Brain Rot di Era AI dan Ancaman Pudarnya Daya Pikir Manusia

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kecerdasan buatan (AI) tumbuh dengan kecepatan yang sulit dibayangkan satu dekade lalu. Teknologi yang sebelumnya hanya hidup di laboratorium penelitian, kini hadir di gawai yang kita pegang setiap hari. Hanya dengan satu perintah sederhana, mesin dapat membuatkan ringkasan buku, menilai argumentasi, bahkan menuliskan puisi dengan kefasihan yang menyaingi manusia. Kita memasuki era baru yang penuh kemudahan. Namun, bersamaan dengan itu, sebuah ancaman senyap juga ikut merayap : brain rot yaitu fenomena merosotnya daya pikir akibat ketergantungan berlebihan pada AI.

Brain rot bukan sekadar istilah gaul yang berseliweran di media sosial. Ia menggambarkan sebuah pola, ketika manusia terlalu sering menyerahkan proses bernalar kepada mesin, maka otak kehilangan latihan yang menjadi syarat tumbuhnya kecerdasan. Kita tidak lagi memproses informasi secara mendalam, tidak menyaring, tidak menguji. Kita hanya menerima hasil akhir yang diracik algoritma indah, rapi, efisien, namun sering tanpa konteks. Lama-kelamaan, kemampuan kita untuk berpikir jernih pun memudar.

Fenomena ini paling mudah ditemukan di ruang-ruang belajar. Banyak mahasiswa kini mengerjakan esai dalam hitungan menit, bukan karena kecerdasannya meningkat drastis, melainkan karena AI telah mengerjakan sebagian besar proses itu. Ada murid yang meminta penjelasan matematika dari mesin tanpa pernah mencoba memahami konsepnya. Guru pun kadang tergoda menyiapkan materi ajar secara otomatis, tanpa melakukan kurasi yang memadai. Ruang kelas berubah menjadi arena distribusi jawaban, bukan pembentukan nalar.

Padahal pendidikan sejatinya adalah perjalanan panjang yang melibatkan proses mental bertanya, mempertanyakan, menguji, dan menemukan. Ketika proses itu dihapus demi efisiensi, kita sedang kehilangan inti dari belajar itu sendiri. Anak-anak menjadi konsumen informasi, bukan pengolah pengetahuan. Mereka mungkin terlihat “pintar” karena memiliki akses ke jawaban instan, tetapi kompetensi internal ketelitian, deduksi, kreativitas, kesabaran dalam memecahkan masalah tidak ikut tumbuh.

Bahaya brain rot juga menjangkiti dunia profesional. Pekerja di berbagai sektor kini bergantung pada AI untuk menyusun laporan, merancang strategi pemasaran, atau menganalisis data tanpa memahami fondasi analitis di baliknya. Ketika hasil AI salah, banyak yang tidak mampu mendeteksi kekeliruan itu. Keahlian manusia yang dulu menjadi pembeda pengambilan keputusan, intuisi berbasis pengalaman, kecermatan membaca situasi perlahan terkikis.

Ketergantungan ini berpotensi menciptakan ironi baru, semakin canggih teknologi yang kita miliki, semakin dangkal kemampuan kita menggunakannya secara kritis. Pada titik tertentu, masyarakat bisa menjadi “cerdas semu”, terlihat produktif dari luar, tetapi rapuh secara intelektual. Dan bila hal ini terjadi dalam skala besar, ia bukan lagi persoalan individu, melainkan problem peradaban.

Namun, tentu tidak adil menyalahkan AI sepenuhnya. Teknologi hanyalah alat, manusialah yang menentukan bagaimana ia digunakan. AI dapat menjadi pendamping hebat dalam proses belajar dan bekerja jika digunakan dengan pendekatan yang tepat. Ia dapat memperkaya perspektif, mempercepat pekerjaan administratif, atau membantu memahami konsep rumit. Namun, ketika AI dijadikan substitusi atas kerja intelektual manusia, bukan sebagai alat bantu, di situlah bahaya brain rot mengintai.

Karena itu, problem terbesar sebenarnya bukan pada kecanggihan AI, melainkan pada kedewasaan digital kita. Kita membutuhkan literasi baru, literasi yang tidak hanya berfokus pada kemampuan menggunakan AI, tetapi juga kemampuan untuk mengetahui kapan tidak menggunakannya. Di tengah kemudahan yang nyaris tanpa batas, kebijaksanaan justru terletak pada kemampuan menahan diri. Kita harus belajar berkata “Biarkan saya berpikir sendiri dulu.”

Di sekolah dan kampus, perlu ada pembiasaan baru. Mahasiswa harus diajak mengembangkan argumen orisinal, bukan sekadar mengutip rekomendasi mesin. Guru perlu mendorong murid untuk bertanya, bukan sekadar menyalin jawaban. Pendidikan harus kembali pada prinsip dasarnya yaitu membentuk manusia yang mampu berpikir mandiri, bukan hanya pandai mengoperasikan perangkat pintar.

Di lingkungan profesional, organisasi perlu menanamkan etika penggunaan AI. Keahlian manusia tetap harus menjadi pusat keputusan. Evaluasi, verifikasi, dan kontrol kualitas tidak boleh sepenuhnya dialihkan kepada algoritma. Sebab, bagaimanapun cerdasnya mesin, ia tidak memiliki konteks sosial, pengalaman emosional, atau intuisi moral yang dimiliki manusia.

Sementara itu, di tingkat masyarakat, kita perlu membangun budaya yang menghargai proses, bukan hanya hasil akhir. Menggunakan AI memang memudahkan hidup, tetapi memikirkan sesuatu secara mendalam memberi kita sesuatu yang lebih berharga yaitu kekuatan intelektual yang tidak tergantikan.

Brain rot adalah sinyal peringatan bahwa kemajuan teknologi harus diiringi dengan kematangan berpikir. Masa depan bukan hanya milik mereka yang memiliki alat tercanggih, tetapi milik mereka yang mampu memadukan daya pikir manusia dengan kecanggihan teknologi secara seimbang. Kita harus memastikan bahwa di tengah derasnya inovasi, manusia tidak kehilangan kemampuan paling mendasarnya yaitu berpikir.

Jika kita gagal menjaga kemampuan itu, maka risiko terbesar bukanlah AI yang menguasai manusia, tetapi manusia yang berhenti menguasai pikirannya sendiri. Dengan kesadaran itulah, kita perlu melangkah. Bukan menolak teknologi, tetapi merawat nalar. Bukan memusuhi mesin, tetapi memastikan manusia tetap menjadi pusat dari kemajuan itu.

Facebook Comments Box

Penulis : Eko Budi Prasetyo

Artikel Terjkait

Mencari Arah Baru Pendidikan Islam
Pelajaran Pendidikan dari Kehidupan Para Sahabat Jilid 1
Psikologi di Pesantren: Menghindari Retorika Hitam-Putih
Ketika Lulusan Pesantren Menjauh, dan yang Bukan Santri Justru Mendekat
Adab Dalam Penelitian dan Perdebatan
Titik Tolak Seorang Penuntut Ilmu
Guru Juga Butuh Liburan: Alasan Penting Guru Perlu Liburan Akhir Tahun
Adab Seorang Penuntut Ilmu
Berita ini 35 kali dibaca

Artikel Terjkait

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:25 WIB

Mencari Arah Baru Pendidikan Islam

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:01 WIB

Pelajaran Pendidikan dari Kehidupan Para Sahabat Jilid 1

Kamis, 8 Januari 2026 - 14:36 WIB

Psikologi di Pesantren: Menghindari Retorika Hitam-Putih

Kamis, 8 Januari 2026 - 13:59 WIB

Ketika Lulusan Pesantren Menjauh, dan yang Bukan Santri Justru Mendekat

Kamis, 8 Januari 2026 - 02:41 WIB

Brain Rot di Era AI dan Ancaman Pudarnya Daya Pikir Manusia

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB