jadikanlah ia sebagai unta, hendaklah setiap orang dari kalian memegang tangan seorang dari keluargaku, kemudian pergilah ke pelosok bumi dalam kegelapan malam ini menuju negeri dan kota kalian, karena kaum hanya menginginkan aku, jika mereka telah mendapatkan aku maka mereka akan lupa mencari yang lain, maka pergilah hingga Allah ‘azza wa jalla memberikan jalan keluar. Maka saudara-saudaranya, anak-anaknya, dan anak-anak saudaranya berkata kepadanya: Tidak ada kehidupan bagi kami setelahmu, dan Allah tidak memperlihatkan kepada kami sesuatu yang kami benci padamu. Maka Husain berkata: Wahai Bani Aqil, cukuplah kalian dengan Muslim saudaramu, pergilah karena aku telah mengizinkan kalian. Mereka berkata: Apa yang akan dikatakan orang-orang! Bahwa kami meninggalkan sesepuh kami dan pemimpin kami dan anak-anak paman kami yang terbaik dari paman-paman, kami tidak memanah dengan panah bersama mereka, kami tidak menikam dengan tombak bersama mereka, kami tidak memukul dengan pedang bersama mereka, karena mengharapkan kehidupan dunia?! Tidak, demi Allah kami tidak akan melakukannya, tetapi kami akan menebus dirimu dengan jiwa kami, harta kami, dan keluarga kami, dan kami akan berperang bersamamu hingga kami sampai ke tempatmu, maka Allah menghinakan kehidupan setelahmu. Dan Muslim bin Ausajah al-Asadi berkata seperti itu, demikian juga Sa’id bin Abdullah al-Hanafi berkata: Demi Allah kami tidak akan meninggalkanmu hingga Allah mengetahui bahwa kami telah menjaga ketidakhadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padamu, demi Allah seandainya aku tahu bahwa aku akan terbunuh di hadapanmu seribu kali pembunuhan, dan bahwa Allah menolak pembunuhan itu darimu dan dari jiwa-jiwa para pemuda ini dari keluargamu, sungguh aku akan menyukainya, lalu bagaimana sedangkan ini hanya satu kali pembunuhan. Dan sekelompok sahabatnya berbicara dengan perkataan yang sebagian menyerupai sebagian dari satu sisi, mereka berkata: Demi Allah kami tidak akan meninggalkanmu, dan jiwa kami adalah tebusan untukmu, kami melindungimu dengan tengkuk kami, dahi kami, tangan kami, dan badan kami, jika kami terbunuh maka kami telah memenuhi dan menunaikan apa yang ada pada kami. Dan saudaranya Abbas berkata: Allah tidak memperlihatkan kepada kami hari kehilanganmu, dan tidak ada kebutuhan bagi kami dalam kehidupan setelahmu. Dan para sahabatnya berturut-turut menyatakan hal itu.

Dan Abu Mikhnaf berkata: al-Harits bin Ka’b dan Abu adh-Dhahhak menceritakan kepadaku, dari Ali bin Husain Zain al-Abidin, ia berkata: Sesungguhnya aku duduk pada sore hari ketika ayahku terbunuh di pagi harinya, dan bibiku Zainab merawatku, ketika ayahku menyendiri di kemahnya, dan bersamanya para sahabatnya, dan di sana ada Huwai budak Abu Dzar al-Ghifari, dan ia sedang memperbaiki pedangnya dan memperbaikinya, dan ayahku berkata:

Wahai masa, celaka bagimu sebagai teman … Berapa banyak engkau pada terbitnya matahari dan sorenya Dari sahabat atau pencari yang terbunuh … Dan masa tidak puas dengan pengganti Dan sesungguhnya urusan hanya kepada Yang Maha Agung … Dan setiap yang hidup akan menempuh jalan

Ia berkata: Maka ia mengulanginya dua atau tiga kali, maka aku memahami apa yang ia maksudkan, lalu air mataku tertahan, aku menahannya dan aku diam, dan aku tahu bahwa bencana telah turun, adapun bibiku maka ia berdiri dengan rambut terurai hingga sampai kepadanya, lalu berkata: Wahai kesedihanku, semoga kematian merampas kehidupan dariku hari ini, ibuku Fathimah telah meninggal, dan Ali ayahku, dan Hasan saudaraku, wahai pengganti yang telah pergi dan pengayom yang tersisa. Maka ia memandangnya dan berkata: Wahai saudariku, jangan biarkan setan menghilangkan kesabaranmu. Maka ia berkata: Dengan ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Abu Abdullah, apakah kamu ingin terbunuh? Dan ia menampar wajahnya, dan menyobek bajunya, dan jatuh pingsan, maka ia berdiri kepadanya dan menuangkan air ke wajahnya, dan berkata: Wahai saudariku, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah dengan kesabaran Allah, dan ketahuilah bahwa penduduk bumi akan mati, dan penduduk langit tidak akan kekal, dan bahwa segala sesuatu akan binasa kecuali wajah Allah yang menciptakan makhluk dengan kekuasaan-Nya, dan mematikan mereka dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya, dan menghidupkan mereka kembali maka mereka akan kembali, dan Dia adalah Maha Tunggal sendiri, dan ketahuilah bahwa ayahku lebih baik dariku dan ibuku lebih baik dariku, dan saudaraku lebih baik dariku, dan bagiku, bagi mereka, dan bagi setiap muslim ada teladan yang baik pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ia bersumpah kepadanya agar tidak melakukan sesuatu dari hal ini setelah kematiannya, kemudian ia memegang tangannya dan mengembalikannya kepadaku, kemudian ia keluar kepada para sahabatnya dan memerintahkan mereka agar mendekatkan tenda-tenda mereka satu sama lain, hingga tali-tali tenda masuk sebagian ke sebagian, dan agar mereka tidak memberikan jalan kepada musuh untuk sampai kepada mereka kecuali dari satu arah, dan tenda-tenda berada di kanan mereka, di kiri mereka, dan di belakang mereka.

Dan Husain serta para sahabatnya bermalam sepanjang malam mereka dengan salat, memohon ampunan, berdoa, dan memohon dengan sangat, dan kuda-kuda pasukan penjaga musuh mereka berputar di belakang mereka, yang dipimpin oleh Azrah bin Qais al-Ahmasi, dan Husain membaca: Dan janganlah orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian waktu yang Kami berikan kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi mereka waktu hanyalah agar bertambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik. Ayat dari Surat Ali Imran: 178-179. Maka seorang dari pasukan kuda yang menjaga dari pasukan Ibnu Ziyad mendengarnya, lalu berkata: Kami demi Rabb Ka’bah adalah orang-orang baik, Allah telah memisahkan kami dari kalian. Ia berkata: Maka aku mengenalnya, lalu aku berkata kepada Burair bin Khudair: Tahukah kamu siapa ini? Ia berkata: Tidak. Maka aku berkata: Ini adalah Abu Harb as-Subai’i Abdullah bin Syahr, dan ia adalah orang yang suka tertawa dan main-main, dan ia adalah orang yang mulia, pemberani, dan penyerang, dan Sa’id bin Qais kadang menahannya karena suatu kejahatan. Maka Burair bin Khudair berkata kepadanya: Wahai orang fasik, sejak kapan kamu dari orang-orang baik?! Maka ia berkata: Siapa kamu, celakalah kamu?! Ia berkata: Aku adalah Burair bin Khudair. Ia berkata: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, demi Allah sulit bagiku wahai Burair membunuhmu. Ia berkata: Maka aku berkata kepadanya: Wahai Abu Harb, maukah kamu bertobat kepada Allah dari dosa-dosamu yang besar? Demi Allah sesungguhnya kami adalah orang-orang baik dan sesungguhnya kalian adalah orang-orang buruk. Ia berkata: Ya, dan aku adalah saksi atas hal itu. Ia berkata: Celakalah kamu! Apakah pengetahuanmu tidak bermanfaat bagimu?! Ia berkata: Maka Azrah bin Qais, pemimpin pasukan yang menjaga kami, memarahinya, lalu ia pergi dari kami. Ia berkata: Maka ketika Umar bin Sa’d salat Subuh dengan para sahabatnya pada hari Jumat, dan dikatakan: hari Sabtu – dan itu adalah hari Asyura – ia bersiap untuk berperang, dan Husain juga salat dengan para sahabatnya, dan mereka adalah tiga puluh dua penunggang kuda dan empat puluh pejalan kaki, kemudian ia berbalik dan menyusun mereka, maka ia menjadikan Zuhair bin Qain di sayap kanan, dan Habib bin Muzhahir di sayap kiri, dan memberikan benderanya kepada Abbas bin Ali saudaranya, dan mereka menjadikan tenda-tenda dengan apa yang ada di dalamnya dari keluarga di belakang punggung mereka, dan Husain telah memerintahkan sejak malam agar mereka menggali di belakang tenda-tenda mereka parit, dan melemparkan ke dalamnya kayu bakar, kayu, dan bambu, kemudian menyalakan api di dalamnya; agar tidak ada seorang pun yang bisa sampai ke tenda-tenda mereka dari belakang. Dan Umar bin Sa’d menjadikan Amr bin Hajjaj az-Zubaidi di sayap kanan, dan Syamr bin Dzi al-Jausyan di sayap kiri – dan nama Dzi al-Jausyan adalah Syurahbil bin al-A’war bin Amr bin Muawiyah dan ia adalah adh-Dhabab bin Kilab – dan atas pasukan berkuda adalah Azrah bin Qais al-Ahmasi, dan atas pasukan pejalan kaki adalah Syabts bin Rib’i, dan memberikan bendera kepada Duwaid budaknya, dan orang-orang saling berhadapan di tempat itu, maka Husain pergi ke kemah yang telah didirikan untuknya, lalu mandi di dalamnya, dan memakai bubuk penghilang bulu, dan memakai minyak wangi misk yang banyak, dan setelahnya masuk sebagian pemimpin, mereka melakukan seperti yang ia lakukan, maka sebagian dari mereka berkata kepada sebagian: Apa ini di saat ini?! Maka sebagian dari mereka berkata: Biarkanlah kami darimu, demi Allah ini bukan saat kebatilan.

Maka berkatalah Burayir bin Khudhayr: “Demi Allah, sungguh kaumku telah mengetahui bahwa aku tidak pernah mencintai kebatilan baik ketika muda maupun tua, tetapi demi Allah sesungguhnya aku bergembira dengan apa yang akan kita hadapi. Demi Allah, tidak ada penghalang antara kita dengan bidadari surga kecuali orang-orang ini menyerang dan membunuh kita.”

Kemudian Husain menunggangi kudanya, mengambil mushaf dan meletakkannya di hadapannya, lalu menghadap kepada kaum tersebut sambil mengangkat kedua tangannya berdoa sebagaimana telah disebutkan sebelumnya: “Ya Allah, Engkau adalah sandaranku dalam setiap kesusahan, dan harapanku dalam setiap kesulitan” hingga akhir doa.

Dan putranya Ali bin Husain – yang saat itu lemah dan sakit – menunggangi seekor kuda bernama Lahiq. Husain berseru: “Wahai manusia, dengarkanlah nasihatku yang akan kusampaikan kepada kalian.” Maka semua orang diam mendengarkan. Setelah memuji Allah dan memuliakan-Nya, ia berkata: “Wahai manusia, jika kalian menerima dariku dan berlaku adil kepadaku, kalian akan lebih beruntung dengan itu, dan kalian tidak akan memiliki jalan untuk menyerangku. Namun jika kalian tidak menerima dariku, maka bulatkanlah keputusan kalian dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutu kalian, kemudian janganlah keputusan kalian menjadi kabur bagi kalian, kemudian lakukanlah (apa yang hendak kalian lakukan) terhadapku dan janganlah kalian memberi tangguh. (Yunus: 71) Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. (Al-A’raf: 196)”

Ketika saudara perempuan dan putri-putrinya mendengar hal itu, suara tangisan mereka meninggi. Maka ia berkata: “Jangan jauhkan Ibnu Abbas” – maksudnya ketika Ibnu Abbas menyarankan agar ia tidak membawa perempuan-perempuan bersamanya dan meninggalkan mereka di Makkah hingga urusannya teratur. Kemudian ia mengutus saudaranya Abbas dan putranya Ali untuk menenangkan mereka.

Kemudian ia mulai menyebutkan kepada orang-orang keutamaannya, kemuliaan nasabnya, keluhuran kedudukannya, dan kehormatannya, seraya berkata: “Periksalah diri kalian, apakah pantas bagi kalian membunuh orang sepertiku, padahal aku adalah putra dari cucu Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak ada di muka bumi ini putra cucu nabi selain aku. Ali adalah ayahku, Ja’far yang bersayap dua adalah pamanku, Hamzah penghulu para syuhada adalah paman ayahku, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku dan saudaraku: ‘Kedua orang ini adalah penghulu pemuda penduduk surga.’ Jika kalian membenarkan apa yang kukatakan, maka itulah yang benar. Demi Allah, aku tidak pernah sengaja berdusta sejak aku tahu bahwa Allah membenci kedustaan. Jika tidak, tanyakanlah kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu: Jabir bin Abdullah, Abu Sa’id, Sahl bin Sa’d, Zaid bin Arqam, dan Anas bin Malik, mereka akan memberitahu kalian tentang itu. Celakalah kalian! Tidakkah kalian takut kepada Allah?! Tidakkah dalam hal ini ada penghalang bagi kalian dari menumpahkan darahku?!”

Maka Syamir bin Dzi al-Jausyan berkata: “Ia menyembah Allah di atas satu huruf, seolah aku tidak tahu apa yang ia katakan.” Maka Habib bin Muzhahir berkata kepadanya: “Demi Allah wahai Syamir, sesungguhnya engkau menyembah Allah di atas tujuh puluh huruf, dan sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang ia katakan karena Allah telah mengunci hatimu.”

Kemudian ia berkata: “Wahai manusia, biarkan aku kembali ke tempat amanku di muka bumi.” Mereka berkata: “Apa yang menghalangimu untuk tunduk pada keputusan Bani Ammu (saudara sepupu) mu?” Ia berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari memberikan diriku dengan tanganku sebagai orang yang hina dan tunduk seperti tunduknya hamba. Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kalian dari setiap orang yang sombong yang tidak beriman kepada hari perhitungan. (Ghafir: 27)”

Kemudian ia membuat untanya berlutut, dan memerintahkan Uqbah bin Sam’an untuk mengikatnya. Lalu ia berkata: “Beritahu aku, apakah kalian menuntutku karena orang yang kubunuh? Atau harta yang kumakan? Atau karena qishas dari luka?” Mereka tidak menjawabnya.

Ia berseru: “Wahai Syabats bin Rib’i, wahai Hijjar bin Abjar, wahai Qais bin al-Asy’ats, wahai Zaid bin al-Harits, bukankah kalian menulis surat kepadaku bahwa buah-buahan telah masak dan padang rumput telah menghijau, maka datanglah kepada kami, karena sesungguhnya engkau akan datang kepada pasukan yang sudah siap?” Mereka berkata kepadanya: “Kami tidak melakukannya.” Ia berkata: “Mahasuci Allah, demi Allah kalian telah melakukannya.”

Kemudian ia berkata: “Wahai manusia, jika kalian telah membenciku, maka biarkan aku pergi dari kalian.” Qais bin al-Asy’ats berkata kepadanya: “Mengapa engkau tidak tunduk pada keputusan Bani Ammu mu? Sesungguhnya mereka tidak akan menyakitimu, dan engkau tidak akan melihat dari mereka kecuali apa yang engkau sukai.” Husain berkata kepadanya: “Engkau adalah saudara saudaramu, apakah engkau ingin Bani Hasyim menuntutmu lebih dari darah Muslim bin Aqil? Tidak, demi Allah, aku tidak akan memberikan diriku dengan tanganku sebagai orang yang hina, dan aku tidak akan tunduk kepada mereka seperti tunduknya hamba.”

Mereka mulai bergerak maju mendekatinya, dan telah berpindah ke pasukan Husain dari mereka sekelompok sekitar tiga puluh penunggang kuda konon, di antaranya al-Hurr bin Yazid, panglima pasukan depan Kufah. Ia meminta maaf kepada Husain atas apa yang telah terjadi. Ia berkata: “Seandainya aku tahu bahwa mereka berniat seperti ini, niscaya aku akan berjalan bersamamu kepada Yazid.” Husain menerimanya, kemudian ia maju di depan para sahabat Husain dan berbicara kepada Umar bin Sa’d, ia berkata: “Celakalah kalian! Tidakkah kalian menerima dari putra cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang ia tawarkan kepada kalian dari tiga pilihan, salah satunya?” Ia berkata: “Jika hal itu terserah padaku, aku akan menerimanya, tetapi Ibnu Ziyad menolaknya.”

Kemudian ia berbicara kepada penduduk Kufah, mencela dan menegur mereka seraya berkata: “Celakalah kalian! Kalian mengundangnya, hingga ketika ia datang kalian mengkhianatinya, dan hal itu tidak cukup bagi kalian sehingga kalian datang untuk memeranginya, padahal kalian telah melarangnya dan para perempuannya dari air Furat yang diminum oleh orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi, dan babi-babi serta anjing-anjing Sawad berguling-guling di dalamnya, sehingga ia seperti tawanan di tangan kalian yang tidak dapat mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi dirinya.”

Umar bin Sa’d maju dan berkata kepada budaknya: “Wahai Dzuwaid, dekatkanlah benderamu.” Maka ia mendekatkannya, kemudian Umar menyingsingkan lengan bajunya dan melepaskan anak panah seraya berkata: “Saksikanlah bahwa aku orang pertama yang melepaskan panah kepada kaum itu.” Maka orang-orang saling melempar anak panah. Yasar budak Ziyad dan Salim budak Ubaidillah keluar seraya berkata: “Siapa yang mau beradu?” Maka Abdullah bin Umayr al-Kalbi keluar menghadapi mereka setelah meminta izin kepada Husain, ia membunuh Yasar terlebih dahulu, kemudian membunuh Salim setelahnya, padahal Salim telah memukulnya dengan pukulan yang menerbangkan jari-jari tangan kirinya. Seorang laki-laki bernama Abdullah bin Hauzah menyerang hingga berdiri di hadapan Husain dan berkata kepadanya: “Wahai Husain, bergembiralah dengan neraka.” Husain berkata kepadanya: “Tidak, celakalah engkau! Sesungguhnya aku akan menghadap kepada Tuhan Yang Maha Penyayang dan pemberi syafaat yang ditaati. Bahkan engkaulah yang lebih berhak mendapat neraka.” Mereka berkata: Maka ia berbalik dan kudanya tersandung sehingga ia jatuh, dan kaki kirinya tersangkut di sanggurdi.

Muslim bin Ausajah menyerangnya dan memukul sehingga menerbangkan kaki kanannya, dan kudanya lari membawanya, sehingga tidak ada batu yang dilewatinya kecuali membentur kepalanya hingga ia mati.

Abu Mikhnaf meriwayatkan dari Abu Janab, ia berkata: Ada seorang laki-laki dari kami bernama Abdullah bin Umayr dari Bani Alim, ia telah tinggal di Kufah dan membangun rumah di dekat sumur al-Ja’d dari Hamdan. Bersamanya ada istrinya dari Namir bin Qasith. Ia melihat orang-orang bersiap-siap untuk keluar memerangi Husain, maka ia berkata: “Demi Allah, aku sangat bersemangat untuk memerangi ahli syirik, dan sesungguhnya aku berharap bahwa jihadku bersama putra cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melawan orang-orang ini lebih utama daripada jihad terhadap orang-orang musyrik, dan lebih mudah mendapat pahala di sisi Allah.” Maka ia masuk menemui istrinya dan mengabarkan kepadanya tentang apa yang ia niatkan. Ia berkata: “Engkau benar – semoga Allah memberikan kebenaran padamu – ini adalah urusanmu yang paling tepat, lakukanlah dan bawalah aku bersamamu.” Ia berkata: Maka ia keluar bersamanya pada malam hari hingga menemui Husain.

Kemudian disebutkan kisah pelemparan anak panah oleh Umar bin Sa’d, dan kisah pembunuhannya terhadap Yasar budak Ziyad dan Salim budak Ibnu Ziyad, dan bahwa Abdullah bin Umayr meminta izin kepada Husain untuk keluar menghadapi mereka. Husain memandang kepadanya dan melihat seorang laki-laki berkulit cokelat, tinggi, kuat lengannya, lebar jarak antara kedua bahunya. Husain berkata: “Sesungguhnya aku memandangnya sebagai pembunuh yang tangguh bagi lawan-lawannya, keluarlah jika engkau mau.” Maka ia keluar. Mereka berdua berkata kepadanya: “Siapa engkau?” Maka ia menyebutkan nasabnya kepada mereka. Mereka berkata: “Kami tidak mengenalmu.” Ia berkata kepada mereka: “Wahai anak-anak pezina, apakah kalian enggan beradu dengan seseorang dari manusia?! Tidakkah siapa pun yang keluar menghadapi kalian kecuali ia lebih baik dari kalian berdua?!” Kemudian ia menyerang Yasar, maka ia seperti hari kemarin yang berlalu. Ketika ia masih sibuk dengannya, tiba-tiba Salim budak Ibnu Ziyad menyerangnya, maka ia (sahabatnya) berseru kepadanya: “Si budak telah mendekatmu.” Ia berkata: Maka ia tidak sadar hingga ia menyerangnya dan memukul tangan kirinya sehingga menerbangkan jari-jarinya. Kemudian al-Kalbi menyerangnya dan memukulnya hingga membunuhnya, lalu ia mulai bersyair dengan berkata:

Jika kalian tidak mengenalku, maka aku adalah anak Kalb Cukuplah rumahku di Alim sebagai kebanggaanku Sesungguhnya aku adalah lelaki yang memiliki kekuatan dan urat Dan aku bukan pengecut saat menghadapi kesulitan Sesungguhnya aku menjamin untukmu wahai Ummu Wahb Dengan tikaman tombak kepada mereka yang maju dan pukulan pedang Pukulan seorang pemuda yang beriman kepada Tuhan

Maka Ummu Wahb mengambil sebatang tongkat, kemudian mendekati suaminya sambil berkata kepadanya: “Tebuslah dirimu dengan ayah dan ibuku, berperanglah untuk membela keturunan Muhammad yang suci, ‘alaihish shalatu wassalam.” Maka ia mendekatinya untuk mengembalikannya kepada para perempuan, kemudian ia menarik-narik pakaiannya. Ia berkata: “Biarkan aku bersamamu.” Husain memanggilnya: “Kembalilah kepada para perempuan dan duduklah bersama mereka, karena tidak ada kewajiban perang bagi perempuan.” Maka ia kembali kepada mereka.

Pada hari itu banyak terjadi perkelahian tanding antara kedua kelompok, dan kemenangan dalam hal itu adalah bagi para sahabat Husain karena kekuatan keberanian mereka, dan karena mereka berjuang mati-matian, tidak ada pelindung bagi mereka kecuali pedang-pedang mereka. Maka sebagian panglima menyarankan kepada Umar bin Sa’d untuk tidak beradu tanding. Amr bin al-Hajjaj, panglima sayap kanan, menyerang sambil berkata: “Perangilah orang yang keluar dari agama dan meninggalkan imam dan jamaah.” Husain berkata kepadanya: “Celakalah engkau wahai Hajjaj! Apakah engkau menghasut orang-orang untuk melawanku?! Apakah kami yang keluar dari agama sedangkan kalian tetap di dalamnya?! Kalian akan tahu ketika roh-roh kalian meninggalkan tubuh kalian siapa yang lebih berhak dengan api neraka.”

Dalam serangan ini terbunuhlah Muslim bin Ausajah, ia adalah orang pertama yang terbunuh dari sahabat-sahabat Husain. Husain mendatanginya dan mendoakannya dengan rahmat, sementara ia dalam napas terakhirnya. Habib bin Muzhahir berkata kepadanya: “Bergembiralah dengan surga.” Ia berkata kepadanya dengan suara lemah: “Semoga Allah memberimu kabar gembira dengan kebaikan.” Kemudian Habib berkata kepadanya: “Seandainya aku tidak tahu bahwa aku akan segera menyusulmu, niscaya aku akan melaksanakan apa yang engkau wasiatkan kepadaku.” Muslim bin Ausajah berkata kepadanya: “Aku wasiatkan kepadamu tentang orang ini” – sambil menunjuk kepada Husain – “agar engkau mati membelanya.”

Mereka berkata: Kemudian Syamir bin Dzi al-Jausyan dengan sayap kirinya menyerang dan menuju ke arah Husain. Pasukan berkuda dari sahabat-sahabatnya membelanya dengan pembelaan yang hebat dan berjuang mati-matian untuk membelanya dengan perjuangan yang luar biasa. Maka mereka meminta dari Umar bin Sa’d sekelompok pemanah infanteri. Ia mengirim kepada mereka sekitar lima ratus orang, mereka mulai memanah kuda-kuda sahabat Husain hingga membunuh semuanya sehingga mereka semua menjadi pejalan kaki. Ketika kuda al-Hurr bin Yazid dibunuh, ia turun darinya dan di tangannya ada pedang seperti singa sambil berkata:

Jika kalian membunuh kudaku, maka aku adalah anak al-Hurr Lebih berani dari singa bersurai yang perkasa

Dikatakan: Sesungguhnya Umar bin Sa’d memerintahkan untuk merobohkan bangunan-bangunan yang menghalangi pertempuran dari arah tersebut. Maka sahabat-sahabat Husain membunuh siapa yang mencoba melakukan hal itu. Maka ia memerintahkan untuk membakarnya. Husain berkata: “Biarkan mereka membakarnya, karena mereka tidak akan mampu melewatinya setelah dibakar.”

Syamir bin Dzi al-Jausyan, semoga Allah menghinakannya, datang ke kemah Husain dan menikamnya dengan tombaknya – maksudnya kemah itu – dan berkata: “Bawakannya api agar kubakar beserta siapa yang ada di dalamnya.” Maka para perempuan berteriak dan keluar darinya. Husain berkata kepadanya: “Apakah engkau ingin membakar keluargaku?! Semoga Allah membakarmu dengan api.”

Syabats bin Rib’i, semoga Allah menghinakannya, datang kepada Syamir dan berkata kepadanya: “Aku tidak pernah melihat ucapan dan sikapmu yang lebih buruk dari ini, apakah engkau ingin menakut-nakuti para perempuan?!” Maka ia malu dan hendak kembali. Humaid bin Muslim berkata: Aku berkata kepada Syamir: “Mahasuci Allah! Sesungguhnya ini tidak pantas bagimu, apakah engkau ingin mengumpulkan atas dirimu dua sifat: menyiksa dengan siksaan Allah, dan membunuh anak-anak serta perempuan?! Demi Allah, sesungguhnya dengan membunuh laki-lakinya saja sudah cukup untuk memuaskan pemimpinmu.” Ia berkata kepadaku: “Siapa engkau?” Aku berkata: “Aku tidak memberitahumu siapa aku.” Dan aku khawatir jika aku memberitahunya dan ia mengenalku, ia akan menyakitiku di hadapan penguasa.

Zuhair bin al-Qain bersama para sahabat Husain menyerang Syamir bin Dzi al-Jausyan hingga menggesernya dari posisinya, dan membunuh Abu Izzah adh-Dhubabi yang merupakan salah satu sahabat Syamir. Jika salah seorang dari sahabat Husain terbunuh, maka kekosongan tampak pada mereka, namun jika dari sahabat Ibnu Ziyad terbunuh banyak, hal itu tidak tampak pada mereka karena jumlah mereka yang banyak.

Waktu zhuhur tiba, maka Husain berkata: “Perintahkan mereka agar berhenti dari pertempuran hingga kami shalat.” Seorang laki-laki dari penduduk Kufah berkata: “Sesungguhnya shalat tidak diterima dari kalian.” Habib bin Muzhahir berkata kepadanya: “Celakalah engkau! Apakah shalat diterima dari kalian tetapi tidak diterima dari keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?!”

Habib berperang dengan pertempuran yang sangat keras hingga terbunuh, rahimahullah. Kepalanya dibawa kepada Ibnu Ziyad.

Kemudian Husain melaksanakan shalat Zuhur bersama para sahabatnya dengan shalat khauf (shalat dalam keadaan takut), lalu setelah itu mereka berperang dengan sangat sengit. Musuh sampai mendekati Husain, semoga Allah meridainya, dan para sahabatnya yang pemberani membelanya. Zuhair bin Qain terbunuh di hadapan Husain, dan Nafi’ bin Hilal Al-Jumali bertempur untuk membela beliau. Ia membunuh dua belas orang dari pasukan Umar bin Sa’d selain yang terluka, kemudian ia ditangkap dan kedua lengannya patah, namun meski begitu lehernya dipenggal di hadapan Umar bin Sa’d oleh Syamir bin Dzi Al-Jausyan. Kemudian Syamir menyerang para sahabat Husain sambil berkata:

Minggir kalian wahai musuh-musuh Allah, minggir dari Syamir Ia memukul mereka dengan pedangnya dan tidak melarikan diri

Musuh-musuh menyerang mereka dari segala penjuru dan berbondong-bondong mengerumuni mereka, dan para sahabat Husain berguguran di hadapannya, hingga tidak tersisa seorang pun bersamanya kecuali Suwaid bin Amr bin Abu Al-Muta’ Al-Khats’ami.

Orang pertama yang terbunuh dari Bani Abu Thalib pada hari itu adalah Ali Al-Akbar putra Husain bin Ali, ibunya adalah Laila binti Abu Murrah bin Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Ia ditikam oleh Murrah bin Minqidz bin An-Nu’man Al-Abdi hingga terbunuh. Diriwayatkan bahwa ia terus bertempur membela ayahnya sambil berkata:

Aku adalah Ali putra Husain putra Ali Kami demi Rabb Ka’bah lebih berhak atas Nabi Demi Allah, anak yang tidak sah tidak akan memerintah kami Bagaimana kalian melihat pedangku hari ini membela ayahku

Ketika Murrah menikamnya, orang-orang berbondong-bondong menyerangnya dan memotong-motongnya dengan pedang mereka. Lalu Husain berkata: Semoga Allah membunuh kaum yang membunuhmu wahai puteraku, betapa beraninya mereka terhadap Allah dan dalam melanggar hal-hal yang haram! Semoga kebinasaan menimpa dunia setelahmu. Beliau berkata: Keluarlah seorang budak perempuan yang cantiknya seperti matahari, lalu berkata: Wahai saudaraku, wahai putra saudaraku. Ternyata ia adalah Zainab binti Ali dari Fatimah. Ia merangkak mendekatinya sementara ia sedang tersungkur. Beliau berkata: Lalu Husain datang dan memegang tangannya, membawanya masuk ke dalam tenda, dan memerintahkan agar jenazahnya dipindahkan ke hadapannya di dekat tendanya. Kemudian terbunuhlah Abdullah bin Muslim bin Aqil, lalu terbunuhlah Aun dan Muhammad putra Abdullah bin Ja’far, lalu terbunuhlah Abdurrahman dan Ja’far putra Aqil bin Abu Thalib, kemudian terbunuhlah Al-Qasim bin Hasan bin Ali bin Abu Thalib.

Abu Mikhnaf berkata: Fadil bin Khudaij Al-Kindi menceritakan kepadaku bahwa Yazid bin Ziyad—seorang pemanah, ia adalah Abu Asy-Sya’tsa’ Al-Kindi dari Bani Bahdalah—berlutut di hadapan Husain, lalu melepaskan seratus anak panah dan tidak ada yang jatuh ke tanah kecuali lima anak panah. Ketika selesai memanah ia berkata: Telah jelas bagiku bahwa aku telah membunuh lima orang. Ia termasuk orang pertama yang terbunuh, dan syairnya pada hari itu adalah:

Aku adalah Yazid dan ayahku adalah Muhaashir Lebih pemberani dari singa di hutan yang gelap Ya Rabb, sesungguhnya aku adalah penolong Husain Dan untuk Ibnu Sa’d aku tinggalkan dan pergi

Mereka berkata: Husain bertahan sepanjang hari yang panjang, tidak ada seorang pun yang mendekatinya kecuali ia mundur; tidak ada yang mau membunuhnya, hingga datang seorang lelaki dari Bani Bada’ yang bernama Malik bin An-Nasir. Ia memukul kepala Husain dengan pedang hingga melukai beliau, sementara beliau mengenakan burnus (jubah berkepala), lalu penuh dengan darah. Husain berkata kepadanya: Semoga kamu tidak makan dan minum dengan tanganmu itu, dan semoga Allah mengumpulkanmu bersama orang-orang zalim. Kemudian Husain melepas burnus itu dan meminta sorban lalu memakainya. Beliau berkata: Kemudian Husain kelelahan, lalu duduk di pintu tendanya. Dibawakan kepadanya seorang bayi kecil dari anak-anaknya, lalu didudukkan di pangkuannya, kemudian ia menciumnya, mencium baunya, berpamitan dengannya dan berwasiat kepada keluarganya. Seorang lelaki dari Bani Asad yang bernama Ibnu Muqid An-Nar memanah bayi itu dengan anak panah hingga menyembelih bayi tersebut. Husain menampung darahnya di tangannya dan melemparkannya ke arah langit, seraya berkata: Ya Rabb, jika Engkau telah menahan pertolongan dari langit untuk kami, maka jadikanlah ini untuk sesuatu yang lebih baik, dan balaslah kami dari orang-orang zalim. Abdullah bin Uqbah Al-Ghanawi memanah Abu Bakar bin Husain dengan anak panah hingga membunuhnya juga, kemudian terbunuhlah Abdullah, Abbas, Utsman, Ja’far, dan Muhammad putra-putra Ali bin Abu Thalib, saudara-saudara Husain seayah, semoga Allah meridai mereka semua. Husain sangat kehausan, lalu berusaha mencapai air Sungai Furat tetapi mereka menghalanginya. Ia berhasil sampai ke air untuk minum, ketika hendak meminumnya, Hushain bin Numair memanah rahangnya dengan anak panah hingga menancap. Husain mencabutnya dari rahangnya, darah mengalir deras, ia menampungnya dengan kedua tangannya, lalu mengangkat keduanya ke langit sementara keduanya penuh dengan darah, kemudian melemparkannya ke langit, dan berkata: Ya Allah, hitunglah jumlah mereka dan bunuhlah mereka satu per satu, dan jangan Engkau sisakan seorang pun dari mereka di bumi. Dan ia mendoakan doa yang sangat fasih terhadap mereka.

Kemudian datanglah Syamir bersama sekelompok orang-orang pemberani hingga mereka mengepung Husain yang berada di dekat tendanya, dan tidak tersisa seorang pun bersamanya yang bisa menghalangi mereka. Datanglah seorang anak laki-laki berlari dari tenda-tenda seperti bulan purnama dengan dua anting mutiara di telinganya yang bergoyang-goyang. Zainab binti Ali keluar untuk menahannya namun ia menolak, dan datang untuk melindungi pamannya. Seorang lelaki menyerangnya dengan pedang, ia menangkisnya dengan tangannya, sehingga tangannya putus kecuali kulitnya, lalu berkata: Wahai ayahku. Husain berkata kepadanya: Wahai puteraku, bersabarlah dalam mengharap pahala dari Allah, sesungguhnya kamu akan menyusul leluhur-leluhurmu yang saleh. Kemudian orang-orang menyerang Husain dari segala penjuru sementara ia berkeliling di antara mereka dengan pedang ke kanan dan ke kiri, mereka menjauh darinya seperti kambing-kambing yang menjauh dari singa. Saudarinya Zainab binti Fatimah keluar menghampirinya, lalu berkata: Seandainya langit jatuh ke bumi. Umar bin Sa’d datang, lalu ia berkata: Wahai Umar, relakah kamu Abu Abdullah (Husain) dibunuh sementara kamu menyaksikannya? Air mata mengalir di janggutnya, dan ia memalingkan wajahnya darinya. Kemudian tidak ada seorang pun yang berani membunuhnya, hingga Syamir bin Dzi Al-Jausyan berseru: Celakalah kalian! Apa yang kalian tunggu dari lelaki ini? Bunuhlah ia, semoga ibu-ibu kalian kehilangan kalian. Lalu orang-orang menyerang Husain dari segala penjuru. Zur’ah bin Syarik At-Tamimi memukul tangan kirinya dan memukul pundaknya, kemudian mereka mundur darinya sementara ia terhuyung-huyung dan tersandung. Kemudian Sinan bin Anas bin Amr An-Nakha’i mendatanginya lalu menusuknya dengan tombak hingga jatuh, lalu turun dan menyembelihnya serta memenggal kepalanya, kemudian menyerahkan kepalanya kepada Khauli bin Yazid. Ada yang mengatakan: Yang membunuhnya adalah Syamir bin Dzi Al-Jausyan. Ada yang mengatakan: Seorang lelaki dari Madzhij. Ada yang mengatakan: Umar bin Sa’d bin Abu Waqqash. Dan ini tidak benar, sesungguhnya Umar hanya komandan pasukan yang membunuh Husain. Sinan dan yang lainnya mengambil pakaiannya, dan orang-orang membagi-bagi harta bendanya dan barang-barangnya, serta apa yang ada di tendanya, bahkan pakaian-pakaian yang dikenakan para wanita.

Abu Mikhnaf dari Ja’far bin Muhammad berkata: Ditemukan pada Husain ketika terbunuh tiga puluh tiga tusukan dan tiga puluh empat sabetan. Syamir bin Dzi Al-Jausyan berniat membunuh Ali bin Husain Al-Ashghar Zain Al-Abidin, yang masih kecil dan sedang sakit, hingga Humaid bin Muslim salah satu sahabatnya mencegahnya dari itu. Umar bin Sa’d datang dan berkata: Ingat, jangan ada seorang pun yang masuk ke rumah para wanita ini dan jangan ada yang membunuh anak lelaki ini, dan barangsiapa mengambil sesuatu dari harta mereka maka hendaklah ia mengembalikannya kepada mereka. Beliau berkata: Demi Allah, tidak ada seorang pun yang mengembalikan sesuatu. Ali bin Husain berkata kepadanya: Semoga kamu diberi kebaikan, sesungguhnya Allah telah menolak keburukan dariku dengan perkataanmu. Mereka berkata: Kemudian Sinan bin Anas datang ke pintu tenda Umar bin Sa’d, lalu berteriak dengan suara keras:

Muatkan untaku perak dan emas Aku telah membunuh raja yang dilindungi Aku membunuh sebaik-baik manusia ayah dan ibunya Dan sebaik-baik mereka ketika dinisbatkan nasab

Umar bin Sa’d berkata: Bawa ia masuk kepadaku. Ketika masuk, ia melemparnya dengan cambuk dan berkata: Celakalah kamu, kamu gila! Demi Allah, seandainya Ibnu Ziyad mendengarmu mengatakan ini, ia akan memenggal lehermu. Umar bin Sa’d memberi pengampunan kepada Uqbah bin Sam’an ketika memberitahunya bahwa ia adalah budak, maka tidak ada yang selamat dari mereka kecuali ia, dan Al-Muraqqa’ bin Tsamaamah ditangkap, lalu Ibnu Ziyad memberinya pengampunan.

Yang terbunuh dari para sahabat Husain adalah tujuh puluh dua orang, lalu penduduk Al-Ghadhiriyah dari Bani Asad menguburkan mereka setelah mereka terbunuh sehari kemudian, semoga Allah merahmati dan memuliakan mereka.

Diriwayatkan dari Muhammad Ibnu Al-Hanafiyyah bahwa ia berkata: Terbunuh bersama Husain tujuh belas lelaki, semuanya dari keturunan Fatimah.

Dari Hasan Al-Bashri bahwa ia berkata: Terbunuh bersama Husain enam belas lelaki, semuanya dari keluarganya, tidak ada di muka bumi pada hari itu yang seperti mereka.

Yang lain berkata: Terbunuh bersamanya dari putra-putranya, saudara-saudaranya, dan keluarganya dua puluh tiga lelaki. Dari putra-putra Ali, semoga Allah meridainya: Ja’far, Husain, Abbas, Muhammad, Utsman, dan Abu Bakar. Dari putra-putra Husain: Ali Al-Akbar dan Abdullah. Dari putra-putra saudaranya Hasan ada tiga: Abdullah, Al-Qasim, dan Abu Bakar putra-putra Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Dari putra-putra Abdullah bin Ja’far ada dua: Aun dan Muhammad. Dari putra-putra Aqil: Ja’far, Abdullah, Abdurrahman, dan Muslim yang terbunuh sebelum itu seperti yang telah kami sebutkan. Ini empat orang putra kandungnya, dan dua yang lain: yaitu Abdullah bin Muslim bin Aqil, dan Muhammad bin Abu Sa’id bin Aqil, sehingga sempurna enam orang dari keturunan Aqil, dan tentang mereka penyair berkata:

Dan ratapilah sembilan orang putra kandung Ali Yang terbunuh dan enam orang untuk Aqil Dan orang yang bernama seperti Nabi gugur di antara mereka Mereka meninggikannya dengan pedang yang mengkilat

Di antara yang terbunuh bersama Husain di Karbala adalah saudaranya seibu dari persusuan—Abdullah bin Buqthur. Ada yang mengatakan: Sesungguhnya ia dibunuh sebelum itu ketika ia mengirimkan surat kepadanya kepada penduduk Kufah, lalu ia dibawa ke Ibnu Ziyad yang membunuhnya. Yang terbunuh dari penduduk Kufah dari pasukan Umar bin Sa’d adalah delapan puluh delapan lelaki selain yang terluka, lalu Umar bin Sa’d menshalatkan mereka dan menguburkan mereka. Dikatakan: Bahwa Umar bin Sa’d menugaskan sepuluh orang penunggang kuda untuk menginjak-injak Husain dengan kuda-kuda mereka hingga meratakan tubuhnya dengan tanah pada hari pertempuran. Ia mengirimkan kepalanya pada hari itu ke Ibnu Ziyad bersama Khauli bin Yazid Al-Ashbahi. Ketika ia sampai dengannya ke istana dan mendapatinya tertutup, ia kembali ke rumahnya, lalu meletakkannya di bawah sebuah bejana besar, dan berkata kepada istrinya Nawar binti Malik: Aku membawakan kepadamu kemuliaan masa. Ia berkata: Apa itu? Ia berkata: Ini adalah kepala Husain. Ia berkata: Orang-orang datang dengan emas dan perak, sedangkan kamu datang dengan kepala putra putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?! Demi Allah, tidak akan menyatukan aku dan kamu di tempat tidur selamanya. Kemudian ia bangkit meninggalkannya dari tempat tidur, dan ia memanggil istri lain dari Bani Asad, lalu tidur bersamanya. Yang kedua berkata: Demi Allah, aku terus melihat cahaya yang memancar dari bejana itu ke langit, dan burung-burung putih berkelebatan di sekelilingnya. Ketika pagi ia pergi dengannya ke Ibnu Ziyad, lalu menghadapkannya di hadapannya. Dikatakan: Bahwa bersamanya ada kepala-kepala para sahabatnya yang tersisa, dan inilah yang masyhur. Jumlahnya adalah tujuh puluh dua kepala, karena setiap orang yang terbunuh maka mereka memenggal kepalanya dan membawanya ke Ibnu Ziyad, kemudian Ibnu Ziyad mengirimkannya ke Yazid bin Mu’awiyah ke Syam.

Imam Ahmad berkata: Husain menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami dari Muhammad, dari Anas ia berkata: Dibawa kepada Ubaidullah bin Ziyad kepala Husain, lalu diletakkan di sebuah baskom, kemudian ia mencolek-coleknya, dan berkata sesuatu tentang kegantengannya. Anas berkata: Sesungguhnya ia adalah yang paling mirip di antara mereka dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan ia telah dicelup dengan wasimah (pewarna hitam). Bukhari meriwayatkannya dalam bab Manaqib dari Muhammad bin Husain bin Ibrahim, ia adalah Ibnu Isykab, dari Husain bin Muhammad, dari Jarir bin Hazim, dari Muhammad bin Sirin, dari Anas, lalu menyebutkannya. Tirmidzi meriwayatkannya dari hadits Hafshah binti Sirin, dari Anas, dan berkata: Hasan shahih.

Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar berkata: Mufarraj bin Syuja’ bin Ubaidullah Al-Maushili menceritakan kepada kami, Ghassaan bin Ar-Rabi’ menceritakan kepada kami, Yusuf bin Abdah menceritakan kepada kami dari Tsabit dan Humaid, dari Anas ia berkata: Ketika dibawa kepada Ubaidullah bin Ziyad kepala Husain, ia mencolek-colek gigi serinya dengan tongkat, berkata: Sungguh ia—aku kira ia berkata—ganteng. Maka aku berkata: Demi Allah, aku akan menyakitimu, sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mencium di tempat tongkatmu itu jatuh. Beliau berkata: Maka ia mengerut. Al-Bazzar menyendiri dengan riwayat ini dari jalur ini, dan berkata: Kami tidak mengetahui yang meriwayatkannya dari Humaid selain Yusuf bin Abdah, dan ia adalah seorang lelaki dari penduduk Basrah yang terkenal, dan tidak ada masalah dengannya. Abu Ya’la Al-Maushili meriwayatkannya dari Ibrahim bin Hajjaj, dari Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid, dari Anas, lalu menyebutkannya. Qurrah bin Khalid meriwayatkannya dari Hasan, dari Anas, lalu menyebutkannya.

Abu Mikhnaf berkata, dari Sulaiman bin Abu Rasyid, dari Humaid bin Muslim ia berkata: Umar bin Sa’d memanggilku lalu mengirimku ke keluarganya untuk memberikan kabar gembira tentang kemenangan Allah kepadanya dan keselamatannya. Aku datang hingga sampai ke keluarganya, lalu memberitahu mereka tentang itu, kemudian aku datang hingga masuk, lalu aku dapati Ibnu Ziyad telah duduk untuk orang-orang, dan delegasi yang datang kepadanya telah masuk. Aku masuk bersama yang masuk, ternyata kepala Husain diletakkan di hadapannya, dan ternyata ia mencolek-colek di antara gigi serinya sesaat dengan tongkat. Zaid bin Arqam berkata kepadanya: Angkat tongkat ini dari kedua gigi seri ini, demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, sungguh aku telah melihat bibir Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di atas kedua bibir ini menciumnya. Kemudian orang tua itu menangis tersedu-sedu. Ibnu Ziyad berkata kepadanya: Semoga Allah membuat matamu menangis, demi Allah, seandainya kamu bukan orang tua yang sudah pikun dan akalmu hilang, niscaya aku memenggal lehermu. Beliau berkata: Maka ia bangkit dan keluar. Ketika keluar, orang-orang berkata: Demi Allah, sungguh Zaid bin Arqam telah mengatakan perkataan yang seandainya Ibnu Ziyad mendengarnya, ia akan membunuhnya. Beliau berkata: Maka aku berkata: Apa yang ia katakan? Mereka berkata: Ia melewati kami sambil berkata: Budak telah memperbudak budak, lalu ia menjadikan mereka budak turun-temurun. Kalian wahai golongan Arab adalah budak setelah hari ini, kalian telah membunuh putra Fatimah, dan memerintahkan putra Marjanah, maka ia membunuh orang-orang baik kalian, dan memperbudak orang-orang jahat kalian, maka kalian ridha dengan kehinaan, maka jauhilah orang yang ridha dengan kehinaan. Diriwayatkan dari jalur Abu Dawud As-Sabi’i, dari Zaid bin Arqam sepertinya. Thabrani meriwayatkannya dari jalur Tsabit, dari Zaid.

Tirmidzi berkata: Washil bin Abdul A’la menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Umarah bin Umair ia berkata: Ketika dibawa kepala Ubaidullah bin Ziyad dan sahabat-sahabatnya, ditancapkan di masjid di ruhbah (halaman), aku datang kepada mereka, sementara mereka berkata: Telah datang, telah datang. Ternyata seekor ular telah datang menyelinap di antara kepala-kepala hingga masuk ke lubang hidung Ubaidullah bin Ziyad lalu tinggal sebentar, kemudian keluar, lalu pergi hingga menghilang, kemudian mereka berkata: Telah datang, telah datang. Ia melakukan itu dua atau tiga kali. Kemudian Tirmidzi berkata: Hasan shahih.

Ibnu Ziyad memerintahkan agar dikumandangkan seruan “ash-shalatu jami’ah” (shalat berjemaah), maka berkumpullah orang-banyak. Lalu ia naik ke mimbar, memuji dan menyanjung Allah, kemudian menyebutkan tentang kemenangan yang Allah berikan kepadanya dengan terbunuhnya Husain yang bermaksud merampas kekuasaan dari mereka dan memecah belah persatuan mereka. Maka berdirilah kepadanya Abdullah bin Afif al-Azdi dan berkata: “Celakalah engkau wahai Ibnu Ziyad! Kalian membunuh anak-anak para nabi lalu berbicara dengan kata-kata orang-orang jujur?” Ibnu Ziyad pun memerintahkan untuk membunuhnya, maka ia dibunuh dan disalib. Kemudian ia memerintahkan agar kepala Husain dipancangkan di Kufah dan diarak keliling di gang-gangnya, lalu mengirimkannya bersama Zahar bin Qais beserta kepala-kepala para sahabatnya, kepada Yazid bin Muawiyah di Syam. Bersama Zahar ada sekelompok pasukan berkuda; di antaranya Abu Burdah bin Auf al-Azdi dan Thariq bin Abi Zhabyan al-Azdi. Mereka berangkat hingga menyerahkan semua kepala tersebut kepada Yazid bin Muawiyah.

Hisyam berkata: Abdullah bin Yazid bin Rauh bin Zinba’ al-Juzami menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari al-Ghaz bin Rabi’ah al-Jarsyi dari Himyar, ia berkata: “Demi Allah, aku sedang berada di sisi Yazid bin Muawiyah di Damaskus, tiba-tiba datanglah Zahar bin Qais masuk menemui Yazid. Yazid berkata kepadanya: ‘Celakalah engkau! Ada berita apa?’ Ia menjawab: ‘Bergembiralah wahai Amirul Mukminin dengan kemenangan dan pertolongan Allah untukmu. Husain bin Ali bin Abi Thalib datang menyerang kami bersama delapan belas orang dari keluarganya dan enam puluh orang dari pengikutnya. Kami pun maju ke arah mereka, kami meminta mereka menyerah dan tunduk pada keputusan Gubernur Ubaidullah bin Ziyad atau berperang. Mereka memilih perang. Kami serang mereka saat matahari terbit, kami kepung mereka dari segala penjuru hingga pedang-pedang mengambil tempatnya di kepala-kepala kaum itu. Mereka mulai melarikan diri tanpa tempat pelarian dan perlindungan, mereka berlindung di bukit-bukit dan lubang-lubang seperti burung merpati berlindung dari elang. Demi Allah, tidak lebih lama dari penyembelihan seekor unta atau tidur siang sebentar, hingga kami habisi mereka semua. Inilah jasad-jasad mereka tergeletak telanjang, pakaian-pakaian mereka berdebu, pipi-pipi mereka berlumuran tanah, matahari membakar mereka dan angin menghembuskan debu kepada mereka, yang mengunjungi mereka adalah burung elang dan bangkai.'”

Ia berkata: Maka mengalirlah air mata Yazid bin Muawiyah dan ia berkata: “Aku akan puas dengan ketaatan kalian tanpa pembunuhan Husain. Semoga Allah melaknat Ibnu Marjanah. Demi Allah, seandainya aku yang menanganinya, pasti akan aku maafkan dia. Semoga Allah merahmati Husain.” Dan ia tidak memberikan apa-apa kepada Zahar bin Qais.

Ketika kepala Husain diletakkan di hadapan Yazid, ia berkata: “Demi Allah, seandainya aku yang menanganimu, aku tidak akan membunuhmu.” Kemudian ia melantunkan syair al-Husain bin al-Hamam al-Murri sang penyair:

Mereka membelah kepala para pejuang mulia dari kami, sedang mereka lebih durhaka dan lebih zalim

Abu Mikhnaf berkata: Abu Ja’far al-Absi menceritakan kepadaku dari Abu Amarah al-Absi, ia berkata: Yahya bin al-Hakam, saudara Marwan bin al-Hakam, berdiri dan berkata:

Kepala-kepala di tepi Thuff lebih dekat kekerabatannya daripada Ibnu Ziyad sang budak yang memiliki nasab rendah

Sumayyah, keturunannya kini sebanyak kerikil, sedang putri Rasulullah tidak memiliki keturunan

Ia berkata: Maka Yazid memukul dada Yahya bin al-Hakam dan berkata: “Diamlah!”

Muhammad bin Humaid ar-Razi, yang bermazhab Syiah, berkata: Muhammad bin Yahya al-Ahmari menceritakan kepada kami, Laits menceritakan kepada kami, dari Mujahid, ia berkata: Ketika kepala Husain dibawa dan diletakkan di hadapan Yazid, ia membaca bait-bait ini:

Andai para sesepuh kami menyaksikan di Badar, kepanikan Khazraj dari hantaman tombak

Mereka akan bersorak gembira lalu berkata kepadaku: Beruntunglah, jangan bertanya

Ketika punuk-punuk unta bergoyang di Quba’, dan pembunuhan merajalela terhadap Abdul Asyhal

Kami telah membunuh dua kali lipat dari para pemuka mereka, dan kami luruskan kemiringan Badar hingga lurus

Mujahid berkata: “Dia munafik dalam hal itu, demi Allah kemudian demi Allah, tidak ada satu pun dari pasukannya yang tidak meninggalkannya.”

Para ulama setelah ini berbeda pendapat tentang kepala tersebut, apakah Ibnu Ziyad mengirimkannya dari Kufah ke Yazid di Syam atau tidak, menjadi dua pendapat. Yang pertama lebih kuat dan telah banyak riwayat tentang itu. Maka Allah Yang Maha Mengetahui.

Abu Mikhnaf berkata dari Abu Hamzah ats-Tsumali, dari Abdullah ats-Tsumali, dari al-Qasim bin Bukhait, ia berkata: Ketika kepala Husain diletakkan di hadapan Yazid bin Muawiyah, ia mulai menusuk-nusukkan tongkat yang ada di tangannya ke mulutnya, lalu berkata: “Ini antara kami dan dia seperti yang dikatakan al-Husain bin al-Hamam al-Murri:

Mereka membelah kepala para pejuang mulia dari kami, sedang mereka lebih durhaka dan lebih zalim

Maka berkatalah kepadanya Abu Barzah al-Aslami: “Demi Allah, tongkatmu telah mengambil tempat, aku telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menciumnya.” Kemudian ia berkata kepadanya: “Ketahuilah bahwa ini akan datang pada hari kiamat dengan pemberi syafaatnya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan engkau akan datang dengan pemberi syafaatmu Ibnu Ziyad.” Kemudian ia berdiri dan pergi.

Ibnu Abi ad-Dunya meriwayatkannya dari Abu al-Walid, dari Khalid bin Yazid bin Asad, dari Ammar ad-Dahni, dari Abu Ja’far, ia berkata: Ketika kepala Husain diletakkan di hadapan Yazid, dan Abu Barzah berada di sisinya, ia mulai menusuk-nusukkan tongkat pada gusinya sambil berkata: “Membelah kepala…” Maka Abu Barzah berkata kepadanya: “Angkat tongkatmu, karena aku telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menciumnya.”

Ibnu Abi ad-Dunya berkata: Maslamah bin Syubaib menceritakan kepadaku dari al-Humaidi, dari Sufyan, aku mendengar Salim bin Abi Hafshah berkata: Al-Hasan berkata: Ketika kepala Husain dibawa, Yazid mulai menusuk-nusukkannya dengan tongkat. Sufyan berkata: Dan aku diberitahu bahwa al-Hasan melantunkan setelah ini:

Sumayyah, keturunannya kini sebanyak kerikil, sedang putri Rasulullah tidak memiliki keturunan

Adapun keluarganya yang tersisa, para wanitanya dan kerabatnya, Umar bin Sa’d menugaskan orang untuk menjaga dan melindungi mereka. Mereka diangkut di atas unta-unta dalam howdah (tandu tertutup). Ketika mereka melewati tempat pertempuran, mereka melihat Husain dan para sahabatnya tergeletak di sana. Di situ para wanita menangisi mereka, berteriak-teriak, dan Zainab meratapi saudaranya Husain dan keluarganya. Ia berkata sambil menangis: “Wahai Muhammad, wahai Muhammad, semoga para malaikat langit bershalawat atasmu, ini Husain di padang tandus, berlumuran darah, anggota tubuhnya terpenggal. Wahai Muhammad, putri-putrimu ditawan, keturunanmu terbunuh, angin gurun menghembus kepada mereka.” Ia berkata: “Demi Allah, ia membuat setiap musuh dan kawan menangis.”

Ia berkata: Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dengan mereka dalam howdah dari Karbala hingga masuk ke Kufah. Ibnu Ziyad memuliakan mereka, memberikan nafkah, pakaian dan pemberian.

Kemudian Ubaidullah mengirim mereka kembali ke Syam bersama Syamir bin Dzi al-Jausyan dan Muhaffaz bin Tsa’labah al-A’idzi dari Quraisy, dan bersama mereka Ali bin al-Husain Zain al-Abidin. Ibnu Ziyad sempat ingin membunuhnya, tapi Allah menghindarkan hal itu darinya. Ketika ia mengutus mereka, ia mengirimnya bersama keluarganya, namun ia dibelenggu hingga lehernya, dan keluarga yang tersisa dalam keadaan buruk sebagaimana disebutkan sebagian mereka.

Ketika mereka masuk menemui Yazid bin Muawiyah, ia berkata kepada Ali bin al-Husain: “Wahai Ali, ayahmu yang memutuskan hubungan kekerabatanku, mengingkari hakku, dan mempersengketakan kekuasaanku, maka Allah berbuat kepadanya apa yang telah engkau lihat.” Maka Ali berkata: “Tiada suatu musibah yang menimpa di bumi dan tidak (pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (Al-Hadid: 22). Maka Yazid berkata kepada putranya Khalid: “Balaslah dia.” Khalid tidak tahu apa yang harus dibalas. Maka Yazid berkata kepadanya: “Katakan: Dan apa yang menimpa kamu berupa musibah maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30). Maka Ali diam sejenak, kemudian Yazid memanggil para wanita dan anak-anak, lalu ia melihat keadaan mereka yang buruk, maka ia berkata: “Semoga Allah melaknat Ibnu Marjanah. Seandainya ada kekerabatan dan ikatan kekeluargaan antara kalian dan dia, dia tidak akan melakukan ini kepada kalian, dan tidak akan mengirim kalian dalam keadaan seperti ini.”

Abu Mikhnaf meriwayatkan dari al-Harits bin Ka’b, dari Fathimah binti Ali, ia berkata: Ketika kami didudukkan di hadapan Yazid, ia bersimpati kepada kami dan memerintahkan untuk kami sesuatu dan memperlakukan kami dengan baik. Kemudian seorang laki-laki dari Syam yang berkulit merah bangkit menghadap Yazid dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin, berikanlah aku ini.” Maksudnya aku, dan aku adalah seorang budak perempuan yang cantik. Maka aku gemetar ketakutan dari perkataannya, dan aku mengira bahwa itu diperbolehkan bagi mereka. Aku memegang pakaian kakakku Zainab, dan ia lebih tua dariku dan lebih berakal, dan ia tahu bahwa itu tidak diperbolehkan. Maka ia berkata kepada laki-laki itu: “Engkau telah berdusta demi Allah dan jahat. Itu bukan untukmu dan bukan pula untuknya.” Yazid pun marah dan berkata kepadanya: “Engkau yang berdusta, demi Allah itu untukku, dan jika aku menghendaki untuk melakukannya pasti akan kulakukan.” Ia berkata: “Tidak sama sekali demi Allah, Allah tidak menjadikan itu untukmu, kecuali jika engkau keluar dari agama kami dan beragama dengan agama lain.” Ia berkata: Maka Yazid marah dan murka, lalu berkata: “Engkau menghadapiku dengan ini? Yang keluar dari agama adalah ayahmu dan saudaramu.” Maka Zainab berkata: “Dengan agama Allah, agama ayahku, agama saudaraku dan kakekku, engkau mendapat petunjuk, ayahmu dan kakekmu.” Ia berkata: “Engkau berdusta wahai musuh Allah.” Ia berkata: “Engkau adalah penguasa yang berkuasa, mencerca dengan zalim dan memaksa dengan kekuasaanmu.” Ia berkata: “Demi Allah, seolah-olah ia malu lalu diam. Kemudian orang Syam itu berdiri dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin, berikanlah aku ini.” Maka Yazid berkata kepadanya: “Pergilah, semoga Allah memberimu kematian yang pasti.”

Kemudian Yazid memerintahkan an-Nu’man bin Basyir untuk mengutus bersama mereka ke Madinah seorang laki-laki terpercaya, bersamanya sejumlah laki-laki dan kuda, dan Ali bin al-Husain bersama mereka. Kemudian ia menempatkan para wanita di sisi keluarganya di istana kekhalifahan. Mereka disambut oleh para wanita keluarga Muawiyah yang menangisi dan meratapi Husain. Kemudian mereka mengadakan ratapan selama tiga hari. Yazid tidak makan siang dan tidak makan malam kecuali bersama Ali bin al-Husain dan Amr bin al-Hasan. Yazid berkata suatu hari kepada Amr, yang masih sangat kecil: “Apakah engkau mau berkelahi dengan ini?” Maksudnya putranya Khalid bin Yazid. Maka ia berkata: “Berikan aku pisau dan berikan dia pisau agar kami berkelahi.” Maka Yazid mengambilnya dan memeluknya, lalu berkata: “Ini sifat yang kukenal dari Akhzam. Tidakkah ular melahirkan kecuali ular?!”

Ketika Yazid melepas mereka, ia berkata kepada Ali bin al-Husain: “Semoga Allah melaknat Ibnu Marjanah. Demi Allah, seandainya aku yang menanganinya, apa pun yang ia minta pasti akan kuberikan kepadanya, dan akan kutolak kematian darinya dengan segala kemampuanku, meski dengan mengorbankan sebagian anakku, tetapi Allah telah menentukan apa yang engkau lihat.” Kemudian ia mempersiapkannya dan memberinya harta yang banyak, dan berkata kepadanya: “Kirimi aku surat untuk setiap keperluanmu.” Ia memberikan pakaian kepada mereka dan berwasiat kepada utusan tersebut. Utusan yang dikirim bersama mereka berjalan terpisah dari mereka di jalan, dan menjauh dari mereka sejauh pandangan matanya dapat menjangkau mereka, sementara ia tetap melayani mereka hingga mereka sampai di Madinah. Mereka mengumpulkan sebagian perhiasan mereka lalu memberikannya kepada laki-laki itu, namun ia menolak menerimanya dan berkata: “Aku hanya melakukan itu karena Allah dan karena kekerabatan kalian dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.”

Dan ini menolak perkataan Rafidhah bahwa mereka diangkut sebagai tawanan telanjang di atas punggung unta. Hingga dustalah orang yang mengklaim bahwa unta-unta berpunuk (Bakhti) tumbuh punuknya sejak hari itu untuk menutupi aurat mereka.

Ibnu Ziyad menulis kepada Amr bin Sa’id, penguasa Haramain, memberinya kabar gembira tentang terbunuhnya Husain. Maka ia memerintahkan penyeru untuk mengumumkannya di Madinah. Ketika para wanita Bani Hasyim mendengarnya, suara-suara mereka meninggi dengan tangisan dan ratapan. Maka Amr bin Sa’id berkata: “Ini sebagai balasan tangisan para wanita Utsman bin Affan.”

Abu Ja’far bin Jarir ath-Thabari berkata dalam Tarikhnya: Zakariya bin Yahya adh-Dharir menceritakan kepadaku, Ahmad bin Janab al-Maishishi menceritakan kepada kami, Khalid bin Yazid bin Abdullah al-Qasri menceritakan kepada kami, Ammar ad-Dahni menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Ja’far: Ceritakan kepadaku tentang pembunuhan Husain seolah-olah aku menyaksikannya. Maka ia berkata: Husain datang dengan surat Muslimbbin Aqil yang ditulisnya kepadanya memerintahkannya untuk datang kepadanya. Ketika ia berada tiga mil dari Qadisiyah, al-Hurr bin Yazid at-Tamimi menemuinya dan berkata kepadanya: “Mau ke mana engkau?” Ia berkata: “Aku menuju kota ini.” Al-Hurr berkata kepadanya: “Kembalilah, karena aku tidak meninggalkan kebaikan untukmu di belakangku yang kuharapkan.” Husain bermaksud kembali. Bersama dia ada saudara-saudara Muslim bin Aqil, mereka berkata: “Demi Allah kami tidak akan kembali hingga kami balas dendam kepada orang yang membunuh saudara kami atau kami terbunuh.” Maka ia berkata: “Tidak ada kebaikan dalam hidup setelah kalian.” Maka ia melanjutkan perjalanan dan bertemu pasukan depan Ibnu Ziyad. Ketika ia melihat itu, ia kembali ke Karbala, ia menyandarkan punggungnya pada semak-semak dan rawa-rawa agar tidak berperang kecuali dari satu arah. Ia turun dan memasang tendanya. Para sahabatnya berjumlah empat puluh lima penunggang kuda dan seratus pejalan kaki. Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash telah diangkat oleh Ibnu Ziyad sebagai gubernur ar-Rayy, dan memberikan perjanjian kepadanya. Ia berkata: “Tangani orang ini untukku.” Ia berkata: “Bebaskan aku.” Tapi ia menolak membebaskannya. Maka ia berkata: “Beri aku waktu malam ini.” Ia memberinya waktu untuk memikirkan urusannya. Ketika pagi, ia datang kepadanya dengan rela atas apa yang diperintahkan. Maka ia pergi ke arahnya. Ketika Umar bin Sa’d datang, Husain berkata kepadanya: “Pilihlah salah satu dari tiga; biarkan aku kembali dari mana aku datang, atau biarkan aku pergi kepada Yazid, atau biarkan aku bergabung dengan perbatasan.” Umar menerimanya. Maka Ubaidullah bin Ziyad menulis kepadanya: Tidak dan tidak akan ada kehormatan hingga ia meletakkan tangannya di tanganku. Maka Husain berkata: “Tidak, demi Allah, hal itu tidak akan terjadi selamanya.” Maka ia memeranginya, dan terbunuhlah semua sahabat Husain, dan di antara mereka sekitar belasan pemuda dari keluarganya. Sebuah anak panah mengenainya dan mengenai putranya yang ada di pangkuannya. Maka ia mulai mengusap darah darinya sambil berkata: “Ya Allah, putuskanlah antara kami dengan kaum yang memanggil kami untuk menolong kami, lalu membunuh kami.” Kemudian ia memerintahkan sebuah kain sutra yang dirobek, lalu memakainya dan keluar dengan pedangnya, bertempur hingga terbunuh. Ia dibunuh oleh seorang laki-laki dari Madzhaj, yang memenggal kepalanya lalu membawanya kepada Ubaidullah, dan ia mengatakan dalam hal itu:

Aku muati pelananku dengan perak dan emas, karena aku telah membunuh raja yang terlindung

Aku membunuh manusia terbaik ibu dan ayahnya, dan yang terbaik jika dinisbatkan nasabnya

Ia berkata: Maka ia mengutinya kepada Yazid bin Muawiyah. Ia meletakkan kepalanya di hadapannya, dan di sisinya Abu Barzah al-Aslami. Maka Yazid mulai menusuk-nusukkan tongkat ke mulutnya sambil berkata:

Mereka membelah kepala para pejuang mulia dari kami, sedang mereka lebih durhaka dan lebih zalim

Maka Abu Barzah berkata kepadanya: “Angkat tongkatmu, demi Allah, sungguh aku telah melihat mulut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di atas mulutnya, menciumnya.” Ia berkata: Umar bin Sa’d mengirim kerabat dan keluarganya kepada Ubaidullah. Tidak ada yang tersisa dari keluarga Husain kecuali seorang pemuda yang sakit bersama para wanita. Ibnu Ziyad memerintahkan untuk membunuhnya. Maka Zainab melemparkan dirinya ke atasnya dan berkata: “Demi Allah, ia tidak akan dibunuh hingga kalian membunuhku!” Maka ia iba kepadanya dan meninggalkannya, berhenti darinya. Ia berkata: Ia mempersiapkan mereka dan mengangkut mereka kepada Yazid. Ketika mereka tiba di hadapannya, ia mengumpulkan orang-orang yang ada di sisinya dari penduduk Syam, kemudian mereka dimasukkan dan mereka memberinya selamat atas kemenangan. Seorang laki-laki dari mereka yang berkulit merah kebiruan, melihat kepada seorang budak dari putri-putri mereka dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin, berikanlah aku ini.” Maka Zainab berkata: “Tidak demi Allah dan tidak ada kehormatan untukmu dan untuknya, kecuali jika ia keluar dari agama Allah.” Ia berkata: Maka orang Syam yang kebiruan itu mengulanginya. Maka Yazid berkata kepadanya: “Hentikanlah ini.” Kemudian ia memasukkan mereka ke keluarganya, lalu mempersiapkan mereka dan mengangkut mereka ke Madinah. Ketika mereka masuk ke sana, keluarlah seorang wanita dari Bani Abdul Muththalib, terurai rambutnya, meletakkan lengan bajunya di atas kepalanya, menyambut mereka sambil menangis dan berkata:

Apa yang akan kalian katakan jika Nabi berkata kepada kalian, apa yang kalian lakukan dan kalian adalah umat terakhir

Terhadap keluargaku dan keluargaku setelah aku pergi, di antara mereka ada yang ditawan dan yang terbunuh berlumuran darah

Bukankah ini balasanku ketika aku menasihati kalian, bahwa kalian menggantikanku dengan kejahatan terhadap kerabatku

Abu Mikhnaf meriwayatkan dari Sulaiman bin Abi Rasyid, dari Abdurrahman bin Ubaid Abu al-Kunud, bahwa putri Aqil adalah yang mengatakan syair ini. Demikian juga Zubair bin Bakkar menceritakan bahwa Zainab ash-Shughra binti Aqil bin Abi Thalib adalah yang mengatakannya ketika keluarga Husain masuk Madinah an-Nabawiyah.

Abu Bakar bin al-Anbari meriwayatkan dengan sanadnya, bahwa Zainab binti Ali bin Abi Thalib dari Fathimah, dan ia istri Abdullah bin Ja’far ibu anak-anaknya, mengangkat tirai tendanya pada hari Karbala, hari terbunuhnya Husain, dan mengucapkan bait-bait ini. Maka Allah Yang Maha Mengetahui.

Hisyam bin al-Kalbi berkata: Sebagian sahabat kami menceritakan kepadaku dari Amr bin Abi al-Miqdam, ia berkata: Umar bin Ikrimah menceritakan kepadaku, ia berkata: Kami bangun pagi setelah terbunuhnya Husain di Madinah, tiba-tiba ada budak perempuan kami menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar tadi malam seorang penyeru berseru dan ia berkata:

Wahai para pembunuh Husain dengan bodoh, bergembiralah dengan azab dan kehancuran

Semua penghuni langit mendoakan celaka atas kalian, dari nabi, malaikat dan kaum

Kalian telah dilaknat di lidah Ibnu Daud, Musa dan pembawa Injil

Hisyam berkata: Amr bin Haizum al-Kalbi menceritakan kepadaku dari ibunya, ia berkata: Aku mendengar suara ini.

Dan di antara syair yang dibawakan oleh Hakim Abu Abdullah An-Naisaburi dan yang lainnya dari sebagian ulama terdahulu tentang terbunuhnya Husain:

Mereka datang membawa kepalamu wahai cucu Muhammad … yang berlumuran darahnya dengan penuh Seakan-akan dengan membunuhmu wahai cucu Muhammad … mereka telah membunuh Rasul secara terang-terangan dengan sengaja Mereka membunuhmu dalam keadaan kehausan dan mereka tidak mempertimbangkan … dalam membunuhmu Al-Quran dan takwilnya Dan mereka bertakbir karena membunuhmu, padahal sesungguhnya … dengan membunuhmu mereka telah membunuh takbir dan tahlil

Bab: Berita tentang Terbunuhnya Husain bin Ali semoga Allah meridhai keduanya

Terbunuhnya Husain semoga Allah meridhai dia, terjadi pada hari Jumat – menurut Al-Laits dan Abu Nuaim: hari Sabtu – pada hari Asyura bulan Muharam tahun enam puluh satu. Menurut Hisyam bin Al-Kalbi: tahun enam puluh dua. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Ali bin Al-Madini. Menurut Ibnu Lahi’ah: tahun enam puluh dua atau enam puluh tiga. Menurut yang lain: tahun enam puluh. Dan pendapat pertama adalah yang benar, di sebuah tempat yang disebut At-Taff di Karbala dari tanah Irak, dan usianya pada saat itu lima puluh delapan tahun atau sekitar itu, dan Abu Nuaim keliru dalam pernyataannya: bahwa dia terbunuh pada usia enam puluh lima atau enam puluh enam tahun.

Imam Ahmad berkata: Abdul Shamad bin Hasan menceritakan kepada kami, Umarah yaitu Ibnu Zadzan menceritakan kepada kami, dari Tsabit, dari Anas dia berkata: Malaikat hujan meminta izin untuk menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu diberi izin, maka dia berkata kepada Ummu Salamah: “Jaga pintu kami, jangan sampai ada yang masuk”. Lalu datanglah Husain bin Ali dan melompat hingga masuk, kemudian naik ke pundak Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka malaikat itu berkata kepadanya: Apakah engkau mencintainya? Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Ya”. Dia berkata: Sesungguhnya umatmu akan membunuhnya, dan jika engkau mau aku tunjukkan tempat di mana dia akan terbunuh. Dia berkata: Lalu dia menepukkan tangannya, dan menunjukkan kepadanya tanah yang berwarna merah, maka Ummu Salamah mengambil tanah itu, dan membungkusnya dengan ujung kainnya. Dia berkata: Dan kami mendengar: dia akan terbunuh di Karbala.

Imam Ahmad berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, Abdullah bin Sa’id menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Aisyah atau Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada salah satu dari keduanya: “Sungguh telah masuk ke rumahku seorang malaikat yang belum pernah masuk sebelumnya, lalu dia berkata kepadaku: Sesungguhnya anakmu Husain ini akan terbunuh, dan jika engkau mau aku tunjukkan tanah di mana dia akan terbunuh”. Dia berkata: “Lalu dia mengeluarkan tanah berwarna merah”. Dan hadits ini telah diriwayatkan dari beberapa jalan, dari Ummu Salamah. Dan Ath-Thabrani meriwayatkannya dari Abu Umamah, dan di dalamnya terdapat kisah Ummu Salamah. Dan Muhammad bin Sa’d meriwayatkannya dari Aisyah dengan cara yang mirip dengan riwayat Ummu Salamah. Wallahu a’lam (Allah lebih mengetahui). Dan itu diriwayatkan dari hadits Zainab binti Jahsy dan Lubabah Ummu Al-Fadhl istri Abbas. Dan lebih dari satu orang dari kalangan Tabi’in meriwayatkannya secara mursal.

Abu Al-Qasim Al-Baghawi berkata: Muhammad bin Harun Abu Bakar menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Muhammad Ar-Riqqi dan Ali bin Al-Husain Ar-Razi menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Sa’id bin Abdul Malik bin Waqid Al-Harrani menceritakan kepada kami, Atha’ bin Muslim menceritakan kepada kami, Asy’ats bin Suhaim menceritakan kepada kami, dari ayahnya dia berkata: Aku mendengar Anas bin Al-Harits berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya anakku ini – maksudnya Husain – akan terbunuh di sebuah tanah yang disebut: Karbala. Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan itu hendaklah menolongnya”. Dia berkata: Maka Anas bin Al-Harits keluar menuju Karbala dan terbunuh bersama Husain. Kemudian dia berkata: Dan aku tidak tahu ada yang meriwayatkannya selain dia.

Imam Ahmad berkata: Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami, Syurahbil bin Mudrik menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Nujai, dari ayahnya, bahwa dia berjalan bersama Ali – dan dia adalah pembantu yang membawa tempat wudhu Ali – maka ketika melewati Ninawa dalam perjalanannya menuju Shiffin, Ali berseru: Bersabarlah wahai Abu Abdillah, bersabarlah wahai Abu Abdillah di tepi sungai Furat. Aku bertanya: Apa itu? Dia berkata: Aku masuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam suatu hari dan kedua matanya meneteskan air mata, maka aku berkata: Wahai Nabi Allah, apakah ada yang membuatmu marah? Dan mengapa kedua matamu meneteskan air mata? Dia berkata: “Tidak, tetapi Jibril baru saja meninggalkanku, lalu menceritakan kepadaku bahwa Husain akan terbunuh di tepi sungai Furat”. Dia berkata: “Lalu dia berkata: Apakah engkau mau aku perlihatkan tanah dari tempatnya? Aku menjawab: Ya. Maka dia mengulurkan tangannya, lalu menggenggam segenggam tanah dan memberikannya kepadaku, maka aku tidak dapat menahan mataku hingga meneteskan air mata”. Hanya Ahmad yang meriwayatkannya. Dan Muhammad bin Sa’d meriwayatkan dari Ali bin Muhammad, dari Yahya bin Zakariya, dari seorang laki-laki, dari Amir Asy-Sya’bi, dari Ali seperti itu.

Muhammad bin Sa’d dan yang lainnya telah meriwayatkan dari beberapa jalan, dari Ali bin Abi Thalib, bahwa dia melewati Karbala, di dekat pohon-pohon hanzhal (sejenis tanaman), ketika dia pergi ke Shiffin, lalu dia bertanya tentang namanya, maka dikatakan: Karbala. Maka dia berkata: Kesusahan dan cobaan. Lalu dia turun dan shalat di bawah sebuah pohon di sana, kemudian berkata: Di sini akan terbunuh para syuhada yang merupakan sebaik-baik syuhada selain para Sahabat, mereka masuk surga tanpa hisab. Dan dia menunjuk ke sebuah tempat di sana, lalu mereka menandainya dengan sesuatu, dan di sanalah Husain semoga Allah meridhai dia terbunuh.

Telah diriwayatkan dari Ka’ab Al-Ahbar beberapa riwayat tentang Karbala. Abu Al-Janab Al-Kalbi dan yang lainnya menceritakan bahwa penduduk Karbala senantiasa mendengar ratapan jin atas Husain semoga Allah meridhai dia, dan mereka (jin-jin perempuan) mengatakan:

Rasul mengusap dahinya … maka ada cahaya di pipinya Kedua orang tuanya dari keturunan Quraisy yang mulia … kakeknya adalah sebaik-baik kakek

Dan sebagian orang menjawab mereka dengan berkata:

Mereka membawanya keluar sebagai utusan kepada-Nya … lalu mereka menjadi seburuk-buruk utusan Mereka membunuh cucu nabi mereka … mereka akan tinggal di neraka yang kekal

Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa sekelompok orang pergi berperang ke negeri Romawi, lalu mereka menemukan di sebuah gereja tertulis:

Apakah mengharapkan umat yang membunuh Husain … syafaat kakeknya di hari penghitungan

Maka mereka bertanya kepada mereka: Siapa yang menulis ini? Mereka berkata: Sesungguhnya ini telah tertulis di sini sebelum diutusnya nabi kalian tiga ratus tahun.

Dan diriwayatkan bahwa orang-orang yang membunuhnya kembali, lalu bermalam sambil meminum khamar, dan kepala Husain bersama mereka, lalu muncullah bagi mereka sebuah pena dari besi, lalu menulis untuk mereka di dinding dengan darah bait ini:

Apakah mengharapkan umat yang membunuh Husain … syafaat kakeknya di hari penghitungan

Imam Ahmad berkata: Abdurrahman dan Affan menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ammar bin Abi Ammar, dari Ibnu Abbas dia berkata: Aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi pada pertengahan siang dalam keadaan kusut dan berdebu, bersamanya botol yang berisi darah, maka aku berkata: Demi ayah dan ibuku untukmu wahai Rasulullah, apa ini? Dia berkata: “Ini adalah darah Husain dan para sahabatnya, aku terus mengumpulkannya sejak hari ini”. Ammar berkata: Maka kami menghitung hari itu dan mendapati bahwa dia terbunuh pada hari itu. Hanya Ahmad yang meriwayatkannya, dan sanadnya kuat.

Ibnu Abi Ad-Dunya berkata: Abdullah bin Muhammad bin Hani Abu Abdurrahman An-Nahwi menceritakan kepada kami, Ma’di bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Ali bin Zaid bin Jud’an menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Abbas terbangun dari tidurnya lalu mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan berkata: Husain terbunuh demi Allah. Maka para sahabatnya berkata kepadanya: Tidak wahai Ibnu Abbas, tidak! Dia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bersamanya botol darah, lalu dia berkata: “Tidakkah engkau tahu apa yang dilakukan umatku sepeninggalku? Mereka membunuh anakku Husain, dan ini darahnya dan darah para sahabatnya yang aku angkat kepada Allah”. Dia berkata: Maka hari yang dia katakan itu dan waktunya dicatat, dan tidak berlalu kecuali dua puluh empat hari hingga datang kepada mereka kabar di Madinah bahwa dia terbunuh pada hari itu dan waktu itu.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Asyajj, dari Abu Khalid Al-Ahmar, dari Razin, dari Salma dia berkata: Aku masuk menemui Ummu Salamah dan dia menangis, maka aku berkata: Apa yang membuatmu menangis? Maka dia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi dan di kepala serta janggutnya ada tanah, maka aku berkata: Kenapa dengan Anda wahai Rasulullah? Dia berkata: “Aku menyaksikan terbunuhnya Husain tadi”.

Muhammad bin Sa’d berkata: Muhammad bin Abdullah Al-Anshari mengabarkan kepada kami, Qurrah bin Khalid mengabarkan kepada kami, Amir bin Abdul Wahid mengabarkan kepadaku, dari Syahr bin Hausyab dia berkata: Kami berada di rumah Ummu Salamah istri Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu kami mendengar perempuan yang berteriak, dia datang hingga sampai kepada Ummu Salamah, lalu berkata: Husain terbunuh. Maka dia berkata: Sungguh mereka telah melakukannya, semoga Allah memenuhi kubur mereka – atau rumah-rumah mereka – dengan api atas mereka. Dan dia jatuh pingsan, dan kami berdiri.

Imam Ahmad berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ammar dia berkata: Aku mendengar Ummu Salamah berkata: Aku mendengar jin menangisi Husain, dan aku mendengar jin meratapi Husain.

Al-Husain bin Idris meriwayatkannya dari Hasyim bin Hasyim, dari ibunya, dari Ummu Salamah dia berkata: Aku mendengar jin meratapi Husain, dan mereka (jin-jin perempuan) mengatakan:

Wahai para pembunuh Husain secara zalim … bergembiralah dengan azab dan siksaan Semua penghuni langit berdoa untuk celaka kalian … dari nabi dan rasul serta qabil (malaikat) Kalian telah dilaknat di lidah putra Daud … dan Musa dan pemilik Injil

Dan telah diriwayatkan dari jalan lain, dari Ummu Salamah dengan syair lain selain ini. Wallahu a’lam.

Al-Khathib berkata: Ahmad bin Utsman bin Mayyah As-Sukri mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syaddad Al-Musma’i menceritakan kepada kami, Abu Nuaim menceritakan kepada kami, Abdullah bin Habib bin Abi Tsabit menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas dia berkata: Allah Ta’ala mewahyukan kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Aku telah membunuh karena Yahya bin Zakariya tujuh puluh ribu orang, dan Aku akan membunuh karena cucu anak perempuanmu tujuh puluh ribu dan tujuh puluh ribu”. Ini adalah hadits yang sangat gharib (asing), dan Al-Hakim telah meriwayatkannya dalam kitab Mustadrak-nya. Ath-Thabrani menyebutkan di sini beberapa riwayat yang sangat gharib.

Sungguh kaum Syiah berlebih-lebihan pada hari Asyura, mereka membuat banyak hadits palsu dan kebohongan yang keterlaluan; seperti matahari mengalami gerhana pada hari itu hingga bintang-bintang terlihat, dan tidak ada batu yang diangkat pada hari itu kecuali ditemukan darah di bawahnya, dan cakrawala langit menjadi merah, dan matahari terbit dengan sinarnya seakan-akan darah, dan langit menjadi seperti segumpal darah, dan bintang-bintang saling bertabrakan, dan langit menurunkan hujan darah merah, dan warna merah tidak pernah ada di langit sebelum hari itu. Ibnu Lahi’ah meriwayatkan dari Abu Qabil Al-Ma’afiri, bahwa matahari mengalami gerhana pada hari itu hingga bintang-bintang terlihat pada waktu zhuhur. Dan bahwa kepala Husain ketika mereka membawanya masuk istana pemerintahan, dinding-dinding mulai mengalirkan darah. Dan bumi menjadi gelap selama tiga hari. Dan tidak ada za’faran atau wars (pewarna kuning) yang ada bersamanya pada hari itu kecuali terbakar siapa yang menyentuhnya. Dan tidak ada batu yang diangkat dari batu-batu Baitul Maqdis kecuali muncul di bawahnya darah segar. Dan unta-unta yang mereka rampas dari unta Husain ketika mereka memasaknya, dagingnya menjadi seperti hanzhal yang pahit. Dan lain-lain kebohongan dan hadits-hadits palsu yang tidak ada yang benar di antaranya.

Adapun yang diriwayatkan tentang berbagai kejadian dan fitnah yang menimpa orang-orang yang membunuhnya, kebanyakannya benar; karena jarang di antara mereka yang selamat di dunia kecuali terkena penyakit, dan kebanyakan mereka terkena kegilaan.

Kaum Syiah dan Rafidhah memiliki banyak kebohongan dan berita-berita panjang tentang cara terbunuhnya Husain semoga Allah meridhai dia, dan dalam apa yang kami sebutkan sudah cukup, dan pada sebagian yang kami kemukakan ada keraguan, dan seandainya bukan karena Ibnu Jarir dan para huffazh imam lainnya menyebutkannya, kami tidak akan menukilnya, dan kebanyakannya dari riwayat Abu Mikhnaf Luth bin Yahya, dan dia memang seorang Syiah, dan dia dha’if (lemah) dalam hadits menurut para imam, tetapi dia adalah seorang akhbari (ahli sejarah) yang hafal, di sisinya terdapat hal-hal yang tidak ada pada yang lainnya, dan karena itu banyak penyusun kitab setelahnya mengutip darinya. Wallahu a’lam.

Kaum Rafidhah sangat berlebih-lebihan pada masa Dinasti Bani Buwaih sekitar tahun empat ratus dan sekitarnya, ada kendang-kendang yang dipukul di Baghdad dan kota-kota lain pada hari Asyura, dan abu dan jerami ditaburkan di jalan-jalan dan pasar-pasar, dan goni-goni digantung di toko-toko, dan orang-orang menampakkan kesedihan dan tangisan, dan banyak dari mereka tidak minum air pada malam itu untuk menyerupai Husain, karena dia terbunuh dalam keadaan kehausan, kemudian keluarlah para wanita dengan wajah terbuka meratap dan menampar wajah dan dada mereka, tanpa alas kaki di pasar-pasar, dan lain-lain bid’ah yang buruk, hawa nafsu yang mengerikan, dan hal-hal menjijikkan yang dibuat-buat, dan mereka hanya menginginkan dengan ini dan sejenisnya untuk mencemarkan Dinasti Bani Umayyah; karena dia terbunuh pada masa mereka.

Kaum Rafidhah dan Syiah telah melakukan tindakan yang berlawanan dengan kaum Nawashib dari penduduk Syam pada hari Asyura. Kaum Nawashib pada hari Asyura memasak biji-bijian, mandi, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian mereka yang paling mewah. Mereka menjadikan hari itu sebagai hari raya, membuat berbagai macam makanan, dan menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan. Mereka bermaksud dengan hal itu untuk menentang kaum Rawafidhh dan berlawanan dengan mereka.

Para pembunuhnya telah menafsirkan bahwa ia datang untuk memecah belah persatuan kaum muslimin setelah bersatu, dan untuk mencabut baiat yang telah diberikan orang-orang kepadanya dan yang telah mereka sepakati. Telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits tentang larangan terhadap hal itu, peringatan darinya, dan ancaman atasnya. Dengan asumsi bahwa sekelompok orang bodoh telah menafsirkannya dan membunuhnya, padahal mereka tidak berhak membunuhnya, bahkan seharusnya mereka memenuhi permintaannya tentang tiga pilihan yang telah disebutkan sebelumnya. Jika suatu kelompok tiran tercela, bukan berarti seluruh umat tercela dan dituduh mengkhianati Nabi shallallahu alaihi wasallam mereka. Maka keadaannya tidak seperti yang mereka pahami dan tidak seperti yang mereka lakukan. Bahkan mayoritas umat dari dulu hingga sekarang membenci apa yang terjadi berupa pembunuhan terhadapnya dan pembunuhan terhadap para sahabatnya, kecuali sekelompok kecil dari penduduk Kufah, semoga Allah membinasakan mereka. Kebanyakan dari mereka telah berkirim surat kepadanya untuk mencapai kepentingan dan tujuan mereka yang rusak. Ketika Ibnu Ziyad mengetahui hal itu dari mereka, ia memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan dari dunia, dan mengambil sikap terhadap hal itu, serta mendorong mereka dengan ketertarikan dan ketakutan. Maka mereka berpaling dari Husain, mengkhianatinya, kemudian membunuhnya. Tidak semua pasukan itu ridha dengan apa yang terjadi berupa pembunuhannya, bahkan Yazid bin Muawiyah pun tidak ridha dengan hal itu—wallahu a’lam—dan tidak pula membencinya. Yang hampir pasti menurut dugaan kuat adalah bahwa Yazid seandainya mampu menguasainya sebelum dibunuh, niscaya akan memaafkannya, sebagaimana wasiat ayahnya kepadanya tentang hal itu, dan sebagaimana ia sendiri menyatakan hal itu dengan memberitahukan tentang dirinya.

Ia telah melaknat Ibnu Ziyad atas perbuatannya itu dan mencacinya dalam hal yang tampak dan terlihat, tetapi ia tidak memecatnya atas hal itu, tidak menghukumnya, dan tidak mengirim seseorang untuk mencela perbuatannya. Wallahu a’lam. Maka setiap muslim sepatutnya bersedih dengan apa yang terjadi berupa pembunuhannya, radhiyallahu anhu, karena ia termasuk para pemimpin kaum muslimin, ulama di kalangan sahabat, dan cucu putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan putri beliau yang paling utama. Ia adalah seorang yang ahli ibadah, pemberani, dan dermawan. Namun tidak baik apa yang dilakukan kaum Syiah berupa menampakkan kesedihan dan kedukaan yang mungkin sebagian besarnya adalah pura-pura dan riya. Padahal ayahnya lebih utama darinya, tetapi mereka tidak menjadikan pembunuhannya sebagai peringatan duka seperti hari pembunuhan Husain. Sesungguhnya ayahnya dibunuh pada hari Jumat ketika keluar untuk shalat Subuh pada tanggal tujuh belas Ramadhan tahun empat puluh. Demikian pula Utsman lebih utama dari Ali menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ia dibunuh ketika terkepung di rumahnya pada hari-hari Tasyriq bulan Dzulhijjah tahun tiga puluh enam. Ia disembelih dari pembuluh darah ke pembuluh darah yang lain, namun orang-orang tidak menjadikan hari pembunuhannya sebagai hari berkabung. Demikian pula Umar bin Khaththab, ia lebih utama dari Utsman dan Ali. Ia dibunuh ketika sedang berdiri shalat di mihrab pada shalat Subuh sambil membaca Alquran, namun orang-orang tidak menjadikan hari pembunuhannya sebagai hari berkabung. Demikian pula Ash-Shiddiq (Abu Bakar) lebih utama darinya, namun orang-orang tidak menjadikan hari wafatnya sebagai hari berkabung. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah penghulu anak Adam di dunia dan akhirat. Allah telah mewafatkannya sebagaimana para nabi sebelumnya wafat, namun tidak ada seorang pun yang menjadikan hari wafatnya sebagai hari berkabung untuk melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dari kaum Rafidhah pada hari terbunuhnya Husain. Tidak ada seorang pun yang menyebutkan bahwa pada hari wafat mereka dan sebelum mereka muncul sesuatu seperti yang didakwakan oleh orang-orang ini pada hari terbunuhnya Husain dari perkara-perkara yang disebutkan sebelumnya, seperti gerhana matahari, kemerahan yang terbit di langit, dan lain sebagainya.

Sebaik-baik ucapan ketika menyebut musibah-musibah ini dan yang serupa dengannya adalah apa yang diriwayatkan oleh Husain bin Ali dari kakeknya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang ditimpa musibah lalu ia mengingatnya meskipun sudah lama, kemudian ia mengucapkan istirja’ karenanya, melainkan Allah memberikan kepadanya pahala seperti pada hari ia ditimpa musibah itu.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah.

Adapun makam Husain radhiyallahu anhu

Telah masyhur di kalangan mayoritas ulama mutaakhirin bahwa makamnya berada di Masyhadul Ali di suatu tempat dari Thaff dekat sungai Karbala. Dikatakan bahwa masyhadul tersebut dibangun di atas makamnya. Wallahu a’lam. Ibnu Jarir dan yang lainnya telah menyebutkan bahwa tempat terbunuhnya telah hilang jejaknya, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menentukan lokasinya dengan pasti melalui kabar. Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain mengingkari siapa saja yang mengklaim bahwa ia mengetahui makam Husain radhiyallahu anhu.

Hisyam bin Al-Kalbi menyebutkan bahwa ketika air dialirkan di atas makam Husain untuk menghapus jejaknya, air itu mengering setelah empat puluh hari. Lalu datanglah seorang badui dari Bani Asad, ia mengambil segenggam demi segenggam tanah dan menciumnya hingga ia menemukan makam Husain. Ia pun menangis dan berkata: “Demi ayah dan ibuku, betapa harum engkau dan betapa harum tanahmu!” Kemudian ia membacakan syair:

Mereka ingin menyembunyikan makamnya dari musuhnya Namun harumnya tanah makam menunjukkan kepada makam itu

Adapun kepalanya radhiyallahu anhu

Yang masyhur di kalangan ahli sejarah dan ulama sirah adalah bahwa Ibnu Ziyad mengirimkannya kepada Yazid bin Muawiyah. Sebagian orang mengingkari hal itu, namun menurutku yang pertama lebih masyhur. Wallahu a’lam.

Kemudian mereka berselisih setelah itu tentang tempat di mana kepala itu dikuburkan. Muhammad bin Sa’d meriwayatkan bahwa Yazid mengirim kepala Husain kepada Amru bin Sa’id, penguasa Madinah, lalu ia menguburkannya di sisi ibunya di Baqi’.

Ibnu Abid Dunya menyebutkan dari jalur Utsman bin Abdurrahman, dari Muhammad bin Umar bin Shalih—keduanya dhaif—bahwa kepala itu tetap berada di khazanah Yazid bin Muawiyah hingga ia wafat. Lalu diambil dari khazanahnya, dikafani, dan dikuburkan di dalam Bab Al-Faradis dari kota Damaskus. Penulis berkata: Tempatnya dikenal dengan Masjid Ar-Ra’s hari ini di dalam Bab Al-Faradis yang kedua.

Al-Hafizh Ibnu Asakir menyebutkan dalam taarikhnya dalam biografi Riya, pengasuh Yazid bin Muawiyah, bahwa ketika kepala Husain diletakkan di hadapan Yazid, ia membacakan syair Ibnu Az-Ziba’ra, yaitu ucapannya:

Seandainya para pemuka kami menyaksikan di Badar Kepanikan Khazraj dari hantaman tombak

Dia (Riya) berkata: Kemudian ia memamerkannya di Damaskus selama tiga hari, lalu meletakkannya di khazanah senjata, hingga pada masa Sulaiman bin Abdul Malik didatangkan kepadanya, dan kepala itu sudah menjadi tulang putih. Ia mengafaninya, membakarnya, menshalatkannya, dan menguburkannya di pekuburan kaum muslimin. Ketika datang Al-Musawwidah—yaitu Bani Abbas—mereka menggali kepala Husain dan membawanya bersama mereka. Ibnu Asakir menyebutkan bahwa wanita ini hidup setelah masa Bani Umayyah dan telah melampaui usia seratus tahun. Wallahu a’lam. Kelompok yang bernama Fathimiyyun, yang menguasai negeri Mesir sebelum tahun empat ratus hingga setelah tahun enam puluh dan enam ratus, mengklaim bahwa kepala Husain sampai ke negeri Mesir, dan mereka menguburkannya di sana serta membangun di atasnya masyhadul yang masyhur di Mesir, yang disebut: Taj Al-Husain, setelah tahun lima ratus. Lebih dari satu imam ahli ilmu telah menegaskan bahwa hal itu tidak memiliki dasar, dan mereka hanya bermaksud mempromosikan kebatilan apa yang mereka klaim dari nasab syarif, padahal dalam hal itu mereka adalah pendusta dan pengkhianat. Hal ini telah ditegaskan oleh Al-Qadhi Al-Baqillani dan lebih dari satu imam ulama pada masa pemerintahan mereka sekitar tahun empat ratus, sebagaimana akan kami jelaskan semuanya jika sampai kepadanya pada tempatnya insya Allah ta’ala.

Pasal tentang keutamaan-keutamaannya

Al-Bukhari meriwayatkan dari hadits Syu’bah dan Mahdi bin Maimun, dari Muhammad bin Abi Ya’qub, aku mendengar Ibnu Abi Nu’aim berkata: Aku mendengar Abdullah bin Umar, seorang laki-laki dari penduduk Irak bertanya kepadanya tentang orang yang berihram membunuh lalat. Maka ia berkata: Penduduk Irak bertanya tentang membunuh lalat, padahal mereka telah membunuh cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam! Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Keduanya adalah bungaku dari dunia”? Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Uqbah bin Mukrim, dari Wahb bin Jarir dari ayahnya, dari Muhammad bin Abi Ya’qub dengan sanad yang serupa, bahwa seorang laki-laki dari penduduk Irak bertanya kepada Ibnu Umar tentang darah nyamuk yang mengenai pakaian. Maka Ibnu Umar berkata: Lihatlah penduduk Irak, mereka bertanya tentang darah nyamuk, padahal mereka telah membunuh cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan ia menyebutkan seluruh hadits. Kemudian ia berkata: hasan shahih.

Imam Ahmad berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abul Jahhaf, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mencintai keduanya maka ia telah mencintaiku, dan barangsiapa membenci keduanya maka ia telah membenciku.” Maksudnya adalah Hasan dan Husain.

Imam Ahmad berkata: Tulaid bin Sulaiman, orang Kufah, menceritakan kepada kami, Abul Jahhaf menceritakan kepada kami, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam melihat Ali, Hasan, Husain, dan Fathimah, lalu bersabda: “Aku berperang terhadap siapa yang memerangi kalian, dan berdamai dengan siapa yang berdamai dengan kalian.” Keduanya hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Imam Ahmad berkata: Ibnu Numair menceritakan kepada kami, Hajjaj—yaitu Ibnu Dinar—menceritakan kepada kami, dari Ja’far bin Iyas, dari Abdurrahman bin Mas’ud, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar kepada kami, bersamanya Hasan dan Husain, yang satu di pundaknya, dan yang lain di pundaknya, dan beliau mencium yang satu kali dan yang lain kali, hingga beliau sampai kepada kami. Maka seorang laki-laki berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, demi Allah sungguh engkau mencintai keduanya. Maka beliau bersabda: “Barangsiapa mencintai keduanya maka ia telah mencintaiku, dan barangsiapa membenci keduanya maka ia telah membenciku.” Hanya diriwayatkan oleh Ahmad.

Al-Hafizh Abu Ya’la Al-Maushili berkata: Abu Sa’id Al-Asyaj menceritakan kepada kami, Uqbah bin Khalid menceritakan kepadaku, Yusuf bin Ibrahim At-Tamimi menceritakan kepadaku, bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya: Siapa di antara keluargamu yang paling engkau cintai? Beliau bersabda: “Hasan dan Husain.” Ia berkata: Dan beliau biasa bersabda: “Panggilkan kepadaku kedua cucuku.” Lalu beliau mencium dan memeluk keduanya. Demikian pula diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Sa’id Al-Asyaj dengannya, dan ia berkata: hasan gharib dari hadits Anas.

Imam Ahmad berkata: Aswad bin Amir dan Affan menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid bin Jud’an, dari Anas, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melewati rumah Fathimah selama enam bulan ketika beliau keluar untuk shalat Subuh, lalu bersabda: “Shalat wahai Ahlul Bait, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya. (Surat Al-Ahzab: 33). Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam tafsir dari Abdul bin Humaid, dari Affan dengannya, dan ia berkata: gharib, kami tidak mengenalnya kecuali dari hadits Hammad bin Salamah.

At-Tirmidzi berkata: Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami, dari Fudhail bin Marzuq, dari Adi bin Tsabit, dari Al-Bara’, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat Hasan dan Husain, lalu bersabda: “Ya Allah, aku mencintai keduanya maka cintailah keduanya.” Kemudian ia berkata: hasan shahih.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Zaid bin Al-Hubab, dari Al-Husain bin Waqid, dan Ahlus Sunan yang empat dari hadits Al-Husain bin Waqid, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang berkhutbah kepada kami, tiba-tiba datang Hasan dan Husain dengan mengenakan dua baju merah, berjalan dan tersandung. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam turun dari mimbar lalu menggendong keduanya, dan meletakkan keduanya di hadapannya, kemudian bersabda: “Allah berfirman benar: Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (Surat At-Taghabun: 15). Aku melihat kedua anak kecil ini berjalan dan tersandung, maka aku tidak sabar sehingga memotong pembicaraanku dan mengangkat keduanya.” Ini adalah lafazh At-Tirmidzi, dan ia berkata: gharib, kami tidak mengenalnya kecuali dari hadits Al-Husain bin Waqid.

Kemudian ia berkata: Al-Hasan bin Arafah menceritakan kepada kami, Isma’il bin Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Sa’id bin Rasyid, dari Ya’la bin Murrah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Husain dariku dan aku dari Husain, Allah mencintai siapa yang mencintai Husain, Husain adalah cucu dari cucu-cucu.” Kemudian At-Tirmidzi berkata: ini adalah hadits hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Affan, dari Wuhaib, dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dengannya. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Bakr bin Sahl, dari Abdullah bin Shalih, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Rasyid bin Sa’d, dari Ya’la bin Murrah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hasan dan Husain adalah dua cucu dari cucu-cucu.”

Imam Ahmad berkata: Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Abi Ziyad, dari Ibnu Abi Nu’aim, dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda ahli surga.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadits Sufyan Ats-Tsauri dan yang lainnya, dari Yazid bin Abi Ziyad, dan ia berkata: hasan shahih.

Abul Qasim Al-Baghawi meriwayatkannya dari Dawud bin Rasyid, dari Marwan Al-Fazari, dari Al-Hakam bin Abdurrahman bin Abi Nu’aim, dari ayahnya, dari Abu Sa’id, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda ahli surga, kecuali dua anak bibi, Yahya dan Isa alaihimassalam.” Dikeluarkan oleh An-Nasa’i dari hadits Marwan bin Mu’awiyah Al-Fazari dengannya. Diriwayatkan oleh Suwaid bin Sa’id, dari Muhammad bin Hazim, dari Al-A’masy, dari Athiyyah, dari Abu Sa’id.

Imam Ahmad berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Rabi’ bin Sa’d, dari Abu Sabit, ia berkata: Husain bin Ali masuk ke masjid, maka Jabir bin Abdullah berkata: “Barangsiapa ingin melihat pemimpin pemuda ahli surga maka lihatlah orang ini.” Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Hanya diriwayatkan oleh Ahmad.

At-Tirmidzi dan An-Nasa’i meriwayatkan dari hadits Isra’il, dari Maisarah bin Habib, dari Al-Minhal bin Amr, dari Zirr bin Hubaisy, dari Hudzaifah, bahwa ibunya mengutusnya agar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memintakan ampunan untuknya dan untuknya. Ia berkata: Maka aku mendatangi beliau dan shalat Maghrib bersamanya, kemudian beliau shalat hingga shalat Isya, kemudian beliau pergi dan aku mengikutinya. Beliau mendengar suaraku lalu bertanya: “Siapa ini? Hudzaifah?” Aku berkata: Ya. Beliau bersabda: “Apa keperluanmu? Semoga Allah mengampunimu dan ibumu. Sesungguhnya ini adalah malaikat yang belum pernah turun ke bumi sebelum malam ini, ia meminta izin kepada Tuhannya untuk memberi salam kepadaku dan memberi kabar gembira kepadaku bahwa Fathimah adalah pemimpin wanita ahli surga, dan bahwa Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda ahli surga.” Kemudian At-Tirmidzi berkata: ini adalah hadits hasan gharib, dan tidak dikenal kecuali dari hadits Isra’il. Telah diriwayatkan yang serupa dengan ini dari hadits Ali bin Abi Thalib, dari hadits Husain sendiri, Umar, anaknya Abdullah, Abdullah bin Abbas, Ibnu Mas’ud, Anas, dan yang lainnya, namun dalam semua sanadnya ada kelemahan, wallahu a’lam.

Abu Dawud Ath-Thayalisi berkata: Musa bin Muthir menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang Hasan dan Husain: “Barangsiapa mencintaiku maka hendaklah ia mencintai keduanya.”

Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud, telah menceritakan kepada kami Ismail, yaitu Ibnu Ja’far, telah mengabarkan kepadaku Muhammad, yaitu Ibnu Abi Harmalah, dari Atha’, bahwa seorang laki-laki mengabarkan kepadanya bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memeluk Hasan dan Husain dan bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.” Dan telah diriwayatkan dari Usamah bin Zaid dan Salman Al-Farisi sesuatu yang menyerupai ini, dan di dalamnya ada kelemahan dan cacat. Wallahu a’lam.

Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, telah menceritakan kepada kami Kamil, dan Abu Al-Mundzir: telah memberitahukan kepada kami Kamil – Aswad berkata: telah memberitahukan kepada kami dengan makna tersebut – dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami shalat Isya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketika beliau sujud, Hasan dan Husain melompat ke atas punggung beliau. Ketika beliau mengangkat kepalanya, beliau mengambil keduanya dengan lembut, lalu meletakkan keduanya di tanah. Ketika beliau kembali (sujud), keduanya kembali (naik), hingga beliau menyelesaikan shalatnya dan mendudukkan keduanya di atas paha beliau. Ia berkata: Maka aku mendatangi beliau dan berkata: Ya Rasulullah, apakah aku mengembalikan keduanya? Lalu kilat menyambar, maka beliau berkata kepada keduanya: “Kembali kepada ibu kalian.” Ia berkata: Maka cahayanya tetap ada hingga keduanya masuk.

Dan telah meriwayatkan Musa bin Utsman Al-Hadhrami, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah yang serupa dengannya. Dan telah diriwayatkan dari Abu Sa’id dan Umar yang mirip dengan ini. Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Mu’adz, telah menceritakan kepada kami Qais bin Ar-Rabi’, dari Abu Al-Miqdam, dari Abdurrahman Al-Azraq, dari Ali, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemuiku saat aku sedang tidur di tempat tidur, lalu Hasan atau Husain meminta minum. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri menuju kambing kami yang baru melahirkan, lalu memerahnya dan mengalir susunya. Kemudian yang lain datang kepada beliau, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyingkirkannya. Maka Fatimah berkata: Ya Rasulullah, seolah-olah ia yang paling engkau cintai dari keduanya? Beliau bersabda: “Tidak, tetapi ia yang minta minum duluan.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya aku dan engkau serta kedua ini dan yang sedang tidur ini berada di satu tempat pada hari kiamat.” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad, dan diriwayatkan oleh Abu Daud At-Thayalisi, dari Amr bin Tsabit, dari ayahnya, dari Abu Fakhtah, dari Ali, lalu menyebutkan yang serupa dengannya. Dan telah diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, dari Maimunah dan Ummu Salamah, keduanya Ummul Mukminin, yang sama atau serupa dengannya.

Dan telah tetap bahwa Umar bin Al-Khaththab mencintai keduanya dan memuliakan keduanya serta menggendong keduanya dan memberi keduanya di daftar gaji sebagaimana ia memberi ayah mereka. Dan suatu kali dibawakan pakaian bagus dari Yaman, lalu ia membagikannya di antara anak-anak para sahabat, dan tidak memberi keduanya sedikitpun darinya, dan berkata: Tidak ada di dalamnya sesuatu yang layak bagi keduanya. Kemudian ia mengirim surat kepada gubernur Yaman, lalu ia membuatkan untuk keduanya dua pakaian yang sesuai dengan keduanya.

Dan Muhammad bin Sa’d berkata: Telah memberitahukan kepada kami Qabishah bin Uqbah, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abi Ishaq, dari Al-Aizar bin Huraits, ia berkata: Ketika Amr bin Al-Ash sedang duduk di bawah naungan Ka’bah, tiba-tiba ia melihat Husain bin Ali datang, maka ia berkata: Ini adalah orang bumi yang paling dicintai oleh penduduk langit.

Dan Az-Zubair bin Bakkar berkata: Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Sulaiman, dari Ad-Darawardi, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membai’at Hasan, Husain, Abdullah bin Abbas, dan Abdullah bin Ja’far, sementara mereka masih kecil dan belum baligh, dan beliau tidak membai’at anak kecil kecuali dari kami. Dan ini adalah hadits mursal yang ganjil.

Dan Muhammad bin Sa’d berkata: Telah memberitahukan kepada kami Ya’la bin Ubaid, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Al-Walid Al-Washshafi, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, ia berkata: Husain bin Ali berhaji dua puluh lima kali dengan berjalan kaki, sementara unta-untanya digiring di depannya.

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, bahwa Husain bin Ali berhaji dengan berjalan kaki, dan unta-untanya digiring di belakangnya. Dan yang benar adalah bahwa itu hanyalah Hasan saudaranya, sebagaimana yang diceritakan oleh Al-Bukhari.

Dan Al-Madaini berkata: Terjadi percakapan antara Hasan dan Husain lalu keduanya saling memusuhi. Setelah itu, Hasan mendatangi Husain, lalu mencium kepalanya dan berkata: Sesungguhnya yang menghalangi aku untuk memulainya denganmu adalah karena aku melihat bahwa engkau lebih berhak dengan keutamaan dariku, maka aku tidak suka memperebutkan sesuatu yang engkau lebih berhak terhadapnya.

Dan Al-Ashma’i meriwayatkan dari Ibnu Aun, bahwa Hasan menulis surat kepada Husain yang mencela pemberian Husain kepada para penyair, maka Husain berkata: Sesungguhnya sebaik-baik harta adalah yang menjaga kehormatan.

Dan Ath-Thabarani meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Abu Hanifah Muhammad bin Hanifah Al-Wasithi, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Amr bin Al-Bara’ Al-Ghanawi, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al-Haitsam, ia berkata: Husain bin Ali sedang thawaf di sekeliling Ka’bah, lalu ia ingin mengusap Hajar Aswad, maka orang-orang memberi jalan kepadanya, sementara Al-Farazdaq bin Ghalib sedang memperhatikannya. Lalu seorang laki-laki berkata: Wahai Abu Firas, siapakah ini? Maka Al-Farazdaq berkata:

Inilah yang dikenal oleh Bathha’ langkah kakinya … Dan Ka’bah mengenalnya serta tanah halal dan haram

Inilah putra sebaik-baik hamba Allah semuanya … Inilah orang yang bertakwa, suci, lagi bersih, mulia

Hampir-hampir telapak tangannya dikenali … Oleh Rukun Hathim ketika ia datang untuk mengusapnya

Jika Quraisy melihatnya, berkatalah yang berkata dari mereka … Kepada kemuliaan inilah puncak kemurahan berakhir

Ia menunduk karena malu dan orang menunduk karena takut kepadanya … Maka ia tidak berbicara kecuali ketika tersenyum

Di tangannya tongkat yang wanginya harum … Di tangan orang yang gagah berani yang di hidungnya ada keagungan

Terambil dari Rasulullah nasabnya … Bersih unsur-unsurnya, keturunannya dan budi pekertinya

Tidak mampu orang yang dermawan setelah tujuannya … Dan tidak ada kaum yang mendekatinya jika mereka mulia

Mana saja suku yang tidak ada di leher mereka … Untuk keutamaan ini atau untuknya nikmat

Barangsiapa yang mengenal Allah akan mengenal keutamaan ini … Maka agama dari keluarga inilah yang diperoleh umat

Demikianlah Ath-Thabarani menyebutkannya dalam biografi Husain di Mu’jam Kabirnya, dan ini ganjil, karena yang masyhur adalah bahwa syair ini dari ucapan Al-Farazdaq tentang Ali bin Husain, bukan tentang ayahnya, dan ini lebih tepat; karena Al-Farazdaq tidak melihat Husain kecuali saat ia akan pergi berhaji dan Husain pergi ke Irak, lalu Husain bertanya kepada Al-Farazdaq tentang keadaan orang-orang, maka ia menyebutkan kepadanya apa yang telah disebutkan sebelumnya. Kemudian Husain terbunuh setelah berpisah dengannya beberapa hari saja, maka kapan ia melihatnya thawaf di sekeliling Ka’bah?! Wallahu a’lam.

Dan Hisyam meriwayatkan dari Awanah, ia berkata: Ubaidillah bin Ziyad berkata kepada Umar bin Sa’d: Di mana surat yang kutuliskan kepadamu tentang pembunuhan Husain? Maka ia berkata: Aku telah melaksanakan perintahmu dan surat itu hilang. Maka Ibnu Ziyad berkata kepadanya: Kau harus mendatangkannya. Ia berkata: Hilang. Ia berkata: Demi Allah, kau harus mendatangkannya. Ia berkata: Demi Allah, ia ditinggalkan untuk dibacakan kepada wanita-wanita tua Quraisy sebagai permintaan maaf kepada mereka di Madinah. Ketahuilah, demi Allah, sungguh aku telah menasihatimu tentang Husain dengan nasihat yang seandainya aku menasihati ayahku Sa’d bin Abi Waqqash dengannya, niscaya aku telah menunaikan haknya. Maka Utsman bin Ziyad, saudara Ubaidillah berkata: Sa’d benar, demi Allah, dan demi Allah aku berharap andai bukan dari Bani Ziyad ada seorang laki-laki kecuali di hidungnya ada cincin hidung sampai hari kiamat dan Husain tidak terbunuh. Ia berkata: Maka demi Allah, Ubaidillah tidak mengingkari perkataan itu darinya.

Pasal tentang penyebutan sebagian dari syair-syairnya yang diriwayatkan darinya

Di antara itu adalah apa yang telah disebutkan oleh Abu Bakar bin Kamil, dari Abdullah bin Ibrahim, dan ia menyebutkan bahwa itu adalah dari Husain bin Ali bin Abi Thalib, radhiyallahu ‘anhuma:

Cukupkanlah dirimu dari makhluk dengan Sang Pencipta … Maka engkau akan cukup dari yang berbohong dan yang jujur

Dan mintalah rezeki dari Ar-Rahman dari karunia-Nya … Karena tidak ada selain Allah yang memberi rezeki

Barangsiapa yang mengira bahwa manusia akan mencukupinya … Maka ia tidak yakin kepada Ar-Rahman

Atau mengira bahwa harta adalah dari usahanya … Maka tergelincirlah kedua sandalnya dari tempat yang tinggi

Dan dari Al-A’masy bahwa Husain bin Ali berkata:

Setiap kali bertambah harta pemilik harta … Bertambahlah kerisauannya dan kesibukannya

Sungguh kami mengenalmu wahai yang menghilangkan kenikmatan kehidupan … Dan wahai tempat tinggal setiap yang fana dan celaka

Tidak bersih bagi orang zahid yang mencari kezuhudan … Jika ia terbebani dengan tanggungan keluarga

Dan dari Ishaq bin Ibrahim, ia berkata: Sampai kepadaku bahwa Husain mengunjungi makam para syuhada di Baqi’, lalu ia berkata:

Aku memanggil penghuni kubur maka mereka diam … Dan yang menjawabku tentang keheningan mereka adalah tangisan jenazah

Mereka berkata: Tahukah engkau apa yang kulakukan kepada penghuninya … Aku merobek daging mereka dan mengoyak kain kafan

Aku mengisi mata mereka dengan tanah setelah … Sebelumnya terganggu dengan sedikit kotoran

Adapun tulang-tulangnya, sesungguhnya aku merobeknya … Hingga terpisahlah persendian dan anggota badan

Aku memisahkan ini dari itu dan dari ini demikian … Maka kutinggalkan mereka seperti tulang belulang yang dipanjangkan kerusakan untuknya

Dan sebagian dari mereka membacakan untuk Husain, radhiyallahu ‘anhu juga:

Seandainya dunia dianggap berharga … Maka tempat pahala Allah lebih tinggi dan lebih mulia

Dan jika badan-badan diciptakan untuk kematian … Maka terbunuh di jalan Allah dengan pedang lebih utama

Dan jika rezeki adalah sesuatu yang ditakdirkan … Maka sedikitnya usaha seseorang dalam mencari penghidupan lebih baik

Dan jika harta dikumpulkan untuk ditinggalkan … Maka mengapa dengan yang ditinggalkan itu seseorang kikir

Dan di antara syair yang dibacakan oleh Az-Zubair bin Bakkar darinya untuk istrinya Ar-Rabab binti Unayf, dan dikatakan: binti Imri’ Al-Qais bin Adi bin Aus Al-Kalbi, ibunda putrinya Sukaynah binti Husain:

Demi umurmu, sesungguhnya aku mencintai tempat tinggal … Yang ditempati oleh Sukaynah dan Ar-Rabab

Aku mencintai keduanya dan memberikan sebagian besar hartaku … Dan tidak ada bagi yang mencela diriku tentang hal itu celaan

Dan aku tidak akan menaati mereka meskipun mereka mencela … Selama aku hidup atau tanah menyembunyikanku

Dan ayahnya telah masuk Islam di tangan Umar bin Al-Khaththab, dan Umar memerintahkannya untuk memimpin kaumnya. Ketika ia keluar dari sisi Umar, Ali bin Abi Thalib melamar kepadanya untuk menikahkan putranya Hasan atau Husain dengan putri-putrinya. Maka ia menikahkan Hasan dengan putrinya Salma, dan Husain dengan putrinya Ar-Rabab, dan menikahkan Ali dengan putrinya yang ketiga, yaitu Al-Mihyat binti Imri’ Al-Qais dalam satu waktu. Maka Husain mencintai istrinya Ar-Rabab dengan cinta yang sangat, dan sangat terpesona dengannya, ia berkata syair untuknya. Ketika ia terbunuh di Karbala’, ia bersamanya, maka ia sangat berduka atasnya dengan kesedihan yang amat sangat, dan disebutkan bahwa ia tinggal di kuburnya selama satu tahun, kemudian pergi sambil berkata:

Sampai satu tahun kemudian salam atasmu berdua … Dan barangsiapa yang menangis satu tahun penuh maka ia telah bermaaf-maafan

Dan banyak pembesar Quraisy telah melamarnya setelahnya, maka ia berkata: Aku tidak akan mengambil pelindung setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan demi Allah tidak akan menaungi aku dan seorang laki-laki setelah Husain sebuah atap selamanya. Dan ia tetap dalam kesedihan atasnya hingga meninggal, dan dikatakan: Sesungguhnya ia hanya hidup setelahnya beberapa hari saja. Wallahu a’lam. Dan putrinya Sukaynah binti Husain adalah termasuk wanita yang paling cantik, bahkan tidak ada di zamannya yang lebih cantik darinya. Wallahu a’lam.

Dan Abu Mikhnaf meriwayatkan dari Abdurrahman bin Jundub bahwa Ubaidillah bin Ziyad setelah terbunuhnya Husain mencari para pembesar penduduk Kufah, maka ia tidak melihat Ubaidillah bin Al-Hurr bin Yazid, lalu ia mencarinya hingga datang kepadanya setelah beberapa hari. Maka ia berkata: Di mana kau, wahai Ibnu Al-Hurr? Ia berkata: Aku sakit. Ia berkata: Sakit hati atau sakit badan? Ia berkata: Adapun hatiku maka tidak sakit, adapun badanku maka Allah telah memberi kesembuhan padanya. Maka Ibnu Ziyad berkata kepadanya: Kau berbohong, tetapi kau bersama musuh kami. Ia berkata: Seandainya aku bersama musuhmu, maka tidak akan tersembunyi tempat orang sepertiku, dan orang-orang akan menyaksikan itu. Ia berkata: Dan Ibnu Ziyad lalai darinya sejenak, maka Ibnu Al-Hurr keluar, lalu duduk di atas kudanya, kemudian berkata: Sampaikan kepadanya bahwa aku tidak akan datang kepadanya demi Allah dengan rela. Maka Ibnu Ziyad berkata: Di mana Ibnu Al-Hurr? Mereka berkata: Ia keluar. Maka ia berkata: Datangkan ia kepadaku. Maka polisi keluar untuk mencarinya, lalu ia memperdengarkan kepada mereka perkataan kasar yang mereka benci, dan ia ridha terhadap Husain, saudaranya dan ayahnya, kemudian ia memperdengarkan kepada mereka tentang Ibnu Ziyad perkataan kasar, kemudian ia menjauh dari mereka, dan berkata dalam syair tentang Husain dan para sahabatnya:

Berkata seorang pemimpin yang berkhianat, benar-benar berkhianat … Mengapa kau tidak memerangi syahid putra Fatimah

Maka wahai penyesalanku bahwa aku tidak menjadi penolongnya … Ketahuilah setiap jiwa yang tidak lurus akan menyesal

Dan sesungguhnya aku karena tidak menjadi dari para pelindungnya … Memiliki penyesalan yang tidak pernah lepas, tetap melekat

Semoga Allah memberi minum roh-roh orang-orang yang bersatu … Untuk menolongnya dengan siraman dari hujan yang terus-menerus

Aku berdiri di atas kuburan mereka dan tempat pertemuan mereka … Hampir-hampir hati hancur dan mata menangis

Demi umurku, sungguh mereka adalah petarung dalam peperangan … Cepat menuju pertempuran, pelindung-pelindung yang pemberani

Mereka bersatu untuk menolong putra putri nabi mereka … Dengan pedang mereka seperti singa lembah yang ganas

Jika mereka terbunuh, maka setiap jiwa yang bertakwa … Di atas bumi telah menjadi berduka untuk itu

Dan tidaklah melihat yang melihat orang yang lebih utama dari mereka … Ketika menghadapi kematian, para pemimpin dan pilihan mulia

Apakah kalian membunuh mereka dengan kezaliman dan mengharap kasih sayang kami … Maka tinggalkan rencana yang tidak cocok untuk kami

Demi umurku, sungguh kalian telah membuat kami marah dengan membunuh mereka … Maka betapa banyak yang dendam di antara kami kepada kalian dan yang membenci

Aku berniat berulang kali untuk berjalan dengan pasukan … Kepada kelompok yang menyimpang dari kebenaran, yang zalim

Maka wahai putra Ziyad, bersiaplah untuk perang kami … Dan tempat berdiri yang sempit yang mematahkan punggung, yang menghancurkan

Dan Az-Zubair bin Bakkar berkata: Sulaiman bin Qattah berkata meratapi Husain, radhiyallahu ‘anhu:

Dan sesungguhnya orang yang terbunuh di Thaff dari keluarga Hasyim … Merendahkan leher-leher dari Quraisy maka mereka tunduk

Jika kalian mengikutinya yang berlindung di Ka’bah, kalian akan menjadi … Seperti ‘Ad yang buta dari petunjuknya maka tersesat

Aku melewati rumah-rumah keluarga Muhammad … Maka kudapati mereka seperti keadaannya di mana mereka tinggal

Dan mereka dahulu bagi kami adalah harta, lalu menjadi musibah … Sungguh besar musibah itu dan agung

Maka janganlah Allah menjauhkan rumah-rumah dan penghuninya … Meskipun menjadi kosong dari mereka karena penghinaan terhadapku

Jika Qais menjadi miskin, kami perbaiki orang miskinnya … Dan Qais membunuh kami jika sandal tergelincir

Dan di sisi Ghani ada setetes dari darah kami … Kami akan membalas mereka suatu hari dengan itu di mana mereka tinggal

Tidakkah engkau lihat bahwa bumi telah menjadi sakit … Karena pembunuhan Husain dan negeri-negeri berguncang

Peristiwa-Peristiwa yang Terjadi pada Tahun Ini – Maksudnya Tahun Enam Puluh Satu – Setelah Terbunuhnya Husain

Pada tahun ini, Yazid bin Muawiyah mengangkat Salm bin Ziyad sebagai gubernur Sijistan dan Khurasan ketika ia datang menghadapnya, saat itu usianya dua puluh empat tahun. Ia memberhentikan kedua saudaranya, Abbad dan Abdurrahman, dari jabatan tersebut. Salm berangkat menuju wilayah tugasnya, lalu mulai memilih tokoh-tokoh terkemuka dan para penunggang kuda, serta mendorong masyarakat untuk berjihad. Kemudian ia berangkat dengan pasukan besar untuk menyerang wilayah Turki, bersama istrinya Ummu Muhammad binti Abdullah bin Utsman bin Abi al-Ash. Dia adalah wanita Arab pertama yang menyeberangi sungai (menuju wilayah tersebut), dan melahirkan seorang anak di sana yang mereka beri nama Saghdi. Istri penguasa Saghd mengirimkan kepadanya mahkota dari emas dan mutiara. Sebelum itu, kaum Muslimin tidak pernah tinggal di wilayah-wilayah tersebut selama musim dingin, namun Salm bin Ziyad tinggal di sana pada musim dingin. Ia mengutus Muhallab bin Abi Sufrah ke kota Turki bernama Khawarizm. Ia mengepung mereka hingga mereka berdamai dengan membayar lebih dari dua puluh juta, dan ia menerima barang-barang sebagai pengganti dengan mengambil sesuatu seharga setengah nilainya, sehingga nilai total yang ia ambil dari mereka mencapai lima puluh juta. Dengan demikian Muhallab mendapat kedudukan baik di mata Salm bin Ziyad. Kemudian ia mengirimkan barang pilihan dari hasil tersebut kepada Yazid bin Muawiyah bersama seorang marzban dan rombongan. Salm juga menandatangani perjanjian damai dengan penduduk Samarkand dalam ekspedisi ini dengan pembayaran yang besar.

Pada tahun ini, Yazid memberhentikan Amr bin Sa’id dari kepemimpinan atas Haramain (Makkah dan Madinah), dan mengembalikan Walid bin Utbah bin Abi Sufyan, mengangkatnya sebagai gubernur Madinah. Hal ini terjadi karena ketika Ibn Zubayr mendengar berita terbunuhnya Husain, ia mulai berpidato kepada masyarakat, mengagungkan pembunuhan Husain dan para sahabatnya, mencela penduduk Kufah dan penduduk Irak atas apa yang mereka lakukan dengan mengkhianati Husain. Ia meminta rahmat bagi Husain dan melaknat pembunuhnya, serta berkata: “Sungguh demi Allah mereka telah membunuhnya, orang yang panjang shalatnya di malam hari, banyak puasanya di siang hari. Sungguh demi Allah, ia tidak mengganti Al-Quran dengan nyanyian dan permainan, tidak mengganti tangisan karena takut kepada Allah dengan lantunan, tidak mengganti puasa dengan meminum yang haram, tidak mengganti duduk dalam majelis dzikir dengan berburu” – dalam hal ini ia menyindir Yazid bin Muawiyah – “maka mereka akan menemui kerugian.”

Ia menghasut masyarakat untuk menentang Bani Umayyah, mendorong mereka untuk membangkang dan melepaskan baiat dari Yazid. Banyak orang membaiatnya secara sembunyi-sembunyi dan memintanya untuk menampakkannya, namun ia tidak bisa melakukan itu selama masih ada Amr bin Sa’id yang keras terhadapnya meskipun dengan lemah lembut. Penduduk Madinah dan lainnya telah berkirim surat kepadanya, dan orang-orang berkata: “Setelah Husain terbunuh, tidak ada seorang pun yang menyaingi Ibn Zubayr.” Berita ini sampai kepada Yazid, dan dikatakan kepadanya: “Jika Amr bin Sa’id mau, ia bisa mengirimkan kepalamu kepala Ibn Zubayr, atau mengepungnya hingga ia keluar dari tanah haram.” Maka Yazid memberhentikannya dan mengangkat Walid bin Utbah pada tahun ini, ada yang mengatakan pada awal bulan Dzulhijjah. Ia memimpin ibadah haji bagi masyarakat pada tahun ini. Yazid bersumpah akan mengirim pasukan untuk menangkap Ibn Zubayr dan membawanya dengan rantai perak, dan ia mengirimkan rantai perak tersebut bersama kurir dan jubah sutra untuk memenuhi sumpahnya.

Ketika kurir melewati Marwan yang berada di Madinah dan memberitahunya tentang tujuannya dan belenggu yang dibawanya, Marwan membacakan syair:

Ambillah ini, karena ini bukan cara yang terhormat bagi orang yang mulia Dan di dalamnya ada ucapan bagi orang yang menghinakan diri Wahai Amir, sesungguhnya mereka menawarkanmu cara yang memalukan Dan itu di antara tetangga adalah seperti memintal dengan alat pintal Aku melihatmu jika engkau berada di antara kaum sebagai penasihat Dikatakan kepadanya dengan ember: mundur dan majulah

Ketika para utusan sampai kepada Abdullah bin Zubayr, Marwan mengutus kedua putranya Abdul Malik dan Abdul Aziz untuk menyaksikan jawabannya dalam hal itu, dan berkata: “Dengarkan ucapanku dalam hal itu.” Abdul Aziz berkata: “Ketika para utusan duduk di hadapannya, aku mulai membacakan syair itu sementara ia mendengar tanpa aku memberitahunya. Ia menoleh kepadaku dan berkata: ‘Beritahu ayahmu bahwa aku berkata:'”

Sesungguhnya aku dari pohon nabʻah yang keras patahnya Ketika pohon-pohon kering saling bergesekan Dan aku tidak akan melunak kecuali untuk kebenaran yang kuminta Hingga batu menjadi lunak bagi gigi yang mengunyahnya

Abdul Aziz berkata: “Aku tidak tahu mana yang lebih mengagumkan di antara keduanya!”

Abu Mashar berkata: Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ahli sirah bahwa Walid bin Utbah memimpin haji bagi masyarakat pada tahun ini dan ia adalah gubernur Haramain. Sementara gubernur Bashrah dan Kufah adalah Ubaidullah bin Ziyad, gubernur Khurasan dan Sijistan adalah Salm bin Ziyad saudara Ubaidullah bin Ziyad, hakim Kufah adalah Syuraih, dan hakim Bashrah adalah Hisyam bin Hubarah.

Penyebutan Tokoh-Tokoh Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini

Husain bin Ali radhiyallahu anhuma, bersama belasan orang dari keluarganya, semuanya terbunuh di Karbala. Ada yang mengatakan dua puluh sekian orang sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Terbunuh bersama mereka sejumlah pahlawan dan penunggang kuda.

Jabir bin Atik bin Qais, Abu Abdullah al-Anshari

Ia mengikuti Perang Badar dan perang-perang setelahnya, dan ia adalah pembawa bendera Bani Muawiyah pada hari Fathul Makkah. Demikian dikatakan oleh Ibn al-Jauzi. Ia berkata: “Ia wafat pada tahun ini pada usia tujuh puluh satu tahun.”

Hamzah bin Amr al-Aslami

Seorang sahabat yang mulia kedudukannya. Dalam Shahihain dari Aisyah, ia berkata: Hamzah bin Amr bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: “Sesungguhnya aku banyak berpuasa, apakah aku boleh berpuasa dalam safar?” Beliau bersabda: “Jika engkau mau berpuasalah, dan jika engkau mau berbukalah.” Ia menyaksikan penaklukan Syam dan dialah yang menyampaikan kabar gembira kepada Shiddiq (Abu Bakar) pada hari Ajnadain.

Al-Waqidi berkata: “Dialah yang menyampaikan kabar gembira kepada Ka’ab bin Malik tentang taubatnya yang diterima Allah, maka Ka’ab memberinya kedua bajunya.”

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Tarikh dengan sanad yang baik darinya bahwa ia berkata: “Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada malam yang gelap, lalu jari-jariku bercahaya sehingga aku bisa mengumpulkan semua barang kaum dengannya.”

Mereka sepakat bahwa ia wafat pada tahun ini, yaitu tahun enam puluh satu.

Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah al-Abdari al-Hajabi

Pemegang kunci Ka’bah. Ayahnya termasuk orang yang dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib pada hari Uhud dalam keadaan kafir. Syaibah menampakkan keislamannya pada hari Fathul Makkah dan mengikuti Perang Hunain, namun dalam hatinya masih ada keraguan. Ia berniat melakukan penyerangan terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, namun Allah memberitahukan hal itu kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Beliau memberitahunya tentang niatnya, maka ia masuk Islam secara batiniah dan keislamannya menjadi baik. Ia berperang pada hari itu dan bersabar bersama orang-orang yang bersabar.

Al-Waqidi berkata dari guru-gurunya: Syaibah berkata: “Aku pernah berkata: Demi Allah, seandainya semua manusia beriman kepada Muhammad, aku tidak akan beriman kepadanya. Ketika Makkah ditaklukkan dan ia keluar menuju Hawazin, aku ikut bersamanya dengan harapan mendapat kesempatan untuk membalas dendam atas nama seluruh Quraisy. Pada suatu hari orang-orang bercampur baur dalam pertempuran, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam turun dari baghalnya (keledai betinanya). Aku mendekatinya dan menghunuskan pedangku untuk memukulnya. Tiba-tiba terangkat bagiku pancaran api yang hampir membakarku. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menoleh kepadaku dan berkata: ‘Wahai Syaibah, mendekatlah kepadaku.’ Aku mendekat, lalu beliau meletakkan tangannya di dadaku dan berdoa: ‘Ya Allah, lindungilah ia dari setan.’ Ia berkata: Demi Allah, beliau belum mengangkat tangannya hingga pada hari itu beliau lebih aku cintai daripada pendengaran dan penglihatanku. Kemudian beliau berkata: ‘Pergilah dan berperanglah.’ Ia berkata: Aku maju ke medan perang. Demi Allah, seandainya aku bertemu ayahku, aku akan membunuhnya jika ia masih hidup. Ketika orang-orang mundur, beliau berkata kepadaku: ‘Wahai Syaibah, apa yang Allah kehendaki untukmu lebih baik daripada apa yang engkau kehendaki untuk dirimu sendiri.’ Kemudian beliau menceritakan kepadaku semua yang ada dalam hatiku yang tidak ada seorang pun mengetahuinya kecuali Allah Azza wa Jalla. Maka aku mengucapkan syahadat dan berkata: Aku memohon ampun kepada Allah. Beliau bersabda: ‘Allah mengampunimu.'”

Ia memegang tugas penjagaan Ka’bah setelah Utsman bin Thalhah, dan tugas penjagaan Ka’bah tetap berada di tangan anak-anaknya dan keluarganya hingga hari ini. Kepadanyalah dinisbahkan Bani Syaibah, dan mereka adalah para penjaga Ka’bah.

Khalifah bin Khayyath dan lainnya berkata: Ia wafat tahun lima puluh sembilan.

Muhammad bin Sa’d berkata: Ia hidup hingga masa Yazid bin Muawiyah.

Ibn al-Jauzi dalam al-Muntazham berkata: Ia wafat pada tahun ini.

Abdul Muththalib bin Rabi’ah bin al-Harits bin Abdul Muththalib bin Hasyim

Seorang sahabat yang mulia, termasuk yang pindah ke Damaskus, dan ia memiliki rumah di sana. Ketika ia meninggal, ia berwasiat kepada Yazid bin Muawiyah yang saat itu adalah Amirul Mukminin.

Walid bin Uqbah bin Abi Mu’aith bin Aban bin Abi Amr Dzakwan bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay, Abu Wahab al-Qurasyi al-Absyami

Ia adalah saudara Utsman bin Affan dari pihak ibunya Arwa binti Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdu Syams. Ibu Arwa adalah Ummu Hakim al-Baidha’ binti Abdul Muththalib. Walid memiliki saudara-saudara: Khalid, Ammarah, dan Ummu Kultsum. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membunuh ayahnya setelah Perang Badar dari antara para tawanan dengan cara dipancung di hadapan beliau. Ia berkata: “Wahai Muhammad, siapa yang akan mengurus anak-anakku?” Beliau bersabda: “Mereka akan masuk neraka.” Demikian pula beliau lakukan terhadap Nadhr bin al-Harits.

Walid masuk Islam pada hari Fathul Makkah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutusnya untuk mengumpulkan zakat dari Bani Mushthaliq. Mereka keluar menyambutnya, namun ia mengira bahwa mereka keluar untuk memeranginya, maka ia kembali dan melaporkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau hendak mengirim pasukan kepada mereka, namun berita itu sampai kepada mereka, maka datanglah beberapa orang dari mereka untuk meminta maaf dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Maka Allah Taala menurunkan ayat tentang Walid: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya…” (QS. al-Hujurat: 6). Hal ini disebutkan oleh beberapa mufasir. Wallahu a’lam tentang kebenaran itu. Abu Amr bin Abdul Barr menceritakan kesepakatan tentang hal itu.

Umar mengangkatnya untuk mengumpulkan zakat dari Bani Taghlib, dan Utsman mengangkatnya sebagai gubernur Kufah menggantikan Sa’d bin Abi Waqqash pada tahun dua puluh lima. Kemudian ia minum khamr dan memimpin shalat bersama para sahabatnya, lalu berbalik kepada mereka dan berkata: “Aku tambahi lagi?” Dan ia melakukan hal-hal yang kacau. Kemudian Utsman menjilid (mencambuk) nya dan memberhentikannya dari Kufah setelah empat tahun, lalu ia menetap di sana. Ketika Ali datang ke Irak, ia pergi ke Raqqah dan membeli tanah pertanian di sana. Ia menetap di sana dengan tidak mengikuti semua peperangan yang terjadi di masa Ali dan Muawiyah serta sesudahnya hingga ia wafat di tanahnya ini dan dimakamkan di sana pada tahun ini, yaitu lima belas mil dari Raqqah. Ada yang mengatakan ia wafat di masa Muawiyah. Wallahu a’lam.

Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan darinya satu hadits tentang Fathul Makkah. Ibn al-Jauzi menyebutkan wafatnya pada tahun ini, dan ia juga menyebutkan wafat Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyah, padahal wafatnya telah disebutkan sebelumnya pada tahun lima puluh satu. Ada yang mengatakan ia wafat tahun enam puluh tiga. Ada yang mengatakan tahun enam puluh enam. Yang benar adalah apa yang telah kami sebutkan.

Ummu Salamah, Ummul Mukminin

Hind binti Abi Umayyah Hudzaifah – ada yang mengatakan Suhail – bin al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum al-Qurasyiyah al-Makhzumiyah. Awalnya ia adalah istri dari saudara sepupunya Abu Salamah bin Abdul Asad, lalu ia meninggal. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menikahinya dan menikahi (berumah tangga dengan) nya pada bulan Syawal tahun dua setelah Perang Badar. Ia pernah mendengar dari suaminya Abu Salamah sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seorang Muslim ditimpa musibah lalu ia mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali), Allahumma ajirni fi mushībatī wa akhlif lī khairan minhā (Ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku dan gantilah bagiku yang lebih baik darinya), melainkan Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik.” Ia berkata: “Ketika Abu Salamah meninggal, aku mengucapkan doa itu, kemudian aku berkata: Siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah, laki-laki Arab pertama yang berhijrah?! Kemudian Allah menguatkan tekadku maka aku mengucapkannya, lalu Allah menggantinya dengan yang lebih baik, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” Ia termasuk wanita-wanita yang cantik dan ahli ibadah.

Al-Waqidi berkata: Ia wafat tahun lima puluh sembilan, dan dishalatkan oleh Abu Hurairah.

Ibn Abi Khaitsamah berkata: Ia wafat di masa Yazid bin Muawiyah.

Penulis berkata: Hadits-hadits yang disebutkan sebelumnya tentang terbunuhnya Husain menunjukkan bahwa ia hidup hingga setelah terbunuhnya Husain. Wallahu a’lam. Radhiyallahu anha wa ardlaha (Semoga Allah meridhai dan memberinya keridhaan).

Kemudian Masuklah Tahun Enam Puluh Dua

Dikatakan bahwa pada tahun ini datanglah utusan penduduk Madinah kepada Yazid bin Muawiyah. Ia memuliakan mereka dan memberi mereka hadiah yang banyak. Kemudian mereka kembali dari sisinya dengan membawa hadiah-hadiah tersebut lalu membaiat untuk melepaskan diri darinya. Mereka mengangkat Abdullah bin Hanzhalah Al-Ghasil sebagai pemimpin mereka. Maka Yazid mengirim pasukan kepada mereka pada tahun berikutnya ke Madinah, lalu terjadilah peristiwa Harrah sebagaimana akan kami jelaskan pada tahun sesudahnya, insya Allah Ta’ala.

Adapun Yazid telah memberhentikan Amr bin Sa’id bin Al-Ash dari jabatannya di Hijaz dan mengangkat Al-Walid bin Utbah bin Abi Sufyan untuk menggantikannya. Ketika Al-Walid memasuki Madinah, ia menyita harta benda, hasil-hasil pertanian, dan properti, serta mengambil budak-budak yang menjadi milik Amr bin Sa’id lalu memenjarakan mereka. Jumlah mereka sekitar tiga ratus budak. Maka Amr bin Sa’id bersiap-siap untuk menemui Yazid, lalu ia berangkat dan mengirim pesan kepada budak-budaknya agar keluar dari penjara dan menyusulnya. Ia telah menyiapkan unta untuk mereka tunggangi, dan mereka pun melakukannya. Mereka berhasil menyusulnya ketika ia sampai kepada Yazid.

Ketika ia masuk menghadap Yazid, Yazid memuliakannya, menghormatinya, menyambutnya dengan baik, dan mendekatkan tempat duduknya. Kemudian Yazid menegurnya karena kelalaiannya dalam urusan Ibnu Az-Zubair. Amr berkata kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin, orang yang hadir melihat apa yang tidak dilihat oleh orang yang tidak hadir. Sesungguhnya sebagian besar penduduk Makkah dan Hijaz memihaknya dan mencintainya. Aku tidak memiliki pasukan yang cukup kuat untuk melawannya jika aku berhadapan dengannya. Ia sangat berhati-hati dan waspada terhadapku. Aku berlaku sangat lemah lembut kepadanya dan bersikap diplomatis agar aku dapat menguasainya lalu menerkamnya. Meskipun demikian, aku telah mempersempit ruang geraknya dan mencegahnya dari banyak hal, dan aku menempatkan orang-orang di Makkah, jalan-jalannya, dan lorong-lorongnya yang tidak membiarkan seorang pun memasukinya hingga mereka menuliskan kepadaku namanya dan nama ayahnya, dari negeri mana ia berasal, untuk apa ia datang, dan apa yang ia inginkan. Jika ia termasuk pengikutnya atau orang yang kupikir ingin menemuinya, aku menolaknya dengan hina, kalau tidak aku biarkan ia lewat. Aku telah mengangkat Al-Walid, dan akan datang kepadamu dari hasil kerjanya dan urusannya apa yang mungkin membuatmu mengetahui kesungguhanku dalam urusanmu dan ketulusanku kepadamu, insya Allah. Allah akan membuatmu berhasil dan mengalahkan musuhmu.”

Yazid berkata kepadanya: “Engkau lebih jujur daripada orang yang menuduhmu dan membuatku melawanmu. Engkau termasuk orang yang kupercaya, kuharapkan bantuannya, dan kusimpan untuk menambal retakan, mengatasi masalah penting, dan menghadapi bencana-bencana besar.” Dalam pembicaraan yang panjang.

Adapun Al-Walid bin Utbah, ia menetap di Hijaz dan berkali-kali berniat untuk menindak Abdullah bin Az-Zubair, tetapi ia selalu mendapatinya berhati-hati dan kebal, telah menyiapkan lawan-lawan untuk berbagai urusan. Di Yamamah muncul seorang pemberontak lain bernama Najdah bin Amir Al-Hanafi ketika Al-Husain terbunuh. Ia menentang Yazid bin Muawiyah tetapi tidak menentang Ibnu Az-Zubair, melainkan tetap sendiri dengan para pengikutnya. Ketika malam Arafah tiba, Al-Walid bin Utbah berangkat bersama jamaah, sementara pengikut Ibnu Az-Zubair dan pengikut Najdah tidak ikut bersamanya. Kemudian setiap kelompok berangkat sendiri-sendiri.

Kemudian Najdah menulis kepada Yazid: “Sesungguhnya engkau mengutus kepada kami seorang lelaki yang ceroboh, tidak mampu melakukan hal yang benar dan tidak mau mendengar nasihat orang bijaksana. Seandainya engkau mengutus kepada kami seorang lelaki yang baik akhlaknya dan lemah lembut, aku berharap dapat memudahkan urusan-urusan yang sulit dan mempersatukan apa yang terpecah. Maka perhatikanlah hal itu, karena di dalamnya terdapat perbaikan untuk orang-orang khusus dan umum kami, insya Allah Ta’ala.”

Mereka berkata: Yazid memberhentikan Al-Walid dan mengangkat Utsman bin Muhammad bin Abi Sufyan. Ia pun berangkat ke Hijaz. Ternyata ia adalah pemuda yang belum berpengalaman, belum menangani urusan-urusan, sehingga mereka meremehkannya. Ketika ia memasuki Madinah, ia mengirim utusan dari sana kepada Yazid. Di antara mereka adalah Abdullah bin Hanzhalah Al-Ghasil Al-Anshari, Abdullah bin Abi Amr bin Hafsh bin Al-Mughirah Al-Makhzumi, Al-Mundzir bin Az-Zubair, dan banyak orang dari para pembesar penduduk Madinah. Mereka datang kepada Yazid, ia memuliakan mereka, berbuat baik kepada mereka, dan memberi mereka hadiah yang sangat besar. Kemudian mereka pulang kembali ke Madinah, kecuali Al-Mundzir bin Az-Zubair, ia pergi kepada sahabatnya Ubaidillah bin Ziyad di Bashrah. Yazid telah memberinya hadiah seratus ribu seperti teman-temannya dari utusan tersebut.

Ketika utusan Madinah kembali ke sana, mereka menampakkan cercaan dan celaan terhadap Yazid, dan berkata: “Kami datang dari sisi seorang lelaki yang tidak memiliki agama, minum khamr, dan penyanyi-penyanyi memainkan alat musik di sisinya. Kami persaksikan kepada kalian bahwa kami telah melepaskan diri darinya (membaiatnya).” Maka orang-orang mengikuti mereka untuk melepaskan diri darinya, dan membaiat Abdullah bin Hanzhalah Al-Ghasil sampai mati. Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab mengingkari mereka. Al-Mundzir bin Az-Zubair kembali dari Bashrah ke Madinah, lalu sepakat dengan orang-orang itu untuk melepaskan diri dari Yazid, dan mengabarkan kepada mereka tentangnya bahwa ia minum khamr dan mabuk hingga meninggalkan shalat, dan mencela Yazid lebih dari cercaan orang-orang itu.

Ketika hal itu sampai kepada Yazid, ia berkata: “Ya Allah, aku telah memberikan keistimewaan kepadanya dan memuliakannya, tetapi ia berbuat seperti yang telah Engkau lihat, maka timpakanlah dan balaslah ia.” Kemudian Yazid mengirim An-Nu’man bin Basyir kepada penduduk Madinah untuk melarang mereka dari apa yang telah mereka perbuat, memperingatkan mereka dari akibat buruknya, dan memerintahkan mereka untuk kembali mendengar dan taat serta berpegang pada jamaah. Ia pun berangkat kepada mereka dan melakukan apa yang diperintahkan Yazid kepadanya serta menakut-nakuti mereka dengan fitnah. Ia berkata kepada mereka: “Sesungguhnya fitnah itu membawa penyesalan.” Dan ia berkata: “Kalian tidak mampu melawan penduduk Syam.”

Abdullah bin Muthi’ Al-Adawi berkata kepadanya: “Apa yang membuatmu, wahai Nu’man, memecah belah persatuan kami dan merusak apa yang telah Allah perbaiki dari urusan kami?” An-Nu’man berkata kepadanya: “Demi Allah, seakan-akan aku melihatmu, jika telah terjadi apa yang engkau serukan itu, orang-orang berdiri di atas lutut mereka, memukul tengkuk dan dahi orang-orang dengan pedang, dan berputarlah kincir kematian di antara dua kelompok, seakan-akan aku melihatmu telah memukul pinggang keledaimu menuju Makkah dan meninggalkan orang-orang malang ini” – maksudnya kaum Anshar – “dibunuh di jalan-jalan mereka, masjid-masjid mereka, dan di depan pintu-pintu rumah mereka.” Maka orang-orang mendurhakainya dan tidak mendengarkannya, lalu ia pergi. Demi Allah, keadaannya persis seperti yang ia katakan.

Ibnu Jarir berkata: Yang menghajikan manusia pada tahun ini adalah Al-Walid bin Utbah. Demikian katanya, dan di dalamnya ada pertimbangan. Jika utusan penduduk Madinah – dan mereka telah kembali dari sisi Yazid – sesungguhnya yang mengutus mereka adalah Utsman bin Muhammad bin Abi Sufyan. Jika Al-Walid telah menghajikan manusia pada tahun ini, maka utusan Madinah tidak datang kepada Yazid kecuali pada awal tahun enam puluh tiga, dan ini lebih tepat. Wallahu a’lam.

Orang-Orang Yang Meninggal Pada Tahun Ini Dari Kalangan Tokoh

Buraidah bin Al-Hushayb Al-Aslami, keislamannya terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewatinya saat berhijrah ke Madinah di Kura’ Al-Ghamim. Ketika sampai di sana, Buraidah menemuinya dengan delapan puluh orang dari keluarganya, lalu mereka masuk Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Isya bersama mereka dan mengajarkan kepadanya awal surat Maryam pada malam itu. Kemudian ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah setelah perang Uhud dan menyaksikan semua peperangan setelahnya. Ia menetap di Madinah. Ketika Bashrah dibuka, ia tinggal di sana dan membangun rumah. Kemudian ia pergi untuk berperang ke Khurasan dan meninggal di Marw pada masa khalifah Yazid bin Muawiyah. Lebih dari satu orang menyebutkan kematiannya pada tahun ini.

Ar-Rabi’ bin Khaitsam, Abu Yazid Ats-Tsauri Al-Kufi, salah satu sahabat Ibnu Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud berkata kepadanya: “Aku tidak melihatmu kecuali aku teringat orang-orang yang khusyu’. Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatmu, niscaya ia mencintaimu.” Ibnu Mas’ud sangat menghormatinya.

Asy-Sya’bi berkata: “Ar-Rabi’ adalah tambang kejujuran, dan ia adalah orang yang paling wara’ di antara sahabat-sahabat Ibnu Mas’ud.” Ibnu Ma’in berkata: “Tidak perlu ditanyakan tentang orang seperti dia.”

Ia memiliki keutamaan yang sangat banyak. Ibnu Al-Jauzi mencatat wafatnya pada tahun ini.

Alqamah bin Qais, Abu Syibl An-Nakha’i Al-Kufi, ia termasuk tokoh besar sahabat-sahabat Ibnu Mas’ud dan ulama mereka. Ia menyerupai Ibnu Mas’ud. Alqamah meriwayatkan dari sekelompok sahabat, dan dari dia meriwayat banyak tabi’in.

Uqbah bin Nafi’ Al-Fihri, Muawiyah mengirimnya ke Ifriqiyah dengan sepuluh ribu pasukan. Ia menaklukkannya dan mendirikan Al-Qairawan. Lokasinya semula adalah hutan lebat yang tidak dapat didekati karena binatang buas, ular, dan serangga. Ia berdoa kepada Allah Ta’ala, maka binatang-binatang itu keluar dengan anak-anaknya dari sarang-sarang dan lubang-lubang mereka. Ia membangunnya dan tetap di sana hingga tahun ini.

Ia memerangi beberapa kaum dari Barbar dan Romawi, lalu terbunuh sebagai syahid, radhiyallahu ‘anhu.

Amr bin Hazm, sahabat yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkatnya sebagai gubernur Najran ketika usianya tujuh belas tahun. Ia tinggal di sana untuk waktu yang lama dan hidup hingga masa Yazid bin Muawiyah.

Maslamah bin Makhlad Al-Anshari Az-Zarqi, lahir pada tahun Hijrah, mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyaksikan penaklukan Mesir, dan menjadi pemimpin pasukan di sana untuk Muawiyah dan Yazid. Ia meninggal pada bulan Dzulqa’dah tahun ini.

Naufal bin Muawiyah Ad-Daili, sahabat yang mulia. Ia menyaksikan perang Badr, Uhud, dan Khandaq bersama kaum musyrikin, dan ia menyakiti kaum muslimin. Kemudian ia masuk Islam dan keislamannya baik. Ia menyaksikan penaklukan Makkah dan Hunain, berhaji bersama Abu Bakar pada tahun sembilan, dan menyaksikan Haji Wada’. Ia hidup enam puluh tahun di masa Jahiliyah dan sama di masa Islam. Demikian kata Al-Waqidi. Ia berkata: Ia hidup hingga masa Yazid bin Muawiyah. Ibnu Al-Jauzi berkata: Ia meninggal pada tahun ini.

Pada tahun ini meninggal pula Ar-Rabab binti Imri’ul-Qais, istri Al-Husain bin Ali yang hadir ketika penduduk Irak menyerang suaminya Al-Husain bin Ali bin cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Sabtu atau Jumat.

Kemudian Masuklah Tahun Enam Puluh Tiga

Pada tahun ini terjadi peristiwa Harrah. Sebabnya adalah bahwa penduduk Madinah ketika melepaskan diri dari Yazid dan mengangkat Abdullah bin Muthi’ atas Quraisy, Abdullah bin Hanzhalah bin Abi Amir atas kaum Anshar, dan Ma’qil bin Sinan Al-Asyjari atas kabilah-kabilah Muhajirin. Ketika memasuki awal tahun ini, mereka menampakkan hal itu dan berkumpul di mimbar. Salah seorang dari mereka berkata: “Aku telah melepaskan diri dari Yazid sebagaimana aku melepas sorbanku ini,” sambil melemparkannya dari kepalanya. Yang lain berkata: “Aku telah melepaskan diri darinya sebagaimana aku melepas sandalku ini,” hingga terkumpul banyak sorban dan sandal di sana.

Kemudian mereka sepakat untuk mengusir pegawai Yazid dari tengah-tengah mereka, yaitu Utsman bin Muhammad bin Abi Sufyan, sepupu Yazid, dan mengusir Bani Umayyah dari Madinah. Bani Umayyah berkumpul, dan mereka hampir seribu orang, di rumah Marwan bin Al-Hakam. Penduduk Madinah mengepung mereka dan mengepung mereka.

Ali bin Al-Husain Zain Al-Abidin menyendiri dan tidak ikut dengan orang-orang, begitu pula Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab tidak melepaskan diri dari Yazid, begitu pula seluruh anggota keluarganya. Ibnu Umar berkata kepada keluarganya: “Jangan seorang pun dari kalian melepaskan diri dari Yazid, atau akan menjadi pemisah antaraku dan dia.” Akan datang hadits ini dengan lafazh dan sanadnya dalam biografi Yazid. Ia mengingkari penduduk Madinah dalam membaiat Ibnu Muthi’ dan Ibnu Hanzhalah sampai mati. Ia berkata: “Sesungguhnya kami membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak lari.” Begitu pula tidak seorang pun dari Bani Abdul Muththalib yang melepaskan diri dari Yazid.

Muhammad bin Al-Hanafiyyah ditanya tentang hal itu, ia menolak dengan keras dan menolak dengan sangat keras. Ia berdebat dan berargumen dengan mereka tentang Yazid dan membantah apa yang mereka tuduhkan kepadanya tentang minum khamr dan meninggalkan sebagian shalat, sebagaimana akan dijelaskan secara rinci dalam biografi Yazid sebentar lagi, insya Allah Ta’ala.

Bani Umayyah menulis kepada Yazid tentang pengepungan dan penghinaan yang mereka alami, serta kelaparan dan kehausan, dan bahwa jika ia tidak mengirim pasukan untuk menyelamatkan mereka dari apa yang mereka alami, mereka akan musnah semuanya. Mereka mengirim surat itu melalui kurir. Ketika kurir itu tiba kepada Yazid, ia menemuinya duduk di singgasananya dengan kedua kakinya di dalam air untuk menenangkan diri dari penyakit asam urat yang dideritanya. Ketika ia membaca surat itu, ia terguncang dan berkata: “Celaka kamu! Bukankah di antara mereka ada seribu orang?” Kurir itu berkata: “Ya.” Ia berkata: “Mengapa mereka tidak berperang walau sesaat?”

Kemudian ia mengirim memanggil Amr bin Sa’id bin Al-Ash, membacakan surat itu kepadanya, dan meminta nasihatnya tentang siapa yang akan ia kirim kepada mereka, dan menawarkan kepadanya tugas itu. Amr menolak dan berkata: “Sesungguhnya Amirul Mukminin telah memberhentikanku dari sana ketika keadaan masih terkendali dan urusan-urusan masih teratur. Adapun sekarang, yang ada hanyalah darah Quraisy yang akan tertumpah di dataran. Aku tidak suka menjadi yang menangani hal itu dari mereka. Biarlah yang menangani itu orang yang lebih jauh dari mereka daripada aku.”

Ia berkata: Maka kurir dikirim kepada Muslim bin Uqbah Al-Murri, yang adalah seorang lelaki tua yang lemah. Ia menerima tugas itu. Yazid mengirim bersamanya sepuluh ribu pasukan berkuda. Ada yang berkata: dua belas ribu. Penyeru Yazid menyeru di Damaskus: “Berangkatlah dengan mengambil gaji kalian secara penuh dan tunjangan empat puluh dinar!” Al-Mada’ini berkata: Ada yang mengatakan dengan dua puluh tujuh ribu; dua belas ribu pasukan berkuda dan lima belas ribu pejalan kaki, dan setiap orang diberi seratus dinar. Ada yang berkata: empat puluh dinar. Kemudian Yazid memeriksa mereka sementara ia menunggangi kudanya.

Al-Mada’ini berkata: Ia mengangkat Abdullah bin Mas’adah Al-Fazari atas penduduk Damaskus, Hushain bin Numair As-Sakuni atas penduduk Himsh, Hubaysy bin Duljah Al-Qaini atas penduduk Yordania, Rauh bin Zinba’ Al-Judzami dan Syarik Al-Kanani atas penduduk Palestina, Thurif bin Al-Hashhas Al-Hilali atas penduduk Qinnasrin, dan Muslim bin Uqbah Al-Murri, dari Murrah Ghathafan, sebagai pemimpin mereka semua.

An-Nu’man bin Basyir berkata: “Ya Amirul Mukminin, angkat aku sebagai pemimpin mereka dan aku akan mencukupimu.” An-Nu’man adalah saudara Abdullah bin Hanzhalah dari ibunya, Amrah binti Rawahah. Yazid berkata: “Tidak, mereka hanya boleh ditangani oleh orang yang kuat ini. Demi Allah, aku tidak akan menerima mereka setelah kebaikanku kepada mereka dan maafku terhadap mereka berulang kali.” An-Nu’man berkata: “Aku memohon kepadamu demi Allah, ya Amirul Mukminin, untuk kaum kerabatmu dan para Anshar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Abdullah bin Ja’far bertanya kepadanya: “Bagaimana menurutmu jika mereka kembali taat kepadamu, apakah kamu akan menerima hal itu dari mereka?” Ia menjawab: “Jika mereka melakukannya, maka tidak ada tuntutan atas mereka.”

Yazid berkata kepada Muslim bin Uqbah: “Jika kamu tiba di Madinah dan mereka tidak menghalangimu, serta mereka mendengar dan taat, maka jangan ganggu siapa pun dari mereka, dan teruskan perjalanan kepada orang murtad Ibnu Zubair. Namun jika mereka menghalangimu dari Madinah, maka ajaklah mereka selama tiga hari. Jika mereka kembali taat, terimalah dari mereka dan tahanlah diri dari mereka. Jika tidak, mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka. Jika kamu menang atas mereka, maka izinkanlah penjarahan kota itu selama tiga hari, kemudian tahanlah diri dari orang-orang.”

Ada yang mengatakan bahwa ia berkata kepada Muslim bin Uqbah: “Jika kamu menang atas mereka, dan jika ada yang terbunuh dari Bani Umayyah, maka hunus pedang, bunuh yang maju dan yang mundur, habisi yang terluka, dan jarablah kota itu selama tiga hari. Perhatikanlah Ali bin Husain, tahanlah diri darinya, perlakukan ia dengan baik, dan dekatkanlah tempat duduknya, karena ia tidak terlibat dalam apa pun yang mereka lakukan.” Ia memerintahkannya jika telah selesai dari Madinah untuk pergi ke Mekah mengepung Ibnu Zubair, dan berkata kepadanya: “Jika terjadi sesuatu padamu, maka yang memimpin pasukan adalah Hushain bin Numair as-Sakuni.”

Yazid telah menulis surat kepada Ubaidullah bin Ziyad agar pergi ke Ibnu Zubair dan mengepungnya di Mekah, namun ia menolak dan berkata: “Demi Allah, aku tidak akan melakukan keduanya untuk orang fasik itu selamanya. Aku membunuh cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menyerang Baitullah al-Haram?!” Ibunya Marjanah telah berkata kepadanya ketika ia membunuh Husain: “Celakalah kamu! Apa yang telah kamu lakukan?! Apa yang telah kamu kerjakan?!”

Mereka berkata: Telah sampai kepada Yazid bahwa Ibnu Zubair berkata dalam khutbahnya: “Yazid si kera, peminum khamr.”

Ketika Muslim bin Uqbah mempersiapkan pasukan dan menggelar pasukan di Damaskus, ia berkata: “Sampaikanlah kepada Abu Bakar ketika pasukan berangkat… dan pasukan menghadap Wadi al-Qura. Apakah engkau melihat ada yang mabuk dari kaum itu? Sungguh aneh dari orang murtad, sungguh aneh. Penipu agama yang mengikuti kebohongan.”

Dalam riwayat lain: “Sampaikanlah kepada Abu Bakar ketika urusan dimulai… dan pasukan turun di Wadi al-Qura. Dua puluh ribu antara orang tua dan pemuda. Apakah engkau melihat ada yang mabuk dari kaum itu?”

Mereka berkata: Muslim pergi bersama pasukannya menuju Madinah. Ketika ia mendekatinya, penduduk Madinah bersungguh-sungguh mengepung Bani Umayyah dan berkata kepada mereka: “Demi Allah, kami akan membunuh kalian sampai habis atau kalian memberikan jaminan bahwa kalian tidak akan menunjukkan siapa pun dari orang-orang Syam ini kepada kami, dan tidak bersekongkol dengan mereka melawan kami.” Mereka memberikan janji tentang hal itu. Ketika pasukan tiba, Bani Umayyah menyambut mereka. Muslim menanyakan berita kepada mereka, namun tidak ada yang memberinya kabar sehingga ia merasa terhalang karenanya. Abdul Malik bin Marwan datang kepadanya dan berkata: “Jika kamu ingin kemenangan, maka turunlah di sebelah timur Madinah di Harrah. Jika mereka keluar kepadamu, matahari akan berada di belakang kalian dan di wajah mereka. Ajaklah mereka untuk taat. Jika mereka menjawabmu, baik. Jika tidak, mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka, karena Allah akan memberikanmu kemenangan atas mereka, karena mereka telah menentang imam dan keluar dari ketaatan.” Muslim bin Uqbah berterima kasih kepadanya atas hal itu dan melaksanakan apa yang ia sarankan. Ia turun di sebelah timur Madinah di Harrah dan mengajak penduduknya selama tiga hari. Setiap kali mereka menolak kecuali perang dan pertempuran. Ketika tiga hari berlalu, ia berkata kepada mereka pada hari keempat – yaitu hari Rabu dua hari sebelum akhir bulan Dzulhijjah tahun 63 Hijriah – ia berkata kepada mereka: “Wahai penduduk Madinah, tiga hari telah berlalu. Amirul Mukminin berkata kepadaku bahwa kalian adalah keluarga dan kerabatnya, dan ia tidak suka menumpahkan darah kalian, dan ia memerintahkan aku untuk memberi kalian waktu tiga hari. Tiga hari telah berlalu, maka apa yang akan kalian lakukan? Apakah kalian berdamai atau berperang?” Mereka berkata: “Kami akan berperang.” Ia berkata: “Jangan lakukan itu, tapi berdamailah dan kita jadikan kesungguhan dan kekuatan kita melawan orang murtad ini” – maksudnya Ibnu Zubair. Mereka berkata kepadanya: “Wahai musuh Allah, jika kami menginginkan hal itu, kami tidak akan membiarkanmu melakukannya. Apakah kami akan membiarkan kalian pergi lalu kalian murtad di Baitullah al-Haram?!” Kemudian mereka bersiap untuk pertempuran.

Mereka telah membuat parit antara mereka dan Muslim bin Uqbah, dan menjadikan pasukan mereka empat bagian, setiap bagian dipimpin seorang komandan. Mereka menjadikan bagian terbaik adalah bagian yang di dalamnya ada Abdullah bin Hanzhalah al-Ghasil. Kemudian mereka bertempur dengan sangat sengit. Kemudian penduduk Madinah mundur ke kota, dan telah terbunuh dari kedua pihak banyak pemimpin dan tokoh, di antaranya: Abdullah bin Muthi’ dan tujuh putranya di hadapannya, Abdullah bin Hanzhalah al-Ghasil, saudaranya seibu Muhammad bin Tsabit bin Syammas, Muhammad bin Amr bin Hazm. Marwan bin Hakam lewat di dekatnya sementara ia terluka parah, lalu berkata: “Semoga Allah merahmatimu, berapa banyak tiang yang telah kulihat kamu berdiri lama di sisinya shalat dan sujud.”

Kemudian Muslim bin Uqbah – yang oleh ulama Salaf disebut Musrif bin Uqbah, semoga Allah menghinakannya – membiarkan penjarahan Madinah selama tiga hari sebagaimana diperintahkan Yazid – semoga Allah tidak memberinya kebaikan. Ia membunuh banyak pembesar dan ulama mereka, menjarah banyak harta dari sana, dan terjadilah keburukan yang sangat besar dan kerusakan yang luas, sebagaimana disebutkan oleh lebih dari seorang. Di antara yang dibunuh di hadapannya dengan sengaja adalah Ma’qil bin Sinan al-Asyjahiy, padahal ia adalah temannya sebelum itu, tetapi ia mengucapkan kata-kata kasar tentang Yazid, sehingga ia marah kepadanya karenanya.

Ia memanggil Ali bin Husain, maka ia datang berjalan di antara Marwan bin Hakam dan putranya Abdul Malik, agar mereka memberikan jaminan keamanan untuknya. Ia tidak tahu bahwa Yazid telah berwasiat tentangnya. Ketika ia duduk di hadapannya, Muslim meminta minuman – dan Muslim bin Uqbah telah membawa es dari Syam ke Madinah yang dicampur dengan minumannya. Ketika minuman datang, Marwan minum sedikit, kemudian memberikan sisanya kepada Ali bin Husain agar ia mendapat jaminan keamanan dengannya. Marwan bersahabat dengan Ali bin Husain. Ketika Muslim bin Uqbah melihatnya mengambil wadah di tangannya, ia berkata kepadanya: “Jangan minum dari minuman kami.” Kemudian berkata kepadanya: “Kamu datang dengan kedua orang ini agar aman dengan mereka.” Tangan Ali bin Husain gemetar dan ia tidak meletakkan wadah dari tangannya dan tidak meminumnya. Kemudian ia berkata kepadanya: “Seandainya Amirul Mukminin tidak berwasiat kepadaku tentangmu, pasti aku pancung lehermu.” Kemudian berkata kepadanya: “Jika kamu mau minum maka minumlah, dan jika kamu mau kami panggilkan yang lain untukmu.” Ia berkata: “Yang di tanganku ini yang aku inginkan.” Maka ia minum. Kemudian Muslim bin Uqbah berkata kepadanya: “Kemari, ke sini.” Lalu ia mendudukkannya bersamanya di atas dipan, dan berkata kepadanya: “Amirul Mukminin telah berwasiat kepadaku tentangmu, dan orang-orang ini telah menyibukkanku darimu.” Kemudian berkata: “Mungkin keluargamu ketakutan.” Ia berkata: “Ya, demi Allah.” Maka ia memerintahkan tunggangannya dipasang pelana, lalu mengantarkannya sampai kembali ke rumahnya dengan terhormat.

Kemudian ia memanggil Amr bin Utsman bin Affan – dan ia tidak keluar bersama Bani Umayyah – lalu berkata kepadanya: “Jika penduduk Madinah menang, kamu berkata: ‘Aku bersama kalian.’ Dan jika penduduk Syam menang, kamu berkata: ‘Aku putra Amirul Mukminin.'” Kemudian ia memerintahkan, lalu jenggotnya dicabut di hadapannya.

Al-Mada’ini berkata: Muslim bin Uqbah membiarkan penjarahan Madinah selama tiga hari. Mereka membunuh orang-orang dan mengambil harta. Sa’da binti Auf al-Mariyah mengirim utusan kepada Muslim bin Uqbah dengan mengatakan: “Aku putri pamanmu, maka perintahkan teman-temanmu agar tidak mengganggu unta-unta kami di tempat ini dan itu.” Ia berkata kepada teman-temannya: “Jangan mulai kecuali dengan unta-untanya.” Seorang wanita datang dan berkata: “Aku budakmu, dan putraku di antara tawanan.” Ia berkata: “Segerakan untuknya.” Maka leher putranya dipancung, dan ia berkata: “Berikan kepadanya kepalanya. Tidakkah kamu senang bahwa kamu tidak dibunuh sampai kamu berbicara tentang putramu?” Mereka menyerang wanita-wanita sehingga dikatakan: Seribu wanita hamil pada hari-hari itu tanpa suami.

Al-Mada’ini dari Abu Qurrah berkata: Hisyam bin Hassan berkata: “Seribu wanita dari penduduk Madinah melahirkan setelah peristiwa Harrah tanpa suami.”

Sejumlah tokoh sahabat bersembunyi, di antaranya Jabir bin Abdullah. Abu Said al-Khudri keluar dan berlindung di gua di gunung. Seorang laki-laki dari penduduk Syam mengejarnya. Ia berkata: “Ketika aku melihatnya, aku menghunus pedangku lalu ia mengejarku. Ketika ia melihatku bertekad untuk membunuhku, aku mengusap pedangku, lalu berkata: ‘Sesungguhnya aku ingin agar kamu menanggung dosaku dan dosamu, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan demikianlah balasan bagi orang-orang zalim.’ (QS. Al-Maidah: 29). Ketika ia melihat itu, ia berkata: ‘Siapa kamu?’ Aku berkata: ‘Aku Abu Said al-Khudri.’ Ia berkata: ‘Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?’ Aku berkata: ‘Ya.’ Maka ia pergi dan meninggalkanku.”

Al-Mada’ini berkata: Said bin Musayyab dibawa kepada Muslim, lalu ia berkata kepadanya: “Berbaiat.” Ia berkata: “Aku berbaiat atas jejak Abu Bakar dan Umar.” Maka ia memerintahkan agar lehernya dipancung. Seorang laki-laki bersaksi bahwa ia gila, maka ia dibebaskan.

Al-Mada’ini dari Ali bin Abdullah al-Qurasyi dan Abu Ishaq at-Tamimi keduanya berkata: Ketika penduduk Madinah kalah pada hari Harrah, wanita-wanita dan anak-anak berteriak. Ibnu Umar berkata: “Karena Utsman, demi Ka’bah.”

Al-Mada’ini dari seorang syekh penduduk Madinah berkata: Aku bertanya kepada az-Zuhri: “Berapa jumlah yang terbunuh pada hari Harrah?” Ia berkata: “Tujuh ratus dari tokoh-tokoh orang Muhajirin dan Anshar, tokoh-tokoh budak yang dimerdekakan, dan yang tidak dikenal dari orang merdeka dan budak dan lainnya sepuluh ribu orang.” Ia berkata: “Peristiwa itu terjadi tiga hari sebelum akhir Dzulhijjah tahun 63 Hijriah, dan mereka menjarah Madinah selama tiga hari.”

Al-Waqidi dan Abu Ma’syar berkata: Peristiwa Harrah terjadi pada hari Rabu dua hari sebelum akhir Dzulhijjah tahun 63 Hijriah.

Al-Waqidi dari Abdullah bin Ja’far dari Ibnu Auf berkata: Abdullah bin Zubair memimpin haji orang-orang pada tahun ini. Mereka menyebutnya al-A’idz (yang berlindung), dan mereka menganggap urusan itu syura. Berita tentang apa yang terjadi pada penduduk Madinah datang kepada penduduk Mekah pada malam awal Muharram, bersama Said budak Miswar bin Makhramah. Mereka sangat bersedih dan bersiap untuk memerangi penduduk Syam.

Ibnu Jarir berkata: Kisah Harrah telah diriwayatkan berbeda dengan apa yang diriwayatkan Abu Mikhnaf. Ahmad bin Zuhair menceritakan kepadaku, ayahku menceritakan, aku mendengar Wahb bin Jarir, Juwairiyah bin Asma’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar para syekh penduduk Madinah menceritakan bahwa Mu’awiyah ketika kematian mendatanginya memanggil putranya Yazid dan berkata kepadanya: “Kamu akan menghadapi hari dengan penduduk Madinah. Jika mereka melakukan itu, lemparlah mereka dengan Muslim bin Uqbah, karena ia adalah orang yang telah kukenal kesetiaannya.” Ketika Mu’awiyah meninggal, utusan dari penduduk Madinah datang kepadanya. Di antara yang datang kepadanya adalah Abdullah bin Hanzhalah bin Abi Amir – ia adalah orang mulia, utama, pemimpin, ahli ibadah – bersamanya delapan putranya. Ia memberikan kepadanya seratus ribu dirham, dan memberikan kepada putra-putranya masing-masing sepuluh ribu selain pakaian dan kendaraan mereka. Ketika Abdullah bin Hanzhalah tiba di Madinah, orang-orang datang kepadanya dan berkata: “Apa yang kamu lihat?” Ia berkata: “Aku datang kepada kalian dari seorang laki-laki, demi Allah, seandainya aku tidak mendapatkan kecuali putra-putraku ini, pasti aku berjihad melawannya dengan mereka.” Mereka berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa ia memberikan kepadamu, memberimu hadiah, dan memuliakan mu.” Ia berkata: “Ia memang melakukannya, dan aku tidak menerimanya kecuali untuk menguatkan diri dengannya.” Maka ia mendorong orang-orang dan mereka membaiatnya. Hal itu sampai kepada Yazid, lalu ia mengutus Muslim bin Uqbah kepada mereka.

Penduduk Madinah telah mengutus ke setiap sumber air antara mereka dan Syam, lalu mereka menuangkan kantong ter ke dalamnya dan merusaknya. Allah mengirimkan hujan lebat kepada pasukan Syam, sehingga mereka tidak menimba dengan ember sampai mereka tiba di Madinah. Penduduk Madinah keluar kepada mereka dengan pasukan yang banyak dan penampilan yang belum pernah ada sepertinya. Ketika penduduk Syam melihat mereka, mereka takut dan tidak suka memerangi mereka. Muslim sangat sakit. Ketika orang-orang sedang berperang, tiba-tiba mereka mendengar takbir dari belakang mereka di dalam Madinah. Bani Haritsah dari penduduk Syam menyerbu mereka dan mereka berada di atas pagar. Orang-orang mundur. Yang terkena di parit lebih banyak daripada yang terbunuh. Mereka masuk Madinah, dan orang-orang kalah. Abdullah bin Hanzhalah bersandar ke dinding sambil tidur mendengkur. Putranya membangunkannya. Ketika ia membuka matanya dan melihat apa yang dilakukan orang-orang, ia memerintahkan putra tertuanya untuk maju sampai terbunuh. Muslim bin Uqbah masuk Madinah, lalu ia mengajak orang-orang untuk berbaiat bahwa mereka adalah hamba Yazid bin Mu’awiyah, ia menghukumi darah, harta, dan keluarga mereka sesuka hatinya.

Ibnu Asakir telah meriwayatkan dalam biografi Ahmad bin Abdul Shamad dari Tarikhnya dari kitab Al-Mujalisah karya Ahmad bin Marwan al-Maliki, al-Husain bin al-Hasan al-Yaskuri menceritakan kepada kami, az-Ziyadi menceritakan, dari al-Ashma’i, dan Muhammad bin al-Harits menceritakan kepadaku, dari al-Mada’ini, ia berkata: Ketika penduduk Harrah terbunuh, ada yang berseru di Mekah di atas Abu Qubais pada sore hari malam itu, sedang Ibnu Zubair duduk mendengar:

“Orang-orang pilihan putra-putra pilihan terbunuh, pemilik kehormatan dan kedermawanan Orang-orang yang berpuasa, yang mendirikan shalat, yang taat, pemilik kebaikan Yang mendapat petunjuk, yang bertakwa, yang terdahulu menuju kemenangan Apa yang terjadi di Waqim dan Baqi’ dari para pembesar yang perkasa Dan di tanah Yatsrib, celaka mereka dari orang-orang yang meratap dan berteriak”

Ibnu Zubair berkata kepada teman-temannya: “Wahai kalian, teman-teman kalian telah terbunuh. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. (QS. Al-Baqarah: 156)”

Yazid telah melakukan kesalahan yang sangat besar dalam ucapannya kepada Muslim bin Uqbah untuk membiarkan penjarahan Madinah selama tiga hari. Ini adalah kesalahan besar, karena terjadi dalam tiga hari ini kerusakan-kerusakan besar di Madinah Nabawiyah yang tidak terbatas dan tidak tergambarkan, yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Azza wa Jalla.

Ia bermaksud dengan mengutus Muslim bin Uqbah untuk mengokohkan kekuasaan dan kerajaannya, serta kelangsungan hari-harinya. Maka Allah membalasnya dengan kebalikan maksudnya. Allah yang menghancurkan para penguasa zalim menghancurkannya, dan mengambilnya dengan pengambilan Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.

Berkata Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya: telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Huraith, telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Musa, telah menceritakan kepada kami Al-Ju’aid, dari Aisyah binti Sa’d bin Abi Waqqash, dari ayahnya, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang bermaksud jahat terhadap penduduk Madinah melainkan ia akan hancur luluh sebagaimana garam larut dalam air.”

Dan telah diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Abdillah Al-Qarazh Al-Madani – namanya adalah Dinar – dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang menghendaki kejahatan terhadap penduduk Madinah melainkan Allah akan meleburkannya dalam api sebagaimana timah dilebur” atau: “sebagaimana garam larut dalam air.”

Dan dalam riwayat Muslim dari jalur Abu Abdillah Al-Qarazh, dari Sa’d dan Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menghendaki kejahatan terhadap penduduk Madinah, niscaya Allah akan meleburkannya sebagaimana garam larut dalam air.”

Dan berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Anas bin ‘Iyadh, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Khushaifah, dari Abdurrahman bin Abdillah bin Abdurrahman bin Abi Sha’sha’ah, dari Atha’ bin Yasar, dari As-Sa’ib bin Khallad, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menakut-nakuti penduduk Madinah secara zalim, maka Allah akan menakut-nakutinya, dan atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya pada hari kiamat tebusan dan keadilan.” Dan telah diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari berbagai jalur, dari Ali bin Hajar, dari Isma’il bin Ja’far, dari Yazid bin Khushaifah, dari Abdurrahman bin Abdillah bin Abdurrahman bin Abi Sha’sha’ah, dari Atha’ bin Yasar dari Ibnu Khallad dari Bani Al-Harith bin Al-Khazraj, telah mengabarkan kepadanya, lalu menyebutkannya. Demikian pula diriwayatkan oleh Al-Humaidi dari Abdul Aziz bin Abi Hazim, dari Yazid bin Khushaifah. Dan diriwayatkan oleh An-Nasa’i juga, dari Yahya bin Habib bin Arabi, dari Hammad, dari Yahya bin Sa’id, dari Muslim bin Abi Maryam, dari Atha’ bin Yasar, dari Ibnu Khallad, dan ia adalah termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu menyebutkannya.

Dan berkata Ibnu Wahb: telah mengabarkan kepadaku Haiwah bin Syuraih, dari Ibnu Al-Had, dari Abu Bakr, dari Atha’ bin Yasar dari As-Sa’ib bin Khallad, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menakut-nakuti penduduk Madinah, maka Allah akan menakut-nakutinya, dan atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.”

Dan berkata Ad-Daraquthni: telah menceritakan kepada kami Ali bin Ahmad bin Al-Haitham, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdul Hamid bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Abu Zakariya Yahya bin Abdillah bin Yazid bin Abdillah bin Unais Al-Anshari, dari Muhammad dan Abdurrahman putra Jabir bin Abdillah, keduanya berkata: Kami keluar bersama ayah kami pada hari Al-Harrah, dan penglihatannya telah hilang, lalu ia berkata: Celakalah orang yang menakut-nakuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami bertanya: Wahai ayah, apakah ada orang yang menakut-nakuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?! Ia menjawab: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menakut-nakuti kaum Anshar ini, sungguh ia telah menakut-nakuti apa yang ada di antara kedua ini.” Dan ia meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi tubuhnya. Berkata Ad-Daraquthni: hadits ini hanya diriwayatkan sendirian oleh Sa’d bin Abdul Hamid, baik lafazh maupun sanadnya. Dan telah dijadikan dalil dengan hadits ini dan yang semisalnya oleh orang yang berpendapat bolehnya melaknat Yazid bin Mu’awiyah, dan ini adalah riwayat dari Ahmad bin Hanbal yang dipilih oleh Al-Khallal, dan Abu Bakr Abdul Aziz, dan Al-Qadhi Abu Ya’la, dan putranya Al-Qadhi Abu Al-Husain, dan telah membela pendapat itu Asy-Syaikh Abu Al-Faraj Ibnu Al-Jauzi dalam karya tersendiri dan membolehkan melaknatnya, dan melarang dari hal itu yang lainnya – dan mereka juga menulis karya tentangnya – agar jangan sampai laknat terhadapnya dijadikan wasilah kepada ayahnya atau salah seorang dari para sahabat, dan mereka memahami apa yang keluar darinya berupa tindakan-tindakan buruk sebagai takwil yang salah, dan mereka berkata: Sesungguhnya ia bersama itu adalah imam yang fasik, dan imam jika fasik tidak diturunkan hanya karena hal itu, menurut pendapat yang paling shahih dari dua pendapat ulama, bahkan tidak boleh memberontak terhadapnya; karena dalam hal itu terdapat pembangkitan fitnah, dan terjadinya kekacauan, sebagaimana yang telah terjadi.

Adapun apa yang disebutkan sebagian orang bahwa Yazid bin Mu’awiyah ketika sampai kepadanya berita penduduk Madinah, dan apa yang terjadi kepada mereka pada peristiwa Al-Harrah dari Muslim bin Uqbah dan tentaranya, ia sangat bergembira karenanya, maka sesungguhnya ia memandang bahwa dialah imam, dan mereka telah keluar dari ketaatannya, dan mengangkat pemimpin selain dirinya, maka ia berhak memerangi mereka hingga mereka kembali kepada ketaatan, dan menjaga kesatuan, sebagaimana ia telah memperingatkan mereka tentang itu melalui lisan An-Nu’man bin Basyir dan Muslim bin Uqbah selama tiga hari sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan sungguh telah datang dalam hadits shahih: “Barangsiapa mendatangi kalian sedang urusan kalian telah bersatu, ia ingin memecah-belah kalian, maka bunuhlah ia siapapun ia.” Adapun apa yang mereka sampaikan dari syairnya tentang hal itu, dan pengutipannya terhadap syair Ibnu Az-Zib’ara pada perang Uhud yang di dalamnya ia berkata:

Andai para tua-tua kami di Badr menyaksikan, kepanikan kaum Khazraj dari sabetan tombak-tombak, Ketika kakinya bergerak di Quba, dan pembantaian merajalela di Abdu Al-Asyhal, Sungguh kami telah membunuh dua kali lipat dari pemuka-pemuka mereka, dan kami luruskan kemiringan Badr maka menjadi lurus

Dan sebagian orang Rafidhah telah menambahkan di dalamnya sehingga berkata:

Bani Hasyim bermain-main dengan kekuasaan, tidak ada kerajaan yang datang dan tidak ada wahyu yang turun

Maka ini jika dikatakannya oleh Yazid bin Mu’awiyah maka laknat Allah atasnya dan laknat orang-orang yang melaknat, dan jika ia tidak mengatakannya maka laknat Allah atas orang yang mengadakannya terhadapnya untuk mencemarkan namanya dengannya dan terhadap raja-raja kaum muslimin, dan kami akan menyebutkan biografi Yazid bin Mu’awiyah sebentar lagi, dan apa yang disebutkan tentangnya, dan apa yang dikatakan tentangnya, dan apa yang ia alami dari perbuatan-perbuatan dan keburukan-keburukan serta ucapan-ucapan, pada tahun yang akan datang, karena sesungguhnya ia tidak diberi kesempatan setelah peristiwa Al-Harrah dan terbunuhnya Al-Husain kecuali sebentar hingga Allah membinasakan dia sebagaimana Dia membinasakan para tiran sebelumnya dan sesudahnya, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

Dan sungguh telah meninggal pada tahun ini banyak orang dari tokoh-tokoh terkenal dan pembesar-pembesar dari para sahabat dan selain mereka dalam peristiwa Al-Harrah yang panjang penyebutannya; maka dari tokoh-tokoh terkenal mereka dari para sahabat adalah Abdullāh bin Hanzhalah pemimpin Madinah, yang kepadanya penduduk Al-Harrah berbai’at, dan Ma’qil bin Sinan, dan Abdullāh bin Zaid bin Ashim, radhiyallahu ‘anhum, dan Masruq bin Al-Ajda’.

Kemudian Masuklah Tahun Enam Puluh Empat

Pada tahun ini, pada awal Muharram darinya, Muslim bin Uqbah berangkat – setelah selesainya dari perang penduduk Madinah – menuju Mekkah bermaksud memerangi Ibnu Az-Zubair dan orang-orang yang bergabung dengannya dari bangsa Arab Badui atas penentangan terhadap Yazid bin Mu’awiyah, dan ia mengangkat Rauh bin Zinba’ sebagai gubernur atasnya. Ketika ia sampai di bukit Harsya ia mengirim kepada para pemimpin pasukan dan mengumpulkan mereka, lalu berkata: Sesungguhnya Amirul Mukminin telah berpesan kepadaku jika terjadi kepadaku peristiwa kematian agar aku mengangkat atas kalian Hushain bin Numair As-Sakuni, dan demi Allah seandainya urusan itu milikku niscaya aku tidak akan melakukannya. Kemudian ia memanggil dia lalu berkata: Lihatlah wahai Ibnu Bard’ah Al-Himar dan jagalah wasiatku kepadamu. Kemudian ia memerintahkannya jika sampai di Mekkah agar segera memerangi Ibnu Az-Zubair sebelum tiga hari, kemudian berkata: Ya Allah sesungguhnya aku tidak pernah mengerjakan suatu amalan setelah persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya yang lebih aku cintai daripada membunuh penduduk Madinah dan tidak lebih aku harapkan di akhirat, dan jika aku masuk neraka setelah itu sungguh aku celaka. Kemudian ia meninggal, semoga Allah memburukkannya, dan dikuburkan di Al-Musyallal, menurut apa yang dikatakan Al-Waqidi.

Dan Hushain bin Numair berangkat dengan pasukan menuju Mekkah, dan sampai kepadanya pada empat hari tersisa dari Muharram menurut apa yang dikatakan Al-Waqidi. Dan dikatakan: tujuh hari berlalu darinya. Dan sungguh telah menyusul kepada Ibnu Az-Zubair kelompok-kelompok dari orang yang tersisa dari pemuka-pemuka penduduk Madinah dan bergabung pula kepadanya Najdah bin ‘Amir Al-Hanafi dari penduduk Yamamah dalam sekelompok dari penduduknya; untuk melindungi Baitullah dari penduduk Syam. Maka Hushain bin Numair turun di luar Mekkah, dan keluar kepadanya Ibnu Az-Zubair dengan penduduk Mekkah dan orang yang bergabung bersamanya, lalu mereka berperang pada hari itu dengan peperangan yang dahsyat, dan saling berhadapan Al-Mundzir bin Az-Zubair dan seorang laki-laki dari penduduk Syam maka masing-masing dari keduanya membunuh temannya, dan penduduk Syam menyerang dengan serangan sungguh-sungguh, maka penduduk Mekkah mundur, dan bagal Abdullah bin Az-Zubair tersandung dengannya, maka kembali kepadanya Al-Miswar bin Makhramah dan Mush’ab bin Abdurrahman bin Auf dan sekelompok orang, lalu mereka berperang membela dirinya hingga mereka semua terbunuh, dan Ibnu Az-Zubair bersabar menghadapi mereka hingga malam, lalu mereka pergi darinya, kemudian mereka berperang pada sisa bulan Muharram dan Shafar secara penuh. Ketika tiba hari Sabtu tanggal tiga Rabiul Awal tahun enam puluh empat, mereka memasang ketapel-ketapel di Ka’bah, dan melemparkannya hingga dengan api, maka terbakarlah dinding Baitullah pada hari Sabtu – demikianlah dikatakan Al-Waqidi – dan mereka berkata:

Lemparan seperti unta yang berbusa, kami melempar dengannya tiang-tiang masjid ini

Dan Amr bin Hauthah As-Sadusi berkata:

Bagaimana menurutmu perbuatan Ummu Farwah, ia menangkap mereka antara Shafa dan Marwah

Dan Ummu Farwah adalah nama ketapel. Dan dikatakan: sesungguhnya ia terbakar; karena penduduk masjid membuat api dan mereka di sekeliling Ka’bah, maka api mengenai sebagian tirai Ka’bah, lalu menjalar ke kayu-kayunya dan atapnya maka terbakarlah. Dan dikatakan: sesungguhnya ia terbakar karena Ibnu Az-Zubair mendengar takbir di sebagian gunung Mekkah pada malam yang gelap, lalu ia menyangka bahwa mereka adalah penduduk Syam, maka diangkat api di atas tombak untuk melihat siapa orang-orang yang di atas gunung itu, lalu angin meniupkan percikan api dari ujung tombak ke antara Rukun Yamani dan Aswad dari Ka’bah, maka menempel pada tirai-tirainya dan kayu-kayunya, lalu terbakarlah dan menghitam Hajar Aswad, dan retak di tiga tempat darinya.

Dan terus berlanjut pengepungan hingga awal Rabiulakhir, dan datanglah berita wafatnya Yazid bin Mu’awiyah kepada manusia, dan bahwasanya ia telah meninggal pada empat belas malam berlalu dari Rabiul Awal tahun enam puluh empat, dan ia berusia lima atau delapan atau sembilan dan tiga puluh tahun, maka masa pemerintahannya adalah tiga tahun dan enam atau delapan bulan. Ketika itu padamlah peperangan dan padam api fitnah, dan dikatakan: sesungguhnya mereka tinggal mengepung Ibnu Az-Zubair setelah kematian Yazid empat puluh malam. Dan disebutkan bahwa Ibnu Az-Zubair mengetahui kematian Yazid sebelum penduduk Syam, lalu ia menyeru di antara mereka: Wahai penduduk Syam, sungguh Allah telah membinasakan tiran kalian, maka barangsiapa dari kalian yang suka untuk masuk ke dalam apa yang dimasuki manusia maka silahkan ia lakukan, dan barangsiapa yang suka untuk kembali ke Syamnya maka silahkan ia kembali. Maka penduduk Syam tidak membenarkan penduduk Mekkah dalam apa yang mereka kabarkan, hingga datang Tsabit bin Qais bin Al-Munqi’ dengan berita yang pasti. Dan disebutkan bahwa Hushain bin Numair dipanggil oleh Ibnu Az-Zubair untuk berbicara dengannya di antara dua barisan, lalu keduanya bertemu hingga bersilangan kepala-kepala kuda keduanya, dan kuda Hushain terus menerus lari dan ia menahannya, maka Ibnu Az-Zubair berkata kepadanya: Ada apa denganmu? Ia menjawab: Sesungguhnya burung merpati di bawah kaki kudaku memakan dari kotoran, maka aku benci menginjak merpati Tanah Haram. Maka Ibnu Az-Zubair berkata kepadanya: Kamu melakukan ini padahal kamu membunuh kaum muslimin?! Maka Hushain berkata kepadanya: Maka izinkan kami untuk thawaf di Ka’bah kemudian kami kembali ke negeri kami. Maka ia mengizinkan mereka lalu mereka thawaf.

Dan disebutkan oleh Ibnu Jarir bahwa Hushain dan Ibnu Az-Zubair berjanji pada suatu malam untuk bertemu, lalu keduanya bertemu di luar Mekkah. Hushain berkata kepadanya: Jika orang ini telah binasa maka engkau adalah orang yang paling berhak atas urusan ini setelahnya, maka marilah berangkat bersamaku ke Syam, maka demi Allah tidak akan ada dua orang yang berselisih atasmu.

Dikatakan: Bahwa Ibnu Zubair tidak percaya terhadapnya dalam hal itu, dan ia berkata kasar kepadanya, maka Ibnu Numair menjadi antipati kepadanya, dan berkata: Aku mengajaknya kepada kekhalifahan, namun ia berkata kasar kepadaku?! Kemudian ia kembali bersama pasukan menuju Syam, sambil berkata: Aku menjanjikannya kekuasaan tetapi ia mengancamku dengan pembunuhan?! Kemudian Ibnu Zubair menyesal atas tindakan kasarnya kepadanya, lalu ia mengirim utusan kepadanya untuk mengatakan: Adapun Syam, aku tidak akan mendatanginya, tetapi ambillah bai’at bagiku atas orang-orang yang ada di sana, karena aku akan memberikan keamanan dan berlaku adil kepada kalian. Maka ia mengirim utusan kepadanya untuk mengatakan: Sesungguhnya orang-orang dari keluarga ini (Bani Umayyah) yang menginginkannya di Syam sangatlah banyak. Kemudian ia kembali dan melewati Madinah, maka penduduknya berharap kepadanya tetapi mereka sangat menghinanya, dan Ali bin Husain memuliakan mereka, serta memberikan hadiah kepada Husain bin Numair berupa makanan dan pakan ternak. Bani Umayyah pun berangkat bersama pasukan menuju Syam, dan mereka kembali ke sana sedangkan Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah telah diangkat menjadi khalifah di Damaskus berdasarkan wasiat ayahnya kepadanya untuk hal itu. Dan Allah Subhanahu lebih mengetahui yang benar.

Inilah Biografi Yazid bin Muawiyah

Ia adalah Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan Shakhr bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams, Amirul Mukminin, Abu Khalid al-Umawi. Ia lahir tahun dua puluh lima atau dua puluh enam atau dua puluh tujuh di Mathrun, dan ada yang mengatakan: di Bait Ras. Ia dibai’at untuk menjadi khalifah semasa hidup ayahnya agar menjadi putra mahkota setelah ayahnya, kemudian hal itu dikukuhkan setelah kematian ayahnya pada pertengahan bulan Rajab tahun enam puluh, maka ia terus menjabat hingga wafat pada tanggal empat belas bulan Rabiul Awal tahun enam puluh empat. Ibunya adalah Maisun binti Bahdal bin Unaif bin Daljah bin Qinafah bin Adi bin Zuhair bin Haritsah al-Kalbi.

Ia meriwayatkan dari ayahnya Muawiyah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya dalam agama.” Dan hadits lain tentang wudhu. Dan meriwayatkan darinya adalah anaknya Khalid dan Abdul Malik bin Marwan. Abu Zur’ah ad-Dimasyqi telah menyebutkannya dalam thabaqah yang mengikuti para sahabat, yaitu thabaqah tinggi, dan berkata: Ia memiliki beberapa hadits. Dan ia adalah orang yang banyak dagingnya, berbadan besar, banyak rambutnya, tampan, tinggi, besar kepalanya, jari-jarinya tebal dan panjang, pernah terkena cacar.

Ayahnya pernah menceraikan ibunya ketika ia sedang mengandungnya, maka ia (ibunya) bermimpi seolah-olah keluar dari kemaluannya bulan purnama, maka ia menceritakan mimpinya kepada ibunya yang berkata: Jika mimpimu benar, maka engkau akan melahirkan seseorang yang akan dibai’at untuk menjadi khalifah. Ibunya Maisun suatu hari duduk menyisir rambutnya ketika ia masih anak kecil, sedangkan ayahnya Muawiyah bersama istrinya yang disayanginya di menara, yaitu Fakhitah binti Qarzhah. Ketika ia selesai menyisirnya, ia memandangnya dan ia mengaguminya lalu menciumnya di antara kedua matanya, maka Muawiyah berkata saat itu:

Jika ia mati, tidak akan beruntung orang yang mempersiapkan diri setelahnya… Maka gantungkanlah padanya jimat-jimat wahai penyisir

Yazid kemudian berjalan sedangkan Fakhitah memandangnya dengan matanya, kemudian berkata: Semoga Allah melaknat kehitaman kedua betis ibumu. Maka Muawiyah berkata: Demi Allah, ia sungguh lebih baik dari anakmu Abdullah – yaitu anak Muawiyah dari Fakhitah, yang memang bodoh – maka Fakhitah berkata: Tidak demi Allah, tetapi engkau mengutamakan yang ini atas dia. Maka ia berkata: Aku akan menjelaskan hal itu kepadamu agar engkau mengetahuinya sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu ini. Kemudian ia memanggil anaknya Abdullah lalu berkata kepadanya: Aku telah memutuskan untuk memberikan kepadamu segala yang engkau minta dariku dalam majelis ini. Maka ia berkata: Kebutuhanku adalah agar engkau membelikan untukku anjing pemburu dan keledai. Maka ia berkata: Wahai anakku, engkau keledai dan dibelikan untukmu keledai?! Pergilah keluar. Kemudian ia berkata kepada ibunya: Bagaimana menurutmu? Kemudian ia memanggil Yazid lalu berkata: Aku telah memutuskan untuk memberikan kepadamu segala yang engkau minta dariku dalam majelismu ini, maka mintalah apa yang engkau inginkan. Maka Yazid bersujud, kemudian berkata ketika mengangkat kepalanya: Segala puji bagi Allah yang telah memberikan umur panjang kepada Amirul Mukminin, dan menunjukkan kepadanya pandangan ini. Kebutuhanku adalah agar engkau mengadakan perjanjian untukku sebagai penggantimu, menjadikanku memimpin pasukan musim panas kaum muslimin tahun ini, mengizinkanku untuk berhaji ketika aku kembali, menjadikanku memimpin musim haji, menambahkan kepada penduduk Syam sepuluh dinar untuk setiap orang, menjadikan itu atas syafa’atku, dan menetapkan untuk anak-anak yatim Bani Jumh, anak-anak yatim Bani Sahm, dan anak-anak yatim Bani Adi. Maka ia berkata: Apa urusanmu dengan anak-anak yatim Bani Adi? Maka ia berkata: Karena mereka bersekutu denganku dan pindah ke rumahku. Maka Muawiyah berkata: Aku telah melakukan semua itu. Dan ia mencium wajahnya. Kemudian ia berkata kepada binti Qarzhah: Bagaimana menurutmu? Maka ia berkata: Wahai Amirul Mukminin, wasiatkan dia kepadaku karena engkau lebih mengetahuinya dariku. Maka ia melakukannya. Dalam riwayat lain bahwa Yazid ketika ayahnya berkata kepadanya: Mintalah kebutuhanmu. Yazid berkata kepadanya: Bebaskanlah aku dari neraka, semoga Allah membebaskan lehermu darinya. Ia berkata: Bagaimana caranya? Ia berkata: Karena aku menemukan dalam atsar bahwa barangsiapa yang memikul urusan umat selama tiga hari, maka Allah mengharamkan api neraka atasnya, maka buatlah perjanjian kepadaku untuk urusan setelahmu. Maka ia melakukannya.

Al-Utbi berkata: Muawiyah melihat anaknya Yazid memukul budaknya, maka ia berkata kepadanya: Celaka kamu, apakah kamu memukul orang yang tidak mampu melindungi dirinya darimu?! Demi Allah, kekuasaan telah menghalangi aku dari orang-orang yang menyimpan dendam, dan sesungguhnya orang yang paling berhak memberi maaf adalah orang yang berkuasa.

Aku (Ibnu Katsir) berkata: Dan telah tetap dalam Shahih bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat Abu Mas’ud memukul budaknya, maka ia berkata kepadanya: “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, Allah lebih berkuasa atasmu daripada kamu atas dia.”

Al-Utbi berkata: Ziyad datang dengan harta yang sangat banyak dan dengan peti yang penuh permata kepada Muawiyah, maka Muawiyah senang dengan hal itu. Ziyad berdiri lalu naik ke mimbar, kemudian membanggakan apa yang ia lakukan di tanah Irak dalam memantapkan kerajaan untuk Muawiyah. Maka Yazid berdiri lalu berkata: Jika engkau melakukan itu wahai Ziyad, maka kami telah memindahkanmu dari perwalian Tsaqif kepada Quraisy, dan dari kalam (pena) kepada mimbar-mimbar, dan dari Ziyad bin Ubaid kepada Harb bin Umayyah. Maka Muawiyah berkata kepadanya: Duduklah semoga ayah dan ibuku menebus dirimu.

Dari Atha’ bin Sa’ib dan lainnya berkata: Muawiyah marah kepada anaknya Yazid lalu menjauhinya, maka Ahnaf bin Qais berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, anak-anak kami adalah buah hati kami, dan tiang punggung kami, dan kami bagi mereka adalah langit yang menaungi dan bumi yang lembut. Jika mereka marah maka puaskan mereka, dan jika mereka meminta maka berilah mereka, dan janganlah menjadi beban bagi mereka sehingga mereka bosan dengan hidupmu dan mengharapkan kematianmu. Maka Muawiyah berkata: Semoga Allah memberkatimu wahai Abu Bahr. Wahai budak, datangi Yazid dan sampaikanlah salamku kepadanya, dan katakan kepadanya: Sesungguhnya Amirul Mukminin telah memerintahkan untukmu seratus ribu dirham, dan seratus potong kain. Maka Yazid berkata: Dari Amirul Mukminin? Maka ia berkata: Ahnaf. Maka Yazid berkata: Tidak mengapa, aku akan membaginya dengannya. Lalu ia mengirim kepada Ahnaf lima puluh ribu dan lima puluh potong kain.

Ath-Thabrani berkata: Muhammad bin Zakariya al-Ghulabi menceritakan kepada kami, Ibnu Aisyah menceritakan kepada kami, dari ayahnya berkata: Yazid pada masa mudanya adalah peminum arak yang mengikuti jalan para pemuda, maka Muawiyah menyadari hal itu, lalu ia ingin menasihatinya dengan lembut, maka ia berkata: Wahai anakku, betapa mampunya engkau untuk mencapai kebutuhanmu tanpa merusak kehormatan yang menghilangkan muru’ah dan kedudukanmu. Kemudian ia berkata: Wahai anakku, aku akan melantunkan untukmu beberapa bait, maka beradablah dengannya dan hafalkanlah. Maka ia melantunkan kepadanya:

Bersusah payahlah di siang hari dalam mencari kemuliaan… Dan bersabarlah atas perpisahan dengan kekasih yang dekat

Hingga jika malam tiba dengan kegelapannya… Dan mata pengawas bercelak dengan kantuk

Maka jalankanlah di malam hari apa yang engkau inginkan… Karena sesungguhnya malam adalah siang hari bagi orang yang cerdas

Betapa banyak orang fasik yang engkau sangka orang yang zuhud… Yang telah menjalani malam dengan perkara yang menakjubkan

Malam telah menutupinya dengan tirai-tirainya… Maka ia bermalam dalam keamanan dan kehidupan yang subur

Dan kesenangan orang bodoh itu terbuka… Yang menyembuhkan dengannya setiap musuh yang jauh

Aku (Ibnu Katsir) berkata: Dan ini sebagaimana datang dalam hadits: “Barangsiapa yang terkena ujian dengan sesuatu dari kotoran-kotoran ini maka hendaklah ia menutup diri dengan penutup Allah Azza wa Jalla.”

Al-Waqidi dan al-Mada’ini meriwayatkan bahwa Abdullah bin Abbas berkunjung kepada Muawiyah, maka Muawiyah memerintahkan anaknya Yazid untuk mendatanginya dan memberinya ta’ziyah atas kematian Hasan bin Ali. Ketika ia masuk menemui Ibnu Abbas, ia menyambutnya dan memuliakannya, dan duduk di hadapannya. Ibnu Abbas ingin mengangkat tempat duduknya, tetapi ia menolak dan berkata: Aku hanya duduk di tempat duduk orang yang memberi ta’ziyah bukan orang yang memberi ucapan selamat. Kemudian ia menyebutkan Hasan, lalu berkata: Semoga Allah merahmati Abu Muhammad dengan rahmat yang paling luas dan lapang, dan semoga Allah mengagungkan pahalamu dan membaik-baikkan penghiburanmu, dan mengganti bagimu dari musibahmu dengan apa yang lebih baik bagimu sebagai pahala dan lebih baik akibatnya. Ketika Yazid bangkit darinya, Ibnu Abbas berkata: Jika Bani Harb pergi maka pergilah orang-orang yang bijaksana dari manusia. Kemudian ia melantunkan dengan bersyair:

Pemaaf dari aib-aib yang tidak mereka ucapkan… Dan pemilik warisan kebijaksanaan dari para pendahulu

Dan Yazid adalah orang pertama yang menyerang kota Konstantinopel pada tahun empat puluh sembilan, menurut pendapat Ya’qub bin Sufyan. Dan Khalifah bin Khayyath berkata: Tahun lima puluh. Kemudian ia memimpin haji bagi manusia pada tahun ini setelah kembalinya dari tanah Romawi.

Dan telah tetap dalam Shahih bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Pasukan pertama yang menyerang kota Kaisar akan diampuni.” Dan ini adalah pasukan kedua yang dilihat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpinya di sisi Ummu Haram binti Milhan, seperti raja-raja di atas dipan, maka ia berkata: Mohonkan doa kepada Allah agar menjadikanku termasuk dari mereka. Maka ia bersabda: “Engkau termasuk yang pertama” yaitu dari pasukan pertama yang dilihat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti raja-raja di atas dipan, yang mengarungi punggung lautan. Maka panglima yang pertama adalah ayahnya Muawiyah, ketika ia menyerang Siprus dan membebaskannya pada tahun dua puluh tujuh di masa Utsman bin Affan, dan Ummu Haram ada bersama mereka, lalu ia meninggal di sana di Siprus. Kemudian panglima pasukan kedua adalah anaknya Yazid bin Muawiyah, dan Ummu Haram tidak mendapati pasukan Yazid ini. Dan itu termasuk dalil-dalil kenabian yang paling besar. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Dan al-Hafizh Ibnu Asakir telah mengutip di sini hadits yang diriwayatkan oleh Muhadhir, dari al-A’masy dari Ibrahim, dari Ubaidah, dari Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka.” Hadits. Dan demikian pula diriwayatkan oleh Abdullah bin Syafiq, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti itu.

Kemudian ia mengutip dari jalur Hammad bin Salamah, dari Abu Muhammad, dari Zurarah bin Aufa berkata: Satu qarn adalah seratus dua puluh tahun, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus dalam satu qarn dan akhirnya adalah kematian Yazid bin Muawiyah. Abu Bakar bin Ayyasy berkata: Kemudian Yazid bin Muawiyah memimpin haji bagi manusia pada tahun lima puluh satu dan lima puluh dua dan lima puluh tiga.

Ibnu Abi ad-Dunya berkata: Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Rusydin menceritakan kepada kami, dari Amr bin al-Harits, dari Bukair bin al-Asyaj, bahwa Muawiyah berkata kepada anaknya Yazid: Bagaimana menurutmu jika engkau menjadi penguasa? Ia berkata: Semoga Allah memberimu manfaat. Ia berkata: Katakan kepadaku. Ia berkata: Demi Allah wahai ayahku, aku akan bertindak terhadap mereka dengan tindakannya Umar bin al-Khaththab. Maka Muawiyah berkata: Maha Suci Allah! Wahai Maha Suci Allah!! Demi Allah wahai anakku, aku telah bersungguh-sungguh untuk mengikuti jalan Utsman bin Affan, namun aku tidak mampu melakukannya.

Al-Waqidi berkata: Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Sabrah menceritakan kepadaku, dari Marwan bin Abi Sa’id bin al-Mu’alla berkata: Muawiyah berkata kepada Yazid ketika ia memberinya wasiat menjelang kematian: Wahai Yazid, bertakwalah kepada Allah karena aku telah memudahkan bagimu urusan ini, dan aku telah menguasai dari hal itu apa yang telah aku kuasai. Jika itu adalah kebaikan maka aku adalah yang paling bahagia dengannya, dan jika itu adalah sebaliknya maka aku yang celaka dengannya. Maka lembutlah terhadap manusia, dan tutup matalah dari apa yang sampai kepadamu dari perkataan yang dengannya engkau disakiti dan dikurangi, pijaklah di atasnya maka kehidupanmu akan menyenangkan, dan rakyatmu akan baik bagimu. Dan jauhilah sikap keras kepada orang-orang yang terhormat, dan meremehkan mereka, dan bersikap sombong kepada mereka. Lembutlah kepada mereka dengan kelembutan di mana mereka tidak melihat darimu kelemahan dan ketakutan, dan pijaklah tempat tidurmu untuk mereka, dan dekatkanlah mereka kepadamu, dan tempatkan mereka dekat denganmu, karena mereka mengetahui hakmu untukmu, dan jangan engkau menghina mereka dan jangan engkau meremehkan hak mereka sehingga mereka menghinamu dan meremehkan hakmu dan jatuh terhadapmu. Jika engkau menginginkan suatu perkara maka panggillah orang-orang yang berusia lanjut dan berpengalaman dari ahli kebaikan dari kalangan orang tua dan ahli takwa, maka bermusyawarahlah dengan mereka dan jangan engkau menyelisihi mereka, dan jauhilah keinginan sendiri dengan pendapatmu; karena sesungguhnya pendapat itu tidak ada di dalam satu dada, dan benarlah orang yang memberimu saran jika ia membawamu kepada apa yang engkau ketahui, kemudian taatilah dia dalam apa yang ia sarankan, dan simpanlah itu dari istri-istrimu dan pembantumu, dan kencangkan sarungmu, dan perhatikan pasukanmu, dan perbaikilah dirimu maka manusia akan baik bagimu. Jangan engkau biarkan mereka berkata-kata tentangmu; karena sesungguhnya manusia itu condong kepada keburukan, dan hadiri shalat, karena engkau jika melakukan apa yang aku wasiatkan kepadamu maka manusia akan mengetahui hakmu untukmu, dan kerajaanmu akan agung, dan engkau akan agung di mata manusia. Dan ketahuilah kemuliaan penduduk Madinah dan Makkah; karena mereka adalah asal-usulmu dan keluargamu, dan jagalah bagi penduduk Syam kemuliaan mereka; karena mereka adalah penolong-penolongmu dan pelindungmu dan pasukanmu yang dengan mereka engkau menyerang, dan mendapat pertolongan atas musuh-musuhmu, dan sampai kepada orang-orang yang taat kepadamu. Dan tulislah kepada penduduk kota-kota dengan surat yang engkau janjikan kepada mereka darimu kebaikan; karena sesungguhnya itu akan menggairahkan harapan mereka. Dan jika ada utusan yang datang kepadamu dari wilayah-wilayah maka berbuat baiklah kepada mereka dan muliakanlah mereka; karena mereka adalah wakil dari orang-orang yang ada di belakang mereka. Dan jangan engkau mendengar perkataan penuduh atau orang yang menipu; karena aku telah melihat mereka adalah menteri-menteri yang buruk.

Dari jalur lain disebutkan bahwa Muawiyah berkata kepada Yazid: “Aku memiliki seorang sahabat dari penduduk Madinah, maka muliakanlah dia.” Yazid bertanya: “Siapa dia?” Muawiyah menjawab: “Abdullah bin Ja’far.” Ketika dia datang setelah wafatnya Muawiyah kepada Yazid, Yazid melipatgandakan pemberian yang biasa diberikan Muawiyah kepadanya. Pemberian dari Muawiyah kepadanya adalah enam ratus ribu, lalu Yazid memberinya satu juta. Abdullah bin Ja’far berkata kepadanya: “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.” Maka Yazid memberinya satu juta lagi. Ibnu Ja’far berkata kepadanya: “Demi Allah, aku tidak akan mengumpulkan kedua orang tuaku (sebagai tebusan) untuk siapa pun setelahmu.” Ketika Ibnu Ja’far keluar dari tempat Yazid – setelah diberi dua juta – dia melihat di pintu istana Yazid ada unta-unta bakhti yang sedang berbaring, yang membawa hadiah dari Khurasan. Abdullah bin Ja’far kembali kepada Yazid dan meminta tiga ekor unta bakhti untuk dikendarainya ke haji dan umrah, dan ketika berkunjung ke Syam menemui Yazid. Yazid bertanya kepada pengawal: “Apa unta-unta bakhti yang ada di pintu?” – dan dia belum mengetahuinya – pengawal menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, ini empat ratus unta bakhti yang datang kepada kami dari Khurasan membawa berbagai macam hadiah” – dan di atasnya ada berbagai macam harta semuanya. Yazid berkata: “Serahkan semua kepada Abu Ja’far beserta apa yang dibawanya.” Abdullah bin Ja’far pun berkata: “Apakah kalian mencela aku karena berpendapat baik tentang orang ini?!” Maksudnya Yazid.

Yazid memiliki sifat-sifat terpuji berupa kedermawanan, kesabaran, kefasihan, kepenyairan, keberanian, dan pandangan yang baik dalam pemerintahan. Dia tampan, baik pergaulannya, namun dia juga terlalu mengikuti syahwat dan meninggalkan beberapa shalat di beberapa waktu.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Haiwah, telah menceritakan kepadaku Basyir bin Abi Amr Al-Khaulani, bahwa Al-Walid bin Qais menceritakan kepadanya, bahwa dia mendengar Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Akan ada generasi pengganti setelah enam puluh tahun yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti syahwat, maka mereka akan menemui kerugian. Kemudian akan ada generasi pengganti yang membaca Al-Quran namun bacaannya tidak melampaui kerongkongan mereka. Al-Quran dibaca oleh tiga golongan: mukmin, munafik, dan orang fasik.” Basyir berkata: Aku bertanya kepada Al-Walid: “Siapa tiga golongan ini?” Dia menjawab: “Orang munafik kafir kepadanya, orang fasik mencari makan dengannya, dan mukmin beriman kepadanya.” Hanya diriwayatkan oleh Ahmad.

Al-Hafizh Abu Ya’la berkata: telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Dukain, telah menceritakan kepada kami Kamil Abu Al-Ala’, aku mendengar Abu Shalih, aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berlindunglah kepada Allah dari tahun tujuh puluh, dan dari kepemimpinan anak-anak.”

Az-Zubair bin Bakkar meriwayatkan dari Abdurrahman bin Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail, bahwa dia berkata tentang Yazid bin Muawiyah:

Kau bukan dari kami dan pamanmu bukan dari kami… Wahai yang menyia-nyiakan shalat karena syahwat

Disebutkan: Sebagian orang mengklaim bahwa syair ini dari Musa bin Yasar, yang dikenal dengan Musa Syahawat. Diriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair, bahwa dia mendengar budak perempuannya menyanyikan bait ini, lalu dia memukulnya dan berkata: “Ucapkanlah:

Kau adalah dari kami dan pamanmu adalah dari kami… Wahai yang menyia-nyiakan shalat karena syahwat

Al-Hafizh Abu Ya’la berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hakam bin Musa, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamzah, dari Hisyam bin Al-Ghaz, dari Makhul, dari Abu Ubaidah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Urusan ini akan terus berdiri dengan keadilan hingga dirusak oleh seorang laki-laki dari Bani Umayyah.”

Dan telah menceritakan kepada kami Al-Hakam, telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, dari Al-Auza’i, dari Makhul, dari Abu Ubaidah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Urusan umatku akan terus berdiri dengan keadilan hingga dirusak oleh seorang laki-laki dari Bani Umayyah yang bernama Yazid.” Hadits ini terputus antara Makhul dan Abu Ubaidah, bahkan mu’dhal (terputus dua perawi atau lebih).

Ibnu Asakir meriwayatkannya dari jalur Shadaqah bin Abdullah Ad-Dimasyqi, dari Hisyam bin Al-Ghaz, dari Makhul, dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani, dari Abu Ubaidah, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang bersabda: “Urusan umat ini akan terus berdiri dengan keadilan hingga yang pertama merusaknya adalah seorang laki-laki dari Bani Umayyah yang bernama Yazid.” Kemudian dia berkata: Ini juga terputus antara Makhul dan Abu Tsa’labah.

Abu Ya’la berkata: telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Muawiyah bin Hisyam, dari Sufyan, dari Auf, dari Khalid bin Abi Al-Muhajir, dari Abu Al-Aliyah berkata: Kami bersama Abu Dzar di Syam, lalu Abu Dzar berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang pertama yang mengubah sunnahku adalah seorang laki-laki dari Bani Umayyah.”

Ibnu Khuzaimah meriwayatkannya dari Bundar, dari Abdul Wahhab bin Abdul Majid, dari Auf, telah menceritakan kepada kami Muhajir bin Abi Makhlad, telah menceritakan kepadaku Abu Al-Aliyah, telah menceritakan kepadaku Abu Muslim, dari Abu Dzar, lalu menyebutkan yang serupa, dan di dalamnya ada kisah, yaitu Abu Dzar berada dalam suatu peperangan yang dipimpin oleh Yazid bin Abi Sufyan. Yazid merampas budak perempuan dari seorang laki-laki, maka laki-laki itu meminta bantuan Abu Dzar terhadap Yazid agar mengembalikannya kepadanya. Abu Dzar memerintahkannya untuk mengembalikannya, tapi Yazid ragu-ragu. Lalu Abu Dzar menyebutkan hadits itu kepadanya, maka Yazid mengembalikannya. Yazid berkata kepada Abu Dzar: “Aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apakah itu aku?” Abu Dzar menjawab: “Tidak.” Demikian diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam At-Tarikh dan Abu Ya’la dari Muhammad bin Al-Mutsanna, dari Abdul Wahhab. Kemudian Al-Bukhari berkata: Hadits ini mengandung illat (cacat), tidak diketahui bahwa Abu Dzar datang ke Syam pada masa Umar bin Al-Khaththab. Dia berkata: Dan Yazid bin Abi Sufyan wafat pada masa Umar, lalu Umar menggantikannya dengan saudaranya Muawiyah.

Abbas Ad-Dauri berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Ma’in: “Apakah Abu Al-Aliyah mendengar dari Abu Dzar?” Dia menjawab: “Tidak, dia hanya meriwayatkan dari Abu Muslim darinya.” Aku bertanya: “Siapa Abu Muslim ini?” Dia menjawab: “Aku tidak tahu.”

Ibnu Asakir telah menyebutkan hadits-hadits dalam mencela Yazid bin Muawiyah, semuanya palsu, tidak ada yang sahih sedikitpun, dan yang paling baik dari yang diriwayatkan adalah yang kami sebutkan; meskipun sanadnya lemah dan sebagiannya terputus. Wallahu a’lam.

Al-Hasan bin Abi Al-Hasan berkata: Tidak ada yang merusak urusan manusia kecuali dua orang: Amr bin Al-Ash ketika dia menyarankan kepada Muawiyah untuk mengangkat mushaf-mushaf pada perang Shiffin, lalu diangkat di ujung tombak-tombak, maka kelompok Khawarij memutuskan dan berkata: “Tidak ada hukum kecuali milik Allah.” Maka tahkim ini akan terus ada hingga hari kiamat. Yang kedua adalah Al-Mughirah bin Syu’bah; karena dia adalah gubernur Muawiyah di Kufah, lalu Muawiyah menulis surat kepadanya yang isinya: “Apabila kamu membaca suratku ini, datanglah karena kamu dipecat.” Al-Mughirah terlambat datang kepada Muawiyah. Ketika dia datang kepadanya, Muawiyah berkata: “Apa yang membuatmu terlambat dariku?” Dia menjawab: “Ada urusan yang sedang kukokohkan dan kusiapkan.” Muawiyah bertanya: “Apa itu?” Dia menjawab: “Baiat untuk Yazid setelahmu.” Muawiyah bertanya: “Dan apakah kamu telah melakukan itu?” Dia menjawab: “Ya.” Muawiyah berkata: “Kembalilah ke tugasmu.” Ketika Al-Mughirah keluar darinya, para sahabatnya bertanya kepadanya: “Apa yang terjadi?” Dia menjawab: “Aku telah memasukkan kaki Muawiyah ke dalam sanggurdi kesesatan yang tidak akan lepas darinya hingga hari kiamat.” Al-Hasan berkata: Karena itulah mereka membaiat anak-anak mereka, dan kalau bukan karena itu, niscaya akan menjadi musyawarah di antara kaum muslimin hingga hari kiamat.

Dikatakan: Muawiyah pernah ditanya: “Kami bersumpah kepadamu dengan nama Allah, siapa yang akan kamu angkat sebagai khalifah atas kaum muslimin?” Dia menjawab: “Tidak ada yang tersisa kecuali anakku dan anak-anak mereka, dan anakku lebih berhak.”

Al-Harits bin Miskin berkata dari Miskin, dari Sufyan, dari Syabib, dari Gharqadah, dari Al-Mustazhill berkata: Aku mendengar Umar bin Al-Khaththab berkata: Aku sudah tahu demi Tuhan Ka’bah kapan bangsa Arab akan binasa; yaitu apabila mereka dipimpin oleh orang yang tidak mengalami masa Jahiliah dan tidak memiliki landasan dalam Islam.

Aku katakan: Yazid bin Muawiyah, yang paling banyak dicela dari perbuatannya adalah minum khamr dan melakukan beberapa perbuatan keji. Adapun pembunuhan Husain, dia – sebagaimana yang dikatakan kakeknya Abu Sufyan pada perang Uhud – tidak memerintahkan hal itu, dan tidak menyedihkannya. Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa dia berkata: “Seandainya aku yang melakukannya, aku tidak akan melakukan kepadanya apa yang dilakukan oleh Ibnu Marjanah.” Maksudnya Ubaidullah bin Ziyad. Dia berkata kepada para utusan yang datang membawa kepalanya: “Sudah cukup bagi kalian dari ketaatan tanpa harus melakukan ini.” Dan dia tidak memberi mereka apa pun. Dia memuliakan keluarga Husain, mengembalikan kepada mereka semua yang mereka kehilangan dan berlipat ganda, serta mengembalikan mereka ke Madinah dengan penuh kehormatan dan kemegahan yang besar. Keluarganya di rumahnya meratapi Husain bersama keluarganya – ketika mereka berada di sana – selama tiga hari.

Dikatakan: Yazid bergembira dengan terbunuhnya Husain ketika pertama kali berita itu sampai kepadanya, kemudian dia menyesali hal itu. Abu Ubaidah Ma’mar bin Al-Mutsanna berkata: Yunus bin Habib Al-Jarmi menceritakan kepadanya, dia berkata: Ketika Ibnu Ziyad membunuh Husain dan anak-anak bapaknya, dia mengirimkan kepala-kepala mereka kepada Yazid. Yazid awalnya senang dengan pembunuhan mereka, dan posisi Ibnu Ziyad menjadi baik di sisinya. Kemudian tidak lama setelah itu dia menyesal, lalu berkata: “Apa salahku seandainya aku menanggung gangguan dan menempatkannya di rumahku serta memberinya kebebasan melakukan apa yang dia inginkan, meskipun hal itu menimbulkan kelemahan dan cacat dalam kekuasaanku; sebagai penghormatan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan penjagaan terhadap hak dan kerabatnya.” Kemudian dia berkata: “Semoga Allah melaknat Ibnu Marjanah karena dia yang memaksanya dan mendesaknya, padahal dia telah meminta untuk dibebaskan atau datang kepadaku atau berada di salah satu perbatasan kaum muslimin hingga Allah mewafatkannya, tapi dia tidak mau, menolaknya, dan membunuhnya. Dia membuat kaum muslimin membenciku dengan pembunuhannya, dan menanam permusuhan di hati mereka terhadapku. Orang baik dan orang jahat membenciku karena manusia memandang besar pembunuhanku terhadap Husain. Apa urusanku dengan Ibnu Marjanah, semoga Allah melaknatnya dan murka kepadanya.”

Ketika penduduk Madinah keluar dari ketaatannya dan mencopotnya, lalu mengangkat Ibnu Muti’ dan Ibnu Hanzhalah sebagai penguasa mereka, mereka tidak menyebutkan tentangnya—padahal mereka adalah orang-orang yang paling memusuhinya—kecuali apa yang mereka sebutkan tentang kebiasaannya meminum khamar dan melakukan beberapa perbuatan keji. Mereka tidak menuduhnya zindiq sebagaimana sebagian Rafidhah melemparkan tuduhan itu kepadanya. Bahkan ia memang seorang yang fasik, dan orang fasik tidak boleh dicopot karena hal itu akan membawa kepada fitnah dan terjadinya huru-hara, sebagaimana yang terjadi pada masa peristiwa Harrah. Ia mengirim utusan kepada mereka untuk mengembalikan mereka kepada ketaatan dan memberi mereka waktu tiga hari. Ketika mereka tidak kembali, ia memerangi mereka. Sebenarnya ini sudah cukup, tetapi ia melampaui batas dengan memerintahkan panglima perang untuk menghalalkan Madinah selama tiga hari, hingga karena itu terjadi kesalahan besar dan kerusakan yang luas.

Abdullah bin Umar bin Khaththab dan sejumlah Ahlul Bait kenabian termasuk orang-orang yang tidak membatalkan janji dan tidak membaiat siapa pun setelah membaiat Yazid. Sebagaimana Imam Ahmad berkata: Ismail bin Ulayyah menceritakan kepada kami, Shakhr bin Juwairiyah menceritakan kepadaku dari Nafi’, ia berkata: Ketika orang-orang menjatuhkan Yazid bin Muawiyah, Ibnu Umar mengumpulkan anak-anaknya dan keluarganya, lalu ia membaca syahadat, kemudian berkata: Amma ba’du, sesungguhnya kami telah membaiat orang ini atas baiat Allah dan Rasul-Nya, dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya pengkhianat akan didirikan baginya sebuah bendera pada hari kiamat, dikatakan: Ini adalah pengkhianatan si fulan.” Dan sesungguhnya termasuk pengkhianatan yang paling besar—kecuali kesyirikan kepada Allah—adalah seseorang membaiat orang lain atas baiat Allah dan Rasul-Nya kemudian ia membatalkan baiatnya. Maka janganlah ada seorang pun di antara kalian yang menjatuhkan Yazid, dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang terlibat dalam perkara ini, karena akan menjadi pemisah antara aku dan dia.

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dari hadits Shakhr bin Juwairiyah, dan Tirmidzi berkata: Hasan shahih. Dan telah diriwayatkan oleh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Abi Saif al-Mada’ini dari Shakhr bin Juwairiyah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, lalu ia menyebutkannya seperti itu.

Ia berkata: Abdullah bin Muti’ dan kawan-kawannya datang kepada Muhammad bin al-Hanafiyyah dan ingin mengajaknya untuk menjatuhkan Yazid, namun ia menolak. Ibnu Muti’ berkata: Sesungguhnya Yazid meminum khamar, meninggalkan shalat, dan melampaui hukum Kitab. Maka ia berkata kepada mereka: Aku tidak melihat darinya apa yang kalian sebutkan, dan aku telah menghadirinya dan tinggal di sisinya, lalu aku melihatnya menjaga shalat, berusaha keras untuk kebaikan, bertanya tentang fikih, dan berpegang teguh pada Sunnah. Mereka berkata: Sesungguhnya itu darinya hanyalah pura-pura untukmu. Ia berkata: Apa yang ia takutkan dariku atau harapkan dariku sehingga ia menampakkan kekhusyukan kepadaku? Apakah ia memberitahukan kepada kalian tentang apa yang kalian sebutkan dari minum khamar? Jika ia memberitahukan kalian tentang itu, maka kalian adalah sekutunya. Dan jika ia tidak memberitahukan kalian, maka tidak halal bagi kalian untuk bersaksi atas apa yang tidak kalian ketahui. Mereka berkata: Sesungguhnya itu menurut kami adalah benar meskipun kami tidak melihatnya. Ia berkata kepada mereka: Sungguh Allah telah menolak itu atas ahli persaksian, maka Dia berfirman: “Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedang mereka mengetahui.” (Surat Az-Zukhruf: 86) Dan aku tidak ada hubungannya dengan urusan kalian ini. Mereka berkata: Mungkin kamu tidak suka jika urusan itu diurus oleh selainmu, maka kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin kami. Ia berkata: Aku tidak menghalalkan peperangan atas apa yang kalian ingin jadikan aku, baik sebagai pengikut maupun yang diikuti. Mereka berkata: Sungguh kamu telah berperang bersama ayahmu. Ia berkata: Datangkan kepadaku orang seperti ayahku, aku akan berperang atas perkara seperti apa yang ia perjuangkan. Mereka berkata: Maka perintahkan kedua anakmu Abu Hasyim dan Qasim untuk berperang bersama kami. Ia berkata: Jika aku memerintahkan mereka, berarti aku ikut berperang. Mereka berkata: Maka berdirilah bersama kami dalam satu majelis yang kamu menganjurkan orang-orang untuk berperang. Ia berkata: Subhanallah! Aku memerintahkan orang-orang dengan apa yang tidak aku lakukan dan tidak aku ridhai? Kalau begitu aku tidak memberi nasihat kepada Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Mereka berkata: Kalau begitu kami akan memaksamu. Ia berkata: Kalau begitu aku akan memerintahkan orang-orang untuk bertakwa kepada Allah dan tidak meridhai makhluk dengan kemurkaan Khaliq. Kemudian ia keluar menuju Mekah.

Abu al-Qasim al-Baghawi berkata: Mush’ab az-Zubair menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Hazim menceritakan kepada kami dari Hisyam dari Zaid bin Aslam dari ayahnya, bahwa Ibnu Umar masuk dan ia (Aslam) bersamanya menghadap Ibnu Muti’. Ketika masuk kepadanya ia berkata: Selamat datang Abu Abdurrahman, letakkan untuknya bantal. Maka ia berkata: Sesungguhnya aku datang kepadamu untuk menceritakan kepadamu hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mencabut tangannya dari ketaatan maka ia akan datang pada hari kiamat tanpa hujjah baginya, dan barangsiapa mati dalam keadaan memisahkan diri dari jamaah maka ia mati dengan kematian jahiliyyah.” Demikian diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Hisyam bin Sa’d dari Zaid dari ayahnya dari Ibnu Umar dengannya. Dan diikuti oleh Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah dari Zaid bin Aslam dari ayahnya. Dan telah diriwayatkannya oleh Laits dari Muhammad bin Ajlan dari Zaid bin Aslam dari Ibnu Umar, lalu ia menyebutkannya.

Abu Ja’far al-Baqir berkata: Tidak ada seorang pun dari keluarga Abu Thalib maupun dari Bani Abdul Muththalib yang keluar pada peristiwa Harrah. Dan ketika Muslim bin Uqbah datang ke Madinah, ia memuliakan ayahku, mendekatkan majelisnya, dan memberinya surat jaminan keamanan.

Al-Mada’ini meriwayatkan bahwa Muslim bin Uqbah mengirim Ruh bin Zinba’ kepada Yazid dengan kabar gembira tentang peristiwa Harrah. Ketika ia memberitahukan kepadanya tentang apa yang terjadi, ia berkata: Celaka kaumku. Kemudian ia memanggil Dhahhak bin Qais al-Fihri dan berkata kepadanya: Kamu lihat apa yang menimpa penduduk Madinah, maka apa pendapat yang akan memperbaiki keadaan mereka? Ia berkata: Makanan dan pemberian. Maka ia memerintahkan untuk mengirimkan makanan kepada mereka dan melimpahkan pemberiannya kepada mereka. Dan ini berbeda dengan apa yang disebutkan oleh para pendusta Rafidhah tentangnya bahwa ia bersuka cita dengan mereka dan puas dengan pembunuhan mereka, dan bahwa ia membacakan—baik sebagai ingatan maupun pengaruh—syair Ibnu az-Ziba’ra yang telah disebutkan sebelumnya.

Abu Bakar Muhammad bin Khalaf bin al-Marzuban bin Bassam berkata: Muhammad bin al-Qasim menceritakan kepadaku, aku mendengar al-Asma’i berkata: Aku mendengar Harun ar-Rasyid membacakan untuk Yazid bin Muawiyah:

Sesungguhnya ia antara Amir bin Luayy… ketika dinisbatkan dan antara Abd Manaf Dan baginya dalam kaum Muththayyibin ada nenek moyang… kemudian meraih kemuliaan akhlak generasi penerus Putri paman Nabi yang paling mulia yang ber… jalan dengan sandal di atas tanah dan bertelanjang kaki Kamu tidak akan melihatnya dalam kehinaan dan keke… rasan kecuali seperti mutiara kerang

Az-Zubair bin Bakkar berkata: Pamanku Mush’ab membacakan kepadaku untuk Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan:

Kesedihan ini kembali dan mengumpul… dan urusan tidur pun terhalang Mengamati bintang aku mengawasinya… jika sebuah bintang terbit berputar hingga sesungguhnya aku melihat… bahwa ia di Ghaur telah jatuh Dan baginya di Mathirun ketika… semut memakan apa yang ia kumpulkan Piknik hingga ketika ia sampai… turun dari Jalaq sebuah biara Dalam kubah-kubah di tengah padang… di sekelilingnya pohon zaitun telah matang

Dan dari syairnya juga:

Dan seseorang yang berkata kepadaku ketika aku menyerupakan wajahnya… dengan bulan malam suatu hari dan telah sempit jalanku Kamu menyerupakan aku dengan bulan, ini adalah pengurangan… terhadap kehormatanku tetapi aku bukan orang pertama yang dihina Tidakkah kamu lihat bahwa bulan ketika sempurna… jika sampai pada perumpamaan kembali seperti gelang Maka tidak ada kebanggaan jika diserupakan dengan bulan senyumanku… dan dengan sihir kelopak mataku dan dengan malam mataku yang hitam

Az-Zubair bin Bakkar menyebutkan dari Abu Muhammad al-Jazari, ia berkata: Di Madinah ada seorang budak perempuan penyanyi bernama Salamah, termasuk wanita yang paling cantik wajahnya, paling sempurna akalnya dan paling baik percakapannya. Ia telah membaca Al-Quran, meriwayatkan syair dan menggubahnya. Abdurrahman bin Hassan dan al-Ahwash bin Muhammad duduk bersamanya. Salamah jatuh cinta pada al-Ahwash dan berpaling dari Abdurrahman. Maka Ibnu Hassan pergi kepada Yazid bin Muawiyah dan memujinya, memberitahukan kepadanya tentang Salamah, kecantikan dan keindahannya serta kefasihannya, dan berkata: Ia tidak cocok kecuali untukmu wahai Amirul Mukminin, dan untuk menjadi teman bicaramu. Maka Yazid mengirim utusan dan ia dibeli untuknya, dan dibawa kepadanya. Maka ia mendapat kedudukan yang sangat besar di sisinya, dan ia lebih mengutamakannya dari semua yang ada padanya. Abdurrahman kembali ke Madinah dan melewati al-Ahwash, lalu ia mendapatinya dalam keadaan sedih. Ia ingin menambah kesedihannya maka ia berkata:

Wahai yang ditimpa dengan cinta terluka… menemui dari cinta penderitaan Cinta membungkamnya maka ia tidak kembali… kecuali dengan gelas cinta di pagi hari Dan menjadi apa yang ia sukai tertutup… darinya dan apa yang ia benci terbuka Sungguh telah memilikinya orang yang ia berada pada sisinya… meraih darinya aroma dan keharuman Khalifah Allah maka tanyakan kepada cinta… dan muliakan hati yang darimu terluka

Ia berkata: Maka al-Ahwash diam dari menjawabnya, kemudian kerinduannya mengalahkannya, maka ia pergi kepada Yazid dan memujinya. Ketika ia datang kepadanya, ia memuliakannya, mendekatkannya dan mendapat kedudukan di sisinya. Maka Salamah mengirim seorang pembantu dan memberinya harta agar memasukkannya kepadanya. Maka pembantu itu memberitahukan Yazid tentang itu. Ia berkata: Pergilah untuk pesannya. Maka ia melakukannya dan memasukkan al-Ahwash kepadanya. Yazid duduk di tempat yang ia melihat mereka berdua tetapi mereka berdua tidak melihatnya. Ketika budak perempuan itu melihat al-Ahwash, ia menangis kepadanya dan ia menangis kepadanya. Ia memerintahkan agar diletakkan untuknya sebuah kursi, maka ia duduk di atasnya. Masing-masing dari mereka berdua mulai mengeluhkan kepada yang lainnya tentang beratnya kerinduan. Mereka berdua tidak berhenti berbincang-bincang hingga waktu sahur, sedang Yazid mendengar pembicaraan mereka berdua tanpa ada keraguan di antara mereka berdua. Hingga ketika al-Ahwash hendak keluar ia berkata:

Hatiku menjadi dalam kesedihan dan kebingungan… dari cinta orang yang tidak henti aku dalam ingatannya

Maka ia berkata:

Para pencinta sadar setelah perpisahan ketika mereka putus asa… dan sungguh aku putus asa dan aku tidak sadar atas keadaan

Maka ia berkata:

Barangsiapa yang terhibur dengan keputusasaan dari yang memiliki kepercayaan… maka untukmu keselamatan, aku tidak terhibur

Maka ia berkata:

Demi Allah dan Allah aku tidak melupakanmu wahai kesedihanku… hingga berpisah dariku roh dengan tulang-tulangku

Maka ia berkata:

Demi Allah tidak kecewa orang yang menjadi sedang kamu baginya… wahai penyejuk mata dalam keluarga dan harta

Ia berkata: Kemudian ia berpamitan dengannya dan keluar. Yazid menangkapnya dan memanggil perempuan itu lalu berkata: Beritahukan kepadaku tentang apa yang terjadi dalam malam kalian berdua dan jujurlah kepadaku. Maka mereka berdua memberitahukan kepadanya dan membacakan apa yang mereka berdua katakan, tidak mengurangi satu huruf pun dan tidak mengubah sesuatu pun dari apa yang ia dengar. Maka Yazid berkata kepadanya: Apakah kamu mencintainya? Ia berkata: Ya demi Allah wahai Amirul Mukminin:

Cinta yang sangat kuat mengalir seperti roh dalam tubuhku… maka apakah dipisahkan antara roh dan tubuh

Maka ia berkata kepadanya: Apakah kamu mencintainya? Maka ia berkata: Ya demi Allah wahai Amirul Mukminin:

Cinta yang sangat kuat turun-temurun tidak baru… di antara tulang rusuk seperti api berkobar

Maka Yazid berkata: Sesungguhnya kalian berdua menggambarkan cinta yang sangat kuat, ambillah ia wahai Ahwash maka ia untukmu. Dan ia memberinya pemberian yang bagus. Maka al-Ahwash kembali dengannya ke Hijaz dan ia senang hatinya.

Dan telah diriwayatkan bahwa Yazid telah terkenal dengan alat-alat musik, meminum khamar, nyanyian, berburu, mengambil budak laki-laki dan perempuan, anjing, adu domba jantan, beruang dan monyet. Tidak ada hari kecuali ia bangun pagi dalam keadaan mabuk. Ia mengikat monyet di atas kuda yang dipasang pelana dengan tali dan menggiring dengannya. Ia memakaikan monyet itu topi emas, demikian pula budak-budak laki-laki. Ia melombakan kuda-kuda. Jika monyet itu mati, ia berduka atasnya. Dikatakan: Sesungguhnya sebab kematiannya adalah ia membawa seekor monyet betina dan mulai melompat-lompatkannya, lalu ia menggigitnya. Mereka menyebutkan tentangnya selain itu. Dan Allah lebih mengetahui akan kebenaran itu.

Abdurrahman bin Abi Madz’ur berkata: Sebagian ahli ilmu menceritakan kepadaku, ia berkata: Akhir kata-kata yang diucapkan oleh Yazid bin Muawiyah adalah: Ya Allah janganlah Engkau menghisab aku atas apa yang tidak aku cintai dan tidak aku kehendaki, dan hukumlah antara aku dan Ubaidillah bin Ziyad. Dan stempel cincinnya tertulis: Aku beriman kepada Allah Yang Maha Agung.

Yazid wafat di Hawarin dari desa-desa Damaskus pada tanggal empat belas Rabiul Awal, dan dikatakan: hari Kamis pada pertengahan bulannya, tahun enam puluh empat. Kepemimpinannya setelah kematian ayahnya adalah pada pertengahan Rajab tahun enam puluh. Kelahirannya adalah pada tahun dua puluh lima—dan dikatakan: tahun dua puluh enam, dan dikatakan: dua puluh tujuh. Meskipun demikian, telah ada perbedaan pendapat tentang usianya dan hitungan hari-harinya dalam kepemimpinan dalam beberapa pendapat. Jika kamu merenungkan apa yang aku sebutkan kepadamu dari batasan-batasan ini, akan terbuka bagimu kejelasan dari perbedaan pendapat ini. Maka sesungguhnya sebagian mereka berkata: Ia melampaui empat puluh tahun ketika meninggal. Wallahu a’lam. Ia dibawa ke Damaskus dan dishalati oleh anaknya Muawiyah bin Yazid Amirul Mukminin, dan dikuburkan di pekuburan Bab ash-Shaghir. Pada masa-masanya diperlebar sungai yang dinamakan dengan Yazid di kaki gunung Qasiyun. Sungai itu dulunya adalah aliran kecil, maka ia memperlebarnya berlipat ganda dari air yang mengalir di dalamnya.

Al-Hafizh Abu al-Qasim bin Asakir berkata: Abu al-Fadhl Muhammad bin Muhammad bin al-Fadhl bin al-Muzhaffar al-Abdi, hakim Bahrain, menceritakan kepada kami dari ucapannya dan ia menulisnya untukku dengan tulisan tangannya, ia berkata: Aku melihat Yazid bin Muawiyah dalam mimpi, maka aku berkata kepadanya: Apakah kamu yang membunuh Husain? Ia berkata: Tidak. Aku berkata kepadanya: Apakah Allah telah mengampunimu? Ia berkata: Ya, dan memasukkan aku ke dalam surga. Aku berkata: Maka hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Muawiyah menggendong Yazid lalu bersabda: “Seorang laki-laki dari penghuni surga menggendong seorang laki-laki dari penghuni neraka”? Maka ia berkata: Itu tidak shahih. Ibnu Asakir berkata: Dan itu sebagaimana yang ia katakan, karena sesungguhnya Yazid bin Muawiyah tidak lahir di masa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia hanya lahir setelah tahun dua puluh Hijriyah.

Abu Ja’far bin Jarir berkata:

Penyebutan Anak-anak Yazid bin Muawiyah dan Jumlah Mereka

Di antara mereka adalah Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah yang berkunyah Abu Laila, dan dialah yang disebut oleh penyair: Sungguh aku melihat fitnah yang telah tiba permulaan(awalnya, dan kekuasaan setelah Abu Laila akan menjadi milik siapa yang menang.

Dan Khalid bin Yazid, berkunyah Abu Hasyim, dikatakan bahwa ia menguasai ilmu kimia. Dan Abu Sufyan, ibu mereka adalah Ummu Hasyim binti Abu Hasyim bin Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams, dan telah menikahinya setelah Yazid adalah Marwan bin Hakam dan dialah wanita yang disebut oleh penyair: Bersenang-senanglah wahai Ummu Khalid, betapa banyak orang yang berusaha keras untuk orang yang duduk-duduk saja.

Dan Abdullah bin Yazid, ia disebut juga al-Aswar. Dan ia adalah salah satu pemanah terbaik bangsa Arab, ibunya adalah Ummu Kalsum binti Abdullah bin Amir dan dialah yang disebut oleh penyair: Orang-orang mengira bahwa sebaik-baik Quraisy, semuanya ketika disebutkan adalah al-Aswar.

Dan Abdullah yang lebih muda, dan Abu Bakar, dan Utbah, dan Abdurrahman, dan ar-Rabi’, dan Muhammad, dari berbagai ibu budak.

Kepemimpinan Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah

Abu Abdurrahman, dan dikatakan: Abu Yazid. Dan dikatakan: Abu Laila al-Quraisyi al-Umawi. Ibunya adalah Ummu Hasyim binti Abu Hasyim bin Utbah bin Rabi’ah, ia dibai’at setelah kematian ayahnya, dan ia adalah putra mahkota setelahnya pada tanggal empat belas Rabiul Awal tahun enam puluh empat, dan ia adalah seorang laki-laki yang saleh dan ahli ibadah, dan tidak lama masa kepemimpinannya. Dikatakan: bahwa ia memegang kekuasaan selama empat puluh hari. Dan dikatakan: dua puluh hari. Dan dikatakan: dua bulan. Dan dikatakan: satu bulan setengah. Dan dikatakan: tiga bulan. Dan dikatakan: dan dua puluh hari. Dan dikatakan empat bulan. Maka Allah Yang Maha Mengetahui.

Dan pada masa kepemimpinannya ia dalam keadaan sakit, tidak keluar menemui orang-orang, dan Dhahhak bin Qais adalah orang yang mengimami shalat orang-orang dan mengurusi berbagai urusan. Dan Muawiyah bin Yazid ini meninggal dalam usia dua puluh satu tahun. Dan dikatakan: dua puluh tiga tahun dan delapan belas hari. Dan dikatakan: sembilan belas tahun. Dan dikatakan: dua puluh tahun. Dan dikatakan: dua puluh tiga tahun. Dan dikatakan: sesungguhnya ia hanya hidup delapan belas tahun. Dan dikatakan: lima belas tahun. Maka Allah Yang Maha Mengetahui. Dan menshalatkannya adalah saudaranya Khalid. Dan dikatakan: Utsman bin Anbasah. Dan dikatakan: Walid bin Utbah. Dan inilah yang benar, karena ia berwasiat kepadanya untuk itu, dan Marwan bin Hakam menyaksikan pemakamannya, dan Dhahhak bin Qais adalah orang yang mengimami shalat orang-orang setelahnya hingga urusan menjadi stabil untuk Marwan di Syam, dan ia dimakamkan di pekuburan Bab ash-Shaghir di Damaskus. Dan ketika kematian mendatanginya dikatakan kepadanya: Tidakkah engkau berwasiat? Maka ia berkata: Aku tidak mau menanggung kepahitannya dan membiarkan kemanisannya untuk Bani Umayyah. Dan ia, semoga Allah merahmatinya, berkulit putih sangat putih, banyak rambut, mata besar, rambut keriting, hidung mancung, kepala bulat, wajah tampan dan kecil, tubuh yang bagus.

Abu Zur’ah ad-Dimasyqi berkata: Muawiyah dan Abdurrahman dan Khalid adalah bersaudara, dan mereka termasuk orang-orang saleh dari kaum tersebut. Dan berkatalah tentangnya sebagian penyair, yaitu Abdullah bin Hamam as-Sululi:

Yazid menerimanya dari ayahnya, maka ambillah hai Muawi dari Yazid Putarlah ia Bani Harb di antara kalian, dan jangan kalian melemparkan dengan dia sasaran yang jauh

Dan diriwayatkan bahwa Muawiyah bin Yazid ini menyeru kepada orang-orang: Shalat berjemaah. Pada suatu hari, maka berkumpullah orang-orang, lalu ia berkata kepada mereka dalam apa yang ia katakan: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah memimpin urusan kalian dan aku lemah daripadanya, maka jika kalian suka aku tinggalkan ia untuk seorang laki-laki yang kuat, sebagaimana Ash-Shiddiq meninggalkannya untuk Umar, dan jika kalian mau aku tinggalkan ia sebagai musyawarah pada enam orang di antara kalian sebagaimana Umar bin Khaththab meninggalkannya dan tidak ada di antara kalian yang layak untuk itu, dan aku telah meninggalkan untuk kalian urusan kalian, maka angkatlah atas kalian siapa yang layak bagi kalian. Kemudian ia turun dan masuk ke rumahnya, maka ia tidak keluar darinya hingga meninggal, semoga Allah Ta’ala merahmatinya. Dan dikatakan: sesungguhnya ia diberi racun. Dan dikatakan: sesungguhnya ia ditikam.

Dan sungguh Marwan menghadiri pemakamannya, maka ketika selesai darinya Marwan berkata: Tahukah kalian siapa yang kalian makamkan? Mereka berkata: Ya, Muawiyah bin Yazid. Maka Marwan berkata: Ia adalah Abu Laila yang Aznam al-Fazari berkata tentangnya:

Sungguh aku melihat fitnah yang periuk-periuknya mendidih, dan kekuasaan setelah Abu Laila akan menjadi milik siapa yang menang

Mereka berkata: Urusan adalah sebagaimana yang ia katakan. Dan hal itu karena Abu Laila meninggal tanpa ada wasiat darinya kepada seorang pun maka berkuasalah atas Hijaz Abdullah bin Zubair, dan atas Damaskus dan wilayah-wilayahnya Marwan bin Hakam, dan penduduk Khurasan membai’at Salm bin Ziyad hingga seorang khalifah memimpin atas orang-orang, maka Salm berjalan di antara mereka dengan perjalanan yang baik yang mereka mencintainya karenanya, kemudian mereka mengeluarkannya dari tengah-tengah mereka, dan keluar kaum pembaca dan Khawarij di Basrah, dan pemimpin mereka adalah Nafi’ bin Azraq, dan mereka mengusir dari mereka Ubaidillah bin Ziyad – setelah mereka membai’atnya atas mereka – hingga menjadi bagi orang-orang seorang imam, maka ia pergi ke Syam setelah musim-musim yang panjang penyebutannya, dan sungguh mereka membai’at setelahnya Abdullah bin Harits bin Naufal yang dikenal dengan Babbah, dan ibunya adalah Hindun binti Abu Sufyan, dan sungguh ia mengangkat atas kepolisian Basrah Humaiyan bin Adi as-Sadusi, maka orang-orang membai’atnya pada permulaan Jumadil Akhir, tahun enam puluh empat, dan sungguh Farazdaq berkata:

Dan aku membai’at kaum-kaum dan aku menepati janji mereka, dan Babbah sungguh aku membai’atnya tanpa menyesal

Maka ia menetap di antara mereka empat bulan, kemudian ia menetap di rumahnya, maka penduduk Basrah menulis kepada Ibnu Zubair, maka Ibnu Zubair menulis kepada Anas bin Malik memerintahkannya agar ia mengimami shalat orang-orang, maka ia shalat bersama mereka dua bulan, kemudian terjadilah apa yang akan kami sebutkan. Dan keluar Najdah bin Amir al-Hanafi di Yamamah, dan keluar Bani Mahuz di Ahwaz dan Persia dan selain itu, atas apa yang akan datang rinciannya tidak lama lagi, insya Allah Ta’ala.

Kepemimpinan Abdullah bin Zubair Semoga Allah Meridhainya

Dan menurut Ibnu Hazm dan sekelompok orang bahwa ia adalah Amirul Mukminin pada saat itu

Sungguh telah kami kemukakan bahwa ketika Yazid meninggal, pasukan mundur dari Makkah, dan mereka adalah orang-orang yang mengepung Ibnu Zubair sementara ia berlindung di Baitullah, bersama pemimpin mereka Hushain bin Numair as-Sakuni dan mereka kembali dari Makkah ke Syam dan semakin kuatlah urusan Abdullah bin Zubair di Hijaz dan sekitarnya, dan orang-orang membai’atnya setelah Yazid dengan bai’at umum di sana, dan ia mengangkat sebagai wakil atas Madinah saudaranya Ubaidah bin Zubair, dan ia memerintahkannya untuk mengusir Bani Umayyah dari Madinah, maka ia mengusir mereka lalu mereka berangkat ke Syam, dan di antara mereka adalah Marwan dan putranya Abdul Malik, kemudian penduduk Basrah mengirim kepada Ibnu Zubair setelah terjadi peperangan di antara mereka dan fitnah-fitnah banyak yang panjang untuk menghitungnya, namun mereka dalam kurang dari enam bulan mengangkat atas mereka sekitar empat pemimpin di antara mereka, kemudian kacaulah urusan-urusan mereka, kemudian mereka mengirim kepada Ibnu Zubair, dan ia di Makkah memanggil dia kepada diri mereka, maka ia menulis kepada Anas bin Malik agar ia mengimami shalat mereka. Dan Ibnu Zubair mengirim kepada penduduk Kufah Abdullah bin Yazid al-Anshari untuk shalat, dan Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah bin Ubaidillah untuk pajak tanah, dan kokoh baginya dua kota semuanya, dan ia mengirim kepada penduduk Mesir maka mereka membai’atnya. Dan ia mengangkat sebagai wakil atasnya Abdurrahman bin Jahdam, dan Jazirah taat kepadanya. Dan ia mengirim atas Basrah Harits bin Abdullah bin Abi Rabi’ah, dan ia mengirim ke Yaman maka mereka membai’atnya, dan ke Khurasan maka mereka membai’atnya, dan kepada Dhahhak bin Qais di Syam maka ia membai’at, dan dikatakan: sesungguhnya penduduk Damaskus dan wilayah-wilayahnya dari negeri-negeri Yordania tidak membai’atnya; karena mereka membai’at Marwan bin Hakam ketika Hushain bin Numair kembali dari Makkah ke Syam, dan sungguh berkumpul pada Abdullah bin Zubair sekelompok dari Khawarij yang membela dia; di antara mereka adalah Nafi’ bin Azraq dan Abdullah bin Ibadh, dan sekelompok dari pemimpin-pemimpin mereka, maka ketika menjadi stabil urusannya dalam kekhalifahan mereka berkata di antara mereka: Sesungguhnya kalian telah keliru; karena kalian berperang bersama laki-laki ini, dan tidak mengetahui pendapatnya tentang Utsman bin Affan. Dan mereka mencela Utsman, maka mereka berkumpul kepadanya lalu mereka menanyakan kepadanya tentang Utsman, maka ia menjawab mereka tentangnya dengan apa yang memburukkan mereka, dan ia menyebutkan kepada mereka apa yang ia memiliki sifat-sifatnya dari keimanan dan pembenaran, dan keadilan dan kebaikan dan perjalanan yang baik, dan kembali kepada kebenaran jika jelas baginya, maka pada saat itu mereka menjauh darinya, dan mereka meninggalkannya, dan mereka menuju negeri-negeri Irak dan Khurasan, maka mereka berpencar di dalamnya dengan badan-badan mereka dan agama-agama mereka dan mazhab-mazhab mereka dan jalan-jalan mereka yang berbeda-beda yang tersebar, yang tidak teratur dan tidak terbatas; karena ia bercabang atas kebodohan dan kekuatan jiwa-jiwa, dan keyakinan yang rusak, dan dengan ini mereka menguasai banyak dari negeri-negeri dan wilayah-wilayah, hingga ia direbut dari mereka setelah itu, atas apa yang akan kami sebutkan di masa yang akan datang insya Allah.

Penyebutan Bai’at Marwan bin Hakam

Dan sebab hal itu adalah bahwa Hushain bin Numair ketika ia kembali dari tanah Hijaz, dan Ubaidillah bin Ziyad berangkat dari Basrah ke Syam, dan Bani Umayyah pindah dari Madinah ke Syam, mereka berkumpul kepada Marwan bin Hakam setelah kematian Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah, dan sungguh ia telah bertekad untuk membai’at untuk Ibnu Zubair di Damaskus, dan sungguh penduduknya membai’at Dhahhak bin Qais agar ia memperbaiki di antara mereka dan ia menegakkan bagi mereka urusan mereka hingga berkumpul umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan Dhahhak menginginkan agar ia membai’at untuk Ibnu Zubair, dan sungguh membai’at untuk Ibnu Zubair Nu’man bin Basyir di Hims, dan membai’at untuknya Zufar bin Harits al-Kilabi di Qinnasrin, dan membai’at untuknya Natil bin Qais di Palestina, dan ia mengeluarkan darinya Ruh bin Zinba’ al-Judzami, maka tidak henti-hentinya Ubaidillah bin Ziyad dan Hushain bin Numair pada Marwan bin Hakam, hingga mereka mengembalikannya dari pendapatnya, dan mereka memperingatkannya dari masuknya kekuasaan Ibnu Zubair dan kerajaannya ke Syam dan mereka berkata kepadanya: Engkau adalah syekh Quraisy dan pemimpinnya, maka engkau lebih berhak dengan urusan ini. Dan berkumpul kepadanya mereka semua ini bersama kaumnya Bani Umayyah dan bersama penduduk Yaman, maka ia menyetujui mereka, dan ia mulai berkata: Tidak ada yang terlewat sama sekali. Dan Hassan bin Malik bin Bahdal al-Kalbi menulis kepada Dhahhak bin Qais mengembalikannya dari bai’at untuk Ibnu Zubair, dan memberitahunya pertolongan-pertolongan Bani Umayyah padanya dan kebaikan mereka kepadanya, dan menyebutkan keutamaan mereka dan kemuliaan mereka, dan sungguh Hassan bin Malik membai’at penduduk Yordania untuk Bani Umayyah, dan ia menyeru kepada putra saudara perempuannya Khalid bin Yazid bin Muawiyah, dan ia mengirim kepada Dhahhak dengan hal itu, dan ia memerintahkannya agar ia membaca suratnya kepada penduduk Damaskus pada hari Jumat di atas mimbar, dan ia mengirim dengan surat itu bersama seorang laki-laki yang dikatakan: Naghadhah bin Kuraib ath-Thabikhi. Dan dikatakan: ia dari Bani Kalb. Dan ia berkata kepadanya: Jika ia tidak membacanya kepada orang-orang maka bacalah ia engkau. Dan ia memberikan kepadanya salinan dengannya, maka ia pergi kepada Dhahhak, maka ia memerintahkannya dengan membaca surat itu, maka ia tidak menerima, maka Naghadhah berdiri lalu ia membacanya kepada orang-orang, maka membenarkannya sekelompok dari pemimpin-pemimpin orang-orang, dan mendustakannya yang lain, dan bangkitlah fitnah besar di antara orang-orang, maka Khalid bin Yazid bin Muawiyah berdiri – dan ia adalah seorang pemuda muda – di atas dua anak tangga dari mimbar, maka orang-orang diam, dan Dhahhak turun lalu ia shalat bersama orang-orang Jumat, dan Dhahhak bin Qais memerintahkan dengan orang-orang itu yang membenarkan Naghadhah agar mereka dipenjara, maka bangkitlah suku-suku mereka, maka mereka mengeluarkan mereka dari penjara, dan kacaulah penduduk Damaskus tentang Ibnu Zubair dan Bani Umayyah, dan adalah berkumpulnya orang-orang dan berdirinya mereka setelah shalat Jumat di pintu Jirun, maka dinamakan hari ini hari Jirun.

Al-Mada’ini berkata: Dan sungguh orang-orang menginginkan Walid bin Utbah bin Abi Sufyan agar ia memimpin atas mereka maka ia menolak, dan ia meninggal pada malam-malam itu, kemudian sesungguhnya Dhahhak bin Qais naik mimbar Masjid Jami’, maka ia berkhutbah kepada mereka dengannya, dan ia mencela Yazid bin Muawiyah, maka berdiri kepadanya seorang pemuda dari Bani Kalb, maka ia memukulnya dengan tongkat yang bersamanya dan orang-orang duduk mengikatkan pedang-pedang mereka, maka berdiri sebagian mereka kepada sebagian, maka mereka berperang di Masjid dengan peperangan yang keras; maka Qais dan siapa yang membantunya menyeru kepada Ibnu Zubair dan menolong Dhahhak bin Qais, dan Bani Kalb menyeru kepada Bani Umayyah dan kepada bai’at untuk Khalid bin Yazid bin Muawiyah, dan mereka fanatik untuk Yazid dan keluarganya, maka bangkitlah Dhahhak bin Qais, maka ia masuk rumah kekuasaan dan menutup pintu, dan tidak keluar kepada orang-orang dari hari Sabtu untuk shalat Subuh, kemudian ia mengirim kepada Bani Umayyah, maka ia mengumpulkan mereka kepadanya lalu mereka masuk kepadanya, dan di antara mereka adalah Marwan bin Hakam, dan Amru bin Sa’id bin Ash, dan Khalid dan Abdullah putra Yazid bin Muawiyah.

Al-Mada’ini berkata: Maka ia meminta maaf kepada mereka atas apa yang telah terjadi darinya, dan sepakat bersama mereka untuk berangkat menemui Hasan bin Malik al-Kalbi, lalu mereka sepakat pada seorang laki-laki yang mereka ridhai dari Bani Umayyah untuk kepemimpinan. Maka mereka semua berangkat menemuinya. Ketika mereka sedang berjalan menuju al-Jabiyah untuk menemui Hasan, datanglah Tsaur bin Ma’n bin al-Akhnas bersama kaumnya Qais. Ia berkata kepadanya: Sesungguhnya engkau mengajak kami untuk membaiat Ibnu az-Zubair lalu kami memenuhi ajakanmu, namun engkau pergi menemui orang Arab pedalaman ini agar ia menunjuk anak saudara perempuannya, Khalid bin Yazid bin Muawiyah, sebagai khalifah. Maka ad-Dhahhak bertanya kepadanya: Lalu apa pendapatmu? Ia menjawab: Pendapatku adalah kita harus menampakkan apa yang selama ini kita sembunyikan, dan kita menyeru kepada ketaatan kepada Ibnu az-Zubair serta berperang untuk itu. Maka ad-Dhahhak condong bersama orang-orang yang bersamanya, lalu kembali ke Damaskus dan menetap di sana bersama pasukan dari Qais dan orang-orang yang bergabung dengan mereka. Ia mengirim utusan kepada para panglima pasukan, dan orang-orang membaiat Ibnu az-Zubair. Ia menulis hal itu kepada Ibnu az-Zubair untuk memberitahunya. Maka Ibnu az-Zubair menyebutkannya kepada penduduk Mekkah dan berterima kasih atas perbuatannya, serta menuliskan surat kepadanya tentang penunjukannya sebagai wakil di Syam. Ada yang mengatakan: Bahkan ia membaiat orang-orang untuk dirinya sendiri sebagai khalifah. Maka Allah-lah yang lebih mengetahui mana yang benar dari itu.

Yang disebutkan oleh al-Mada’ini adalah bahwa ia pertama kali menyeru untuk membaiat Ibnu az-Zubair, kemudian Ubaidillah bin Ziyad membujuknya agar menyeru untuk dirinya sendiri, dan itu adalah tipu muslihat darinya. Maka ad-Dhahhak menyeru untuk dirinya sendiri selama tiga hari, namun orang-orang menentangnya dalam hal itu, dan berkata: Engkau menyeru kami untuk membaiat seorang laki-laki lalu kami membaiатnya, kemudian engkau melepaskannya tanpa sebab dan alasan, lalu menyeru untuk dirimu sendiri! Maka ia kembali kepada baiat untuk Ibnu az-Zubair, dan karena itu ia jatuh di mata orang-orang, dan itulah yang diinginkan oleh Ubaidillah bin Ziyad.

Pertemuan Ubaidillah bin Ziyad dengannya terjadi setelah pertemuannya dengan Marwan dan membujuknya agar menyeru untuk dirinya sendiri, kemudian ia meninggalkannya untuk menipu ad-Dhahhak untuknya. Maka ia tinggal di tempatnya di Damaskus, dan setiap hari ia mengunjunginya. Kemudian Ibnu Ziyad menyarankan kepada ad-Dhahhak agar keluar dari Damaskus menuju padang pasir dan memanggil pasukan kepadanya agar lebih memungkinkan baginya. Maka ad-Dhahhak berangkat ke Marj Rahith, dan berkemah di sana bersama pasukan yang bersamanya. Pada saat itu Bani Umayyah dan orang-orang yang mengikuti mereka berkumpul di al-Urdunn, dan berkumpul kepada mereka orang-orang dari kaum Hasan bin Malik dari Bani Kalb.

Ketika Marwan bin al-Hakam melihat apa yang telah tersusun dari baiat untuk Ibnu az-Zubair, dan apa yang telah stabil baginya dari kerajaan, ia bertekad untuk berangkat kepadanya untuk membaiатnya dan mengambil jaminan keamanan darinya untuk Bani Umayyah. Maka ia berangkat hingga sampai di Adhra’at, lalu Ubaidillah bin Ziyad menemuinya yang datang dari Irak, dan menghalanginya dari hal itu, serta menganggap buruk pendapatnya. Berkumpul kepadanya Amr bin Sa’id bin al-Ash, Hushain bin Numair, Ibnu Ziyad, ahli Yaman dan banyak orang. Mereka berkata kepada Marwan: Engkau adalah orang besar Quraisy dan pemimpinnya, sedangkan Khalid bin Yazid masih anak-anak, dan Abdullah bin az-Zubair adalah orang dewasa. Sesungguhnya besi harus diadu dengan besi, maka jangan engkau menandinginya dengan anak ini, dan hadapkan dadamu ke dadanya, dan kami akan membaiатmu, ulurkanlah tanganmu. Maka ia mengulurkan tangannya, dan mereka membaiатnya di al-Jabiyah pada hari Rabu, tiga hari berlalu dari bulan Dzulqa’dah, tahun enam puluh empat. Demikian dikatakan oleh al-Waqidi.

Ketika urusan telah stabil baginya, ia berangkat bersama orang-orang yang bersamanya menuju ad-Dhahhak bin Qais, maka keduanya bertemu di Marj Rahith. Marwan bin al-Hakam mengalahkannya, dan membunuhnya serta membunuh dari Qais pembantaian yang belum pernah terdengar sepertinya, sebagaimana akan dijelaskan secara rinci pada awal tahun enam puluh lima. Karena al-Waqidi dan lainnya mengatakan: Sesungguhnya peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram dari awal tahun enam puluh lima.

Dalam riwayat Muhammad bin Sa’d, dari al-Waqidi dan lainnya mereka berkata: Sesungguhnya itu terjadi pada akhir tahun ini.

Al-Laits bin Sa’d, al-Waqidi, al-Mada’ini, Abu Sulaiman bin Zubar, Abu Ubaidah dan tidak hanya satu orang berkata: Peristiwa Marj Rahith terjadi pada pertengahan bulan Dzulhijjah tahun enam puluh empat. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui.

Peristiwa Marj Rahith dan Terbunuhnya ad-Dhahhak bin Qais al-Fihri, semoga Allah meridhainya

Telah disebutkan sebelumnya bahwa ad-Dhahhak adalah wakil Damaskus untuk Muawiyah bin Abu Sufyan, dan ia shalat menggantikannya jika ia sibuk atau tidak ada, menegakkan hukuman, dan mengurusi berbagai urusan. Ketika Muawiyah meninggal, ia menjalankan baiat untuk Yazid anaknya, kemudian ketika Yazid meninggal ia membaiat orang-orang untuk Muawiyah bin Yazid. Ketika Muawiyah bin Yazid meninggal, penduduk Damaskus membaiатnya hingga orang-orang berkumpul pada seorang imam. Ketika baiat meluas untuk Ibnu az-Zubair, ia bertekad untuk membaiатnya. Maka suatu hari ia berkhutbah kepada orang-orang dan berbicara tentang Yazid bin Muawiyah dan mencacatnya. Maka terjadilah fitnah di masjid jami’, hingga orang-orang berperang di dalamnya dengan pedang. Maka orang-orang tenang, kemudian ia masuk ke rumah kepemimpinan dari al-Khadhra’, dan menutup pintu atasnya. Kemudian ia sepakat dengan Bani Umayyah untuk berangkat kepada Hasan bin Malik bin Bahdal yang berada di al-Urdunn, lalu mereka berkumpul di tempatnya untuk menentukan siapa yang dianggap layak untuk kepemimpinan atas orang-orang. Hasan ingin membaiat anak saudara perempuannya Khalid bin Yazid, dan Yazid adalah anak Maisun, dan Maisun binti Bahdal. Ketika ad-Dhahhak berangkat bersama mereka, sebagian besar pasukan membelot darinya. Maka ia kembali ke Damaskus, dan bertahan di sana, dan mengirim utusan kepada para panglima pasukan, lalu membaiat mereka untuk Ibnu az-Zubair. Bani Umayyah berangkat bersama mereka Marwan bin al-Hakam, Amr bin Sa’id, Khalid dan Abdullah anak Yazid bin Muawiyah, hingga mereka berkumpul dengan Hasan bin Malik bin Bahdal di al-Jabiyah, dan tidak ada kekuatan besar bagi mereka dibandingkan dengan ad-Dhahhak bin Qais. Maka Marwan bertekad untuk berangkat kepada Ibnu az-Zubair untuk membaiатnya, dan mengambil jaminan keamanan darinya untuk Bani Umayyah, karena ia telah memerintahkan untuk mengusir mereka dari Madinah. Maka ia berangkat hingga tiba di Adhra’at, lalu Ubaidillah bin Ziyad menemuinya yang datang dari Irak. Ia bertemu dengannya, dan bersamanya Hushain bin Numair, dan Amr bin Sa’id bin al-Ash. Mereka membujuknya agar menyeru untuk dirinya sendiri; karena ia lebih berhak atas hal itu daripada Ibnu az-Zubair yang telah memisahkan diri dari jamaah, dan melepaskan tiga orang khalifah. Maka mereka terus membujuk Marwan hingga ia menyetujui hal itu. Ubaidillah bin Ziyad berkata kepadanya: Dan aku akan pergi untukmu kepada ad-Dhahhak di Damaskus, lalu aku akan menipunya untukmu dan merusak urusannya. Maka ia pergi kepadanya dan setiap hari mengunjunginya, dan menampakkan kepadanya kasih sayang, nasihat dan cinta. Kemudian ia membujuknya agar menyeru untuk dirinya sendiri, dan melepaskan Ibnu az-Zubair, karena engkau lebih berhak atas urusan ini darinya; karena engkau tidak pernah berhenti dalam ketaatan, terkenal dengan amanah, sedangkan Ibnu az-Zubair keluar dari orang-orang. Maka ad-Dhahhak menyeru orang-orang untuk dirinya sendiri selama tiga hari, namun tidak ada yang ikut dengannya. Maka ia kembali kepada seruan untuk Ibnu az-Zubair, tetapi ia telah jatuh di mata orang-orang. Kemudian Ibnu Ziyad berkata kepadanya: Sesungguhnya orang yang menuntut apa yang engkau tuntut tidak tinggal di kota-kota dan benteng, melainkan tinggal di padang pasir, dan memanggil pasukan. Maka ad-Dhahhak keluar ke Marj Rahith dan berkemah di sana, dan Ubaidillah bin Ziyad tinggal di Damaskus sedangkan Marwan dan Bani Umayyah di Tadmur, dan Khalid serta Abdullah di tempat paman mereka Hasan di al-Jabiyah. Maka Ibnu Ziyad menulis kepada Marwan memerintahkannya untuk menampakkan seruannya. Maka ia menyeru untuk dirinya sendiri, dan menikahi ibu Khalid bin Yazid bin Muawiyah, yaitu Umm Hasyim binti Abu Hasyim bin Utbah bin Rabi’ah. Maka urusannya menjadi besar dan orang-orang membaiатnya, dan berkumpul padanya. Ia berangkat ke Marj Rahith menuju ad-Dhahhak bin Qais, dan Ubaidillah bin Ziyad mengikutinya bersama saudaranya Abbad bin Ziyad, hingga berkumpul dengan Marwan tiga belas ribu orang. Di Damaskus dari pihaknya ada Yazid bin Abi an-Nams, dan ia telah mengeluarkan gubernur ad-Dhahhak darinya, dan ia membantu Marwan dengan senjata, laki-laki dan lainnya – dan dikatakan: Wakilnya di Damaskus pada hari itu adalah Abdurrahman bin Umm al-Hakam – dan Marwan menjadikan Ubaidillah bin Ziyad di sayap kanannya, dan Amr bin Sa’id bin al-Ash di sayap kirinya. Ad-Dhahhak mengirim kepada an-Nu’man bin Basyir, maka an-Nu’man membantunya dengan penduduk Hims yang dipimpin oleh Syurahbil bin Dzi al-Kala’, dan Zufar bin al-Harits al-Kilabi datang kepadanya bersama penduduk Qinnasrin. Maka ad-Dhahhak memiliki tiga puluh ribu orang, di sayap kanannya Ziyad bin Amr al-Uqaili, dan di sayap kirinya Zakariya bin Syamr al-Hilali. Maka mereka berbaris, dan berperang di Marj selama dua puluh hari, mereka bertemu setiap hari dan berperang dengan perang yang keras. Kemudian Ubaidillah bin Ziyad menyarankan kepada Marwan agar menyeru mereka kepada perdamaian sebagai tipu daya; karena perang adalah tipu muslihat, dan engkau serta para sahabatmu berada di atas kebenaran, sedangkan mereka berada di atas kebatilan. Maka diserukan kepada orang-orang tentang hal itu, kemudian para sahabat Marwan melanggar perjanjian, dan mereka menyerang untuk membunuh mereka dengan pembunuhan yang keras. Para sahabat ad-Dhahhak bersabar dengan kesabaran yang luar biasa. Maka ad-Dhahhak bin Qais terbunuh di medan perang, dibunuh oleh seorang laki-laki yang disebut: Zahmah bin Abdullah dari Bani Kalb, ia menikamnya dengan tombak, dan menembusnya tanpa mengenalinya. Marwan dan para sahabatnya bersabar dengan kesabaran yang sangat keras hingga orang-orang itu melarikan diri di hadapannya. Maka ia berseru: Jangan kejar orang yang mundur. Kemudian datanglah kepala ad-Dhahhak, dan dikatakan: Sesungguhnya orang pertama yang memberinya kabar gembira tentang terbunuhnya adalah Ruh bin Zinba’ al-Judzami. Dan kekuasaan Syam stabil di tangan Marwan bin al-Hakam. Diriwayatkan bahwa ia menangisi dirinya sendiri pada hari Marj Rahith, maka ia berkata: Setelah aku tua dan lemah, aku sampai pada keadaan membunuh orang-orang dengan pedang untuk kekuasaan?!

Aku katakan: Dan tidaklah masa kekuasaannya panjang kecuali sembilan bulan sebagaimana akan kami sebutkan.

Dan memang ad-Dhahhak bin Qais bin Khalid al-Akbar bin Wahb bin Tsa’labah bin Wa’ilah bin Amr bin Syaiban bin Muharib bin Fihr bin Malik, Abu Unais al-Fihri, adalah salah seorang sahabat menurut pendapat yang shahih, dan ia telah mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan meriwayatkan darinya beberapa hadits, dan diriwayatkan darinya oleh sekelompok tabi’in. Ia adalah saudara Fathimah binti Qais dan ia lebih tua darinya sepuluh tahun, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah pamannya. Demikian diceritakan oleh Ibnu Abi Hatim. Sebagian orang mengklaim bahwa ia bukan sahabat, dan al-Waqidi berkata: Ia mengalami masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendengar darinya sebelum baligh. Dalam riwayat dari al-Waqidi bahwa ia berkata: Ad-Dhahhak lahir dua tahun sebelum wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ia menyaksikan pembebasan Damaskus dan tinggal di sana dan ia memiliki rumah di sana dekat Hajar adz-Dzahab, yang berdekatan dengan Sungai Barada, dan ia memimpin penduduk Damaskus pada hari Shiffin bersama Muawiyah. Ketika Muawiyah mengambil Kufah, ia menunjuknya sebagai wakil di sana pada tahun lima puluh empat.

Al-Bukhari dalam at-Tarikh meriwayatkan bahwa ad-Dhahhak membaca surat Shad dalam shalat dengan orang-orang di Kufah, lalu bersujud di dalamnya namun Alqamah dan para sahabat Ibnu Mas’ud tidak mengikutinya dalam sujud.

Kemudian Muawiyah menunjuknya sebagai wakil di tempatnya di Damaskus, maka ia terus bersamanya hingga Muawiyah meninggal, dan anaknya Yazid menjabat, kemudian anak anaknya Muawiyah bin Yazid kemudian urusannya menjadi sebagaimana telah kami sebutkan.

Imam Ahmad berkata: Affan bin Muslim menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, Ali bin Zaid memberitahukan kepada kami, dari al-Hasan, bahwa ad-Dhahhak bin Qais menulis kepada Qais bin al-Haitsam ketika Yazid bin Muawiyah meninggal: Salam sejahtera atasmu, amma ba’du, maka sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di hadapan hari kiamat ada fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap, fitnah-fitnah seperti potongan asap, matinya hati seseorang di dalamnya seperti matinya tubuhnya, seseorang di pagi hari beriman dan di sore hari kafir, dan di sore hari beriman dan di pagi hari kafir, suatu kaum menjual akhlak mereka dan agama mereka dengan harga dunia yang sedikit.” Dan sesungguhnya Yazid bin Muawiyah telah meninggal, dan kalian adalah saudara-saudara kami dan saudara senasib kami maka janganlah kalian mendahului kami hingga kami memilih untuk diri kami sendiri. Dan al-Hafizh Ibnu Asakir telah meriwayatkan dari jalan Ibnu Qutaibah, dari al-Abbas bin al-Faraj ar-Riyasyi, dari Ya’qub bin Ishaq bin Buwaih, dari Hammad bin Zaid ia berkata: Ad-Dhahhak bin Qais masuk menemui Muawiyah lalu Muawiyah berkata:

Aku menjulang untuk ad-Dhahhak hingga aku mengembalikannya… kepada nasab dalam kaumnya yang terbatas

Maka ad-Dhahhak berkata: Sungguh kaum kami telah mengetahui bahwa kami adalah pelapis kuda. Maka ia berkata: Engkau benar, kalian adalah pelapisnya dan kami adalah para penunggangnya. Maksudnya: Kalian adalah pelana dan tali kendali, dan kami adalah para penunggang kuda. Dan aku melihat asalnya dari al-hilas, yaitu kain yang berada di bawah pelana, yaitu melekat pada punggungnya, sebagaimana al-hilas melekat pada punggung unta.

Dan ia juga meriwayatkan bahwa muadzin Damaskus berkata kepada ad-Dhahhak bin Qais: Demi Allah wahai amir, sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah. Maka ad-Dhahhak berkata kepadanya: Tetapi aku demi Allah membencimu karena Allah. Ia berkata: Mengapa? Semoga Allah memperbaikimu. Ia berkata: Karena engkau memperlihatkan diri dalam adzan-mu, dan mengambil upah atas pengajaranmu.

Ad-Dhahhak, semoga Allah merahmatinya, terbunuh pada hari Marj Rahith, yaitu pada pertengahan bulan Dzulhijjah, tahun enam puluh empat. Demikian dikatakan oleh al-Laits bin Sa’d, Abu Ubaid, al-Waqidi, Ibnu Zubar, dan al-Mada’ini.

Di Dalamnya Terbunuh An-Nu’man bin Basyir bin Sa’d Al-Anshari

Ibunya adalah ‘Amrah binti Rawahah, dan ia adalah bayi pertama yang lahir di Madinah setelah hijrah dari kalangan Anshar, pada bulan Jumadal Ula tahun dua Hijriyah. Ibunya membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau mentahniknya dan memberi kabar gembira kepada ibunya bahwa ia akan hidup terpuji, terbunuh syahid, dan masuk surga. Maka ia hidup dalam kebaikan dan kemakmuran, dan menjabat sebagai wakil gubernur Kufah untuk Mu’awiyah selama sembilan bulan, kemudian tinggal di Syam, dan menjabat sebagai qadhi di sana setelah Fadhalah bin ‘Ubaid, sedangkan Fadhalah setelah Abu Ad-Darda. Ia menjadi wakil di Homs untuk Mu’awiyah, dan dialah yang mengembalikan keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah atas perintah Yazid kepadanya dalam hal itu. Dialah yang memberi saran kepada Yazid untuk berbuat baik kepada mereka dan berkata: Perlakukan mereka dengan apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka seandainya beliau melihat mereka dalam keadaan seperti ini. Yazid pun merasa kasihan kepada mereka, berbuat baik dan memuliakan mereka, serta memerintahkan untuk memuliakan mereka.

Kemudian ketika terjadi peristiwa Marj Rahith dan terbunuhnya Ad-Dhahhak bin Qais, sedangkan An-Nu’man telah mengirim bantuan kepadanya berupa pasukan dari penduduk Homs, maka penduduk Homs menyerangnya dan membunuhnya di sebuah kampung yang disebut Yirin. Yang membunuhnya adalah seorang laki-laki bernama Khalid bin Khuli Al-Kala’i. Ada yang mengatakan: Khuli bin Dawud, dan ia adalah kakek dari Khalid bin Khuli. Putrinya Humaidah binti An-Nu’man meratapi ayahnya dengan bersyair:

Andai saja Ibnu Mirnah dan anaknya Menjadi pelindung atas pembunuhanmu Dan Bani Umayyah semuanya Tidak tersisa seorang pun dari mereka yang tersisa Datanglah surat berita tentang pembunuhannya Wahai anjing-anjing yang menggonggong Mereka memperoleh kemenangan dengan kepalanya Giliran berpaling kepada mereka yang kedua Sungguh akan aku tangisi dengan gembira Dan sungguh akan aku tangisi secara terang-terangan Dan sungguh akan aku tangisi selama aku hidup Bersama binatang-binatang buas yang menyerang

Dikatakan bahwa A’sya Hamdan datang kepada An-Nu’man bin Basyir ketika ia menjadi gubernur Homs dan ia sedang sakit. An-Nu’man berkata kepadanya: Apa yang membuatmu datang? Ia menjawab: Agar engkau memberiku sambungan, menjaga kekerabatanku, dan melunasi utangku. An-Nu’man berkata: Demi Allah, aku tidak memiliki sesuatu, tetapi aku akan memintakan sesuatu untuk dirimu dari mereka. Kemudian ia berdiri dan naik mimbar, lalu berkata: Wahai penduduk Homs, sesungguhnya orang ini adalah saudara sepupumu dari Iraq, dan ia meminta bantuan sesuatu dari kalian, maka apa pendapat kalian? Mereka berkata: Tentukanlah hukum atas harta kami. Ia menolak permintaan mereka, maka mereka berkata: Sungguh kami telah memberikan keputusan dari harta kami, setiap orang dua dinar—sedangkan mereka tercatat dalam daftar gaji sebanyak dua puluh ribu orang—maka An-Nu’man membayarkannya dengan segera dari Baitul Mal sebesar empat puluh ribu dinar. Ketika gaji mereka keluar, ia memotong dari gaji setiap orang dari mereka sebesar dua dinar.

Di antara ucapan An-Nu’man, semoga Allah meridhainya, adalah perkataannya: Sesungguhnya kebinasaan, kebinasaan yang sebenarnya, adalah melakukan perbuatan buruk di masa bencana.

Ya’qub bin Sufyan berkata: Abu Al-Yaman menceritakan kepada kami, Isma’il bin ‘Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Abu Rawahah Yazid bin Aiham, dari Al-Haitsam bin Malik Ath-Tha’i, aku mendengar An-Nu’man bin Basyir di atas mimbar berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya bagi setan ada perangkap dan jebakan, dan sesungguhnya di antara perangkap dan jebakannya adalah kesombongan dengan nikmat Allah, bermegah-megah dengan pemberian Allah, bersikap sombong terhadap hamba-hamba Allah, dan mengikuti hawa nafsu dalam hal-hal yang bukan karena Allah.

Di antara hadits-haditsnya yang shahih dan baik adalah apa yang ia dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan sesungguhnya yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar (syubhat) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barangsiapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, maka sungguh ia telah memelihara agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam perkara syubhat, maka ia terjatuh dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar tanah larangan, hampir saja ia masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki tanah larangan. Ketahuilah bahwa tanah larangan Allah ta’ala adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah ia adalah hati. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Abu Mashar berkata: An-Nu’man bin Basyir adalah gubernur Homs untuk Ibnu Az-Zubair, ketika penduduk Homs memberontak, An-Nu’man keluar melarikan diri, lalu Khalid bin Khuli Al-Kala’i mengejarnya dan membunuhnya.

Abu ‘Ubaidah dan lebih dari satu orang berkata: Pada tahun ini.

Muhammad bin Sa’d meriwayatkan dengan sanad-sanadnya bahwa Mu’awiyah menikahi seorang perempuan yang sangat cantik, lalu ia mengutus salah satu dari dua istrinya, Maisun atau Fakhitah, untuk melihatnya. Ketika ia melihatnya, ia sangat mengaguminya, kemudian kembali kepada Mu’awiyah. Mu’awiyah bertanya: Bagaimana menurutmu? Ia menjawab: Luar biasa kecantikannya, hanya saja aku melihat di bawah pusarnya tahi lalat hitam, dan aku mengira bahwa suaminya akan dibunuh dan kepalanya diletakkan di pangkuannya. Maka Mu’awiyah menceraikannya, dan An-Nu’man bin Basyir menikahinya. Ketika ia dibunuh, kepalanya diletakkan di pangkuan istrinya ini.

Abu Sulaiman bin Zabr berkata: Ia terbunuh di Salamiyah tahun enam puluh enam. Yang lain berkata: Tahun enam puluh lima. Ada yang mengatakan: Tahun enam puluh. Dan yang benar adalah apa yang kami sebutkan.

Pada tahun itu meninggal Al-Miswar bin Makhramah bin Naufal, seorang sahabat muda, terkena batu ketapel di Mekah, sedangkan ia sedang berdiri shalat di Hijr. Dan pada tahun ini—maksudnya tahun enam puluh empat—terjadi banyak peperangan dan fitnah yang tersebar di negeri-negeri Timur.

Abdullah bin Khazim menguasai negeri Khurasan. Ia mengalahkan para gubernurnya dan mengusir mereka dari sana, dan itu setelah kematian Yazid dan anaknya Mu’awiyah, sebelum kekuasaan Ibnu Az-Zubair stabil di daerah-daerah itu. Terjadi peperangan antara Abdullah bin Khazim ini dengan ‘Amr bin Martsad yang panjang untuk disebutkan dan dirincikan, kami cukup menyebutkannya secara global, karena tidak ada manfaat besar dari perinciannya, dan itu adalah peperangan fitnah dan pertarungan pemberontak sebagian mereka terhadap sebagian lainnya, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Al-Waqidi berkata: Pada tahun ini—setelah kematian Mu’awiyah bin Yazid—penduduk Khurasan membaiat Salm bin Ziyad bin Abihi, dan mereka mencintainya hingga mereka menamai dengan namanya pada tahun itu lebih dari seribu bayi yang lahir. Kemudian mereka mengingkari dan berselisih, maka Salm keluar dari mereka, dan meninggalkan Al-Muhallab bin Abi Shufrah sebagai penggantinya atas mereka. Pada tahun itu berkumpul para pembesar Syiah di Kufah bersama Sulaiman bin Shurad, dan mereka berjanji di An-Nakhilah untuk menuntut balas atas darah Al-Husain bin ‘Ali, semoga Allah meridhainya. Mereka terus bersungguh-sungguh dalam hal itu dan bertekad kuat, sejak setelah terbunuhnya Al-Husain di Karbala pada tanggal sepuluh Muharram tahun enam puluh satu. Mereka telah menyesal atas apa yang telah mereka lakukan dengan mengutus surat kepadanya, namun ketika ia tiba di negeri mereka, mereka mengecewakan dan meninggalkannya serta tidak menolongnya.

Maka ia memberikan pertemuan ketika pertemuan tidak berguna

Mereka berkumpul di rumah Sulaiman bin Shurad, dan ia adalah sahabat yang mulia. Pemimpin-pemimpin yang berdiri dalam hal itu ada lima orang: Sulaiman bin Shurad sang sahabat, Al-Musayyab bin Najabah Al-Fazari salah seorang pembesar sahabat ‘Ali, Abdullah bin Sa’d bin Nufail Al-Azdi, Abdullah bin Wal At-Taimi, dan Rifa’ah bin Syaddad Al-Bajali, dan semuanya dari kalangan sahabat ‘Ali, semoga Allah meridhainya. Mereka semua berkumpul setelah khutbah-khutbah dan nasihat-nasihat untuk mengangkat Sulaiman bin Shurad sebagai amir atas mereka. Mereka saling berjanji, bersumpah setia, dan berjanji untuk berkumpul di An-Nakhilah, agar berkumpul siapa saja yang menerima ajakan mereka ke tempat itu pada tahun enam puluh lima. Kemudian mereka mengumpulkan dari harta dan senjata mereka dalam jumlah banyak dan menyediakannya untuk itu. Sulaiman bin Shurad menulis surat kepada Sa’d bin Hudzaifah bin Al-Yaman yang berada di Mada’in mengajaknya untuk itu, maka ia menerimanya, dan Sa’d mengajak siapa saja yang mentaatinya dari penduduk Mada’in, mereka pun segera menerima dan menyambutnya dengan baik, bersepakat atasnya, dan berjanji di An-Nakhilah pada waktu yang disebutkan. Sa’d menulis surat kepada Sulaiman tentang hal itu, maka penduduk Kufah gembira atas persetujuan penduduk Mada’in bersama mereka atas hal itu, dan mereka bersemangat untuk urusan mereka yang telah mereka sepakati.

Ketika Yazid bin Mu’awiyah meninggal dan setelahnya anaknya Mu’awiyah juga meninggal tak lama kemudian, mereka berambisi terhadap kekuasaan, dan mereka yakin bahwa penduduk Syam telah melemah, dan tidak ada lagi yang dapat mengatur urusan bagi mereka. Maka mereka mendatangi Sulaiman dan bermusyawarah dengannya untuk tampil dan keluar menuju An-Nakhilah sebelum waktu yang dijanjikan. Ia melarang mereka dari hal itu hingga datang waktu yang telah mereka janjikan dengan saudara-saudara mereka. Sementara itu secara diam-diam mereka menyiapkan senjata dan kekuatan, tanpa disadari oleh mayoritas rakyat. Ketika itu mayoritas penduduk Kufah mendatangi ‘Amr bin Huraits, wakil ‘Ubaidillah bin Ziyad di Kufah, dan mengeluarkannya dari istana. Mereka bersepakat mengangkat ‘Amir bin Mas’ud bin Umayyah bin Khalaf yang dijuluki Dahrujih, lalu ia membaiat untuk Abdullah bin Az-Zubair. Ia mengurus berbagai urusan hingga datang wakil-wakil Ibnu Az-Zubair.

Ketika hari Jumat delapan hari tersisa dari bulan Ramadhan tahun ini—maksudnya tahun enam puluh empat—datang dua amir ke Kufah dari pihak Ibnu Az-Zubair: salah satunya Abdullah bin Yazid Al-Khathami untuk urusan perang dan perbatasan, dan yang lain Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah bin ‘Ubaidillah At-Taimi untuk urusan pajak. Sebelum mereka telah datang ke Kufah seminggu sebelumnya, pertengahan bulan ini, Al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid—yaitu Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi si pendusta—ia menemukan Syiah telah berkumpul di sekitar Sulaiman bin Shurad, dan mengagungkannya dengan pengagungan yang berlebihan, dan mereka sedang bersiap untuk perang. Ketika Al-Mukhtar menetap di antara mereka, ia menyeru secara diam-diam kepada imamah Muhammad bin Al-Hanafiyyah, dan menjulukinya Al-Mahdi. Banyak dari kalangan Syiah mengikutinya dan meninggalkan Sulaiman bin Shurad. Syiah pun terbagi menjadi dua kelompok: mayoritas dari mereka bersama Sulaiman ingin keluar melawan orang-orang untuk menuntut balas darah Al-Husain, dan kelompok pengikut Al-Mukhtar ingin keluar untuk menyeru kepada imamah Muhammad bin Al-Hanafiyyah, dan itu tanpa perintah dan ridha Ibnu Al-Hanafiyyah. Mereka hanya mengatakan-ngatakan atas namanya agar dapat menipu orang-orang dengannya, dan untuk mencapai tujuan-tujuan mereka yang rusak.

Datanglah mata-mata kepada Abdullah bin Yazid Al-Khathami, wakil Ibnu Az-Zubair, tentang apa yang disepakati oleh dua kelompok Syiah yang berbeda itu: untuk keluar melawan orang-orang dan menyeru kepada apa yang mereka inginkan. Sebagian orang memberi saran kepadanya agar segera mendatangi mereka, berhati-hati terhadap mereka, mengirim polisi dan tentara untuk menekan mereka dari apa yang telah mereka sepakati berupa keinginan untuk berbuat jahat dan fitnah. Maka ia berdiri berkhutbah di hadapan orang-orang, dan menyebutkan dalam khutbahnya apa yang sampai kepadanya tentang orang-orang ini, dan apa yang telah mereka sepakati, dan bahwa di antara mereka ada yang ingin menuntut balas darah Al-Husain. Sungguh mereka telah mengetahui bahwa aku bukan termasuk orang yang membunuhnya, dan demi Allah aku termasuk orang yang tertimpa musibah dengan terbunuhnya, semoga Allah merahmatinya dan melaknat pembunuhnya. Aku tidak akan menyerang siapa pun sebelum ia memulai kejahatan kepadaku. Jika orang-orang ini ingin menuntut balas darah Al-Husain, hendaklah mereka mendatangi ‘Ubaidillah bin Ziyad, karena dialah yang membunuh Al-Husain dan sebaik-baik keluarganya, maka hendaklah mereka mengambil balas darinya. Janganlah mereka mengeluarkan pedang mereka terhadap penduduk negeri mereka sendiri, karena di dalamnya terdapat kebinasaan dan pemusnahan mereka.

Maka berdiri Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah, amir yang lain, dan berkata: Wahai manusia, janganlah kalian tertipu oleh diri kalian sendiri dengan ucapan orang yang berpura-pura damai ini. Sesungguhnya kami, demi Allah, telah yakin bahwa suatu kaum ingin keluar melawan kami, dan sungguh kami akan menangkap ayah karena anak dan anak karena ayah, dan kerabat karena kerabat, dan kepala suku karena apa yang ada dalam sukunya, hingga mereka tunduk kepada kebenaran dan tunduk kepada ketaatan.

Maka Al-Musayyab bin Najabah Al-Fazari bangkit dan memotong ucapannya, lalu berkata: Wahai anak orang-orang yang melanggar janji, apakah engkau mengancam kami dengan pedang dan kezalimanmu? Engkau demi Allah lebih hina dari itu! Kami tidak menyalahkanmu atas kebencianmu kepada kami, sedangkan kami telah membunuh ayahmu dan kakekmu. Dan kami berharap dapat menyusulmu kepada keduanya sebelum engkau keluar dari istana ini.

Al-Musayyab bin Najabah didukung oleh sebagian teman-temannya, dan Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah dibelakan oleh sekelompok pejabat. Terjadilah fitnah dan kejahatan yang besar di masjid. Abdullah bin Yazid Al-Khathami turun dari mimbar, dan mereka berusaha untuk memfitnah antara kedua amir tersebut, namun tidak terjadi. Kemudian tampillah Syiah, pengikut Sulaiman bin Shurad, dengan senjata, dan menampakkan apa yang ada dalam diri mereka berupa keluar melawan orang-orang. Mereka berkuda bersama Sulaiman bin Shurad menuju Jazirah. Maka terjadilah dari urusan mereka apa yang akan kami sebutkan.

Adapun Al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid Ats-Tsaqafi si pendusta, sesungguhnya ia telah dibenci oleh Syiah sejak hari ditikam Al-Hasan, ketika ia pergi ke Syam bersama penduduk Iraq. Ia berlindung ke Mada’in, lalu Al-Mukhtar memberi saran kepada pamannya yang menjadi wakil Mada’in agar menangkap Al-Hasan dan mengirimnya kepada Mu’awiyah, untuk menjadikan hal itu sebagai jasa baik di sisinya. Pamannya menolak hal itu, maka Syiah membencinya karena hal itu. Ketika terjadi peristiwa Muslim bin ‘Aqil dan pembunuhannya oleh Ibnu Ziyad, Al-Mukhtar saat itu berada di Kufah. Sampailah kabar kepada Ibnu Ziyad bahwa ia berkata: Sungguh aku akan bangkit membela Muslim, dan akan menuntut balas atas darahnya.

Maka sungguh kami akan menahan ayah karena anaknya, dan anak karena ayahnya, kerabat dekat karena kerabat dekatnya, dan pemimpin kelompok karena apa yang berada dalam kepemimpinannya, sampai mereka tunduk kepada kebenaran dan merendahkan diri kepada ketaatan.

Maka meloncatlah Al-Musayyib bin Najbah Al-Fazari kepadanya dan memutuskan ucapannya seraya berkata: “Wahai anak orang-orang yang mengingkari janji, apakah engkau mengancam kami dengan pedang dan kezhalimanmu?! Demi Allah, engkau lebih hina dari itu. Kami tidak mencelamu karena kebencianmu kepada kami, padahal kami telah membunuh ayah dan kakekmu. Dan sungguh kami berharap dapat menyusulkanmu kepada keduanya sebelum engkau keluar dari istana ini.”

Al-Musayyib bin Najbah dibantu oleh sebagian sahabat-sahabatnya. Sekelompok para pejabat ditolak dari sisi Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah. Terjadilah fitnah dan keburukan yang besar di dalam masjid. Maka Abdullah bin Yazid Al-Khathmi turun dari mimbar. Mereka berusaha mengadu domba antara dua amir, namun hal itu tidak berhasil. Kemudian muncullah kelompok Syiah pengikut Sulaiman bin Shurad dengan membawa senjata. Mereka menampakkan apa yang selama ini tersembunyi di dalam hati mereka berupa pemberontakan terhadap manusia. Mereka berkendara bersama Sulaiman bin Shurad dan menuju ke arah Al-Jazirah. Maka terjadilah pada mereka apa yang akan kami sebutkan.

Adapun Al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid Ats-Tsaqafi, sang pendusta, maka sejak hari penusukan terhadap Al-Hasan, ia telah dibenci oleh kaum Syiah. Ketika Al-Hasan pergi menuju Syam bersama penduduk Irak, Al-Mukhtar berlindung ke Al-Mada’in. Al-Mukhtar memberi isyarat kepada pamannya—yang ketika itu menjadi wakil di Al-Mada’in—agar menangkap Al-Hasan dan mengirimkannya kepada Mu‘awiyah, sehingga ia memperoleh kedudukan istimewa di sisinya. Namun pamannya menolak hal tersebut. Karena itu kaum Syiah membencinya.

Ketika terjadi peristiwa Muslim bin ‘Aqil dan ia dibunuh oleh ‘Ubaidullah bin Ziyad, Al-Mukhtar saat itu berada di Kufah. Sampailah kepada Ibnu Ziyad bahwa Al-Mukhtar berkata: “Sungguh aku akan bangkit menolong Muslim dan akan menuntut balas atas kematiannya.” Maka Ibnu Ziyad memanggilnya menghadap. Ia memukul mata Al-Mukhtar dengan tongkat yang ada di tangannya hingga matanya juling, lalu memerintahkan agar ia dipenjara.

Ketika kabar pemenjaraannya sampai kepada saudari perempuannya, ia menangis dan sangat berduka atasnya. Ia adalah istri Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab. Maka Ibnu ‘Umar menulis surat kepada Yazid bin Mu‘awiyah untuk memohon syafaat agar Al-Mukhtar dikeluarkan dari penjara. Yazid pun mengirim surat kepada Ibnu Ziyad: “Saat engkau membaca surat ini, keluarkan Al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid dari penjara.” Maka Ibnu Ziyad tidak mampu menolak perintah itu. Ia pun mengeluarkannya dan berkata: “Jika aku mendapati engkau masih berada di Kufah setelah tiga hari, niscaya aku akan memenggal lehermu.”

Al-Mukhtar pun keluar menuju Hijaz seraya berkata: “Demi Allah, sungguh aku akan memotong jari-jari ‘Ubaidullah bin Ziyad, dan sungguh aku akan membunuh demi Al-Husain bin ‘Ali sebanyak jumlah orang yang terbunuh karena darah Yahya bin Zakariya.”

Ketika urusan Abdullah bin Az-Zubair semakin kuat di Makkah, Al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid membaiatnya dan menjadi salah satu amir besar di sisinya. Ketika Al-Hushain bin Numair dan penduduk Syam mengepungnya, Al-Mukhtar berperang membelanya dengan perang yang sangat sengit. Namun ketika sampai kepadanya kabar wafatnya Yazid bin Mu‘awiyah dan kekacauan penduduk Irak, ia menyimpan kemarahan terhadap Ibnu Az-Zubair dalam sebagian perkara. Ia pun keluar dari Hijaz dan menuju Kufah.

Ia memasuki Kufah pada hari Jumat, sementara manusia sedang bersiap untuk salat. Ia tidak melewati sekelompok manusia kecuali memberi salam dan berkata: “Bergembiralah dengan kemenangan dan keberhasilan atas musuh-musuh.” Ia masuk ke masjid dan salat di dekat sebuah tiang di sana sampai iqamat dikumandangkan. Setelah salat, ia terus salat hingga salat Asar ditegakkan. Kemudian ia pergi, manusia pun memberi salam kepadanya, mendatanginya, memuliakannya, dan mengagungkannya.

Ia mulai menyeru kepada imamnya yang disebut Al-Mahdi, yaitu Muhammad bin Al-Hanafiyyah. Ia menampakkan sikap membela Ahlul Bait, mengklaim bahwa ia akan menegakkan panji-panji mereka, menampakkan tanda-tanda mereka, dan menuntut balas atas darah mereka. Ia berkata kepada orang-orang yang telah berkumpul bersama Sulaiman bin Shurad dari kalangan Syiah—karena ia khawatir mereka akan segera keluar bersama Sulaiman—maka ia pun melemahkan semangat mereka dan menarik mereka kepadanya seraya berkata: “Sesungguhnya aku datang kepada kalian dari sisi wali urusan, sumber keutamaan, wasiat dari penerima wasiat, dan imam yang ditunggu-tunggu, dengan membawa perkara yang di dalamnya terdapat penyembuhan, tersingkapnya tabir, pembunuhan terhadap musuh-musuh, dan kesempurnaan nikmat.

Adapun Sulaiman bin Shurad—semoga Allah merahmati kami dan dia—sesungguhnya ia hanyalah angan-angan dari angan-angan, berakal tumpul, tidak memiliki pengalaman dalam urusan, dan tidak memiliki pengetahuan tentang peperangan. Ia hanya ingin mengajak kalian keluar lalu membinasakan dirinya sendiri dan membinasakan kalian. Sedangkan aku bergerak berdasarkan perumpamaan yang telah diperagakan kepadaku dan perintah yang telah dijelaskan kepadaku, yang di dalamnya terdapat kemuliaan bagi wali kalian, pembunuhan terhadap musuh kalian, dan penyejuk dada kalian. Maka dengarkanlah aku dan taatilah perintahku. Bergembiralah dan saling memberi kabar gembira, karena aku menjadi penjamin bagi kalian atas segala sesuatu yang kalian harapkan dan kalian cintai.”

Maka berkumpullah di sekelilingnya banyak orang dari kalangan Syiah. Akan tetapi mayoritas mereka tetap bersama Sulaiman bin Shurad. Ketika mereka keluar bersama Sulaiman menuju An-Nakhilah, ‘Umar bin Sa‘d bin Abi Waqqash, Shabats bin Rib‘i, dan selain keduanya berkata kepada Abdullah bin Yazid, wakil Kufah: “Sesungguhnya Al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid lebih berbahaya bagi kalian daripada Sulaiman bin Shurad.”

Maka Abdullah bin Yazid mengutus pasukan keamanan untuk mengepung rumah Al-Mukhtar. Ia pun ditangkap dan dibawa ke penjara dalam keadaan terbelenggu. Dikatakan pula: tanpa belenggu. Ia tinggal di penjara selama beberapa waktu dan jatuh sakit di dalamnya.

Abu Mikhnaf berkata: Maka Yahya bin Abi ‘Isa menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku masuk menemuinya bersama Humaid bin Muslim Al-Azdi untuk menjenguk dan memperhatikannya. Aku mendengarnya berkata:

Maka demi Tuhan lautan, pohon kurma dan pepohonan, padang pasir luas dan tanah gersang, para malaikat yang mulia, dan orang-orang pilihan yang terpilih, sungguh aku akan membunuh setiap tiran, dengan setiap tombak yang tajam, pedang India yang memutus, dan pasukan-pasukan penolong. Mereka bukan orang-orang lemah yang bodoh, dan bukan pula orang-orang jahat yang tercela. Hingga ketika aku telah menegakkan tiang agama, menambal keretakan kaum muslimin, menyejukkan bara di dada orang-orang beriman, dan menuntut balas atas darah anak-anak para nabi, aku tidak akan menangisi lenyapnya dunia, dan aku tidak akan peduli terhadap kematian ketika ia mendekat.

Ia berkata: Setiap kali kami datang menemuinya ketika ia berada di penjara, ia selalu mengulang-ulang perkataan ini kepada kami hingga akhirnya ia keluar.

Penyebutan tentang perobohan Ka’bah dan pembangunannya pada masa Ibnu Az-Zubair

Abu Ja‘far bin Jarir berkata: Pada tahun ini Ibnu Az-Zubair merobohkan Ka’bah. Hal itu karena dindingnya telah miring akibat lemparan batu-batu dari manjaniq. Ia merobohkan dinding-dindingnya hingga sampai ke fondasi Ibrahim. Sementara itu manusia tetap melakukan thawaf dan shalat di belakangnya. Ia menempatkan Hajar Aswad di dalam sebuah peti yang dilapisi sutra, dan menyimpan perhiasan, kain-kain, serta wewangian yang ada di dalam Ka’bah pada para penjaga. Hal itu dilakukan hingga Ibnu Az-Zubair membangunnya kembali sesuai dengan bentuk yang dahulu Rasulullah Muhammad ingin bangun.

Al-Waqidi berkata: Ketika Ibnu Az-Zubair hendak merobohkan Baitullah, ia bermusyawarah dengan manusia tentang perobohannya. Jabir bin Abdullah dan ‘Ubaid bin ‘Umair memberi saran agar ia melakukannya. Namun Ibnu ‘Abbas berkata: Aku khawatir akan datang setelahmu orang yang merobohkannya lagi, sehingga Ka’bah terus-menerus diruntuhkan hingga manusia meremehkan kehormatannya. Akan tetapi aku berpendapat engkau memperbaiki bagian yang telah rusak saja, dan membiarkan sebuah bangunan yang telah diterima kaum muslimin, serta batu-batu yang dahulu Rasulullah Muhammad meletakkannya. Maka Ibnu Az-Zubair berkata: Jika rumah salah seorang dari kalian terbakar, ia tidak akan ridha hingga memperbaruinya kembali. Lalu bagaimana dengan rumah Tuhan kalian?

Kemudian Ibnu Az-Zubair melakukan istikharah kepada Allah selama tiga hari. Pada hari keempat, ia berangkat pagi-pagi dan mulai membongkar sudut bangunan hingga mencapai fondasi. Ketika mereka sampai pada fondasi, mereka mendapati dasar bangunan berupa batu-batu yang saling terkait seperti jari-jari tangan. Maka Ibnu Az-Zubair memanggil lima puluh orang dan menjadikan mereka sebagai saksi atas hal itu. Setelah itu ia membangun kembali Ka’bah dan memasukkan Hijr ke dalam bangunannya. Ia menjadikan Ka’bah memiliki dua pintu yang sejajar dengan tanah: satu pintu untuk masuk dan satu pintu untuk keluar.

Ia meletakkan Hajar Aswad dengan tangannya sendiri dan mengikatnya dengan perak, karena batu itu telah retak. Ia menjadikan tinggi Ka’bah dua puluh tujuh hasta, padahal sebelumnya tingginya tujuh belas hasta, dan ia menganggapnya terlalu rendah. Ia menambah luas Ka’bah sepuluh hasta. Ia melumuri dinding-dindingnya dengan minyak kesturi dan menutupinya dengan kain sutra tebal. Setelah itu ia melaksanakan umrah dari Masjid ‘Aisyah, melakukan thawaf di Ka’bah, shalat, dan sa‘i. Ia menyingkirkan batu-batu, sampah, serta darah-darah yang berada di sekitar Ka’bah dan di dalam masjid.

Ka’bah sebelumnya telah mengalami kerusakan parah dari atas hingga ke bawah akibat batu-batu manjaniq. Sudut bangunannya menghitam, dan Hajar Aswad terbelah akibat api yang menyala di sekitar Ka’bah.

Sebab Ibnu Az-Zubair memperbarui bangunan Ka’bah adalah karena hadits yang diriwayatkan dalam Shahihain dan kitab-kitab musnad serta sunan lainnya, dari berbagai jalur, dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, bahwa Rasulullah Muhammad bersabda: “Seandainya bukan karena kaummu baru saja meninggalkan kekafiran, niscaya aku akan merobohkan Ka’bah dan memasukkan Hijr ke dalamnya. Karena kaummu kekurangan biaya, dan aku akan menjadikan baginya dua pintu: satu pintu di timur dan satu pintu di barat, manusia masuk dari salah satunya dan keluar dari yang lain. Dan aku akan melekatkan pintunya ke tanah, karena kaummu telah meninggikan pintunya agar mereka dapat memasukkan siapa yang mereka kehendaki dan mencegah siapa yang mereka kehendaki.”

Maka Ibnu Az-Zubair membangunnya berdasarkan hal tersebut, sebagaimana yang dikabarkan kepadanya oleh bibinya, ‘Aisyah Ummul Mukminin, dari Rasulullah Muhammad. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Kemudian ketika Al-Hajjaj bin Yusuf berhasil mengalahkannya pada tahun tujuh puluh tiga—sebagaimana akan disebutkan—lalu membunuh dan menyalibnya, Al-Hajjaj merobohkan dinding sebelah utara dan mengeluarkan Hijr sebagaimana keadaan semula. Ia memasukkan kembali batu-batu yang telah dirobohkan ke dalam bangunan Ka’bah dan meratakannya di dalam. Maka pintu Ka’bah kembali ditinggikan dan pintu barat ditutup. Inilah peninggalannya hingga hari ini. Semua itu dilakukan atas perintah ‘Abdul Malik bin Marwan. Hadits tersebut belum sampai kepadanya saat itu. Ketika hadits itu sampai kepadanya kemudian, ia berkata: Seandainya dahulu kami membiarkannya dan tidak mencampuri apa yang telah ia lakukan.

Al-Mahdi bin Al-Manshur Al-‘Abbasi pernah berkeinginan mengembalikan Ka’bah sebagaimana yang dibangun oleh Ibnu Az-Zubair. Ia meminta pendapat Imam Malik bin Anas tentang hal itu. Imam Malik berkata: Aku tidak menyukai jika Ka’bah dijadikan permainan oleh para raja, yang mempermainkan pembangunannya sesuai dengan pendapat masing-masing. Yang satu mengikuti pendapat Ibnu Az-Zubair, dan yang lain mengikuti pendapat ‘Abdul Malik bin Marwan. Dan Allah Mahasuci lagi Maha Mengetahui.

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun ini Abdullah bin Az-Zubair memimpin haji manusia. Gubernurnya di Madinah adalah saudaranya, ‘Ubaidah. Di Kufah adalah Abdullah bin Yazid Al-Khathmi, dan qadhinya adalah Sa‘id bin Numran. Syuraih menolak untuk mengadili perkara pada masa fitnah. Di Bashrah gubernurnya adalah ‘Umar bin ‘Ubaidullah bin Ma‘mar At-Taimi dan qadhinya Hisyam bin Hubairah. Di Khurasan adalah Abdullah bin Khazim.

Pada akhir tahun ini terjadi peristiwa Marj Rahith sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Kerajaan Syam pun menetap di tangan Marwan bin Al-Hakam bin Abi Al-‘Ash, setelah ia mengalahkan Adh-Dhahhak bin Qais dan membunuhnya dalam pertempuran tersebut. Disebutkan pula bahwa pada tahun ini Marwan memasuki Mesir dan merebutnya dari wakil Ibnu Az-Zubair, yaitu ‘Abdurrahman bin Jahdam. Kekuasaan Marwan pun kokoh atas Syam, Mesir, dan wilayah-wilayahnya.

Kemudian masuklah tahun enam puluh lima

Pada tahun ini berkumpul bersama Sulaiman bin Shurad sekitar tujuh belas ribu orang. Semuanya menuntut balas atas darah Al-Husain dari orang-orang yang telah membunuhnya.

Sulaiman bin Shurad berkhutbah kepada mereka ketika mereka keluar dari Kufah pada bulan Rabi‘ul Awwal tahun ini, di An-Nakhilah. Ia membakar semangat mereka untuk berjihad seraya berkata: Barang siapa di antara kalian keluar untuk mencari dunia berupa emas dan sutra, maka tidak ada sedikit pun dari itu bersama kami. Yang bersama kami hanyalah pedang di pundak-pundak kami, tombak di tangan-tangan kami, dan bekal yang mencukupi kami hingga bertemu musuh kami. Maka mereka menjawabnya dengan kesediaan mendengar dan taat dalam keadaan seperti itu.

Kemudian Sulaiman bin Shurad mengusulkan agar mereka menuju ‘Ubaidullah bin Ziyad. Sebagian mereka mengusulkan agar memerangi orang-orang di Kufah dari para pemuka kabilah yang termasuk pembunuh Al-Husain, seperti ‘Umar bin Sa‘d bin Abi Waqqash dan yang semisalnya. Namun Sulaiman bin Shurad menolak kecuali untuk menuju ‘Ubaidullah bin Ziyad, karena dialah yang mengirim pasukan-pasukan, menghasut manusia terhadap Al-Husain, dan menolak permintaan yang diajukan kepadanya. Ia berkata: Tidak ada baginya kecuali pedang. Dan kini ia telah datang dari Syam menuju Irak. Maka manusia pun bertekad bersama pendapat ini.

Ketika mereka telah bertekad demikian, Abdullah bin Yazid dan Ibrahim bin Muhammad—para amir Kufah dari pihak Ibnu Az-Zubair—mengutus pesan kepada Sulaiman bin Shurad. Keduanya berkata: Kami ingin tangan-tangan kami bersatu melawan Ibnu Ziyad. Mereka ingin mengirim pasukan bersama mereka agar memperkuat tujuan tersebut. Mereka mengirimkan utusan agar Sulaiman menunggu hingga mereka datang.

Sulaiman bin Shurad pun bersiap menyambut kedatangan mereka sebagai para pemimpin. Ia duduk dengan pakaian kebesarannya, sementara pasukan mengelilinginya. Datanglah Abdullah bin Yazid dan Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah bersama para pembesar Kufah yang bukan termasuk pembunuh Al-Husain, agar mereka tidak tamak terhadap mereka.

Pada masa itu, ‘Umar bin Sa‘d bin Abi Waqqash tidak pernah bermalam kecuali di istana pemerintahan bersama Abdullah bin Yazid karena takut atas keselamatan dirinya. Ketika kedua amir itu berkumpul dengan Sulaiman bin Shurad, keduanya menasihatinya agar tidak berangkat sebelum tangan mereka semua bersatu untuk memerangi musuh mereka, Ibnu Ziyad, dan agar mereka menyiapkan pasukan tambahan. Sebab penduduk Syam adalah jumlah yang besar dan sangat banyak, dan mereka membela Ibnu Ziyad dengan keras.

Namun Sulaiman bin Shurad menolak pendapat keduanya dan berkata: Sesungguhnya kami telah keluar untuk suatu urusan yang tidak akan kami mundurkan dan tidak pula kami tunda. Maka kedua amir itu pun kembali ke Kufah.

Sulaiman bin Shurad dan para pengikutnya menunggu rekan-rekan mereka dari Bashrah dan Al-Mada’in yang telah berjanji akan datang menemui mereka di An-Nakhilah pada tahun ini. Namun tidak seorang pun dari mereka datang. Maka Sulaiman bin Shurad berdiri berkhutbah di hadapan para pengikutnya dan membakar semangat mereka untuk berangkat menuju tujuan yang telah mereka niatkan. Ia berkata: Seandainya saudara-saudara kalian mendengar keberangkatan kalian, niscaya mereka akan segera menyusul kalian.

Sulaiman dan para pengikutnya pun keluar dari An-Nakhilah pada hari Jumat, lima hari telah berlalu dari bulan Rabi‘ul Awwal tahun enam puluh lima. Ia berjalan bersama mereka beberapa tahap perjalanan. Tidaklah mereka maju satu tahap ke arah Syam melainkan ada sekelompok orang yang tertinggal darinya.

Ketika mereka melewati makam Al-Husain, mereka berteriak dengan satu suara dan menangis bersama. Mereka bermalam di sisinya satu malam dan menetap satu hari penuh. Mereka berdoa untuknya, memohonkan rahmat baginya, memohonkan ampunan baginya, menyatakan keridhaan kepadanya, dan berangan-angan seandainya mereka mati bersamanya sebagai para syahid.

Aku berkata: Seandainya tekad dan pertemuan ini terjadi sebelum Al-Husain sampai ke tempat tersebut, tentu itu lebih bermanfaat baginya dan lebih menolongnya daripada pertemuan mereka untuk menolongnya setelah empat tahun.

Ketika mereka hendak berangkat, tidak seorang pun dari mereka berjalan sebelum mendatangi makam itu, mendoakan rahmat baginya dan memohonkan ampunan untuknya. Mereka sampai berdesak-desakan di sekitarnya lebih keras daripada desakan mereka di Hajar Aswad. Setelah itu mereka berangkat menuju Syam.

Ketika mereka melewati Qarqisiya, Zufar bin Al-Harits bertahan menghadapi mereka. Maka Sulaiman bin Shurad mengutus kepadanya pesan: “Kami tidak datang untuk memerangi kalian. Keluarkanlah pasar kepada kami, karena kami hanya akan singgah di tempat kalian sehari atau sebagian hari.” Maka Zufar bin Al-Harits memerintahkan agar pasar dikeluarkan untuk mereka. Ia juga memerintahkan agar utusan yang datang kepadanya—yaitu Al-Musayyib bin Najbah Al-Fazari—diberi seekor kuda dan seribu dirham. Al-Musayyib berkata: “Adapun harta, tidak. Adapun kuda, ya.”

Zufar bin Al-Harits mengirim kepada Sulaiman bin Shurad dan para pemimpin pasukan yang bersamanya, masing-masing dua puluh ekor unta sembelihan, makanan, dan pakan dalam jumlah yang banyak. Setelah itu Zufar bin Al-Harits keluar mengantar mereka, berjalan bersama Sulaiman bin Shurad dan berkata kepadanya: “Telah sampai kepadaku kabar bahwa penduduk Syam telah mengerahkan kepada kalian pasukan yang sangat besar dan jumlah yang banyak, bersama Hushain bin Numair, Syurahbil bin Dzi Al-Kila‘, Adham bin Muharriz Al-Bahili, Rabi‘ah bin Al-Mukharriq Al-Ghanawi, dan Jabalah bin Abdullah Al-Khats‘ami.”

Sulaiman bin Shurad berkata: “Kepada Allah kami bertawakal, dan hanya kepada-Nya orang-orang yang bertawakal berserah diri.”

Zufar bin Al-Harits lalu menawarkan kepada mereka agar masuk ke kotanya atau tinggal di pintu kotanya. Ia berkata: “Jika ada yang datang kepada kalian, kami akan bersama kalian menghadapinya.” Namun mereka menolak semua tawaran itu dan berkata: “Penduduk negeri kami sendiri telah menawarkan hal yang sama, namun kami menolaknya.”

Zufar berkata: “Jika kalian menolak hal itu, maka segeralah mendahului mereka menuju ‘Ain Al-Wardah. Dengan begitu air, kota, dan pasar berada di belakang kalian, dan apa yang berada di antara kami dan kalian aman bagi kalian.” Ia juga memberi mereka arahan tentang strategi yang dapat mereka andalkan dalam peperangan. Maka Sulaiman bin Shurad dan manusia pun memujinya dengan kebaikan. Setelah itu Zufar kembali, dan Sulaiman bin Shurad segera bergerak menuju ‘Ain Al-Wardah. Ia singgah di sebelah baratnya dan menetap di sana selama lima hari sebelum musuh-musuhnya sampai kepadanya.

Peristiwa ‘Ain Al-Wardah

Sulaiman dan para pengikutnya beristirahat dan merasa tenang. Ketika kedatangan penduduk Syam semakin dekat, Sulaiman berkhutbah kepada para pengikutnya. Ia mengarahkan mereka kepada akhirat, menjauhkan mereka dari kecintaan kepada dunia, dan mendorong mereka untuk berjihad. Ia berkata: “Jika aku terbunuh, maka pemimpin kalian adalah Al-Musayyib bin Najbah. Jika ia terbunuh, maka Abdullah bin Sa‘d bin Nufail. Jika ia terbunuh, maka Abdullah bin Wal. Jika ia terbunuh, maka Rifa‘ah bin Shaddad.”

Kemudian ia mengutus Al-Musayyib bin Najbah mendahului mereka dengan empat ratus pasukan berkuda. Mereka menyerang pasukan Syurahbil bin Dzi Al-Kila‘ ketika mereka lengah. Mereka membunuh sejumlah orang, melukai yang lain, dan menggiring hewan ternak. Berita itu sampai kepada ‘Ubaidullah bin Ziyad, maka ia mengutus Hushain bin Numair ke hadapan pasukannya. Hushain menyerang Sulaiman bin Shurad dan pasukannya secara mendadak. Mereka pun saling berhadapan pada hari Rabu, delapan hari tersisa dari bulan Jumada Al-Ula.

Hushain bin Numair berdiri dengan dua belas ribu pasukan. Kedua pihak telah bersiap menghadapi lawannya. Pasukan Syam menyeru pengikut Sulaiman agar masuk dalam ketaatan kepada Marwan bin Al-Hakam. Sementara pengikut Sulaiman menyeru pasukan Syam agar menyerahkan ‘Ubaidullah bin Ziyad kepada mereka untuk dibunuh sebagai balasan atas Al-Husain. Masing-masing pihak menolak ajakan pihak lainnya. Maka terjadilah pertempuran sengit sepanjang hari hingga malam. Pada hari itu, kemenangan berpihak kepada penduduk Irak atas penduduk Syam.

Ketika pagi tiba, pasukan Ibnu Dzi Al-Kila‘ telah bergabung dengan pasukan Syam sebanyak delapan ribu pasukan berkuda. ‘Ubaidullah bin Ziyad memarahinya dan mencelanya. Maka manusia bertempur pada hari itu dengan pertempuran yang tidak pernah disaksikan oleh orang tua maupun pemuda sebelumnya. Tidak ada yang memisahkan mereka kecuali waktu-waktu shalat, hingga malam tiba.

Ketika pagi hari ketiga tiba, Adham bin Muharriz datang bergabung dengan pasukan Syam membawa sepuluh ribu pasukan. Hal itu terjadi pada hari Jumat. Mereka bertempur dengan sengit hingga matahari naik. Setelah itu pasukan Syam memutar posisi mengelilingi pasukan Irak dan mengepung mereka dari segala arah.

Sulaiman bin Shurad berkhutbah kepada manusia dan mendorong mereka untuk berjihad. Maka terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Sulaiman bin Shurad turun dari kudanya, mematahkan sarung pedangnya, dan berseru: “Wahai hamba-hamba Allah, siapa yang ingin berangkat menuju surga, bertaubat dari dosanya, dan menepati janjinya, maka datanglah kepadaku.”

Banyak orang pun turun dari kuda, mematahkan sarung pedang mereka, dan menyerbu hingga berada di tengah-tengah pasukan musuh. Mereka membunuh pasukan Syam dengan pembantaian besar hingga mereka berjalan di dalam darah. Sulaiman bin Shurad pun terbunuh. Yazid bin Al-Hushain memanahnya. Ia terjatuh, bangkit, terjatuh lagi, bangkit lagi, lalu terjatuh.

Panji pun dipegang oleh Al-Musayyib bin Najbah. Ia berperang dengan pertempuran yang sangat sengit seraya melantunkan syair:

Telah diketahui oleh orang-orang berambut terurai,

berleher dan berdada terbuka,

bahwa pada hari ketakutan dan perebutan,

aku lebih berani daripada singa yang meloncat,

pemutus lawan, ditakuti sisi-sisinya.

Kemudian ia pun terbunuh—semoga Allah merahmatinya—dan gugur di tempat itu, menyusul para sahabatnya. Panji kemudian dipegang oleh Abdullah bin Sa‘d bin Nufail. Ia pun berperang dengan sengit seraya berkata: “Semoga Allah merahmati kedua saudaraku. Di antara mereka ada yang telah menunaikan janjinya, dan di antara mereka ada yang menunggu, dan mereka tidak mengubah janji itu.”

Pada saat itu Rabi‘ah bin Al-Mukharriq menyerang penduduk Irak dengan serangan yang mengerikan. Ia berduel dengan Abdullah bin Sa‘d bin Nufail. Keduanya saling beradu. Kemudian keponakan Rabi‘ah menyerang Abdullah bin Sa‘d dan membunuhnya. Pamannya membawanya pergi.

Panji kemudian dipegang oleh Abdullah bin Wal. Ia mendorong manusia untuk berjihad dan terus menyeru: “Berangkat menuju surga.” Itu terjadi setelah salat Asar. Ia menyerbu bersama manusia dan memecah barisan orang-orang di sekitarnya, lalu ia pun terbunuh. Ia termasuk ulama ahli fikih dan pemberi fatwa. Ia dibunuh oleh Adham bin Muharriz Al-Bahili, panglima perang pasukan Syam saat itu.

Panji kemudian dipegang oleh Rifa‘ah bin Shaddad. Ia menarik manusia mundur ketika kegelapan telah tiba. Pasukan Syam kembali ke perkemahan mereka. Rifa‘ah pun pergi bersama orang-orang yang tersisa bersamanya kembali ke negerinya.

Ketika pagi tiba, pasukan Syam mendapati pasukan Irak telah kembali ke negeri mereka. Mereka tidak mengirim pasukan pengejar. Rifa‘ah bersama orang-orang yang bersamanya menyeberangi Sungai Al-Khabur dan melewati Qarqisiya. Zufar bin Al-Harits mengirim kepada mereka makanan, pakan, dan para tabib. Mereka menetap selama tiga hari hingga beristirahat, kemudian berangkat.

Ketika mereka sampai di Hit, tiba-tiba Sa‘d bin Hudzaifah bin Al-Yaman datang bersama orang-orang dari Al-Mada’in untuk menolong mereka. Ketika mereka memberitahukan kepadanya apa yang telah terjadi dan apa yang menimpa mereka, serta mengabarkan wafatnya para sahabat mereka, mereka pun mendoakan rahmat, memohonkan ampunan, dan menangisi saudara-saudara mereka. Penduduk Al-Mada’in kembali ke negeri mereka, dan sisa-sisa penduduk Kufah pun kembali ke Kufah.

Telah terbunuh dari mereka manusia dalam jumlah yang sangat banyak. Sementara itu Al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid masih berada di dalam penjara dan belum keluar. Ia menulis surat kepada Rifa‘ah bin Shaddad untuk menghiburnya atas orang-orang yang terbunuh, mendoakan rahmat bagi mereka, dan memuji mereka atas apa yang mereka peroleh berupa syahadah dan pahala yang besar. Ia berkata: “Selamat datang bagi orang-orang yang Allah besarkan pahala mereka dan Allah ridhai mereka. Demi Allah, tidak seorang pun dari mereka melangkahkan satu langkah kecuali pahala Allah baginya lebih besar daripada dunia dan segala isinya. Sesungguhnya Sulaiman telah menunaikan kewajibannya. Allah mewafatkannya dan menjadikan ruhnya bersama ruh para nabi, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Selanjutnya, aku adalah pemimpin yang terpercaya, pembunuh para tiran dan perusak—insya Allah. Maka bersiaplah, bersiap siagalah, dan bergembiralah. Aku mengajak kalian kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, serta menuntut balas darah Ahlul Bait.” Ia menyebutkan banyak perkataan lain dengan makna yang serupa.

Sebelum kedatangan mereka, ia telah memberitakan kepada manusia tentang kebinasaan mereka berdasarkan pendapat yang datang kepadanya dari setan-setan. Sesungguhnya setan pernah datang kepadanya dan membisikkan kepadanya sesuatu yang mirip dengan apa yang dibisikkan setan kepada Musailamah. Pasukan Sulaiman bin Shurad dan para pengikutnya dikenal dengan sebutan Pasukan At-Tawwabin.

Sulaiman bin Shurad Al-Khuza‘i, Abu Mutharrif, penduduk Kufah, adalah seorang sahabat Nabi yang agung, mulia, ahli ibadah, dan zuhud. Ia meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad dalam Shahihain dan selainnya. Ia ikut bersama ‘Ali dalam perang Shiffin. Ia termasuk orang-orang yang menjadi tempat berkumpulnya kaum Syiah di rumahnya untuk membaiat Al-Husain. Ia termasuk orang yang menulis surat kepada Al-Husain agar datang ke Irak. Namun ketika Al-Husain datang, mereka meninggalkannya hingga ia terbunuh di Karbala.

Mereka memandang bahwa merekalah sebab kedatangannya dan bahwa mereka telah mengkhianatinya hingga ia terbunuh bersama Ahlul Baitnya. Maka mereka menyesal atas apa yang telah mereka lakukan. Kemudian mereka berkumpul dalam pasukan ini dan menamakan pasukan mereka Pasukan At-Tawwabin. Mereka menamakan Sulaiman bin Shurad sebagai Amir At-Tawwabin.

Sulaiman bin Shurad terbunuh—semoga Allah meridhainya—dalam peristiwa ‘Ain Al-Wardah pada tahun enam puluh lima. Dikatakan pula tahun enam puluh tujuh, namun pendapat pertama lebih sahih. Usianya saat terbunuh adalah sembilan puluh tiga tahun. Semoga Allah merahmatinya.

Adapun Al-Musayyib bin Najbah bin Rabi‘ah Al-Fazari, ia datang bersama Khalid bin Al-Walid dari Irak dan menyaksikan penaklukan Damaskus. Ia kemudian kembali ke Irak dan ikut bersama ‘Ali dalam perang Shiffin dan peperangan lainnya. Ia termasuk tokoh besar yang keluar menuntut balas atas darah Al-Husain.

Kepalanya dan kepala Sulaiman bin Shurad dibawa kepada Marwan bin Al-Hakam setelah peristiwa tersebut. Para pemimpin pasukan Syam menulis surat kepada ‘Abdul Malik bin Marwan tentang kemenangan yang Allah berikan kepada mereka atas musuh mereka. Maka ia berkhutbah di hadapan manusia dan mengabarkan apa yang terjadi pada pasukan serta orang-orang Irak yang terbunuh. Ia berkata: “Semoga Allah membinasakan para pemimpin kesesatan: Sulaiman bin Shurad dan para pengikutnya.” Kepala-kepala itu digantung di Damaskus.

Marwan bin Al-Hakam telah menetapkan urusan kekuasaan setelahnya kepada kedua putranya: ‘Abdul Malik kemudian ‘Abdul ‘Aziz. Ia mengambil baiat para pemimpin atas hal itu pada tahun ini. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Jarir dan selainnya.

Pada tahun ini Marwan bin Al-Hakam dan ‘Amr bin Sa‘id Al-Ashdaq masuk ke wilayah Mesir dan merebutnya dari tangan wakilnya yang berasal dari pihak Abdullah bin Az-Zubair, yaitu ‘Abdurrahman bin Jahdam. Sebabnya adalah Marwan menuju Mesir, lalu wakilnya, Ibnu Jahdam, keluar menemuinya. Marwan menyibukkannya dengan pertempuran, sementara ‘Amr bin Sa‘id menyelinap bersama sekelompok pasukan dari belakang ‘Abdurrahman bin Jahdam, masuk ke Mesir, dan menguasainya. ‘Abdurrahman melarikan diri. Marwan pun masuk ke Mesir, menguasainya, dan mengangkat putranya, ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan, sebagai gubernurnya.

Pada tahun ini pula Ibnu Az-Zubair mengutus saudaranya, Mush‘ab, untuk menaklukkan Syam. Marwan mengutus ‘Amr bin Sa‘id menghadapinya. Keduanya bertemu di Palestina. Mush‘ab bin Az-Zubair melarikan diri darinya dan kembali tanpa memperoleh apa pun. Kekuasaan Syam dan Mesir pun tetap berada di tangan Marwan.

Pada tahun ini Marwan mempersiapkan dua pasukan. Salah satunya bersama Hubaisy bin Duljah Al-Qaini untuk merebut Madinah. Adapun pasukan yang lain bersama ‘Ubaidullah bin Ziyad menuju Irak untuk merebutnya dari para wakil Ibnu Az-Zubair. Ketika mereka berada di sebagian jalan, mereka bertemu dengan Pasukan At-Tawwabin bersama Sulaiman bin Shurad. Terjadilah pada mereka apa yang telah kami sebutkan dalam peristiwa ‘Ain Al-Wardah. Mereka membunuh sebagian besar pengikut Sulaiman bin Shurad.

Pasukan itu terus melanjutkan perjalanan. Ketika mereka berada di wilayah Al-Jazirah, sampailah kepada mereka kabar wafatnya Marwan bin Al-Hakam. Wafatnya terjadi pada bulan Ramadan tahun ini. Sebab wafatnya adalah bahwa Marwan menikahi Umm Khalid, istri Yazid bin Mu‘awiyah, yaitu Ummu Hasyim binti Hasyim bin ‘Utbah bin Rabi‘ah. Marwan menikahinya dengan tujuan merendahkan kedudukan putranya, Khalid, di mata manusia, karena telah ada dalam benak banyak orang keinginan agar Khalid berkuasa setelah saudaranya, Mu‘awiyah.

Suatu hari Khalid masuk menemui Marwan, lalu Marwan memperbincangkannya di hadapan para majelisnya. Ketika Khalid duduk, Marwan berkata kepadanya dengan ucapan yang kasar dan menghina. Khalid pun pergi menemui ibunya dan mengabarkan apa yang dikatakan kepadanya. Ibunya berkata: “Sembunyikan hal ini dan jangan beritahukan kepadanya bahwa engkau telah mengabarkannya kepadaku.”

Ketika Marwan masuk menemuinya, ia bertanya: “Apakah Khalid menyebutku dengan keburukan di hadapanmu?” Ia menjawab: “Apa yang akan ia katakan tentangmu, sementara ia mencintaimu dan mengagungkanmu?”

Kemudian Marwan tidur di sisinya. Ketika ia telah tertidur, perempuan itu mengambil sebuah bantal, meletakkannya di wajahnya, lalu ia dan para pelayannya menekannya hingga ia meninggal karena tercekik. Peristiwa itu terjadi pada hari ketiga bulan Ramadan tahun enam puluh lima di Damaskus. Usianya saat wafat adalah enam puluh tiga tahun. Dikatakan enam puluh satu, dan dikatakan pula delapan puluh satu tahun. Masa pemerintahannya adalah sembilan bulan. Dikatakan pula sepuluh bulan kurang tiga hari.

Marwan bin al-Hakam, kakek para khalifah Bani Umayyah setelahnya.

Ia adalah Marwan bin al-Hakam bin Abi al-‘Ash bin Umayyah bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf al-Qurasyi al-Umawi. Kunyahnya Abu ‘Abd al-Malik; ada pula yang mengatakan Abu al-Hakam, dan ada yang mengatakan Abu al-Qasim.

Sebagian besar ulama menganggapnya sebagai sahabat Nabi, karena ia dilahirkan pada masa Nabi Muhammad masih hidup. Ia meriwayatkan hadis tentang Perjanjian Hudaibiyah. Dalam salah satu riwayat di Shahih al-Bukhari disebutkan hadis panjang yang diriwayatkan dari Marwan dan al-Miswar bin Makhramah. Ia juga meriwayatkan hadis dari Umar, Utsman—dan ia adalah penulisnya—Ali, Zaid bin Tsabit, serta Busrah binti Shafwan al-Asadiyyah, yang merupakan mertuanya. Al-Hakim Abu Ahmad berkata bahwa Busrah adalah bibinya, dan tidak ada pertentangan antara keduanya; ia bisa menjadi bibi sekaligus mertua. Hadis-hadis darinya diriwayatkan oleh putranya ‘Abd al-Malik, Sahl bin Sa‘d, Sa‘id bin al-Musayyib, ‘Urwah bin az-Zubair, ‘Ali bin al-Husain Zain al-‘Abidin, Mujahid, dan selain mereka.

Al-Waqidi dan Muhammad bin Sa‘d berkata bahwa Marwan sempat bertemu Nabi Muhammad, namun tidak menghafal sesuatu darinya. Umurnya delapan tahun ketika Nabi wafat. Ibn Sa‘d memasukkannya dalam lapisan pertama dari kalangan tabi‘in. Marwan termasuk tokoh terkemuka Quraisy dan orang-orang pilihan mereka. Ibn ‘Asakir dan selainnya meriwayatkan bahwa Umar bin al-Khattab pernah melamar seorang perempuan kepada ibunya, lalu berkata: “Jarir al-Bajali melamar kepada kalian dengan membawa Islam; ia adalah pemimpin para pemuda di wilayah timur. Marwan bin al-Hakam adalah pemimpin para pemuda Quraisy. ‘Abdullah bin Umar adalah orang yang telah kalian ketahui, dan aku, Umar.” Perempuan itu berkata: “Apakah engkau berlaku adil, wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab: “Ya.” Ia berkata: “Kalau begitu, kami nikahkan engkau, wahai Amirul Mukminin.”

Utsman bin ‘Affan sangat memuliakan dan mengagungkan Marwan. Ia menjadi penulis keputusan hukum di hadapannya. Dari bawah kepalanya mengalir peristiwa pengepungan rumah Utsman, dan karena dirinya Utsman dikepung di rumah itu. Orang-orang mendesak Utsman agar menyerahkan Marwan kepada mereka, namun Utsman menolak dengan penolakan yang sangat keras. Marwan berperang dengan sengit pada hari pengepungan rumah, dan ia membunuh sebagian dari kelompok pemberontak tersebut. Ia berada di sayap kiri pada Perang Jamal, dan dikatakan bahwa ia melepaskan panah ke lutut Thalhah sehingga Thalhah terbunuh. Allah lebih mengetahui.

Ibn ‘Abd al-Hakam berkata: Aku mendengar al-Syafi‘i berkata, bahwa Ali pada hari Perang Jamal—ketika orang-orang telah kocar-kacir—sering menanyakan kabar Marwan. Ketika ditanyakan kepadanya alasan hal itu, ia berkata: “Karena ada hubungan kekerabatan yang dekat antara aku dan dia, dan ia adalah pemimpin di antara para pemuda Quraisy.”

Ibn al-Mubarak meriwayatkan dari Jarir bin Hazim, dari ‘Abd al-Malik bin ‘Umair, dari Qabishah bin Jabir, bahwa ia berkata kepada Mu‘awiyah: “Menurutmu, siapa yang paling layak memegang urusan ini setelahmu?” Mu‘awiyah menjawab: “Adapun orang yang membaca Kitab Allah, faqih dalam agama Allah, dan tegas dalam menegakkan hukum-hukum Allah, maka dialah Marwan bin al-Hakam.” Mu‘awiyah beberapa kali mengangkatnya sebagai wakil di Madinah; terkadang ia mencopotnya lalu mengangkatnya kembali. Marwan juga memimpin pelaksanaan haji bagi kaum muslimin dalam beberapa tahun.

Hanbal meriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa dikatakan: Marwan memiliki keputusan-keputusan hukum, dan ia mengikuti keputusan-keputusan Umar bin al-Khattab.

Ibn Wahb berkata: Aku mendengar Malik berkata, ketika suatu hari menyebut Marwan, bahwa Marwan berkata: “Aku telah membaca Kitab Allah selama empat puluh tahun, lalu aku mendapati diriku berada dalam kondisi seperti ini, yaitu penumpahan darah dan urusan kekuasaan ini.”

Isma‘il bin ‘Ayyasy meriwayatkan dari Shafwan bin ‘Amr, dari Syuraih bin ‘Ubaid dan selainnya, bahwa Marwan apabila menyebut Islam ia berkata dalam syair:

Dengan nikmat Rabbku, bukan karena apa yang dilakukan tanganku,

Bukan pula karena kebebasanku dari kesalahan,

Sungguh aku dahulu adalah orang yang bersalah.

Al-Laits meriwayatkan dari Yazid bin Abi Habib, dari Salim Abu an-Nadhr, bahwa ia berkata: Marwan menghadiri sebuah jenazah. Setelah menyalatinya, ia pun pergi. Abu Hurairah berkata: “Ia mendapatkan satu qirath dan kehilangan satu qirath.” Hal itu diberitahukan kepada Marwan, maka ia segera berlari hingga lututnya terlihat, lalu ia duduk hingga diizinkan kembali.

Al-Mada’ini meriwayatkan dari Ibrahim bin Muhammad, dari Ja‘far bin Muhammad, bahwa Marwan pernah meminjamkan kepada ‘Ali bin al-Husain enam ribu dinar ketika ia kembali ke Madinah setelah ayahnya terbunuh. Ketika menjelang wafat, Marwan berwasiat kepada putranya ‘Abd al-Malik agar tidak menagih kembali sedikit pun dari ‘Ali bin al-Husain. Maka ‘Abd al-Malik mengirimkan pesan itu kepadanya. ‘Ali bin al-Husain awalnya menolak menerimanya, namun setelah terus didesak, ia pun menerimanya.

Al-Syafi‘i berkata: Hatim bin Isma‘il mengabarkan kepada kami, dari Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, bahwa al-Hasan dan al-Husain biasa salat di belakang Marwan, dan mereka tidak mengulanginya, serta menganggap salat tersebut sah.

‘Abd al-Razzaq meriwayatkan dari al-Tsauri, dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Shihab, bahwa ia berkata: Orang pertama yang mendahulukan khutbah sebelum salat pada hari raya adalah Marwan. Seorang laki-laki berkata kepadanya: “Engkau telah menyelisihi sunnah.” Marwan menjawab: “Apa yang ada di sana telah ditinggalkan.” Abu Sa‘id berkata: “Orang ini telah menunaikan kewajibannya.” Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.”

Mereka berkata: Ketika Marwan menjadi wakil di Madinah, apabila terjadi persoalan sulit, ia mengumpulkan para sahabat yang ada di sekitarnya dan meminta pendapat mereka. Ia juga yang mengumpulkan berbagai takaran sha‘, lalu mengambil yang paling adil, sehingga takaran itu dinisbatkan kepadanya dan disebut “sha‘ Marwan”.

Az-Zubair bin Bakkar berkata: Ibrahim bin Hamzah menceritakan kepada kami, Ali bin Abi ‘Ali al-Lahabi menceritakan kepadaku, dari Isma‘il bin Abi Sa‘id al-Khudri, dari ayahnya, bahwa Abu Hurairah keluar dari sisi Marwan lalu bertemu dengan sekelompok orang yang baru keluar darinya. Mereka berkata: “Baru saja Marwan menjadikan kami saksi atas pembebasan seratus budak yang ia merdekakan saat itu juga.” Abu Hurairah mencubit tanganku dan berkata: “Wahai Abu Sa‘id, satu harta yang diperoleh dengan cara baik lebih baik daripada seratus budak.” Az-Zubair berkata: “Maksudnya: satu.”

Imam Ahmad meriwayatkan: Utsman bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, Jarir meriwayatkan dari al-A‘masy, dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa‘id, bahwa Rasulullah bersabda: “Apabila Bani Abi Fulan telah mencapai tiga puluh orang, mereka menjadikan harta Allah sebagai alat perputaran, agama Allah sebagai sarana, dan hamba-hamba Allah sebagai pelayan.”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Ya‘la dari Zakariyya bin Yahya Zahamwaih, dari Shalih bin ‘Umar, dari Mutharrif, dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa‘id dengan lafaz: “Apabila Bani al-Hakam telah mencapai tiga puluh orang, mereka menjadikan agama Allah sebagai sarana, hamba-hamba Allah sebagai pelayan, dan harta Allah sebagai alat perputaran.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Ahmad bin ‘Abd al-Wahhab, dari Abu al-Mughirah, dari Abu Bakr bin Abi Maryam, dari Rasyid bin Sa‘d, dari Abu Dzar bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda: “Apabila Bani Umayyah telah mencapai empat puluh orang …” lalu ia menyebutkannya. Riwayat ini terputus. Diriwayatkan pula oleh al-‘Ala’ bin ‘Abd ar-Rahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah sebagai perkataan Abu Hurairah: “Apabila Bani Abi al-‘Ash telah mencapai tiga puluh orang …” lalu ia menyebutkannya.

Riwayat ini dibawakan oleh al-Baihaqi dan selainnya, melalui hadis Ibnu Lahi‘ah, dari Abu Qabil, dari Ibnu Mauhib, dari Mu‘awiyah dan Abdullah bin Abbas, dari Rasulullah Muhammad bin Abdullah, bahwa beliau bersabda:

“Apabila keturunan al-Hakam telah mencapai tiga puluh orang, mereka akan menjadikan harta Allah sebagai harta yang diputar di antara mereka, hamba-hamba Allah sebagai budak, dan Kitab Allah sebagai alat tipu daya. Jika jumlah mereka mencapai empat ratus sembilan puluh enam orang, maka kebinasaan mereka akan lebih cepat daripada mengunyah sebutir kurma.”

Dan bahwa Rasulullah Muhammad bin Abdullah menyebutkan Abdul Malik bin Marwan lalu bersabda:

“Ia adalah bapak dari empat orang penguasa zalim.”

Seluruh jalur periwayatan ini adalah lemah.

Abu Ya‘la dan selainnya meriwayatkan dari berbagai jalur, dari al-‘Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Muhammad bin Abdullah melihat dalam mimpi bahwa Bani al-Hakam meloncat-loncat dan naik ke atas mimbar beliau. Maka beliau bangun dalam keadaan marah dan bersabda:

“Aku melihat Bani al-Hakam meloncat-loncat di atas mimbarku seperti lompatan kera.”

Sejak saat itu, Rasulullah Muhammad bin Abdullah tidak pernah terlihat tertawa lepas sampai beliau wafat.

Riwayat ini juga diriwayatkan oleh ats-Tsauri, dari Ali bin Zaid, dari Sa‘id bin al-Musayyib secara mursal, dan di dalamnya disebutkan:

“Lalu diwahyukan kepadanya: Sesungguhnya itu hanyalah dunia yang diberikan kepada mereka.”

Maka menjadi tenanglah hati beliau.

Itulah makna firman Allah:

“Dan tidaklah Kami menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia.”

(Surah al-Isra, ayat 60)

Maksudnya adalah sebagai cobaan bagi manusia. Riwayat ini bersifat mursal dan sanadnya hingga Sa‘id adalah lemah.

Telah banyak diriwayatkan dalam makna ini hadis-hadis yang palsu, oleh karena itu kami berpaling dari menyebutkannya karena tidak sahih.

Ayah Marwan, yaitu al-Hakam, termasuk musuh terbesar Nabi Muhammad bin Abdullah. Ia baru masuk Islam pada hari penaklukan Makkah. Setelah itu ia datang ke Madinah, lalu Nabi Muhammad bin Abdullah mengusirnya ke Thaif. Ia wafat di sana.

Marwan merupakan salah satu sebab terbesar terjadinya pengepungan terhadap Utsman bin Affan, karena ia memalsukan sebuah surat atas nama Utsman kepada Mesir yang berisi perintah membunuh rombongan tersebut. Ketika ia menjabat sebagai gubernur Madinah atas nama Mu‘awiyah bin Abi Sufyan, ia mencaci Ali bin Abi Thalib setiap hari Jumat di atas mimbar.

Al-Hasan bin Ali berkata kepadanya: “Sungguh Allah telah melaknat ayahmu al-Hakam sementara engkau masih berada di sulbinya, melalui lisan Nabi-Nya.” Maka Marwan berkata: “Allah melaknat al-Hakam dan siapa saja yang ia lahirkan.”

Dan Allah Maha Mengetahui.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa ketika Hassan bin Malik bin Bahdal datang kepada Marwan di wilayah al-Jabiyah, Marwan senang dengan kedatangannya, lalu Hassan membaiatnya. Penduduk Yordania juga membaiat Marwan dengan kesepakatan bahwa jika urusan kekuasaan telah stabil, Marwan akan menyerahkan kekuasaan kepada Khalid bin Yazid, sementara Marwan memegang wilayah Hims dan Amr bin Sa‘id memegang wilayah Damaskus.

Baiat kepada Marwan terjadi pada hari Senin, pertengahan bulan Dzulqa‘dah tahun enam puluh empat Hijriah. Hal ini disebutkan oleh al-Laits bin Sa‘ad dan selainnya.

Al-Laits berkata: Perang Marj Rahith terjadi pada bulan Dzulhijjah di tahun yang sama, dua hari setelah Idul Adha.

Mereka menyebutkan bahwa ad-Dhahhak bin Qais dikalahkan, dan kekuasaan atas Syam dan Mesir pun menjadi mantap bagi Marwan. Setelah kekuasaannya stabil di negeri-negeri tersebut, ia membaiat setelah dirinya putranya Abdul Malik, lalu setelahnya membaiat putranya Abdul Aziz, ayah dari Umar bin Abdul Aziz.

Ia tidak memberikan baiat kepada Khalid bin Yazid bin Mu‘awiyah karena ia tidak memandangnya layak menjadi khalifah. Hassan bin Malik pun sepakat dengannya, meskipun ia adalah paman Khalid bin Yazid. Hassan-lah yang memikul tanggung jawab baiat untuk Abdul Malik.

Kemudian ibu Khalid merencanakan pembunuhan terhadap Marwan dengan meracuninya. Dikatakan pula bahwa ia meletakkan bantal di wajah Marwan ketika ia sedang tidur hingga ia mati tercekik. Setelah itu ia berteriak bersama para pelayannya: “Amirul Mukminin wafat secara mendadak.”

Maka setelahnya, putranya Abdul Malik bin Marwan mengambil alih kekhalifahan, sebagaimana akan kami sebutkan.

Abdullah bin Abi Madz‘ur berkata: Sebagian ahli ilmu menceritakan kepadaku bahwa ucapan terakhir Marwan adalah: “Surga telah pasti bagi orang yang takut kepada neraka.”

Ukiran pada cincin Marwan berbunyi: “Kemuliaan hanyalah milik Allah.”

Al-Ashma‘i berkata: ‘Adi bin Abi ‘Umarah meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, dari Harb bin Ziyad, ia berkata: Ukiran cincin Marwan bin al-Hakam adalah: “Aku beriman kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.”

Marwan wafat di Damaskus pada usia enam puluh satu tahun, dan ada yang mengatakan enam puluh tiga tahun.

Abu Ma‘syar dan selainnya berkata: Usianya saat wafat adalah delapan puluh satu tahun.

Khalifah berkata: al-Walid bin Hisyam meriwayatkan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Marwan wafat di Damaskus, tiga hari tersisa dari bulan Ramadan tahun enam puluh lima Hijriah. Usianya enam puluh tiga tahun. Yang menyalatkannya adalah putranya Abdul Malik. Masa kekuasaannya berlangsung sembilan bulan dan delapan belas hari. Ada pula yang mengatakan sepuluh bulan.

Ibnu Abi ad-Dunya dan selainnya berkata: Marwan bertubuh pendek, berwajah kemerahan, pundaknya terangkat, lehernya kecil, kepalanya besar, dan jenggotnya lebat. Ia dijuluki “Benang Kebatilan”.

Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir menyebutkan bahwa Sa‘id bin Katsir bin ‘Ufair berkata: Marwan wafat ketika pulang dari Mesir di daerah as-Shunbarah, dan ada yang mengatakan di suatu negeri. Dikatakan pula bahwa ia wafat di Damaskus dan dimakamkan di antara Bab al-Jabiyah dan Bab ash-Shaghir.

Kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan

Abdul Malik telah dibaiat sebagai khalifah ketika ayahnya masih hidup. Ketika ayahnya wafat pada tanggal tiga Ramadan tahun enam puluh lima Hijriah, baiat kepadanya diperbarui di Damaskus, Mesir, dan wilayah-wilayahnya. Maka kekuasaannya menjadi mantap sebagaimana kekuasaan ayahnya sebelumnya.

Sebelum wafat, ayahnya telah mengirim dua pasukan. Pasukan pertama dipimpin oleh Ubaidullah bin Ziyad menuju Irak untuk merebutnya dari para wakil Abdullah bin az-Zubair. Di tengah perjalanan, pasukan ini bertemu dengan pasukan at-Tawwabin yang dipimpin oleh Sulaiman bin Shurad di ‘Ain al-Wardah. Terjadilah peristiwa sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, yaitu pasukan Ubaidullah mengalahkan mereka dan membunuh pemimpin mereka serta sebagian besar pasukannya.

Pasukan kedua dipimpin oleh Hubaisy bin Daljah menuju Madinah untuk merebutnya dari wakil Ibnu az-Zubair. Ketika ia sampai di Madinah, wakilnya, Jabir bin al-Aswad bin ‘Auf, keponakan Abdurrahman bin ‘Auf, melarikan diri.

Ibnu az-Zubair lalu mengirim pasukan dari Bashrah di bawah pimpinan al-Harits bin Abdullah bin Abi Rabi‘ah untuk mengusir Hubaisy dari Madinah. Ketika Hubaisy mendengar hal itu, ia bergerak menuju mereka. Ibnu az-Zubair kemudian menunjuk Abbas bin Sahl bin Sa‘d sebagai gubernur Madinah dan memerintahkannya mengejar Hubaisy.

Mereka bertemu di ar-Rabdzah. Yazid bin Siyah memanah Hubaisy hingga tewas. Beberapa pengikutnya juga terbunuh, sisanya kalah dan melarikan diri. Sebanyak lima ratus orang dari mereka berlindung di Madinah, lalu menyerah kepada keputusan Abbas bin Sahl. Mereka kemudian dibunuh satu per satu. Setelah itu, pasukan kembali ke Syam.

Ibnu Jarir berkata: Ketika Yazid bin Siyah al-Aswari, pembunuh Hubaisy bin Daljah, memasuki Madinah bersama Abbas bin Sahl, ia mengenakan pakaian putih dan menunggang kuda berwarna abu-abu. Tidak lama kemudian, pakaian dan kudanya berubah menjadi hitam karena disentuh orang-orang dan karena banyaknya minyak wangi yang mereka tuangkan kepadanya.

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun ini, kekuatan kaum Khawarij di Bashrah semakin besar.

Pada tahun ini pula, Nafi‘ bin al-Azraq, pemimpin kaum Khawarij dan tokoh Bashrah, dibunuh oleh Muslim bin ‘Ubaid, ksatria Bashrah. Kemudian Muslim bin ‘Ubaid dibunuh oleh Rabi‘ah as-Sulaythi. Di antara keduanya terbunuh sekitar lima orang pemimpin. Dalam pertempuran melawan Khawarij, Qurrah bin Iyas al-Muzani Abu Mu‘awiyah terbunuh, dan ia termasuk sahabat Nabi Muhammad bin Abdullah.

Setelah Nafi‘ bin al-Azraq terbunuh, kepemimpinan Khawarij dipegang oleh Ubaidullah bin Mahuz. Ia membawa mereka menuju al-Mada’in dan membunuh penduduknya. Mereka kemudian menguasai al-Ahwaz dan wilayah lainnya, memungut harta, dan mendapat bala bantuan dari Yamamah dan Bahrain.

Mereka lalu bergerak menuju Ashfahan, yang saat itu dipimpin oleh ‘Attab bin Warqa’ ar-Riyahi. Ia menghadapi mereka dan berhasil mengalahkan mereka. Setelah pemimpin Khawarij, Ibnu Mahuz, terbunuh sebagaimana akan disebutkan, mereka mengangkat Qathari bin al-Fuja’ah sebagai pemimpin mereka.

Ibnu Jarir kemudian menyebutkan kisah peperangan mereka dengan penduduk Bashrah di suatu tempat bernama Dulab. Kemenangan saat itu berada di pihak Khawarij, sehingga penduduk Bashrah khawatir mereka akan masuk ke kota.

Ibnu az-Zubair lalu mencopot gubernur Bashrah, Abdullah bin al-Harits yang dikenal dengan julukan Babah, dan menggantinya dengan al-Harits bin Abdullah bin Abi Rabi‘ah yang dikenal dengan julukan al-Qabba‘. Ibnu az-Zubair juga mengutus al-Muhallab bin Abi Shufrah al-Azdi sebagai gubernur Khurasan.

Ketika al-Muhallab tiba di Bashrah, penduduk berkata kepadanya: “Tidak ada yang pantas memerangi Khawarij selain engkau.” Ia menjawab: “Amirul Mukminin telah menugaskanku ke Khurasan, dan aku tidak akan menyalahi perintahnya.”

Akhirnya penduduk Bashrah bersepakat dengan gubernur mereka untuk menulis surat seolah-olah dari Ibnu az-Zubair kepada al-Muhallab, yang berisi perintah agar ia bergerak memerangi Khawarij demi mencegah mereka memasuki Bashrah. Ketika surat itu dibacakan kepadanya, al-Muhallab mensyaratkan agar penduduk Bashrah memperkuat pasukannya dari baitul mal mereka, dan bahwa harta yang ia rampas dari Khawarij menjadi miliknya. Mereka menyetujui hal itu.

Dikatakan bahwa mereka menuliskan kesepakatan itu kepada Ibnu az-Zubair, lalu ia mengesahkannya dan membolehkannya.

Maka al-Muhallab pun bergerak menuju mereka. Ia adalah seorang pemberani, pahlawan tangguh, dan ksatria yang kokoh. Ketika ia berhadapan dengan kaum Khawarij, mereka maju menyerangnya dengan perlengkapan perang yang belum pernah terlihat bandingannya, berupa baju zirah, rantai besi, kuda, dan senjata. Hal itu karena mereka telah lama menguasai daerah-daerah tersebut. Mereka telah memiliki daya tahan yang besar, disertai keberanian yang tak tertandingi, keberanian maju yang tak terlawani, kekuatan yang tak terkalahkan, dan kecepatan menerobos ke tengah kancah peperangan yang tak dapat disaingi.

Ketika kedua pasukan saling berhadapan di suatu tempat bernama Sala dan Salabari, terjadilah pertempuran yang sangat sengit. Masing-masing pihak menunjukkan keteguhan dan kesabaran yang luar biasa. Pasukan al-Muhallab berjumlah sekitar tiga puluh ribu orang.

Kemudian kaum Khawarij melakukan serangan dahsyat yang mengerikan, sehingga pasukan al-Muhallab porak-poranda. Mereka lari tunggang-langgang tanpa menoleh, orang tua tidak menunggu anaknya, dan satu sama lain tidak saling memperhatikan, hingga mereka kembali melarikan diri ke Bashrah.

Adapun al-Muhallab, ia mendahului orang-orang yang lari tersebut, lalu berhenti di tempat yang tinggi. Ia pun berseru: “Kemarilah wahai hamba-hamba Allah.” Maka berkumpullah di sekelilingnya tiga ribu pasukan berkuda yang pemberani dari tentaranya. Ia berdiri di hadapan mereka sebagai orator dan berkhutbah:

“Amma ba‘du. Wahai manusia, sesungguhnya Allah terkadang menyerahkan pasukan yang besar kepada diri mereka sendiri sehingga mereka kalah, dan Dia menurunkan kemenangan kepada pasukan yang sedikit sehingga mereka menang. Demi Allah, kalian sekarang ini bukanlah pasukan yang sedikit. Kalian adalah para penunggang kuda penduduk kota ini dan para pembela kemenangan. Aku tidak menginginkan seorang pun dari mereka yang melarikan diri bersama kalian tadi. Seandainya mereka tetap bersama kalian, niscaya mereka tidak menambah apa-apa kecuali kelemahan.”

Kemudian ia berkata: “Aku mewajibkan setiap orang dari kalian agar membawa sepuluh buah batu bersamanya, lalu berjalanlah bersamaku menuju perkemahan mereka. Sesungguhnya mereka sekarang merasa aman, dan kuda-kuda mereka telah keluar mengejar saudara-saudara kalian. Demi Allah, aku berharap kuda-kuda mereka tidak kembali kepada mereka sebelum kalian menguasai perkemahan mereka dan membunuh pemimpin mereka.”

Maka orang-orang pun melaksanakan perintah tersebut. Al-Muhallab bin Abi Shufrah maju bersama mereka menyerbu perkemahan kaum Khawarij. Ia membunuh dari mereka sejumlah besar, sekitar tujuh ribu orang. Ubaidullah bin Mahuz terbunuh bersama sejumlah besar kaum Azariqah. Al-Muhallab juga berhasil merampas harta mereka dalam jumlah besar.

Al-Muhallab telah menyiapkan pasukan berkuda di antara dirinya dan orang-orang Khawarij yang kembali dari pengejaran penduduk Bashrah. Pasukan berkuda itu memotong jalan mereka dan menghalangi mereka untuk bergabung kembali dengan kaumnya. Maka kaum Khawarij pun kalah dan melarikan diri menuju Kirman dan wilayah Ashfahan.

Al-Muhallab menetap di al-Ahwaz hingga Mush‘ab bin az-Zubair datang ke Bashrah dan mencopot al-Harits bin Abdullah bin Abi Rabi‘ah dari jabatannya, sebagaimana akan disebutkan tidak lama lagi.

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun ini, sebelum wafatnya, Marwan bin al-Hakam mengutus putranya, Muhammad, ke wilayah al-Jazirah. Hal itu terjadi sebelum perjalanannya ke Mesir.

Aku berkata: Muhammad bin Marwan ini adalah ayah dari Marwan al-Himar, yaitu Marwan bin Muhammad bin Marwan, khalifah terakhir dari Bani Umayyah. Dari tangannyalah kekuasaan direbut oleh Bani Abbasiyah, sebagaimana akan disebutkan.

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun ini, Ibnu az-Zubair mencopot saudaranya, Ubaidah, dari jabatan gubernur Madinah, dan menyerahkannya kepada saudaranya, Mush‘ab. Sebabnya, Ubaidah berkhutbah di hadapan manusia dan berkata dalam khutbahnya: “Kalian telah melihat apa yang Allah lakukan terhadap kaum Nabi Shalih karena seekor unta yang nilainya lima ratus dirham.”

Ketika perkataan itu sampai kepada saudaranya, ia berkata: “Ini benar-benar sikap berlebih-lebihan,” lalu ia mencopotnya dari jabatan. Maka Ubaidah pun dijuluki “Penaksir Harga Unta”.

Ibnu Jarir berkata: Pada akhir tahun ini, Ibnu az-Zubair mencopot Abdullah bin Yazid al-Khatmi dari jabatan gubernur Kufah, dan mengangkat Abdullah bin Muthi‘ sebagai gantinya. Abdullah bin Muthi‘ adalah orang yang dahulu menjadi pemimpin kaum Muhajirin pada peristiwa al-Harrah, ketika mereka menurunkan kekuasaan Yazid.

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun ini terjadi wabah tha‘un yang dahsyat di Bashrah.

Ibnu al-Jauzi berkata dalam kitab al-Muntazham: Peristiwa ini terjadi pada tahun enam puluh empat Hijriah, dan ada yang mengatakan pada tahun enam puluh sembilan Hijriah. Pendapat inilah yang masyhur sebagaimana disebutkan oleh guru kami adz-Dzahabi dan selainnya. Wabah ini paling parah terjadi di Bashrah dan berlangsung selama tiga hari.

Pada hari pertama, dari penduduk Bashrah meninggal dunia tujuh puluh ribu orang. Pada hari kedua, tujuh puluh satu ribu orang. Pada hari ketiga, tujuh puluh tiga ribu orang. Pada hari keempat, manusia bangun dalam keadaan hampir seluruhnya telah mati, kecuali segelintir orang saja. Bahkan disebutkan bahwa ibu gubernur Bashrah pun meninggal dunia, dan tidak didapati seorang pun yang mau mengangkat jenazahnya, hingga akhirnya mereka menyewa empat orang untuk membawanya.

Al-Hafizh Abu Nu‘aim al-Ashbahani berkata: Ubaidullah meriwayatkan kepada kami, Ahmad bin ‘Isham meriwayatkan kepadaku, Ma‘di meriwayatkan kepadaku, dari seorang lelaki yang dipanggil Abu an-Nufail, dan ia telah mengalami masa wabah tha‘un tersebut. Ia berkata: “Kami berkeliling dari satu kabilah ke kabilah lain untuk menguburkan orang-orang mati. Ketika jumlah mereka semakin banyak, kami tidak sanggup lagi menguburkan mereka. Maka kami masuk ke dalam sebuah rumah, jika seluruh penghuninya telah meninggal, kami menutup pintunya.”

Ia berkata: “Kami pernah masuk ke sebuah rumah dan memeriksanya, tidak kami dapati seorang pun yang masih hidup. Maka kami menutup pintunya. Setelah wabah itu berlalu, kami kembali berkeliling membuka pintu-pintu yang dahulu kami tutup. Ketika kami membuka pintu rumah yang dahulu telah kami periksa, ternyata kami mendapati seorang anak kecil di tengah rumah, masih segar dan berminyak tubuhnya, seakan-akan baru saja dipangku dari pangkuan ibunya dua jam sebelumnya.”

Ia berkata: “Ketika kami berdiri memperhatikan anak itu dengan penuh keheranan, seekor anjing betina masuk melalui celah dinding. Anjing itu mendekati anak tersebut, dan anak itu pun merangkak ke arahnya lalu menyusu dari susunya.”

Ma‘di berkata: “Aku sendiri melihat anak tersebut di Masjid Bashrah, dan saat itu ia telah memegang janggutnya.”

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun ini, Abdullah bin az-Zubair membangun Ka‘bah, Baitullah al-Haram, maksudnya menyempurnakan pembangunannya. Ia memasukkan al-Hijr ke dalam bangunan Ka‘bah dan menjadikannya memiliki dua pintu, satu untuk masuk dan satu untuk keluar.

Ibnu Jarir berkata: Ishaq bin Abi Isra’il meriwayatkan kepada kami, Abdul Aziz bin Khalid bin Rustum ash-Shan‘ani Abu Muhammad meriwayatkan kepadaku, Ziyad bin Jil meriwayatkan bahwa ia berada di Makkah pada masa Ibnu az-Zubair berkuasa. Ia mendengarnya berkata: “Ibuku, Asma’ binti Abu Bakar, menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Muhammad bin Abdullah berkata kepada Aisyah binti Abu Bakar:

‘Seandainya bukan karena kaummu baru saja keluar dari kekafiran, niscaya aku akan mengembalikan Ka‘bah ke atas fondasi Ibrahim, dan aku akan memasukkan al-Hijr ke dalam Ka‘bah.’”

Ia berkata: Maka Ibnu az-Zubair memerintahkan agar fondasi digali. Mereka menemukan batu-batu besar seperti unta. Ketika mereka menggerakkan salah satu batu, tampak kilatan cahaya. Maka ia berkata: “Biarkanlah batu itu di atas fondasinya.” Lalu Ibnu az-Zubair membangunnya kembali dan menjadikannya memiliki dua pintu, satu untuk masuk dan satu untuk keluar.

Aku berkata: Hadis ini memiliki banyak jalur periwayatan dari Aisyah binti Abu Bakar dalam kitab-kitab sahih, hasan, dan musnad. Pembahasan tentang jalur-jalur hadis ini akan disampaikan dalam kitab al-Ahkam, insya Allah.

Ibnu Jarir juga menyebutkan pada tahun ini peperangan yang terjadi antara Abdullah bin Khazim di Khurasan dengan al-Huraish bin Hilal al-Qurai‘i, yang rinciannya panjang untuk disebutkan.

Ia berkata: Pada tahun ini, yang memimpin ibadah haji kaum muslimin adalah Abdullah bin az-Zubair. Gubernur Madinah saat itu adalah Mush‘ab bin az-Zubair, gubernur Kufah adalah Abdullah bin Muthi‘, dan gubernur Bashrah adalah al-Harits bin Abdullah bin Abi Rabi‘ah al-Makhzumi.

۞۞۞۞۞

Facebook Comments Box

Penulis : Imaduddin, Abu Al-Fida', Isma'il bin Umar bin Katsir Al-Quraisyi Ad-Dimasyqi (701 - 774 H)

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 0 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB