(Kesusahan dalam penjajahan)
Hidup dalam cengkaraman penjajah yang selalu bertindak sewenang-wenang;
merampas hak-hak, mencaplok tanah, mempekerjakan secara paksa tanpa imbalan, selain cemeti yang tak henti-henti mendera tubuh yang hanya dibalut kain seadanya.
Bila ada seseorang yang berbicara menuntut hak-haknya, tak jarang disumbat dengan berbagai senjata, hingga ia diam seribu bahasa.
(Banyak generasi tidak tahu penderitaan penjajahan, sehingga hilang rasa syukur)
Cuplikan salah satu sudut kehidupan bangsa Indonesia yang terjajah, sebelum 61 tahun yang silam, mungkin tidak terbayangkan oleh generasi belakangan yang hanya mengenyam nikmatnya hidup di alam kemerdekaan, akibat dari terlupakannya kepedihan hidup di bawah kangkangan penjajah, hilangnya rasa syukur.
(Alloh ingatkan sahabat bakda perang badar, yang dahulu terhina!)
Oleh karena itu Allah mengingatkan para shahabat akan nikmat kemenangan di perang Badr, yang sebelumnya mereka dalam kehinaan dan lemah, Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badr, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah.
Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS. Ali Imran/3: 123)
Allah ingatkan para shahabat akan kepedihan hidup mereka sebelum kemenangan agar bisa mensyukurinya.
(Ingatkan penderitaan bangsa Palestina yang dijajah/diperangi Yahudi)
Untuk mengingatkan generasi ini, saya kira, kita tidak perlu harus memaksa mereka untuk menonton film-film tentang penjajahan Belanda di bioskop dengan dipungut bayaran.
Cukup mereka diingatkan dengan kepedihan teman-teman sebaya mereka, anak-anak terjajah di Irak dan Palestina.
Setiap hari mereka saksikan hidup bergelimang kesengsaraan, menghadapi kebengisan dan kekejaman penjajah, yang hanya mau menyapa mereka dengan senjata penghancur dan alat-alat berat yang setiap saat siap meruntuhkan rumah tempat mereka bernaung, dan tak jarang mereka bersimbah air mata dipaksa berpisah dengan orang tuanya, tak tahu entah kapan mereka akan saling bersua -semoga Allah mempertemukan mereka di dalam surga-Nya-.
Cara mensyukuri nikmat kemerdekaan:
A. Mensyukuri dengan kalbu:
Yaitu dalam bentuk pengakuan bahwa nikmat kemerdekaan semata-mata berasal dari Allah.
Dan perwujudan dari bentuk syukur ini, para pendiri bangsa telah menggoreskan pena mereka dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 45:
“Dengan rahmat Allah Yang Maha Esa…”.
Bila ini diingkari tidak menutup kemungkinan, Allah akan mencabut nikmat-Nya dan menggantinya dengan niqmah (azab).
Seperti yang terjadi pada kaum kafir Quraisy yang mengganti nikmat Allah (diutusnya Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam) dengan mendustakannya, Allah berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan” (QS. Ibrahim/14: 28)
B. Mensyukuri dengan lisan:
Dalam bentuk bertahmid dan bertahlil kepada-Nya, serta berterima kasih dan menyebut jasa baik para pahlawan, juga tak lupa mendoakan mereka, semoga amalnya diterima Allah.
Menyebut jasa baik tersebut juga bagian dari syukur kepada Allah, berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam:
” مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ “
“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah”.
(HR. Tirmidzi, no. 1954, 1955; Ahmad, no. 7504, 7939, 11280, 11703. Syaikh Al-Albani menyatakan: Shohih lighoirihi. Juga dishahihkan oleh Ahmad Syakir).
C. Mensyukuri dengan perbuatan dalam bentuk:
1. Sujud syukur saat nikmat kemerdekaan itu tiba,
Ini saya kira, telah dilakukan oleh para pendahulu kita.
Setiap kita memperoleh nikmat dianjurkan langsung bersujud, berdasarkan hadits Abu Bakrah, dia berkata:
أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ.
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bila datang kepadanya kabar gembira atau diberitakan kabar gembira, beliau serta-merta bersujud dalam rangka bersyukur kepada Allah”.
(HR. Abu Dawud, no. 2774; Tirmidzi, no. 1578; dan Ibnu Majah, no. 1394. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
Saya pernah membaca sebuah majalah yang memuat tentang sekelompok orang yang pada jam:00 wib. pada malam 17 Agusutus, setelah mereka menaikkan bendera merah putih, mereka bersujud ke arah tiang bendera.
Perbuatan ini bertentangan dengan makna syukur; karena sujud adalah puncak ibadah yang hanya boleh dilakukan kepada Allah semata. Tidak boleh sujud kepada bendera dan selainnya, perbuatan ini dapat membatalkan keislaman seseorang –na’udzubillah-.
Jika niatnya adalah sujud syukur, itu hanya dilakukan pada jam.10 pagi wib, tanggal 17 Agustus 1945 saja, saat berita proklamasi dikumandangkan.
Setelah itu tidak disyariatkan lagi. Karena kalau masih disyariatkan tentulah kita setiap waktu harus bersujud, karena nikmat kemerdekaan sampai saat ini tidak terputus dari kita, dan ini tidak mungkin kita lakukan.
2. Mengisi nikmat kemerdekaan dengan amalan yang disyariatkan Allah menuju ridha-Nya, dalam berbangsa dan bernegara.
Ada beberapa perbuatan yang sering kita saksikan di setiap bulan Agustus yang bertentangan dengan makna syukur,
diantaranya; lomba goyang yang diiringi musik antara dua orang yang berlawanan jenis, kedua kening mereka dirapatkan dan tengahnya diletakkan bola kecil,
puncak peringatan agustusan dengan diringi musik dan tidak jarang disaat itu minuman memabukkan berkeliaran dari satu tangan ke tangan yang lain.
-Naudzubillah- orang mensyukuri nikmat Allah dengan berbuat maksiat kepada-Nya. Perumpamaan mereka tak ubahnya seperti kaum yang disinyalir Allah dalam firman-Nya,
قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ (63)
قُلِ اللَّهُ يُنَجِّيكُمْ مِنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنْتُمْ تُشْرِكُونَ (64)
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ (65)
63. Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut, dengan mengatakan : “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”.
64. Katakanlah : “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan kemudian kamu kembali mempersekutukannya”
(QS. Al An’aam/6: 63-64)
Buah mensyukuri nikmat kemerdekaan:
A. Allah akan menambah nikmat tersebut.
Allah berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
(QS Ibrahim/14: 7)
B. Nikmat syukur itu akan kembali kepada orang yang mensyukurinya.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Dan barangsiapa siapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Luqman/31: 12)
C. Allah tidak menurunkan siksanya kepada orang yang bersyukur.
Allah berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
“Allah tidak akan menurunkan azab-Nya kepadamu, jika kamu bersyukur dan beriman”. (QS An Nisaa/3: 147)
Akhirnya mari kita berdoa semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang bersyukur:
اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
“Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut nama-Mu, mensyukuri-Mu dan ibadah yang baik kepada-Mu”.***
13/08/24 14.53 – Ust Muslim: PENYAKIT UMAT UMAT DAHULU AKAN MENIMPA UMAT ISLAM
HADITS ABU HUROIROH
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ: «سَيُصِيبُ أُمَّتِي دَاءُ الْأُمَمِ» فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا دَاءُ الْأُمَمِ؟
قَالَ: «الْأَشَرُ وَالْبَطَرُ وَالتَّكَاثُرُ وَالتَّنَاجُشُ فِي الدُّنْيَا وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ حَتَّى يَكُونَ الْبَغْيُ»
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Umat-ku akan ditimpa penyakit umat-umat (dahulu).”
Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah penyakit umat-umat (dahulu) itu?.” Beliau bersabda:
• “Al-asyar (kufur nikmat),
• Al-bathor (melanggar batas dan bersombong),
• At-takaatsur (berbangga dengan banyaknya harta),
• At-tanaajusy (berkhianat/menawar dagangan dengan harga tinggi bukan untuk membeli) di dunia,
• At-tabaaghugh (saling membenci),
• At-tahaasud (saling iri hati),
sehingga terjadi al-baghyu (mengganggu dan melanggar hak orang lain).”
(HR.Al-Hakim, no. 7311, dan dia berkata: “Ini hadits yang isnadnya shohih, tetapi keduanya (imam Bukhori dan Muslim) tidak meriwayatannya”.
Imam Adz-Dzahabi berkata: “Shohih”.
Syaikh Al-Albani menghasankannya di dalam Shohih al-Jami’, no. 3658 dan Silsilah Ash-Shohihah, no. 680)
HADITS AZ-ZUBAIR BIN AL-‘AWWAM
:عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ العَوَّامِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمْ: الحَسَدُ وَالبَغْضَاءُ”
هِيَ الحَالِقَةُ، لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ،
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا،
“أَفَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثَبِّتُ ذَلِكَ لَكُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam, bahwa Nabi sholallahu ‘alaihi wasallama bersabda:
“Penyakit umat-umat sebelum kamu telah merayap kepada kalian: hasad (iri di dalam hati) dan kebencian (di dalam lahiriyah).
Kebencian itu alat pencukur, aku tidak mengatakan mencukur rambut, tetapi mencukur agama!
Demi Dia (Alloh) Yang jiwaku berada di tangan-Nya,
kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman,
dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai.
Tidakkah aku beritahukan kepada kalian, sesuatu yang akan memantapkan kecintaan untuk kalian?
Sebarkan salam di antara kalian.”
(HR. Tirmidzi, no. 2510; Ahmad, no. 1412, 1430.
Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata: “Isnadnya dho’if”.
Sanad hadits ini sesungguhnya lemah, sebab perowi Maula Ibnu Zubair tidak dikenal, tetapi dikuatkan oleh hadits Abu Huroiroh.
Syaikh Al-Albani menghasankannya di dalam Shohih Sunan Tirmidzi.
Syaikh Al-Albani berkata: “Itu hadits hasan dengan dikumpulkan dua jalurnya dari Zubair dan Abu Huroiroh”. Silsilah Adh-Dho’ifah, 1/29)
PENJELASAN:
Syaikh Abdur Rouf Al-Munawiy rohimahulloh (wafat th. 1031 H) berkata:
(الأشر) أي كفر النعمة
(والبطر) الطغيان عند النعمة وشدة المرح والفرح وطول الغنى
(والتكاثر) مع جمع المال
(والتشاحن) أي التعادي والتحاقد في الدنيا والتباغض
(والتحاسد) أي تمني زوال نعمة الغير
(حتى يكون البغي) أي مجاوزة الحد
وهو تحذير شديد من التنافس في الدنيا لأنها أساس الآفات ورأس الخطيئات وأصل الفتن وعنه تنشأ الشرور
وفيه علم من أعلام النبوة فإنه إخبار عن غيب وقع
• “Al-asyar yaitu kufur nikmat,
• Al-bathor yaitu melanggar batas di saat mendapatkan nikmat, sangat sombong dan berbangga, dan di saat mendapatkan kekayaan dalam jangka yang lama.
• At-takaatsur (berbangga dengan banyaknya harta) dan terus mengumpulkan harta,
• At-tasyaahun yaitu saling bermusuhan, saling dendam,
• At-tabaaghugh (saling membenci) di dunia,
• At-tahaasud (saling iri hati), yaitu mengharapkan hilangnya nikmat orang lain,
• sehingga terjadi al-baghyu yaitu melanggar hak orang lain.
Ini adalah peringatan yang keras terhadap persaingan di dalam urusan dunia, karena itu adalah dasar kejahatan, akar dosa, dan asal mula godaan, dan dari situlah timbul kejahatan.
Di dalam hadits terdapat tanda-tanda kenabian, karena merupakan informasi tentang sesuatu yang ghaib, yang kemudian telah terjadi”.
(Faidhul Qodir, 4/125)
Perhatian:
Kemungkinan Syaikh Al-Munawi salah lihat, beliau menjelaskan makna At-tasyaahun yaitu saling bermusuhan, ini tidak disebutkan di dalam hadits.
Yang disebutkan adalah At-tanaajusy (saling berkhianat/menawar dagangan dengan harga tinggi bukan untuk membeli). Wallohu a’lam.
FAWAID HADITS:
Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits-hadits ini, antara lain:
1- Mengambil pelajaran dari umat-umat zaman dahulu, dan meninggalkan sifat-sifat buruk mereka.
2- Berita Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perkara yang akan datang, bahwa umat beliau akan ditimpa penyakit umat-umat zaman dahulu.
3- Perhatian para sahabat terhadap penjelasan Nabi, sehingga mereka bertanya hal-hal yang belum jelas bagi mereka.
4- Kewajiban meninggalkan penyakit-penyakit umat-umat dahulu, sebab itu akan membawa kebinasaan.
5- Di antara penyakit umat-umat dahulu adalah Al-asyar (kufur nikmat).
6- Di antara penyakit umat-umat dahulu adalah Al-bathor (melanggar batas dan bersombong).
7- Di antara penyakit umat-umat dahulu adalah At-takaatsur (berbangga dengan banyaknya harta).
8- Di antara penyakit umat-umat dahulu adalah At-tanaajusy (berkhianat/menawar dagangan dengan harga tinggi bukan untuk membeli).
9- Di antara penyakit umat-umat dahulu adalah At-tabaaghugh (saling membenci).
10- Kebencian karena dunia akan menghabiskan atau merusakkan agama. Sebagaimana pisau cukur yang menghabiskan rambut.
11- Di antara penyakit umat-umat dahulu At-tahaasud (saling iri hati).
12- Penyakit-penyakit umat-umat dahulu menyebabkan terjadinya al-baghyu (mengganggu dan melanggar hak orang lain).
13- Nabi mendapatkan ilmu dari Alloh, beliau jujur dan amanah dalam menyampaikan, serta mampu memberikan penjelasan dengan gamblang.
14- Membuat gambaran di dalam menjelaskan ilmu.
15- Bersumpah dengan nama atau sifat Alloh untuk menguatkan perkataan.
16- Syarat masuk surga adalah iman.
17- Saling mencintai sesama orang beriman karena Alloh adalah konsekwensi iman.
18- Menyebarkan salam di antara orang-orang beriman akan menyebabkan dan memantapkan kecintaan.
19- Peringatan yang keras terhadap persaingan di dalam urusan dunia, karena itu adalah dasar kejahatan, akar dosa, dan asal mula godaan, dan dari situlah timbul kejahatan.
20- Di dalam hadits terdapat tanda-tanda kenabian, karena merupakan berita tentang sesuatu yang akan terjadi, yang termasuk perkara ghaib, yang kemudian terjadi sebagaimana diberitakan.
Inilah sedikit penjelasan tentang hadits-hadits yang agung ini.
Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju sorga-Nya yang penuh kebaikan.
Karya: Ustadz. Erwandi Tarmizi. MA
Murajaah: Ustadz Abu Ziyad
Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah, th. 1428 H / 2007 M
Diedit dan diberi tambahan kalimat judul dalam kurung oleh: Muslim Atsari
Sragen, Dhuha, Kamis, 4-Shofar-1446 / 8-Agustus-2024 M
Penulis : Ustadz Muslim Atsari Hafidzahullah Ta'ala
Sumber Berita: Grup Whatsapp Majlis Quran Hadits Ikhwan








