Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengetahui, Maha Medengar, dan Maha Melihat. Maka sepantasnya seorang hamba malu berbuat maksiat kepada Allah.
Nabi Muhammad sholalluhu ‘alaihi was salam telah mengingatkan hal ini kepada umatnya sebagaimana di dalam hadits berikut ini:
: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
” اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الحَيَاءِ ”
قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالحَمْدُ لِلَّهِ
قَالَ: ” لَيْسَ ذَاكَ
وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى
وَالبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَلْتَذْكُرِ المَوْتَ وَالبِلَى،
” وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الحَيَاءِ
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata:
“Rasulullah sholalluhu ‘alaihi was salam bersabda:
“Hendaklah kamu malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya!”.
Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, al-hamdulillah kami malu (kepada Allah)”.
Beliau bersabda:
“Bukan begitu (yakni tidak cukup hanya dengan perkataan-pen).
Tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah engkau menjaga kepala dan apa yang ia kumpulkan (yakni anggota badan yang ada di kepala), menjaga perut (dari memakan yang haram) dan apa yang berhubungan dengannya (tangan, kaki, kemaluan, dari maksiat), serta mengingat kematian dan kebinasaan.
Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia meninggalkan perhiasan dunia.
Barangsiapa telah melakukan itu, maka dia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya”.
(HR. Tirmidzi, no. 2458; Ahmad, no. 3671; Ibnu Abi Syaibah, no. 34320; Al-Hakim, no. 7915; Al-Baihaqi, dalam Syu’abul Iman, no. 7334, 10077)
DERAJAT HADITS
Hadits Ibnu Mas’ud ini diriwayatkan oleh para ulama dari dua jalan:
1. Al-Shabbah bin Muhammad, dari Murrah Al-Hamdani, dari Abdullah bin Mas’ud. Sebagaimana riwayat di atas.
Namun perowi benama Al-Shabbah bin Muhammad lemah.
2. Qotadah, dari ‘Uqbah bin Abdul Ghofir,dari Abu Ubaidah bin Abdllah, dari Abdullah bin Mas’ud.
HR. Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jam Ash-Shoghir, no. 494; dll.
Namun sanad ini juga sangat lemah.
Selain itu hadits ini juga diriwayakan dari:
1. ‘Aisyah; HR. Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Ausath, 7342.
Namun ada perowi bernama Khold bin Yazid, seorang pendusta.
2. Al-Hakam bin ‘Umair; HR. Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no. 3192; dll.
Namun ada perowi bernama Isa bin Ibrohm al-Qurosyi, dia matruk (haditsnya ditingalkan).
3. Al-Hasan Al-Bashri, hadits mursal; HR Ibnul Mubarok dalam Az-Zuhd, no. 317.
Sanad ini lemah sebab mursal.
Walaupun semua jalurnya lemah, tetapi karena banyaknya jalur-jalur itu, sebagian ulama menerima hadits ini.
1. Al-Hakim dalam Al-Mustadrk, no. 7915, menyatakan: shohih
2. Adz-Dzahabi menyetujuinya.
3. An-Nawawi dalam Khulashotul Ahkam, no. 3160, menyatakan: “Riwayat Tirmidzi dengan sanad yang hasan”.
4. Syaikh Al-Albani menyatakan:
“Hasan lighairihi”. (Kitab Shahih At-Targhib, 3/6, no. 2638, penerbit. Maktabah Al-Ma’arif; dan di dalam Shohih Al-Jami’, no. 935)
5. Syaikh Abdul Qodir al-Arnauth berkata:
“Hadits ini dishohihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dan itu seperti yang mereka katakan,
karena hadits ini memiliki banyak syawahid (penguat) yang dengan itu derajatnya naik”. (Catatan kaki Jami’ul Ushul fii Ahadistir Rosul, 3/616)
6. Syaikh Aiman Sholih Sya’ban berkata:
“Hadits ini memungkinankan dihasankan karena memiliki syawahid (penguat-penguat)”. (Catatan kaki Jami’ul Ushul fii Ahadistir Rosul, 3/616)
7. Syaikh Ahmad Ghumari berkata:
“Dengan jalur-jalur ini tidak jauh untuk dihukumi sebagai hadits yang shohih”. (Al-Mudawiy li’ilal Al-Jami’ush Shoghir wa Syarhay Al-Munawiy, 1/521-523)
Kesimpulan: Hadits ini berderajat hasan lighoirihi atau shohih lighoirihi.
KETERANGAN HADITS
Syaikh Ali bin Sulthon Al-Qoriy rohimahulloh (wafat th. 1014 H) memberikan penjelasan makna hadits ini, beliau berkata:
“Menjaga kepala”,
yaitu dari mempergunakannya untuk selain melayani Alloh, dengan cara:
• tidak sujud kepada patung, atau siapapun, untuk mengagungkannya;
• tidak sholat karena riya’,
• tidak menundukkan kepala untuk selain Alloh,
• dan tidak meninggikannya karena takabbur.
“dan apa yang ia kumpulkan”,
yakni menjaga anggota badan yang ada di kepala, yaitu lidah, mata dan telingan, dari perkara yang tidak halal untuknya.
“menjaga perut”,
yaitu dari memakan yang haram,
“dan apa yang berhubungan dengannya”,
yaitu apa yang berhubungan dengan perut, yaitu kemaluan, dua kaki, dua tangan, dan hati, menjaganya yaitu dengan tidak mempergunakannya di dalam kemaksiatan. Namun mempergunakannya di dalam keridhoan Alloh.
“serta mengingat kematian dan kebinasaan”,
yaitu hendaklah dia mengingat berakhirnya di dalam kubur menjadi tulang-tulang yang lapuk.
“barangsiapa menghendaki akhirat, dia meninggalkan perhiasan dunia”,
karena keduanya tidak akan berkumpul dengan bentuk yang sempurna, walaupun untuk orang-orang yang kuat”.
(Mirqotul Mafatih Syarh Misykatil Mashobih, 3/1161)
FAWAID HADITS
1- Perintah Rasulullah sholalluhu ‘alaihi wasallam kepada umatnya untuk malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.
2- Para Sahabat pada awalnya menyangka bahwa malu itu dengan perkataan semata. Hal ini diluruskan oleh Rasulullah sholalluhu ‘alaihi wasallam.
3- Para Sahabat memuji Alloh dengan ucapan al-hamdulillah, atas nikmat-nikmat Alloh.
4- Para Sahabat memiliki sikap tawadhu’ (rendah hati), sehingga mereka tidak mengatakan, “Wahai Rasulullah, al-hamdulillah kami malu dengan sebenar-benarnya (kepada Allah)”.
5- Malu kepada Alloh hakekatnya dengan bertaqwa kepada-Nya.
6- Malu kepada Alloh dengan sebenar-benarnya adalah dengan menjaga kepala dan anggota badan yang ada di kepala, yaitu lidah, mata dan telinga, dari perkara yang tidak halal untuknya.
7- Malu kepada Alloh dengan sebenar-benarnya adalah dengan menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengannya, dari berbuat maksiat.
8- Malu kepada Alloh dengan sebenar-benarnya adalah dengan mengingat kematian dan kebinasaan, kemudian mempersiapkan bekalnya.
9- Malu kepada Alloh dengan sebenar-benarnya adalah dengan tidak menyibukkan diri dengan kesenangan-kesenangan dunia, namun lebih mementingkan urusan akhirat.
10- Muroqobulloh, meyakini selalu dlihat, didengar, dan diawasi oleh Alloh, adalah sebab utama seorang hamba melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini.
Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju sorga-Nya yang penuh kebaikan.
Penulis : Ustadz Muslim Atsari Hafidzahullah Ta'ala
Sumber Berita: Grup Whatsapp Majlis Quran Hadits Ikhwan








