HADITS SAHL BIN SA’AD
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ:
جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ:
1. « يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ،
2. وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ،
3. وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ،
4. وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ،
5. وَعِزَّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ »
Dari Sahl bin Sa’ad, dia berkata:
“Malaikat Jibril mendatangi Nabi sholallahu ’alaihi wa sallam lalu berkata:
1. ‘Wahai Muhammad, hiduplah sekehendakmu, sesungguhnya engkau akan mati.
2. Berbuatlah sekehendakmu, sesungguhnya engkau akan diberi balasan.
3. Cintailah orang yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau akan meninggalkannya.
4. Ketahuilah! bahwa kemuliaan seorang mukmin itu adalah shalat malam.
5. Dan ‘izzah (kemuliaan, kekuatan)-nya, adalah merasa cukup dari manusia.”
(HR. Thobroni di dalam Mu’jamul Ausath, no. 4278; Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Auliya’ 3/253; A-Qudhoi di dalam Musnad Asy-Syihab, no. 746; Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, no. 10058; dll.
Dari jalur lain, diriwayatkan oleh: HR. Al-Hakim di dalam Al-Mustadrok, no. 7921.
Dari jalur lain lagi diriwayatkan oleh: Ibnul Jauzi di dalam Al-‘Ilal al-Munanahiyah, 2/403, no. 1481. Beliau menghukuminya sebagai hadits palsu. Namun hal ini dibantah oleh para ulama lain, sebab hadits ini memiliki jalur-jalur lain.
Lihat Silsilah ash-Shohihah, no. 831 dan 1903)
SAHABAT-SAHABAT LAIN YANG MERIWAYATKAN
Selain dari Sahl bin Sa’ad, hadits ini juga diriwayatkan dari sahabat-sahabat lain, yaitu:
1. HADITS IBNU ABBAS;
Dengan matan (isi hadits) yang sama (5 perkara).
(HR. ‘Asakir di dalam Mu’jam-nya, no. 619; namun Ibrohim bin Al-Hakam lemah)
2. HADITS ALI BIN ABI THOLIB
Dengan matan yang lebih ringkas (3 perkara awal).
(HR. Thobroni di dalam Mu’jamul Ausath, no. 4845; dan Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Auliya’ 3/202).
3. HADITS JABIR BIN ABDILLAH
Dengan matan yang lebih ringkas (3 perkara awal).
(HR. Abu Dawud Thoyalisi di dalam Musnad, 3/313, no. 1862; dan Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, no. 10057; namun sanadnya lemah)
4. HADITS ABU HUROIROH
Dengan matan yang lebih ringkas (2 perkara akhir).
(HR. Al-‘Uqoiliy di dalam Adhu’afaul Kabir, 2/37, no. 464; Ibnul Jauziy di dalam Al-Maudhu’at, 2/107; namun sanadnya sangat lemah)
5. HADITS ANAS
HR. Ibnul Jauziy di dalam Al-‘Ilal al-Munanahiyah, 2/403-404, no. 1481.
DERAJAT HADITS
Semua sanad di atas lemah, tetapi sebagiannya lemahnya ringan, maka beberapa jalur periwayatan itu bisa saling menguatkan, sehingga hadits ini paling tidak berderajat hasan lighoirihi.
Sehingga sebagian ulama yang menghukumi hadits ini lemah atau palsu, dia telah keliru, kemungkinan karena belum mendapati semua jalur hadits ini dan penguatnya, wallohu a’lam.
Ulama Ahli Hadits yang menguatkan hadits ini antara:
1. Al-Hakim, wafat th. 405 H, di dalam Al-Mustadrok, no. 7921.
2. Adz-Dzahabi, wafat th. 748 H, di dalam komentar Al-Mustadrok, no. 7921.
3. Al-Mundziri, wafat th. 656 H, di dalam At-Targhib wa Tarhib, no. 929.
4. Zainuddin Al-‘Iroqi, wafat th. 806 H, sebagaimana disebutkan di dalam Tanziihus Syari’ah al-Marfu’ah, 2/105-106.
5. Al-Hafizh Al-Haitsami, wafat th. 807 H, di dalam Majma’uz Zawaid, no. 17644.
6. Al-Hafizh Abul Abbas Al-Bushiriy, wafat th. 840 H, di dalam Ithaaful Khoiroh al-Maharoh, no. 7292.
7. Al-Hafizh Ibnu Hajar, wafat th. 852 H, sebagaimana disebutkan di dalam Tanziihus Syari’ah al-Marfu’ah, 2/105
8. Syaikh Al-Albani, wafat th. 1420 H, menghasankan di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah, no. 831 dan 1903.
KETERANGAN HADITS
1. (Hiduplah sekehendakmu, sesungguhnya engkau akan mati)
Imam Ash-Shon’aniy rohimahulloh (wafat th. 1182 H) berkata:
“Yang dimaksud dengan perintah ini adalah “Tetapkan pada diri-mu, tujuan apa pun yang kamu inginkan dalam kehidupan, maka sesungguhnya kamu akan mati.
Jika kematian tidak dapat dihindari, maka hidup panjang dan pendek sama saja, sebagaimana dikatakan (di dalam syair):
Setiap kehidupan berakhir dengan kematian… baik panjang maupun pendek.
Dan yang dimaksud bukan (semata-mata) pemberitahuan bahwa akan ada kematian setelah kehidupan, sebab hal itu sudah diketahui.
Namun yang dimaksud adalah persiapan dalam mengambil bekal dan petunjuk untuk melakukannya”. (At-Tanwir Syarhu al-Jami’ish Shoghir, 1/286)
2. (Berbuatlah sekehendakmu, sesungguhnya engkau akan diberi balasan)
Imam Ash-Shon’aniy rohimahulloh (wafat th. 1182 H) berkata:
(Dan berbuatlah sesukamu)
baik dan buruk, ini (sebagai ancaman) seperti firman Alloh: “Lakukanlah sesukamu!” (QS. Fussilat: 40),
(sesungguhnya kamu akan menemui balasan-nya), jika perbuatan baik, maka balasan juga baik; jika perbuatan buruk, maka balasan juga buruk”.
(At-Tanwir Syarhu al-Jami’ish Shoghir, 1/286)
3. (Cintailah orang yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau akan meninggalkannya).
Imam Al-Munawiy rohimahulloh (wafat th. 1031 H) berkata:
“(Cintailah siapapun yang kamu kehendaki)
dari antara makhluk,
(sesungguhnya engkau akan meninggalkannya)
dengan kematian atau lainnya.
Tidak ada seorang pun di dunia ini kecuali dia seorang tamu, dan semua miliknya adalah pinjaman (dari Alloh), maka tamu itu pasti akan pergi dan pinjaman pasti akan dikembalikan.
Al-Ghazali rohimahulloh berkata:
“Tujuan (nasehat ini) adalah untuk membersihkan jiwa dari kesombongan, tidak bersyukur, dan berbangga dengan kenikmatan dunia, dan segala sesuatu yang akan hilang dengan kematian”.
Jika seseorang mengetahui bahwa barangsiapa mencintai sesuatu, niscaya akan berpisah dengannya dan niscaya akan sengsara karena perpisahannya, maka dia akan memenuhi hatinya dengan rasa cinta kepada Dia yang tidak akan meninggalkannya, yaitu mengingat Allah, dan hal itu akan menyertainya di dalam kubur dan tidak akan meninggalkannya.
Semua ini akan sempurna dilakukan dengan kesabaran selama beberapa hari yang sedikit. Umur manusia itu singkat, dibandingkan (kehidupan) akhirat”.
(Faidhul Qodir Syarhu al-Jami’ish Shoghir, 1/102)
4. (Ketahuilah, bahwa kemuliaan seorang mukmin itu adalah shalat malam)
Imam Ash-Shon’aniy rohimahulloh (wafat th. 1182 H) berkata:
“(Ketahui-lah), perintah dalam bentuk ini tidak akan datang kecuali ada hal yang sangat penting setelahnya, yaitu perkataan berikutnya:
(kehormatan orang mukmin adalah qiyamul lail).
Kehormatan yang dikenal manusia adalah kehormatan dunia, dengan harta, status, atau garis keturunannya.
Maka Nabi sholallahu ’alaihi wa sallam menginformasikan dan mengingatkan dengan kalimat ini tentang kesalahan keyakinan bahwa kehormatan ada pada apa yang telah disebutkan.
Bahkan kemuliaan itu pada qiyamul lail.
Dan yang dimaksud adalah kemuliaan di sisi Allah, karena itulah kehormatan yang hakiki.
Dan maksud qiyamul lail adalah menunaikan ibadah (di malam hari) yang berupa membaca al-Qur’an, shalat, dan dzikrulloh (mengingat dan menyebut Allah)”.
(At-Tanwir Syarhu al-Jami’ish Shoghir, 1/286-287)
5. (Dan ‘izzah (kemuliaan, kekuatan)-nya, adalah merasa cukup dari manusia)
Imam Al-Munawiy rohimahulloh (wafat th. 1031 H) berkata:
(Merasa cukup) adalah kepuasannya terhadap apa yang telah (Alloh) bagikan kepadanya, dari apa yang ada di tangan manusia.
Itulah sebabnya Hatim bertanya kepada (imam) Ahmad: “Bagaimana cara selamat dari (keburukan) dunia dan penduduk-nya?
Beliau berkata:
• “Engkau memaafkan kebodohan mereka,
• engkau tidak melakukan kebodohan (perkara yang tidak pantas) kepada mereka,
• engkau memberikan kepada mereka apa yang ada di tanganmu,
• dan engkau tidak mengharapkan apa yang ada di tangan mereka”.
Al-Ghazali rohimahulloh berkata:
“Barangsiapa tidak mendahulukan kemuliaan jiwa daripada syahwat perut, maka ia adalah orang yang lemah akal dan kurang beriman”.
Di dalam sifat qona’ah terdapat kemuliaan dan kebebasan.
Itulah sebabnya dikatakan:
• “Merasa cukup-lah dari siapapun yang kamu kehendaki, niscaya kamu menjadi sebanding dengannya;
• carilah bantuan dari siapapun yang kamu kehendaki, niscaya kamu menjadi tawanannya;
• berbuat-lah baik kepada siapa pun yang kamu kehendaki, niscaya kamu menjadi pemimpinnya”.
(Faidhul Qodir Syarhu al-Jami’ish Shoghir, 1/102)
FAEDAH-FAEDAH HADITS
Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits ini, antara lain:
1- Urgensi nasehat.
2- Manusia yang tinggi derajatnya juga membutuhkan nasehat.
3- Perhatian malaikat Jibril ‘alaihis salam kepada Nabi sholallahu ’alaihi was salam
4- Seseorang harus selalu ingat bahwa hidupnya di dunia tidak kekal, maka dia harus memahami hikmah penciptaannya di dunia ini.
Seseorang menjadi apa saja, atau hidup dengan umur berapa saja, pasti akan mengalami kematian.
Maka siapkan bekal untuk setelah kematian yang pasti akan datang.
5- Seseorang harus mengisi hidupnya dengan ketaatan dan kebaikan, iman dan amal sholih, sehingga kebaikan yang akan dia dapatkan di akhirat.
Sebaliknya, jika keburukan yang dia tanam, maka balasannya sesuai dengan perbuatannya.
6- Mencintai sesuatu atau seseorang di dunia hukum asalnya boleh saja, namun ingat bahwa semua akan ditinggalkan.
Maka janganlah kesenangan dunia menipu kita.
Hendaklah manusia mencintai sesuatu yang tidak akan meninggalkannya, yaitu Alloh Ta’ala, dan selalu mengingatnya.
7- Kematian adalah pemutus semua kesenangan dunia.
Maka janganlah kita terpedaya dan tertipu dengan berbagai kesenangan dunia lalu melupakan akhrat.
8- Kemuliaan adalah milik Allah, maka mencarinya adalah dengan ketaatan kepada Allah, salah satunya dengan sholat malam.
9- Hidup sebenarnya adalah hidup di akhirat.
10- Izzah (kemuliaan, kekuatan, kemampuan) seorang mukmin adalah dengan qona’ah, sehingga tidak merasa butuh bantuan atau pemberian orang lain.
Walaupun jika orang lain memberi bantuan atau barang tanpa permintaan, maka hal itu boleh diterima.
Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini.
Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.
Penulis : Ustadz Muslim Atsari Hafidzahullah Ta'ala
Sumber Berita: Grup Whatsapp Majlis Quran Hadits Ikhwan







