بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah yang telah mengkhususkan bulan Ramadhan dengan keutamaan, dan menjadikannya musim besar untuk rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, sebaik-baik orang yang berpuasa dan beribadah malam. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jalannya hingga hari kiamat.
Adapun setelah itu:
Ini adalah “Renungan Ramadhan,” di mana saya telah mengumpulkan lima belas renungan beragam, yang membahas sejumlah hukum dan adab yang berkaitan dengan puasa dan qiyam (shalat malam), di samping makna-makna keimanan dan pendidikan yang membantu muslim untuk memanfaatkan bulan yang diberkahi ini. Saya menjaga agar tulisan ini ringkas dan jelas; agar mudah dipahami dan mudah diakses, yang dapat dipetik buahnya oleh:
Pendidik dengan murid-muridnya…
Ayah dengan keluarganya…
Imam masjid dengan jamaahnya…
Khatib Jumat dengan para pendengarnya…
Sehingga menjadi bekal yang bermanfaat bagi semua orang yang ingin menjalani Ramadhan dengan semangat yang baru dan keimanan yang bersinar.
Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar menjadikan karya ini murni untuk wajah-Nya yang mulia, bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, diberkahi dalam pengaruhnya, dan agar dituliskan dalam timbangan kebaikan. Semoga Allah melimpahkan rahmat, kesejahteraan, dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan semua sahabatnya.
RENUNGAN PERTAMA
Menyambut Ramadhan
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan semoga shalawat serta salam terlimpahkan kepada Nabi yang amanah, keluarganya, dan seluruh sahabatnya. Adapun setelah itu:
Ini adalah renungan singkat berjudul: “Menyambut Ramadhan”.
Jika setiap hari yang dijalani seorang mukmin adalah keuntungan, maka bagaimana dengan orang yang menjumpai Ramadhan, sebaik-baik bulan!!
Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata: “Demi Allah, seandainya dikatakan kepada penghuni kubur: ‘Berharaplah!’, niscaya mereka akan berharap satu hari dari Ramadhan”[[1]].
Di antara hal-hal baik untuk menyambut Ramadhan adalah:
PERTAMA: NIAT YANG BAIK DAN TEKAD YANG JUJUR.
Yaitu dengan berniat dan bertekad untuk melakukan ketaatan, serta memanfaatkan hari-hari dan malam-malamnya. Oleh karena itu, Imam Ahmad berwasiat kepada putranya Abdullah dengan berkata: “Wahai anakku: Niatkanlah kebaikan, karena engkau akan senantiasa dalam kebaikan selama engkau berniat baik”[[2]].
Kapan saja engkau berniat baik namun terhalang dari melakukannya—seperti kematian, sakit, tidak mampu, sibuk, atau semacamnya—Allah akan mencatat bagimu pahala niatmu dan memberimu ganjaran atasnya, meskipun engkau belum melaksanakannya.
Telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Jika seorang hamba sakit atau bepergian, dicatat baginya seperti apa yang biasa ia kerjakan ketika mukim dan sehat”[[3]].
Dan shahih juga dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa berniat melakukan kebaikan lalu tidak melaksanakannya, dicatat baginya satu kebaikan. Dan barangsiapa berniat melakukan kebaikan lalu melaksanakannya, dicatat baginya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat”[[4]].
Dan ini adalah bagian dari rahmat Allah Ta’ala kepada umat ini.
Jadi maksudnya adalah seorang hamba hendaknya berniat kebaikan di bulan ini dan memohon pertolongan kepada Allah.
KEDUA: MENYIAPKAN HATI.
Hal ini dilakukan dengan dua hal:
Yang pertama: Taubat dan memperbanyak istighfar.
Karena dosa-dosa membuat hati menjadi berat dan melemahkan perjalanannya menuju Allah. Ketika seorang hamba bertaubat dengan taubat yang jujur dan memperbanyak istighfar, hatinya akan siap dan jiwanya akan menerima ketaatan.
“Pembersihan sebelum penghiasan”. Maksudnya, engkau membersihkan jiwa dari dosa-dosa dan aib-aib, kemudian menghiasinya dengan ketaatan.
Yang kedua: Memaafkan orang lain dan membersihkan hati.
Ramadhan adalah bulan maaf dan ampunan, kesempatan untuk memaafkan dan membiarkan. Bagaimana engkau berharap Allah memaafkanmu sedangkan engkau tidak memaafkan orang lain?
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?” [An-Nur: 22].
“Dan jika kamu memaafkan, bersikap lapang dada dan mengampuni, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [At-Taghabun: 14].
“Tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya dari Allah.” [Asy-Syura: 40].
KETIGA: DOA, DOA.
Yaitu dengan berdoa agar Allah Ta’ala menolongmu dalam berpuasa, melakukan qiyam (shalat malam), dan amalan-amalan shalih. Karena engkau tidak akan sampai kepada Allah kecuali dengan pertolongan Allah, dan engkau tidak akan dapat beribadah kepada-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya: “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” [Al-Fatihah: 5].
Jika tidak ada pertolongan dari Allah bagi seorang pemuda,
Maka hal pertama yang merugikannya adalah usahanya sendiri.
Dan jika pertolongan Allah sampai kepada hamba,
Setiap hal akan datang membantunya.
Maka perbanyaklah doa dengan menyadari kefakiranmu dan kebutuhanmu akan pertolongan Allah, dan bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada perubahan dari kemaksiatan dan tidak ada kekuatan untuk ketaatan kecuali dengan Allah. Tidak ada daya untuk berkomitmen dalam ketaatan dan mewujudkan keberuntungan kecuali dengan Allah.
KEEMPAT: MEMBERSIHKAN RUMAH DARI SALURAN-SALURAN KERUSAKAN.
Ramadhan adalah bulan taubat dan menghadap kepada Allah, maka tidak pantas bagi seseorang berpuasa di siang hari kemudian berbuka dengan tontonan rendahan yang melemahkan imannya. Allah menginginkan taubat bagi kita, sementara setan dan para pendukungnya berusaha untuk menyesatkan kita, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedangkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya menginginkan agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” [An-Nisa: 27].
Sungguh merugi seseorang yang mati dalam keadaan menipu keluarganya, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah untuk mengurus rakyat, lalu dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya.” [[5]]
Di antara bentuk penipuan terhadap rakyat (keluarga) adalah memasukkan saluran-saluran ini ke dalam rumah, karena mengandung kerusakan, kekejian, promosi keburukan, dan penyimpangan akidah. Maka hendaklah setiap orang yang bertanggung jawab atas keluarganya bertakwa kepada Allah dan bersungguh-sungguh menjaga agama dan akhlak mereka.
Mari kita mulai Ramadhan dengan membersihkan rumah-rumah kita dari saluran-saluran yang merusak, dan mari kita isi dengan dzikir kepada Allah dan Al-Qur’an, sehingga puasa kita menjadi puasa dari segala yang melemahkan iman, bukan hanya dari makanan dan minuman saja.
Kami memohon kepada Allah Jalla Jalaluhu (Yang Maha Agung keagungan-Nya) agar memberkahi kami di bulan Ramadhan, menolong kami untuk taat kepada-Nya, menjadikan kami termasuk orang-orang yang berpuasa dan melakukan qiyam karena iman dan mengharap pahala, serta termasuk orang-orang yang diberi taufik untuk melakukan qiyam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala. Dan semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KEDUA
Kabar Gembira Ramadhan
Segala puji bagi Allah dan cukuplah dengan-Nya, dan semoga shalawat serta salam terlimpahkan kepada Nabi pilihan, kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya. Adapun setelah itu:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan puasa kepada kalian pada bulan ini. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan yang durhaka dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia telah dihalangi.” [[6]]
Memberi kabar gembira tentang kedatangan Ramadhan adalah salah satu sunnah para rasul. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada para sahabatnya tentang kedatangan bulan yang agung ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang mulia. Ramadhan adalah bulan yang agung yang tidak mengetahui keutamaannya kecuali orang-orang shalih yang berusaha untuk kebaikan. Ia adalah musim yang agung untuk pengampunan dan penghapusan dosa, serta kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam hadits tersebut terdapat beberapa kabar gembira agung dengan datangnya bulan Ramadhan:
Pertama: Bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah.
Makna “berkah” adalah banyak kebaikan dan keberkahan, di dalamnya turun rahmat-rahmat, dilipatgandakan kebaikan-kebaikan, dan Allah mempersiapkan sebab-sebab pengampunan dan penerimaan bagi hamba-hamba-Nya. Maka ia adalah kesempatan mulia untuk naik ke tingkatan-tingkatan keimanan.
Kedua: Pintu-pintu surga dibuka di dalamnya.
Ini adalah kabar gembira yang agung yang menunjukkan luasnya rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya di bulan ini, di mana Dia memudahkan jalan-jalan ketaatan bagi mereka, dan menjadikan surga siap dan siaga untuk menyambut orang-orang yang beruntung dengan ketaatan dan ibadah. Ini menunjukkan keagungan musim keimanan ini.
Ketiga: Pintu-pintu neraka ditutup di dalamnya.
Ini adalah bukti bahwa sebab-sebab kebinasaan dan kemaksiatan berkurang di bulan ini, dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala meringankan dorongan-dorongan keburukan dari hamba-hamba-Nya. Sehingga jalan menuju hidayah menjadi lebih mudah bagi siapa yang ingin selamat dan beruntung mendapatkan ridha Allah.
Keempat: Para setan dibelenggu di dalamnya.
Artinya: mereka dirantai dan diikat, sehingga mereka tidak memiliki kekuasaan atas para hamba seperti di bulan-bulan lainnya. Ini menjadikan kesempatan untuk menghadap kepada Allah dan mengalahkan hawa nafsu lebih besar. Meskipun demikian, pertarungan dengan jiwa yang memerintahkan kepada keburukan tetap ada, yang mewajibkan seorang mukmin untuk berjuang melawan dirinya sendiri untuk memanfaatkan kesempatan ini.
Kelima: Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Yaitu malam Lailatul Qadr yang Allah jadikan ibadah di dalamnya lebih baik dari ibadah lebih dari delapan puluh tiga tahun. Barangsiapa diberi taufik untuk melakukan qiyam pada malam tersebut karena iman dan mengharap pahala, maka sungguh ia telah mendapatkan kebaikan yang sangat besar yang tidak ada bandingannya.
Allah Ta’ala berfirman: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” [Surat Al-Qadr: 3]. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dan karena malam Lailatul Qadr ibadah di dalamnya setara dengan ibadah seribu bulan, telah tetap dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa melakukan qiyam pada malam Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.'” [[7]]
Semua kabar gembira ini menjadikan Ramadhan sebagai musim yang tiada bandingannya. Dan termasuk rahmat Allah adalah Dia memberikan kita kesempatan baru setiap tahun untuk mendekat kepada-Nya dan membangun kembali hubungan kita dengan-Nya.
Sesungguhnya waktu-waktu Ramadhan adalah di antara musim-musim kehidupan, dan orang yang berbahagia adalah yang mengambil bekal di dalamnya. Malam diisi dengan shalat dan doa, siang diisi dengan puasa, membaca Al-Qur’an, sedekah, silaturahmi, menuntut ilmu, dan amal utama.
Para salafus shalih dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik sangat memperhatikan bulan Ramadhan dan bergembira dengan kedatangannya. Mereka berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan, kemudian berdoa agar Allah menerima amal mereka.
Mereka berpuasa di siang harinya dan menjaga puasa mereka dari hal-hal yang membatalkannya atau mengurangi pahalanya seperti perkataan yang sia-sia, permainan, ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dan dusta. Mereka menghidupkan malam-malamnya dengan qiyam (shalat malam) dan membaca Al-Qur’an.
Mereka memperhatikan orang-orang fakir dan miskin dengan bersedekah, berbuat baik, memberi makan, dan berbuka puasa bersama orang-orang yang berpuasa.
Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik. Ya Allah, berilah kami taufik untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai, dan janganlah Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri sekejap mata pun.
Dan semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KETIGA
Hukum Puasa
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya semua kebaikan menjadi sempurna, dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada sebaik-baik makhluk, dan selanjutnya:
Puasa adalah menahan diri, dengan niat beribadah, dari makan dan minum, serta semua hal yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Puasa merupakan salah satu rukun Islam dan fondasinya yang agung. Allah telah mewajibkannya dalam kitab-Nya dengan berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…” [Al-Baqarah: 183-185].
Dan dalam hadits dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.”[[8]]
Puasa Ramadhan wajib bagi setiap muslim yang mukallaf (baligh dan berakal), baik laki-laki maupun perempuan. Ijma’ (konsensus) tentang kewajiban puasa telah dinukil oleh Ibnu Qudamah, An-Nawawi, dan Ibnu Taimiyah[[9]]. Barangsiapa yang meninggalkan puasa Ramadhan dengan mengingkari kewajibannya, maka ia kafir. Ijma’ tentang hal ini telah dinukil oleh Al-Kasani yang berkata: “Adapun ijma’, maka sesungguhnya umat telah bersepakat atas kewajiban bulan Ramadhan, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang kafir.” [[10]]
Adapun orang yang meninggalkannya karena malas, maka ia telah melakukan dosa besar, dan ia wajib mengqadha’nya. Ini merupakan kesepakatan empat mazhab fikih. [[11]]
Mereka yang Tidak Wajib Berpuasa:
Imam Ibnu Baz (semoga Allah merahmatinya) menyebutkan bahwa orang-orang yang tidak wajib berpuasa adalah:
- Orang gila
- Anak laki-laki dan perempuan sebelum baligh
- Wanita haid dan nifas, namun mereka wajib mengqadha (mengganti)
- Orang sakit dan musafir (orang yang bepergian) diperbolehkan untuk berpuasa atau berbuka, tetapi berbuka lebih utama, dan mereka wajib mengqadha jika tidak berpuasa pada hari-hari Ramadhan; berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.” [Surah Al-Baqarah: ayat 185].
- Orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya menurut kesaksian para dokter, orang tua yang sudah sangat tua, dan wanita lanjut usia yang lemah: mereka tidak diwajibkan berpuasa dan tidak pula mengqadha, tetapi mereka wajib memberi makan seorang miskin untuk setiap hari (setengah sha’ dari makanan pokok negeri, yaitu: sekitar satu setengah kilogram). Diperbolehkan membayar fidyah untuk semua hari sekaligus pada awal bulan atau akhirnya, atau di pertengahan bulan kepada satu orang fakir atau lebih.
- Wanita hamil dan menyusui: jika berpuasa memberatkan mereka, mereka boleh berbuka dan wajib mengqadha seperti orang sakit. [[12]]
Ya Allah, ajarilah kami apa yang bermanfaat bagi kami, bermanfaatlah kepada kami dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah kepada kami ilmu, amal, dan petunjuk, wahai Tuhan semesta alam.
Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KEEMPAT
(Manfaat Puasa Ramadhan)
Segala puji bagi Allah yang senantiasa memberikan keutamaan dan karunia. Shalawat dan salam kepada Nabi kita yang telah Dia pilih, keluarga, sahabat, dan pengikutnya. Selanjutnya:
Puasa memiliki banyak manfaat, di antaranya:
Pertama: Mewujudkan Ketakwaan.
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [Al-Baqarah: ayat 183]. Puasa adalah sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
Kedua: Keikhlasan kepada Allah.
Puasa adalah ibadah tersembunyi antara hamba dan Tuhannya, yang membantu mewujudkan keikhlasan dan kejujuran dalam beramal.
Ketiga: Melindungi Jiwa dari Dosa dan Bahayanya.
Telah sah dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: “Allah berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa; sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, dan puasa itu adalah perisai.” [[13]]
Dalam hadits lain: Nabi ﷺ bersabda: “Puasa adalah perisai dari api neraka seperti perisai salah seorang dari kalian dalam peperangan.” [[14]]
Puasa adalah perlindungan dan benteng kokoh dari kemaksiatan dan dosa di dunia, serta dari api neraka di akhirat.
Keempat: Pengampunan Dosa.
Telah sah dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [[15]]
Makna “dengan iman” yaitu: beriman kepada Allah, dan makna “mengharap pahala” yaitu: mengharapkan pahala.
Kelima: Melatih Jiwa untuk Bersabar.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Di antara jenis kesabaran yang paling utama adalah puasa, karena puasa menghimpun ketiga jenis kesabaran. Puasa adalah kesabaran dalam ketaatan kepada Allah, kesabaran dalam menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, karena seorang hamba meninggalkan keinginannya karena Allah ‘Azza wa Jalla meskipun jiwanya mungkin cenderung kepadanya. Oleh karena itu dalam hadits shahih: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Sesungguhnya dia telah meninggalkan syahwatnya, makanan dan minumannya karena Aku.” [[16]]
Dan di dalamnya juga terdapat kesabaran terhadap takdir yang menyakitkan berupa apa yang mungkin dialami oleh orang yang berpuasa seperti rasa lapar dan haus.” [[17]]
Keenam: Puasa membantu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.
Hal ini karena puasa melemahkan syahwat, menguatkan kemauan, dan meningkatkan pengawasan Allah dalam hati.
Nabi ﷺ bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah, maka menikahlah, karena itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu baginya adalah pengekang.” [[18]]
Puasa melindungi manusia dari fitnah dan membantunya untuk menjaga kesucian dan kehormatan diri.
Ketujuh: Menyucikan jiwa dan membersihkannya dari akhlak yang buruk.
Di antaranya adalah: kemarahan, permusuhan, kebohongan, perkataan dusta, dan melakukannya.
Seorang mukmin yang berpuasa mematuhi perintah Nabi ﷺ yang bersabda: “Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan bertindak bodoh. Jika ada yang mencelanya atau memeranginya, maka hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang sedang berpuasa’.”[[19]]
Dan juga sabdanya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukannya, maka Allah tidak butuh terhadap ditinggalkannya makanan dan minumannya.” [[20]]
Dan mengikuti Nabi yang mulia ﷺ yang “adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.” [[21]]
Puasa membuat manusia merasakan kelemahannya dan kebutuhannya kepada Allah, serta mengingatkannya akan kebutuhan saudara-saudaranya yang fakir, yang mengajarkannya kerendahan hati, rasa syukur dan berbuat baik.
Kedelapan: Doa orang yang berpuasa dikabulkan.
Hal ini karena orang yang berpuasa hatinya terasa patah (tunduk), dan telah disebutkan dalam hadits shahih, sabda Nabi: “Tiga orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doa orang yang dizalimi.” [[22]]
Kesembilan: Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan yang ia rasakan.
Telah sah dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan yang ia rasakan: ketika berbuka ia gembira, dan ketika bertemu dengan Tuhannya ia gembira dengan puasanya.” [[23]]
Orang yang berpuasa merasa gembira ketika berbuka puasa karena hilangnya rasa lapar dan haus, atau karena telah menyelesaikan ibadahnya. Dan ia merasa gembira ketika bertemu dengan Tuhannya karena diterimanya puasanya dan mendapatkan balasan yang besar.
Kami memohon kepada Allah agar mengajarkan kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan memberi manfaat dengan apa yang telah Dia ajarkan kepada kami, serta menambah ilmu, amal, petunjuk dan keberuntungan bagi kami.
Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KELIMA
Berbagai Masalah dalam Puasa
Segala puji bagi Allah, dan semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada sebaik-baik makhluk Allah, dan kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya. Selanjutnya:
Berikut ini beberapa masalah dan hukum dalam puasa:
Pertama: Bagaimana hukum memerintahkan anak kecil yang sudah tamyiz (dapat membedakan yang baik dan buruk) untuk berpuasa?
Jawaban: Imam Ibnu Baz rahimahullah menyebutkan bahwa anak laki-laki dan perempuan diperintahkan untuk berpuasa sejak usia tujuh tahun agar mereka terbiasa, dan para wali mereka harus membimbing mereka seperti dalam shalat. Ketika mereka mencapai usia baligh, puasa menjadi wajib bagi mereka. Jika seseorang mencapai usia baligh di tengah hari, puasanya sah, sehingga awalnya sebagai sunnah dan akhirnya sebagai kewajiban. Baligh terjadi dengan sempurnanya usia lima belas tahun, atau tumbuhnya rambut kemaluan, atau keluarnya mani karena syahwat, dan untuk anak perempuan ditambah hal keempat yaitu haid [[24]].
Kedua: Apa hukumnya bagi orang yang melihat seorang muslim minum atau makan pada siang hari di bulan Ramadhan?
Jawaban: Imam Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Barangsiapa melihat seorang muslim berbuka di siang hari bulan Ramadhan, baik karena lupa atau sengaja, wajib mengingkarinya; karena menampakkan hal tersebut adalah kemungkaran, agar orang-orang tidak menganggapnya remeh. Dan barangsiapa berbuka karena lupa, maka tidak ada kewajiban mengqadha baginya, berdasarkan sabda Nabi: ‘Barangsiapa lupa ketika sedang berpuasa lalu makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.'” [[25]] [[26]]
Ketiga: Apa hukumnya bagi orang yang sengaja berbuka satu hari tanpa alasan syar’i di bulan Ramadhan?
Jawaban: Jika seseorang sengaja berbuka dengan berhubungan badan dengan istrinya, maka ia wajib mengqadha dan membayar kafarat serta bertaubat kepada Allah Ta’ala. Kafaratnya adalah: memerdekakan budak mukmin, jika tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin. Dan bagi wanita juga seperti itu jika dia tidak dipaksa. Jika berbuka dengan makan, minum, dan semisalnya, maka ia wajib mengqadha dan bertaubat tanpa kafarat. [[27]]
Keempat: Apa hukum penggunaan suntikan pada siang hari bagi orang yang berpuasa?
Jawaban: Diperbolehkan menggunakan suntikan non-nutrisi, yaitu yang tidak menggantikan makanan dan minuman. Adapun suntikan nutrisi, yaitu yang dapat menggantikan makanan dan minuman bagi seorang muslim, maka tidak boleh digunakan selama siang hari. [[28]]
Kelima: Apa hukumnya bagi orang yang bermimpi basah (ihtilam) ketika berpuasa?
Jawaban: Barangsiapa mengalami mimpi basah ketika berpuasa, maka tidak ada dosa dan kafarat baginya, dan tidak berpengaruh pada puasanya. Ia wajib mandi janabah jika telah mengeluarkan mani. [[29]]
Keenam: Apa hukum puasa bagi orang yang masuk waktu fajar dalam keadaan junub?
Jawaban: Barangsiapa masuk waktu fajar dalam keadaan junub, maka hendaklah ia berpuasa dan mandi untuk shalat. Demikian pula wanita yang telah suci dari haid atau nifas sebelum fajar, maka hendaklah ia berpuasa dan mandi untuk shalat. [[30]]
Ketujuh: Apa hukumnya bagi orang yang melakukan masturbasi di siang hari bulan Ramadhan?
Jawaban: Masturbasi adalah haram dan membatalkan puasa. Wajib mengqadha hari dimana ia melakukan masturbasi tersebut disertai dengan bertaubat kepada Allah Ta’ala.
Kedelapan: Hukum pasta gigi dan tetes mata, telinga, dan hidung.
Jawaban: Imam Ibnu Baz rahimahullah berkata: Membersihkan gigi dengan pasta gigi tidak membatalkan puasa, tetapi wajib berhati-hati agar tidak tertelan. Jika ada yang tidak sengaja tertelan maka tidak wajib mengqadha. Tetes mata dan telinga juga tidak membatalkan puasa, dan jika rasanya terasa di tenggorokan maka mengqadha lebih berhati-hati namun tidak wajib. Adapun tetes hidung tidak diperbolehkan bagi orang yang berpuasa; karena hidung adalah jalan masuk, maka barangsiapa merasakan rasanya di tenggorokannya wajib mengqadha, berdasarkan hadits Nabi SAW: “Berlebih-lebihanlah dalam istinsyaq (memasukkan air ke hidung) kecuali jika engkau sedang berpuasa.” [[31]] [[32]]
Ya Allah, jadikanlah kami paham dalam agama, dan jadikanlah kami beribadah kepada-Mu dengan cara yang Engkau ridhai, wahai Tuhan semesta alam.
Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KEENAM
Qiyam Ramadhan
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang yang zalim. Shalawat dan salam atas Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan seluruh sahabatnya. Selanjutnya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [[33]]
Hadits ini merupakan dalil tentang keutamaan qiyam Ramadhan, yang merupakan salah satu amalan terbesar yang menyebabkan pengampunan dosa. Ini menunjukkan besarnya keutamaan shalat tarawih, dan bahwa ia adalah sebab mendapatkan rahmat dan ampunan, dengan syarat orang yang melakukannya beriman kepada Allah, yakin dengan janji-Nya, mengharap pahala-Nya, ikhlas niatnya untuk-Nya, jauh dari riya dan tujuan-tujuan duniawi.
Nabi ﷺ mendorong para sahabat untuk melakukan qiyam Ramadhan tanpa mewajibkannya kepada mereka, untuk membuat mereka tertarik pada kebaikan yang besar ini. Beliau ﷺ bersabda: “Barangsiapa melakukan qiyam bersama imam sampai ia selesai, Allah mencatatkan baginya qiyam satu malam penuh.”[[34]]
Ini menunjukkan pentingnya konsisten dalam melaksanakan shalat tarawih bersama imam sampai selesai, dan tidak meremehkan penyempurnaannya, baik itu sebelas rakaat atau lebih.
Ini adalah malam-malam yang terbatas dan hari-hari yang diberkahi, yang dimanfaatkan oleh orang yang berakal sebelum berakhir. Maka hendaklah seorang muslim bersungguh-sungguh dalam memanfaatkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan harapan termasuk di antara orang-orang yang beruntung mendapatkan ampunan dan rahmat.
Ya Allah, bimbinglah kami menuju petunjuk-Mu, dan jadikanlah amal kami dalam keridhaan-Mu. Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KETUJUH
(Ramadhan dan Al-Qur’an)
Segala puji bagi Allah yang telah mengutus penutup para rasul-Nya, dan menurunkan kepada beliau kitab-Nya yang paling utama. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Dia Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Allah mengutus beliau dengan petunjuk dan agama yang benar, yang dengannya Dia membuka hati dan mata. Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada beliau, keluarganya, dan semua sahabatnya. Selanjutnya:
Allah Ta’ala berfirman: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” [Al-Baqarah: 185]
As-Sa’di rahimahullah berkata: Firman Allah Ta’ala: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an”, yakni: bulan Ramadhan yang agung, yang di dalamnya Allah telah memberikan keutamaan yang besar kepada kalian, yaitu Al-Qur’an yang mulia, yang mencakup petunjuk untuk kemaslahatan agama dan dunia kalian, penjelasan kebenaran dengan penjelasan yang paling jelas, dan pembeda antara yang hak dan yang batil, petunjuk dan kesesatan, serta antara orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.” [[35]]
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Oleh karena itu, hendaknya orang yang berpuasa memperbanyak membacanya pada hari-hari yang mulia ini dan malam-malam yang terhormat ini, dengan memanfaatkan kemuliaan waktu di mana firman Ar-Rahman diturunkan.
Al-Qur’an memiliki banyak keutamaan dan keberkahan. Siapa yang menghadapkan dirinya kepada Al-Qur’an, maka kebaikan akan datang kepadanya dan keberkahan akan menghampirinya.
DI ANTARA KEUTAMAAN AL-QUR’AN BAGI PEMBACANYA:
Pertama: Banyaknya pahala.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim’ itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” [[36]]
Satu kali khatam (membaca seluruh Al-Qur’an) mengandung lebih dari tiga juta kebaikan. Orang yang beruntung adalah orang yang diberi taufik oleh Allah, dan orang yang merugi adalah orang yang terhalangi.
Kedua: Meraih surga.
Al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada pembacanya yang mengamalkannya, sehingga ia masuk surga. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi para pembacanya.”[[37]]
Ketiga: Naik tingkat di surga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: Bacalah dan naiklah, serta tartilkanlah sebagaimana engkau mentartilkannya di dunia, karena kedudukanmu berada pada ayat terakhir yang engkau baca.” [[38]]
Keempat: Bersama para malaikat.
Telah shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an dan dia menghafalnya, ia bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti.” [[39]]
Kelima: Kemuliaan dari Allah bagi dirinya dan kedua orang tuanya.
Telah diriwayatkan dalam hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka pada hari kiamat ia akan dipakaikan mahkota dari cahaya yang sinarnya seperti sinar matahari, dan kedua orang tuanya akan dipakaikan dua pakaian yang tidak dapat dinilai dengan dunia. Keduanya akan bertanya: ‘Mengapa kami dipakaikan ini?’ Maka akan dikatakan: ‘Karena anakmu telah mengambil (mempelajari) Al-Qur’an.'” [[40]]
Betapa bahagianya ahli Qur’an, dan betapa beruntungnya orang yang hidup bersama Al-Qur’an. Maka jadikanlah Ramadhan sebagai titik awal bagimu bersama Al-Qur’an, dan janganlah engkau termasuk orang yang hanya mengenal Al-Qur’an di bulan Ramadhan saja.
Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, penghilang kesedihan kami, dan pelenyap kegelisahan kami.
Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KEDELAPAN
(Ramadhan dan Kedermawanan)
Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik, dan diberkahi. Shalawat dan salam kepada Nabi yang mulia, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat, dan setelah itu:
Ramadhan adalah Musim Memberi dan Kedermawanan:
Ramadhan adalah bulan kebaikan dan keberkahan, musim agung dimana makna-makna berbuat baik dan berderma terwujud, dan kesempatan-kesempatan untuk mengulurkan tangan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan menjadi sangat besar. Maka berbahagialah bagi mereka yang memanfaatkan hari-hari dan malam-malamnya dengan bersedekah dan berbuat baik.
Allah Ta’ala berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 261]
Pelipatgandaan ilahi ini terwujud di bulan Ramadhan, dimana pahala-pahala dilipatgandakan dan pintu-pintu kebaikan dibuka lebar-lebar.
Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dan paling murah hati, tetapi beliau mencapai puncak kedermawanan selama Ramadhan sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu: “Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau paling dermawan pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bertemu Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” [[41]]
Kedermawanan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam di Bulan Ramadhan:
Kedermawanan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup semua bentuk pemberian dan derma. Beliau mulia jiwanya, dermawan dalam harta, membagikan ilmu, menolong orang-orang, dan berambisi untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Dalam hadits shahih: “Tidaklah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam diminta sesuatu untuk Islam kecuali beliau memberikannya. Seorang laki-laki datang kepadanya, lalu beliau memberinya kambing yang memenuhi lembah di antara dua gunung. Laki-laki itu kembali kepada kaumnya dan berkata: ‘Wahai kaumku, masuklah Islam, karena sesungguhnya Muhammad memberi seperti pemberian orang yang tidak takut kemiskinan’.” [[42]]
Itu adalah kedermawanan yang tidak terbatas, pemberian yang tidak mengenal keraguan, dan pengutamaan (orang lain) yang mencapai puncak kemuliaan. Maka, tidakkah kita meneladani beliau di bulan kedermawanan dan rahmat ini?
KEUTAMAAN MENGGABUNGKAN PUASA DAN SEDEKAH:
Berkumpulnya puasa dan sedekah di bulan Ramadhan membawa berkah-berkah yang agung dan manfaat-manfaat yang besar, di antaranya:
Pertama: Membantu orang-orang yang berpuasa dan beribadah.
Barangsiapa yang membantu orang yang berpuasa dalam ketaatannya, ia akan mendapatkan pahala yang sama, sebagaimana Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa.” [[43]]
Kedua: Menghapus dosa-dosa.
Sedekah bersama puasa akan menghilangkan dosa-dosa, dan menjadi pelindung dari api neraka. Dalam hadits disebutkan sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dan sedekah itu memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” [[44]]
Ketiga: Menutupi kekurangan puasa.
Karena manusia mungkin terjatuh pada perkataan sia-sia atau buruk selama puasanya, maka sedekah datang untuk menyempurnakan pahalanya. Oleh karena itu, zakat fitrah disyariatkan di akhir Ramadhan sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa.
Keempat: Memasuki surga.
Sebagaimana dalam hadits Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalamnya, dan bagian dalamnya terlihat dari luarnya. Abu Malik Al-Asy’ari bertanya: ‘Untuk siapakah kamar-kamar itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Untuk orang yang bertutur kata yang baik, memberi makan, dan bangun shalat malam ketika orang-orang sedang tidur.'”[[45]]
Penutup… Manfaatkan Ramadhan dengan Bersedekah
Wahai orang yang berpuasa, Ramadhan adalah sekolah untuk berderma dan memberi, mengajakmu untuk menjadi dermawan, menghibur orang-orang fakir, dan menghapus air mata orang-orang yang membutuhkan. Maka ingatlah bahwa harta itu akan lenyap, dan harta simpanan akan musnah, tetapi apa yang ada di sisi Allah akan kekal. Renungkanlah sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” [[46]]
Maka berbahagialah bagi orang yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan kedermawanan dan kemurahan hati, dan meyakini bahwa kebaikan, seluruh kebaikan ada dalam berinfak di jalan Allah. Jadilah di antara orang-orang yang bersegera kepada keutamaan yang agung ini.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu untuk melakukan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuni dan merahmati kami.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KESEMBILAN
Waspadalah Terhadap Para Pencuri Ramadhan
Segala puji bagi Allah semata, dan semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi yang tidak ada nabi setelahnya, dan setelah itu:
Sesungguhnya Allah memiliki hembusan-hembusan rahmat pada hari-hari kehidupanmu, maka berusahalah untuk mendapatkannya. Pada bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, kebaikan-kebaikan dilipatgandakan, dan rahmat-rahmat diturunkan. Maka berbahagialah bagi orang yang memanfaatkan hari-hari dan malam-malamnya, dan celakalah bagi orang yang menyia-nyiakannya dalam kelalaian dan kekurangan.
Tetapi waspadalah! Para pencuri Ramadhan banyak, mereka menyelinap ke dalam hati untuk mencuri pahala para ahli ibadah, dan memalingkan orang-orang yang berpuasa dari ketaatan. Mereka mencuri shalat dengan kelalaian, bacaan Al-Qur’an dengan keburukan, dan khataman dengan hal-hal yang melalaikan. Maka jika Ramadhan bukan bulan taubat dan kembali kepada Allah, lalu kapan lagi?
Para salaf shalih rahimahumullah menghargai Ramadhan dengan sebenarnya. Di antara mereka ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari, ada yang mengkhatamkan setiap tiga hari, dan ada yang mengkhatamkan setiap tujuh hari. Mereka hidup bersama Al-Qur’an dalam puasa dan qiyam mereka, memperlama sujud, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bersegera dalam bersedekah, karena mereka menyadari bahwa Ramadhan adalah musim yang tidak tergantikan, dan kesempatan yang tidak terulang.
Adapun hari ini, para pencuri yang mencuri pahala dari antara tangan kita telah bertambah banyak, di antaranya:
- Pencuri sinetron dan film yang mencuri waktumu, dan membuatmu menghabiskan berjam-jam di depan layar alih-alih berada dalam keindahan Al-Qur’an dan qiyam.
- Pencuri media sosial yang menyibukkanmu dengan pesan, postingan, dan percakapan, hingga kamu menyia-nyiakan berjam-jam tanpa kamu sadari.
- Pencuri pertemanan buruk yang menarikmu ke majelis-majelis kosong dan pembicaraan yang tidak bermanfaat, dan menyibukkanmu dari mengingat Allah. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang berada di atas agama temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikannya teman.” [[47]]
- Pencuri penundaan yang membisikkan kepadamu: “Masih ada banyak waktu, bacalah besok, laksanakan qiyam malam di sepuluh malam terakhir,” hingga bulan ini mengejutkanmu dengan kepergiannya sementara kamu dalam kelalaian.
Ramadhan adalah pasar yang telah dibuka dan akan segera berakhir, dan ia adalah hari-hari yang terhitung, maka bagaimana mungkin orang yang berakal merasa senang dengan menyia-nyiakannya?!
Berapa banyak orang yang berpuasa bersama kita tahun lalu, dan hari ini mereka berada di bawah tanah. Mereka telah pergi dengan amalan-amalan mereka, dan tidak tersisa bagi mereka kecuali apa yang telah mereka kerjakan. Maka bersungguh-sungguhlah agar Ramadhanmu dipenuhi dengan ketaatan, bersinar dengan Al-Qur’an, bercahaya dengan qiyam, penuh dengan doa-doa. Jangan biarkan para pencuri Ramadhan mencuri darimu harta yang besar ini, karena mungkin kamu tidak akan mendapati Ramadhan setelahnya. Maka, akankah kamu termasuk orang-orang yang beruntung atau termasuk orang-orang yang lalai?!
Ya Allah, berilah kami taufik kepada apa yang Engkau cintai dan ridhai. Ya Allah, bantulah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KESEPULUH
Saat-saat Sahur di Bulan Ramadhan
Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran kekuasaan-Nya. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah sebagai pengagungan terhadap urusan-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya yang mengajak kepada keridhaan-Nya, dan setelah itu:
Sesungguhnya saat-saat sahur di bulan Ramadhan bukanlah sekadar waktu yang mendahului fajar, tetapi ia adalah: perhentian iman yang agung, di mana berkumpul padanya keberkahan waktu, kemuliaan bermunajat, dan keagungan turunnya Allah (secara maknawi), yang menjadikannya kesempatan berharga bagi setiap orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
KEAGUNGAN WAKTU SAHUR
Waktu sahur adalah sepertiga terakhir malam, dan itu adalah waktu ibadah yang paling mulia. Allah Ta’ala telah mengkhususkannya dengan keistimewaan-keistimewaan yang agung:
Pertama: Turunnya Allah Ta’ala.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan baginya? Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri? Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni?'” [[48]]
Dan turunnya ini (secara maknawi) adalah bukti kedekatan Allah dengan hamba-hamba-Nya dan rahmat-Nya kepada mereka.
Kedua: Dikabulkannya Doa.
Ia adalah waktu di mana doa-doa dikabulkan dan harapan-harapan terwujud sebagaimana telah disebutkan dalam hadits sebelumnya.
Ketiga: Membantu Jiwa untuk Ikhlas dan Khusyuk.
Di mana ketenangan menyelimuti, kesibukan-kesibukan terputus, sehingga hati menjadi lebih dekat kepada Allah, kosong dari kesibukan-kesibukan duniawi. Maka anggota tubuh menjadi khusyuk, hati menjadi jernih, dan ibadah menjadi lebih jujur dan ikhlas.
Keempat: Qiyamul Lail adalah Sebab Masuk Surga.
Sebagaimana Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika manusia tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” [[49]]
APA YANG HARUS DILAKUKAN PADA SAAT-SAAT SAHUR?
Agar seorang muslim dapat memanfaatkan saat-saat yang agung ini, seharusnya ia memiliki program rohani yang mencakup:
Pertama: Shalat dan Tahajjud.
Ini adalah salah satu pendekatan diri terbesar yang Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melakukannya. Beliau melaksanakan qiyamul lail hingga kakinya bengkak, dan beliau bersabda: “Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat di tengah malam.” [[50]]
Kedua: Doa dan kerendahan hati di hadapan Allah
Hamba pada saat-saat ini lebih dekat kepada Tuhannya, dan lebih membutuhkan rahmat-Nya. Maka hendaklah ia berdoa seperti orang yang terdesak, menyampaikan keluhannya di hadapan-Nya dan meminta kebaikan di dunia dan akhirat.
Ketiga: Istighfar (memohon ampunan)
Sebagaimana Allah menyebutkan dalam menggambarkan orang-orang yang bertakwa: “Dan di waktu sebelum fajar, mereka memohon ampunan,” karena ini adalah waktu yang diberkahi untuk memohon ampunan dari dosa-dosa.
Keempat: Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an pada waktu ini membuat hati menjadi hadir, dan merenungkan ayat-ayat dengan spiritualitas yang tinggi.
Kelima: Dzikir dan tasbih
Di antara dzikir terbaik adalah “al-baqiyat ash-shalihat” (amalan-amalan kebaikan yang kekal): “Subhanallah, wal hamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar” (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar).
Keenam: Makan sahur dengan niat ibadah
Sahur adalah sunnah yang diberkahi, dan itu adalah waktu di mana keberkahan diharapkan sebagaimana Nabi ﷺ bersabda: “Bersahurlah, karena di dalam sahur terdapat keberkahan”. [[51]]
- Pengaruh saat-saat sahur terhadap hati dan kehidupan.
- Memberikan hati ketenangan dan kedamaian, serta menghubungkannya dengan Allah.
- Memberikan manusia kekuatan dalam iman dan keyakinan akan kemampuan Allah untuk mewujudkan harapan-harapan.
- Menjadikan hamba termasuk di antara wali-wali Allah yang Allah firmankan tentang mereka: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir malam mereka memohon ampunan” (Adz-Dzariyat: 15-18).
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu surga dan apa saja berupa perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepada surga. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa saja berupa perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepada neraka.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KESEBELAS
Adab Berbuka Puasa di Bulan Ramadhan
Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan telah menganugerahkan kepada kita dari karunia-Nya yang tidak dapat kita hitung jumlahnya. Setiap nikmat dalam hidup kita sesungguhnya berasal dari pemberian dan kemurahan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan semua sahabatnya. Adapun selanjutnya:
Di antara adab berbuka puasa di bulan Ramadhan:
Pertama: Menyegerakan berbuka
Ini adalah hal yang dianjurkan. Nabi ﷺ bersabda: “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” [[52]]
Kedua: Memulai dengan makanan yang lebih ringan untuk lambung dan lebih cepat diserap seperti kurma basah (ruthab)
Jika tidak tersedia, maka dengan kurma kering (tamr), dan jika tidak ada, maka dengan air. Hal ini untuk menerapkan tahapan yang sehat dalam memasukkan makanan ke dalam lambung setelah berpuasa.
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah ﷺ berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah) sebelum shalat. Jika tidak ada ruthab, maka dengan beberapa tamr (kurma kering), dan jika tidak ada, beliau meneguk beberapa teguk air.” [[53]]
Nabi ﷺ berbuka dengan sesuatu yang sedikit agar tidak menyibukkannya dari shalat.
Oleh karena itu, tidaklah patut berlebihan dalam menyiapkan hidangan besar saat berbuka, karena hal itu bertentangan dengan sunnah dan dapat mengalihkan dari shalat.
Hendaknya orang yang berpuasa tidak menjadikan Ramadhan sebagai musim untuk berlebihan dalam makan, tetapi sebagai kesempatan untuk melatih jiwa agar sederhana dalam makanan. Karena kekenyangan yang berlebihan menyebabkan kemalasan dalam mengerjakan shalat tarawih dan tahajud.
Nabi ﷺ bersabda: “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika harus (makan lebih), maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” [[54]]
Dan barangsiapa yang Allah berikan taufik untuk menahan diri dari kebiasaannya di siang hari saat puasa, maka sebaiknya ia tidak menghancurkan tekadnya ketika berbuka, baik dengan berlebih-lebihan atau kembali kepada kebiasaan buruk. Sebaliknya, ia hendaknya menjadikan Ramadhan sebagai titik awal untuk kebaikan, menghindari majelis-majelis yang buruk, dan berpegang teguh pada persahabatan dengan orang-orang yang saleh.
Ya Allah, jadikanlah puasa dan ibadah kami ikhlas untuk wajah-Mu, berilah kami taufik untuk melakukan ibadah dengan baik, dan bantulah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan menaati-Mu dengan baik.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KEDUA BELAS
Keberkahan Sahur dan Manfaatnya
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan semoga shalawat serta salam terlimpahkan kepada sebaik-baik makhluk.
Adapun selanjutnya:
Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Bersahurlah, karena di dalam sahur terdapat keberkahan.” [[55]]
Hadits yang mulia ini menegaskan keutamaan sahur. Sahur adalah sunnah Nabi yang penuh berkah, mengandung kebaikan yang besar, dan memberikan manfaat duniawi dan ukhrawi bagi orang yang berpuasa. Penyebutan berkah dalam sahur dimaksudkan untuk mendorong dan menganjurkan agar tidak meninggalkannya.
Sahur adalah makanan yang dimakan di akhir malam. Nabi ﷺ menganjurkannya dalam hadits Jabir: “Barangsiapa yang ingin berpuasa, hendaklah ia makan sahur walaupun sedikit.” [[56]]
BERKAH SAHUR DAN MANFAATNYA:
Sahur bukan sekadar makanan, tetapi merupakan ibadah yang mengandung makna-makna agung, di antaranya:
Pertama: Kekuatan untuk Beribadah
Sahur memberikan energi kepada orang yang berpuasa untuk melaksanakan ibadah seperti shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an, serta mengurangi rasa malas yang diakibatkan oleh rasa lapar.
Kedua: Memperbaiki Akhlak
Sahur mengurangi ketegangan dan perilaku buruk yang mungkin timbul karena rasa lapar, sehingga orang yang makan sahur lebih baik suasana hatinya dan lebih baik dalam berinteraksi dengan orang lain.
Ketiga: Mendorong untuk Berpuasa
Sahur meringankan kesulitan puasa, sehingga orang yang berpuasa lebih bersemangat untuk melanjutkan ibadahnya.
Keempat: Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ
Niat untuk mengikuti sunnah menjadikan sahur sebagai ibadah yang mendapat pahala bagi seorang muslim.
Kelima: Menjaga Shalat Subuh
Ketika seseorang bangun untuk sahur, ia dapat mempersiapkan diri untuk shalat Subuh pada waktu yang utama, sehingga ia lebih teratur dalam melaksanakannya.
Keenam: Berbeda dengan Ahli Kitab
Nabi ﷺ bersabda: “Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur” [[57]]. Ini menjadikan sahur sebagai ciri khas puasa umat Islam.
SUNNAH DALAM WAKTU SAHUR:
Dianjurkan untuk menunda sahur hingga mendekati waktu fajar. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Kami makan sahur bersama Rasulullah ﷺ, kemudian beliau berdiri untuk shalat. Anas berkata: Aku bertanya kepada Zaid, ‘Berapa jarak antara adzan dan sahur?’ Ia menjawab, ‘Kira-kira sepanjang membaca lima puluh ayat.'” [[58]].
Ini menunjukkan bahwa waktu sahur berlangsung hingga sesaat sebelum fajar, yang membantu orang yang berpuasa tetap bersemangat dan menjaga shalat Subuhnya. Adapun orang yang makan sahur di tengah malam, ia mungkin kehilangan hikmah dari sahur dan mungkin tertidur hingga melewatkan shalat.
KESEDERHANAAN DALAM SAHUR:
Nabi ﷺ mendorong untuk makan sahur meskipun hanya dengan seteguk air, beliau bersabda: “Sahur adalah makanan yang penuh berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” [[59]]
Beliau juga menganjurkan untuk tidak berlebihan, karena terlalu banyak makan menyebabkan kemalasan dan kelesuan, yang membuat tujuan puasa tidak tercapai. Oleh karena itu, termasuk dalam petunjuk Nabi ﷺ adalah memilih kurma untuk sahur, beliau bersabda: “Sebaik-baik sahur bagi seorang mukmin adalah kurma.” [[60]]
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu segala kebaikan, yang segera maupun yang akan datang, yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui. Dan kami berlindung kepada-Mu dari segala keburukan, yang segera maupun yang akan datang, yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KETIGA BELAS
Memanfaatkan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan dan Lailatul Qadar
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi yang terpercaya, kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:
Sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah malam-malam terbaik dari bulan yang mulia ini. Nabi ﷺ bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah di malam-malam tersebut melebihi kesungguhan beliau di malam-malam lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dengan cara yang tidak pernah beliau lakukan pada waktu lainnya.” [[61]]
Di antara bentuk kesungguhan ini adalah bahwa beliau melakukan i’tikaf pada malam-malam tersebut dan mencari Lailatul Qadar, sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata: “Beliau melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga Allah mewafatkannya, kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelahnya.” [[62]]
Termasuk petunjuk Nabi ﷺ adalah ketika memasuki sepuluh hari terakhir, beliau mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya (dengan ibadah), dan membangunkan keluarganya, sebagaimana Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Nabi ﷺ apabila memasuki sepuluh hari terakhir, beliau mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” [[63]]
“Mengencangkan kain sarungnya”: Ada yang mengatakan bahwa ini adalah kiasan untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah, ada juga yang mengatakan bahwa ini ungkapan tentang menjauhi istri-istrinya pada malam-malam yang penuh berkah ini.
“Menghidupkan Malam”: Artinya beliau menghabiskan sebagian besar malam dengan shalat, dzikir, dan ibadah.
“Membangunkan Keluarganya”: Artinya beliau sangat peduli agar keluarganya ikut serta dalam nikmat-nikmat keimanan ini, dengan semangat untuk meraih pahala dan keutamaan.
Perbuatan-perbuatan Nabi ini menunjukkan sejauh mana kesungguhan beliau ﷺ dalam memanfaatkan waktu-waktu utama dan bergegas dalam ketaatan. Inilah yang seharusnya diteladani oleh seorang muslim, agar tidak menyia-nyiakan jam-jam pada malam-malam yang penuh berkah ini, karena dia tidak tahu apakah akan mendapatinya lagi atau tidak. Kematian pasti akan datang, dan penyesalan tidak akan berguna setelah kesempatan berlalu.
LAILATUL QADAR DAN KEUTAMAANNYA
Di antara keutamaan terbesar dari sepuluh hari terakhir ini adalah adanya Lailatul Qadar, malam yang dikhususkan oleh Allah dengan keistimewaan yang luar biasa. Allah berfirman: “Ha Mim. Demi Kitab yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan dari sisi Kami. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasul sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” [Ad-Dukhan: 1-6]
Telah shahih dari para salaf, seperti Ibnu Abbas, Qatadah, Mujahid, dan lainnya, bahwa malam yang diberkahi tempat diturunkannya Al-Qur’an adalah Lailatul Qadar.
MAKNA-MAKNA LAILATUL QADAR:
Pertama: Penetapan (At-Taqdir)
Karena Allah menetapkan takdir makhluk-Nya untuk tahun yang akan datang. Pada malam itu, ditulis ajal manusia, rezeki mereka, dan peristiwa-peristiwa tahun itu atas perintah Allah, sebagaimana firman-Nya: “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” [Ad-Dukhan: 4].
Kedua: Pengagungan (At-Ta’zhim)
Ini adalah malam yang memiliki kedudukan yang agung. Barangsiapa yang menghidupkannya dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, ia akan mendapatkan ampunan yang besar, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Barangsiapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [[64]]
Ketiga: Kepadatan (At-Tadhyiq)
Yaitu malam di mana bumi menjadi penuh sesak dengan para malaikat karena banyaknya mereka.
KEUTAMAAN MENGHIDUPKAN LAILATUL QADAR
Sesungguhnya Lailatul Qadar adalah kesempatan besar untuk pengampunan dosa dan pelipatgandaan pahala. Ini adalah malam di mana pintu-pintu rahmat dibuka dan takdir para hamba ditetapkan. Nabi ﷺ menjanjikan kepada orang yang menghidupkannya dengan penuh keimanan dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya bersungguh-sungguh dalam mencarinya dan mendekatkan diri kepada Allah pada malam itu dengan shalat, dzikir, dan doa.
Yang menambah keutamaan dan keagungannya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentangnya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr).” [Al-Qadr: 1].
Ini berarti bahwa ibadah pada malam tersebut setara dengan ibadah selama lebih dari delapan puluh tiga tahun dan empat bulan – usia yang panjang yang mungkin tidak dicapai oleh manusia. Namun demikian, Allah memberikan kepada hamba-Nya kesempatan untuk mendapatkan pahala tersebut dalam satu malam saja! Sungguh kesempatan yang luar biasa dan pemberian yang sangat mulia.
Bagaimana Cara Mendapatkan Lailatul Qadar?
Seseorang dapat mendapatkan Lailatul Qadar dengan bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil, dengan memperbanyak shalat, qiyam (shalat malam), membaca Al-Qur’an, berdoa, dan beristighfar. Dianjurkan untuk banyak mengulang doa yang diriwayatkan: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku).
Seorang muslim hendaknya bersungguh-sungguh untuk melaksanakan shalat bersama imam sampai selesai agar dicatat baginya qiyam satu malam penuh, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya: “Barangsiapa yang melaksanakan shalat bersama imam hingga ia selesai, akan dicatat baginya qiyam satu malam penuh.” [[65]]
Dan seorang wanita di rumahnya hendaknya bersungguh-sungguh dalam shalat, qiyam, dzikir kepada Allah, berdoa, dan semua bentuk ketaatan yang dia mampu, agar malam yang agung ini dicatat untuknya.
Kita memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepada kita Lailatul Qadar, menjadikan kita termasuk orang-orang yang diterima pada malam itu, membantu kita untuk bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan mencatat bagi kita pembebasan dari neraka.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
RENUNGAN KEEMPAT BELAS
Sunnah I’tikaf
Segala puji bagi Allah yang paling berhak untuk disebut, dan paling berhak untuk disembah, serta shalawat dan salam kepada Nabi-Nya, Muhammad. Amma ba’du:
LEGALITAS I’TIKAF DAN HUKUMNYA:
Pertama: Legalitas I’tikaf
I’tikaf adalah ibadah yang disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ (konsensus ulama):
-Dalam Al-Qur’an Al-Karim:
- Allah Ta’ala berfirman: “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, orang yang i’tikaf, orang yang ruku’, dan orang yang sujud.'” [Al-Baqarah: 125]
- Dan Allah berfirman: “Dan janganlah kamu menggauli mereka, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” [Al-Baqarah: 187]
-Dalam Sunnah Nabi:
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi ﷺ: “Melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga Allah ‘Azza wa Jalla mewafatkannya, kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelahnya.” [[66]]
-Ijma’ Ulama:
Tidak sedikit ulama yang telah menukil ijma’ tentang disyariatkannya i’tikaf, di antaranya Imam Nawawi, Ibnu Qudamah, dan Ibnu Taimiyah [[67]].
Imam Ibnu Baz berkata: “Tidak diragukan bahwa i’tikaf di masjid adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah, dan melakukannya di bulan Ramadhan lebih utama daripada di waktu lainnya, dan i’tikaf disyariatkan baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.” [[68]]
Kedua: Hukum I’tikaf
Pada dasarnya, i’tikaf adalah sunnah yang dianjurkan, bukan wajib, kecuali jika seseorang bernadzar untuk melakukannya, maka saat itu menjadi wajib, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, maka hendaklah ia menaati-Nya, dan barangsiapa bernadzar untuk bermaksiat kepada-Nya, maka janganlah ia bermaksiat kepada-Nya.” [[69]]
Dalil tentang kewajiban memenuhi nadzar adalah hadits Umar radhiyallahu ‘anhu, di mana ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah bernadzar pada masa jahiliyah untuk beri’tikaf satu malam di Masjidil Haram.” Beliau bersabda: “Penuhilah nadzarmu.” [[70]]
Ya Allah, terimalah puasa kami, qiyam kami, dan doa kami, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang dibebaskan dari neraka, wahai Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad.
RENUNGAN KELIMABELAS
Perpisahan Ramadhan.. Pelajaran dan Hikmah
Segala puji bagi Allah yang telah mewajibkan puasa kepada hamba-hamba-Nya, dan menjadikannya sebagai salah satu rukun Islam. Kami memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya.
Perpisahan Ramadhan.. Perasaan dan Kekhusyukan
Ramadhan yang kita sambut beberapa waktu lalu, kini hampir berakhir, menimbulkan kesedihan perpisahan dan kekhawatiran akan perpisahan dalam hati. Apakah kita mengucapkan selamat tinggal dengan kelesuan dan kemalasan? Atau kita mengakhirinya dengan sungguh-sungguh dan doa, seperti yang dilakukan oleh orang-orang saleh, yang menggabungkan antara kesempurnaan amal dan ketakutan akan tidak diterimanya amal tersebut? Allah berfirman: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” [Al-Mu’minun: 60]
Kerugian Besar bagi Mereka yang Meremehkan Ramadhan
Sesungguhnya orang yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan telah mengalami kerugian yang nyata; sebagaimana dalam hadits Jibril, ketika dia berkata kepada Nabi ﷺ: “Celakalah orang yang memasuki bulan Ramadhan kemudian bulan itu berlalu sebelum dia mendapatkan ampunan.” [[71]]
Bagaimana Kita Mengucapkan Selamat Tinggal pada Ramadhan?
Di antara hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan untuk mengakhiri bulan Ramadhan yang diberkahi adalah:
Pertama: Istighfar (Memohon Ampunan)
Ini adalah penutup terbaik untuk semua amal saleh. Sebagaimana istighfar menjadi penutup shalat, haji, dan qiyamul lail, dan menjadi penutup majelis—jika majelis itu baik, maka istighfar menambah keberkahannya, dan jika di dalamnya ada ucapan yang sia-sia, maka istighfar menjadi penebus dosanya—demikian pula, istighfar seharusnya menjadi penutup terbaik puasa kita di bulan Ramadhan. Istighfar adalah tanda diterimanya amal, sarana untuk memperbaiki kekurangan, dan jalan menuju ampunan dari Yang Maha Pengasih.
Kedua: Memohon Surga dan Berlindung dari Neraka
Nabi ﷺ menganjurkan untuk berdoa dengan dua hal yang agung ini, sebagaimana dalam hadits seorang lelaki yang ditanya oleh Nabi SAW: “Apa yang engkau ucapkan dalam shalat?” Dia menjawab: “Aku bertasyahud dan berkata: ‘Ya Allah, aku memohon surga kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka.’ Sesungguhnya aku tidak pandai dalam dendangan (doa) sepertimu dan seperti Mu’adz.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Seputar itulah kami berdendang (berdoa).” [[72]]
Ketiga: Takbir dan Syukur
Allah memerintahkan untuk mengagungkan dan mensyukuri-Nya setelah menyempurnakan bilangan puasa. Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Surat Al-Baqarah: 185]
Penutup
Wahai orang-orang yang berpuasa, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perpisahan dengan bulan kalian ini, karena amal dinilai dari penghujungnya. Sisa hari-hari Ramadhan adalah harta yang sangat berharga, maka isilah dengan amal saleh yang akan menjadi saksi bagi kalian pada hari kiamat, hari dimana harta dan anak-anak tidak bermanfaat kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
Ya Allah, akhirilah bulan Ramadhan ini bagi kami dengan keridhaan-Mu dan pembebasan dari neraka-Mu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam kepada Nabi kita Muhammad.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
Alhamdulillah, selesai terjemahan.
28 Sya’ban 1446H – 27 Februari 2025.
Beku, Kliwonan, Masaran, Sragen, Jawa Tengah.
[[2]] Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih (1/104).
[[3]] Diriwayatkan oleh Bukhari (2996).
[[4]] Diriwayatkan oleh Muslim (130).
[[5]] Muttafaq ‘alaih (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
[[6]] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (2105), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i (1992).
[[7]] Tafsir Ibnu Katsir (8/444).
[[8]] Muttafaq ‘alaih (disepakati oleh Bukhari dan Muslim).
[[9]] Lihat: Al-Mughni (3/104), Al-Majmu’ (6/252), Majmu’ Al-Fatawa (25/116).
[[10]] Bada’i As-Sana’i (2/75).
[[11]] Lihat: Tabyin Al-Haqa’iq oleh Az-Zaila’i (1/327), Al-Kafi oleh Ibnu ‘Abd Al-Barr (1/335), Al-Majmu’ oleh An-Nawawi (6/328), Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah (3/130).
[[12]] Lihat: Kumpulan Fatwa dan Makalah Beragam oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz (15/175-176).
[[13]] Muttafaq ‘alaih (disepakati oleh Bukhari dan Muslim).
[[14]] Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (1336).
[[17]] Jami’ al-‘Ulum wal-Hikam (2/26).
[[20]] Diriwayatkan oleh Bukhari (1903).
[[22]] Diriwayatkan oleh Tirmidzi (2525), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Tirmidzi (2050).
[[24]] Lihat: Kumpulan Fatwa dan Artikel Beragam Syaikh Abdul Aziz bin Baz (15/180).
[[26]] Lihat: Kumpulan Fatwa dan Artikel Beragam Syaikh Abdul Aziz bin Baz (15/265).
[[27]] Fatwa Lajnah Daimah (10/355).
[[28]] Fatwa Lajnah Daimah (10/252).
[[29]] Fatwa Lajnah Daimah (10/274).
[[30]] Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah (4/391-393).
[[31]] Shahih Abu Dawud (2366).
[[32]] Lihat: Fatwa Lajnah Daimah (15/261).
[[34]] Diriwayatkan oleh an-Nasa’i (1605) dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih an-Nasa’i (1604).
[[35]] Tafsir As-Sa’di (hal: 86).
[[36]] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2910) dan dishahihkan oleh al-Albani.
[[38]] Shahih Abu Dawud (1464).
[[39]] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4937) dan Muslim (798).
[[40]] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (2116) dan ia berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Muslim, namun keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.”
[[41]] Muttafaq ‘alaih [Disepakati oleh Bukhari dan Muslim].
[[42]] Diriwayatkan oleh Muslim (2321).
[[43]] Diriwayatkan oleh Tirmidzi (807) dan ia berkata hadits ini hasan shahih.
[[44]] Diriwayatkan oleh Tirmidzi (2616) dan dishahihkan oleh Al-Albani.
[[45]] Diriwayatkan oleh Ahmad (6651), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (270), dan ia berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim,” dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (2123).
[[46]] Diriwayatkan oleh Muslim (2588).
[[47]] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4833), dan dihasankan oleh Al-Albani.
[[48]] Muttafaq ‘alaih [Disepakati oleh Bukhari dan Muslim].
[[49]] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2648) dan dishahihkan oleh Al-Albani.
[[50]] Diriwayatkan oleh Muslim (1163).
[[51]] Muttafaq ‘alaih (Disepakati oleh Bukhari dan Muslim).
[[53]] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (2356) dan disahihkan oleh Al-Albani.
[[54]] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2380) dan disahihkan oleh Al-Albani.
[[55]] Muttafaq ‘alaih (Disepakati oleh Bukhari dan Muslim).
[[56]] Diriwayatkan oleh Ahmad (14950) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (6005).
[[57]] Diriwayatkan oleh Muslim (1096).
[[58]] Muttafaq ‘alaih (Disepakati oleh Bukhari dan Muslim).
[[59]] Diriwayatkan oleh Ahmad (11086) dan disahihkan sanadnya oleh Syuaib Al-Arnauth.
[[60]] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (2345) dan disahihkan oleh Al-Albani.
[[61]] Diriwayatkan oleh Muslim (1175).
[[62]] Muttafaq ‘alaih (Disepakati oleh Bukhari dan Muslim).
[[63]] Muttafaq ‘alaih (Disepakati oleh Bukhari dan Muslim).
[[64]] Muttafaq ‘alaih (Disepakati oleh Bukhari dan Muslim).
[[65]] Diriwayatkan oleh Tirmidzi (806) dan disahihkan oleh Al-Albani.
[[66]] Muttafaq ‘alaih (Disepakati oleh Bukhari dan Muslim).
[[67]] Lihat: Al-Majmu’ (6/404), Al-Mughni (4/456), Syarh Al-‘Umdah (2/711).
[[68]] Majmu’ Al-Fatawa (15/437).
[[69]] Diriwayatkan oleh Bukhari (6696).
[[70]] Diriwayatkan oleh Bukhari (6697).
[[71]] Diriwayatkan oleh Tirmidzi (3545) dan dishahihkan oleh Al-Albani.
[[72]] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (792) dan dishahihkan oleh Al-Albani.
Penulis : Abdul Rahmad bin Muhammad Asiri
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







