Beberapa Hukum Dalam Bersesuci (Thahara) Bag. 1
๐ค Air Itu Suci dan Menyucikan, Tidak Dinajisi oleh Sesuatu. Sebagaimana dalam sebuah hadits yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
ุณูุฃููู ุฑูุฌููู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ูุณูู ููููุงูู: ููุง ุฑูุณูููู ุงูููููู ุฅููููุง ููุฑูููุจู ุงููุจูุญูุฑู ููููู ูููุฃู ุงููููููููู ู ููู ุงููู ูุงุกู ููุฅููู ุชูููุถููุฃูููุง ู ููููู ุนูุทูุดูููุงุ ุฃูููููุชูููุถููุฃู ู ููู ู ูุงุกู ุงููุจูุญูุฑูุ ููููุงูู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู: ยซูููู ุงูุทูููููุฑู ู ูุงุคููู ุงููุญูููู ู ูููุชูุชูููยป
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Wahai Rasulullah, kami mengarungi lautan dan kami hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, kami akan kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Air laut itu suci dan menyucikan, bangkainya halal (dimakan).” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
๐ค Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
ููููู ููุง ุฑูุณูููู ุงูููููู ุฃูููุชูููุถููุฃู ู ููู ุจูุฆูุฑู ุจูุถูุงุนูุฉู – ูููููู ุจูุฆูุฑู ููููููู ูููููุง ุงููุญูููุถู ููุงูุซูููููุฉู ููุฃูุญูู ูุงู ู ุงููููููุงุจู – ููููุงูู: ยซุงููู ูุงุกู ุทููููุฑู ููุง ููููุฌููุณููู ุดูููุกูยป
Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami berwudhu dari sumur Budha’ah? – yaitu sumur yang biasa dibuang ke dalamnya kain bekas haid, janin yang keguguran, dan bangkai anjing -“. Beliau menjawab: “Air itu suci dan menyucikan, tidak dinajisi oleh sesuatu pun.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
๐ก *Penjelasan:*
Air pada asalnya adalah suci pada dzatnya dan menyucikan untuk selainnya, meskipun berubah (warnanya) karena sesuatu yang suci. Air dapat menolak najis dari dirinya sendiri. Air tidak keluar dari sifat ini kecuali jika jatuh ke dalamnya suatu najis yang mempengaruhinya sehingga mengubah rasa, bau, atau warnanya. Maka sejak itu air menjadi najis dan tidak boleh digunakan untuk bersuci.
๐ *Faedah-Faedah:*
- Bahwa hukum asal air adalah suci, meskipun najis jatuh ke dalamnya, selama tidak mengubah rasa, warna, atau baunya.
- Kesucian air laut dan kebolehan bersuci dengannya.
Beberapa Hukum Dalam Bersesuci [Thaharah] Bag. 2
๐ฐ *Macam-macam Najis dan Cara Menghilangkannya:*
๐ค Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ยซุฅูุฐูุง ููุทูุฆู ุฃูุญูุฏูููู ู ุจูููุนููููู ุงููุฃูุฐูู ููุฅูููู ุงูุชููุฑูุงุจู ูููู ุทููููุฑูยป
_”Jika salah seorang dari kalian menginjak kotoran dengan sandalnya, maka tanah adalah pensucinya.”_ (HR. Abu Dawud)
๐ค Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
ยซุฌูุงุกู ุฃูุนูุฑูุงุจูููู ููุจูุงูู ููู ุทูุงุฆูููุฉู ุงููู ูุณูุฌูุฏูุ ููุฒูุฌูุฑููู ุงููููุงุณูุ ููููููุงููู ู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู. ููููู ููุง ููุถูู ุจููููููู ุฃูู ูุฑู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ุจูุฐููููุจู ู ููู ู ูุงุกู ููุฃูููุฑูููู ุนูููููููยป
_”Seorang Arab badui datang lalu kencing di salah satu sudut masjid. Orang-orang pun memarahinya, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mereka. Setelah orang itu selesai kencing, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar diambilkan seember air lalu disiramkan di atasnya.”_ (Muttafaqun ‘alaih)
๐ค Dari Abu As-Samh radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ยซููุบูุณููู ู ููู ุจููููู ุงููุฌูุงุฑูููุฉู (ุฃููู ุงููุจูููุชู ุงูุตููุบููุฑูุฉู) ููููุฑูุดูู ู ููู ุจููููู ุงููุบูููุงู ูยป
_”Kencing anak perempuan kecil harus dicuci, sedangkan kencing anak laki-laki kecil cukup diperciki (dengan air).”_ (HR. Abu Dawud)
๐ค Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ยซุทููููุฑู ุฅูููุงุกู ุฃูุญูุฏูููู ู ุฅูุฐูุง ููููุบู ููููู ุงููููููุจู ุฃููู ููุบูุณููู ุณูุจูุนู ู ูุฑููุงุชู ุฃููููุงููููู ุจูุงูุชููุฑูุงุจูยป ููููู ููููุธู: ยซููููุฑููยป.
_”Cara menyucikan bejana salah seorang dari kalian jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, yang pertama (dicampur) dengan tanah.”_ (HR. Muslim). Dalam lafaz lain: _”Tuanglah (isinya).”_
๐ค Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
ยซููููุชู ุฑูุฌูููุง ู ูุฐููุงุกู ููุงุณูุชูุญูููููุชู ุฃููู ุฃูุณูุฃููู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููู ูููุงูู ุงุจูููุชููู ู ูููููุ ููุฃูู ูุฑูุชู ุงููู ูููุฏูุงุฏู ุงุจู ุงูุฃุณูุฏ ูุณุฃูู: ููุงู: ุงุบุณู ุฐูุฑู ูุชูุถุฃยป
“Aku adalah seorang laki-laki yang sering keluar madzi. Aku malu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena kedudukan putri beliau (Fatimah) padaku. Lalu aku menyuruh Al-Miqdad bin Al-Aswad kemudia dia bertanya kepada Rasulullah. Kemudia beliau bersabda: Cuci kemaluanmu dan berwudhu lah”
๐ก *Penjelasan:*
Penetapan najisnya sebagian benda oleh syariat bisa jadi karena bahayanya, kotorannya, atau hikmah-hikmah lain yang diketahui Allah. Menghilangkan najis adalah syarat sahnya shalat. Para ulama telah mengumpulkannya dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyebutkannya beserta dalil-dalilnya agar seorang muslim berhati-hati darinya.
๐ *Faedah-Faedah:*
- Kenajisan kencing dan kotoran manusia.
- Bahwa prinsip utama dalam menghilangkan najis adalah dengan air, dan untuk mensucikan sandal yang terkena najis cukup dengan menggosokkannya ke tanah.
- Bentuk keringanan (syariat) dalam menyikapi kencing anak laki-laki kecil yang belum makan makanan (hanya minum ASI), di mana cukup diperciki air tanpa perlu dicuci.
- Kenajisan sisa jilatan anjing, dan wajibnya mencuci bejana yang dijilatnya sebanyak tujuh kali, yang pertama dicampur dengan tanah.
- Kenajisan mani, namun cukup mensucikannya dengan diperciki air.
Penulis : Muh. Rujib Abdullah







