Setelah Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga dan turun ke bumi, Hawa melahirkan beberapa keturunan bagi Adam. Sebelum memulai kisah ini, ada beberapa hal yang perlu disepakati:
- Pertama: Jumlah keturunan tidak disebutkan secara pasti dalam Al-Qur’an maupun sunah.
- Kedua: Tempat turunnya Adam dan Hawa, apakah di India, Mekah, atau Arafah, juga tidak disebutkan dalam kitab maupun sunah.
- Ketiga: Nama-nama anak Adam seperti Qabil dan Habil tidak tercantum dalam Al-Qur’an atau sunah, melainkan berasal dari cerita Bani Israil.
Ketika Hawa melahirkan beberapa keturunan, sebagian berpendapat dua puluh keturunan, sedangkan yang lain mengatakan seratus dua puluh .Awalnya, perkawinan terjadi antara laki-laki dari keturunan pertama dengan perempuan dari keturunan kedua, dan sebaliknya, kemudian hal itu dihapuskan.
Suatu waktu, terjadi perselisihan antara dua saudara—kami menyebut nama mereka hanya untuk mempermudah: Qabil dan Habil. Keduanya mempersembahkan kurban, tetapi hanya kurban Habil yang diterima, sedangkan Qabil tidak.
Kisah ini akan kami sampaikan berdasarkan sumber yang paling otentik, yaitu Kitabullah. Kisah Qabil dan Habil tidak disebutkan dalam hadits sama sekali. Dan disebutkan di dalam Al-Quran hanya dalam satu tempat, yaitu Surah Al-Maidah, yang akan kami sebutkan di akhir kisah ini.
Terjadi perselisihan antara dua saudara. Mereka mempersembahkan kurban, tetapi hanya kurban Habil yang diterima, sedangkan Qabil tidak. Hal ini menimbulkan rasa dengki dan iri dalam hati Qabil terhadap Habil. Setan membisikkan kepada Qabil:
{ ۞ وَٱتۡلُ عَلَیۡهِمۡ نَبَأَ ٱبۡنَیۡ ءَادَمَ بِٱلۡحَقِّ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانࣰا فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ یُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡـَٔاخَرِ قَالَ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ قَالَ إِنَّمَا یَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِینَ }
Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam,ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” [Surat Al-Ma’idah: 27]
Habil terkejut, bagaimana mungkin saudaranya berpikir untuk membunuhnya? Ia pun menasihati Qabil:
“Wahai Qabil, sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa. Tinggalkan niatmu dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia akan menerima kurban dan amalmu.”
Namun, dengki dan kebencian telah membutakan hati Qabil, sehingga ia tetap bersikeras untuk membunuh.
Habil berusaha memberikan nasehat kedua kalinya kepada Qobil dan berkata:
{ لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقۡتُلَنِي مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٖ يَدِيَ إِلَيۡكَ لِأَقۡتُلَكَۖ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ }
“Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” [Surat Al-Ma’idah: 28]
Ia mengingatkan Qabil terkait dengan ikatan persaudaraan dan nasab bahwa perbuatan ini tidaklah mungkin terjadi antara saudara terlebih lagi pembunuhan adalah perbuatan yang sangat buruk dan tidak pantas. Akan tetapi Qobil tetap melakukan karna dibutakan oleh hasad.
Habil kembali melanjutkan nasihatnya yang ketiga dengan mengingatkan Qabil tentang akhirat, dosa dan neraka:
{ إِنِّیۤ أُرِیدُ أَن تَبُوۤأَ بِإِثۡمِی وَإِثۡمِكَ فَتَكُونَ مِنۡ أَصۡحَـٰبِ ٱلنَّارِۚ وَذَ ٰلِكَ جَزَ ٰۤؤُا۟ ٱلظَّـٰلِمِینَ }
“Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zalim. [Surat Al-Ma’idah: 29]
“Wahai Qabil, jika kamu melakukan perbuatan keji ini, maka kamu akan menanggung dosa pembunuhanku dan dosa-dosamu yang telah kamu lakukan, dan kamu akan menjadi penghuni neraka.”
Namun, Qabil tidak mendengarkan nasihat-nasihat itu:
{ فَطَوَّعَتۡ لَهُۥ نَفۡسُهُۥ قَتۡلَ أَخِیهِ فَقَتَلَهُۥ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ }
Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi. [Surat Al-Ma’idah: 30]
Qabil pun akhirnya membunuh saudaranya, tetapi hatinya tetap keras. Ia meninggalkan mayat Habil tergeletak di tanah, rentan dimangsa binatang buas. Kekerasan hati ini disebabkan oleh dengki dan kebencian. Namun, Allah tidak melupakan hamba-Nya yang saleh lagi bertakwa. Dia mengutus seekor burung gagak untuk menggali tanah dan menguburkan mayat Habil.
Qabil menyaksikan burung gagak itu dan berkata dalam penyesalan:
{ قَالَ یَـٰوَیۡلَتَىٰۤ أَعَجَزۡتُ أَنۡ أَكُونَ مِثۡلَ هَـٰذَا ٱلۡغُرَابِ فَأُوَ ٰرِیَ سَوۡءَةَ أَخِیۖ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلنَّـٰدِمِینَ }
Qabil berkata, “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal. [Surat Al-Ma’idah: 31]
Ia menyesa, tetapi tidak ada bukti bahwa ia bertobat.
Setiap orang yang melakukan kesalahan akan menyesal, tetapi penyesalan saja tidak cukup. Ia perlu bertobat. Setiap orang yang melakukan kejahatan akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya hingga Hari Kiamat.
Setiap orang yang melakukan kesalahan pasti akan menyesal, namun penyesalan saja tidak cukup, melainkan ia membutuhkan taubat. Dan setiap orang yang memulai suatu kebiasaan buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengikuti kebiasaan itu hingga hari kiamat. Oleh karena itu, setiap pembunuh — sebagaimana disabdakan Nabi صلى الله عليه و سلم— akan memikul dosanya dan juga dosa pembunuhan pertama dalam sejarah manusia, yaitu Qabil.
Inilah dampak dari dengki dan kebencian. Berapa banyak saudara yang membunuh saudaranya karena dengki? Berapa banyak teman yang membunuh temannya karena dengki? Berapa banyak kerabat yang membunuh keluarganya karena dengki?
Kita memohon kepada Allah keteguhan dalam kebenaran.
Sumber: “Kisah-Kisah yang Dikukuhkan oleh Sejarah” – Hisham bin Abdullah Al-Hawsari Hal. 7-9
📝 Faidah-faidah dari Kisah Qabil dan Habil
Bahaya Hasad (Dengki) dan Iri Hati: Kisah ini menjadi peringatan keras akan bahaya laten hasad dan iri hati yang dapat membutakan akal dan mendorong pada kejahatan keji, bahkan pembunuhan.
Pentingnya Ketakwaan dalam Amalan: Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa. Ini menekankan bahwa diterimanya ibadah bukan hanya soal bentuk, tetapi juga ketulusan niat dan ketakwaan hati.
Menolak Kekerasan dan Menjauhi Dosa: Habil menunjukkan sikap terpuji dengan menolak membalas kekerasan Qabil, serta mengingatkannya akan konsekuensi dosa di akhirat dan pentingnya menghindari pertumpahan darah.
Konsekuensi Berat dari Kezaliman: Qabil menjadi orang yang merugi setelah perbuatannya. Setiap kezaliman dan dosa pasti akan membawa penyesalan dan azab, baik di dunia maupun akhirat.
Penyesalan Tidak Cukup Tanpa Tobat: Qabil menyesali perbuatannya, tetapi kisah ini mengajarkan bahwa penyesalan saja tidak cukup tanpa diikuti dengan tobat yang tulus dan perubahan diri.
Dampak Berantai dari Kebiasaan Buruk: Seseorang yang memulai kebiasaan buruk akan menanggung dosa atas setiap orang yang mengikutinya. Ini menekankan pentingnya menjadi teladan yang baik dan menghindari perbuatan negatif.
Pentingnya Nasihat dan Peringatan Akhirat: Habil berulang kali menasihati Qabil, termasuk mengingatkannya tentang neraka. Ini menunjukkan pentingnya saling menasihati dalam kebaikan dan mengingatkan akan hari perhitungan.
Keteguhan Iman dalam Menghadapi Ancaman: Habil tetap teguh dalam imannya dan berani mengatakan kebenaran meskipun diancam, menunjukkan ketabahan hati seorang mukmin yang takut kepada Allah.
Diterjemahkan dan dicatat faedah oleh: Muh. Rujib Abdullah
Penulis : Muh. Rujib Abdullah







