PENDAHULUAN
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pohon rindang dari Al-Qur’an yang menaungi dengan bayangannya, yang buahnya dekat dijangkau dengan berbagai jenis dan rasa, adalah pohon yang berakar dalam dan menjulang tinggi. Bayangannya tak pernah hilang dan keindahannya tak pernah pudar. Ia memiliki naungan yang luas, air yang tercurah, dan buah-buahan yang melimpah—tidak pernah habis dan tidak terhalang. Karena itu, sebagaimana disebutkan dalam riwayat, keajaiban Al-Qur’an tidak akan pernah habis dan tidak akan usang meskipun sering dibaca berulang kali. Ini adalah ciri khas semua tema dalam Al-Qur’an, baik berupa kisah, hukum, maupun akidah.
Oleh sebab itu, tema-tema ini tidak akan pernah kikir terhadap para pencarinya, betapapun beragam latar belakang mereka. Ia tidak akan pelit kepada mereka, betapapun berbeda keinginan dan kebutuhan mereka.
Surat Yusuf memiliki karakteristik yang unik karena memuat kisah Yusuf secara utuh. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an selain kisah Yusuf, umumnya disampaikan dalam bentuk fragmen-fragmen atau episode yang sesuai dengan tema dan arah surat yang memuatnya. Bahkan kisah-kisah yang disampaikan secara penuh dalam satu surat, seperti kisah Hud, Saleh, Luth, dan Syuaib, disampaikan secara ringkas dan global. Sementara itu, kisah Yusuf disampaikan dengan lengkap dan panjang dalam satu surat. Ini merupakan ciri yang istimewa di antara seluruh surat lain dalam Al-Qur’an.
Ciri khas ini sejalan dengan karakter kisah tersebut dan memungkinkan penyampaian yang utuh, karena kisah ini dimulai dengan mimpi Yusuf dan berakhir dengan penafsirannya. Maka, tidaklah cocok jika kisah ini dipisah-pisah dalam beberapa surat.
Karakter khusus ini memungkinkan penyampaian kisah secara utuh dari semua sisi, di samping pencapaian tujuan utama dari penyampaian kisah ini serta pelajaran-pelajaran yang mengikutinya.
Kisah Yusuf, sebagaimana disampaikan dalam surat ini, merupakan contoh sempurna dari metode Islam dalam penyampaian seni kisah, sekaligus menjadi model sempurna dari pendekatan ini dalam aspek psikologis, akidah, pendidikan, dan gerakan (perilaku). Meskipun metode Al-Qur’an dalam tema dan penyampaiannya bersifat tunggal, kisah Yusuf tampak seperti pameran khusus yang memperlihatkan metode tersebut dari sisi artistik penyampaian.
۞ ۞ ۞ ۞
PERMULAAN
Pertama: Pengertian “Kisah” secara Bahasa dan Istilah
Kisah dalam Bahasa:
Kata kisah berasal dari kata qassashtu yang berarti mengikuti jejak sesuatu secara bertahap, satu per satu. Seperti dalam firman Allah yang berarti: “Dan ia berkata kepada saudari perempuannya: Ikutilah jejaknya.” (Al-Qashash ayat 11). Maksudnya adalah mengikuti jejak seseorang. Kata ini juga bisa dibaca dengan huruf sin (bukan shad), yaitu qassastu.
Kisah secara Istilah:
Kisah dalam pengertian seni dikenal sebagai: “Pemaparan sebuah gagasan yang melintas dalam benak penulis, atau pencatatan terhadap suatu gambaran yang memengaruhi imajinasinya, atau penjabaran terhadap suatu emosi yang bergolak dalam dadanya lalu ingin ia ungkapkan melalui kata-kata agar sampai ke benak para pembaca, dengan harapan pengaruhnya pada mereka serupa dengan pengaruhnya terhadap dirinya.”
Namun, jika kita melihat kisah dalam Al-Qur’an, maka definisi kisah seni seperti di atas tidak sepenuhnya cocok untuk diterapkan padanya. Hal ini karena:
Pertama: Kisah dalam Al-Qur’an bukanlah gagasan yang terlintas dalam benak Allah.
Kedua: Bukan pula pencatatan terhadap gambaran yang memengaruhi imajinasi-Nya.
Ketiga: Bukan penjabaran terhadap emosi yang ada dalam diri-Nya yang kemudian ingin diungkapkan dalam bentuk kata-kata agar berpengaruh pada diri pembaca sebagaimana pengaruhnya terhadap diri-Nya.
Kisah dalam Al-Qur’an bukanlah karya seni dalam hal tema, cara penyajian, maupun pengelolaan peristiwanya sebagaimana kisah seni bebas yang bertujuan menyampaikan maksud artistik semata. Akan tetapi, kisah Qur’ani merupakan salah satu sarana dari sekian banyak sarana Al-Qur’an dalam menyampaikan tujuan-tujuan keagamaannya. Sebab, Al-Qur’an adalah kitab dakwah agama di atas segalanya, dan kisah merupakan salah satu media penyampaian serta penguatan dakwah tersebut.
Kisah Qur’ani tunduk sepenuhnya terhadap tujuan-tujuan agama, baik dalam jalannya cerita, cara penyampaiannya, maupun dalam pengelolaan peristiwa-peristiwanya. Atau setidaknya, pengaruh dari tujuan keagamaan itu tampak nyata dalam ciri-ciri tertentu. Namun demikian, kepatuhan total terhadap tujuan agama dan keberhasilannya dalam mencapai tujuan tersebut tidak menghalangi munculnya ciri-ciri artistik dalam penyajiannya.
۞ ۞ ۞ ۞
Kedua: Kajian Sastra
Kata adab (sastra) berasal dari kata yang berarti “mengundang orang ke dalam jamuannya”. Dalam bentuk lain, adaba adaban berarti membuat sebuah jamuan. Seperti yang dikatakan oleh penyair Tarafah bin al-‘Abd:
“Kami di musim dingin mengundang orang ramai tanpa melihat sang tuan rumah pilih-pilih.”
Adab berarti melatih jiwa melalui pendidikan dan pembinaan menuju akhlak yang mulia. Sementara itu, adab yang indah mencakup puisi, syair, dan segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal pikiran.
Sayyid Quthb berkata: “Sastra adalah ungkapan tentang pengalaman puitis dalam bentuk yang menginspirasi.” Dalam kesempatan lain, ia mendefinisikannya sebagai: “Ungkapan yang menginspirasi tentang nilai-nilai hidup yang dirasakan oleh hati nurani seorang seniman.”
۞ ۞ ۞ ۞
Ketiga: Unsur-Unsur dalam Kisah Secara Umum
Meskipun tujuan utama kisah dalam Al-Qur’an adalah murni keagamaan, kita tetap dapat menemukan beberapa unsur yang menonjol yang lazim terdapat dalam sebagian besar kisah-kisah dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah unsur tokoh, dialog dan konflik, struktur cerita, serta unsur waktu dan tempat. Bila kita mencoba menganalisis masing-masing unsur ini, kita akan menemukan adanya variasi dalam penggambaran tiap-tiap unsur, bahkan bisa mencapai tingkat perbedaan yang sangat jauh.
Terdapat jalinan erat antara pengantar cerita dan bagian penutup atau kesimpulannya, terlihat dengan jelas bahwa pengantar dan penutupnya diturunkan bersamaan dengan cerita itu sendiri:
۞ ۞ ۞ ۞
Pertama: Tokoh
Jika kita melihat kisah dalam Al-Qur’an dengan perhatian yang mendalam, kita akan mendapati sejumlah besar tokoh, baik yang berasal dari alam gaib maupun dari dunia nyata, selain dari kehadiran ilahi yang tampak dalam dialog antara Allah dengan sebagian hamba-Nya.
Keberagaman tokoh dalam kisah Al-Qur’an yang mencakup dua dunia — dunia gaib dan dunia nyata — menjadikan kisah-kisah ini sebagai cerminan dari alam semesta secara keseluruhan, mencakup makhluk yang tersembunyi maupun yang tampak, yang beriman maupun yang kafir. Hal ini membuat orang yang membaca kisah tersebut merasa seakan-akan sedang mengamati seluruh cakrawala keberadaan alam.
Tokoh-tokoh tersebut bisa muncul dalam bentuk manusia biasa, bisa pula sebagai tokoh ideal, atau bahkan mencakup kedua sisi — manusiawi biasa dan sisi ideal — secara bersamaan.
Bagaimanapun bentuk tokohnya, secara alami tokoh inilah yang menggerakkan peristiwa, atau justru peristiwa yang menggerakkan tokoh-tokoh tersebut, atau keduanya berjalan seimbang. Maka, tokoh tidak mendominasi peristiwa, dan peristiwa pun tidak mendominasi tokoh — keduanya saling mendukung dan menyatu secara harmonis.
Melihat lebih jauh ke dalam tokoh-tokoh dalam kisah Al-Qur’an mengungkap sejumlah fenomena, di antaranya adanya variasi dalam penyebutan nama-nama tokoh. Sebagian nama disebutkan secara eksplisit, sementara sebagian lainnya tidak disebutkan. Terlihat bahwa nama-nama para nabi lebih banyak disebutkan dibandingkan dengan nama-nama tokoh utama dari kalangan orang kafir. Hal ini mungkin sebagai bentuk penghormatan terhadap golongan mulia yang telah memikul tanggung jawab dakwah kepada Allah.
Adapun tokoh-tokoh utama dari kalangan kafir yang disebutkan namanya, seperti Fir‘aun, Haman, dan Qarun, penyebutan mereka bertujuan untuk mengecam dan mengungkap kesombongan mereka hingga hari kiamat, agar mereka menjadi contoh keburukan, dan akhir kisah mereka menjadi pelajaran bagi yang lain.
Selain itu, penyebutan nama dalam kisah Al-Qur’an tidaklah bertujuan pada nama itu sendiri kecuali jika penyebutan itu membawa tambahan makna atau pelajaran, seperti penyebutan nama-nama kaum yang telah ditimpa azab, khususnya yang memiliki hubungan sejarah atau kedekatan wilayah dengan bangsa Arab, seperti kaum Madyan, Al-Hijr, dan penduduk negeri Nabi Luth.
Yang paling penting dalam penggambaran tokoh adalah sikap yang diambil oleh tokoh tersebut dan bagaimana akhir dari perjalanannya.
۞ ۞ ۞ ۞
Kedua: Dialog
Unsur lainnya adalah dialog. Dalam buku Al-Ta‘bir Al-Fanni fi Al-Qur’an (Ekspresi Artistik dalam Al-Qur’an), disebutkan bahwa dialog adalah: “penggerak peristiwa, pengungkap karakter tokoh, penyampai konflik, pengarah menuju tujuan, dan penampak makna.”
Dalam kisah-kisah Al-Qur’an, dialog hadir dalam berbagai bentuk. Bisa berupa dialog batin antara seseorang dengan pikirannya atau hatinya, seperti dalam kisah Nabi Ibrahim saat ia memandang bintang, bulan, dan matahari dalam pencariannya terhadap Tuhannya.
Dialog juga bisa terjadi antara dua tokoh, seperti percakapan antara Ibrahim dan ayahnya atau dengan kaumnya. Bisa juga antara tokoh dengan unsur lain seperti jin, burung, atau setan. Bahkan, bisa terjadi antara Sang Pencipta dan makhluk-Nya, atau antara nabi dan kaumnya, dan seterusnya.
Dialog bisa bersifat langsung ataupun tidak langsung. Dalam kisah-kisah Al-Qur’an, dialog berlangsung secara runtut dan berkesinambungan, tanpa meninggalkan hal penting yang perlu dibicarakan. Kadang dialog itu terputus-putus, menyisakan ruang kosong yang dimaksudkan agar pembaca atau pendengar mengisinya dengan daya pikirannya sendiri.
Ada beberapa catatan penting mengenai sifat dialog dalam kisah-kisah Al-Qur’an secara keseluruhan dan dalam berbagai bentuknya, yaitu bahwa dialog tersebut tidak terasa dibuat-buat atau dipaksakan. Ia mengalir secara alami dari para tokohnya, sehingga pembaca tidak merasakan kesan bahwa itu adalah hasil rekayasa atau paksaan.
Adapun gaya dialognya sendiri adalah gaya Al-Qur’an itu sendiri, yang bisa rendah dan sederhana di satu sisi, namun tinggi dan luhur di sisi lain, bergantung pada situasi, tokoh yang terlibat, serta konteks penyampaiannya. Ini berbeda dengan gaya penulis biasa dari kalangan manusia.
۞ ۞ ۞ ۞
Ketiga: Konflik
Konflik dalam kisah-kisah Al-Qur’an umumnya sejalan dengan makna umum dari kisah itu sendiri, yaitu petunjuk dan seruan kepada keimanan. Konflik itu merupakan pertarungan abadi antara unsur kebaikan dan keburukan, atau antara kebenaran dan kebatilan, atau antara kekufuran dan keimanan.
Bisa dikatakan bahwa konflik dalam kisah-kisah Al-Qur’an pada dasarnya memiliki inti yang sama — jika bukan dari sisi tampilan luarnya, maka dari segi tujuan dan sasaran akhirnya.
Dampak dari konflik dalam kisah-kisah Al-Qur’an terlihat jelas dalam kemampuannya mengaitkan peristiwa, tokoh-tokoh, dan dialog satu sama lain. Konflik itu menjadi kekuatan penggerak yang menyatukan semua unsur kisah dan mengarahkannya menuju tujuan yang telah ditentukan.
Ambil contoh kisah Nabi Yusuf yang sedang kita bahas ini. Di dalamnya terdapat berbagai bentuk konflik: antara perasaan Ya‘qub dan anak-anaknya, antara Yusuf dan istri Al-‘Aziz, serta antara Yusuf dan saudara-saudaranya setelah ia memegang kekuasaan di Mesir. Semua konflik ini memegang kendali kisah dari berbagai sisi, menjadi kekuatan utama yang mengarahkan jalannya cerita dan menghubungkan seluruh bagiannya. Meski demikian, konflik ini tidak keluar dari bentuk aslinya, yaitu pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kebatilan, serta keimanan dan kesesatan.
۞ ۞ ۞ ۞
Keempat: Waktu dan Tempat
Dalam kisah-kisah Al-Qur’an, kita tidak menemukan penentuan waktu secara historis terhadap kapan suatu peristiwa terjadi. Meskipun demikian, kita tetap dapat melihat adanya jenis waktu lain dalam kisah-kisah tersebut, yaitu waktu internal — yaitu durasi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya suatu peristiwa. Hal ini berkaitan erat dengan tujuan dari kisah tersebut dan titik pengambilan pelajarannya.
Dalam kisah Nabi Musa, disebutkan jumlah malam yang ia habiskan untuk memenuhi janji dengan Tuhannya, yakni tiga puluh malam yang kemudian disempurnakan menjadi empat puluh malam. Dalam jangka waktu inilah Musa meninggalkan kaumnya, dan pada saat itu pula Samiri berhasil membuat patung anak sapi yang kemudian menyesatkan Bani Israil.
Kadang kala, waktu tidak disebutkan secara eksplisit dalam bentuk hari atau tahun, melainkan melalui isyarat dalam bentuk kata kerja dan keterangan waktu yang menunjukkan kapan sesuatu terjadi. Misalnya dalam kisah para pemilik kebun, di mana mereka merencanakan untuk memetik hasil kebunnya di pagi hari. Kata “pagi hari” di situ memberikan gambaran tentang waktu ketika perencanaan itu dilakukan — yakni malam hari.
Ini berarti bahwa apa yang disebutkan tentang waktu atau yang menunjukkan kepadanya ikut membaur dengan peristiwa dan gagasan, sehingga menambah pengaruh cerita dengan apa yang disiratkan oleh waktu tersebut, baik berupa pendek atau panjangnya durasi, atau bahwa waktu yang disebutkan itu adalah tenggang yang diikuti oleh azab atau peristiwa penentu dalam cerita.
Dalam kisah Ashabul Kahfi, kita mendapati diri kita di hadapan sekelompok pemuda beriman yang melarikan diri demi agama mereka dari kaum mereka. Mereka berlindung ke dalam gua, dan kita tidak mengetahui sesuatu pun tentang waktu luar, dan konteks tidak menentukan kapan kisah mereka terjadi. Namun, waktu internal muncul di awal kisah: “Maka Kami tutup telinga mereka dalam gua itu beberapa tahun.” Penyebutan “beberapa tahun” secara tidak spesifik membiarkan ruang bagi imajinasi untuk memperkirakan atau merasa penasaran ingin mengetahui rincian setelah ringkasan yang menjadi pembuka kisah tersebut.
Kisah pun berlanjut dan menyebutkan apa yang terjadi antara para pemuda itu dan kaum mereka hingga mereka tertidur di dalam gua. Di sini, waktu tampak diperhitungkan, dan tampaklah perhatian ilahi terhadap mereka: “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri.” Maka terbit dan terbenamnya matahari terjadi berulang-ulang selama masa tidur para pemuda itu. Ketika mereka bangun, hal pertama yang mereka tanyakan adalah tentang waktu: “Berapa lama kalian tinggal (di sini)? Mereka menjawab: Kami tinggal sehari atau setengah hari.” Di sini kita melihat bahwa waktu bukanlah bingkai dari peristiwa, tetapi sarana kesadaran dalam usaha memahami apa yang terjadi pada mereka. Konteks di akhir kisah kemudian mengungkapkan jumlah tahun mereka tinggal di dalam gua: “Dan mereka tinggal dalam gua mereka selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.”
Dengan demikian, kita mendapati bahwa waktu internal muncul ketika ia berperan dalam menyoroti peristiwa, dan menghilang ketika tidak memiliki peran tersebut.
Dan karena itu, kerangka waktu dalam peristiwa cerita dalam Al-Qur’an berpengaruh dalam beberapa tahapan yang tidak perlu disebutkan atau dijabarkan secara rinci.
Dalam kisah Musa yang disebutkan dalam Surah Al-Qashash, kita dapati bahwa setelah ibunya meletakkannya di sungai, lalu ia diambil oleh keluarga Firaun dan dikembalikan (kepada ibunya), maka waktu berjalan meliputi tahap yang panjang yang tidak ada gunanya disebutkan dalam konteks cerita. Hal ini terlihat dalam firman Allah: “Dan ketika dia telah mencapai kedewasaannya dan menjadi matang, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” [Al-Qashash: 14]
Mencapai kedewasaan dan kematangan adalah isyarat bahwa ia telah mencapai usia dewasa atau kematangan sejati. Hal serupa juga berlaku untuk waktu yang ditentukan oleh Syaikh dari Madyan kepada Musa. Setelah keduanya sepakat atas hal itu, konteks cerita melewatkannya begitu saja dan berkata: “Maka ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang telah ditetapkan.” [Al-Qashash: 29]
Hal yang serupa juga terdapat dalam kisah Yusuf, yang akan dijelaskan secara rinci nanti, yaitu setelah ia menafsirkan mimpi dua rekannya di penjara dan ia meminta kepada salah satunya yang diyakini akan selamat agar menyebut namanya kepada tuannya. Namun rekannya itu melupakannya selama beberapa tahun yang dilewati oleh konteks cerita tanpa menceritakan keadaan Yusuf selama itu, sebagaimana firman Allah: “Maka ia (Yusuf) tinggal di penjara beberapa tahun.” [Yusuf: 42]
۞ ۞ ۞ ۞
KAJIAN SASTRA DALAM KISAH YUSUF
Pendahuluan
Dr. Shalih bin Husain Al-‘Ayyid berkata: “Sesungguhnya orang yang merenungkan Surah Yusuf, hatinya menangis sebelum matanya karena apa yang ada di dalamnya berupa cobaan dan ujian bagi Yusuf dan ayahnya Ya’qub—‘alaihimassalam—yang keduanya menanggungnya dari orang-orang terdekat mereka.”
Dan ia akan terkagum dengan gaya penyampaian kisahnya, yaitu gaya yang memukau penduduk Mekah, yang kala itu sangat menyukai cerita-cerita Romawi dan Persia. Saat itu An-Nadr bin Al-Harits menantang Rasul kita Muhammad ﷺ dan berkata kepada kaumnya, “Demi Allah, aku lebih pandai bercerita daripada Muhammad. Mari, akan kuceritakan pada kalian kisah yang lebih baik daripada yang ia sampaikan.” Maka Allah pun menurunkan kepada Rasul-Nya surah ini, yang mengandung gaya penyampaian paling tinggi, yang menggugah lubuk hati.
Karena, sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyid Quthb rahimahullah: “Ia adalah contoh sempurna dari metode Islam dalam seni penyampaian cerita; penyampaian yang jujur dan mempesona karena kedalaman kejujurannya dan realitasnya yang lurus. Sebuah metode yang tidak meninggalkan satu pun bisikan kemanusiaan yang nyata, dan dalam waktu yang sama tidak membawa kotoran yang mereka namakan realisme, seperti lumpur yang ditimbulkan oleh realisme jahiliah.”
Dan kita dapati bahwa kisah Yusuf—‘alaihis salam—meskipun diambil dari kehidupan sehari-hari dalam mengungkapkan hubungan sosial pada faktor-faktor kemajuan dan sebab-sebab kehancuran, pada akhirnya menggali nilai sejarah yang dibangun atas dasar kelangsungan hidup yang bergantung pada kebaikan dan ketakwaan.
Kesadaran terhadap kenyataan ini dan pemahaman menyeluruh atasnya tidak akan terwujud kecuali dengan menggunakan akal manusia dari awal hingga akhir. Maka, pembukaan surah ini menegaskan sisi tersebut: “Agar kalian berpikir.” Dan penutupnya pun menegaskan hal yang sama: “Maka apakah kalian tidak berpikir?”
Dengan demikian, cerita menjalankan fungsinya secara efektif, di mana ia memberikan kepada (kelalaian) sebuah peringatan yang cerdas dan tindakan yang sadar. Hal ini dapat dipahami dari perbandingan antara pembukaan:
“Dan sesungguhnya engkau sebelum ini benar-benar termasuk orang-orang yang lalai” dengan hasil akhirnya: “Pelajaran bagi orang-orang yang memiliki akal.”
Keterkaitan seperti ini antara hal-hal yang mendahului dan yang menyusul, atau antara pengantar dan hasil, menguatkan makna kisah yang bertujuan.
Sesungguhnya awal dan akhir surah ini saling bersesuaian, sebagaimana kesesuaian antara awal dan akhir dalam suatu cerita. Penutup-penutup yang datang di awal kisah, di akhir, maupun di sela-selanya, semuanya selaras dengan tema cerita, cara penyampaiannya, dan ungkapan-ungkapannya. Maka, tujuan keagamaan tercapai secara sempurna, dan ciri-ciri seni juga tercapai sepenuhnya, disertai dengan kejujuran kisah dan kesesuaiannya dengan kenyataan dalam hal isi.
۞ ۞ ۞ ۞
Pembahasan Pertama: Unsur-Unsur Artistik dalam Cerita
Keteraturan makna-makna indah dalam Al-Qur’an dan keserasian antaranya dalam bentuk-bentuk ungkapan yang lembut, hidup, dan lincah, menunjukkan dengan sangat jelas adanya hikmah Ilahi yang menakjubkan. Hal ini karena manusia, sebagai pihak yang diajak bicara oleh Al-Qur’an dan oleh segala bentuk ungkapan, secara fitrah tertarik kepada kelembutan, dan perasaannya bergembira dengan bentuk-bentuk keharmonisan dalam ungkapan, gambaran, dan irama, sebagaimana akalnya merasa nyaman dengan ketepatan, kebaruan, kekokohan, dan keserasian dalam desain gagasan serta isi.
Gaya penyampaian Al-Qur’an yang demikian ini mampu meyakinkan akal sebagaimana ia juga menyenangkan perasaan, menghaluskan emosi, menyampaikan hakikat-hakikat besar yang bersifat gaib, sekaligus menggambarkan realitas alam semesta dan kehidupan yang dapat dilihat dengan bahasa keindahan sastra yang menarik. Gaya ini juga membangun keyakinan intelektual dalam akal dan memenuhi akal dengan pengetahuan, di saat yang sama membangkitkan berbagai perasaan positif dalam jiwa, seperti kekaguman, kegembiraan, keheranan, harapan, cita-cita, keinginan, pengharapan, rasa takut, penyesalan, keindahan, pengakuan estetika, dan pesona. Semua ini dilakukan tanpa membiarkan keluasan pemikiran memadamkan kesuburan dan vitalitas perasaan, serta tanpa membiarkan perasaan lepas dari jaringan keyakinan iman, intelektual, dan moral yang bijak.
Gaya artistik Al-Qur’an yang kreatif ini perlu menjadi objek kajian yang mendalam dari para peneliti—dan inilah yang melatarbelakangi penelitian ini.
Kisah Nabi Yusuf `alayhis salam merupakan kisah yang bersifat artistik, yakni sebuah kisah yang menggambarkan satu peristiwa yang utuh dengan permulaan, tengah, dan akhir, di mana ketiga bagiannya saling terikat secara organik. Kisah ini juga memenuhi semua unsur yang dibutuhkan dalam kisah yang baik, seperti:
- Keberagaman tokoh,
- Rangkaian peristiwa yang berjalan alami,
- Dialog yang relevan dan bermakna,
- Alur yang mengalir dan lancar,
- Perwujudan makna secara konkret,
- Kekayaan makna yang penuh isyarat dan makna mendalam.
Dalam kisah ini juga terdapat semua unsur dan ciri artistik yang disebutkan oleh para kritikus sastra sebagai syarat dalam sebuah cerita, seperti: struktur naratif yang menyatu, gaya deskriptif yang baik, dan tidak berlarut-larut dalam penggambaran peristiwa yang membuat kisah keluar dari nuansa umumnya.
Dan unsur ketegangan (suspense) yang mendorong pembaca untuk terus mengikuti alur peristiwa dengan penuh antusias hingga akhir cerita.
Jika kita ingin menjelaskan unsur-unsur artistik ini dan dimensi-dimensinya, maka kita mulai terlebih dahulu dengan pembukaan atau pengantar cerita:
“Alif Lam Ra. Inilah ayat-ayat Kitab yang jelas. Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu mengerti. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling indah dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sungguh, sebelumnya engkau termasuk orang-orang yang lalai.” [Yusuf: 1–3]
Kita dapati bahwa kisah ini dibuka dengan tiga ayat tersebut untuk menegaskan tiga hal penting:
- Keunikan gaya bahasa Al-Qur’an,
- Perwujudan makna-maknanya dalam bentuk bahasa yang dapat dipahami dan meyakinkan akal,
- Pengumuman tentang kisah ini dengan gaya yang menggugah dan penuh antusias, karena ia adalah kisah terbaik, sekaligus merupakan kisah yang baru dari segi bentuk artistiknya ini.
Melalui pengantar dan pembukaan ini, kita dapat menemukan unsur-unsur ketegangan dalam cerita, yang terwujud dalam empat jenis ketegangan yang intensitasnya meningkat secara bertahap:
- Jenis pertama: Muncul dari dorongan naluri ingin tahu, dengan disebutkannya mimpi aneh yang dialami oleh Nabi Yusuf.
- Jenis kedua: Tercipta dari rasa takut terhadap nasib Nabi Yusuf ‘alayhis salam, yang merupakan tokoh utama dalam cerita ini, melalui peringatan yang diucapkan oleh sang ayah.
- Jenis ketiga: Hadir melalui penggambaran yang menakjubkan tentang persekongkolan untuk membunuh.
- Jenis keempat: Muncul karena dorongan emosi kasih sayang atau belas kasihan terhadap Nabi Yusuf sebagai tokoh utama dalam cerita.
Pertama: Tokoh-Tokoh
Tokoh utama dalam kisah ini (sang pahlawan) adalah Nabi Yusuf `alayhis salam. Cerita ini berfokus pada tokoh ini secara mendalam, sebab Yusuf adalah tokoh yang berkembang dan tidak dangkal; ketiga dimensinya tampak dengan sangat jelas.
- Dimensi luar (penampilan fisik) digambarkan oleh para perempuan kota yang melihatnya secara langsung dan terpesona oleh ketampanannya. Mereka berkata: “Maha Sempurna Allah! Ini bukanlah manusia. Ini hanyalah malaikat yang mulia!” [Yusuf: 31].
- Dimensi dalam (moral dan batin) tergambar melalui isyarat-isyarat dalam kisah yang menunjukkan sifat-sifat batin Yusuf, seperti kesucian dan kehormatan diri: “Kami tidak mengetahui sedikit pun kejahatan padanya.” Dan “Agar Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.”
- Dimensi sosialnya tergambar dari pandangan masyarakat terhadap dirinya dan penilaian terhadap keutamaannya, yang tampak dari gaya berbicara orang-orang kepadanya, terutama mereka yang pernah berinteraksi dengannya. Mereka berkata: “Yusuf, wahai orang yang benar.” Dan “Kami melihatmu termasuk orang-orang yang berbuat baik.”
Kejujuran dan kebaikan adalah ciri khas dalam akhlak sosialnya, begitu juga kemampuan menjaga amanah, ketelitian, pengetahuan, keahlian, serta wawasan dalam bidang pengelolaan ekonomi dan sosial, yang merupakan bagian dari keunggulannya, sebagaimana ia berkata: “Jadikanlah aku sebagai penjaga perbendaharaan negeri; sesungguhnya aku adalah orang yang menjaga lagi berpengetahuan.” - Sifat pemaaf dan lapang dada juga tampak dalam interaksinya dengan orang lain, seperti saat ia berkata kepada saudara-saudaranya:
“Tidak ada celaan atas kalian hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian. Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Sikap lembut dalam bertutur dan halus dalam perasaan juga tampak jelas dalam kesantunan bahasanya, ketika ia menyandarkan perbuatan buruk saudara-saudaranya semata-mata kepada godaan setan, tanpa secara langsung menyentuh hati mereka yang telah dengan sukarela menuruti bisikan tersebut.
۞ ۞ ۞ ۞
Kedua: Peristiwa dalam Kisah
Kisah ini sangat menonjol dalam memperhatikan unsur peristiwa (plot). Bahkan, bagi siapa pun yang merenunginya, kisah ini tampak sebagai rangkaian peristiwa yang setara, saling berkaitan, dan berlangsung dengan cepat—seperti sebuah pita film yang memperlihatkan adegan-adegan secara bergantian, dimulai dari mimpi Nabi Yusuf hingga realisasi tafsir dari mimpi tersebut. Seluruh peristiwa ini tersusun secara runtut dan logis.
Meskipun begitu, dalam cerita ini terdapat juga beberapa peristiwa yang mungkin dianggap aneh atau luar biasa oleh sebagian orang yang hanya mengukur segala sesuatu berdasarkan ilmu manusia dalam ruang dan waktu tertentu. Namun, ketentuan Allah berada di luar batas kemampuan manusia.
Jika kita perhatikan dengan seksama, kisah ini menggambarkan sebuah peristiwa yang utuh, yang memiliki awal, tengah, dan akhir. Selain itu, kisah ini juga diawali dengan pembukaan yang menarik, sebagaimana tampak dalam tiga ayat pertama yang membentuk pengantar penuh daya tarik. Bahkan, permulaan peristiwa utamanya dibuka dengan unsur ketegangan tambahan, yang semakin membangkitkan minat pembaca untuk mengikuti alur kisahnya. Ini tampak dalam firman Allah: “Sungguh, dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertanya.” [Yusuf: 7]
Selain itu, berbagai unsur ketegangan lainnya tersebar di seluruh bagian kisah, menciptakan kesinambungan yang kuat dalam penceritaan.
Peristiwa dalam kisah ini dimulai dengan interaksi langsung antara Yusuf dan ayahnya, di mana Yusuf menceritakan mimpi aneh yang ia alami. Ayahnya langsung menafsirkan mimpi tersebut secara naluriah mengenai apa yang kelak akan terjadi, dan ternyata terjadi persis seperti yang diduga sang ayah. Bukan karena tekaan semata, tetapi karena latar belakang peristiwa tersebut, yaitu bahwa Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah mereka dibanding saudara-saudaranya yang lain. Keadaan ini menyulut perasaan iri dan dengki dalam hati saudara-saudaranya.
Dengan demikian, awal kisah telah dibangun dari fondasi yang akan melahirkan semua peristiwa lanjutan dan detail-detail masa depan secara logis dan terpadu dalam struktur cerita.
Jika pembaca memperhatikan awal kisah ini, ia akan menemukan bahwa kisah tersebut melahirkan bagian tengah yang kaya akan berbagai situasi, emosi, peristiwa, dan konflik, yang semuanya berakar dari perasaan iri yang muncul dalam diri saudara-saudara Yusuf, dan mendorong mereka untuk melakukan tindakan balas dendam.
Demikian pula, seluruh rangkaian isi cerita terjalin erat dalam alur peristiwa dan berbagai adegan visual yang tersebar di berbagai bagian, khususnya di bagian tengah cerita dan bagian lainnya.
Dan kita temukan bahwa bagian tengah kisah ini dipenuhi oleh poros-poros ketegangan, berupa konflik awal yang berkembang menjadi masalah-masalah kompleks, hingga para tokoh pun hampir tak sanggup lagi memikul beban yang ada. Peristiwa-peristiwa menjadi rumit, persoalan-persoalan membesar, lalu simpul-simpul kesulitan itu mulai terurai secara bertahap, dan keseimbangan mulai kembali ke struktur cerita.
Sebagai contoh, Nabi Yusuf di bagian tengah kisah mengalami krisis besar—kecemasan menimpanya dengan sangat hebat karena godaaan berulang dari istri Al-Aziz, dan juga dari kekaguman para wanita kota. Dalam menghadapi semua itu, Yusuf menguras seluruh stok penolakannya yang sadar dan keteguhannya dalam menjaga diri. Krisis ini tidak menemukan jalan keluar kecuali setelah sampai ke puncaknya, ketika Yusuf mengetuk pintu langit dengan doa, memohon perlindungan dari tipu daya mereka. Ia pun membayar harga atas penyelamatan ini dengan hidup di dalam penjara, terkurung di balik tembok-tembok yang dingin dan bisu selama beberapa tahun.
Adapun istri Al-Aziz, ia menjadi korban dari nafsunya sendiri, mengalami penderitaan yang semakin berat dan situasinya menjadi semakin rumit. Ia menempuh segala jalan—baik rayuan maupun ancaman—di bawah tekanan hasrat yang menguasainya. Ketika Yusuf lebih memilih penjara daripada fitnah, maka ia kehilangan Yusuf sepenuhnya. Masa Yusuf di penjara menjadi masa jeda bagi konflik batinnya, juga kesempatan untuk meninjau kembali dirinya sendiri, serta membuka jalan perlahan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ia hadapi.
Di sisi lain, kita melihat bahwa Ya’qub pun mengalami tekanan emosi yang sangat berat. Ia terus-menerus dihantui oleh duka dan kesedihan, hingga hampir tumbang dan binasa karenanya.
Demikian pula pada jalur kisah lainnya, salah satu dari saudara-saudara Yusuf juga menghadapi situasi rumit, karena tidak mampu menepati janjinya kepada ayahnya—untuk membawa pulang saudara Yusuf kembali. Ia pun memilih untuk tinggal di negeri asing dalam kondisi penuh kesedihan, daripada harus kembali ke hadapan ayahnya dalam keadaan gagal memenuhi janji.
Tidak hanya itu, dua sahabat Yusuf di penjara pun tak luput dari kecemasan dan kebingungan, sebagaimana halnya raja Mesir yang juga diliputi kegelisahan karena mimpi-mimpi aneh yang mengguncang ketenangannya.
Sementara itu, akhir kisah ini datang sejalan dengan kompleksitas konflik di bagian tengah, yang kemudian terurai dan membawa kelegaan. Kunci penyelesaian dari semua simpul itu adalah keluarnya salah satu sahabat Yusuf dari penjara, yang kemudian menjadi jembatan antara Yusuf dan Raja Mesir. Dari sanalah semua peristiwa mencapai titik penyelesaian yang menggembirakan, baik bagi tokoh-tokoh utama maupun tokoh-tokoh pendukung dalam kisah ini, setelah Yusuf menunjukkan kemampuannya dalam menafsirkan mimpi kepada sang raja.
Yusuf selamat dari fitnah, sebagaimana ia juga dibebaskan dari tuduhan kejahatan, dan makna mimpinya pun menjadi kenyataan: ia menduduki singgasana Mesir, bertemu kembali dengan kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya, serta memperoleh kemuliaan dunia dan keridhaan Allah Ta’ala.
Namun, jika kita menelusuri peristiwa-peristiwa kisah ini dari awal hingga akhir, kita akan mendapati bahwa semua itu terjadi secara tersusun rapi, dan ini menunjukkan kekuatan alur cerita kisah ini. Juga terlihat adanya hukum sebab-akibat di baliknya, karena kisah ini memberikan penjelasan kepada pembaca atas setiap peristiwa secara terperinci.
Ketika saudara-saudara Yusuf bersekongkol terhadapnya, maka konspirasi tersebut tidak ditampilkan dalam kisah ini kecuali disertai dengan alasan nyata, yaitu perkataan mereka: “Sungguh Yusuf dan saudaranya lebih dicintai ayah kita daripada kita,” dan ucapan mereka ketika mereka berencana terhadap Yusuf: “Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayahmu hanya tertuju kepadamu.”
Demikian pula perasaan takut terhadap keselamatan Yusuf dan kesedihan karena berpisah dengannya menjadi alasan di balik penolakan Ya’qub untuk mengizinkan Yusuf pergi bersama saudara-saudaranya: “Sesungguhnya aku merasa sedih bila kalian membawanya pergi dan aku takut ia akan dimakan serigala.” Dan para saudara pun membenarkan kemampuan mereka menjaga Yusuf dengan mengatakan bahwa mereka adalah kelompok yang kuat dan berkuasa.
Demikianlah, setiap unsur dalam kisah ini tidak disampaikan tanpa kaitan dengan tujuan yang ada dalam diri para tokohnya. Permintaan Al-‘Aziz kepada istrinya untuk memuliakan Yusuf didorong oleh tujuan yang bersifat praktis dan penting, ditambah dengan keinginan pribadi untuk menjaga keturunan: “Muliakanlah tempat tinggalnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita angkat ia sebagai anak.”
Begitu pula keburukan dan kekejian tidaklah dijauhkan dari Yusuf secara kebetulan, melainkan karena adanya usaha moral dari dalam dirinya sendiri yang menjadi sebab tercapainya tujuan tersebut: “Demikianlah agar Kami palingkan dari dirinya kejahatan dan kekejian. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.”
Maka dari itu, banyak peristiwa dalam kisah ini memiliki tujuan dan alasan yang jelas. Oleh karena itu, peristiwa-peristiwa tersebut tampak terukur secara logis; tidak bergerak atau berkembang kecuali dengan perhitungan, dan tidak muncul kecuali secara serentak dan sah dengan struktur kisah yang mendahuluinya atau mengikutinya.
Realisme yang jujur, amanah, bersih, dan sehat dalam waktu yang sama, tidak hanya berhenti pada realisme tokoh-tokoh manusia yang dipenuhi oleh kisah ini dalam ruang lingkup yang luas dan pada tingkat yang mengagumkan, tetapi juga tampak pada realisme peristiwa-peristiwanya, narasinya, dan penyajiannya, serta pada kebenaran dan sifat alaminya di tempat dan waktunya, dalam lingkungan dan kondisi yang melingkupinya. Setiap gerakan, setiap gejolak batin, dan setiap kata muncul pada waktunya, dalam bentuk yang sesuai dan di tempat yang tepat dalam panggung penceritaan, berpindah antara bayangan dan cahaya sesuai dengan pentingnya, perannya, dan bagaimana kehidupan berjalan melaluinya… Hal ini pun tampak pada tokoh-tokohnya, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.
Ketiga: Dialog
Dialog merupakan salah satu unsur yang dapat menarik dan membangkitkan minat pembaca untuk terus mengikuti kisah. Selain itu, dialog juga mengusir rasa bosan yang mungkin timbul jika kisah hanya disampaikan melalui narasi semata.
Kita temukan bahwa kisah ini sarat dengan dialog yang memenuhi semua syarat teknisnya serta menjalankan seluruh fungsi tematiknya.
Kita juga melihat bahwa dialog dalam kisah ini mengalir dengan ringan tanpa adanya beban atau kesulitan. Dialognya bersifat ringkas namun sarat makna yang mendalam.
Contohnya adalah ucapan istri Al-‘Aziz kepada Nabi Yusuf : “هَيْتَ لَكَ“ — dua kata yang ringan dari segi pelafalan, namun sarat dengan berbagai macam perasaan dan emosi yang tersirat di dalamnya, serta penuh makna. Kata “هَيْتَ“ adalah isim fi’il yang berarti “segeralah”, sedangkan “لَكَ“ menunjukkan arah, yaitu “kepadamu”. Menurut penulis tafsir Al-Bahr Al-Muhith, ia memerintahkannya agar segera mendekat kepadanya.
Kita juga melihat bahwa dialog sering kali memusatkan perhatian pada titik lemah dari lawan bicara, seperti dalam ucapan saudara-saudara Yusuf kepada ayah mereka saat mereka membujuknya agar mengizinkan Yusuf pergi bersama mereka: “Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf? Padahal kami benar-benar menginginkannya kebaikan.” Dalam dialog ini, saudara-saudara Yusuf berusaha mengatasi keraguan ayah mereka terhadap kejujuran dan ketulusan mereka. Mereka menyapanya dengan “wahai ayah kami”, sebagai bentuk pendekatan dan kelembutan, kemudian membuatnya berada dalam posisi yang seolah-olah mengherankan dengan mengatakan: “mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf?”
Kepekaan dialog tampak dalam jawaban sang ayah, yang tidak ingin melukai perasaan anak-anaknya dan memberikan alasan yang tampak remeh untuk tidak mengizinkan Yusuf pergi bersama mereka, tanpa menyebutkan alasan utama sebenarnya, yaitu ketidakpercayaannya bahwa mereka akan menjaganya dengan baik. Ia berkata: “Sesungguhnya aku merasa sedih bila kalian membawanya pergi dan aku takut ia akan dimakan serigala.” Betapa indahnya jawaban ini! Ia tidak mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. Seakan-akan dengan ucapannya “dan aku takut ia akan dimakan serigala”, Ya’qub justru mengajarkan kepada mereka alasan yang akan mereka gunakan ketika mereka kembali tanpa Yusuf. Maka mereka pun menggunakan alasan itu dan menjadikannya sebagai bahan untuk jawaban mereka nanti.
Demikian pula, kita dapati bahwa dialog membantu pembaca, seperti telah disebutkan sebelumnya, untuk membayangkan karakter tokoh yang berdialog, menetapkan ciri-cirinya, dan mengungkapkan isi batinnya.
Dialog-dialog Yusuf telah menggambarkan kepribadiannya dengan jelas, demikian pula dialog-dialog antara Al-Aziz dan istrinya, serta dialog istri Al-Aziz dengan Yusuf yang telah mengungkapkan niat buruknya, seperti telah dijelaskan.
Ketika Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung,” dalam pernyataan ini terdapat gambaran yang jelas tentang kesuciannya dan akhlaknya yang mulia. Ia adalah pribadi yang sempurna dengan nilai-nilai ketuhanan.
Demikian pula ucapan saudara-saudara Yusuf, “Kirimkanlah dia bersama kami besok,” dengan penetapan waktu ‘besok’ menunjukkan adanya niat jahat yang ingin segera dilaksanakan, yaitu besok, bukan di kemudian hari atau di hari lain.
Begitu juga perkataan istri Al-Aziz kepada para wanita: “Inilah orang yang kalian cela aku karenanya, dan sungguh aku telah menggodanya,” menunjukkan gejolak hasrat dalam dirinya yang meluap-luap, dan ini juga menjadi bukti atas kesucian Yusuf.
Kita dapati bahwa dialog mengembangkan jalannya peristiwa dan membawanya ke tahap-tahap baru, serta membentuk keterkaitan antara pengakuannya dalam ayat ini dengan dialog sebelumnya dengan suaminya, saat ia berkata, “Apa balasan bagi orang yang ingin berbuat buruk terhadap keluargamu selain dipenjara atau disiksa dengan siksa yang pedih?”
Demikian pula kita dapati bahwa dialog dalam kisah ini memperdalam peristiwa dalam jiwa setiap pembacanya, mengungkapkan tujuan dan makna kisah, serta memberikan nuansa nyata dan hidup. Setiap pembaca merasa bahwa ia tidak sedang menyaksikan sebuah pertunjukan drama, tetapi merasakan realitas kisah ini secara langsung.
Kita juga dapati bahwa dialog dalam kisah ini disampaikan dengan kata-kata seperti “dia berkata,” “dia menjawab,” “mereka berkata,” “katakanlah,” yang menunjukkan pengaruh kehendak Allah dalam menggerakkan kisah ini, dan bukan dalam bentuk pertunjukan panggung secara langsung.
Keempat: Alur Cerita
Kita dapati bahwa inti dari cerita ini terletak pada mimpi Yusuf: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan, aku melihat mereka sujud kepadaku.” Dan jika sang ayah menangkap dari mimpi ini tanda-tanda keagungan dan kemuliaan bagi anaknya yang tampak baginya dari celah-celah alam gaib yang disaksikannya dengan mata batinnya yang tajam. Artinya, tafsir mimpi ini tidaklah samar bagi Nabi Ya’qub. Ia jelas maknanya, tidak sulit untuk ditafsirkan. Bukankah anak-anaknya selain Yusuf berjumlah sebelas? Dan jika mereka adalah bintang-bintang, maka bukankah wajar jika dia dan istrinya adalah matahari dan bulan? Oleh karena itu, kita mendapati Ya’qub meminta anaknya agar tidak menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya agar mereka tidak merencanakan hal buruk terhadapnya.
Ia menanamkan kewaspadaan dalam diri anaknya agar berhati-hati terhadap segala yang dapat menyakitinya: “Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” Dalam ayat ini terdapat pengarahan bagi Yusuf agar berhati-hati terhadap tipu daya setan, dan sang ayah membuka isi hatinya kepada anaknya serta menyampaikan firasatnya bahwa Allah akan memilih Yusuf, mengajarkannya tafsir mimpi-mimpi, dan menyempurnakan nikmat-Nya atasnya sebagaimana telah disempurnakan atas kedua orang tuanya, Ibrahim dan Ishaq. Pemilihan ini adalah kenabian yang menuntut adanya ilmu, dan di dalamnya terdapat penyempurnaan nikmat.
Kita dapati bahwa Yusuf (sang anak) belum sepenuhnya yakin bahwa harapan penuh kasih dari ayahnya saat memintanya untuk tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya akan berubah menjadi kenyataan dalam kehidupannya di masa depan.
Ketika akhirnya ia meraih nasib bahagianya setelah penderitaan yang panjang yang telah menghabiskan masa mudanya—sendiri di dalam sumur, berjuang melawan godaan di istana, dan terpenjara, terhalang dari keceriaan hidup dan kenikmatannya—maka ia berseru kepada ayahnya dengan penuh kegembiraan saat menyambutnya dan saudara-saudaranya di istana Al-Aziz di Mesir: “Wahai ayahku, inilah tafsir mimpiku yang dahulu. Sungguh Tuhanku telah menjadikannya kenyataan.”
Dengan demikian, akhir kisah ini terhubung dengan awalnya, dan kembali ke titik awal dalam apa yang disebut sebagai struktur melingkar dalam cerita.
Adapun mimpi-mimpi yang lain, kita juga mendapati di dalamnya makna dalam konteks kisah, yang tampak dalam mimpi raja Mesir dan mimpi para tahanan bersama Nabi Yusuf. Dan jika mimpi-mimpi ini, beserta tafsirannya yang tepat dan menakjubkan oleh Yusuf, menunjukkan kebenaran kenabiannya secara temporer bagi orang-orang Mesir—yang pada waktu itu sangat memperhatikan mimpi dan ramalan—maka di dalamnya juga terdapat unsur seni yang menegaskan bahwa dorongan dalam metodologi ilmiah dan sastra Islam bukanlah semata-mata realitas yang dapat dirasakan secara langsung, baik dalam keberadaan manusia maupun dunia di sekitarnya. Bahkan, realitas yang dekat dan terindra ini hanyalah bagian kecil dari realitas besar yang lebih luas. Inilah kenyataan yang tak sedikit ilmuwan dan filsuf akhirnya harus mengakui, berdasarkan pada perbedaan dan keajaiban dunia ini yang terus bertambah.
۞ ۞ ۞ ۞
Pembahasan Kedua: Dimensi Teoretis dan Gaya Pembangunan Cerita
Dimensi Teoretis:
Sayyid Quthb berkata: “Sesungguhnya kisah Yusuf—sebagaimana disampaikan dalam surah ini—merupakan model sempurna dari metode Islam dalam penyajian artistik sebuah kisah, sebagaimana ia juga merupakan model sempurna dari metode ini dalam penyajian psikologis, akidah, pendidikan, dan pergerakan. Meskipun metode Al-Qur’an itu satu dalam tema dan penyampaiannya, kisah Yusuf tampak seolah-olah merupakan galeri khusus dalam menampilkan metode ini dari sisi penyajiannya yang artistik.”
Dengan demikian, metode dalam kisah ini adalah metode Islam yang sempurna dan realistis, namun realisme dalam kisah ini adalah realisme yang bersifat etis.
Kisah ini menampilkan pribadi Yusuf secara utuh di segala aspek, juga menampilkan berbagai bentuk ujian, seperti godaan syahwat dan bentuk-bentuk cobaan lainnya.
Kita juga mendapati bahwa kisah ini memperlihatkan tokoh-tokoh di sekitar tokoh utama dengan tingkat fokus yang berbeda-beda, dari berbagai sudut pandang, serta dalam kondisi pencahayaan dan bayangan tertentu. Kita dapati pula bahwa kisah ini berinteraksi dengan jiwa manusia secara penuh, mencerminkan seluruh tipe karakter manusia yang hadir dalam kisah tersebut.
Realisme etis dalam kisah ini tampak dalam penggunaan ungkapan-ungkapan yang sopan untuk menggambarkan dorongan naluri, yaitu ungkapan-ungkapan yang mengangkat nilai kemanusiaan manusia dan membawa pembaca kepada suasana kemuliaan, kebersihan jiwa, rasa, dan ekspresi.
Sayyid Quthb berkata tentang hal ini: “Istri Al-Aziz dalam pergulatan syahwat yang membutakan segalanya, dalam gejolak emosinya yang dahsyat dan meluap-luap, tidak lagi memperdulikan rasa malu sebagai perempuan, tidak juga harga diri, tidak memperdulikan status sosial ataupun aib keluarga. Ia menggunakan seluruh kelicikan dan tipu daya perempuan, baik dalam membela diri maupun melindungi lelaki yang dicintainya dari tuduhan yang dilimpahkan padanya. Di sini, perempuan tampil seutuhnya tanpa hiasan (rasa malu), perempuan yang tidak merasa bahwa memenuhi hasrat kewanitaannya adalah sesuatu yang tercela. Namun, meskipun menggambarkan tipe manusia yang spesifik ini dengan segala realitasnya, dan meskipun menggambarkan momen tersebut dengan segala wataknya, penyajian Al-Qur’an—yang semestinya menjadi model tertinggi dalam penyampaian seni Islam—tidak sekali pun keluar dari sifatnya yang bersih, bahkan ketika menggambarkan momen pelanggaran moral dan fisik dengan segala dorongan dan kebinatangannya.”
Artinya, kisah ini tidak memaparkan secara langsung percakapan yang terjadi antara istri Al-Aziz dengan Yusuf yang rupawan, tidak pula menggambarkan secara rinci upaya-upaya menggoda untuk menarik dan memikatnya melalui rayuan atau gerakan, ataupun ungkapan-ungkapan cinta yang membangkitkan gairah, sebelum ia memperlihatkan hasratnya dan menutup semua pintu lalu berkata dengan penuh dominasi femininnya: “Marilah kepadaku.”
Kisah ini juga tidak menyebutkan rincian lainnya, hanya dikatakan bahwa ia telah berhasrat kepadanya, sementara bagaimana cara dan bentuk hasrat itu tidak dijelaskan—semuanya diserahkan kepada imajinasi dan gambaran batin pembaca. Dan ini semua adalah hasil dari gaya unik Al-Qur’an dalam menyampaikan kisah.
Demikian pula dengan Yusuf, hamba saleh itu, penggambaran Al-Qur’an terhadap kepribadiannya tidak pernah menyimpang sedikit pun dari sisi kemanusiaannya ketika ia menghadapi godaan dengan seluruh sisi manusianya, meskipun ia tumbuh dalam lingkungan kenabian dan pendidikan agama. Meskipun pada saat tertentu ia merasakan kelemahan dalam dirinya, namun ia tetap berpegang teguh pada tali yang kuat. Tidak ada sedikit pun penyimpangan dalam penggambaran realitas pribadinya dan sifat alaminya. Tidak ada pula aroma dari kubangan jahiliah atau kerusakan artistik. Inilah realitas yang lurus dan murni dari segala sisinya.
Al-Aziz dan karakternya dengan sifat khasnya, serta dengan sifat seorang pejabat tinggi, kemudian dengan kelemahan dalam keberanian moral, dominasi kemunafikan, serta kepentingan menjaga penampilan luar dan mempertahankannya—kita dapati bahwa semua karakteristik lingkungan tempat ia hidup tercermin dalam dirinya.
Adapun para wanita—yakni wanita-wanita dari masyarakat itu, dengan segala ciri khasnya—perhatian mereka hanya tertuju pada pembicaraan tentang istri Al-Aziz dan pelayannya yang telah dirayunya. Namun, kemudian mereka pun mengakui dengan pengakuan feminin yang mendalam terhadap sikap wanita itu setelah mereka melihat Yusuf, dan berkata, “Ini bukanlah manusia, ini hanyalah malaikat yang mulia.” Setelah itu, mereka semua pun tertarik kepada Yusuf dengan rayuan dan godaan. Maka Nabi Yusuf pun berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya. Dan jika Engkau tidak palingkan dari aku tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung kepada mereka dan menjadi orang yang bodoh.”
Kita dapati bahwa kisah ini menyampaikan peristiwa yang menggugah ini—yang dirancang oleh istri Al-Aziz—dengan menjadikan Nabi Yusuf sebagai objek pameran keindahan di hadapan sekelompok wanita yang berhias dan memikat dengan penampilan, gerakan, dan ucapan mereka. Seolah-olah ia berada di atas panggung, dan istri Al-Aziz memerintahkannya untuk memainkan perannya dengan berkata, “Keluarlah kepada mereka.”
Inilah bentuk dari realisme dalam metode kisah Qur’ani. Akan tetapi, struktur kisah ini tidak merinci tentang keindahan Yusuf, atau kecantikan wanita-wanita kota, atau bagaimana mereka berusaha menggoda dan menarik Yusuf kepada mereka. Cukuplah kisah ini menyampaikan penilaian estetik dari para wanita terhadap Yusuf, yaitu dengan mengatakan, “Ini bukan manusia, melainkan malaikat yang mulia.”
Jika kita kembali melihat lingkungan tempat kejadian ini berlangsung, kita dapati Sayyid Quthb berkata tentangnya: “Itu adalah kepolosannya—yakni tindakan yang dimaksudkan untuk menyembunyikan aib dan menghapus jejaknya. Tidak masalah jika seorang yang tak bersalah seperti Yusuf menjadi korban dari peristiwa ini.”
Adapun momen kesadaran dan kebangkitan nurani dan spiritual, maka kisah ini mencatatnya dengan alur yang penuh dengan gambar, kaya dengan lintasan perasaan dan emosi yang tertanam dalam jiwa yang mencela diri, yang telah muak terhadap kenyataan dari keinginan yang kuat dan sesat, lalu menggantinya dengan kenyataan yang lebih baik: kenyataan ketundukan, pengakuan atas kesalahan di hadapan Allah, nabi, suami, masyarakat, dan sejarah.
Maka istri Al-Aziz berkata, “Sekarang telah nyata kebenaran itu. Akulah yang menggoda dia. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang jujur. Itu agar ia mengetahui bahwa aku tidak mengkhianatinya secara diam-diam, dan bahwa Allah tidak memberi petunjuk kepada tipu daya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan. Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Tidak diragukan lagi bahwa penjabaran Al-Qur’an mengenai keadaan istri Al-Aziz serta penggambaran kondisi psikologisnya setelah taubat sudah cukup untuk meredam bayang-bayang godaan yang mungkin timbul dari adegan keinginan dan kejar-kejaran, yang bisa saja membangkitkan hasrat dalam sebagian jiwa yang lemah.
Demikian pula, ketika saudara-saudara Yusuf mengambil keputusan bersama untuk melemparkan saudara mereka ke dalam sumur, kisah ini cukup menyebutkan kesepakatan mereka atas keputusan itu tanpa menjabarkan secara rinci bagaimana mereka melemparkannya, atau dampaknya pada jiwa mereka, maupun pada jiwa Yusuf sendiri. Bahkan, peristiwa pelemparan itu sama sekali tidak disebutkan, karena itu merupakan momen yang menyakitkan dan tindakan yang tidak bermoral, sehingga harus dilewati dengan cepat dalam alur cerita, sebelum situasi semakin rumit dan pembaca dipenuhi dengan kebencian terhadap saudara-saudara Yusuf yang kejam, sehingga tidak bisa lagi memaafkan mereka setelah itu.
Demikian juga kita dapati bahwa unsur-unsur emosional yang membentuk konflik dan memanaskannya telah tersebar secara merata sepanjang kisah ini: perasaan cinta, pelajaran hidup, penyesalan, tipu daya, kelicikan, keinginan, teguran, pemaafan, dan kelapangan hati.
Unsur-unsur ini telah menimbulkan berbagai reaksi, tanggapan, dan sikap yang beragam dari tokoh-tokoh dalam kisah ini, ada yang bersifat positif dan ada pula yang bersifat negatif.
۞ ۞ ۞ ۞
Gaya Penyusunan Cerita:
Gaya memiliki peran penting dalam narasi cerita, baik dari segi jenis kosakata yang digunakan secara makna dan irama, maupun ciri-ciri ungkapan yang membentuk struktur dan jalinan cerita. Bahkan huruf-huruf yang dipilih untuk membentuk suatu kata juga memiliki peran jelas dalam menyampaikan makna kepada pembaca.
Selain itu, bahasa adalah alat untuk menggambarkan, dan penggambaran dalam kisah adalah suatu keharusan artistik. Dari satu sisi, penggambaran memberi nyawa pada peristiwa dalam cerita, atau menciptakan gambaran imajinatif dan mengasah daya khayal. Dari sisi lain, gambaran memiliki peran irama—bisa jadi sebuah gambaran menjadi kunci dari suatu nada, atau membangun keterkaitan antara tokoh-tokoh dalam cerita dengan objek atau orang di luar cerita.
Penulis kitab Al-Kasysyaf mengatakan dalam mendeskripsikan gaya kisah ini: “Yang dimaksud dengan sebaik-baik pengisahan adalah dengan metode yang paling menakjubkan dan gaya yang paling indah.”
Dan ketika emosi memuncak dalam jiwa, perasaan pun bangkit dan meluap, maka tekanan kata-kata yang berurutan mampu mewujudkan nilai-nilai emosional tersebut. Seperti ucapan istri Al-Aziz yang penuh tekanan emosional ketika ia berkata bahwa jika Yusuf tidak melakukan apa yang diperintahkannya, maka ia pasti akan dipenjara dan menjadi orang yang hina.
Kisah ini juga menggambarkan darah yang mengotori baju Yusuf sebagai darah bohong, sebagai bentuk penekanan atas kebohongan yang jelas.
Cerita ini juga sengaja menggunakan bentuk indefinitif (tidak tentu) dan definitif (pasti) sesuai pada tempatnya. Tanah tempat Yusuf dibuang, misalnya, disebutkan sebagai tanah yang tidak dikenal, asing, jauh dari peradaban. Inilah yang sebenarnya diinginkan oleh saudara-saudaranya—agar Yusuf dibuang ke tempat yang tidak diketahui, tanpa nama, sangat jauh sehingga ayah mereka tidak dapat menemukannya.
Sebagian lain menjelaskan keindahan cerita ini dari sisi nuansa optimistis dan akhir bahagia yang mengakhiri kisah ini. Dikatakan bahwa kisah ini disebut terbaik karena sebagian besar peristiwa di dalamnya akhirnya berujung pada kebahagiaan.
Sedangkan Jalaluddin As-Suyuthi menghubungkan keunggulan cerita ini dengan adanya perkembangan peristiwa yang bertahap dan mencakup ruang lingkup kehidupan pribadi tokoh utama secara luas, hingga menemaninya sampai akhir. Inilah yang ia maksud dengan istilah “panjang dan utuh,” demi menciptakan pemahaman kisah yang menyeluruh dan memberikan hiburan dengan gambaran yang lengkap—dan tentu hal ini tidak luput dari makna penting.
Seolah karena itu pula ia berkata: alasan terkuat mengapa kisah para nabi diulang-ulang adalah karena tujuan utamanya adalah memberikan pelajaran kepada orang-orang yang mendustakan para rasul, dan kebutuhan akan hal itu sangat besar, sebagaimana para kafir terus-menerus mendustakan Nabi Muhammad ﷺ. Ia juga menegaskan bahwa telah tampak alasan kenapa kisah Yusuf ini disampaikan dengan cara yang berbeda, yaitu karena para sahabat meminta agar diceritakan sebuah kisah, maka turunlah kisah ini dengan kualitas dan keindahannya.
Dan Al-Ustadz Abu Ishaq berkata: Allah mengulangi kisah para nabi, tetapi menyampaikan kisah Yusuf ini dalam satu rangkaian yang utuh sebagai isyarat terhadap kelemahan bangsa Arab, seolah Nabi Muhammad ﷺ berkata kepada mereka: “Kalau memang aku membuatnya sendiri, maka cobalah buat seperti kisah Yusuf sebagaimana kalian telah menciptakan cerita-cerita lainnya.” Dan ini merupakan sudut pandang yang sangat baik.
Dan bisa jadi semua analisis ini benar adanya, dan hal itu tidak mengurangi nilai tafsir bayani dan balaghiy dari penulis Al-Kasysyaf, karena tujuan-tujuan yang terkandung dalam kisah ini tidak akan tampak dengan jelas, matang, dan pasti jika tidak disampaikan dengan gaya artistik dalam penyampaian, penyuguhan, kehematan, dan kepadatan, selain kedalaman makna dan kekayaan isyarat dalam banyak ayatnya. Dan itulah gaya kisah ini yang benar-benar layak disebut sebagai sebaik-baik kisah, tanpa berlebihan atau melampaui batas.
۞ ۞ ۞ ۞
Pembahasan Ketiga: Makna Irama (Diksi dan Ritme)
Kita mendapati bahwa semua kata dalam kisah ini telah dipilih secara makna dan irama untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Muhammad Rasyid menyebutkan bahwa Al-Khattabi berkata: “Kamu tidak akan menemukan kata-kata yang lebih fasih, lebih kuat, dan lebih indah daripada kata-katanya.” Kata-kata tersebut memiliki kesesuaian makna dan menunjukkan makna itu dengan tepat, mengungkapkan apa yang ada dalam jiwa para pengucapnya dari perasaan dan kandungan.
Mari kita perhatikan ungkapan “dan Dia mengajarkanmu tentang takwil mimpi”. Arah pemikiran Ya’qub menunjukkan bahwa mimpi Yusuf menandakan bahwa Allah memilihnya dan menyempurnakan nikmat-Nya atasnya. Takwil adalah mengetahui akhir dari suatu hal. Lalu apa yang dimaksud dengan “mimpi-mimpi” itu? Maksudnya adalah bahwa Allah akan memilih Yusuf, mengajarinya, dan memberinya kepekaan yang tajam serta ketajaman pandangan, sehingga ia mampu memahami akhir dari mimpi-mimpi tersebut sejak awal kemunculannya. Hal ini merupakan ilham dari Allah kepada orang-orang yang memiliki pandangan tajam, sesuai dengan suasana kebijaksanaan dan pengajaran.
Adapun firman-Nya: “Salah seorang dari mereka berkata: Janganlah kalian membunuh Yusuf, tetapi buanglah dia ke dasar sumur, agar dia dipungut oleh sebagian kafilah, jika kalian hendak berbuat sesuatu,” kita merasakan dari ungkapan “jika kalian hendak berbuat sesuatu” adanya makna keraguan dan pelemahan semangat. Seolah-olah ia meragukan keteguhan mereka dalam menyakiti Yusuf. Ini adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mencegah suatu tindakan, yang tampak jelas menunjukkan ketidaknyamanan terhadap pelaksanaan rencana itu. Namun, hal itu adalah yang paling ringan dari yang bisa meredakan perasaan tertekan mereka, sebab mereka tidak siap untuk mundur dari keputusan yang telah mereka buat.
Dan dalam ayat berikut dikatakan: “Mereka berkata: Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal kami benar-benar menginginkan kebaikan baginya? Biarkanlah dia pergi bersama kami besok, agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sungguh kami akan menjaganya dengan baik.” Ia (Ya’qub) berkata: “Sesungguhnya keberangkatan kalian bersamanya membuatku sedih, dan aku khawatir kalau-kalau ia dimakan serigala, sementara kalian lengah darinya.”
Ungkapan ini dengan kata-kata dan strukturnya menggambarkan segala usaha mereka untuk menyentuh hati sang ayah yang sangat terikat dengan anak kecilnya yang tercinta, yang dilihatnya sebagai penerus jejak kakeknya, Ibrahim.
Seruan “Wahai ayah kami” membawa nuansa penuh makna, mengingatkan akan hubungan kedekatan antara mereka dan sang ayah. Pertanyaan “mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf?” mengandung nada teguran, keheranan tersembunyi, dan dorongan agar sang ayah menolak anggapan itu, dan sebagai gantinya menyerahkan Yusuf kepada mereka. Padahal sebenarnya, sang ayah menahan Yusuf di sisinya dan tidak mengizinkannya pergi bersama saudara-saudaranya ke padang rumput dan tempat-tempat terpencil yang biasa mereka datangi, karena ia mencintainya dan khawatir bahwa Yusuf takkan mampu menanggung beban dan cuaca yang mampu ditanggung oleh saudara-saudaranya yang lebih tua. Bukan karena ia tidak mempercayai mereka.
Jadi, ucapan mereka bahwa sang ayah tidak mempercayai mereka terhadap Yusuf sebenarnya adalah sebuah siasat cerdas untuk menggugurkan keberatan tersebut, agar sang ayah akhirnya menyerahkan Yusuf kepada mereka. Kalimat “dan kami benar-benar menginginkan kebaikan baginya” — penyebutan niat baik dan keikhlasan di sini memberikan isyarat halus tentang adanya sesuatu yang mereka sembunyikan, yakni niat jahat yang mencurigakan.
Sementara itu, ungkapan “dan mereka sepakat untuk menjadikannya…” menunjukkan bahwa mereka sebelumnya berbeda pendapat tentang apa yang akan mereka lakukan terhadap Yusuf. Sebab, kesepakatan hanya terjadi setelah adanya perbedaan, terlebih dalam urusan sebesar ini, dan dalam lingkungan persaudaraan yang menyangka bahwa semua peristiwa akan berjalan sesuai dengan keinginan mereka. Maka muncullah perhatian Ilahi yang mengarahkan perkara ini hingga jiwa-jiwa yang terpedaya oleh kelalaian dan merasa diri berkuasa akan menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Allah berfirman: “Dan mereka datang kepada ayah mereka di waktu malam sambil menangis.”
Di sini tampak jelas maksud dan tujuan dari penggunaan ungkapan tersebut. Kata “di waktu malam sambil menangis” memiliki makna khusus. Mereka memilih waktu malam untuk mendatangi ayah mereka, dan sebagaimana disebutkan oleh Ar-Raghib, waktu malam adalah dari setelah salat Maghrib hingga waktu Isya. Mereka datang di malam hari, mungkin karena memang baru sampai pada waktu itu, atau karena dalam kegelapan malam rasa malu menjadi lebih ringan, sehingga mereka lebih mampu menyampaikan alasan. Oleh karena itu dikatakan: jangan meminta sesuatu di malam hari, sebab rasa malu terlihat di mata; dan jangan pula meminta maaf atas dosa di siang hari, karena alasan bisa menjadi dipaksakan.
Apakah mereka datang pada malam hari yang sama saat mereka pergi? Sebagian besar pendapat menyatakan demikian. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa mereka datang pada malam hari setelahnya, berdasarkan riwayat bahwa Yusuf tinggal di dasar sumur selama tiga hari, sementara saudara-saudaranya merumput di sekitarnya, dan Yehuda yang membawakannya makanan.
Kata “mereka menangis” seolah-olah menunjukkan bahwa tangisan bukanlah sesuatu yang pasti menunjukkan isi hati, karena bisa saja dibuat-buat untuk tujuan tertentu. Artinya, mereka hanya berpura-pura menangis, menampilkan tangisan yang dibuat-buat, sebagaimana sering dilakukan oleh para pendusta.
Kita juga mendapati bahwa ekspresi Al-Qur’an menggunakan kalimat fi‘liyah “mereka menangis” memiliki makna dan isyaratnya tersendiri. Kalimat fi‘liyah menunjukkan peristiwa atau kejadian yang sedang berlangsung. Maka, ini adalah tangisan yang tidak dilandasi kesedihan, seperti yang telah disebutkan, karena tidak berasal dari hati, melainkan bertujuan untuk menipu ayah mereka. Itulah makna yang disampaikan oleh penggunaan kalimat fi‘liyah “mereka menangis”.
Mereka menjelaskan bahwa mereka pergi dan meninggalkan Yusuf di dekat barang-barang karena Yusuf tidak kuat untuk ikut dalam perlombaan, dan juga agar bisa menjaga barang-barang itu. Namun, akhirnya terjadi sesuatu dan Yusuf dimakan oleh serigala. Ucapan ini sendiri menunjukkan bahwa mereka sadar tidak akan mampu meyakinkan ayah mereka dengan alasan ini, bahkan sekalipun mereka benar-benar jujur.
Agar konspirasi mereka terlihat sempurna, mereka membawa baju Yusuf yang berlumur darah sebagai bukti atas kebenaran cerita mereka. Al-Qur’an menggambarkan darah itu sebagai “darah palsu”.
Di sini tampak kebijaksanaan dan ketajaman Ya‘qub, yang langsung menyatakan bahwa peristiwa itu tidak seperti yang mereka ceritakan. “Namun sebenarnya, diri kalian sendirilah yang membisikkan suatu rencana kepada kalian.” Kata “namun” di sini menurut para ahli bahasa adalah huruf yang digunakan untuk membatalkan atau menolak pernyataan sebelumnya. Maka maknanya adalah: perkara itu bukan seperti yang kalian katakan, melainkan ada sesuatu yang direncanakan oleh jiwa kalian sendiri.
Allah berfirman: “Dan mereka datang membawa baju Yusuf yang berlumur darah palsu.” Penulis tafsir Al-Kasysyaf mengatakan bahwa maksudnya adalah darah yang penuh kepalsuan, atau disifati dengan kata “palsu” secara langsung sebagai bentuk penekanan, seakan-akan darah itu sendiri adalah kebohongan dan penipuan, seperti ungkapan terhadap pendusta: “Dia adalah kebohongan itu sendiri, dusta itu dengan seluruh wujudnya.”
Kebijaksanaan Ya‘qub terlihat jelas dalam tanggapannya, karena mereka lupa untuk merobek baju Yusuf. Maka ia berkata, “Demi Allah, aku belum pernah melihat serigala sebijak ini, memakan anakku tapi tidak merobek bajunya.” Dan ia mengulangi: “Namun sebenarnya, diri kalianlah yang membisikkan suatu rencana kepada kalian.”
Demikian pula, kita mendapati bahwa kata “angin” dalam Al-Qur’an membawa makna dan isyarat tertentu, sebagaimana “angin-angin” juga mengandung makna khusus. Saat kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an, kita merasa seakan berada di tengah badai dan angin kencang yang hampir mencabut seseorang dari tempatnya. Allah berfirman: “Dan barang siapa mempersekutukan Allah, maka seolah-olah ia jatuh dari langit, lalu disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang sangat jauh.” (Surat Al-Hajj ayat 31)
Demikian pula, ada banyak ayat lain yang membawa makna serupa. Namun, kata “angin” juga muncul di samping makna umumnya dengan dua makna lainnya. Makna pertama disebutkan dalam ayat: “Dan janganlah kalian berselisih, agar kalian tidak gagal dan kekuatan kalian hilang; dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Surat Al-Anfal ayat 46). Dalam ayat ini, kata “angin” bermakna kekuatan dan keberanian, dan tidak terpisah dari makna umumnya karena keduanya berkaitan dengan kekuatan.
Makna kedua adalah makna “aroma” atau “bau”, yang tampak dalam firman Allah: “Ketika kafilah itu telah berangkat, ayah mereka berkata: Sesungguhnya aku mencium aroma Yusuf, jika kalian tidak menuduhku lemah akal.” (Surat Yusuf ayat 94). Maka, kata “angin” adalah istilah yang memiliki makna yang beragam dalam Al-Qur’an.
Kemudian kita kembali ke ayat ini dari awal: “Dan perempuan yang di rumahnya Yusuf tinggal menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya, dan ia menutup rapat-rapat pintu, seraya berkata: Marilah ke sini! Yusuf berkata: Aku berlindung kepada Allah! Sesungguhnya tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.”
Kita berhenti pada kata “menggoda” — secara leksikal kata ini menunjukkan bahwa perempuan itu mendekati Yusuf dengan berbagai macam rayuan kewanitaannya, berpindah dari satu cara ke cara lain, sebagaimana kata ini berasal dari gerakan unta yang berjalan perlahan bolak-balik. Ini menggambarkan keadaan seorang wanita yang sedang jatuh cinta dan kegelisahan dalam cintanya, serta usahanya untuk mencapai tujuannya.
Kemudian disebutkan: “dari dirinya” — ini menunjukkan bahwa ia tidak sekadar menginginkan keberadaan Yusuf, tetapi menginginkan sisi terdalam dirinya, yaitu naluri dan dorongan terdalam. Ia menyodorkan seluruh dirinya hanya untuk menguasai sisi itu. Seakan-akan ayat ini menyatakan, dengan bahasa yang sangat sopan dan luhur, bahwa wanita itu telah mengerahkan segala upaya dalam merayunya.
Selanjutnya: “dan ia menutup rapat-rapat pintu,” dan tidak dikatakan “ia menutup pintu” — ini menunjukkan bahwa ketika ia merasa putus asa dan melihat Yusuf mencoba menjauh, ia dengan penuh gejolak dan dorongan nafsu menutup pintu-pintu dengan tergesa-gesa, seakan-akan satu pintu menjadi beberapa pintu.
Kata “menutup rapat-rapat pintu” mengungkapkan lebih dari sekadar arti lahiriahnya. Ketika istri Al-Aziz menutup pintu-pintu, ia melakukannya dengan sangat hati-hati dan sungguh-sungguh untuk mewujudkan keinginannya tanpa gangguan dan agar Yusuf tidak bisa keluar. Ia benar-benar menutup pintu dengan tekad kuat—dan penekanan bunyi pada kata ini memberi isyarat pada dorongan hasrat yang menggelora.
Kata kerja dalam bentuk mudhari’ (kata kerja sekarang atau yang sedang berlangsung) seperti “aku melihat diriku” digunakan untuk menghadirkan kembali gambar-gambar peristiwa dan memunculkannya kembali dalam bentuk tayangan lambat untuk menggambarkannya, sebagaimana dalam ucapan kedua teman Yusuf di penjara: “Sesungguhnya aku melihat diriku memeras anggur,” dan “Sesungguhnya aku melihat diriku membawa roti di atas kepalaku yang dimakan burung.” Begitu pula dengan ucapan raja ketika menggambarkan detail mimpinya: “Sesungguhnya aku melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh ekor yang kurus, dan tujuh tangkai gandum hijau dan yang lainnya kering.”
Di sini, kita harus berhenti sejenak merenungi susunan bahasa yang mengagumkan. Kata “mimpi” sering kali muncul dalam surat ini, namun selalu diekspresikan dengan kata kerja bentuk mudhari’. Seringkali pula dalam Al-Qur’an, kata kerja bentuk sekarang digunakan untuk menceritakan kejadian yang telah lalu. Sebagai contoh, dalam ayat: “Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu salah satu dari dua golongan bahwa itu untuk kalian,” (QS. Al-Anfal: 7) dan: “Ketika rasa kantuk menimpamu sebagai ketenangan dari-Nya.” (QS. Al-Anfal: 11)
Padahal semua peristiwa yang disebut itu telah terjadi di masa lalu. Namun, Al-Qur’an memilih bentuk kata kerja sekarang karena beberapa alasan: kadang untuk menunjukkan kesinambungan atau berkelanjutan, dan kadang pula untuk menghadirkan gambaran masa lalu secara hidup dan nyata agar lebih berkesan dalam jiwa. Inilah yang kita temukan dalam kisah ini.
Demikian pula, kisah ini menggunakan kata-kata dengan irama yang tenang dan bunyi yang lembut pada situasi-situasi yang memang memerlukan ketenangan, seperti dalam keadaan harapan, kesedihan, atau seruan kepada Allah. Sebaliknya, digunakan kata-kata yang kuat dan nyaring untuk menggambarkan situasi ketegangan, krisis, dan luapan emosi. Misalnya, ketika saudara-saudara Yusuf memohon dengan sangat, terdengar dalam kata-kata mereka ungkapan lembut seperti: “Sesungguhnya ia mempunyai seorang ayah yang sudah lanjut usia, maka ambillah salah seorang dari kami sebagai gantinya. Sesungguhnya kami melihatmu termasuk orang-orang yang berbuat baik.”
Begitu juga tampak luapan emosi dalam ayat: “Wahai Tuan, sesungguhnya kami dan keluarga kami ditimpa kesengsaraan dan kami datang dengan barang dagangan yang sedikit nilainya, maka penuhilah takaran untuk kami dan bersedekahlah kepada kami.” Mereka kini datang kepada Yusuf dengan jiwa yang tunduk dan hina, yang ditunjukkan dengan seruan penuh kerendahan: “Wahai Tuan!” dan pengakuan mereka: “Kami dan keluarga kami telah tertimpa kesengsaraan.” Dan tanda paling jelas dari keterpurukan mereka adalah bahwa mereka membawa barang dagangan yang sangat rendah nilainya, dan mereka mengharapkan dua hal:
Pertama: mereka meminta agar diberi takaran secara penuh.
Kedua: mereka memohon agar diberi sedekah.
Dalam permintaan ini tersirat harapan agar saudara mereka dilepaskan dan dapat kembali bersama mereka kepada ayahnya. Mereka menutup ucapan mereka dengan doa ini untuk membangkitkan dalam diri Yusuf perasaan yang tersembunyi agar ia mengabulkan permohonan mereka. Permohonan itu berbunyi: “Maka penuhilah takaran untuk kami dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.”
Ungkapan-ungkapan dan kata-kata ini mampu menghancurkan hati yang paling keras sekalipun. “Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang dagangan yang sangat sedikit nilainya.”
Mereka datang membawa barang dagangan yang tidak berharga. Mengapa? Karena kondisi ekonomi mereka sangat sempit dan kebutuhan mereka sangat mendesak. Perhatikan pula ucapan mereka: “Bersedekahlah kepada kami.” Padahal mereka adalah keturunan seorang nabi mulia, yang biasanya memberi, bukan meminta. Ini menandakan bahwa keadaan mereka telah mencapai titik kesulitan yang luar biasa.
Benar, semua kata-kata ini membangkitkan dalam jiwa sebuah perasaan sedih dan pilu, mengguncang hati dan menggoyahkan batin. Ya, Yusuf tak kuasa menahan diri, kata-kata mereka menggetarkan jiwanya dan membangkitkan kenangan masa lalu, hingga ia pun mengungkapkan kebenaran yang selama ini tersembunyi: “Apakah kalian mengetahui apa yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian masih dalam keadaan jahil?”
Mereka pun berkata, “Apakah benar engkau Yusuf?”
Ia menjawab, “Aku adalah Yusuf, dan ini saudaraku. Allah telah memberikan karunia kepada kami. Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
Pertanyaan dan penegasan yang terdapat di awal ayat tersebut menunjukkan makna psikologis yang begitu dalam di dalam tabiat manusia. Kalimat itu menggambarkan dengan indah sebuah situasi manusiawi yang nyata dalam keadaan semacam ini: “Apakah benar engkau Yusuf?” Mereka memanggil kembali bayangan seseorang yang telah berlalu dua puluh tahun silam, namun mereka masih tertegun, bingung antara ragu dan yakin. Setiap pembaca pasti bisa membayangkan situasi semacam ini ketika ia bertemu seseorang secara tiba-tiba setelah bertahun-tahun berpisah.
Ayat ini menjelaskan pengaruh penekanan dan nada suara dalam mengungkapkan rasa takjub yang dikandungnya. Ia juga menunjukkan pengaruh hubungan tata bahasa dalam susunan kata-katanya untuk menyampaikan makna yang dimaksud, serta kejujuran dalam pemilihan kata kerja, huruf, dan kata ganti yang membentuk ayat itu atau bagian awalnya. Semua ini menunjukkan peran konteks dalam menjelaskan makna dalam Al-Qur’an.
Ketika Yusuf berdoa dan bermunajat kepada Tuhannya, terdengarlah seruan penuh syukur: “Tuhanku, Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan mengajarkanku sebagian takwil mimpi. Pencipta langit dan bumi, Engkau pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku bersama orang-orang saleh.”
Adapun ucapan Yusuf dalam menggambarkan saudara-saudaranya setelah mereka menuduhnya dengan dusta, mengandung ungkapan yang sangat keras: “Kalian lebih buruk kedudukannya.” Demikian pula perkataan istri al-Aziz dalam kondisi tegangnya, seperti ucapannya: “Sungguh dia akan dipenjara dan menjadi termasuk orang-orang yang hina.” Seolah-olah setiap bentuk tekanan diucapkan dengan penekanan pada pelafalan huruf-hurufnya. Maka ada dua bentuk hukuman: pertama adalah penjara, dan kedua adalah kehinaan. Jika kita membaca ayat tersebut, kita akan menemukan bahwa kedua hukuman tersebut ditegaskan dengan dua huruf nun, namun hukuman pertama ditegaskan dengan nun yang berat [لَيُسْجَنَنَّ] (nun taukid tsaqilah), sedangkan hukuman kedua ditegaskan dengan nun yang ringan [وَلَيَكُونًۭا] (nun taukid khafifah).
Jika kita kembali melihat kedua kata kerja tersebut, maka yang ditegaskan dengan nun yang berat adalah “penjara”, karena itu adalah hal yang mudah baginya (istri al-Aziz). Tambahkan pula bahwa orang-orang merasa terganggu dengan penjara, oleh karena itu ia menegaskannya dengan nun yang berat. Adapun hukuman kedua yaitu kehinaan dan kerendahan, maka ia tidak mampu melakukannya, dan tidak akan mampu melakukannya. Maha Suci Allah, dia mampu memenjarakannya, namun tidak mampu menghinakannya dan merendahkannya. Mengapa? Karena dia mencintainya, dan seorang yang mencintai tidak sanggup merendahkan orang yang dicintainya.
Dan termasuk hal yang indah dari firman Allah: “Demikianlah Kami palingkan darinya kejahatan dan kekejian,” yaitu bahwa kejahatan dan kekejian itu dijauhkan darinya, bukan dia yang dijauhkan dari keduanya. Maknanya adalah bahwa Allah menjauhkan segala bentuk kejahatan dan kekejian dari orang-orang yang ikhlas kepada-Nya, sehingga mereka tidak melakukan maksiat. Ayat ini mengandung petunjuk yang jelas bahwa Yusuf adalah seorang yang suci, bersih, lurus, dan tidak pernah melakukan maksiat tersebut, karena para nabi terjaga dari maksiat semacam itu.
۞ ۞ ۞ ۞
42. Kisah Nabi Yusuf (Kajian Sastra)
Penulis : Dr. Barakat Muhammad Ahmad
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







